FF – Love Blossom | Chapter 4


loveblossom2

Title : Love Blossom

Subtitle : BUTTERFLIES

Author : beedragon

Cast:

  • Irene Red Velvet as Irene Bae

  • V BTS as Kim Taehyung

Genre : Romance, Friendship

Length : Multichapter

Summary : Ketika seorang gadis pecinta apel memberikan apel kesayangannya pada seorang pemuda tunawisma

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : K.Will – Love Blossom | Busker Busker – Cherry Blossom Ending | Teentop – No More perfume on you

butterflies

 

Irene tak berhenti melirik jam tangannya. Hari ini ia memiliki janji dengan Taehyung untuk pergi ke Hongdae. Sedangkan saat ini Irene terjebak dalam sebuah rapat penting membahas proyek drama untuk Suho. Beruntungnya rapat hari ini berlangsung lancar, sehingga Irene bisa mengakhirinya dengan cepat. Begitu memberi kabar pada Taehyung kalau ia akan pulang cepat hari ini, Irene langsung merapikan semua berkasnya untuk bersiap pulang. Tapi sesampainya di depan lift, Irene bertemu dengan Junmyeon yang –sepertinya– sedang menunggu dirinya.

“Kau mau langsung pulang?” tegur Kim Junmyeon.

“Dan kau tidak bersiap untuk besok? Pesawatmu berangkat jam 9 pagi, Suho-ssi,” sahut Irene.

Lift yang mereka tunggu pun datang. Keduanya langsung masuk ke dalam lift yang kosong itu. Usai menekan tombol lantai yang dituju, Junmyeon melirik Irene yang memandang lurus pintu lift.

“Bisakah kau berhenti memanggilku dengan Suho-ssi? Aku merindukan caramu memanggil namaku seperti dulu.”

Masih belum berpaling dari pintu lift, Irene menyahut, “Karena sekarang kau adalah Suho.”

Keduanya kembali terdiam. Junmyeon masih berusaha menarik perhatian Irene.

“Kau sepertinya benar-benar ingin menjauhkanku dari hadapanmu. Bagaimana bisa kau mendapatkan proyek untukku di China sana selama 3 bulan penuh. Apa kau sudah tidak ingin melihatku lagi?” keluh Junmyeon.

“Bukankah seharusnya kau bangga? Karena kau tidak salah memilihku sebagai manajermu. Aku bisa mendapatkan kontrak dengan sutradara terkenal seperti itu, merupakan sebuah keajaiban untukku. Aku hanya ingin menunjukkan pada orang-orang kalau aku memang bisa diandalkan, bukannya sekedar mengandalkan background yang bagus,” sahut Irene.

Irene tentu saja menyadarinya. Karena Irene tiba-tiba menjadi manajer seorang Suho, banyak kabar miring beredar mengenai dirinya. Tentang Irene memanfaatkan kedekatannya dengan CEO –yang sebenarnya yang tak terlalu dekat, hanya karena CEO itu adalah kekasih Yoona makanya Irene bisa mengenalnya. Tentang Irene yang menggoda Suho sampai akhirnya aktor itu bertekuk lutut padanya. Juga tentang Suho yang mengejar-ngejar Irene sampai rela pindah manajemen –tentu saja tanggapan ini benar adanya.

“Aku bangga padamu, tapi…,” ucapan Junmyeon terpotong karena keduanya kini sudah tiba di basement.

Irene lebih dulu keluar dari lift. Dengan segera Junmyeon mengejar Irene keluar. Junmyeon langsung menahan lengan Irene sehingga membuat gadis itu berbalik menghadap dirinya.

“…tujuanku mencarimu lagi adalah agar aku bisa kembali dekat denganmu, Irene.”

Junmyeon menatap lurus mata Irene. Ia berusaha menyalurkan ketulusannya pada Irene melalui tatapannya. Tapi sayangnya tidak ada reaksi apapun dari Irene. Gadis itu memasang wajah tanpa ekspresi melihat ketulusan Junmyeon.

“Jika kau mengira aku menjauhimu karena aku membencimu, maka kau salah besar, Suho-ssi. Aku tidak pernah membencimu. Tapi kenyataannya sekarang kau adalah seorang Suho, dan aku tidak bisa sembarangan ketika sedang bersamamu. Aku hanya ingin bekerja dengan baik. Aku hanya ingin melanjutkan kehidupanku tanpa perlu memikirkan mengenai masa laluku yang tidak menyenangkan. Oleh karena itu aku berusaha melupakan kenangan antara aku dan Kim Junmyeon,” tegas Irene.

Junmyeon tampak termenung begitu mendengar penjelasan Irene. Ia tak ingin Irene melupakannya. Junmyeon sungguh-sungguh ingin kembali pada Irene, tapi gadis itu kini memasang dinding yang sama sekali tak bisa ia tembus. Hal ini membuat Junmyeon frustasi.

