FF – Tangled Fate | Chapter 4 | PG15


tangled_fate

Title : Tangled Fate

Subtitle : Crossed the Line

Author : beedragon

Cast:

Yoonjo Hello Venus as Shin Yoonjo

Sojung Ladies Code as Lee Sojung

Baekhyun EXO as Byun Baekhyun

Genre : Family, Romance, Angst, Sad, Tragedy, Friendship

Length : Multichapter

Summary : Ketika waktu Yoonjo semakin menipis, Yoonjo berjuang melawan waktu untuk bisa menemukan belahan jiwanya. Akankah Yoonjo berhasil mengalahkan waktu, atau waktu yang mengalahkannya terlebih dahulu

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Soyou X Junggi Go – Some (썸) | Taylor Swift – You Belong With Me | SM The Ballads – 좋았던 건, 아팠던 건 (When I Was… When U Were…)

Tangled Fate | Fourth Chapter

~*~

“..dan kamu sudah melewati batas.”

~*~

Yoonjo melangkahkan kakinya dengan gontai menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Yoonjo langsung merebahkan dirinya di lantai dan menatap langit-langit kamarnya. Ia teringat akan Shinwoo. Ia teringat kesedihan yang Shinwoo tunjukkan padanya. Ia teringat betapa Shinwoo tampak sangat rapuh. Yoonjo pikir hanya dirinya saja yang mengalami hal paling menyedihkan dalam hidupnya. Ternyata makhluk sesempurna Shinwoo pun juga merasakan hal yang sama seperti dirinya –terluka tapi tak tahu harus mencari kemana obatnya. Meskipun Yoonjo tak tahu apa yang membuat Shinwoo menjadi seperti itu, tapi entah mengapa Yoonjo bisa merasakan kepedihannya.

Setelah cukup lama terdiam dalam lamunannya, Yoonjo akhirnya beranjak untuk menyalakan lampu kamarnya. Yoonjo lalu melangkah menuju jendela kamarnya dan membuka gordennya untuk sekedar melihat jendela kamar Baekhyun. Betapa kagetnya ia karena ternyata Baekhyun sedang berdiri di balik jendela kamarnya menghadap ke jendela kamar Yoonjo.

“Kamu belum tidur?” tegur Yoonjo.

Baekhyun tidak menjawab pertanyaan Yoonjo. Ia hanya terus menatap ke arah kamar Yoonjo.

Yoonjo memilih untuk mengacuhkan sikap Baekhyun yang aneh itu dan mulai membuka modul kuliahnya. Tapi baru beberapa menit membaca modulnya, Yoonjo kehilangan konsentrasinya. Sebab ia bisa merasakan kalau Baekhyun seolah sedang menghujam dirinya dengan tatapan tajamnya yang tak putus itu. Sesekali Yoonjo melirik ke arah kamar Baekhyun dan pemuda itu masih berada di posisi yang sama –menatap dirinya bagai pembunuh berantai yang sedang mengintai mangsanya. Karena Yoonjo tak bisa berkonsentrasi lagi, Yoonjo pun menghampiri jendelanya dan membalas menatap Baekhyun.

“Ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Yoonjo. Tapi Baekhyun tak bergeming –benar-benar menguji kesabaran Yoonjo. “Kenapa kamu menatapku seperti itu? Seolah kamu ingin menelanku hidup-hidup.”

Baekhyun pun berkedip. Tapi ia masih belum merubah ekspresinya. Dan Yoonjo sungguh merasa kalau ada yang aneh dengan Baekhyun hari ini. Apalagi pemuda itu juga tidak menjemputnya di cafe tadi.

“Baek, kenapa-,”

“Aku merasa seolah kamu adalah orang asing. Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihatmu,” sela Baekhyun.

Yoonjo terdiam.

Tak biasanya Baekhyun bicara dengan nada serius seperti itu. Baekhyun bisa serius jika Yoonjo sedang sakit. Jadi begitu mendengar Baekhyun mengucapkan kalimat penggoyah iman itu dengan begitu seriusnya, membuat Yoonjo nyaris kehilangan kendali akan hatinya.

Ingat Yoonjo, dia sudah punya Sojung! Yoonjo berusah mengingatkan dirinya sendiri.

“Kalau begitu kenapa kamu tadi tidak datang menjemputku? Kalau kamu tadi menjemputku, tentu kamu bisa langsung melihatku,” Yoonjo mencoba bergurau.

Tapi Baekhyun seolah tidak termakan dengan gurauan Yoonjo. Ia masih menatap Yoonjo tajam. Dan Yoonjo bisa merasakan kalau aura Baekhyun saat ini sangatlah dingin dan menakutkan.

“Appa mencarimu. Dia menyuruhku untuk mengingatkanmu agar datang menemuinya. Katanya kalau kamu tidak menurut, dia menyuruhku untuk menyeretmu ke rumah sakit,” tegur Baekhyun dingin. “Aku bilang padanya kalau kamu kemarin pingsan lagi saat latihan band.”

Yoonjo akhirnya menghela napas lega. Sekarang ia tahu alasannya kenapa Baekhyun jadi mendadak serius seperti ini. Tentu saja sakitnya Yoonjo adalah penyebabnya. Setidaknya Yoonjo tak perlu khawatir dengan perubahan sikap Baekhyun ini.

“Chanyeol memberitahumu? Anak itu berlebihan. Aku hanya berakting agar dia memberiku ruang untuk istirahat. Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan berhenti jika aku lelah. Makanya aku berpura-pura kalau aku mau pingsan,” Yoonjo mencoba mencari alasan.

Melihat Baekhyun yang masih tidak mau merubah ekspresinya, membuat Yoonjo benar-benar mati kutu. Bagaimana bisa ia bisa tidur nyenyak nanti malam, jika Baekhyun seolah ingin menerobos hati Yoonjo dengan tatapannya yang tajam itu. Yoonjo memutuskan untuk balas menatap Baekhyun –seolah mereka sedang beradu tatap. Tidak ada kata yang terucap di antara mereka. Keduanya hanya berdiri berhadapan sambil terus menatap satu sama lain tanpa ada yang berkedip apalagi memalingkan wajahnya.

