FF – Tangled Fate | Chapter 12 – END | PG15


tangled_fate

Title : Tangled Fate

Subtitle : I Will Always Protect You

Author : beedragon

Cast:

Yoonjo Hello Venus as Shin Yoonjo

Sojung Ladies Code as Lee Sojung

Baekhyun EXO as Byun Baekhyun

CNU B1A4 as Shinwoo / Shin Dongwoo

Genre : Family, Romance, Angst, Sad, Tragedy, Friendship

Length : Multichapter

Summary : Ketika waktu Yoonjo semakin menipis, Yoonjo berjuang melawan waktu untuk bisa menemukan belahan jiwanya. Akankah Yoonjo berhasil mengalahkan waktu, atau waktu yang mengalahkannya terlebih dahulu

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : EXO – Baby Don’t Cry | EXO – My Turn To Cry |

Tangled Fate | Tweventh Chapter

~*~

“.. Menangislah, karena ini adalah yang terakhir kalinya kamu menangis seperti ini. Setelah ini aku tidak akan mengijinkanmu untuk menangis lagi..

~*~

“Sojung-ssi, kuatkan dirimu,” khawatir Baekhyun.

Baekhyun membopong Sojung yang tampaknya tak memiliki lagi tenaga untuk berjalan. Keduanya kini sudah tiba di rumah sakit di perbatasan Yanggu-si. Tadi setelah memastikan kalau Nyonya Byun sudah kembali ke Seoul untuk menemani Yoonjo, barulah Baekhyun membawa Sojung pergi ke Yanggu-si. Bukan untuk menemani Tuan Shin menunggu altar mendiang Kim Hyojin, tapi untuk melihat Shin Dongwoo –atau yang biasa mereka panggil dengan Shinwoo.

Berita yang membuat Sojung sampai pingsan tadi siang adalah berita mengenai kecelakaan yang terjadi di perbatasan Yanggu-si. Kecelakaan besar yang melibatkan sebuah mobil sport dengan satu truk besar pengangkut pasir dan satu mobil tangki air. Ada banyak korban jiwa karena kecelakaan tersebut. Salah satunya adalah pengendara mobil sport yang terhimpit antara dua mobil raksasa itu. Dan Sojung sangat mengenal mobil tersebut. Itu adalah mobil Shinwoo.

Sojung duduk bersimpuh di lantai. Ia bahkan belum sampai di ruang UGD, tapi kakinya sudah lebih dulu menyerah. Pandangannya kabur menatap pintu ruang UGD tempat orang-orang berlalu-lalang. Dan air mata pun terus mengalir membasahi pipinya.

Sesak, itulah yang ia rasakan. Ia tak pernah merasa sesesak ini. Bahkan ketika ia mengetahui kalau Yoonjo adalah kembarannya, Sojung tidak merasa sepedih ini. Yang ia rasakan saat ini adalah rasa kehilangan yang begitu besar. Sojung tak bisa bernapas. Ia menangis sesenggukan seraya berusaha untuk tetap mendapat pasokan oksigen ke paru-parunya. Sojung meremas erat lengan Baekhyun –berusaha mendapatkan kekuatan disana.

“Oppa…. Oppa…. Oppa….,” hanya itu yang terus terucap dari bibirnya. Matanya sudah bengkak akibat terlalu banyak menangis. Bahkan sepertinya ia sudah tak bisa lagi melihat jelas apa yang ada di hadapannya.

Melihat kondisi Sojung ini, membuat Baekhyun jadi makin iba dibuatnya. Ia pun meraih Sojung ke dalam pelukannya. Sojung malah menangis semakin kencang dalam pelukannya. Baekhyun memutuskan untuk membawa Sojung ke persemayaman Kim Hyojin yang terletak di lantai tiga rumah sakit ini. Sebab Baekhyun yakin kalau Sojung tak akan siap mendengarkan berita apapun mengenai Shinwoo.

Setibanya di persemayaman Kim Hyojin, ayah kandung Sojung itu tampak terkaget-kaget melihat kehadiran salah satu putrinya bersama dengan Baekhyun. Terlebih lagi begitu melihat keadaan Sojung yang tampak begitu berantakan. Ia tak habis pikir kalau putrinya itu begitu berduka mendengar ibunya meninggal dunia, mengingat betapa putrinya itu sangat membenci ibu kandungnya.

“Baekhyun-ah, kenapa kalian ada disini?” tegur Tuan Shin.

Baekhyun tidak menjawab pertanyaan Tuan Shin. Ia hanya meletakkan Sojung di sudut ruangan dan menarik Tuan Shin keluar dari ruang persemayaman. Baekhyun harus memberitahu fakta ini terhadap Tuan Shin.

“Kakak Sojung ada di rumah sakit ini. Di UGD lebih tepatnya. Dia menjadi korban kecelakaan yang terjadi di perbatasan siang ini. Maafkan aku, Ahjussi,” jelas Baekhyun tertahan.

Tuan Shin tampak kosong mendengar ucapan Baekhyun. Ia mengerti maksud Baekhyun, kalau kakak Sojung itu adalah anak lelakinya yang hilang dulu. Ia tak tahu berita buruk apalagi yang harus ia dengar hari ini. Padahal baru tadi pagi ia mengetahui kalau putranya ternyata juga mengurus Kim Hyojin dan kini ia harus mendengar kalau putranya itu kecelakaan. Tuan Shin belum bisa menerima berita ini.

