FF – Tangled Fate | Chapter 11 | PG15


tangled_fate

Title : Tangled Fate

Subtitle : I Finally Found You

Author : beedragon

Cast:

Yoonjo Hello Venus as Shin Yoonjo

Sojung Ladies Code as Lee Sojung

Baekhyun EXO as Byun Baekhyun

CNU B1A4 as Shinwoo / Shin Dongwoo

Genre : Family, Romance, Angst, Sad, Tragedy, Friendship

Length : Multichapter

Summary : Ketika waktu Yoonjo semakin menipis, Yoonjo berjuang melawan waktu untuk bisa menemukan belahan jiwanya. Akankah Yoonjo berhasil mengalahkan waktu, atau waktu yang mengalahkannya terlebih dahulu

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : EXO – Baby Don’t Cry | EXO – My Turn To Cry |

Tangled Fate | Eleventh Chapter

~*~

“Mianhae. Yoonjo, apapun yang terjadi, Yoona akan selalu melindungimu

~*~

 

Baekhyun meremas jari-jemarinya. Rasa khawatir tergambar jelas di wajahnya. Tak sekali-dua kali ia menggigiti kuku jarinya –yang hanya terjadi jika ia sedang merasa cemas. Baekhyun juga tak bisa duduk diam. Ia terus mondar-mandir di depan pintu ruang operasi sambil sesekali berusaha mengintip untuk melihat apa yang terjadi di dalam. Sungguh Baekhyun tak bisa tenang saat ini.

Ya, Yoonjo ada didalam sana –berjuang melawan maut. Dan Baekhyun tak bisa tenang membayangkan bagaimana gadis itu berjuang untuk kehidupannya. Andai saja tadi ia langsung membawa gadis itu ke rumah sakit, mungkin kejadian ini tak perlu terjadi. Baekhyun tak bisa memaafkan dirinya sendiri karena hal tersebut.

Begitu pintu ruang operasi terbuka, Baekhyun beserta Tuan Shin dan juga Nyonya Byun langsung bergegas mengerumuni dokter yang keluar dari sana.

“Untuk saat ini kita berhasil menyelamatkan Yoonjo. Tapi Yoonjo belum baik-baik saja,” ujar Dokter Byun begitu ia keluar dari ruang operasi.

Semuanya langsung menghela napas lega begitu mendengar pemberitahuan dari Dokter Byun, tapi tidak dengan Baekhyun. Penyesalan tampak merundung dirinya.

“Byun Baekhyun,” tegur Dokter Byun. “Ternyata kamu mengingat dengan baik bagaimana caranya melakukan pertolongan pertama. Kamu melakukan CPR terhadap Yoonjo bukan? Kalau kamu tidak melakukan hal itu mungkin Yoonjo tidak akan kembali lagi pada kita.”

Tuan Shin juga langsung menghibur Baekhyun seraya menepuk pelan pundaknya. “Baekhyun-ah, Yoonjo sudah selamat. Ini semua berkat kamu. Jadi angkat kepalamu.”

“Tapi Yoonjo belum baik-baik saja,” murung Baekhyun. “Padahal aku belum sempat mengatakan perasaanku padanya.”

Ucapan Baekhyun itu membuat semuanya terdiam. Ya, Yoonjo belum baik-baik saja, karenanya mereka belum bisa bernapas lega. Dengan kondisi jantungnya yang seperti ini, tentu saja Yoonjo belum bisa dinyatakan baik-baik saja.

“Yang aku khawatirkan saat ini hanyalah Yoonjo tak bisa bertemu dengan Yoona,” ujar Tuan Shin memecah keheningan yang mendadak terjadi disana. “Yoonjo selalu mengatakan padaku kalau keinginan terakhirnya hanyalah bertemu lagi dengan Yoona. Tapi aku belum berhasil menemukan dimana putriku.”

Baekhyun pun teringat sesuatu. Yoonjo pernah mengatakan padanya jika nanti ia bertemu kembali dengan Yoona dan detik itu nyawanya diambil Tuhan pun Yoonjo rela. Dan Baekhyun berpikir mungkin gadis itu kini sudah menyerah –menyerah terhadap hidupnya setelah akhirnya menemukan Yoona.

Tapi Baekhyun tak akan membiarkan itu terjadi.

.

.

.

Malam ini hujan turun begitu derasnya. Untungnya Sojung selalu membawa payung di mobilnya. Begitu ia memarkirkan mobilnya, Sojung melihat Baekhyun tengah berdiri di depan gerbang rumahnya. Pemuda itu tampak basah kuyup karena ia tak memakai payung ataupun jas hujan untuk melindunginya dari guyuran hujan. Sojung pun bergegas turun dari mobilnya dan menghampiri Baekhyun. Ia lalu memayungi Baekhyun agar pemuda itu tidak lagi diguyur hujan.