Bunyi dering ponsel Yoonjo membuyarkan konsentrasi gadis itu. Tanpa memalingkan wajahnya dari Baekhyun, Yoonjo menjawab teleponnya.

Yoboseyo? Ahh, Hyungnim? Wae geuraeyo?”

Begitu menyadari kalau Shinwoo yang meneleponnya, Yoonjo pun memalingkan wajahnya untuk melihat ponselnya. Dan ketika ia kembali melihat ke arah kamar Baekhyun, ternyata pemuda itu sudah tidak ada di balik jendelanya. Kamarnya sudah gelap dan gordennya juga sudah di tutup. Yoonjo pun memutuskan kalau Baekhyun sudah menyerah dan memilih untuk tidur.

 

 

Yang Yoonjo tidak ketahui adalah kalau Baekhyun belumlah beranjak dari tempatnya. Ia masih berdiri di balik jenela kamarnya yang gelap gulita, menatap jendela kamar Yoonjo dari balik gordennya.

Babo, kenapa kamu tidak menyampaikan pertanyaanmu? Apa yang kalian lakukan di cafe, kenapa kalian berpelukan dalam ruangan gelap, kenapa kamu baru pulang selarut ini, dan kenapa kamu memakai baju yang berbeda dengan yang aku lihat tadi,” rutuk Baekhyun.

.

.

.

.

Sojung menggenggam ponselnya erat penuh amarah. Untuk yang kesekian kalinya Baekhyun membatalkan janji mereka.

Maaf, Sojung-ssi, aku harus mengantar Yoonjo; Maaf, aku tidak bisa mengantarmu, aku harus menjemput Yoonjo; Kurasa kita tak bisa pergi hari ini, karena Yoonjo…; Hari ini Yoonjo…

“Yoonjo, Yoonjo, Yoonjo, dan selalu Yoonjo!!” kesal Sojung.

Ia berusaha mengatur napasnya yang memburu karena ia terlalu kesal saat ini. Baekhyun selalu membatalkan acara mereka hanya karena seorang gadis yang bernama Shin Yoonjo. Dan setiap Sojung berusaha protes, jawaban Baekhyun selalu sama.

“Jangan cemburu pada Yoonjo. Mencemburui Yoonjo, itu sama saja dengan kamu cemburu pada ibuku. Yoonjo adalah keluargaku, dia tidak patut untuk kamu cemburui.”

Sojung sama sekali tidak cemburu dengan Yoonjo. Sebab yang ia rasakan terhadap Baekhyun sendiri memang bukanlah cinta, jadi ia tak mungkin cemburu dengan gadis-gadis di dekat Baekhyun. Tapi Sojung sangat tidak suka, jika ada seseorang yang menghalangi jalannya. Jika Sojung mengingat-ingat lagi, ia sendiri rasanya belum mendapatkan pernyataan cinta dari Baekhyun. Pemuda itu menjadi pacarnya bahkan tanpa pernah mengucapkan kata ‘aku mencintaimu’ pada Sojung.

“Apa yang harus aku lakukan terhadapmu, Byun Baekhyun?” geram Sojung. “Haruskah aku mengacaukan gadis itu, baru aku mengacaukanmu? Aku bahkan belum mencoba untuk menjalankan rencanaku, tapi kamu sudah lebih dulu menginjak-injak aku?! Kamu pikir kamu sedang berhadapan dengan siapa, Byun Baekhyun?!”

Sojung memutuskan untuk memutar haluan. Jika Baekhyun mempermainkannya seperti ia mempermainkan mantan-mantannya, maka Sojung akan mempermainkan pemuda itu sampai ia menyesal karena sudah menyenggol harga diri Sojung.

Sojung memilih untuk mencari Yoonjo. Karena mereka berdua satu jurusan, jadi Sojung tak perlu bingung, kemana harus mencari Yoonjo. Begitu ia menuju gedung sastra, Sojung menemukan Yoonjo yang baru saja berpisah dengan profesor mereka.

“Shin Yoonjo!” gertak Sojung.

Yoonjo terlonjak kaget mendengar Sojung berteriak memanggil namanya. Apalagi begitu ia melihat seperti apa ekspresi Sojung saat ini, membuat Yoonjo menciut seketika.

“Sojung-ssi, an-annyeongha-,”

“Tak perlu basa-basi,” potong Sojung. “Sepertinya kamu lupa akan pesanku dulu, Shin Yoonjo.”

Yoonjo tampak berusaha mengingat pesan seperti apa yang dimaksud Sojung.

“Aku-menginginkan-Byun-Baekhyun!” tekan Sojung. “Bagian mana yang tidak kamu mengerti dari kalimat tersebut? Bukankah kamu adalah nomor satu di kelas sastra? Tentu kamu mengerti maksudnya bukan?!”

“Sojung-ssi, aku tidak-,”

“Aku sungguh tidak ingin bersikap seperti anak kecil atau ABG-ABG labil yang akan memojokkanmu, mencaci-maki kamu, dan menyakitimu. Jadi aku mohon kerjasamanya. Agar aku bisa hidup tenang tanpa melakukan dosa terhadapmu begitupun sebaliknya,” geram Sojung.

Yoonjo mengerjap-ngerjapkan matanya –takut akan ancaman Sojung tersebut. Ia paham betul mengapa Sojung bersikap seperti ini. Tapi ia bingung, kenapa Sojung harus melampiaskan kekesalannya pada Yoonjo. Padahal sejak Baekhyun dan Sojung berpacaran, Yoonjo sudah jarang pergi bersama Baekhyun. Terutama belakangan ini, setelah kejadian Baekhyun bersikap aneh beberapa minggu yang lalu, Yoonjo sama sekali tak pernah lagi berbarengan dengan Baekhyun.

“Terima kasih sudah mengingatkanku, Sojung-ssi. Aku akan lebih waspada lagi ke depannya,” ujar Yoonjo pelan. Ya, lebih baik mengalah daripada terluka.

“Bagus. Jika sampai kamu berada di antara kami lagi, aku tidak segan-segan melakukan hal yang lebih kejam dari apa yang sudah pernah kamu terima selama ini. Mengerti?!” ancam Sojung.

.

.

.

“MATI!!”

“Kenapa kamu tidak mati saja?!!!”

“Kenapa kamu harus lahir ke dunia ini?!!”

