FF – Love Blossom | Chapter 1


loveblossom2

Title : Love Blossom

Subtitle : Apple Girl and Homeless Boy

Author : beedragon

Cast:

  • Irene Red Velvet as Irene Bae
  • V BTS as Kim Taehyung

Genre : Romance, Friendship

Length : Multichapter

Summary : Ketika seorang gadis pecinta apel memberikan apel kesayangannya pada seorang pemuda tunawisma

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : K.Will – Love Blossom | Busker Busker – Cherry Blossom Ending |

Apple Girl and Homeless Boy

Di tengah keheningan malam, dimana sebagian besar orang-orang sudah bergelut dengan bantal-guling di kamar mereka yang nyaman, tampak masih ada seorang gadis sedang berjalan seraya memeluk kantong belanjaannya. Irene Bae, seorang gadis keturunan Korea asli –hanya saja ia lahir dan besar di Amerika sehingga ia tidak memakai nama layaknya orang Korea kebanyakan– saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumahnya. Irene baru saja pulang dari tempat kerjanya –kebetulan hari ini ia kebagian untuk merekap stok barang di minimarket tempatnya bekerja sambilan.

Irene tinggal sendiri di Korea. Hal-hal yang terjadi dengan keluarganya di Amerika sana membuat Irene memutuskan untuk kembali ke Korea dan memisahkan diri dari keluarganya –atau bisa dibilang Irene memang sudah tidak ingin lagi berurusan dengan mereka yang ia sebut ‘keluarga’. Ia baru saja menyelesaikan kuliahnya di Universitas Seoul dengan mendapatkan gelar sebagai sarjana hukum, hanya saja sampai detik ini Irene masih belum mendapatkan pekerjaan tetap. Irene masih kerja serabutan sebagai pengantar susu atau koran, kasir di sebuah minimarket, pelayan di cafe, dan berbagai macam pekerjaan sambilan lainnya.

Irene kini sudah memasuki gang rumahnya. Sekitar 20 meter lagi ia tiba di kediamannya –sebuah kontrakan yang bisa ia dapatkan dengan fasilitas yang mencukupi dan harga yang sesuai dengan keuangannya. Irene menyukai kontrakannya ini, sebab pemiliknya tidak terlalu menekan dirinya jika ia telat bayar uang bulanan. Selain itu lingkungan kontrakannya ini cukup aman –sekitar tiga blok dari rumahnya terdapat pos polisi. Jadi walaupun Irene pulang malam seperti saat ini, ia tidak akan merasa paranoid akan kejahatan yang biasa terjadi di malam hari. Sebagai tambahan, Irene menguasai ilmu beladiri dan ia juga selalu membawa semprotan lada di tasnya untuk jaga-jaga jikalau ia harus berpapasan dengan kejahatan.

Irene sudah tiba di depan rumahnya. Ia melepas satu tangannya yang sedari tadi memeluk kantong belanjaannya, untuk mengeluarkan kunci pagar dari dalam tas selempangnya. Ketika ia akhirnya berhasil mengeluarkan kunci dan membuka pintu pagarnya, buah apel yang tadi ia beli tampak bergulir dari kantong belanjaannya dan jatuh ke jalanan. Irene pun menoleh untuk melihat ke arah mana buahnya menggelinding dan ia pun mendapati seorang pemuda tampak berjalan terhuyung-huyung ke arahnya. Walaupun saat ini ia merasa terkejut dengan kehadiran orang mencurigakan itu, tapi Irene berusaha untuk tidak panik. Irene segera memasukkan tangannya ke dalam tas untuk mencari semprotan ladanya. Belum sempat ia mengeluarkan semprotan ladanya, orang tersebut sudah lebih dulu menabarak Irene dan menyebabkan kantong belanjaannya terjatuh.

Irene menoleh ke arah pemuda asing tersebut. Pemuda itu sudah memasuki halaman rumahnya dan bersembunyi di antara tanaman yang ada di balik pagarnya itu. Meskipun bingung dengan situasi ini, Irene memilih untuk mengacuhkan pemuda asing itu –ia bisa memanggil polisi untuk mengusir orang asing tersebut– dan memutuskan untuk memunguti semua barang belanjaannya yang sudah tumpah ruah ke jalanan. Irene mengumpulkan semua buah apelnya yang menggelinding sampai ke persimpangan jalan. Dan di persimpangan jalan, ia berpapasan dengan dua pemuda berbadan kekar –yang tampak seperti preman jalanan– sedang berlari tergesa-gesa ke arahnya.

“Dia tadi berlari ke arah sini. Cepat cari dan jangan biarkan dia lolos!” geram salah satu preman itu.

