FF – Tangled Fate | Chapter 9 | PG15


tangled_fate

Title : Tangled Fate

Subtitle : When The Facts Is In The Air

Author : beedragon

Cast:

Yoonjo Hello Venus as Shin Yoonjo

Sojung Ladies Code as Lee Sojung

Baekhyun EXO as Byun Baekhyun

Genre : Family, Romance, Angst, Sad, Tragedy, Friendship

Length : Multichapter

Summary : Ketika waktu Yoonjo semakin menipis, Yoonjo berjuang melawan waktu untuk bisa menemukan belahan jiwanya. Akankah Yoonjo berhasil mengalahkan waktu, atau waktu yang mengalahkannya terlebih dahulu

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Haunted | Taylor Swift – Sad Beautiful Tragic | SM The Ballads – 좋았던 건, 아팠던 건 (When I Was… When U Were…)

Tangled Fate | ninth Chapter

~*~

“Shin Yoonjo sudah mati. Dia sudah mati,”

~*~

 

“Yoonjo-ya,” riang seorang anak kecil berusia empat tahun pada saudara kembarnya. Ia menepuk-nepukkan tangannya seraya memanggil nama Yoonjo yang kini sedang berjalan sambil meraba sana sini akibat matanya ditutup oleh selembar kain.

Yoonjo terus mendekati sumber suara tapi ia tak berhasil menangkap saudaranya itu karena langkahnya yang lamban. Tapi ketika ia berlari untuk mengejar suara saudaranya, jantung Yoonjo mendadak sakit. Anak kecil itu langsung berhenti dan berjongkok seraya memegangi dada kirinya.

“Yoonjo-ya, wae geurae? Jantungmu sakit lagi? Aigoo eotteohke? Mianhae,” seru saudaranya yang langsung melepas penutup mata Yoonjo. Ia melepas tangan Yoonjo yang meremas dadanya dan kemudian menggunakan tangannya untuk merasakan detak jantung Yoonjo. Cepat dan keras, begitulah bunyi jantung Yoonjo saat ini. Wajah Yoonjo sudah memucat dan bibirnya perlahan membiru –membuat saudaranya itu dilanda panik.

“Andwae. Yoonjo-ya, dengarkan Yoona. Jangan biarkan jantungmu mengalihkan dirimu dari Yoona. Kamu hanya perlu mendengarkan Yoona.” Gadis kecil itu berusaha membimbing Yoonjo untuk meredakan pacu detak jantungnya. Ia memeluk Yoonjo seraya menempelkan telinga Yoonjo di dadanya agar Yoonjo bisa mengikuti pacu detak jantung miliknya. “Dengarkan Yoona dan ikuti iramanya. Satu-dua satu-dua satu-dua. Terus ikuti irama Yoona dan masuk ke zona Yoona. Ya terus seperti itu. Shin Yoonjo, apa kamu sudah masuk zona Yoona?”

Yoonjo mengangguk pelan dalam pelukan kembarannya. Ia merasakan kini jantungnya tidak lagi berpacu kencang. Yoonjo tetap berada di posisinya itu sampai akhirnya kembarannya mengatakan kalau ia sudah baik-baik saja sekarang. Yoonjo tersenyum pada kembarannya itu.

“Jika tak ada Yoona, mungkin aku sudah mati. Gomawo,”

“Yah!” bentak kembarannya. “Jangan pernah mengatakan mati. Yoonjo tidak akan mati. Karena Yoonjo sudah masuk ke zona Yoona. Dan Yoona akan selalu menjaga dan melindungi Yoonjo dari apapun juga.”

.

.

.

Sojung memandangi langit-langit kamarnya tanpa berkedip. Ia kembali bermimpi aneh. Ia terus-terusan bermimpi tentang dua anak kembar perempuan. Sejak foto-foto itu datang, Sojung jadi sering bermimpi aneh, entah karena foto-foto itu yang terlalu mengganggu atau karena hal lain.

Semalam ia bermimpi tentang dirinya tengah menikmati makan siang bersama seorang anak kecil berusia empat tahun yang begitu mirip dengannya. Tapi salah satu di antara mereka mulai muntah-muntah. Lalu ada seorang wanita muda –yang wajahnya tampak samar bagi Sojung– terlihat marah karena salah satu putrinya memuntahkan makanannya. Sojung melihat wanita itu memukuli anak kecil malang tersebut bahkan mengurungnya di lemari pakaian. Karena hal mengerikan itu, di mimpi berikutnya jika Sojung melihat gadis kecil itu memuntahkan makanannya dengan segera ia mengunci anak kecil itu di kamar mandi agar wanita kejam itu tidak memukulinya lagi.

Semua mimpi-mimpi itu terasa begitu nyata bagi Sojung. Seolah ia sedang mengulang adegan dalam sebuah film. Hal ini membuat Sojung benar-benar tak bisa tidur nyenyak. Ia selalu terbangun ketika ia melihat wanita muda itu memukuli gadis kecil yang sakit-sakitan –membuat Sojung merasa bersalah karena tak bisa menolongnya.

Sojung terus bermimpi sampai akhirnya wanita muda itu mengantarkannya ke sebuah tempat yang sangat ia kenal, ‘Happy Paradise’. Sojung mengingatnya, kala itu hujan turun begitu deras dan wanita itu menyuruh Sojung untuk tinggal disana sementara waktu sampai ia menjemputnya. Ketika Sojung bertanya dimana saudara kembarnya wanita itu berkata..

