FF – Tangled Fate | Chapter 2 | PG15


tangled_fate

Title : Tangled Fate

Subtitle : Fear That Still Haunted Them

Author : beedragon

Cast:

Yoonjo Hello Venus as Shin Yoonjo

Sojung Ladies Code as Lee Sojung

Baekhyun EXO as Byun Baekhyun

CNU B1A4 as Shinwoo / Shin Dongwoo

Other Cast:

Chanyeol EXO as Park Chanyeol

Nara  Hello Venus as Kwon Nara

Genre : Family, Romance, Angst, Sad, Tragedy, Friendship

Length : Multichapter

Summary : Ketika waktu Yoonjo semakin menipis, Yoonjo berjuang melawan waktu untuk bisa menemukan belahan jiwanya. Akankah Yoonjo berhasil mengalahkan waktu, atau waktu yang mengalahkannya terlebih dahulu

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Soyou X Junggi Go – Some (썸) | Taylor Swift – You Belong With Me | SM The Ballads – 좋았던 건, 아팠던 건 (When I Was… When U Were…)

Tangled Fate | Second Chapter

~*~

“Dan aku tak akan pernah bisa menjauh darimu, Tuan Cassanova”

~*~

“Appa, jika Appa bertemu Eomma lagi, apakah mungkin kalian akan kembali bersama? Apakah Appa akan memaafkan Eomma dan menerimanya kembali?”

Pertanyaan Yoonjo itu membuat Tuan Shin terdiam. Bukan sekali atau dua kali ia memikirkan pertanyaan seperti itu. Tuan Shin sendiri belum menemukan jawaban pasti untuk pertanyaan tersebut. Tapi untuk saat ini, Tuan Shin setidaknya memiliki satu jawaban.

“Tidak.”

Yoonjo cukup kaget dengan jawaban ayahnya tersebut. Ia pikir ayahnya masih memiliki rasa terhadap ibunya. Ia pikir ayahnya masih mengharapkan ibunya untuk kembali pada mereka. Tapi sepertinya apa yang sudah ibunya lakukan terhadap keluarga kecil ini, berhasil membuat ayahnya menutup rapat pintu hatinya.

“Jika kamu bertanya apakah Appa masih mencintai ibumu, maka Appa akan menjawab kalau Appa masih mencintainya. Tapi untuk saat ini Appa tidak ingin kembali lagi bersama ibumu. Semua hal yang sudah ia lakukan, benar-benar membuat Appa kecewa padanya,” terang Tuan Shin.

Belakangan ini Tuan Shin memang suka berbagi cerita mengenai mengapa ibu Yoonjo meninggalkan mereka. Karena Yoonjo yang sudah dewasa, membuat Tuan Shin berpikir kalau tidak ada salahnya menceritakan kelakuan mantan istrinya tersebut pada Yoonjo –termasuk cerita mengenai keburukannya.

“Appa tak ingin menciptakan citra buruk terhadap ibumu. Tapi Appa benar-benar sudah patah arang. Saat ini mungkin kamu tak percaya kalau ibumu sudah membuang Yoona ke panti asuhan. Tapi sesungguhnya, ibumu pernah melakukan hal yang lebih gila daripada itu.”

Yoonjo tak ingin mendengar kelanjutan cerita dari ayahnya tersebut. Sungguh Yoonjo ingin tetap menciptakan gambaran baik mengenai ibunya. Tapi Yoonjo penasaran akan apa yang sudah ibunya lakukan sampai membuat ayahnya itu begitu sakit hati.

“Kamu seharusnya memiliki seorang kakak, Yoonjo-ya. Kakak lelaki. Usianya tiga tahun di atasmu. Appa pernah bilang kalau ibumu mengalami keguguran sebelum akhirnya mendapatkan kalian? Tapi sesungguhnya yang terjadi bukan itu,” Tuan Shin berhenti sejenak, berpikir apakah sebaiknya ia melanjutkan ceritanya atau tidak. Tapi ia merasa Yoonjo perlu tahu. Akhirnya ia melanjutkan ceritanya. “Sehari sebelum ia meninggalkan kita, ibumu bilang pada Appa kalau ia sebenarnya tidak pernah mengalami keguguran. Ia melahirkan bayi itu dengan selamat. Tapi ia menjual kakakmu itu, bahkan sebelum Appa sempat melihatnya.”

.

.

.

.

.

Yoonjo sibuk membolak-balik koran di tangannya. Sesekali ia melingkari tulisan-tulisan yang ada di koran tersebut dan lalu mengetikkan sesuatu ke ponselnya. Yoonjo begitu serius sampai akhirnya sapaan Chanyeol yang berapi-api membuyarkan konsentrasinya.

“Sedang lihat apa, Yoonjo-ya??” tegur Chanyeol seraya mengintip apa yang sedang dibaca Yoonjo. “Lowongan kerja?? Kamu mau kerja, Yoonjo-ya?”

Yoonjo hanya mengangguk. Ia kemudian menyingkirkan koran tersebut dari hadapan Chanyeol agar pemuda itu tidak bertanya lebih jauh lagi. Untungnya Chanyeol tidak bersama Baekhyun saat ini. Kalau tidak, mungkin Baekhyun akan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan mengenai ‘mengapa kamu mau bekerja, Yoong?’.

“Aku punya lowongan untukmu,” tawar Chanyeol tiba-tiba.

“Dimana?” tanya Yoonjo acuh, berusaha terdengar seolah ia tidak begitu peduli dengan tawaran Chanyeol padahal dalam hati ia tertarik.

“Aku akan memberitahumu, dengan satu syarat,” ujar Chanyeol. “Jadilah vokalis untuk grup bandku.”

