FF – Tangled Fate | Chapter 8 | PG15


tangled_fate

Title : Tangled Fate

Subtitle : Can You (Not) Stand By My Side?

Author : beedragon

Cast:

Yoonjo Hello Venus as Shin Yoonjo

Sojung Ladies Code as Lee Sojung

Baekhyun EXO as Byun Baekhyun

CNU B1A4 as Shinwoo

Other Cast:

Chanyeol EXO as Park Chanyeol

Genre : Family, Romance, Angst, Sad, Tragedy, Friendship

Length : Multichapter

Summary : Ketika waktu Yoonjo semakin menipis, Yoonjo berjuang melawan waktu untuk bisa menemukan belahan jiwanya. Akankah Yoonjo berhasil mengalahkan waktu, atau waktu yang mengalahkannya terlebih dahulu

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Haunted | Taylor Swift – You Belong With Me | SM The Ballads – 좋았던 건, 아팠던 건 (When I Was… When U Were…)

Tangled Fate | Eight Chapter

~*~

“Aku tak bisa bernapas kalau tidak melihat dia, tapi aku lebih tak bisa bernapas jika melihat dia bersama kembaranku,”

~*~

 

“Kita sudah sampai,” ujar Shinwoo.

Shinwoo memarkirkan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Sojung. Shinwoo mengantarkan Sojung pulang karena Baekhyun lebih memilih untuk mengantar Yoonjo pulang. Jika dipikir, mungkin memang ini lebih efisien, sebab rumah Baekhyun dan Yoonjo berdekatan sedangkan rumah Sojung satu arah dengan rumah Shinwoo. Lagipula Shinwoo iba melihat Sojung –yang terlihat suram karena sikap Baekhyun di restoran tadi.

Thank you, Shinwoo-ssi,” singkat Sojung yang lalu turun dari mobil Shinwoo.

Ketika Sojung hendak menutup pintu mobil Shinwoo, pemuda itu menahannya. “Sojung-ssi, jika kamu butuh sesuatu, selama aku bisa mengabulkannya, kamu bisa mengatakannya padaku.”

Shinwoo tentu tak tega melihat Sojung yang  tampak muram malam ini. Setidaknya ia ingin menghibur Sojung, membuatnya tersenyum, dan membuatnya melupakan kesedihannya. Apapun akan Shinwoo lakukan untuk menciptakan senyuman di wajah adiknya itu.

“Kalau kamu tak bisa mengabulkannya?” tanya Sojung sambil menahan senyumannya.

Shinwo tampak berpikir sejenak. “Aku.. akan berusaha untuk mengabulkannya dengan cara yang lain.”

Sojung pun tertawa mendengar ucapan Shinwoo itu. Setelah mengucapkan salam, Sojung menutup pintu mobil Shinwoo. Tapi kembali Shinwoo menahannya sebelum Sojung sempat menutupnya.

“Sojung-ssi. Aku.. ada yang ingin aku katakan padamu,” ujar Shinwoo.

Shinwoo merasa tidak sampai hati melihat keadaan Sojung belakangan ini. Ia pun memutuskan setidaknya memberi petunjuk pada Sojung mengenai hubungan mereka. Meskipun Shinwoo belum sanggup mengatakan pada Sojung kalau dia adalah kakaknya –karena Shinwoo takut akan sebuah penolakan– setidaknya Shinwoo ingin agar Sojung bisa menganggapnya sebagai kakaknya.

“Aku sungguh-sungguh. Aku bisa menjadi oppa untukmu. Kamu mengerti kan? Oppa? Kakak yang bisa kamu andalkan?” gugup Shinwoo.

Sojung, yang sudah membungkukkan badannya untuk melihat Shinwoo yang masih berada di dalam mobil, hanya bisa tersenyum.

Sirheo (tidak mau),” sahut Sojung sambil tersenyum.

Tubuh Shinwoo mendadak kaku mendengar penolakan Sojung itu. Meskipun Sojung mengucapkannya sambil tersenyum, tapi terlihat sebuah ketegasan disana. Kalau Sojung tidak menginginkan Shinwoo menjadi kakaknya.

“Aku adalah anak tunggal. Sejak kecil aku hidup sendirian tanpa adik atau kakak. Dan aku akan tetap sendirian seperti ini, tanpa saudara. Lagipula memiliki saudara itu menyedihkan, Shinwoo-ssi. Karena ketika saudaramu itu meninggal maka mau tak mau kamu tumbuh dengan melupakannya. Itu cukup mengerikan.” Dan Sojung pun akhirnya menutup pintu mobil Shinwoo. Sojung kembali membungkukkan badannya untuk mengintip dari balik kaca mobil yang tadi dibiarkannya terbuka. “Kalau mau menjadi seseorang yang bisa kuandalkan, bagaimana kalau besok pagi kamu jemput aku. Ahh, maaf, ini bukan berarti aku menjadikanmu supirku, tapi kurasa aku butuh tumpangan untuk perjalanan esok pagi. Eottae? Sampai ketemu besok!”

Sojung pun meninggalkan Shinwoo yang masih mematung di balik setir mobilnya. Shinwoo tak menyangka kalau Sojung memiliki pemikiran seperti itu. Ia lebih memilih hidup sendirian tanpa saudara, bahkan menganggap orang lain sebagai saudaranya saja Sojung enggan. Shinwoo benar-benar patah arang. Ia sudah tak tahu lagi bagaimana caranya untuk merubah pikiran Sojung.

“Dia tak menginginkanku menjadi kakaknya. Padahal aku adalah kakaknya,” gumam Shinwo nelangsa. “Sepertinya adalah keputusan tepat untuk tidak langsung mengatakan padanya kalau aku adalah kakaknya. Sekarang aku harus bagaimana?”

.

.

.

Pagi ini Shinwoo menepati janjinya untuk menjemput dan mengantar Sojung ke kampus. Hal ini membuat Sojung sumringah. Karena setidaknya ia tidak perlu melewati pagi ini dengan pertengkaran tak berguna bersama Baekhyun.

“Sampai ketemu nanti,” ujar Sojung melepas kepergian Shinwoo.

Begitu berbalik, Sojung disambut oleh Eunbi yang sudah menyilangkan lengannya di dada. Sojung nyaris terlonjak kaget melihat kehadiran Eunbi. Temannya itu sudah menatap tajam mobil Shinwoo yang menjauhi kawasan kampus.

“Sepertinya kamu jadi semakin dekat dengan pelayan cafe itu,” selidik Eunbi.

