FF – 다른 동화 (Different Fairytale) | Beauty and The Beast – Chapter 5 (End) | PG15


beauty-beast

Title : Different Fairy Tale

Subtitle : Beauty and The Beast – Chapter 5 (End)

Author : beedragon

Cast:

Krystal F(x) as Jung Soojung

Kai EXO as Kim Jongin

Other Cast:

Sulli F(x) as Choi Jinri

Suzy Miss A as Bae Sujie

Minhyuk CNBlue as Kang Minhyuk

Jessica SNSD as Jung Sooyeon

Genre : Fluff, Romance, School Life

Length : Multichapter

Summary : Karena suatu kondisi, Si Cantik jadi harus terjebak dengan Sang Monster. Walaupun awalnya Si Cantik takut pada Sang Monster, tapi Si Cantik melihat bahwa hati Sang Monster jauh lebih lembut dan rapuh dibandingkan miliknya. Dan Si Cantik pun menyadari kalau ia perlahan-lahan menyukai Sang Monster

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Enchanted | F(x) – Gangsta Boy | Taylor Swift – Everything Has Changed | SM The Ballads – 좋았던 건, 아팠던 건 (When I Was… When U Were…)

Beauty and The Beast | Chapter End

.

“Ayo, katakan padaku, Jung. Apa yang kamu inginkan? Selama ini selalu aku yang meminta sesuatu, aku juga ingin mendengar kamu meminta sesuatu dariku. Katakan dan aku akan berusaha mengabulkannya.”

“Tidak ada yang kuinginkan saat ini. Hmm….. Ahh!! Belajar! Aku ingin kamu belajar. Aku mau kita bisa lulus bersama dari Hanlim. Jadi belajarlah untukku.”

“Belajar?! Jung, kamu tahu betapa aku sangat tidak berteman baik dengan buku, bukan?!”

“Kamu akan mengabulkannya ‘kan? Itu adalah keinginanku, Jong.”

“Baiklah. Demi pacarku yang sangat jarang meminta ini maka aku akan berusaha, dengan sekuat tenaga, untuk mengabulkannya.”

.

.

.

Soojung memasuki kelasnya dengan langkah gontai. Ia sama sekali tak punya tenaga hari ini. Kemarin ia baru mengalami kehilangan yang begitu memilukan. Jongin melepaskannya. Jongin tidak menginginkannya lagi. Hanya dengan fakta itu saja sudah mampu membuat Soojung kehilangan separuh jiwanya.

Begitu tiba di kelas, Soojung langsung duduk seraya menelungkupkan kepalanya di meja. Ia bahkan tak sempat melirik ke arah bangku Jongin –untuk sekedar melihat apakah pemuda itu sudah datang atau belum. Karena Soojung begitu tidak bertenaga pagi ini, ia jadi tidak menyimak gunjingan yang sedang terjadi di kelasnya. Soojung bahkan tidak menyadari kalau seisi kelas sudah memandanginya iba seraya terus bergosip.

“Yah, Soojung-ah,” tegur Jinri agak sedikit terburu-buru. “Apa kamu tahu? Kim Jongin dipanggil kepala sekolah!”

Sontak Soojung langsung mengangkat kepalanya dan memandangi Jinri bingung. Ia lalu berpaling ke bangku Jongin dan hanya menemukan tas pemuda itu di mejanya. Tanpa mendengarkan lebih lanjut cerita Jinri, Soojung langsung berlari ke ruang guru.

.

Sesampainya di ruang guru, Soojung melihat kalau Jongin sedang menghadap wakil kepala sekolah. Perlahan Soojung pun mendekati meja wakil kepala sekolah untuk melihat apa yang terjadi.

“Jadi Kim Jongin, bisa jelaskan kenapa bisa ada foto semacam ini di meja saya?” tanya wakil kepala sekolah.

Jongin hanya melirik apa yang ditunjukkan wakil kepala sekolah padanya. Sementara Soojung hanya bisa berharap-harap cemas –berharap semoga bukan foto Jongin tengah berkelahi yang kini ada di meja wakil kepala sekolah.

“Kamu melanggar janjimu. Bukankah kamu sudah berjanji untuk tidak berkelahi? Lalu apa ini?!” seru wakil kepala sekolah.

Tanpa pikir panjang, Soojung langsung menghadap wakil kepala sekolah dan berdiri di samping Jongin. Soojung lalu meraih foto-foto yang berserakan di meja wakil kepala sekolah dan benar saja dugaannya, itu adalah foto disaat Jongin berkelahi dengan preman yang mengganggu Soojung ketika mereka pergi ke sungai Han beberapa waktu yang lalu.

“J-jung Soojung! Apa yang sedang kamu lakukan disini?” kaget wakil kepala sekolah.

“Seonsaengnim, Jongin punya alasan kenapa ia berkelahi di foto ini. Ia berkelahi karena membelaku. Seonsaenim tidak akan menghukumnya karena hal ini kan?” sela Soojung panik.

Wakil kepala sekolah hanya bisa terkaget-kaget dengan kehadiran Soojung –ditambah dengan ucapannya mengenai Jongin. Bukannya mendengarkan ucapan Soojung, wakil kepala sekolah malah langsung menyemprot Jongin dengan menuduh kalau Jongin sudah mengancam Soojung sampai gadis itu mau membelanya.

“Seonsaengnim, tolong dengarkan aku dulu. Jongin tidak salah. Ia berkelahi dengan pemuda itu karena membelaku. Pemuda itu hampir saja meculikku. Kalau Jongin tidak ada disana, mungkin aku tidak akan berada di hadapanmu sekarang, Seonsaengnim!” tanpa sadar Soojung menaikkan nada suaranya. Karena terlalu panik dan takut, Soojung sampai berbicara dengan nada tinggi pada wakil kepala sekolah.

Wakil kepala sekolah kini sudah mematung. Ia tampak terlalu shock melihat murid kesayangannya meninggikan suaranya padanya. Belum lagi Soojung begitu terlihat frustasi berusaha membela Jongin. Sampai akhirnya wakil kepala sekolah mengalah, apalagi setelah melihat Soojung yang kini sudah memohon-mohon agar ia mendengarkan semua ceritanya.

