FF – Tangled Fate | Chapter 1 | PG15


tangled_fate

Title : Tangled Fate

Subtitle : I Will Find You

Author : beedragon

Cast:

Yoonjo Hello Venus as Shin Yoonjo

Sojung Ladies Code as Lee Sojung

Baekhyun EXO as Byun Baekhyun

Genre : Family, Romance, Angst, Sad, Tragedy, Friendship

Length : Multichapter

Summary : Ketika waktu Yoonjo semakin menipis, Yoonjo berjuang melawan waktu untuk bisa menemukan belahan jiwanya. Akankah Yoonjo berhasil mengalahkan waktu, atau waktu yang mengalahkannya terlebih dahulu

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Haunted | Taylor Swift – You Belong With Me | SM The Ballads – 좋았던 건, 아팠던 건 (When I Was… When U Were…)

Tangled Fate | First Chapter

~*~

“Yoonjo-ya, apapun yang terjadi, aku akan selalu melindungimu,”

~*~

 

Awal musim panas, tepatnya di pertengahan bulan Juni, di hari Senin yang cerah ini Shin Yoonjo mengawali harinya sebagai seorang mahasiswi jurusan sastra di Donguk University. Shin Yoonjo, gadis berusia 19 tahun yang pemalu namun penuh semangat itu bahkan sudah terbangun sejak sebelum matahari menampakkan dirinya. Yoonjo begitu tidak sabar untuk segera berangkat ke kampusnya, sampai-sampai ia tidak bisa tidur semalaman menahan hasratnya untuk bisa kuliah.

Yoonjo mematut dirinya di depan cermin. Terusan selutut berwarna putih polos dipadu dengan cardigan tosca sudah membalut tubuh mungilnya. Baginya mempersiapkan diri untuk kuliah pertama kali hampir sama rasanya seperti mempersiapkan diri untuk kencan pertama –walau Yoonjo sendiri tak pernah merasakan hal itu. Kemudian Yoonjo menghias rambut coklatnya yang panjang dengan sebuah jepitan berbentuk pita berwarna senada dengan cardigannya. Yoonjo pun tersenyum bangga melihat penampilannya pagi ini.

“Shin Yoonjo, kamu terlihat cantik pagi ini,” puji dirinya sendiri. Itu adalah salah satu caranya untuk menyemangati dirinya.

Dan semangatnya yang lain adalah….

“Yoong!!” seruan ceria itu sontak menyadarkan Yoonjo dari lamunannya. Hanya dengan mendengar suara itu saja sudah mampu membuat jantung Yoonjo berdebar lebih cepat. Dan ketika ia memandangi wajahnya di cermin, kentara sekali kedua pipinya bersemu merah –bahkan ia belum memakai make up apapun di wajahnya. Segera Yoonjo mengalihkan perhatiannya menuju sumber suara, yang berada di seberang jendela kamarnya –tepatnya dari jendela tetangga sebelahnya.

“Wah, uri Yoongie jinja yeppeuda (Yoong kita cantik sekali),” sapa tetangganya itu – seorang pemuda lebih tepatnya.

Yoonjo yakin kalau wajahnya kini makin memerah mendengar pujian pemuda itu. Tidak ingin mempermalukan dirinya lebih jauh lagi, Yoonjo pun menyahuti ucapan pemuda itu.

“Byun Baekhyun, apa sedari tadi kamu berdiri disana dan mengintipku berganti pakaian?” seru Yoonjo.

Baekhyun, pemuda yang merupakan tetangga Yoonjo sekaligus teman masa kecil Yoonjo itu hanya menunjukkan cengiran khasnya –yang langsung membuat kedua matanya menghilang membentuk sabit terbalik serta bibirnya membentik persegi yang sempurna. “Sayangnya aku melewatkan adegan itu. Ahh harusnya aku bangun lebih pagi,” guraunya.

Byuntae (mesum),” cibir Yoonjo. Tapi senyuman tetap mengembang di wajah manisnya.

Baekhyun adalah salah satu semangat Yoonjo untuk memulai harinya. Entah sejak kapan –mungkin sejak SMA atau bahkan sejak pertama kali bertemu– Yoonjo sudah memendam rasa istimewa terhadap pemuda itu. Baekhyun sudah bukan lagi sekedar teman atau sahabat atau tetangga bagi Yoonjo, tapi Baekhyun sudah menempati posisi penting di hatinya. Yoonjo menyukainya selayaknya seorang perempuan menyukai seorang lelaki. Walau Yoonjo tak pernah berani mengungkapkan perasaannya pada Baekhyun, sebab Yoonjo tahu kalau Baekhyun hanya menganggapnya sebagai adik kecil –tidak lebih.

Baekhyun memiliki peranan penting dalam hidup Yoonjo. Ketika ayahnya sibuk bekerja untuk menafkahinya, Yoonjo akan menghabiskan waktunya di rumah Baekhyun sampai ayahnya pulang. Keluarga Baekhyun sendiri sudah seperti keluarga Yoonjo. Terutama Nyonya Byun, ia sudah seperti seorang ibu yang tak pernah Yoonjo miliki.

Bruk!

Baekhyun melemparkan tasnya dan mengenai pundak Yoonjo, membuat gadis itu kembali tersadar dari lamunannya.

