FF – Love Blossom | Chapter 2


 

loveblossom2

Title : Love Blossom

Subtitle : Boys in love

Author : beedragon

Cast:

  • Irene Red Velvet as Irene Bae

  • V BTS as Kim Taehyung

Genre : Romance, Friendship

Length : Multichapter

Summary : Ketika seorang gadis pecinta apel memberikan apel kesayangannya pada seorang pemuda tunawisma

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : K.Will – Love Blossom | Busker Busker – Cherry Blossom Ending | Teentop – No More perfume on you

Boy in Love

 

“Ehh?!!” Irene terkejut sendiri dengan apa yang baru saja ia ucapkan.

Irene tampak panik. Ia merasa otaknya sudah tidak bekerja dengan baik. Bagaimana bisa ia menawarkan tempat tinggalnya pada orang asing yang baru ia kenal sejam yang lalu? Irene merasa kalau dirinya sudah gila.

“Irene-ssi, apa kau orang yang seperti itu? Yang bisa menawarkan tempat tinggal pada orang asing secepat itu?” kaget Taehyung. Ia kini memandangi Irene tak percaya. Taehyung tak menyangka akan perbedaan budaya yang begitu terasa.

“Tidak. Lupakan apa yang aku katakan. Maksudku bukan tinggal di sini. Tapi.. tapi.. Ahh lantai bawah kosong!” Akhirnya Irene menemukan pembelaan dirinya. “Kalau kau mau, kau bisa menyewa lantai satu. Aku bisa memberikanmu nomor telepon pemilik rumah.”

Irene menyeka pelipisnya yang tidak berkeringat. Ia nyaris saja kembali terjebak oleh dirinya sendiri. Irene benar-benar terlihat bodoh saat ini. Ia tak menyangka akan menunjukkan kelemahannya secepat ini pada Taehyung.

“Apa kau sedang meledekku? Lantai bawah sudah pasti mahal biayanya jika melihat dari luasnya rumah ini. Aku tidak punya uang sebanyak itu,” sahut Taehyung.

Irene kini memutar otaknya. Ia tak bisa mengacuhkan begitu saja pemuda menyedihkan di hadapannya ini. Lagipula, lihatlah sepasang mata itu! Siapa yang tega membiarkan makhluk malang ini terlantar di jalanan. Sungguh saat ini Irene merasa kalau yang ada dihadapannya ini bukanlah seorang remaja lelaki melainkan seekor anak kucing yang dibuang pemiliknya.

“Irene-ssi, kepribadianmu ini bisa menjadi celah baik bagi orang-orang yang berniat jahat. Kau terlalu baik,” ujar Taehyung. “Walaupun awalnya aku takut padamu karena kau sudah membantingku tanpa basa-basi waktu itu, tapi begitu mengobrol denganmu aku bisa melihat kalau kau ini memiliki hati yang mulia.”

Irene menundukkan kepalanya. Ia tak suka mendengar pujian seperti itu. Sebab itu merupakan tanda kalau orang di hadapannya ini sudah mengetahui kelemahannya. “Banyak yang bilang seperti itu dan mereka yang mengatakan itulah yang memanfaatkan keadaanku,” gumam Irene pada dirinya sendiri.

“Aku sungguh berterima kasih karena kau sudah memikirkan bagaimana nasibku nantinya, sementara orang-orang dewasa di sekitarku lebih memilih untuk mengacuhkanku.” Taehyung kini membungkukkan badannya pada Irene. “Tapi sepertinya aku akan berusaha lebih keras lagi untuk bisa bertahan di dunia ini. Jika nanti aku ternyata tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri dan kau masih mau untuk menolongku, pasti aku akan langsung menyambut tanganmu. Terima kasih, Irene-ssi. Aku pamit dulu. Terima kasih untuk makan malamnya.”

Dan Taehyung pun pergi.

Irene sendiri tidak tahu apakah ia harus merasa senang atau tidak begitu melihat kepergian Taehyung. Tapi hati kecilnya berkata kalau anak lelaki itu membutuhkan bantuannya. Walaupun ada sedikit rasa tenang di hatinya karena ia juga tidak akan tahu bagaimana cara menolong pemuda itu tanpa harus melibatkan dirinya secara langsung pada kehidupan Taehyung. Lagipula Irene yakin kalau Yoona pasti akan memarahi dirinya habis-habisan jika sampai ia mengajak Taehyung untuk tinggal bersamanya.

 

 

Beberapa hari kemudian….

 

 

“Kim Taehyung. Sudah berapa kali kubilang untuk mengunci kamar mandi jika kau sedang menggunakannya,” keluh Irene di depan kamar mandi. Baru saja ia masuk kamar mandi dan menyaksikan Kim Taehyung, pemuda yang kini tinggal bersamanya itu, tengah bertelanjang dada di dalam sana.

“Aku baru saja masuk, Noona. Salah sendiri kenapa tidak ketuk pintu dulu,” seru Taehyung seraya berusaha menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.

Irene hanya memijit pelipisnya seraya berjalan ke dapur. Sambil menegak air minum untuk meredakan rasa kagetnya, Irene melirik tajam pada pintu kamar mandi –seolah ingin mengebor pintu itu dengan tatapannya.

“Irene, apa kau tahu keputusan yang sudah kau buat ini sangat berbahaya,” keluh Irene pada dirinya sendiri. “Kurasa hari ini Yoona akan memarahiku lebih panjang dari sebelumnya.”