“Adikmu sudah mati. Dia mengalami serangan jantung tadi. Appa sedang mengurus pemakamannya jadi Eomma harus membantu Appamu. Kamu tunggu saja disini. Eomma akan menjemputmu.”

“AAAAARRGGHHHHHH!!!!!” jerit Sojung. Semua mimpi itu benar-benar menguasai pikirannya. Hal yang ia lupakan kini kembali hadir di hidupnya. Kenyataan pahit kalau ia memiliki saudara kembar –saudara kembar yang sudah ia lupakan keberadaannya karena wanita itu bilang kalau kembarannya itu sudah mati.

Tapi kini Sojung tahu kalau wanita itu berbohong. Sebab kini Sojung melihat ada seorang anak perempuan yang sangat mirip dengannya tumbuh dengan baik –meskipun tetap terlihat pucat dan kurus. Sungguh Sojung tak akan memaafkan wanita itu jika ternyata kembarannya masih hidup.

Sojung pun memutuskan untuk mendatangi si pengirim surat, K.H.J. dari rumah sakit umum Yanggu, untuk mencari tahu alasan dibalik surat-surat tersebut.

.

.

.

Sojung tiba di rumah sakit umum Yanggu. Ia sendiri tak tahu harus memulai dari mana. Ia hanya memeluk erat semua foto-foto yang disimpannya dalam amplop besar. Ia mengamati keadaan sekitarnya –melihat suster, dokter, pasien serta pengunjung saling berlalu lalang. Sojung benar-benar seperti anak hilang saat ini.

Ia menyusuri koridor rumah sakit. Sojung berjalan kesana kemari tak tentu arah. Tapi ia tak mau bertanya pada orang-orang yang berlalu lalang. Ia hanya berharap menemukan seseorang yang ia kenal disana. Tapi nihil, Sojung tak mengenal siapapun juga disana. Akhirnya Sojung memilih untuk pulang.

Ketika ia berbalik menuju pintu keluar, Sojung melihat sosok yang familiar baginya. Ia melihat Shinwoo berbelok di salah satu koridor di sampingnya. Sojung pun langsung sumringah. Ia berniat mengejar Shinwoo. Tapi sayangnya ia menabrak seorang suster hingga terjatuh dan membuat semua foto yang dibawanya berhamburan di lantai.

“Aigoo. Joesonghamnida. Aku tidak melihat langkahku,” maaf sang suster yang langsung membantu Sojung mengumpulkan semua foto yang bertebaran.

Sojung sendiri tidak mendengarkan maaf sang suster. Matanya fokus ke arah Shinwoo tadi. Tapi sepertinya Shinwoo sudah keluar, sebab arah yang Shinwoo tuju itu adalah arah ke parkiran.

“Foto ini. Bukannya ini adalah foto anaknya Kim Hyojin Ahjumma?” teguran suster itu menyadarkan Sojung.

Sojung hanya memandangi suster itu bingung. Kim Hyojin? Entah kenapa nama itu sangat tidak asing di telinga Sojung. Tidak banyak perempuan bernama Kim Hyojin yang singgah di hidupnya. Tapi begitu mengulang kembali nama itu, akhirnya Sojung memecahkan inisial dari si pengirim surat, -K.H.J sama dengan Kim Hyojin.

Tapi semua hal itu kembali menyadarkan Sojung. Jika foto-foto ini diakui suster sebagai anak dari Kim Hyojin, berarti dia adalah ibu Sojung? Mendadak Sojung merasa amarah perlahan menyelimutinya.

“Kamu mau mengantarkan ini pada Ahjumma? Kebetulan sekali Hyojin Ahjumma baru saja bangun.”

Dan Sojung pun mengikuti suster itu menuju salah satu ruang rawat inap.

Sungguh diluar dugaan Sojung. Ketika akhirnya ia bertemu dengan Kim Hyojin, Sojung tak pernah membayangkan akan melihatnya semenyedihkan ini. Wanita itu begitu tua dan begitu kurus. Matanya begitu cekung dan hitam. Tulang pipinya dan rahangnya juga begitu menonjol karena tubuhnya terlalu kurus. Sojung sampai tidak tega melihatnya.

“Hyojin Ahjumma, ada tamu untukmu. Dia mau mengantarkan foto,” tegur sang suster.

Sojung masih berdiri kaku di pintu kamar. Bahkan ketika suster itu sudah meninggalkan mereka, Sojung masih saja tetap terpaku di tempatnya. Matanya memandang lurus pada sosok Kim Hyojin yang sedang bersandar di ranjangnya. Dan perlahan semua ingatan itu berkelebatan di benaknya.

“Adikmu sudah mati.”

“Dia mengalami serangan jantung tadi.”

“Appa sedang mengurus pemakamannya jadi Eomma harus membantu Appamu.”

“Kamu tunggu saja disini.”

“Eomma akan menjemputmu.”

Sojung mempercayai semua ucapannya. Sojung mempercayai kalau adiknya sudah tiada. Sojung mempercayai kalau ibunya itu menitipkannya pada saudaranya yang memiliki banyak anak. Sojung mempercayai kalau ibunya itu akan kembali menjemputnya. Sojung mempercayai kalau ibunya akan datang dan membawanya untuk menemui adiknya –setidaknya untuk yang terakhir kalinya. Tapi semua itu hanyalah kebohongan belaka. Tak ada satupun ucapan ibunya yang menjadi nyata –termasuk kenyataan kalau adiknya ternyata masih hidup bahkan setelah mereka berpisah.