“Ups, sorry,” ujar Baekhyun dengan aksen barat yang dibuat-buat. Kemudian ia menyebrangi jendela mereka –yang hanya berjarak kurang lebih satu setengah meter– dengan menginjak cabang dari pohon maple yang membatasi rumah mereka sebagai penghubung antara jendela mereka.

“Yah, Byunbaek. Memangnya kamu tak punya pintu? Kenapa harus lewat jendela sih?” protes Yoonjo begitu Baekhyun menginjakkan kakinya di kamar Yoonjo.

“Eii, kalau aku lewat depan, sudah pasti Eomma akan menahanku untuk sarapan disana. Padahal aku sedang ingin makan masakan Ahjussi pagi ini,” sahut Baekhyun acuh.

Baekhyun meraih tasnya yang dipegang Yoonjo. Kemudian ia berhenti untuk memandangi wajah Yoonjo sejenak, “Apa yang kamu pakai di wajahmu itu, Yoong? Membuat wajahmu merah semua. Hapus make-upmu itu.”

Sontak wajah Yoonjo kembali memerah karena ucapan Baekhyun tersebut. Untungnya Baekhyun tak sempat melihatnya karena ia sudah lebih dulu keluar kamar. Bahkan ketika Baekhyun sudah menyapa Tuan Shin dengan begitu cerianya di ruang makan, Yoonjo masih terpaku di tempatnya. Setelah ia mampu menguasai dirinya, Yoonjo pun langsung menyusul Baekhyun ke ruang makan.

Begitu ia keluar kamar, Yoonjo berhenti sejenak di depan pintu kamar yang berhadapan dengan kamarnya. Ia tersenyum penuh harap menatap pintu tersebut dan mengetuknya sebanyak empat kali.

“Yoona, aku akan menjadi mahasiswi mulai hari ini,” bisik Yoonjo di depan kamar tersebut. Tak ada jawaban dari dalam kamar tersebut. Yoonjo pun tersenyum hambar seraya menempelkan telinganya di pintu; berharap ia bisa mendengar sesuatu dari dalam sana. “Sampai ketemu nanti. Aku merindukanmu, Yoona.”

Lalu Yoonjo memutuskan untuk melanjutkan kegiatannya. Ketika Yoonjo berbalik, ia mendapati ayahnya sudah berdiri di ujung lorong dan menatap sendu dirinya. Tapi hal itu hanya berlangsung sesaat, karena Tuan Shin kini sudah menebar senyum bangga pada Yoonjo.

Aigoo, coba lihat siapa ini. Appa sampai pangling. Apa benar ini putriku, Shin Yoonjo yang pemalu itu?” ujar Tuan Shin. “Appa yakin, pemuda-pemuda di kampusmu pasti akan langsung terpesona melihatmu.”

Pujian ayahnya itu membuat tentu saja Yoonjo tersipu. Tak ingin membuat ayahnya khawatir lebih jauh lagi, Yoonjo pun langsung menyeret ayahnya ke ruang makan dengan alasan kalau ia takut Baekhyun akan menghabiskan semua sarapan mereka.

Tentu saja Yoonjo tidak akan memulai harinya dengan membahas sebuah kisah lama yang begitu memilukan pada ayahnya.

.

.

“Yoong,” tegur Baekhyun.

Baekhyun dan Yoonjo saat ini sedang dalam perjalanan menuju kampus mereka. Keduanya masuk ke universitas yang sama. Ini semua karena ulah Baekhyun. Ia memaksa Yoonjo untuk ikut memilih Donguk University dengan alasan agar Yoonjo tidak merindukannya.

“Kalau kita beda kampus, aku harus cepat-cepat pulang ke rumah agar kamu tidak merindukanku terlalu lama, Yoong.” Begitu katanya.

Yoonjo hanya bisa menurutinya. Sebab ia tahu, Baekhyun memiliki sejuta cara untuk membuat Yoonjo menuruti semua keinginannya. Untungnya Baekhyun tidak mengancam Yoonjo seperti ketika dulu Yoonjo memutuskan untuk masuk ke sekolah khusus perempuan.

“Yah, kalau kamu masuk sekolah khusus perempuan, maka aku tak punya pilihan lain lagi. Aku akan menyamar jadi perempuan dan ikut sekolah disana. Jadi pilih mana, ikut aku ke sekolah swasta atau tetap pada pendirianmu untuk masuk ke sekolah khusus perempuan. Asal tahu saja, aku ini cukup cantik jika menjadi perempuan.”

Karena hal itu, Yoonjo sama sekali tak punya kesempatan untuk melupakan perasaannya pada Baekhyun. Baekhyun selalu menyimpan Yoonjo di sisinya, membuat Yoonjo susah untuk menjauh dari Baekhyun.

Wae (kenapa)?” sahut Yoonjo.

“Kapan kita berpetualang lagi?”

Yoonjo berhenti sejenak. Baekhyun mengingatkan Yoonjo akan tugasnya –tugas yang nyaris ia lupakan karena semua hal mengenai ujian akhir dan ujian masuk universitas.

Tidak, Yoonjo tidak pernah lupa. Ia sama sekali tidak lupa akan ‘pencariannya’.

“Kita ‘kan sudah selesai ujian dan sekarang juga sudah tahun ajaran baru, pastinya belum begitu banyak tugas yang datang. Jadi kita bisa pergi melakukan pencarian ke tempat-tempat yang belum kita kunjungi. Dan lagipula, kamu tahu ‘kan kalau aku sudah memiliki kendaraan sendiri. Jadi aku bisa mengantarmu kemanapun kamu mau,” ujar Baekhyun.

