FF – 다른 동화 (Different Fairytale) | Beauty and The Beast – Chapter 2 | PG15


beauty-beast

Title : Different Fairy Tale

Subtitle : Beauty and The Beast – Chapter 2

Author : beedragon

Cast:

Krystal F(x) as Jung Soojung

Kai EXO as Kim Jongin

Other Cast:

Sulli F(x) as Choi Jinri

Suzy Miss A as Bae Sujie

Minhyuk CNBlue as Kang Minhyuk

 

Genre : Fluff, Romance, School Life

Length : Multichapter

Summary : Karena suatu kondisi, Si Cantik jadi harus terjebak dengan Sang Monster. Walaupun awalnya Si Cantik takut pada Sang Monster, tapi Si Cantik melihat bahwa hati Sang Monster jauh lebih lembut dan rapuh dibandingkan miliknya. Dan Si Cantik pun menyadari kalau ia perlahan-lahan menyukai Sang Monster

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Enchanted | F(x) – Gangsta Boy

Beauty and The Beast | Chapter 2

.

.

.

.

.

.

Matahari bahkan belum bersinar sempurna pagi ini, tapi Soojung sudah membuka matanya lebar-lebar. Soojung tak bisa tidur nyenyak semalam. Ia terus-terusan mimpi buruk. Mimpi terjebak di sebuah menara bersama seekor monster yang begitu mengerikan serta berusaha mencari jalan keluar dari menara tanpa pernah menemukan pintu keluar. Soojung pun berakhir dengan terus terjaga sampai matahari menyapanya.

Soojung berusaha mereka ulang kejadian semalam, dimana ia menghabiskan waktunya bersama Kim Jongin. Kemarin mereka merayakan hari pertama mereka ‘jadian’ dengan pergi ke sebuah warung kaki lima dan mencoba ddeokpokgi. Soojung ingat persis bagaimana Jongin memperlakukannya dengan penuh perhatian, layaknya kekasih sungguhan.

~`~

“Kamu tahu ddeokpokgi?” tanya Jongin ketika Soojung sudah berhenti merajuk.

Soojung hanya memandangi Jongin bingung. Tentu saja ia tahu apa itu ddeokpokgi. Tapi Soojung tetap mengangguk menjawab pertanyaan Jongin.

“Bagus. Karena kita akan makan itu hari ini. Kamu mau?”

Soojung nyaris tertawa mendengar ucapan Jongin tersebut. Hanya karena ingin mengajaknya makan ddeokpokgi saja ia sampai harus berputar-putar arah bicaranya. Soojung merasa kalau ini adalah salah satu sisi manis Jongin, dimana ia tidak langsung menyampaikan maksudnya melainkan membiarkan lawan bicaranya untuk berpikir apa yang Jongin inginkan.

Keduanya lalu pergi ke sebuah kedai ddeokpokgi tak jauh dari sekolah mereka. Soojung sendiri tak pernah mampir ke kedai ini. Dibandingkan dengan sebutan kedai yang bentuknya adalah sebuah bangunan kecil dengan atap, dinding, dan lantai, kedai yang mereka datangi ini lebih seperti sebuah tenda dengan gerobak tanpa roda yang terletak di salah satu gang pertokoan. Soojung memandangi kedai ini dari ujung atas hingga ujung bawah. Meskipun ini termasuk dalam kategori warung kaki lima, tapi warung ini cukup bersih.

“Satu porsi ddeokpokgi, Ahjumma,” pinta Jongi pada Ahjumma pemilik kedai.

Begitu makanan dari kue beras tersebut tersaji di hadapannya, Soojung hanya bisa merengut. Bukan karena jijik atau apa, tapi ia melihat betapa merahnya bumbu ddeokpokgi itu. Soojung sudah bisa merasakan betapa pedasnya makanan tersebut. Sebagai seseorang yang tidak terlalu menyukai makanan pedas, Soojung hanya bisa memandangi makanannya.

Jongin yang menyadari kalau Soojung tak menyentuh makanannya pun jadi khawatir. “Kenapa? Kamu tak suka? Atau karena tempatnya? Tenang saja, tempat ini bersih kok. Aku berani jamin.”

