FF – 다른 동화 (Different Fairytale) | Beauty and The Beast – Chapter 4 | PG15


beauty-beast

Title : Different Fairy Tale

Subtitle : Beauty and The Beast – Chapter 4

Author : beedragon

Cast:

Krystal F(x) as Jung Soojung

Kai EXO as Kim Jongin

Other Cast:

Sulli F(x) as Choi Jinri

Suzy Miss A as Bae Sujie

Minhyuk CNBlue as Kang Minhyuk

Genre : Fluff, Romance, School Life

Length : Multichapter

Summary : Karena suatu kondisi, Si Cantik jadi harus terjebak dengan Sang Monster. Walaupun awalnya Si Cantik takut pada Sang Monster, tapi Si Cantik melihat bahwa hati Sang Monster jauh lebih lembut dan rapuh dibandingkan miliknya. Dan Si Cantik pun menyadari kalau ia perlahan-lahan menyukai Sang Monster

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Enchanted | F(x) – Gangsta Boy | Taylor Swift – Mean

Beauty and The Beast | Chapter 4

.

.

.

.

.

.

Siang ini Soojung memilih untuk menyendiri dan menjauh dari keramaian yang sedang terjadi di Hanlim. Menyendiri dalam artian duduk berdua dengan Jongin di matras bekas yang ada di atap sekolah sambil menikmati angin musim gugur yang mulai berlalu-lalang menyapa mereka. Soojung benar-benar tidak ingin memikirkan keriuhan yang sedang terjadi di depan papan pengumuman sekolah saat ini. Ia sudah bisa mendendengar semua gunjingan yang pasti terjadi disana. ‘Jung Soojung tidak ada di posisi satu’, ‘nama Jung Soojung tidak ada di tiga puluh besar’, ‘dimana nama Jung Soojung’,  dan lain sebagainya.

Soojung tahu kalau namanya tidak akan masuk tiga puluh besar nilai terbaik semester ini. Sebab ia tahu persis, kalau ia tak bisa mengerjakan semua soal ujian akibat terlalu terkejut dengan semua ancaman Minhyuk. Sampai detik ini pun Soojung masih belum bisa menemukan pencerahan atas masalahnya, dan wali kelasnya menambah bebannya dengan menyuruh orangtuanya untuk datang ke sekolah.

Soojung hanya duduk diam di samping Jongin. Tidak ada kata yang terucap di antara mereka. Sejak mereka tiba di atap ini, hanya keheningan yang terjadi. Soojung tampak tidak ingin mengucapkan sesuatu sedangkan Jongin tampak tak ingin memaksa Soojung untuk mengungkapkan kegundahannya.

Jongin tahu kalau terjadi sesuatu pada Soojung. Ia bisa melihat dengan jelas, kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiran Soojung. Sebab gadis itu jadi tidak banyak bicara. Meskipun gadisnya itu berada di sampingnya, tapi pikirannya jauh entah dimana. Karena tidak ingin menekan kekasihnya itu, Jongin hanya bisa duduk diam di samping Soojung.

Ketika keheningan di antara mereka sudah tidak tertahankan lagi, akhirnya Jongin pun bersuara. “Kenapa kamu tidak mengikat rambutmu, Jung? Lihatlah, angin-angin ini mempermainkan rambutmu. Membuatku cemburu saja.”

Soojung akhirnya tersadar dari lamunannya yang dalam. Ia memandangi Jongin takjub. Takjub karena Jongin bisa bertahan untuk tidak bertanya langsung apa yang membuat dirinya tidak banyak bicara belakangan ini. Soojung hanya bisa menebar senyum harunya pada Jongin.

“Bukannya kamu pernah bilang kalau kamu senang melihatku ketika rambutku tergerai seperti ini? Dan sekarang kamu bisa mengakui kalau kamu cemburu pada angin? Gwiyeowo,” ujar Soojung.

Jongin langsung mengerucutkan bibirnya begitu mendengar candaan Soojung. “Hei, itu adalah mantraku untuk menggodamu. Jangan pakai kata itu. Gwiyeowo sudah menjadi hak paten Kim Jongin. Cari kata lain,” titahnya.

Gomawo (terima kasih),” ujar Soojung tulus. “Untuk tidak bertanya. Untuk selalu menyadarkanku dari lamunan panjangku. Untuk tetap berada disampingku.”

Soojung lalu kembali terdiam. Ia memilih untuk menyandarkan kepalanya di bahu Jongin dan meraih tangan Jongin untuk ia genggam. “Untuk saat ini. Aku hanya ingin ada disini, bersandar padamu, dan menikmati waktu berdua denganmu.”

