FF – Tangled Fate | Chapter 10 | PG15


tangled_fate

Title : Tangled Fate

Subtitle : Don’t Cry, It’s My Turn To Cry

Author : beedragon

Cast:

Yoonjo Hello Venus as Shin Yoonjo

Sojung Ladies Code as Lee Sojung

Baekhyun EXO as Byun Baekhyun

CNU B1A4 as Shinwoo / Shin Dongwoo

Genre : Family, Romance, Angst, Sad, Tragedy, Friendship

Length : Multichapter

Summary : Ketika waktu Yoonjo semakin menipis, Yoonjo berjuang melawan waktu untuk bisa menemukan belahan jiwanya. Akankah Yoonjo berhasil mengalahkan waktu, atau waktu yang mengalahkannya terlebih dahulu

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : EXO – Baby Don’t Cry | EXO – My Turn To Cry |

Tangled Fate | Tenth Chapter

~*~

“Aku bohong ketika mengatakan kalau aku membencimu, sebenarnya aku sangat mencintaimu. Mianhae, saranghae

~*~

 

Sudah beberapa hari belakangan ini Shinwoo memutuskan untuk menghilang. Ia menyepi ke daerah Yanggu-si, agar bisa lebih dekat dengan ibu kandungnya. Shinwoo tak punya keberanian untuk menemui Sojung atau Yoonjo. Mendadak semua kepercayaan dirinya menghilang begitu ia mengetahui kalau Yoonjo juga adalah adik kandungnya. Semangat Shinwooo lenyap, bahkan bisa dikatakan adalah sebuah keajaiban Shinwoo masih bisa bertahan untuk mengurus ibu kandungnya sampai detik ini. Shinwoo benar-benar sudah merasa putus asa saat ini –atau mungkin lebih tepatnya ia belum bisa untuk menerima kenyataan pahit ini.

Setelah sekian lama berusaha menghindari adik-adiknya, akhirnya Shinwoo memutuskan untuk mendatangi Yoonjo malam ini. Tujuannya bukan untuk mengatakan kalau dirinya adalah kakak kandungnya, tapi hanya sekedar melihat keadaan gadis itu. Shinwoo belum mau –belum bisa– mengakui dirinya sebagai kakak Yoonjo. Sebab ia masih memiliki perasaan terlarang itu terhadap Yoonjo.

Shinwoo berdiri di seberang kediaman Yoonjo. Ia memandangi kamar Yoonjo yang berada di lantai dua. Shinwoo sama sekali tidak berniat untuk bertemu muka dengan Yoonjo. Karenanya Shinwoo berdiri di bawah bayangan pohon yang ada di seberang rumah Yoonjo. Tak lama ia melihat dari arah seberang kamar Yoonjo tampak seorang pemuda keluar dari jendela kamarnya. Shinwoo melihat Baekhyun menyebrang ke kamar Yoonjo lewat batang pohon maple yang menjadi pembatas rumah mereka. Mau tak mau Shinwoo mengulas senyum tipis melihat tingkah Baekhyun itu. Ia merasa wajar saja dirinya kalah dari Baekhyun –dengan tingkah pemuda itu, tentu saja mampu membuat Yoonjo terpikat sampai bertahun-tahun lamanya.

Kemudian Shinwoo melihat Yoonjo keluar dari pintu utama dengan menyeret Baekhyun di belakangnya –dengan segera Shinwoo bersembunyi di balik pohon sambil mengintip apa yang dilakukan dua muda-mudi itu.

“Kamu tak perlu menarik kupingku sampai seperti itu. Nanti kalau kuping ini jadi seperti kupingnya Chanyeol bagaimana?” protes Baekhyun yang cukup terdengar jelas sampai ke seberang jalan.

“Siapa suruh menyelinap ke kamarku lewat jendela! Rumah ini punya pintu utama dan pintu samping, kenapa kamu tak pernah lewat dua pintu itu? Kenapa harus lewat jendela kamarku?!” kesal Yoonjo.

“Itu kan jalan pintas. Lagipula aku hanya ingin menyampaikan pesan Appa,” sahut Baekhyun. “Appa, maksudku Dokter Byun, menyuruhmu untuk rajin kontrol ke rumah sakit. Katanya sudah lama ia tidak mengecek keadaan jantungmu. Jangan jadikan persiapan inagurasi sebagai alasan untuk bolos check up, Yoong. Apa kamu mau collapse di malam inagurasi nanti karena keadaan jantungmu kembali memburuk?”

Shinwoo yang mendengarkan percakapan mereka pun dirundung tanda tanya. Memangnya ada apa dengan jantung Yoonjo? Dan kini Shinwoo melihat Baekhyun sudah membuka satu kancing piyama Yoonjo dan dari jarak itu Shinwoo bisa melihat bekas jahitan yang cukup panjang membelah dada Yoonjo. Hal ini membuat Shinwoo kaget bukan main. Ia tak pernah tahu kalau Yoonjo pernah menjalani operasi besar sampai meninggalkan bekas sebesar itu.

“Yah, Byuntae!! Kenapa kamu malah membuka bajuku?!!” Seru Yoonjo. Ia lalu memukul kepala Baekhyun hingga pemuda itu meringis kesakitan.

“Tenagamu benar-benar tidak seperti seseorang yang punya kelainan jantung, Yoong,” ringis Baekhyun.

“Dan itu membuktikan kalau kondisiku baik-baik saja. Sampaikan pada Dokter Byun kalau aku akan datang sebelum malam inagurasi. Jadi beliau tak perlu khawatir.” Dan Yoonjo pun masuk ke dalam rumahnya dengan tak lupa menutup pintu di belakangnya –meninggalkan Baekhyun yang masih mengelus-elus kepalanya yang sakit.

“Tapi Appa bilang kalau jantungmu belum diganti, kita belum bisa bernapas lega, Yoong,” ujar Baekhyun pada pintu utama kediaman keluarga Shin itu.

