FF – 다른 동화 (Different Fairytale) | Snow White and The Dwarf – Chapter 1 | PG15


Title : Different Fairy Tale

Subtitle : Snow White and The Dwarf

Author : beedragon

Cast:

MInah Girl’s Day as Bang Minah

Sera Nine Muses as Nyonya/Madam Ryu / Ryu Sera

Ken VIXX as Ken Lee / Lee Jaehwan

Genre : Drama, Romance

Length : Multichapter

Summary : Jika aku adalah Putih Salju, maka kamu jadi siapa? | Kurcaci | Kenapa kurcaci? Di akhir cerita Putih Salju ‘kan tidak menikah dengan kurcaci, melainkan dengan pangeran? | tapi kurcaci dan Putih Salju memiliki hubungan yang dalam, lebih daripada hubungan Putih Salju dengan pangeran.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Minah (GIRL’S DAY) – You And I (니가내가) | VIXX (Ft. Minah of GIRL’S DAY) – You’re Mine / Stop Enduring (그만 버티고) | TAEYANG – Stay With Me (Ft. G-DRAGON)

Snow White and The Dwarf | Chapter 1

~*~

“Pada jaman dahulu kala, ada sepasang raja dan ratu yang begitu mendambakan kehadiran keturunan bagi kerajaan mereka. Setelah penantian yang panjang, sang ratu akhirnya mengandung. Kerajaan menyambut berita gembira ini dengan suka cita. Saat sang ratu sedang berjalan-jalan di taman kerajaan di sebuah musim dingin, sang ratu takjub akan betapa putihnya salju yang menghiasi taman kerajaan, betapa merahnya sebuah bunga mawar yang berusaha hidup di tengah musim dingin ini, serta betapa hitamnya bulu burung gagak yang terjatuh di hamparan salju. Sang ratu pun berdoa, jika ia memiliki seorang putri, ia ingin anaknya itu memiliki kulit yang putih seputih salju, rambut yang hitam legam sehitam bulu burung gagak, dan bibir yang merah merona semerah bunga mawar. Dan akhirnya sang ratu melahirkan seorang putri. Ratu menamai putrinya itu Putih Salju, dengan harapan agar putrinya memiliki hati serta kepribadian yang putih dan suci seperti salju di musim dingin.”

Anak lelaki itu berhenti membacakan buku dongengnya. Ia lalu berpaling menatap gadis kecil yang sudah terlelap di sampingnya. Gadis kecil yang memiliki kulit pucat seperti porselen, rambut hitamnya yang panjang sebahu berkilauan di terpa lampu baca yang ada di nakas di samping ranjang, serta bibirnya yang merah tampak sedikit terbuka –menandakan kalau gadis kecil itu sudah berada jauh di alam mimpinya.

Anak lelaki yang berusia 8 tahunan itu tersenyum penuh kasih menatap gadis kecil yang usianya sekitar 3 tahun dibawahnya tersebut. Perlahan ia merapikan posisi tidur gadis kecil itu agar berada di posisi yang nyaman. Kembali, senyum tulus menghiasi wajah tampannya. Jika diperhatikan lebih seksama, tampak kemiripan yang nyata diantara kedua anak kecil itu. Sama-sama berkulit putih pucat, bibir yang merah serta rambut hitam yang memahkotai kepala mereka. Siapapun yang melihat mereka pasti akan menebak kalau mereka adalah sepasang saudara kandung dengan kemiripan yang begitu sempurna.

Adalah Lee Jaehwan, sang anak lelaki, dan Bang Minah, sang anak perempuan. Sepasang piatu yang mencoba menghabiskan masa kecil mereka tanpa kehadiran seorang ibu. Jaehwan merupakan anak dari penasihat Tuan Bang –ayah Minah. Jaehwan dan Minah sudah tumbuh besar bersama karena kediaman Jaehwan sendiri berada tak jauh dari kediaman keluarga Bang. Menyedihkan memang, ketika Jaehwan begitu mendambakan seorang adik, ia harus kehilangan ibu dan calon adiknya. Oleh sebab itu, Jaehwan sangat menyayangi Minah yang sudah seperti seorang adik baginya. Sementara Minah juga baru saja kehilangan ibunya yang meninggal karena sakit parah yang diidapnya. Dan Jaehwan pun berusaha menjadi sosok kakak sekaligus ibu bagi Minah, sementara ayah Minah –yang tampak terlalu sibuk untuk mengurus putrinya– harus berkutat dengan perusahaannya agar mereka tetap bisa menjalani hidup yang berkecukupan.

Oyasumi, Himesama (selamat malam/tidur, putri). Onii-chan (kakak) akan selalu menjagamu,” ujar Jaehwan. Ia kemudian mendekatkan wajahnya untuk mengecup kening Minah kecil.

Jaehwan dan Minah memang berdarah asli Korea Selatan. Tapi mereka lahir dan besar di Jepang, oleh sebab itu mereka lebih terbiasa memakai bahasa Jepang dibandingkan bahasa ibu mereka. Karena keluarga Bang dan keluarga Lee tidak terlihat seperti orang Korea, jadi sepertinya tak ada yang menyadari kalau Jaehwan dan Minah merupakan asli Korea.

“Ken-chan?” tegur suara berat seorang lelaki paruh baya yang baru saja memasuki kamar dengan nuansa serba pink itu.