Irene pikir orang-orang ini pasti sedang mencari pemuda yang kini sedang bersembunyi di halaman rumahnya. Untuk kali ini, Irene tidak ingin kalah cepat. Ia segera menggenggam erat semprotan lada dari dalam tasnya seraya memasang kuda-kuda untuk mempertahankan diri –kalau saja preman ini ternyata adalah penjahat yang hendak mengganggunya. Dan benar saja, salah satu preman itu kini menghampiri dirinya.

“Nona, apa kau melihat seorang pemuda mencurigakan lewat sini?” tanya preman itu.

Kau lah yang terlihat mencurigakan disini, sahut Irene di dalam hati. Irene hanya memasang wajah datar seraya menunjuk ke arah ujung jalan. Preman-preman itu termakan omongannya dan langsung berlari ke ujung jalan dan menghilang di tikungan.

Usai memunguti semua belanjaannya, Irene pun bergegas kembali ke rumahnya. Ia masih mendapati pemuda asing yang tadi menabraknya, tampak meringkuk di antara tanaman bunga. Irene mengintip keluar pagar untuk memastikan kalau preman-preman tadi sudah pergi, kemudian ia menutup rapat pintu pagarnya.

“Preman-preman itu sudah pergi. Jadi kau pergilah dari sini sekarang juga, sebelum aku panggilkan polisi,” tegur Irene.

Tapi pemuda itu tak bergeming. Irene membungkukkan badannya untuk melihat wajah pemuda itu. Betapa terkejutnya Irene, karena ternyata wajah pemuda itu babak belur –tadi ia tak sempat memperhatikan penampilan pemuda asing itu. Dan sepertinya pemuda itu juga sudah tak sadarkan diri. Irene pun mematung di tempat, sebab kini ada pemuda babak belur tak sadarkan diri di halaman rumahnya. Irene akhirnya mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.

“Yoona? Maaf mengganggumu. Aku mau tanya sesuatu,” ujar Irene seraya menggigiti kuku jarinya. “Jika kau menemukan seorang pemuda babak belur tengah tak sadarkan diri di halaman rumahmu, apa yang akan kau lakukan?”

Bukannya mendapatkan jawaban, Irene malah diberondong sejuta pertanyaan oleh lawan bicaranya. Ia pun merasa menyesal sudah menelepon temannya itu. Sebelum ocehannya bertambah panjang, Irene memutuskan untuk mengakhiri percakapan mereka.

“Lupakan percakapan ini. Anggap saja aku tidak meneleponmu malam ini. Selamat malam.” Irene kembali memasukkan ponsel 2G-nya ke dalam saku baju.

Irene pun tak habis akal. Ia menyenggol kaki pemuda itu dengan kakinya, ia juga menusuk-nusukkan telunjuknya di bahu pemuda itu, tapi pemuda itu tetap tidak sadarkan diri. Bingung akan situasi yang asing ini, akhirnya Irene memutuskan untuk menggeledah pemuda itu –untuk mencaritahu identitasnya.

“Ugh, maafkan aku. Aku hanya mau mencari kartu identitasmu,” keluh Irene seraya meraba pangkal paha serta bokong pemuda itu –mencari dompet atau hal lainnya dari kantong celananya. Tapi Irene tak menemukan apapun juga.

Irene pun berdiri, berkacak pinggang menghadapi pemuda di hadapannya ini. Karena ia tak menemukan pencerahan apapun juga, akhirnya Irene memilih untuk menyerah. Ia tidak mau memanggil polisi untuk menyingkirkan pemuda itu dari halamannya, sebab ia tahu persis kalau polisi pasti akan memberondongnya dengan pertanyaan yang lebih panjang daripada pertanyaan temannya tadi –dan itu akan membuang-buang waktunya. Irene juga tak bisa membawanya ke rumah sakit, sebab sekarang adalah tanggal tua –ia bahkan belum menerima upah bulanan dari semua pekerjaannya.

“Baiklah. Terserah kau saja. Kuharap kau tidak akan kedinginan tidur disana,” gerutu Irene.

Irene memutuskan untuk meninggalkan pemuda itu terkapar di halaman rumahnya. Ia lalu menaiki tangga menuju kontrakannya yang terletak di lantai dua rumah ini. Tapi baru menginjak beberapa anak tangga, langkah Irene terhenti. Ia berpaling pada pemuda babak belur itu. Irene sedang mengalami perang batin saat ini.

“Ohh baiklah. Kurasa aku akan menyesali keputusanku ini,” gerutu Irene seraya memutar bola matanya.

