FF – 다른 동화 (Different Fairytale) | Snow White and The Dwarf – Chapter 2 | PG17


Title : Different Fairy Tale

Subtitle : Snow White and The Dwarf

Author : beedragon

Cast:

Minah Girl’s Day as Bang Minah

Ken VIXX as Ken Lee / Lee Jaehwan

L Infinite as L-Kim / Kim Myungsoo

Sera Nine Muses as Nyonya/Madam Ryu / Ryu Sera

Other Cast:

Sunggyu Infinite as Kim Sunggyu

Genre : Drama, Romance

Length : Multichapter

Summary : Jika aku adalah Putih Salju, maka kamu jadi siapa? | Kurcaci | Kenapa kurcaci? Di akhir cerita Putih Salju ‘kan tidak menikah dengan kurcaci, melainkan dengan pangeran? | tapi kurcaci dan Putih Salju memiliki hubungan yang dalam, lebih daripada hubungan Putih Salju dengan pangeran.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Minah (GIRL’S DAY) – You And I (니가내가) | TAEYANG – Stay With Me (Ft. G-DRAGON)

Snow White and The Dwarf | Chapter 2

~*~

“Sejak ibunya meninggal disusul dengan ayahnya yang juga meninggal tak lama setelah mendapatkan istri baru, Putih Salju pun hidup dengan ibu tirinya itu. Putih Salju tak tahu kalau istri baru ayahnya itu ternyata adalah seorang penyihir jahat yang ingin menguasai kerajaan. Ibu tiri Putih Salju begitu terobsesi dengan kecantikan wajahnya. Ia sangat tak terima jika ada yang mengatakan ada peremuan lain yang lebih cantik darinya. Penyihir kejam itu pasti akan langsung membantai perempuan itu. Belum lagi penyihir itu memiliki cermin ajaib yang selalu mengatakan kejujuran. Setiap malam sang penyihir pasti akan berdiri di depan cerminnya seraya berkata…”

“Cermin cermin di dinding, katakan padaku. Siapa wanita paling cantik di muka bumi ini?” sela Minah.

Ken tertawa mendengar akting Minah dalam melafalkan kalimat yang sudah begitu melekat di dirinya. Ia mengacak-acak rambut gadis kecil itu.

“Dia adalah Minami-chan,” sahut Ken penuh kasih. Dan keduanya tertawa bersama.

Melihat Minah bisa tertawa riang seperti ini membuat Ken merasa sedikit lega. Setidaknya gadis kecil itu tidak menangis karena merindukan ibunya. Ken akan membacakan dongeng Putih Salju ini setiap saat, sebab Minah akan melupakan semua kesedihannya jika ia mendengarkan cerita Putih Salju. Dan kini Ken merasa khawatir. Jika Tuan Bang membawa Minah ke Korea, nanti siapa yang akan membacakan dongeng untuk gadis itu? Siapa yang akan menemaninya tidur? Siapa yang akan menghiburnya jika ia merasa sedih dan kesepian?

Ken menyingkirkan buku dongengnya dan menatap Minah dengan seksama. Ia tak ingin menyuruh Minah untuk membenci ibu tirinya. Tapi jika mendengar cerita ayahnya mengenai calon istri Tuan Bang itu, mau tak mau Ken merasa tak rela. Ia yakin, calon istri tuan Bang itu pasti akan menelantarkan Minah jika Tuan Bang tidak ada. Ken tak ingin itu terjadi.

“Ken-chan, kudengar ibu tiriku adalah perempuan yang cantik,” ujar Minah.

Ken menghela napas panjang mendengar pernyataan Minah itu. Ken pun memegang pundak Minah seraya menatap Minah lekat-lekat. “Dengarkan aku, Minami-chan. Kamu tahu kalau ibu tiri Putih Salju itu adalah penyihir jahat bukan? Ken bukannya mengatakan kalau ibu tiri Minami-chan adalah penyihir. Tapi jika Minami-chan melihat ciri-ciri seperti yang ada di buku ini pada ibu tirimu, maka sudah pasti ibu tiri Minami-chan adalah-,”

Ken tak berani melanjutkan kalimatnya. Ia tak mau mencuci otak Minah dengan mengatakan kalau ibu tirinya itu adalah orang jahat. Ken tak mau merusak harapan Minah yang menginginkan kehadiran seorang ibu di kehidupannya.

“Kalau ibu tiriku memiliki cermin yang bisa bicara itu pasti keren sekali. Dan Minami akan bertanya pada cermin itu, siapa perempuan paling cantik di dunia,” ujar Minah dengan polosnya.

Ya, bagaimana Ken bisa merusak pikiran Minah yang tak tercela itu. Ia tak mungkin meracuni Minah untuk berpikir negatif terhadap ibu tirinya. Saat ini Ken hanya bisa berharap kalau ibu tiri Minah itu adalah orang yang baik.

“Jawabannya sudah pasti sama. Perempuan itu adalah Minami-chan,” sahut Ken.

