FF – Tangled Fate | Chapter 6 | PG17


tangled_fate

Title : Tangled Fate

Subtitle : I Finally Found You

Author : beedragon

Cast:

Yoonjo Hello Venus as Shin Yoonjo

Sojung Ladies Code as Lee Sojung

Baekhyun EXO as Byun Baekhyun

CNU B1A4 as Shinwoo / Shin Dongwoo

Other Cast:

Chanyeol EXO as Park Chanyeol

Genre : Family, Romance, Angst, Sad, Tragedy, Friendship

Length : Multichapter

Summary : Ketika waktu Yoonjo semakin menipis, Yoonjo berjuang melawan waktu untuk bisa menemukan belahan jiwanya. Akankah Yoonjo berhasil mengalahkan waktu, atau waktu yang mengalahkannya terlebih dahulu

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Haunted | Taeyeon – Set Me Free | Taylor Swift – Mean

Tangled Fate | Sixth Chapter

~*~

“Kalau Eomma tidak meninggalkanku seperti itu, aku tak perlu mengalami hidup seperti ini!!”

~*~

Chapter 6

.

.

.

“Ini benar Yoona, bukan? Jujangnim, aku kembarannya. Aku mencari Yoona kemana-mana karena katanya ibuku meninggalkannya di panti asuhan. Jujangnim, dimana Yoona sekarang? Apa dia ada disini atau dia sudah meninggalkan panti ini? Tolong beritahu aku, Jujangnim,” mohon Yoonjo.

Kepala panti tampak bingung dengan sikap Yoonjo. Ia lebih bingung lagi karena dua anak kecil yang ada di foto Yoonjo itu begitu mirip dengan anak di foto yang sedang ia pegang.

“Tapi bagaimana bisa? Hyojin bilang kalau salah satu putrinya sudah meninggal, makanya ia menitipkan Yoona padaku. Kamu benar putrinya Shin Seunghoon dan Kim Hyojin? Bagaimana bisa?” bingung kepala panti.

Mendengarkan ucapan kepala panti membuat Yoonjo dilanda mental breakdown. Ibunya menganggapnya sudah mati, karena itu ia menyerahkan Yoona ke panti ini. Yoonjo benar-benar tak habis pikir akan ibunya tersebut.

“Eomma.. Eomma bilang kalau aku sudah mati? Jadi dia benar-benar mengharapkan aku cepat mati?” lirih Yoonjo.

Kepala panti sampai tidak enak hati mendengar ucapan Yoonjo itu. Ia akhirnya menuntun Yoonjo untuk duduk di sofa. Kepala panti menggenggam tangan Yoonjo erat. Melihat gadis itu menenteng kantong infus dengan kondisi badan yang seolah ia akan terbang jauh jika ada angin yang meniupnya, membuat kepala panti jadi iba pada Yoonjo.

“Aku.. begitu aku tahu kalau Eomma membuang Yoona ke panti asuhan, yang ada dipikiranku hanyalah bagaimana caranya untuk menemukan Yoona. Aku menghabiskan waktuku berkeliling Korea hanya untuk mencari di panti asuhan mana Eomma meninggalkan Yoona. Aku tidak tahu apa alasan Eomma membuang Yoona. Aku benar-benar tak tahu apa yang ada di pikirannya,” ujar Yoonjo pelan.

Kepala panti akhirnya bercerita kalau awalnya ia juga bingung dengan keputusan ibu si kembar. Tapi pemimpin Happy Paradise itu percaya pasti ada alasan dibalik semua tindakan dan keputusan ibu Yoonjo dan Yoona itu. Karenanya ia mau menampung Yoona.

Jujangnim, waktuku tidak banyak. Aku bisa saja mati kapan pun. Karenanya, sebelum aku mati aku ingin bertemu dengan Yoona. Tolong beritahu aku dimana Yoona berada sekarang,” pinta Yoonjo. Cairan bening kini sudah menggenai mata indahnya.

“Mianhae, Agassi. Aku tidak bisa memberitahumu dimana dia. Keluarga yang mengangkatnya meminta kami untuk merahasiakan identitas mereka. Sebab jika identitas Yoona diketahui publik, keluarga baru Yoona itu bisa mengalami guncangan besar. Keluarga Yoona bukanlah keluarga sembarangan,” kepala panti mencoba memberi pengertian pada Yoonjo. Tapi hal itu malah membuat airmata Yoonjo jatuh.

Yoonjo kembali memohon pada kepala panti. Memohon agar kepala panti memberitahunya dimana Yoona tinggal seraya berjanji kalau ia tidak akan mengganggu kehidupan baru Yoona. Yoonjo hanya ingin bertemu dengan Yoona dan melakukan hal yang selalu Yoona lakukan padanya –yaitu menjaga dan melindunginya.

Akhirnya kepala panti menyerah. Apalagi keadaan Yoonjo terlihat begitu memprihatinkan saat ini. “Aku hanya bisa memberitahumu kalau Yoona diangkat oleh keluarga yang sangat berpengaruh besar mengenai masalah hukum di Korea ini. Aku hanya bisa memberitahumu itu. Maafkan aku, Nak.”

Tak lama kemudian Chanyeol datang dengan membawakan makan siang Yoonjo. Dan kepala panti memutuskan meninggalkan Yoonjo –untuk memberinya ruang berpikir. Sepeninggal kepala panti, Yoonjo terus merenung memikirkan petunjuk yang diberikan oleh kepala panti. Ia sampai mengabaikan makanannya sehingga membuat Chanyeol berinisiatif untuk menyuapinya makan. Sambil disuapi oleh Chanyeol –karena Yoonjo juga tak bisa menggunakan tangan kanannya, Yoonjo terus berpikir keluarga seperti apa yang mengasuh Yoona.

