FF – Tangled Fate | Chapter 7 | PG15


tangled_fate

Title : Tangled Fate

Subtitle : Please, Don’t Hate Me

Author : beedragon

Cast:

Yoonjo Hello Venus as Shin Yoonjo

Sojung Ladies Code as Lee Sojung

Baekhyun EXO as Byun Baekhyun

CNU B1A4 as Shin Dongwoo / Shinwoo

Genre : Family, Romance, Angst, Sad, Tragedy, Friendship

Length : Multichapter

Summary : Ketika waktu Yoonjo semakin menipis, Yoonjo berjuang melawan waktu untuk bisa menemukan belahan jiwanya. Akankah Yoonjo berhasil mengalahkan waktu, atau waktu yang mengalahkannya terlebih dahulu

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Haunted | Taeyeon – Set Me Free

Tangled Fate | Seventh Chapter

~*~

“Tak bisakah kita berbaikan? Aku ingin menjadi temanmu, sahabatmu, bahkan kalau bisa aku ingin menjadi saudaramu,”

~*~

 

Yoonjo sedang menjalankan misinya saat ini. Ia mendekati salah satu dari tiga nama yang merupakan kandidat saudara kembarnya. Berhubung Yoonjo takut akan Ashley dan Sojung, jadi Yoonjo memutuskan untuk mendekati Eunbi lebih dulu. Setidaknya ia tak pernah bermasalah langsung dengan Eunbi. Dengan menjadikan alasan kalau dirinya ingin membantu Eunbi menyusun barang untuk bazaar, Yoonjo pun menghabiskan waktunya bersama Go Eunbi.

Yoonjo terus mengamati gerak-gerik Eunbi. Ia berusaha mencari kesamaan di antara mereka. Bahkan ketika Eunbi sedang bercermin, Yoonjo dengan sengaja berdiri di belakangnya untuk melihat kemiripan di antara mereka.

“Apa yang sedang kamu lakukan?!” risih Eunbi. Ia sudah berbalik dan bertolak pinggang menatap Yoonjo kesal.

Yoonjo kehabisan kata-kata. Ia sudah menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Aku tahu kalau kamu itu menyebalkan. Tapi aku tak tahu kalau kadar menyebalkanmu sampai seperti ini. Kamu benar-benar mengganggu, Shin Yoonjo,” semprot Eunbi.

Mianhae,” maaf Yoonjo. “Aku hanya kagum padamu. Kamu terlihat sangat cantik. Jadi aku tak bisa berhenti memandangimu.”

Yoonjo mencoba mencari-cari alasan agar Eunbi tidak memaki dirinya lebih jauh lagi. Tapi hasilnya justru malah lebih parah. Eunbi malah menyemprot Yoonjo habis-habisan. Bukan karena pujian yang Yoonjo lontarkan, tapi Eunbi menyemprotnya untuk hal yang lain.

“Aku benar-benar tidak mengerti akan dirimu, Shin Yoonjo. Meskipun kalian tumbuh besar bersama, tapi apa kalian tidak bisa membedakan batas di antara kalian? Bagaimana bisa Baekhyun lebih memperhatikanmu dibandingkan Sojung. Biar bagaimanapun juga Sojung adalah kekasihnya. Sudah seharusnya Baekhyun lebih peduli pada Sojung, bukannya kamu,” cerocos Eunbi.

Eunbi terus mengeluarkan keluhannya terhadap Baekhyun pada Yoonjo. Ia benar-benar melampiaskan kekesalannya. Ia menyebut Baekhyun sebagai pemuda yang bebal dan mengatakan kalau Yoonjo adalah gadis yang tak tahu malu. Mendengar semua hinaan yang terlontar dari mulut Eunbi, membuat Yoonjo tak berkutik.

“Asal tahu saja, Sojung bukanlah anak yang suka main kekerasan. Ia tak mungkin berani sampai memukul seseorang. Jadi jika ia sampai membuatmu masuk UGD, itu pasti karena kamu sudah benar-benar menyinggung harga dirinya. Yang paling tak kupercaya adalah, Baekhyun lebih memilih untuk merayakan ulang tahunmu, bukannya ulang tahun Sojung. Meskipun ulang tahun kalian berbarengan, sudah seharusnya Baekhyun lebih memilih Sojung –kekasihnya. Aku benar-benar tak habis pikir dengan Baekhyun itu. Jadi wajar saja kalau Sojung sampai semarah itu padamu,” semprot Eunbi.

Yoonjo terdiam mendengar semua cacian Eunbi. Tapi begitu mendengar kalau dirinya dan Sojung memiliki berulang tahun hari yang sama, membuat jantung Yoonjo mendadak berpacu lebih cepat.

“Kamu bilang tadi kalau Sojung dan aku berulang tahun di hari yang sama?” potong Yoonjo.

“Ne! Dan Baekhyun seharusnya menghadiri pestanya Sojung bukannya kamu. Ia bahkan tidak memberikan had-,”

“Kamu bilang tadi Sojung lahir Kyeonggi-do? Daerah mana? Apakah Pyeongtaek?” sela Yoonjo lagi.

“NE!” Eunbi makin kesal karena Yoonjo kembali memotong ucapannya. “Wae?! Kamu mau menjadikan itu senjata untuk menyerang Sojung? Mengatakan kalau dia terlahir di Pyeongtaek, begitu?!”