“Kejadian ini terjadi sehari sebelum ujian tengah semester kemarin. Waktu itu aku sedang belajar dengan Jongin di daerah Sungai Han,” baru saja Soojung bercerita sampai disitu, wakil kepala sekolah tampak seperti seseorang yang baru saja melihat hantu. Horor, tergambar jelas di wajahnya.

“Ketika Jongin pergi meninggalkanku untuk membeli minuman, tiba-tiba saja orang itu datang. Dia langsung menarikku dan memaksaku untuk ikut dengannya. Ia terus menarikku sampai akhirnya Jongin datang menolongku. Jongin pun memukuli orang itu. Begitu kejadiannya, Seonsaengnim,” cerita Soojung.

Wakil kepala sekolah tampak memegangi tengkuknya, sepertinya tekanan darahnya naik. Ia pun bertanya pada Jongin, apa benar kejadiannya seperti itu. Tapi Jongin tidak cukup kooperatif untuk mengikuti cerita Soojung.

“Sepertinya begitu,” sahut Jongin acuh.

Betapa Soojung ingin memukul kepala pemuda itu. Ia pikir, walaupun hubungan mereka sudah selesai, setidaknya Jongin tetap menerima apapun yang kini sedang Soojung lakukan untuknya. Padahal Soojung berharap, dengan begini Jongin akan kembali memegang tangannya lagi.

“Seonsaengnim, kumohon percaya padaku. Seonsaengnim tidak akan mengeluarkan Jongin hanya karena ini kan? Jongin berkelahi karena membelaku. Jika ia tidak datang tepat waktu, mungkin aku benar-benar sudah tamat. Karena Jongin, aku bisa ada disini. Seonsaengnim, saking terkejutnya aku akan kejadian itu, aku sampai tidak bisa mengerjakan soal ujianku. Aku begitu takut, takut orang itu akan datang lagi dan menculikku. Kumohon percaya padaku,” pinta Soojung.

Melihat wakil kepala sekolah tampak belum mengambil keputusan, Soojung pun mencoba cara yang lebih ekstrim. “Kalau Seonsaengnim sampai mengeluarkan Jongin dari Hanlim, maka Seonsaengnim harus mengeluarkanku juga,” ancam Soojung.

Myoya (apa)?” kaget wakil kepala sekolah.

“Jongin berkelahi untuk menolongku. Jika ia tidak menggunakan tinjunya untuk mengusir orang itu, maka aku pasti sudah tidak ada disini. Kalau sampai ia dikeluarkan dari sekolah karena sudah membelaku, maka aku tak punya muka untuk melanjutkan sekolahku disini. Bagaimana bisa aku tetap sekolah tapi orang yang sudah menyelamatkan hidupku malah dikeluarkan dari sekolah karena aku? Lebih baik aku dikeluarkan juga dari sekolah,” tegas Soojung. Ia kini sudah menebar senyum kemenangan pada wakil kepala sekolah. “Lagipula, bukannya Seonsaengnim bilang kalau Jongin tidak boleh berkelahi selama sebulan? Sementara kejadian itu terjadi sekitar empat bulan setelah ultimatum diberikan. Jadi hukuman Jongin akan dikeluarkan sudah tidak berlaku lagi. Bukan begitu, Seonsaengnim?”

Wakil kepala sekolah kini sudah mengusap-usap kepalanya yang plontos itu. Ia kemudian memandangi Jongin dengan penuh rasa kesal. Mungkin ia kesal karena tidak bisa mengeluarkan masalah nomor satu di sekolahnya itu. Setelah ia berpikir cukup panjang –dan membuat Soojung harap-harap cemas– wakil kepala sekolah akhirnya bersuara.

“Karena Soojung yang meminta, baiklah, akan kukabulkan,” wakil kepala sekolah pun menyerah. “Dan kamu, Kim Jongin, berterima kasihlah karena Soojung sudah membelamu! Kamu harusnya bersyukur, anak baik ini mau berteman denganmu. Jadi jangan habiskan waktumu untuk berkeliaran seperti itu!” ocehnya pada Jongin.

Sebelum keluar dari ruang guru, Soojung menyempatkan diri bertanya pada wakil kepala sekolah –menambah masalah lebih tepatnya.

“Seonsaengnim, aku mau tanya, dari mana Seonsaengnim mendapatkan foto-foto itu? Aku ingin sekali menuntut orang tersebut karena sudah membuntuti kencan kami.” Dan Soojung pun keluar dari ruang guru dengan hati riang. Setidaknya dengan begitu, ia bisa menunjukkan pada Jongin seperti apa perasaannya terhadap pemuda itu.

.

.

“Yaahh, anak-anak ini benar-benar percaya pada gosip yang sedang terjadi. Bagaimana mungkin Jongin berani memutuskan Soojung. Kecuali dia benar-benar ingin mati, baru ia bisa melakukan hal itu. Tsk tsk tsk, mereka tak bisa membedakan gosip dengan fakta,” gerutu Jinri ketika mereka berkumpul di kantin bersama Soojung.

Berita mengenai berakhirnya hubungan Jongin dengan Soojung beredar dengan begitu cepatnya. Bahkan belum ada 24 jam Jongin mengatakan pada Soojung untuk kembali ke kehidupannya yang dulu, kini seisi sekolah sudah bergunjing mengenai hal tersebut. Meskipun kehebohan pagi ini yang terjadi di ruang guru juga sudah meluas, tapi itu tak menyurutkan gosip kalau hubungan Soojung dengan Jongin sudah tamat. Belum lagi sikap Jongin yang memperkuat semua spekulasi yang beredar.

Karenanya Soojung memilih untuk menghabiskan istirahatnya di kantin bersama Jinri dan Sujie. Ia tak mungkin memilih untuk mendatangi atap sekolah siang ini, sebab Jongin sendiri menghindarinya. Tadi pagi saja begitu mereka keluar dari ruang guru, Jongin sama sekali tidak melirik Soojung apalagi bicara dengannya. Soojung benar-benar berpikir kalau Jongin sudah tidak menginginkannya lagi. Memikirkannya saja sudah membuat Soojung frustasi.

Dan ia makin frustasi begitu melihat Minhyuk dengan wajah tanpa dosanya menghampiri dan menegur dirinya. Dan lebih terlihat tak merasa bersalah dengan kembali meminta Soojung untuk jadi kekasihnya –lagi.

“Soojung-ah, nae yeojachingu dwaejullae (apa kamu mau menjadi pacarku)?”

