FF – Love Blossom | Chapter 3


loveblossom2

Title : Love Blossom

Subtitle : Rivals

Author : beedragon

Cast:

  • Irene Red Velvet as Irene Bae

  • V BTS as Kim Taehyung

Genre : Romance, Friendship

Length : Multichapter

Summary : Ketika seorang gadis pecinta apel memberikan apel kesayangannya pada seorang pemuda tunawisma

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : K.Will – Love Blossom | Busker Busker – Cherry Blossom Ending | Teentop – No More perfume on you

Rivals

 

Irene terus kepikiran akan kelakuan Taehyung beberapa waktu yang lalu. Irene sampai ia tak bisa tidur nyenyak belakangan ini. Memang sikap Taehyung kembali normal sejak malam itu, tapi Irene merasa ada yang berubah dari cara remaja itu berbicara pada Irene. Jika ternyata nanti dan seterusnya Taehyung akan bersikap aneh seperti sekarang ini, maka Irene benar-benar tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa pada anak itu. Akhirnya ia memutuskan untuk menemui Yoona dan mencari pencerahan.

“Anak umur segitu memang sedang pubertas, Irene. Jadi wajar kalau dia mudah berubah-ubah moodnya seperti itu,” ujar Yoona malas.

“Dia begitu tidak sukanya ketika aku mengatakan pada orang-orang kalau dia adalah adikku. Memangnya aku tidak meyakinkan untuk menjadi seorang kakak? Padahal dia sudah kuanggap seperti adik sendiri. Dan sekarang dia bertingkah seolah dia adalah kakakku,” keluh Irene.

“Anak itu menyukaimu, mana mau dia menjadi adikmu,” gumam Yoona yang tentunya tidak didengar Irene.

“Makanya aku kan sudah bilang padamu agar jangan membawa anak itu untuk tinggal bersamamu. Lihatlah masalah yang sudah dia bawa. Kamu tidak pernah mau belajar dari kesalahanmu di masa lalu,” kesal Yoona.

Irene hanya terdiam seraya memainkan cangkir teh di hadapannya. Ucapan Yoona mengingatkannya pada masa lalunya. Taehyung bukanlah orang pertama yang pernah tinggal bersamanya. Dulu pernah ada seseorang yang mengisi hari-hari Irene –tiga setengah tahun yang lalu tepatnya. Tapi orang tersebut menghancurkan kepercayaannya dan meninggalkan Irene begitu saja. Tapi berkat orang tersebutlah, Irene tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan mandiri –walaupun sepertinya kehadiran Taehyung kembali membuat Irene menjadi lemah.

“Lupakan masalah anak itu, aku ingin mengenalkanmu pada seseorang,” sela Yoona.

Yoona tampak mengutak-atik ponselnya sebelum ia menunjukkan layar kotak pipih itu pada Irene. Sebuah foto Yoona bersama seorang pemuda yang tampaknya tidak asing bagi Irene.

“Apa kau ingat, beberapa bulan yang lalu aku pernah memintamu untuk menemaniku ke lokasi pemotretan? Dia adalah partner kerjaku kala itu. Namanya Park Bogeum. Dia memintaku untuk mengenalkanmu padanya. Awalnya aku menolak, tapi dia terus mengejarku untuk sekedar meminta nomor teleponmu,” ujar Yoona.

Sekarang Irene ingat siapa pemuda itu. Ia memang pernah bertemu dengannya beberapa waktu yang lalu saat menemani Yoona melakukan pemotretan. Waktu itu Irene bermain dengan anak kecil yang ada di lokasi pemotretan itu dan ternyata anak kecil itu adalah keponakannya yang Park Bogeum bawa bersamanya.

“Bogeum Oppa bilang kalau keponakannya sudah sangat lengket padamu. Kau ingat anak kecil yang kau ajak main di lokasi pemotretan? Itu adalah keponakannya Bogeum Oppa,” Yoona menambahkan. Tapi kemudian ia meletakkan ponselnya dengan kesal di meja. Yoona kini memandangi Irene seolah Irene adalah makhluk menyedihkan di dunia ini. “Oh Irene, ada apa denganmu dan anak kecil? Makanya berpenampilanlah layaknya wanita dewasa. Lihatlah postur dan penampilanmu yang seperti anak kecil ini. Wajar saja kalau banyak anak kecil yang jatuh cinta padamu!”

Irene makin bingung dengan semua ocehan Yoona itu.

“Temui Bogeum Oppa. Siapa tahu terjadi sesuatu yang baik antara kalian. Aku akan lebih senang jika kau bersama dengan orang yang lebih dewasa darimu daripada dengan seseorang yang bahkan untuk mengurus dirinya saja tidak mampu,” tegas Yoona.

 

~*~

 

Irene tak pernah mengira kalau hari ini akan tiba. Hari ketika ia bertemu kembali dengan orang yang pernah menghancurkan kepercayaannya. Irene tak pernah menyangka kalau orang tersebut berani menunjukkan batang hidungnya ke hadapan Irene –setelah semua yang ia lakukan pada Irene selama ini. Setelah tiga tahun lebih menghilang dan pemuda itu kini kembali ke hadapan Irene.