Shinwoo masih mematung ketika Baekhyun kembali ke rumahnya. Ia tak mempercayai apa yang baru saja disaksikannya. Yoonjo yang selama ini selalu terlihat ceria dan penuh semangat bekerja di cafenya ternyata memiliki kelainan jantung. Pantas saja Yoonjo selalu izin tidak masuk dengan berbagai macam alasan –rupanya perihal check-up itulah yang menjadi penyebab Yoonjo sering absen.

“Yoonjo sudah mati. Aku menyaksikannya meregang nyawa malam itu. Dia tak akan hidup lama. Yoonjo tidak akan hidup lama. Dokter bilang tidak sampai remaja. Karena dia tidak sempurna. Karenanya dia mati.”

Itu adalah yang diucapkan ibunya beberapa waktu yang lalu. Yoonjo tidak sempurna, Yoonjo tidak akan hidup lama dan semua hal mengenai Yoonjo sekarat menjadi mantra yang selalu diucapkan ibunya belakangan ini. Kini Shinwoo mengerti kenapa ibunya tidak memberitahunya mengenai Yoonjo, karena memang ibunya mengira Yoonjo tidak akan bertahan hidup sampai sebesar ini.

“Dan apa maksudnya dengan jantungmu belum diganti?” gumam Shinwoo bingung.

.

.

.

Malam inagurasi pun tiba. Donguk University sudah mempersiapkan dengan sangat baik malam tahunan ini. Sojung yang termasuk dalam keanggotaan senat kampus tampak sibuk bergerak kesana kemari untuk mengecek kembali apakah semuanya sudah berjalan sesuai rencana. Ketika tampaknya semua sudah aman dan lancar, Sojung memilih untuk keluar dari gedung serba guna –mencari udara segar.

Meskipun Sojung sangat berantakan belakangan ini, tapi ia tetap menjalankan kewajibannya dengan baik. Sejak ia mengetahui kalau Shinwoo adalah kakak kandungnya, Sojung selalu berusaha untuk menghubungi pemuda itu. Sayangnya Shinwoo tak pernah menjawab teleponnya –lebih tepatnya telepon Shinwoo selalu tidak aktif. Ketika ia mengunjungi cafenya, orang-orang di cafe itu hanya mengatakan kalau Shinwoo sedang keluar kota. Padahal Sojung ingin mengatakan pada Shinwoo kalau ia akan berusaha untuk menerima Shinwoo sebagai kakaknya. Sojung sudah berusaha ikhlas dengan semua hal yang terjadi dalam hidupnya –termasuk dengan kenyataan bahwa Shinwoo adalah kakak kandungnya. Sojung juga ingin meminta Shinwoo untuk membantunya mencari adik mereka yang masih menghilang.

Sungguh Sojung ingin bertemu dengan kembarannya. Sayangnya sampai detik ini Sojung masih belum bisa mengingat siapa nama adiknya. Padahal jika saja Sojung tahu siapa nama ayahnya serta adiknya, mungkin akan mudah baginya untuk melacak mereka. Sementara ibu kandungnya sudah terlalu larut pada kepercayaannya kalau anak bungsunya itu sudah tiada, sehingga Sojung tak bisa bertanya lebih lanjut darimana ibunya itu memiliki foto-foto adiknya.

Sojung terus berkutat dengan pikirannya ketika seseorang datang menghampirinya.

“Sojung-ssi,” tegur Yoonjo yang kini berdiri di hadapan Sojung.

Sojung menegakkan badannya untuk melihat Yoonjo. Gadis itu terlihat memakai parka panjang hingga sedengkul dan di balik parkanya, Sojung melihat kalau Yoonjo memakai celana yang lebih terlihat seperti celana piyama. Ketika Sojung memperhatikan wajah Yoonjo, tampak kalau gadis itu lebih pucat dari biasanya.

“Kenapa kamu disini? Bukannya bersiap di belakang panggung? Sebentar lagi giliran Phoenix yang perform,” ujar Sojung. Phoenix adalah nama band Chanyeol –dengan Yoonjo sebagai vokalisnya.

Yoonjo tampak terdiam sejenak sebelum berkata, “Ada yang ingin aku katakan padamu.”

Sojung menyilangkan lengannya di dada –menunggu apa yang akan Yoonjo katakan padanya. Tapi detik demi detik berlalu Yoonjo tak kunjung mengutarakan isi hatinya. Melihat Yoonjo yang seperti ini membuat Sojung akhirnya mendekati Yoonjo. Ia memperhatikan Yoonjo dari dekat dan akhirnya ia memastikan kalau Yoonjo memang memakai piyama dibalik parkanya.

“Sebelumnya..,” Yoonjo menggantungkan kalimatnya. “Bolehkah aku memelukmu? Sebentar saja.”

Meskipun bingung tapi Sojung tidak menolaknya. Ia membiarkan Yoonjo memeluknya. Entah karena parka yang dipakai Yoonjo atau bukan, tapi pelukan Yoonjo terasa begitu hangat bagi Sojung. Yoonjo memeluk Sojung begitu erat seolah tak ada lagi hari esok baginya.

“Aku ingin minta maaf padamu,” Yoonjo memecah keheningan di antara mereka. Yoonjo masih belum melepaskan dirinya dari Sojung.  “Maaf karena aku berbohong padamu. Aku bohong ketika aku bilang kalau aku tidak mencintai Baekhyun. Aku.. sebenarnya… aku mencintai Baekhyun, sejak dulu aku mencintainya. Karena itu maafkan aku.”

Sojung tak mengerti kenapa Yoonjo tiba-tiba mengaku padanya. Meskipun Yoonjo tak mengatakannya pun, Sojung sudah tahu kalau Yoonjo menyukai Baekhyun. Lagipula antara Sojung dan Baekhyun memang tak terjadi apa-apa, jadi Yoonjo tak seharusnya merasa bersalah seperti ini pada Sojung. Hal ini membuat Sojung jadi makin iba terhadap Yoonjo.

