FF – Tangled Fate | Chapter 5 | PG17


tangled_fate

Title : Tangled Fate

Subtitle : One Step Closer

Author : beedragon

Cast:

Yoonjo Hello Venus as Shin Yoonjo

Sojung Ladies Code as Lee Sojung

Baekhyun EXO as Byun Baekhyun

CNU B1A4 as Shinwoo / Shin Dongwoo

Other Cast:

Chanyeol EXO as Park Chanyeol

Genre : Family, Romance, Angst, Sad, Tragedy, Friendship

Length : Multichapter

Summary : Ketika waktu Yoonjo semakin menipis, Yoonjo berjuang melawan waktu untuk bisa menemukan belahan jiwanya. Akankah Yoonjo berhasil mengalahkan waktu, atau waktu yang mengalahkannya terlebih dahulu

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Haunted | Taeyeon – Set Me Free | Taylor Swift – Mean

Tangled Fate | Fifth Chapter

~*~

“Meskipun sudah berlari ke ujung dunia pun, aku tetap harus dihadapkan dengan masa lalu yang mengerikan itu.”

~*~

Chapter 5.

.

.

.

Gelap.

Hening

Mencekam

Itulah yang Yoonjo rasakan ketika Sojung mengurungnya di dalam gudang fakultas teknik. Yoonjo memandangi ke sekelilingnya. Kegelapan perlahan-lahan mendekatinya, dinding di sekitarnya juga perlahan menyempit. Hal ini membuat Yoonjo tak bisa bernapas. Yoonjo kehabisan napas. Ia tak pernah bisa bertahan dalam ruangan gelap tertutup seperti ini –sendirian pula. Sebab kenangan-kenangan itu akan kembali berkelebatan di pikirannya.

Kenapa kamu harus lahir ke dunia ini?!!

Yoonjo menutup mata dan telinganya. Ia berusaha keras tidak melihat sekelilingnya dan tidak mendengar pikiran-pikiran yang berteriak padanya. Badan Yoonjo bergetar dengan hebatnya, bahkan tangannya tak bisa lagi memegang kenop pintu dengan benar. Keringat dingin kini mulai membanjiri dirinya.

Kenapa kamu tidak mati saja?!!

“Tolong.. seseorang tolong aku..,” rintih Yoonjo.

Yoonjo merapatkan dirinya pada pintu. Ketika seruan-seruan itu kembali menggema di telinganya, Yoonjo pun kehilangan kendali atas kakinya. Tubuhnya merosot begitu saja sampai akhirnya ia meringkuk di lantai. Ia berusaha keras mengendalikan dirinya –mengendalikan jantungnya.

Kamu hanya menyusahkan saja!

“Appa, selamatkan aku.. Appa… Yoona..,” Yoonjo berusaha meminta tolong dengan suaranya yang lebih terdengar seperti hembusan angin itu.

Dan kini Yoonjo merasa ada seseorang yang mendekatinya. Yoonjo berusaha menutup matanya rapat-rapat, tapi ia bisa merasakan kehadirannya. Dendam dan kebencian yang terpancar dari sosok itu.

MATIIII!!!

“AAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!” Yoonjo menjerit sejadi-jadinya.

.

.

Sojung menahan pintu gudang dengan badannya agar Yoonjo tak bisa keluar. Ia begitu kesal saat ini, jadi ia ingin melampiaskannya pada Yoonjo. Lagipula Yoonjo adalah alasan utama buruknya mood Sojung hari ini.

“Aku sudah bilang padamu, ‘kan? Menjauh dari Baekhyun. Kamu sama sekali tidak menolongku, malah membuatku terpuruk seperti ini!” kesal Sojung.

Ia bersedekap seraya mendengarkan respon dari dalam gudang. Hening, tak terdengar suara apapun dari dalam. Sojung akhirnya berbalik menghadap pintu gudang dan memandangi gudang itu curiga. Yoonjo, dia tidak mati di dalam, bukan? Pikirnya.

“Makanya aku bilang padamu, untuk pergi dari kehidupan Baekhyun. Atau kalau perlu, pergi dari dunia ini. Dengan begitu aku bisa melancarkan rencanaku terhadap Baekhyun. Aku bahkan belum sempat membuatnya sakit hati, tapi dia sudah lebih dulu membuatku sakit hati,” seru Sojung pada pintu gudang.

“AAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!”

Pekikan itu membuat Sojung terlonjak kaget. Suara jeritan yang begitu histeris, seperti seorang korban yang bertemu dengan pembunuh berantai atau seseorang yang melihat hantu yang akan memakan jiwanya. Sojung pun panik mendengar jeritan Yoonjo itu. Dengan segera Sojung membuka pintu gudang. Dan pintu terdorong begitu saja, karena Yoonjo yang bersandar pada pintu kini sudah terjatuh dan meringkuk di tanah.

Sojung memandangi Yoonjo dengan perasaan panik bercampur bingung. Ia pikir Yoonjo melihat hantu di dalam. Tapi yang lebih ia takutkan saat ini bukanlah hantu penghuni gudang, melainkan Yoonjo yang tampak seperti orang yang hendak di cabut nyawanya.

Yoonjo begitu pucat. Air mukanya sudah seputih kapas. Ia merayap perlahan dengan sisa tenaganya –menjauh dari gudang. Yoonjo tampak seperti ikan yang megap-megap kehabisan oksigen karena diangkat ke darat –tak bisa bernapas. Yoonjo kini meremas dada kirinya sambil terus berusaha untuk bernapas dengan baik.