Soojung akhirnya menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Jongin. “Ini merah sekali. Pasti pedas. Aku tak bisa makan makanan yang pedas.”

Jongin hanya membulatkan mulutnya seraya mengucapkan ‘o’ yang cukup panjang. Kemudian Jongin mengambil mangkuk milik Soojung, lalu ia mencelupkan satu persatu ddeokpokgi ke dalam segelas air –seperti sedang membilas kue berasnya. Setelah tidak ada lagi bumbu merah yang menempel di kue berasnya, barulah Jongin menaruhnya di mangkuk milik Soojung.

“Sekarang sudah bisa dimakan, kan? Kalau masih terasa pedas, bilang padaku. Akan kubelikan susu untuk mengurangi rasa pedasnya,” katanya –sambil memamerkan senyum khasnya.

Soojung hanya bisa terbengong-bengong melihatnya.

~`~

Soojung kembali berpikir, apa benar Jongin memang menyukainya.

“Soojung, apa kamu sudah bangun, nak?” tegur ibunya yang sudah menyembulkan kepalanya di balik pintu kamar Soojung.

Soojung pun beranjak dari kasurnya untuk menghampiri ibunya. Belum sempat ia mengucapkan selamat pagi, sang ibu sudah lebih dulu menyelanya.

“Bagaimana sekolah? Kapan ujiannya? Ingat pesan Appa, Soojung. Kamu harus mendapat nilai bagus. Semalam Appa menelepon, bertanya bagaimana keadaanmu, apa kamu belajar dengan rajin. Tentu saja Eomma bilang kalau kamu sedang ada di sekolah untuk mengikuti kelas malam. Nanti malam Appa akan pulang. Tak apa-apa kalau kamu tak bisa pulang cepat. Karena Eomma tahu kalau kamu harus ikut kelas tambahan hari ini, bukan?” cerocos ibu Soojung.

Ibu Soojung kini sudah menyiapkan seragam Soojung dan mendorong putri bungsunya itu ke kamar mandi seraya berpesan agar Soojung cepat mandi dan pergi sarapan. Begitu sang ibu pergi, Soojung hanya bisa menghela napas panjang.

Another perfect morning, gerutu Soojung.

.

.

Ceramah ibunya pagi ini membuat mood Soojung benar-benar buruk. Ia bahkan berangkat sekolah tanpa menyentuh sarapannya. Sebab Soojung tahu, jika ia mampir ke ruang makan untuk sarapan, maka ia akan mendapatkan ‘ceramah pagi season dua’ oleh ibunya. Keluarganya selalu menekannya untuk bersekolah yang rajin agar mendapatkan nilai bagus. Apalagi sekarang Soojung sudah berada di tahun terakhir pendidikannya. Karenanya orang tua Soojung selalu mengingatkannya untuk terus belajar dan belajar. Mereka bahkan tak peduli bagaimana perasaan Soojung ketika ia harus mengikuti semua pelajaran tambahan itu.

“Kenapa dengan wajahmu itu, pacar?” teguran itu menyadarkan Soojung dari lamunannya.

Ketika Soojung menoleh, ia mendapati Jongin sudah berdiri gang utama perumahan Soojung. Melihat sosok Jongin justru malah membuat wajah Soojung makin mengkerut. Ia belum mau menambah rusak paginya dengan semua tingkah Jongin.

“Bukankah kita sepakat kalau hal mengenai pacaran ini menjadi rahasia kecil kita saja? Kenapa kamu memanggilku seperti itu di tempat umum, di dekat rumahku. Apa sekarang kamu mau mendeklarasikan pada semua orang kalau kamu adalah pacarku?” gerutu Soojung.

“Lalu aku harus memanggilmu apa? Seingatku kamu sendiri tak pernah memanggil namaku,” sahut Jongin acuh.

Soojung berhenti melangkah untuk memandangi Jongin. “Aku pernah menyebut namamu, kemarin, ketika kamu bertanya siapa namamu. Sepertinya kamu yang tak tahu siapa namaku sampai kamu terus menerus memanggilku dengan sebutan pacar,” sahut Soojung.

Soojung merasa menang sekarang. Yah, setidaknya pagi ini ia tidak merasa terlalu kelam karena ia berhasil mematahkan ucapan Jongin –tentu saja dengan cara yang selalu Jongin lakukan padanya. Soojung berusaha keras menahan senyum kemenangannya.