Sojung yang tumbuh besar dengan mempercayai kalau adiknya sudah meninggal serta ibunya menelantarkannya di panti asuhan, menyimpan dendam yang mendalam terhadap ibunya. Ia sama sekali tak mau mengingat seperti apa wajah wanita yang menelantarkannya itu. Tapi itu juga berpengaruh terhadap ingatannya mengenai adiknya. Sojung bahkan tidak ingat siapa nama adiknya.

Sojung  melihat di samping ranjang Kim Hyojin ada foto Sojung kecil bersama wanita muda –yang tak lain adalah Kim Hyojin muda. Hal yang terlintas di benak Sojung saat ini adalah meraih foto itu dan menghancurkannya. Tapi Sojung tak ingin menciptakan sebuah keributan disini. Ia hanya harus menahan dirinya dari segala emosi.

“Yoona..?” tegur Kim Hyojin. Wanita tua itu sudah memandangi Sojung dengan penuh keharuan. Tapi mendengar Kim Hyojin memanggilnya seperti itu, membuat emosi Sojung memuncak. Karena nama itu mengingatkannya pada masa lalunya yang mengerikan.

“Namaku adalah Lee Sojung, Ahjumma. Ibuku memberikanku nama Lee Sojung. Yang artinya aku ini sangat berharga. Terlalu berharga untuk ditelantarkan oleh orang tak bertanggung jawab,” ketus Sojung.

Sojung akhirnya masuk ke dalam kamar Kim Hyojin. Ia juga menutup pintu di belakangnya. Kemudian ia menghampiri Kim Hyojin dan menunjukkan semua foto yang dibawanya ke pangkuan wanita tua itu.

“Kenapa Ahjumma menerorku dengan semua foto-foto itu? Apa yang Ahjumma inginkan?”desis Sojung. “Kukira kita sudah tak ada hubungan apa-apa lagi, mengingat Ahjumma mengabaikan tangisan anak kecil yang Ahjumma tinggalkan di Happy Paradise.”

Kim Hyojin meraih foto-foto itu dan mengamatinya. Senyum kini tercipta di wajah tuanya. “Uri Yoona yeppeuda.”

Sojung sudah mengepalkan kedua tangannya, menahan dirinya untuk tidak terbawa emosinya. Ia ingat apa yang terjadi ketika emosinya sudah menguasai dirinya –seseorang masuk rumah sakit karenanya. Kebencian sudah menjalar di sekujur tubuhnya sehingga ia tak lagi mengingat yang namanya tata krama. Ia benar-benar tak lagi melihat Kim Hyojin sebagai ibunya ataupun orang yang sudah tua.

“Sudah kubilang NAMAKU ADALAH LEE SOJUNG! BUKAN YOONA!” bentak Sojung.

Sojung mengatur napasnya. Ia kini menjauh dari ranjang Kim Hyojin. Sojung takut kalau tangannya akan bermain jika ia berdekatan dengan Kim Hyojin. Karena saat ini ingin rasanya Sojung membalas semua kelakuan ibunya itu di masa lalu –ketika ibunya selalu menjadikan adik Sojung sebagai pelampiasan stresnya. Dendam sudah benar-benar menyelimuti dirinya.

“Sekarang katakan padaku, dimana dia?” tanya Sojung. “Dimana adikku?!”

Kim Hyojin hanya duduk memandangi foto-foto kedua putrinya. Ia tak pernah berharap bisa bertemu dengan anak-anaknya lagi. Tapi sepertinya Tuhan hendak menghukumnya. Diujung usianya, putra-putrinya kini mendatangi dirinya menuntut jawaban atas semua tindakan yang pernah ia lakukan di masa lalu.

Molla, dia sudah tiada.” Kim Hyojin mengangkat bahunya tak peduli.

Tak bisa lagi mengendalikan emosinya, Sojung pun berlari dan mencengkeram baju yang dipakai Kim Hyojin. “Jangan berbicara seperti itu Ahjumma! Atau kusumpal mulutmu dengan foto-foto ini.”

Kim Hyojin tidak bereaksi sama sekali. Ia bahkan tidak melihat Sojung di matanya –Kim Hyojin memilih untuk melihat hal lain selain Sojung. Ia seolah rela Sojung memperlakukannya seperti itu.

Karena tak ingin menciptakan keributan, akhirnya Sojung melepaskan cengkeramannya pada Kim Hyojin. Ia memilih untuk melawan emosinya untuk tidak menguasai dirinya. Sojung merasa kalau ia lebih baik pergi dari hadapan Kim Hyojin untuk selamanya. Mungkin memang seharusnya ia tak mengunjungi rumah sakit ini. Sojung nyaris menyesali keputusannya.

Sojung merapikan kembali foto-foto yang berserakan di pangkuan Kim Hyojin. Mungkin menganggap kalau ibunya sudah tidak waras adalah jalan terbaik untuk meredakan dendamnya. Setelah selesai merapikan barangnya, Sojung pun berbalik untuk keluar ruangan. Tapi satu foto yang berdiri di nakas dekat pintu kamar mengalihkan perhatian Sojung. Ia tadi tidak melihatnya karena posisi foto itu membelakangi dirinya. Sojung pun meraih foto tersebut dan memandanginya dengan penuh rasa tanya berkecamuk di otaknya.