“Y-yah, neo w-wae geurae?” panik Sojung. Ia pun bersimpuh di samping Yoonjo. Sojung mengguncang tubuh Yoonjo yang gemetaran. “Yah, apa kamu melihat hantu di dalam? Katakan sesuatu! Jangan membuatku takut!!”

Tapi sepertinya Yoonjo sudah kehilangan kesadarannya. Bukannya menjawab pertanyaan Sojung, ia malah meracau mengenai ‘aku bersalah’, ‘aku minta maaf’, ‘ampuni aku’, dan ‘jangan kurung aku lagi’. Mata Yoonjo kini tidak fokus. Napasnya juga seperti tidak sampai. Hal ini benar-benar membuat Sojung panik.

“Karena itu kubilang padamu. Menjauh dari Baekhyun!” sahut Sojung pelan.

Sojung merogoh tas Yoonjo. Karena ia tak ingin mendapat masalah akibat kondisi Yoonjo yang seperti ini, ia pun mencoba mencari pertolongan. Sojung menemukan ponsel Yoonjo dan mulai mencari sebuah nama untuk ia telepon. Ketika ia menekan angka satu, telepon Yoonjo langsung terhubung pada Baekhyun. Sojung pun dengan segera mematikan hubungan teleponnya. Ia tak ingin Baekhyun menangkapnya dalam situasi seperti ini. Sojung berpikir keras, bagaimana caranya ia menghindar dari situasi ini tanpa membuat Yoonjo celaka.

“Appa… dia.. mengu..rungku.. lagi.. tolong.. aku..,” rintih Yoonjo. “Yoona.. tolong aku.”

Sojung pun membeku di tempatnya. Ponsel Yoonjo terjatuh begitu saja dari genggamannya. Sojung menatap Yoonjo seolah Yoonjo adalah hantu terseram dari film-film horor. Ketakutan tergambar jelas di wajahnya. Ia tak lagi memikirkan bagaimana caranya ia mencari pertolongan untuk Yoonjo. Yang ia pikirkan saat ini adalah siapa yang Yoonjo sebut tadi.

N-neo.. eotteohke..?” gagap Sojung.

Perlahan ia menjauh dari Yoonjo. Karena bagi Sojung kini Yoonjo terlihat lebih menakutkan daripada seorang pembunuh bayaran.

.

.

.

Baekhyun terus berlari mengelilingi kampus. Ia sudah mencari kesana-kemari tapi ia tak menemukan jejak Yoonjo. Baekhyun berusaha menelepon Yoonjo, tapi gadis itu tak mengangkat teleponnya. Baekhyun juga meminta tolong pada Chanyeol dan yang lainnya untuk mencari Yoonjo saat ini juga. Beruntungnya ketika ia bertanya pada mereka yang ada di kantin, beberapa di antara mereka mengatakan kalau mereka melihat Yoonjo.

“Tadi Yoonjo pergi bersama Sojung. Sepertinya ke arah fakultas teknik.”

Tanpa pikir dua kali, Baekhyun pun langsung berlari ke fakultas teknik. Ketika Baekhyun hendak masuk ke salah satu gedung di fakultas teknik, Baekhyun melihat sosok Sojung berjalan tergesa-gesa dari belakang gedung. Baekhyun pun langsung mendatangi tempat yang Sojung tinggalkan.

Betapa kagetnya Baekhyun ketika ia melihat Yoonjo sudah terbaring di tanah.

“YOONG!!” Baekhyun segera berlari menghampiri Yoonjo.

Baekhyun mengangkat kepala Yoonjo agar bersandar pada dirinya. Baekhyun kehabisan kata-kata akan kondisi Yoonjo saat ini. Dengan segera ia membongkar tas Yoonjo untuk mencari botol obat Yoonjo. Tapi seberapa keras Baekhyun mencari, ia tak menemukan obat Yoonjo di dalam tasnya.

“Yah! Dimana obatmu!!?” panik Baekhyun.

Tak ada jawaban. Napas Yoonjo masih pendek-pendek. Bahkan Yoonjo kini sudah kehilangan kesadarannya. Tak bisa mencoba untuk menolong Yoonjo lebih lanjut lagi, Baekhyun pun menggendong Yoonjo dan membawanya pergi dari tempat terkutuk itu.

“Byun Baekhyun memanggil Yoonjo untuk masuk ke zona Baekhyun. Ikuti irama Baekhyun. Shin Yoonjo! Apa kamu sudah masuk zona Baekhyun?” panik Baekhyun. “Yah Shin Yoonjo!! Sadarlah kumohon!! Masuk ke zona Baekhyun!! Jangan ikuti yang lain. Kumohon, dengarkan aku.”

Baekhyun terus bergegas pergi dengan terus berusaha menyadarkan Yoonjo. Jika sampai terjadi sesuatu pada Yoonjo setelah ini, maka Baekhyun tidak akan memaafkan siapapun yang sudah memojokkan Yoonjo ke gudang.

“Yoong, bertahanlah.”

 

 

Sojung yang baru saja kembali ke belakang gedung fakultas teknik, harus menyaksikan Baekhyun yang kini tengah menggendong Yoonjo menjauhi gudang. Kekhawatiran tergambar jelas di wajah Baekhyun. Dan Sojung pun sadar betul kalau ia tak akan bisa menciptakan ekspresi itu di wajah Baekhyun tanpa menyakiti Shin Yoonjo.

“Sojung-ssi, katanya ada yang pingsan? Dimana?” tegur beberapa mahasiswa di belakang Sojung.

“Sudah ada yang menolongnya,” singkat Sojung tanpa melepaskan matanya dari punggung Baekhyun.

.

.

.