“Apa yang kamu lakukan di tengah hujan begini, huh?!” omel Sojung. Ia berusaha menggiring Baekhyun untuk masuk ke dalam rumah, tapi sayangnya pemuda itu tak bergeming di tempatnya. Sojung jadi tambah bingung dibuatnya.

“Apa kamu tak mengenal yang namanya ponsel dan hari esok? Kalau kamu mau cerita padaku, kamu bisa meneleponku atau menceritakannya secara langsung besok. Lihatlah dirimu saat ini, Byun Baekhyun,” kesal Sojung.

Mianhae,” hanya itu yang Baekhyun katakan. Baekhyun mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan dua lembar foto dari dalam sana. Ia kemudian memberikan dua lembar foto itu pada Sojung. Dengan penuh penyesalan Baekhyun membungkukkan badannya dalam-dalam dan kembali meminta maaf pada Sojung. “Jeongmal mianhaeyo.

Sojung meraih foto itu dan memperhatikan isi dari foto itu. Sojung tak bisa berkata apa-apa. Saking terkejutnya dengan potongan gambar itu, Sojung sampai menjatuhkan payungnya. Betapa Sojung sangat terkejut, karena yang ia lihat saat ini adalah foto Baekhyun kecil bersama dengan anak kecil yang mirip sekali dengan dirinya.

“I-ini….,”

“Itu adalah pasien ayahku yang menderita kelainan jantung sejak bayi. Dia sudah menjadi pasien ayahku sejak umur 5 tahun. Usianya sekarang 20 tahun dan namanya adalah Yoonjo. Shin Yoonjo. Putri dari Shin Seunghoon dan Kim Hyojin.”

.

.

.

.

“Yoona!” seru Yoonjo pada kembarannya.

“Wae?” sahut Yoona acuh.

“Lihat yang kubuat.” Yoonjo berdiri di hadapan Yoona seraya menunjukkan selembar kertas penuh warna. Di kertas itu Yoonjo menggambar dua orang anak kecil dengan sepasang orang dewasa berada di sebuah rumah. Gambar itu cukup berantakan –jika mengingat itu adalah gambaran yang dibuat oleh anak berusia empat tahun. Tapi siapapun bisa menduga kalau itu adalah gambaran Yoonjo mengenai keluarganya.

“Yah, kenapa mukaku kecil sekali?!” protes Yoona sambil menunjuk satu gambar.

“Tapi itu adalah aku, bukan kamu,” sahut Yoonjo polos. “Aku mau menunjukkan ini pada Eomma. Siapa tahu Eomma tidak akan marah lagi padaku jika ia melihat gambar ini.”

“Geurae!” sahut Yoona.

Keduanya lalu beranjak pulang ke rumah mereka. Kedua anak itu memang terbiasa menghabiskan waktu mereka di taman bermain. Sebab mereka tahu kalau ibu mereka sangat sibuk untuk mengurus rumah, karenanya mereka harus mengungsi agar tidak mengganggu pekerjaan ibu mereka –selain itu juga untuk menghindari amukan ibu mereka terhadap Yoonjo.

Sepasang kembar itu tak pernah mengerti kenapa ibu mereka tak menyukai Yoonjo –hanya Yoonjo. Bahkan jika Yoona melakukan kesalahan, yang dimarahi oleh ibu mereka bukanlah Yoona melainkan Yoonjo. Karenanya dua anak keci itu lebih memilih menghindari ibu mereka. Dan tadi mereka sengaja mengungsi ke rumah gurita di taman bermain tersebut karena keadaan rumah mereka benar-benar tengah kacau balau. Kedua orangtua mereka tengah bertengkar hebat dan membuat rumah mereka berantakan.

Yoona pikir keadaan rumah sudah aman, apalagi ia melihat ayah mereka sudah pergi meninggalkan rumah untuk bekerja. Karenanya ia berani mengajak Yoonjo untuk pulang ke rumah. Tapi ternyata keadaan ibu mereka jauh lebih parah dibandingkan sebelum mereka keluar rumah tadi.

“Kamu!! Kenapa kamu harus ikut lahir!!! Kamu harusnya mati!! Kamu tak seharusnya hidup!!! Kamu anak tak sempurna!!! Kamu hanya menyusahkan saja!!!! Kamu akan membuat semuanya berantakan!!!” Begitulah cacian ibunya terhadap Yoonjo. Ibu mereka memukuli Yoonjo dengan kemocengnya.