“Ini siapa?” tanya Sojung dengan suara bergetar.

Sojung menunjuk foto yang di pegangnya. Foto Kim Hyojin dengan seorang pemuda yang sangat dikenalnya. Foto Kim Hyojin dengan Shin Dongwoo –pemuda yang tadi dilihatnya di rumah sakit ini. Sojung jadi berpikir, apa mungkin Shinwoo habis dari tempat Kim Hyojin?

“Itu Shin Dongwoo. Kakakmu. Kakak kandungmu,” jawab Kim Hyojin. “Kamu sudah bertemu dengannya? Dongwoo bilang kalau dia ingin bertemu denganmu.”

Lemas, itulah yang Sojung rasakan saat ini. Tangannya bergetar hebat saat ini. Dalam hati ia terus berteriak kalau apa yang ia dengar adalah sebuah kesalahan. Tak mungkin seorang Shinwoo adalah kakaknya.

“Kebohongan apalagi yang kamu buat, Ahjumma? Aku tidak memiliki kakak. Aku tidak ingat pernah tumbuh bersama seorang kakak lelaki di masa kecilku.”

Kembali Kim Hyojin menghindari tatapan Sojung. Ia hanya memandangi foto Shinwoo seraya tersenyum tipis. “Tentu saja kalian tidak tumbuh bersama. Karena dia tumbuh besar dengan keluarga lain yang lebih mampu untuk mengurusnya.”

Tanpa Sojung sadari, cairan bening sudah memenuhi pelupuk matanya. Ia tak bisa menerima kenyataan ini. Fakta bahwa adiknya masih hidup saja sudah cukup menyakitkan baginya –yang tumbuh besar dengan kepercayaan bahwa adiknya itu sudah mati. Dan kini ditambah dengan kenyataan kalau ia memiliki kakak lelaki yaitu Shinwoo –lelaki yang selalu mengisi hari-harinya dengan canda tawa.

“Aku bisa menjadi oppa untukmu. Kamu mengerti kan? Oppa? Kakak yang bisa kamu andalkan?”

Kini Sojung mengerti kenapa Shinwoo selalu mendekatinya. Sojung kini mengerti kenapa Shinwoo selalu menginginkan Sojung untuk menganggapnya sebagai kakaknya. Sojung kini mengerti kenapa Shinwoo begitu perhatian padanya. Bukan karena Shinwoo menyukainya, tapi karena Shinwoo itu adalah kakaknya. Karena Shinwoo sudah tahu kalau Sojung adalah adik kandungnya.

“Geotjimal (bohong). Geotjimal hajima (jangan bohong). Modu ta geotjimaliya (semuanya ini bohong),” lirih Sojung. Ia benar-benar tak bisa mempercayainya. Meskipun otaknya mengiyakan semua fakta ini, tapi hatinya tidak.

Sojung sudah melemparkan pigura foto yang dipegangnya itu ke nakas di samping ranjang Kim Hyojin –tepat mengenai foto kecil dirinya. Ia kembali mencengkeram baju Kim Hyojin dengan geramnya. “Jangan berbohong lagi padaku!! Kenapa kamu melakukan ini semua padaku?! Apa salahku?!!” jerit Sojung.

Ia terus mencengkeram baju Kim Hyojin seraya mengguncang-guncang tubuh wanita renta itu. Ia juga berteriak kalut, menolak semua hal yang ia dengar hari ini. Sampai akhirnya para suster datang dan memisahkan Sojung dari Kim Hyojin. Para suster itu menggiring Sojung –yang terus memberontak seraya mengeluarkan sumpah serapah– keluar dari kamar Kim Hyojin. Mereka menggiring Sojung sampai keluar rumah sakit dan meninggalkan Sojung disana.

Sojung sudah duduk bersimpuh di teras rumah sakit. Ia benar-benar lemas saat ini.

“Apa salahku, Tuhan? Kesalahanku hanyalah dilahirkan oleh wanita gila itu. Dia benar-benar memberikan kegilaan dalam kehidupanku. Kenapa hidupku harus seperti ini?” isak Sojung.

Ia menekan-nekan dadanya. Sesak yang ia rasakan. Begitu sesak sampai ia tak bisa bernapas. Ia tak mengerti kenapa ibunya itu mengirimkan semua foto masa lalu dirinya. Kenapa ibunya bisa berkata kalau ia menganggap anak bungsunya itu sudah tiada sementara ia mengirimkan semua foto anak bungsunya pada Sojung. Sojung tak mengerti apa tujuan ibunya untuk mengingatkan Sojung pada masa lalunya. Tapi yang pasti, yang Sojung inginkan saat ini adalah menemukan kembali dimana adiknya.

Kemudian hal lain kembali memasuki pikiran Sojung. Hal yang membuat dunianya jungkir balik dalam sekejap. Hal yang membuat Sojung sulit bernapas karena ia merasa seolah udara tidak bisa masuk ke paru-parunya. Hal mengenai kenyataan kalau ia memiliki kakak lelaki. Dan kakak lelakinya itu adalah Shin Dongwoo. Sojung tak tahu apa ia bisa menerima kenyataan yang lebih pahit dari ini, sebab….