Karena misi senat kampus yang menyatakan bahwa setiap mahasiswa harus mengikuti kegiatan kampus, membuat sebagian besar mahasiswa Donguk kebingungan mencari kegiatan ekstra –termasuk Chanyeol dan Yoonjo. Chanyeol sendiri sebenarnya sudah memiliki sebuah band dan dia menjadikan musik sebagai kegiatan sampingannya selain kuliah. Sementara Yoonjo, ia sama sekali belum menemukan kegiatan apa yang akan ia ikuti. Mendengar tawaran Chanyeol ini membuat Yoonjo merasa bagaikan memukul dua burung dengan satu batu.

“Kenapa aku? Baekhyun sepertinya lebih berminat jadi vokalis untuk bandmu. Setiap malam dia latihan nyanyi sampai mengganggu tidurku,” Yoonjo mencurahkan hatinya. “Lagipula, aku tidak bisa bernyanyi. Memangnya kamu pernah mendengarku bernyanyi?”

“Aku hanya pernah mendengarmu bersenandung. Tapi hanya mendengarkanmu bersenandung saja membuatku yakin kalau kamu pasti memiliki suara yang merdu. Ayolah, Yoonjo. Kamu pasti ingin mendapatkan nilai plus untuk semester ini bukan?” rengek Chanyeol.

Yoonjo kembali berpikir keras. Betapa ia ingin mendapatkan pekerjaan saat ini. Ia ingin mengumpulkan uang. Ia membutuhkan uang. Untuk mencari Yoona, Yoonjo membutuhkan uang yang banyak. Dan Yoonjo tak ingin membebankan ayahnya. Yoonjo tak ingin memakai uang ayahnya lebih banyak lagi. Tentu saja dengan semua obat serta biaya rumah sakit, Yoonjo tak mau merogoh lebih dalam lagi kantong ayahnya. Dan Yoonjo juga tak ingin merepotkan Baekhyun lagi. Meskipun Baekhyun sudah menawarkan diri, tapi Yoonjo merasa kalau sudah saatnya ia menjauh dari Baekhyun. Apalagi pemuda itu sekarang sudah berniat untuk mengejar Lee Sojung.

Yoonjo berpikir.

Ia terus berpikir.

“Pekerjaannya sebagai pelayan di sebuah cafe di daerah Myeongdong. Menggantikan uri Nara yang akan keluar dari sana. Ahh aku tak tahan melihat dia bekerja dikelilingi oleh lelaki. Jadi aku menyuruhnya keluar. Tapi dia tak mau keluar dari sana karena katanya belum ada pengganti yang pas. Jadi kamu terima saja pekerjaan disana. Pekerjaannya tidak berat dan bossnya juga baik kok,” rengek Chanyeol menyela pemikiran Yoonjo.

Yoonjo tak punya pilihan lain selain menyetujuinya. Sudah seminggu lebih ia mengenal Chanyeol dan setiap bertemu dengannya, yang ia bahas selalu tentang Nara –kekasihnya. Tak tega melihat Chanyeol selalu menyimpan curiga terhadap kekasihnya, akhirnya Yoonjo pun menyetujui tawaran Chanyeol.

Jinjja (sungguh)?? Uwaaahhh Yoonjo-ya, Gomawo (terima kasih)!! Saranghae (Aku mencintaimu)!!” seru Chanyeol riang seraya memeluk Yoonjo erat.

Yoonjo sudah paham betul dengan sifat Chanyeol ini. Jika ia sedang bersemangat dan berapi-api seperti ini, maka ia akan melupakan dinding pembatas antara dirinya dan lawan bicaranya. Seperti saat ini, dimana ia dengan semangatnya bilang ‘saranghae’ sambil memeluk Yoonjo. Gadis itu bahkan sudah tidak kaget lagi akan kebiasaan Chanyeol ini.

“Ehhemm!!” terdengar deheman yang sangat familiar bagi Yoonjo. Dengan segera Yoonjo melepaskan diri dari Chanyeol. Tentu saja karena kini Baekhyun sudah hadir di antara mereka.

“Perkembangan kalian pesat juga ya,” celetuk Baekhyun.

Chanyeol tampak tidak mengerti dengan apa yang Baekhyun bicarakan. Sementara Yoonjo, ia sudah sangat mengerti akan maksud Baekhyun tersebut. Tak ingin menciptakan kesalah-pahaman lebih jauh, Yoonjo pun memilih untuk pergi dan meninggalkan Baekhyun dengan Chanyeol.

“Aku tunggu kamu di parkiran kalau kuliahmu sudah selesai, Yoonjo-ya,” seru Chanyeol semangat pada Yoonjo yang sudah menjauh.

Baekhyun memandangi punggung Yoonjo yang makin menjauh lalu kemudian berpaling menatap Chanyeol dengan sejuta pertanyaan terlukis di wajahnya. Ingin sekali ia bertanya sudah sejauh mana hubungan Chanyeol dan Yoonjo, tapi ia tak ingin terdengar over-protect seperti yang selalu Yoonjo keluhkan padanya.

“Apa-apaan tadi? Apa kalian baru saja jadian?” tegur Baekhyun seolah tidak terlalu peduli dengan jawaban Chanyeol nantinya.

“Jadian apanya?” bingung Chanyeol. “Yoonjo baru saja menyetujui untuk menjadi vokalis di band-ku. Dan nanti kami akan bertemu dengan naega saranghaneun Nara (Nara-ku yang tercinta) di-,”

“Tunggu dulu? Apa tadi kamu bilang?” sela Baekhyun. “Naega saranghaneun?”

“Nara,” lanjut Chanyeol. “Nae yeochin (pacarku).”

Mwo?!!” kaget Baekhyun. “Yah!! Kamu sudah punya pacar!!”

Geuraeso mwo (lalu apa)?” bingung Chanyeol.

Baekhyun tampak panik. Tentu saja ia merasa miris dengan Yoonjo. Baekhyun masih mengira kalau Yoonjo menyukai Chanyeol. Baekhyun kini merasa sangat bersalah karena tidak tahu akan fakta kalau Chanyeol sudah punya kekasih. Tapi kini ia merasa kesal, apalagi mengingat tadi Chanyeol sudah memeluk Yoonjo seraya berkata saranghae padanya.