“Chanyeol, apa kamu tahu keluarga seperti apa yang memiliki pengaruh besar mengenai hukum di Korea?” tanya Yoonjo sambil mengunyah makanannya.

Chanyeol yang sedang fokus akan makanan di hadapannya, berpaling menatap Yoonjo bingung. “Pastinya itu adalah keluarga hakim, pengacara atau jaksa. Orang-orang seperti itu memiliki pengaruh besar terhadap hukum, bukan?”

Bagai mendapat sebuah penerangan, Yoonjo langsung meminta Chanyeol untuk mencari data mengenai hakim, pengacara dan jaksa mana saja yang namanya cukup bersinar di Korea. Hanya dalam sekejap saja, Chanyeol sudah berhasil mengumpulkan nama-nama dari ‘keluarga hukum’ yang memiliki putri seumuran dengan mereka.

“Hakim agung Choi Junghoon adalah ayah dari Ahsley Choi. Kamu tahu Ashley dari fakultas hukum bukan? Dia adalah putri tunggal Choi Junghoon. Lalu ada pasangan jaksa Go Kwangkyu dan pengacara Choo Ara. Mereka adalah orangtua Go Eunbi, sahabat Lee Sojung. Dan terakhir adalah jaksa agung Lee Byunghun. Kalau ini kamu tentu tahu siapa dia. Dia adalah ayahnya Lee Sojung,” jelas Chanyeol. Setelah selesai browsing internet mengenai ‘keluarga hukum’, Chanyeol kembali memfokuskan diri pada makanan Yoonjo.

Yoonjo berpikir keras. Ketiga nama itu ternyata berada di satu lingkungan yang sama dengan Yoonjo, yaitu lingkungan Donguk University. Dan ketiga nama yang disebutkan Chanyeol itu tidak ada yang memiliki hubungan baik dengannya. Ashley senang mencari perkara dengan Yoonjo. Sementara Sojung menjadi musuh Yoonjo karena Baekhyun lebih perhatian pada Yoonjo dibandingkan dengannya. Sedangkan Eunbi, tentu saja dia sekawan dengan Sojung, sudah pasti ia juga membenci Yoonjo.

Jika siapapun di antara ketiga nama itu yang ternyata adalah Yoona, sudah pasti bukan perkara mudah untuk Yoonjo. Karena ia tak akan mungkin bisa mendekat pada salah satu di antara mereka. Apalagi sampai mengakui kalau dirinya adalah kembaran mereka. Mungkin mereka akan lebih memilih mati dibandingkan mengakui kalau Yoonjo adalah saudaranya. Tapi Yoonjo baru tersadar satu hal.

“Kenapa tidak ada yang mirip denganku?”

.

.

.

Sojung memandangi ponselnya. Pikirannya melayang kemana-mana. Sojung sedang merasa amat sangat depresi saat ini. Karena sepertinya ia sudah masuk ke jalur yang salah dalam hidupnya.

Awal mula Sojung mendekati Baekhyun adalah karena pesan terakhir sahabatnya yang begitu ambigu. Sojung mengira, almarhum sahabatnya itu berwasiat kalau ia ingin memberi Baekhyun pelajaran karena sudah membuatnya sakit. Tapi ia salah mencerna ucapan sahabatnya itu. Sojung terlanjur mengambil keputusan tanpa memilah lagi apa makna dari pesan terakhir sahabatnya.

“Aku sakit, Sojung-ah. Aku akan mati. Aku mau minta tolong padamu. Tolong temui Baekhyun dan katakan padanya kalau aku mencintainya. Aku ingin dia menyadarinya, betapa aku sangat mencintainya.” Itu adalah pesan terakhir sahabatnya.

Jika Sojung mencerna kalimat tersebut, Sojung mendapat kesimpulan bahwa Baekhyun menyebabkan sahabat Sojung sakit sampai mau mati dan sahabatnya itu meminta Sojung untuk membalaskan perlakuan Baekhyun agar Baekhyun sadar. Tapi ternyata bukan seperti itu. Ketika akhirnya Sojung menelepon kakak dari sahabatnya itu, ia mendapatkan fakta yang sungguh mengejutkan.

“Byun Baekhyun? Aah, Byun Baekhyun yang vokalis band sekolah dari Seoul itu? Yang dari sekolah SOPA? Woohee memang pernah bilang kalau ia sangat mengagumi lelaki itu. Tapi mereka bukanlah sepasang kekasih. Aku bahkan tak yakin kalau Byun Baekhyun mengenal Woohee. Karena mereka memang tak pernah bertemu langsung.”

Sahabat Sojung itu ternyata menyimpan cinta-sepihak terhadap Baekhyun. Sahabatnya itu ingin agar Baekhyun mengetahui kalau pernah ada seorang Bae Woohee yang sangat menyukainya. Dan sahabat Sojung itu bukannya meninggal karena menyimpan sakit hati yang teramat dalam terhadap Baekhyun, tapi memang karena ia sudah lama mengidap sakit parah.

Dan disini Sojung menyesali keputusan yang ia ambil tanpa berpikir panjang. Karena kini ia tak tahu bagaimana caranya melepaskan diri dari Baekhyun tanpa membuat dirinya terlihat seperti sebuah lelucon. Yang terutama adalah Sojung merasa sangat bersalah terhadap Baekhyun dan Yoonjo. Ya, karena ia sudah membuat Yoonjo yang tak berdosa sampai harus masuk UGD akibat ulahnya.