Irene duduk terpaku memandangi seorang pemuda berkulit putih pucat di hadapannya. Irene menyaksikan senyum malaikat yang terpasang rapi di wajah pemuda itu. Dan Irene pun bertanya-tanya, bagaimana bisa senyum pemuda ini terlihat seolah tanpa dosa –jika mengingat semua kekejaman yang telah ia lakukan pada Irene.

“Apa kabarmu, Irene?” tegurnya.

Irene bersumpah kalau jantungnya nyaris runtuh lagi begitu mendengar suara pemuda itu. Dan kembali Irene merutuki dirinya, karena ia nyaris jatuh lagi terhadap pesona pemuda itu.

“Irene, kau tentu sudah mengenal Suho bukan? Mulai sekarang kau akan menjadi manajernya. Suho sudah memiliki road manager, jadi kau tak perlu yang namanya menemani kegiatan Suho. Tugasmu hanya mencarikan project baru untuk Suho, entah itu CF, drama, film atau bahkan single OST. Dan juga untuk melebarkan pangsa pasar kita ke China melalui Suho,” jelas CEO yang juga ada di antara mereka.

Kim Junmyeon, atau yang sekarang lebih dikenal masyarakat dengan Suho itu pernah meninggalkan sebuah masa lalu yang cukup pahit di kehidupan Irene. Dialah yang membuat Irene menjadi pribadi yang tertutup. Dia pulalah yang membuat Irene harus bekerja banting tulang dari pagi hingga malam untuk mengumpulkan pundi-pundi uang yang habis dikuras olehnya. Kim Junmyeon, orang yang sudah memanfaatkan kebaikan hati Irene untuk kepentingan pribadinya, kini kembali mencoba untuk memporak-porandakan hati Irene.

“Ini artinya aku menjadi head manager, CEO-nim? Hanya dalam kurun waktu empat bulan saja aku langsung melompat ke posisi tersebut. Apa kau tidak terlalu percaya diri dengan kemampuanku, CEO-nim?” tegur Irene tanpa memalingkan wajahnya dari Junmyeon.

“Aku yang memintanya, Irene-ssi. Aku bilang pada CEO kalau aku mau tanda tangan kontrak dengan perusahaan ini dengan syarat kau yang menjadi manajerku,” sahut Junmyeon penuh percaya diri.

Irene kembali meneliti pemuda yang disebut CEO sebagai Suho itu. Semakin Irene memandanginya, semakin Irene takjub. Ia tak mengira kalau pemuda itu memiliki rasa percaya diri yang cukup tinggi. Pemuda itu tampak tebal muka di hadapan Irene –terbukti dengan senyum malaikatnya yang tak pernah lepas dari wajahnya.

Begitu melihat ketegangan yang terjadi di antara Irene dan Junmyeon, sang CEO akhirnya memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua. Karena biar bagaimana pun, kekasih Yoona tersebut pasti pernah mendengar dari Yoona mengenai hubungan antara Irene dan Junmyeon.

Irene memandangi sepasang manik kecoklatan yang tampak begitu berbinar-binar di hadapannya. Ia berusaha keras meredam hatinya. Irene tak ingin kembali terjebak dalam kebodohannya. Walau tak bisa Irene pungkiri, Junmyeon masih menduduki salah satu sudut di hatinya. Irene akhirnya berpaling untuk meneliti tabletnya.

“Kenapa kau tiba-tiba datang dan memintaku untuk menjadi manajermu? Untuk menunjukkan kalau kau sudah berhasil?” tegur Irene. Gadis itu tampak mengutak-atik tabletnya.

Tak disangka-sangka, semua kepercayaan diri yang dipajang Junmyeon langsung runtuh begitu Irene menegurnya. Ekspresi Junmyeon langsung melembut dan senyum-sejuta-dollarnya langsung berubah dengan senyum kerinduan.

“Aku merindukanmu, Irene,” Junmyeon memecah ketegangan yang terjadi di antara mereka.

“Ternyata ayahmu adalah seorang profesor ternama di sebuah universitas besar di Korea. Kukira ayahmu adalah seorang guru di Seogyeok-dong? Dan ibumu adalah seorang pengusaha bukannya seorang penjahit? Kenapa kau berbohong padaku?” tanya Irene.

Dulu Irene mau menampung Junmyeon karena lelaki itu meceritakan semua kesusahannya pada Irene. Sebagai seseorang yang tidak tegaan, tentu saja Irene mempercayai ceritanya dan berbaik hati menolong Junmyeon. Padahal pada kala itu uang Irene sendiri tak seberapa –hanya uang warisan dari mendiang ayahnya yang cukup untuk menghidupinya selama lima tahun ke depan. Tapi apa daya, begitu Irene memberikan kepercayaannya pada Junmyeon, lelaki itu malah menipunya dan membawa kabur semua uangnya.