Junmyeon kemudian memegang kedua bahu Irene dan berusaha menghapus jarak antara mereka. Junmyeon mendekatkan wajahnya pada Irene. Ketika bibir mereka hampir bersentuhan, Junmyeon kembali meneliti reaksi Irene. Setelah memastikan perasaan Irene –yang sepertinya tidak peduli akan apa yang akan dilakukan olehnya– akhirnya Junmyeon pun melepaskan Irene.

“Baiklah. Aku mengalah. Kau tampaknya sudah menghapus Kim Junmyeon dari kehidupanmu,” ujar Junmyeon sambil mengangkat kedua tangannya.

Irene tampak bingung. Ia tak mengira kalau Junmyeon akan menyerah secepat ini. Padahal Irene tahu persis seperti apa Junmyeon jika ia berniat untuk mendapatkan sesuatu. Junmyeon tidak akan melepaskannya secepat itu.

“Tiga tahun lebih berpisah darimu tak membuatku melupakan dirimu. Aku tahu persis seperti apa reaksi tubuhmu saat sedang menghabiskan waktu denganku,” ujar Junmyeon.

Irene kini memandangi Junmyeon bingung. Dulu ketika masih tinggal bersama Junmyeon, Irene selalu merasa kalau pemuda itu bisa membaca pikirannya. Sebab Junmyeon selalu tahu apa yang Irene rasakan dan apa yang Irene inginkan. Sepertinya kemampuan Junmyeon itu masih tetap ada. Karena kini Junmyeon masih mampu menelisik ke dalam pikiran Irene.

“Aku selalu mengamatimu sejak dulu dan aku paham betul akan semua kebiasaanmu. Biasanya jika aku mendekatkan wajahku padamu seperti ini, kau akan langsung memalingkan matamu dan lalu memejamkannya. Bukannya malah menatap balik mataku seperti ini,” ujar Junmyeon seraya menyejajarkan pandangan mereka. Junmyeon kembali meneliti reaksi Irene. “Dan ketika aku mencoba menciummu, wajahmu pasti sudah merah merona.”

Ketika Irene menatap mata Junmyeon, ia melihat kesungguhan –serta kekecewaan– di dalam mata Junmyeon. Irene melihat bahwa masih ada cinta yang begitu besar untuknya. Tapi Irene tak bisa membalas tatapan itu dengan perasaan yang sama. Ia sudah tak bisa lagi mencintai Junmyeon seperti dulu. Dan hal ini benar-benar membuat Irene frustasi.

“Baiklah, aku benar-benar menyerah. Aku tidak akan mengejar-ngejarmu lagi untuk kujadikan kekasih. Tapi aku tetap masih bisa menjalin hubungan kerja denganmu kan?” ujar Junmyeon seraya mengulurkan tangan kanannya.

Irene akhirnya tersenyum. Ia lalu menjabat tangan Junmyeon seraya memperkenalkan dirinya. “Irene Bae imnida, manajer barumu. Aku berjanji akan membuatmu menjadi aktor terkenal menyaingi Wonbin.”

Junmyeon hanya bisa tertawa dan menyambut tangan Irene. “Mohon bantuannya Manajer Bae.”

 

~*~

 

Irene berlari sekuat tenaganya. Walaupun ia merasa kakinya sudah tak mampu lagi untuk bertahan tapi Irene tetap berlari menyusuri halaman Rumah sakit Universitas Donguk. Ketika ia menelepon Kim Taehyung beberapa waktu yang lalu, Irene dikejutkan dengan suara seorang perempuan yang mengaku dirinya adalah seorang suster dari Rumah Sakit Universitas Donguk dan mengabarkan kalau Kim Taehyung saat ini sedang berada di UGD karena kecelakaan mobil.

Irene berusaha mengatur napasnya ketika ia tiba di lobby rumah sakit dan bertanya pada suster mengenai di ruangan mana Kim Taehyung dirawat. Setelah mengetahui kalau Kim Taehyung masih berada di Unit Gawat Darurat, Irene langsung melesat menuju UGD untuk mencari Taehyung. Irene menyusuri satu persatu bilik UGD untuk mencari Taehyung seraya memanggil namanya. Dengan napasnya yang dirasa semakin pendek-pendek, Irene mengitari ruang UGD.

Tak lama Irene menemukan orang yang sangat ia kenal, tengah duduk di atas ranjang memandangi tangannya yang di gips. Irene pun memanggil namanya dengan suara yang nyaris habis.

.

“Noona…?” kaget Taehyung begitu melihat Irene kini sudah hadir di hadapannya.

Taehyung tengah memandangi gips di tangannya saat ia mendengar ada seseorang yang memanggil-manggil namanya. Begitu Taehyung menoleh, ternyata Irene sudah berdiri di hadapannya dalam kondisi tersengal-sengal. Lalu Taehyung menyaksikan sepasang kaki Irene yang menyerah sehingga membuat gadis itu duduk bersimpuh di lantai. Panik, Taehyung pun langsung lompat dari ranjang dan menghampiri Irene.