Ken kemudian melanjutkan ceritanya. Mengenai cermin ajaib yang akhirnya mengatakan kalau perempuan tercantik di dunia itu ternyata adalah Putih Salju. Mengenai betapa murkanya sang penyihir jahat karena ada perempuan lain yang lebih cantik darinya. Mengenai penyihir jahat yang menyuruh ajudannya untuk menyingkirkan Putih Salju ke Hutan Kelam. Mengenai Putih Salju yang tanpa perasaan curiga mengikuti ajudan penyihir jahat untuk pergi ke hutan kelam. Mengenai ajudan penyihir jahat yang tak tega membunuh Putih Salju dan menyuruhnya untuk melarikan diri agar tidak tertangkap oleh penyihir jahat. Mengenai Putih Salju yang akhirnya melarikan diri dan tersesat di Hutan Kelam.

“Kejam sekali penyihir jahat itu ya, Ken-chan,” murung Minah. Ia memeluk erat boneka kelincinya, merasa kasihan akan nasib Putih Salju.

Ken sudah terlalu sering melihat sikap Minah yang seperti ini. Jika Ken menyanyikan lagu mengenai Putih Salju, Minah pasti akan ikut bernyanyi dengan riang. Jika Ken membacakan mengenai mantra penyihir jahat terhadap cermin ajaibnya, Minah pasti akan mengikutinya. Jika Ken menceritakan kalau penyihir jahat hendak membunuh Putih Salju, Minah pasti akan langsung  merasa murung karena kekejaman si penyihir jahat itu. Padahal Minah sudah tahu persis jalan ceritanya, tapi ia tak pernah merubah sikapnya di setiap kalimat dari dalam buku yang dilafalkan oleh Ken. Setiap kali Ken membacakan cerita Putih Salju, Minah pasti akan bersikap sama seolah Ken baru kali itu membacakan kisah mengenai Putih Salju.

“Tenang, Minami-chan. Karena di dalam Hutan Kelam, Putih Salju bertemu dengan tujuh kurcaci.”

~*~

Di sebuah apartemen mewah di daerah Daechi-dong, tampak seorang pemuda tengah berkutat dengan passlock code yang ada di salah satu pintu unit lantai teratas apartemen tersebut. Berkali-kali ia menekan empat angka rahasia, tapi tak ada satupun yang berhasil membuat pintu apartemen itu terbuka. Kesal, akhirnya ia menyerah untuk memecahkan kode rahasia pintu tersebut. Sang pemuda memilih untuk menggedor pintu malang itu. Tapi belum sempat tinjunya tiba di pintu, ia melihat sebuah kertas menempel disana dengan tulisan yang cukup besar dan berwarna-warni –yang tak sempat ia lihat tadi karena terlalu fokus pada passlock yang menempel di pintu.

 

L-KIM is back to nature

Be back after 3-4 weeks (or more)

If you need me, please leave your message here or to my manager

Thanks

 

Amarah kini memuncak di diri pemuda bermata sipit yang tadi hendak meninju pintu apartemen tersebut. Ia mengepalkan kedua tangannya dan meninju udara dengan kesalnya. Ia bahkan kini sudah berteriak marah seraya mengacak-acak rambut pirang kecoklatannya. Akhirnya ia mengeluarkan ponselnya dan menekan beberapa angka –dengan nyaris menghancurkan LCD ponselnya akibat terlalu kesal dengan tingkah si pemilik apartemen.

“Tinggalkan pesan pada manajermu katamu?!! Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu, Kim Myungsoo! Benar-benar menyusahkan memiliki adik antisosial sepertimu!!” kesalnya. Ia menempelkan ponselnya di telinga, menunggu teleponnya di jawab. “Setidaknya jangan sembarangan mengganti passlock apartemenmu!!” bentaknya pada ponsel malangnya.

Setelah percobaan yang kelima kalinya, akhirnya teleponnya dijawab juga.

“Yob-,”

“YAH!!!” bentak pemuda itu, bahkan sebelum orang diujung telepon menjawab panggilannya.

“Sunggyu Hyung?”

Sunggyu, pemuda bermata sipit berambut pirang kecoklatan itu mencengkeram ponselnya kesal karena sahutan sang adik yang terdengar begitu santainya –seolah tak merasa melakukan suatu kesalahan apapun.

“Yah, neo jigeum eodiya?!! Pulau mana lagi yang kamu kunjungi? Hutan mana lagi yang akan menampungmu? Bisakah kamu berhenti menghilang secara tiba-tiba begini?! Dan kenapa pintu apartemenmu dikunci?!!!” seru Sunggyu pada ponselnya.

“Aku sedang mencari inspirasi untuk photo essay-ku, Hyung. Sebagai manajerku setidaknya kamu perhatian akan kegiatanku. Dan apartemen mana yang terkunci? Daechi-dong? Gangnam? Cheongdam-dong? Rasanya sudah aku jual kemarin? Lagipula aku jarang tinggal disana.”

“YAAAAAAAAHHHH!!!!!!!” jerit Sunggyu kesal. Ia tak menyangka adik satu-satunya itu akan menjual apartemen yang susah payah ia dapatkan. Sunggyu sadar betul betapa adiknya ini sangat eksentrik, tapi ia tak pernah menyangka kalau adiknya akan segila ini. Sunggyu memegangi tengkuknya yang dirasanya mulai menegang. Memiliki adik yang tidak memiliki pikiran apapun selain kameranya memang tidak mudah. Sunggyu harus menangani masalah ini dengan hati tenang. Jika tidak, bisa-bisa tekanan darahnya naik lagi akibat ulah adiknya ini.