“Kalau begitu kamu mau aku memanggilmu dengan apa? Asal bukan dengan jagiya, aegiya, dan semacamnya. Itu menggelikan,” sahut Jongin. “Tentu saja aku tak bisa memanggilmu dengan Soojung. Karena semua orang akan tahu kalau Soojung adalah kamu. Bagaimana menurutmu?”

“Terserah,” sahut Soojung acuh. Memangnya pacar tidak semenggelikan jagiya dan aegiya? gerutu Soojung dalam hati.

Keduanya lalu berjalan bersama menuju sekolah. Bersama, tidak dalam artian berdampingan atau bersebelahan. Karena Soojung berjalan sekitar lima langkah di depan Jongin sementara pemuda itu membuntut di belakangnya. Seperti yang tadi Soojung bilang, ia tak ingin semua orang tahu akan hubungan mereka itu. Jadi keduanya sepakat untuk menjaga jarak ketika mereka berada di lingkungan sekolah ataupun lingkungan rumah.

“Sepertinya kamu sudah merubah pikiranmu. Apa sekarang kamu menyesal menerima tawaranku? Karena kamu terlihat dingin sekali pagi ini. Bahkan ini masih musim panas,” gumam Jongin yang cukup bisa di dengar oleh Soojung yang berjarak lima langkah di depannya.

Mendengar ucapan Jongin itu membuat Soojung sedikit merasa bersalah. Tidak seharusnya ia melampiaskan kekesalannya pada Jongin. Hanya karena kesal akan sikap kedua orang tuanya, Soojung sampai harus mengacuhkan Jongin. Soojung pun berhenti melangkah dan berbalik menghadap Jongin di belakangnya. Soojung kemudian mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetikkan beberapa kata disana.

To Gang Star Boy

Mianhae. Moodku buruk pagi ini dan aku jadi mengacuhkanmu. Aku belum menyesal dan semoga aku tidak menyesal akan keputusanku ini. Jadi maafkan aku.

Soojung mengirimkan pesan itu pada Jongin –karena mereka sudah berada di lingkungan sekolah serta beberapa siswa-siswi Hanlim yang berkeliaran di sekitar mereka, membuat Soojung harus menggunakan ponselnya untuk bicara dengan Jongin. Jangan tanya kenapa Soojung bisa menyimpan nama Jongin di ponselnya –dengan nama menggelikan itu pula. Sebab Jongin sendirilah yang menyimpan namanya di ponsel Soojung, tanpa sepengetahuan Soojung.

Soojung melihat Jongin sudah meraih ponselnya dan membaca pesan dari Soojung. Tanpa mengangkat kepalanya –serta membuat Soojung sangat penasaran akan reaksinya, Jongin pun membalas pesan Soojung.

From Gang Star Boy

Kalau begitu tersenyumlah padaku.

Soojung memandangi pesan yang dibalas Jongin. Hanya membaca empat kata itu saja sudah mampu membuat semua darah mengalir ke otaknya. Soojung mendadak merasa kalau matahari pagi di pertengahan musim panas ini sangatlah terik sampai ia merasa gerah akan dirinya sendiri. Soojung pun membalas pesan Jongin –tanpa mengangkat wajahnya.

To Gang Star Boy

🙂

Kemudian Soojung kembali melanjutkan langkahnya menuju sekolah tanpa menoleh pada Jongin. Dan Soojung melewatkan senyuman di wajah Jongin yang perlahan merekah begitu membaca pesan darinya.

.

.

.

Di sekolah, Soojung dan Jongin tetap bersikap seperti biasa. Seperti biasa, dalam artian aku-mengenalmu-tapi-aku-tak-akan-bicara-denganmu. Meskipun terkadang Soojung mencuri-curi pandang pada Jongin. Tapi tidak ada yang berubah dari sikap mereka, dan tentu saja siapapun tidak akan ada yang menyangka kalau keduanya sudah menjadi sepasang kekasih. Ketika jam istirahat tiba pun, mereka memilih jalan masing-masing; Soojung bergabung dengan sahabatnya di keorganisasian siswa, sementara Jongin menghilang entah kemana.