 

~*~

 

“Jadi kau biarkan dia tinggal denganmu?!” seru Yoona.

Irene hanya menutup kedua telinganya. Pagi ini ia mengunjungi temannya itu untuk dimarahi berkonsultasi. Meskipun tujuannya untuk sekedar bercerita, tapi Irene sudah menyiapkan dirinya untuk menerima caci-maki dari temannya yang blak-blakan itu.

“Kenapa kau kembali melakukan kesalahan yang sama Irene? Apa kau tidak ingat, orang-orang yang mendekatimu dengan cara yang sama? Mereka memanfaatkan kebaikanmu dan mengambil semua harta bendamu yang tak seberapa itu lalu kemudian meninggalkanmu terpuruk begitu saja,” Yoona kembali membuka luka lama Irene.

Irene memfokuskan perhatiannya pada secangkir barley tea di hadapannya. Ia tak ingin mengingat masa lalunya. Masa lalu mengenai orang-orang yang sudah ia anggap sebagai orang terdekat tapi malah menikam dirinya dari belakang.

“Dan dia itu adalah anak lelaki, Irene. LELAKI!” tegas Yoona.

“Dia hanya seorang siswa SMA tingkat akhir,” sahut Irene pelan.

“Itu dia maksudnya! Dia masih sekolah. Apa kau tak tahu anak sekolah jaman sekarang itu seperti apa? Bagaimana dengan biaya sekolahnya? Biaya makannya? Dan biaya-biaya yang lain? Irene, dia hanya mau menumpang hidup denganmu,” Yoona mencoba membuka pemikiran Irene. “Dia akan menjadi lintah yang menyedot habis darahmu.”

Irene kini memijit kedua pelipisnya. Ia sadar betul kalau ia sudah membuat kesalahan. Tapi hati nuraninya tak bisa mengacuhkan anak malang itu.

“Ayah asuhnya sudah membayar lunas uang sekolahnya. Dan mengenai uang jajannya, ia bilang ia sudah terbiasa mencari uang sejak dini,” sahut Irene dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya.

“Itu karena dia menumpang disana-sini seperti parasit,” tukas Yoona. “Menipu banyak perempuan sepertimu.”

“Dia bekerja sambilan. Jadi rapper underground, penari jalanan dan bekerja sebagai pemain saxophone di bar,” Irene kembali mencoba membela Taehyung.

“Astaga, anak sekolahan mana yang bisa bekerja di bar, Irene?! Aigoo, kau terlalu polos. Aku tahu kalau kau pernah tinggal di Amerika yang pergaulannya sudah pasti lebih frontal daripada di Korea,” keluh Yoona. “Tapi kenapa bisa kau dengan mudahnya membukakan pintu rumahmu pada anak yang tak jelas asal-usulnya. Apa kau tidak mengerti dengan budaya Korea?”

Irene menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sungguh ia tak bisa membuat Yoona mendukung keputusannya, atau setidaknya memaklumi dirinya. Tapi Irene memiliki alasan sendiri akan kenapa ia bisa membawa Taehyung untuk tinggal bersamanya, padahal dulu Taehyung menolak tawaran Irene tersebut.

Dan Irene menyebut itu semua adalah takdirnya.

 

Beberapa hari yang lalu

Irene baru saja pulang dari tempat kerjanya yang baru. Ia baru saja mendapatkan posisi sebagai asisten manajer di perusahaannya kekasih Yoona –yang merupakan CEO dari sebuah manajemen artis yang cukup ternama. Dan hari ini ia ikut dengan beberapa rekan kerjanya untuk makan malam bersama. Ketika melewati beberapa bar, Irene melihat sosok yang tak asing baginya di depan salah satu bar. Kim Taehyung, pemuda yang pernah Irene tolong itu, tampak baru saja didepak dari bar itu. Irene yang penasaran akan kejadian tersebut, memilih untuk memisahkan dirinya dari rekan kerjanya, dan pergi menghampiri Kim Taehyung.

“Dasar anak tidak tahu diuntung! Sudah bagus aku mengurusmu sampai sebesar ini, dan ini balasanmu terhadapku?! Apa salahnya hanya menemani direktur Song bermalam sebentar!! Dasar kau anak tak berguna!!” bentak seorang pria paruh baya sambil menendangi Kim Taehyung. Setelah puas memukuli Taehyung, akhirnya pria paruh baya itu kembali masuk ke dalam bar setelah sebelumnya ia berteriak pada Taehyung. “Jangan kau pernah muncul di hadapanku lagi! Dasar anak tak berguna!”

Setelah pria paruh baya itu masuk ke dalam bar, Irene lekas menghampiri Taehyung dan membantunya berdiri.

“I..irene-ssi? Mengapa kau bisa ada disini?” kaget Taehyung.

“Kenapa setiap aku bertemu denganmu, kau harus babak belur seperti ini?” iba Irene. Ia membersihkan seragam Taehyung yang kotor karena pasir jalanan. “Kenapa dia sampai memukulimu seperti ini?”

Irene memandangi wajah Taehyung yang kembali babak belur. Sungguh ia tidak tega membiarkan Taehyung begitu saja. Irene akhirnya menggiring Taehyung untuk menjauh dari tempat mengerikan itu.

Keduanya tiba di taman yang terletak di ujung jalan. Irene lalu mendudukkan Taehyung di bangku taman. Kemudian ia mengeluarkan kotak P3K yang selalu ia bawa di dalam tasnya. Tanpa kata, Irene langsung membersihkan semua luka Taehyung.