“Lalu tadi itu apa?? Saranghae??! Kamu bilang saranghae pada perempuan lain padahal kamu sudah punya pacar?! Apa kamu tak memikirkan perasaan Yoonjo?! Kalau ada orang lain melihat hal ini dan mengadukannya pada pacarmu bagaimana?! Harusnya kamu pikirkan hal itu, Park Chanyeol!” seru Baekhyun.

“Yah! Kenapa kamu jadi marah padaku?” sewot Chanyeol. “Lagipula Yoonjo sudah tahu kalau aku sudah punya pacar. Nara juga sudah tahu mengenai Yoonjo. Jadi tidak akan ada salah paham. Kenapa kamu baru datang langsung marah-marah seperti ini??”

Chanyeol akhirnya memilih untuk meninggalkan Baekhyun yang kini tampak panik.

.

.

.

“Kamu tidak bilang padanya kalau aku akan kerja sambilan ‘kan?” tanya Yoonjo.

Saat ini Yoonjo dan Chanyeol sedang dalam perjalanan menuju cafe tempat kekasih Chanyeol bekerja. Mereka harus main kucing-kucingan dulu dengan Baekhyun ketika di kampus tadi. Sebab Baekhyun begitu penasaran akan dibawa kemana Yoonjo oleh Chanyeol.

“Tentu saja tidak. Aku hanya bilang kalau kamu mau jadi vokalisku,” sahut Chanyeol bangga. “Tapi Yoonjo, kenapa kamu tiba-tiba mau bekerja sambilan? Apa kamu sedang mengalami kesulitan ekonomi?”

Yoonjo terdiam sejenak. Kesulitan ekonomi, kata yang sudah lama tak pernah Yoonjo dengar. Selama beberapa tahun belakangan Yoonjo nyaris melupakan kedua kata itu. Karenanya Yoonjo akan berusaha keras agar dua kata itu tidak datang lagi di kehidupannya.

“Aku butuh uang, tapi aku tak mau meminta dari ayahku. Aku tak mau dia terbebani,” sahut Yoonjo.

Chanyeol pun memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh. Apalagi karena kini mereka sudah sampai di tempat tujuan. Sebuah cafe bernuansa classicmodern dengan warna coklat dan hitam yang mendominasi setiap sudut gedung. Cafe ini cukup besar dan terdiri dari satu lantai dengan halaman yang luas. Dinding cafe yang penuh dengan lukisan serta jendelanya penuh dengan gambar-gambar animasi mengenai kopi dan roti.

Dan Yoonjo pikir kalau ia akan betah bekerja disini.

Begitu masuk ke dalam cafe, Yoonjo dan Chanyeol langsung disambut oleh Nara. Sambil melontarkan lelucon mengenai akhirnya-kamu-berhasil-memecatku-dari-sini, Nara pun menggiring Chanyeol dan Yoonjo ke ruang staff. Disana Nara langsung mengenalkan Yoonjo pada beberapa rekan kerjanya.

“Itu Jung Jinyoung dan yang satu itu Lee Junghwan. Ada satu lagi namanya Cha Sunwoo, tapi dia sedang tidak masuk hari ini. Dan satu lagi boss kita,” ujar Nara sambil menunjuk beberapa pemuda yang ada di ruangan tersebut.

Yoonjo hanya menganggukkan kepalanya seraya berusaha mengingat nama-nama mereka. Sementara Chanyeol bergumam pada Yoonjo mengenai sekarang-kamu-megerti-kenapa-aku-tidak-percaya-pada-mereka.

“Nah itu dia boss-nya,” sela Nara. Ia menunjuk seorang pemuda yang baru saja keluar dari toilet.

Yoonjo memperhatikan pemuda itu dengan seksama. Yang disebut boss disini sungguh jauh di luar pemikirannya. Ia pikir pemilik cafe ini adalah seseorang yang sudah berumur dan tampak galak. Tapi ternyata tidak terlihat seperti itu –sama sekali tidak. Pemilik cafe ini adalah anak muda. Mungkin usianya beberapa tahun di atas Yoonjo –tapi Yoonjo yakin, pemuda itu belum menginjak angka tiga puluh. Badannya tinggi besar –meskipun tidak setinggi Chanyeol, tapi ia masih jauh lebih tinggi dari Baekhyun. Berbalutkan kaos polos dan celana jeans, pemuda itu benar-benar tidak terlihat seperti pemegang kedudukan tertinggi di cafe ini. Rambutnya panjang sebahu dan dikuncir ala kadarnya. Pemuda itu juga memakai kacamata bulat seperti karakter Harry Potter. Dan pemuda itu memiliki senyum seperti seekor kelinci.

“Hyungnim! Ini anak yang akan menggantikanku,” seru Nara pada pemuda tersebut. Nara kemudian berpaling pada Yoonjo. “Dia Shinwoo. Tapi kamu panggil saja dia Hyungnim. Jangan pernah panggil dia dengan sebutan boss atau manajer apalagi oppa. Karena ia hanya cocok dipanggil Hyungnim.”

“Yah, Kwon Nara! Jangan mentang-mentang kamu akan keluar dari sini lalu kamu memberikan imej seperti itu tentangku pada anak baru,” protes pemilik cafe, Shinwoo.

Shinwoo mendekati Yoonjo. Sambil memuji betapa Yoonjo memiliki wajah seperti boneka barbie, Shinwoo pun menjabat tangannya. Dan Yoonjo merasakan ada sesuatu yang aneh di dirinya ketika ia berjabat tangan dengan Shinwoo. Seolah tangan itu begitu familiar untuknya. Tapi Yoonjo mengesampingkan perasaan itu. Ia pikir mungkin karena ia tak terbiasa berjabat tangan dengan lelaki, makanya ia merasa seperti itu.

