FF – 다른 동화 (Different Fairytale) | Beauty and The Beast – Chapter 3 | PG15


beauty-beast

Title : Different Fairy Tale

Subtitle : Beauty and The Beast – Chapter 3

Author : beedragon

Cast:

Krystal F(x) as Jung Soojung

Kai EXO as Kim Jongin

Other Cast:

Sulli F(x) as Choi Jinri

Suzy Miss A as Bae Sujie

Minhyuk CNBlue as Kang Minhyuk

Genre : Fluff, Romance, School Life

Length : Multichapter

Summary : Karena suatu kondisi, Si Cantik jadi harus terjebak dengan Sang Monster. Walaupun awalnya Si Cantik takut pada Sang Monster, tapi Si Cantik melihat bahwa hati Sang Monster jauh lebih lembut dan rapuh dibandingkan miliknya. Dan Si Cantik pun menyadari kalau ia perlahan-lahan menyukai Sang Monster

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Enchanted | F(x) – Gangsta Boy | Taylor Swift – Mean

Beauty and The Beast | Chapter 3

.

.

.

.

.

.

Sudah beberapa hari belakangan ini Soojung menghindari Minhyuk. Sejak kejadian di ruang osis tempo dulu, Soojung jadi canggung jika harus bertemu Minhyuk. Ia hanya akan bertemu dengan Minhyuk jika ada Sujie dan Jinri. Soojung tidak lagi berani pergi ke ruang osis sendirian, karena takut Minhyuk akan kembali meminta untuk jadi kekasihnya.

Terakhir kali Soojung bicara dengan Minhyuk adalah ketika Soojung menolaknya. ‘Gomawo, mianhae’ adalah kata-kata terakhir Soojung. Setelah mengucapkan kata-kata itu, Soojung langsung pergi meninggalkan Minhyuk. Beruntungnya Soojung tak pernah mendapatkan kesempatan berada berdua saja dengan Minhyuk sejak kejadian itu. Karena menghindari Minhyuk pula, Soojung jadi lebih banyak menghabiskan istirahat siangnya bersama Jongin di atap sekolah.

“Kamu jadi lebih sering menghabiskan waktu disini. Apa kamu sedang bermusuhan dengan teman-temanmu? Atau kamu terlalu merindukanku?” tanya Jongin di suatu siang. Keduanya duduk berdampingan di atas matras sambil memakan bekal yang dibawa Soojung.

“Hanya menghindari sesuatu,” sahut Soojung sambil mengunyah kimbapnya.

Soojung kembali mengingat ucapan Minhyuk. Soojung pikir, apa sebaiknya ia menceritakan masalah pengakuan Minhyuk tersebut pada Jongin. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, Soojung memutuskan untuk memendamnya dalam hati. Ia tak ingin Jongin kalap dan malah berakhir dengan memukuli Minhyuk –walau sebenarnya Soojung sendiri tak pernah benar-benar melihat Jongin memukuli orang, kecuali ketika ia menolong Soojung dari anak-anak Sungwon sebulan yang lalu.

“Kimbap ini enak. Beli dimana?” tanya Jongin.

“Aku yang membuatnya sendiri. Tadi pagi aku sengaja bangun lebih pagi untuk membuat kimbap ini,” sahut Soojung.

Soojung masih sibuk dengan kimbapnya sampai ia tak menyadari kalau Jongin sudah berhenti makan dan memilih untuk memandangi Soojung. Begitu kimbap di tangannya sudah habis, Soojung pun berpaling pada Jongin –yang memegang kotak bekal Soojung –untuk mengambil potongan kimbap yang lain. Barulah Soojung menyadari kalau Jongin sedang memandangi dirinya.

“Kenapa?” tegur Soojung salah tingkah.

“Aku seperti tidak mengenalmu,” ujar Jongin.

“Huh?” bingung Soojung.

“Kamu sepertinya sudah terlalu dalam terjerat dalam pesonaku, sampai-sampai kamu rela bangun pagi hanya untuk membuat bekal ini. Kamu begitu mencintaiku, huh?” goda Jongin.

Sontak saja wajah Soojung langsung merona. Ia tak tahu kalau niatnya membuat bekal malah membuat Jongin bersikap seperti ini. Jongin bahkan sudah membelai kepala Soojung, layaknya seorang ayah yang memberi penghargaan kepada putrinya. Tentu saja Soojung tidak mau mengakui ucapan Jongin. Sebab ia sendiri belum begitu yakin akan perasaannya pada Jongin.

“Hanya berusaha menjadi pacar yang baik,” sahut Soojung.

Soojung mendongakkan kepalanya menatap langit. Sebentar lagi musim panas akan segera berakhir, dan itu artinya resmi sudah sebulan hubungan Soojung dengan Jongin. Soojung masih belum paham betul dengan perasaannya sendiri terhadap Jongin ataupun perasaan Jongin terhadapnya. Tapi Soojung cukup menyukai hubungan mereka. Karena Jongin memberikan banyak kesenangan pada Soojung. Kesenangan dalam artian yang sebenarnya.