Soojung memejamkan matanya. Membiarkan dirinya kembali hanyut dalam lamunannya. Soojung mencoba merunut kembali kejadian di sungai Han dulu. Setelah sesi ‘mengungkapkan isi hati masing-masing’, Soojung dan Jongin mendadak merasa haus dan panas. Lalu Jongin pergi sejenak untuk membeli minuman dingin. Dan ketika Soojung duduk sendirian di bawah pohon mapel, tiba-tiba seorang pemuda datang menghampiri Soojung dan memaksanya untuk ikut dengannya.

Soojung tahu ada yang aneh dengan pemuda itu. Sebab pemuda itu terus menariknya meskipun Soojung sudah menolaknya. Dan yang lebih aneh lagi adalah pemuda asing itu tersenyum puas ketika Jongin memukulinya. Soojung hanya bisa merutuki pemuda itu, sebab jika pemuda itu tidak mengganggunya mungkin ia tak perlu pusing memikirkan ancaman Minhyuk.

“Jong,” ujar Soojung setelah terdiam begitu lamanya. “Berjanjilah padaku.”

“Apa?”

Soojung sudah memeluk lengan Jongin seolah hidupnya bergantung disana. Ia masih menyandarkan kepalanya di bahu Jongin. “Jangan pernah menggunakan tangan ini untuk berkelahi, tapi gunakan tangan ini untuk menggenggam tanganku. Jangan pernah menggunakan mulutmu untuk berkata kasar, tapi gunakan mulut itu untuk terus memujiku. Jangan pernah menggunakan otakmu untuk memikirkan bagaimana caranya untuk melampiaskan kekesalanmu dengan kekerasan, tapi gunakan otakmu untuk berpikir bagaimana caranya agar kamu bisa lulus dari Hanlim bersamaku.”

Soojung kembali terdiam. Hanya satu hal yang ia inginkan saat ini. Ia ingin bisa lulus bersama dengan Jongin. Ia ingin Hanlim menjadi sekolah terakhir Jongin. Ia tak ingin Jongin dikeluarkan dari Hanlim. Oleh sebab itu, Soojung harus melindunginya. Untuk sekali saja Soojung ingin melindungi Jongin, menjadi malaikat pelindung untuknya.

“Apapun yang terjadi nanti, jangan pernah lepaskan tanganmu dariku,” pinta Soojung.

.

.

Hari ini orangtua Soojung dipanggil ke sekolah. Sudah pasti penyebabnya adalah turunnya nilai Soojung yang begitu drastis. Soojung tahu kalau ayahnya pasti akan marah besar. Ia tahu persis, betapa keluarganya sangat membenci selain nilai A. Dan kini wajah ayahnya sudah merah padam begitu Soojung menunjukkan kartu laporan hasil ujiannya.

“Apa-apaan ini?!! C?!! Kamu dapat nilai C untuk nilai rata-rata?!! Apa saja yang kamu lakukan di sekolah, Soojung?!! Bagaimana bisa kamu mendapat nilai C!!!” bentak ayahnya.

Ibu Soojung duduk di samping ayahnya langsung meraih kartu laporan Soojung untuk melihat nilainya. Dan hasilnya adalah ibunya menangis. Bagi orangtua Soojung, jika Soojung tidak mendapat nilai A maka itu adalah kiamat untuk mereka.

Ayahnya kini sudah marah-marah dan membentak Soojung. Sementara gadis itu sendiri tidak mendengarkan semua ocehan orangtuanya. Ia merasa semua hari yang ia lakukan bersama Jongin sangatlah berharga dan sudah selayaknya ia mendapatkan nilai A untuk hubungan mereka ini. Kini ia mempertanyakan kenapa dirinya mendapat nilai C. Nilai itu bukanlah disebabkan oleh Jongin. Ah, Soojung lupa, nilai C memang karena ia memikirkan Jongin. Memikirkan bagaimana agar ia tetap bisa bersama Jongin tanpa terganggu oleh ancaman Minhyuk.

Kini ayahnya menyita ponsel Soojung. Tuan Jung juga memberikan jam malam bagi Soojung, serta berkata kalau Soojung akan mendapat les privat di rumah agar ia bisa lebih fokus belajar. Soojung pikir, sepertinya bukan hanya Minhyuk saja yang ingin memisahkan dirinya dari Jongin, melainkan orangtuanya juga.

Dan ini hanyalah awal dari rintangan yang harus dijalani Soojung bersama Jongin.

.

.

“Soojung, apa kamu tahu?” ujar Jinri.

Soojung menoleh, berusaha untuk peduli dengan gosip apa yang akan Jinri ceritakan kali ini.