 

~*~

Kim Taehyung merasa kalau ketidak-beruntungan begitu mencintainya. Sebab yang ia alami hari ini adalah kesialan terus. Dimulai dengan ia terlambat masuk sekolah, sehingga ia harus dihukum lari keliling lapangan sebanyak lima putaran. Lalu siangnya ia harus berurusan dengan Kim Namjoon and the gang yang senang sekali menindas siswa-siswa yang lemah di sekolahnya –dan Taehyung menjadi pahlawan kesiangan yang melawan mereka. Dan malamnya ketika ia pergi ke bar bawah tanah tempat ia biasa pentas, Taehyung bertemu dengan seorang lelaki paruh baya yang menawarinya untuk ikut audisi menjadi idol. Taehyung pun tertarik dan mengikuti lelaki tua itu. Tapi ternyata Taehyung ditipu olehnya. Lelaki paruh baya itu hanya ingin menjadikan Taehyung sebagai pelampiasan nafsunya. Ketika ia menolak, dua bodyguard lelaki tua itu malah menghajarnya habis-habisan. Dengan sisa keberuntungan yang ia miliki, Taehyung pun berhasil melarikan diri dari orang-orang mengerikan itu.

Setelah itu, Taehyung tidak ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya. Ia bahkan tidak ingat bagaimana bisa dirinya saat ini berada di sebuah ruangan yang tampak asing baginya. Begitu Taehyung membuka mata pagi ini, ia mendapati dirinya tengah tertidur di sofa yang bahkan tidak muat menampung panjang tubuhnya. Jika ia melihat ke sekelilingnya, ini sama sekali bukan kamarnya atau kamar temannya.

Taehyung pun memutuskan untuk bangun dan merapikan sofa tempatnya tertidur –melipat selimut yang membungkus badannya serta menyusun bantal. Ia kemudian berkeliling dan menemukan kaca seukuran tubuhnya. Begitu ia memandangi dirinya, terlihat kalau wajahnya penuh luka lebam sudah bersih dari darah maupun kotoran –bahkan masih terlihat jejak cairan antiseptik di luka-luka tersebut.

“Wah, wajah tampanku jadi seperti ini,” gumam Taehyung. “Kalau begini, bagaimana aku bisa pentas nanti malam? Dasar penipu hidung belang. Dia pikir Kim Taehyung ini semurah itu?!”

Matanya tak berhenti meneliti setiap sudut rumah ini. Karena Taehyung ingin mencari tahu identitas dari orang yang sudah menolongnya. Sebab walaupun ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, tetap saja otaknya tak mau berputar ke saat sebelum ia tak sadarkan diri. Taehyung lalu menemukan sebuah apel di atas meja. Ia pun meraih apel tersebut dan memakannya. Kemudian ia teringat akan sesuatu.

“Ahh! Apel!!” seru Taehyung seolah ia baru saja mendapatkan sebuah ide cemerlang.

Ia ingat, semalam ia melihat buah apel menggelinding di jalanan dan dari arah apel itu datang, Taehyung melihat ada pintu pagar yang terbuka. Ia pikir mungkin ia bisa bersembunyi sebentar disana. Jika ia berusaha untuk mengingatnya kembali, Taehyung yakin kalau saat itu ia melihat ada seseorang yang berdiri di depan pagar. Tapi Taehyung tidak ingat apakah orang itu lelaki atau perempuan.

Jika menilai dari bentuk rumah ini dan perabotannya, Taehyung tetap tidak bisa menebak jenis kelamin si pemilik rumah. Tidak ada hal yang feminim ataupun macho di ruangan ini. Selain itu tidak ada benda modern seperti televisi, radio, ataupun AC. Satu-satunya hal elektronik di rumah ini hanyalah lemari pendingin –dan kipas angin.

“Astaga, siapa yang bisa hidup di tempat semembosankan ini?” takjub Taehyung.

Karena ia tak lagi menemukan hal menarik di rumah ini, akhirnya Taehyung memutuskan untuk pergi dari sana. Apalagi Taehyung tak menemukan siapapun juga di rumah ini selain dirinya. Setelah berkeliling kesana-kemari untuk mencari sneaker­nya –yang ternyata ada di rak sepatu dekat pintu masuk, Taehyung pun keluar dari rumah tersebut. Begitu ia keluar rumah, Taehyung baru ingat kalau ia belum sempat mengucapkan rasa terima kasihnya pada si pemilik rumah. Ia akhirnya mencoba untuk masuk kembali ke dalam rumah –untuk meninggalkan pesan pada pemilik rumah yang sepertinya sedang pergi. Tapi sayangnya pintu rumah ini sudah terkunci otomatis.

Taehyung pun memutuskan untuk membungkukkan badannya pada rumah tersebut seraya mengucapkan rasa terima kasihnya. Jika memang mereka ditakdirkan untuk bertemu lagi, Taehyung pasti akan membalas kebaikan si pemilik rumah.