“Apa yang kau lakukan di daerah ini, Irene-ssi?” tegur Taehyung.

“Tadinya mau pergi ke salah satu bar di dekat sini bersama dengan teman-temanku,” sahut Irene. “Jadi apa orang tadi itu adalah ayah asuhmu? Apa dia selalu memperlakukanmu seperti ini? Kau bisa mengadukannya ke dinas perlindungan anak, Kim Taehyung. Dan orang itu akan dihukum seberat-beratnya karena sudah menganiayamu.”

Setelah selesai membersihkan wajah Taehyung dan memberi plester disana-sini, Irene pun bertanya akan kemana Taehyung setelah ini. Tapi pemuda itu tidak menjawabnya. Taehyung hanya diam sambil memandangi Irene.

“Terima kasih atas bantuanmu. Mungkin aku akan menginap di tempat temanku lagi malam ini,” ujar Taehyung.

Masih teringat jelas di benak Irene mengenai penolakan Taehyung beberapa waktu yang lalu. Karenanya Irene memutuskan untuk tidak terlibat lebih jauh lagi dengan pemuda itu. Akhirnya Irene pun memilih untuk meninggalkan Taehyung dan kembali menyusul rekan kerjanya.

Tapi beberapa jam setelah menghabiskan waktu dengan rekan kerjanya, Irene kembali melewati taman tempat ia berpisah dengan Taehyung. Bukan maksud hati untuk mencari tahu apakah Taehyung masih disana atau tidak, tapi kakinya sendiri yang melangkah menuju taman itu. Dan disana, di bangku yang sama, Irene melihat Taehyung masih duduk manis dengan posisi yang sama. Irene pun menghampirinya lagi.

“Kau masih disini?” tegur Irene.

Taehyung tampak kaget begitu melihat kehadiran Irene. Ia tampak salah tingkah dan menundukkan kepalanya untuk memandangi sepatu Irene.

“Temanmu tak bisa dihubungi?”

Taehyung masih tidak menjawab pertayaan Irene. Yang terdengar dari pemuda itu hanyalah suara gemuruh perutnya yang seolah ingin memberi tahu kalau ia kelaparan. Irene hanya terseyum memandangi puncak kepala Taehyung.

“Sepertinya aku masih punya sisa makanan di rumah. Apa kau mau mampir dan makan malam di rumahku?” ujar Irene seraya menjulurkan tangannya ke hadapan Taehyung.

Taehyung mengangkat wajahnya dan memandangi Irene. Sorot matanya tampak melembut begitu melihat senyuman Irene. Ragu-ragu pemuda itu menyambut tangan Irene.

Dan Irene pun membawa anak malang itu menuju rumahnya.

 

 

Dan itulah yang terjadi. Usai memberi makan Taehyung, Irene kembali menawarkan untuk tinggal di rumahnya. Beruntungnya Taehyung tidak menolak. Mungkin pemuda itu sudah tak punya pilihan lain lagi. Dan Taehyung berjanji pada Irene kalau ia akan secepat mungkin keluar dari kediamannya setelah ia menemukan tempat tinggal baru.

“Kurasa aku harus menemui anak itu,” sela Yoona. “Aku harus mengancamnya agar ia tidak macam-macam denganmu.”

Irene tampak khawatir dengan niat Yoona tersebut. Tapi Irene tak bisa mencegahnya. Ia tahu kalau itu semua hanya karena Yoona mengkhawatirkan dirinya.

 

~*~

 

Pikiran Taehyung melayang ke adegan kemarin siang, saat sahabat Irene yang bernama Im Yoona datang dan mengancam dirinya agar tidak macam-macam dengan Irene. Ancaman Yoona itu tidak membuat Taehyung takut, sebab Taehyung sendiri bukanlah orang seperti yang disangka oleh Yoona. Tapi hal itu membuat Taehyung tak habis pikir akan jalan pikiran Irene. Gadis itu sampai menentang semua orang hanya untuk menolong dirinya. Taehyung tentu saja tidak akan membiarkan malaikat pelindungnya ini sampai merasa kecewa karena dirinya.

Karena sepertinya ia memang sudah jatuh cinta Irene.

Sejujurnya sejak Taehyung bercengkerama dengan Irene untuk yang pertama kalinya, ia merasa kalau jantungnya terus berdetak lebih cepat setiap melihat reaksi Irene. Oleh karena itu ia terus-terusan salah tingkah di depan gadis itu. Dan di pertemuan mereka berikutnya, Taehyung malah sama sekali tidak bisa melihat Irene. Selain karena rasa malu, Taehyung juga takut ia tak bisa meolak godaan untuk membuntuti gadis itu. Tapi takdir berkata lain, karena Irene kembali menarik Taehyung untuk masuk ke dalam dunianya.

Dan Taehyung merasa kalau dirinya kini memiliki penyakit kejiwaan. Sebab kini ia merasa kalau ia akan menjadi sangat gelisah jika tidak melihat Irene. Karena hal itu, Taehyung jadi tidak fokus pada pelajarannya di sekolah. Bahkan saat gurunya memanggil namanya seperti saat ini pun, Taehyung tidak menggubrisnya.

“Kim Taehyung!” sentak Choi Seonsaengnim hingga membuat Taehyung kaget dan nyaris lompat dari bangkunya. “Apa kau sudah kembali dari mimpi indahmu, Taehyung-ah? Jika sudah, maju ke depan dan hadapi mimpi burukmu.”