Soojung hanya bisa tersenyum memandangi Minhyuk. Bukan senyum sinis, melainkan senyum iba. Ia merasa kasihan pada Minhyuk. Hanya karena ingin menjadi kekasihnya, Minhyuk sampai harus menjadi orang jahat seperti ini. Tapi Soojung bisa apa? Ia tak akan pernah menerima Minhyuk menjadi kekasihnya. Tidak akan pernah.

“Kamu benar-benar menakjubkan, Kang Minhyuk-ssi,” puji Soojung. “Setelah apa yang sudah kamu lakukan padaku, kamu masih berani menunjukkan batang hidungmu dan kembali memintaku untuk menjadi kekasihmu? Kenapa kamu terlihat begitu menyedihkan, Tuan Kang?”

Sujie dan Jinri kini memandangi Minhyuk curiga. Mereka tahu, kalau Soojung tidak akan menuduh orang sembarangan. Tentu saja mereka penasaran akan apa yang sudah Minhyuk lakukan terhadap Soojung.

“Memangnya kenapa dengan aku yang ingin menjadi kekasihmu?” tanya Minhyuk tanpa dosa.

“Apa kamu tidak mendengarkan gosip yang sedang beredar, Kang Minhyuk-ssi? Jongin meninggalkanku, berkat kamu,”sahut Soojung.“Mungkin aku akan menerima tawaranmu ini, jika saja kamu menepati janjimu untuk tidak memberikan kartu as-mu pada wakil kepala sekolah.”

Wajah Minhyuk langsung merah padam mendengar ucapan Soojung. Ia tak tahu kalau Soojung akan berani mengatakan hal itu di depan orang banyak seperti ini. Sepertinya, setelah mengalami kehilangan yang begitu menyesakkan, Soojung sudah tak peduli lagi akan ancaman-ancaman yang datang padanya.

“Jika kamu tidak memberikan foto-foto kencanku dengan Jongin kepada kepala sekolah, mungkin aku sudah menerimamu jadi kekasihku. Tapi lihatlah, kamu begitu tidak sabar. Dan aku sangat tidak suka dengan orang yang tidak sabaran. Maaf, Kang Minhyuk-ssi. Tapi kali ini aku menolakmu lagi. Untuk yang ketiga kalinya,” pungkas Soojung.

“Tiga kali? Soojung menolakmu sampai tiga kali?! Dan apa-apaan itu tadi? Apa kamu sudah mengancam Soojung?! Dari apa yang kudengar, itu seperti kamu pernah mengancam akan mengadukan Soojung pada kepala sekolah!” tuding Jinri.

Sujie pun tak mau kalah. Ia ikut memojokkan Minhyuk. “Apa kamu tidak malu dengan predikatmu sebagai presiden Hanlim? Memangnya masih jaman, mengancam orang seperti itu? Pantas saja kamu begitu semangat untuk menemaniku membuntuti Soojung waktu itu, rupanya kamu ingin membuat mereka putus?!”

“Yah, bukan seperti itu,” Minhyuk berusaha membela diri. “Aku hanya khawatir Soojung dimanfaatkan oleh gangster itu. Makanya aku menemanimu untuk membuntutinya. Kenapa kalian malah memojokkanku seperti ini? Aku ini presiden Hanlim!”

“Presiden Hanlim? Are kidding me (apa kamu sedang bercanda)?” cibir Soojung. “Ahh, pantas saja kamu begitu ingin menjadi pacarku. Apa kamu ingin mengulang legenda itu? Legenda si teladan Hanlim yang menjadi kekasih sang presiden Hanlim?”

Dulu ketika Soojung baru masuk Hanlim, ia sudah menjadi pusat perhatian karena selalu menjadi si nomor satu di sekolah. Bahkan ketika ujian tengah semester, Soojung mendapatkan nilai sempurna –mengalahkan semua senior-seniornya. Oleh sebab itu, Soojung mendapat julukan sebagai si teladan Hanlim, karena ia tak pernah mendapat nilai selain nilai A yang sempurna. Semuanya jadi makin sempurna, ketika sang presiden Hanlim –yang kala itu adalah senior Soojung dari kelas tiga –menjadikan Soojung sebagai kekasihnya. Dan legenda baru Hanlim pun terjadi, sang teladan Hanlim berpacaran dengan sang presiden Hanlim.

“Lelah selalu menjadi si nomor dua, bayang-bayang Soojung, makanya kamu begitu memaksaku untuk menjadi kekasihmu. Agar kamu diingat sebagai presiden Hanlim, kekasih dari si teladan Hanlim? Tapi sayangnya, berkat kamu, aku bukan lagi si teladan Hanlim. Karena semua kelakuanmu, aku bukan lagi si nomor satu,” ujar Soojung.

Soojung kemudian bangkit dari duduknya. Ia tak ingin berlama-lama berbicara dengan Minhyuk. Melihat Minhyuk saja sudah menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, apalagi berbicara dengannya. Soojung pun pergi meninggalkan Minhyuk. Tapi baru dua langkah, Soojung berbalik untuk sekedar mengucapkan selamat pada Minhyuk.

Ildeung chukahae (selamat untuk berada di posisi satu). Kamu sudah menjadi si nomor satu. Tak perlu lagi mengejar apalagi mengancamku, karena aku sudah tidak takut lagi,” ucap Soojung tulus. “Geundae, gomawo (tapi terima kasih). Berkatmu, aku kini menyadari betapa dalamnya perasaanku terhadap Jongin. Jika kamu tak melakukan itu semua, mungkin aku tak pernah menyadarinya. Betapa aku sangat membutuhkan Jongin.”

Dan akhirnya Soojung benar-benar pergi keluar kantin. Meninggalkan Minhyuk yang kini menjadi pusat perhatian disana. Sayangnya Soojung tak sempat menyaksikan aksi Sujie dan Jinri terhadap Minhyuk. Ia juga tak sempat melihat, Jongin yang sudah berdiri di belakang Minhyuk dan memberikan ‘salam manis’ pada wajah tampannya.

.

.

.

.

“Jangan lupa syalmu, Soojung,” ujar Sooyeon seraya membawakan syal milik Soojung dan lalu melilitkannya di leher adik kesayangannya itu agar ia tak kedinginan dalam perjalanannya nanti.