“Noona, kau baik-baik saja?” khawatir Taehyung.

“Yah.. hah.. hah.. apa kau.. hah.. tau.. betapa kagetnya aku..hah.. hah.. ketika mendapat telepon dari rumah sakit..?” kesal Irene dengan suara yang terputus-putus.

Irene meraih kepala Taehyung dan menelitinya. Ia hanya menemukan luka goresan disana. Kemudian Irene men-scan Taehyung dari ujung rambut hingga ujung kaki untuk mencari kejanggalan dari pemuda tersebut.

“Kau mengenaliku, Kim Taehyung? Sebut namaku siapa? Ini angka berapa? Apa ada yang sakit? Apa kepalamu terasa sakit? Atau kau merasa mual-mual? Kakimu?! Apa kau bisa menggerakkan kakimu? Dan tanganmu kenapa? Apa tanganmu patah?!” panik Irene.

Taehyung hanya bisa tercenung mendengar rentetan pertanyaan Irene yang lebih terdengar seperti seseorang yang sedang rap. Untuk menenangkan Irene, Taehyung pun membantu Irene berdiri. Kemudian Taehyung menggiring Irene ke ranjang agar Irene duduk disana.

“Seperti yang Noona lihat. Aku bisa mengenalimu. Aku bisa berjalan dan badanku baik-baik saja. Hanya nyeri disana-sini. Tapi tanganku terkilir karena aku salah posisi saat menahan badanku ketika terjatuh,” jelas Taehyung.

Taehyung menyeka peluh yang membanjiri wajah Irene. Lalu Taehyung mengusap-usap punggung Irene untuk meredakan rasa panik gadis itu. Taehyung menunjukkan senyum khasnya pada Irene untuk meyakinkan kalau dirinya benar baik-baik saja.

“Lihatlah kondisimu saat ini Noona. Kau tampak seperti habis dikejar anjing mengelilingi area perumahan kita. Kenapa kau bisa sampai seperti ini, Noona?” tegur Taehyung.

“Kau pikir karena siapa aku sampai seperti ini?! Tentu saja aku mengkhawatirkanmu! Apa kau tahu betapa takutnya aku begitu mendengar kalau kau habis ditabrak mobil? Jantungku rasanya mau lepas dari peraduannya,” semprot Irene.

Taehyung melihat cairan bening yang kini menggenangi sepasang mata Irene. Sepertinya sebentar lagi gadis itu akan menangis karena dirinya. Dan Taehyung ingat cerita Irene mengenai ayahnya yang meninggal karena kecelakaan mobil. Tanpa sadar Taehyung meraih badan Irene dan memeluknya.

“Aku baik-baik saja, Noona. Aku hanya terkilir karena aku menghindari mobil itu. Maaf sudah membuatmu khawatir,” ujar Taehyung.

Taehyung merasa bersalah ketika melihat Irene begitu mengkhawatirkan dirinya. Padahal tadinya Taehyung sudah patah arang. Tapi melihat Irene kembali memberinya harapan seperti ini, tentu saja membuat Taehyung kembali bersemangat untuk mencoba merebut hati Irene.

Tak lama kemudian seorang suster datang menghampiri mereka. Suster tersebut menjelaskan pada Irene mengenai kondisi Taehyung. Dan ternyata Taehyung harus memakai gips di tangannya selama kurang lebih seminggu.

Setelah sang suster pergi, Taehyung melirik Irene. “Tapi Noona, ada dua hal yang tak bisa aku lakukan dengan tangan kiri, yaitu menulis dan mencukur. Apa yang harus kulakukan, Noona?”

~*~

Hari pertama dimana tangan kanan Taehyung harus diistirahatkan, berjalan cukup lancar. Tidak banyak kegiatan Taehyung yang terhalang karena kondisi tangan kanannya yang di gips. Taehyung hanya memerlukan waktu lebih banyak untuk melakukan setiap aktivitasnya. Seperti saat makan, Taehyung membutuhkan waktu lebih untuk menyendokkan nasi, sayuran dan lauk pauk dengan tangan kirinya.

Karena tak tega melihat Taehyung menghabiskan waktu lebih dari sepuluh menit hanya untuk tiga sendok nasi, akhirnya Irene pun turun tangan. Ia meletakkan sejumput ikan teri dan juga sepotong kimchi di atas sendok nasi Taehyung.

“Ikan teri bagus untuk kesehatan tulang. Mereka punya banyak kalsium dan zat besi. Jadi kau harus banyak makan ikan teri,” ujar Irene sambil terus membantu Taehyung menyusun makanan di sendoknya.