“Pelayan?” bingung Sojung. Tentu saja ia bingung. Sejak kapan ia bergaul dengan seorang pelayan?

“Lelaki tadi. Bukannya dia pelayan di Holy cafe? Kita kan sering main kesana, jadi aku tahu persis orang-orang yang bekerja disana. Tapi untuk ukuran seorang pelayan, dia cukup makmur juga bisa mengendarai mobil kelas atas seperti itu.”

Mau tak mau Sojung tertawa mendengar ucapan Eunbi tersebut. Ia menepuk pelan pundak Eunbi seraya menjelaskan padanya kalau Shinwoo bukanlah sekedar pelayan di Holy cafe, melainkan pemilik dari cafe tersebut. Ia sangat mengerti akan sifat teman-temannya yang lebih mengutamakan status sosial dibandingkan kepribadian seseorang. Tapi Eunbi tidak lantas melepaskannya begitu saja. Eunbi masih curiga akan hubungan Sojung dengan Shinwoo.

“Kamu menyukainya?”

Pertanyaan Eunbi itu membuat Sojung terdiam. Ia berpikir apa mungkin ia menyukai Shinwoo. Setidaknya Shinwoo selalu menciptakan tawa di hari-harinya yang suram belakangan ini. Shinwoo juga memiliki kepribadian yang baik dan merupakan tipe ideal semua perempuan. Ya, siapapun pasti akan menyukai Shinwoo.

“Jangan menyukainya. Lelaki itu menyukai Yoonjo,” tegas Eunbi. “Setiap aku pergi ke Holy Cafe, aku selalu melihat lelaki itu memperlakukan Yoonjo layaknya seorang putri raja. Menjijikkan.”

Sojung memandangi Eunbi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia meneliti setiap inchi dari Eunbi, mencari apa yang membuat temannya itu tampak begitu dingin pagi ini. Bahkan ketika Sojung bercanda mengenai Yoonjo, gadis itu tidak termakan leluconnya.

“Kamu harusnya bisa lihat kalau pelayan cafe itu dan Yoonjo memiliki sesuatu. Kenapa kamu selalu harus tersangkut dengan orang-orang yang menyukai Yoonjo? Ingat Sojung, Yoonjo-lah yang membuat Baekhyun selalu mengabaikanmu.”

“Apa perlu kamu mengatakannya seperti itu?” Sojung sudah mulai tidak nyaman dengan arah percakapan ini. “Lagipula atas desakan siapa aku sampai harus terjebak dengan Baekhyun?”

“Ngomong-ngomong mengenai Baekhyun, kapan kamu akan memutuskannya?” tegur Eunbi.

Sojung sungguh ingin menghindari percakapan seperti ini. Karenanya belakangan ini ia selalu melarikan diri dengan terus menemui Shinwoo, sebab teman-temannya selalu menyuruhnya untuk menyakiti Baekhyun. Tapi sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan terjatuh juga. Ia tak bisa selamanya menghindari teman-temannya. Meskipun Sojung juga sudah memilih untuk tidak lagi menghukum Baekhyun seperti yang diinginkan teman-temannya ini, tapi ia tak bisa menulikan telinganya atas suruhan-suruhan yang dikumandangkan teman-temannya mengenai menghancurkan Baekhyun. Ia kini bagai mendapatkan buah simalakama.

“Jangan bilang kalau kamu benar-benar mencintai Baekhyun?” cecar Eunbi. “Lee Sojung, ingatlah siapa yang sudah membuatmu malu di pesta ulang tahunmu!”

Sojung mengibaskan rambut bronze panjangnya –jengah dengan semua tuntutan temannya ini. “Tak perlu kamu ingatkan, aku juga sudah tahu. Kenapa kamu malah jadi menyebalkan begini?” gerutunya.

Eunbi tampak belum mau melepaskannya. Ia terus memojokkan Sojung dengan semua tuntutan-tuntutannya. “Ingat akan tujuan awalmu, Sojung. Membuat Baekhyun sakit hati dan terluka, itu adalah tujuan awalmu. Sudah cukup kamu memanfaatkan ketenarannya, sekarang adalah saatnya kamu meninggalkannya.”

Sojung sudah mengerutkan keningnya –kentara sekali ia lelah dengan percakapan ini. Sojung pun berusaha mengalihkan pendapat temannya itu dengan mengatakan kalau jika ia meninggalkan Baekhyun sekarang, maka Baekhyun akan langsung berpaling pada Yoonjo –bahkan tanpa sempat untuk merasakan sakit hati karena putus dari Sojung. Beruntungnya Eunbi termakan oleh semua ucapan Sojung. Jadi pada akhirnya, Eunbi menyetujui semua keputusan Sojung –dengan satu syarat.

“Ingat, Sojung. Buat dia patah hati dan jangan berikan dia kesempatan untuk berpaling darimu. Mereka adalah musuhmu dan akan terus menjadi musuhmu. Jadi kamu harus menghancurkan musuhmu sampai tak berbekas. Mengerti.”

.

.

.

Siang ini Baekhyun memilih untuk tidak terjebak dengan keriuhan yang terjadi di halaman kampusnya. Ia menyepi di pinggir lapangan seraya terus memandang lurus ke satu arah. Percakapannya dengan Yoonjo semalam membuat Baekhyun terus berpikir –berpikir akan apa yang harus ia lakukan agar Yoonjo bisa kembali ke Yoonjo yang dulu, yang selalu tersenyum padanya.

“Oi, siapapun yang merasuki tubuh sahabatku, kuperintahkan untuk keluar dari tubuhnya!!” seru Chanyeol sambil mengguncang-guncang tubuh Baekhyun.

Setelah melihat kalau Baekhyun sudah sadar, Chanyeol pun melepaskannya. Ia memasang senyum khasnya pada Baekhyun, tapi sahabatnya itu tampak tidak tertarik dengan keceriaan yang dibawa Chanyeol.

Neo wae geurae?” bingung Chanyeol.

Masih menatap lurus ke depan, akhirnya Baekhyun bersuara. “Kapan pastinya kamu menyadari kalau kamu menyukai Nara?”

Chanyeol langsung sumringah karena pertanyaan tersebut. Jarang-jarang seorang Byun Baekhyun peduli dengan kisah percintaan dirinya dengan Kwon Nara. Biasanya Baekhyun akan langsung menunjukkan wajah jijiknya jika Chanyeol bercerita tentang Nara. Dengan semangatnya Chanyeol langsung bercerita kapan persisnya ia mulai menyukai Nara. Ia terus bercerita sampai akhirnya ia menyadari kalau Baekhyun tidak memperhatikan lagi ceritanya.