Soojung memandangi Sooyeon dengan rasa malas tergambar jelas di wajahnya. Bahkan sekarang belum masuk musim dingin, tapi Sooyeon memaksa untuk memberikan perlindungan lebih pada Soojung. Padahal Soojung hanya akan pergi ke perpustakaan kota, tapi Sooyeon bertingkah seolah Soojung akan pergi ke luar kota.

Beberapa hari lagi ujian akhir nasional akan dimulai. Dan Soojung memilih untuk belajar di perpustakaan kota. Setidaknya disana ia tidak akan mendapatkan gangguan dari keluarganya yang selalu memaksanya untuk menerima nutrisi mereka yang berlebih.

“Soojung-ah, kamu tahu kalau eonni menyayangimu, ‘kan?” ujar Sooyeon tica-tiba.

Ia merapikan coat yang dipakai Soojung. Sooyeon memandangi Soojung penuh rasa sayang dan hal ini membuat Soojung merasa tidak nyaman.

Arrayo (aku tahu),” sahut Soojung pelan.

“Kamu masih marah? Atas kejadian dulu? Bukankah eonni sudah bilang kalau waktu itu eonni menemuinya bukan untuk memarahinya. Eonni sama sekali tidak menyuruhnya untuk memutuskanmu. Sungguh.”

Arra (aku tahu),” sahut Soojung lagi. Sungguh Soojung sangat tidak ingin membahas masalh Jongin dengan kakaknya ini. Karena Soojung akan kembali mengingat betapa ia sudah bicara sangat kasar pada Sooyeon waktu itu.

“Karena kamu adalah adikku yang sempurna, makanya kamu harus mendapatkan yang sempurna juga. Bukannya Kim Jongin itu tidak sempurna. Hanya saja ia belum sempurna untukmu. Dia masih dibawah rata-rata dan setidaknya dia harus berada setara denganmu atau setidaknya diatas rata-rata. Dengan begitu tak ada lagi orang yang akan menentang kalian,” nasihat Sooyeon.

Sudah berkali-kali Soojung mendengar kata-kata ini dan berkali-kali pula ia merespon dengan reaksi yang sama. “Tapi bagiku Jongin cukup sempurna.”

“Aigoo, adikku ini sepertinya sudah begitu cintanya dengan anak bernama Kim Jongin itu. Eonni jadi cemburu,” gurau Sooyeon. “Dia pasti akan kembali padamu. Kamu tunggu saja sampai anak itu kembali padamu.”

Soojung meresapi ketulusan Sooyeon di setiap kalimatnya. Sooyeon memang selalu mendukungnya, meskipun ia selalu protes akan mengapa Soojung begitu bersikukuh mendapatkan Jongin kembali.  Tapi sepertinya kakak Soojung itu mengerti akan alasan Soojung. Karena Sooyeon terlalu menyayangi Soojung dan tak ingin ada sesuatu yang menyakitinya.

“Ya sudah, berangkat sana. Eonni akan mengirimkan sesuatu untuk menambah semangat belajarmu. Jadi belajar dengan baik disana agar kamu bisa membuktikan pada Appa kalau kamu berhasil. Dengan begitu Appa akan memberikan izinnya pada kalian,” ujar Sooyeon. Ia kemudian melepas kepergian Soojung dengan senyuman.

.

Di perpustakaan Soojung langsung mengerjakan soal latihan yang diberikan gurunya. Ia juga mengerjakan soal contoh dari kakaknya. Sejak Jongin ‘melepasnya’, Soojung lebih memfokuskan dirinya untuk belajar. Sejak kejadian itu sampai detik ini, ia sama sekali tak pernah bicara dengan Jongin. Meskipun Soojung sesekali melirik ke arah Jongin ketika mereka di sekolah, tapi pemuda itu sama sekali tak melihatnya.

Walau sikap Jongin seperti itu padanya, tapi Soojung tak pantang menyerah. Ia sudah melakukan apa yang seharusnya ia lakukan ketika ia masih menjadi kekasih Jongin. Karenanya ia tetap berusaha sampai Jongin setidaknya berbicara lagi padanya. Soojung tetap membuatkan bekal untuknya. Soojung membuatkan catatan agar Jongin bisa belajar dengan mudah. Soojung juga memberikan contoh-contoh soal dengan jawaban agar Jongin bisa berlatih untuk ujian akhir nanti. Karena keinginan Soojung hanya satu. Agar ia dan Jongin bisa lulus dari Hanlim bersama-sama.

Cukup lama Soojung berkutat dengan semua soal di hadapannya. Entah sudah berapa puluh soal yang ia kerjakan. Entah sudah berapa jam ia duduk di bangku kayu perpustakaan ini. Entah sudah berapa lembar kertas ia coret-coret. Dan kini Soojung merasa jenuh. Pikirannya kembali melayang. Berpikir tentang Jongin. Tentang bagaimana pemuda itu bisa menyelanya tepat ketika ia sudah merasa jenuh. Tentang bagaimana pemuda itu menggodanya ketika Soojung sudah lelah membaca. Kembali Soojung merindukan pemuda itu. Tanpa sadar, Soojung  sudah menghiasi buku catatannya dengan nama Jongin.

Tiba-tiba ada seseorang yang meraih buku catatannya dan membuat lamunan Soojung buyar. Segera saja Soojung duduk tegak untuk melihat siapa yang sudah mengganggu ‘sesi belajarnya’. Betapa kagetnya ia begitu melihat orang yang kini duduk di hadapannya dan memandangi buku catatannya.

“Pantas saja kemarin kamu mendapat nilai C. Rupanya ini yang kamu pelajari selama ini,” ujarnya sambil memandangi takjub buku Soojung.

Soojung hanya duduk mematung memandangi orang itu. Hatinya berkecamuk antara kesal, sedih serta senang. Kesal, karena orang itu meledeknya padahal ialah penyebab utama buku Soojung jadi penuh dengan namanya. Sedih, karena orang itu duduk di hadapannya dan bicara padanya seolah tak pernah terjadi sesuatu yang mengerikan di antara mereka. Senang, karena akhirnya ia bisa bertatap muka dan bicara lagi dengan orang yang sangat dirindukannya itu.

“Kenapa kamu memandangiku seperti itu? Seperti baru saja melihat hantu? Atau jangan-jangan kamu sedang berpikir kalau kamu sedang berkhayal?” ujarnya lagi.