Ketika sedang berkumpul dengan Jinri dan Sujie di halaman sekolah, Soojung tak berhenti memandangi ponselnya. Ia terus-terusan memandangi pesan terakhir dari Jongin. Seolah kalimat ‘kalau begitu tersenyumlah padaku’ adalah sebuah mantra yang harus ia hapalkan. Soojung baru berhenti memandangi ponselnya ketika seseorang merangkul pundaknya –hingga menyebabkan Soojung terkejut dan nyaris menjatuhkan ponselnya.

“Sepertinya para gadis lebih suka berjemur daripada membantuku di ruang osis,” tegur Kang Minhyuk, sang ketua osis.

Soojung bergegas memasukkan ponselnya ke dalam saku dan lalu menyambut pimpinan para siswa Hanlim tersebut. Soojung, Sujie dan Jinri memang tergabung dalam organisasi siswa di Hanlim. Soojung sendiri merupakan wakil ketua osis –ia merupakan bawahan Minhyuk. Mereka kini sedang menyusun proyek untuk membuat para murid Hanlim mau mengikuti kelas tambahan. Karena masalah proyek itu pula, Soojung harus menghabiskan siangnya di halaman sekolah.

“Karena musim panas akan segera berakhir, Minhyuk-ah. Makanya kami berjemur disini,” sahut Jinri.

Minhyuk, Jinri dan Sujie langsung terlibat percakapan seru yang Soojung tak mengerti. Soojung merasa kalau ia hanyalah sebuah hiasan di antara mereka. Ketika Minhyuk menggamit lengan Soojung, barulah Soojung ikut tertawa bersama mereka. Aneh memang, meskipun katanya mereka adalah sahabat, tapi Soojung tak pernah benar-benar merasa seperti itu.

“Ahh, aku membutuhkan bantuanmu, nona Jung Soojung. Aku butuh idemu untuk poster kita,” ujar Minhyuk.

Ia lalu menarik Soojung agar gadis itu berdiri. Kemudian menggiring Soojung untuk mengikutinya ke ruang osis. Soojung paham betul dengan sikap Minhyuk yang sangat cinta skinship. Karenanya Soojung sebisa mungkin menghindari semua sentuhan-sentuhan yang di arahkan Minhyuk padanya dan membiarkan pemuda itu berjalan di depannya. Entah kenapa ia merasa harus jauh-jauh dari Minhyuk.

Di depannya, tampak Minhyuk menabrak seseorang dan seseorang itu kini bahkan sudah mencengkeram kerah bajunya sampai membuat Minhyuk harus sedikit berjinjit agar tidak tercekik. Soojung terkejut bukan main melihat kejadian di hadapannya ini. Karena kini di hadapannya tersaji seorang Kim Jongin sedang mengkonfrontasi sang pimpinan murid, Kang Minhyuk.

“Apa kamu tak lihat! Aku sedang berjalan disini!!” bentak Jongin.

“Aku kan sudah minta maaf, aku tidak sengaja. Sekarang lepaskan aku agar kita bisa bicara baik-baik,” bujuk Minhyuk.

Soojung segera saja berusaha melerai mereka. Beberapa siswi juga sudah mulai mengerubungi mereka bertiga. Soojung langsung menarik lengan Minhyuk, berusaha menjauhkannya dari Jongin.

“Yah! Kim Jongin! Lepaskan Minhyuk! Kamu mau aku mengadukanmu pada kepala sekolah, huh?!” bentak Jinri.

Seruan Jinri tidak dihiraukan Jongin. Ia malah mempererat cengkeramannya pada Minhyuk. Soojung sampai harus memohon –dengan suara yang sangat pelan agar tidak di dengar yang lainnya –pada Jongin. Dan Jongin malah hanya menatapnya, kemudian pandangannya turun pada tangan Soojung yang masih menggamit lengan Minhyuk. Geram, tergambar jelas di matanya. Saat itulah Soojung sadar, Jongin marah karena Minhyuk terlalu dekat dengannya.