Tampak lelaki paruh baya menghampiri kedua anak kecil itu dengan sedikit mengenda-endap –takut jikalau si gadis kecil, terbangun karena suara-suara yang ia timbulkan. “Minami sudah tidur?”

Jaehwan yang masih memegang buku dongengnya itu hanya mengangguk menjawab pertanyaan lelaki itu. Ia tetap memandangi Minah sampai akhirnya lelaki paruh baya tadi tiba di samping kasur mereka.

“Ken-chan, gomen ne (maaf). Oji-san (paman) sudah merepotkanmu sampai harus mengurus Minami seperti ini,” ujar lelaki paruh baya yang tak lain adalah ayah Minah, Tuan Bang.

Daijoubu (tidak apa-apa), Oji-san. Ken mengerti kalau Oji-san memiliki tanggung jawab besar terhadap perusahaan. Sementara Oji-san menolong hidup banyak orang, Ken akan merawat Minami. Lagipula Ken tidak sendirian dalam mengurus Minami. Ada banyak obasan (bibi) di rumah ini yang membantuku,” sahut Jaehwan.

“Oji-san tahu,” ujar Tuan Bang merasa bersalah. Ia tampak tak tenang di samping Jaehwan. Seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tak tahu bagaimana mengatakannya.

Doushita no (ada masalah apa), Oji-san?” tanya Jaehwan. Tentu saja Jaehwan hapal dengan sifat Tuan Bang ini. Jika Tuan Bang tampak tidak tenang seperti itu, pasti ada suatu hal yang akan terjadi –persis seperti ketika ia mengabari Minah kalau Nyonya Bang sudah tiada.

Tuan Bang akhirnya menarik napas panjang dan memutuskan untuk menyampaikan niatnya pada Jaehwan. “Semua ini akan segera berakhir, Ken-chan. Kamu tak perlu lagi repot menjaga Minami. Karena Oji-san sudah menemukan seorang ibu untuknya. Oji-san akan menikahinya minggu depan. Oji-san akan membawa Minami untuk tinggal di Korea,  tempat ibu barunya.”

Jaehwan tahu kalau saat seperti ini akan datang. Tapi ini terlalu cepat baginya –bagi Minah. Padahal hari ini tepat 49 hari Nyonya Bang meninggal, tapi dengan cepatnya Tuan Bang mendapatkan pengganti. Tentu saja Jaehwan mengkhawatirkan Minah. Apalagi jika yang dimaksud dengan ibu  itu adalah seorang gadis berusia dua puluh satu tahun, yang belum lama ini ditemui Tuan Bang ketika ia kunjungan kerja ke Korsel.

Begitu juga dengan Minah. Jaehwan tak mau Minah tumbuh dengan mengenali istri baru ayahnya itu sebagai ibunya. Tapi Jaehwan bisa apa, karena semua keputusan ada di tangan Tuan Bang.

~*~

Tiga belas tahun telah berlalu sejak kedatangan wanita baru dalam keluarga Bang. Dan sejak saat itu pula, rumah keluarga Bang selalu diliputi ketegangan.

Seperti biasa, sebuah hari tidak akan sempurna dijalani keluarga Bang –terutama Minah, jika tidak dimulai dengan teriakan Nyonya Ryu Sera –ibu tiri Minah –yang memulai aktifitasnya dengan menyiksa waktu istirahat Minah. Dan biasanya hal ini akan berakhir dengan keributan besar di rumah yang tak pernah sepi dari jerit emosi sang nyonya besar.

“Minah, bangun!” titah sang nyonya, seorang wanita berusia sekitar tiga-puluhan dengan wajah yang sudah full make up serta pakaian gemerlap –yang lebih cocok untuk dikenakan di pesta malam hari.

Ia sudah menyibak selimut yang menggulung badan Minah dan menyingkirkannya jauh dari jangkauan gadis itu. Ia lalu meraih salah satu kaki Minah dan menariknya ke ujung kasur hingga hanya setengah badan Minah yang masih menempel dengan kasur.

Kesal karena tidurnya diganggu dengan cara yang sangat tidak menyenangkan, Minah pun menendang siapapun yang menarik kakinya tersebut dan lalu duduk di pinggir kasur –sebab bokongnya sudah hampir meninggalkan kasur akibat ulah sang nyonya. Ia mengedarkan pandangannya  dan akhirnya menemukan siapa tersangka utama yang mengganggu tidurnya. Minah memandangi wanita, yang belasan tahun lebih tua darinya itu, tanpa emosi sedikitpun tergurat di wajahnya.

“Bukankah sudah kubilang untuk jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu itu!” kesal Minah pada wanita yang notabene adalah ibu tirinya itu.

Sang nyonya tampak tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan Minah. Ia bahkan tidak merubah ekspresinya. Ia meraih handuk yang ada di depan pintu kamar mandi Minah. Sang ibu tiri lalu kembali menghampiri Minah dan mencengkeram wajah gadis itu.

“Dengarkan aku, anak kecil! Aku adalah nyonya besar di rumah ini. Sedangkan kamu hanya anak kecil manja pengganggu. Turuti kata-kataku, maka aku akan membiarkanmu hidup tenang,” desis sang nyonya. Kemudian ia melemparkan handuk di tangannya pada Minah.