Betapa Soojung tak bisa mempercayai orang yang ada di hadapannya ini. Dengan santainya ia berbicara seperti itu pada Soojung. Dan Soojung yakin kalau sebentar lagi pemuda itu pasti akan berkata-

“Apa kabarmu, pacar?”

Soojung kini sudah menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tak percaya kalau pikirannya jadi nyata. Jongin duduk di hadapannya dan berbicara sesuai dengan apa yang ia pikirkan. Cairan bening kini sudah memenuhi pelupuk mata Soojung. Sungguh ia ingin menangis saat ini melihat orang yang begitu ia rindukan kini bicara lagi padanya.

“Yah, uljima (jangan menangis)!” desis Jongin. “Aku datang kesini bukan untuk membuatmu menangis lagi.”

Soojung langsung menahan airmatanya. Ia tak ingin Jongin kembali meninggalkannya jika ia menangis. Soojung masih menutup mulutnya –menahan dirinya untuk memaki pemuda di hadapannya ini.

“Apa kamu menikmati hukumanmu? Bagaimana rasanya ketika aku tidak ada di sampingmu?” tanya Jongin tanpa merasa bersalah.

Nappeuda (jahat),”  sahut Soojung tertahan. “Kamu adalah orang terkejam yang pernah kutemui. Bagaimana bisa kamu menghukumku seperti ini? Memutuskanku dan lalu kembali ke hadapanku sambil berkata ‘apa kabar, pacar?’. Apa ini semacam permainan untukmu? Aku bahan mainan untukmu?” semprot Soojung.

Jongin kini tersenyum takjub melihat emosi Soojung. “Kapan aku bilang aku memutuskanmu?”

Kembalilah ke duniamu, dunia dimana tidak ada Kim Jongin. Itu sama saja dengan menyuruhku untuk melupakanmu. Itu sama saja dengan kamu menyelesaikan hubungan kita,” kesal Soojung. Ingin sekali Soojung berteriak, tapi mengingat mereka sedang berada di perpustakaan membuat Soojung menahan suaranya.

Jongin tampak berpikir sejenak. Ia kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. “Hmm, jadi kamu menganggapnya seperti itu. Padahal bukan itu maksudku.”

“Dan kamu menghindariku, menjauhiku, tidak mau melihatku apalagi bicara padaku. Aku-,”

Mianhae (maaf),” potong Jongin. “Aku menyesalinya. Aku sudah membuatmu sedih. Aku sungguh menyesalinya. Makanya aku datang kesini.”

Kembali airmata merebak di pelupuk mata Soojung. Ia benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi. Jika Jongin sudah mengaku salah seperti ini, maka Soojung bisa apa? Sudah pasti ia akan langsung memaafkan pemuda itu.

“Kamu bahkan tak memberiku kesempatan untuk melampiaskan rasa frustasiku. Dan kini kamu minta maaf semudah itu, seolah kejadian kemarin tak berarti apa-apa bagimu,” gerutu Soojung pelan.

Jogin masih tersenyum pada Soojung. Dan gadis itu tahu persis arti dari senyuman itu. Pasti Jongin merasa menang karena kembali mengalahkan Soojung.

“Apa kamu menangis kemarin? Aku sudah membuatmu menangis kemarin?” tanya Jongin khawatir.

“Justru aku ingin menangis sekarang,” sahut Soojung lemah. Ia kini sudah menundukkan kepalanya.

Soojung berusaha keras mengatur napasnya, dengan begitu airmatanya bisa masuk kembali. Tapi percuma, airmatanya justru nyaris menjebol pertahanannya. Soojung pun menundukkan kepalanya semakin dalam.

“Bagaimana kamu bisa ada disini? Apa yang membuatmu menghampiriku hari ini setelah sebulan lebih kamu mengacuhkanku?” tanya Soojung, masih sambil menundukkan kepalanya.

“Karena aku sudah mendapat izin, makanya aku mendatangimu. Sebenarnya aku berniat untuk menjaga jarak darimu sampai ujian nanti. Maksudnya agar kamu lebih fokus belajar, dan tak perlu memikirkan untuk berusaha menjadi pacarku yang baik. Dan aku juga bisa fokus dengan diriku sendiri,” ujar Jongin.

Betapa Jongin ingin sekali menyentuh kepala Soojung dan membelainya pelan, seperti yang biasa ia lakukan. Karena tak tahan, akhirnya Jongin mengulurkan tangannya menyebrangi meja. Tapi belum sempat tangannya sampai ke kepala Soojung, gadis itu sudah mengangkat kepalanya. Soojung menatap Jongin sayu. Meskipun Soojung berhasil menahan airmatanya, tapi ia tak bisa mengontrol ekspresinya. Soojung tampak begitu berantakan saat ini –dan sungguh Jongin ingin meraihnya saat ini juga.

Soojung menatap tangan Jongin yang sedang tergantung di udara dengan posisi canggung. Ketika Jongin membalik telapak tangannya dan menyodorkannya pada Soojung, ekspresi gadis itu perlahan berubah. Tentu saja Soojung tak bisa menolak tangan Jongin. Soojung begitu merindukan tangan Jongin yang selalu membungkus sempurna miliknya. Bagai potongan puzzle yang sempurna, seolah tangan Soojung dan Jongin memang diciptakan untuk saling bertautan. Dan Soojung sangat merindukan sensasinya. Sensasi ketika jemarinya bertemu dengan jemari Jongin.

Perlahan tapi pasti tangan Soojung mulai merayapi meja, menyebranginya untuk meraih tangan Jongin. Ketika jarak diantara tangan mereka hanya tinggal beberapa centi saja, Soojung melirik ke arah Jongin, mencari tahu apakah pemuda itu memang sedang menawarkan tangannya atau tidak. Setelah merasa yakin barulah jemari Soojung menyentuh jemari Jongin. Masih belum mau menggenggam tangan Jongin, karena Soojung kini sedang menikmati rasa yang dulu sempat hilang dari dirinya. Rasa ketika ia bersentuhan dengan Jongin.