“Maafkan sikapku dulu, Irene. Semua ceritaku padamu itu adalah kenyataan. Sementara yang kau dengar di media itu hanyalah sebuah image yang dibuat manajemenku saja. Tapi lihatlah aku sekarang. Aku sudah sukses sekarang, Irene. Aku akan mengembalikan semua hakmu yang pernah aku rebut. Karena itu, kuharap kita bisa kembali lagi seperti dulu. Perasaanku padamu itu tulus, Irene,” ujar Junmyeon.

Entah apakah Junmyeon ini terlalu percaya diri ataukah Irene yang terlalu naif, tapi gadis itu tak bisa menyalahkan pemuda itu. Tapi Irene sungguh tak ingin terlibat lagi dengan Junmyeon. Akhirnya Irene menemukan satu cara untuk mencegah Junmyeon kembali masuk ke kehidupannya. Prinsip hidupnya, Irene bisa mempertahankan prinsip hidupnya. Dan sejak dulu, Junmyeon tahu persis apa prinsip hidup Irene.

“Sepertinya sudah lama berpisah denganku membuatmu lupa akan diriku. Apa kau lupa, kita sudah tidak bisa kembali seperti dulu lagi, Suho-ssi. Aku tidak akan pernah terlibat cinta lokasi. Hubungan kita sekarang adalah partner kerja dan aku tidak akan pernah jatuh cinta pada rekan kerjaku sendiri. Jadi lupakanlah masa lalumu, Suho-ssi. Karena aku juga sudah melupakan masa laluku tentang dirimu,” tegas Irene.

Junmyeon tampak tertegun mendengar ucapan Irene. Ia sudah menduga kalau Irene pasti akan menolaknya, tapi ia tak menyangka kalau Irene akan menolaknya dengan cara ini. Irene kemudian berdiri dan mengulas senyum pada Junmyeon. Ia kemudian menyodorkan tangannya pada Junmyeon.

“Semoga kita bisa menjalin kerjasama yang baik. Kuharap semua kelakuan burukmu di manajemen sebelumnya tidak kau bawa kesini. Sebab aku tidak akan mentolerir orang yang tidak loyal terhadap perusahaan,” ujar Irene yang lalu menjabat tangan Junmyeon. Kemudian Irene meninggalkan Junmyeon yang masih tampak terkejut dengan semua ucapan Irene.

 

~*~

 

Ketika Taehyung berpapasan dengan Irene, Taehyung langsung menangkap ada sesuatu yang beda dengan Irene hari ini. Ada yang spesial di wajah Irene. Taehyung pun berdiri di hadapan Irene dan meneliti wajahnya.

“Apa?” bingung Irene yang baru saja akan minum.

Taehyung lalu meraih dagu Irene dan mendekatkan wajahnya pada Irene. Mata Taehyung fokus pada bibir Irene. Hal ini membuat Irene salah tingkah bukan main.

“Noona, kau pakai lipstik?” terka Taehyung yang tak melepaskan pandangannya dari bibir Irene. “Padahal pergi kerja pun kau tak pernah pakai make-up. Dalam rangka apa kau berdandan seperti ini?”

Irene kaget dengan tebakan Taehyung. Padahal warna lipstiknya begitu natural dan ia hanya memoleskan lipstiknya tipis-tipis, tapi Taehyung mampu membedakannya. Irene pun segera melepaskan diri dari Taehyung dan langsung menegak habis minumannya.

“Matamu jeli juga,” gumam Irene. “Aku akan pergi menemui seseorang hari ini. Mungkin aku akan pulang malam, jadi kau makan saja duluan tanpaku.”

Irene lalu berpaling meninggalkan Taehyung sebelum pemuda itu menginterogasinya lebih jauh. Dan benar saja, karena kini Taehyung sudah menghalangi langkahnya dan tersenyum penuh arti –bersiap untuk menggoda Irene.

“Eeh, bertemu seseorang? Nugu (siapa)? Namja (lelaki)? Apa Noona akan pergi kencan?” goda Taehyung.

Hebatnya, wajah Irene langsung merona seolah mengiyakan pertanyaan Taehyung. Bagaikan habis tersambar petir, Taehyung langsung merasa lemas. Ia langsung melepaskan Irene dan menjaga jarak dari Irene. Taehyung makin lemas begitu melihat reaksi Irene –gadis itu menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya.

“Aku hanya bertemu dengan seseorang. Dan kurasa ini bukan ken.. ahh molla (tak tahu)!” sergah Irene yang memilih meninggalkan Taehyung yang masih mematung.

Taehyung merasa kalau langit akan runtuh sebentar lagi. Irene sepertinya benar akan pergi kencan. Tapi dengan siapa? Taehyung bahkan tak pernah mendengar Irene bercerita tentang lelaki manapun. Apa mungkin rekan kerjanya? Bahkan Irene tak pernah bercerita mengenai rekan kerjanya pada Taehyung. Mendadak Taehyung tersadar kalau dirinya tak tahu apapun mengenai Irene.