Yoonjo tidak lagi mendengarkan semua ocehan Eunbi. Bagai menemukan sebuah oasis di padang pasir, Yoonjo merasa kalau ia menemukan sebuah potongan puzzle hidupnya. Ia hanya perlu mencari bukti kuat mengenai konklusi di otaknya. Yoonjo memilih untuk menjauhi Eunbi saat ini. Karena yang Yoonjo perlukan adalah tempat yang tenang untuk meredakan pacu detak jantungnya.

Dengan tergesa-gesa meninggalkan ruang senat. Ia meremas dadanya yang terasa sesak karena pacu detak jantungnya. Dan bagaikan sebuah keajaiban baginya, Baekhyun kini menelepon Yoonjo. Ia pun berhenti sejenak untuk menjawab panggilan Baekhyun –meskipun Yoonjo menjauhinya, tapi Yoonjo tak pernah menolak telepon dari Baekhyun.

“Ne?” sahut Yoonjo dengan suara bergetar.

“Ni moksori wae geurae (kenapa dengan suaramu)? Eodi apa (kamu sakit)?” panik Baekhyun begitu mendengar suara Yoonjo. Baekhyun langsung menyuruh Yoonjo untuk mengatur napasnya. Baekhyun terus menuntun Yoonjo untuk mengatur pacu jantungnya sampai akhirnya Yoonjo mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.

Bagaimana aku bisa menyampaikan berita ini padamu kalau kamunya seperti ini, Yoong,” tegur Baekhyun. “Sekarang dengarkan aku dan jangan kaget. Aku tak mau kamu mendadak kena serangan karena berita ini. Aku sudah menemukan Yoona.”

Lemas, itulah yang Yoonjo rasakan saat ini. Ia merasa kalau tebakannya benar. Dengan suara bergetar Yoonjo menjawab ucapan Baekhyun. “Kamu.. sedang berada di rumahnya saat ini?”

Kamu sudah tahu? Sejak kapan?

Dan Yoonjo pun kehilangan fungsi kakinya. Yoonjo sampai menahan dirinya pada pagar pembatas di dekatnya. Kini tubuh Yoonjo merosot sampai akhirnya ia bersimpuh di lantai. Yoonjo pun perlahan menangis. Dugaannya benar. Lee Sojung adalah Shin Yoona, kembarannya yang dulu dibuang ibunya ke panti asuhan. Yoonjo bisa menduganya sebab pagi ini Nyonya Byun mengatakan pada Yoonjo kalau Baekhyun pergi mengunjungi Lee Sojung untuk makan siang di rumahnya.

Yoong, neo gwenchanha?” khawatir Baekhyun.

Yoonjo sudah tak lagi mendengarkan ucapan Baekhyun. Ia kini memeluk erat ponselnya dan terus menangis. Ia merasa bahagia karena akhinya ia menemukan Yoona. Tapi di satu sisi, Yoonjo juga merasa takut. Bukan karena Sojung selalu bersikap buruk padanya, tapi takut kalau Sojung tak mau mengakuinya.

.

.

.

.

Hari ini Donguk University mengadakan bazaar yang hasilnya akan disumbangkan ke Badan Perlindungan Anak Nasional. Bazaar yang dipelopori oleh Lee Sojung itu berada dalam skala yang tidak main-main –bahkan wartawan media cetak dan elektronik sampai meliput kegiatan ini. Tentu saja nama Lee Sojung sebagai putri dari jaksa agung Lee Byunghun yang terkenal itu memiliki pengaruh besar terhadap suksesnya bazaar di hari pertama ini. Barang yang di jual di bazaar ini juga bukanlah barang murahan, melainkan barang-barang bermerek bekas pakai milik keluarga besar universitas Donguk –dimana sebagian besar mahasiswanya berasal dari keluarga kelas menengah atas.

Disaat semua senat dan panitia acara sibuk mengurusi bazaar, Yoonjo memilih untuk duduk di pinggiran seraya terus menatap Sojung tanpa lepas. Sejak ia mengkonfirmasi kepastian kalau Sojung adalah Yoona, Yoonjo mengalami dilema. Yoonjo ingin memberi tahu Sojung kalau ia adalah kembarannya, tapi kalau mengingat semua sikap Sojung terhadapnya membuat Yoonjo tak berani mengatakannya pada Sojung.

“Kalau kamu adalah Cyclops, maka Sojung sudah menjadi debu sekarang karena tatapan lasermu, Yoong,” tegur Baekhyun.

“Bagaimana bisa dia yang menjadi Yoona? Yoona itu manis, murah senyum, dan lembut. Kenapa dia jadi berubah sampai jadi seperti ini? Apa kamu yakin dia adalah Yoona?” gumam Yoonjo yang masih tak lepas memandang Sojung.

“Kamu tak percaya dengan bukti yang kutunjukkan padamu?” tanya Baekhyun. “Apa perlu aku membujuk dia untuk melakukan tes DNA. Kalau aku yang membujuknya, dia pasti akan langsung menyetujuinya.”

Yoonjo teringat akan ‘bukti’ yang diberikan Baekhyun beberapa waktu yang lalu. Baekhyun menunjukkan foto-foto Sojung kecil pada Yoonjo seraya membandingkannya pada foto Yoonjo kecil. Kedua foto itu sama persis, yang membedakan hanyalah foto Sojung kecil terlihat lebih sehat daripada foto Yoonjo kecil. Selain itu Baekhyun juga menujukkan foto Sojung kecil bersama ibunya di bawah pohon cherry yang menarik perhatian Baekhyun –sebab beberapa waktu lalu Chanyeol pernah memamerkan foto ketika mereka berkunjung ke panti asuhan Happy Paradise di Pyeongtaek dan latar belakang kedua foto itu terlalu mirip untuk diabaikan.