“Yah, untuk apa kamu mengatakan hal itu padaku? Aku dan Baekhyun sudah berakhir. Aku juga tak peduli apa kamu mencintainya atau tidak. Tapi yang pasti aku tak pernah mencintainya. Aku pernah bilang kalau aku meginginkan Baekhyun, itu bukan karena aku mencintainya. Tapi karena aku membutuhkan apa yang ada di dirinya,” ujar Sojung –berusaha untuk mengurangi rasa bersalah Yoonjo.

Yoonjo akhirnya melepaskan dirinya dari Sojung. Ia kini menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Mianhaeyo. Jeongmal mianhaeyo,” lirih Yoonjo.

Sojung memperhatikan Yoonjo yang tampak kelabu malam ini. Sungguh Sojung tak pernah mengerti kenapa teman-temannya begitu tak suka pada Yoonjo. Jika Sojung perhatikan, terlalu banyak sifat baik di diri Yoonjo yang malah tak bisa ia benci. Seperti Yoonjo yang terlalu perhatian padanya, selalu peduli akan dirinya, dan bertanggung jawab akan kewajibannya. Sojung benar-benar tak menemukan sifat buruk Yoonjo –kecuali mengenai Yoonjo yang selalu menyembunyikan perasaannya terhadap Baekhyun.

Gwenchanha,” Sojung berusaha meyakinkan Yoonjo kalau dirinya tidak mempermasalahkan mengenai perasaan Yoonjo terhadap Baekhyun itu.

“Sojung-ssi,” ujar Yoonjo lagi. “Terima kasih karena sudah tumbuh sehat dan sempurna. Kamu membuat perjuanganku jadi tidak sia-sia.”

Sojung mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Yoonjo. Kenapa juga Yoonjo harus berterima kasih karena Sojung sudah hidup dengan baik? Padahal mereka tidak mengenal baik satu sama lain dan Sojung juga tak pernah memperlakukannya dengan baik. Lalu perjuangan Yoonjo yang mana yang berarti bagi Sojung?

“Sojung-ssi, sejak dulu aku begitu mengagumimu. Aku begitu memujamu. Bisa bertemu kembali denganmu benar-benar sebuah berkah bagi diriku. Terima kasih karena kamu sudah menyempurnakan kehidupanku yang sederhana ini. Kamu adalah panutan hidupku sejak dulu.”

Sojung makin bingung dengan arah percakapan ini. Apa Yoonjo baru saja membuat pengakuan padanya? Sepertinya ucapan Baekhyun mengenai Yoonjo begitu menyukai Sojung memang benar adanya. Sojung tak mengerti, kebaikan apa yang sudah ia lakukan sampai Yoonjo begitu menyukainya. Dan panutan hidupnya sejak dulu? Memangnya dulu mereka pernah bertemu??

“Sojung-ssi, sebenarnya aku.. aku ini adalah-,”

“Sojung-ah!!” seruan Eunbi menyela percakapan Sojung dengan Yoonjo. Sojung langsung menjaga jarak dari Yoonjo dan berpaling ke arah gedung serbaguna Donguk. “Sedang apa disana? Cepat masuk! Baekhyun akan tampil sebentar lagi.”

Sojung kembali menoleh ke Yoonjo seraya memberi pengertian padanya kalau ia sudah tak ambil pusing mengenai apapun itu masalah tentang Baekhyun. Sojung sudah akan pergi meninggalkan Yoonjo, tapi Yoonjo menahan lengannya. Sojung benar-benar tak mengerti dengan apa yang diinginkan Yoonjo saat ini.

“Sojung-ssi, maafkan aku. Aku tak bisa mengatakannya padamu. Aku bukannya menutupinya darimu. Hanya saja aku takut untuk mengatakannya. Aku takut kamu akan semakin membenciku jika kamu mengetahui kebenarannya. Maafkan aku.”

“Aku mengerti,” sela Sojung. Ia langsung melepas tangan Yoonjo dan mundur beberapa langkah darinya. Ia jadi makin panik karena kini Eunbi kembali berteriak memanggil namanya. “Kita bicarakan nanti setelah acara ini selesai, ok? Aku harus ke belakang panggung. Sampai nanti.” Dan Sojung pun berlari meninggalkan Yoonjo.

Tapi entah kenapa, Sojung merasa kalau langkahnya begitu berat –seolah ia enggan meninggalkan Yoonjo sendirian disana. Sambil berlari ia pun menoleh ke arah Yoonjo dan gadis itu masih berdiri di tempatnya. Sojung tak mengerti dengan perasaannya saat ini. Seolah ia ingin berlari ke arah Yoonjo dan memeluk gadis itu erat. Dan teriakan Eunbi pun menyadarkannya.

“Kamu pikir apa Sojung-ah? Fokus saja pada dirimu sendiri,” gumam Sojung.

.

.

.

Malam ini Baekhyun tampak begitu mempesona dengan balutan setelan jas hitam, kemeja putih dan dasi kupu-kupu warna hitam. Ia menarik rambutnya ke samping sehingga membuatnya tampak seperti seorang gentleman. Baekhyun tampak serius sekali malam ini –tak seperti Baekhyun yang biasanya senang bergurau. Ia tampak begitu fokus dibalik grand piano yang ada di tengah pentas.

Sojung yang memperhatikan Baekhyun dari belakang panggung, mau tak mau merasa terpesona dengan penampilannya malam ini. Baekhyun terlihat bersinar bagaikan bintang di langit kelam. Sempat terlintas sedikit penyesalan di benak Sojung karena ia tak pernah memperlakukan pemuda itu dengan baik.

“Baekhyun terlihat tampan malam ini,” puji Eunbi.

“Dia memang selalu tampan,” sahut Sojung.

Keduanya lalu terdiam ketika Baekhyun mulai memainkan jemarinya di tuts-tuts piano, melantunkan sebuah nada indah yang entah kenapa terasa begitu menyedihkan.