Geurae.” Sunggyu menyerah. “Aku memaafkanmu, Kim Myungsoo. Aku tinggal membeli lagi apartemennya. Jadi sekarang kamu segera kembali ke rumah. Sekarang juga!”

“Geundae, Hyung, aku sudah …ada di tengah….tan sekarang. Sepertinya…inyal jug… sudah mulai hilang.”

Sunggyu berusaha menajamkan pendengarannya. Sepertinya sinyal di tempat adiknya itu cukup buruk, sebab ia nyaris tidak bisa mendengar suara adiknya.

“Kembali sekarang juga! Aku mendapatkan tawaran dari perusahaan besar, Bang’s Beauty. Kamu tahu Bang’s Beauty bukan? Mereka ingin kamu menjadi fotografer untuk produk baru mereka. Bayarannya sangat mahal, lumayan untuk mengganti mobilmu dengan mobil kemping yang kamu inginkan. Aku juga sudah tanda tangan kontrak dengan mereka. Jadi cepat pulang!!”

Sunggyu sedikit berbohong pada adiknya. Tentu saja ia tak akan sembarangan tanda-tangan kontrak tanpa sepengetahuan adiknya tersebut. Tapi mengingat adiknya itu adalah seorang yang eksentrik, jadi ia sudah bisa menebak kalau adiknya itu pasti akan menolak tawaran tersebut. Sebab adiknya itu tak suka terikat sebuah kontrak, terutama yang berhubungan dengan ‘orang’ lain.

“Make-up? Hanya memotret kosmetiknya saja atau dengan modelnya sekalian? Hyung, kamu tahu ‘kan kalau aku tidak memotret manusia? Manusia itu adalah makhluk mengerikan, Hyung.”

Jawaban yang sangat-Kim-Myungsoo-sekali, rutuk Sunggyu. Ia mengerti akan sindrom adiknya yang selalu menganggap kalau manusia itu adalah makhluk mengerikan. Karena itu adiknya lebih sering menyendiri dibandingkan bergaul dengan orang-orang. Teman sejatinya hanyalah kamera. Bahkan kakaknya sendiri tidak terlalu dianggapnya. Sunggyu pikir setelah popularitas hinggap di karir adiknya itu, adiknya akan berubah untuk mau bersosialisasi. Tapi hasilnya malah lebih parah. Ia malah jadi lebih sering menyepi ke berbagai tempat yang jarang terjamah tangan manusia.

“Manusia makhluk mengerikan katamu?! Lalu kamu ini apa, Myungsoo-ya?? Setan??” kesal Sunggyu.

“Aku ini kurcaci, Hyung.”

Akhirnya Sunggyu menyerah. Selain antisosial, introvert, dan keras kepala, adiknya ini juga memiliki delusi yang sangat luar biasa. Ia tak pernah mau menyebut dirinya sebagai manusia. Ia selalu menganggap dirinya sebagai kurcaci yang bermusuhan dengan makhluk lain selain kaumnya, kecuali tumbuhan dan hewan. Ia bahkan pernah membawa adiknya ini ke psikiater untuk mencari tahu apa mungkin adiknya mengidap penyakit kejiwaan –yang belakangan diketahui kalau semua itu hanyalah karena Kim Myungsoo terlalu penyendiri.

Kurasa kamu tak bisa menghubungiku untuk beberapa minggu ke depan. Tapi akan kupastikan aku selamat disini, Hyung. Aku akan pulang dengan membawa foto-foto bagus yang bisa kamu jual. Sampai ketemu nanti. Dan Hyung, semua apartemen itu memakai tanggal lahirmu sebagai kuncinya. Annyeong!

Dan adiknya itu memutus hubungan teleponnya, bahkan sebelum Sunggyu mengucapkan, “hati-hati disana,” padanya.

Sunggyu berusaha mengatur napasnya. Ia hanya bisa menyerah jika adiknya itu sudah memutuskan sesuatu. Caci maki Sunggyu saja tak akan menghentikan langkah adiknya itu. Akhirnya ia memilih untuk menelepon seseorang.

“Ahh, yoboseyo? Sekretaris Cha, maafkan saya. Karena saat ini L-Kim sedang mengerjakan proyek foto esainya, jadi sepertinya ia tak bisa untuk menjadi fotografer untuk produk kalian. Tolong sampaikan maaf saya pada Direktur Lee.”

~*~

Ken baru saja kembali ke kantornya sehabis mengantar Minah ke salon milik sahabatnya. Dengan sedikit bersiul riang, Ken masuk ke ruangannya –hanya untuk mendapati asisten pribadinya yang tampak khawatir. Ia melirik pemuda berkulit gelap itu sekilas dan bersikap seolah ia tak tertarik dengan kesuraman yang ditunjukkan asistennya itu.

“Ada apa, Hakyeon-ssi?” tegur Ken pada Cha Hakyeon, asisten pribadi sekaligus sekretarisnya di kantor ini.

Cha Hakyeon hanya menggenggam ponselnya cemas seraya menundukkan kepalanya. “Maafkan saya, Tuan Muda. Tapi fotografer itu sepertinya menolak tawaran kita,” lirihnya.