“Bangun dan mandi. Kamu tentu tak ingin merusak hari ini bukan. Sudah cukup dengan semua tingkah kekanak-kanakkanmu itu. Sekarang kamu sudah delapan belas tahun. Jadi dewasalah sedikit. Harusnya kamu merasa bersyukur karena masih bisa menikmati kasur empukmu sampai hari ini,” ujar ibu tiri Minah itu.

Minah masih terpaku di tempatnya seraya mengibaskan rambutnya hitam panjangnya yang menutupi penglihatannya. Ia lalu mendelik tajam pada ibu tirinya itu. Terlihat jelas sekali kalau setiap ucapan sang ibu tiri terdengar seperti jeritan burung gagak yang mengganggu. Minah pun melemparkan kembali handuk itu ke wajah sang ibu tiri.

“Menjijikkan sekali. Aku harus mendengar kalimat-kalimat seperti itu dari mulutmu yang menjijikkan itu. Urusi saja hidupmu sendiri, Nyonya Ryu. Dan segera angkat kakimu dari rumah ini. Kamu bahkan sudah bukan lagi istri ayahku. Jadi berhenti bertingkah seolah kamu adalah Nyonya Bang yang terhormat,” sinis Minah.

Bukan tanpa alasan Minah membenci ibu tirinya. Karena Minah menyaksikan sendiri semua tingkah jahat yang dilakukan wanita di hadapannya ini terhadap keluarganya.Minah tahu persis apa niat wanita ini. Harta keluarga Bang, itulah yang ada di pikiran Nyonya Ryu. Minah bahkan bisa menebak jika setelah dirinya berusia dua puluh tahun, pasti Nyonya Ryu ini akan melancarkan segala cara untuk membuat harta peninggalan Tuan Bang –yang merupakan milik Minah– agar bisa jatuh ke tangannya.

“Aku masih membiarkanmu hidup dengan tenang sampai detik ini, Minah. Apa kamu lupa, siapa yang sudah mengurus perusahaan ayahmu setelah ia mati? Aku , Minah! Aku yang mengurusnya! Bisa saja dengan mudah aku menghancurkan perusahaanmu itu. Apa kamu tahu apa yang akan terjadi jika aku melakukannya? Bukan hanya kamu yang akan jatuh miskin, tapi juga seluruh pegawai rendahan yang menggantungkan hidupnya di ujung jariku ini, Minah,” desis nyonya Ryu seraya menunjukkan jemarinya yang berhiaskan emas permata.

Minah hanya bisa mematung mendengar ancaman nyonya Ryu. Jika nyonya Ryu sudah membawa-bawa mengenai perusahaan yang sudah dibangun susah payah oleh Tuan Bang, maka Minah tak memiliki jalan lain selain menuruti semua perkataan ibu tirinya. Minah tak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan perusahaan ayahnya. Itu semua karena ia masih dibawah umur, dan keputusannya belum valid untuk sebuah perusahaan. Karenanya sampai dirinya berumur dua puluh tahun, Minah harus banyak bersabar menghadapi tingkah gila ibu tirinya.

“Jadi sekarang cepat mandi, karena pengacara Park akan datang sebentar lagi. Kamu tidak ingin membuatku menangis lagi hari ini, bukan?” gertak nyonya Ryu.

Maksud dari ucapan ibu tirinya itu sangat jelas. Ibu tiri Minah itu sedang tak ingin bersandiwara di depan pengacara Park hari ini. Sebagai orang yang dipercayakan oleh almarhum Tuan Bang, nyonya Ryu memiliki tanggung jawab untuk merawat dan membesarkan Minah. Nyonya Ryu baru bisa mendapatkan semua harta miliknya jika Minah tumbuh dengan baik. Oleh karena itu, pengacara Park –pengacara keluarga Bang– akan datang setiap minggunya untuk mengecek kondisi Minah. Dan sayangnya, Minah tak bisa melaporkan semua kejahatan yang sudah Nyonya Ryu lakukan padanya ke pengacara Park. Sebab seperti ancaman Nyonya Ryu tadi, bahwa ia akan menghancurkan perusahaan Tuan Bang dalam sekejap mata jika Minah tak mau bekerja sama dengannya.

~*~

Minah menyelinap keluar rumah lagi pagi ini. Ia pikir ibu tirinya sudah pergi berangkat kerja, karenanya ia memutuskan untuk kembali menyelinap keluar. Minah tak bisa pergi jauh, meskipun ia hanya bisa bermain di halaman rumahnya, itu sudah cukup baginya. Biasanya Minah akan pergi ke halaman belakang dan bertemu dengan beberapa anak kecil yang ada di luar pagar rumahnya, meminta mereka untuk membelikan jajanan untuknya, serta bermain sejenak untuk menghilangkan suntuk akibat terkurung di rumahnya sendiri.

Kediaman keluarga Bang di kelilingi oleh halaman yang cukup –atau sangat– luas. Di kiri kanan rumah ditumbuhi oleh puluhan atau mungkin ratusan mawar dari berbagai jenis. Sementara di belakang rumahnya ditumbuhi berbagai macam pohon buah-buahan. Karenanya ada banyak anak kecil yang berkumpul disana sekedar mengharapkan buah yang jatuh ke luar pagar. Terkadang sebagai ganti jajanan yang dibelikan anak-anak kecil tersebut, Minah memberikan mereka semua buah yang jatuh di dalam pagar.