 

♪ Ojik seororeul hyanghaeinneun
unmyeongeul jugo bada
eotgallil su bakke eomneun geu mankeum deo
saranghaesseumeul nan ara

When you smile, sun shines
eoneoran teuren chae mot dameul challan
on mame pado chyeo
buseojyeo naerijanha oh

Baby don’t cry tonight
pokpungi morachineun bam
Baby don’t cry tonight
jogeumeun eoullijanha
nunmulboda charanhi binnaneun i sungan
neoreul bonaeya haetdeon
So Baby don’t cry cry
nae sarangi gieokdwel teni ♪ 

(We exchange our fates
that are headed toward each other
As much as there was no choice but for us to go awry,
I know we have loved that much more

When you smile, sun shines,
the brilliance can’t be expressed with language
Waves are crashing down
in my heart

Baby don’t cry tonight
on this stormy night
Baby don’t cry tonight
it’s fitting for a night like this
I had to let you go in this moment
that shines brighter than tears
So baby don’t cry cry
my love will be remembered)

 

(♪ EXO – Baby, Don’t Cry)

 

Sojung merasa haru mendengar nyanyian Baekhyun yang terasa begitu sendu. Sojung tahu kalau lagu itu untuk Yoonjo. Sojung sering mendengar betapa gadis itu sering menangis karena Baekhyun –pemuda itu sendiri yang mengatakannya seperti itu. Sojung kini memahami seperti apa perasaan Baekhyun terhadap Yoonjo. Pemuda itu begitu menyayangi Yoonjo sampai sebegitu besarnya. Untungnya ia sudah melepaskan Baekhyun; jika tidak, mungkin Sojung akan benar-benar merasa sebagai makhluk paling mengerikan di dunia ini.

“Sepertinya lagu ini untukmu, Sojung,” ujar Eunbi.

Sojung hanya melirik Eunbi di sampingnya. Belakangan Sojung baru mengetahui alasan kenapa Eunbi begitu membenci Baekhyun dan Yoonjo. Eunbi ternyata dulu pernah ditolak cintanya oleh Baekhyun –begitu pun dengan Ashley. Karenanya kedua perempuan itu begitu semangat menghasut Sojung untuk menyakiti Baekhyun –apalagi setelah mereka tahu kalau Sojung tak pernah benar-benar menyukai Baekhyun dan memacari Baekhyun hanya untuk membalas kelakuan pemuda itu terhadap sahabatnya.

“Sepertinya dia belum bisa melepasku,” gurau Sojung.

Gurauan Sojung itu ternyata ditanggapi serius oleh Eunbi. Ia memandangi Sojung tajam sehingga membuat gadis itu merasa terintimidasi oleh pandangannya. “Dan kenapa Baekhyun memilihmu untuk menjadi pacarnya.”

Sojung memiringkan kepalanya memandangi Eunbi bingung. Hubungannya dengan Eunbi memang agak merenggang belakangan ini. Sejak Sojung memutuskan untuk menyudahi hubungannya dengan Baekhyun, Sojung pun mulai menjaga jarak dengan ‘teman-temannya’. Karena Sojung sadar, mereka yang mengaku sebagai ‘temannya’ itu tak pernah benar-benar berniat berteman dengannya.

“Kenapa Baekhyun tiba-tiba memilihmu untuk menjadi kekasihnya?! Padahal kalian tak pernah saling kenal. Kenapa dia malah menolak orang yang sudah ia kenal hanya untuk alasan yang tidak jelas?! Padahal kamu tidak ada istimewanya dibandingkan aku. Tapi kenapa Baekhyun lebih memilihmu?!!” seru Eunbi.

Kesal, akhirnya Eunbi memilih untuk meninggalkan Sojung yang terpana menyaksikan emosi Eunbi. Apa yang membuatnya sampai marah-marah begitu, pikir Sojung. Tapi Sojung tak mau ambil pusing dengan tingkah Eunbi. Mungkin ini adalah jalannya untuk menyudahi pertemanannya dengan Eunbi. Mungkin memang sebaiknya Sojung mencari orang lain yang memang berniat berteman dengannya tanpa ada maksud jahat dibelakangnya.

Sojung hanya mengacuhkan keajaiban yang baru saja dialaminya. Ia kembali melihat ke arah panggung dan mendapati Baekhyun yang sudah menyelesaikan penampilannya dan kini berjalan ke arah Sojung. Baekhyun tampak membuka kancing jasnya, melepas dasi kupu-kupunya dan membuka dua kancing teratas dari kemejanya.

“Waah siapa yang kulihat disini? Aku nyaris tidak mengenalimu,” tegur Baekhyun. Ia sudah menebar senyum khasnya pada Sojung.

Sojung hanya tersenyum tipis pada Baekhyun. Sejak mengetahui kalau Shinwoo adalah kakak kandungnya serta fakta bahwa adiknya masih hidup, Sojung memutuskan untuk merubah penampilannya –untuk buang sial katanya. Kini tak ada lagi rambut bronze panjang, digantikan dengan rambut pendek sebahu berwarna coklat gelap. Ia juga sudah tak lagi merias dirinya secara berlebihan dan tak lagi memakai barang-barang limited editionnya. Yang kini terlihat hanyalah Lee Sojung, mahasiswi jurusan bahasa Donguk University yang sederhana; bukannya Lee Sojung, sekretaris senat yang akan membuatmu merasa terintimidasi dengan penampilannya.

“Aku makin cantik bukan? Apa sekarang kamu menyesal karena sudah mengabaikanku?” gurau Sojung.

“Nyaris,” Baekhyun menjawab gurauan Sojung.

Keduanya kini tertawa ringan karena lelucon mereka itu. Meskipun mereka hubungan mereka sudah berakhir, tapi keduanya memutuskan untuk memulai kembali dari awal –dalam artian mereka memulai kembali pertemanan mereka tanpa ada rasa benci, rasa dendam, dan segala macam perasaan negatif lainnya.