Shinwoo memandangi gedung di hadapannya, sebuah rumah sakit kecil di perbatasan Yanggu-si. Dengan berat hati, Shinwoo melangkahkan kakinya masuk ke rumah sakit tersebut. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling –berharap bertemu dengan seseorang tanpa perlu mencarinya. Tapi bagaimana bisa ia bertemu dengan orang yang dicarinya, jika wajahnya saja ia tak tahu rupanya. Akhirnya Shinwoo memutuskan untuk bertanya pada salah satu suster yang melewatinya.

“Maaf, suster. Saya mau bertanya, apa disini ada perawat atau pekerja yang bernama Kim Hyojin?” tanya Shinwoo.

Sang suster tampak meneliti Shinwoo sejenak.

“Dulu memang ada perawat yang bernama Kim Hyojin. Tapi dia tidak lagi bekerja disini,” ujar suster tersebut.

“Kalau begitu, apa suster tahu dimana dia bekerja atau dimana dia tinggal?” tanya Shinwoo lagi.

“Kim Hyojin, memang sudah tidak bekerja disini. Tapi dia menjadi pasien disini sejak dua tahun yang lalu.”

Sang suster lalu menggiring Shinwoo yang masih tercenung setelah mendengar penjelasannya. Shinwoo tentu tak pernah mengira kalau ia akan bertemu ibu kandungnya dalam keadaan seperti ini. Menurut suster yang mengantarnya, Kim Hyojin menderita radang paru-paru dan kondisinya saat ini sudah sangat memprihatinkan.

Shinwoo berdiri kaku di samping ranjang pasien bernama Kim Hyojin –seorang wanita paruh baya yang tampak sangat kurus dan lemah. Shinwoo menghela napas panjang melihat kondisi wanita itu.

“Bagaimana bisa anda berada dalam kondisi seperti ini? Bagaimana aku bisa melampiaskan pertanyaan hidupku jika anda begini?” keluh Shinwoo.

Akhirnya Shinwoo memutuskan untuk duduk di samping ranjang Kim Hyojin. Shinwoo memandangi wanita yang katanya adalah ibunya itu. Berbagai pertanyaan berkecamuk di benaknya. Kenapa anda meninggalkanku begitu saja di rumah sakit? Apa anda pernah khawatir terhadapku? Apa anda pernah mencariku? Seperti apa ayahku? Seperti apa adikku? Dimana mereka? Apa benar anda membuang adikku? Kenapa anda melakukan itu semua? Berbagai pertanyaan seperti itu terus berputar-putar di kepala Shinwoo. Tapi yang utama adalah, bagaimana ia harus bersikap jika ibunya ini bangun nanti.

Bagaikan sebuah isyarat, kekhawatiran Shinwoo kini jadi nyata. Kim Hyojin bangun dan memandangi Shinwoo bingung.

Nuguseyo (siapa kamu)? Apa kamu perawat baru?” bingung Kim Hyojin.

Shinwoo terhenyak mendengar pertanyaan ibunya itu. Pertanyaan siapa kamu saja sudah mampu membuat emosinya naik. Karena itu artinya wanita di hadapannya ini tak tahu siapa Shinwoo. Artinya dia tak pernah tahu seperti apa anaknya. Kekecewaan kini menyesakkan dada Shinwoo. Tapi Shinwoo tak ingin lepas kendali. Perempuan di hadapannya ini pasti memiliki sebuah alasan, meskipun alasan itu mungkin sulit untuk ia terima.

Annyeonghaseyo. Namaku Shin Dongwoo. Apa anda mengenal Shin Jaeseon dan Kim Eunyeong? Saya adalah putra tunggal mereka,” Shinwoo memperkenalkan dirinya.

Awalnya Kim Hyojin tampak berpikir sejenak. Mungkin ia sedang mengingat-ingat siapa Shin Jaeseon dan Kim Eunyeong. Tapi tak sampai beberapa detik kemudian, ekspresi Kim Hyojin perlahan berubah –mengeras dan tampak panik.

“Sepertinya anda sudah mengingat siapa saya. Tujuan saya datang kesini bukan untuk menuntut jawaban atas apa yang sudah pernah anda lakukan terhadap saya. Saya hanya ingin tahu, apa benar saya memiliki seorang adik? Kalau iya, ada dimana dia?”

.

.

Shinwoo tak berhasil mendapatkan apapun hari ini. Ibunya tampak terlalu shock sehingga tak bisa menjawab pertanyaannya. Mendadak ia merasa bersalah karena tak bisa bersikap baik terhadap ibunya tersebut -seolah ibunya itu adalah orang asing. Tapi Shinwoo sudah terlanjur patah arang pada wanita yang sudah melahirkannya itu.

Shinwoo terus menghela napas panjang. Ia duduk di ruang tunggu seraya terus memutar otaknya untuk mencari keluarga kandungnya. Yang Shinwoo butuhkan saat ini hanyalah informasi mengenai dimana adiknya tinggal –ia tak butuh informasi lainnya. Ia akhirnya berpikir, jika ia tak menemukan jawaban dari ibunya, mungkin rekan kerja ibunya tahu sesuatu mengenai kehidupan ibunya itu. Shinwoo pun memutuskan untuk mencari suster yang tadi mengantarnya ke ruangan Kim Hyojin.

“Permisi, saya mau tanya sesuatu,” ujar Shinwoo begitu ia menemui suster yang dicarinya. “Mengenai Kim Hyojin, apa suster tahu dimana keluarganya tinggal?”