Tapi kali ini, Minah memilih untuk bermain di samping rumahnya. Sudah lama Minah tidak merawat langsung bunga-bunga mawar disana. Setelah memastikan keadaan sekitarnya aman, Minah pun langsung memulai aktivitasnya. Ia mencabuti semua rumput liar yang tumbuh di sekitar pohon bunga, memberi pupuk yang cukup dan menyirami pepohonan tersebut sambil bersenandung kecil. Minah tak menyadari kalau sejak ia keluar dari rumahnya sudah ada sepasang mata yang mengawasinya.

~*~

“Jadi disini kediaman Nyonya Ryu?” tanya seorang pemuda yang berbalut setelan jas yang rapi, pada supirnya.

Setelah sang supir memastikan kalau memang tempat yang mereka datangi itu adalah kediaman Madam Ryu, sang komisaris utama Bang’s Beauty, akhirnya pemuda itu pun turun dari mobilnya. Siapapun yang melihat pemuda itu pasti akan langsung mengira kalau ia adalah seorang supermodel –dengan postur tubuhnya yang tinggi tegap itu. Ditambah dengan wajahnya yang tampan, yang justru tidak tampak seperti orang Korea, pasti mampu membuat semua perempuan di muka bumi ini kepincut akan pesonanya. Setelah merapikan pakaiannya, sang pemuda pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah.

Sang supir yang kini sudah berdiri di samping sang tuan muda itu pun membungkukkan badannya seraya mempersilakan tuan mudanya itu untuk masuk ke dalam rumah. “Tuan Jae-,”

“Panggil aku Ken,” sela pemuda tersebut. “Ketika aku berada di Korea, panggil aku dengan Ken. Tak boleh ada yang tahu siapa aku, nama asliku, darimana asalku, siapa orang tuaku. Tujuanku kesini adalah menjemput gadisku. Agar tidak ada yang mengganggu jalanku, kamu harus bisa menyembunyikan identitasku.”

Sang supir yang usianya tampak tak jauh berbeda dari tuannya itu sudah membungkukkan badannya lagi menyahuti ucapan tuan mudanya yang meminta dirinya dipanggil Ken tersebut. Tentu supir sekaligus asisten pribadinya itu tahu persis akan ambisi tuan mudanya untuk bisa bertemu lagi dengan cinta pertamanya. Demi untuk menyelamatkan gadis yang disebut-sebut sebagai tujuan hidupnya, Ken sudah melewati berbagai rintangan agar ia bisa menjadi pemuda yang bisa diandalkan –selayaknya pangeran berkuda putih yang akan menyelamatkan Putih Salju dari kutukan penyihir.

“Ahh satu lagi, apa kamu sudah cari photografer itu? Dimana dia tinggal?” tanya Ken. “Aku mau dia yang menjadi photografernya. Karena hanya dia yang bisa menarik keluar aura apapun yang difotonya.”

Ken kemudian berjalan ke arah samping rumah, karena ia mendengarkan ada suara-suara disana. Dan Ken melihat seorang gadis berkulit putih pucat sedang berjongkok di antara pohon mawar merah –warna yang sangat kontras dan justru membuat gadis itu tampak berkilauan di antara lautan bunga mawar. Ia memperhatikan gerak-gerik gadis itu dengan seksama. Gadis itu mengenakan terusan selutut berwarna biru laut. Rambut hitamnya yang panjang terus jatuh dari pundak gadis itu –membuat wajahnya terus tertutup oleh rambut. Penasaran, Ken pun mendekati gadis itu dan menjaga jarak sekitar dua meter darinya.

Tapi sepertinya sang gadis terlalu fokus sampai tidak menyadari kehadiran Ken disana.

~*~

“Ohh, lihatlah dirimu. Kamu tumbuh subur meskipun aku jarang merawatmu. Akan kunyanyikan sebuah lagu untukmu,” ujar Minah pada bunga mawar di hadapannya.

Dan Minah pun mulai bernyanyi –Kokoro no tomo, lagu yang ia pelajari sejak kecil. Minah terus bernyanyi sampai akhirnya ia menyadari kalau seseorang sedang mengawasinya. Ah, bukan hanya sedang mengawasinya, tapi seseorang itu kini sudah berada di depannya. Ketika Minah mengangkat kepalanya, ia melihat seorang pemuda sudah berdiri menjulang di hadapannya. Karena terlalu kaget, Minah sampai tidak bisa menggerakkan badannya. Ia hanya memandangi pemuda itu terkejut.

Hanya satu kata yang terlintas di pikiran Minah saat ini; mempesona. Pemuda itu tinggi –dan terlihat makin tinggi karena posisi Minah yang berada di bawahnya. Wajahnya tampan; kontur wajah yang tirus dihiasi dengan mata yang bulat dan besar, hidung yang mancung dan bibir yang tebal. Wajahnya saja tidak tampak seperti orang Korea ataupun Jepang. Rambut hitam tebalnya menutupi keningnya –bahkan nyaris menutupi kelopak matanya. Dan ketika pemuda itu tersenyum padanya, ia menunjukkan barisan giginya yang tersusun rapi.

“Pantas saja mereka tumbuh cantik seperti ini, yang merawatnya saja secantik ini.”