Taehyung hanya makan dalam diam. Ia sibuk memikirkan akan reaksi Irene di rumah sakit tadi sore. Sebab Irene terlihat begitu panik, seolah-olah jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap Taehyung maka Irene akan menyesal seumur hidup. Taehyung sendiri tidak mengerti kenapa Irene bisa begitu paniknya. Belum lagi dengan sikap Irene yang saat ini sangat perhatian padanya, membuat Taehyung jadi makin jatuh cinta pada gadis itu.

“Aaaah, kalau seperti ini, aku jadi menolak untuk menyerah,” gumam Taehyung.

“Hmm?? Apa kau bilang barusan?” tegur Irene.

Taehyung langsung mengelak dan Irene pun tampak tidak terlalu ambil pusaing dengan ucapan Taehyung. Ya, Taehyung sudah bertekad dalam hatinya, bahwa ia tidak akan menyerah untuk Irene.

“Jangan terlalu memforsir tangan kananmu. Jika kau butuh bantuan, segera panggil aku. Tanganmu itu harus banyak istirahat agar cepat sembuh,” Irene mulai menceramahi Taehyung seraya menyuapi pemuda itu. Siapapun yang melihat mereka saat ini pasti mengira kalau mereka adala sepasang ibu dan anak.

Taehyung menahan senyumnya seraya mengangkat tangan kanannya untuk menyebrangi meja dan meraih tangan Irene yang bebas. Taehyung kemudian memainkan jemari Irene. Ia menautkan jemarinya pada ujung jemari Irene. Ketika Irene menarik tangannya, barulah Taehyung bereaksi.

“Lihatlah, aku masih bisa menggunakan jari tanganku. Tangan ini hanya terkilir, Noona, bukannya patah. Jadi kau tak perlu khawatir,” ujar Taehyung.

Taehyung lalu merapikan piring makannya dan meletakannya di tempat cuci piring. Taehyung tidak sempat melihat reaksi Irene yang masih terpaku memandangi jari tangannya. Taehyung juga tak sempat menyaksikan rona merah di wajah Irene saat gadis itu memegangi dada kirinya.

~*~

Irene tengah menyiapkan sarapan di dapur ketika Taehyung berteriak dari dalam kamar mandi memanggil namanya. Khawatir terjadi sesuatu pada remaja itu, Irene pun bergegas menuju kamar mandi.

“Apa? Ada apa?!” seru Irene begitu memasuki kamar mandi.

Irene melihat Taehyung masih memakai kaus oblong dan celana pendeknya. Seluruh badannya tampak belum tersentuh air sama sekali. Sementara tangan kirinya memegang pisau cukur. Irene pun langsung mundur selangkah begitu melihat pisau cukur itu.

“Taehyung-ah, kau tidak akan..” sela Irene seolah Taehyung akan menyayat dirinya dengan pisau cukur tersebut.

“Tolong bantu aku mencukur kumisku, Noona. Lihatlah wajahku ini. Kumisku sudah tumbuh lagi dan jenggotku mulai bermunculan. Agar besok aku tidak merepotkanmu, bisakah kau bantu aku sekarang. Aku tidak mungkin berangkat sekolah besok dalam keadaan berantakan seperti ini,” rengek Taehyung.

Tentu saja Irene langsung menolak mentah-mentah permintaan Taehyung. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada wajah Taehyung. Tapi Taehyung sudah menariknya masuk ke dalam kamar mandi dan menyerahkan pisau cukur itu ke tangan Irene, sementara Taehyung sudah mengambil posisi duduk di atas toilet –tak lupa Taehyung mengunci langkah Irene dengan melingkarkan kakinya di kaki Irene. Dan Irene hanya memandangi pisau cukur itu seolah-olah pisau cukur tersebut adalah alat untuk menyiksa seseorang.

“Yah! Aku takut melukai wajahmu,” lirih Irene.

“Aku percaya Noona tidak akan melukaiku sedikitpun,” Taehyung berusaha meyakinkan Irene.

Akhirnya Irene meraih foam pencukur milik Taehyung dan memoleskannya ke seluruh rahang serta daerah sekitar rahang, dagu dan hidung Taehyung. Setelah memoleskan foam tersebut secara merata, Irene pun mengacungkan pisau cukurnya ke hadapan Taehyung. Dengan tangan gemetar, Irene mengarahkan pisau cukur ke wajah Taehyung.

“Noona,” sela Taehyung.

Irene membuka matanya yang sedari tadi tertutup rapat. Melihat senyuman di wajah Taehyung saat ini membuat hati Irene luluh. Sementara Taehyung sudah meraih tangan Irene yang memegang pisau cukur dan menggenggamnya.

“Kalau matamu terpejam seperti itu, bagaimana caranya kau mencukurku?” tegur Taehyung. “Sekarang Noona tarik napas dalam-dalam dan hembuskan. Yakinkan dirimu kalau ini seperti sedang memoles selai ke lembaran roti.”

Irene meringis mendengar nasihat Taehyung tersebut. Setelah menarik napas dalam-dalam dan menahannya, Irene mulai mencukur wajah Taehyung.