“Pacar yang baik ya?” gumam Jongin.

Soojung pun memalingkan wajahnya untuk melihat Jongin. Sering menghabiskan waktu bersama Jongin, membuat Soojung hafal betul dengan sifat Jongin. Jika ia sudah mulai bicara pada dirinya sendiri seperti ini, pasti ada sesuatu yang ia inginkan. Seperti ketika dulu Jongin berbicara pada dirinya sendiri –dan Soojung bisa mendengar jelas apa yang ia ucapkan– Jongin berakhir dengan meminta Soojung untuk menggenggam tangannya.

“Apa aku boleh meminta sesuatu?” tanya Jongin.

Benar saja dugaan Soojung, ada yang Jongin inginkan. Soojung pun mengiyakan permintaan Jongin. Biasanya Jongin tak pernah meminta sesuatu yang aneh. Hanya sebatas ‘bisakah nanti kita pergi ke Hongdae’ atau ‘bisakah kita pergi makan ddeokpokgi lagi besok’ atau ‘bolehkah aku memegang tanganmu’, hal-hal semacam itu. Soojung pun memandangi Jongin seraya mengantisipasi apa yang akan diucapkan Jongin.

“Bolehkah aku…,” ujar Jongin seraya mendekatkan badannya pada Soojung. Ia perlahan-lahan maju dan mendekatkan wajahnya pada Soojung.

Soojung tak tahu apa yang akan Jongin lakukan, tapi ia melihat kalau Jongin semakin dekat dan semakin dekat padanya. Soojung ingin menghindar, dan sayangnya tubuhnya saat ini kaku karena wajah Jongin kini hanya berjarak lima centimeter saja darinya. Soojung berusaha menghipnotis dirinya dengan berpikir kalau Jongin hanya ingin membisikkan sesuatu padanya. Tapi ucapan Jongin berikutnya membuat Soojung kehilangan fungsi syarafnya.

“…menciummu?”

Kedua bola mata Soojung sudah menyatu di tengah karena memandangi bibir Jongin yang sudah begitu dekat dengan miliknya. Soojung hanya bisa mematung. Sudah terlalu terlambat untuk menghindarinya, oleh sebab itu Soojung hanya bisa terdiam. Tidak tahu harus berbuat apa, Soojung pun memejamkan matanya.

Satu detik terasa seperti setengah jam. lima detik terasa seperti sepuluh jam. Entah sudah berapa jam Soojung memejamkan matanya dan Jongin belum juga melaksanakan ucapannya. Soojung tak berani membuka matanya. Ia juga tak tahu kapan semua ini akan segera berakhir. Soojung bahkan tak bisa mendengarkan apapun lagi selain suara debar jantungnya yang bertalu-talu. Soojung hanya bisa merasakan napas Jongin yang menyapa wajahnya.

Ding dong ding dong!

Bel pertanda istirahat siang sudah selesai pun berbunyi, memecah kesunyian yang mendadak terjadi di atap sekolah. Soojung pun membuka matanya dan ia melihat Jongin masih belum menjauhkan wajahnya dari Soojung. Setelah tiga detik yang sempurna, akhirnya Jongin pun mundur teratur. Soojung hanya bisa memandangi kekasihnya itu takjub –karena kini Jongin sudah senyam-senyum sendirian layaknya orang bodoh.

Gwiyeowo,” ujar Jongin seraya membelai puncak kepala Soojung. “Aku akan simpan itu untuk nanti. Cepat kamu kembali ke kelas sebelum aku mencurinya hari ini.”

Soojung pun bergegas merapikan kotak makannya dan segera meninggalkan atap sekolah. Soojung yakin wajahnya sudah memerah saat ini –bukan karena terbakar sinar matahari melainkan karena sikap Jongin tadi.

Berpacaran dengan Jongin seperti sedang menaiki wahana rollercoaster. Kamu akan merasakan naik-turun adrenalinmu karena setiap gerakan yang tak terduga dari Jongin.

.

.

.

“Akhirnya aku bisa bicara berdua saja denganmu, Soojung,” ujar Minhyuk setelah berhasil memojokkan Soojung.

Tadinya Soojung dan Jinri hendak pergi ke perpustakaan bersama. Tapi di tengah jalan, mereka berpapasan dengan Minhyuk. Dan kini Jinri sudah meninggalkan Soojung karena Minhyuk yang memintanya. Sungguh Soojung tak habis pikir dengan Jinri, karena ia dengan santainya meninggalkan Soojung padahal gadis itu sudah memohon agar ia tidak pergi. Segera saja Soojung menyusun kata-kata yang akan ia ucapkan pada Minhyuk.