Taehyung hanya memamerkan senyum khasnya seraya berjalan ke meja guru. Begitu sampai di depan, Choi Seonsaengnim memberikan selembar kertas hasil ujian Taehyung –dan sedikit mengancam pemuda itu.

“Kalau sampai ujian berikutnya kau tidak ada peningkatan nilai, maka dengan terpaksa aku akan memanggil orangtuamu. Walimu maksudku,” tegas guru Taehyung tersebut.

Taehyung pun terpaku. Hal yang paling tidak ia inginkan adalah membawa Master Jung –ayah asuh Taehyung– untuk terlibat dalam dalam urusan sekolah. Oleh sebab itu Taehyung selalu berusaha untuk menghindari segala masalah yang ada di sekolah, agar jangan sampai pihak sekolah memanggil ayah asuhnya itu. Tapi jika nilainya tidak membaik, sepertinya ia harus berurusan lagi dengan Master Jung.

 

~*~

 

Ketika Irene pulang petang ini, ia mendapati Taehyung tengah duduk rapi di sofa ruang tengah seraya memeluk erat tasnya. Anak itu bahkan belum mengganti seragamnya. Irene melihat kalau ada sesuatu yang sepertinya sedang mengganggu pikiran pemuda itu. Tak ingin melihat Taehyung terus larut dalam pemikirannya, Irene pun menyuruh Taehyung untuk segera membersihkan dirinya.

“Kalau kau sudah selesai mandi, barulah kita makan malam,” tegur Irene.

Taehyung akhirnya melepaskan tasnya dan menyeret kakinya menuju kamar mandi.

Tak lama setelah Taehyung masuk kamar mandi, Irene mengetuk pintu kamar mandi untuk meminjam pensil Taehyung. Setelah mendapat izin, Irene pun membongkar tas Taehyung untuk mencari tempat pensil Taehyung. Begitu ia menelusuri isi tas Taehyung, Irene malah menemukan lembar hasil ujian Taehyung. Nilai ujian Taehyung sungguh membuat Irene takjub. Irene tak menyangka kalau Taehyung mampu mendapat nilai seburuk itu. Ia akhirnya memutuskan untuk membantu Taehyung memperbaiki nilai pelajarannya.

Saat Taehyung keluar dari kamar mandinya, ia melihat Irene sudah duduk di lantai seraya bersandar pada sofa dengan menggelar berbagai macam buku di ruang tengah. Begitu selesai merapikan dirinya, barulah Taehyung menghampiri Irene.

“Aku tidak percaya pada yang namanya anak bodoh, Taehyung-ah. Tidak ada anak yang bodoh di dunia ini, yang ada hanya anak yang malas belajar,” ujar Irene.

Taehyung pun menyadari kalau Irene pasti sudah melihat hasil ujiannya. Dalam sekejap ia merasa sangat malu pada Irene. Ia tak ingin Irene menganggapnya sebagai anak yang bodoh, apalagi anak yang malas. Taehyung lalu duduk di samping Irene seraya meraih lembar hasil ujiannya yang ada di atas meja.

“Aku tidak malas dan tidak bodoh, Noona. Hanya saja kejadian belakangan ini membuatku tak sempat belajar,” sahut Taehyung. “Aku selalu menjaga nilaiku agar jangan sampai pihak sekolah memanggil Master Jung ke sekolah.”

“Kalau begitu kita akan perbaiki nilaimu, dengan begitu sekolah tidak akan memanggil ayah asuhmu itu,” ujar Irene.

Irene pun mulai mengajari Taehyung, dimulai dari rumus-rumus matematika dengan cara yang amat sangat mudah dimengerti. Ia juga memberikan catatan-catatan khusus pada buku pelajaran Taehyung agar Taehyung lebih memfokuskan perhatiannya pada bagian-bagian itu. Bahkan bagi Taehyung, gaya mengajar Irene jauh lebih cepat ia serap dibandingkan ketika ia belajar di sekolah.

“Sudah berapa tahun sejak kau lulus sekolah, Noona? Kau terlihat seperti seseorang yang baru lulus kemarin. Mengapa kau mahir sekali dalam hal ini?”sela Taehyung.

“Semasa aku kuliah dulu, aku sering memberikan les privat untuk anak-anak seumuranmu. Beberapa dari mereka bahkan berhasil masuk perguruan tinggi yang mereka inginkan. Jadi kau bisa mempercayakanku dalam hal ini,”sahut Irene tanpa mengalihkan pandangannya dari buku catatan yang sedang ia buat.

Jawaban Irene membuat Taehyung jadi penasaran. “Muridmu lelaki atau perempuan?”

“Ada yang lelaki dan ada yang perempuan.”

“Apa murid lelakimu ada yang tampan?”

Mendengar pertanyaan Taehyung yang aneh tersebut membuat Irene akhirnya mengangkat kepalanya dan memandangi Taehyung penuh tanda tanya. Taehyung pun langsung salah tingkah ketika ia menyadari kalau ada yang salah dalam pertanyaannya.

“Maksudku, apa kau pernah terlibat cinta lokasi dengan muridmu yang tampan seperti Wonbin itu?” Taehyung mencoba membela dirinya. Dan sungguh ia merasa kalau dirinya terlihat sangat bodoh saat ini.

“Satu, aku tidak memiliki murid yang setampan Wonbin. Dan dua, aku tidak pernah terlibat cinta lokasi. Tidak akan pernah,” sahut Irene.