Setelah satu goresan selesai, Taehyung pun memuji Irene. “Lihatlah, kau cukup mahir, Noona.”

Mendengar pujian  Taehyung itu pun membuat kepercayaan diri Irene meningkat. Dengan sangat hati-hati Irene menyapukan pisau cukurnya ke rahang Taehyung. Walaupun posisinya saat ini sangat tidak mengenakkan –karena Irene harus agak membungkuk agar bisa menyejajarkan wajahnya dengan Taehyung– tapi  Irene begitu fokus pada pekerjaannya ini. Sesekali mata mereka bertemu, dan setiap itu terjadi, Irene merasakan ada hal yang aneh di dadanya.

“Yap, selesai. Fiuuuh,” Irene menyeka pelipisnya yang tampak tidak berkeringat sama sekali. Setelah menaruh pisau cukur di wastafel, Irene pun meraih handuk untuk membersihkan wajah Taehyung. Tapi Taehyung masih mengunci kaki Irene.

“Taehyung-ah, apa yang  kau..?”

Taehyung juga menarik badan Irene, sehingga jarak antara mereka menipis seketika. Masih dalam posisi duduk di atas kloset, Taehyung memandangi sepasang mata Irene. Ada yang beda dari cara Taehyung memandang Irene kali ini dan Irene sama sekali tak bisa membaca maksud dari tatapan Taehyung tersebut.

“Noona, menurutmu aku pemuda yang bagaimana?” tanya Taehyung.

Irene hanya bisa memandangi Taehyung penuh tanda tanya. Pertanyaan Taehyung saat ini sungguh ambigu. Irene tidak menangkap apa maksud sebenarnya dari pertanyaan Taehyung tersebut.

“Yang bagaimana apanya?” Irene balik bertanya.

“Menurutmu apakah aku sudah cukup pantas untuk mendapatkan cinta?” tanya Taehyung.

Mata Taehyung lurus menatap sepasang mata Irene. Dan Irene tak bisa berkutik. Irene sungguh takut saat ini. Irene takut tubuhnya beraksi dengan hal-hal yang tidak diinginkannya. Dan Irene takut melakukan suatu kesalahan saat ini.

“Taehyung-ah, aku tidak mengert…,” Irene berusaha melepaskan diri dari Taehyung, tapi pemuda itu malah makin erat mengunci kaki Irene dan memeluk pinggang Irene.

“Kalau begitu aku mengganti pertanyaanku. Noona bilang kalau tipe idamanmu adalah seorang lelaki yang bertanggung jawab. Apakah aku sudah mendekati tipemu itu?” tanya Taehyung lagi.

Dan kini Irene merasa kalau jantungnya berdebar kencang karena satu reaksi kecil dari Taehyung tersebut. Tangan Irene merayap ke dada kirinya, dan debaran jantungnya begitu terasa di telapak tangan Irene sampai-sampai ia takut kalau suara debaran jantungnya itu terdengar oleh Taehyung. Tatapan Taehyung benar-benar mampu membuat Irene kehilangan kendali atas dirinya.

Tak ingin hal ini terus berlanjut ke arah yang tidak diinginkannya, akhirnya Irene mengambil handuk yang tak jauh dari jangkauannya dan menutup kepala Taehyung dengan handuk tersebut.

“Kalau kau sudah selesai menggunakan kamar mandinya, maka keluarlah dari sini. Aku tiba-tiba ingat kalau aku ada janji hari ini,” sela Irene. Suaranya terdengar gemetaran saat ini.

Irene lalu melepaskan tangan Taehyung dan mendorong pemuda itu keluar dari kamar mandi. Begitu Irene menutup pintu kamar mandi, ia langsung bersandar pada pintu seraya memegangi dadanya. Kakinya kini sudah menyerah dan badan Irene pun merosot hingga ia duduk  di lantai kamar mandi.

Irene panik.

Karena tubuhnya menunjukkan reaksi yang tidak seharusnya terhadap Taehyung.

Pertanyaan Taheyung itu membuat hati Irene bergejolak.

Karena kini ia seolah kembali ke tiga tahun yang lalu, saat Kim Junmyeon menyatakan perasaannya pada Irene.

“Irene, sadarlah. Kau tidak mungkin menyukainya. Anak itu juga tidak mungkin memiliki perasaan seperti itu padamu, Irene,” lirih Irene. “Jangan mengulangi kesalahan yang sama, Irene.”

~*~

Sejak kejadian di kamar mandi itu, Irene jadi selalu menjaga jarak dari Taehyung. Ia tak mau menghabiskan waktu terlalu lama bersama Taehyung. Kalaupun ia sedang membantu Taehyung belajar, maka Irene hanya meninggalkan buku catatan dan lembar soal kemudian ia pergi mengunci dirinya di kamar. Irene takut kalau apa yang ia takutkan menjadi nyata.

Irene takut jatuh cinta pada Taehyung.