Baekhyun pun menemani Tuan Shin ke UGD untuk memastikan kondisi Shinwoo. Ketika tiba di depan ruang UGD, Baekhyun melihat begitu banyak orang-orang berlalu lalang –lebih banyak dari ketika ia tiba di rumah sakit ini. Tuan Shin tampak kebingungan di antara begitu banyaknya manusia yang memenuhi ruangan ini. Baekhyun berinisiatif untuk mencari tahu mengenai Shinwoo, karena Tuan Shin sendiri tak tahu seperti apa rupa putranya itu sekarang. Baekhyun melihat sekelilingnya dan menangkap seorang suster yang kebetulan melewatinya.

“Maaf, kami keluarga Shin Dongwoo, korban kecelakaan di perbatasan Yanggu-si siang ini. Apa dia ada disini?” sela Baekhyun.

Tanpa perlu mendengar jawaban dari sang suster, Baekhyun sudah bisa menduga apa yang terjadi. Hanya dengan melihat ekspresi sang suster, Baekhyun tahu bagaimana nasib Shinwoo.

“Korban bernama Shin Dongwoo, usia 24 tahun, asal Seoul, D.O.A (die on arrival) pada pukul 15.11 hari ini.”

Tentu saja, pikir Baekhyun. Tidak akan ada yang selamat dari kecelakaan semengerikan itu. untungnya bukan Sojung yang bersama Baekhyun saat ini. Tentu saja Sojung tidak akan bisa menerima kenyataan ini. Baekhyun melirik ke arah Tuan Shin yang kini memandangi sebuah ranjang pasien yang tampak penuh darah, yang menurut suster tadi adalah jasad Shinwoo. Tuan Shin bahkan belum melihat seperti apa anaknya yang telah lama hilang itu. Sejak lahir sampai detik ini, Tuan Shin sama sekali tak bisa melihat seperti apa rupa putranya.

“Ahjussi, gwenchanhayo?” khawatir Baekhyun.

“Bagaimana aku bisa baik-baik saja, Baekhyun-ah. Istri yang belasan tahun lalu meninggalkanku dan Yoonjo kini sudah tiada. Ditambah dengan berita mengenai putraku yang tak pernah kutemui sejak ia lahir, dan kami harus dipertemukan dengan cara seperti ini. Aku tak bisa menerima kehilangan lagi. Tidak lagi, Baekhyun-ah.”

.

.

Duka yang mendalam begitu terasa di ruang persemayaman Shinwoo. Sojung memilih untuk berada disana dibandingkan di persemayaman ibu kandungnya sendiri. Ia bahkan tidak terpikir untuk mengabari Yoonjo mengenai hal ini. Ia yakin kalau berita ini hanya akan membuat kondisi Yoonjo memburuk dan itu tidak baik untuk kesehatannya.

Baekhyun juga tampak disana. Ia ingin menepati janjinya pada Shinwoo, yaitu untuk selalu memberi Sojung kekuatan untuk bisa tegar. Walaupun saat ini ia sangat khawatir terhadap Yoonjo, tapi Sojung lebih membutuhkan dirinya saat ini. Karenanya Baekhyun tidak meninggalkan sisi Sojung sepanjang persemayaman terjadi.

“Apa Oppa sebelumnya sudah tahu kalau Yoonjo adalah adiknya juga? Kenapa Oppa memilih untuk menemui Yoonjo? Apa Yoonjo juga tahu kalau Oppa adalah kakak kami? Kenapa Oppa tidak menemuiku juga? Bukankah aku juga adiknya? Apa Oppa masih marah terhadapku? Apa Oppa kecewa padaku?” Sojung terus mengutarakan pertanyaan yang tak berujung itu pada Baekhyun.

Penyesalan yang ada di diri Sojung ini sungguh tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ia belum sempat mengatakan pada Shinwoo kalau ia juga mencintai kakaknya itu. Ia belum sempat mengatakan pada Shinwoo kalau ia juga ingin kembali berkumpul bersama dan hidup seperti keluarga sederhana yang pada umumnya. Jika mengingat semua hal ini, kembali Sojung menumpahkan airmatanya.

Baekhyun menyaksikan Sojung yang terus kembali jatuh dalam penyesalan. Jika seperti ini terus, ia tak yakin akan bagaimana Sojung akan melanjutkan kehidupannya. Saat ini Baekhyun hanya mendampingi Sojung sambil meremas selembar surat di tangannya.

Baekhyun mendapatkan dua pucuk surat dari Tuan Shin –katanya orangtua angkat Shinwoo yang memberikan surat ini padanya. Tuan Shin menyuruh Baekhyun untuk memberikan surat-surat itu pada kedua putrinya –Sojung dan Yoonjo lah yang dituju surat tersebut. Jika melihat kondisi Sojung saat ini, sepertinya surat itu harus menunggu beberapa saat lagi. Karena Baekhyun yakin kalau Sojung pasti akan runtuh begitu membaca surat Shinwoo ini.

Setelah melihat kehadiran Tuan Shin di samping Sojung, barulah Baekhyun pergi meninggalkan Sojung dan menghampiri Dokter Byun. Baekhyun ingin bertanya pada ayahnya itu mengenai kondisi Yoonjo. Baekhyun cukup mencemaskan gadis itu.

“Ada orang yang mendonorkan jantungnya untuk Yoonjo. Jadi Appa akan segera membuat jadwal operasi untuk melakukan transplantasi terhadap Yoonjo secepatnya. Terserah kamu mau tetap disini untuk menemani Sojung atau mau ikut Appa ke rumah sakit sekarang. Kalau Tuan Shin nanti akan menyusul setelah semua hal disini selesai,” cerita Dokter Byun.