Yoonjo menatap Baekhyun takjub. Belasan tahun berteman dengan Baekhyun dan selalu menghabiskan waktu bersama, tapi Yoonjo tak pernah berhasil menebak jalan pikiran Baekhyun. Seperti mengenai alasan kenapa Baekhyun tak mau Yoonjo masuk ke sekolah khusus perempuan, pun dengan alasan kenapa Baekhyun begitu semangat menemani Yoonjo melakukan pencariannya.

“Aku heran, kenapa kamu begitu semangat menemaniku mencari Yoona,” ujar Yoonjo.

Baekhyun tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya sebuah cengiran lebar menghiasi wajahnya. “Karena kalau kita menemukan saudara kembarmu yang hilang itu, maka aku akan mempunyai dua adik kembar yang manis sepertimu,” sahut Baekhyun.

Yoonjo kembali terdiam. Rasa sesak kini memenuhi dadanya. Bukan karena Baekhyun menyadarkannya seperti apa posisi dirinya di hati Baekhyun. Melainkan sesak karena betapa ia sangat merindukan saudara kembarnya yang telah lama menghilang, Shin Yoona. Sudah lima belas tahun lamanya Yoonjo tidak bertemu Yoona –yang dibawa pergi oleh ibu mereka.

Tiga tahun yang lalu, setelah Yoonjo akhirnya cukup besar untuk berpergian, ia ditemani oleh Baekhyun berusaha untuk mencari Shin Yoona dan ibu mereka. Tapi fakta yang ia dapat sungguh memilukan. Ibu mereka membuang Yoona ke panti asuhan dan Yoonjo tak tahu panti asuhan mana yang menampung Yoona kala itu.

Yoonjo tak bisa mengingat dengan baik mengenai masa kecilnya dengan keluarga besarnya. Yang ia tahu, sejak umur 4 tahun, ia hanya hidup berdua dengan ayahnya. Ibunya pergi meninggalkan ayahnya dengan membawa Shin Yoona, saudara kembarnya. Sejak perpisahan itu, Yoonjo tak pernah tahu mengenai keberadaan mereka. Yoonjo tak pernah bisa tidur dengan nyenyak, apalagi jika ia memikirkan kembarannya yang ternyata dibuang oleh ibu mereka.

Sejak itu, Yoonjo memutuskan untuk mencari Yoona. Ia bersama Baekhyun mencari ke semua panti asuhan yang tersebar di Korea Selatan.

“Yah, Yoong. Kita akan menemukan Yoona. Jadi jangan pasang wajah sedih seperti itu,” protes Baekhyun.

“Ne,” sahut Yoonjo berusaha terdengar ceria. “Kalau Byunbaek yang menemaniku, sudah pasti aku bisa segera menemukan dimana Yoona,” dan juga Oppa

.

.

Begitu memasuki halaman kampus, Yoonjo dan Baekhyun disambut dengan sekumpulan mahasiswa yang sedang berkerumun di depan panggung kecil yang ada di lapangan baseball di sisi kanan kampus. Baekhyun pun mengajak Yoonjo untuk menghampiri kerumunan tersebut. Tampaknya sedang ada penyambutan mahasiswa baru disana –atau lebih terlihat seperti sebuah orasi.

“Sebagai generasi muda penerus bangsa, sudah seharusnya kita memajukan bangsa ini dari berbagai sisi. Karena itu, sudah selayaknya kita aktif dalam berbagai bidang. Tidak hanya dalam perkuliahan, tapi juga dalam bidang lain. Donguk University menyediakan berbagai fasilitas yang bisa kita manfaatkan. Disini saya menghimbau rekan-rekan mahasiswa sekalian untuk mengikuti kegiatan yang ada di universitas kita ini demi menjadi kaum muda yang aktif dan berprestasi,” seruan mahasiswi yang sedang berorasi di panggung kecil tersebut menggema ke seluruh penjuru lapangan.

“Waah, kerennya,” takjub Yoonjo.

Bagi gadis pemalu seperti Yoonjo, melihat seorang gadis bisa bersuara di hadapan begitu banyak manusia saja sudah merupakan sebuah pemandangan menakjubkan. Ia begitu kagum pada mereka yang berani mengungkapkan isi hati dan pikirannya sefrontal itu; tidak seperti dirinya yang pemalu.

“Namanya Lee Sojung. Mahasiswi angkatan 2013 sama seperti kita. Tapi dia sudah ditunjuk oleh kepala senat untuk menarik minat mahasiswa baru agar mau ikut kegiatan ekstra yang ada di Donguk ini,” celetuk seseorang yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Baekhyun.

Baik Yoonjo maupun Baekhyun, langsung menoleh ke arah orang tersebut. Seorang pemuda berpostur tinggi atletis –bahkan jauh lebih tinggi dari Baekhyun– dan memiliki suara yang terdengar sangat ‘lelaki’ bagi Yoonjo. Rambutnya coklat gelap bersembunyi dibalik topi yang nyaris menutupi sebagian wajahnya. Dan ketika pemuda itu menoleh pada Yoonjo dan Baekhyun, wajahnya sungguh membuat siapapun tak percaya kalau ia adalah orang yang sama dengan pemuda yang tadi berbicara dengan mereka. Sebab wajahnya terlalu imut-imut untuk ukuran lelaki dengan suara bass seperti itu.