“Dia kakakku. Lelaki itu adalah kakakku. Kenapa dunia ini kejam sekali. Kenapa sekalinya aku benar-benar jatuh cinta, aku harus jatuh cinta pada kakakku sendiri.”

 

 

 

 

Sementara itu di salah satu studio band di daerah Myeongdong, tampak Yoonjo sedang memegangi dadanya.

“Yoonjo-ya, wae geurae? Dadamu sakit lagi?” tegur Chanyeol khawatir.

Yoonjo masih memegangi dadanya. Ia tampak kesakitan, bahkan kini Yoonjo terlihat seperti susah bernapas. Melihat gelagat Yoonjo itu Chanyeol langsung mengambil tas Yoonjo dan mengeluarkan kotak obatnya.

Aniyo, Chanyeol-ah. Jantungku tidak sakit,” tolak Yoonjo. “Aku hanya merasa sesak. Aku tak tahu kenapa tapi…”

Airmata Yoonjo perlahan jatuh. Yoonjo tak tahu kenapa ia menangis. Yang ia rasakan saat ini hanyalah begitu sesak dan begitu pedih. Yoonjo menumpahkan pasokan airmatanya. Padahal sudah beberapa hari ini ia tak lagi merasa bersedih. Tapi entah kenapa saat ini Yoonjo merasa sangat terluka.

“Kenapa airmata ini terus mengalir tanpa henti…..?”

.

.

.

.

“Akhirnya. Aku bisa menginjakkan kakiku di rumahmu, Yoonjo-ya,” ujar Shinwoo begitu ia tiba di depan rumah Yoonjo.

Shinwoo mengamati rumah Yoonjo. Rumah dua lantai yang cukup sederhana dengan taman yang cukup asri di depan. Di samping kanan rumahnya terdapat sebuah pohon maple besar yang membatasi rumah Yoonjo dengan rumah besar di sampingnya. Jika dibandingkan dengan rumah-rumah yang berada di lingkungan ini, rumah Yoonjo lah yang paling kecil –seolah rumah itu menyempil di antara elit di daerah ini.

Shinwoo tersenyum senang begitu memasuki kediaman Yoonjo. Shinwoo merasa seolah ia memang sudah lama tinggal disana –sebab rumah itu terasa begitu nyaman baginya. Meskipun sederhana, tapi rumah ini mampu memberikan kesan kekeluargaan bagi Shinwoo.

“Selamat datang di rumahku, Oppa,” sambut Yoonjo. Shinwoo sempat kaget mendengar Yoonjo memanggilnya Oppa –ia belum terbiasa dengan hal itu. “Mana yang lainnya?”

“Nanti menyusul. Aku sudah menyuruh mereka untuk menutup cafe lebih cepat hari ini,” sahut Shinwoo. Ia kini memandangi Yoonjo dengan seksama. “Yaahh, siapa yang tahu kalau karena kamu muntah sehabis makan pasta, aku malah mendapat kesempatan untuk bisa masuk ke rumahmu dan merasakan makanan buatanmu.”

Yoonjo hanya tersenyum pada Shinwoo. Hari ini ia mengundang Shinwoo dan yang lainnya dari Holy cafe untuk makan malam di rumahnya. Hal ini sebagai salam perpisahan dari Yoonjo, sebab ia memutuskan untuk berhenti bekerja di cafe tersebut. Awalnya Yoonjo berpikir untuk setidaknya memperbaiki kekacauan yang ia buat ketika Shinwoo mengajaknya makan di luar. Sebab Yoonjo merasa bersalah karena Shinwoo tampak menyalahkan dirinya sendiri karena sudah memaksa Yoonjo untuk makan di restoran itali itu.

“Begitu Oppa makan masakan uri Appa, pasti Oppa akan ketagihan dan mengerti kenapa aku tak bisa makan makanan selain buatan Appa,” ujar Yoonjo. Ia kemudian menggiring Shinwoo masuk ke dalam rumahnya.

Yoonjo meninggalkan Shinwoo di ruang tamu untuk ke dapur membuatkan minuman. Ia berkutat dengan peralatan dapurnya saat ini –dengan rak penyimpan gelas kaca lebih tepatnya. Ayah Yoonjo menyimpan gelas-gelas kaca mereka di rak atas –yang jauh dari jangkauan Yoonjo. Bahkan ketika ia sudah berjinjit maksimal, Yoonjo masih tak bisa menggapai pintu rak tersebut. Akhirnya Yoonjo memutuskan untuk mengambil bangku agar ia bisa memanjat untuk bisa meraih rak tersebut. Tapi ketika berbalik, Yoonjo dikagetkan oleh sosok Baekhyun yang ternyata sudah berdiri di belakangnya.

“Aku bisa mati berdiri karenamu tahu! Jangan muncul tiba-tiba seperti itu,” protes Yoonjo pelan. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya yang dirasanya memanas saat ini.

Baekhyun tampak tidak bergeming mendengar protes Yoonjo. Perlahan Baekhyun melangkah maju, memojokkan Yoonjo sampai gadis itu terhimpit antara konter dapur dengan dirinya. Nyaris tak ada jarak di antara mereka. Kemudian Baekhyun melayangkan tangannya ke atas kepala Yoonjo.

“Dasar pendek. Sudah tahu pendek masih saja sok mencoba meraih tempat tinggi,” ujar Baekhyun seraya mengambil gelas yang dimaksudkan Yoonjo tadi.