Soojung langsung mengangkat kedua tangannya di udara –layaknya tersangka yang tertangkap basah oleh polisi. Soojung lalu mundur selangkah menjauhi Minhyuk –masih dengan kedua tangan di udara. Begitu melihat Soojung sudah menjauhi Minhyuk, Jongin pun melepaskan pemuda malang itu –dengan mendorongnya hingga ia terjerembab ke tanah.

“Lain kali awasi langkahmu. Buat apa punya mata banyak, tapi tak bisa melihat dengan baik,” ketus Jongin.

Jongin lalu meninggalkan tempat kejadian perkara. Sementara Sujie dan Jinri bergegas menolong Minhyuk yang terpuruk di tanah.

“Apa-apaan anak itu?! Dasar gangster gadungan!!” seru Jinri. “Ohh betapa aku sangat membencinya!!”

Soojung terpaku melihat sikap Jongin tadi. Bukannya membantu Minhyuk, Soojung malah meninggalkan mereka untuk mengejar Jongin. Setidaknya Soojung harus memberi penjelasan pada Jongin, agar pemuda itu tidak marah. Walau belum ada 24 jam Soojung mengenalnya, tapi Soojung paham betul jika mood Jongin sedang buruk maka apapun yang ada di dekatnya akan tertimpa musibah.

Ketika Soojung sudah jauh dari pandangan Sujie dan Jinri, barulah Soojung bergegas mencari kemana Jongin pergi. Untungnya ia masih bisa mengejar Jongin. Soojung pun mengikuti Jongin –dengan terus mengawasi sekitarnya agar jangan sampai ada yang memergokinya sedang membuntuti Jongin– sampai akhirnya ia tiba di atap sekolah.

Sesampainya di atap sekolah, Soojung melihat Jongin sedang menendang-nendang matras bekas yang ada di salah satu sudut atap sekolah. Benar saja dugaan Soojung, kalau Jongin sedang melampiaskan kekesalannya saat ini. Soojung bisa menghela napas lega, karena setidaknya Jongin tidak melampiaskannya pada seseorang.

“Hei,” tegur Soojung.

Jongin sudah berhenti ‘menghajar’ matras tak berdosa itu. Ia lalu berpaling menghadap Soojung. Dan Soojung berani bersumpah kalau kekesalan yang tadi terlihat jelas di matanya kini sudah menghilang dalam hitungan detik begitu mata itu bertemu dengan mata Soojung.

“Apa yang sedang kamu lakukan?” tegur Soojung sambil menghampiri Jongin.

“Kukira kita tidak boleh berdekatan ketika berada di sekolah?”

“Apa kamu tidak kasihan dengan matrasnya?” Soojung tidak menjawab pertanyaan Jongin.

“Apa menurutmu sebaiknya aku melakukan ini pada anak tadi?” sahut Jongin.

Soojung kini sudah berdiri di hadapan Jongin. Ia menatap Jongin lekat. Kemudian perlahan Soojung menarik kedua sudut bibirnya. Soojung tersenyum pada Jongin. Senyum pertama yang ia tunjukkan pada Jongin sejak mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Bukan sebuah senyum yang dipaksakan, melainkan sebuah senyum tulus yang tak sempat Soojung berikan padanya sejak tadi.

“Kamu marah karena aku mengacuhkanmu tadi pagi? Sekarang aku sudah tersenyum padamu, apa kamu sudah merasa lebih baik?” tanya Soojung masih sambil tersenyum pada Jongin.

Jongin terpaku menatap Soojung –menatap senyum Soojung lebih tepatnya. “Kamu pikir aku marah padamu?” sahut Jongin. “Aku tidak marah padamu. Tidak akan pernah.”

Senyum Soojung jadi makin lebar mendengar ucapan Jongin itu.

Jongin kemudian mengajak Soojung untuk duduk di matras. Tapi sayangnya matras itu begitu kotor dan berdebu. Ketika Soojung sedang mencari cara untuk membersihkan matrasnya, tiba-tiba ia melihat kalau Jongin sudah membuka blazernya.

“Yah, apa yang mau kamu lakukan?!” panik Soojung seraya memeluk dirinya sendiri.

Jongin hanya memandangi Soojung bingung seraya melapisi matras itu dengan blazernya. “Memangnya menurutmu apa yang akan aku lakukan?” sahut Jongin. Kemudian Jongin menyuruh Soojung untuk duduk di atas blazernya.