Kali ini Taehyung menghela napas lega. Setidaknya Irene tidak pernah jatuh cinta pada muridnya. Tapi Taehyung kembali dirundung rasa penasaran. Tidak akan pernah terlibat cinta lokasi? Apa maksud dari kalimat tersebut.

“Memangnya Noona tak pernah terlibat cinta lokasi? Kenapa? Bahkan dengan teman kuliah atau teman kerja sekalipun? Padahal jika terus bertemu bisa menimbulkan setidaknya sedikit getaran cinta. Apa Noona benar tidak pernah merasakan hal itu?” tanya Taehyung lagi.

Irene kini menghentikan aktivitasnya. Ia tampak termenung sejenak. Kemudian ia mendelik ke arah Taehyung seraya mengerucutkan mulutnya.

“Kenapa kau banyak tanya?! Sekarang kerjakan semua soal ini,” titah Irene.

Taehyung pun menurut dan mulai mengerjakan soal yang diberikan Irene. Ketika ia menemukan pertanyaan yang tidak ia mengerti, Taehyung pun bertanya pada Irene di sampingnya. Irene tampak mendekat dan mencondongkan badannya pada Taehyung, seraya meletakkan tangannya di atas buku Taehyung untuk mejelaskan materi tersebut pada pemuda itu. Hal ini membuat Taehyung mati gaya, sebab saat ini Irene berada pada jarak yang sangat dekat denganya. Wajah mereka hanya berjarak kurang dari sejengkal saja, sementara tangan mereka sudah saling bersinggungan. Dan Taehyung bukannya memperhatikan penjelasan Irene, ia malah memperhatikan wajah Irene.

Bagi Taehyung, tampak samping wajah Irene adalah sebuah kesempurnaan. Dengan bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung serta bibir pinknya, membuat Taehyung kini menahan napas mengagumi keindahan Tuhan yang disajikan di hadapannya ini. Rasanya ia bisa mendengar suara detak jantungnya yang kembali bertalu-talu.

“Jadi seperti itu. Dengan rumus tadi kau bisa mengerjakan soal ini,” sela Irene yang kini sudah mengangkat wajahnya –membuat Taehyung segera memalingkan mukanya seraya berdehem untuk meredakan rasa kagetnya.

Irene hanya mengacuhkan sikap Taehyung tersebut dan kembali mengerjakan catatan untuknya. Sementara Taehyung memilih untuk menyelesaikan soal latihan di hadapannya, agar ia bisa segera memisahkan diri dari Irene –sebab kini Taehyung merasa sulit untuk bernapas.

Cukup lama Taehyung berkutat dengan soal latihannya. Begitu ia menyelesaikan semua soalnya, Taehyung mendapati Irene sudah tertidur dengan menumpukan kepalanya di atas meja. Taehyung memilih untuk tidak membangunkan Irene. Ia memanfaatkan kesempatan ini untuk memandangi muka tidur Irene. Semakin lama dipandangi, semakin Taehyung tak bisa menahan senyuman di wajahnya.

“Seandainya kau bisa terlibat cinta lokasi denganku, Noona.”

 

~*~

 

Taehyung melangkahkan kakinya secepat mungkin menuju rumah. Ia bahkan melompati dua anak tangga sekaligus agar bisa segera sampai di hadapan Irene. Begitu ia tiba di balkon, Taehyung melihat Irene tampak sedang mengangkat jemurannya.

“Oh, Noona, kau sudah pulang?” tegur Taehyung. Pertanyaan yang sudah ia ketahui jawabannya, sebab ia tadi sudah mengkonfirmasinya ketika masih dalam perjalanan pulang.

“Pekerjaanku hari ini sudah selesai. Jadi aku memutuskan untuk langsung pulang,” sahut Irene. “Kemana saja kau, jam segini baru pulang?”

Taehyung hanya memamerkan senyum khasnya seraya menyodorkan sebuket bunga berukuran kecil pada Irene. “Untukmu, Noona.”

Irene memandangi buket bunga itu bingung. Tapi rasa bingung itu lekas berganti dengan rasa tidak rela. Ia tak habis pikir kalau Taehyung akan menghabiskan uangnya untuk sekedar membeli buket bunga.

“Noona, kau tidak suka?” khawatir Taehyung begitu melihat ekspresi Irene. Ia pikir Irene akan tersenyum senang dan langsung menyambut bunga dari tangannya. Tapi sepertinya Irene tidak menyukainya.

“Taehyung-ah, kenapa kau habiskan uangmu untuk membeli buket bunga ini?” keluh Irene.

Taehyung pun mengerti dengan yang dimaksudkan Irene. Gadis itu pasti mengira kalau Taehyung menggunakan uang jajannya untuk membeli bunga tersebut. Taehyung pun berpikir untuk menggoda Irene –sebab menurutnya ekspresi Irene ketika ia salah tingkah itu sangatlah lucu.

“Noona, aku tidak mungkin menghabiskan uangku untuk sekedar membeli bunga seperti ini. Lagipula ini tidak bisa dimakan. Lebih baik aku menggunakan uangku untuk membeli apel merah,” ujar Taehyung. “Bunga ini aku dapat gratis. Ada seorang perempuan yang memberikan bunga ini padaku. Kupikir tak apa aku ambil untukmu, Noona.”