Minah pun tersadar dari keterkejutannya. Karena tak terbiasa dengan orang asing, Minah pun langsung berdiri tegak, berbalik dan berlari menuju rumah –meninggalkan pemuda asing yang tampak sok-kenal dengan dirinya. Pemuda itu memanggilnya, tapi Minah tak menghiraukannya. Dan ketika Minah sampai di depan pintu, Minah berhenti. Sebab pemuda itu memanggilnya dengan panggilan yang sudah lama sekali tidak pernah Minah dengar lagi sejak ayahnya meninggal.

“Minami!”

Minah berbalik untuk melihat pemuda itu sekali lagi. Tapi akhirnya Minah tetap masuk rumah, meskipun sebuah pertanyaan kini berkecamuk di pikirannya.

Bagaimana pemuda itu bisa memanggilnya dengan Minami?

Sebab hanya orang-orang terdekat Minah saja yang memanggilnya dengan sebutan Minami. Minah lahir dan besar di Jepang, selain itu kakek dari pihak ibunya adalah orang Jepang, karenanya ketika kecil Minah ia dipanggil dengan Minami. Hanya keluarganya di Jepang sana yang memanggilnya dengan Minami.

Dan satu orang. Satu orang yang namanya selalu Minah sebut dalam tidurnya. Tapi tidak mungkin orang itu adalah dia. Sebab mereka terlalu berbeda.

Minah mengintip dari balik jendela, berusaha memastikan siapa identitas pemuda itu. Karena wajahnya yang tak tampak seperti orang Korea ataupun Jepang, membuat Minah tak yakin kalau pemuda tadi adalah dia. Tapi Minah sungguh berharap kalau pemuda tadi adalah dia.

Dia, Lee Jaehwan, atau biasa Minah panggil dengan Ken.

~*~

“Direktur Lee, ada masalah apa sampai anda mengunjungi saya di rumah?” riang Nyonya Ryu begitu ia membuka pintu rumahnya.

Ken hanya mengumbar senyum tipis pada atasannya ini. “Maafkan saya mengganggu waktu istirahat anda, Madam Ryu. Tapi saya ingin membahas masalah penting mengenai produk baru kita. Kuharap anda tidak keberatan.”

Dengan senang hati Nyonya Ryu mempersilakan Ken masuk ke kediamannya.

Sudah bukan merupakan rahasia lagi kalau pemimpin tertinggi dari Bang’s Beauty ini adalah wanita yang sangat eksentrik. Bahkan ketika sedang ‘beristirahat’ di rumah saja, ia tampak begitu glamor. Gaun panjang dengan potongan yang memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya, ‘menutupi’ dengan baik bagian-bagian penting dari tubuh sang nyonya besar itu. Sepatu hak tinggi dengan hiasan batu kristal berkilauan yang tampak menambah jenjang kakinya. Rambutnya saja di sanggul rapi, sama sekali tidak terlihat seolah ia baru saja bangun tidur. Belum lagi dengan perhiasan yang bertebaran di tubuhnya –membuat siapapun merasa kalau dunia ini sederhana untuk Nyonya Ryu.

Ken memaklumi tingkah Nyonya Ryu ini –yang selalu terlihat over-react setiap ada pria yang mendekatinya. Sebagai wanita single parent sudah pasti Nyonya Ryu kesepian. Karenanya Nyonya Ryu selalu bersikap sangat manja terhadap setiap pria yang ditemuinya. Satu kata saja, sudah cukup untuk membuat Nyonya Ryu terbang melayang dan mengikuti apapun yang lawan bicaranya inginkan.

“Anda terlihat cantik sekali pagi ini, Madam,” puji Ken. Ia tahu betul kelemahan Ryu Sera. Jika ada yang memuji kecantikannya, maka Nyonya Ryu akan memberikan apapun pada mereka yang memujinya.

“Apa yang kamu inginkan, Ken Lee?” tanya Nyonya Ryu dengan manjanya.

Melihat kelemahan Ryu Sera ini, tentu saja Ken akan memanfaatkannya dengan baik. Demi bisa menjemput gadisnya, Ken akan melakukan segala cara. Termasuk merayu ibu tiri Minah itu.

~*~

“Terima kasih atas waktunya, Madam. Maaf karena saya sudah mengganggu waktu istirahat anda. Kuharap Madam mengerti, kalau proyek ini sangat berarti bagi saya,” ujar Ken sebelum ia pamit. Di pintu depan Ken berpapasan dengan seorang pria paruh baya.

“Oh, Pengacara Park, kamu sudah datang. Silakan masuk ke dalam. Minah sepertinya sedang bermain di kamarnya,” sapa Nyonya Ryu pada pria paruh baya yang baru datang itu.

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, pria yang disebut sebagai pengacara Park itu langsung masuk ke dalam rumah –bahkan tanpa menyapa Nyonya Ryu terlebih dahulu.

“Siapa Minah? Aku tak melihat siapapun tadi di dalam,” Ken berusaha mencari tahu.

Nyonya Ryu pun menjelaskan kalau Minah adalah putrinya yang memilih untuk mengurung dirinya di kamar sejak ayahnya meninggal. Ia juga menceritakan betapa susahnya mengikuti keinginan Minah. Karena Minah tidak mau keluar rumah makanya Nyonya Ryu mencarikan guru privat agar Minah tetap bisa belajar. Juga bercerita mengenai kebiasaan buruk putrinya tersebut –yang tidak mau mendengarkan kata-katanya dan malah lebih menuruti kata-kata pengacara Park.