Berdasarkan informasi sang suster, Kim Hyojin tinggal sendirian. Ia tak memiliki kerabat ataupun keluarga. Tapi Kim Hyojin pernah bercerita mengenai putrinya yang katanya kini tinggal dengan keluarga jaksa yang terkenal. Informasi itu saja sudah cukup bagi Shinwoo. Ia tinggal mencari jaksa mana yang merawat adiknya tersebut.

“Ahh, mengenai biaya perawatan Kim Hyojin. Siapa yang membiayainya? Apa dia punya cukup uang untuk membayar biaya rumah sakit selama dua tahun belakangan ini? Kalau tidak, saya ingin membayar biaya perawatannya,” ujar Shinwoo.

Ya, biar bagaimanapun juga, Kim Hyojin adalah wanita yang sudah melahirkannya. Setidaknya, membiayai pengobatan ibunya bisa menjadi wujud dedikasinya sebagai anak.

“Kim Hyojin mendapat perawatan gratis selama setahun. Dan setahun belakangan ini sudah ada yang membayar biaya pengobatan Kim Hyojin,” jelas suster tersebut.

Shinwoo tentu saja bingung. Orang mana yang mau membiayai pengobatan ibunya itu selama setahun. Jumlah uang itu tentu saja tidak sedikit. Jika bukan orang yang sangat mengenal ibunya tentu saja orang itu tidak akan mau mengeluarkan uangnya begitu saja.

“Siapa?”

“Katanya dia adalah mantan suaminya. Beliau baru saja berkunjung kesini. Jika anda menyusulnya ke luar, mungkin anda masih bisa menyusulnya.”

Tanpa disuruh dua kali dan tanpa pikir panjang, Shinwoo langsung berlari keluar rumah sakit. Jika orang itu adalah mantan suami dari Kim Hyojin, besar kemungkinan orang tersebut adalah ayahnya. Shinwoo tak tahu apa ia bisa lebih beruntung dari ini. Dengan paniknya ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman rumah sakit. Tapi ia tak menemukan sosok lelaki paruh baya di sekitarnya. Sepertinya keberuntungannya hanya sampai disitu.

“Abeoji, apa itu dirimu?” lirih Shinwoo.

.

.

.

Ketika Yoonjo membuka matanya, yang ia lihat adalah langit-langit putih yang sangat familiar baginya –langit-langit unit gawat darurat. Tentu saja Yoonjo tahu dirinya berada di UGD, begitu mencium bau obat-obatan yang begitu menyengat serta bunyi mesin-mesin kedokteran yang sudah begitu familiar di telinganya. Yoonjo pun menoleh ke sisi kirinya, karena ia merasa ada seseorang yang sedang menggenggam tangannya. Dan Yoonjo mendapatkan Byun Baekhyun sedang duduk di samping ranjang, menundukkan kepalanya seraya menggenggam erat tangan Yoonjo.

Baekhyun adalah pemandangan yang paling tidak ingin Yoonjo lihat saat ini. Yoonjo pun menarik tangannya dari genggaman Baekhyun. Hal ini membuat Baekhyun langsung duduk tegak dan memandang Yoonjo khawatir.

“Yoong, kamu sudah sadar. Apa ada yang sakit? Aku akan memanggil Dokter Ahn untuk memeriksamu. Apa kamu mau minum? Atau kamu lapar?” tanya Baekhyun.

Tapi Yoonjo malah memalingkan wajahnya dari Baekhyun. “Pergi dari hadapanku,” lirih Yoonjo pelan.

Kebetulan Dokter Ahn dan Dokter Byun datang menghampiri bilik Yoonjo. Dokter Byun pun langsung menegur Yoonjo, bertanya apa yang ia rasakan saat ini. Jawaban Yoonjo hanya satu,

“Jauhkan Baekhyun dari hadapanku. Dia membuatku sakit.”

Tanpa mempedulikan bagaimana perasaan Baekhyun yang tampak terluka mendengar ucapan Yoonjo itu, Dokter Byun pun menarik Baekhyun menjauhi bilik Yoonjo –sementara ia membiarkan Dokter Ahn memeriksa Yoonjo.

Begitu keluar dari ruang UGD, Dokter Byun langsung menceramahi Baekhyun. “Jika Yoonjo memintamu untuk pergi, sebaiknya kamu langsung pergi. Kamu tak ingin dia pingsan lagi bukan? Ayah Yoonjo sedang dalam perjalanan kesini, jadi sebaiknya kamu melihat Yoonjo dari jauh saja.”

Melihat Baekhyun yang tampak terlalu terpukul itu membuat Dokter Byun tak tega memarahi anaknya itu lebih jauh. Tentu saja Baekhyun pasti merasa sangat bersalah atas kejadian yang menimpa Yoonjo saat ini.

“Dengarkan Appa, Byun Baekhyun. Menjaga kondisi emosional Yoonjo adalah yang terpenting saat ini. Kuberitahu kamu satu berita. Ayah Yoonjo sudah menemukan dimana ibu Yoonjo tinggal. Dan dia ingin mempertemukannya dengan Yoonjo.”

Berita dari ayahnya itu menyadarkan Baekhyun dari keterpurukannya. Menemukan ibu Yoonjo itu sama saja dengan menemukan buah simalakama. Karena mempertemukan Yoonjo dengan ibunya bukanlah hal yang baik bagi kesehatan gadis itu.

Baekhyun mendengarkan cerita ayahnya dengan seksama. Karena Tuan Shin ingin mempertemukan Yoonjo dengan mantan istrinya itu, maka kesehatan Yoonjo harus dijaga dengan baik. Dokter Byun menyuruhnya agar menjaga emosi Yoonjo. Tapi bagaimana bisa ia menjaga emosi Yoonjo, jika bertemu dengannya saja sudah mampu membuat Yoonjo emosi. Ini sama saja dengan menyuruh Baekhyun untuk menjauhi Yoonjo. Dan Baekhyun tidak suka dengan ide itu.