Setelah sesi perkenalan, Yoonjo langsung belajar mengenai pekerjaan yang akan ia kerjakan nantinya, seperti memegang mesin kasir. Shinwoo sendiri yang turun langsung mengajarinya. Sementara Chanyeol dan Nara sudah lama pergi meninggalkan cafe.

“Yoonjo-ssi, apa kamu pernah punya penyakit berat?” tanya Shinwoo toba-tiba.

Kaget akan pertanyaan Shinwoo itu, Yoonjo menjatuhkan kain lap yang dipegangnya. Yoonjo panik. Saking paniknya, ia buru-buru memungut kembali kain lapnya dan membuat kepalanya terantuk meja.

“Aigoo, hati-hati, Yoonjo-ya,” tegur Jinyoung dari balik mesin kopi.

Shinwoo langsung membantu Yoonjo untuk berdiri. Ia juga memeriksa kening Yoonjo, takut kalau kepalanya terluka akibat benturan tadi. Untungnya tidak ada luka apapun di kepala Yoonjo.

“S-sakit? Sakit b-berat maksudnya?” gagap Yoonjo. Padahal ia baru saja merasa nyaman dengan tempat ini. Tapi kalau pun ia harus diusir hanya karena masalah tersebut, maka Yoonjo hanya bisa pasrah.

“Maksudnya seperti Nara. Dia kan pernah kena tifus. Dan orang yang kena tifus itu pasti akan kena penyakit itu lagi jika ia terlalu capek. Selain itu pernapasan Nara juga tidak baik karena dia punya alergi terhadap debu. Makanya aku memberikan pekerjaan yang mudah untuk Nara, karena hal-hal tersebut,” jelas Shinwoo.

“Aah,” Yoonjo menghela napas lega. “Aniyeyo, cheon gwenchanhayo (tidak, aku baik-baik saja).”

.

.

.

.

Terhitung sudah lima hari Yoonjo bekerja di Holly Cafe dan Yoonjo merasa betah bekerja disana. Semua pegawainya baik dan sangat memperhatikannya. Mereka juga tak segan-segan memarahi Yoonjo jika ia melakukan kesalahan. Tapi yang utama adalah Shinwoo terlalu perhatian terhadap Yoonjo. Bahkan jika Yoonjo melakukan kesalahan sekalipun, Shinwoo tidak akan memarahinya.

Seperti saat ini, ketika Yoonjo sedang sibuk membersihkan mesin kopi, Shinwoo tiba-tiba datang dan menyodorkan segelas air padanya. Sambil menunjukkan senyum kelincinya, Shinwoo menyuruh Yoonjo untuk meminumnya.

“Lihatlah dirimu, karena terlalu serius bekerja sampai lupa minum. Bibirmu jadi pecah-pecah seperti itu. Aku tidak ingin pegawaiku terlihat tidak menarik ketika melayani pelanggan. Jadi minumlah dulu,” ujar Shinwoo sambil menyodorkan gelasnya ke tangan Yoonjo.

Yoonjo harus berusaha terbiasa dengan sikap Shinwoo ini. Ia jadi berpikir pantas saja Chanyeol cemburu setengah mati pada Nara. Jika merasakan sendiri seperti apa lingkungan di cafe ini, kecemburuan Chanyeol itu terasa masih dalam tahap wajar.

“Aigoo, coba lihat siapa disini. Sepertinya ada yang sedang kasmaran. Yoonjo-ya, kamu beruntung karena Shinwoo memperhatikanmu. Dulu saja sama Nara mereka sudah seperti kucing dan anjing –selalu bertengkar,” ledek Jinyoung.

“Yah, Jung Jinyoung!” sahut Shinwoo tak terima. Tapi Jinyoung sudah lebih dulu lari ke depan sebelum Shinwoo sempat menyemprotnya. “Jangan dengarkan ucapannya, Yoonjo-ya. Kamu kembalilah bekerja.”

Yoonjo memutuskan untuk tak mempedulikan ocehan Jinyoung tadi dan memilih untuk kembali ke meja kasir. Sementara Shinwoo kini sudah mengejar Jinyoung karena pemuda itu kini menyanyikan lagi cinta sambil terus-terusan memanggil nama Yoonjo.

Yoonjo hanya bisa tertawa melihat kejadian itu. Ia pikir ia tak akan bisa tertawa jika tidak bersama Baekhyun. Tapi tempat ini mampu membuatnya tertawa disela-sela semua pemikirannya mengenai keluarganya. Jika saja ia bisa menemukan Yoona, mungkin hidupnya akan terasa lebih sempurna.

Yoonjo sudah berdiri manis di depan meja kasir dan siap menyambut pelanggan hari ini. Tapi begitu melihat pelanggan yang baru datang, semangat Yoonjo langsung hilang. Dengan segera ia menyelinap ke belakang mesin kopi dan bersembunyi disana. Karena pelanggan yang baru datang kali ini adalah orang yang paling tidak ingin Yoonjo temui saat ia sedang kerja sambilan.

.

.

.

“Waah, Sojung-ah. Bukannya ini limited edition? Hanya ada lima puluh di dunia bukan?? Dan kamu berhasil mendapatkannya?” takjub teman-teman Lee Sojung begitu melihat tas baru yang ia bawa.

“Tentu saja. Tiba-tiba saja tas ini ada di kamarku pagi ini. Eomma bilang ini sebagai hadiah karena aku berhasil masuk Donguk dan menjadi sekretaris senat. Aku adalah orang yang seperti ini,” Sojung menyombongkan dirinya.

Meskipun Sojung sebenarnya bukanlah anak yang suka membanggakan hartanya, tapi lingkungannya membuat Sojung mau tak mau bersikap seperti ini. Berteman dengan anak-anak ini saja sebenarnya hanya formalitas –sebab mereka adalah anak dari rekan-rekan ayah Sojung. Sebenarnya Sojung hanya memanfaatkan mereka, agar dirinya terlihat lebih daripada yang lainnya.