Annyeong, nae chingu dwaejullae (Hai, maukah kamu menjadi temanku)?” ujar pemuda itu seraya mengulurkan tangannya pada Baekhyun. “Park Chanyeol imnida (Aku Park Chanyeol).”

Yoonjo membuka mulutnya lebar-lebar melihat keajaiban di hadapannya ini. Sementara Baekhyun, ia langsung menyambut tangan Park Chanyeol dengan begitu semangatnya.

“Joha, Byun Baekhyun imnida (Baiklah, aku Byun Baekhyun)!” sahut Baekhyun.

Keduanya langsung terlibat percakapan yang tidak Yoonjo mengerti. Gadis itu kini merasa seolah ia terkucil dari dua makhluk Tuhan yang sangat penuh semangat itu.

“Dan siapa gadis manis nan lucu serta menggemaskan ini?” tegur Chanyeol seraya mengendikkan kepalanya pada Yoonjo. “Ni yeojachingu (Kekasihmu)?”

Yoonjo langsung menggelengkan kepalanya, menolak tebakan Chanyeol tersebut. Tapi tetap saja wajahnya memerah karena ucapan Chanyeol itu.

“Ini Yoonjo, Shin Yoonjo. Dia bahkan jauh lebih berharga daripada seorang ‘yeoja chingu’ bagiku,” sahut Baekhyun seraya merangkul pundak Yoonjo.

“Uwah, bangapta, Yoonjo-ya. Uri chingu haja (senang berkenalan denganmu, Yoonjo-ya. mari kita berteman),” riang Chanyeol.

Entah karena semangat Chanyeol yang luar biasa atau karena cuaca yang semakin terik, Yoonjo mendadak merasa pusing. Ketika ia merasa oleng, ia langsung berpegangan pada Baekhyun. Hal ini membuat Baekhyun langsung menahan badan Yoonjo dan menatapnya khawatir.

“Yoong, gwenchana (kamu baik-baik saja)?” panik Baekhyun. “Kita cari tempat teduh saja ya.”

Baekhyun langsung menggiring Yoonjo meninggalkan kerumunan. Chanyeol yang baru saja berkenalan dengan mereka pun ikut membuntut di belakang Yoonjo. Chanyeol terlihat panik, karena ia pikir Yoonjo jadi pusing karena semangatnya.

Sebelum ketiganya melangkah lebih jauh meninggalkan lapangan, mereka mendengar seruan yang berasal dari tengah lapangan.

Geogiyo (yang disana)!!”

Baik Yoonjo, Baekhyun dan Chanyeol langsung berhenti melangkah. Mereka merasa kalau seruan itu ditujukan pada mereka. Dan benar saja, Lee Sojung yang sedari tadi berorasi di tengah lapangan, kini sudah menunjuk mereka bertiga. Gadis berambut almond itu kini sudah menghampiri mereka bertiga.

“Mau kemana kalian? Apa kalian tidak mendengarkan ucapanku tadi?” seru Lee Sojung seraya menghampiri mereka.

“Hati-hati. Gadis ini memiliki tempramen yang luar biasa,” bisik Chanyeol pelan.

Sojung tampak begitu kesal, seolah-olah Baekhyun, Yoonjo serta Chanyeol sudah menciptakan sebuah masalah besar. Ia berdiri di hadapan Baekhyun sambil bertolak pinggang.

Baekhyun langsung menarik Yoonjo ke belakang dirinya sementara ia menghadapi Sojung –seolah ia menjadi tameng bagi Yoonjo. Hal ini tentu saja membuat jantung Yoonjo kembali berdesir. Ketika Baekhyun bersikap overprotective seperti ini pada Yoonjo, membuat Yoonjo jatuh semakin dalam pada cinta tak terbalasnya terhadap Baekhyun.

“Kami mendengarkan ucapanmu mengenai mengikuti kegiatan ekstra agar menjadi kaum muda yang aktif dan berprestasi, Nona. Dan sekarang kami hendak menuruti perintahmu mengenai mencari kegiatan yang tersedia di kampus ini,” sahut Baekhyun.

Wajah Sojung sudah merah padam –seolah Baekhyun baru saja menyinggung harga dirinya. Baekhyun sudah akan meninggalkan keriuhan yang coba diciptakan oleh Sojung.

“Tunggu dulu. Mau kemana kalian? Acaranya belum selesai,” ujar Sojung penuh penekanan yang sudah menahan lengan Baekhyun.

Yoonjo yang sedari tadi tersembunyi di belakang Baekhyun, mencoba mengintip untuk melihat seperti apa sosok Lee Sojung yang tadi tampak begitu menakjubkan baginya. Begitu mata Yoonjo bertemu dengan mata Sojung, Yoonjo merasakan sebuah perasaan aneh di dirinya. Sebuah rasa rindu yang begitu besar, yang saking besarnya sampai membuat ia sesak. Yoonjo pikir, mungkin ini karena ia kurang tidur; makanya ia merasa begitu sesak –atau mungkin karena matahari siang ini.

“Apa hakmu melarang kami untuk meninggalkan lapangan ini? Ada banyak anak yang pergi tapi kenapa hanya kami yang kalian permasalahkan?” protes Chanyeol.