“Ada apa lagi, Minhyuk? Bukankah posternya sudah kuselesaikan? Aku juga sudah merapikan proposalnya dan sekarang apa lagi yang harus aku lakukan?” kesal Soojung.

Minhyuk tampak menghela napas panjang. Ia terdengar seperti orang yang sudah putus asa dan menyerah saat ini. “Bisakah kita mengesampingkan mengenai proposal itu dan membahas mengenai proposalku terhadapmu?”

“Minhyuk, kalau mengenai itu yang ingin kamu bicarakan, aku sudah menegas-,”

“Kenapa kamu menolakku?” potong Minhyuk.

Minhyuk sudah menatap Soojung tajam, seolah ia mau menelan Soojung hidup-hidup. Soojung jadi kehilangan suaranya karena tatapan Minhyuk tersebut.

“Apa kamu tak tahu, betapa semua gadis ingin menjadi pacarku?! Kenapa kamu menolakku, Soojung?! Aku begitu mencintaimu dan inikah yang kudapatkan?! Sebuah penolakkan?!” geram Minhyuk.

“Tapi aku tak-,”

“Jangan bilang kalau kamu tak mencintaiku!” bentak Minhyuk.

Sungguh Soojung sama sekali tak mengenali Minhyuk saat ini. Ia tampak sangat berbeda dengan Minhyuk yang Soojung kenal dulu. Apakah karena sebuah penolakan dari Soojung, Minhyuk sampai mengalami perubahan drastis dalam hidupnya? Ataukah memang inilah sifat sesungguhnya dari seorang Kang Minhyuk? Soojung hanya bisa memandangi Minhyuk takjub. Bahkan rasa takut yang tadi sempat datang karena Minhyuk menahannya, kini sudah hilang digantikan oleh rasa takjub dan kasihan.

Minhyuk menghela napas panjang dan mengatur emosinya. Ia kini sudah mengumbar senyum khasnya pada Soojung. “Apa yang kurang dariku, Soojung? Agar aku bisa memperbaikinya untukmu. Aku bisa menjadi lelaki idamanmu. Katakan padaku. Apa saja. Asalkan kamu tidak menolakku, aku akan melakukan apa saja untukmu,” pinta Minhyuk.

Soojung jadi makin miris melihatnya. Minhyuk yang begitu dipuja banyak gadis, bukan hanya siswi Hanlim saja melainkan siswi-siswi dari sekolah lain, kini tampak begitu menyedihkan. Tapi Soojung bisa apa? Ia tak bisa menerima Minhyuk begitu saja. Tidak disaat Jongin sudah terlebih dahulu mengisi hatinya.

“Pikirkan lagi, Soojung. Jika kita bersama, kita akan menjadi pasangan paling serasi. Kang Minhyuk, sang presiden Hanlim memacari Jung Soojung, siswi teladan Hanlim yang merupakan wakilnya. Betapa akan ada begitu banyak orang yang merestui kita. Pikirkan itu, Soojung. Aku tahu, di hatimu yang terdalam, kamu pasti memiliki rasa padaku ‘kan?” bujuk Minhyuk.

Pasangan serasi? Seluruh dunia merestui hubungan mereka? Tapi kalau Soojung tidak merasa bahagia dengannya, apa Soojung tetap harus menerima Minhyuk? Jika ia menerima Minhyuk, apa Minhyuk juga bisa memberikan senyuman di diri Soojung seperti yang sudah Jongin lakukan selama sebulanan ini? Apa Minhyuk bisa menyentuh hatinya dengan semua hal sepele seperti yang sering Jongin lakukan? Apa Minhyuk bisa semanis Jongin?

Soojung mengakui jika Minhyuk jauh lebih sempurna dibandingkan Jongin. Minhyuk tampan, pintar, cukup atletis, memiliki perangai baik, kalimatnya juga baik, sopan terhadap siapapun dan segala sifat baik lainnya. Tapi lihatlah ia sekarang. Bahkan belum berpacaran saja, ia sudah membentak Soojung, bagaimana jika mereka berpacaran nanti? Mungkin Soojung akan habis dicaci maki olehnya. Bahkan Jongin yang tempramen itu saja tak pernah membentaknya seperti yang sudah Minhyuk lakukan ini.

Jeongmal joesonghamnida (maaf),” hanya itu yang bisa Soojung katakan padanya.

Soojung mendengar Minhyuk mendengus padanya. “Selama ini aku yang selalu menolak gadis-gadis yang datang padaku, tapi kamu dengan enaknya bilang maaf?!”

“Kalau begitu aku jadi gadis pertama yang membuatmu merasakan bagaimana rasanya ditolak, Minhyuk,” sahut Soojung.

Minhyuk tampak terkejut mendengar ucapan Soojung tersebut. Harga dirinya tentu dipertaruhkan disini. Ia tak terima Soojung menolaknya dua kali.