Semilir angin memberikan kesejukan bagi Baekhyun saat ini. Tentu saja akan ada pelangi setelah hujan badai. Dan tentu saja akan ada kebahagiaan setelah kesedihan. Harapan untuk Yoonjo sudah datang. Tentu Baekhyun akan menemani Yoonjo sampai gadis itu selesai di operasi. Siapa yang bisa menduga, setelah semua kehilangan yang terjadi di keluarga Shin, kini datang secercah harapan untuk kebahagiaan keluarga itu.

Rasanya Baekhyun ingin sekali berlari menemui Sojung dan memberitahu kabar ini, agar Sojung bisa berhenti menangis. Senyum sudah menghiasi wajah Baekhyun. Rasa lega kini sudah menyelimuti hati Baekhyun. Siapapun pendonornya, Baekhyun ingin mengucapkan rasa terima kasihnya yang terdalam.

“Siapa, Appa? Siapa orang baik yang mendonorkan jantungnya untuk Yoonjo?” tanya Baekhyun antusias. “Aku ingin berterima kasih pada keluarganya.”

Dokter Byun tampak memalingkan wajahnya dari Baekhyun. “Baekhyun-ah, kita tak perlu tahu siapa pendonornya. Terkadang tidak mengetahui apa-apa adalah pilihan yang bijak. Yang terpenting sekarang adalah Yoonjo bisa sembuh dan menjalani hari-harinya dengan bahagia. Bukankah kamu masih berhutang jawaban pada Yoonjo?” Jawaban ambigu dari Dokter Byun membuat Baekhyun memutar otaknya. Apalagi kini ia melihat ayahnya itu tampak seperti sedang menyimpan suatu rahasia besar.

Dan Baekhyun pun menyadarinya.

Tanpa perlu ayahnya menjelaskan lebih lanjut, Baekhyun bisa menduganya.

Tapi Baekhyun berusaha menghapus pemikirannya itu. Baekhyun tak ingin menduga lebih jauh. Baekhyun tak ingin berbahagia di atas rasa bersalah. Tidak, Baekhyun tidak akan tahu mengenai hal ini dan tidak akan mencari tahu. Membiarkan semuanya menjadi pertanyaan yang tak terjawab adalah pilihan terbaik daripada mengetahui kebenarannya dan membuat hidupnya terus diliputi rasa bersalah.

Baekhyun tidak akan mencari tahu dan dengan begitu Sojung dan Yoonjo pun tidak perlu tahu apapun mengenai hal ini.

.

.

.

Operasi yang dijalani Yoonjo saat ini berjalan lebih lama dibandingkan dengan operasi-operasi yang pernah ia jalani. Beruntungnya kondisi Yoonjo sebelum operasi sudah lebih stabil sehingga kemungkinan untuk operasi ini berhasil cukup besar.

Baekhyun, yang tak bisa duduk diam, tampak terus mondar-mandir di depan pintu ruang operasi –begitu pun dengan Tuan Shin. Sementara Nyonya Byun tampak menemani Sojung duduk di ruang tunggu. Semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing –pikiran yang sama, yaitu berhasilnya operasi terhadap Yoonjo. Tak ada satu pun yang berada di ruangan itu ingin mendengar mengenai kabar sebuah kehilangan lagi. Baekhyun tidak ingin mendengar hal itu, begitu pun dengan Sojung dan Tuan Shin.

Detik jam dinding yang menggema di koridor ruang tunggu itu terasa seperti sedang menguji kesabaran Baekhyun. Berkali-kali Baekhyun memelototi jam dinding seolah hendak menyuruhnya untuk berhenti bersuara. Berkali-kali pula Baekhyun menghelakan keresahannya yang malah membuat orang-orang di sekitarnya jadi makin gusar karenanya.

Baekhyun melirik Sojung yang tampak menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya. Sebagai seorang gadis yang sangat mempedulikan penampilannya, Baekhyun tahu kalau Sojung pasti saat ini sedang merasa tidak nyaman karena penampilannya yang begitu berantakan. Baekhyun melihat wajah Sojung masih tampak sembab akibat terlalu banyak menangis, sekarang ditambah dengan lingkaran hitam yang menggantung di bawah matanya –yang seolah sudah mencapai dagunya. Baekhyun pun mendekati Sojung dan mencoba membangun komunikasi dengan Sojung yang sepertinya puasa bicara sejak dari persemayaman Shinwoo –sekaligus untuk mengalihkan rasa cemasnya terhadap Yoonjo.

“Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?” tanya Baekhyun.

Sojung tampak hening sejenak sebelum merespon pertanyaan Baekhyun. “Apa?” bingung Sojung dengan suara parau.

“Stanford. Bukankah katanya minggu ini kamu sudah harus kesana untuk tes formalitas?”

Sojung pun melepas kedua tangannya yang sedari tadi menutupi wajahnya. Ia kini tampak sangat kebingungan. Ia memandangi pintu ruang operasi seolah mencari jawaban disana. Sesungguhnya Sojung ingin tetap berada disini untuk menunggu Yoonjo. Ia ingin menjadi orang pertama yang Yoonjo lihat ketika ia membuka matanya nanti. Ia ingin menunjukkan pada Yoonjo kalau dirinya merasa bersalah atas segala sikapnya selama ini. Sojung ingin segera memperbaiki semuanya pada Yoonjo.

Tapi Sojung juga tak ingin mengecewakan harapan keluarga Lee yang sudah begitu membanggakannya karena berhasil mendapat beasiswa di Stanford. Setidaknya Sojung ingin menunjukkan pada orangtua angkatnya itu kalau mereka tidak sia-sia mengangkat Sojung menjadi anaknya.

“Kurasa kamu harus membahasnya dengan Ahjussi,” saran Baekhyun setelah sekian lama ia melihat Sojung larut dalam dilemanya.