“Kamu hanya akan menyusahkan saja!!”

“Jadi lebih baik kamu mati!! Matiiii!!”

Perempuan itu memaki Yoonjo. Ia mendekati Yoonjo yang sudah menciut ketakutan dan memaksa Yoonjo untuk berdiri. Meskipun Yoonjo sudah berdiri, tapi ia tak lebih tinggi dari panggul perempuan tersebut. Yoonjo tak bisa melihat wajah perempuan yang sedang memakinya. Wajah perempuan itu terkena pantulan cahaya sehingga membuat wajahnya tampak samar. Perempuan itu mengarahkan kedua tangannya ke leher Yoonjo. Perempuan itu mencekik Yoonjo.

 

“Yoona, tolong aku!!”

 

Yoonjo terlonjak dari tidurnya. Ia mimpi buruk. Yoonjo tersengal-sengal kehabisan napas. Dadanya sesak dan sakit. Masih setengah sadar, Yoonjo menjulurkan tangannya ke nakas di samping ranjangnya. Ia meraih botol obat serta botol minumnya. Ia mengeluarkan obatnya –yang hanya tinggal satu butir saja– dan lalu meminumnya. Cukup lama sampai akhirnya rasa sakit di dadanya mereda. Yoonjo pun kembali merebahkan dirinya di kasur.

Mimpi yang sama. Sudah beberapa hari ini ia bermimpi yang sama. Awalnya hanya jeritan-jeritan yang menyuruhnya untuk mati. Tapi makin kesini, mimpi itu semakin menjadi. Bukan hanya sekedar jeritan saja, sekarang ia bisa melihat sosok yang memakinya, yang benar-benar berniat untuk membunuhnya dengan cara mencekik lehernya.

Yoonjo memegangi lehernya –bersyukur karena ia tidak merasakan sakit ketika ia menyentuhnya.

Yoonjo berusaha keras mengingat wajah wanita itu, wanita yang usianya jauh lebih tua dari Yoonjo –ia bisa menebaknya karena gaya berpakaian wanita itu sangatlah kuno. Meskipun Yoonjo berusaha melihat wajah wanita itu dalam mimpinya, tapi ia tak pernah berhasil melihatnya. Mimpi itu begitu nyata, sampai Yoonjo bisa merasakan sakitnya ketika wanita itu mencekik lehernya –sesak karena ia tak bisa bernapas. Dan karena mimpi-mimpi buruk itulah, Yoonjo jadi harus mengkonsumsi obat lebih banyak dari yang seharusnya.

Yoonjo memutuskan untuk menemui ayah Baekhyun untuk mencari pencerahan atas mimpi buruknya ini.

.

.

.

Siang yang cerah di akhir musim panas. Siang ini Yoonjo memutuskan untuk menemui orang yang sudah lama tidak ia kunjungi. Sebenarnya ia bisa meminta Baekhyun untuk mengantarnya ke tempat tujuan. Tapi ancaman Sojung masih terngiang di telinga Yoonjo sehingga membuat gadis itu tak berani mendekati Baekhyun lagi. Walau begitu, Yoonjo merasa insiden ini ada manfaatnya. Setidaknya ia tak perlu melihat wajah iba dan khawatir Baekhyun setelah menemani Yoonjo nanti.

Langkah Yoonjo terhenti di sebuah gedung yang berdiri kokoh di salah satu pusat kota. Seoul International Hospital, nama gedung tersebut. Salah satu rumah sakit kenamaan di Korea Selatan. Yoonjo lalu memasuki gedung tersebut. Bagaikan rumah kedua –ketiga mungkin karena yang kedua adalah rumah Byun Baekhyun– Yoonjo menyapa semua penghuni disana. Ia terus masuk menyusuri koridor rumah sakit sampai akhirnya ia tiba di tempat tujuan.

Spesialis Jantung, Dr. Byun Seojun.

Yoonjo tampak menimang-nimang sejenak, apakah ia akan langsung masuk atau menunggu suster jaga menyuruhnya masuk. Ia masih berdiri terpaku di depan pintu sampai akhirnya ada tangan yang meraih kenop pintu itu dan membukanya serta mendorong punggung Yoonjo untuk masuk ke dalam ruangan. Yoonjo pun langsung berbalik untuk melihat siapa tersangka utama yang secara tidak sengaja menyuruhnya masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Ahjussi?” kaget Yoonjo begitu melihat si pemilik ruanganlah yang mendorongnya masuk.

“Kamu menghalangi jalan, Nona Shin,” sahut lelaki paruh baya yang berbalutkan jas dokter tersebut. “Dan ini di rumah sakit, jadi panggil aku dengan Dokter Byun.”

Yoonjo tersenyum mendengar ucapan sang dokter. Yoonjo sangat dekat dengan dokter di hadapannya ini. Dokter Byun Seojun adalah penyelamat hidupnya. Tentu saja, jika bukan karena bantuan dan semangat Dokter Byun, Yoonjo mungkin tak akan bisa menikmati hidup sampai sekarang. Dokter Byun lah yang sudah menyelamatkan kehidupan Yoonjo, mulai dari fisik, psikis, semuanya. Berkat Dokter Byun, Yoonjo bisa hidup sehat dan berkecukupan seperti sekarang.

“Baekhyun Eomma protes padaku. Katanya kamu sudah tak pernah lagi mampir ke rumah untuk sekedar sarapan, makan siang atau makan malam. Seolah kamu tidak tinggal di sebelah rumah kami lagi. Sepertinya kuliah membuat Shin Yoonjo jadi begitu sibuk, eoh? Bahkan untuk check-up sebulan sekali saja juga tidak sempat,” tegur Dokter Byun.

Yoonjo tertawa membayangkan Nyonya Byun mengutarakan kerinduannya. Yoonjo jadi merasa bersalah pada Nyonya Byun, mengingat betapa ibu Baekhyun itu begitu menyayanginya. Ini semua karena masalahnya dengan Baekhyun, membuat Yoonjo enggan mengunjungi rumah keluarga Byun.