“Aku akan melakukan apapun agar kamu bisa menerimaku, Soojung,” tekad Minhyuk. “Aku akan mencari cara untuk membuatmu bertekuk lutut padaku. Kita lihat saja, apa kamu masih bisa menghindariku atau tidak.”

Kemudian Minhyuk pergi.

Soojung sudah mematung memandangi punggung Minhyuk yang sudah menjauh. Apa Minhyuk baru saja mengancamnya? Soojung sungguh tak habis pikir akan sikap Minhyuk ini. Minhyuk yang ia lihat sekarang ini justru lebih menakutkan dibandingkan Jongin yang katanya adalah seorang preman.

.

.

.

“Kita mau kemana sore ini, Jung?” tanya Jongin.

Keduanya baru saja pulang sekolah. Dan seperti hari-hari biasanya, sepulang sekolah mereka pasti akan bermain dulu ke suatu tempat sebelum pulang  ke rumah.  Biasanya mereka akan pergi ke game center atau ke internet cafe. Tapi Soojung sudah sangat bosan pergi ke tempat-tempat itu.

“Hei, Jung,” tegur Jongin ketika Soojung tak kunjung mengeluarkan suaranya.

Soojung yang sedari tadi memikirkan ancaman Minhyuk, menoleh ke arah Jongin. Pemuda itu masih berjalan di sampingnya sambil menatap lurus ke depan dan Soojung sangat mengagumi figur Jongin dari sisi ini. Jongin bukanlah pemuda yang tampan, dia tidak masuk dalam kategori tampan menurut Soojung. Tapi Jongin memiliki karisma dan itulah yang membuat Soojung selalu mengaguminya.

Masih sambil menatap lurus ke depan Jongin sudah mengulurkan tangannya pada Soojung. “Ini sudah jauh dari lingkungan sekolah, Jung,” katanya. Dan Jongin pun menoleh untuk menunjukkan senyumannya pada Soojung.

Soojung mengerti maksud Jongin. Ia pun menyambut tangan Jongin dan dengan seketika jarak di antara mereka yang cukup kentara tadinya kini sudah terhapus karena Jongin sudah menarik Soojung ke sisinya. Kembali Soojung merasa seperti ada sengatan listrik berkekuatan rendah ketika ia bersentuhan dengan Jongin dan Soojung menyukai sensasi itu. Soojung memandangi tangan mereka yang saling bertautan sambil mengulas senyum tipis.

Soojung menyukai segala hal yang Jongin lakukan padanya. Soojung menyadarinya. Ia sangat menyadari kalau dirinya perlahan-lahan menyukai Jongin. Karena Jongin selalu membuatnya nyaman dengan apapun yang ia lakukan pada Soojung.

“Kamu kalau liburan biasanya pergi kemana?” tanya Jongin.

Soojung tampak berpikir sejenak. Rasanya sudah cukup lama ia tak pergi liburan, baik sendiri maupun bersama keluarga. Jadi Soojung tak ingat persis kapan terakhir kali ia pergi liburan. Ia juga tak memiliki banyak kenangan mengenai tempat-tempat liburan yang dulu pernah ia datangi.

“Dulu, sewaktu kecil, ketika musim panas biasanya keluargaku pergi ke pantai. Ketika musim gugur, kami akan pergi kemping. Ketika musim semi, kami akan pergi piknik. Ketika musim dingin, biasanya kami akan berkumpul di rumah menikmati salju yang turun.” Kemudian Soojung terdiam. Ia baru menyadari kalau ia sudah tak pernah lagi menantikan musim panas hingga musim dingin. Soojung baru menyadari kalau ia tak pernah lagi pergi liburan dengan keluarganya. Soojung baru menyadari kalau ia sudah sangat jarang berkumpul bersama keluarganya.

Soojung kini sudah berhenti berjalan. Pikirannya kembali melayang, memikirkan keluarganya yang sepertinya semakin individualis sejak ayahnya menjadi profesor di sebuah universitas ternama di Korea. Soojung mengingatnya, sejak saat itu, Soojung tak pernah lagi merasakan yang namanya kebebasan. Sebab ayahnya selalu menekankan pada Soojung dan kakaknya untuk belajar agar menjadi pintar. Sejak saat itu Soojung tak pernah menjalani harinya dengan rasa bahagia. Karena semua yang ia jalani hanyalah sebuah rutinitas dan kewajiban yang dipaksakan, sama sekali tak ada kenikmatan di setiap kegiatan yang ia jalani.

“Jung?” tegur Jongin.

Soojung pun tersadar dari lamunannya. Ia memandangi Jongin yang kini tampak khawatir. “Mian (maaf), aku melamun lagi.”

Tapi Jongin tak menerima alasan Soojung itu. Jongin pun menepuk bahu Soojung seraya menebar senyum khasnya. “Bagaimana kalau minggu depan kita pergi liburan? Bukankah sebelum ujian, kita mendapatkan libur sehari, di hari Sabtu?”