Taehyung akhirnya memutuskan untuk membuntuti Irene hari ini.

 

~*~

 

Taehyung membuntuti Irene sampai ke sebuah cafe di daerah Shincheon-dong. Taehyung tak bisa membuntuti Irene hingga ke dalam cafe sebab ia tak memiliki uang untuk sekedar membeli segelas minuman yang paling murah dari cafe tersebut. Jadi Taehyung hanya menunggu Irene di dekat cafe tersebut sambil terus mengamati keadaan cafe.

Sepanjang Taehyung mengawasi cafe itu, ia melihat beberapa orang keluar masuk cafe. Dari beberapa lelaki yang memasuki cafe itu, Taehyung tidak menangkap seorang pun yang terlihat istimewa.

“Ahh, mungkin Noona bukan pergi kencan,” gumam Taehyung.

Taehyung lalu mengacak-acak rambutnya sendiri –frustasi. Ia berpikir dirinya sudah terlalu posesif terhadap Irene. Akhirnya Taehyung memutuskan untuk pergi dari daerah tersebut. Tapi baru berapa langkah, Taehyung sudah menghentikan gerakannya ketika ia mendengar ada yang memanggil namanya. Taehyung pun membalikkan badannya untuk melihat siapa yang menegurnya.

“Ohh, ternyata benar Kim Taehyung,” tegur Yoona.

Taehyung memandangi sahabat Irene itu kaget sekaligus bingung. Ia kaget karena tertangkap basah oleh Yoona dan ia bingung karena Yoona ternyata mengingat namanya. Taehyung berusaha bersikap senormal mungkin dan membungkukkan badannya pada Yoona.

“Apa yang kau lakukan disini?” selidik Yoona. “Membuntuti Irene?”

“Ehh?!” kaget Taehyung. Ia nyaris salah tingkah dengan tebakan Yoona tersebut. Untungnya ia langsung menguasai dirinya dan menyiapkan jawaban yang logis pada Yoona. “Aku habis survey lokasi. Katanya di daerah ini akan ada kompetisi rapper.”

Yoona tampak mendengus mendengar jawaban Taehyung yang terdengar tak masuk akal itu. Ia kemudian merangkul –memiting lebih tepatnya –leher Taehyung seraya menyeret anak itu pergi bersamanya.

“Temani aku makan siang, maka aku akan memberikan informasi berharga untukmu.”

 

~*~

 

Taehyung tidak tahu apakah merupakan keputusan yang tepat untuk makan berdua saja dengan seorang Im Yoona. Sebab sepengetahuan Taehyung, Yoona ini adalah seorang artis terkenal. Ia adalah seorang model yang sukses merambah dunia akting. Kecantikannya yang luar biasa itu pun membuatnya dijuluki sebagai ‘dewinya Korea Selatan’. Kini semua orang di dalam restoran mencuri-curi pandang ke arah mereka.

“Noona, apa kau baik-baik saja duduk bersamaku disini?” khawatir Taehyung. Ia takut image Yoona akan ternoda karena mengajaknya makan bersama.

“Kau sendiri? Setelah ini pasti akan ada banyak orang yang mengejarmu hanya untuk sekedar menyampaikan salam mereka terhadapku,” sahut Yoona acuh.

Akhirnya Taehyung memilih untuk bersikap sewajarnya terhadap Yoona. Jujur saja Taehyung merasa terintimidasi oleh kharisma Yoona. Tatapan Yoona yang seperti sedang menyelidik itu membuat Taehyung tak berkutik dibuatnya.

“Ketika di rumah, kalian bercerita apa saja?” tegur Yoona.

Taehyung memandangi Yoona bingung. “Aku dan Irene Noona maksudnya? Noona tidak banyak cerita ketika di rumah. Biasanya Noona menemaniku belajar. Tidak ada yang spesial,” sahut Taehyung.

“Berarti Irene tak pernah cerita mengenai pekerjaannya padamu?” selidik Yoona. Dan Taehyung menyahuti pertanyaan Yoona tersebut dengan gelengan kepala.

Yoona kini tampak merenung sejenak. Kemudian ia menatap Taehyung dengan tatapan yang perlahan melembut, seolah sedang dirundung rasa bersalah yang cukup besar. Yoona kemudian mengacak-acak rambut panjangnya sebelum mengeluarkan semua keluh kesahnya pada Taehyung.

“Ahh, ini semua memang salahku. Harusnya aku bisa mencegah masuknya Junmyeon ke manajemen kekasihku. Tapi memang perusahaan kekasihku sedang membutuhkan seorang artis yang tengah naik daun seperti dia. Ahh aku seperti sedang mendorong sahabatku sendiri ke tepi jurang. Aku harus bagaimana, Taehyung-ah,” resah Yoona.

Taehyung makin bingung dengan semua celotehan Yoona. Kenapa pula ia harus mendengarkan keluhan Yoona mengenai Junmyeon. Siapa pula Junmyeon itu dan kenapa Yoona sampai harus merasa begitu bersalah karena orang tersebut masuk ke perusahaan kekasihnya.