“Sojung-ah, apa kamu tahu? Ashley dari fakultas hukum mengadakan acara charity untuk panti jompo. Aishh, sepertinya semester ini dia akan mendapatkan nilai plus,” cerita teman Sojung.

Charity?

“Sojung-ah, bagaimana kalau kita juga membuat acara amal seperti itu. Tapi target kita adalah panti asuhan? Kita mengumpulkan dana untuk diberikan ke beberapa panti yang ada di sekitar kita,” usul temannya.

Sojung langsung tersedak mendengar usulan temannya tersebut. Ia kini tampak panik. “P-panti? P-panti a-asuhan katamu? K-kenapa panti a-asuhan? Apa tidak ada saran yang lebih baik?”

“Panti asuhan itu tempatnya anak-anak kecil generasi muda berkumpul. Kalau kita memberikan mereka semangat untuk menggapai impiannya, bukankah itu adalah hal yang keren? Dibandingkan Ashley yang mengurusi lansia yang memang sudah tidak bisa apa-apa, bukankah lebih baik menyemangati anak-anak di panti asuhan?”

Sojung terdiam. Meskipun ia ingin mendapatkan nilai plus di semester ini, tapi ia sangat tidak menyetujui usul mengenai kegiatan amal ke panti asuhan. Sojung punya pengalaman tidak baik mengenai panti asuhan. Tentu ia tak ingin menginjakkan kakinya lagi ke panti asuhan.

“Yah, bagaimana dengan misi kita mengenai si rambut merah itu?” tegur salah satu temannya.

Sojung hanya bisa memutar bola matanya mendengar ucapan temannya itu. Ia setidaknya bisa bernapas lega karena ada yang mengalihkan pembicaraan mengenai panti asuhan tadi. Tapi Sojung merasa sedikit kesal karena ia jadi harus mengingat lagi akan janjinya untuk membuat Baekhyun bertekuk lutut dan kemudian mencampakkannya. Sojung sendiri tak pernah bisa melancarkan rencananya terhadap Yoonjo, karena gadis itu memiliki terlalu banyak pelindung.

Sojung pikir Yoonjo adalah gadis lemah yang tak bisa apa-apa, tapi ia salah. Yoonjo adalah mahasiswi terpintar di jurusannya dan semua dosen menyukainya. Selain itu, Yoonjo pasti selalu bersama dengan Baekhyun atau dengan Chanyeol dan teman-teman bandnya –membuat Sojung tak bisa mendekatinya. Karena itu Sojung bingung setengah mati, bagaimana caranya agar bisa membalas Baekhyun melalui Yoonjo.

“Aku akan pikirkan lagi caranya. Untuk sekarang, daripada memikirkan hal itu, bagaimana kalau minggu ini kita ke club? Sudah lama aku tidak menari. Aku akan menyewa satu club untuk kita,” usul Sojung, berusaha mengalihkan perhatian teman-temannya dari rencana-rencana gila mereka.

Joha! Wah, pesta di traktir Sojung!!” koor teman-teman Sojung.

“Tentu saja. Levelku kan berbeda,” sahut Sojung angkuh.

Mendadak ke riuhan di sekita Sojung berhenti. Bukan karena ucapan Sojung. Melainkan karena mereka melihat siapa yang kini berdiri di belakang Sojung. Menyadari kalau teman-temannya jadi hening karena sesuatu di belakangnya, Sojung pun berbalik untuk melihat apa yang ada di belakangnya.

Seorang pemuda yang sangat familiar. Pemuda yang baru saja menjadi bahan perbincangan mereka. Byun Baekhyun.

“Kuharap ini selevel denganmu, Sojung-ssi,” Baekhyun menyodorkan segelas bubble tea pada Sojung.

Meskipun bingung tapi Sojung tetap menerima pemberian Baekhyun tersebut. Ia pun bertanya, dalam rangka apa Baekhyun memberikan minuman pada Sojung.

“Sudah seminggu lebih aku ingin memberikan minuman itu padamu. Sebagai permintaan maafku karena sudah mengacaukan acara penyambutanmu beberapa waktu yang lalu,” ujar Baekhyun.

Sojung hanya bisa menatap Baekhyun takjub sekaligus bingung. Ia pikir betapa Baekhyun adalah pemuda yang tidak bisa ditebak. Tiba-tiba saja ia menghampiri Sojung dan memberikan minuman, padahal beberapa hari belakangan ia selalu bersikap seolah Sojung bukanlah siapa-siapa. Sojung jadi penasaran akan pemuda ini.

“Aku suka bubble tea. Tapi bubble tea yang umurnya sudah seminggu seperti ini sama sekali bukan levelku. Bagaimana kalau aku minta minuman baru? Kopi misalnya?” usul Sojung.

Baekhyun tersenyum mendengar tawaran Sojung tersebut. Tak sampai beberapa menit, ia sudah menggandeng Sojung meninggalkan kampus dan membawanya menuju cafe langganan Sojung.

.

.

.

.

Dan kenapa Byun Baekhyun itu harus datang kesini?! Bersama Lee Sojung pula?!! Rutuk Yoonjo dalam hati.

Yoonjo mengintip dari balik mesin kopi, melihat Baekhyun dan Sojung sudah berjalan menuju kasir. Kini Yoonjo harus menyaksikan seperti apa keriangan yang terjadi antara Baekhyun dan Sojung. Sudah lama tidak mendengar cerita dari Baekhyun –karena Yoonjo selalu menghindarinya– membuat Yoonjo sedikit kaget melihat perkembangan mereka. Keduanya kini sudah sampai pada tahap dimana mereka bisa bergandengan tangan di muka umum –setidaknya itulah yang Yoonjo tangkap.