Ken hanya berjalan melewati Hakyeon dan kemudian berhenti di depan meja yang telah dihias sedemikian rupa sehingga tampak seperti sebuah adegan krusial dalam dongeng putri salju. Di tengah meja ada boneka putri salju yang tengah terbaring di atas ranjang berhiaskan bunga warna-warni, dan di sekeliling ranjang putri salju ada tujuh kurcaci yang tampak berduka memandangi sang putri. Ken mengambil salah satu boneka kurcaci dan memandanginya dengan seksama.

“Apa kamu mengatakan sesuai dengan apa yang aku katakan?” tanya Ken dengan santai.

Hakyeon kini semakin menundukkan kepalanya. “Maafkan saya, tapi yang mengangkat teleponnya adalah manajernya. Jadi-,”

“Gyu Hyung? Harusnya kamu katakan saja pada Gyu Hyung kalau teman L-Kim sesama kurcaci membutuhkan jasanya. L-Kim pasti akan langsung berlari kesini.”

Ken kembali meletakkan boneka kurcacinya ke tempat asalnya. Ia kemudian menghampiri Hakyeon seraya menepuk pundaknya pelan –untuk meyakinkannya kalau semuanya baik-baik saja, sementara asistennya itu langsung mengeluarkan ponselnya untuk menelepon kembali fotografer tersebut. Ken lalu duduk di bangkunya sambil menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya. Ia menunggu Hakyeon menyelesaikan percakapannya dengan manajer sang fotografer.

“Manajernya bilang kalau dia akan berusaha menghubungi L-Kim untuk kembali secepatnya,” ujar Hakyeon begitu menyudahi sambungan teleponnya. “Tapi, Tuan, kenapa dengan kurcaci? Manajer Kim juga barusan terdengar sumringah begitu mendengar kurcaci.”

Ken mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Ia kemudian tersenyum simpul mendengar pertanyaan Hakyeon. Ken bertopang dagu memandangi asistennya itu. “Karena kami memang adalah kurcaci,” singkat Ken.

Ken kemudian bercerita mengenai kisah dongeng Putri Salju –yang sudah dihapal oleh asistennya itu saking terlalu seringnya Ken bercerita padanya. Tapi tentu saja asistennya itu tidak mendapat jawaban yang ia inginkan mengenai masalah kurcaci ini.

“…kurcaci adalah makhluk paling loyal yang ada di bumi. Kurcaci yang tahu akan keburukan penyihir jahat, memilih untuk menolong Putih Salju. Padahal Kurcaci adalah makhluk sombong yang tak mau bergaul dengan makhluk lain selain kaumnya.”

Setelah sang tuan muda selesai bercerita mengenai dongeng Putri Salju itu barulah Hakyeon menyela. “Tuan, Madam Ryu mencarimu.”

~*~

“Apa sebenarnya tujuanmu, Direktur Lee?” tuntut Ryu Sera begitu Ken datang menemuinya. “Mau kamu apakan putriku?”

Ryu Sera sudah menumpukan kaki kanannya di atas kaki kirinya sehingga rok mininya yang tak terlalu mampu untuk menutupi pahanya kini terangkat cukup tinggi memamerkan kulit mulusnya. Ia mengibaskan rambutnya sehingga wangi parfumnya menguar menusuk hidung Ken yang duduk tak jauh darinya. Dan ketika pemimpin tertinggi di Bang’s Beauty itu mencondongkan badannya pada Ken, tampak ia dengan sengaja menunjukkan belahan dadanya pada Ken –yang sayangnya Ken selalu menundukkan kepalanya sehingga ia tidak menyaksikan tingkah sang nyonya besar.

Melihat Ken yang tampak tidak tertarik melihat dirinya membuat Ryu Sera membenarkan posisinya. “Katakan padaku. Kemarin kamu bertemu dengan Minah di rumahku bukan? Apa saja yang dia katakan padamu?”

“Aku bertemu dengannya pagi ini –saat ia sedang berdiri di depan pintu ruangan Madam. Ia bersama dengan pengacara yang kemarin aku lihat di kediaman Madam. Saat itu aku langsung berpikir kalau dia adalah putrimu,” Ken berkilah. Ken tak mungkin mengatakan kalau memang kemarin ia sudah bertemu dengan Minah, bisa-bisa Ryu Sera mengasingkan Minah lagi. “Lagipula begitu aku melihatnya aku langsung merasa kalu ia cocok sekali untuk mempromosikan produkku. Putrimu atau bukan, aku tetap akan menjadikannya sebagai modelku. Dia begitu cantik dan-,”

Aniya!!” bentak Ryu Sera. Ken sampai tersentak kaget mendengar seruan sang komisaris. Ryu Sera tampak mengatur napasnya. Nyonya Ryu tidak akan mau mendengar seseorang menyebut ada perempuan cantik selain dirinya. “Kamu tak mengerti apapun mengenai putriku, Direktur Lee.”

Ken akhirnya berpaling untuk melihat Ryu Sera. Amarah tergambar jelas di wajahnya yang kini merah padam. Tapi Ken tak gentar. Ia tak akan membiarkan wanita ini menyakiti Minah lagi. Karena kini Ken akan melindungi Minah dengan seluruh jiwa raganya.