Yoona yang tidak tega melihat adiknya dipukuli oleh ibu mereka, memilih untuk menarik Yoonjo dan mengurungnya di gudang. Ibu mereka jadi makin panas melihat kelakuan Yoona itu. Ia pun mengejar Yoona yang berlari keluar rumah. Yoona tahu, jika ibunya sudah dalam kondisi seperti ini, maka ia harus keluar dan mencari pertolongan –itulah apa yang dikatakan oleh Park Ahjumma, kalau mereka harus mencarinya jika ibu mereka mengamuk. Dan benar saja, tak lama ada tetangga mereka yang keluar dan menahan sang ibu. Melihat kesempatan seperti itu, Yoona pun langsung kembali ke rumah untuk mengeluarkan Yoonjo dari gudang.

Betapa terkejutnya Yoona begitu melihat keadaan Yoonjo. Anak kecil itu sudah banjir keringat dingin dan wajahnya pun pucat sekali. Dengan segera Yoona memeluk adiknya itu.

“Yoonjo-ya, mianhae,” Yoona berusaha menenangkan kembarannya itu.

Tubuh Yoonjo masih gemetaran dalam pelukan Yoona. “Yoona, apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan Yoonjo sendirian.”

“Mianhae,” sesal Yoona. “Yoonjo, apapun yang terjadi, Yoona akan selalu melindungimu.”

“Yoona, jangan kurung Yoonjo lagi. Yoonjo takut dengan tempat gelap.”

Kedua anak kecil itu tentu tak mengerti apapun mengenai keadaan ibunya, mereka tak tahu kenapa ibum mereka begitu membenci kehadiran Yoonjo. Dan ayah mereka tak tahu apa yang istrinya itu lakukan terhadap anak-anaknya sebab sepasang kembar itu tak pernah mengatakannya pada ayah mereka. Sudah cukup beban ayah mereka untuk mencari uang, tak perlu ditambah dengan beban untuk memikirkan istrinya yang sakit itu.

 

 

 

 

Sampai akhirnya pada suatu malam, Tuan Shin melihat istrinya itu tengah mencekik Yoonjo yang sedang tertidur. Tuan Shin pun langsung membawa Yoonjo yang tak sadarkan diri itu ke rumah sakit terdekat. Dan malam itu pula istrinya meninggalkan rumah dengan membawa Yoona dan menghilang, tak diketahui dimana keberadaannya.

.

.

.

.

Sojung berdiri mematung di seberang ranjang Yoonjo. Ia hanya terpaku menatap tubuh Yoonjo yang terbaring lemah tak berdaya. Ketika ia akhirnya tersadar dari keterkejutannya, Sojung pun perlahan menggerakkan dirinya –bukan mendekati Yonjo, melainkan menjauhi ranjangnya.

“Ini semua bohong bukan?” lirih Sojung. Ia berpaling menatap Baekhyun kesal seraya menuduhnya kalau pemuda itu berbohong padanya. “Kamu berbohong padaku bukan?! Ini semua bohong bukan?!!”

Tapi tentu saja Sojung tahu kalau ini semua adalah kenyataan. Sojung memang pernah mendengar kalau Yoonjo hanya tinggal berdua saja dengan ayahnya sebab ibunya pergi meninggalkannya ketika ia masih kecil. Sojung pernah mendengar cerita itu dari Baekhyun. Dan Sojung pun baru menyadarinya, cara Baekhyun menenangkan Yoonjo ketika jantungnya sedang bereaksi itu sangat mirip dengan apa yang dulu pernah Sojung lakukan pada kembarannya. Semua hal itu kini memukul hati Sojung telak.

Rasa lega karena berhasil menemukan kembarannya tak mampu untuk mengurangi rasa bersalahnya. Rasa syukur karena Yoonjo berhasil tumbuh besar seperti ini tak mampu mengurangi semua dosa yang sudah Sojung lakukan padanya. Melupakannya, menyakitinya, melakukan hal yang pernah dilakukan ibu mereka pada Yoonjo serta berusaha untuk merebut apa yang Yoonjo cintai; Sojung tahu kalau dirinya tak bisa dimaafkan. Sojung tak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.

Mianhae, Yoonjo-ya mianhae,” itulah yang terus terucap dari bibirnya. Penyesalan yang tak terhingga menyelimuti dirinya. Ia mengingat betapa dirinya sangat kejam terhadap Yoonjo. Ia bahkan mengurung Yoonjo di gudang serta berteriak menyuruhnya untuk mati, padahal gadis itu memiliki trauma terhadap hal-hal seperti itu. Bahkan karena hal itu Yoonjo sampai masuk UGD akibat phobia yang di deritanya.