Dan kini Yoonjo merasa sesak. Ia sesak melihat Baekhyun memberikan senyumannya pada gadis lain. Ia sesak melihat Baekhyun tertawa bersama gadis lain. Ia sesak melihat Baekhyun menggandeng gadis lain. Sementara ia mati-matian menghindari Baekhyun dan tersiksa karena harus menjauh darinya, Byun Baekhyun malah terlihat baik-baik saja –seolah ada atau tidak ada Yoonjo sama sekali bukan masalah untuknya. Yoonjo merasa sesak, saking sesaknya sampai ia kesulitan bernapas. Yoonjo kini hanya bisa merutuki dirinya mengenai mengapa-mencari-uang-harus-seheboh-ini.

Begitu Baekhyun dan Sojung tiba di depan kasir, Jinyoung sudah ada disana untuk melayani mereka. Ketika hendak menyiapkan pesanan Baekhyun, Jinyoung nyaris terlompat karena kaget melihat Yoonjo yang bersembunyi di balik mesin kopi. Tapi Yoonjo langsung memberikan isyarat pada Jinyoung agar ia tidak berisik, serta mengusir pemuda itu untuk melanjutkan pekerjaannya.

Begitu Baekhyun dan Sojung meninggalkan kasir untuk mencari tempat duduk, Jinyoung pun menarik Yoonjo keluar. Ia sudah bertolak pinggang menghadapi Yoonjo yang kini menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Yah Shin Yoonjo, jangan mentang-mentang karena Shinwoo memperhatikanmu, lantas kamu bisa bermalas-malasan. Kenapa kamu malah bersembunyi dan bukannya melayani pelanggan. Apa pelanggan tadi adalah mantanmu? Atau kamu berhutang padanya? Apapun itu kamu tetap harus melayani pelanggan. Karena pelanggan adalah raja, Yoonjo. Apa jadinya jika kita tidak melayani raja?” omel Jinyoung.

Yoonjo hanya bisa menundukkan kepalanya sebagai ungkapan kalau ia merasa bersalah, sampai akhirnya ia mendengar bunyi ‘ttak’ yang cukup keras.

“Auww!! Kenapa kamu menyentil keningku?!” protes Jinyoung pada Shinwoo yang sudah hadir di antara mereka.

“Dan kenapa kamu malah memarahi Yoonjo di muka umum seperti ini?” sahut Shinwoo. Ia lalu menyuruh Yoonjo untuk masuk ke dapur.

“Yah! Kalau kalian sampai tidak jadian, maka aku akan menyentil keningmu beribu kali lebih keras dari ini, Shinwoo!!” sewot Jinyoung pada Shinwoo yang juga sudah meninggalkannya menuju dapur.

.

.

“Yah Shin Yoonjo-,”

Seruan itu membuat radar Baekhyun menyala. Ia langsung mengedarkan padangannya untuk mencari siapa yang sedang menyebut nama Yoonjo. Mata Baekhyun –yang duduk tak jauh dari meja kasir– menangkap sang kasir yang sedang memarahi seseorang, yang sayangnya tidak bisa ia lihat sebab terhalang oleh kasir itu sendiri.

Baekhyun jadi makin penasaran. Memang bisa saja Shin Yoonjo yang dimaksud itu adalah Shin Yoonjo yang lain, bukan Shin Yoonjonya. Tapi Baekhyun tak tenang, apalagi melihat pemuda itu sedang memarahi seorang perempuan. Tak lama ada seorang pemuda lain datang menyela dan menyentil kening si kasir. Ketika si pemuda kedua menyuruh perempuan yang sedang diomeli itu untuk masuk ke dapur, Baekhyun pun langsung bangkit dari duduknya. Sebab perempuan itu ternyata adalah Shin Yoonjonya.

Dan kenapa Yoonjo bisa ada disini? Apa dia bekerja disini? bingung Baekhyun.

Ketika hendak meninggalkan bangkunya untuk mengejar Yoonjo, Sojung langsung menahannya.

“Ada apa? Apa kamu mengenal seseorang disini?” tegur Sojung.

Baekhyun akhirnya ingat kalau ia sedang bersama Sojung saat ini. Ia pun kembali duduk dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Meskipun beragam pertanyaan kini berkecamuk di otak Baekhyun, tapi Baekhyun berusaha menunjukkan kalau tidak ada hal yang mengganggunya.

“Kamu bilang cafe ini adalah cafe langgananmu. Berarti kamu hapal dengan pelayan perempuan disini?” tanya Baekhyun.

“Cafe ini isinya lelaki semua. Setiap aku berkunjung yang melayaniku pasti lelaki. Aku tidak pernah melihat pegawai perempuan disini,” sahut Sojung.

Mwo?! Isinya lelaki semua?” panik Baekhyun.

“Ada apa? Apa ada mantanmu yang bekerja disini?” cecar Sojung.

Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya. Tapi Baekhyun tentu saja tidak tenang. Jika memang Yoonjo bekerja disini, maka Baekhyun akan membuatnya keluar dari tempat ini.

.

.

.

“Sampai ketemu besok, Yoonjo!” seru Jinyoung dan Sunwoo berbarengan.

Sambil mengucapkan salam, Yoonjo melambaikan tangannya pada mereka. Kemudian ia berpaling pada Shinwoo yang masih mengunci pintu cafe. Yoonjo pun memutuskan untuk pamit pada Shinwoo.

“Yoonjo-ya. Tunggu sebentar. Nanti aku akan mengantarmu pulang,” Shinwoo menahan Yoonjo.

Karena tidak bisa menolak, Yoonjo pun memutuskan untuk menunggu Shinwoo mengunci pintu besi. Melihat sosok Shinwoo, Yoonjo bisa menilai kalau Shinwoo adalah sosok yang sangat bertanggung jawab. Selain itu ia juga rendah hati dan sopan. Ia memperlakukan semua orang sama rata, tidak ada yang berlebihan. Jujur saja Yoonjo kagum padanya. Yoonjo pikir, jika kakaknya hidup bersamanya, mungkin ia akan tumbuh menjadi pemuda yang mempesona seperti Shinwoo.