“Kalau kamu sendiri, kapan akhirnya kamu menyadari kalau kamu menyukainya?” Chanyeol balik bertanya. Yang ia maksud disini adalah Sojung. Sebab sepertinya beberapa hari belakangan ini Baekhyun terlihat depresi sekali dengan sikap Sojung yang dingin padanya. Chanyeol pikir sahabatnya ini akhirnya benar-benar menyukai Lee Sojung.

“Sekitar lima belas tahun yang lalu,” sahut Baekhyun pelan.

Jawaban Baekhyun mengejutkan Chanyeol. Bagaimana mungkin Baekhyun mulai menyukai Sojung sejak lima belas tahun yang lalu. Kalau Baekhyun bilang sejak lima belas jam atau lima belas hari yang lalu, mungkin Chanyeol akan mempercayainya. Tapi tidak mungkin lima belas tahun. Chanyeol pun menyadari, kalau yang dimaksudkan Baekhyun disini bukanlah Lee Sojung. Chanyeol tahu persis siapa yang sedang dibahas saat ini. Dalam hati ia berteriak senang, karena akhirnya perasaan vokalis bandnya terbalaskan juga.

Baekhyun kini menghela napas panjang. “Aku takut kehilangan dia. Aku tak mau dia menjauh dariku. Aku harus bagaimana?” gumam Baekhyun, yang lebih terdengar seolah ia sedang berbicara pada dirinya sendiri.

Chanyeol mengernyitkan dahinya. Chanyeol tahu apa penyebab kegalauan sahabatnya ini. Melihat Baekhyun yang begitu suram –yang sangat tidak seperti Baekhyun pada umumnya –membuat Chanyeol jadi khawatir. Sudah cukup ia melihat Yoonjo yang seperti ini, ia tak ingin Baekhyun ikut tertular virus gloomy dari Yoonjo.

“Kalau kamu tidak mau kehilangan dia, maka katakan padanya kalau kamu ingin selalu bersamanya,” nasihat Chanyeol. “Tapi ingat Baek, kamu tak bisa memegang dua tangan sekaligus. Itu artinya kamu harus melepaskan salah satunya.”

“Sayangnya tangan yang satunya sudah melekat begitu erat. Bagaikan lintah penghisap darah, lekat dan tidak akan bisa lepas sampai ia kekenyangan,” ujar Baekhyun yang lalu meninggalkan Chanyeol.

.

.

Baekhyun sudah menyeret Sojung menjauhi arena bazaar saat ini. Ia menarik Sojung masuk ke dalam mobilnya dan kemudian membawanya pergi menuju tempat yang jauh dari kampus. Tak ada tempat yang bisa Baekhyun pikirkan saat ini selain tepian sungai Han yang jarang terjamah manusia.

Begitu tiba di sungai Han, Baekhyun terdiam sejenak. Ia mengatur emosinya agar tidak menyulut emosi Sojung. Sebab ia tahu, apapun yang akan dikatakannya nanti, sudah pasti akan membuat Sojung kesal.

“Kapan kamu akan mengakhirinya?” tanya Baekhyun.

Sojung memandangi kondisi Baekhyun saat ini. Kantung matanya terlihat begitu hitam kentara bahkan nyaris memenuhi wajahnya. Rambutnya juga tampak berantakan. Baru kali ini ia melihat Baekhyun yang begini berantakan. Biasanya lelaki itu selalu tampil dandy dan rapi. Tapi sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikiran pemuda ini sampai ia tak mengurus dirinya seperti ini. Sojung hanya menghela napas panjang melihat kondisi Baekhyun itu.

“Aish jinjja. Kenapa begitu banyak orang yang ingin mengakhiri hubungan kita?” gerutu Sojung. Diluar dugaan Baekhyun, Sojung justru menanggapi ucapannya dengan santai.

“Karena mereka bisa melihat kalau di antara kita sama sekali tidak ada cinta,” sahut Baekhyun datar.

Sojung menyilangkan lengannya di dada dan memandangi Baekhyun takjub. Untuk pertama kalinya setelah Baekhyun dulu pernah sempat ingin mengakhiri hubungan mereka, Baekhyun mengatakan sesuatu mengenai cinta. Sepertinya Byun Baekhyun sudah menyadari arti sebuah cinta, huh? Pikir Sojung.

“Kamu bilang kalau kamu hanya ingin mematahkanku bukan? Kamu sudah berhasil, Sojung-ssi. Aku sudah benar-benar patah saat ini.”

Sojung cukup terkejut mendengar Baekhyun mengaku kalah seperti itu. Seorang Byun Baekhyun yang penuh percaya diri kini mengaku kalah di hadapannya. Seorang Byun Baekhyun yang selalu tersenyum kini tampak terluka begitu dalam. Sojung sampai berpikir apa ia benar-benar sudah menghancurkan pemuda ini? Jika dirinya adalah penyebabnya, maka ia benar-benar merasa takut akan dirinya sendiri.

“Sampai kapan kamu akan mengikatku? Kamu bilang kalau kamu membutuhkanku untuk proyek amalmu ini. Dan sekarang acaranya sudah akan selesai. Kurasa tak ada lagi yang bisa kubantu. Jadi akan lebih baik kalau kita menyelesaikan ini semua. Aku tidak bisa tidak merasa bersalah setiap melihatmu, sebab aku akan selalu teringat akan betapa tidak bergunanya aku sebagai kekasihmu.”

Setiap kata yang Baekhyun ucapkan benar-benar terasa bagaikan sembilu bagi Sojung. Sejujurnya ia juga tersiksa harus terus melukai Baekhyun seperti itu. Apalagi setelah ia tahu kalau Baekhyun itu tidak bersalah. Tapi teman-temannya, yang begitu membenci Yoonjo dan ingin melampiaskannya pada Baekhyun, terus memaksa dirinya untuk menyiksa Baekhyun sampai tak tersisa. Hati nurani Sojung terus menjerit setiap ia melihat Baekhyun memandanginya iba atau setiap Baekhyun menghela napas akibat semua amarahnya. Sojung benar-benar merasa kalau dirinya yang tak memiliki hati.