Tak ingin membuang waktunya lebih lama, apalagi begitu melihat Yoonjo yang semakin pucat, Baekhyun pun memutuskan untuk menarik Yoonjo meninggalkan lapangan. Meskipun Yoonjo mencoba menahan dirinya agar ia bisa melihat Lee Sojung lagi, tapi Baekhyun tetap menariknya meninggalkan lapangan.

Yoonjo hanya bisa terus melihat ke belakang. Melihat seperti apa ekspresi kesal Lee Sojung pada mereka. Melihat bagaimana Sojung sudah mengacungkan telunjuknya pada mereka seraya mengucapkan kalimat kasar. Dan untuk pertama kalinya, Yoonjo tidak merasa takut pada perempuan yang kasar seperti Lee Sojung itu. Ketika Yoonjo melihat Sojung, entah kenapa ia justru merasa nyaman dan tentram.

Mungkin ini semua karena ia terlalu merindukan sosok Yoona, kembarannya.

.

.

Napas Lee Soojung memburu. Dadanya kembang kempis karena ia berusaha menahan emosinya yang hendak meledak –atau memang sudah meledak. Sejak ia berdiri di tengah panggung dan berorasi mengenai proyek yang diadakan kampus, ia melihat ada tiga anak manusia yang tampak tidak memperhatikannya; seorang pemuda yang tinggi besar, seorang pemuda berkulit putih pucat dan seorang gadis dengan wajah yang begitu pucat. Setelah mereka mengganggu konsentrasi Sojung dengan kehebohannya, mereka pun pergi meninggalkan kerumunan masa.

Kesal, Sojung pun menghampiri mereka dan berusaha melampiaskan kekesalannya pada mereka. Tapi yang terjadi malah di luar dugaan. Dua pemuda itu menyerang balik dirinya dengan verbal dan kemudian pergi begitu saja. Tanpa Sojung sadari, sumpah serapah pun keluar dari mulutnya.

“Sojung-ah, sudahlah. Biarkan saja mereka,” salah satu teman perempuannya berusaha menenangkan Sojung.

“Siapa mereka?! Siapa lelaki yang menyebalkan itu tadi?!” kesal Sojung.

“Yang mana? Yang mengandeng tangan perempuan berambut merah itu namanya Byun Baekhyun. Kamu tentu pernah mendengar namanya, ‘kan?” sahut perempuan di samping Sojung.

“Baekhyun si cassanova yang terkenal itu?” sahut Sojung.

“Baekhyun bahkan terkenal sampai di Kyeonggi-do? Waah!” takjub teman Sojung.

Sojung mendengus pelan. “Dan gadis itu, apakah dia yang sudah menyebabkan mantan-mantan Baekhyun menyerah?”

“Benar. Baekhyun jauh lebih perhatian pada Sin Yoonjo itu dibandingkan dengan pacarnya sendiri,” sahut teman Sojung.

Sojung memandangi punggung Baekhyun yang semakin menjauh. Ia pikir tak percuma ia ikut orangtuanya pindah ke Seoul dari Kyeonggi-do, karena ia bisa bertemu secepat ini dengan Byun Baekhyun. Ia jauh-jauh datang ke Seoul hanya untuk mencari Baekhyun –pemuda yang membuat beberapa teman dekat Sojung patah hati sampai sehancur-hancurnya. Tujuannya datang kesini hanya untuk membuat Baekhyun merasakan apa yang dirasakan teman-teman Sojung di Kyeonggi-do sana.

Tapi sepertinya niat Sojung berubah. Mungkin akan lebih menyenangkan jika membalas semua kelakuan cassanova itu pada Shin Yoonjo.

.

.

“Baek!” Yoonjo berusaha menghentikan Baekyun yang terus menarik dirinya. Tapi Baekhyun terus menarik Yoonjo sampai akhirnya Yoonjo mengeluh padanya. “Baek, kamu membuatku makin pusing.” Barulah Baekhyun menghentikan langkahnya.

“Yoonjo-ya, mianhae (maaf). Aku tadi terlalu semangat menjabat tanganmu,” sesal Chanyeol.

Tanpa berkata apa-apa, Baekhyun meraih tas Yoonjo dan membongkar isinya. Begitu ia mendapat sebuah botol plastik kecil warna putih, Baekhyun lalu menyodorkan botol itu pada Yoonjo. Ia juga mengeluarkan botol minum dari tas Yoonjo.

“Cepat minum. Aku tidak mau kamu pingsan di hari pertama kuliah,” titah Baekhyun.

Yoonjo memandangi botol kecil itu. Inilah yang membuat Yoonjo selalu berusaha menjauhi Baekhyun sementara Baekhyun selalu bersikap over-protective padanya. Itu semua karena botol kecil ini. Karena jika Yoonjo tidak meminumnya, maka ia akan pingsan dan kemudian akan kembali menjadi beban bagi Baekhyun. Yoonjo tahu kalau Baekhyun mengetahui identitas dari botol kecil ini. Karenanya Yoonjo sangat mengerti akan sikap berlebihan Baekhyun padanya –dan membuat Yoonjo sadar kalau Baekhyun hanya mengasihaninya.

“Apa yang kamu pikirkan? Cepat minum,” desak Baekhyun. “Kamu belum sembuh benar dari tifusmu.”

Alih-alih membuka tutup botol dan meminum isinya, Yoonjo malah memasukkan kembali botol itu ke dalam tasnya. Ia pun berusaha untuk tersenyum ceria pada Baekhyun. “Hanya hypothermia, jadi jangan berlebihan seperti ini.”