“Apa kamu tahu? Kim Jongin kembali mematahkan hati seorang siswi.” Ucapan Jinri ini membuat Soojung tertarik. Soojung tahu kalau Jongin cukup populer di kalangan para siswi –walaupun semuanya tahu kalau Jongin adalah anak nakal. Kali ini Soojung bertanya-tanya, siapa perempuan yang berani menyatakan perasaannya pada Kim Jongin –tapi Soojung lebih penasaran lagi akan reaksi Jongin.

“Siswi dari kelas dua, namanya Kim Namju atau Namja? Hahahaha,” ujar Jinri geli. “Anak itu bahkan belum selesai menyatakan perasaannya dan Jongin sudah lebih dulu menolaknya. ‘Pergi dari hadapanku’, katanya. Kudengar siswi itu masih suka menangis di toilet sekolah.”

Soojung mengulas senyum tipis di wajahnya. Walaupun ia kasihan terhadap siswi itu tapi Soojung senang karena Jongin menolaknya. Belumlah puas Soojung merasakan euforia di hatinya akibat berita itu, terdengar pintu kelasnya di banting dengan begitu keras sehingga membuat semua yang ada di kelasnya terdiam karena kaget. Soojung melihat Sujie kini sudah memasuki kelas dengan begitu geramnya. Soojung tak tahu apa yang membuat Sujie tampak begitu marah, tapi sepertinya itu sesuatu yang berhubungan dengan Soojung –karena Sujie tak lepas menatap Soojung geram.

“Katakan kalau apa yang kulihat ini tak benar. Katakan kalau apa yang aku pikirkan mengenai ini tidak benar!” seru Sujie geram.

Sujie sudah menunjukkan ponselnya ke hadapan Soojung. Walaupun Soojung bingung, tapi ia tetap mengambil ponsel itu untuk melihat apa penyebab dari kemarahan Sujie. Soojung hanya bisa terpaku melihat gambar di ponsel Sujie. Itu adalah foto dirinya saat bersama Jongin dan yang terpenting dari foto itu adalah mereka sedang tertawa lepas sambil bergandengan tangan. Soojung sudah tidak kaget lagi. Sebab ia sudah memprediksi kalau kejadian ini akan datang. Ia bahkan tak peduli bagaimana Sujie bisa menemukan foto dirinya dengan Jongin.

Jinri sudah merebut ponsel Sujie dari tangan Soojung, karena ia penasaran akan gambar apa yang membuat Sujie jadi begitu marahnya. Jinri pun memekik tertahan melihat foto itu.

Omo (astaga)! Apa-apaan ini?! Kenapa kamu dan Jongin bergandengan tangan?!!” seru Jinri.

Kepala Soojung sudah tertunduk dalam-dalam. Ia melirik ke arah bangku Jongin dari sudut matanya. Jongin tampak tak bergerak dari tidurnya. Dan kini seisi kelas Soojung langsung riuh rendah –sibuk bergunjing mengenai kehebohan yang terjadi di antara mereka.

“Ayahmu menyuruhku untuk mengawasimu karena nilaimu turun drastis. Makanya kemarin aku bolos ikut les tambahan untuk mengikutimu. Pantas saja kamu tak pernah ikut les atau kelas tambahan. Soojung, apa kamu-,” Sujie tak melanjutkan ucapannya. Ia sudah menarik napas dalam-dalam untuk meredam amarahnya.

“Soojung, kamu pacaran dengan Jongin!!” seru Jinri. Itu bahkan bukan sebuah pertanyaan bagi Soojung, lebih seperti sebuah tuduhan.

Belum sempat Soojung melakukan pembelaan, Sujie dan Jinri sudah meninggalkannya untuk menghampiri meja Jongin. Sujie menendang bangku Jongin –untuk situasi seperti ini mereka tampaknya tidak takut akan fakta kalau Jongin adalah siswa nakal.

“Yah! Bangun!” seru Jinri.

Jongin tampak mengangkat kepalanya untuk melirik dua tamunya. Jongin sudah menatap mereka malas. Tapi ia akhirnya membenarkan posisi duduknya untuk setidaknya mendengarkan apa yang ingin mereka katakan.

“Jauhi Soojung!” perintah Sujie. “Gara-gara kamu nilai Soojung jadi turun! Kamu sudah meracuni pikirannya. Cari perempuan lain yang bisa kamu permainkan. Dan perempuan itu bukan Soojung!!”

Jongin tampak menguap lebar-lebar. Ia sudah merentangkan tangannya untuk merenggangkan otot-ototnya yang kaku akibat posisi tidurnya yang tidak nyaman tadi. Jongin kini sudah berdiri tegak dan melirik Sujie dan Jinri kesal. Melihat Jongin yang seperti ini mau tak mau membuat Sujie dan Jinri jadi ciut dan mundur satu langkah menjauhi mejanya.