Soojung cukup terkejut dengan tawaran Jongin tersebut. Pantas saja Jongin bertanya mengenai liburan ala Soojung, rupanya ia ingin mengajak Soojung pergi liburan. Mendadak Soojung merasa galau. Sebab Jongin mengajak pergi liburan sehari sebelum ujian. Sementara Soojung masih harus belajar untuk ujian.

“Kamu boleh membawa buku. Aku tidak melarang kamu untuk belajar. Anggap saja kita sedang belajar bersama sambil berlibur?” ujar Jongin lagi.

Soojung hanya bisa menyetujuinya. Kapan lagi ia bisa pergi liburan seperti ini. Meskipun tidak tahu mau pergi kemana dengan Jongin, tapi Soojung sudah merasa sangat bersemangat.

.

.

Soojung tidak berharap banyak mengenai liburannya bersama Jongin. Tidak, Soojung tidak berharap Jongin akan membawanya ke pantai meskipun di malam sebelum mereka pergi, Jongin sempat bertanya mengenai pantai yang bagus pada Soojung. Soojung benar-benar tidak berharap Jongin akan membawanya ke pantai sebab ia tahu untuk bisa sampai ke pantai terdekat setidaknya mereka harus menempuh perjalanan selama tiga jam menggunakan mobil pribadi. Soojung sama sekali tidak berharap Jongin akan membawanya ke pantai.

Tapi tak pernah terpikir oleh Soojung kalau Jongin akan membawanya ke tempat ini.

“Aku punya alasan khusus kenapa aku memilih sungai Han sebagai tempat liburan. Di sisi ini merupakan sisi terlebar dari sungai Han. Jadi jika kamu melihat ke arah seberang sungai, kamu hampir tak bisa melihat ujungnya dan setidaknya sedikit terlihat seperti laut. Selain itu, disini juga ada pasirnya di pinggiran sungai, jadi cukup terasa seperti di pantai. Dan disini cukup sepi, jadi kamu bisa belajar dengan tenang,” ujar Jongin dalam satu tarikan napas.

Soojung tidak kecewa dengan pilihan Jongin. Hanya saja ini membuat Soojung benar-benar berpikir kalau ia sama sekali tak bisa menebak jalan pikiran Jongin. Sama sekali tak terpikir oleh Soojung kalau Jongin akan membawanya ke tempat sederhana seperti ini. Dan jujur saja, Soojung suka dengan pilihan Jongin ini. Soojung yang sedari tadi memandangi ke sekeliling pinggiran sungai Han, akhirnya memalingkan wajahnya untuk menatap Jongin.

“Apa..kamu tidak suka dengan tempatnya? Atau mungkin sebaiknya kita pergi ke perpustakaan untuk menemanimu belajar,” khawatir Jongin. Raut kekecewaan nyaris menghiasi wajahnya.

Soojung pun tersenyum tulus pada Jongin seraya meraih tangannya. “Neomu joha (sangat suka).”

Soojung pun langsung menarik Jongin untuk mencari tempat istirahat yang nyaman. Pilihan mereka jatuh pada pohon mapel yang masih begitu hijau daunnya. Mereka duduk di bawah pohon tersebut. Berhubung tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika sedang liburan, Soojung memilih untuk membuka buku pelajaran yang dibawanya. Sementara Jongin, ia memilih untuk tiduran di samping Soojung.

Cukup lama Soojung larut dalam dunianya, sampai akhirnya ia sadar kalau Jongin yang tadinya tertidur pulas di sampingnya kini sudah bangun dan duduk di hadapan Soojung sambil menatapnya intens.

“Jung, aku mau buat pengakuan padamu,” ujar Jongin tiba-tiba.

Soojung sudah menurunkan bukunya dan memadangi Jongin dengan sedikit kekhawatiran. Mendengar Jongin yang mendadak serius ini membuat jantung Soojung nyaris berhenti berdetak. Ia pikir mungkin Jongin akan mengaku kalau ia habis berkelahi atau melakukan hal-hal buruk lainnya. Ia juga sempat berpikir kalau Jongin akan bilang bahwa hal diantara mereka akan segera berakhir. Hanya memikirkannya saja sudah membuat napas Soojung sesak. Dan Soojung merasa ia belum siap mendengar apapun pengakuan dari Jongin saat ini.

“Aku tak pernah begitu menyukai sekolah. Bagiku sekolah adalah tempat yang sangat membosankan dan aku tak pernah cocok dengan sekolah dimanapun juga. Terus keluar masuk berbagai sekolah sampai akhirnya aku terdampar di Hanlim,” cerita Jongin.