Sojung meletakkan ponselnya begitu saja. Ia lalu meraih gelas kecil di hadapannya dan menegak habis isinya. Kemudian ia kembali mengisi gelasnya dengan menuangkan sebotol alkohol yang ternyata juga sudah habis. Dengan nada suara yang sudah tidak stabil, Sojung meminta botol baru pada bartender di hadapannya.

“Sojung-ssi, kamu sudah mabuk. Aku tidak ingin ayahmu menuntut bar ini karena kamu mabuk parah. Jadi berhenti sekarang ya. Aku akan panggilkan taksi untukmu,” usul sang bartender.

Sojung menengadahkan kepalanya –bosan mendengar saran sang bartender yang ia dengar sejak beberapa menit yang lalu. Sojung meracau pada sang bartender mengenai aku-akan-menuntutmu-jika-kamu-tak-memberikan-minumannya. Tapi tentu saja bartender itu tidak menuruti permintaan Sojung.

“Yah!! Wine!!” rengek Sojung. “Kamu tidak tahu apa yang kualami. Jadi berikan aku wine. Aku ingin melupakan semua yang sudah terjadi.”

Bukannya memberikan apa yang menjadi pesanan Sojung, sang bartender malah menyodorkan segelas air putih pada Sojung. Berharap itu bisa menetralisir kadar alkohol dalam tubuh Sojung –yang nyatanya tak berhasil.

“Kenapa bising sekali? Kenapa disini mendadak ramai? Dan kenapa kamu jadi ada dua? Yah~ apa kalian punya kembaran? Aku dulu juga punya. Tapi itu dulu, dulu~ sekali. Aku bahkan sudah tak ingat siapa nama kembaranku,” racau Sojung.

Si bartender sudah tak bisa menahannya lagi. Ia akhirnya menyuruh salah satu pelayan untuk membawa Sojung keluar. Bukannya ia tak ingin melayani keluhan Sojung, tapi ia tak ingin Sojung membuat onar di barnya. Sebab Sojung yang sudah mabuk bisa melakukan hal-hal gila diluar batas pemikiran manusia normal.

Ketika diseret keluar, mendadak Sojung teringat akan Yoonjo. Mengingat Yoonjo membuat kepala Sojung sakit. “Shin Yoonjo. Nama itu tidak asing untukku~ Yah Shin Yoonjo!! Siapa sebenarnya kamu!” bentak Sojung.

.

.

Sojung berusaha berjalan dengan benar. Satu langkah, dua langkah ia berhasil jalan lurus. Tapi di langkah ketiga, Sojung akan langsung oleng ke kirinya. Begitu berhasil menguasai dirinya, Sojung kembali berjalan satu langkah, dua langkah lurus. Dan kali ini di langkah ketiga, Sojung oleng ke kanan. Dan begitu seterusnya sampai akhirnya ia tiba di pinggir sungai Han.

Sojung menyandarkan dirinya di pagar pembatas sungai Han. Memandangi luasnya sungai yang terbentang di hadapannya –yang entah kenapa terlihat tiga kali lebih luas dari biasanya. Sesak sudah memenuhi dada. Sojung bahkan tidak lagi bisa membedakan apakah sesak ini karena minuman yang ia konsumsi malam ini atau karena semua masalah hatinya.

“Aku.. mempermalukan diriku sendiri. Aku.. mengikat seorang yang seharusnya bebas. Dan aku.. menyakiti.. orang yang tak bersalah,” gumam Sojung. “Kenapa.. kenapa aku harus jadi seperti ini?”

Sojung memanjat pagar pembatas. Ia lalu merentangkan kedua tangannya. Melihat sungai Han yang begitu luas ini membuat Sojung teringat akan sebuah adegan dari film Titanic –adegan dimana tokoh Rose berdiri di pagar kapal seraya merentangkan kedua tangannya seolah ia sedang terbang di atas lautan yang gelap. Ia terus meracau mengenai ia ingin memiliki orang yang juga perhatian terhadapnya, seperti Baekhyun terhadap Yoonjo serta tentang betapa irinya ia pada kehidupan Yoonjo.

“Kalau Eomma tidak meninggalkanku seperti itu, aku tak perlu mengalami hidup seperti ini!!” jerit Sojung. “Ini semua gara-gara Eomma!”

Sojung meluapkan semua isi hatinya. Ia berteriak sejadi-jadinya –melepaskan semua keluh kesah yang menguasai dirinya. Sojung yang sudah begitu mabuk, tak lagi bisa mengendalikan tubuhnya sendiri. Ketika Sojung kehilangan keseimbangannya, ia pun terjungkir ke depan –ke arah sungai. Hal terakhir yang terlintas di benaknya adalah..

“Tangkap aku dan bersihkan diriku dari semua dosa ini,”

.

.

Malam ini Shinwoo memutuskan untuk berolahraga sejenak. Shinwoo punya kebiasaan dimana jika ia merasa sangat senang, maka ia akan menghabiskan waktunya untuk jogging. Shinwoo memang sedang sangat senang saat ini. Ia akhirnya mengetahui identitas adiknya. Setelah terus-terusan mendatangi ibunya dan mencari tahu keberadaan adiknya, akhirnya Shinwoo berhasil mendapatkan informasi mengenai siapa dan dimana adiknya berada. Yang mengejutkan adalah ternyata selama ini Shinwoo berada sangat dekat dengan adiknya.