Sungguh Soojung tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia melihat sendiri secara langsung betapa Jongin memiliki sikap baik padanya. Soojung jadi meragukan rumor-rumor mengenai Jongin adalah seorang gangster. Mungkin Jongin memang galak dan sangar di luar, tapi jika sudah mengenalnya sebenarnya dia anak yang baik dan manis seperti ini. Siapapun pasti akan dengan mudahnya jatuh cinta pada Jongin.

Tunggu dulu, apa aku baru saja mengatakan kalau aku jatuh cinta padanya? ujar Soojung dalam hati. Soojung segera membuang jauh-jauh pikiran itu.

“Bagaimana bisa ada matras di atas sini?” tanya Soojung, berusaha mengalihkan pikirannya yang mulai melantur kemana-mana.

“Aku yang membawanya. Agar aku bisa tiduran seperti ini,” ujar Jongin seraya merebahkan dirinya di matras.

Soojung memandangi Jongin yang tiduran di sebelahnya. Bahkan di atas matras yang kotor ini, Jongin terlihat begitu nyaman berbaring. Ia merentangkan kedua tangannya dan menutup matanya. Dan oh Tuhan, lihatlah Kim Jongin saat ini. Di bawah pantulan sinar matahari di pertengahan musim panas ini, Jongin tampak sangat mempesona. Apalagi dengan beberapa butir peluh yang mengalir di pelipisnya, membuat siapapun yang melihatnya…

“Hentikan, Soojung!” tegur Soojung pada dirinya sendiri. Ia nyaris larut daram pikiran gelapnya. Untungnya Jongin tidak mendengarnya. Jika ia mendengarnya, mungkin Jongin akan bingung kenapa Soojung bicara pada dirinya sendiri. Seraya bergumam fokus-Soojung-fokus, Soojung pun kembali memulai pembicaraan dengan Jongin.

“Kamu bilang kamu tidak marah padaku. Lalu kenapa tadi kamu terlihat marah?” tanya Soojung.

“Aku tidak akan marah tanpa alasan yang tidak jelas, tahu,” sahut Jongin.

“Kalau begitu apa ada sesuatu yang membuatmu kesal?” tanya Soojung.

Jongin kini sudah bangun dan duduk di samping Soojung. Dan Soojung bisa melihat kalau Jongin kini kembali terlihat geram. Soojung jadi menyesal sudah mengungkit masalah itu lagi.

“Ini semua karena si mata empat itu! Tangannya tak berhenti menyentuhmu. Dan itu menyebalkan! Aku saja belum menggenggam tanganmu tapi dia terus-terusan menggenggamnya,” kesal Jongin.

Soojung memandangi Jongin takjub. Ia takjub karena Jongin yang sedang kesal seperti ini justru terlihat menggemaskan di matanya. Caranya megeluarkan sumpah serapah terhadap Minhyuk serta gerakan tangannya yang seolah menggambarkan betapa ia ingin mematahkan leher Minhyuk, justru malah tampak lucu. Soojung pun tertawa karenanya.

“Ahahahaha, kamu cemburu pada Kang Minhyuk!” tuding Soojung geli.

Soojung tertawa puas. Apalagi melihat ekspresi Jongin saat ini, seolah Soojung baru saja mengatakan hei-aku-memergokimu-memakai-rok-mini-semalam. Mati-matian Jongin menolak ucapan Soojung. Tentu saja, seorang Kim Jongin tidak akan mengakui kalau ia cemburu.

“Jangan pernah berdekatan dengan si mata empat itu. Aku mungkin bisa melakukan hal yang lebih mengerikan padanya jika aku melihatnya melayangkan tangannya lagi padamu,” kesal Jongin

“Minhyuk memang seperti itu orangnya. Dia terbiasa memegang tangan lawan bicaranya. Jangan kamu anggap serius,” ujar Soojung setelah berhasil meredakan tawanya.

Tapi Jongin tampak masih dongkol karena merasa diolok-olok oleh Soojung. Melihat Jongin yang masih merajuk, membuat Soojung jadi tak enak hati. Ia pun kembali meminta maaf pada Jongin.