“Kurasa aku harus berhenti menjadi orang jahat disini,” gumam Sojung pelan. Sojung akhirnya menghela napas panjang. “Arasseo. Malam pembubaran panitia. Berikan aku waktu sampai malam pembubaran panitia. Aku akan membuat isu kalau kita sudah berakhir. Setelah itu, terserah kamu apakah kamu mau langsung memacari perempuan baru atau tidak.”

Sojung lalu terdiam, menunggu reaksi dari Baekhyun. Tapi pemuda itu tidak tampak senang atau kecewa –benar-benar tak ada ekspresi. Sampai akhirnya Sojung menjentikkan jarinya di depan Baekhyun seraya mengulangi kalimatnya tadi.

“Kalaupun aku ingin, kurasa aku tidak bisa. Sebab dia sudah terlanjur menjauhikui.”

.

.

.

Acara bazaar yang diselenggarakan Sojung berlangsung sukses. Semua uang yang terkumpul juga sudah disumbangkan ke badan perlindungan anak untuk disalurkan pada seluruh anak yang kurang mampu yang ada di Seoul dan sekitarnya. Sebagai perayaan untuk suksesnya acara tersebut, sekaligus untuk pembubaran panitia, seluruh mahasiswa yang terlibat dalam charity ini pergi liburan ke Jeju-do. Baekhyun, Yoonjo dan Chanyeol pun ikut wisata ini –sebab mereka juga merupakan bagian dari kepanitiaan acara amal tersebut.

Ketika waktu senggang sebelum malam pembubaran panitia, semua mahasiswa mulai berpencar untuk mencari tempat-tempat wisata yang akan mereka kunjungi. Tak terkecuali Baekhyun dan Yoonjo. Mereka berdua, bersama dengan Chanyeol, pergi mengunjungi Gimnyeong Maze –sebuah wisata labirin buatan yang begitu terkenal di Jeju. Awalnya Yoonjo hanya mengikuti Chanyeol karena ia tak memiliki teman bermain. Tapi ternyata Baekhyun mengikuti mereka sampai di tempat wisata tersebut. Suasana canggung langsung terasa begitu Baekhyun bergabung dengan mereka.

Ketiga anak itu akhirnya berpisah di pintu labirin. Chanyeol memilih untuk berfoto ria di setiap tempat unik yang ia temukan, sementara Baekhyun langsung masuk ke dalam labirin meninggalkan Yoonjo yang masih menghindarinya. Begitu melihat Baekhyun sudah tenggelam dalam labirin, barulah Yoonjo masuk ke dalam labirin dengan memilih jalur yang berbeda dari Baekhyun.

“Yoonjo-ya, jangan sampai tersesat di dalam labirin yaa,” pesan Chanyeol.

Yoonjo hanya menjawab kalau ia berusaha untuk tidak tersesat terlalu jauh dan kemudian mulai menyusuri labirin. Sepanjang jalan, pikiran Yoonjo melayang kemana-mana. Ia pikir untuk langsung mengatakan saja pada Sojung kalau ia adalah saudara kembarnya, setelah itu Yoonjo tidak peduli jika Sojung malah membencinya atau tidak mengakuinya. Setidaknya Yoonjo sudah melakukan hal-hal yang baik pada Sojung. Belakangan ini memang Yoonjo selalu menolong Sojung. Seperti sebelum Sojung berteriak kalau ia haus, Yoonjo sudah lebih dulu menyiapkan minum untuk Sojung, atau ketika waktu makan siang tiba, Yoonjo langsung menyisihkan makanan untuk Sojung. Bahkan Yoonjo menghabiskan uang tabungannya untuk membeli tas limited edition milik Sojung –yang dijual di bazaar kampus– untuk kemudian dikembalikan lagi pada Sojung. Perbuatan baik yang kecil-kecilan seperti itu, yang menurut Yoonjo setidaknya bisa mengurangi kebencian Sojung pada dirinya.

Tapi ada satu hal yang tak bisa menghapus rasa tidak suka Sojung pada Yoonjo. Baekhyun masih terus mengikuti kemanapun Yoonjo pergi. Meskipun Baekhyun tidak menegur Yoonjo ataupun melihat Yoonjo, tapi Baekhyun selalu ada di sekitar Yoonjo. Baekhyun sudah seperti bayangannya yang selalu ada dimanapun Yoonjo berada. Bukannya Yoonjo tidak suka akan kehadiran Baekhyun, justru ia merasa tersiksa. Jika Baekhyun terus-terusan muncul di hadapannya, bagaimana Yoonjo bisa melupakannya. Yoonjo bahkan kini tak bisa lagi membedakan mana halusinasi dan mana kenyataan.

Yoonjo sadar kalau ia sudah tersesat. Ia tersesat dalam labirin bernama Baekhyun. Kini setelah Yoonjo berhasil menemukan dimana Yoona, keinginan Yoonjo yang lain kembali menguasai dirinya. Ia ingin setidaknya Baekhyun memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Tak perlu sampai membuat Yoonjo menjadi kekasihnya, setidaknya Yoonjo ingin Baekhyun juga mencintainya seperti yang Yoonjo rasakan pada pemuda itu selama ini.

Yoonjo tersesat. Ia sudah tersesat di dalam labirin ini. Dengan suara pelannya ia memangil nama Baekhyun –berharap pemuda itu secara ajaib muncul di hadapannya dan menolongnya dari lika-liku puzzle hidup yang memusingkan ini. Dan kini Yoonjo melihat Baekhyun berdiri beberapa meter di hadapannya, menatap Yoonjo tajam seolah ingin menembus pertahanannya.

“Baekhyun-ah,” lirih Yoonjo.

Baekhyun tampak tak bergeming. Ia masih berdiri di tempatnya –nelangsa. Sungguh Yoonjo tak tega melihat Baekhyun yang seperti ini. Setiap Baekhyun menatapnya seperti itu, Yoonjo pasti akan segera mengaku kalah. Yoonjo pun berusaha mundur.

“Yoonjo-ya. Jangan lagi menjauh dariku. Aku mohon padamu,” ujar Baekhyun setelah lama terdiam menatap Yoonjo –mencegah gadis yang kini terlihat akan kembali menghindarinya.

Kembali hati Yoonjo goyah. Kembali keegoisan menguasai dirinya. Ingin mendekati Baekhyun, ingin meraih Baekhyun, ingin memiliki Baekhyun, semua keinginannya itu terus berusaha menjebol akal sehatnya. Tapi wajah Sojung yang penuh kebencian muncul di hadapannya, membuat semua keinginannya itu kembali bersembunyi di hatinya yang paling dalam.