“Bukan urusanmu,” desis Jongin dengan suara yang sangat rendah.

Jongin kemudian keluar kelas setelah sebelumnya menendang mejanya untuk melampiaskan kekesalannya serta membanting pintu kelas. Seisi kelas pun terdiam melihatnya.

Soojung yakin kalau Jongin sedang kesal saat ini. Ia pun menyusul Jongin keluar kelas. Ia tak ingin Jongin terlibat perkelahian setelah ini.

.

.

“Kamu masih kesal?” tanya Soojung pada Jongin ketika mereka dalam perjalanan pulang.

Keduanya memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana, mengingat mood Jongin sedang buruk saat ini. Tadi siang saja Jongin habis melampiaskan kekesalannya pada salah satu siswa kelas dua yang malang. Jika Soojung tidak melerainya mungkin Jongin benar-benar akan memukuli anak itu sampai rasa kesalnya hilang. Karena kejadian tersebut Jongin mendapat hukuman untuk membersihkan halaman sekolah oleh wali kelas mereka. Soojung tentu saja membantunya.

“Bukankah sudah kubilang, tidak baik menggunakan tangan ini untuk kekerasan,” ujar Soojung sambil mengangkat tangan mereka saling bertautan. Soojung menggenggam erat tangan Jongin tersebut untuk menenangkannya. “Mereka hanya kaget, jadi ucapan mereka tadi jangan dimasukkan ke hati ya.”

Jongin menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah Soojung. Jongin tidak terlihat kesal sama sekali, melainkan ia terlihat khawatir. Jongin khawatir akan Soojung.

“Aku akan bertanya kali ini. Jawab pertanyaanku. Apa yang terjadi? Sejak ujian kemarin kamu tampak tidak tenang. Dari hari pertama, kamu sama sekali tidak menyentuh lembar jawabanmu. Sejak kamu bertemu dengan mata empat itu, sikapmu jadi aneh. Apa yang sudah ia lakukan padamu?” tanya Jongin.

Jongin memang paling mengerti Soojung. Setengah tahun lebih selalu memperhatikan Soojung, sudah tentu Jongin tahu jika ada sesuatu yang mengganggu gadisnya itu.

“Kamu tahu kalau aku mengkhawatirkanmu. Dibandingkan rasa kesalku terhadap apapun yang mengganggumu, aku lebih merasa kesal pada diriku sendiri karena tak bisa membantumu menyelesaikan apapun itu yang ada di pikiranmu. Apa yang harus kulakukan, Jung?”

Soojung masih tetap diam. Ia mengunci rapat mulutnya, menolak untuk mengatakan pada Jongin apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Jongin tidak akan menyerah semudah itu.

“Dan sekarang semuanya menyalahkanku karena nilaimu yang turun. Melihatmu seperti ini, benar-benar membuatku berpikir kalau akulah yang sudah merusakmu. Apa aku harus melepaskan tanganmu sekarang, Jung? Jawab aku,” ancam Jongin.

Soojung kaget mendengar ancaman Jongin tersebut. Ia tak ingin Jongin melepaskan dirinya, tapi Soojung juga tak mau menceritakan masalahnya pada Jongin. Soojung nyaris menangis saat ini.

“Aku belum.. siap menceritakannya padamu. Tapi aku janji suatu saat nanti pasti akan kuceritakan. Tapi tidak sekarang. Kumohon mengertilah,” pinta Soojung.

Baru saja Jongin akan menarik Soojung ke dalam pelukannya, tapi seseorang sudah lebih dulu menarik tangan Soojung dan menjauhkannya dari Jongin. Soojung kaget bukan  main begitu melihat siapa yang menarik tangannya.

“Eon..ni,” lirih Soojung.

“Jung Soojung! Apa-apaan ini?!!” Jung Sooyeon, kakak Soojung kini sudah berdiri di hadapannya.

Soojung pikir tamatlah sudah riwayatnya. Meskipun sahabat-sahabatnya berjanji tidak akan mengadukan hubungan Soojung ini ke orangtuanya, tapi lain halnya dengan kakaknya. Soojung yakin, kalau kakaknya pasti akan mengadukannya pada ayahnya.

“Jadi ini yang membuatmu sering bolos kelas tambahan?! Siapa dia? Apa yang kalian lakukan malam-malam begini?! Kenapa kamu bukannya belajar di rumah dan malah berkeliaran seperti ini?!” seru Sooyeon.