“Kenapa wajahnya berbeda jauh denganku? Dia lebih cantik, jauh lebih cantik daripada aku. Membuatku malu untuk mengakui kalau aku adalah kembarannya,” ujar Yoonjo.

“Kamu jauh lebih cantik daripada dia, Yoong,” puji Baekhyun.

Biasanya hati Yoonjo akan berdesir jika mendengar pujian Baekhyun, tapi tidak kali ini. Yoonjo terlalu sibuk dengan pikirannya. Dan semuanya buyar ketika Sojung menghampirinya.

“Baekhyun-ssi, aku haus,” ujar Sojung, yang terdengar seperti sebuah perintah.

Seolah mengerti dengan maksud Sojung itu, Baekhyun pun bergegas pergi mencari minuman untuk Sojung. Begitu Baekhyun pergi, Sojung langsung memanfaatkan kesempatan ini untuk memojokkan Yoonjo.

“Yah! Kamu tak mau bekerja?! Kalau kamu tak mau bekerja lebih baik kamu menyingkir dari hadapanku sekarang. Aku sudah menjadikanmu sebagai panitia acara ini karena Baekhyun yang memintaku. Jadi angkat bokongmu sekarang juga dan bantu aku melayani pengunjung!” geram Sojung. Ia berbicara dengan nada yang sangat rendah agar orang-orang tak ada yang mendengar suaranya selain Yoonjo.

Yoonjo hanya bisa menurut. Jika ingin membuat Sojung menyukainya, tentu Yoonjo harus menarik simpati Sojung terlebih dahulu.

.

.

.

“Yoonjo-ya!!” teriakan hyper dari Jinyoung mengagetkan Yoonjo yang sedang merapikan barang-barang bazaar.

Jinyoung datang ke kampus Yoonjo bersama dengan Shinwoo. Keduanya menghampiri Yoonjo yang sudah menyambut mereka dengan riang.

“Hyungnim! Kalian datang? Bagaimana dengan cafe?”

“Tentu saja. Aku ingin menghabiskan uangku disini. Kapan lagi aku bisa dapat barang bermerek dengan harga yang sangat miring. Sudah ada Sunwoo dan Junghwan di cafe,” sahut Jinyoung. Dan lalu pemuda itu menghilang, tenggelam dalam arus jual beli yang terjadi di halaman kampus Yoonjo ini.

Yoonjo hanya bisa tertawa melihat Jinyoung yang kini sudah melakukan tawar menawar di salah satu stand. Sementara Shinwoo kini mendekati Yoonjo dan menyodorkan sebuah susu kotak pada Yoonjo.

“Wah, kamsahamnida, Hyungnim. Aku sangat membutuhkan ini,” ujar Yoonjo yang langsung meminum susu pemberian Shinwoo.

“Kamu harus menjaga kesehatanmu. Kemarin kamu habis masuk rumah sakit, jadi jangan sampai kamu masuk rumah sakit lagi karena terlalu lelah,” nasihat Shinwoo.

Shinwoo memandangi Yoonjo yang hanya mengangguk sambil menyesap susu kotaknya. Ketika angin di awal musim gugur ini bertiup kencang dan mengacaukan mahkota Yoonjo, Shinwoo segera melayangkan tangannya untuk merapikan rambut Yoonjo untuk kembali pada tempatnya.

“Nanti kamu selesai jam berapa?” tanya Shinwoo.

“Kenapa memangnya?” Yoonjo balik bertanya.

“Aku mau mengajakmu makan malam. Aku menemukan restoran Italy yang enak pastanya.” Dan akhirnya, setelah sekian lama menahan dirinya, Shinwoo pun mengajak Yoonjo jalan. Shinwoo belum bisa mengatakan kalau ini adalah ajakan kencan, karena ini baru pendekatan saja.

Sejak ia mengetahui identitas adiknya, Shinwoo kini bisa menunjukkan perasaannya secara terang-terangan pada Yoonjo. Sebab adiknya dan gadis yang ia sayang adalah orang yang berbeda –tentu saja ini membuat Shinwoo merasa sedikit lebih tenang dibandingkan dulu ketika ia mengetahui kenyataan bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari orangtua yang membesarkannya. Memiliki dua perempuan yang ingin ia lindungi memang tidak mudah –dengan Sojung sebagai adiknya dan Yoonjo sebagai orang yang dikasihinya.

“Makan malam?” bingung Yoonjo sekaligus panik. “Tapi Hyungnim, aku-,”

“Tenang saja. Aku akan menjemputmu. Aku keliling dulu ya.”

Shinwoo lalu meninggalkan Yoonjo untuk mencari Sojung. Ia masih memiliki misi untuk memberitahu Sojung kalau dirinya adalah kakak kandungnya. Belakangan ini memang Shinwoo sering menemui Sojung. Sikap Sojung kini saja sudah jauh lebih baik ketimbang dulu. Sojung sudah jauh lebih terbuka, bahkan ia bisa tertawa jika mendengar lelucon Shinwoo.

Dengan sembarangan mengambil sepasang stiletto pink magenta, Shinwoo pun menghampiri Sojung untuk bertanya berapa harga kill-heel tersebut.