Setelah menemukan tenaganya, Sojung pun pelahan mendekati ranjang Yoonjo. Begitu melihat Yoonjo yang masih belum sadarkan diri dengan berbagai selang terhubung ke tubuhnya serta alat bantu pernapasan mampu membuat semua keberanian Sojung runtuh. Sojung meraih tangan Yoonjo dan menggenggamnya. Kemudian ia menjulurkan tangannya untuk membelai wajah Yoonjo.

“Yoonjo-ya, ini Yoona,” lirih Sojung. “Yoona ada disini dan akan selalu melindungimu. Mianhae, Yoona datang terlambat. Mianhae, jeongmal mianhae.”

Sojung benar-benar runtuh saat ini. Merasakan betapa rapuhnya tangan Yoonjo, membuat Sojung dirundung penyesalan.

Baekhyun yang menyaksikan penyesalan Sojung ini mau tak mau ikut merasa sedih. Ia sedih karena sepasang kembar itu harus bertemu dalam keadaan seperti ini. Baekhyun tak tega melihat Sojung yang terus menangisi Yoonjo. Ia tak tahu kalau Sojung akan sampai seperti ini setelah mengetahui semua kebenarannya. Baekhyun pun menghampiri Sojung dan membantunya berdiri. Ia berusaha menenangkan Sojung seraya meyakinkan dirinya kalau Yoonjo akan baik-baik saja.

“Inilah kenapa Yoonjo tak pernah berani mengatakannya padamu. Karena ia takut kamu akan runtuh seperti ini. Jadi kumohon, tegarkan dirimu, Sojung. Kamu harus bisa memberi semangat bagi Yoonjo. Bukankah kamu adalah kembarannya?”

“Apa maksudmu, Byun Baekhyun?” tegur seseorang lelaki paruh baya yang baru saja masuk ruangan rawat inap Yoonjo.

Baekhyun dan Sojung sama-sama menoleh ke pria paruh baya yang tampak terkejut dengan penampilan mereka. Tuan Shin –yang memegang handuk untuk dua muda-mudi yang kini tampak basah kuyup itu– menghampiri Baekhyun perlahan. Tuan Shin memandangi Sojung dengan seksama.

“Yoona..?” terka Tuan Shin.  Tanpa perlu konfirmasi lagi, Tuan Shin langsung menghambur pada Sojung. Ia memeluk Sojung erat, kemudian memandangi wajahnya, membelai kepalanya dan lalu kembali memeluknya. “Putriku yang malang. Putriku sudah kembali. Putriku, Yoona. Kemana saja kamu? Appa mencarimu kemana-mana.”

.

.

.

.

Langkah Shinwoo terasa berat. Tadi pagi ia mendapat kabar yang paling tidak ingin ia dengar. ‘Yoonjo tengah koma di rumah sakit’, katanya. Shinwoo tak bisa menabahkan hatinya begitu ia tiba di depan ruang ICU tempat Yoonjo dirawat. Dengan tangan gemetar Shinwoo membuka pintu kamar itu hanya untuk mendapati Yoonjo yang tengah tergolek tak berdaya di atas ranjang pasien. Rasanya seisi langit runtuh dan menimpa diri Shinwoo saat ini.

Shinwoo pun berusaha untuk tegar dan masuk ke dalam. Begitu tiba di samping ranjang Yoonjo, Shinwoo pun langsung runtuh. Melihat Yoonjo yang tampak jauh lebih tirus dibandingkan ketika ia terakhir kali melihatnya. Sungguh Shinwoo tak tega melihat keadaan Yoonjo saat ini.

“Yoonjo-ya, ini Oppa, Shinwoo Oppa,” bisik Shinwoo. Tak tahan, akhirnya Shinwoo pun menangis. “Yoonjo-ku yang malang. Kenapa penderitaanmu seolah tiada akhir?”

Shinwoo sadar betul bagaimana kondisi Yoonjo selama ini. Jika ia melihat sikap ibunya ketika dirinya menyinggung masalah Yoonjo, ibunya itu akan langsung menunjukkan ketidak-sukaan terhadap salah satu putrinya itu. Biasanya Shinwoo akan langsung mendengar sumpahan ibunya terhadap adiknya itu. Dan Shinwoo pun mengerti mengapa ibunya ini sangat tidak menyukai kehadiran Yoonjo.

Karena Yoonjo tidak sempurna.