 

~*~

 

Baru saja Irene menginjakkan kakinya kembali di halaman rumahnya sehabis dari bekerja mengantar susu ke rumah-rumah di sekitar lingkungannya, ketika ponselnya berbunyi nyaring. Im Yoona, begitu yang tertera di layar 2 inchi ponselnya. Irene pun menjawab panggilan dari temannya satu-satunya itu.

Aku tidak bisa melupakan teleponmu semalam. Jadi jelaskan apa yang terjadi?” belum sempat Irene mengucapkan salam, tapi temannya itu sudah terlebih dulu meyelanya. “Siapa yang babak belur di halaman rumahmu? Apa dia penjahat? Apa kau yang memukulinya?

Irene memutar bola matanya begitu mendengar semua pertanyaan Yoona. “Satu, aku tidak mengenal orang itu, tiba-tiba saja muncul di hadapanku dan pingsan di halaman rumahku. Dua, aku tidak tahu apakah dia penjahat atau bukan. Dan yang terakhir, bukan aku yang memukulinya,” sahut Irene malas. Ia melirik halaman rumahnya sekilas, beberapa tanaman bunganya tampak patah rantingnya.

Lalu apa yang terjadi? Kau membawanya ke rumah sakit? Kantor polisi?

“Satu, aku tak punya uang untuk ke rumah sakit. Dan dua, aku tidak suka polisi,” jawab Irene.

Lalu? Kau biarkan saja dia membusuk di halaman rumahmu?” Karena tak mendengar jawaban dari Irene, Yoona pun langsung menjerit. “Jangan bilang kalau kau membawanya masuk ke dalam rumahmu?!!

Irene tidak bisa menjawab tudingan temannya itu. Sebab jika ia menjawabnya sudah pasti Yoona akan mengomelinya habis-habisan. Walaupun Irene tidak menjawabnya, ia tetap akan mendapatkan omelan dari Yoona –seperti saat ini. Jadi Irene hanya mendengarkan saja temannya itu menyerocos dari ujung telepon.

Ia kini sudah tiba di depan pintu rumahnya. Irene pun mengeluarkan kuncinya dan membuka pintu rumahnya. Langkah Irene terhenti begitu memasuki rumahnya. Ada yang ganjil di rumahnya. Ia melihat ke arah sofanya, selimut dan bantal tampak tersusun rapi di ujung sofa. Dan apel yang tadi ia letakkan di meja kini sudah raib.

“Tidak ada,” gumam Irene. Ia melihat ke sekelilingnya, tidak ada siapa-siapa di dalam sana selain dirinya.

Apanya yang tidak ada? Irene? Irene?” Yoona terdengar khawatir karena Irene tak kunjung menjawabnya.

“Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan,” sahut Irene setelah terdiam cukup lama.

Ia lalu memutus sambungan telepon dan duduk di sofanya. Tangannya merayapi selimut yang terlipat rapi. Inilah sebabnya Irene tak ingin bersinggungan dengan lingkungan sekitarnya. Sebab ia tak ingin merasakan perasaan aneh seperti ini.

“Datang tidak mengucapkan salam, dan pergi tanpa kata-kata,” gumamnya. Irene kini memandangi sebotol susu murni di tangannya. “Dan apa yang harus aku lakukan dengan ini? Aku ‘kan tidak minum susu.”

~*~

Di sekolah, Taehyung tidak bisa konsentrasi. Bahkan ketika teman-temannya mengerubunginya dengan sejuta pertanyaan, Taehyung sama sekali tak menggubrisnya. Ia terus kepikiran akan orang yang sudah menolongnya. Sebab ingatan terakhirnya adalah ia memasuki halaman rumah tersebut. Taehyung benar-benar tidak ingat bagaimana caranya ia bisa ada di dalam rumah yang ada di lantai dua itu.

“Taehyung-ah, kenapa dengan wajahmu?”

“Taehyung, apa ayah angkatmu memukulimu lagi?”

“Bagaimana kalau malam ini kau menginap di rumahku, Taehyung?”

Semua pertanyaan teman-teman sekelasnya yang tampak mengkhawatirkan keadaannya, diacuhkan oleh Taehyung. Ketika akhirnya rasa penasarannya berujung pada suatu pencerahan, Taehyung pun akhirnya menyahuti massa yang mengerubunginya.

“Kim Taehyung baik-baik saja,” ujarnya seraya tersenyum lebar. “Kalian ini seperti tidak pernah melihatku babak-belur saja.”

Taehyung melirik temannya satu-persatu. Setidaknya ia merasa beruntung hari ini. Walaupun dirinya selalu diliputi kesialan, tapi Taehyung masih memiliki teman-teman yang peduli dengannya. Jadi ia tak akan menunjukkan rasa sakitnya saat ini. Sebab Taehyung tak ingin teman-temannya ini makin khawatir padanya.