Hangat dan nyaman. Rasa hangat langsung menyelimuti Soojung saat ini. Seolah ia tak membutuhkan lagi syalnya ataupun coat-nya. Belum lagi dengan sensasi-sensasi kecil ketika jemari mereka bersentuhan. Bagaikan sedang berada di kebun bunga dengan berbagai  kupu-kupu cantik yang berterbangan, rasa seperti itulah yang selalu Soojung rasaan ketika jemari mereka saling bersentuhan. Hanya dengan menyentuh dan memainkan jemari Jongin saja, sudah cukup menghapus semua rasa kesal dan rasa sedih yang sempat menghantui dirinya. Dan Soojung pun sadar.

Betapa ia kembali dengan mudahnya jatuh dalam pesona Jongin.

Seperti dulu ketika ia menerima tawaran Jongin untuk menjadi kekasihnya. Entah kenapa Soojung tak bisa menolak pemuda itu. Ada sesuatu yang kuat dari diri Jongin yang membuat Soojung tak bisa mengacuhkannya. Soojung sadar kalau ia tak akan bisa menolak Jongin. Tak akan pernah bisa.

Tak sabar melihat Soojung masih terus memainkan ujung jemarinya, Jongin pun langsung menggenggam tangan Soojung. Sambil tersenyum bangga ia berkata, “Battery charge! Aku akan mengisi energimu hari ini, agar ketika ujian nanti kamu bisa mengerjakan semua soalnya dengan semangat dan menjadi lulusan terbaik.”

Soojung pun mengembangkan senyumnya. Soojung memang tak akan pernah bisa menang dari Jongin. Entah ia akan selalu mengalah atau memang sudah kalah terhadap Jongin.

.

“Bagaimana kamu bisa menemukanku disini?” tanya Soojung disela-sela kegiatannya membaca buku.

“Dari seorang informan terpercaya,” sahut Jongin yang sedang fokus memainkan jemari Soojung.

Menghabiskan berjam-jam di perpustakaan hanya untuk menemani Soojung belajar, tampaknya tidak membosankan untuk Jongin. Bisa bersama lagi dengan gadis yang disayanginya saja sudah cukup baginya, tentu saja ia tidak akan pernah merasa bosan.

Sementara Soojung sendiri tampak tidak terganggu dengan semua kelakuan Jongin. Pemuda itu sudah menguasai satu tangannya, dan membuat kegiatan Soojung jadi sedikit terhambat karena ia hanya bisa menggunakan satu tangan saja. Tapi Soojung merasa lebih baik. Karena setidaknya ia tidak lagi merasa ada yang kurang disela waktu belajarnya.

“Apa kamu haus? Aku bawa susu untukmu. Tapi jangan sampai ketahuan penjaga perpustakaan,” bisik Jongin.

Ia pun mengobrak-abrik tasnya –dengan satu tangan– dan mengeluarkan sebuah susu kotak rasa strawberi. Ia lalu menyuruh Soojung memegang susu kotaknya, agar Jongin bisa memasangkan sedotan untuk susunya tersebut. Soojung nyaris tertawa melihat kelakuan Jongin yang seolah tak ingin melepas Soojung barang sedetik saja.

“Apa saja yang kamu lakukan saat menjauh dariku?” tanya Soojung setelah menyesap susu strawberinya.

“Berusaha mengabulkan keinginanmu,” singkat Jongin.

Ucapan Jongin itu membuat Soojung berpikir. Keinginannya yang mana yang sedang berusaha dikabulkan oleh Jongin? Tapi walaupun Soojung berpikir mengenai segala kemungkinan, ia tetap tak menemukan alasan kenapa Jongin harus menjauhinya. Karena keinginannya hanya agar ia dan Jongin tetap bisa bersama-sama.

“Belajar yang rajin. Kamu harus menjadi lulusan terbaik. Kalau kamu berhasil menjadi lulusan terbaik, maka aku akan memberikanmu hadiah,” ujar Jongin.

Mata Soojung langsung berbinar-binar mendengar kata hadiah. Selama ini ia tak pernah mendapatkan hadiah atas apresiasi yang sudah ia lakukan. Ia hanya mendapat hadiah jika hari ulang tahunnya tiba. Mendengar Jongin akan memberinya hadiah, membuat Soojung jadi bersemangat.

“Apa kamu sungguh mau memberiku hadiah?” tanya Soojung antusias.

“Apapun yang kamu mau,” sahut Jongin. “Ahh, aku akan memberikan sesuatu yang sangat kamu inginkan. Dan itu adalah sesuatu yang kamu suka. Bagaimana?”

Soojung setuju dengan ide Jongin. Tanpa menyia-nyiakan waktunya barang sedetik, Soojung langsung kembali fokus pada soal di hadapannya. Tak mengapa jika Jongin akan kembali menjauhinya besok, yang terpenting saat ini adalah ia harus menjadi lulusan terbaik. Karena ia yakin Jongin tidak akan ingkar pada janjinya.

.

.

Ujian akhir semester baru saja selesai dan seisi kelas Soojung ramai membahas apa saja jawaban dari soal-soal yang tadi mereka kerjakan. Soojung sendiri sudah tidak peduli jawabannya benar semua atau tidak. Yang ia khawatirkan sekarang adalah apakah ia berhasil mendapatkan nilai yang baik untuk laporan hasil ujiannya nanti. Soojung tak ingin mendapatkan omelan ayahnya lagi. Selain itu ayahnya juga sudah berjanji kalau ia akan mengijinkan Soojung ‘bermain’ dengan Jongin jika ia mendapat nilai sempurna. Soojung kini sudah menenggelamkan kepalanya di meja.

Dan Jinri kini hanya bisa memandanginya iba.“Memangnya ada yang tidak bisa kamu jawab tadi? Bukannya semua soal yang keluar itu adalah hal-hal yang sudah kita pelajari bersama. Pasti kamu menjawabnya dengan benar, Soojung,” hibur Jinri.

Seisi kelas kini sudah hening dan semua mata menatap ke arah meja Soojung. Bukan karena ucapan Jinri tadi, tapi karena Jongin kini sudah menghampiri meja Soojung. Jongin terang-terangan menghampiri meja Soojung dan berdiri di sampingnya. Jongin tampak mengulurkan tangannya dan mulai membelai rambut Soojung, sebagai bentuk ungkapannya atas kerja keras Soojung. Jongin tampak tersenyum samar pada Soojung.