Soojung sudah menarik lengan Sooyeon dan berusaha menjauhkan kakaknya itu dari Jongin. Soojung tak ingin mood Jongin makin buruk dengan ocehan dari kakaknya ini. Bisa-bisa pulang dari sini, Jongin akan terlibat perkelahian di suatu tempat.

Sooyon kini menghadap Jongin dan mengacungkan telunjuk lentiknya pada Jongin. “Yah, aku tidak tahu siapa kamu. Tapi kamu sudah membuat adikku jadi malas belajar. Jauhi Soojung. Jika tidak maka akan kupatahkan lehermu,” ancam Sooyeon. Ia lalu menarik Soojung untuk pergi bersamanya.

Sungguh Soojung ingin mengubur dirinya saat ini juga.

.

.

.

Seisi sekolah sudah mengetahui kalau Soojung dan Jongin berpacaran. Tapi baik Soojung maupun Jongin tampak tidak terganggu sama sekali dengan semua berita itu. Mereka tetap berangkat sekolah bersama,  menghabiskan istirahat siang mereka di atap sekolah serta pulang bersama. Bahkan Soojung kini merasa lega, sebab akhirnya ia bisa menghampiri Jongin tanpa takut dengan pandangan orang lain. Soojung juga sudah melupakan ancaman Minhyuk, karena berita mengenai Soojung berpacaran dengan Jongin bukan keluar dari mulut Soojung sendiri, jadi Soojung tak perlu pusing memikirkan apa yang akan Minhyhuk lakukan nanti. Lagipula sepertinya Minhyuk sudah melupakannya, karena sepertinya tak ada lagi tanda-tanda pergerakan dari pemuda itu.

Saat ini Soojung hendak menyusul Jongin ke atap sekolah. Ketika Soojung melewati salah satu koridor di lantai lima, ia mendengar suara yang begitu familiar di telinganya.

“Kenapa harus Soojung? Kami tahu kalau kamu senang bergonta-ganti pasangan hanya untuk mempermainkan hati mereka..,” begitu sayup-sayup terdengar suara Jinri.

Soojung segera menghampiri salah satu ruang musik tempat suara Jinri berasal. Betapa kagetnya Soojung begitu ia mengintip ke dalam ruangan, ia mendapati Jinri dan Sujie sedang mengkonfrontasi Jongin. Mereka berdua berdiri berhadapan dengan hanya menjadikan sebuah grand piano sebagai jarak dengan Jongin. Sunguh Soojung tak percaya dengan penglihatannya saat ini. Jinri dan Sujie saat ini justru terlihat lebih mengerikan daripada Jongin yang katanya senang mengancam orang-orang.

“Lalu apa yang kalian inginkan, Nona?” tanya Jongin malas.

“Kamu hanya mau mempermainkan Soojung. Memacarinya dan lalu membuangnya. Kamu pikir Soojung itu perempuan yang bisa kamu permainkan, huh?!” sahut Sujie. “Jauhi Soojung!!”

Soojung merasa kalau ini sudah melewati batas. Meskipun ia sangat mengutamakan persahabatannya dengan dua gadis itu, tapi ia tak bisa tinggal diam jika mereka memojokkan Jongin seperti ini.

“Hentikan kalian berdua,” sela Soojung.

Jinri dan Sujie kaget bukan main begitu melihat Soojung memergoki mereka sedang memojokkan Jongin.

“Ah, dia sudah datang. Silakan kalian selesaikan semua percakapan ini,” ujar Jongin. Ia lalu meninggalkan tiga gadis itu di dalam ruang musik.

Setelah Jongin pergi, Soojung hanya bisa melemparkan ekspresi takjubnya pada dua sahabatnya itu.

“Dan kalian sebut diri kalian sebagai sahabatku,” ujar Soojung tak percaya. “Kenapa kalian melakukan ini?”

“Soo.. Soojung-ah, kami hanya-,” sahut Jinri.

Jinri dan Sujie tampak salah tingkah. Mereka tentu saja berusaha membela diri dengan mengatakan kalau mereka melakukan itu semua untuk menyelamatkan Soojung. Tapi Soojung tak menerima alasan itu. Sudah cukup dengan semua isu yang selalu mereka sebarkan mengenai keburukan Jongin. Soojung yang sudah melihat sendiri betapa Jongin sangat lembut dan perhatian, tentu saja akan membela pemuda itu. Soojung ingin menghapus semua cerita buruk mengenai Jongin. Ketiganya berargumen cukup sengit. Sujie dan Jinri sampai dibuat heran karena Soojung begitu membela Jongin.

“Kamu lebih memilih preman itu daripada kami sahabatmu? Apa kamu menyukai monster itu? Kamu sungguh menyukainya?” tanya Jinri tak percaya.