Shinwoo tak bisa membayangkan jika dirinya berada di posisi Yoonjo, yang harus hidup berdua saja dengan ayah mereka, terus-terusan keluar-masuk rumah sakit dengan kondisi jantungnya yang tidak sempurna itu, serta harus mencari dimana keluarganya yang tercerai-berai. Jika ia jadi Yoonjo, mungkin sudah lama ia menyerah –baik terhadap keluarganya ataupun terhadap hidupnya.

Shinwoo membelai wajah Yoonjo –yang bahkan mampu ia tutupi dengan satu telapak tangannya. Ia memandangi wajah Yoonjo yang tampak pucat –tidak ada keceriaan disana.

“Yoonjo-ya, aku ingin melihat senyumanmu,” bisik Shinwoo. “Yoonjo-ya, apa kamu tahu kalau aku mencintaimu? Oppa ini mencintaimu. Sangat mencintaimu. Dia sangat mencintai senyumanmu. Jadi kumohon setidaknya tersenyumlah padaku. Setidaknya untuk yang terakhir kalinya.”

Shinwoo menggenggam tangan Yoonjo. Ia mengecup punggung tangan adiknya itu dengan penuh kasih. Jika ini menjadi saat terakhir baginya melihat Yoonjo, maka ia ingin membuat saat-saat ini menjadi penuh kesan dan bisa meninggalkan memori yang baik –untuknya.

“Yoonjo-ya, kamu ingat janjiku padamu bukan? Kalau aku akan melakukan apapun untuk bisa membuatmu tersenyum lagi. Oppa akan mewujudkan janji itu. Oppa akan memberikan semuanya untukmu. Setidaknya dengan begitu aku bisa terus hidup bersama senyumanmu.”

Shinwoo tahu, harapan Yoonjo yang terakhir hanyalah membuat Baekhyun membalas perasaannya. Jika menjadikan Baekhyun sebagai hadiah terakhir yang bisa ia berikan untuk Yoonjo, maka Shinwoo rela melakukan apapun untuk mewujudkannya.

“Setelah ini, kumohon jangan menangis lagi,” bisik Shinwoo. “Jika kita tidak bertemu lagi dimasa depan, kumohon jangan menangis. Walau kita tak bisa lagi bertemu, ingatlah selalu kalau aku akan selalu ada disisimu. Aku harus menemani ibuku. Beliau sudah hidup sendirian selama ini dan aku ingin menemaninya di akhir hayatnya. Kamu juga harus memaafkan ibumu, Yoonjo-ya. Dia juga pasti menderita selama ini karena memikirkan keburukan apa saja yang sudah ia lakukan padamu.”

Shinwoo kemudian mengecup kening Yoonjo. Ia memandangi wajah Yoonjo dengan seksama, berusaha mengingat dengan baik wajah adiknya itu. Ia menggenggam erat tangan Yoonjo seolah enggan melepaskannya. Tapi akhirnya Shinwoo melepaskan juga tangan Yoonjo. Karena kini Baekhyun sudah masuk ke dalam ruangan.

“Hyungnim?”

.

.

.

Shinwoo membawa Baekhyun keluar. Ada banyak yang ingin ia sampaikan pada pemuda kurus itu. seraya berusaha mengatur napasnya, Shinwoo berbalik menghadap Baekhyun. Sebelum ia menyampaikan pesan terakhirnya, ia ingin menunaikan janjinya terdahulu.

“Sebelumnya maaf, Baekhyun-ssi.”

Bukk.

Shinwoo pun meninju Baekhyun hingga pemuda itu tersungkur di rerumputan taman rumah sakit. Shinwoo mengibaskan tangan kanannya yang ia pakai untuk meninju Baekhyun –ia tak tahu kalau meninju seseorang akan sesakit itu. Kemudian Shinwoo membantu Baekhyun berdiri.

“Aku hanya berusaha menepati janjiku pada Yoonjo,” ujar Shinwoo. “Janji kalau aku akan meninju siapapun itu yang sudah membuatnya menangis.”

Baekhyun memegangi pipinya yang terasa nyeri. Ia cukup mengerti akan niat Shinwoo tersebut –Chanyeol saja beberapa waktu yang lalu nyaris meninju dirinya. Baekhyun bahkan tidak berniat melawan apalagi membalas Shinwoo.

“Aku memang butuh seseorang untuk mengembalikan otakku ke jalan yang benar,” sahut Baekhyun.

Baekhyun memperhatikan Shinwoo dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia merasa Shinwoo terlihat lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu. Baekhyun jadi khawatir dibuatnya. Belum lagi Shinwoo belakangan ini menghilang bak ditelan bumi.