Yoonjo memilih untuk meninggalkan Baekhyun. Mesipun dunianya terasa berputar-putar saat ini, tapi Yoonjo berusaha keras untuk terlihat kalau ia baik-baik saja. Ia tak ingin Baekhyun kembali bersikap berlebihan dan membuat orang-orang di sekitar mereka salah paham.

Yoonjo sakit. Ia tahu persis kalau dirinya sakit. Bukan tifus, bukan maag, bukan pusing biasa. Ia tahu persis keadaan dirinya. Ia juga tahu obat apa yang selalu ayahnya berikan padanya setiap minggunya. Bukan sekedar vitamin atau obat pereda lambung atau obat nyeri. Sejak masih bayi memang Yoonjo merupakan anak yang lemah dan setelah semakin dewasa, keadaannya bukan membaik malah sepertinya semakin parah. Keadaannya inilah yang membuat Yoonjo begitu gencar untuk mencari saudara yang hilang. Ia ingin bertemu dengan saudaranya, sebelum waktu mengalahkannya.

.

.

“Yoong,” panggil Baekhyun dari seberang kamar Yoonjo.

Yoonjo berusaha untuk tidak menoleh ke arah kamar Baekhyun. Ia tetap memfokuskan dirinya untuk membaca. Walau percuma, karena Baekhyun sudah memanggilnya tanpa henti –dengan penuh aegyo di setiap nadanya.

Wae (kenapa)?” kesal Yoonjo, yang justru tidak terlihat seperti orang yang sedang marah.

“Kamu marah?”

Yoonjo menghela napas panjang. “Pertanyaanmu tidak penting, Baek.” Aku tidak akan pernah bisa marah padamu.

“Karena sikapku tadi berlebihan? Di depan Chanyeol pula?” Baekhyun tak memperdulikan peringatan Yoonjo. “Tapi setidaknya Chanyeol akan mengerti, untuk tidak mengganggumu dan membuatmu pusing seperti tadi.”

Yoonjo akhirnya menoleh pada Baekhyun. “Hypothermia, Baek. Aku hanya kena hypothermia. Karena matahari terlalu panas. Kuharap kamu tidak bersikap seperti tadi lagi. Bukankah sudah hal yang biasa jika aku pusing karena matahari terlalu menyengat? Jadi kamu tak perlu panik seperti tadi.”

Arraseo arraseo (baiklah baiklah). Tidak akan kuulangi,” sahut Baekhyun.

Yoonjo mencoba meneruskan aktivitasnya yang tadi sempat terganggu, yaitu membaca buku. Meskipun Baekhyun terus mencoba mengalihkan perhatiannya dengan bercerita panjang lebar, atau bernyanyi dan atau terus-terusan mencuri perhatian Yoonjo dengan memanggilnya tiada henti. Tapi Yoonjo sama sekali tak berniat untuk menutup jendela kamarnya. Baginya, bisa mendengarkan suara Baekhyun saja sudah cukup untuk bisa membuatnya merasa nyaman.

“Yoong, menurutmu Lee Sojung itu bagaimana?” tanya Baekhyun setelah ia lelah mengganggu Yoonjo.

Berkat pertanyaan Baekhyun tersebut, Yoonjo pun kembali menghentikan aktivitasnya. Yoonjo kini merasa tidak tenang. Karena ia sepertinya tahu apa yang akan diucapkan Baekhyun setelah ini.

“Kurasa dia menyukaiku. Terlihat jelas di matanya kalau ia memiliki rasa padaku,” ujar Baekhyun bangga. “Lihat saja tadi. Padahal ada banyak mahasiswa yang meninggalkan lapangan, tapi dia hanya menunjuk kita. Ahh memang susah kalau memiliki kharisma seperti Byun Baekhyun ini. Membuatku tak punya pilihan lain selain…”

Yoonjo memejamkan matanya rapat-rapat. Ia sudah terlalu sering berada dalam situasi seperti ini. Yoonjo tidak kaget –sama sekali tidak. Mungkin sebentar lagi Baekhyun akan mengklaim kalau dirinya menyukai Sojung.

Yoonjo sudah terlalu sering terjebak di situasi menyebalkan begini.

“Rasa percaya dirimu terlalu tinggi, Tuan Byun Baekhyun Yang Terhormat. Tidak semua perempuan di dunia ini menyukai dirimu,” sela Yoonjo acuh.

“Tentu saja semua perempuan di dunia ini menyukaiku,” tantang Baekhyun. “Semuanya kecuali kamu.”

Deg!

Yoonjo akhirnya menutup bukunya. Ia pun berpaling pada Baekhyun yang sudah duduk manis di batang pohon maple yang menjembatani jendela mereka. Yoonjo menatap pemuda di hadapannya ini. Ia mengerti kalau Baekhyun itu memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Tapi di samping rasa percaya dirinya itu, Baekhyun sangatlah lamban. Ia terlalu lamban untuk menyadari perasaan seseorang.

Seperti perasaan Yoonjo padanya.

“Jika mereka berada di posisiku, perempuan-perempuan itu juga tidak akan menyukaimu, Byunbaek. Kamu tidak tinggi. Suaramu juga cempreng, sama sekali tidak terdengar manly. Dan lihatlah matamu, matamu tidak besar, membuat wajahmu terlihat makin jelek. Dan badanmu, mana otot di badan itu. Benar-benar tidak terlihat seperti lelaki tangguh,” ejek Yoonjo.