Sojung tampak membuka mulutnya –hendak mengatakan sesuatu– tapi ia kembali menutupnya lagi. Setelah pemikiran yang cukup panjang akhirnya Sojung bersuara. “Appa bilang jika itu adalah untuk masa depanku, maka lebih baik aku pergi mengejarnya.”

Baekhyun setuju dengan pendapat Tuan Shin tersebut. Memang lebih baik Sojung pergi jauh untuk sementara waktu dan melupakan segala yang terjadi disini. Sojung harus memfokuskan dirinya untuk masa depannya, dengan begitu ia tidak akan terus terjebak dalam semua kepahitan yang sudah terjadi terhadap dirinya selama ini.

“Jika Yoonjo tahu kamu menolak beasiswa itu karena dirinya, maka dia akan merasa sangat bersalah. Kamu tahu persis seperti apa Yoonjo, bukan? Dia pasti akan terus menyalahkan dirinya karena sudah menghalangi langkahmu,” bujuk Baekhyun lagi.

Sojung tersenyum pahit. “Ucapanmu sama persis dengan apa yang dikatakan Appa semalam. Apa kamu menguping pembicaraan kami?” gurau Sojung.

Baekhyun kembali melirik Sojung. Sungguh gadis yang ada di sampingnya sangat berbeda dengan gadis yang setahun lalu ia kencani. Seorang Lee Sojung yang selalu memakai barang bermerek, wajah yang selalu dilapisi make-up, serta sikap angkuh yang menjadi ciri khasnya, kini tampak berubah seratus delapan puluh derajat. Sojung yang ada di hadapannya kini tampak tak bercahaya dan rapuh. Sungguh Baekhyun tidak tega melihatnya.

Padahal jika ia mengingat bagaimana Sojung memperlakukan dirinya dan Yoonjo dulu kala, sungguh Baekhyun ingin sekali sesuatu yang buruk menimpa Sojung. Apalagi Sojung sudah membuat Yoonjo menangis begitu pilu bahkan sampai masuk UGD. Karenanya Baekhyun meneror Sojung dengan mengirimkan foto-foto masa kecil Sojung dan Yoonjo. Niatnya hanya agar gadis itu mengingat Yoonjo dan berhenti membuat Yoonjo menangis. Tapi siapa yang tahu kalau itu malah membuat kusut semua yang sudah terjadi.

Baekhyun tentu saja akan berusaha memperbaiki semua kesalahannya. Termasuk kesalahan karena sudah meruntuhkan Lee-Sojung-yang-Terhormat. Setidaknya Baekhyun ingin Sojung kembali seperti Sojung yang ia lihat di malam inagurasi kampus beberapa waktu yang lalu.

“Sojung-ssi, dengarkan aku,” ujar Baekhyun. “Aku akan terus berada di sampingmu sampai kamu bisa berdiri tegar. Aku akan selalu berada di sampingmu.”

Sojung memandangi Baekhyun tanpa merubah ekspresinya. Sojung tak bisa memungkiri, kalau hatinya berdesir karena ucapan Baekhyun itu. Ia tidak mengerti maksud dari Baekhyun mengatakan hal itu. Tapi kemudian Sojung berpikir kalau Baekhyun hanya ingin menghiburnya saja.

“Jangan memberiku harapan seperti itu, Baekhyun-ssi. Kamu malah membuatku enggan melepasmu,” gurau Sojung. Berusaha menciptakan suasana humor di tengah keseriusan yang diciptakan Baekhyun.

“Bukannya kamu tak pernah menggenggamku? Aku hanya berdiri di sampingmu, bukan meraihmu ke sisiku?”

Ucapan Baekhyun ini justru memperparah keadaan Sojung. Gadis itu kini hanya menatap Baekhyun tanpa berkedip, berusaha mencari sedikit harapan disana. Tapi tentu saja apa yang ia harapkan tidak ada disana. Di dalam hati Baekhyun hanya ada Yoonjo dan tak akan ada sedikitpun tempat untuk dirinya disana. Bodoh memang, jika berpikir kalau ia bisa kembali lagi ke masa lalu dan memperbaiki semua langkahnya. Lebih bodoh lagi karena dirinya nyaris terlena dengan kebaikan Baekhyun.

“Kurasa aku bisa memberikan ini padamu sekarang.” Baekhyun akhirnya memberikan surat Shinwoo pada Sojung.

“Yah, Yoonjo masih berjuang di dalam sana dan kamu malah memberiku surat cinta. Apa kamu ingin kita kembali lagi seperti dulu?” gurau Sojung –ia ingin mengalihkan debaran-debaran di hatinya dengan terus melontarkan gurauan terhadap Baekhyun.

Sojung mengamati surat pemberian Baekhyun. Awalnya ia berpikir mungkin itu surat peninggalan ibu kandungnya. Tapi begitu ia membaca baris pertama surat tersebut, hati Sojung loangsung runtuh.

 

 

Sojung-ah. Adikku tersayang Lee Sojung.

Berdasarkan apa yang kudengar dari Eomma, namamu adalah Shin Yoona. Tapi aku mengenalmu sebagai Lee Sojung. Jadi aku akan memanggilmu dengan nama barumu. Mengingat kamu pernah mengatakan padaku kalau kamu membenci masa lalumu, maka aku tidak akan memanggilmu dengan nama yang akan mengingatkanmu dengan masa lalumu yang menakutkan itu. Aku akan memanggilmu dengan Sojung-ah. Apa kamu menyukainya?

Sojung-ah, sejak dulu, aku begitu ingin memiliki adik, adik perempuan lebih tepatnya. Apa kamu tahu betapa senangnya aku begitu mengetahui kalau aku ternyata memiliki adik kandung. Dan ternyata adikku itu adalah dirimu. Kamu tak tahu betapa aku merasa sangat beruntung memiliki adik yang begitu pintar, cantik dan penuh kharisma sepertimu.