“Ahh, kurasa hari ini aku akan pulang cepat. Tolong izinkan aku pada Ahn Saem ya,” ujar Taehyung yang lalu merapikan tasnya dan bergegas pergi dari kelas.

Taehyung berniat kembali lagi ke rumah itu. Ia ingin bertemu dengan orang yang sudah menolongnya dan berterima kasih pada orang itu.

 

~*~

 

Hari ini Irene pulang lebih cepat dari biasanya. Sebab cafe tempatnya bekerja saat ini sedang disewa untuk keperluan syuting, jadi cafenya tutup lebih cepat. Sudah lama Irene tak pulang secepat ini, jadi ia merasa tak sabar untuk segera tiba di rumahnya dan memanjakan diri.

Ketika ia berjalan menyusuri gang-gang rumahnya, Irene merasa kalau ia sedang dibuntuti. Awalnya Irene pikir mungkin itu adalah orang yang tinggal di dekat rumahnya. Tapi begitu Irene melihat bayangan orang tersebut dari kaca mobil yang terparkir di dekatnya, sosok yang berjalan di belakangnya itu adalah seorang pemuda berseragam sekolah yang tidak ia kenal –bahkan sepertinya tidak ada pemuda yang masih sekolah di lingkungannya.

Perasaan Irene pun tidak enak. Ia menghentikan langkahnya di depan rumahnya. Dan orang yang membuntutinya itu terus mendekat sampai akhirnya Irene merasa ada yang menepuk pundaknya. Refleks, Irene pun langsung membanting orang tersebut dengan jurus taekwondo yang ia miliki. Setelah itu Irene langsung memasang kuda-kuda untuk melawan orang asing tersebut.

~*~

“Ouww!!” Taehyung menjerit kesakitan.

Ketika ia sedang dalam perjalan untuk kembali ke rumah orang yang semalam menolongnya, Taehyung melihat seseorang tampak berhenti di depan rumah tersebut. Taehyung berpikir mungkin ia akan bertanya pada orang tersebut –siapa tahu dialah pemilik rumah itu. Tapi begitu ia menyentuh pundak orang itu, yang terjadi berikutnya adalah Taehyung dibanting ke jalanan dengan gerakan layaknya di film-film laga.

“Ada apa denganmu?! Aku hanya mau menanyakan jalan, kenapa kau malah membantingku?!” keluh Taehyung.

Taehyung mengusap-usap bokongnya yang terasa nyeri. Padahal bekas pukulan orang-orang semalam itu belum hilang sakitnya, kini harus ditambah dengan rasa sakit yang memalukan ini.

“Ya ampun. Maafkan aku. Aku pikir kau adalah stalker,” ujar gadis itu.

Taehyung mematung begitu mendengar suara perempuan itu. Taehyung baru tahu kalau yang membantingnya adalah seorang perempuan –tadi ia tak terlalu memperhatikannya. Untuk sesaat Taehyun tampak takjub sebab perempuan mungil itu bisa membanting dirinya.

Perempuan itu menjulurkan tangannya untuk membantu Taehyung berdiri. Begitu ia berhasil berdiri kembali, Taehyung berusaha untuk melihat wajah perempuan itu, tapi tak berhasil karena perempuan itu terus menundukkan kepalanya yang tertutup topi dan tampak sibuk mengaduk-aduk isi tasnya. Baru saja Taehyung akan bertanya padanya ketika perempuan itu menjulurkan sebuah apel merah padanya. Taehyung memandangi apel itu bingung.

Sagwa (apel/permintaan maaf)?” bingung Taehyung seraya mengambil apel dari tangan perempuan itu.

Joesonghamnida (maafkan aku),” ujar perempuan itu yang lalu membungkukkan badannya dalam-dalam.

Taehyung hanya terpaku memandangi apel dan perempuan itu bergantian. Ia sungguh bingung dengan situasi ini. Apalagi kini perempuan itu sudah berlalu dan pergi meninggalkannya begitu saja –bahkan mata mereka belum bertemu sama sekali. Mata Taehyung lalu membuntuti ke arah perempuan itu pergi. Dan ternyata perempuan itu masuk ke rumah yang dituju Taehyung.

“Aku bahkan belum bertanya apapun padanya,” gumam Taehyung yang masih melihat rumah yang dimasuki perempuan itu.

Taehyung penasaran apakah perempuan itu tinggal di lantai dua atau di lantai satu rumah itu. Tapi karena pagar rumahnya yang cukup rapat dan tinggi, membuat Taehyung tak bisa mencaritahu lebih jauh lagi. Tak lama kemudian Taehyung melihat perempuan itu menaiki tangga sampai akhirnya ia menghilang di lantai dua.