“Aku ingin tanya sesuatu padamu, Baekhyun-ssi,” sela Shinwoo. “Apa kamu mencintai Yoonjo?”

Baekhyun terkejut dengan pertanyaan Shinwoo tersebut. Tentu saja jawabannya sudah jelas. “Aku mencintainya,” jawab Baekhyun tanpa ragu.

“Kalau begitu aku ingin pesan sesuatu padamu, Baekhyun-ssi,” ujar Shinwoo. “Aku serahkan Yoonjo padamu. Jaga Yoonjo, jangan sampai sesuatu yang buruk menimpanya. Selalu buat dia tersenyum dan jangan pernah buat dia menangis. Dan untuk Sojung, aku ingin kamu untuk selalu menghiburnya. Kamu sudah pernah melihat sisi terlemahnya, jadi kamu harus bisa memberinya kekuatan agar selalu tegar. Sebab bagi Sojung, kamu sudah seperti saudaranya sendiri. Aku titip mereka padamu.”

Baekhyun kini benar-benar merasa kalau ada sesuatu yang terjadi terhadap Shinwoo. Sebab Shinwoo sama sekali tidak mengumbar senyumnya sejak tadi. Berdasarkan apa yang ia dengar dari orang-orang di sekitarnya –serta berdasarkan pengamatannya sendiri– Shinwoo adalah pemuda yang murah senyum. Shinwoo akan tersenyum kapan saja, dimana saja, dan dalam kondisi apapun –walaupun ia sedang senang ataupun sedang marah. Tapi kali ini Shinwoo terlihat suram dan kosong.

Dan apa pula dengan Shinwoo menitipkan Yoonjo dan Sojung pada Baekhyun? Tapi semua pertanyaan itu tak sempat terjawab, karena Shinwoo sudah lebih dulu pergi meninggalkan area rumah sakit.

.

.

.

“Shinwoo Hyungnim itu aneh, Yoonjo-ya,” Baekhyun mengadu pada Yoonjo.

Sambil menggenggam tangan Yoonjo, Baekhyun bercerita tentang apa saja yang terjadi antara dirinya dengan Shinwoo tadi. Saking bingungnya Baekhyun dengan sikap Shinwoo itu, ia sampai bertanya-tanya pada Yoonjo mengenai apa yang Yoonjo dan Shinwoo bicarakan sebelum Baekhyun datang menyela.

“Yoonjo-ya, jawab aku,” rengek Baekhyun. Bukannya mendapatkan respon yang baik dari Yoonjo yang masih menutup matanya, Baekhyun malah melihat setetes cairan bening mengalir dari mata Yoonjo. Dan Baekhyun pun panik. “Kamu menangis?! Kenapa kamu menangis?! Karena Hyungnim meninjuku? Tapi aku baik-baik saja, jangan menangis kumohon.”

Baekhyun menghapus airmata Yoonjo. Ia kemudian melihat mesin-mesin kedokteran di sekitar Yoonjo –yang menunjukkan keadaan Yoonjo saat ini– tapi tidak ada yang aneh dari mesin-mesin itu. Baekhyun jadi makin bingung dibuatnya.

“Ada apa, Baekhyun-ssi?” tegur Sojung yang baru tiba.

Baekhyun hanya menujuk airmata Yoonjo yang baru saja menetes lagi. Hal ini langsung membuat Sojung ikutan panik. Tapi jika melihat Baekhyun tampak tenang-tenga saja, sepertinya hal ini bukanlah sesuatu yang buruk –sebab Baekhyun adalah mahasiswa kedokteran, jadi ia sudah pasti tahu jika ada sesuatu yang buruk terjadi.

“Dia hanya sedih begitu tahu kalau wajah tampanku ini ditinju orang,” ujar Baekhyun sedih –ia sungguh merasa sedih saat ini tapi Sojung malah justru ingin meninju pemuda itu sebab ia masih bisa bercanda di situasi seperti ini.

Sojung meneliti wajah Baekhyun dan ia melihat ada memar di pipi kiri pemuda itu. Sojung nyaris tertawa dibuatnya. Hal ini malah membuat Baekhyun merasa tersindir. Tapi Baekhyun justru melihat wajah Sojung tak jauh beda dengan dirinya. Ada bekas cakaran dan memar di wajah Sojung, selain itu rambutnya juga tampak sedikit berantakan.

“Kenapa dengan dirimu?!” kaget Baekhyun.