Melihat Dokter Byun sudah mengeluarkan stetoscopenya, Yoonjo pun segera merebahkan dirinya di ranjang pasien. Dokter Byun melakukan beberapa pemeriksaan terhadap Yoonjo. Sambil memeriksa Yoonjo, Dokter Byun mengajukan beberapa pertanyaan mengenai kesehatan Yoonjo beberapa waktu belakangan ini. Yoonjo memutuskan untuk menceritakan mengenai mimpi buruknya belakangan ini, serta serangan yang sering terjadi belakangan ini yang selalu membuatnya nyaris pingsan.

Dokter Byun memandangi Yoonjo dengan seksama. Banyak yang berkecamuk di benaknya. Banyak yang ingin ia tanyakan pada Yoonjo, tapi tak tahu bagaimana caranya tanpa membuat Yoonjo tertekan. Karena Dokter Byun tahu apa penyebab dari mimpi-mimpi buruk Yoonjo itu. Tapi akhirnya Dokter Byun pun bertanya pada Yoonjo –satu pertanyaan yang mampu membuat Yoonjo menciut ketakutan.

Tanpa diminta air muka Yoonjo langsung memucat begitu mendengar pertanyaan Dokter Byun. Pupil matanya membesar –perlahan tapi pasti ketakutan mulai menjalari dirinya. Dan jantungnya kembali bereaksi –berdegup kencang, sangat kencang, terlalu kencang. Yoonjo pun meremas dada kirinya seraya menggapai Dokter Byun untuk menolongnya.

“Ahh. Ahjussi. Obatnya, Ahjussi,” rintih Yoonjo.

Dokter Byun meraih kedua tangan Yoonjo. Ia lalu meletakkan telapak tangan Yoonjo di dadanya agar Yoonjo merasakan detak jantungnya. Yoonjo berusaha keras mengikuti ucapan Dokter Byun yang dirasa sangat sulit baginya. Seberapa keras Yoonjo berusaha mengendalikan jantungnya, tapi tetap tak berhasil. Yoonjo hanya bisa berusaha menahan sakitnya sampai akhirnya Dokter Byun menyuntikkan penenang pada Yoonjo.

“Kenapa kamu jadi lemah dan tak mau berusaha seperti ini, Yoonjo-ya? Apa kamu tahu seperti apa kamu barusan? Seperti anak pecandu narkoba,” ujar Dokter Byun. “Yoonjo-ya, aku memberikanmu obat itu bukan untuk kamu minum setiap saat jika jantungmu sakit. Jika kamu terus mengkonsumsinya di luar waktu yang aku anjurkan, itu akan membuat badanmu kebal terhadap obat itu. Bagaimana kamu akan sembuh, Yoonjo-ya, kalau kamu sendiri masih terjebak dalam ketakutanmu,” pesan sang dokter.

“Aku takut ia akan berhenti bekerja jika aku tidak meminum obat darimu. Aku belum mau mati, Ahjussi. Masih banyak yang ingin aku lakukan, jadi aku harus tetap hidup.”

Ya, Yoonjo belum mau mati. Jika Dokter Byun mengatakan kondisinya makin parah, bukankah itu sama saja dengan ia akan mati cepat. Yoonjo belum ingin mati secepat ini. Yoonjo masih harus menemukan Yoona. Yoonjo juga masih harus mencari siapa yang merawat kakaknya yang belum pernah ia temui. Dan Baekhyun juga belum menyadari perasaan Yoonjo terhadapnya. Oleh karena itu Yoonjo belum mau mati.

Melihat ketakutan yang tergambar jelas di wajah Yoonjo, membuat Dokter Byun langsung merangkul Yoonjo.

“Yoonjo-ya, apa kamu tak percaya pada Ahjussi? Ahjussi sudah membuatmu bisa bertahan sampai sejauh ini dan Ahjussi akan terus membuatmu bertahan di dunia ini. Kamu hanya perlu bertahan sebentar dengan kekuatanmu sampai kita menemukan donor jantung yang cocok untukmu. Ketika saat itu tiba, maka kamu tak perlu lagi bergantung pada obat-obat penghilang rasa sakit itu,” hibur Dokter Byun.

Dokter Byun membelai kepala Yoonjo pelan. Yoonjo sudah seperti putrinya sendiri. Sebab sejak Yoonjo kecil, Dokter Byunlah yang merawat Yoonjo. Dokter Byun akan melakukan apa saja untuk bisa membuat Yoonjo tetap hidup. Karena jika bukan karena Yoonjo dan ayahnya, Dokter Byun tidak akan menjadi dokter spesialis hebat seperti sekarang ini.

“Baekhyun Eomma akan mengadakan pesta ulang tahun untukmu. Kuharap kamu tidak menolaknya, Yoonjo. Kita sudah melewatkan perayaan tujuh belas tahun usiamu, jadi jangan sampai yang ke dua puluh ini juga kamu lewatkan,” pesan Dokter Byun. “Dan jangan lupa ambil obatmu di apoteker.”

Yoonjo hanya mengiyakan pesan ayah Baekhyun tersebut. Meskipun ia tidak menyukai sebuah perayaan untuk dirinya, tapi Yoonjo tak mau membuat Nyonya Byun kecewa lagi kali ini. Untuk kali ini saja, Yoonjo akan menuruti keinginan wanita yang sudah seperti ibunya itu.

.

.

.

.

Mianhae, aku tak bisa datang ke acaramu. Sedang ada acara keluarga disini, jadi aku tak bisa meninggalkan rumah. Pestamu tetap berjalan meski tanpa aku, bukan?” sesal Baekhyun pada ponselnya.

Baekhyun sedang di hadapkan pada dilema. Saat ini keluarganya sedang merayakan ulang tahun Yoonjo yang ke dua puluh serta diangkatnya ayah Yoonjo menjadi kepala chef di Seoul International Hospital, sementara Sojung juga sedang mengadakan pesta di rumahnya. Tentu saja Baekhyun memilih untuk tetap di rumah. Sebab jika ia meninggalkan acara berharga ini, sudah di pastikan kalau ibunya akan mengusir Baekhyun dari rumah serta memecatnya dari anggota keluarga Byun –mengingat ibu Baekhyun sangat menyayangi Yoonjo. Karenanya, meskipun tak enak hati dengan Sojung, setidaknya ia bisa memberi pengertian terhadap gadis itu.

“Baekhyun-ah. Cepat kesini! Yoonjo mau meniup kue ulang tahunnya!” seru ibu Baekhyun dari arah halaman belakang.