“Apa katamu tadi?!” protes Baekhyun. “Tidak tinggi?! Yah Nona Shin, apa sekarang kamu berani bermain fisik padaku?”

Baekhyun kemudian terdiam. Ia berpikir mengenai ciri-ciri yang tadi disebut Yoonjo. Tinggi, manly, bermata besar dan berotot, sepertinya Baekhyun mengenal ciri-ciri itu. “Itukah tipe idealmu? Yang tinggi, yang manly dan yang bermata besar?? Kenapa itu seperti Park Chanyeol? Yoong, kamu menyukai Park Chanyeol?”

Yoonjo hanya bisa menepuk keningnya pasrah. Inilah kenapa Yoonjo tak pernah terbalaskan perasaannya. Karena Baekhyun terlalu lamban mencerna petunjuk yang Yoonjo berikan. Tapi herannya, Yoonjo tak pernah mau menyerah terhadap Baekhyun. Meskipun ia selalu melihat Baekhyun bergonta-ganti pacar, tapi Yoonjo tak pernah melupakan perasaannya pada Baekhyun.

“Kamu menyukai Chanyeol? Wahh uri Yoongie benar-benar sudah besar rupanya. Akhirnya dia bisa jatuh cinta juga. Akhirnya aku bisa mendengarkan ceritamu mengenai cinta pertamamu. Chanyeol itu cinta pertamamu, ‘kan?” cecar Baekhyun antusias.

Sungguh Yoonjo ingin menyumpal mulut Baekhyun saat ini. Baekhyun bukan hanya lamban, tapi ia juga sok tahu. Lihat saja sekarang, ia sudah membuat rencana untuk mempersatukan Yoonjo dengan Chanyeol. Sungguh terkadang Yoonjo tak habis pikir, kenapa ia bisa menyukai Baekhyun.

Tak ingin memperpanjang rasa kesalnya terhadap Baekhyun, Yoonjo pun menutup jendela kamarnya –beserta gordennya, dengan begitu Baekhyun tak bisa mengintip. Meskipun Baekhyun sudah berteriak agar Yoonjo mau mendengarkan rencananya, tapi Yoonjo tak menggubrisnya.

Babo, kamu menyebut dirimu penakluk wanita? Hanya dengan melihat matanya kamu bisa tahu isi hatinya? Lalu kenapa kamu tidak bisa melihat milikku? kesal Yoonjo dalam hati.

Yoonjo duduk bersandar di bawah jendelanya. Ia benar-benar merasa sesak saat ini. Karena ia harus mengalaminya lagi –melihat dan mendengar langsung rencana Baekhyun untuk memacari perempuan lain. Setiap Baekhyun bertemu perempuan baru yang menarik perhatiannya, ia pasti akan langsung menceritakan perasaannya terhadap perempuan itu kepada Yoonjo. Dan kalau mereka sudah pacaran, Baekhyun malah mengacuhkan pacar barunya itu dan memilih untuk menghabiskan waktu seperti biasa bersama Yoonjo. Hal ini tentu saja membuat pacar-pacar Baekhyun itu cemburu setengah mati pada Yoonjo. Kalau sudah seperti ini, pasti Yoonjo akan menjadi pelampiasan para pacar Baekhyun. Dan kalau Baekhyun tahu kekasihnya menyakiti Yoonjo, ia akan langsung memutuskan kekasihnya itu. Baekhyun benar-benar mampu mengombang-ambing perasaan Yoonjo.

Tok tok

Terdengar pintu kamar Yoonjo di ketuk pelan. Tak lain adalah ayah Yoonjo yang mengetuknya. Pria paruh baya itu kini sudah masuk kamar dan duduk di kasur Yoonjo. Tak biasanya ayahnya ini mengunjunginya di saat malam seperti ini. Sudah pasti ada sesuatu yang ingin ia bicarakan pada Yoonjo.

“Kamu bertengkar dengan Baekhyun lagi?” tegur ayahnya.

“Bukankah itu adalah hal yang lumrah? Dia mencoba menyelinap masuk kamarku lagi. Kurasa besok Appa harus memasang tralis besi di jendelaku. Agar Byun Baekhyun itu tidak menggangguku,” gerutu Yoonjo.

Ayahnya hanya tersenyum mendengar keluhan Yoonjo. Berkali-kali Yoonjo meminta ayahnya untuk memasang tralis besi di jendela kamarnya dan berkali-kali pula Yoonjo menolak ketika ayahnya hendak mengabulkan keinginannya tersebut. Tuan Shin sudah terlalu mengerti dengan masalah Yoonjo ini. Karenanya beliau tidak pernah lagi ambil pusing semua keluhan Yoonjo mengenai Baekhyun.

Wae geurae (ada apa) Appa?” tanya Yoonjo. Ia tahu kalau ayahnya itu pasti memiliki sesuatu yang ingin dibicarakan, bukan hanya sekedar menegur dirinya yang terdengar sedang adu argumen lagi dengan Baekhyun.

Ayahnya itu hanya menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan –membuat Yoonjo jadi merasa tegang. “Appa… Appa berhasil menemukan tempat terakhir ibumu bersama Yoona. Appa dapat kabar kalau ibumu lima belas tahun yang lalu terlihat di daerah Kyeonggi-do. Disana ia meninggalkan Yoona. Tapi di panti asuhan mana, Appa belum dapat konfirmasinya.”