Dan belakangan aku baru tahu. Adikku bukan hanya satu. Tapi dua. Sepasang adik kembar. Dan keduanya adalah perempuan. Yoonjo, apa dia baik-baik saja sekarang? Dia pasti baik-baik saja. Dia seharusnya baik-baik saja sekarang. Tentu saja, karena aku sudah menepati janjiku padanya. Jadi ia pasti baik-baik saja sekarang.

Aku mencintai kalian berdua, kamu dan Yoonjo.

Tapi aku juga mencintai ibu. Karenanya aku memilih untuk menemaninya karena dia sudah hidup sendirian dan menderita selama ini. Sojung-ah, tolong maafkan ibu. Yakinlah kalau ia melakukan semua hal itu untuk kebaikan kalian. Aku menyayangimu dengan sepenuh hatiku, Sojung-ah. Kamu adalah adikku yang paling berharga, begitu juga Yoonjo. Jadi aku mohon pada kalian, maafkanlah ibu dan aku.

Pesanku untukmu. Carilah pemuda yang bisa mencintaimu apa adanya dan jangan mengejar pemuda yang tidak mencintaimu dengan tulus. Aku yakin, kamu akan menemukan pemuda seperti itu. Pemuda yang hanya melihatmu di matanya. Seperti Baekhyun yang hanya memiliki Yoonjo di hatinya.

Jadi jangan menangis lagi. Tentu saja karena aku akan selalu bersamamu. Ingatlah selalu, walaupun aku tidak ada di sampingmu, aku akan selalu menjagamu. Kamu harus bergerak maju, Sojung-ah!

Aku mencintai kalian, adik-adikku yang berharga. Salam sayangku untukmu, adikku.

Shinwoo.

 

 

Sepanjang Sojung memandangi surat itu, airmatanya tak berhenti mengalir. Sojung memeluk surat itu, mendekapnya erat seolah itu adalah wujud Shinwoo. Setidaknya kini ia tahu kalau kakaknya itu tidak menyimpan sakit hati terhadapnya. Setidaknya ia tahu kalau kakaknya itu ternyata sangat menyayanginya. Setidaknya ia tahu kalau kakaknya itu bahagia begitu mengetahui kalau Sojung adalah adiknya.

Sojung tidak ingin kembali jatuh dalam kesedihannya. Ia pun berpaling pada Baekhyun, memohon bantuan pemuda itu. Beruntungnya Baekhyun dengan lapang dada bersedia meminjamkan bahunya untuk Sojung –untuk dirinya sekedar bersandar disana.

.

.

.

.

.

Sojung pun memutuskan untuk mengikuti tes di Stanford. Apalagi setelah mengetahui kalau operasi Yoonjo berhasil -hanya saja sampai detik ini Yoonjo belum membuka matanya. Hari ini adalah hari terakhir Sojung di Korea sebelum berangkat ke Amerika. Sojung memilih untuk meninggalkan semuanya –semua hal yang membuatnya sedih dan terluka. Dan untuk pertama kalinya Sojung mengunjungi makam Kim Hyojin, ibu kandungnya.

Sojung berdiri kaku di depan makam ibu kandungnya tersebut. Ia ingin melepaskan semua duka yang ia simpan terhadap ibu kandungnya itu. Sojung sudah mencoba menerima penjelasan ayahnya mengenai kondisi ibunya itu. Yang ia ketahui adalah ibunya itu memang menderita gangguan kepribadian. Oleh sebab itu ibunya itu memilih untuk meninggalkan Shinwoo pada keluarga Shin, karena ia tak ingin menyakiti putranya itu. Setelah melahirkan Shinwoo, Tuan Shin berusaha agar istrinya itu bisa diobati. Awalnya mereka pikir Kim Hyojin sudah sembuh, tapi ternyata begitu ia melahirkan si kembar dan mengetahui kalau salah satu kembar ada yang tidak sempurna, Kim Hyojin kembali dilanda stress.

Sojung mencoba untuk memahami semuanya. Ia tahu kalau hidup ibunya sebelum bertemu dengan ayahnya itu memang sudah cukup susah. Jadi pantas saja jika ibunya itu menderita gangguan kepribadian. Karenanya kini Sojung mencoba melupakan semuanya agar ia tidak menjadi seperti ibunya. Sebab Sojung yakin, jika ia kembali mendapatkan tekanan-tekanan seperti yang terjadi belakangan ini, maka ia juga akan mengalami gangguan kepribadian seperti ibunya. Hal itulah yang membuat Sojung memilih untuk pergi menjauh dari semuanya.

“Aku akan mencari jalan keluar untuk diriku. Aku berjanji padamu kalau aku tidak akan menjadi sepertimu. Aku akan kembali setelah menjadi perempuan yang lebih baik lagi, jauh lebih baik darimu,” ujar Sojung pada makam ibunya.

Ia meletakkan sebuket bunga mawar putih di atas makam Kim Hyojin. Ia berdoa sejenak untuk ibunya –sebagai hal baik terakhir yang bisa ia lakukan untuk ibunya.

“Semoga Eomma tenang disana. Jaga Oppa dengan baik. Oppa sudah menjagamu selama ini, jadi aku mohon padamu untuk menjaga Oppa untukku.”

Sojung akan melepaskan semuanya. Sojung akan meninggalkan semuanya. Agar ia bisa berubah menjadi Sojung yang baru. Setelah ia menjadi lebih kuat dari sebelumnya, barulah Sojung akan kembali lagi. Kembali pada keluarga yang ia rindukan.