Mendengar cerita Jongin ini setidaknya membuat Soojung sedikit lega. Karena Jongin tidak mengutarakan hal-hal buruk yang ada di pikiran Soojung. Tapi mendengar cerita Jongin mengenai masa lalunya itu membuat Soojung merasa prihatin. Soojung tahu mengenai kisah Jongin yang selalu dikeluarkan oleh sekolah-sekolah sebelumnya. Bahkan menurut Jinri, Hanlim merupakan sekolah ke sepuluh yang di singgahi Jongin sepanjang perjalanannya menuntut ilmu. Soojung ingat, Jongin masuk ke Hanlim di pertengahan semester kelas dua. Kala itu Jongin masuk ke kelas yang sama dengan Soojung –dan terus sampai akhirnya mereka duduk di kelas tiga.

“Sejak masuk Hanlim, aku menemukan alasan kenapa aku harus masuk sekolah. Ada sesuatu di kelas yang membuatku betah duduk berlama-lama sambil mendengarkan ocehan para guru. Kamu tahu posisi dudukku di kelas kan? Ada alasan khusus kenapa aku suka duduk disana. Karena dari posisi itu, aku bisa melihat pemandangan paling indah di Hanlim,” ujar Jongin.

Soojung kembali berpikir, pemandangan seperti apa yang Jongin maksud. Karena jika melihat dari posisi duduk Jongin yang ada di pojok belakang kelas dekat pintu sama sekali tidak ada pemandangan spesial. Jika pemandangan yang dimaksud adalah hamparan rumput dari lapangan di tengah-tengah sekolah, maka Jongin seharusnya duduk di pojok dekat jendela luar, bukannya di samping pintu keluar dengan koridor di sisi lainnya.

“Dari tempatku duduk, jika aku menoleh ke arah jam sepuluh, maka aku bisa melihat siswi teladan Hanlim yang tampak begitu serius belajar. Dan dia berhasil membuatku rajin datang ke sekolah. Aku suka memandanginya ketika ia sedang serius belajar. Favoritku adalah ketika ia sedang menulis atau membaca buku sambil mengaitkan semua rambut di sisi kanannya ke belakang telinga seperti ini,” ujar Jongin seraya mengaitkan rambut Soojung ke belakang telinga kanannya. “Dan membiarkan semua rambutnya jatuh ke sisi kirinya. Bagiku dia terlihat begitu sempurna.”

Soojung hanya bisa terdiam. Ia tidak mau menebak-nebak lagi jalan cerita Jongin. Karena sepertinya ia tahu kalau yang Jongin bahas saat ini adalah dirinya. Siapa lagi yang mendapat julukan siswi teladan Hanlim selain Jung Soojung?

“Apa kamu tahu? Ketika ia tiba-tiba mendatangiku tujuh minggu yang lalu dan mengatakan kalau ia ingin berterima kasih karena aku sudah menolongnya dari gangguan anak Sungwon yang kurang ajar itu, rasanya seperti ada popcorn yang meletup-letup di dalam diriku. Kupikir karena ini adalah kesempatan langka untuk bisa bicara dengannya, aku pun mencari-cari alasan agar aku bisa tetap terus berbicara dengannya. Kupikir itu adalah kesempatan pertama dan terakhirku. Saat itu juga aku memintanya menjadi pacarku. Dengan sedikit menekannya, aku pun berhasil mendapatkannya. Agak licik memang, tapi jika aku tak melakukannya, maka aku tidak akan bisa mendapatkannya di sisiku seperti saat ini. Sejak saat itu aku merasa kalau hari-hariku jadi lebih sempurna,” Jongin pun menutup ceritanya.

Jongin sudah menatap Soojung intens, seolah ingin mengutarakan semua perasaannya melalui tatapannya. Soojung benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Ia juga tak tahu harus berkomentar apa atas pengakuan Jongin. Soojung akhirnya hanya tetap terdiam memandangi Jongin penuh haru.

“Aku mungkin bukan pria idamanmu yang akan selalu mengutarakan perasaannya lewat kata-kata. Menceritakan apa yang aku rasakan terhadapmu seperti ini saja merupakan kemajuan besar bagiku. Jadi aku mau minta maaf, jika aku tak bisa menghujanimu dengan kata-kata cinta layaknya seorang kekasih pada umumnya. Tapi aku ingin kamu tahu, meskipun aku tak mengucapkannya, kuharap kamu bisa merasakannya dari setiap perlakuanku padamu. Betapa aku sangat memujamu,” ujar Jongin tulus.

Rasanya Soojung ingin menangis saat ini juga. Ia tak pernah melihat seseorang begitu tulusnya memperhatikan dirinya seperti Jongin ini. “Oh, Jong, maafkan aku,” ujar Soojung merasa bersalah.

Reaksi Soojung ini membuat Jongin sedikit terkejut –khawatir lebih tepatnya. Apalagi kini Soojung sudah menggenggam tangan Jongin erat.