“Bagiku dia bukan monster, bukan preman, bukan gangster. Tapi ia adalah pangeran yang mampu meluluhkan hatiku. Dia adalah pria termanis yang pernah kutemui. Dia adalah pemuda baik. Yang terbaik jika bisa kutegaskan.”

Jinri dan Sujie hanya bisa terbelalak mendengar ucapan Soojung tersebut. Mereka tak percaya kalau Soojung sudah jatuh terlalu dalam pada Jongin.

“Apa gangster itu benar-benar membuatmu bahagia?”

“Aku tak pernah sebahagia itu sebelum aku bertemu dengannya,” ujar Soojung tulus. “Aku mohon pada kalian, jangan berbicara kasar mengenainya. Dia adalah pemuda yang baik. Sungguh.”

Sujie dan Jinri saling pandang, memberikan sinyal satu sama lain untuk membuat keputusan terhadap kisah cinta Soojung ini. Keduanya pun mengalah.

“Baiklah, jika menurutmu dia bisa membuatmu bahagia. Kami tidak akan melarangmu lagi,” ujar Sujie. Ia lalu menghampiri Soojung untuk meraih tangan gadis itu.

Jinri pun mengikuti Sujie untuk menghampiri Soojung. “Yah, kalau dia membuatmu menangis atau kalau dia sampai berani meninggalkanmu, maka kami tidak akan tinggal diam. Kamu tahu kan kalau aku bisa melakukan apapun untuk menghukum pemuda itu!” guraunya.

Soojung tak pernah merasa setenang ini. Ketika orang –orang terdekatnya menyetujui hubungannya dengan Jongin itu rasanya seperti sedang ada hujan coklat di langit –manis dan menyenangkan.

.

.

.

Dan kini Soojung merasa kalau Jongin menghindarinya.

Soojung merasa kalau Jongin jadi menjauhinya. Jongin tak lagi menunggunya untuk berangkat bersama ke sekolah –Jongin selalu tiba di sekolah tepat sebelum bel masuk berbunyi. Jongin tidak lagi menghabiskan istirahat siangnya di atap sekolah –setiap Soojung kesana, ia tak menemukan Jongin di atap. Jongin juga akan langsung menghilang begitu bel pulang berbunyi –dan Soojung tak pernah mampu untuk mengejarnya sepulang sekolah.

Soojung pikir kalau Jongin marah padanya. Soojung pikir Jongin kecewa padanya. Soojung pikir Jongin sudah tak menginginkannya lagi. Tapi Soojung berusaha membuang semua pikirannya itu. Soojung percaya kalau Jongin tidak akan meninggalkannya begitu saja.

Soojung kini berusaha mencari Jongin untuk bertanya apa yang terjadi dengannya. Karena ponselnya disita oleh ayahnya, jadi Soojung hanya bisa berkomunikasi dengan Jongin secara langsung. Tapi bagaimana ia bisa berbicara dengan Jongin jika pemuda itu sendiri menghindarinya.

Sore ini Soojung berusaha mencari Jongin ke tempat ia biasa menghabiskan waktunya. Biasanya kalau hari libur seperti ini, Jongin akan pergi ke daerah Hongdae. Soojung pun memutuskan untuk  mencari Jongin disana.

Sesampainya di Hongdae, Soojung mengunjungi satu persatu toko yang ada disana, berharap Jongin mampir di salah satu toko tersebut –tapi nihil. Sampai akhirnya Soojung tiba di sebuah persimpangan dan melihat Jongin di salah satu sudut jalan. Dengan hati riang, Soojung langsung menghampirinya. Tapi ternyata Jongin tidak sendirian. Jongin sedang bersama dengan Sooyeon.

“Kalau kamu sudah mengerti, sebaiknya kamu pikirkan lagi. Ini semua untuk kebaikan Soojung,” tegas Sooyeon.

Soojung benar-benar tak habis pikir, betapa orang-orang di sekitarnya ingin sekali menjauhkan dirinya dari Jongin. Ia tak mengerti apa yang salah dari seorang Kim Jongin. Bagaimana pemuda sebaik dan semanis Jongin begitu dibenci oleh semua orang. Apalagi ini adalah kakaknya sendiri. Soojung tak mengerti kenapa Sooyeon, yang katanya akan membela dirinya di depan ayah mereka, kini malah ikutan memojokkan Jongin.

“Eonni…,” lirih Soojung.