.

.

.

.

Baekhyun memijat tangan Yoonjo –memainkannya lebih tepatnya. Sesungguhnya ia ingin menemani Tuan Shin mengantar Sojung ke bandara, tapi Baekhyun tak ingin meninggalkan Yoonjo. Lima hari sudah berlalu sejak operasi pencangkokan jantung Yoonjo dilaksanakan, tapi Yoonjo belum menunjukkan tanda-tanda kalau ia akan membuka matanya. Para dokter juga tak berani memancing agar Yoonjo bangun, karena mereka tak ingin jantung Yoonjo malah beraksi negatif.

Baekhyun akhirnya merebahkan kepalanya disamping Yoonjo seraya saling mengaitkan jari-jemari mereka. Ia memandangi kuku jari Yoonjo yang kini sudah penuh warna –Sojung yang mewarnai kuku Yoonjo semalam.

“Yoong, cepatlah bangun. Aku merindukanmu,” lirih Baekhyun.

Kemudian Baekhyun tersenyum. Ia teringat akan pertemuan pertamanya dengan Yoonjo. Ia ingat betapa arogan dirinya ketika ia mendekati Yoonjo dulu. Hari itu sekitar lima belas tahun yang lalu, di rumah sakit ini Baekhyun bertemu dengan Yoonjo. Baekhyun ingat, kala itu tengah malam ibunya membangunkan Baekhyun untuk menemaninya ke rumah sakit –yang ternyata ayah Baekhyun menjadi korban perampokan dan ayah Yoonjolah yang menyelamatkannya.

“Kamu ingat waktu pertama kali kita bertemu, Yoong?” tanya Baekhyun. “Di depan pintu UGD. Aku melihatmu berpelukan dengan ayahmu dan ayahmu mengucapkan mantra aneh sebelum ia meninggalkanmu untuk bertemu dengan ibuku.”

Jika mengingat masa kecil mereka itu, Baekhyun selalu mengulas senyum tipis. Sebab ia teringat betapa jiwa seorang cassanova sudah bersemayam di dirinya bahkan sejak ia masih kecil. Karena begitu ia berbicara dengan Yoonjo untuk pertama kalinya, saat itu juga Baekhyun sudah berniat untuk selalu bersama dengan gadis itu.

“Aku tak pernah tahu kalau kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku, Yoong,” ujar Baekhyun. “Aku selalu mengira kamu membenciku. Dan aku malah menyebut diriku sebagai orang yang cepat tanggap, padahal aku tak bisa melihat dirimu yang sebenarnya.”

Baekhyun terdiam. Ia kembali mengulas rekaman mengenai masa lalunya bersama Yoonjo. Gadis itu selalu menolak berada di dekatnya. Bahkan Yoonjo sampai ingin masuk sekolah khusus perempuan yang memiliki asrama, saking ia tak ingin melihat Baekhyun. Sayangnya Baekhyun tak tahu kalau itu semua hanyalah karena Yoonjo tak ingin melihat Baekhyun selalu membawa perempuan yang berbeda ke hadapan Yoonjo.

“Apa kamu tahu, Yoong? Tadinya aku berniat mengutarakan perasaanku di malam inagurasi. Tapi kamu malah mendahuluiku,” sesal Baekhyun. “Tadinya aku akan mengatakan seperti ini, ‘Aku sudah tidak bisa lagi menjadi temanmu, karena aku sudah tidak bisa melihatmu seperti dulu. Maafkan aku, tapi aku mencintaimu. Mencintaimu sebagai seorang perempuan’. Aku sudah menyiapkan kata-kata itu sejak dulu. Bahkan aku sudah bisa melihat reaksimu nantinya. Kamu pasti akan tampak shock dan tak percaya seraya berkata…”

 

“…benarkah?”

 

Baekhyun pun tersenyum. Ya, Yoonjo pasti tidak akan percaya dengan apa yang Baekhyun ucapkan. Baekhyun kini bahkan bisa mendengar suara Yoonjo di kepalanya. Ketika jemari Yoonjo perlahan meremas tangan Baekhyun, barulah pemuda itu pun sadar kalau suara tadi bukanlah sekedar khayalannya. Baekhyun pun segera bangun dan duduk tegak menatap Yoonjo.

“Apa benar yang kamu katakan tadi?”

Baekhyun hanya mematung memandangi Yoonjo yang kini sudah menatapnya sayu. Baekhyun melihat Yoonjo mengulas senyum tipis pada Baekhyun. Dan ketika Yoonjo kembali (mencoba) meremas tangan Baekhyun, barulah pemuda itu tersadar dari keterkejutannya.

Baekhyun tersenyum menatap Yoonjo terharu. Ia menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Yoonjo. Ia kemudian mengecup punggung tangan Yoonjo dan kembali tersenyum pada gadis itu. Dan Baekhyun bersumpah, kalau ia tidak akan pernah lagi melepaskan tangan Yoonjo.

“Baiklah, Byun Baekhyun. Bisa kamu menyingkir dulu? Kami harus memeriksa Yoonjo sekarang,” sela Dokter Byun yang sudah memasukki ruangan Yoonjo.

.

.

.

Begitu keluar dari rumah sakit, Yoonjo memilih untuk mengurung dirinya di kamar. Sejak ayahnya menceritakan semua hal yang terjadi ketika Yoonjo tak sadarkan diri, Yoonjo tampak dirundung lara. Ia merasa bersalah atas kematian ibunya. Sebab, sebelum malam inagurasi, Yoonjo sempat pergi mengunjungi ibunya. Tapi Yoonjo tak berani menemuinya, karena Yoonjo masih menyimpan trauma terhadap ibunya itu. Dan kini Yoonjo menyesali semua itu. Seandainya saja ia menemui ibunya kala itu, tentu ia bisa melepaskan rasa rindu terhadap ibunya.