Yoonjo mengangkat kepalanya dan melihat Baekhyun yang kini membuka rak di atas kepala Yoonjo –mengeluarkan gelas-gelas di dalamnya. Yoonjo benar-benar dibuat salah tingkah oleh Baekhyun. Yoonjo berusaha untuk mengendalikan perasaannya saat ini.

“Seperti kamu tidak pendek saja,” Yoonjo balas meledek Baekhyun.

Baekhyun pun menghentikan aktivitasnya dan bertolak pinggang menghadap Yoonjo. “Yah, aku menolongmu untuk mengambil gelas-gelas ini dan kamu bukannya bilang terima kasih malah mengataiku pendek? Kalau aku pendek lalu kamu apa, kurcaci?” protes Baekhyun. “Dan apa-apaan bossmu itu? Kenapa dia datang kesini? Bukannya kamu bilang kalau kamu sudah berhenti dari tempatnya?”

“Nanti yang lainnya juga datang untuk makan malam disini. Sebaiknya kamu temani Shinwoo Oppa di ruang tamu,” ujar Yoonjo. Ia langsung mendorong Baekhyun menjauhi dapur dan mengabaikan protes Baekhyun karena Yoonjo kini memanggil Shinwoo dengan sebutan oppa.

.

.

Baekhyun memandangi Shinwoo dengan malasnya. Ingin rasanya ia mengusir Shinwoo dari rumah ini. Baekhyun selalu merasa terintimidasi jika berada di dekat Shinwoo –entah karena Shinwoo lebih tua darinya atau karena Shinwoo jauh lebih sukses darinya atau karena Shinwoo berhasil mendapat panggilan oppa dari Yoonjo. Tapi Baekhyun berusaha berbesar hati dan mendekati Shinwoo.

“Mana yang lainnya, Hyungnim?” tegur Baekhyun. Karena sejak pertama berkenalan dengan Shinwoo, semua orang di dekatnya selalu memanggil pemuda itu dengan hyungnim, Baekhyun jadi tertular memanggil Shinwoo seperti itu.

“Oh Baekhyun-ssi. Akhirnya aku ada temannya juga. Yang lainnya masih mengurus cafe. Mungkin akan datang agak malam,” sahut Shinwoo.

“Kalau begitu kenapa kamu tidak datang nanti malam saja,” gerutu Baekhyun pelan.

Baekhyun lalu mengajak Shinwoo untuk berkeliling. Tidak banyak yang istimewa dari rumah Yoonjo, kecuali ruang keluarga yang penuh dengan foto-foto. Hal ini membuat Shinwoo berdecak kagum. Sebab foto dari zaman Yoonjo masih bayi sampai sudah sebesar ini tampak bertebaran di ruangan ini.

Shinwoo  meraih satu foto yang tampaknya merupakan foto terbaru. Di foto itu tampak Yoonjo mengenakan topi kerucut khas topi ulang tahun seraya memegang kue ulang tahun dengan Baekhyun duduk di sampingnya serta tiga orang paruh baya di belakangnya –dua lelaki dan satu perempuan.

“Ini Nyonya Shin?” tanya Shinwoo menunjuk foto wanita paruh baya di foto itu.

“Itu Nyonya Byun,” sahut Baekhyun. “Uri Eomma.” Sebelum Shinwoo bertanya lebih jauh, Baekhyun langsung memotongnya dengan menyuruhnya untuk tidak bertanya mengenai ibu Yoonjo, sebab gadis itu akan sedih jika ada yang menyinggung mengenai ibunya.

Shinwoo masih memperhatikan foto itu. Disana Baekhyun merangkul Yoonjo erat sementara Yoonjo tampak melirik ke arah Baekhyun dengan sedikit menundukkan kepalanya. Shinwoo tersenyum melihat foto itu. Kemudian Shinwoo juga melihat pose yang sama di beberapa foto –dimana Baekhyun merangkul Yoonjo dan gadis itu melirik Baekhyun sambil menundukkan kepalanya. Yoonjo terlihat pemalu di semua foto-foto itu. Dan Shinwoo menangkap satu perasaan yang sama ketika melihat foto-foto ini.

Kalau Yoonjo terlihat seperti gadis yang sedang kasmaran di foto-foto itu.

Shinwoo baru menyadari siapa yang Yoonjo suka. Setiap berdekatan dengan Baekhyun, sikap Yoonjo pasti berubah jadi lebih pendiam. Setiap berdekatan dengan Baekhyun, Yoonjo pasti akan memilih untuk menghindari pemuda itu. Setiap berdekatan dengan Baekhyun, meskipun Yoonjo terlihat tidak menyukai kehadirannya tapi wajah Yoonjo selalu merona karenanya. Karena Shinwoo sering memperhatikan Yoonjo, jadi ia tahu perubahan-perubahan sikap Yoonjo tersebut. Shinwoo baru menyadari kalau Yoonjo menyukai Baekhyun.

Waeyo?” tegur Baekhyun. Baekhyun berusaha keras menahan senyumannya begitu melihat ekspresi Shinwoo yang memperhatikan semua foto dirinya dengan Yoonjo. Seolah merasa kalau kemenangan ada di tangannya, Baekhyun menyombongkan dirinya dengan, “Kalau mau melihat foto yang seperti itu dengan berbagai versi aku memilikinya di rumahku. Dua dinding di kamarku di penuhi dengan foto-foto itu. Fotoku dan Yoonjo.”