Cairan bening sudah merebak di manik mata Soojung. Ia tak menyangka kalau kakaknya akan mengkhianati janji yang sudah mereka buat. Sooyeon berjanji tidak akan mengganggu Jongin apalagi mengadukan hubungan Soojung tersebut pada ayahnya asalkan Soojung bisa kembali menjadi si nomor satu di sekolah. Tapi melihat kakaknya memojokkan Jongin seperti ini, Soojung merasa seperti ditikam dari belakang.

“Bukankah Eonni bilang tidak akan melakukan ini? Tapi kenapa-?”

Soojung langsung meraih tangan Jongin, berusaha untuk memberi pengertian padanya. Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaan. Jongin melepaskan tangan Soojung darinya. Jongin bahkan tidak melihat Soojung sama sekali.

“Kamu pulanglah,” itu adalah ucapan Jongin setelah seminggu lamanya mereka tak berbicara satu sama lain.

Dan Jongin pun pergi meninggalkan Soojung.

“Apa-apaan ini, Eonni?” tanya Soojung. Ia benar-benar merasa sangat dikhianati saat ini. “Bukankah Eonni sudah janji? Kenapa Eonni melanggarnya? Apa yang Eonni katakan pada Jongin? Kenapa Eonni harus menyakitinya seperti orang lain?!!”

“Soojong-ah,”

“Aku mempercayaimu, Eonni. Kenapa kamu malah menghancurkan kepercayaanku seperti ini?!” seru Soojung. Ia tak peduli lagi. Meskipun ia sangat menghormati dan mengagumi Sooyeon, tapi tindakan kakaknya ini sudah tidak bisa ia tolerir lagi. Sebab hubungannya dengan Jongin bisa saja berakhir setelah ini. Dan kalau itu terjadi, ini artinya Soojung kalah dari Minhyuk.

Soojung pun berlari mengejar Jongin. Yang ia inginkan saat ini hanyalah berada disisi Jongin dan meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja. Soojung juga memutuskan untuk menceritakan apa yang sudah Minhyuk lakukan padanya. Mungkin dengan begitu Jongin akan mau bicara dengannya lagi. Hal yang paling Soojung takutkan saat ini hanyalah satu, Jongin tidak menginginkannya lagi.

.

.

Setelah berlari kesana-kemari, Soojung akhirnya menemukan Jongin. Pemuda itu tampak dalam perjalanan pulang –Soojung tahu persis kalau ini adalah daerah rumah Jongin. Soojung terus mengikuti Jongin sampai akhirnya mereka tiba di depan rumahnya.

“Jong,” panggil Soojung.

Jongin menghentikan langkahnya tepat sebelum ia membuka pintu rumah. Begitu Jongin berbalik untuk melihat Soojung, Jongin menunjukkan ekspresi terdinginnya pada gadis itu. Hal ini membuat Soojung jadi takut untuk mendekat.

“Jong, maafkan Eonni-ku. Dia tak bermaksud untuk-,”

“Kenapa kamu mengikutiku?” sela Jongin. Suaranya  terdengar begitu dingin di telinga Soojung. “Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk pulang?”

“Jong, aku-,”

“Sepertinya kamu mau membuat semua rumor itu menjadi sebuah fakta. Bahwa Kim Jongin yang sudah merusak prestasi si teladan Hanlim.”

Ucapan Jongin itu sukses membuat Soojung terkejut. Ia tak tahu kalau Jongin berpikiran seperti itu. Tapi Soojung tak menyerah. Ia harus meredam kekesalan Jongin. Ia pun mendekati Jongin. Tapi ucapan Jongin berikutnya membuat Soojung tak bisa menggerakkan semua syarafnya.

“Sepertinya adalah keputusan yang salah untuk menjadikanmu sebagai kekasihku. Hanya karena begitu mengagumimu, aku jadi berkeinginan untuk memilikimu. Setelah memilikimu, aku malah merusakmu. Gadis yang dulu kulihat begitu sempurna ketika aku memandanginya dari jauh, kini menjadi cacat setelah aku menyimpannya disampingku. Mulai sekarang, tak perlu lagi membalas budi. Aku anggap semua hutangmu lunas. Tak perlu lagi memikirkan bagaimana caranya untuk berterima kasih karena aku sudah menolongmu waktu itu. Aku melepaskanmu sekarang. Kamu bebas. Kembalilah ke duniamu yang dulu. Dunia dimana kamu tidak pernah berpapasan apalagi berbicara dengan Kim Jongin.”

Udara yang sudah begitu dingin, kini makin terasa dingin dengan hujan pertama di pertengahan musim gugur yang turun membasahi bumi. Ketika Jongin masuk ke dalam rumah dan menutup rapat pintu rumahnya, barulah Soojung tersadar dari keterkejutannya. Ia langsung mendekati pintu rumah Jongin, mengetuknya pelan, memanggil namanya, berharap si empunya rumah membukakan pintunya untuk Soojung –bukan hanya pintu rumah, tapi juga pintu hatinya.