“Junmyeon itu adalah mantan kekasih Irene. Orang itu sudah meninggalkan Irene tiga tahun yang lalu. Kini lelaki itu kembali datang ke kehidupan Irene dengan cara masuk ke perusahaan kekasihku dan meminta Irene untuk menjadi manajernya. Makhluk tak tahu diri itu pasti berniat untuk kembali lagi bersama Irene. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”

Taehyung kini tersedak minumannya karena mendengarkan cerita Yoona tersebut. Taehyung tak pernah tahu kalau Irene kini kembali bertemu dengan mantan kekasihnya. Pantas saja Irene selalu terlihat banyak melamun ketika sedang di rumah. Mungkin saja Irene terus kepikiran mengenai lelaki itu. Taehyung merasa kalau dirinya sungguh tidak berguna karena tidak menyadari perubahan sikap yang dialami Irene belakangan ini.

“Apa Irene pernah cerita soal Junmyeon?” tanya Yoona.

“Aku baru mendengar nama itu hari ini,” sahut Taehyung.

“Tapi kau pernah mendengar mengenai orang yang memanfaatkan kebaikan Irene dan kemudian meninggalkan Irene terpuruk begitu saja? Orang itu adalah Kim Junmyeon. Ia memanfaatkan kebaikan Irene dan menguras semua harta benda Irene lalu pergi meninggalkan Irene dengan tumpukan hutang,” Yoona terdengar sedikit emosi.

Taehyung hanya bisa termenung begitu mengetahui satu kisah hidup Irene ini. Taehyung baru menyadari kalau dirinya sama sekali tidak tahu apapun mengenai Irene. Irene memang jarang bercerita mengenai dirinya, selalu hanya Taehyung yang terbuka mengenai kisah hidupnya. Taehyung merasa kalau dirinya telah gagal –ia gagal memahami Irene.

“Aku tahu Junmyeon berniat untuk memulai kembali hubungannya dengan Irene. Walaupun perasaannya terhadap Irene tulus, tapi aku tetap tak bisa memaafkan perbuatannya yang dulu. Oleh karena itu aku akan melindungi Irene dari Junmyeon,” tekad Yoona.

Yoona kini menujukkan ponselnya pada Taehyung. Di layar ponselnya terpampang foto seorang pemuda yang cukup tampan –menurut standar Taehyung. Pemuda di layar ponsel Yoona itu menunjukkan senyuman yang ramah dan sorot mata yang meneduhkan. Hanya dengan melihat fotonya saja, Taehyung bisa menduga kalau pemuda itu adalah orang yang baik. Tapi apakah orang itu yang namanya Kim Junmyeon?

“Aku akan menjodohkan Irene dengan dia,” ujar Yoona.

Yoona benar-benar menaik-turunkan jantung Taehyung hari ini. Entah sudah berapa banyak kejutan yang ia dengar dari Yoona hanya dalam kurun waktu sejam saja. Dan Taehyung tidak yakin apa ia bisa mendengarkan kelanjutan cerita Yoona hari ini. Sebab rasanya jantungnya sudah tak kuasa dengan semua kejutan ini.

“Namanya adalah Park Bogeum. Dia seorang artis juga sama seperti Junmyeon. Tapi dia adalah pemuda terbaik yang pernah kutemui –setelah kekasihku tentu saja,” Yoona mengenalkan sosok dalam ponsel tersebut pada Taehyung.

Rasanya jiwa Taehyung semakin menciut saja karena semua celotehan Yoona. Ia baru saja mendapatkan dua orang saingan yang sangat berat. Kedua pemuda yang diceritakan Yoona itu adalah pemuda yang tampan, sukses, dan pastinya jauh lebih cocok bersanding dengan Irene dibandingkan dirinya yang hanya seorang anak sekolahan.

“Aku tentu saja lebih setuju jika Irene bisa melanjutkan hubungannya dengan Bogeum Oppa. Sebab Bogeum Oppa adalah lelaki yang baik. Dan perempuan yang baik seperti Irene harus mendapatkan lelaki baik seperti Bogeum Oppa,” ujar Yoona.

Ucapan Yoona tersebut bagaikan garam yang ditaburkan di atas luka hati Taehyung. Secara tidak langsung Yoona mencoba menegaskan pada Taehyung kalau lelaki seperti Park Bogeum itulah yang cocok dengan Irene.

 

~*~

 

Malam ini Taehyung berniat untuk mendengar langsung dari mulut Irene mengenai hal-hal yang diceritakan Yoona tadi siang. Oleh karena itu Taehyung menggelar selimut di atas dipan yang ada di balkon serta menyiapkan beberapa minuman dan buah-buahan untuk menemani percakapan mereka nantinya.

“Wah, ada apa ini, Taehyung-ah?” tegur Irene yang baru saja selesai mandi.