Mata Taehyung tak lepas memandangi balkon lantai dua rumah itu. Cukup lama Taehyung berdiri di pinggir jalan menatap balkon itu sampai akhirnya seseorang muncul disana. Seorang perempuan dengan sweater kebesaran dan celana training yang tampak sudah pudar warnanya. Rambut perempuan itu hitam panjang dan kini ia menggelungnya lalu menusuk gelungan rambutnya itu dengan sebatang sumpit. Ia memakai kacamata yang framenya nyaris menutupi wajahnya. Dan begitu kacamatanya dilepas dan diselipkan ke atas kepalanya, Taehyung merasa kalau jantungnya nyaris berhenti. Karena dari jarak sejauh ini saja Taehyung sudah bisa melihat kalau perempuan itu berparas cantik.

Taehyung memegangi dada kirinya –mencoba merasakan apakah jantungnya masih berada disana. Ia masih memandangi perempuan itu, yang kini terlihat tengah memakan buah apel. Dan Taehyung pun tersadar, kalau perempuan itulah orang yang ia cari-cari dari tadi. Orang dengan sekantung apel yang telah menolongnya semalam.

Tangan kanan Taehyung masih mengusap-usap dada kirinya sementara tangannya yang lain memegang apel pemberian perempuan tadi. Ia kemudian meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan aneh bergejolak di dirinya.

“Eiyy, ada apa dengan diri ini?” gumam Taehyung.

Taehyung merasa seperti baru saja menemukan sebutir berlian di antara pecahan kaca.

~*~

“Kurasa daerah ini sudah tidak aman,” ujar Irene.

Ia sedang melakukan rutinitasnya jika sudah berada di rumah yaitu menelepon Yoona, teman satu-satunya. Seusai membersihkan dirinya, Irene keluar rumah untuk menikmati udara malam yang terasa sejuk saat ini. Sambil menggelung rambut panjangnya, Irene berbincang-bincang dengan sahabatnya di telepon.

Ada apa lagi? Apa orang semalam itu datang kembali?

“Haa, jangan bahas hal itu. Orang itu tidak tahu terima kasih. Sudah kutolong malah pergi begitu saja,” gerutu Irene. “Tadi aku tak sengaja membanting seseorang karena mengira kalau dia itu adalah stalker.”

Ya, ampun! Lalu apa kau mengingat wajahnya seperti apa? Jika ternyata dia mengikutimu lagi, kau bisa langsung melaporkannya ke polisi,” celoteh Yoona.

“Kau tahu kan kalau aku tidak suka memperhatikan orang. Bertatapan saja aku enggan, apalagi sampai mengingat wajahnya,” sahut Irene.

Irene memang tidak terbiasa memperhatikan orang-orang. Oleh karena itu banyak orang mengecap dirinya sebagai gadis yang sombong. Padahal itu semua karena ia memiliki trauma tersendiri terhadap orang-orang di sekitarnya. Sehingga membuat Irene menjadi gadis yang tertutup. Apalagi jika orang sudah mengenal betul pribadi Irene, sudah pasti mereka akan memanfaatkan kelemahan gadis itu.

Musim semi sudah hampir tiba sebentar lagi, sudah saatnya kau mencari kekasih, Irene. Dengan begitu aku tak perlu mengkhawatirkanmu jika ada telepon seperti semalam. Aku khawatir padamu, sepertinya kau sudah kekurangan akan cinta. Aku takut kau kekeringan nantinya karena tidak pernah disirami oleh cinta,” celoteh Yoona.

“Jangan samakan aku denganmu. Lagipula aku tak punya waktu untuk mencari cinta. Dan kurasa aku tidak butuh hal-hal seperti itu.” Irene memang tidak membutuhkan hal-hal yang bernama cinta. Sebab baginya cinta hanyalah sumber masalah. Sudah terlalu banyak masalah yang datang pada dirinya karena cinta.

Irene mengedarkan pandangannya ke jalanan, ia melihat sosok pemuda yang tadi di bantingnya. Pemuda itu tampak berjalan menuju ujung gang. Irene jadi merasa bersalah karena sudah membanting pemuda itu. Tapi begitu ia memperhatikan punggung pemuda itu, Irene merasakan sesuatu tidak asing baginya. Sama halnya ketika ia melewati pemuda itu tadi, ia merasa kalau aura pemuda itu tidak asing baginya.

Ketika Irene menggigit apelnya, barulah ia tersadar. Kalau aura pemuda yang tadi ia banting, sama dengan aura pemuda yang semalam menyelinap ke halaman rumahnya.

“Ehh,” gumam Irene begitu menyadari hal tersebut.