Ken hanya mendengarkan cerita Nyonya Ryu tentang Minah. Ia tersenyum tipis pada sang nyonya dan kemudian akhirnya memutuskan untuk pergi dari kediaman keluarga Bang. Dalam hati ia bertekad untuk mendekati pengacara Park agar ia bisa berhubungan dengan Minah.

~*~

“Apa katamu, Pengacara Park?!! Mengenalkan Minah ke perusahaan?!” seru Nyonya Ryu.

Begitu mendengarkan rencana pengacara Park untuk mengenalkan Minah pada perusahaan mendiang suaminya tersebut, Nyonya Ryu langsung histeris. Ia langsung beralasan kalau Minah belum cukup umur untuk memegang perusahaan, pendidikannya tidak memadai, serta Minah terlalu pemalu untuk bertemu dengan orang banyak.

Tapi yang tidak Nyonya Ryu ketahui adalah ketika ia sedang melepas kepergian Ken, Minah langsung memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meminta pengacara Park agar bisa mengeluarkannya dari rumah. Minah meminta agar ia bisa datang ke kantor ayahnya demi mencari pemuda yang tadi menjadi tamu ibu tirinya itu. Minah penasaran akan identitas pemuda itu. Jika ia adalah Ken, atau Lee Jaehwan, maka Minah bisa meminta bantuannya untuk merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik Minah.

“Minah sudah cukup umur. Lagipula kita hanya mengenalkan Minah pada perusahaan. Agar mereka semua tahu, seperti apa rupa dari pewaris Bang’s Beauty,” tegas Pengacara Park. “Lagipula perusahaan itu juga nantinya akan dipimpin oleh Minah, jadi apa salahnya mengenalkan Minah sejak dini pada karyawan.”

Nyonya Ryu kehabisan alasan. Minah tahu persis kalau ibu tirinya itu marah besar. Tapi Minah tidak takut lagi. Karena ia kini memiliki sebuah harapan.

~*~

Minah akhirnya menginjakkan kakinya ke kantor ayahnya –di salah satu gedung termegah di distrik Cheongdamdong. Minah memandangi gedung yang berdiri menjulang itu, Minah pun membayangkan ada berapa banyak karyawan yang bekerja disana. Harus Minah akui kalau ibu tirinya itu cukup ahli dalam mengurus perusahaan besar ini. Buktinya, ia tak pernah mendengar sebuah berita miring mengenai perusahaannya –atau mungkin ibu tirinya itu terlalu mahir menyimpan semua masalah perusahaan ini.

Minah memasukki gedung Bang’s Beauty. Ketika menaiki elevator, Minah mendengar beberapa karyawan yang bergunjing mengenai dirinya.

“Putri mendiang Presdir akan datang hari ini. Kudengar dia adalah anak yang sangat pintar.”

“Eiiy, pintar darimana? Dia itu sangat bodoh. Saking bodohnya sampai-sampai Madam Ryu memilih untuk menyekolahkannya di rumah. Agar putrinya itu tak terlihat memalukan di muka umum.”

“Tapi katanya dia cantik. Lihat saja Madam Ryu, betapa cantiknya beliau.”

“Madam Ryu itu bukan ibu kandungnya. Putri mendiang Presdir ini sangatlah jelek. Saking jeleknya sampai bisa membuat matamu sakit jika melihatnya.”

Minah hanya mendengarkan semua gunjingan itu. Ia tak merasa sakit hati sama sekali. Karena baginya saat ini semua gunjingan itu sudah tidak lagi menyakitkan. Selama ia masih memiliki harapan mengenai kebebasannya, Minah akan menulikan telinganya pada mereka yang berbicara buruk tentangnya.

Begitu keluar dari elevator untuk menuju ruang rapat direksi, tiba-tiba ada yang menariknya masuk ke ruangan yang ada di samping Minah berdiri. Minah bahkan tidak sempat berteriak saking kagetnya. Begitu ia berbalik untuk melihat siapa yang menariknya, Minah hanya bisa terdiam terpaku.

Hisashiburi (lama tak bertemu),” sapa orang tersebut dengan aksen Jepang yang begitu terasa. “Minami-chan.”

Minah tahu apa yang diucapkan orang itu. Meskipun sudah lama ia tidak menggunakan bahasa Jepang, tapi Minah mengerti apa maksud ucapannya.

Dan Minah hanya bisa takjub memandangi pemuda di hadapannya ini. Betapa manusia bisa berubah dengan begitu drastisnya, pikir Minah. Mata Minah lalu turun ke dada pemuda itu. Disana tergantung ID card, identitas dari sang pemuda. Ken Lee, namanya, bekerja di divisi pemasaran produk baru sebagai direktur pemasaran. Minah hanya bisa tersenyum memandangi ID card pemuda itu.

“Sepertinya kamu sudah mengenaliku sekarang,” ujar Ken.

Minah mengangguk perlahan. Bagaikan mendapat sebuah keajaiban, Minah akhirnya bisa bertemu lagi dengan seseorang yang sangat ia rindukan. Sosok yang selalu Minah kagumi kini berada di hadapannya. Minah merasa kalau nirwana sedang berpihak padanya.

“Minami-chan, apa kamu mau ikut denganku?” tanya Ken seraya mengulurkan tangannya pada Minah.