“Kamu tentu tahu betapa banyak orang yang mengincar harta mendiang suamiku. Setelah suamiku meninggal, setidaknya aku harus menjaga Minah dari orang jahat yang hendak menyakitinya. Aku melindunginya di rumahku. Tapi kini apa yang sudah kamu lakukan?! Kamu mau menunjukkan pada dunia kalau Minah adalah sang pewaris tunggal Bang’s Beauty. APA KAMU MAU MENARIK SEMUA ORANG JAHAT UNTUK MENGERUBUNGI MINAH??!!” bentak Ryu Sera.

Jika Ken tidak pernah mendengar laporan mengenai Ryu Sera yang sengaja mengurung Minah demi menguasai hartanya, mungkin saat ini Ken akan mempercayai ucapan Ryu Sera barusan. Ken nyaris termakan akting buruk sang komisaris.

“Jika sampai terjadi sesuatu pada Minah, maka bersiaplah mencari pengacara. Karena aku sudah pasti akan menuntutmu,” ancam Ryu Sera.

Ken mengumbar senyumnya pada ibu tiri Minah itu. “Tenang saja, Madam. Aku akan menjaga putrimu dengan baik. Aku tak mungkin membiarkan modelku kenapa-kenapa.” Setelah itu Ken pamit meninggalkan ruangan Ryu Sera.

Ryu Sera memandangi Ken yang keluar dari ruangannya. Ia begitu kesal pada sikap Ken yang sangat jauh berbeda dengan Ken yang kemarin menemuinya. Ryu Sera kemudian meraih ponselnya dan menekan beberapa angka disana.

“Ini aku, kesempatan sudah terbuka untuk kita. Lakukan rencanamu sekarang,” ujar Ryu Sera pada ponselnya.

Setelah menyudahi panggilannya, Ryu Sera menggenggam erat ponselnya. Berbagai hal berkelebatan di pikirannya saat ini; mengenai para petinggi perusahaan yang memuji kecantikan Minah dan bahkan mereka mengatakan kalau Minah sama cantiknya dengan dirinya. Tentu saja Ryu Sera tak menyukai hal itu sama sekali. Karenanya ia menyiapkan sesuatu untuk menyingkirkan Minah dari hadapannya. Kini senyum lebar menghiasi wajahnya.

“Jadi Minah lebih cantik daripada aku begitu?? Tak akan kubiarkan anak kecil itu menghalangiku. Aku, Ryu Sera, adalah perempuan tercantik di dunia ini! Ohh, Ken Lee, terima kasih karena kamu membuka kesempatan untukku menyingkirkan rumput liar yang sudah tumbuh terlalu tinggi itu.”

~*~

Ken bergegas merapikan barang-barang di ruangannya. Hari ini ia akan pulang cepat, sebab ia harus menjemput Minah di salon. Tadi siang setelah berkenalan dengan para direksi, Ken membawa Minah ke salon untuk merapikan dirinya. Sebab sore ini Ken akan membawa Minah untuk mengambil photo sample untuk diberikan ke bagian advertising kantor.

Ken membawa Minah ke salon langganannya. Pemilik salon itu adalah sahabat baik Ken ketika di Tokyo dulu. Ken juga sudah meminta pada sahabatnya itu untuk menjaga Minah agar jangan sampai Minah bertemu dengan orang asing. Dengan langkah ringan Ken menginjakkan kakinya di halaman salon. Dan seseorang kini menghalangi langkahnya yang hendak memasuki salon.

“M-madam?” bingung Ken. Betapa ia sangat terkejut, karena bagaimana bisa Ryu Sera ada disini?

Ryu Sera merapikan mantel bulunya seraya menahan lengan Ken. Ia mengibaskan rambut merahnya dan bertanya, “Dimana Minah?”

“Bagaimana Madam bisa sampai kesini?” Ken balik bertanya. Betapa ia bingung melihat kehadiran Ryu Sera di salon temannya ini. Sebab salon ini bukanlah salon kelas atas yang akan dikunjungi seorang Ryu Sera. Kecuali Ryu Sera tahu kalau ada Minah disini.

“Aku memanggilmu di parkiran kantor tadi. Tapi kamu tak mendengarnya. Jadi aku mengikutimu,” jelas Ryu Sera. “Sekarang katakan dimana Minah? Apa dia ada di dalam? Jika ya, maka aku yang akan menjemputnya pulang.”

Ken tak bisa berkata apa-apa. Padahal setelah menjemput Minah di salon ini, ia hendak membawa Minah ke rumah pengacara Park dan lalu memberikan jadwal padat untuk Minah agar gadis itu tidak kembali lagi ke rumahnya. Tapi sepertinya Ryu Sera tidak akan mudah tertipu seperti itu. Akhirnya Ken mengajak Ryu Sera masuk ke dalam salon untuk menjemput Minah.

Di dalam salon, teman Ken si pemilik salon –Lee Ahyoung– menyambut Ken dengan penuh tanda tanya. “Kenapa kamu disini?” bingung Lee Ahyoung.

“Menjemput Minah, memangnya mau apa lagi?” sahut Ken bingung.

Ekspresi Lee Ahyoung saat ini seolah Ken sedang mengucapkan lelucon yang sangat tidak lucu. “Yah, untuk apa kamu menyuruh anak buahmu menjemput Minah kalau kamu sendiri yang mau menjemputnya?”