“Omo, Shin Dongwoo-ssi. Kamu datang?” kaget Sojung. “Dan ada apa dengan stiletto ini? Mau kamu pakai atau untuk dijadikan koleksi?”

Shinwoo hanya tertawa mendengarkan lelucon Sojung. “Panggil aku dengan Shinwoo. Shin Dongwoo tidak terdengar keren jika kamu yang mengucapkannya.”

Mendengar gurauan Shinwoo, Sojung pun tertawa lepas.

 

 

Di lain sisi ada Baekhyun yang sudah mengamati gerak-gerik Shinwoo sejak ia tiba di bazaar ini.

“Oh lihatlah dia. Apa memang dia seperti itu? Perhatiannya terhadap semua perempuan sampai seperti itu?” cibir Baekhyun.

Nugu? Shinwoo Hyungnim? Ada apa memangnya?” bingung Chanyeol  yang tengah menandatangani beberapa permintaan ‘fans’-nya. Chanyeol lalu ikut melihat ke arah Shinwoo yang kini sedang tertawa bersama Sojung. “Wah! Dia tertawa bersama Sojung! Lihat itu, bahkan ketika bersamamu saja Sojung tidak pernah tertawa seperti itu, Baekhyun-ah.”

“Apa perlu kamu menegaskan hal itu?” keluh Baekhyun. “Bahkan kamu adalah sahabatku.”

Baekhyun memandangi Shinwoo sinis, seolah ia ingin melubangi punggung Shinwoo dengan tatapan tajamnya. Entah kenapa ia begitu tidak suka pada Shinwoo. Ada sesuatu di Shinwoo yang membuat Baekhyun begitu tidak simpati padanya. Apalagi begitu melihat apa yang tadi Shinwoo lakukan pada Yoonjo sebelum pemuda itu menghampiri Sojung untuk menggodanya.

“Dia tadi dengan ringan tangannya menyentuh kepala Yoonjo dan sekarang dia menggoda Sojung seperti itu. Sebenarnya apa mau lelaki itu? Apa dengan Kwon Nara dia juga seperti itu?” tanya Baekhyun pada Chanyeol.

“Kamu cemburu? Kamu cemburu karena dia membuat Sojung tertawa seperti itu atau karena dia begitu perhatian pada Yoonjo?” ledek Chanyeol.

Mendengar ucapan Chanyeol, Baekhyun langsung mengelak. “Yah, kalau misalnya dia menyukai Yoonjo, tidak seharusnya dia menggoda Sojung seperti itu. Apa dia tidak memikirkan perasaan Yoonjo?”

“Lalu bagaimana dengan perasaanmu ketika dia membuat Sojung tertawa?”

Pertanyaan Chanyeol itu sukses membuat Baekhyun menutup mulutnya. Tentu saja dia tidak merasa marah karena hal tersebut. Sebaliknya ia merasa bersyukur, karena setidaknya kini ia bisa melihat senyum di wajah Sojung. Baekhyun teringat akan percakapannya dengan Sojung dulu, mengenai perasaan mereka berdua.

“Aku tidak pernah menyukaimu, Byun Baekhyun. Aku mau menjadi pacarmu karena kamu adalah Byun Baekhyun yang terkenal itu. Lihat saja apa yang sudah aku raih begitu aku menjadi kekasihmu. Semua perhatian orang-orang tertuju padaku. Aku hanya butuh itu. Aku tak butuh perasaanmu padaku.”

Baekhyun yang kesal langsung menjawab kalau ia menjadikan Sojung sebagai kekasihnya juga bukanlah karena ia menyukai gadis itu, tapi karena ia ingin menunjukkan pada orang-orang kalau ia bisa menaklukan seorang Lee Sojung. Untuk menambah luka di hati Sojung, Baekhyun menambahkan kalau dirinya bahkan tidak pernah menyukai Sojung. Dan sejak itu, hal yang terjadi di antara mereka benar-benar seperti menyimpan bara api yang membara –panas dan akan selalu terbakar.

“Kalau kamu tidak menyukainya lagi, kenapa tidak kamu lepaskan dia,” ujar Chanyeol. “Dan lihat perempuan yang benar-benar menyimpan rasa suka yang begitu dalam padamu.”

Baekhyun tidak terlalu menyimak ucapan Chanyeol. Ia terlalu larut dalam rasa tidak sukanya terhadap Shinwoo.

.

.

.

“Kamu kenal dengan Shinwoo?” tegur Baekhyun.

Ia berusaha memecah keheningan antara dirinya dengan Sojung –yang sudah terjadi sejak mereka meninggalkan kampus. Meskipun Sojung duduk di sampingnya, gadis itu sama sekali tak berbicara pada Baekhyun –seolah Baekhyun membawa sebuah mannequin yang tak bernyawa di sampingnya.

“Shinwoo?” sahut Sojung acuh.

“Shinwoo. Shin Dongwoo. Atasan Yoonjo. Pemilik Holy Cafe. Tadi aku melihatmu-,”

“Apa yang sudah Yoonjo katakan padamu?!” potong Sojung.

“Apa yang Yoonjo katakan?” bingung Baekhyun.

Sojung menarik napas panjang. Ia sudah menduga kalau Yoonjo akan mengadukan kejadian ‘itu’ pada Baekhyun. Karenanya sekarang ia merasa sangat kesal. Rasanya ia ingin meremas mulut Yoonjo karena sudah bicara macam-macam pada Baekhyun.