Sebab kini tubuhnya mulai menujukkan reaksi-reaksi seperti itu. Sama seperti apa yang dijelaskan Junmyeon beberapa waktu lalu, disaat ia sedang merasakan cinta yang mendalam pada Junmyeon, tubuhnya juga menunjukkan reaksi yang sama.

Menyendiri selama tiga tahun belakangan ini bukan berarti hasrat Irene memudar terhadap lelaki. Dan Irene bukanlah orang yang tidak punya pengalaman sama sekali mengenai percintaan. Ia pernah mencintai dan dicintai seseorang, dan itu adalah pengalaman terhebat dalam hidupnya. Perkenalannya dengan Kim Junmyeon mengajarkan segalanya. Oleh karena itu Irene sangat paham akan apa yang ia rasakan saat ini.

Irene bingung menghadapi perasaannya sendiri. Ia tak bisa menemukan satu solusi yang bisa menjadi jalan tengah semua ini. Seperti biasanya, jika ia tidak menemukan solusi apapun terhadap pertanyaan hidupnya, maka Irene akan melarikan diri kepada Yoona.

“Kau pikir aku ini tidak sibuk sampai harus menemanimu minum teh disini? Besok pagi aku sudah harus berangkat ke China untuk syuting iklan baru,” gerutu Yoona.

Dan seperti biasanya, meskipun Irene sudah bersama Yoona, gadis itu tidak mengutarakan semua isi pikirannya. Ia hanya duduk termenung seraya terus-terusan menyesap black tea-nya. Yoona tentu sudah memahami kepribadian Irene ini, sehingga ia bisa tahu kadar kesulitan masalah yang dihadapi Irene. Ia bisa mengetahuinya hanya dengan melihat dai seberapa banyak minuman yang dihabiskan Irene.

“Ini sudah gelas ke empat dan kau belum bicara apapun. Apa kau mau sakit karena overdosis teh?” sentak Yoona. “Black tea itu moodmu hari ini, huh? Katakan padaku, apa Junmyeon yang membuatmu membutuhkan kafein yang begitu banyak hari ini?”

Irene akhirnya berhenti memegangi cangkir tehnya. Ia menatap Yoona dengan penuh kegalauan terpancar di matanya.

“Kurasa aku akan melakukan kesalahan lagi, Yoona,” lirih Irene.

Yoona tahu arti kesalahan yang dimaksud oleh Irene itu. Irene sudah pasti sedang membahas mengenai kesalahannya tiga tahun yang lalu. Sebab Irene selalu merasa pertemuannya dengan Kim Junmyeon adalah sebuah kesalahan.

“Junmyeon bodoh itu kembali mengganggumu?” selidik Yoona.

Irene hanya menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Karena Irene merasa telah terjadi kesalahan dalam dirinya. Kim Taehyung kini telah sukses menjungkirbalikkan perasaan Irene.

“Aku sudah mencobanya dengan Park Bogum dan itu tidak berhasil. Aku harus bagaimana?”

“Irene, kalau kau tidak bisa menyukai Bogum Oppa ya sudah. Dia juga tidak akan memaksamu untuk menyukainya. Lalu apa yang kau pusingkan?” bingung Yoona.

Irene akhirnya mengangkat wajahnya dan memandang Yoona tepat di matanya.

“Apa yang terlintas dipikiranmu ketika kau memilih untuk memutuskan hubunganmu dengan Oh Sehun?” tanya Irene tiba-tiba.

Inilah alasan Irene menemui Yoona hari ini. Irene ingin belajar dari pengalaman Yoona. Irene kembali membuka buku lama, sebuah kisah antara sahabatnya dengan seorang pemuda yang berusia lebih muda dari mereka. Sebelum menjalin hubungan dengan seorang CEO dari manajemen artis ternama, Yoona pernah menjalin hubungan dengan pemuda yang masih duduk di bangku sekolah. Irene menggunakan kisah sahabatnya itu sebagai perbandingan atas masalahnya saat ini. Mungkin saja kisah Yoona di masa lalu bisa mengubah gaya berpikirnya.

“Omo! Kau bertemu dengannya? Apa kabar dia sekarang? Bukannya anak itu sudah debut? Aigoo aku merindukannya,” seru Yoona tanpa beban.

Senyum di wajah Yoona menghilang begitu melihat kalau Irene tampak serius menunggu jawaban dari pertanyaannya. Yoona akhirnya membenarkan posisinya dan balas memandangi Irene dengan penuh keseriusan.

“Cerita tahun kapan yang kau buka? Apa kau tak ingat pada masa itu aku seperti apa dan dia seperti apa? Aku rookie actress yang baru saja merintis karir, drama yang kubintangi tengah naik daun saat itu. Sementara anak itu, hanyalah seorang trainee yang masih duduk di bangku SMA tahun kedua. Aku harus mengorbankan salah satu untuk kebaikan orang banyak saat itu. Jika saja aku mempertahankan anak itu, belum tentu aku bisa seterkenal sekarang dan belum tentu dia bisa debut. Melepaskannya itu sama saja seperti mengangkat jangkar pada kapal yang sedang berlabuh. Aku bisa melanjutkan perjalanan karirku dan anak itu bisa menyelesaikan pendidikannya dan meraih impiannya,” jelas Yoona.