Berita mengenai Shinwoo yang katanya adalah kakak kandungnya, juga merupakan berita yang mengejutkan bagi Yoonjo –untungnya jantung Yoonjo sudah stabil, jadi hal mengejutkan apapun tidak akan bereaksi serius terhadap jantungnya. Yoonjo tak menyangka kalau Shinwoo adalah kakaknya. Karena Yoonjo begitu fokus mencari Yoona, jadi Yoonjo tidak terlalu memikirkan mengenai keberadaan kakak kandungnya. Begitu mengetahui kalau kakaknya ternyata berada sedekat itu dengannya, tentu saja membuat Yoonjo merasa seperti orang bodoh. Bagaimana bisa ia tidak menyadari keberadaan kakaknya sendiri. Dan kini sudah tidak ada lagi orang yang bisa ia panggil oppa.

Sojung pun ikut pergi meninggalkannya. Meskipun ayahnya bilang kalau Sojung harus melanjutkan pendidikannya di luar negeri, tapi Yoonjo merasa kalau Sojung pergi untuk menjauhi dirinya. Walau Yoonjo berusaha meyakinkan dirinya kalau Sojung sudah menerima kehadirannya, tapi tetap saja itu semua belum cukup. Sebab sampai detik ini, Sojung belum mengabari Yoonjo mengenai keberadaannya di Amerika sana.

Yoonjo merasa jauh lebih kesepian dibandingkan dulu ketika ibunya membawa Yoona pergi dari kehidupannya.

Terdengar suara ketukan di pintu kamar Yoonjo. Tampak Baekhyun menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Ia tersenyum pada Yoonjo sebelum memutuskan untuk masuk ke kamar Yoonjo.

“Ayo kita pergi,” ajak Baekhyun.

Pemuda itu berniat mengajak Yoonjo untuk mengunjungi makam Kim Hyojin, ibu kandung Yoonjo. Baekhyun berlutut di hadapan Yoonjo yang sedang duduk di pinggir ranjangnya. Baekhyun lalu meraih tangan Yoonjo dan meremasnya pelan. Ia menatap sepasang mata Yoonjo yang tampak berkaca-kaca. Baekhyun tahu kalau Yoonjo sedang menahan airmatanya. Sebab ketika Tuan Shin menceritakan semua berita duka itu, Yoonjo sama sekali tidak menangis. Sepertinya kali ini Yoonjo sudah tidak bisa lagi menahan lagi rasa sedihnya.

“Menangislah,” ujar Baekhyun.

Yoonjo lalu menundukkan badannya dan menumpukan kepalanya di bahu Baekhyun. Gadis itu meremas tangan Baekhyun dengan begitu eratnya –seolah itu adalah pegangan dirinya agar tidak terperosok begitu jauh dalam rasa dukanya. Dan perlahan airmata Yoonjo pun jatuh membasahi bahu Baekhyun. Yoonjo pun menangis –menangis begitu kerasnya sampai Baekhyun pun tak tega melihat gadisnya tampak begitu sedih.

“Aku mengijinkanmu untuk menangis sekarang. Luapkan semua kesedihanmu saat ini. Menangislah, karena ini adalah yang terakhir kalinya kamu menangis sedih seperti ini. Setelah ini aku tidak akan mengijinkanmu untuk menangis lagi,” bisik Baekhyun.

Cukup lama mereka berada dalam posisi itu, sampai akhirnya Baekhyun memutuskan untuk bangun dan memeluk Yoonjo. Setelah melepas pelukannya dari Yoonjo, Baekhyun memandangi Yoonjo dengan penuh kasih sayang. Ia menyingkirkan anak rambut yang jatuh menghalangi wajah Yoonjo ke belakang telinga gadis itu. Baekhyun juga menghapus sisa bulir-bulir airmata Yoonjo yang membasahi pipinya. Kemudian Baekhyun menangkup wajah Yoonjo.

“Semuanya pergi meninggalkanku,” suara Yoonjo terdengar parau.

“Tapi ayahmu masih tetap berada disisimu, bukan?” sahut Baekhyun. “Dan aku juga ada disini bersamamu. Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Baekhyun melihat selembar kertas yang tergeletak begitu saja di ranjang Yoonjo. Baekhyun menegenali surat itu –surat peninggalan Shinwoo. Baekhyun lalu meraih surat itu dan membacanya sekilas.

“Aku pernah bilang padamu bukan? Kalau Shinwoo Hyungnim memintaku untuk jangan pernah meninggalkanmu dan membuatmu menangis. Dia juga memintaku untuk menjaga Sojung. Dia begitu sayang pada kalian. Dia begitu mengkhawatirkan kalian. Aku juga mengkhawatirkanmu.”

Yoonjo tampak sudah mereda sekarang. Ia kini mengulas senyum simpul pada Baekhyun. Sungguh ia merasa beruntung bisa bertemu dengan Baekhyun. Jika tidak ada Baekhyun di sisinya mungkin Yoonjo tidak akan sanggup melewati semua ini.

“Yoonjo-ya, apapun yang terjadi, aku akan selalu disisimu. Aku akan selalu menjagamu. Aku akan selalu melindungimu,” ujar Baekhyun tulus. Ia lalu mengecup singkat kening Yoonjo.

Dan apa lagi yang Yoonjo inginkan saat ini. Ia sudah menemukan keluarganya –walau harus berpisah sebelum kembali berkumpul bersama. Dan kini ia juga sudah mendapatkan pemuda yang selalu memenuhi hatinya. Yoonjo tidak akan meminta lebih. Karena apa yang ia dapatkan ini sudah lebih dari cukup.