Sojung hanya mengangkat bahunya acuh. Seolah luka di wajahnya ini bukan hal yang fatal. “Hanya sedang mencari alasan untuk merubah lagi wajahku,” gurau Sojung.

Baekhyun tahu kalau wajah Sojung yang sekarang ini bukanlah wajah aslinya –buktinya saja Sojung kini tampak jauh berbeda dengan Yoonjo. Baekhyun tahu kalau Sojung sangat membenci wajahnya. Masa lalunya yang kelam membuat Sojung takut untuk melihat wajahnya sendiri –sebab ia merasa seolah dihantui oleh kembarannya yang sudah mati. Oleh karena itu Sojung terus merubah wajahnya. Tapi sengaja melukai wajahnya sampai seperti itu adalah alasan yang konyol untuk kembali merubah wajahnya.

Sojung melihat Baekhyun tidak termakan gurauannya dan malah menatapnya penuh tuntutan. Sojung pun menarik napas panjang. “Ada yang cemburu karena aku mendapatkan beasiswa ke Universitas Stanford. Pihak Standford melihat charity yang kulakukan dan mereka menawarkanku untuk kuliah disana. Aku hanya tinggal mengikuti tes formalitas saja dan aku pun akan menjadi mahasiswi disana.”

Baekhyun hanya bisa terbengong-bengong mendengar penjelasan Sojung. Ia tahu kalau Sojung itu pintar dan berbakat, tapi ia tak menyangka kalau Sojung akan sampai sehebat ini.

“Kamu keren sekali,” puji Baekhyun. Ia tak tahu harus mengucapkan apa, yang terlintas di benaknya hanyalah kalimat itu.

Rasa percaya diri dan kesombongan yang tadi diumbar Sojung kini mendadak hilang. Ia kini tampak dilema.

“Tesnya akan diadakan dua minggu lagi. Kalau sampai minggu depan Yoonjo tidak bangun juga, maka aku akan menyerah terhadap Stanford.”

Sojung tentunya ingin bersama dengan Yoonjo. Ia ingin meminta maaf dengan benar. Ia ingin menghabiskan waktu bersama Yoonjo layaknya sepasang saudara. Ia ingin mengganti semua waktu mereka yang sudah terbuang. Karenanya Sojung rela melepas segalanya hanya untuk bisa bersama Yoonjo.

“Jangan pesimis seperti itu!” gertak Baekhyun. “Sebelum minggu ini berakhir, Yoonjo pasti akan bangun. Dia akan mendapatkan jantung baru dan kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa. Jadi kamu jangan pesimis, sebab Yoonjo sedang berjuang disini!”

Sojung tersentak dengan gertakan Baekhyun. Ia kemudian tersenyum –menyadari kesalahannya. Tak seharusnya ia menyerah sekarang. Yoonjo sudah berjuang sejauh ini untuk bisa kembali berkumpul bersamanya. Karenya, Sojung tidak akan menyerah.

“Dan kenapa dengan wajahmu? Apa Park Chanyeol akhirnya hilang kendali terhadapmu?” ujar Sojung.

“Shinwoo Hyung yang memberiku luka ini,” sahut Baekhyun sambil mengusap-usap luka memarnya.

Sojung kaget mendengar ucapan Baekhyun. Shinwoo katanya? Berarti Shinwoo habis dari rumah sakit ini? Apa mungkin ia habis menjenguk Yoonjo? Berbagai pertanyaan langsung berkecamuk di benak Sojung. Terutama adalah kenapa Shinwoo tidak menemuinya?

“Kenapa kamu tidak bilang kalau Shinwoo Oppa kesini?! Aku kan sudah pesan padamu kalau kamu bertemu dengan Shinwoo Oppa, bilang padanya kalau aku mencarinya!” kesal Sojung.

Sojung lalu berlari keluar ruangan hendak mencari Shinwoo. Baekhyun yang melihat tingkah aneh Sojung itu, mau tak mau merasa cemas. Baekhyun pun turut mengejar Sojung. Tapi bunyi ponselnya menahan langkah Baekhyun.

“Baekhyun-ah, kamu masih di kamar Yoonjo? Ada Sojung disana?”suara dokter Byun menggema diujung telepon.

“Ne, Sojung tadi ada disini, tapi dia sudah keluar lagi. Aku baru saja mau mengejarnya. Ada apa?” sahut Baekhyun seraya kembali menyusul Sojung keluar.

Baekhyun menoleh ke kiri dan kanan berusaha mencari kemana Sojung pergi. Tapi Baekhyun kehilangan jejak Sojung. Ia pun mencoba mengikuti kata hatinya yang merasa kalau Sojung mungkin berlari ke arah lobby.