.

.

.

Yoonjo tampak kosong saat ini. Ketika ayahnya tiba, Yoonjo bahkan tidak sempat merubah ekspresinya agar tidak membuat khawatir ayahnya –hal yang biasa ia lakukan. Yoonjo sedang mengalami mental-breakdown saat ini. Saat ia terkurung di gudang kampus, Yoonjo mengingat kembali semua kenangan-kenangan yang nyaris hilang. Kenangan akan masa lalunya yang mengerikan. Kenangan mengenai masa kecilnya yang suram.

“Appa, aku ingat semuanya. Aku ingat kenapa dulu aku selalu takut jika ada orang yang menyebut kata eomma di hadapanku. Aku ingat kenapa aku selalu histeris jika aku melihat foto eomma. Aku ingat kenapa aku tak pernah mau mencari eomma. Appa dulu pernah bilang kalau eomma pernah melakukan hal yang lebih kejam dari membuang Yoona ke panti asuhan,” Yoonjo berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. Ia terlalu shock, ia terlalu terkejut dengan semua kilasan masa kecilnya yang berkelebatan di pikirannya. Yoonjo kini tahu alasan kenapa ia selalu takut akan ibunya. “Eomma selalu ingin membunuhku.”

Yoonjo termenung. Ia mengingat dengan jelas, bagaimana ibunya mengurungnya di dalam gudang yang gelap. Ia mengingat dengan jelas, bagaimana ibunya memukulnya jika ia memuntahkan makanannya. Ia mengingat dengan jelas, bagaimana ibunya ingin agar napas Yoonjo berhenti setiap Yoonjo sakit. Yoonjo mengingat semuanya dengan jelas.

Ketika ibunya akhirnya meninggalkan ayahnya, Yoonjo tak pernah merasa selega itu. Tapi, walaupun ibunya telah pergi, trauma akan semua perbuatan ibunya masih terngiang jelas di benaknya. Yoonjo takut dengan tempat gelap, Yoonjo takut dengan tempat sempit dan tertutup, dan Yoonjo takut dengan sosok ibu. Bahkan ketika akhirnya ia tinggal dengan keluarga Byun, Baekhyun sampai harus memanggil ibunya sendiri dengan ahjumma agar Yoonjo kecil tidak histeris.

Tuan Shin hanya bisa menangis mendengar ucapan Yoonjo itu. Dahulu, ketika ia berusaha keras mencari uang demi menutupi hutang serta untuk biaya obat-obatan Yoonjo, ia jadi harus meninggalkan dua putrinya dibawah asuhan istrinya yang kala itu mengalami stres berat. Tuan Shin tak pernah tahu apa yang sudah istrinya lakukan terhadap putri-putrinya. Bahkan ketika Yoona mengadu kalau ibu mereka memukuli Yoonjo, Tuan Shin tidak mempercayainya. Sampai akhirnya ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika istrinya itu hendak mencekik Yoonjo. Setelah kejadian itu, istrinya tak pernah lagi terlihat. Istrinya itu pergi dengan membawa salah satu putrinya –yang sehat– untuk di telantarkan di kemudian hari.

Mianhae, uri ddal (maafkan aku, putriku). Appa bersalah padamu,” sesal Tuan Shin. “Appa tak bisa melindungimu.”

Pandangan Yoonjo kosong. Ia tak bisa berpikir apapun lagi, karena apapun yang ia pikirkan semuanya pasti akan menjurus pada kebencian ibunya terhadap dirinya.

“Karena aku tidak sempurna?” tanya Yoonjo. “Dia membenciku karena jantungku tidak sempurna. Dia membenciku karena aku membuat keluarga ini susah dengan terus keluar masuk rumah sakit. Dia membenciku karena aku harus lahir untuk menghabiskan uang Appa untuk biaya berobat. Aku mengerti kenapa ia begitu ingin aku mati. Dengan begitu kalian tidak susah dan aku tidak menderita.”

Aniyo, Yoong. Bukan seperti itu,” sela Tuan Shin. “Ini semua karena Appa bangkrut. Waktu itu ibumu begitu stres dengan semua hutang-hutang Appa-,”

“Ditambah dengan dia harus memiliki putri yang cacat yang hanya bisa menghabiskan uang yang tidak seberapa untuk biaya pengobatannya,” potong Yoonjo.

Yoonjo tak pernah membenci ibunya. Sama sekali ia tak pernah membenci ibunya. Yoonjo selalu bertanya, kenapa ibunya hanya membawa Yoona pergi, kenapa bukan dirinya saja. Toh jika ibunya meninggalkan Yoonjo begitu saja di jalanan, maka Yoonjo tidak akan merepotkan keluarga itu lagi. Tapi Yoonjo selalu dihadapkan pada sebuah jawaban ‘ibunya terlalu membencinya, sampai-sampai ia tak mau menyentuhnya’.

Tuan Shin memeluk erat putrinya itu. Berharap kekecewaan putri kesayangannya itu akan menghilang jika ia memeluknya seperti itu. Tapi tentu saja, kesedihan Yoonjo tidak akan menghilang begitu saja.

“Adalah keputusan yang benar untuk tidak mencarinya, Appa,” lirih Yoonjo. “Eomma.. dia mengerikan.”