Tapi Shinwoo tak tahu, bagaimana caranya untuk memberitahu adiknya itu kalau ia adalah kakaknya. Shinwoo tak berani mengatakannya, sebab ia takut adiknya itu akan mengalami depresi. Karenanya Shinwoo menghabiskan malamnya dengan berlari menyusuri sungai Han –siapa tahu ia mendapat pencerahan disana.

“Ini semua gara-gara Eomma!”

Jeritan itu membuyarkan konsentrasi Shinwoo. Tak jauh dari posisinya, Shinwoo melihat ada seorang gadis berdiri di pagar dengan badan yang begitu condong ke arah sungai. Siapapun yang melihatnya pasti akan mengira kalau gadis itu akan bunuh diri. Dengan segera Shinwoo berlari ke mendekati gadis itu dan menarik gadis itu tepat sebelum ia jatuh ke sungai. Keduanya kini jatuh terjengkang ke belakang dengan gadis tersebut menimpa tubuh Shinwoo.

“Yah, neo micheosseo?!” bentak Shinwoo.

Perlahan Shinwoo mengangkat badan gadis itu –yang sudah kehilangan kesadarannya. Bau alkohol terasa begitu menyengat dari napas gadis itu. Betapa kagetnya Shinwoo begitu melihat siapa gadis yang nyaris terjun bebas ke sungai itu.

“Kamu bukannya…,” tegur Shinwoo seraya meneliti lagi wajah gadis itu. “Lee Sojung?”

Tentu saja Shinwoo mengenal gadis ini. Karena gadis inilah yang ia pikirkan sejak tadi. Lee Sojung, adiknya.

.

.

.

Shinwoo memandangi wajah Sojung dengan seksama. Ia mengenal siapa Sojung –gadis itu adalah adiknya yang hidup terpisah darinya. Shinwoo tahu, karena ibunya –Kim Hyojin –menyimpan semua berita tentang Lee Sojung. Beruntungnya Sojung diangkat oleh keluarga yang namanya selalu wara-wiri di koran, jadi mudah bagi ibu Shinwoo untuk mengikuti perkembangan putrinya tersebut.

Shinwoo tak henti-hentinya berdecak kagum. Ia begitu terharu memandangi Sojung. Ia tak pernah menyangka akan memiliki adik perempuan yang begitu manis. Senyum kini selalu menghiasi wajah Shinwoo yang menatap Sojung takjub.

“Sekarang bagaimana aku harus mengatakannya padamu? Kalau aku adalah kakakmu,” gumam Shinwoo.

Melihat kondisi Sojung yang cukup menyedihkan ini, membuat Shinwoo tak yakin apakah adiknya itu bisa menerima berita mengejutkan yang mungkin akan memutar-balik kehidupannya. Apalagi adiknya itu tumbuh besar dengan mengenal keluarga jaksa Lee sebagai keluarganya dan dirinya sebagai anak semata wayang mereka. Shinwoo takut Sojung akan mengalami depresi yang lebih parah dari ini.

“Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu minum begitu banyak? Kenapa kamu mau terjun ke sungai? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” tanya Shinwoo pada figur Sojung yang masih tertidur lelap.

Melihat Sojung yang tampaknya tidak akan bangun dalam waktu dekat, membuat Shinwoo memutuskan untuk meninggalkan gadis itu tertidur di ruang staff cafe miliknya. Berhubung Shinwoo tidak tahu dimana kediaman jaksa Lee –selain itu Sojung juga tidak membawa kartu identitas apapun– membuat Shinwoo membawa gadis itu ke cafenya. Setidaknya Sojung bisa tidur di sofa santai yang tersedia di ruang staff cafe Shinwoo. Sebab ia tak mungkin membawa Sojung ke rumahnya, bisa-bisa ibu angkat Shinwoo histeris dibuatnya.

Masih ada beberapa jam lagi sebelum cafenya buka. Shinwoo mencari kegiatan yang bisa ia lakukan di cafenya, seperti membersihkan mesin kopi atau menyapu lantai. Dan ketika ia sedang menyiapkan sarapan di dapur, Shinwoo mendengar bel pintu cafe berbunyi –pertanda ada yang melewati pintu tersebut. Shinwoo pun bergegas keluar. Shinwoo takut kalau ternyata pegawainya datang sepagi ini dan melihat Sojung yang masih tertidur di ruang staff –bisa-bisa mereka semua heboh.

“Oh, Hyungnim? Pagi sekali kamu sudah datang? Kapan kamu kembali dari perjalananmu?” tegur Yoonjo yang baru saja datang.

Jantung Shinwoo langsung mencelos melihat kehadiran Yoonjo. Karena kehadiran Yoonjo adalah hal yang paling tidak diinginkan Shinwoo saat ini. Bisa-bisa Yoonjo salah paham jika ia bertemu dengan Sojung nanti.

“K-kenapa kamu datang?” bingung Shinwoo bercampur panik.

Yoonjo memandangi Shinwoo bingung –tak biasanya Shinwoo bicara dengan nada tinggi seperti itu. Yoonjo pikir karena ia cuti beberapa hari yang lalu membuat Shinwoo kesal akan sikapnya. Yoonjo hanya bisa menundukkan kepalanya seraya meminta maaf pada Shinwoo.

Mianhanida, Hyungnim. Aku akan bekerja lebih rajin lagi dan tidak mengecewakanmu yang sudah memperkerjakanku disini.”