Shinwoo tidak mendengarkan ucapan Baekhyun. Sebab ketika ia memperhatikan foto Yoonjo yang memegang kue ulang tahun, Shinwoo menemuka seseorang yang tidak asing baginya. Shinwoo pun menunjukkan kembali foto itu pada Baekhyun untuk bertanya dimana di antara dua lelaki paruh baya di foto itu yang merupakan ayah Yoonjo.

Dan Baekhyun menunjuk satu orang yang sejak tadi menjadi perhatian Shinwoo.

Perasaan Shinwoo mulai tidak enak saat ini. Ia akhirnya bertanya siapa nama ayah Yoonjo dan ‘Shin Seunghoon’ merupakan jawaban Baekhyun. Mendadak Shinwoo merasa lemas.

“Sebenarnya donatur meminta untuk merahasiakan identitasnya. Jadi aku hanya bisa memberikanmu sebuah nama. Nama orang yang membiayai perawatan Kim Hyojin adalah Shin Seunghoon.”

Shinwoo ingat persis apa yang dikatakan suster ibunya, bahwa yang membiayai perawatan ibunya itu adalah mantan suami ibunya. Shinwo pernah melihat Shin Seunghoon itu sekali, ketika lelaki itu keluar dari kamar ibunya. Saat itu Shinwoo tidak sempat untuk mengejar apalagi bertanya pada lelaki itu.

“Yoonjo bilang, dia punya saudara kembar. Dimana kembarannya? Aku penasaran dengan kembaran Yoonjo,” tanya Shinwoo dengan suara bergetar. Ia kini melihat foto Yoonjo yang masih balita bersama dengan kembarannya –yang mirip dengan foto balita yang ada di kamar rawat inap ibunya.

“Yoonjo cerita soal Yoona? Ini aneh, Yoonjo tak akan cerita pada siapapun kalau ia punya kembaran. Sebab kembarannya itu tidak disini. Karena suatu hal kembarannya itu tidak tinggal disini. Mereka hidup terpisah sejak kecil,” cerita Baekhyun.

Dan kini semuanya berkumpul menjadi satu. Pria yang sering mengunjungi Kim Hyojin, sekaligus membiayai pengobatannya adalah mantan suami dari ibu Shinwoo. Dia adalah pria yang sama yang diakui Yoonjo sebagai ayah yang selalu mengurusnya sejak masih kecil. Dan Baekhyun bilang kalau Yoonjo tidak suka jika ada yang menyinggung mengenai ibunya –sebab ibunya memisahkan Yoonjo dari kembarannya. Kemudian Yoonjo pernah mengatakan kalau ia menyukai kekasih kembarannya, dan ternyata pemuda yang disukai Yoonjo itu adalah Baekhyun. Sementara Baekhyun adalah kekasih dari Sojung. Shinwoo akhirnya mendapat satu jawaban –bahkan tanpa perlu bertanya langsung pada ibunya.

Kalau ia memiliki dua orang adik. Dua orang adik perempuan –kembar.

 

 

Ketika Yoonjo kembali ke ruang tamu dengan membawa minuman, ia hanya menemukan Baekhyun yang tengah duduk malas di sofanya.

“Mana Shinwoo Oppa? Kamu mengusirnya?!” tuding Yoonjo.

“Niatku sih seperti itu, tapi dia pulang sendiri bahkan sebelum aku mengusirnya,” sahut Baekhyun malas. Ia meraih satu gelas dari nampan yang di bawa Yoonjo kemudian meminumnya.

“Baekhyun-ah,” protes Yoonjo.

Baekhyun sudah meletakkan kembali gelas yang sudah diminumnya itu ke nampan yang dibawa Yoonjo. “Dia bilang harus pergi ke rumah sakit segera. Sepertinya ada kerabatnya yang sakit.”

Perasaan Yoonjo langsung tidak enak. Shinwoo tak mungkin pergi tanpa sempat pamitan dulu padanya. Sepertinya Shinwoo habis mendapat sebuah kabar buruk.

“Semoga tidak terjadi sesuatu pada Shinwoo Oppa.”

.

.

.

Shinwoo membanting pintu kamar rawat inap Kim Hyojin dengan kasarnya. Ia langsung duduk di samping ibunya itu seraya berusaha mengatur dirinya. Sepanjang perjalanan dari rumah Yoonjo sampai ke rumah sakit Yanggu, Shinwoo nyaris terlibat beberapa kecelakaan karena ia tak fokus menyetir mobilnya. Berbagai hal berkecamuk di otaknya. Yang utama adalah kenapa ibunya harus berbohong padanya.

“Eomma, adikku bukan hanya Sojung. Adikku ada dua. Sojung memiliki kembaran. Kenapa Eomma tak mengatakan hal itu padaku?” lirih Shinwoo.

Kim Hyojin yang terbangun akibat hentakan pintu kamar yang dibanting Shinwoo, kini hanya bisa menatap Shinwoo sayu.

“Shin Yoonjo sudah mati. Aku melihatnya meregang nyawa malam itu. Aku menyaksikan sendiri anak itu sekarat. Dia sudah mati,” gumam Kim Hyojin.