Baekhyun segera menutup speaker ponselnya, takut kalau Sojung mendengar teriakan ibunya. Baekhyun tentu tahu betapa Sojung sangat sensitif jika ada yang menyebut nama Yoonjo di hadapannya. Karenanya, Baekhyun berusaha untuk tidak berdekatan dengan Yoonjo belakangan ini.

“Sojung-ssi, Eomma memanggilku. Nanti akan ku telepon lagi yaa. Nikmati acaramu. Bye,” pamit Baekhyun sebelum menutup ponselnya.

Baekhyun meninggalkan ponselnya di konter dapur dan segera berlari ke halaman belakang.

.

.

Ponsel Sojung menempel erat di telinganya. Ia berusaha mendengarkan alasan apa lagi yang akan Baekhyun lancarkan malam ini. Acara keluarga, katanya. Tapi Sojung tak percaya. Ahh, Sojung lupa, Yoonjo juga merupakan keluarga Baekhyun. Jadi pasti acara keluarga yang di maksud Baekhyun adalah acara dengan Yoonjo.

“…Baekhyun-ah. Cepat kesini! Yoonjo mau meniup kue ulang tahunnya..” samar samar Sojung mendengar suara tersebut di belakang Baekhyun. Kalimat itu membuat Sojung mengepalkan tinjunya erat. Tentu saja hanya ada satu alasan yang akan membuat Baekhyun mengabaikannya. Alasan itu tak lain adalah Shin Yoonjo.

Setelah Baekhyun menyudahi percakapan mereka, dengan kesalnya Sojung melempar ponselnya ke kaca di hadapannya.

“Shin Yoonjo! Kamu benar-benar sudah melewati batas kesabaranku,” geram Sojung.

Setelah menenangkan dirinya, Sojung pun keluar dari kamar mandinya dan bersikap seolah tidak terjadi sesuatu apapun terhadapnya. Ia tetap menebar senyum pada semua tamu yang datang ke pestanya. Ia tak ingin menjadi bahan bulan-bulanan jika tamunya tahu kalau Baekhyun lebih memilih bersama dengan Yoonjo dibandingkan dengan dirinya.

“Ahh, ini dia yang sedang berulang tahun,” tegur Ashley, sang primadona dari fakultas hukum. Ashley menghampiri Sojung dan mengulurkan tangannya pada gadis itu. “Happy birthday. Semoga di usiamu yang ke dua puluh tahun ini kamu jadi semakin dewasa dan kreatif. Tidak menjadi anak yang sukanya meniru orang lain.”

Sojung menatap Ashley tanpa ekspresi. Ia tahu gadis di hadapannya ini cemburu padanya. Cemburu karena program yang dibuat Sojung lebih mendapat banyak perhatian, cemburu karena Sojung lebih populer di kampus mereka, dan cemburu karena Sojung berhasil mendapatkan Baekhyun. Tapi Sojung sama sekali tidak berniat untuk mengusik semua ucapan Ashley.

Sojung akhirnya menjabat tangan Ashley. “Terima kasih sudah mau datang ke acaraku yang sederhana ini. Maaf jika acara ini tidak sesuai dengan ekspektasi-mu. Sebab kamu tahu sendiri kalau aku sedang membuat menggalang dana untuk membantu mereka yang kurang beruntung, jadi aku tidak bisa membuat acara yang terlalu mewah. Ahh kalau kamu mau ikut menyumbang silakan. Di pintu masuk ada panitia acara amalnya,” sindir Sojung.

Dengan sengaja Sojung menyindir Ashley, mengingat beberapa waktu lalu Ashley membuat pesta besar-besaran saat fakultas hukum sedang menggalang dana untuk sumbangan ke panti jompo. Setelah puas melampiaskan kekesalannya pada Ashley, Sojung pun memilih untuk meninggalkan gadis itu dalam kecemburuannya.

“Hey Lee Sojung,” tegur Ashley –terdengar jelas kalau ia sedang menahan diri untuk tidak memaki Sojung saat ini. “Mana pacarmu yang fenomenal itu? Apa dia tak bisa datang lagi kali ini? Bahkan ketika pacarnya sedang ulang tahun? Atau dia sedang sibuk mengurusi selirnya itu?”

Langkah Sojung terhenti mendengar ucapan Ashley. Dan mendadak keriuhan di pesta Sojung menghilang digantikan dengan keheningan yang menyesakkan. Tidak, Sojung tidak berniat meyahuti ucapan Ashley. Sojung tidak akan terpancing dengan ucapan Ashley. Dia tidak akan kalah dua kali malam ini –kalah dari Yoonjo dan Ashley.

“Ahh, sepertinya benar. Cassanova itu tidak akan datang kesini, huh?” Ashley menabur garam di atas luka Sojung.

Tanpa mempedulikan ucapan Ashley, Sojung pun meninggalkan semua tamunya dan memilih untuk mengurung dirinya di kamar.

.

.

.

Saengilchukha hamnida!!!!” seruan itu mengiring Yoonjo meniup kue ulang tahunnya.

Riuh rendah terjadi di halaman belakang kediaman keluarga Byun. Sebab mereka sedang merayakan ulang tahun Yoonjo yang sangat berharga. Tidak ada sesuatu yang spesial disana. Hanya ada sebuah kue, beberapa botol jus dan soda, serta berbagai jenis makanan yang akan di panggang. Lebih terlihat seberti sebuah acara barbeque dibandingkan sebuah acara ulang tahun. Kini berbagai ucapan selamat mengalir pada Yoonjo, mulai dari ayahnya, Nyonya Byun, dan terakhir Tuan Byun. Yoonjo tak mempedulikan Baekhyun yang tidak mengucapkan selamat padanya, sebab ia tahu pemuda itu sedang menghindari dirinya.

“Apa doamu, Yoonjo-ya?” tanya Nyonya Byun antusias.

“Menemukan Yoona,” sahut Yoonjo mantap.

Semuanya mengamini ucapan Yoonjo itu. Kerinduan Yoonjo yang begitu mendalam terhadap Yoona-lah yang mampu membuatnya bertahan sampai sejauh ini. Seandainya saja Yoona ada disini bersamanya, tentu acara ini akan terasa lebih lengkap.