“Jika kamu mengharapkan reaksi manis seorang kekasih pada umumnya, maka kamu tidak akan mendapatkan itu padaku. Aku bukanlah gadis yang mudah menunjukkan emosi dan perasaannya. Semua orang memanggilku dengan ‘ice princess’ yang maksudnya adalah aku terlalu dingin untuk mereka. Tapi kuharap kamu mengerti, meskipun aku diam tapi aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Ahh, mungkin belum sama, tapi hampir sama. Oh Tuhan, ini adalah kalimat terpanjang yang pernah aku ucapkan padamu, Jong,” ujar Soojung malu.

Soojung kini sudah menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia benar-benar malu saat ini. Ia bahagia sekaligus malu. Soojung bahagia karena ia akhirnya mendengar sendiri pengakuan Jongin mengenai perasaannya. Dan Soojung malu karena ia tak bisa mengutarakan perasaannya seperti yang selalu Jongin lakukan padanya. Soojung kini yakin, kalau hubungan mereka bukanlah sekedar balas budi saja. Karena kini Soojung sudah mulai menyukai Jongin.

Soojung merasa kalau Jongin kini sudah menarik dagu Soojung perlahan agar gadis itu mengangkat wajahnya. Melihat senyum tulus Jongin membuat Soojung secara otomatis ikut tersenyum bersamanya.

“Boleh aku memelukmu?” Seperti biasa, jika ia ingin melakukan sesuatu pada Soojung, Jongin pasti akan meminta persetujuan dulu dari Soojung. Ketika Soojung menganggukan kepalanya –yang terlihat seperti ia kembali menundukkan kepalanya– Jongin pun memeluk Soojung. “Terima kasih karena sudah mau menerimaku yang sederhana ini untuk menjadi pacarmu. Aku tak bisa meminta lebih. Aku akan berusaha menjadi pacar yang baik untukmu, Jung.”

Tidak tahu harus menjawab apa, Soojung hanya bisa membalas pelukan Jongin.

.

.

.

Ujian tengah semester pun tiba. Soojung masih membuka-buka buku catatannya meskipun ia sudah hapal semua isi bukunya tersebut. Sesekali ia melirik ke arah Jongin yang juga tampak memegang buku –entah ia membacanya atau tidak. Setelah Soojung meminta Jongin agar kekasihnya itu mau belajar, Jongin pun menuruti keinginan Soojung. ‘Aku ingin kita bisa lulus bersama’ berkat permintaan Soojung tersebut, Jongin akhirnya mau menyentuh buku. Soojung cukup bangga melihatnya.

Soojung pikir, hari-harinya akan damai setelah ini. Soojung pikir perjalanannya bersama Jongin akan mulus tanpa cobaan menghadang. Tapi apa yang Soojung pikir itu salah.

Tepat sepuluh menit sebelum ujian dimulai, Kang Minhyuk datang ke kelas Soojung untuk mencarinya. Seolah tak ada hari esok, Minhyuk meminta Soojung untuk ikut bersamanya.

“Ikut aku sebentar,” titahnya.

Soojung tak menghiraukannya. Ia tetap fokus pada catatan yang dibacanya sampai akhirnya Minhyuk menarik tangan Soojung, barulah gadis itu berpaling dari bukunya.

“Kelas sebentar lagi dimulai, Minhyuk. Nanti saja kalau ujiannya sudah selesai,” sela Jinri ketika melihat betapa Minhyuk cukup ngotot menarik Soojung keluar.

Tapi Minhyuk tak mendengarkan protes Jinri dan langsung menarik Soojung keluar kelas. Sebelum keluar, Soojung sempat melirik ke arah Jongin untuk melihat reaksinya. Jongin tampak geram –tentu saja, apalagi reaksi yang Soojung harapkan darinya. Dan ketika Soojung berpaling pada Minhyuk, Soojung sempat melihat Minhyuk seolah sedang menantang seseorang dengan senyumannya –seseorang dari arah yang tadi Soojung tuju.

Tak mungkin Minhyuk menantang Jongin, bukan?

Minhyuk membawa Soojung ke ruang osis. Setelah menutup rapat pintu ruang osis, Minhyuk mengeluarkan beberapa lembar kertas yang diketahui sebagai kumpulan foto. Soojung berusaha keras mempertahankan ekspresi wajahnya begitu melihat foto yang diberikan Minhyuk.

Minhyuk memiliki foto-foto saat Soojung sedang bersama Jongin, lebih tepatnya foto ketika mereka berdua piknik di sungai Han.

You’re really emotionless, Miss Jung (kamu benar-benar tak memiliki emosi, Nona Jung),” ujar Minhyuk.

So what (lalu apa)?” tanya Soojung datar.

Minhyuk terdengar mendengus karena reaksi Soojung tersebut.