Ya, Sojung ingin memulai semuanya dari awal. Memperbaiki hubungannya dengan Baekhyun dan Yoonjo adalah salah satu langkah awalnya. Setelah itu mungkin ia bisa menerima Shinwoo sebagai kakaknya serta hidup bahagia bersama dengan kembarannya yang hilang.

“Baekhyun-ssi,” tegur Sojung. “Ayahmu itu seorang dokter spesialis jantung, bukan?”

Baekhyun hanya melirik Sojung disampingnya. “Bukan hanya sekedar dokter spesialis. Beliau sekarang sudah menjadi dokter ahli bedah toraks terbaik di Korea Selatan. Kamu tahu kan? Semua hal yang dibungkus oleh rusukmu, bisa diperbaikinya,” ujar Baekhyun dengan sedikit menyombongkan dirinya.

“Aku butuh bantuanmu. Bisakah aku melihat daftar pasien ayahmu. Aku mencari seorang gadis yang seumuran denganku yang memiliki riwayat kelainan jantung.”

.

.

“PENAMPILAN SELANJUTNYA, MARI KITA SAMBUT PHOENIX!!” Seruan pembawa acara inagurasi malam ini menggema ke seluruh gedung. Riuh teriakan para mahasiswa Donguk yang mengidolakan band yang digawangi oleh Chanyeol dan kawan-kawan menambah heboh panggung inagurasi. Apalagi Pheonix memang mengusung aliran musik yang lain dari band-band kebanyakan.

Sojung yang tadinya sedang bercengkerama dengan Baekhyun, kini langsung fokus pada panggung. Tentunya ia penasaran dengan penampilan band Chanyeol itu. Tapi yang tersaji di atas panggung sungguh membuat bingung semua yang menantikan penampilan band yang terdiri dari empat pemuda tampan dan satu gadis bersuara merdu itu. Sebab kini hanya ada Chanyeol sendirian berdiri di atas panggung dengan ditemani gitarnya.

“Mana Yoonjo?” bingung Baekhyun. Tentu saja ia bingung. Yoonjo sudah mempersiapkan dirinya berbulan-bulan lamanya untuk panggung ini, tapi kenapa gadis itu malah tidak muncul di panggung.

Sojung yang penasaran pun langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi salah satu panitia yang berada di sisi lain panggung. Jawaban mereka hanya ‘Yoonjo berhalangan untuk hadir malam ini’. Sojung jadi makin bingung. Jika gadis itu bisa menemuinya tadi, lalu kenapa ia tak bisa tampil di panggung? Lagipula ketika bicara dengannya suaranya juga terdengar baik-baik saja. Segala pertanyaan Sojung segera terjawab karena kini Chanyeol mulai buka suara di atas panggung.

“Maaf, karena hanya ada Park Chanyeol yang berdiri di panggung malam ini. Tadinya kami ingin membawakan sesuatu yang lebih ceria, karena Phoenix memang berdiri untuk menciptakan keceriaan. Tapi karena ada satu dan lain hal, akhirnya hanya Park Chanyeol dan gitarnya yang akan menutup malam ini. Lagu yang akan ditampilkan malam ini adalah buatan dari vokalis kami, Shin Yoonjo. Ia membuat lagu ini berdasarkan dari pengalaman kami berkeliling panti asuhan ketika ada event charity kemarin. Dan di panggung ini, aku mohon pada kalian semua untuk mendoakan vokalis kami. Semoga ia diberikan kesembuhan oleh Tuhan.”

Baekhyun terkejut mendengar ucapan Chanyeol. Ia tampak tidak terima dengan pidato singkat Chanyeol itu. Seolah Yoonjo saat ini sedang melawan maut dan hanya keajaiban yang bisa menolongnya. Berdasarkan apa yang Baekhyun perhatikan belakangan ini, kondisi Yoonjo masih baik-baik saja.

“Apa-apaan Park Chanyeol itu. Kenapa dia bicara seolah Yoonjo sedang sekarat saat ini,” kesal Baekhyun. Ia memperhatikan penampilan Chanyeol dengan rasa tidak nyaman.

Park Chanyeol mulai memetik gitarnya. Setelah ketukan ketiga, terdengar suara Yoonjo menggema. Ternyata Chanyeol bermain gitar mengiringi rekaman suara Yoonjo. Seisi gedung mendadak sunyi, ditambah dengan VCR yang tersaji di belakang Chanyeol yang menampilkan foto-foto Pheonix ketika berkunjung ke panti asuhan. Yang memenuhi gedung malam ini hanyalah suara dentingan gitar Chanyeol dan suara sendu Yoonjo.

Baekhyun mendengarkan lagu yang dinyanyikan Yoonjo itu dengan seksama. Ia pernah mendengarkan Yoonjo menyenandungkan nada ini. Tapi setelah mendengar langsung liriknya, Baekhyun tak menyangka kalau lagu ini akan terasa begitu pilu.

♪ Beorilppeonhaetdeon baraen sajindeul
Neomu apaseo ijen bol suga eobtjyo

Tto jami oji annneun bam
Eoduun bangane nuntteugo anja
Geudae eolgul geuryeoyo

Sujupdeon misowa sangnyanghan nundongja
Ango sipeunde eotteohhajyo
Na eomneun goseseon uljimayo good-bye
Ijen nae eokkael mot billyeoyo oh

Andwaeyo it’s my turn to cry naega halgeyo
Geudaeui nunmul moa
It’s my turn to cry
Naege matgyeoyo geu nunmulkkaji this time
Ne nunmulkkaji this time yeah-

Nan (ajik) neol (geudaereul) sa (manhi) rang (saranghan)
Hae (nameoji) yo (neomunado geuriwoyo)
Ul (budi) ji (geogiseon) mal (haengbok) ayo (haejwoyo)
I’m missing you ♪

(The faded photos that I almost threw away
It hurts so much that I can’t look at them now

It’s another sleepless night
I sit in my dark room with opened eyes
Drawing out your face

Your shy smile and gentle eyes
I want to hug you, what do I do?
Don’t cry in places without me, good-bye
Because you can’t lend my shoulders anymore

No, it’s my turn to cry, I’ll cry now
I’ll take all of your tears
It’s my turn to cry, give them to me
Even those tears, this time
Even your tears, this time yeah

I love you (I still love you so much, I miss you)
Don’t cry (Please be happy in that place)
I’m missing you)

 

(♪ EXO – My Turn To Cry)

 

Dan penampilan Chanyeol ditutup oleh tepuk tangan yang meriah dari seluruh mahasiswa Donguk. Terlihat ada yang sampai menangis di bangku penonton –bahkan Sojung ikut menangis di samping Baekhyun. Ketulusan Yoonjo yang terungkapkan dari nyanyiannya itu sampai pada mereka yang mendengar lagunya.