“Anak buah?” Ken kini makin bingung. Perasaan Ken mendadak tidak enak.

“Tadi Minah bilang kamu SMS dia dan menyuruhnya untuk ikut dengan supir yang kamu suruh untuk menjemputnya. Karena dia bilang kalau itu adalah supirmu, makanya aku biarkan dia pergi,” jelas Ahyoung.

Tubuh Ken mendadak kaku. Minah pergi dengan orang yang mengaku sebagai supirnya. Yang lebih anehnya lagi Minah mempercayai kalau orang itu adalah supir Ken hanya karena ‘Ken’ yang mengatakan kalau ia mengirimkan orang untuk menjemput Minah. Ken langsung mengeluarkan ponselnya untuk mengecek apa benar ia mengirim pesan untuk Minah –sebab sebelum ia meninggalkan Minah, ia sudah menyimpan nomornya di ponsel Minah, jadi tak mungkin Minah mempercayai SMS itu jika bukan berasa dari nomor Ken. Tapi ketika Ken mengecek ponselnya, sama sekali tak ada pesan keluar untuk Minah. Panik kini menguasai Ken.

Mwoya? Jadi kamu sudah menyuruh orang lain untuk menjemput Minah??” sela Ryu Sera. “Kamu bawa kemana putriku?”

Bukannya menjawab pertanyaan Ryu Sera, Ken malah langsung berlari keluar dan mengecek setiap sisi halaman. Beruntungnya Ahyoung memasang kamera CCTV di dekat pintu masuk –menghadap ke area parkir. Dengan segera Ken menarik Ahyoung untuk mengecek rekaman kamera tersebut.

~*~

Minah menghilang.

 

Minah diculik.

 

Itulah yang bisa disimpulkan polisi. Sebab sudah 2 x 24 jam, Minah tidak diketahui keberadaannya. Yang mereka tahu Minah dibawa pergi dengan seorang lelaki dengan mengenakan mobil sedan. Kepolisian sendiri sudah melacak jejak mobil tersebut –yang ternyata adalah mobil curian.

Ken tidak menyangka kalau orang itu akan bergerak secepat ini, tepat begitu Ken mengibarkan bendera perang pada mereka yang menahan Minah. Ken kecolongan kali ini dan dia tidak akan tinggal diam. Ia akan membongkar semua kebusukan orang-orang yang mengincar Minah.

“Oh, bagaimana, Hakyeon-ssi?” cecar Ken pada asisten pribadinya, Cha Hakyeon. “Kamu sudah mendapatkan petunjuk dimana Minah?”

“Mobil itu terakhir terlihat di daerah Gangwon-do, Tuan Muda,” jawab asisten pribadi Ken.

Ken, yang sedang meneliti video CCTV dari salon Ahyoung, tampak geram. Jika melihat dari video tersebut, Minah sama sekali tidak terlihat dipaksa untuk masuk ke dalam mobil. Ken tak bisa tak merasa kesal. Sebab kini Minah kembali lepas dari genggamannya.

“Dan apa saja kerja polisi disini?! Bagaimana bisa mencari satu mobil curian saja tak ketemu sejak kemarin?!!” bentak Ken.

Dering telepon sekretarisnya meredakan amarah Ken. Begitu Hakyeon menyudahi panggilannya, ia langsung menyalakan televisi yang ada di ruang kerja Ken ini. Tampak sebuah berita mengenai kecelakaan mobil di salah satu daerah di pegunungan Gangwondo.

“…ditemukannya mobil curian yang diduga menculik pewaris utama dari Bang’s Beauty, Bang Minah. Mobil tersebut terjun bebas di jurang dan terbakar. Dari bangkai mobil tidak ditemukan korban jiwa. Dan polisi mengatakan kalau Bang Minah masih dalam status menghilang….”

Ken meremas remote televisinya dengan geram. Ia tak menyangka mereka akan melakukan hal mengerikan seperti ini. Ken pun berteriak kesal.

“Cha Hakyeon! Kumpulkan orang-orang kita dan susuri semua daerah Gangwondo, terutama hutan di daerah Pyeongchang itu. Minah masih menghilang, berarti masih ada harapan dia masih hidup. Cari Minah, dan jangan kembali kalau mereka belum menemukannya. Jaga ketat setiap pelabuhan, jangan sampai mereka menyelundupkan Minah ke luar Korea. Setelah itu, kita siapkan perang dengan Ryu Sera!” titah Ken.

~*~

Ryu Sera duduk santai di ranjangnya yang empuk. Sambil menikmati segelas wine merah, ia menonton berita yang tengah ditayangkan televisinya. Ryu Sera bukanlah pribadi yang senang menonton berita, hanya saja berita kali ini rasanya terlalu sayang untuk dilewatkan.

“…ditemukannya mobil curian yang diduga menculik pewaris utama dari Bang’s Beauty, Bang Minah. Mobil tersebut terjun bebas ke jurang dan terbakar…”

Ryu Sera tertawa senang mendengar berita tersebut. Ia menyesap wine-nya dan lalu berteriak riang.

“Lihatlah apa yang kamu dapatkan anak kecil!! Jangan pernah berani menantang Ryu Sera. Akhirnya aku bisa menyingkirkanmu juga! Selamat mendekam di neraka, Bang Minah!! Hahahaha!”