Shinwoo jadi merasa bersalah mendengar penyesalan Yoonjo itu. Ia pun menghampiri Yoonjo dan menggiringnya untuk duduk di bangku terdekat.

“Bukan seperti itu maksudku, Yoonjo-ya. Kudengar kamu masuk UGD kemarin. Aku bahkan belum sempat menjengukmu dan kamu tiba-tiba sudah berdiri disini. Aku khawatir. Memangnya kamu sudah boleh keluar dari rumah sakit? Kamu sakit apa kemarin, huh?” khawatir Shinwoo.

Yoonjo langsung memikirkan sebuah alasan. Yang terlintas di benaknya hanyalah, “Aku pingsan karena hypothermia.”

Shinwoo terkekeh mendengar alasan Yoonjo. “Hypothermia di musim panas, huh? Apa kamu tahu apa itu hypothermia? Kecuali kamu bilang akibat terlalu panas lalu kamu mengurung diri di lemari pendingin selama dua hari dan terkena hypothermia baru aku akan percaya. Kalau mau membohongiku lebih baik cari alasan yang lebih masuk akal.”

Yoonjo terdiam. Ia pikir Shinwoo akan termakan alasannya seperti Baekhyun dulu. Bodohnya ia membohongi orang yang jauh lebih pintar darinya. Tentu saja Shinwoo pasti tahu kalau hypothermia adalah gejala yang dialami seseorang ketika tubuhnya mengalami penurunan suhu secara drastis. Yoonjo kini kehabisan kata-kata.

Melihat Yoonjo yang kini terdiam, akhirnya Shinwoo melayangkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Yoonjo. “Aku tahu kalau kamu hanya tak ingin aku khawatir. Tapi aku akan menjadi sangat khawatir kalau kamu tidak cerita apapun padaku. Bagaimana bisa aku tahu kalau kamu masuk rumah sakit setelah kamu keluar dari rumah sakit? Kalau bukan Baekhyun yang mengabariku maka aku tak akan pernah tahu kalau kamu sakit, Yoonjo-ya.”

Shinwoo lalu menurunkan tangannya dan menempelkan telapaknya di kening Yoonjo untuk merasakan suhu tubuh Yoonjo. Kemudian ia menutup wajah Yoonjo dengan telapak tangannya. “Lihatlah. Mukamu bahkan tidak lebih besar daripada telapak tanganku. Ini tak bisa dibiarkan. Kamu dilarang bekerja hari ini.”

Yoonjo terbelalak mendengar keputusan Shinwoo. Ia pikir ia dipecat. Kalau ia dipecat maka tamat sudah riwayatnya. Karena bagaimana ia bisa mencari alasan untuk menghindari Baekhyun jika ia tak lagi memiliki kegiatan sampingan? Bekerja dan bermain band hanyalah alasan Yoonjo untuk menjauh dari Baekhyun. Dengan ia menyibukkan diri seperti itu, Yoonjo benar-benar jarang untuk bertemu dengan Baekhyun –yang walaupun seperti itu, ia tetap mendapatkan masalah dengan Sojung. Yoonjo tak ingin memancing pertengkaran lagi dengan Sojung, karenanya ia harus benar-benar menjauhi Baekhyun. Tapi sepertinya kesempatannya akan segera hilang.

“Sebagai gantinya, aku akan membuat hari ini sebagai ‘hari membuat Yoonjo sehat’. Kita akan berolah raga dan mencari makanan yang sehat untukmu. Bagaimana?” usul Shinwoo.

Yoonjo hanya bisa melongo mendengar usul Shinwoo itu. Hal ini membuat Shinwoo mencubit pipi Yoonjo karena ia gemas melihat ekspresi Yoonjo saat ini.

“Ups,” sela sebuah suara –perempuan lebih tepatnya. Baik Yoonjo maupun Shinwoo langsung menoleh ke sumber suara. Mereka mendapati seorang gadis yang rambut pirangnya mencuat kesana-kemari. Dengan balutan minidress bling-bling serta smokey make-up yang sudah luntur –membuat wajah gadis itu tak jauh beda dengan karakter-karakter dari film horor –gadis itu berdiri kaku di depan pintu ruang staff.

Yoonjo terkejut bukan main melihat identitas si pemilik suara. Lee Sojung ada di hadapannya dengan keadaan seolah ia habis berkelahi dengan seseorang –sampai kondisinya begitu berantakan. Saking terkejut (dan takut), Yoonjo sampai nyaris terlonjak dari bangkunya. Untungnya Shinwoo menahan badan Yoonjo sehingga gadis itu tidak terjatuh dari bangku.

Lee Sojung memandangi Yoonjo bingung sekaligus kesal. Ia bingung, karena ketika ia bangun ia mendapati ruang yang sangat asing baginya. Ia kesal, karena ia harus melihat Yoonjo di paginya yang aneh ini –membuat suasana hatinya menjadi makin berantakan.

Suasana yang terjadi di Holy Cafe saat ini sungguh canggung. Yoonjo yang memegang erat tangan Shinwoo –mencari perlindungan– dan Sojung yang tak lepas menatap Yoonjo seolah ia ingin memakannya hidup-hidup. Shinwoo memutuskan untuk menengahi kedua gadis itu. Shinwoo memberi isyarat pada Yoonjo untuk masuk ke dapur, sementara ia menghampiri Sojung untuk menjelaskan keadaannya.

“Kenapa aku ada disini? Dan kenapa dia ada disini?” tanya Sojung –bahkan sebelum Shinwoo benar-benar tiba di hadapannya.