Dan pikiran Yoonjo kini malah melayang pada Baekhyun. Ia teringat akan sikap Baekhyun pada Sojung tadi sore. Terlihat jelas kalau Baekhyun sudah jatuh pada pesona Sojung. Itu artinya Yoonjo akan kembali tersingkirkan dari pandangan Baekhyun. Karenanya, sebelum Baekhyun menyingkirkannya, lebih baik Yoonjo yang menyingkir duluan. Entah sampai kapan Yoonjo akan bisa berhenti menyukai Baekhyun.

“Shin Yoonjo.”

Baru saja memikirkannya dan kini Yoonjo mendengar suara Baekhyun yang begitu nyata, seolah ia sedang ada di hadapannya.

“B-baek? A-apa yang kamu lakukan disini?” kaget Yoonjo begitu melihat kemunculan Baekhyun yang secara ajaib itu.

“Aku yang seharusnya tanya, apa yang kamu lakukan malam-malam begini disini?” Baekhyun balik bertanya. Terlihat jelas kalau Baekhyun tampak kesal.

Baekhyun langsung menarik tangan Yoonjo. Meskipun Yoonjo berusaha melepaskannya tapi Baekhyun tetap mengeratkan pegangannya pada Yoonjo. Tentu saja Baekhyun tidak akan memarahi Yoonjo di muka umum seperti rekan kerja Yoonjo tadi sore.

“Baek, lepaskan aku dulu,” pinta Yoonjo.

Baekhyun menulikan telinganya dan tetap menarik Yoonjo pergi. Sampai akhirnya ada yang menahan tangannya.

“Maaf, tapi siapa anda? Kenapa anda menarik pegawaiku seperti ini?!” sela Shinwoo.

Baekhyun kini tampak makin geram. Ia menepis tangan Shinwoo seraya menggeram, “Naega Yoonjo-ui oppa imnida (Aku kakak Yoonjo)!!”

Lalu Baekhyun kembali menarik Yoonjo pergi. Tapi baru berapa langkah, Baekhyun berhenti dan berbalik pada Shinwoo. Ia menatap Shinwoo kesal. “Mulai besok Yoonjo tidak akan bekerja denganmu lagi.”

M-mwo?!!” kaget Yoonjo.

.

.

.

Hening.

 

Satu.

 

Dua.

 

Sepuluh.

 

Entah sudah berapa menit mereka terjebak dalam keheningan. Tidak ada kata yang terucap diantara mereka. Hanya keheningan di dalam mobil Baekhyun ini serta keramaian lalu lintas di luarnya. Sejak meninggalkan Holly Cafe, baik Yoonjo maupun Baekhyun sama sekali tidak bersuara. Yoonjo memilih untuk duduk diam sambil terus memandang ke luar jendela, sementara Baekhyun terus menyetir sampai akhirnya mereka tiba di depan rumah Yoonjo. Bahkan ketika sudah sampai di depan rumah Yoonjo sejak sepuluh menit yang lalu, mereka masih tampak tidak mau memecah keheningan di antara mereka.

Tak tahan dengan keheningan yang terus memenjaranya, akhirnya Yoonjo pun buka suara. “Aku akan tetap kembali bekerja disana. Kamu tidak berhak menyuruhku keluar begitu saja.”

“Kenapa kamu harus bekerja sambilan? Kamu butuh uang untuk apa? Bilang padaku dan aku akan membantumu. Kamu tidak perlu bekerja seperti itu,” sahut Baekhyun.

“Aku bekerja karena membutuhkan uang atau tidak itu sama sekali bukan urusanmu, Byun Baekhyun. Kenapa aku harus selalu mendengarkan perintahmu?” protes Yoonjo.

“Kuliah, band, dan sekarang bekerja sambilan. Pergi dari sebelum aku bangun dan pulang selarut ini. Apa kamu mau kesehatanmu-“

“Aku tahu batas kemampuan badanku!” potong Yoonjo kesal. “Aku akan berhenti jika latihan vokal terlalu menguras energiku. Aku juga minum obat dengan teratur. Dan pekerjaanku, aku bahkan tidak memegang pekerjaan yang berat. Menyapu, mencuci, aku sama sekali tidak pernah memegang pekerjaan itu. Pekerjaanku hanya menerima tamu dan melayani pesanan mereka. Dan aku baik-baik saja!”

Baekhyun terdiam mendengar luapan emosi Yoonjo. Ia tak mengerti dengan Yoonjo belakangan ini. Yoonjo terasa semakin menjauh darinya. Setiap yang Baekhyun katakan selalu saja salah di mata Yoonjo. Padahal Baekhyun memperhatikannya karena ia mengkhawatirkannya. Tapi Yoonjo selalu merasa kalau Baekhyun terlalu over-protect terhadapnya.

“Apa kamu marah padaku karena Chanyeol?” tanya Baekhyun. “Mianhaeyo. Aku tak tahu kalau Chanyeol sudah punya pacar. Makanya aku juga kesal sekali begitu tahu-,”

“Berhenti, Baek,” sela Yoonjo. Ia memutar bola matanya, lelah dengan semua pembicaraan ini. Yoonjo menundukkan kepalanya. Sungguh Yoonjo ingin sekali menangis saat ini. Apalagi kini ia merasa sesak di dadanya. Sambil berusaha menenangkan dirinya dengan terus memijat-mijat dadanya, Yoonjo menyudahi percakapan mereka. “Sampai kapan kamu mau terjebak dalam prasangkamu, Baek? Kapan kamu akan melihat fakta yang ada di depanmu dan bukannya terus berprasangka? Lebih baik kamu urusi saja Lee Sojung itu.”

Kemudian Yoonjo pun turun dari mobil Baekhyun.