Kim Hyojin memandangi kedua tangannya yang kini sudah bergetar hebat. Ia terus menggumamkan mengenai Shin-Yoonjo-sudah-mati. Shinwoo yang melihat tingkah ibunya itu jadi merasa sangat kesal, tapi Shinwoo tak bisa marah pada ibunya itu. Shinwoo tahu kalau ibunya memiliki masalah kejiwaan –dokter yang menangani ibunya yang mengatakan kalau mental ibunya itu tidak stabil. Jadi Shinwoo merasa wajar jika ibunya bisa dengan santainya membuang dirinya dan Sojung. Tapi melihat ibunya terus mengatakan kalau Yoonjo sudah meninggal membuat Shinwoo berada di ujung batas kesabarannya.

“Eomma, Yoonjo masih hidup! Dia masih hidup sampai detik ini! Eomma kenapa kamu melakukan ini padaku?! Pada kami, anak-anakmu?!!”geram Shinwoo. “Apa Eomma tahu. Aku nyaris melamar Yoonjo! Kalau aku tak tahu dia adalah adikku, mungkin aku sudah melamarnya malam ini juga. Apa Eomma sadar apa yang sudah Eomma lakukan?!”

Shinwoo pun menangis. Perasaannya terhadap Yoonjo terlalu dalam. Jika ia bisa memberikan segala yang ia miliki, maka ia akan memberikan itu semua pada Yoonjo. Shinwoo sudah sampai pada tahap seperti itu pada Yoonjo. Melihat Yoonjo menangis saja rasanya seolah hatinya yang diiris-iris. Karenanya hari ini Shinwoo ingin nekat melamar Yoonjo. Ia pikir dengan kebaikan hati gadis itu, pasti Yoonjo tidak akan menolak lamaran Shinwoo dan dengan begitu ia bisa membahagiakan Yoonjo serta tak pernah membiarkan airmata jatuh membasahi pipinya.

Tapi semua itu tinggal cerita. Yoonjo adalah adiknya. Shinwoo tak pernah membayangkan seorang Yoonjo menjadi adiknya. Bagaimana ia bisa membayangkan gadis yang begitu dicintainya sebagai adik kandungnya. Rasanya Shinwoo malu pada dirinya sendiri –malu karena tak bisa mengendalikan perasaannya.

Sesak. Shinwoo merasa begitu sesak saat ini. Ia mencengkeram erat ranjang ibunya –berusaha mengurangi rasa sesak yang memenuhi dadanya.

 

 

“Kamu mencintai kekasih kembaranmu? Aku justru lebih menyedihkan lagi. Aku jatuh cinta pada adikku sendiri,” isak Shinwoo. “Eomma, kenapa Eomma melakukan ini padaku….?”

.

.

.

 

*Chapter 9 end*

Advertisements
FF – Tangled Fate | Chapter 9 | PG15

9 thoughts on “FF – Tangled Fate | Chapter 9 | PG15

  1. Jinjaaaa yaaaaaa… kak beee sukses bkin akuu merinding kudukkkkkk… ini fanfict keceeeeee badaaiiii.. walaupun dri awal readers udh tahu siapa siapa aja yg jadi saudara, tpi cara penyampaian kak bee bnr bnr hebat! Readers masih ngerasa amazing walaupun teka teki udh terungkap dri awal. Gilaaa kak kereeeennn beeeegeeteeeee… suka bgt!!! Stlh beautiful life yg sukses bkin ak terjun didunia per kpopan serta fanfict. Ini fsnfict kedua yang ngaruh bngt dlm sejarahku.. omoo kereeeennnnnn deehhhh ‘👏👏👏👏👏👏👏👏

  2. hazunajohkim says:

    sori bee~ kemaren udah baca, tapi lost connect jadi baru skrg komennya.

    hok, demi ape, sojung demen sama cnu? kirain cnu doang yg demen si yoong, gile. makin keren ceritanya
    semoga si yoong bs mengalahkan waktu!!!! peliiiiiiiisss jan mati! ngomong2 yoong sakit apa? jantung atau liver? oooh jantung. yah? gak bisa apa disembuhin? jantungnya lemah sih, kirain penyakitnya yg jantungnya yang bisa disembuhin pake ring.
    ck, gmn reaksi sojung kalo adiknya si yoong, yg sering dijadiin bullyan dia? wew daebak.

    beeeeeeeeeeeee~

    #keepwritinghwaiting

  3. huhu kasian banget yoonjo, sojung sama shinwoo T.T
    ribet banget sih…
    lagian maknya gak bertanggung jawab gitu sih ih…
    paling kasian sih sojung :((
    apa salah sojung 😦

  4. Elsa Sandra says:

    Ah aku bener-bener gereget sama nih ff T.T bagus banget unnn…. Tapi nyesek ya jadi sojung sama shinwoo yg malah suka sama org yg ternyata 1 darah sama mereka

  5. aaaa ceritanya tambah runyam unni, buat yg lebih runyam lagi ya unn biar konfliknya lebih dapet. Btw aku kasian sama sojung & shinwoo, mereka suka sama sodara kandung sendiri itu gimana rasanya :” pokoknya unni bee emang paling bisa bikin dag dig dug ser (?)

  6. aick says:

    kasian soojung sana shinwoo. menyukai orang yg salah. pdhal soojung baru membuka diri buat jatuh cinta sama orang lain…
    makin lama makin runyam masalahnya. tpi kapan ya yoonjo bakal tau semuanya klo dia pnya kakak laki2 sama ibunya masih hidup?
    konfliknya bikin ikut deg deg an eonni…
    aku tunggu lanjutannya 🙂

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s