Bukannya menjawab pertanyaan Sojung, Shinwoo malah menarik Sojung untuk duduk. Kemudian Shinwoo mengambil segelas air putih untuk Sojung. Setelah meletakkan minuman tersebut di hadapan Sojung barulah Shinwoo mulai berbicara.

“Aku melihatmu nyaris terjun ke sungai Han dan aku tak sengaja menahanmu untuk tidak jatuh ke dalam sungai. Berhubung aku tidak tahu dimana rumahmu dan kamu juga tidak membawa kartu identitas apapun, jadi aku membawamu ke cafe ini. Dan Shin Yoonjo itu, dia bekerja disini,” jelas Shinwoo.

Sojung memandangi Shinwoo curiga. Bukannya Sojung tak percaya akan pemuda di hadapannya ini. Hanya saja ia tak habis pikir dengan tindakannya. Kenapa juga ia mau menolong dirinya, mereka kenal juga tidak.

“Kenapa kamu menolongku? Aku tidak ingat kalau aku meminta tolong semalam,” cerocos Sojung.

“Aku hanya merasa kalau saat itu kamu butuh bantuan?” sahut Shinwoo sedikit berhati-hati. Ia tak ingin salah bicara dan malah berakhir dengan Sojung membencinya. Setidaknya ia harus membuat Sojung bersimpati padanya, jadi mudah bagi Shinwoo untuk secara perlahan memberi pengertian pada Sojung mengenai kondisi mereka.

“Asal kamu tahu, ayahku adalah seorang jaksa agung. Aku bisa saja menuntutmu untuk tuduhan menculikku. Kenapa juga kamu malah membawaku kesini bukannya ke kantor polisi,” tuntut Sojung. Selain emosinya yang tinggi, harga diri Sojung juga sangat tinggi. Ia paling tidak suka berhutang budi pada seseorang. Karena ia paling tidak suka mengucapkan terima kasih pada orang lain.

Melihat tingkah Sojung ini membuat Shinwoo kembali berpikir. Kalau ia sepertinya belum bisa mengatakan pada Sojung kalau mereka berdua bersaudara. Shinwoo pun memutuskan untuk mengatakannya secara perlahan, tapi tidak saat ini.

“Aku tidak memintamu untuk berterima kasih padaku. Sudah menjadi kewajiban seseorang untuk menolong sesamanya jika melihat ada seseorang yang akan kena musibah,” ujar Shinwoo. Ia kemudian beranjak dari duduknya. “Aku akan membuatkan sarapan untukmu dan kamu bisa membersihkan dirimu di toilet yang ada di sebelah ruangan tempatmu tidur tadi. Setelah kamu sarapan, aku akan mengantarmu pulang.” Dan Shinwoo meninggalkan Sojung menuju dapur.

Sojung masih belum bisa mencerna dengan baik apa yang sedang terjadi saat ini. Sepertinya efek alkohol yang ia minum semalam masih begitu terasa sampai sekarang. Sojung berusaha keras untuk tersadar sampai akhirnya ia melihat Yoonjo yang berdiri tak jauh darinya. Sojung memandangi Yoonjo dengan angkuhnya.

Wae?!” bentak Sojung. “Kamu mau mengadukan keadaanku sekarang pada Baekhyun? Bilang padanya kalau aku mabuk berat dan menghabiskan semalaman dengan pria yang tak dikenal di tempatmu bekerja pula?!”

Ragu-ragu Yoonjo memutuskan untuk mendekat. Jika bukan karena fakta bahwa Sojung termasuk dari tiga kandidat yang merupakan saudara kembarnya, tidak mungkin Yoonjo berani untuk mendekati Sojung saat ini. Ia berdiri di hadapan Sojung seraya menyodorkan segelas minuman.

“I-ini ginger tea. Baik untuk after-effect sehabis minum…,” Yoonjo tak melanjutkan kalimatnya. Sojung sudah memandanginya dengan begitu sadisnya sampai membuat Yoonjo tak berani bergerak. Ia akhirnya meletakkan teh yang dibawanya di hadapan Sojung dan memilih untuk pergi meninggalkan Sojung, karena sepertinya mood Sojung sedang buruk saat ini.

“Badanmu-,” sela Sojung ketika Yoonjo sudah akan kembali ke dapur.

Yoonjo pun berhenti dan berbalik melihat Sojung. Hal yang paling tidak pernah Yoonjo duga, kini terlontar dari mulut Sojung –sampai membuat Yoonjo mematung saking terkejutnya.

“Kamu baik-baik saja.” Ucapan itu lebih terdengar seperti sebuat pernyataan dibandingkan sebuah pertanyaan. Yoonjo sampai tak berkedip menatap Sojung takjub.

Sojung berusaha keras untuk tidak melihat ke arah Yoonjo. Ia menatap bangku kosong di hadapannya seraya bersedekap dengan sombongnya. “Baekhyun mengancam akan memutuskanku karena mengira aku menyakitimu. Tsk, dia bahkan tidak mendengarkan penjelasanku. Melihat kamu baik-baik saja begini, sepertinya ia sudah berlebihan,” ujar Sojung.

Yoonjo akhirnya tersadar dari keterkejutannya. Sepertinya Sojung merasa bersalah karena sudah membuat Yoonjo sakit beberapa waktu yang lalu. Memang Sojung adalah gadis angkuh yang tidak akan menunjukkan kepeduliannya terhadap lingkungan sekitarnya, tapi Yoonjo mengerti kalau Sojung pasti masih memiliki sedikit perasaan khawatir ketika melihat Yoonjo pingsan kemarin. Mungkin jika Sojung sedikit lebih terbuka, Yoonjo tidak akan enggan untuk mendekatinya.