Malam ini Yoonjo mendapatkan sebuket bunga mawar dari ayahnya serta sebuah parfum dari keluarga Byun –Tuan dan Nyonya Byun lebih tepatnya. Nyonya Byun bilang kalau hadiah Yoonjo akan menjadi lengkap jika ia mendapatkan sebuah ciuman dari kekasihnya. Yoonjo hanya bisa tertawa mendengar gurauan Nyonya Byun tersebut. Sementara Baekhyun masih tidak mau menghampirinya. Suasana di antara keduanya sungguh sangat canggung, sampai Yoonjo tak tahu harus melakukan apa jika berada di hadapan Baekhyun.

Ketika acara berlanjut ke sesi 21+ dimana ayahnya dan ayah Baekhyun saling menuangkan soju ke gelas masing-masing, Yoonjo pun memilih untuk kembali ke kamarnya.Setelah menaruh bunga-bunga mawarnya di vas, Yoonjo pun beranjak ke kamarnya. Yoonjo nyaris menjatuhkan vas di tangannya begitu ia masuk ke kamarnya. Karena ia melihat Baekhyun sudah ada disana dan duduk santai di kasur Yoonjo.

“Kapan kamu naik?” bingung Yoonjo. Ia pikir Baekhyun masuk lewat jendela kamar, tapi begitu melihat kalau jendela kamar Yoonjo terkunci, Yoonjo pun membuang alasan tersebut.

“Sejak kamu meninggalkan pestanya,” sahut Baekhyun acuh.

Sambil meletakkan vas bunganya di meja belajar, Yoonjo memperhatikan Baekhyun yang sedang mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Yoonjo memilih untuk tetap berdiri di samping meja belajarnya –enggan menghampiri Baekhyun.

“Apa yang kamu lakukan disana? Kemarilah,” panggil Baekhyun.

“Aku merasakan aura yang aneh darimu, Byun Baekhyun. Siapa yang tahu kamu akan memakiku kalau aku mendekatimu,” enggan Yoonjo.

Mianhae,” gumam Baekhyun.

Melihat Baekhyun yang begitu suram akhirnya Yoonjo memutuskan untuk menghampiri pemuda itu. Yoonjo duduk di samping Baekhyun.

“Aku belum memberikan hadiah untukmu. Aku tidak tahu apa yang sedang kamu inginkan saat ini. Aku juga tidak bisa membawa Yoona ke hadapanmu saat ini juga. Karenanya aku minta maaf,” ujar Baekhyun.

“Baekhyun-ah, kamu tidak perlu. Aku sungguh tidak mengharapkan hadiah apapun,” sahut Yoonjo.

“Karenanya hadiah yang bisa kupikirkan hanya ini. Untuk melengkapi dua hadiah yang sudah ada,” gumam Baekhyun.

Yoonjo memiringkan kepalanya menghadap Baekhyun, bingung dengan apa yang diucapkan pemuda itu. Sebab Baekhyun datang ke kamarnya dengan tangan kosong, tidak membawa kado ataupun benda yang terlihat seperti hadiah. Yoonjo memandangi Baekhyun yang menatap lurus ke arahnya. Bagai terhipnotis, Yoonjo bahkan tidak menyadari kalau wajah Baekhyun sudah mendekati dirinya.

Chu~

Baekhyun mengecup singkat bibir Yoonjo. Singkat tapi mampu membuat Yoonjo kehilangan napasnya. Saengil chukha hamnida dari Baekhyun adalah hal terakhir yang diingat Yoonjo sebelum semuanya jadi gelap.

.

.

.

Begitu Yoonjo membuka matanya, wajah Baekhyun adalah hal pertama yang ia lihat. Terlalu dekat, hanya berjarak sejengkal dari wajahnya. Kaget, Yoonjo langsung mendorong pemuda itu hingga Baekhyun jatuh terjengkang.

“Yah! Apa yang mau kamu lakukan, byuntae (mesum)?!” bentak Yoonjo.

Baekhyun hanya mengaduh di lantai. Dan mendadak adegan semalam terulang kembali dibenak Yoonjo, adegan ketika Baekhyun mengecup bibir Yoonjo. Mengingat hal itu wajah Yoonjo langsung memanas. Tanpa basa-basi, Yoonjo langsung melompat ke atas Baekhyun dan duduk di perutnya seraya menarik kedua kuping Baekhyun.

“Apa yang sudah kamu lakukan?! Apa yang sudah kamu lakukan semalam, Byuntae-hyun!! Kenapa kamu melakukan itu?! Apa kamu mau kehilangan kedua kupingmu beserta bibirmu yang berharga itu!!” seru Yoonjo geram.

Yoonjo kesal, karena ciuman pertamanya diambil begitu saja oleh Baekhyun. Yoonjo bahkan tidak sempat merasa senang karena Baekhyun akhirnya menciumnya. Karena saat ini status baekhyun bukanlah miliknya, selain itu Baekhyun juga tidak menyukainya. Hal ini membuat Yoonjo merasa kalau Baekhyun baru saja mencuri ciuman pertamanya yang berharga.

“Aku melakukan apa?! Kenapa kamu baru bangun tidur langsung marah-marah? Yah, tenang dulu. Ingat jantungmu,” sahut Baekhyun.

“Jangan berpura-pura bodoh! Kamu tahu itu adalah yang pertama untukku. Kenapa? Kenapa?” kesal Yoonjo. “Pasti tadi kamu mau melakukannya lagi. Untung aku bangun tepat waktu, kalau tidak– aaaakhh!! Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan padamu, Byuntae-hyun!!”

Baekhyun berusaha keras menahan tangan Yoonjo yang terus menarik telinganya. Ia merasa telinganya sudah mati rasa saat ini. “Yoong, mimpi apa kamu semalam, sampai kamu jadi liar begini? Aku baru saja datang untuk membangunkanmu. Yoong, lepaskan dulu. Ini sakit sekali,” rengek Baekhyun.

“Ada apa dengan kalian? Masih pagi kenapa sudah bertengkar seperti ini?” tegur ayah Yoonjo yang mampir karena mendengar keriuhan dari kamar Yoonjo. “Shin Yoonjo, lepaskan Baekhyun. Apa kamu mau memutuskan telinganya?”