 

 

Dan tanpa Tuan Shin dan Yoonjo sadari, Byun Baekhyun sudah berdiri di balik tirai dan mendengarkan semua kisah pilu keluarga Shin itu.

.

.

.

Sojung meremas-remas tangannya gelisah. Ia kepikiran mengenai Yoonjo. Bukan mengenai apakah-Yoonjo baik-baik-saja, melainkan bagaimana-Yoonjo-bisa-menyebut-nama-itu. Sojung takut kalau Yoonjo tahu akan masa lalunya. Jika Yoonjo tahu, maka habislah dirinya. Itu artinya Sojung akan kembali menjadi bulan-bulanan lagi oleh Ashley dan teman-temannya.

Sojung terlalu gelisah. Ia bahkan tidak memikirkan Baekhyun yang sedari tadi duduk kaku di hadapannya. Keduanya memang janji bertemu di sebuah cafe di kawasan Apgujeong. Tapi walaupun sudah bertatap muka selama hampir setengah jam lamanya, tak ada kata apapun yang terucap dari keduanya. Masing-masing sibuk dengan apa yang ada di pikiran mereka.

Baekhyun akhirnya memutuskan untuk buka suara. Ia ingin menyelesaikan apa yang sudah ia perbuat. Baekhyun sudah berpikir masak-masak sebelum ia mengambil keputusan ini. Tentu saja ini semua untuk Yoonjo.

“Aku ingin mengatakan sesuatu. Mengenai hubungan kita ini, kurasa sebaiknya kita-,”

Hajima (jangan diucapkan),” Sojung menyela ucapan Baekhyun. “Apapun yang akan kamu katakan itu, jangan pernah kamu keluarkan dari mulutmu.”

Sojung akhirnya tersadar dari ketakutannya. Ketika Baekhyun mengatakan sesuatu mengenai hubungan mereka, Sojung tahu kalau itu bukan pertanda yang baik. ‘Mungkin Yoonjo cerita mengenai kejadian di gudang’ atau ‘mungkin Baekhyun melihat yang ia lakukan di gudang itu’, berbagai macam pikiran itu berkelebatan di benak Sojung. Sojung tentu tidak ingin Baekhyun mengakhiri hubungan mereka. Tidak, selama Sojung belum mendapatkan apa yang ia inginkan, ia tak akan pernah mengakhiri hubungannya dengan Baekhyun.

“Aku berikan kamu kelonggaran. Anggap saja saat ini kita sedang introspeksi diri. Jadi apapun yang ada di pikiranmu jangan pernah kamu utarakan padaku,” tegas Sojung. “Aku juga punya harga diri, Byun Baekhyun. Kamu sudah menghancurkan harga diriku dan tak akan kubiarkan kamu menginjak-injaknya.”

Sojung memilih untuk tidak menatap Baekhyun. Karena ia pasti akan langsung kalah jika ia bertatap mata dengan Baekhyun. Jika Sojung ingin menang, tentu ia harus bisa menata hatinya dan berani menghadapi ketakutannya.

“Sojung-ssi,” Baekhyun mencoba untuk memberi pengertian pada gadis di hadapannya itu.

“Jika setelah introspeksi diri dan masing-masing dari kita tak menemukan jalan keluar, maka aku yang akan mengucapkan kalimat itu –bukan kamu,” sela Sojung.

Kini Baekhyun malah tampak merasa bersalah terhadap Sojung. Jika saja ia tidak mengabaikan gadis di hadapannya ini, tentu Sojung tidak perlu menyakiti Yoonjo sampai seperti itu. Tapi memang memacari Sojung dari awal adalah keputusannya yang salah. Ia pikir dengan menjadikan Sojung kekasihnya, gadis itu akan berhenti mengganggu Yoonjo –ternyata ia salah.

“Kalau begitu kenapa tidak kamu ucapkan sekarang saja? Sekarang atau nanti juga tak ada bedanya. Karena hubungan ini memang sudah tak bisa diselamatkan,” ujar Baekhyun.

Sirheo (tidak mau)!” tegas Sojung. “Kamu adalah kekasih Lee Sojung dan kamu akan tetap menjadi kekasihnya sampai dia tidak menginginkanmu lagi.”

Baekhyun memilih untuk melihat hal lain selain Sojung. Ia tak ingin menyaksikan luka yang dipajang Sojung di wajahnya. Karena ia akan merasa tidak tega terhadapnya –padahal gadis itu sudah menyakiti Yoonjo sedemikian rupa. Setelah berpikir panjang, akhirnya Baekhyun memilih untuk mengikuti keinginan Sojung.

Geurae (baiklah). Apapun keputusan Lee Sojung, Byun Baekhyun akan mengikutinya. Tapi jangan harap Byun Baekhyun akan merubah sikapnya menjadi seperti apa yang Lee Sojung inginkan. Karena Byun Baekhyun sudah kehilangan harapannya terhadap Lee Sojung,” tukas Baekhyun. “Dan satu lagi. Harap Lee Sojung untuk tidak lagi menyentuh Shin Yoonjo.”

Baekhyun akhirnya beranjak dari duduknya. Ia tak yakin jika ia terus duduk disana maka keajaiban akan hubungannya dengan Sojung terjadi. Baekhyun memilih untuk pergi sebelum ia merubah Sojung menjadi gadis yang lebih mengerikan dari ini.

“Mungkin kamu lupa, Byun Baekhyun,” cegah Sojung sebelum Baekhyun benar-benar meninggalkannya. “Bukan aku yang menyeret Shin Yoonjo di antara kita. Tapi kamu sendiri.”