“Kurasa langit sedang cerah malam ini. Sangat jarang kita bisa melihat bintang sebanyak ini di langit Seoul. Jadi aku mau mengajak Noona untuk menikmati pemandangan malam ini bersamaku,” ujar Taehyung.

Irene mengulas senyumannya pada Taehyung. Lalu ia naik ke atas dipan dan menyelimuti kakinya dengan selimut yang tersedia disana. Irene merebahkan dirinya dan memandangi langit malam yang penuh dengan bintang.

“Rasanya sudah lama sekali aku tidak memandangi bintang. Dulu ketika di Amerika aku sering pergi bersama ayahku ke bukit terdekat untuk sekedar menikmati bintang di langit,” ujar Irene.

“Ceritakan padaku, Noona,” sela Taehyung.

Irene menoleh pada Taehyung. Pemuda itu ikut naik ke atas dipan dan duduk di samping Irene. Keseriusan yang terpancar dari matanya tampaknya cukup untuk membuat Irene menanggapi permintaan Taehyung tersebut. Irene pun bangkit untuk duduk berhadapan dengan Taehyung.

“Ceritakan padaku mengenai dirimu, Noona. Aku ingin tahu banyak tentangmu. Hari ini aku bertemu dengan Yoona Noona dan dia bercerita tentangmu. Tapi aku tak terlalu mempercayainya, sebab aku belum mendengarnya langsung darimu. Apa boleh aku mendengar cerita tentangmu, Noona?”

“Apa Yoona cerita mengenai Kim Junmyeon?” Taehyung menjawab pertanyaan Irene dengan anggukan. “Apapun yang ia ceritakan mengenai Kim Junmyeon, itu semua adalah benar. Sebab apa yang ia ketahui tentang Junmyeon adalah apa yang aku ceritakan padanya,” jelas Irene.

Irene pun bercerita mengenai kronologis ia bertemu dengan Kim Junmyeon. Mereka berbagi kesedihan yang sama dan mereka terlibat sebuah hubungan yang rumit. Irene bercerita tentang perasaannya dulu terhadap Kim Junmyeon. Irene berkisah mengenai Kim Junmyeon yang menjadi ‘pertamanya’ –orang pertama yang pernah ia cintai serta orang pertama yang mematahkan hatinya.

“Ketika aku pindah ke Seoul empat setengah tahun lalu, aku termasuk anak yang memiliki cukup banyak uang. Mendiang ayahku meninggalkan uang yang banyak untuk masa depanku. Oleh karena itu aku bisa menyewa tempat tinggal yang memiliki dua kamar seperti ini. Kemudian aku mengenal Junmyeon. Aku memahami kesedihan dan perjuangannya. Dan dengan kenaifan dan kesombonganku, aku pun menolongnya.”

Irene menghentikan ceritanya. Ia menegak jus apel yang disiapkan Taehyung. Kemudian Irene memandangi langit seraya mengulas senyum tipis.

“Hubungan kami tidak berhasil karena dia memiliki sebuah mimpi dimana aku tidak termasuk di dalamnya. Aku paham dengan semangatnya untuk bisa lolos audisi dan masuk dalam sebuah proyek drama. Dan aku tahu, jika aku terus bersamanya maka aku akan menjadi penghalangnya. Jadi aku hanya bisa memaklumi keputusannya meninggalkanku begitu saja.”

Irene menoleh pada Taehyung. Ia merapikan rambut Taehyung yang berantakan karena tertiup angin malam. “Dan Yoona tidak tahu akan hal itu. Yoona tidak tahu kalau aku pernah sangat mencintai Junmyeon dan begitu pun sebaliknya. Kami saling mencintai, hanya saja keadaan yang harus memisahkan kami.”

“Apa kau akan kembali lagi padanya?” tanya Taehyung ragu-ragu.

Irene hanya mengangkat bahunya. “Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apakah rasa di dalam sini adalah kerinduan terhadapnya atau hal yang lainnya. Sampai saat ini pun aku masih bertanya-tanya, apakah aku mampu menerimanya kembali.”

Irene kembali merebahkan dirinya di atas dipan. Ia menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan kepalanya. Irene kemudian memejamkan matanya.

“Aku tidak tahu apakah aku masih menginginkannya atau tidak.”

Taehyung pun ikut berbaring disamping Irene. Ia memandangi Irene dan meresapi kesepian yang terpancar di wajahnya. Taehyung bisa melihatnya dari mata Irene ketika ia bercerita mengenai Kim Junmyeon. Gadis itu merindukannya. Gadis itu mengharapkannya. Gadis itu membutuhkannya. Taehyung kini merasa cemas. Sebab ia tak ingin Irene kembali lagi dengan pemuda itu.

“Terima kasih, Noona. Kau sudah mau membuka hatimu padaku. Dengan menjadi pendengarmu malam ini membuatku merasa kalau aku selangkah lebih dekat denganmu,” ujar Taehyung.

Irene tidak bereaksi terhadap ucapan Taehyung. Pemuda itu lalu bangun dan melambaikan tangannya di depan wajah Irene. Sesuai dugaannya, Irene sudah tertidur saat ini.