“Baekhyun-ah, dengar baik-baik. Appa dan Eomma sedang menemani ayah Yoonjo untuk mengurus masalah ibu Yoonjo. Ibu Yoonjo, Kim Hyojin, beliau meninggal tadi pagi. Jadi kamu harus menjaga Sojung dan Yoonjo.”

Baekhyun terpaku mendengar ucapan ayahnya itu. Ia terlalu terkejut dengan berita tersebut. Ia tak pernah mengira hal seperti ini akan terjadi. Padahal Yoonjo belum sempat bertemu dengan ibunya. Padahal Yoonjo belum sempat bertanya pada ibunya itu tentang mengapa ia begitu membenci Yoonjo. Tapi wanita itu malah memilih untuk  membawa mati semua pemikirannya. Baekhyun bahkan belum sempat membujuk Yoonjo untuk mau bertemu lagi dengan ibunya itu.

Dan sekarang kami sedang mencari putranya Kim Hyojin, kakak Yoonjo dan Sojung. Pihak rumah sakit bilang kalau ada seorang pemuda yang mengaku sebagai putranya Kim Hyojin dan mengurus Kim Hyojin belakangan ini. Jadi  Baekhyun-ah, kalau ada pemuda yang mengunjungi Yoonjo atau Sojung, segera kabari kami. Mengerti?”

Baekhyun mengangguk kaku. Tapi begitu mengingat kalau ayahnya di seberang sana tidak bisa melihat gerak-geriknya, maka Baekhyun pun segera menjawab pesan ayahnya tersebut. Pikiran Baekhyun dirasanya penuh saat ini. Kakak Yoonjo dan Sojung katanya? Ada seorang pemuda yang mengaku sebagai anak dari Kim Hyojin. Jika itu benar adanya sudah pasti pemuda itu juga tahu kalau ia punya dua adik kembar yaitu Sojung dan Yoonjo. Dan tiba-tiba saja satu jawaban terlintas di benak Baekhyun. Sepertinya ia tahu siapa pemuda itu.

Tapi teriakan dari arah lobby rumah sakit menyela pikiran Baekhyun. sebuah lengkingan suara yang sangat ia kenal. Baekhyun pun berlari ke arah lobby hanya untuk mendapati beberapa suster yang tengah membopong Sojung yang tak sadarkan diri.

“Ada apa ini? Kenapa dengan Sojung?!” panik Baekhyun. Ia segera merebut tubuh Sojung dan membawanya ke ruang UGD.

“Aku jugat tidak tahu. Setelah melihat berita di tv mendadak anak ini menjerit histeris dan kemudian pingsan,” sahut salah satu suster yang tengah mengecek tensi Sojung.

Baekhyun pun mengeluarkan ponselnya dan membuka portal berita dari browser ponselnya tersebut. Dan Baekhyun pun menemukan berita apa yang membuat Sojung sampai seperti ini. Bahkan Baekhyun sendiri pun merasa lemas sampai ponselnya terlepas dari tangannya. Gemetar dan wajah Baekhyun langsung memucat. Rasanya ia ingin mengeluarkan isi perutnya saat ini juga. Baekhyun pun membekap mulutnya sendiri untuk menahan dirinya agar tidak berteriak.

“Kenapa ini semua harus terjadi?” lirih Baekhyun yang tak kuasa menahan airmatanya.

.

.

.

 

*Chapter 10 end*

logo1

Tangled Fate the series

안녕!!!

MAAF KARENA UPDATENYA LAMAAAA

ada terlalu banyak yang terjadi di kehidupan author yang sangat tidak sempurna ini sampe ga sempet untuk publish lanjutannya. seperti biasa, bee lupa schedule ini ff, jadinya bolong selama dua bulan dehh. maaf banget. diusahain yang berikutnya bee schedule, mudah2an ga molor2 lagi..

lastly, thanks for your support!! u guys are my vitamin 🙂
안녕!! 뿅! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – Tangled Fate | Chapter 11 | PG15

3 thoughts on “FF – Tangled Fate | Chapter 11 | PG15

  1. hazunajohkim says:

    Beeeeeeeeeeee Ada apa? Si shinwoo tabrakan ya? Atau bunuh diri brg ibunya? Omaigat?
    Kenapaaaa bee harus memotong di tengah2 beginiiiii

    Dan ini tumben isi chapter ini dikit gapapa deh, udah terobati dg bee ga bikin penasaran lg dr chap sebelumnya, walau skrg saya jd galau dg chapter selanjutnya

    Cemungud bee #keepwritinghwaiting

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s