Jinri hanya mematung melihat Jongin membelai kepala Soojung, sementara Soojung sendiri tampak tidak mengangkat kepalanya –mungkin ia pikir itu adala salah satu usaha Jinri untuk menenangkannya. Jinri makin kaku karena kini Jongin sudah menatapnya tajam, seolah menyuruhnya untuk terus bicara.

“Uhh… ahh.. umm.. itu.. kamu tenang saja Soojung. Kamu sudah berusaha keras. Nilaimu pasti bagus,” ujar Jinri takut-takut.

Jongin memicingkan matanya pada Jinri. Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan melemparkannya pada Jinri. Sebuah susu kotak. Jongin lalu memberi isyarat pada Jinri untuk memberikan susu itu pada Soojung. Kemudian Jongin pun meninggalkan mereka untuk keluar kelas.

Ketika ia merasakan sudah tidak ada lagi tangan yang membelai kepalanya, Soojung pun mengangkat kepalanya. Soojung melihat teman-teman sekelasnya menatapnya takjub serta Jinri yang tampak terpaku seolah ia habis melihat hantu.

Museun iriya (ada apa)?” tanya Soojung.

Jinri tidak menjawab, melainkan ia melemparkan susu kotak pemberian Jongin pada Soojung seraya berkata, “minum itu maka kamu akan sukses.”

.

.

Dan pengumuman hasil ujian pun tiba.

Soojung sudah berdiri di belakang kerumunan anak-anak yang memenuhi papan pengumuman. Soojung menggenggam kedua tangannya seraya berdoa semoga hasil terbaik yang keluar. Jongin berdiri di belakang Soojung seraya memegang kedua bahu Soojung, berusaha meyakinkannya kalau semua pasti baik-baik saja. Jongin pun perlahan mendorong Soojung maju untuk menerobos kerumunan siswa itu.

Soojung sudah berdiri di depan papan pengumuman. Ia masih menutup matanya dan belum mau melihat hasil ujiannya.

“Jung, buka matamu. Coba lihat, namamu ada di atas,” bisik Jongin.

Soojung pun membuka matanya dan langsung menoleh ke bagian atas papan pengumuman. Soojung melihat namanya ada di nomor satu. Ia berhasil mendapat peringkat pertama, itu artinya nilainya sempurna. Dan itu artinya hubungannya dengan Jongin akan berjalan baik mulai hari ini. Dan itu artinya…

“Hadiah,” ujar Soojung yang sudah berbalik menghadap Jongin. “Mana hadiahku, Jong?”

Soojung menadahkan kedua tangannya di hadapan Jongin. Ia sudah tersenyum lebar –akhirnya Soojung bisa kembali tersenyum– pada Jongin. Soojung menatap pemuda itu penuh harap, mengantisipasi benda apa yang akan diberikan Jongin padanya.

“Tutup matamu,” titah Jongin.

Soojung pun menurut. Ia sudah menutup matanya dengan tak lepas terus mengumbar senyum bahagianya. Ia merasakan Jongin kembali memegangi pundaknya. Tapi ia tak merasakan sesuatu di tangannya, melainkan sesuatu yang lembut, lembab, dan hangat sudah bersentuhan dengan keningnya. Selain itu Soojung juga merasakan ada hembusan napas di atas keningnya. Soojung pun membuka matanya. Betapa terkejutnya ia begitu mengetahui kalau Jongin baru saja mengecup keningnya. Dan yang lebih membuat Soojung panik adalah Jongin mengecupnya di hadapan siswa-siswi yang kini sedang memenuhi area papan pengumuman –mereka semua tampak terpaku melihat aksi Jongin tersebut.

“J-Jong…” kaget Soojung.

Jongin sudah melepaskan dirinya dari Soojung dan menatapnya intens. “Chukahae (selamat),” bisik Jongin tulus sambil tersenyum manis.

Sungguh, ketika Jongin seperti ini, dia adalah makhluk paling manis yang pernah Soojung temui. Entah kenapa kali ini Jongin terlihat sangat tampan di mata Soojung. Dan Soojung menyukainya. Akhirnya Soojung tahu kenapa ia tak pernah menolak Jongin. Ini semua karena Soojung menyukainya.

Soojung menyukai Jongin.

“Apa yang kalian lihat?! Apa tidak ada hal lain yang lebih berguna untuk kalian kerjakan? Atau kalian mau aku hajar?!” bentak Jongin ketika melihat semua siswa masih menatapnya. Seketika kerumunan itu pun kembali pada aktivitas mereka.

Ya, walaupun Jongin memiliki kepribadian yang mudah meledak, selalu berkata kasar terhadap orang-orang di sekitarnya, tidak pernah berpikir panjang dan hanya mengandalkan tinjunya, tapi bagi Soojung, Jongin adalah pria manis yang mampu melelehkan hatinya.

Soojung langsung menyusul Jongin yang sudah meninggalkan papan pengumuman.

“Kurasa itu tadi bukanlah hal yang sangat kuinginkan? Sepertinya itu adalah hal yang kamu inginkan, Jong?” ujar Soojung setelah berhasil mengejar Jongin.

“Bukankah kamu juga menginginkannya? Ketika aku bilang aku mau menciummu dulu, kamu langsung menutup matamu dan mengantisipasinya,” sahut Jongin acuh.

Tanpa diminta wajah Soojung langsung merah padam. Bagaimana Jongin bisa meledeknya seperti itu. Waktu itu Soojung memejamkan matanya karena ia tak tahu apa yang harus ia lakukan jika Jongin meminta sebuah ciuman seperti itu.

“Kapan aku mengantisispasinya?” gerutu Soojung pelan.

“Hadiahmu yang sesungguhnya ada di papan pengumuman tadi, Jung,” ujar Jongin.

Soojung kembali berpikir, sebenarnya apa yang pernah ia minta dari Jongin. Dulu ia hanya pernah meminta Jongin untuk jangan pernah melepaskan tangan mereka. Kemudian Soojung teringat akan satu keinginannya yang pernah ia ungkapkan pada Jongin. Ia pernah dengan terang-terangan memaksa Jongin untuk belajar bersama agar mereka bisa lulus bersama-sama.

Soojung lalu bergegas kembali ke depan papan pengumuman. Ia menerobos murid-murid yang kini memenuhi papan pengumuman. Belum sampai Soojung sampai di depan papan pengumuman, ia sudah mendengar kehebohan Jinri yang berada satu meter di depanya.