“Baekhyun-ah, kamu membuatnya semuanya menjadi sulit. Jangan seperti ini,” lirihnya. Yoonjo berusaha memohon pengertian Baekhyun.

“Aku sudah berusaha, Yoong. Tapi aku tak bisa. Aku tak bisa menjauh darimu. Meskipun aku sudah berlari darimu tapi aku tetap kembali padamu. Meskipun aku sudah mengganti haluanku, tapi aku tetap menemukanmu. Biarkan aku tetap seperti ini, Yoong,”

“Baekhyun-ah, ingatlah. Sojung adalah -,” potong Yoonjo.

“Masalah Sojung biar aku yang atasi! Aku tidak peduli dengan kata orang, Yoonjo-ya. Karena itu, kumohon padamu untuk jangan melepaskanku. Aku tak bisa bernapas jika tak melihatmu. Karenanya jangan menghindariku,” pinta Baekhyun.

Yoonjo masih terpaku di tempatnya memandangi Baekhyun. Sungguh Yoonjo ingin sekali berlari dan memeluk Baekhyun saat ini juga. Tapi akal sehatnya menahan kakinya untuk tetap diam di tempat. Yoonjo berusaha keras menahan airmata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Semua masalah ini terlalu berat untuk ia pikul sendirian. Dan kini Yoonjo sudah meremas erat maxi skirt pink yang ia kenakan.

“Kamu cukup diam disana dan biarkan aku yang menghampirimu. Kamu tak perlu maju dan kamu juga jangan mundur. Tetaplah disana dan tunggu aku datang padamu. Seperti ini.” Baekhyun pun melangkahkan kakinya mendekati Yoonjo. Satu langkah, dua langkah, sampai akhirnya ia berdiri satu langkah tepat di hadapan Yoonjo.

Baekhyun mengangkat wajah Yoonjo agar menatap dirinya. Baekhyun sudah memikirkan hal ini cukup lama –sejak Sojung membuat Yoonjo masuk rumah sakit. Tapi ia tak tahu bagaimana caranya untuk membuat Yoonjo mengerti akan perasaannya. Sebab Yoonjo selalu saja menjauh darinya, selalu menolak perhatian yang ia berikan padanya, selalu menjerit marah jika Baekhyun melewati batas. Yang Baekhyun inginkan saat ini adalah, untuk sekali ini saja Yoonjo mengerti keinginannya.

“Yoonjo-ya, apapun yang terjadi, aku akan selalu melindungimu. Tak akan kubiarkan sesuatu apapun menyakitimu. Aku akan selalu melindungimu. Jadi biarkan aku berada di sisimu.” Dan Baekhyun pun meraih Yoonjo ke dalam pelukannya. Baekhyun memeluk Yoonjo erat, seolah ingin menunjukkan pada Yoonjo kalau ia bisa melindunginya dari apapun juga.

Berada dalam pelukan Baekhyun, Yoonjo bisa mendengar langsung seperti apa suara detak jantung Baekhyun. Suara milik Baekhyun terdengar bersahutan dengan miliknya. Bagai sebuah musik yang begitu merdu yang pernah Yoonjo dengar. Pelukan Baekhyun terasa nyaman dan hangat –sama seperti ketika ayahnya sedang memeluknya jika Yoonjo merasa ketakutan. Seolah semua masalah yang ada di bumi ini menghilang begitu Yoonjo masuk ke dalam rengkuhannya.

Dan Yoonjo menyadari kalau ia jatuh semakin dalam pada perasaannya. Kini tak ada lagi jalan keluar baginya –keluar dari rasa cintanya pada Baekhyun. Sebab kini Yoonjo benar-benar merasa begitu menginginkan Baekhyun untuk berada di sisinya –selamanya.

.

.

Setelah acara pembubaran panitia, tampak ada sebuah adegan mengejutkan terjadi di halaman hotel. Ada Baekhyun yang tampak sedang berargumen dengan Sojung di dekat kolam renang. Baekhyun tampak sedang menahan Sojung sementara gadis itu terus berontak untuk melepaskan diri dari Baekhyun. Semua mahasiswa Donguk yang ada di hotel itu langsung berkerumun di tepian kolam untuk melihat apa yang sedang terjadi pada pasangan ideal Donguk tersebut –tak terkecuali Yoonjo.

“Sudah kubilang kita berakhir!! Jadi lepaskan aku!! Lihatlah semuanya kini memandangi kita!” bentak Sojung seraya berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman Baekhyun.

Semua mahasiswa kini bergunjung akan penyebab dari sepasang kekasih itu bertengkar. Mereka kini merasa maklum ketika di acara pembubaran panita, suasana di antara keduanya memang terasa begitu tegang dan aneh. Pertengkaran ini menjawab semua keanehan itu.

“Aku sudah tidak mencintaimu, Baekhyun-ssi. Apa perlu kamu mempermalukanku seperti ini? Jadi sekarang lepaskan aku.”

Bukannya melepaskan Sojung, Baekhyun malah memeluknya. Ia memeluk Sojung erat sampai akhirnya gadis itu mendorong Baekhyun dan kemudian pergi meninggalkan Baekhyun jadi bahan tontonan.

Yoonjo yang memandangi kejadian ini mau tak mau merasa sangat sedih. Ia sedih karena melihat Baekhyun di permalukan di muka umum seperti itu. Ia sedih karena Sojung memilih untuk melepaskan Baekhyun. Meskipun ia sedikit –hanya sedikit– merasa senang karena akhirnya Baekhyun  lepas dari Sojung, tapi ia juga merasa bersalah. Ia merasa kalau dirinya lah yang menyebabkan mereka berpisah.

Tapi satu yang tidak Yoonjo dan yang lainnya ketahui, ketika Baekhyun memeluk Sojung, ia membisikkan satu kalimat yang tak di dengar siapapun kecuali Sojung.

“Sojung-ssi, gomawo.”

.

.

Shinwoo sedang mengecek lagi keadaan cafenya. Beberapa stafnya sudah pulang semua, tapi tadi ia tak melihat Yoonjo berpamitan padanya. Shinwoo pun mencoba berkeliling –siapa tahu saja Yoonjo masih tersangkut di cafenya. Begitu ia memasuki dapur, Shinwoo mendapati seorang perempuan dengan seragam cafenya sedang berjongkok di bawah oven. Panik, Shinwoo pun bergegas menghampirinya –Yoonjo yang sedang meringkuk di lantai. Belum sempat bertanya apa yang terjadi pada Yoonjo, Shinwoo menyaksikan gadis itu sedang sesenggukan pada posisinya. Shinwoo akhirnya ikut berjongkok di samping Yoonjo.