Ryu Sera meraih ponselnya, hendak menelepon seseorang ketika televisinya mengatakan bahwa, “…Bang Minah masih dalam status menghilang..”

Ryu Sera melempar gelas wine-nya ke televisi. Ia kemudian menekan beberapa angka di ponselnya dengan geram. Ia berusaha mengatur napasnya yang dirasanya makin memburu. Setelah sambungan teleponnya terjawab, Ryu Sera langsung melampiaskan kekesalannya.

“BANG MINAH MASIH DINYATAKAN MENGHILANG!! BANG MINAH MASIH HIDUP!!” bentaknya. “Apa saja yang kamu lakukan?!! Membunuh satu anak saja tak mampu?!! Atau kamu mau mati terlebih dahulu?!!”

“Tapi, Madam, aku sudah memastikan anak itu ada di dalam mobil ketika mobil itu terjun ke jurang. Jadi tak mungkin anak itu masih hidup??”

“Tapi faktanya anak itu masih hidup!!! Cari dia! Cari Bang Minah sebelum polisi menemukannya!! Atau nyawamu akan berakhir di tanganku!” ancam Ryu sera. Ia pun menyudahi sambungan teleponnya.

Ryu Sera beranjak dari ranjangnya dan menghampiri cermin besar yang ada di sisi lain ranjangnya. Ia memandangi cermin itu tanpa ada semangat dalam dirinya –tak seperti biasanya. Ia menjulurkan tangannya dan membelai bayangan wajahnya.

“Besok aku harus terlihat seperti seseorang yang tak bisa tidur nyenyak karena harus memikirkan putriku yang malang. Dan itu akan membuat wajah ini tampak buruk. Apa sebaiknya aku tidak keluar rumah besok? Tapi aku akan merindukan Direktur Lee. Tapi kalau aku tidak muncul, Direktur Lee pasti akan mencariku bukan? Dia pasti mengkhawatirkan aku bukan?” Ryu Sera berbicara pada bayangannya. Memikirkan Ken membuat Ryu Sera mengulas senyum di wajahnya.

“Tenang saja, Ken Lee. Aku akan dengan senang hati menggantikan Minah sebagai model untuk produkmu itu.”

~*~

Kim Myungsoo. Seorang fotographer profesional yang memilih untuk meninggalkan semua ketenarannya demi untuk mendapatkan sebuah foto. Di usianya yang masih sangat muda itu, Myungsoo memutuskan untuk menyepi di hutan lindung yang ada di daerah Pyeongchang. Ia memilih tinggal di hutan bukan tanpa alasan. Karena ingin membuat essay foto lagi, Myungsoo memilih meninggalkan kota dan kembali ke alam. Dengan berbekal sebuah kamera professional yang tergantung di lehernya, Myungsoo pun mengabadikan setiap sudut hutan Pyeongchang.

Sebagai pemuda yang introvert dan kurang pergaulannya, Myungsoo tidak memiliki kendala apapun di hutan. Justru ia lebih senang hidup seperti ini, dibandingkan di kota. Karena setidaknya ia tak perlu bertemu dengan orang-orang munafik yang hanya ingin memanfaatkan ketenarannya. Myungsoo tak pernah bisa bergaul dengan baik dengan orang-orang, entah karena memang pribadinya yang tertutup atau karena memang orang-orang tersebut yang tak bisa mengikuti sifatnya. Myungsoo selalu merasa kalau manusia itu adalah makhluk mengerikan karena mereka bisa menyakiti satu sama lain hanya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Myungsoo tak pernah mempercayai hubungan antar manusia.

Bahkan Myungsoo tak mempercayai yang namanya cinta.

Tapi ia tak membutuhkan hal itu di kehidupannya. Cukup dengan menjalani hidup tanpa saling bersenggolan dengan makhluk lain saja sudah cukup bagi Myungsoo. Sebab Myungsoo tak membutuhkan orang lain maupun cinta yang mereka bawa.

Myungsoo memfokuskan kameranya pada seekor anak rusa yang tersesat. Ia mulai mengabadikan pemandangan itu dalam kameranya. Ketika Myungsoo hendak mendekati anak rusa itu, ia mendengar suara berisik dari arah timur. Suara tersebut membuat anak rusa kaget dan langsung berlari ke arah berlawanan. Myungsoo menghela napas panjang, kecewa karena tak mendapatkan gambar anak rusa itu dari dekat.

Myungsoo lalu menoleh ke arah timur untuk mencari tahu suara apa yang menyebabkan anak rusanya kabur. Suara tersebut seperti sesuatu yang menggelinding jatuh dari arah atas. Myungsoo pun mendekati sumber suara. Ia tiba di daerah yang agak curam seraya memandangi sekelilingnya, sebab Myungsoo yakin kalau suara tersebut dari arah sana. Tapi ia tak menemukan apapun. Ketika akhirnya ia memutuskan untuk mengacuhkannya, Myungsoo kembali mendengar suara –kali ini tak jauh darinya.