Jawaban Taehyung malah membuat Irene makin merasa tidak tega. “Perempuan yang memberikan bunga ini padamu? Lalu kenapa kau malah memberikannya padaku? Jika dia memberikan bunga ini padamu, sudah pasti dia memiliki alasan tersendiri. Ini bukan hal yang baik, Taehyung-ah. Bagaimana perasaannya jika ia tahu kalau kau malah memberikan bunga buatannya pada gadis lain?”

Taehyung berusaha keras untuk menahan senyumannya. Sebab sepertinya Irene sudah termakan ucapannya. Taehyung akhirnya mengambil sebuah kartu yang terselip di antara bunga-bunga itu kemudian menunjukkannya pada Irene. “Yang pasti orang itu akan merasa senang. Apalagi kalau orang yang menerima bunga buatannya ini merasa bahagia dan sampai memesan bunga lagi padanya.”

Irene memandangi kartu tersebut dan menelitinya. Sebuah kartu bisnis, ‘Velvet Florist’ tertulis disana. Melihat kartu nama tersebut membuat Irene jadi merasa salah tingkah. Karena sepertinya Irene tahu dari siapa buket bunga ini berasal.

“Aku melewati toko bunga yang baru buka di dekat tempatku biasa kumpul dengan para rapper underground. Dan pemilik tokonya memberikanku buket bunga ini. Dia bilang kalau aku ingin membelikan pacarku bunga, aku bisa datang kesana,” ujar Taehyung seraya menahan tawanya –sebab ekspresi Irene saat ini sungguh menggemaskan.

Irene memilih untuk memalingkan wajahnya seraya mengambil buket bunga dari tangan Taehyung. Kemudian ia langsung masuk ke dalam rumah dengan alasan ‘hendak memindahkan bunganya ke vas bunga’.

 

~*~

 

Irene terus melirik ke arah Taehyung yang tampak fokus dengan ponselnya. Sedari tadi pemuda itu tidak memperhatikan penjelasan Irene dan malah sibuk menekan-nekan layar sentuh ponselnya. Irene akhirnya menegur pemuda itu agar kembali fokus pada pelajaran mereka.

“Apa kau memiliki janji dengan temanmu, Taehyung-ah?” tegur Irene.

Taehyung akhirnya mengangkat kepalanya dari benda kotak pipih di tangannya dan memandangi Irene bingung. Ketika ia melihat isyarat Irene yang menunjuk ke arah ponselnya, barulah Taehyung mengerti maksud pertanyaan Irene itu.

“Ahh, teman sekelasku bertanya apa dia boleh membuatkan bekal untukku besok atau tidak,” ujar Taehyung.

“Teman perempuan?” tanya Irene.

“Ne, teman sekelasku,” sahut Taehyung.

Irene kembali mengalihkan pandangannya ke buku pelajaran Taehyung. Acuh tak acuh, Irene kembali bertanya pada Taehyung. “Hanya sekedar teman? Kalau hanya sekedar teman tidak mungkin ia mau repot-repot membuatkanmu bekal.”

“Ya, teman. Setidaknya masih ada orang yang mau berteman denganku. Dengan kondisiku saat ini, memiliki satu teman saja sudah merupakan anugerah bagiku. Siapa juga yang mau berteman denganku, anak yang tak jelas asal-usulnya. Yang bahkan tidak tahu siapa ayahnya. Perempuan manapun pasti akan berpikir dua kali untuk mendekatiku. Apalagi aku ini tumbuh besar di bar, dibawah asuhan pemilik bar hidung belang yang gemar mabuk dan memukuliku. Aku yakin tidak ada perempuan yang berani jatuh cinta padaku.”

Ucapan Taehyung itu membuat Irene kembali menoleh ke arah pemuda itu. Sinar mata Taehyung kembali meredup. Sepertinya Irene kembali melihat ‘melancholis Taehyung’ lagi saat ini. Sungguh Irene tidak menyangka kalau Taehyung ternyata memiliki kekhawatiran seperti ini. Ia pikir dengan kepribadian Taehyung yang periang itu, mudah untuknya mendapatkan seorang kekasih. Tapi ternyata Taehyung hanyalah remaja biasa yang juga memiliki kekhawatiran. Dan rasa tidak percaya dirinya itu membuat Taehyung tampak manusiawi di mata Irene. Irene akhirnya menumpukan tangannya di atas tangan Taehyung untuk meyakinkan pemuda itu kalau kekhawatirannya bukanlah hal perlu dipikirkan hingga berlarut-larut.

“Pasti akan ada perempuan yang bisa mencintai apa adanya dirimu. Kau harus percaya itu,” ujar Irene.

Taehyung memandangi tangan Irene yang memegang tangannya. Hal ini sungguh membuat Taehyung nyaris menjerit kegirangan karena Irene menyentuhnya. Taehyung akhirnya memfokuskan dirinya pada Irene.

“Kalau Noona, apa kau juga termasuk dalam golongan perempuan yang bisa mencintai seseorang apa adanya?” tanya Taehyung seraya menatap Irene lekat.

Cukup lama keduanya saling mengunci pandangan mereka satu sama lain sampai akhirnya Irene nyaris salah tingkah karena melihat keseriusan Taehyung saat ini. Irene langsung menarik tangannya dari tangan Taehyung dan kembali memfokuskan dirinya pada buku pelajaran Taehyung.

“Aku sendiri tidak tahu aku ini termasuk dalam golongan perempuan yang seperti apa,” gumam Irene.

Taehyung hanya terseyum melihat tingkah Irene itu. Ia kini bertopang dagu di atas meja seraya menikmati keseriusan Irene yang kembali berusaha menjelaskan materi dari buku pelajaran Taehyung.