“Yah!! Bukan Sojung yang sedang kita bahas disini!” seru Baekhyun sambil ikut turun dari mobilnya.

“Dan ini juga bukan mengenai Chanyeol!” semprot Yoonjo. “Ini semua tentangku, dan kamu tak berhak mengganggu gugat keputusan yang kupilih.”

.

.

.

Pagi ini, ketika Yoonjo sudah bersiap untuk berangkat kuliah, Yoonjo dikagetkan oleh penampakan Baekhyun yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Baekhyun tidak melihat kemunculan Yoonjo –atau terlihat untuk berusaha tidak melihat ke arah Yoonjo. Matanya fokus pada tanaman hias yang tergantung di teras Yoonjo. Masih tidak mau melihat Yoonjo, Baekhyun pun mengacungkan kelingking kanannya pada Yoonjo.

Mianhae, aku tidak akan mengganggu gugat keputusanmu. Aku akan mendukung apapun keputusanmu itu. Band, kerja sambilan, ataupun kegiatan lainnya. Tapi kalau kamu sampai kenapa-kenapa, maka jangan salahkan aku jika aku turun tangan,” ujar Baekhyun.

Ingin sekali Yoonjo tertawa melihat sikap Baekhyun ini. Yang seperti inilah, yang membuat Yoonjo tak pernah bisa berpaling dari Baekhyun. Apapun yang dilakukan pemuda itu selalu mampu membuatnya takjub. Tapi Yoonjo tidak akan melepaskannya begitu saja.

“Kenapa terlihat tidak tulus sama sekali,” sahut Yoonjo acuh.

Baekhyun pun langsung berpaling pada Yoonjo seraya mengacungkan kelingkingnya ke depan wajah Yoonjo. “Mianhae, mianhaeyo. Aku harus minta maaf seperti apa lagi??” sewot Baekhyun.

Mau tak mau Yoonjo tersenyum melihat tingkah Baekhyun itu. Akhirnya Yoonjo menautkan kelingkingnya pada Baekhyun. “Ok. Maaf diterima.”

 

Dan Yoonjo pun kembali bertanya pada dirinya sendiri, kenapa ia kembali jatuh di lubang yang sama.

.

.

.

.

Sojung memandangi proposal di tangannya. Ia menghela napas panjang. Ia menerima proposal ini sekitar satu jam yang lalu –proposal yang datang bagaikan petir di siang bolong. Ia pikir pesta yang kemarin ia adakan, berhasil membuat teman-temannya melupakan mengenai rencana mereka untuk membuat acara amal. Tapi tidak sama sekali. Terbukti dengan proposal acara yang kini sudah tersaji di hadapannya.

Charity for Orphanage.
Kegiatan amal untuk menambah semangat bagi mereka yang kurang beruntung.

Sojung membaca judul proposal tersebut. Sudah satu jam lamanya proposal itu ada di tangannya, tapi belum ada satu halaman pun yang ia baca selain halaman judul. Ia tak mampu menggerakkan tangannya untuk membuka apalagi untuk membaca isi proposal itu. Sojung terlalu takut.

“Bahkan setelah berlari sejauh mungkin dari Pyeongtaek, aku tetap harus di hadapkan pada fakta bahwa aku tak bisa jauh dari kata panti asuhan,” gumam Sojung.

Akhirnya Sojung membuka proposal tersebut. Ia terusa membukanya tanpa membaca isinya. Sampai akhirnya ia sampai pada halaman yang berisi mengenai data panti asuhan yang akan mereka datangi.

Happy Paradise, Pyeongtaek-si, Kyeonggi-do.

Sojung langsung menutup proposal tersebut, seolah ia baru saja melihat hantu disana. Tangannya gemetar memegang proposal tersebut. Napasnya pun memburu. Panik dan takut, itulah yang Sojung rasakan.

Gwenchanha (tidak apa-apa), Lee Sojung,” Sojung berusaha menenangkan dirinya. “Kamu adalah Lee Sojung, putri dari Jaksa agung Lee Byunghun. Mereka tidak tahu apa-apa, jadi tenanglah. Tidak akan ada yang bisa mengembalikanmu pada masa lalumu yang mengerikan itu. Gwenchanha.”

.

.

.

.

.

.

 

*Chapter 2 end*

logo1

Tangled Fate the series

안녕!!!

ada anak baru!! CNU!! kalian tahu CNU?? itu loh beruangnya biwaneifo. hehe.. dia adalah personel b1a4 pertama yang akan menghiasi planet bee. dan Kwon Nara nya HV juga nongol disini, mungkin ke depannya si Nara bakalan sering muncul, kaya Chanyeol. hehe..

Tidak lupa Bee mengucapkan terima kasih buat para vitamin bee!! Bee akan sangat berterima kasih bagi kalian yang menyimak dan mengikuti serta mengomentari fiksi yang satu ini..

lastly, thanks for your support!! u guys are my vitamin 🙂
안녕!! 뿅! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – Tangled Fate | Chapter 2 | PG15

5 thoughts on “FF – Tangled Fate | Chapter 2 | PG15

  1. Waaa chowaaa, baek so sweet dehh minta maapnyaa.. makin oke aja ffnya kak bee, fighting ya kak, btw, itu ak masih blm bisa nyatuin alur ceritanya sama teasernya. Mana dn siapa siapa aja yg bkln jtuh cinta. Huaaa gw bego bgt si -_-

  2. Hemeeeh jalan ceritanya mulai ribet ya author bee :3 mungkin untuk chapter selanjutnya mesti siapin otak viar ga belibet bacanya.. Overall ini bagus banget /\

  3. aassiik di update
    aku sih udah bisa nangkep beberapa daei ff ini
    tapi tetep penasaran ><
    jangan" itu panti asuhan tempat dulu sojung di taro??
    kenapa ibu yoonjo kayak gitu :((
    suka banget sama baek yg over protektif sama yoonjo

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s