Betapa terkejutnya Myungsoo, sebab penyebab suara berisik itu adalah sesosok manusia yang sepertinya terjatuh dari atas. Myungsoo mendekati sosok manusia itu. Dilihat dari sisi manapun, manusia ini tak terlihat seperti orang yang sedang naik gunung ataupun berkemping. Myungsoo memandangi sosok itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. orang ini tampak seperti seseorang yang sedang melarikan diri dari sesuatu, tergambar dari kakinya yang tak memakai alas kaki apapun sehingga membuat telapak kakinya begitu kotor dan juga berdarah. Pakaian yang dipakainya sama sekali tidak cocok untuk dipakai di hutan–manusia ini memakai gaun berwarna biru panjang yang sudah robek disana-sini.

Keadaan manusia itu cukup memprihatinkan dengan berbagai luka serta kotoran menghiasi kulit putihnya. Rambut panjang manusia itu tampak menutupi wajahnya dan ada darah yang mengalir dari kepalanya. Myungsoo pun memastikan kalau yang ada di hadapannya ini adalah memang manusia dan dia adalah perempuan.

Myungsoo mendekatkan dirinya pada perempuan itu. Myungsoo mendengar kalau perempuan itu masih bernapas –meskipun terdengar lemah. Tubuh Myungsoo langsung kaku begitu menyadari kalau perempuan itu masih hidup. Myungsoo memegang erat kameranya.

Myungsoo tak tahu apa yang harus ia lakukan dalam keadaan seperti ini. Perlahan ia melangkah mundur, menjauhi perempuan yang kini tak sadarkan diri itu. Myungsoo masih memegang erat kameranya. Ragu-ragu, Myungsoo mengangkat kameranya dan mulai membidik perempuan itu dengan kameranya. Lalu Myungsoo menekan tombol shutter kameranya.

Untuk pertama kalinya, Myungsoo mengabadikan sesosok manusia dalam kameranya.

~*~

 

*Chapter 2 end*

logo1

Second story of DIFFERENT FAIRYTALE. “Snow White and The Dwarf”

안녕!!!

Demi apa bee lupa publish ini fiksi. chapter ini udah mengendap di draft dari jaman puasa lalu. cuma mengingat ada adegan-adegan yang sepertinya tidak layak baca dibulan puasa, jadinya bee pending. dan malah kelupaan -.-v

apakah chapter ini aneh? ataukah tidak sesuai harapan kalian? kalau memang ada yang mengganjal atau merasa ada yang aneh dari chapter ini tolong kasih tahu bee, jadi chapter berikutnya bisa bee perbaiki. bee berusaha untuk membuat gambaran yang terbagi-bagi macam itu. jadi kalian tau latar belakang masing-masing karakter dan kejadian-kejadian yang terjadi di setiap karakter. mudah-mudahan gaya penyusunan cerita bee yang baru ini  berkenan di reader sekalian.

betewe akhirnya abang EL nongol disini *kyakyakya*… gatau yaaa.. bee drooling gitu ngebayangin myungsoo dengan kameranya keliling2 foto2in hal2 aneh… ohmaigat!! my future is mempesona sangat!!! #ehh

Terima kasih buat para vitamin bee!! Bee akan sangat berterima kasih bagi kalian yang menyimak dan mengikuti serta mengomentari fiksi yang satu ini. semoga fiksi ini berkenan  buat kalian.

lastly, INDONESIA MERDEKA!!!
안녕!! 뿅! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 다른 동화 (Different Fairytale) | Snow White and The Dwarf – Chapter 2 | PG17

7 thoughts on “FF – 다른 동화 (Different Fairytale) | Snow White and The Dwarf – Chapter 2 | PG17

  1. pb says:

    Nice story, bagus pembawaannya jadi feelsnya kerasa. Terus Konflik yang diambil cukup unik jadi ga membosankan. Ceritanya sulit ditebak endingnya jadi bikin penasaran. Semuanya dikemas dalam kemasan yang bagus aku suka. Ditunggu chapter 3 nya ya 😉

  2. pb says:

    Nice story, bagus pembawaannya jadi feelsnya kerasa. Terus Konflik yang diambil cukup unik jadi ga membosankan. Ceritanya sulit ditebak endingnya jadi bikin penasaran. Semuanya dikemas dalam kemasan yang bagus aku suka. Ditunggu chapter 3 nya ya 😉

  3. hazunajohkim says:

    Lah si L itu kurcaci? Ken juga? Trs yg jd pangerannya siapaaa?
    Kirain ken pangeran~ yah.
    Bakal rebutan dong kalo begitu, wkwk

    Iya nih, different tales ditunggu, baru nongol skrg wkwk, apanya yg ga pantes dibaca di bln puasa? Ga ada apa2 yg aneh deh.
    Ya udah deh
    Ditunggu bee next chap, dan selesaikan tangled fate-nya yaaw

  4. aick says:

    wah yg jdi peran kurcaci di ff ini ternyata lebih dari satu ya. kirain cuma ken aja, ternyata si abang myungsoo juga kurcaci..
    ya ampun itu ibu tirinya juga serem, sejahat itu sama anaknya. tpi agak nakutin ya klo si ibu tirinya naksir ken. emg jarak usia berapa tahun coba, ckckck
    gpp kok eon gaya penulisannya yg baru, jdi tau karakter tiap tokohnya dlu jdi nanti gak terlalu menerka-nerka di bagian selanjutnya.

    aku tunggu lanjutannya eonnii 😀

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s