“Noona, bangun. Kau bisa masuk angin jika tidur disini,” bisik Taehyung. Ia sebenarnya tidak benar-benar ingin membangunkan Irene. Akhirnya menyelimuti badan Irene. Kemudian Taehyung kembali berbaring disamping Irene.

“Jangan kembali lagi pada pemuda itu, Noona. Juga jangan menerima pemuda yang dikenalkan oleh Yoona Noona. Aku belum siap kehilanganmu, Noona.”

Taehyung menghadapkan dirinya ke arah Irene dan memandangi Irene hingga ia akhirnya terlelap.

 

~*~

 

“Harusnya kau membangunkanku!” kesal Irene.

Irene sudah menggelar baskom besar di balkon dan mengisinya dengan air. Irene juga menuang deterjen ke dalam baskom tersebut sebelum memasukkan selimut yang semalam mereka pakai sebagai alas tidur di dipan.

“Aku sudah membangunkanmu, Noona. Tapi kau tidak mau bangun juga,” sahut Taehyung yang masih duduk di dipan –berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi.

“Setidaknya kau bisa merapikan dulu jusnya sebelum tidur. Lihatlah sekarang akibat dari ulahmu tidak merapikan semuanya,” gerutu Irene.

Irene kini merendam semua selimutnya, sebab ketika ia bangun tidur pagi ini, ia mendapati selimut yang menjadi alas tidur mereka sudah kotor akibat jus apel yang tumpah. Kebetulan botol jus itu ada di samping Irene dan berkat insiden pagi inilah, isi dari botol jus itu tumpah membasahi selimutnya. Semua itu adalah kesalahan Irene, tapi ia tetap saja merasa kesal –untuk menutupi rasa malunya.

“Jika kau menginjak-injak selimutnya, maka selimutnya akan lebih cepat bersih, Noona,” ujar Taehyung yang sudah menghampiri Irene.

“Aku tahu,” tukas Irene. “Jangan hanya bicara dan bantu aku.”

Irene kini melangkah masuk ke dalam baskom dan mulai menginjak-injak cuciannya. Ia melihat Taehyung sudah mengulurkan tangan padanya. Irene hanya memandangi tangan dan wajah Taehyung bergantian –bingung akan maksud dari pemuda itu.

“Pegangan padaku, nanti kau terpeleset dan jatuh,” Taehyung menjelaskan.

Belumlah Taehyung selesai bicara, tapi Irene sudah lebih dulu kehilangan keseimbangannya –karena kakinya tersangkut pada cuciannya. Dengan sigap Taehyung menahan pinggang dan punggung Irene –menjaganya agar tidak terjatuh.

“Apa kubilang, Noona,” bisik Taehyung.

Irene mematung dalam pelukan Taehyung. Dalam sekejap wajahnya langsung memerah sebab ia teringat akan insiden ketika ia bangun tidur pagi ini. Ketika Irene membuka matanya pagi ini, Irene mendapati dirinya tengah memeluk Taehyung erat. Karena kaget, Irene langsung berbalik dan menumpahkan isi dari botol jus apel yang masih setengah penuh.

“Noona?” teguran Taehyung menyadarkan Irene. Dengan segera Irene melepaskan diri dari Taehyung –dan Taehyung kembali harus menahan badan Irene sebab gadis itu kembali kehilangan keseimbangannya. “Kau harus lebih berhati-hati, Noona.”

Setelah berhasil menguasai dirinya, Irene pun memilih untuk meninggalkan Taehyung dengan cuciannya. Irene menyuruh Taehyung untuk menyelesaikan cuciannya, sementara ia melarikan diri ke dalam rumah untuk meredakan dirinya. Di dalam rumah Irene langsung menegak air dingin seraya mengipasi wajahnya yang masih terasa panas.

“Tenangkan dirimu, Irene. Dia hanya anak kecil. Don’t let yourself lose your calmness (jangan biarkan dirimu kehilangan rasa tenangmu),” ujar Irene pada dirinya sendiri. Setelah berhasil meredakan perasaannya, Irene pun kembali keluar untuk membantu Taehyung.

 

~*~

 

Taehyung berniat menjemput Irene di kantornya hari ini. Ia ingin mengajak Irene menyaksikan sebuah pertunjukkan musik di Hongdae. Sebab ia kalau merasa Irene perlu hiburan saat ini. Belakangan ini Irene sering pulang malam. Ia mendengar dari Irene kalau gadis itu tengah menyiapkan sebuah proyek besar untuk invasi Kim Junmyeon ke China. Oleh karena itu Irene tampak kurang istirahat. Begitu mendengar kalau hari ini Irene akan pulang cepat, Taehyung langsung berlari menuju kantor Irene untuk menjemputnya.