Chanyeol kini sudah meninggalkan panggung menuju Sojung dan Baekhyun. Chanyeol tampak mengusap matanya yang memerah. Melihat sahabatnya yang tampak begitu sedih itu membuat Baekhyun tak tega untuk memarahinya –karena tadi berbicara mengerikan mengenai kesehatan Yoonjo.

“Penampilan yang sempurna, Chanyeol-ssi. Sayang sekali Yoonjo tak bisa tampil langsung,” puji Sojung tulus.

“Memangnya Yoonjo kemana sampai dia tak bisa ikut tampil?” tegur Baekhyun.

Chanyeol tampak shock mendengar pertanyaan Baekhyun. “Kamu bertanya karena benar-benar tak tahu atau berpura-pura tak tahu?” ketus Chanyeol. Baekhyun kembali panas melihat reaksi Chanyeol ini. Tapi Chanyeol segera menyela, sebelum Baekhyun sempat mencengkeram kerah kemejanya. “Yoonjo masuk UGD semalam. Dan ketika tadi siang aku menjenguknya ia belum juga sadarkan diri. Karenanya dia tidak bisa tampil malam ini.”

Tubuh Baekhyun mendadak kaku mendengar ucapan Chanyeol. Ia baru menyadarinya, pantas saja jendela Yoonjo tidak terbuka tadi pagi serta rumah keluarga Shin sudah sepi sejak pagi. Tapi Baekhyun tak menduga kalau Yoonjo masuk UGD. Apalagi kini Sojung sudah menyela dengan mengatakan kalau ia tadi bertemu dengan Yoonjo di halaman kampus.

Dan dering ponsel Baekhyun menyadarkan pemuda itu dari keterkejutannya.

“Baekhyun-ah, apa kamu masih di kampus? Jika kamu bertemu dengan Yoonjo, tolong segera bawa dia ke rumah sakit. Yoonjo kabur dari rumah sakit padahal kondisinya sedang lemah sekali saat ini!”

Tanpa perlu diulang dua kali, Baekhyun langsung berlari mencari Yoonjo.

.

.

.

Baekhyun berkeliling kampus mencari Yoonjo sementara Chanyeol dan para personil Phoenix mencari Yoonjo di tempat lain. Baekhyun sama sekali tak tahu kemana Yoonjo pergi. Ketika ia kembali berpapasan dengan Sojung  barulah Baekhyun teringat satu tempat. Jika memang tadi Yoonjo datang untuk menemui Sojung, berarti saat ini Yoonjo berada di tempat itu –tempat Yoonjo dan kembarannya menghabiskan waktu bersama dahulu kala.

Baekhyun berlari ke sebuah taman bermain anak-anak di daerah Seocho-gu –kota tempat Yoonjo tumbuh bersama kembarannya. Yoonjo pernah bercerita pada Baekhyun mengenai taman bermain tersebut. Disana adalah tempat Yoona menyembunyikan Yoonjo dari amukan ibu mereka. Ketika Yoonjo bertengkar dengan ayahnya dulu, ia juga kabur ke taman bermain itu. Biasanya Yoonjo akan terlihat bersembunyi di dalam rumah gurita atau duduk di ayunan.

Sesampainya di taman bermain tersebut, Baekhyun menemukan Yoonjo tengah duduk termenung di salah satu ayunan. Perasaan lega langsung menyelimuti Baekhyun. Ia bergegas menghampiri Yoonjo. Baekhyun langsung berlutut di hadapan Yoonjo seraya berusaha mengatur napasnya.

“Baekhyun-ah…,” kaget Yoonjo.

Setelah berhasil menguasai pernapasannya, Baekhyun pun mengangkat wajahnya untuk menatap Yoonjo. “Apa yang kamu lakukan disini sendirian? Ini sudah malam. Bagaimana kalau nanti ada preman lewat dan mengganggumu?”

Baekhyun meraih kedua tangan Yoonjo dan menggenggamnya erat. Tangan Yoonjo terasa begitu dingin. Entah sudah berapa lama gadis itu duduk disana. Bahkan parka yang dipakainya tampak tak cukup untuk menghangatkan tubuh gadis itu dari dinginnya malam.

“Aku tadi bertemu dengan Yoona,” ujar Yoonjo pelan. Suaranya terdengar lemah sekali.

Saat ini Baekhyun hanya ingin menjadi pendengar yang baik. Ia bahkan sudah lupa kalau ia harus segera membawa Yoonjo ke rumah sakit. “Lalu apa yang kalian bicarakan?”

“Tadinya aku ingin mengatakan kalau aku ini adalah Yoonjo, Shin Yoonjo, adiknya, kembarannya. Tapi aku gagal mengatakannya,” ujar Yoonjo lagi.

Baekhyun berusaha menghangatkan tangan Yoonjo dengan meniupkan uap hangat dari mulutnya sambil terus merespon ucapan Yoonjo. “Kita bisa menghampirinya besok. Atau kalau perlu malam ini juga kita menghadap Sojung dan mengatakan semuanya.”