“Bukan Yoonjo yang sedang kita bicarakan disini. Kita sedang bicara mengenai Shinwoo.”

“Anak itu pasti mengadu lagi padamu kan?! Apa yang dia katakan? Dia mau menjelekkanku sampai seperti apa?!” kesal Sojung.

Baekhyun berusaha keras menahan dirinya. Kalimat ‘jangan berkata buruk mengenai Yoonjo karena dia adalah kembaranmu’ sudah ada di ujung lidahnya. Tapi ia ingin menghormati keputusan Yoonjo yang ingin mengatakan langsung pada Sojung mengenai masalah ini. Kini Baekhyun hanya harus berusaha untuk membuat Sojung setidaknya sedikit menyukai kehadiran Yoonjo.

“Aku ingin kamu bersikap baik pada Yoonjo,” pinta Baekhyun.

Sojung mendelik tajam pada Baekhyun. Ia sudah bersedekap marah seraya menunjukkan pose angkuhnya. “Sebenarnya apa lagi yang sudah dia adukan padamu? Aku mengurungnya? Aku memukulnya? Aku menyakitinya?” kesal Sojung.

“Yoonjo menyukaimu, Sojung-ssi. Dia begitu menyukaimu. Dia ingin menjadi dekat denganmu. Karenanya bersikap baiklah padanya,” Baekhyun mencoba memberi pengertian pada Sojung. Tapi tentu saja Sojung tidak akan mendengarkan permintaan Baekhyun semudah itu.

“Apa dia punya penyakit penyuka sesama jenis? Kalau ya, maka aku akan menjauhinya. Kalaupun tidak, aku tetap tidak akan mau berbaikan padanya, apalagi sampai menjadi dekat dengannya. Sampai matipun aku tak akan mengakuinya,” tegas Sojung.

“Lee Sojung! Apa perlu kamu bicara sampai seperti itu?!” kesal Baekhyun. “Aku hanya ingin kalian berbaikan, itu saja. Jangan sampai kamu menyesali keputusanmu ini di kemudian hari, Lee Sojung.”

“Lihat. Kamu marah lagi padaku hanya karena Shin Yoonjo. Dia penyebab utama kita selalu bertengkar. Lalu kenapa aku harus berbaikan padanya?!” sewot Sojung.

Sojung memandangi Baekhyun kesal. Ia memang tidak mencintai Baekhyun dan Baekhyun juga menyadari akan hal itu. Karenanya percakapan yang terjadi di antara mereka bukanlah percakapan penuh rasa sayang seperti kebanyakan pasangan lainnya. Percakapan mereka selalu diakhiri dengan pertengkaran antara keduanya. Mereka terlalu sering bersitegang di belakang layar meskipun selalu tampil sempurna di hadapan khalayak ramai. Tapi Sojung tak pernah mau mengakhiri hubungannya dengan Baekhyun. Tidak, karena ia sudah terlanjur tercebur dalam lingkaran masalah Baekhyun.

“Ahh, aku lapar! Percakapan ini benar-benar membuatku lapar,” sindir Sojung.

Sojung lalu meninggalkan Baekhyun dengan membanting pintu mobil Baekhyun. Kemudian masuk ke dalam sebuah restoran Italy. Hari ini, untuk merayakan suksesnya bazaar yang di adakan Sojung, Baekhyun mengajak Sojung untuk makan malam. Tapi sepertinya mereka tak bisa makan dengan tenang malam ini.

Baekhyun pun menyusul Sojung ke dalam restoran. Ia sudah melihat kiri-kanan restoran dan hampir tidak ada bangku kosong untuk mereka berdua. Ia lalu mendapati Sojung sedang berdiri di tengah ruangan, dengan seorang pelayan yang tampak sedang menahan dirinya. Tidak ingin Sojung mencari masalah di restoran ini, Baekhyun pun bergegas menghampiri Sojung. Ia langsung menarik lengan Sojung untuk membawa gadis itu keluar. Tapi sayangnya gadis itu sama sekali tak bergerak dari tempatnya.

Mata Sojung terkunci pada meja yang ada di salah satu sudut ruangan. Masih ada dua bangku yang kosong di meja yang sudah diisi oleh sepasang manusia. Sojung pun melangkahkan kakinya untuk menghampiri meja tersebut. Tapi Baekhyun terlanjur menahannya –membuat Sojung berbalik dan menatapnya tajam.

“Aku akan menunjukkan padamu, kalau aku dan Yoonjo tak akan pernah bisa disatukan,” desis Sojung.

Sojung tiba di meja yang dituju. Baekhyun yang sudah menyusul Sojung hanya bisa mengalihkan pandangannya dari penghuni meja tersebut. Ingin rasanya Baekhyun menyeret Sojung keluar. Apalagi kini Sojung sudah menawarkan dirinya untuk bisa bergabung dengan sepasang muda-mudi yang tengah menikmati makan malam mereka.

“Shinwoo-ssi, boleh kan aku duduk disini? Tempatnya penuh, tapi aku ingin sekali makan pasta disini,” ujar Sojung.

.

Begitu Sojung dan Baekhyun bergabung bersama dengan Shinwoo dan Yoonjo, yang  sudah lebih dulu menguasai tempat tersebut, suasana yang terjadi di antara mereka benar-benar sangatlah canggung. Sojung duduk bersandar dan memandangi Yoonjo tajam. Baekhyun bertingkah seolah tidak berada disana, karena ia terus melihat ke arah lain selain apapun yang ada di hadapannya. Sementara Shinwoo, ia seolah tidak menyadari dengan aura kelam yang begitu terasa di sekitarnya.