“Sepertinya kamu tak sadar akan posisimu sekarang, Soojung,” ejek Minhyuk. “Aku mungkin akan lebih bisa menerimanya jika alasanmu menolakku adalaj karena kamu mau fokus belajar. Tapi jika dia adalah alasanmu, maka aku tak bisa tinggal diam.”

Soojung hanya diam mendengarkan ocehan Minhyuk. Walau dalam hati Soojung berpikir keras akan cara-cara untuk menghindari semua ancaman minhyuk. Ia tak ingin Minhyuk melihat kelemahannya.

“Aku akan mencari cara agar makhluk itu tidak berkeliaran lagi di hadapanku. Kudengar jika Kepala Sekolah tahu kalau ia berkelahi lagi, maka ia akan dikeluarkan dari Hanlim. Silakan kamu bayangkan, jika aku memiliki foto-foto ini, maka foto-foto mengerikan apalagi yang kumiliki, Soojung?”aku memiliki foto sebelum dan sesudah kejadian tersebut.”

Mendadak tubuh Soojung jadi kaku. Jika Minhyuk melihat Soojung berpelukan dengan Jongin,berarti Minhyuk pasti melihat adegan Jongin sedang berkelahi dengan preman jalanan yang mengganggu Soojung saat Jongin meninggalkan Soojung sejenak. Soojung kini hanya bisa memandangi Minhyuk tak percaya.

“Apa yang akan kamu lakukan?” tuding Soojung.

Minhyuk tersenyum penuh kemenangan. “Pertanyaannya adalah apa yang akan kamu lakukan, Jung Soojung?”

Kemudian Minhyuk pergi meninggalkan Soojung yang masih mematung.

Bahkan ketika Soojung sudah kembali ke kelasnya, Soojung masih belum bisa memikirkan hal lain selain ancaman Minhyuk. Saat soal ujian sudah tersaji di hadapannya pun, Soojung sama sekali tak menyentuhnya. Ia hanya menadangi lembar jawabannya yang kosong itu, berharap pencerahan dari ancaman Minhyuk mendadak mucul disana

Kini Soojung merasa seperti sedang memegang buah simalakama, dimana jika ia memakannya makan Jongin akan mati, sementara jika ia tidak memakannya maka ia yang akan mati.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

logo1

First story of DIFFERENT FAIRYTALE. “BEAUTY AND THE BEAST”

안녕!

God!! Why did i make Minhyuk so horrible in this chapter?!! Pleas forgive me! Bee sebenarnya adalah shipper berat Chanyoung-Bona *bee ngsehip Chanyoung sama Bona, tapi bee ga ngeship Minhyuk sama Klee hehe*, tapi karena ini adalah FF Kaistal, maka Chanyoung-Bona harus mengalah.

Maaf karena sudah mengabaikan ff ini selama setahun (akhir desember 2013 dan baru dilanjut pertengahan januari 2014 #LOL). Bee stuck gegara mikirin maincast buat fiksi Snow white and the dwarf. Jadi bee mau buka pooling disini!! Siapa yang cocok buat meranin karakter Snow White (Harus yg putih bening) serta karakter dwarf-nya (kurcacinya ga musti pendek ya) serta prince charmingnya.

  • Suzy (Miss A), L (Infinite), Baekhyun (EXO)
  • Dasom (Sistar), L (Infinite), Ken (Vixx)
  • Minah (Girl’s Day), D.O. (EXO), N (Vixx)

oke.. ditunggu partisipasinya!!!! kl mau ada usul untuk maincast di serial ‘different fairy tale’ yg lain juga ditunggu, tinggalkan komen di teasernya yah

ahh bee lupa!!!! double birthday!!!! Do Kyungsoo and Kim Jongin!!! 생일 축하해!!  happy birthday to my little dwarf and my gangsta boy!!! love u guys!!

lastly, thanks for your support!! u guys are my vitamin 🙂
안녕!! 뿅! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 다른 동화 (Different Fairytale) | Beauty and The Beast – Chapter 3 | PG15

17 thoughts on “FF – 다른 동화 (Different Fairytale) | Beauty and The Beast – Chapter 3 | PG15

  1. minhyuk so disturb! kesel deh sama minhyuk disini! gatau apa kalo jongin udah mulai berubah jadi lebih baik gegara soojung? ugh! >.<
    ah, aku harap soojung ga milih keputusan yang salah, apalagi sampe ninggalin jongin, oh no! /.\
    next dulu deh~

  2. Reader says:

    Untuk snow white : Suzy (Miss A), L (Infinite), Baekhyun (EXO) menurut aku sih, tapi terserah author saja…
    Ahhhh! Jangan dong,,,jangan pergi dong Soojung, sudah so sweet begini…pengen nangis nih.. T-T
    Minhyuk di sini jahat…perfeksionis dan tidak mau kalah, memangnya kenapa kalau Jongin yang pacaran sama Soojung, Soojung gembira tuh!
    Doooh, si Minhyuk ganggu!

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s