Jika Shinwoo perhatikan, sejak gadis itu kembali dari wisata ke Jeju-do, Yoonjo jadi bersikap aneh. Yoonjo jadi lebih sering terlihat kosong. Terkadang Yoonjo tampak memikirkan sesuatu yang begitu berat sampai kerutan di keningnya begitu kentara. Karena hal itu, Jinyoung jadi sering memarahinya, sebab Yoonjo selalu tidak mendengar apapun yang Jinyoung perintahkan padanya.

Shinwoo pikir, mungkin Yoonjo sedang ada masalah dengan keluarganya, atau mungkin sedang bertengkar dengan teman-temannya. Belum lagi ketika ia bertanya pada Chanyeol, pemuda itu tidak memberikan cerita yang pasti mengenai Yoonjo. Shinwoo benar-benar khawatir dengan keadaan Yoonjo belakangan ini.

Yoonjo masih terus menangis dalam diam, sementara Shinwoo hanya duduk di sampingnya tanpa melakukan pergerakan apapun –apalagi bersuara. Yoonjo terus menangis sampai akhirnya ia bersuara dalam tangisannya.

“Aku adalah perempuan yang jahat, Hyungnim. Aku jahat dan serakah. Aku begitu mengerikan sampai aku tak berani untuk melihat diriku sendiri.”

Shinwoo tak tahu apa yang terjadi pada Yoonjo yang terus merutuki dirinya seperti itu. Tapi Shinwoo tahu kalau Yoonjo sedang merasa tidak percaya akan dirinya sendiri. Entah apapun yang sudah Yoonjo lakukan sampai ia merasa begitu terpuruk, Shinwoo akan tetap berada disisinya untuk menghibur gadis itu.

Shinwoo menggiring Yoonjo untuk duduk di atas konter dapur. Sementara ia berdiri canggung di samping Yoonjo sambil menunggu sampai tangisan Yoonjo mereda. Shinwoo tidak menyela, ia tidak bertanya, ia juga tidak mengusik Yoonjo. Shinwoo hanya berdiri sambil sesekali mengusap punggung Yoonjo pelan.

Setelah tangisan Yoonjo mereda, Shinwoo pun menyodorkan segelas air untuknya. Cukup lama mereka terdiam. Shinwoo menunggu Yoonjo berbicara, sementara gadis itu berusaha menenangkan dirinya.

“Yoonjo-ya, kamu bisa menceritakannya padaku. Mungkin jika kamu cerita padaku, kamu bisa sedikit melepas bebanmu ini. Aku tak tahu apa yang bisa kulakukan untuk mengurangi kesedihanmu saat ini. Tapi aku akan melakukan apa saja untuk membuatmu kembali tersenyum, Yoonjo-ya.” Apapun akan kulakukan untukmu, Yoonjo-ya.

Yonjo tersenyum mendengar ketulusan Shinwoo tersebut. “Hyungnim, dibandingkan sosok seorang hyungnim, kamu lebih cocok dengan sosok seorang oppa.” suara serak Yoonjo akhirnya bergema di dapur. “Apa boleh aku memanggilmu oppa?”

Shinwoo hanya mengangguk pelan. Tentu saja ia lebih senang jika Yoonjo memanggilnya oppa. Setidaknya kata oppa terdengar lebih dalam maknanya dibandingkan hyungnim.

“Oppa ingat, dulu Oppa pernah bertanya mengenai orang yang kusukai?”

Jantung Shinwoo nyaris berhenti mendengar ucapan Yoonjo. Bukannya Shinwoo lupa akan hal itu, tapi ia berusaha melupakan kalau gadis yang disukainya ini ternyata menyukai orang lain. Mendengar Yoonjo membuka percakapan mereka dengan menyinggung mengenai masalah orang yang ia sukai, sepertinya orang tersebutlah yang sudah membuat Yoonjo sampai terpuruk seperti ini. Siapapun orang itu, Shinwoo berharap ia tidak pernah bertemu dengannya. Sebab kalau sampai ia bertemu dengan pemuda itu, sudah pasti Shinwoo akan memberinya pelajaran.

“Aku dulu pernah bilang kalau aku tidak tahu apakah aku bisa terus menyukainya atau tidak. Tapi sebenarnya, aku menyukainya. Sejak dulu aku menyukainya hingga saat ini pun masih menyukainya dan akan terus menyukainya. Aku tak bisa menghentikan perasaan ini. Ia tumbuh terlalu tinggi, terlalu besar sampai aku tak bisa mencabutnya,” cerita Yoonjo pelan.

Shinwoo terdiam. Meskipun kini ia memasang senyuman di wajahnya, tapi sesungguhnya Shinwoo kini merasa sangat sedih. Tentu saja karena kini ia baru saja ditolak –bahkan sebelum ia mengutarakan perasaannya. Pedih memang, tapi Shinwoo berusaha keras untuk tidak menunjukannya. Setidaknya ia harus membuat Yoonjo melupakan apapun itu kesedihannya saat ini.

“Aku menyukai pria yang salah. Pria itu sudah menjadi milik orang lain. Ahh bukan orang lain,” Yoonjo mengoreksi ucapannya. “Dia adalah kekasih kembaranku. Aku mencintai kekasih kembaranku. Dan aku masih menyimpan perasaan ini padahal aku tahu dia adalah kekasih kembaranku.” Dan Yoonjo kembali menangis.

Yoonjo benar-benar memberikan berbagai kejutan pada Shinwoo malam ini. Betapa Shinwoo sangat terkejut mengetahui kalau Yoonjo ternyata memiliki kembaran. Shinwoo tak pernah tahu, sebab memang ia tak pernah melihat Yoonjo bersama dengan kembarannya. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah kembaran Yoonjo itu memiliki pribadi yang lembut seperti Yoonjo.

“Aku adalah perempuan yang mengerikan. Aku jatuh cinta pada orang yang salah. Meskipun aku sudah tahu kalau itu salah, tapi aku tak bisa menghentikannya. Aku tak bisa bernapas kalau tidak melihat dia, tapi aku lebih tak bisa bernapas jika melihat dia bersama kembaranku. Rasanya sesak disini.” Yoonjo menekan-nekan dada kirinya.