“Appa, memutuskan telinganya saja rasanya tidak cukup. Apa Appa tahu apa yang sudah ia perbuat. Byun Baekhyun-,”

“Dia memimpikanku, Ahjussi,” potong Baekhyun.

Mwo?!” sahut Yoonjo tak percaya. Pegangan Yoonjo terhadap telinga Baekhyun pun mengendur dan membuat pemuda itu langsung menjauh dari Yoonjo. “Yah, naega eonje (kapan aku)?!”

“Aku mendengarnya. Kamu menyebut namaku. Baekhyun-ah~ Baekhyun-ah~, dan karena aku memergokimu, makanya kamu malu dan malah melampiaskan kemaluanmu itu padaku!” tuding Baekhyun dari balik ayah Yoonjo.

Mendengar bahasa yang digunakan Baekhyun membuat ayah Yoonjo terkejut. “Byun Baekhyun, bahasamu,” tegur ayah Yoonjo.

Setelah Baekhyun memperbaiki kalimatnya, akhirnya ayah Yoonjo memutuskan untuk menyudahi pertengkaran mereka dan menyuruh keduanya untuk segera bersiap-siap dan sarapan di bawah. Kemudian ia meninggalkan Baekhyun dan Yoonjo untuk menyelesaikan masalah mereka.

Tapi Yoonjo masih belum mau memaafkan Baekhyun. Ia masih menatap Baekhyun sinis. “Mwo? Memimpikanmu? Apa aku gila sampai aku memimpikanmu?” gerutu Yoonjo. “Yah, Byun Baekhyun, jangan banyak alasan lagi. Kalau kamu mau minta maaf atas apa yang sudah kamu lakukan semalam, maka aku akan memaafkanmu dan melupakan kejadian semalam.”

Baekhyun menyilangkan kedua lengannya di dada. Ia menantang Yoonjo untuk mengulang adegan apa yang terjadi semalam. “Aku benar-benar tidak tahu dengan apa yang kamu maksud. Apa yang sudah aku lakukan semalam? Semalam aku membantu ahjussi memanggang daging untukmu, itu saja.”

“Disini! Yang kamu lakukan disini, di kamar ini! Hadiah­ yang kamu berikan padaku! Jangan membuatku mengatakannya dengan mulutku ini,” kesal Yoonjo.

Baekhyun memasang wajah polosnya. “Yah, aku baru datang kesini pagi ini untuk minta maaf padamu karena mengacuhkanmu selama berminggu-minggu. Aku bahkan belum mengucapkan selamat ulang tahun padamu jadi bagaimana aku bisa memberikan hadiahku terlebih dahulu. Neo jinjja utgida (kamu benar-benar lucu),” sahut Baekhyun.

Yoonjo hanya bisa melongo. Rasanya tidak mungkin ia bermimpi. Rasa itu terlalu nyata baginya. Yoonjo benar-benar tidak bisa mempercayai ucapan Baekhyun. Tapi Yoonjo memilih untuk menyerah. Apapun kebenarannya, pasti nanti akan terbuka juga.

Akhirnya Yoonjo beranjak dari tempatnya dan keluar kamar menuju kamar mandi. Yoonjo melewati Baekhyun, yang mengamankan telinganya, tanpa menoleh sedikitpun pada pemuda itu. Sebelum masuk ke kamar mandi, Yoonjo berhenti sejenak untuk sekedar menyampaikan kekecewaannya pada Baekhyun.

“Semoga saja itu memang mimpi. Sebab kalau itu adalah kenyataan maka aku akan merasa sangat sedih. Sebab ciuman pertamaku bukannya kuberikan pada kekasihku tapi malah diambil oleh kekasih orang lain.”

.

.

.

Derap langkah Sojung menggema ke seluruh penjuru koridor fakultas sastra. Ia tak mempedulikan gunjingan-gunjingan yang beredar di sekitarnya mengenai hubungannya dengan Baekhyun. Ada hal yang lebih penting saat ini. Sojung berkeliling fakultas untuk mencari domba tersesatnya.

Dari arah kantin, Sojung menemukan Shin Yoonjo yang sedang berjalan ke arahnya. Tanpa menegurnya, tanpa Sojung langsung menarik tangan Yoonjo agar ikut dengannya.

“S-sojung-ssi,” kaget Yoonjo.

Sojung tidak menyahuti sapaan Yoonjo. Ia hanya terus menyeret Yoonjo sampai akhirnya mereka tiba di belakang kampus –area yang cukup sepi dari mahasiswa. Sojung menarik Yoonjo menuju sebuah gudang yang berada jauh dari belakang fakultas teknik yang cukup bising.

“S-sojung-ssi. W-wae geuraeyo? Apa.. apa aku melakukan kesalahan lagi? Sojung-ssi, aku minta maaf kalau aku-,” kalimat Yoonjo terputus begitu melihat kemana tujuan mereka. Takut dan panik, itulah yang Yoonjo rasakan. “S-sojung-ssi. Andwaeyo. Yeogiseon andwae (tidak disini). Jebal (kumohon), Sojung-ssi.”

Yoonjo berusaha keras menahan dirinya tapi Sojung jauh lebih kuat dari yang Yoonjo bayangkan –atau memang dirinya yang lemah. Sojung mendorong Yoonjo masuk ke dalam gudang yang gelap dan menutup pintunya. Satu hal yang tidak Sojung tahu, selain takut pada gelap, Yoonjo juga menderita claustrophobia –takut akan tempat tertutup.

.

.

.

Baekhyun mengunjungi ruang senat untuk mencari Sojung. Ia pikir kalau Sojung pasti kecewa karena ia tidak datang ke acara amal yang digelar Sojung semalam. Karenanya, Baekhyun ingin meminta maaf pada Sojung serta ingin membuat hari ini menjadi hari-spesial-Sojung agar gadis itu mau mengampuninya. Tahap pertama adalah segelas americano kesukaan Sojung.

Setibanya di ruang senat, Baekhyun langsung mengintip ke dalam ruangan. Tapi ruangan itu kosong –tidak ada siapa-siapa disana. Baru saja Baekhyun hendak mengeluarkan ponselnya ketika salah satu teman Sojung, Eunbi, datang menghampiri.