Irene mencerna cerita Yoona. Ia berpikiran hal yang sama dengan Yoona. Pada masa itu Yoona tak ingin menjadi beban perjalanan Oh Sehun, oleh karena itu Yoona menyelesaikan hubungan mereka. Saat ini Irene merasakan hal yang sama dengan yang Yoona rasakan dulu. Irene sepertinya menyukai Taehyung, tapi ia tak ingin menghalangi masa depan pemuda itu, tapi ia juga tak ingin kisahnya kembali berakhir sama seperti tiga tahun yang lalu.

“Apa kau pernah menyesali keputusanmu itu? Atau kau pernah merasa terlintas di pikiranmu untuk kembali dengannya? Bukankah Oh Sehun sudah sukses sekarang?” tanya Irene ragu-ragu.

Yoona hanya bisa membelalakan matanya. “Irene, kau masih memiliki perasaan terhadap Junmyeon,” terka Yoona.

Irene memilih merapikan tasnya dan bersiap-siap meninggalkan Yoona. Jika Yoona sudah mulai bermain tebak-tebakan dengannya saat ini, Irene takut ia malah akan bercerita pada Yoona kalau ia menyukai Taehyung. Jadi lebih baik Irene menghindar sebelum sahabatnya itu kembali menceramahi dirinya.

“Karena kau mulai berasumsi yang tidak-tidak, maka aku sudahi saja percakapan ini. Hanya karena aku tiba-tiba teringat akan anak itu, makanya aku bertanya padamu. Tapi kau malah memojokkanku,” ujar Irene.

Yoona dengan segera menahan lengan Irene sebelum gadis itu benar-benar meninggalkannya dengan berjuta pertanyaan yang berkecamuk di otaknya.

“Jika kau masih mencintai Junmyeon, maka itu bukanlah suatu kesalahan. Kita tidak bisa menyalahkan kepada siapa hati ini akan berlabuh. Apa yang menjadi penghalangmu untuk memulai kembali dengan Junmyeon? Walaupun aku tidak setuju kau kembali lagi pada penipu itu, tapi aku menginginkan kebahagiaanmu, Irene. Jika kehadiran Junmyeon disisimu bisa membuatmu bahagia, maka kau tak perlu pedulikan ocehan dan cibiran orang,”

Irene akhirnya melepaskan tangan Yoona. Ia kemudian mendekatkan badannya pada Yoona. “Bukan Junmyeon yang sedang kita bicarakan disini.” Irene lalu meninggalkan Yoona yang masih penuh tanya.

“Yah, kalau bukan dia, lalu siapa?” seru Yoona. Gadis itu masih berpikir keras sampai akhirnya ia tiba pada suatu kesimpulan. Dan Yoona kini memandangi bayangan Irene yang menghilang di pintu masuk cafe dengan iba. “Sudah kuduga anak itu akan membawa masalah.”

~*~

Begitu Irene tiba di rumahnya, ia dikagetkan dengan sosok Taehyung yang tengah menunggu dirinya di balkon. Irene tak sempat menghindari pemuda itu lagi, sebab ia sudah kehabisan alasan. Irene masih belum bisa mengendalikan hatinya. Irene takut ia akan goyah jika berhadapan langsung dengan Taehyung. Apalagi Irene memang masih memiliki hutang jawaban pada pemuda itu.

“Noona, akhirnya kau sampai juga,” tegur Taehyung.

Taehyung kini menghalangi langkah Irene. Pemuda itu memandangi Irene, walau Irene sudah memalingkan wajahnya ke arah lain. Dan Irene merutuki dirinya karena tak bisa mengendalikan ekspresi wajahnya saat ini.

“Noona, aku ingin bicara sebentar denganmu,” ujar Taehyung seraya menarik tangan Irene untuk duduk di balkon.

CangguNg. Susasana diantara mereka berdua sungguh lebih buruk dari sekedar canggung. Irene masih terus menghindari kontak mata dengan Taehyung, sementara pemuda itu kehabisan akal akan bagaimana caranya agar Irene bisa melihat dirinya.

“Besok adalah hari pertama ujian akhir. Aku mohon doamu agar aku bisa lulus dengan nilai yang bagus, Noona. Aku berjanji padamu kalau aku akan lulus dengan nilai yang membanggakan. Dengan begitu kau bisa memandangku lagi seperti dulu,” ujar Taehyung.

Irene akhirnya menoleh ke arah Taehyung. Ia akhirnya merasa iba pada pemuda ini. Sebab sudah beberapa waktu belakangan Irene selalu mengabaikannya. Melihat Taehyung seperti ini benar-benar membuat Irene merasa bersalah terhadapnya.