Shinwoo menahan tangan Yoonjo untuk tidak menyakiti dirinya seperti itu. Tak tahan melihat Yoonjo  yang terus menyalahkan dirinya seperti itu, akhirnya Shinwoo meraih Yoonjo dan memeluknya. Ia menepuk-nepuk punggung Yoonjo  seraya berusah menenangkannya.

“Tidak ada yang salah jika menyinggung masalah cinta. Kamu bukanlah perempuan mengerikan karena mencintai seseorang. Karena mencintai seseorang bukanlah sebuah kesalahan. Cinta bukanlah dosa, Yoonjo-ya,” nasihat Shinwoo.

Shinwoo terus meyakinkan Yoonjo kalau perasaannya  itu tidak salah. Shinwoo lalu mencoba memanfaatkan kesempatan ini untuk merubah hati Yoonjo. Ia menyuruh Yoonjo untuk belajar menyukai orang lain. Ia meminta Yoonjo untuk mencoba melihat lelaki-lelaki di sekelilingnya. Setidaknya jika Yoonjo mau mencoba membuka hatinya pada orang lain, maka Shinwoo memiliki harapan untuk bisa mengubah hati Yoonjo.

“Jika kamu mencoba untuk membuka hatimu, perlahan tapi pasti perasaanmu pada orang itu pasti akan memudar.”

Yoonjo yang sudah kembali meredakan dirinya, hanya bisa menundukkan kepalanya pasrah. “Aku sudah mencoba. Aku sudah mencoba untuk jatuh cinta pada lelaki lain. Ahh belum sampai pada tahap jatuh cinta, tapi aku sudah mencoba untuk menyukai lelaki lain. Tapi aku tak bisa. Meskipun lelaki lain itu terus mencoba menerobos masuk ke dalam hatiku, tapi hati ini tak mau membukakan pintunya. Aku sudah terjebak. Aku sudah terjebak pada perasaanku sendiri. Dan tak ada jalan keluar bagiku.”

 

Shinwoo pun sadar.

 

Kalau ia tak memiliki harapan untuk membuat Yoonjo menyukainya.

.

.

.

Yoonjo melangkahkan kakinya menuju kamarnya dengan gontai. Ia tak punya tenaga, bahkan untuk sekedar mengambil segelas air putih di dapur untuk tenggorokannya yang serak. Yang Yoonjo inginkan saat ini hanyalah kasurnya yang empuk dan melupakan semua kesedihannya. Menangis begitu lama membuat tenaga Yoonjo benar-benar terkuras. Untungnya ia tidak mendapat serangan jantung di cafe tadi.

Begitu memasuki kamarnya, Yoonjo mendapati Baekhyun sudah duduk di meja belajarnya. Entah darimana pemuda itu masuk ke kamarnya –mungkin dari jendela yang memang tak pernah Yoonjo kunci. Saat mata mereka bertemu, saat itu pula Baekhyun tahu kalau ada yang tidak beres dengan Yoonjo. Belum lagi wajah Yoonjo terlihat begitu sembab.

“Ada denganmu? Apa terjadi sesuatu di cafe? Katakan sesuatu padaku, Yoong,” khawatir Baekhyun. ia kini meraih Yoonjo dan menggiringnya menuju tempat tidur Yoonjo. Begitu mendudukkan Yoonjo di kasurnya, Baekhyun lalu meraih anak rambut Yoonjo untuk kemudian diselipkan di belakang telinga gadis itu.

“Kenapa dengan wajahmu, Yoong? Kamu habis menangis?” ujar Baekhyun. “Apa karena aku?”

Yoonjo menghindari mata Baekhyun. Ia hanya menatap tangan Baekhyun yang kini menggenggam tangannya. Begitu hangat, dan Yoonjo tak ingin melepaskannya. Kini Yoonjo kembali diliputi rasa bersalah.

“Aku tak ingin menyakiti Sojung. Aku tak ingin menyakiti Yoona. Dulu dia selalu memberikan semua miliknya padaku dan kini aku tidak ingin merebut apa yang sudah menjadi milikinya,” gumam Yoonjo.

Baekhyun yang duduk di hadapan Yoonjo, meraih wajah gadis itu. Ia menatap Yoonjo tepat di matanya. “Yoonjo-ya, aku bukan milik siapa-siapa.”

Entah pengertian seperti apa lagi yang harus Baekhyun tunjukkan pada Yoonjo agar gadis itu bisa membuka hatinya. Mungkin Yoonjo tak ingin terlihat seperti orang ketiga yang merusak hubungan orang lain –hubungan saudaranya sendiri– tapi Baekhyun tidak peduli. Meskipun nanti Yoonjo akan mendapat julukan orang ketiga ataupun wanita penggoda, Baekhyun akan melindunginya. Bahkan dari kesalahpahaman kembarannya sendiri.

“Aku akan mengurus Yoona. Aku akan membuat dia menyadari keberadaanmu. Aku akan membuat dia menangis karena sudah membuatmu menangis. Kamu tenang saja, Yoonjo-ya.”

.

.

.

Pagi ini Sojung mengawali harinya dengan merias dirinya di kamarnya. Sojung sedang menata rambutnya ketika pelayan rumahnya datang dan memberikan sepucuk surat. Sojung memandangi surat itu dengan bingung, sebab tak biasanya ia mendapatkan sebuah surat. Zaman sudah canggih, siapa juga yang masih berkirim surat di masa seperti ini –disaat telepon dan internet mempermudah semua komunikasi jarak jauh. Penasaran, Sojung pun mengecek alamat si pengirim.

K.H.J.

Rumah Sakit Umum Yanggu

Yanggu-si, Gangwon-do

Sebuah surat dari daerah Gangwon-do. Sojung tak ingat kalau ia punya kenalan di daerah Gangwon-do. Yang lebih anehnya lagi, surat ini berasal dari sebuah rumah sakit. Siapa juga kenalan Sojung yang berurusan dengan rumah sakit. Satu-satunya kenalan Sojung yang punya koneksi dengan rumah sakit hanyalah Byun Baekhyun –sebab ayah Baekhyun adalah dokter ahli bedah jantung yang cukup terkenal di Seoul. Begitu Sojung melihat inisial yang terpampang di alamat pengirim, Sojung tak bisa menemukan sebuah nama yang cocok dengan inisial tersebut.

“K.H.J., neon nuguji (Kamu ini siapa)?” gumam Sojung.