“Byun Baekhyun?” tegur Eunbi.

“Oh, kamu teman Sojung bukan? Apa kamu lihat Sojung hari ini?” tanya Baekhyun.

“Byun Baekhyun, neo jinjja daedanhada (kamu benar-benar menakjubkan),” ketus Eunbi.

Baekhyun hanya memandangi Eunbi bingung. Ia pikir Eunbi kagum padanya atau sedang mencoba merayunya. Tapi ucapan Eunbi berikutnya mematahkan semua spekulasi Baekhyun.

“Bagimana bisa kamu tidak datang semalam? Kekasihmu merayakan ulang tahunnya, tapi kamu tidak ada di acaranya. Apa kamu tahu yang sudah kamu lakukan? Kamu membuat Sojung jadi bulan-bulanan Ashley di pestanya sendiri,” semprot Eunbi.

“Ulang tahun?” jadi itu bukan sekedar acara penggalangan dana? Bingung Baekhyun.

“Apa itu benar? Kamu sedang bersama Shin Yoonjo lagi semalam? Yah, Byun Baekhyun. Walaupun kamu bilang dia adalah adikmu, tapi apa pantas kamu mengabaikan Sojung untuknya? Kamu dan Yoonjo bahkan tidak sedarah. Karena gadis itu, Sojung mendapatkan malu yang luar biasa semalam. Semua berkat kamu,” ketus Eunbi sebelum meninggalkan Baekhyun yang masih mematung di tempatnya.

“Dia hanya teman katamu?! Tapi kenapa kamu memperhatikannya lebih daripada kamu memperhatikanku, pacarmu sendiri!”

Baekhyun ingat akan kecemburuan Sojung terhadap Yoonjo. Meskipun Baekhyun berusaha menjelaskan kalau Yoonjo hanyalah teman dekat, tapi Sojung tak pernah mau mengerti. Sojung selalu protes mengenai Yoonjo, karena ia merasa kalau Yoonjo sudah memonopoli Baekhyun. Hal ini membuat Baekhyun bingung untuk bersikap.

“Jangan buat aku jadi perempuan jahat, Byun Baekhyun. Kamu tidak tahu apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu tidak memperhatikan gadis itu lagi. Kamu tidak akan pernah bisa membayangkannya. Karenanya, berhenti mengurusi gadis itu sebelum habis kesabaranku.”

Mendadak ia merasa tidak enak. Bukan karena ia sudah mengabaikan acara ulang tahun Sojung. Bukan karena ia mendengar kalau Sojung menjadi bulan-bulanan orang-orang. Tapi ada rasa takut yang mendadak menyelimuti dirinya. Ketakutan yang hanya datang jika ia memikirkan Yoonjo.

 

.

.

.

 

*Chapter 4 end*

Advertisements
FF – Tangled Fate | Chapter 4 | PG15

17 thoughts on “FF – Tangled Fate | Chapter 4 | PG15

  1. YAaa soonun kejemm sekalii.. duh ada adegan eunbii, kasiannn dia udh meninngl. semOGA diterima disiinya ya hiks hiks… next chpterrr aku lnjt baca ya kak bee

  2. Sojung kelewatan bnget sih.. Pdhal kn klo sojung tw, sbnrnya yoonju kmbranx,
    next ya thor, pnsaran bnget sma crita selanjutnya, moga2 yoonju cepet ketemu sama kembaranya

  3. hazunajohkim says:

    Wohoho claustro men, itu bknnya bs bikin pingsan keringet dingin ya? Wah parah juga itu si sojung kyknya udh suka baek deh, walopun ga mengakui, abis cemburunya kelwatan iya itu dia suka itu *ngotot bgt* kukira shinwoo bakal cerita ke yoonjo eh engga ya? Bagus deh belum saatnya ya ampun jd ga sabaran mau tau, shinwoo tau dr mana dia kakaknya yoonjo ya? Whiiiiw ditunggu next bee~
    #keepwritinghwaiting

  4. aick says:

    ya ampun, sojung jahat banget dimasukin ruang tertutup gelap gtu. gimana klo yoonjo pingsan??
    semoga baeki cepet nyelametin yoonjo ato terserah siapa pun, sebelum yoonjo knpa napa..
    andai mereka tau satu sama lain itu kembarannya, bakal kayak gimana ya??
    baeki terbakar api cemburu liat yoonjo sama shinwoo.hahahahaha

    eonni cepet2 diupdate lgi yaa

    1. andai mereka tau… kira-kira bakal gimana? aku sendiri juga ga tau bakal kaya gimana #ehh
      hiyyaaaa,,, besok2 diusahain updatenya lebih cepet lagi dari ini..
      makasii ya udah mampir 😀

  5. wahwah, si sojung udah mulai kelawatan..
    semoga nggak terjadi sesuatu sama yoonjo ..
    bang cnu nggak muncul di part ini..
    semoga happy ending nantinya.. semangat!
    next chap, can’t wait. kkk

    1. disini emang agak kelewatan dia..
      begitu selesai update chapter ini, aku baru ngeh kalo CNU ga kebagian part -__-”
      makasii udah nungguin ff ini 😀

  6. andweeee soojung baka!!
    gak sabar dengan kelanjutan cerita-nya 🙂 moga
    Baekyoon moment-nya makin bnyak wkwkwk,
    Keep writing eonn!!
    Up to date nya jngn kelman dong eon;(
    nungguin eonni update ff ini, ibarat nungguin ribuan baekhyun jatuh dari lngit(?) /what

    1. haduu mianhae… terkadang bee begitu bee update satu chapter, biasanya chapter berikutnya tuh udah jadi 3/4nya,, cuma aja lama di bagian editing dan faktor malas posting *ngeles aja kaya bajaj*
      makasiii loh udah nungguin ff ini

  7. maknae98 says:

    eonni!!!! aku benci bgt sma sojung.. nanti klau ada apa2 sma yoonjo gmana?? andwae!!!
    baek, kmu harus bergerak cpat klw gak yoonjo bakalan mati!

    aku greget bgt sma baekhyun disini, sbenarnya dia suka gak sih sma yoonjo, klw nggak kok sayangnya melebihi dia sayang sma sojung..

    aku tunggu lanjutannya eonni …..

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s