Setibanya di daerah Cheondam-dong, tempat kantor Irene, Taehyung langsung memilih jalur memutar. Irene mengajarinya untuk tidak masuk lewat pintu depan kantor. Sebab kantornya memiliki jalur rahasia untuk para aktrisnya keluar-masuk kantor tanpa tersorot kamera paparazzi yang bertebaran di depan pintu utama gedung kantor. Irene juga memberi akses masuk pada Taehyung sehingga security tidak akan menahan pemuda itu jika ia masuk ke area kantor lewat pintu rahasia.

“Sore, Ahjussi,” sapa Taehyung pada petugas keamanan yang tengah berjaga. Ia memberikan beberapa gelas kopi yang yang beli di jalan tadi pada petugas keamanan tersebut. “Semangat bekerja, Ahjussi!”

“Mau menjemput nona Irene? Kau benar-benar adik yang perhatian,” ujar si petugas keamanan.

Taehyung hanya cemberut mendengar ucapan si petugas keamanan. Tapi Taehyung tak memusingkannya sebab ia harus menunggu Irene di parkiran basement.

“Jangan sampai ketahuan. Atau aku harus memasukkanmu dalam daftar blacklist,” pesan petugas keamanan.

Setelah memberi isyarat Ok pada petugas keamanan, Taehyung pun masuk ke dalam parkiran gedung. Taehyung tahu kalau di parkiran bawah tanah gedung ini memiliki kamera CCTV, oleh karena itu Taehyung tidak masuk ke dalam parkiran dan hanya menunggu di batas pintu masuk parkiran. Dari sisi ini sendiri Taehyung sudah bisa melihat seisi parkiran serta lift yang menjadi akses keluar masuk.

Setelah tak lama menunggu, Taehyung melihat pintu lift terbuka. Ia melihat Irene keluar dari lift itu dan dia tak sendirian. Irene keluar dari lift bersama dengan seorang pemuda tampan berkulit putih pucat yang Taehyung kenal bernama Kim Junmyeon –atau lebih dikenal sebagai Suho. Taehyung melihat Junmyeon menahan tangan Irene yang berjalan di depannya. Kemudian ia membalikkan badan Irene agar berhadapan dengannya.

Taehyung kini merasa cemas. Ia cemas akan apa yang terjadi selanjutnya. Sebab kini Junmyeon sudah menundukkan badannya untuk menyejajarkan kepalanya pada Irene. Taehyung tak dapat melihat reaksi Irene, sebab posisi gadis itu membelakangi dirinya. Tapi Taehyung tak perlu menebak jalan cerita selanjutnya, karena Junmyeon kini sudah mengurangi jarak antara wajahnya dengan Irene.

Tak mampu melihat kelanjutannya, Taehyung pun memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Ia merasa dunianya sudah runtuh –benar-benar runtuh. Kini ketakutannya menjadi kenyataan. Irene sepertinya akan kembali lagi pada Kim Junmyeon.

Taehyung merasa lemas. Ia tak tahu harus bagaimana agar bisa mempertahankan Irene disisinya. Ia juga tak berani menyatakan perasaannya pada Irene sebab Taehyung merasa kalau dirinya belum pantas bersanding dengan Irene. Kini Taehyung merasa kalah pada Kim Junmyeon.

Perlahan Taehyung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Irene, tapi gadis itu tidak menjawab panggilannya. Kemudian Taehyung mengirimkan pesan pada Irene.

                Noona, aku membutuhkanmu

Taehyung tidak peduli jika Irene menganggapnya sebagai lelaki yang lemah karena pesan tersebut. Selama itu bisa menarik perhatian Irene dan membuatnya melupakan sejenak mengenai Kim Junmyeon, maka Taehyung tidak masalah dicap sebagai lelaki lemah. Tapi Irene tidak membalas pesannya apalagi meneleponnya. Bahkan pesan Taehyung belum di baca olehnya.

Taehyung memandangi ponselnya nelangsa. Ia menyebrangi jalan raya tanpa memperhatikan lagi kalau lampu lalu lintas berwarna hijau kini sudah menyala. Bunyi klakson yang panjang menyadarkan Taehyung dari pikiran panjangnya. Ketika ia menoleh ke arah kirinya, Taehyung melihat sebuah mobil van sudah melaju ke arahnya.

~*~

~Chapter 3~

Read Chapter 1, Chapter 2

THANK U FOR YOUR SUPPORT TO THIS FICTION!!! Because of u guys this fiction is going to continue.

jangan lupa suruh teman-teman kalian pecinta V-Rene untuk membaca fiksi ini juga yaa, semakin banyak yang baca dan meninggalkan feedback yang baik tentang fiksi ini, pasti akan semakin cepat bee publish kelanjutannya.

see u!! KEEP SUPPORTING BEE!!

Advertisements
FF – Love Blossom | Chapter 3

14 thoughts on “FF – Love Blossom | Chapter 3

  1. Rychell says:

    Aku baru disini wkwkwkw dan aku udh baca dari 1-3 ini tapi baru comment disini … Aku suka bgt vrene jd tlg dilanjutin yaaaa penasaran sm selanjutnyaa

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s