“Tadi aku malah mengatakan hal yang lain. Bukannya mengatakan kalau aku ini adalah kembarannya aku malah mengatakan hal yang tidak terlalu penting. Keberanianku mendadak hilang ketika ada yang menyelaku.” Yoonjo menundukkan badannya hingga kepalanya menyentuh kepala Baekhyun. “Baekhyun-ah, aku takut.”

Baekhyun pun menghentikan aktivitasnya. Ia mendongak menatap Yoonjo yang tampak sayu ini. Entah apa yang Sojung katakan pada Yoonjo hingga membuat gadis ini tampak begitu pilu. Akhirnya Baekhyun meraih Yoonjo dan memeluknya erat. Ia mengusap-usap punggung gadis itu untuk meyakinkan kalau semuanya baik-baik saja selama ada dirinya di samping Yoonjo.

“Dulu aku selalu bertanya-tanya, kenapa Eomma malah membuang Yoona ke panti asuhan bukannya diriku. Padahal akan lebih baik jika ia membawaku keluar dari rumah itu. Jika ia menelantarkanku di pinggir jalan pun pasti tidak akan ada yang peduli dan aku pun akan perlahan mati karena kondisiku yang tidak sempurna ini. Tapi Eomma malah membuang Yoona dan membiarkanku dengan Appa untuk terus hidup menjadi bebannya.”

Baekhyun memeluk Yoonjo makin erat. Ia sangat tidak menyukainya ketika Yoonjo bicara pesimis seperti itu.

“Itu karena ibumu percaya, kalau ayahmu akan tetap membuatmu hidup sampai kamu besar bahkan sampai kamu tua nanti,” sahut Baekhyun. “Dia pasti juga ingin melihat kamu tumbuh besar dan bahagia.”

Baekhyun merasakan Yoonjo meremas kemejanya. Sepertinya Yoonjo berusaha melepaskan semua yang dipendamnya saat ini. “Eomma selalu mengatakan kalau aku tak seharusnya hidup. Aku seharusnya mati. Karena aku hanya akan menjadi beban untuk semuanya. Karena kehadiranku membuat semuanya berantakan. Aku tidak sepantasnya-,”

Baekhyun melepas pelukannya terhadap Yoonjo. Ia menatap Yoonjo lekat-lekat. “Kalau kehadiranmu membuat semuanya berantakan, berarti kehadiran Yoona juga, karena kalian lahir bersamaan. Kalau ibumu tidak menginginkanmu untuk hidup, sudah pasti ia akan membunuhmu sebelum membawa pergi Yoona. Tapi ia tidak melakukan itu bukan? Itu artinya ibumu bukannya tidak menginginkan keberadaanmu, Yoong.”

“Ketika aku tumbuh besar, aku jadi takut akan mati, Baekhyun-ah. Aku takut.. tak bisa melihatmu lagi,” lirih Yoonjo.

Yoonjo terdiam menatap Baekhyun. Gadis itu menatap sepasang manik mata Baekhyun seolah itu adalah kristal terindah di dunia. Yoonjo kemudian mengulas senyum tipis di wajahnya. Yoonjo lalu menangkup wajah Baekhyun dengan kedua tangannya.

“Kamu terlihat tampan malam ini, Baekhyun-ah. Kamu sangat tampan malam ini.”

Baekhyun ikut tersenyum mendengar pujian Yoonjo. Bahkan rasanya wajahnya memanas karena pujian gadis itu. Hal ini membuat Baekhyun menundukkan kepalanya karena malu.

Saranghae,” lirih Yoonjo.

Ucapan Yoonjo itu membuat Baekhyun terkejut sampai ia tak bisa menggerakkan dirinya. Bukannya ia tak suka begitu mengetahui Yoonjo ternyata juga memiliki perasaan yang sama dengan dirinya, tapi Baekhyun merasa kecolongan. Seharusnya ia yang lebih dulu mengungkapkannya pada Yoonjo. Baekhyun kembali mendongakkan kepalanya dan balas menatap Yoonjo.

“Aku bohong ketika aku mengatakan aku ingin kamu menjauh, sebenarnya aku ingin kamu di sampingku. Aku bohong ketika mengatakan kalau aku tak ingin melihatmu, sebenarnya aku sangat merindukanmu. Aku bohong ketika mengatakan kalau aku membencimu, sebenarnya aku sangat mencintaimu. Mianhae, saranghae.

Baekhyun menatap Yoonjo dengan seksama. Gadis itu terdengar tulus dengan semua ucapannya. Sungguh Baekhyun tak pernah menyangka kalau Yoonjo memiliki perasaan seperti itu terhadapnya. Saat ini Baekhyun hanya bisa menertawakan dirinya sendiri karena sudah menyebut dirinya sebagai pakar wanita, tapi tak berhasil menebak perasaan Yoonjo –gadis yang tumbuh besar bersamanya. Baekhyun mengira Yoonjo menjauhinya karena tak mau lagi terlibat dalam konflik yang terjadi antara dirinya dengan gadis-gadis yang mengelilinginya –tapi itu semua salah besar. Yoonjo menjauhinya karena gadis itu terlalu mencintai Baekhyun dan yang pastinya akan merasa begitu terluka setiap melihat Baekhyun bersama dengan perempuan lain.

Tak tahu harus menjawab apa di situasi seperti ini, akhirnya Baekhyun meraih wajah Yoonjo dan menghapus jarak di antara mereka dengan membungkam mulut Yoonjo dengan miliknya. Baekhyun berharap itu bisa menghapus keraguan Yoonjo terhadap dirinya. Baekhyun berharap itu dapat menenangkan Yoonjo dari segala ketakutannya. Baekhyun berharap itu dapat menyampaikan kalau ia juga memiliki perasaan yang sama terhadap Yoonjo. Baekhyun berharap itu dapat membuktikan ketulusannya hatinya pada Yoonjo.