Sojung mendelik tajam pada Baekhyun yang memandangnya tanpa ekspresi. “Kamu yang meletakkan Yoonjo sebagai pembatas di antara kita. Kamu yang menyodorkan Yoonjo untuk menghalangiku dekat denganmu. Kalau kamu begitu menyukainya kenapa tidak kamu pacari saja dia.”

“Sojung-ssi, Yoonjo itu hanyalah-,”

“Adik?!” tukas Sojung. “Jangan berlindung dibalik kata itu. Aku sudah sangat bosan mendengarnya. Kalian tidak memiliki hubungan darah apapun. Jadi hentikan semua delusimu!”

Baekhyun menghela napas panjang. Ia sesungguhnya tak ingin bertengkar seperti ini dengan Sojung. Bertengkar dengan menjadikan Yoonjo sebagai perkaranya, itu adalah hal yang paling tak ingin Baekhyun lakukan. Tapi sepertinya Sojung sudah terlanjur benci setengah mati pada Yoonjo.

“Kamu bilang kalau Byun Baekhyun adalah kekasih Lee Sojung. Lalu apa tidak apa-apa kamu menyuruhku memacari Yoonjo? Baiklah, aku akan melakukan yang kamu inginkan. Agar kamu puas.” Dengan itu Baekhyun pergi dari hadapan Sojung.

Sojung berusaha mengatur napasnya yang memburu. Ia meremas-remas ujung blazer pink yang ia kenakan. Meskipun ia berusaha menahan emosinya, tapi akhirnya ia luluh juga. Airmata perlahan jatuh membasahi pipinya. Sojung tahu ia sudah kalah. Karenanya ia berusaha keras menguatkan dirinya agar tidak jatuh bersama harga dirinya.

“Dan kenapa…? Kenapa kamu harus memancingnya..?” lirih Sojung.

.

.

.

Chanyeol memandangi Yoonjo khawatir. Ia tak berhenti melirik ke arah Yoonjo yang sedang berusaha untuk beristirahat di sampingnya. Ia juga memandangi selang infus yang masih menempel di tangan Yoonjo.

“Kita masih bisa kembali ke rumah sakit sekarang, Yoonjo-ya,” tegur Chanyeol khawatir.

Saat ini Yoonjo dan Chanyeol berserta rekan-rekan bandnya sedang dalam perjalanan ke panti asuhan di daerah Pyeongtaek-si. Sebenarnya mereka bisa menunda perjalanan mereka sampai Yoonjo benar-benar sembuh. Tapi Yoonjo memaksa untuk pergi hari itu juga, sebab katanya ia memiliki perasaan kuat untuk datang ke Pyeongtaek-si. Karenanya, meskipun Dokter Byun dan Dokter Ahn tidak menyetujuinya, tapi mereka tetap mengijinkan Yoonjo untuk pergi –dengan syarat Yoonjo tak boleh menyentuh pekerjaan apapun dan harus beristirahat total begitu mereka tiba di panti asuhan yang dituju.

Dan disinilah Yoonjo sekarang, berusaha beristirahat di mobil yang di kendarai Chanyeol.

“Baekhyun akan marah besar kalau tahu akan hal ini, Yoonjo-ya,” ujar Chanyeol.

Yoonjo hanya menghela napas panjang. Ia benar-benar tak ingin membahas mengenai Baekhyun saat ini dan seterusnya. Karena Baekhyunlah ia jadi seperti ini. Yoonjo bukannya mau menyalahkan Baekhyun, tapi ia tak bisa menyingkirkan alasan kalau kecemburuan kekasih Baekhyunlah yang membuat Yoonjo sampai harus di opname.

“Fokus saja pada setirmu, Tuan Park. Dan kunci mulutmu sampai kita tiba di Happy Paradise. Dokter Ahn menyuruhku untuk banyak beristirahat. Suaramu yang besar itu membuat daya pacu jantungku jadi melemah, Park Chanyeol,” ujar Yoonjo pelan.

Ia sesungguhnya hanya bercanda mengucapkan kata itu, tapi Chanyeol menanggapinya serius. Jadi sepanjang perjalanan dari Seoul menuju Pyeongtaek-si, mobil Chanyeol dilanda keheningan –hal yang sangat jarang terjadi mengingat Park Chanyeol adalah anak yang senang berbicara.

Sesampainya di panti asuhan Happy Paradise, seperti yang sudah diamanatkan oleh ayah Baekhyun, Chanyeol langsung menyuruh Yoonjo untuk beristirahat –sementara yang lainnya mencari sesuatu yang bisa dilakukan untuk membantu panti asuhan tersebut. Chanyeol langsung meminta pada kepala panti untuk memberikan Yoonjo ruang untuk istirahat. Meskipun tak enak hati, tapi Yoonjo tetap menuruti ucapan Chanyeol. Lagipula Yoonjo juga tak ingin menyusahkan mereka jika nanti ia pingsan disini.

Sambil menenteng kantong infusnya, Yoonjo pun beristirahat di ruang kepala panti. Sebelum ia benar-benar memutuskan untuk duduk dan istirahat, Yoonjo memilih untuk melihat-lihat foto yang menghiasi meja dan dinding ruang kepala panti. Foto-foto itu sepertinya adalah foto penghuni panti asuhan ini. Yoonjo mengamati satu persatu wajah anak-anak di foto tersebut. Senyum secara tak sadar menghiasi wajahnya. Betapa tidak, ditengah ketidak-beruntungan mereka karena tidak memiliki orang tua, tapi mereka masih mampu untuk tersenyum lebar seperti itu.

Senyum Yoonjo perlahan memudar begitu ia melihat salah satu foto. Ia lalu meraih foto itu dan mengamatinya dengan seksama. Ia sampai tidak menyadari kalau kepala panti sudah masuk ke ruangan dengan membawakannya teh hangat.