“Ahh, padahal akan menyenangkan jika kau termasuk dalam golongan perempuan yang seperti itu. Jika kau menemukan perempuan yang bersedia mencintaiku apa adanya, tolong kenalkan denganku, Noona.”

 

~*~

 

“Taehyung-ah, ayo kita makan di luar,” ajak Irene.

Dengan sigap, Taehyung langsung meluncur dari kamarnya ke hadapan Irene. Senyum bahagia menempel sempurna di wajahnya.

“Karena kau berhasil mendapatkan nilai 60, maka aku akan menepati janjiku untuk mentraktirmu. Tapi kita tidak akan pergi jauh. Kita akan makan di pusat jajanan tiga blok dari sini.”

Irene dan Taehyung sempat bertaruh untuk nilai ujian Taehyung kali ini. Jika Taehyung berhasil mendapat nilai di atas 60, maka Irene akan mentraktirnya makan daging. Tapi jika Taehyung mendapatkan nilai di bawah 60, maka Taehyung harus menjadi koki di rumah selama sebulan lamanya. Dan tentu saja Taehyung berusaha keras agar ia bisa makan di luar bersama Irene –Taehyung aka menganggapnya sebagai sebuah kencan.

Keduanya berjalan berdampingan melewati taman bermain menuju taman kota yang menjadi jalan pintas ke pusat jajanan. Irene mengajak Taehyung melewati taman kota yang cukup remang-remang itu agar mereka bisa menghemat waktu perjalanan mereka dibandingkan menyusuri jalan raya.

“Sudah lama aku tidak lewat taman kota ini di malam hari. Biasanya aku lebih memilih untuk lewat jalan raya yang memutar lebih jauh,” ujar Irene memecah keheningan di antara mereka.

“Apa kau takut lewat sini, Noona?” tanya Taehyung.

“Pernah ada kejadian perampokan disini,” sahut Irene. “Dan katanya ada yang pernah melihat ular yang cukup besar disini.”

“Untuk seseorang yang bisa membanting lelaki yang ukurannya nyaris dua kali badannya, ternyata kau memiliki rasa takut juga ya, Noona?” ledek Taehyung.

Irene menyahuti ledekan Taehyung itu dengan memukul pelan lengan pemuda itu. “Kalau perampoknya banyak, aku juga tak bisa apa-apa. Apalagi kalau ularnya berbisa,” sahut Irene.

Taehyung terdiam sejenak. Ia akhirnya bisa mengerti akan kepribadian Irene. Gadis itu akan menjadi manja jika ia sudah merasa dekat dengan seseorang. Berdasarkan pengamatan Taehyung, jika Irene sudah membuka dirinya terhadap seseorang, maka Irene akan tampak seperti perempuan yang bisa memberikan segalanya dan gadis itu akan menjadi lemah. Hal ini sempat membuat Taehyung khawatir. Ia khawatir kalau Irene akan dimanfaatkan oleh orang lain.

Taehyung tentu saja tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Selama ia berada disisi Irene, ia akan membuat gadis itu selalu tersenyum dan tertawa. Dalam hati Taehyung tersenyum lebar. Terlintas di pikiran Taehyung untuk menggoda Irene.

“Noona, awas ular!!” bohong Taehyung.

Reaksi Irene sungguh luar biasa. Ia langsung berteriak seraya melompat ke arah Taehyung sambil menggamit lengan Taehyung dan bersembunyi di belakang pemuda itu.

“Mana?!” panik Irene.

Taehyung berusaha keras menahan senyumannya. “Ups, ternyata bukan ular. Itu hanya ranting pohon, Noona,” ujar Taehyung seraya mengeratkan pegangan Irene.

Taehyung menggamit lengan Irene seraya terus mengajaknya bicara agar Irene melupakan fokusnya pada tangan mereka. Dan Taehyung pikir, tak apa-apa jika ia harus berbohong setiap hari untuk bisa menggenggam Irene seperti ini. Taehyung merasa menjadi lelaki paling bahagia malam ini.

 

~*~

 

Irene mentraktir Taehyung ke salah satu restoran barbeque di dekat rumah mereka. Irene memesan satu set daging sapi kualitas terbaik. Ia juga memesan dua porsi nasi kotak dan dubu jiggae.

“Kebetulan upahku baru keluar kemarin. Jadi anggap saja ini sekalian traktiran gaji pertama. Aku sudah diangkat jadi karyawan tetap di perusahaan itu,” ujar Irene sambil menyusun daging sapi di atas panggangan.

“Tapi apa ini tidak terlalu berlebihan, Noona? Nanti kau tidak punya uang untuk sebulan kedepan?” khawatir Taehyung.

“Gajiku itu empat kali lipat dari semua upahku bekerja sambilan di empat tempat berbeda. Jadi kau tak perlu khawatir,” sahut Irene.

“Harusnya aku yang mentraktirmu. Karena berkat Noona-lah aku bisa mendapatkan nilai bagus,” keluh Taehyung.

Irene hanya mengacuhkan keluhan Taehyung dan memilih untuk meneruskan memanggang daging. Begitu dagingnya sudah matang, Irene langsung meletakkannya di atas piring Taehyung. Irene terus melakukannya tanpa kata, sampai akhirnya Taehyung merasa tidak nyaman –sebab Irene belum makan sepotong dagingpun sedari tadi.