Daebak (hebat)!! Jongin masuk lima puluh besar nilai terbaik!!! Uwahh! Dia duduk dekat siapa sampai ia bisa berada di lima puluh besar?! Daebak!!” seru Jinri.

“Padahal angkatan kita hanya ada seratus lima puluh siswa. Itu artinya ia sudah diatas rata-rata. Berpacaran dengan Soojung rupanya membuatnya jadi sedikit lebih pintar,” sahut Sujie.

Soojung yang sudah sampai di depan papan pengumuman langsung menyela Jinri dan Sujie. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau nama Kim Jongin memang benar berada di posisi lima puluh nilai terbaik. Padahal selama ini ia selalu mendapatkan nilai paling belakang –meskipun bukan yang terbelakang. Jongin sebenarnya tidaklah sebodoh itu, hanya saja karena ia lebih sering terlihat dengan kekerasan, membuat semua orang mengecap dirinya sebagai pemuda yang bodoh –walau kenyataannya Jongin tidaklah bodoh.

Terharu, Soojung kembali berlari mengejar Jongin yang sudah mejauhi kerumunan. Ia lalu mengalungkan kedua lengannya di leher Jongin dan memeluknya. Jongin bahkan tidak berniat membukukkan badannya untuk membuat Soojung berada di posisi nyaman, sehingga Soojung harus berjinjit agar ia tetap bisa menggantungkan dirinya seperti itu. Dan Soojung pun berbisik pada Jongin.

Saranghae, nae wangjanim. (aku mencintaumu, pangeranku). Terima kasih sudah mengabulkan keinginanku.”

.

.

.

.

.

.

.

.

“Bagaimana nilaimu bisa meroket seperti itu,  Jong? Kamu tidak mencuri soal ujian atau mendapatkan bocoran soal, bukan?”

“Kamu tak percaya dengan kemampuanku? Dengan guru privat yang kupunya, bukan mustahil aku bisa masuk lima puluh besar.”

“Guru privat?”

“Makanya aku menjauhimu kemarin. Sebab kalau aku masih berada di dekatmu, maka aku tak akan konsentrasi belajar. Tapi berkat guruku itu, mau tak mau aku harus semangat belajar. Karena ia akan selalu mengingatkanku pada tujuan awalku untuk belajar.”

“Memangnya siapa gurumu?”

“Mahasiswi dari Seoul University. Dan kamu sangat mengenalnya.”

“Aku mengenal seseorang dari Seoul Univ? Satu-satunya orang yang–. Tunggu! Jangan bilang kalau gurumu adalah Sooyeon Eonni.”

“Kamu tak bisa membayangkan semenyeramkan apa kakakmu itu ketika mengajariku, Jung.”

.

.

.

.

.

*FIN*

logo1

First story of DIFFERENT FAIRYTALE. “BEAUTY AND THE BEAST”

끝!!!

Yoiiii akhirnya tamat juga!!!

Endingnya menjelaskan segalanya kah? Dijelasin disini aja ya. Sica emang bikin mereka pisah, tapi untuk tujuan yang baik. Biar Soojung dan Jongin fokus belajar. Trus sebelum Soojung ke perpus, kan si Sica bilang kalau dia akan kirim sesuatu kesana dan voilaa! Jongin datang plus bilang kalo dia udah dapet ijin. Jadi tuh Jongin ‘melepas’ Soojung untuk sementara waktu semata-mata karena dia ingin mengabulkan keinginan Soojung untuk bisa lulus bersama.

Dan Minhyuk ga usah ditanyain ya.. bee merasa bersalah banget sama Minhyuk. Chanyoung-ahh!! Mianhae!! Noona udah jahat banget disini sama kamu. Kapan-kapan kamu noona kasih role yang baik2 deh..

Dan sekarang bee bisa lanjut ke dongeng berikutnya!! Yuhuuuuu!!!

Terima kasih buat para vitamin bee!! Kalian adalah vitamin paling mahal yang bee punya.. mana ada planet lain yang punya residence kece yang selalu ngasih vitamin yang baik untuk kelangsungan planetnya, selain di bee planet.. 당연히 우리 비타민 최고!!!

lastly, thanks for your support!! u guys are my vitamin 🙂
안녕!! 뿅! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 다른 동화 (Different Fairytale) | Beauty and The Beast – Chapter 5 (End) | PG15

18 thoughts on “FF – 다른 동화 (Different Fairytale) | Beauty and The Beast – Chapter 5 (End) | PG15

  1. Mei Astria says:

    Thor baru nemu ff ini maaf ya komennya dari chapter satu di sini aja. Gue bacanya sampe mewek tor wkt soojung patah hati. Gue bener” benci sama minhyuk disini. Menghalalkan segala cara buat dpetin soojung ujung”nya di tolak juga wkwkwk. Cieee jongin preman” gitu sweet juga ternyata. Dan ending nya ya ampun bikin terharu. Mungkin cuma gue kali yg mewek bacanya hahaha

  2. Wooow… akhirnya bisa baca tamatnya juga.. soalnya kan di watty berhenti di tengah-tengah.. gak dilanjut.. keren beneran deeh.. alurnya juga runtut banget…
    Perfecto..

    Btw.. ini authornya sama kaya di wattpad kan??

    1. Nama pengarangnya sama ga? Rasanya aku ga pernah upload ke wattpad. Aku cuma sebar ff ini di blog aku ini aja. Berarti yg pajang ff aku di wattpad itu udah nyolong tanpa ijin.
      Thanks infonya yaa.

  3. junghana21 says:

    terharus bacanya
    adegan di perpustakaan sweet banget
    akhir membahagiakan untuk semua

    suka banget karakter kaistal di sini. mereka saling pengertian dan melengkapi

    tuh kan sica eonnie tuh ga jahat. walaupun dya ga suka soojung sm badboy. tp sica berhasil merubah badboy jd bukan badboy untuk soojung dengan death glarenya pasti

    nice fanfic bee-ssi

  4. bee says:

    Keren banget gilak. Kapan coba gue bisa bikin ff se-daebak ini? saat hidung kai mancung kli ya-_-
    but all:3 bagus ceritanya, endingnya kurang romantisss>< seharusnya mrk ada di atap sekolah trs mesra2an wkwkw/g

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s