Apa? Ada apa? Kenapa lagi denganmu sekarang?” cecar Yoona. Temannya itu tentu sudah hafal betul jika Irene mulai ngelantur bicaranya, sudah pasti sedang terjadi sesuatu dengannya saat ini.

“Yoona, jika ternyata orang tersebut datang kembali, apa yang harus kulakukan?”

Jika memang benar dua orang itu adalah orang yang sama, maka jika mereka bertemu lagi nanti, Irene tidak tahu apakah ia harus merasa marah karena orang tersebut pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih padanya ataukah ia harus merasa bersalah karena sudah membanting orang tersebut.

~*~

Malam ini begitu Irene tiba di kontrakannya, ia melihat seseorang tengah tertidur di dipan yang ada di balkonnya. Irene terkejut setengah mati melihatnya. Ia pun mengendap-endap ke sisi lain balkon untuk mengambil sebuah papan kayu bekas kotak apel. Irene kemudian memasang posisi siaga dan mendekati orang asing tersebut.

Irene menyenggol bahu orang tersebut dengan papan yang dibawanya dan orang asing itu pun merespon. Orang asing itu tampak meregangkan otot badannya sebelum akhirnya berbalik menatap Irene yang sudah mengacungkan papan di tangannya pada orang tersebut. Ia kemudian duduk berlutut di hadapan Irene seraya membungkukkan badannya penuh rasa hormat.

“Ohh, annyeong haseyo,” sapa orang itu setengah mengantuk.

Irene memperhatikan orang itu dari ujung kaki sampai kepala. Seorang pemuda berambut coklat gelap dengan mata yang tampak sayu –mungkin pengaruh baru bangun tidur. Pemuda itu memakai sweater abu-abu dan celana jeans hitam. Disampingnya tampak sebuah ransel hitam, yang tadi ia pakai sebagai alas kepalanya. Dan pemuda itu memiliki bentuk bibir yang unik.

Nuguseyo (siapa)?” bingung Irene –masih sambil mengacungkan papan kayunya pda pemuda itu.

“Apa kau tinggal di rumah ini?” tanya pemuda itu yang dijawab dengan anggukan oleh Irene. “Apa kau tidak ingat aku? Aku yang beberapa waktu lalu masuk ke halaman rumah ini,” tanyanya antusias.

Irene berusaha mengingat-ingat –yang sepertinya tidak perlu, sebab hanya ada satu kejadian seorang pemuda menerobos masuk ke halaman rumahnya. Irene tampak terkejut begitu memandangi wajah pemuda itu. Sebab wajahnya tampak jauh berbeda dengan terakhir kali ketika Irene melihatnya –mungkin karena waktu itu ia tampak babak belur di mata Irene. Pemuda di hadapannya ini terlihat lebih rapi dan lebih bersih.

Irene akhirnya meletakkan papan kayu yang dipegangnya, kembali ke tempatnya. Sebab ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada pemuda itu. Tapi begitu Irene berbalik pada pemuda itu, ternyata ia sudah berdiri di hadapan Irene dan menjabat tangan Irene dengan kedua tangannya.

“Aku ingin berterima kasih padamu. Jika bukan karena pertolonganmu malam itu, sudah pasti wajahku ini akan beredar di koran dan televisi sebagai korban kejahatan jalanan. Kau tidak akan bisa membayangkan apa saja yang sudah terjadi padaku malam itu. Terima kasih, terima kasih banyak,” ujar pemuda itu ceria sambil terus menjabat tangan Irene.

Irene berusaha menarik tangannya. Ia kemudian bergerak mundur hendak meraih kembali papan kayunya –karena sepertinya pemuda ini sudah melewati batas privasinya. “Aku tidak-,”

“Ehh, bukan kau yang menolongku?” bingung pemuda itu.

“Aku tidak melakukan banyak sampai kau harus berterima kasih padaku,” gumam Irene. Ia ingat bagaimana ia mengangkat pemuda itu dari halaman rumahnya menuju lantai dua –ia menyeret badan pemuda itu di tangga. Tapi tentu saja Irene tidak akan mengatakan hal itu.

“Kim Taehyung imnida,” pemuda itu memperkenalkan dirinya.

Irene terdiam sejenak sebelum akhirnya ia turut memperkenalkan dirinya. “Irene Bae imnida.”

 

~*~

Salah satu kelemahan Irene adalah menolak sesuatu. Seperti pada situasi saat ini, dimana seorang pemuda bernama Kim Taehyung yang beberapa waktu lalu ia tolong kini muncul di hadapannya membawakan sekantung ddeokpokgi sebagai ungkapan rasa terima kasihnya. Irene tidak bisa menolak niat baik pemuda itu, tapi ia juga tidak bisa menerimanya. Sebab Irene tidak bisa makan makanan pedas.