“Apa yang kamu lihat, Nak?” tegur kepala panti.

Yoonjo terlonjak kaget mendengar teguran kepala panti. Ia langsung menyodorkan foto yang dipegangnya pada kepala panti. Melihat foto yang ditunjuk Yoonjo itu membuat kepala panti langsung kelabakan.

“I-ini,” panik kepala panti.

“Ini Yoona. Jujangnim, apa benar ini Yoona? Shin Yoona?” tanya Yoonjo. Dengan paniknya ia langsung membuka dompetnya dan menujukkan foto masa kecilnya –foto dirinya dan Yoona yang tengah digendong oleh ayah mereka. “Ini aku. Aku kembaran Yoona. Aku Shin Yoonjo kembaran Shin Yoona. Jujangnim, bisa tolong beritahu aku dimana Yoona sekarang? Aku sudah mencarinya kemana-mana selama ini.”

.

.

.

 

*Chapter 5 end*

logo1

Tangled Fate the series

안녕….

maaf sebelumnya… beeedragon sedang mengalami mental breakdown.. karena satu dan lain hal beedragon tidak yakin untuk bisa mengupdate different fairytale atau tidak.. sebab ‘dia’ akan menjadi salah satu pemeran utama di salah satu judul DF.. bee benar2 lagi mental breakdown sampai ga bisa mikir apa-apa lagi… dan bee sekarang sedang berusaha menata hati akibat berita mengejutkan yang beredar belakangan ini..

ohhh bee benar-benar sedih banget.. udah cukup lama bee main di dunia kpop tanpa pake perasaan,,dan baru dua taun belakangan ini bee bener2 pake perasaan, pake hati.. dan berita belakangan ini jauh lebih menyesakkan dibanding ketika bee dapet berita kalo Junhyung pacaran sama Hara atau Myungsoo punya pacar seorang ulzzang sukses.. karena sejak gege Hangeng out dari SJ, bee beneran vakum untuk menggunakan hati dalam hal idola-mengidolai ini.. dan sepertinya bee kena hukuman karena kembali mencurahkan hatinya untuk ‘mereka’.. dan bee beneran mengalami patah hati yang amat sangat..

Mohon kerjasamanya untuk tidak membahas mengenai ‘dia’ di postingan ini.. abaikan curahan hati bee barusan.. cukup bahas mengenai baekjo atau baekjung atau shinjo ataupun pairing apapun yang ada di ff ini.. atau bahas mengenai apa yang harus bee tambahin untuk chapter berikutnya.. sepertinya itu bisa untuk menambah semangat bee dalam melanjutkan ff ini tanpa tekanan batin..

lastly, thanks for your support.. I’m sorry if this chapter dissapointed you.. Still your support are my vitamin..
안녕!! 뿅!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – Tangled Fate | Chapter 5 | PG17

9 thoughts on “FF – Tangled Fate | Chapter 5 | PG17

  1. aaahhh sojung lihat tuh akibat perbuatanmu yoonjo jadi gitu
    ish eommanya yoonjo :((
    setuju sama kata sojung. baekhyun berhenti sembunyi di balik kata “adik”
    kira” di kasih tau gak yoona ada dimana??

  2. thor ceritanya astaga sukses bkin gua nyesek sendiri ;-;
    entah kenapa aku berasa potek sendiri klau liat yoonjo di gituin ;-; mungkin gra” gua terlalu sayang sma yoonjo ye/? btw lanjutin thor yg bkin ai nangis/? T^T
    good job T^T)/

  3. aick says:

    wah, eonni udah post lama tpi aku baru baca. pdhal dlu aku smpt minta diupdate cepet mian eonniiii .-.
    ternyata masing2 orang pnya traumanya sendiri2, shinwoo yg ditinggalin di RS, yoona yg ditinggal di panti, dan yoonjo yg paling parah hampir dibunuh ibunya…
    bnr2 runyam ceritanya 😦

  4. hazunajohkim says:

    Wehei tumben author-nim ga Sebulan sekali kyk field trip , wakakaka, oh aku tau menbong knp itu heem oke oke *sotoy* eh iya, jd baek ttp berpacaran dg si sojung ini, okelah makin awas aja itu nanti yoonjo ga deket2 sm baek, hei, berarti bentar lg di yoonjo tau ya, sojung ini kembaran dia? Wehei aku ga sabaran kalo yoonjo bakal blg apa ke sojung, semoga ga terburu2 lgsg ngomong, malah mb ntar si sojung *bah* udeeh si yoonjo deketin aja ama shinwoo wkwkw ntar ngeh nyesek deh shinwoo suka ama ade sendiri *lalalalala*
    Okeee ditunggu next
    #keepwritinghwaiting tatalah hatimu, *cup cup

  5. menyentuh banget, kenapa kalo ff bee yang bagian sad itu feelnya selalu ngena bgt dan sukses bikin aku nangis .

    cnu muncul, tp bentar doang. semoga cepat ketemu shin bersaudara..

    baekhyun bener bener kasian, tp aku sebel juga sama dia. kenapa dia nggak pernah bersikap tegas.

    next part, konfliknya udah makin serem ~
    Semangat~~!

  6. annyeong eonni~ aku reader ttap disini sejak ff beautiful life~ tapi jarang pasang comment mianhae;(
    eonni~ update-nya jangan kelamaan;( aku sampai lumutan nunggu lanjutan ff ini;(
    keep writing eonni! dan teruslah berkarya! #asik wkwkwk

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s