Dan Soojung tak pernah merasa sepedih ini. Ia pernah merasakan putus cinta sebelumnya. Tapi untuk kali ini Soojung merasa begitu menyesakkan. Tidak diinginkan oleh Jongin rasanya begitu pilu dan menyesakkan.

.

.

.

Kali ini berita mengenai berakhirnya hubungan Jongin dengan Soojung beredar dengan begitu cepatnya. Bahkan belum ada 24 jam Jongin mengatakan pada Soojung untuk kembali ke kehidupannya yang dulu, kini seisi sekolah sudah bergunjing mengenai hal tersebut. ‘Jongin mencampakkan Soojung’, ‘Soojung tak tahan dengan tingkah Jongin dan meminta putus’, dan lain sebagainya yang Soojung sendiri tak tega mendengarnya. Sikap Jongin terhadap Soojung pun memperkuat semua spekulasi yang beredar.

Soojung masih merasa bersyukur. Setidaknya dua sahabatnya tidak mengikuti arus yang terjadi. Bukannya bertanya mengenai gosip yang beredar, mereka sibuk bercerita mengenai boyband yang sedang tenar saat ini. Hal itu membuat Soojung sedikit merasa tenang.

Sayangnya berita putusnya Soojung dengan Jongin ini membuat Minhyuk yang sempat hilang ditelan masa, kini kembali lagi ke hadapan Soojung.

“Lama tak bertemu, Soojung-ah,” sapa Minhyuk di suatu siang. Minhyuk menghampiri Soojung ketika gadis itu sedang menghabiskan istirahat siangnya di kantin bersama Jinri dan Sujie.

Soojung sendiri sama sekali tidak menggubris Minhyuk. Ia tetap melanjutkan makan siangnya tanpa menghiraukan kehadiran penyebab utama rusaknya hubungan Soojung dengan Jongin. Sejak pagi memang Soojung tidak banyak bicara, apalagi begitu tahu kalau seisi sekolah sudah mengetahui bahwa dirinya dicampakkan oleh Jongin. Bahkan raut khawatir Jinri dan Sujie tak ia hiraukan. Tak terkecuali dengan Minhyuk. Meskipun Soojung benci setengah mati dengan pemuda di hadapannya ini, tapi Soojung tak mau lagi membuang energinya untuk Minhyuk.

Suasana diantara Soojung dan Minhyuk benar-benar terasa sangat aneh. Hal ini membuat Jinri dan Sujie hanya bisa memandangi kedua temannya itu seraya bertanya-tanya apa yang terjadi diantara mereka. Keduanya benar-benar mengantisipasi apa yang akan terjadi nanti.

Are you feel free now (apa kamu merasa bebas sekarang)?” tegur Minhyuk.

Soojung akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap Minhyuk sinis. Bagaimana bisa pemuda itu hadir di hadapannya dan melontarkan pertanyaan tak bermutu seperti itu.

“Soojung-ah, nae yeojachingu dwaejullae (apa kamu mau menjadi pacarku)?”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

logo1

First story of DIFFERENT FAIRYTALE. “BEAUTY AND THE BEAST”

안녕!

JJEENG JJEENG!!! *ala sinetron*

Omona apa yang sudah saya perbuat?! Kenapa saya senang banget ngebully soojung?? Hastaga?! Yah, namanya juga seorang kakak, pasti seneng ngebully adek kesayangannya.. hehehe.. Dan apa yang terjadi!!! Minhyuk masih gencar minta soojung jadi pacarnya.. hohoho…

Bee ga tau nih apakah chapter depan merupakan chapter akhir ato bukan.. selain itu bee udah siap dengan dua judul baru (ga tau mana yg mau terbit duluan). So keep stay tune in beeplanet!!!!

lastly, thanks for your support!! u guys are my vitamin 🙂
안녕!! 뿅! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 다른 동화 (Different Fairytale) | Beauty and The Beast – Chapter 4 | PG15

11 thoughts on “FF – 다른 동화 (Different Fairytale) | Beauty and The Beast – Chapter 4 | PG15

  1. ah, aku jadi mau nangis /.\ *hug jongin*
    yang bikin nilai soojung turun itu bukan jongin, tapi minhyuk! si manusia pengganggu! ugh, keseel sama minhyuk!! >.<
    uh, kasian jongin, dia pasti ngelakuin hal itu karena mau melindungi soojung kan? T.T semoga soojung ngerti dan tetep percaya sama jongin :')
    yaudahlah, next dulu daripada aku makin kesel sama minhyuk._. hehe

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s