“Aku memiliki phobia terhadap ruang gelap dan tertutup.” Entah kenapa Yoonjo malah mengungkapkan sisi lemahnya. Ia pikir jika Sojung adalah kembarannya, tentu gadis itu ingat apa penyebab Yoonjo takut akan hal-hal tersebut. “Aku memiliki pengalaman buruk mengenai tempat-tempat seperti itu. Karenanya, maafkan aku. Aku akan berusaha untuk tidak membuatmu menyeretku ke tempat itu lagi. Aku sudah menerima pelajaranku.”

Yoonjo membungkukkan badannya pada Sojung sebagai ungkapan penyesalannya. Sojung yang melihat hal itu daru sudut matanya, mau tak mau kembali dirundung rasa bersalah.

“Asal kamu mengatakan pada Baekhyun untuk berbaik hati padaku, kekasihnya, maka aku akan melepaskanmu. Aku tidak akan peduli meskipun kamu memonopoli Baekhyun, yang penting dia tetap bersikap selayaknya seorang pacar terhadapku,” ujar Sojung.

Sojung lalu beranjak dari bangkunya dan pergi menuju toilet. Ucapan Sojung itu kembali membuat Yoonjo berpikir keras. Jika Sojung adalah benar kembarannya, maka Yoonjo tak bisa melakukan apapun selain mengalah padanya untuk masalah Baekhyun.

.

.

.

Baekhyun duduk dengan kakunya di ruangan yang sungguh asing baginyaa. Saat ini Sojung mengundang Baekhyun untuk main ke rumahnya, sebab katanya ibu Sojung ingin bertemu dengan Baekhyun. Ibu Sojung penasaran akan pemuda yang selalu dibangga-banggakan oleh putrinya itu. Dan disinilah Byun Baekhyun, terjebak dalam keterasingan yang begitu terasa di kediaman keluarga Lee. Begitu ia masuk ke rumah Sojung ini, Baekhyun bahkan belum bertemu dengan siapapun selain Sojung. Dan kini begitu Sojung meninggalkannya sendirian di ruang tamu, Baekhyun pun mati gaya karena bingung apa yang akan lakukan di depan ibu Sojung.

Baekhyun akhirnya beranjak dari bangkunya dan memilih untuk berkeliling ruang tamu kediaman keluarga Lee. Ia mencermati foto-foto yang tersebar di atas buffet. Ia melihat foto wisuda Sojung dengan gadis itu diapit oleh sepasang orang tua. Baekhyun mengira itu adalah Tuan dan Nyonya Lee.

“Dan jika diperhatikan lagi, darimana wajah cantik ini berasal? Kenapa tidak ada satupun bagian yang mirip dengan orang tuanya?” gumam Baekhyun seraya mengamati foto wisuda Sojung tersebut.

Bukan tanpa alasan Baekhyun berujar seperti itu, Sojung sama sekali tidak mirip dengan Tuan dan Nyonya Lee. Tuan Lee memiliki kulit yang cukup gelap dan Nyonya Lee juga tidak tampak terlalu putih, sedangkan Sojung memiliki kulit putih bersih. Mata kedua orang tua Sojung sipit dan tidak memiliki lipatan kelopak mata, sedangkan mata Sojung begitu besar, bersinar dan memiliki lipatan kelopak mata. Bentuk wajah Sojung juga tidak bulat seperti kedua orang tuanya. Ini seolah keluarga Lee mendapatkan sebuah berlian yang begitu cantik.

Baekhyun meraih satu figura foto. Ia memandangi dengan seksama foto yang berisi seorang wanita memangku anak kecil berusia sekitar 6-7 tahun. Dan Baekhyun nyaris menjatuhkan figura tersebut. Karena foto anak kecil itu terlalu mirip dengan figur Yoonjo ketika mereka kecil dulu. Bertahun-tahun menghabiskan waktunya bersama Yoonjo, membuat Baekhyun mengingat persis seperti apa figur Yoonjo ketika kecil dulu. Baekhyun mencoba memastikan lagi kalau tebakannya itu salah. Ia kembali meraih foto-foto yang lain –foto masa kecil Sojung. Meskipun Baekhyun berusaha mengacuhkan kebingungannya tapi ia tetap tak bisa menahan diri, karena semua anak kecil yang ada di foto-foto itu terlalu mirip dengan anak kecil yang tumbuh besar bersamanya. Hanya saja anak kecil dari keluarga Lee ini terlihat jauh lebih sehat dan lebih berisi daripada teman masa kecil Baekhyun.

“Apa kamu yang namanya Byun Baekhyun?” teguran seorang wanita mengagetkan Baekhyun.

Dengan segera Baekhyun meletakkan kembali foto-foto itu di tempatnya dan berbalik menghadap si pemilik suara, Nyonya Lee. Baekhyun terlalu terkejut sampai ia tak sempat mengucapkan salam pada pemilik rumah ini.

“Maaf aku tidak sempat menyambutmu tadi. Ayo duduk disini, Baekhyun-ah,” ajak Nyonya Lee.

Bagaikan robot, Baekhyun pun mendekati Nyonya Lee dan duduk di sofa terdekat. Lidahnya kelu, karena berbagai pertanyaan yang berkecamuk di benaknya. Setelah Baekhyun berhasil menguasai dirinya, Baekhyun pun mengucapkan salamnya pada Nyonya Lee. Setelah itu percakapan pun mengalir begitu saja.