“Apa aku sudah mengatakan kalau aku mencintaimu?” tanya Yoonjo.

“Apa aku juga sudah mengatakan kalau aku menyayangimu lebih dari apapun di dunia ini?” sahut Baekhyun.

Dan Yoonjo yakin, seperti janji Shinwoo, setelah ini ia akan selalu merasa bahagia. Karena tidak akan lagi ada kesedihan yang akan menghampirinya lagi.

.

.

.

.

 

Yoonjo,

Adikku, Yoonjo,

Aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu. Bukannya aku tidak mau mengatakan padamu kalau aku adalah kakakmu. Tapi aku memang baru tahu kalau kamu adalah adikku. Ternyata rasa sayangku padamu ini tidaklah salah. Aku sudah begitu menyayangimu sejak pertama kali melihatmu. Bahkan setelah mengetahui kalau kamu adalah adik kandungku, aku semakin menyayangimu.

Maaf, tidak banyak yang bisa kulakukan sebagai seorang kakak pada kalian. Aku belum melakukan apapun yang bisa membuat kalian bangga padaku. Aku minta maaf, Yoonjo-ya. Sampaikan juga maafku pada ayah kita.

Tapi Yoonjo-ya, ingatlah kalau aku akan selalu bersamamu, dan juga Sojung. Jadi jika aku pergi jangan anggap kalau aku meninggalkan kalian. Anggaplah kalau aku sedang dalam perjalananku untuk menjadi malaikat pelindung bagi kalian.

Ahh, aku juga sudah mengancam Baekhyun. Jika dia tidak memenuhi janjinya padaku, maka aku akan memberinya pelajaran. Jadi jangan sungkan untuk mengatakan padaku jikalau ternyata pemuda itu menyakitimu. OK?

Yoonjo-ya, oppa menyayangimu. Terlalu menyayangimu sampai tidak ingin melihatmu terluka. Jadi kamu harus berbahagia setelah ini. Tentu saja kamu akan berbahagia, karena aku sudah mengirimkan kebahagiaan padamu.

Aku mencintai kalian, adik-adikku yang berharga. Salam sayangku untukmu, adikku.

Shinwoo.

 

.

.

.

.

 

*TANGLED FATE END*

logo1

Tangled Fate the series

안녕!!!

Akhirnya memberanikan diri untuk update fanfic ini. seperti janji bee, kalau bee tidak akan membuat fiksi yang tidak selesai. jadi tangled fate pun diselesaikan setelah berbagai cobaan yang begitu kerasnya.

terima kasih buat penduduk planet ini. terima kasih juga pada pembaca setia tangled fate, ending ini memang sudah dari awal direncanakan, makanya di atas udah bee tulis kalo cerita ini genrenya angst, sad n tragedy. semoga tidak membuat banyak airmata mengalir 😦

Thanks for your support!! u guys are my vitamin 🙂
안녕!! 뿅! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – Tangled Fate | Chapter 12 – END | PG15

3 thoughts on “FF – Tangled Fate | Chapter 12 – END | PG15

  1. hazunajohkim says:

    Yeeeaaay nongol juga endingnyaaaeuuu . Tapi ga dibikin bagian baek-yoonjo happy moment gitu? Yg terus ketemu sojung yg udh berubah gituh? Trus si sojungnya ketemu pemuda keren waw waw waw gitu? Hiks, terlalu… Aja author-nim ini wkwkwk
    Udh 1 chapter full sad, bagi sikitlah bahagianyaaauu
    Ya udahlah gapapa, udh berkaca2 nih baca surat shinwoo , ngomong2 toko shinwoo jd milik siapa? 😦

  2. haii… aku reader baru disini… aku beberapa hari ini searching tentang fanfiction yoonjo yg sad… dan ternyata ada^^ aku baru komen di last chapter tangled fate,karna aku suka baca ff dari awal sampe akhir dulu baru setelah itu ngasi komen:) oh iya mau tanya dong… Tangled Fate itu artinya apa ya?? oh iya aku juga nyesek waktu bagian ini di chapter 10 ‘Baekhyun pun teringat sesuatu. Yoonjo pernah mengatakan padanya jika nanti ia bertemu kembali dengan Yoona dan detik itu nyawanya diambil Tuhan pun Yoonjo rela.’ itu bikin aku gak rela kalo yoonjo harus meninggal seperti perkataan dia jika bertemu yoona… ending dari kamu gak terduga sebelumnya di chapter 8-9 aku kira yoonjo meninggal sebelum bertemu yoona,tapi sewaktu baca chapter 10 bagian akhir,yg shinwoo berucap baekhyun harus menjaga kedua adiknya,aku udah duga kalo shinwoo yg akan donorin jantungnya karna itu seperti ucapan perpisahan shinwoo sebelumnya.
    great job bee^^ bikin konflik yg menarik,ending yg tak terduga sebelumnya,dan akhir yg indah untuk shin yoonjo dan baekhyun,dan juga kasih sayang di dalam keluarga yg bisa diliat di fanfiction ini… fanfiction kamu menarik dan sangat bagus:) aku suka TANGLED FATE,suka karakter yoonjo dan baekhyun di ff ini^^ gomawo bee udah buat fanfiction yg bagus banget untuk para reader fanfiction:) ^^

  3. Akhirnya ff yg di tunggu2 terbit juga endingngnya. Sumpah un aku nangis bacanya T_T. Eh tapi di endingnya kenapa sojungnya gak balik nemuin yoonjo? Kan lebih asik kkk xD. Pokoknya ff bee unni the best deh^^

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s