Begitu pelayan datang, Sojung langsung memesan menu yang ia inginkan. Sementara Baekhyun..

“Aku mau spaghetti dan tolong sausnya dipisah.” Ucapan Baekhyun itu tentu saja mendapat sorotan tajam dari Sojung serta tatapan bingung dari Shinwoo –Yoonjo sendiri tampak tidak peduli dengan pesanan Baekhyun.

Begitu suasana kembali hening, Sojung pun mencoba untuk buka suara.

“Shinwoo-ssi, kamu juga sering kesini?” tegur Sojung.

Dan Shinwoo menjawab pertanyaan Sojung –yang lalu berakhir dengan mengalirnya percakapan di antara mereka berdua. Seolah hanya ada Sojung dan Shinwoo di meja ini, sebab hanya suara mereka berdua saja yang terdengar disana. Mereka terus berbincang sampai akhirnya makanan pesanan mereka tiba. Keduanya melanjutkan percakapan mereka sambil menyantap makanan yang ada di hadapan mereka. Sementara Baekhyun lebih memilih untuk memperhatikan Yoonjo yang sedari tadi mengacak-acak spaghettinya.

“Sepertinya spaghettinya bukan seleramu, Yoong?” tegur Baekhyun.

Yoonjo pun menghentikan aktivitasnya. Semua mata kini tertuju pada Yoonjo. Memang sejak makanan mereka datang, Yoonjo sama sekali tidak memasukkan makanan pesanannya ke dalam mulut. Ini bukan karena Yoonjo tidak menyukai spaghetti, tapi Yoonjo memang tidak bisa memakan makanan tersebut. Dan Baekhyun yang tahu persis akan sindrom Yoonjo tersebut, malah memperburuk keadaan dengan tegurannya itu. Hal ini membuat Yoonjo jadi merasa tertekan dengan semua mata yang menatap dirinya –Shinwoo yang tampak khawatir dan Sojung yang sudah mendelik tajam padanya.

“Kamu tak suka spaghettinya, Yoonjo-ya?” tegur Shinwoo.

Yoonjo langsung memasang senyum di wajahnya untuk menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja. Yoonjo lalu memasukkan sesendok spaghettinya ke dalam mulut dan mulai mengunyahnya. Baekhyun masih terus memandanginya, seolah ingin menyuruh Yoonjo untuk mengeluarkan makanannya. Tapi Yoonjo dengan segera menelan makanannya. Kemudian Yoonjo kembali mencoba menyendokkan spaghetti lagi ke dalam mulutnya. Tapi terlihat sekali kalau Yoonjo sedang berusaha keras untuk menikmati makanannya –ia terlihat kesusahan ketika mengunyah dan menelan makanannya.

“Hentikan, Yoong,” cegah Baekhyun ketika Yoonjo kembali hendak memasukkan makanannya.

Baekhyun berusaha mencegah Yoonjo, sebab kini wajah Yoonjo sudah memucat. Baekhyun lalu menarik piring Yoonjo dan menggantinya dengan spaghetti pesanannya yang tanpa dressing. Baekhyun baru saja hendak menyuruh Yoonjo untuk mengeluarkan makanan di mulutnya, tapi Yoonjo sudah terlanjur bangkit dari bangkunya dan berlari menuju toilet.

“Kenapa dengan Yoonjo?” bingung Shinwoo sekaligus panik.

“Yoonjo tidak bisa memasukkan makanan yang asing bagi perutnya. Dia akan berakhir dengan mengeluarkan semua isi perutnya, jika ia memakan makanan yang bukan buatan rumah,”  sahut Baekhyun yang terus memandangi ke arah Yoonjo pergi. Ia kemudian melirik ke arah Sojung yang tampak tak peduli dengan keadaan Yoonjo. “Sojung-ssi, bisa tolong lihat Yoonjo di toilet?”

“Aku mau makan disini dan kamu menyuruhku untuk melihat orang yang sedang muntah sebelum makan?” kesal Sojung. Tapi ia tetap menurut dan menyusul Yoonjo ke toilet.

.

Sojung bersedekap seraya bersandar pada dinding toilet. Ia memandangi pintu kabin toilet yang tertutup dimana ada Yoonjo di dalamnya yang (terdengar) sedang memuntahkan isi perutnya. Cukup lama Yoonjo di dalam toilet, entah berapa banyak yang sudah ia keluarkan dari perutnya. Melihat hal ini membuat Sojung setidaknya sedikit kasihan pada Yoonjo.

Begitu pintu kabin dimana Yoonjo mengurung dirinya terbuka, Sojung melihat keadaan Yoonjo yang sudah tampak begitu berantakan. Wajahnya pucat dan sembab –efek sehabis muntah yang turut membuat gadis itu mengeluarkan air matanya. Yoonjo sendiri kini tampak kaget melihat Sojung sudah berdiri menghadap dirinya.

“Kenapa kamu ini norak sekali, Yoonjo? Kalau kamu tidak bisa makan pasta, seharusnya kamu tidak datang ke tempat ini. Lihat apa yang sudah kamu lakukan. Kamu menyusahkan semua orang, termasuk aku,” semprot Sojung.