“Lakukan sesuatu. Kurasa aku begitu kesal sampai mungkin aku akan mematahkan leher si mata empat itu nanti,” ujar Jongin.

Jongin kini memandangi Soojung sambil bersedekap, mengantisipasi apa yang akan Soojung lakukan padanya. Karena takut akan ancaman Jongin itu, Soojung pun memikirkan cara untuk memperbaiki mood kekasihnya yang tempramen ini. Aegyo, adalah satu-satunya hal yang terlintas di otaknya.

Soojung pun membuat huruf v dengan telunjuk dan jari tengahnya, kemudian menempelkannya di sudut matanya seraya tersenyum manis. “Bbuing?” ujarnya ragu.

Jongin kini sudah tertawa puas melihat aegyo Soojung. Ia bahkan sampai guling-gulingan di matras karenanya. Soojung menganggap reaksi Jongin ini sebagai bukti kalau ia berhasil menaikkan kembali mood kekasihnya.

Jongin kini sudah kembali duduk dan menepuk puncak kepala Soojung pelan seraya berkata, “gwiyeowo (lucunya).”

Untuk pertama kalinya, Soojung tertawa bersama Jongin dengan rasa bahagia. Dan Soojung pikir senyum Kim Jongin adalah yang paling indah yang ada di dunia.

.

.

.

“Wah, Soojung-ah! Apa kabar kamu?! Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Aku merindukanmu,” seru Minhyuk dramatis ketika Soojung mengunjungi di ruang osis.

Sudah beberapa hari ini Soojung memang menghindari Minhyuk. Ia tak ingin Minhyuk mendapat masalah lagi karena terlalu dekat dengannya –mengingat Jongin itu adalah tipe yang mudah terbakar api cemburu. Tapi Soojung juga tak bisa mengabaikan tugasnya sebagai wakil ketua osis. Jadi walaupun Soojung tak ingin berdekatan dengan Minhyuk, mau tak mau Soojung menghampirinya untuk menyelesaikan tugasnya.

“Jadi apa kamu sudah ada ide untuk posternya? Aku sudah kepikiran satu,” sahut Soojung acuh. Ia memilih untuk tidak berbasa-basi agar ia bisa segera menyelesaikan tugasnya dan kabur dari ruang osis ini.

“Buru-buru sekali. Apa tidak bisa kita bersantai sejenak sambil membahas proposalnya? Dingin sekali sikapmu, Soojung,” ujar Minhyuk.

Soojung yang sudah mulai menyalakan  komputernya akhirnya mengangkat wajahnya untuk melihat Minhyuk. Lelaki itu sudah duduk di meja Soojung –di samping komputer lebih tepatnya. Soojung merasa ada yang aneh dengan Minhyuk hari ini. Karena ia tampak sangat berlebihan sekarang.

“Aku hanya ingin segera menyelesaikan tugasku agar aku bisa kembali belajar di kelas tambahan,” sahut Soojung setelah cukup lama beradu pandang dengan Minhyuk.

Begitu komputernya sudah menyala, Soojung langsung membuka aplikasi edit gambar. Soojung langsung larut dengan editannya sementara Minhyuk sibuk dengan apapun yang ditemuinya di meja Soojung. Ketika Minhyuk sudah mulai bosan karena Soojung tidak mengajaknya bicara, Minhyuk pun mulai mengganggu Soojung. Minhyuk mulai memainkan rambut Soojung yang tergerai.

“Rambutmu bagus, Soojung-ah. Apa kamu rajin ke salon?” tanya Minhyuk.

“Hanya pakai shampoo. Berhenti menggangguku, Kang Minhyuk,” sahut Soojung. Ia langsung menepis tangan Minhyuk dari rambutnya.

Minhyuk akhirnya hanya melipat lengannya di dada dan memandangi Soojung intens. Merasa terus dipandangi seperti itu, membuat Soojung jadi salah tingkah. Akhirnya ia menghentikan pekerjaannya dan balas menatap Minhyuk yang masih duduk di mejanya.

“Ada apa?” tegur Soojung.

“Apa kamu suka bunga mawar?” tanya Minhyuk.

Soojung memandangi Minhyuk penuh tanda tanya. Ada apa ia tiba-tiba bertanya mengenai bunga mawar. “Lumayan suka. Ada apa?”