~*~

“Untuk produk ini, kita sangat membutuhkan sosok perempuan yang mampu memvisualisasikannya dengan baik. Karena kita memakai konsep Putih Salju, aku ingin perempuan yang menjadi model produk ini adalah sosok yang setidaknya mendekati karakter Putih Salju. Bukan hanya sekedar cantik atau putih, tapi juga memiliki aura sang Putih Salju,” Ken menjelaskan misinya pada para pimpinan Bang’s Beauty yang menghadiri rapat hari ini.

Ken membuat sebuah produk yang begitu memvisualisasikan tokoh idola dari pujaan hatinya. Dan ia punya rencana khusus dibalik peluncuran produk ini. Yaitu untuk merebut kembali Minah ke sisinya. Ia akan mengeluarkan Minah dari rumah yang dihuni Madam Ryu. Karenanya Ken ingin menjadikan Minah sebagai model untuk produknya.

“Tapi anda tidak ingin memakai model terkenal ataupun idol untuk produk ini. Lalu bagaimana kita bisa mencari perempuan yang bisa menjadi modelnya,” interupsi salah satu direksi.

Ken tampak menahan senyumnya. Ia lalu melayangkan pandangannya ke arah Nyonya Ryu. Ia meneliti penampilan Nyonya Ryu hari ini. Memang tak bisa dipungkiri, kecantikan Nyonya Ryu tampak seperti sesuatu yang tak lekang oleh waktu. Bahkan di usianya yang sudah melewati kepala tiga, ia masih memiliki wajah layaknya anak remaja. Ken kemudian tersenyum pada Nyonya Ryu –dan hal itu membuat Nyonya Ryu jadi salah tingkah.

“Aku sudah menemukan modelnya. Perempuan yang kecantikannya mampu membuat siapapun menangis jika melihat cermin. Dialah perempuan yang murni, alami dan tanpa polesan. Perempuan tercantik yang pernah ada, dan aku akan menjadikannya sebagai perempuan tercantik di muka bumi ini. Dia akan menjadi modelnya bahkan tanpa kita harus membayar mahal untuk jadanya. Sebab pemilik dari Bang’s Beauty sendiri yang akan menjadi modelnya,” ujar Ken seraya tak lepas memandangi Nyonya Ryu.

Ken lalu berjalan menghampiri Nyonya Ryu. Sementara Nyonya Ryu sendiri sudah berdiri untuk menyambut tawaran Ken. Tapi Ken melewatinya begitu saja –meninggalkan Nyonya Ryu yang kini tampak kebingungan. Ken malah terus berjalan mendekati pintu dan kemudian membukanya. Ia menujukkan kepada seisi ruangan mengenai siapa yang akan menjadi modelnya. Semuanya tentu saja kaget melihat siapa yang dimaksudkan Ken –tak terkecuali Nyonya Ryu.

Karena Bang Minah kini sudah berdiri di hadapan semua pemimpin tertinggi dari Bang’s Beauty.

~*~

“Ini yang kamu bilang tidak mau menyentuh perusahaan sedikitpun? Rasanya aku ingat dulu kamu pernah mengatakan kalau kamu sama sekali tidak menginginkan perusahaan ini. Tapi kenapa kamu tiba-tiba muncul disini dan mengklaim dirimu sebagai pemilik dari perusahaan ini?!” desis Nyonya Ryu.

Nyonya Ryu sedang menjalani pertemuan tertutup dengan Minah di ruangannya. Ia sampai kehabisan kata-kata ketika rapat tadi, sebab semua direksi beserta komisaris langsung ricuh begitu melihat kehadiran Minah. Padahal Nyonya Ryu sudah menyembunyikan Minah dengan sedemikian rupa, menyebarkan isu kalau Minah itu buruk rupa, bodoh dan sakit-sakitan. Tapi begitu melihat Minah, pewaris utama dari Bang’s Beauty, yang tampak cantik rupawan, pintar dalam berbicara serta segar bugar membuat para direksi dirundung tanda tanya besar. Jika putri mendiang Tuan Bang sesempurna ini, kenapa Nyonya Ryu menyembunyikannya?

Nyonya Ryu tentu belum mempersiapkan dirinya akan kehadiran Minah di perusahaan. Padahal  baru saja kemarin Pengacara Park mengatakan akan mengenalkan Minah pada perusahaan dan kini Minah sudah berdiri di hadapannya dan mengklaim dirinya sebagai pemilik Bang’s Beauty. Tentu saja Nyonya Ryu tidak akan membiarkan para direksi berpihak pada Minah. Tidak selama ia masih menduduki posisi sebagai komisaris utama di perusahaan ini.

“Aku hanya ingin melihat seperti apa perusahaan yang sudah dibangun ayahku dengan susah payah ini,” sahut Minah. “Dan lagipula aku tidak pernah bilang kalau aku tidak menginginkannya. Aku hanya bilang kalau kamu mau memimpin perusahaan ini, silahkan karena aku tak pernah melarangnya.”

Nyonya Ryu langsung bangkit dari duduknya dan menerjang Minah. Ia mencengeram leher Minah seraya menggeram, “Siapa kamu berani melarang atau mengizinkanku menjalankan perusahaan ini. Perusahaan ini adalah milikku dan aku yang berhak atas semuanya!”

Nyonya Ryu lalu mendorong Minah hingga gadis itu nyaris terjengkang. Ia kini memandangi cermin besar di ruang kerjanya. Begitu melihat wajahnya yang berkerut karena emosi, Nyonya Ryu langsung menghembuskan napas panjang dan mengatur ekspresinya. Ia menggumamkan tidak-boleh-emosi-atau-keriput-akan-menguasaimu seraya memijat keningnya perlahan.