Baekhyun merasakan rasa asin, manis dan pahit ketika bibir mereka bertemu. Asin karena airmata Yoonjo yang mengalir dan membasahi bibir mereka, manis dari lipbalm yang Baekhyun pakai sebelum pertunjukan tadi serta pahit yang diyakini Baekhyun berasal dari bau obat di mulut Yoonjo. Dan itu menyadarkan Baekhyun –kalau ia harus segera mengantarkan Yoonjo ke rumah sakit.

Baekhyun pun melepas dirinya dari Yoonjo. Tapi begitu ia melepaskan dirinya, tubuh Yoonjo malah langsung terkulai begitu saja dan jatuh dalam pelukan Baekhyun. Meskipun awalnya kaget, tapi Baekhyun tersenyum melihat kondisi Yoonjo ini.

“Yah, Yoong. Kenapa setiap aku menciummu, kamu harus selalu jatuh pingsan?” ujar Baekhyun.

Baekhyun lalu menahan badan Yoonjo untuk berusaha menyadarkan gadis itu. Ia mengguncang pelan badan Yoonjo –tapi tak ada reaksi dari Yoonjo. Baekhyun akhirnya menepuk pelan pipi Yoonjo untuk membangunkannya –dan Yoonjo belum juga sadarkan dirinya. Baekhyun pun mulai panik –apalagi ketika ia mendekatkan telunjuknya pada hidung Yoonjo, Baekhyun tak merasakan hembusan napas gadis itu dan ketika Baekhyun menempelkan telinganya di dada Yoonjo, ia tak mendengar detak jantung Yoonjo di dalam sana.

.

.

.

 

*Chapter 10 end*

logo1

Tangled Fate the series

안녕!!!

Ohhh Tidaaaaaaaaaaak!!!!!! apa yang terjadi pada Yoonjo?!!! akankah Sojung berhasil bertemu dengan kembarannya?? akankah Shinwoo memiliki keberanian untuk menghadapi kenyataan yang terjadi?? akankah Baekhyun bersatu dengan Yoonjo?? Tunggu jawabannya di Chanpter berikutnya…

dan fiksi memusingkan ini pun akan segera berakhir teman2. sampaikan salam perpisahan pada Yoonjo *di chapter akhir tentunya*

dan yang akan menemani Snow White setelah Tangled fate ini adalah…… silakan dipilih:

  • Little Mermaid
  • Not A Cinderella
  • Peter Pan and Wendy

Terima kasih buat para vitamin bee!! Bee akan sangat berterima kasih bagi kalian yang menyimak dan mengikuti serta mengomentari fiksi yang satu ini. FF yang begitu menguras tenaga dan pikiran ini akhirnya akan selesai juga *Teriak ENCORE ENCORE ENCORE*

lastly, thanks for your support!! u guys are my vitamin 🙂
안녕!! 뿅! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – Tangled Fate | Chapter 10 | PG15

11 thoughts on “FF – Tangled Fate | Chapter 10 | PG15

  1. aku nangis unn aku nangis TToTT entah terharu gara-gara sojung akhirnya bisa nerima yoonjo huaa tapi yoonjo akhirannya jangan mati dong unn TT^TT huhaa gasabar baca kelanjutannya,semangat unni!

  2. Kak beee.. kenapaa cerotanyaa ngegantunggg bgtttttttttt….. ayo kak chp selanjutnyaaaaaaa……. akuuu baca dosekolah dn nangis sndri kyk org sintingg… huaaaaaaaaaaaaaa ngenaaa sekaliiiiii ceritanyaaaaaaaa…. kak bee buat ff selanuutnya terserah mau yg apa i please klo bsa yg main exo yah. Jeje… akuu ngefans berat pada driimu kak beee…..

  3. hazunajohkim says:

    Firasatku si yoong mati, awalnya, tp pas baca part ini kyknya dia cm pingsan doang krn mendadak di cium baebaek wakakaka.

    Ya ampun bee kirain kamu mau ngabisin di chap ini, udh menggebu2 jg ( _ _ )

    Dan semoga yoong msh idup, dan bs berkumpul dg sodara2nya, shinwoo bs menerima apa adanya, sojung makin bahagia. Amin. Wakakaka

    #keepwritinghwaiting

    1. hazunajohkim says:

      Oh ya kalo yoong sehat, gmn kalau dia main petak umpet sm sojung (jiah?) .
      Kirain juga ya bee, yg ditemuin sojung rohnya si yoong tau ( _ _ ) semoga firasatku yg cm pingsan yg bener .

  4. please lah yoonjonya jgn pergi dulu kasian sojung kan dia udh mulai pengen nyari adiknya T^T ntar waktu udh tau malah yoonjonya pergi kan sedih T^T btw ini yg jadi Eunbi itu member ladies code kan?

  5. aaaaaa tidak, banjir banjir ㅠㅠㅠㅜㅜㅠㅜㅜㅜㅜㅜㅜㅜㅜ…
    yoonjo, aku harap keajaiban yg terjadi di part berikutnya ..
    ngga rela kalo dia meninggal, liat perjuangan dia hidup apa lagi pas menghindari bekhyun.. topppp
    semoga shin family bisa berkumpul lagi ❤

  6. detiassifa says:

    ANDWAEE!!!!
    Thor,jebal happy ending >_<
    Aku gk mau yoonjo mati!! Haaa 😥
    Asli sumpah ini keren banget thor,stelah wktu itu aku baca ff kmu yg keren yg cast nya myungsoo..
    Ini jg bagus dan menarik banget ceritanya..
    Gak bertele-tele,tepat sasaran, yaitu hati aku..hehe^^
    Aissh aku hk berhenti nangis baca ceritanya di tiap chapter.. Trharu banget sm perjuangan yoonjo
    Pokoknya happy ending thor :')
    Keep writing! SEMANGAT!!

  7. aick says:

    eoonnniiiii,,, iini apaaa?? jangan bilang klo yoonjo mau mati. huaaaa eonniiiii. kenapa jujurnya harus jdi kayak begini.huhuhuhu
    aku udah gak bisa berkata apa apa.. aku tunggu lanjutannya aja 😥

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s