Ia akhirnya membuka surat tersebut. Ternyata isinya hanya selembar foto –foto dua orang bayi yang sedang tidur berdampingan. Di belakang foto itu tertera beberapa angka –yang Sojung tebak sebagai tanggal. Entah kenapa angka tersebut sangat familiar baginya.

“Ini bukan tanggal lahirku??” bingung Sojung. Ia pun berpikir apa mungkin si pengirim surat salah alamat.

 

Tapi tidak.

 

Sebab surat-surat yang sama terus berdatangan ke hadapan Sojung. Mulai dari sepasang bayi perempuan yang sedang di gendong oleh seorang lelaki. Di foto tersebut terdapat tulisan perayaan satu tahun si kembar. Kemudian surat berikutnya berisi foto dua balita memakai baju kembaran. Dua bayi itu begitu identik, yang membedakan hanyalah salah satu di antara mereka terlihat jauh lebih sehat dibandingkan yang lain.

Sampai akhirnya surat yang datang bukan lagi berisi selembar foto –melainkan dua lembar foto. Kali ini foto seorang anak kecil –yang Sojung yakini adalah dirinya sendiri sebab foto itu diambil di Happy Paradise, dan satu foto anak kecil berwajah mirip dengannya yang tengah di pangku oleh lelaki yang sama yang dulu pernah menggendong dua kembaran itu.

“Ini.. apa ini fotoku?” kaget Sojung. Betapa ia sangat terkejut, sebab si pengirim surat memiliki fotonya ketika berada di Pyeongtaek dulu. Padahal Sojung sudah memastikan kalau foto-foto dirinya yang di Happy Paradise tidak beredar sembarangan.

Kekhawatiran Sojung terus berlangsung. Surat-surat berisi dua foto anak perempuan terus menghantui dirinya. Yang anehnya setiap ia menunggu tukang pos, surat itu tak datang ke kediamannya. Sojung kini dilanda ketakutan. Karena masa lalunya yang sudah ia lupakan, perlahan merayapi pikirannya.

.

.

.

.

 

*Chapter 8 end*

logo1

Tangled Fate the series

안녕!!!

ohemji ohemji ohemji.. kenapa chapter ini mellow banget?????? dan demi apa Yoonjo jadi lemah banget disini.. kemana Yoonjo yang selalu ceria?? hastaga.. dan chapter depan… rasaya bee ga tega mau publishnya.. takut kalian patah hati #uppss
lastly, thanks for your support!! u guys are my vitamin 🙂
안녕!! 뿅! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – Tangled Fate | Chapter 8 | PG15

6 thoughts on “FF – Tangled Fate | Chapter 8 | PG15

  1. Omoooo makin asik ajaa ini ff.. ak ga sabar nunggu eksprrsi soojung klo udh bnrbnr tau kalo yoonjo kembarannya. PAsti dia. GERASa antara marah sedih sebel.. duh cmpur adukkk.. trs nnt baekjyun sama siapaa donggggg…. sama akii aja deh weke k.. next chp ditunggu kaka bee.. fig ingggggg

  2. dih antara sebel sebel sedih bacanya.. nggak kebayang kalo ada di posisi yoonjo..
    dan part cnu yoonjo bikin aku potek, gatau kenapa aku malah ngeship mereka berdua XD
    aku berharap nantinya bakal happy ending, pertengahan aja konfliknya udah bikin sedih.. gak kuat kalo berakhir sedih juga/?

  3. yehorat says:

    KAAAAAK LANJOT KAK ASEK BANGET. MULAI BAHAGIA PAS DI SINI YOONJONYA MAU DIPELUK AAAAA. AKU YAKIN ITU YG NGIRIM SURAT ADALAH BAEKHYUN. YAKIIIIN. LANJOT YE KAK, FAITING!/?

  4. hazunajohkim says:

    aaaaaaaaaAAAAAh eh ke caps bee wakakaka sebeeeeeeellllll Yoonjo mellow, Sojung tobat tapi emg udh seharusnya sih tobat, dia terlalu kejam sampai-sampai di melupakan masa lalunya, tapi pas mabuk dia ingat semua. jahatnya lagi dia menolak shinwoo sebagai abangnya bah….*readeryanginipengenbangetpunyabang* *curcol* *nangis dipojokan*
    skrg tgl bagian shinwoo sadar dia menyukai adiknya sendiri, eh? jan blg, cuplikan di teaser itu pas yoonjo meninggal lagi.
    …..APA??! kyaaaaaa yoonjo – sojung hrs bertemu dan baek-yoong harus jadian #bah gak kook ini kayaknya sad ending. ah apa setelah sojung ketemu yoonjo sbg kembarannya, sojung bakal mengusahakan penyembuhan bg yoong? apakah mrk berdua akan bertemu dg ibunya.
    apakah ibunya sdh ingin bertemu dengan mrk bertiga? ++ sama suaminya itu? dish zzzz ada aja perempuan begitu, kayaknya dia punya mental yang aneh. ya sudah saya tdk mau emosi lg puasa wkwk
    ditunggu bee~ #keepwritinghwaiting

  5. maknae98 says:

    yeaahhh!!! bae akhirnya nyadar jga klo dia cinta sma yoonjo, nah masalah nya ama yoonjo nih, dia tu baik bgt smpe rela lepasin baek buat sojung.. mdah2an baek nyatain kalo dia cinta sma yoonjo, trus yoonjo nya bahagia, lalu yoona… kuharap dia mlai bsa nerima kenyataan klo dia pnya saudara kembar. egois bgt rasanya sojung gak mau pnya saudara.. shinwoo jatuh cinta sma adiknya sendiri, wkwkwk dia gak tau klo sojung kembar.. kasiaann untung dia cepat sadar klo yoonjo cma cinta baekhyun..
    lalu itu yg surat, kerjaan baekhyun ya?
    d tunggu lanjutannya eonni

  6. aick says:

    antara seneng sama sedih (dikit) sojung putus sama baek.hahaha
    tpi seenggaknya baek udah single jdi dia bisa jagain yoonjo. si baek kayaknya udah suka dri dlu tpi gak jujur ke yoonjo, gak tau deh karena dia takut ditolak sama yoonjo atau gak mau persahabatannya hancur.
    haduuh susah deh klo udah hubungannya kayak gtu.
    yah semoga setelah ini masing2 dri mereka bisa jujur sama perasaannya…
    tpi sapa yg ngirim surat ke sojung?? jdi penasaran…
    ditunggu next chap eonni 😀

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s