“Noona, kau belum belum makan dagingnya sedari tadi,” ujar Taehyung. Ia berinisiatif memberikan sepotong daging untuk Irene. Tapi belumlah sampai daging itu di piring, Irene sudah terlebih dahulu menolaknya.

“Aku tidak makan daging, Taehyung-ah,” sahut Irene. “Makanya aku tidak menyiapkan daging-dagingan di rumah. Aku vegetarian.”

Taehyung baru menyadarinya, memang selama ini di rumah Irene sama sekali tidak ada yang namanya daging, ayam, ikan apalagi telur –bahkan Irene tak bisa minum susu sapi. Lemari pendingin Irene penuh dengan berbagai macam kimci serta buah-buahan. Dan Irene hanya menyediakan tahu sebagai lauk mereka di rumah.

Taehyung hanya bisa melongo. Ia tak habis pikir, Irene lebih memilih untuk memberikan Taehyung makanan yang Taehyung inginkan, dibandingkan membawa Taehyung makan ke tempat dimana ia juga bisa makan. Kalau seperti ini benar-benar jauh dari idealisme Taehyung mengenai sebuah kencan. Sebab Taehyung tak bisa menyuapi Irene dengan apapun yang tersaji di meja ini.

“Harusnya kau bilang kalau kau tidak bisa makan daging, Noona. Maka aku juga tidak akan mau diajak ke tempat ini. bagaimana aku bisa menikmati semua ini kalau kau sendiri tidak makan,” keluh Taehyung.

“Kan aku sudah memesan nasi dan dubu jiggae. Jadi kau tak perlu khawatir. Begitu jiggae-nya sudah datang baru aku ikut menemanimu makan,”

Akhirnya Taehyung pun memilih untuk menunggu sampai pesanan Irene tiba, dengan begitu ia bisa ‘makan bersama Irene’.

“Aigoo, bukankah ini Irin?” tegur ahjumma yang membawakan pesanan Irene. Setelah meletakkan pesanan Irene di meja, ahjumma itu menepuk lengan Irene pelan. “Apa kabarmu Rin-ah?”

“Irin?” bingung Taehyung pada Irene.

“Karene Irene terlalu susah diucapkan olehnya,” bisik Irene pada Taehyung.

“Omo, ini siapa?” tegur ahjumma pada Taehyung. “Namjachin-.”

Dongsaeng,” potong Irene. Ia tak ingin ahjumma itu salah pengertian akan hubungan mereka.

Tapi penegasan Irene itu justru membuat Taehyung merasa seperti disiram air es. Irene seolah menyadarkannya kalau ia hanya menganggap Taehyung sebagai adik saja. Jika Irene sudah menggambar garis di antara mereka seperti itu, maka akan sulit bagi Taehyung untuk bisa membuat Irene mengerti akan perasaannya. Jika ia hanya dianggap masih kecil, maka ia bisa menunjukkan pada Irene kalau dirinya bukanlah anak kecil lagi. Tapi jika Irene menganggap dirinya sebagai adik saja, maka tidak ada kesempatan bagi Taehyung untuk bisa menjadi seorang pria bagi Irene.

“Aku tidak suka itu, Noona,” ujar Taehyung begitu ahjumma pergi meninggalkan mereka.

“Apa?” bingung Irene. “Ahh, tadi? Aku hanya tidak ingin ahjumma salah tanggap.”

“Aku lebih tidak menyukainya. Aku bukan dongsaengmu, Noona. Dan aku tidak ingin menjadi dongsaengmu. Jadi jangan mengatakan ke semua orang kalau aku adalah adikmu,” tegas Taehyung.

Keseriusan Taehyung ini membuat Irene bingung. Seharusnya Taehyung mengerti kalau Irene hanya tidak ingin orang-orang salah paham. Apalagi jika mereka tahu kalau Taehyung tinggal dengan di rumahnya. Karena seperti yang pernah Yoona katakan padanya, budaya Korea tidak seperti di Amerika.

“Taehyung-ah, maaf kalau ucapanku tadi membuatmu tidak nyaman. Tapi-,”

“Noona, kau boleh mengatakan apapun pada semua orang. Kenalan, saudara jauh, murid bimbingan, atau trainee dari perusahaamu, tapi jangan mengatakan kalau aku adalah adikmu,” potong Taehyung. “Sebab adik tidak memiliki kesempatan terhadap kakaknya. Oleh karena itu, aku tidak ingin menjadi adikmu”

Setelah mengucapkan hal itu, Taehyung lekas memenuhi mulutnya dengan daging dan nasi yang baru tiba. Ia terus makan tanpa melirik Irene sama sekali. Taehyung tidak melihat ekspresi bingung yang kini tercipta di wajah Irene. Ia nyaris saja megatakan seluruh perasaannya terhadap Irene. Oleh karena itu, Taehyung memilih untuk membungkam mulutnya.

 

 

~Chapter 2~

Read Chapter 1

THANK U FOR YOUR SUPPORT TO THIS FICTION!!! Because of u guys this fiction is going to continue.

jangan lupa suruh teman-teman kalian pecinta V-Rene untuk membaca fiksi ini juga yaa, semakin banyak yang baca dan meninggalkan feedback yang baik tentang fiksi ini, pasti akan semakin cepat bee publish kelanjutannya.

see u!! KEEP SUPPORTING BEE!!

Advertisements
FF – Love Blossom | Chapter 2

11 thoughts on “FF – Love Blossom | Chapter 2

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s