Mendengar kabar ini kembali membuat jantung Yoonjo berdebar kencang. Seperti ketika tadi ia bertatapan langsung dengan Sojung. Debarannya begitu kencang sampai ia merasa sesak. Yoonjo senang, karena akhirnya jalannya untuk bisa menemukan kembarannya kini menemukan titik terang.

“Yoonjo akan ke Kyeonggi akhir pekan ini. Yoonjo akan mencari Yoona disana. Kita pasti bisa menemukan Yoona lagi, Appa. Akhirnya Tuhan menjawab doa Yoonjo,” haru Yoonjo.

Yoonjo memeluk ayahnya. Keinginannya akhirnya dijawab. Hanya satu keinginannya sebelum ia meninggalkan dunia ini. Bukan agar Baekhyun akhirnya menyadari perasaan Yoonjo terhadapnya. Bukan juga agar ayahnya bisa bertemu dengan perempuan yang bisa merawat dan membantunya. Melainkan agar ia bisa bertemu dengan saudara kembarnya yang hilang.

“Kamu harus kuliah, Yoong. Urusan Yoona, biar Appa yang mencarinya.”

Yoonjo menggelengkan kepalanya dalam pelukan ayahnya. “Yoonjo masih punya banyak waktu di semester ini. Mumpung Yoong masih belum terlalu sibuk, jadi Yoong yang akan mencari Yoona. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih karena mendengarkan doaku.”

“Tuhan Maha Adil, Yoonjo-ya. Dia tidak tidur. Sementara Dia mendengarkan doamu, Dia juga menyusun jalan agar kamu bisa menjemput jawabannya,” ujar ayah Yoonjo seraya mengusap-punggung Yoonjo. “Kita pasti akan menemukan Yoona. Dan kita akan kembali hidup bahagia seperti dulu kala.”

.

.

.

 

*Chapter 1 end*

logo1

Tangled Fate the series

안녕!!!

Hai, I’m Olaf! and I like a warm hug!

Olaf is taking control of bee planet. ehee ehee ehee. *kick Olaf in the butt* Opps maaf, barusan Olaf datang berkunjung. kali ini beedragon yang bicara.

maaf bee lagi stress. ada empat cerita berkecamuk di kepala. jadinya bee bingung mana yang mau duluan di salin. masih inget Hello Cupid The Series, yang rencananya bee bakal terbitin Yoonjo story setelah Nara?? karena terus2an kepikiran itu seris makanya Yoonjo selalu menghantui pikiran bee. dan akhirnya Yoonjo menang, saudara-saudara!!

Terima kasih buat para vitamin bee!! Bee akan sangat berterima kasih bagi kalian yang menyimak dan mengikuti serta mengomentari fiksi yang satu ini. soalnya tangled fate ini benar-benar mengganggu kinerja otak bee. dia selalu aja nyelip setiap bee mau bikin different fairytale. semoga fiksi ini berkenan  buat kalian.

lastly, thanks for your support!! u guys are my vitamin 🙂
안녕!! 뿅! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – Tangled Fate | Chapter 1 | PG15

8 thoughts on “FF – Tangled Fate | Chapter 1 | PG15

  1. Aegyoooo… bru smpt ngelnjutin bacanya, kak bee ini bagus bgt.. Tpi menurutkuterlalu kelihatan klo soojung itu kakaknya yoonjo. *eh bnr ga sih* tapi ceritanya oke bgt, apalagi klo adegang romance manism. Kak bee, ini bagus loh.

  2. Ami Miel says:

    eonni eonn…… aq belum baca chap 1…
    udh baca teasernya kuk kayake bikin aq mewek dech.eonn…..
    aq nunggu yg hello venus aja eonn…

  3. deeunic says:

    Aaaaah makin cinta deh sama author yang satu ini :3 dari dulu tetep suka sama cara penulisannya yang ringan :v semangat ya thor nulisnya dan hasilin karya yg semakin oke (y)

  4. sssuukkaaa deh sama ff ini
    gimana baekhyun tuh perhatian bgt sama yoonjo
    trus greget kayak yang ” ih baekhyun, yoonjo tuh suka sama lu ”
    aaa sojung mau ngapaiin yoonjo??
    aa semoga sojung gak jadi macem”in yoonjo.
    yoonjo teh sakit apa thor???

  5. aick says:

    aku kangen ffnya eonni. Akhirnya ada publish ffnya…
    Waaah cinta dri masa kecil yg berkembang sampe gede emg susah yaa, apalagi ama tetangga sblah rumah yg jendelanya hadep2an..
    Jdi inget temenku yg gonta ganti pacar tpi ujung2nya lebih perhatian ke sahabatnya..
    Jdi pengen tau gimana sbnrnya perasaannya baekhyun di sini ke yoonjo gimana ._.
    Ditunggu lanjutannya eonniiii 😀

  6. maknae98 says:

    uwaaaa!!! byunbaek! udah liat teaser nya eon? sumpah keren bgt!!
    karakter baekhyun di sini pas bgt.. cerewet dan, yaa.. gitu deh.pokoknya pas!
    yoonjo sakit apa eon? bneran hypotermia?
    sojung itu yoona yg hilang ya?

    di tunggu cerita nya eon! …

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s