Yoonjo berdiri kaku di dalam toilet seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Perlakuan Sojung benar-benar beda dengan perlakuan Yoona –saudara kembarnya. Dulu Yoona akan selalu membelanya jika Yoonjo memuntahkan makanannya. Yoona akan menyembunyikan Yoonjo di toilet dan mengalihkan perhatian ibu mereka, dengan begitu Yoonjo tidak menjadi sasaran kemarahan sang ibu. Melihat perubahan sikap saudara kembarnya ini membuat Yoonjo jadi berkecil hati.

“Aku bukannya tak bisa makan pasta. Tapi aku tak bisa makan makanan yang bukan buatan orang rumahku-,”

“Kalau begitu mengapa kamu datang kesini untuk makan malam? Karena Shinwoo-ssi yang mengajakmu dan kamu tak bisa menolaknya? Apa sekarang dia jadi incaranmu juga? Setelah melihat kalau Baekhyun tidak terlihat cukup mapan, akhirnya kamu memilih untuk menggoda Shinwoo? Dengan begitu kamu bisa tetap menyimpan perasaanmu terhadap Baekhyun sambil bermain hati dengan Shinwoo?!” sela Sojung.

Yoonjo hanya bisa terbelalak mendengar semua dugaan Sojung. Ia tak habis pikir akan imajinasi Sojung mengenai dirinya. Yoonjo tak pernah mengerti apa kesalahannya sampai Sojung harus selalu berbicara seperti itu padanya. Yoonjo merasa jika seperti ini terus, maka Sojung akan semakin jauh saja darinya. Yoonjo harus membuat Sojung setidaknya mengingat dirinya. Jika saja Sojung –ahh Yoona maksudnya– mengingat kalau ia memiliki seorang kembaran bernama Yoonjo, pasti Sojung tidak akan sampai hati berbicara kasar seperti ini.

“Dulu, ketika aku kecil, aku sering memuntahkan makananku. Karena hal itu ibuku selalu memarahiku. Tapi sau-,”

“Ahh dwaesseo(cukup)!! Apalagi yang mau kamu ceritakan?! Kamu punya phobia terhadap makanan? Phobia terhadap pasta? Apa peduliku?! Untuk apa juga kamu menceritakan penderitaanmu itu padaku? Kamu pikir aku akan simpati padamu?! Kamu benar-benar membuang waktuku,” sentak Sojung.

Sojung lalu beranjak hendak meninggalkan toilet seraya menggerutu mengenai pertunjukkan-yang-baik-sebelum-makan. Tapi Yoonjo belum mau menyerah untuk membuat Sojung menyadari keberadaannya. Yoonjo langsung menahan Sojung dengan menarik pelan ujung lengan blus Sojung.

“Sojung-ssi, apa tidak bisa kita berbaikan? Aku ingin sekali menjadi temanmu, sahabatmu, dan kalau bisa jadi saudaramu,” pinta Yoonjo.

Sojung langsung menepis tangan Yoonjo. Ia menatap mata Yoonjo lekat-lekat. Kebencian terpancar jelas disana –kebencian yang susah diungkapkan dengan kata-kata.

“Membayangkan kamu menjadi temanku saja sudah cukup mengerikan bagiku. Apalagi kamu menjadi saudaraku. Lebih baik aku hidup sendirian di dunia ini daripada aku harus memiliki saudara seperti kamu,” desis Sojung.

.

.

.

Yoonjo masih belum bergerak dari tempatnya. Ia tampak begitu kosong. Meskipun matanya tampak memandang lurus ke depan, tapi ia sama sekali tak melihat apapun yang ada di hadapannya. Yoonjo masih belum bergeming dari posisinya. Bahkan ketika Baekhyun menepuk pelan pundaknya, Yoonjo tidak merespon apapun.

“Apa yang di katakan Sojung di toilet tadi?” khawatir Baekhyun. Sejak kembali dari toilet  restoran sampai akhirnya Baekhyun membawa Yoonjo pulang, gadis itu sama sekali tak berbicara apapun.

Baekhyun akhirnya meraih tangan Yoonjo dan menggenggamnya erat; berusaha meyakinkan kalau dirinya baik-baik saja; berusaha menunjukkan kalau masih ada Byun Baekhyun yang akan selalu berada di sampingnya. Tapi hal itu malah membuat air mata Yoonjo jatuh. Iba, Baekhyun pun melayangkan tangannya yang bebas untuk menghapus air mata Yoonjo.

Uljima, Yoong. Semuanya akan baik-baik saja,” Baekhyun berusaha meyakinkan Yoonjo.

“Apanya yang baik-baik saja? Kalau dirimu adalah masalahnya, apa kamu masih bisa bilang kalau semuanya akan baik-baik saja?” isak Yoonjo. Ia lalu menepis tangan-tangan Baekhyun darinya. “Inilah yang membuat dia begitu membenciku. Karena sikapmu padaku yang berlebihan ini, yang membuat dia begitu tidak menyukaiku.”

Yoonjo mencoba melampiaskan semuanya pada Baekhyun. Ia sudah tak bisa berpikir apapun lagi. Ia hanya butuh pelampiasan. Jadi ia menyalahkan semuanya pada Baekhyun.

“Yoong, kenapa kamu seperti ini?” bingung Baekhyun. “Jika kamu kecewa dengan yang dikatakan Sojung, jangan kamu lampiaskan semuanya padaku. Tidak ada yang salah akan perlakuanku padamu. Eomma sudah menjadikanmu sebagai anak gadisnya, yang itu artinya adalah kamu itu saudaraku juga.”