“Dan apa-apaan Direktur Lee itu?! Dia menyebutkanmu sebagai perempuan tercantik yang pernah ada? Kamu?! Perempuan tercantik?!” Nyonya Ryu mendengus kesal. “Akulah perempuan tercantik di bumi ini dan tidak ada siapapun yang bisa menandingi kecantikanku!! Tidak siapapun juga termasuk kamu, Bang Minah!!” jeritnya.

Minah bahkan sudah tidak terkejut apalagi takut mendengar seruan ibu tirinya itu. Ia malah merasa iba. Sebab ibu tirinya itu begitu terobsesi akan kecantikan wajahnya. Nyonya Ryu sangat tidak terima jika ada yang mengatakan ada perempuan yang lebih cantik dari dirinya. Karena hal itulah, setiap Bang’s Beauty meluncurkan produk, mereka jarang menggunakan jasa model ataupun idol. Hal buruk banyak yang menimpa mereka yang pernah menjadi model dari produk Bang’s Beauty –entah itu kecelakaan sampai wajah mereka rusak bahkan ada yang sampai bertemu dengan kematian. Minah tahu kalau itu semua adalah ulah ibu tirinya. Ia sering mendengar rencana ibu tirinya itu untuk memusnahkan mereka yang merebut gelar perempuan tercantik miliknya.

Nyonya Ryu kini sudah berbalik dan memandangi Minah tajam. Ia tampak memainkan cincin di jari manisnya sebelum akhirnya melayangkan tangannya tersebut untuk meraih wajah Minah. Ia mencengkeram wajah Minah dan meneliti setiap sudut dari wajah pucatnya.

“Jangan pernah kamu terima tawaran itu, nona kecil. Kamu tahu kalau aku tidak akan membiarkanmu begitu saja bukan? Jangan sampai kamu merasakan hal yang sama dengan orang-orang yang mencoba menggeserku,” ancam Nyonya Ryu.

Dan Minah tahu persis, kalau ibu tirinya itu tidak akan membiarkannya untuk menjadi model produk mereka apalagi sampai terkenal dan dikagumi banyak orang karena kecantikannya.

.

.

.

 

*Chapter 1 end*

logo1

Second story of DIFFERENT FAIRYTALE. “Snow White and The Dwarf”

안녕!!!

Yoshh!! siapa yang nungguin Snow White and the dwarf?!! finally bee publish this story!!! yeayyy!! *tebar confetti*

akhirnya Minah lah yang terpilih untuk menjadi snow white. kenapa bee milih minah, soalnya minah itu bening seputih salju dan dengan imej dia yang cute dan blak-blakan serta suaranya yang merdu akhirnya bee tetapkan dia menjadi si snow white. castnya yang lain udah keliatan kan di poster. tapi abang yang satunya blum muncul. mungkin di chap 2 (atau tiga #plak). bee datang dengan membawa pairing yang ajaib lagi, setelah kaistal, baekjoo, dan sekarang ken-minah/l-minah.. tolong jangan bully pairing ini. meskipun pairingnya absurd, tapi bee bikin karakternya OOC kok (seperti biasa).

btw disini ada yang kenal nine muses?? lead vocal nine muse (yang sayangnya baru aja lulus dari nine muses) jadi si ibu tiri disini. namanya ryu sera, dia cantik dan seksi (pake banget), suaranya merdu dan dancenya kece, dan muka dia yang jutek it cocok banget kalo dipake buat jadi antagonis. hahaha..

Terima kasih buat para vitamin bee!! Bee akan sangat berterima kasih bagi kalian yang menyimak dan mengikuti serta mengomentari fiksi yang satu ini. semoga fiksi ini berkenan  buat kalian.

lastly, thanks for your support!! u guys are my vitamin 🙂
안녕!! 뿅! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 다른 동화 (Different Fairytale) | Snow White and The Dwarf – Chapter 1 | PG15

5 thoughts on “FF – 다른 동화 (Different Fairytale) | Snow White and The Dwarf – Chapter 1 | PG15

  1. hazunajohkim says:

    weheeei DFT-nya baliiiiik, asiiik minah yang jadi cast-nya dan… ga jauh-jauh L nemplok. wahahaha wah Ken siapa ya? ahahaha vixx itu debutnya pas masa-masa aku UN bukan ya? atau sibuk semesteran wkwk dan lagi ryu sera, aku gambarin siii mmm siapa ya, Hong Sera-nya yang main Gentlemen Dignity ya, cocok kok itu jd ibu tiri, wkwk putih juga lagi *berasa promosi*
    ditunggu ne.. minah-nya.. eh ceritanya #keepwritinghwaiting

  2. aick says:

    akhirnya publish different fairy tale,, aku udah nungguin ff ini eonni. penasaran sama cerita khas eonni.hahaha
    klo menurutku cocok kok minah jdi karakter putri salju,, cuma aku gak tau ken itu kayak gimana jdi pke bayanganku doang.hehehe
    aku tunggu next chap eonniiii 😀

  3. maknae98 says:

    kereeenn… tpi karena aku kurang hafal wajah personel vixx jadinya aku gak bisa mendalami karakter ken i sini 😦
    di tunggu lanjutannya eonni, ff baekjoo juga ya 😉

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s