“Maafkan aku jika aku mengabaikanmu belakangan ini. Pikiranku hanya sedang kacau akhir-akhir ini,” keluh Irene.

Taehyung tampak menjaga jaraknya dengan Irene saat ini. Mungkin pemuda itu masih takut pada Irene. Setelah menahan dirinya cukup lama, Taehyung akhirnya memberanikan dirinya dan berpaling menatap Irene.

“Aku sudah bilang pada diriku sendiri kalau aku tidak akan menyerah. Aku mencintaimu, Noona. Bukan sebagai adik kecil yang menyukai kakak perempuannya. Tapi sebagai seorang lelaki pada seorang perempuan. Aku tidak peduli siapa yang ada dihatimu saat ini, tapi aku akan menunggumu sampai kau siap menerimaku. Sampai kau benar-benar menolakku, maka aku tidak akan pernah menyerah terhadapmu,” Taehyung akhirnya mengungkapkan isi hatinya.

Irene hanya bisa terpaku menatap manik mata Taehyung yang tampak berkilat-kilat menunjukkan kesungguhannya. Irene kehabisan kata-kata. Taehyung baru saja menyatakan perasaannya pada Irene. Dan hati Irene langsung goyah.

“Jangan langsung mengatakan tidak saat ini juga, Noona. Aku memberikanmu waktu untuk berpikir sampai aku selesai ujian nanti. Ahh tidak, aku memberikanmu waktu sampai pengumuman kelulusanku nanti. Silakan kau pikirkan perasaanku ini baik-baik,” ujar Taehyung.

“Taehyung-ah,” lirih Irene. “Kenapa kau harus membuat semuanya jadi rumit seperti ini?”

Irene menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Irene tidak tahu bagaimana caranya menolak Taehyung tanpa membuat pemuda itu merasa sedih atau sakit hati. Sebab Irene tahu, ini adalah yang pertama kalinya bagi Taehyung untuk jatuh cinta. Sebab Taehyung pernah mengatakannya pada Irene kalau ia tak pernah berani untuk mencoba jatuh cinta pada seseorang. Irene sungguh merasa dilema.

Taehyung kini berlutut di hadapan Irene. Ia melepaskan kedua tangan Irene yang sedari tadi menutupi wajahnya. Taehyung menggenggam tangan Irene erat dan menatap Irene lekat.

“Pikirkan baik-baik, Noona. Jika kau menerimaku, maka aku akan tetap tinggal disini sambil melanjutkan masa depanku bersamamu. Jika kau menolakku, maka aku akan pergi dari hadapanmu dan menghilang dari kehidupanmu,” Taehyung melemparkan pilihannya pada Irene.

Saat ini Irene sungguh ingin meraih Taehyung dan memeluknya. Tapi akal sehatnya berkata lain. Irene menepis tangan Taehyung dan beranjak meninggalkan Taehyung.

“Bukan kau yang akan memberikanku waktu. Tapi aku yang akan memberikanmu waktu untuk berpikir. Aku akan tinggal di tempat Yoona sampai ujianmu selesai. Dengan begitu kau bisa konsentrasi terhadap masa depanmu,” tegas Irene.

Irene pun meninggalkan Taehyung yang masih terpaku di tempatnya.

~*~

~Chapter 3~

Read Chapter 1, Chapter 2, Chaper 3

SORRY FOR LATE UPDATE

THANK U FOR YOUR SUPPORT TO THIS FICTION!!! Because of u guys this fiction is going to continue

KEEP SUPPORTING BEE!!

 

Advertisements
FF – Love Blossom | Chapter 4

5 thoughts on “FF – Love Blossom | Chapter 4

  1. Nova* says:

    Wahhh ada ff bagus ini main cast nya irene pula bias kesayangaan, maaf baru comment di sini soalnya ceritanya bagus banget sampe baru connect buat comment. Seneng sama jalan ceritanya juga, semoga akhir cerita irene bakalan sama taehyung. Ditunggu kelanjutannya thor, jangan kelamaan ya. Salam kenal

  2. setelah penantian panjang, akhirnya update jga ff ini :” /terhura/

    ini irene masih trauma buat nerima taehyung. tapi ya namanya hati ga bsa di bohongin wkwkw itu vrene moment yg di kamar mandi romantis ye, wlpun tempatnya kurang elit wkwkkw. semangat buat chap selanjutnya’^’)9 aku akan selalu waiting^^

  3. Iya emang udah lama tapi gak apa daripada gak dilanjut :3

    Ini Irene udah sadar suka sama Taehyung. Suho juga udah nyerah kayaknya. Lalu Taehyung udah bilang suka. Tunggu apalagi buat Vrene bersama? XD Tapi kayaknya Irene masih ragu hmmmm….

    Akan ada konflik apa kedepannya atau malah langsung bahagia? Kutunggu ya kak

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s