“Apa kamu mau jadi pacarku?” tembak Minhyuk.

Soojung hanya bisa mematung. Ada apa dengan semua orang tiba-tiba memintanya untuk menjadi pacar mereka. Kemarin Kim Jongin dan sekarang Kang Minhyuk. Soojung tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya memandangi Minhyuk tanpa tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tak mungkin menerimanya, karena ia kini sudah menjadi kekasih Kim Jongin –walau hubungan mereka cukup aneh. Tapi Soojung juga tak tahu bagaimana menolak Minhyuk tanpa membuatnya sakit hati atau terluka.

“Kenapa?” tanya Soojung setelah ia berhasil menemukan suaranya. “Kenapa tiba-tiba?”

Minhyuk hanya tertawa pelan mendengar pertanyaan Soojung. Ia kembali mengulurkan tangannya untuk meraih ujung rambut Soojung. “Sudah lama aku menyukaimu. Tapi keberanian itu baru datang belakangan ini. Apa kamu tidak menyadari isyarat yang kuberikan padamu?”

Soojung benar-benar dibuat bingung dengan semua ini. Ia tak mengerti kenapa Minhyuk bisa menyukainya. Karena selain Soojung, Minhyuk cukup dekat dengan Sujie. Bahkan Jinri sempat cerita pada Soojung kalau sepertinya ada sesuatu antara Minhyuk dengan Sujie. Jinri juga bilang kalau sepertinya kedua orang itu memiliki hubungan lebih dari sekedar pertemanan. Dan lalu tiba-tiba Minhyuk bilang kalau ia suka pada Soojung dan ingin menjadi pacarnya. Soojung tak tahu bagaimana harus bereaksi. Ia bahkan tidak sempat merasa terharu apalagi tersentuh, karena ia terlalu terkejut dengan semua yang datang padanya.

“Tapi-,” tolak Soojung. Ia berusaha menolak kenyataan kalau Minhyuk ternyata menyimpan perasaan khusus padanya. “Tapi kenapa aku?”

Minhyuk kini sudah menyentuh puncak kepala Soojung dan membelainya lembut. “Neon gwiyeowoseo. Nan niga johahae (kamu menggemaskan. Aku menyukaimu).”

Untuk pertama kalinya Soojung merasa kalau kata ‘gwiyeowo’ itu terdengar menakutkan. Dan Soojung tidak menyukainya ketika apalagi karena kata-kata itu bukan keluar dari mulut Jongin.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

logo1

First story of DIFFERENT FAIRYTALE. “BEAUTY AND THE BEAST”

안녕!

oke.. yg keluar ternyata chapter dua duluan.. tadinya mau terbitin cerita baru, tapi belum nemu beta reader. ada yang minat jadi beta reader beedragon untuk fiksi bee berikutnya??
kayanya makin nambah chapter makin pendek ceritanya ya? hahaha mianhae…

thanks for your support!! u guys are my vitamin 🙂
안녕!! 뿅! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 다른 동화 (Different Fairytale) | Beauty and The Beast – Chapter 2 | PG15

13 thoughts on “FF – 다른 동화 (Different Fairytale) | Beauty and The Beast – Chapter 2 | PG15

  1. junghana21 says:

    Fanfic ini lbh manis drpd gula

    Adegan ddeokbokgi mengingatkan aku akan tablo dan haru di #thereturnofsuperman

    Sumpah jung km manja banget. Untung jonginnya sabar meski posesif. tp jongin gentle banget. he treat soojung very well

    Ga nyaka badboy kayak jongin bertekuk lutut dihadapan ice princess soojung

  2. say no soojung, say no! inget jongin! *heboh sendiri*
    tuh kan, jongin tambah cute aja deh, jadi gemesh aku >.<
    ah, bingung mau komen apa /\ abis aku penasaran sama lanjutannya.. next dulu ya? 🙂 hihi

  3. Reader says:

    SI Jongin sebenarnya baik atau tidak sih? jadi bingung…
    Lucunya si Jongin pas cemburu…haha! Ternyata Jongin masih kekanak-kanakan juga ya, cemburu tapi tidak mau mengaku…
    Jawab TIDAK Soojung! ada Jongin!

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s