Situasinya pun berubah menjadi Irene menjamu Taehyung dengan makan malam seadanya. Irene menggelar semua makanan simpanannya –yang kebanyakan adalah sayuran dan kimchi– di atas dipan. Irene sengaja tidak mengajak Taehyung masuk ke dalam rumah, sebab Irene tak bisa menjamin apa yang akan dilakukan pemuda itu jika ia mengajaknya masuk ke dalam rumah.

Irene bahkan mengeluarkan apelnya yang berharga dan memberikannya pada Taehyung sambil mendengarkan pemuda itu bercerita. Yang Irene tangkap dari percakapan sederhananya dengan Kim Taehyung, Irene bisa melihat kalau Taehyung adalah anak yang penuh keceriaan. Sebab sepanjang ia bercerita, Taehyung tak lepas tersenyum dan melakukan gerakan-gerakan hiperbola dengan tubuhnya untuk menggambarkan ceritanya.

“Ahh aku mengingatnya. Apel,” ujar Taehyung. “Waktu itu apelmu jatuh bukan? Haha, ingatanku malam itu hanya sampai disana.”

“Bagaimana kau bisa lari sampai ke daerah ini? Apa rumahmu di dekat sini?” tanya Irene berusaha terdengar tidak terlalu peduli dengan jawaban Taehyung.

“Aku tidak punya rumah,” sahut Taehyung polos.

Irene cukup terkejut dengan jawaban Taehyung. “Memangnya orangtuamu kemana?” tanya Irene lagi.

Taehyung tampak menghentikan kegiatan makannya. Ia terdiam memandangi mangkuk nasinya. Dan Irene pun sadar kalau ia telah bertanya terlalu jauh. Tapi tak lama kemudian Taehyung mengangkat wajahnya dan menunjukkan senyumannya pada Irene.

“Aku tidak punya orangtua,” sahutnya sambil tersenyum lebar. Taehyung kembali melanjutkan makanannya. “Ayahku menghamili ibuku dan tak mau bertanggung jawab. Ia bahkan tidak menganggap keberadaanku dan memilih untuk hidup bahagia bersama istri lamanya. Sementara ibuku, memilih untuk menjualku pada orang yang selalu berniat menjual tubuhku. Jadi, aku tidak punya orangtua.”

Irene mematung mendengar cerita Taehyung. Yang Irene takjubkan adalah, Taehyung bercerita sambil tersenyum lebar dan tampak acuh tak acuh dengan kisah hidupnya, seolah kisah mengerikan itu bukanlah hal yang mampu menyakitinya.

“Ohh, maaf. Apa ceritaku mengganggu selera makanmu?” tanya Taehyung khawatir.

Irene menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk bersikap seperti biasa. Ia tak menyangka kalau ada orang lain yang memiliki kisah hidup yang lebih menyedihkan daripada dirinya.

“Lalu kau tinggal dimana sekarang,” tanya Irene. Kali ini ia terdengar begitu peduli akan keadaan pemuda asing itu.

“Disini dan disana. Sebab lelaki hidung belang itu sering datang ke rumah orang yang sudah mengasuhku, jadi aku tak bisa kembali kesana. Dan orang di rumah itu juga memiliki usaha yang tidak baik untuk kesehatan mentalku. Kau tahu maksudku ‘kan?”

Sungguh Irene tidak tega mendengar kondisi Taehyung. Irene paling lemah akan hal-hal seperti ini; cerita sedih seseorang yang akan membuatnya rela memberikan apapun yang ia miliki hanya untuk menolong orang tersebut. Seperti saat ini, Irene begitu ingin menolong Kim Taehyung. Inilah sebabnya Irene tak suka bersinggungan dengan orang lain. Sebab ia akan menjadi lemah dan mudah dimanfaatkan oleh orang lain –Yoona sering mengomelinya untuk hal ini.

Dan sepertinya Yoona akan mengomelinya panjang lebar akan hal ini.

“Kalau kau mau, kau boleh tinggal disini,” ujar Irene.

 

 

~Chapter 1~

new fiction featuring Irene Red Velvet and V BTS. Hope you guys like it.

for those who waiting for snow white and Hallow.win, hope you guys be patient 🙂

ps: HAPPY ANNIVERSARY TO BEEPLANET!!!

and welcome Spring Season!!

Advertisements
FF – Love Blossom | Chapter 1

19 thoughts on “FF – Love Blossom | Chapter 1

  1. hazara says:

    Wahh aku ngga ngerti harus comment apa thor, so aku berharap ff ini berlanjut sampek tamat, aku tagih lo thor kalo ngga dilanjut hehe. 힘내!!

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s