“Terima kasih karena kamu mau dengan anak manja seperti Sojung. Maaf jika sifatnya agak membuatmu sakit kepala, tapi ketahuilah kalau Sojung adalah anak yang baik. Dia lebih sering menyimpan sendiri apa yang ia rasakan. Aku yang ibunya saja tak pernah tahu apakah ia sedang senang atau sedih. Tapi sepertinya kehadiran Baekhyun bisa merubah sedikit sifat Sojung itu,” ujar Nyonya Lee.

Baekhyun hanya tersenyum kaku mendengar ucapan Nyonya Lee. Karena Baekhyun tak tahan dengan rasa ingin tahunya, akhirnya Baekhyun pun bertanya pada Nyonya Lee. “Uhmm, mengenai foto Sojung yang ada di buffet. Aku melihat foto Sojung kecil dibawah pohon cherry. Dia terlihat sangat bahagia di foto itu. Apa itu foto di rumah ini?” dengan penuh kehati-hatian Baekhyun mencoba mencari jawaban atas pertanyaannya.

Nyonya Lee berpaling melihat ke arah buffet. Kemudian ia tersenyum simpul melihat foto yang dimaksudkan Baekhyun. “Foto itu diambil di rumah kami di Kyeonggi. Sojung memiliki seorang sahabat disana. Setelah sahabatnya itu meninggal, Sojung jadi lebih pendiam. Karenanya kami memutuskan untuk pindah ke Seoul.”

“Kyeonggi? Nenekku juga tinggal disana. Kalian dulu tinggal di bagian mana? Siapa tahu aku ternyata secara tak sengaja pernah bertemu dengan Sojung disana?” Baekhyun berusaha menggali lebih dalam lagi.

“Pyeongtaek-si.”

“Sebuah panti asuhan di Pyeongtaek yang menampung Yoona. Pihak panti asuhannya tak mau memberitahuku dimana Yoona. Tapi mereka bilang kalau Yoona dirawat oleh keluarga yang berpengaruh besar terhadap hukum di Korea. Dan aku berhasil mendapatkan tiga nama yang menjadi kandidat kembaranku. Ada Ashley Choi, putri dari hakim agung Choi; Go Eunbi, putri dari pengacara Go; serta Lee Sojung, putri dari jaksa Lee.”

Seperti mendapatkan potongan puzzle yang hilang, Baekhyun merasa kalau kepalanya sudah lebih enteng sekarang. Pencariannya selama ini akhirnya membuahkan hasil. Akhirnya ia menemukan dimana Yoona. Sungguh tak pernah bisa ia sangka kalau perempuan yang ia pacari ini ternyata adalah kembaran Yoonjo.

Tapi Baekhyun khawatir akan satu hal. Mengenai perasaan Yoonjo jika tahu bahwa perempuan yang paling membencinya bahkan hampir saja membunuhnya itu adalah saudara kembarnya yang telah lama hilang.

.

 

*Chapter 6 end*

logo1

Tangled Fate the series

안녕….

maaf sebelumnya… beeedragon beberapa minggu kemarin ga sempat buat update Series ini. bukan karena bee terlalu depress dengan berita kemarin, tapi karena emang bee lagi ga sempet buat posting kelanjutan cerita ini. tapi tenang aja, ff ini pasti akan selesai. seperti janji bee, kalau bee akan selalu menyelesaikan apapun yang sudah bee mulai.

Terimakasih sudah mendukung cerita ini dan juga mendukung bee. semangat kalianlah yang membuat bee bertahan untuk terus melanjutkan tulisan bee.. thanks for your support.. I’m sorry if this chapter dissapointed you.. Still your support are my vitamin..
안녕!! 뿅!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – Tangled Fate | Chapter 6 | PG17

7 thoughts on “FF – Tangled Fate | Chapter 6 | PG17

  1. yehorat says:

    aaaaaaaaaaaa. maaf baru komentar di chapter ini. aku suka tangled fate!!!! cepet lanjutin yaaaa… greget bacanya hehe. setengah kasihan liat keadaannya yoonjo…

  2. hazunajohkim says:

    Ukyaaaa tgl menunggu pihak msg2 u/ mengatakan sebenarnya,
    Eh katanya cnu bakal demen ama adiknya? Adiknya yg mana? Apa dia bakal tau ttg Yoonjo lebih dulu drpd Yoonjo-nya? Trs cnu sadar dia sk sm yoonjo?
    Trs bukannya yoonjo ya yg blg ttg Yoona itu sojung ke baek? Loh jd baek duluan yg tau drpd yoonjo.
    *berdasarkan teaser yg diinget aja sih*
    Wkkwk
    Wah untunglah bee ga depresi, tp yah sgt disayangkan jg sih udh ngebayangin tokohnya dia. Hmm ya udah sih knp tetep ga ditulis aja? Aku aja gt, aku ttp nulis kok tokohnya dia *mau bgt ngasitau* wkwk
    Ya sdh #keepwritinghwaiting bee

  3. ahhh setelah nunggu lama, dipublish juga akhirnya..
    makin uwauu nih konfliknya, jangan bilang kalo ibu si kembar bilang sama cnu anak yg satunya udah mati jugaa..
    sayang bgt, cnu lebih dulu tau kalo yg adiknya itu si sojung..
    baekhyun, akhirnya tau jjugaa.. duh penasaran sama kelanjutanya~~~~

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s