“Dia, perempuan itu, pacar terbarumu itu, dia adalah kembaranku yang telah lama menghilang. Jadi jangan sakiti hatinya. Aku tak ingin dia salah paham dengan kedekatan kita. Jadi berhenti bersikap perhatian padaku!!” seru Yoonjo.

Yoonjo menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menangis semakin jadi. Memikirkan semua kebencian Sojung terhadap dirinya benar-benar mampu membuat Yoonjo merasa sangat lemah. Jika ia tidak menabahkan dirinya, mungkin Yoonjo sudah mengalamai serangan jantung di restoran tadi. Rasanya sungguh sangat sesak, ketika orang yang begitu ia rindukan, dimana seumur hidupnya ia habiskan dengan terus mencintai orang tersebut tanpa batas, tapi ternyata orang tersebut menolak kehadirannya bahkan sampai membenci dirinya. Rasanya semua perjuangannya menjadi sia-sia.

“Kamu bahkan tidak mengerti perasaanku. Tapi kamu terus hadir di hadapanku dan selalu membuatku sesak dengan semua tingkah lakumu. Kumohon berhentilah, Byun Baekhyun. Berhenti mempermainkan hatiku.”

.

.

.

.

.

.

 

*Chapter 7 end*

logo1

Tangled Fate the series

안녕!!!

Why i cant stop crying while updating this story.. TT.. It’s because of those hatred toward him and his girlfriend. Just who the hell are you screaming all those hateful word to them. What have u done for them so you can bully them as you like. You are not their parents, why would u harassing them.

Truthfully, i prefer kpop world in under 2008. At those year, kpop world were so peaceful and lovely, not like this day. People nowadays so easily saying hateful things towards the one they love. These young people with narrow-minded are so easily throw fist towards each other, even to the one they called love.

And for those who support beedragon, i love you guys.  Thanks for supporting me no matter what. And please keep support me.

Nb: jangan bahas cacian bee di atas ini dalam komen kalian. Cukup komentar mengenai cerita yoonbaekjungshin.. thank you ❤

lastly, thanks for your support!! u guys are my vitamin 🙂
안녕!! 뿅! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – Tangled Fate | Chapter 7 | PG15

9 thoughts on “FF – Tangled Fate | Chapter 7 | PG15

  1. Omooooo ini greget sekaleee kak bee..permasalahna yg kompleks dan gak ribet. Nyaman dibaca gakm bkn pusingg.. ituu tpi masihan si baek serba salah jdinya.. yoonjo jg gk bleh mrh ke baekhyun dong.. soojun adja yg menyebalkann.. hufftt tpii dia jg gengsi mungkin lah ya.. next chp ya kak

  2. Elsa Sandra says:

    Author maaf aku baru bisa komen di chapter ini ehehe ^^v ffnya keren thor! Lanjut ya,aku geregetan sendiri bacanya sama sampe nangis gini T^T author jjang!

  3. disinu rada pissess off sama yoonjo. kalo emang dia gak bisa makan ya aturan tolak aja kan dia jadi ngerepotin banyak orang.
    kenapa baek gak putusin sojung aja?
    kan sama” gak cinta?
    di tunggu kelanjutannya thor 😉

  4. aick says:

    aiiih dasar baekki gak sensitif sama sekali. semoga kata2 yoonjo itu bikin baekki sadar. gemes bgt sama ini anak ><
    semakin runyam aja masalahnya..
    eonniii ditunggu next chap 😀

  5. yehorat says:

    HUAA JANGAN JAHAT DONG SAMA BIAS KU;-; aku udh rela yoonjo serangan jantung, anu lah itulah. tapi aku gak rela kalo dia gak diterima sama sojung ;-; aku ga rela yoonjo terlihat lemah ;-; omaigat aku hampir nangis tau hueee

  6. aku ngira, kalo part ini bakal ada kejutan.. kaya yoonjo langsung ngasih tau yoona kalo dia kembara.. duh tapi nggak asik dong brarti langsung tamat « ngawur ngawur xV hhh~~~
    oke aku makin sama yoonjo, perjuangan hidupnya.. aku berharap nantinya bakal happy ending nih :’)
    bang cnu, apa bener kamu kaga milih yeoja yang salah? ah yakin? bener??? wkwkwk

  7. maknae98 says:

    arghh!!! knapa aku benci bgt sama sojung ya?? sikapnya Itu loh. klau gak suka sama baekhyun ya udah, jngn permasalahkan kedekatan yoonjo dengan baekhyun dong… ughhh.. bner2 kesal sama sojung disini..
    itu shinwoo suka yoonjo ya? andwae!!! yoonjo kan adiknya.. lalu sbenarnya baekhyun suka sama yoonjo atau sojung sih??
    ceritanya tambah seru eonni!!

  8. hazunajohkim says:

    Ukyaaaaa itu kalimat yoong terakhir ngomong di dpn baek? Baek bakalan sadar ga ya kalo yoong suka ama dia? Huhuhu iya nih semua diperkeruh sm sikap baek ama yoong, aaaaah zz bgt
    Trusss waaaaah cnu cuka ama yooong ohmaaaigaat nah skrg jd jelas. Eh? Tp ya itu kan kan cnu blg dia sk ama adiknya, lah? Aduh jd bingung..
    Ya udahlah nungguin aja #beehwaiting

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s