FF – 다른 동화 (Different Fairytale) | Beauty and The Beast – Chapter 1 | PG15


beauty-beast

Title : Different Fairy Tale

Subtitle : Beauty and The Beast – Chapter 1

Author : beedragon

Cast:

Krystal F(x) as Jung Soojung

Kai EXO  as Kim Jongin

Other Cast:

Sulli F(x) as Choi Jinri

Suzy Miss A as Bae Sujie

Genre : Fluff, Romance, School Life

Length : Multichapter

Summary : Karena suatu kondisi, Si Cantik jadi harus terjebak dengan Sang Monster. Walaupun awalnya Si Cantik takut pada Sang Monster, tapi Si Cantik melihat bahwa hati Sang Monster jauh lebih lembut dan rapuh dibandingkan miliknya. Dan Si Cantik pun menyadari kalau ia perlahan-lahan menyukai Sang Monster

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Enchanted | F(x) – Gangsta Boy

Beauty and The Beast | Chapter 1

.

.

.

.

.

.

Jung Soojung, gadis berusia tujuh belas tahun yang baru saja memasuki tahun ketiga dalam perjalanannya mencari ilmu di Hanlim Multi Art School, sekolah khusus seni yang ada di pusat kota Seoul. Soojung memilih sekolah ini bukan karena ini adalah sekolah ternama untuk pendidikan seninya, bukan juga karena beberapa idol merupakan lulusan sekolah ini, bukan juga karena sekolah ini cukup dekat dengan rumahnya, tapi karena sekolah ini tidak memiliki peraturan yang mengikat. Sudah cukup Soojung terkekang di rumahnya karena semua peraturan yang di berikan oleh ayahnya, oleh sebab itu Soojung tak ingin dirinya juga terkekang di sekolah. Sayangnya, sekolah tanpa peraturan yang ketat merupakan pusat dimana anak-anak nakal berkumpul.

“Hei Soojung, kamu lihat itu?” ujar Choi Jinri, sahabat Soojung sejak tahun pertama ia memasuki  Hanlim School.

Soojung mengikuti arah pandang Jinri dan mendapati sekumpulan anak lelaki berpakaian tidak rapi sedang mengerubungi seorang pemuda. Soojung tak bisa melihat jelas apa yang sedang mereka lakukan, tapi sepertinya sesuatu yang tidak baik sedang dilakukan anak-anak dengan seragam berantakan itu pada siswa yang kini sudah terpojok di dinding sekolah.

“Kim Jongin. Dia beraksi lagi,” cibir Jinri penuh kebencian.

“Ahh,” ujar Soojung sambil mengangguk-angguk mengerti, seolah hal itu adalah biasa terjadi di sekolah ini.

“Aishh, aku ingin segera cepat lulus dari sini. Hanya karena ingin satu almamater dengan para idol itu aku sampai harus menjadi orang tak punya hati seperti ini. Lihatlah, anak itu butuh bantuan, tapi aku tak berani menolongnya,” keluh Jinri.

Jinri sudah menarik Soojung untuk masuk ke sekolah. Tapi mata Soojung masih terpaku pada anak yang tengah dikerubungi oleh Kim Jongin dan anak buahnya. Padahal ada banyak siswa-siswi yang berlalu lalang di sekitar mereka, tapi tak ada seorang pun yang berniat menyelamatkan siswa malang tersebut. Ini karena semuanya tahu reputasi seorang Kim Jongin. Ia adalah pimpinan gangster di Hanlim. Bahkan kabarnya Kim Jongin cukup di takuti di daerah sekitar Hanlim. Para guru saja tak ada yang berani memarahi apalagi menghukum Kim Jongin.

Ketika Soojung masih terpaku memandangi Jongin, pemuda itu ternyata menoleh ke arahnya. Kaget, Soojung pun langsung memalingkan mukanya dan mengikuti Jinri yang sudah memasuki gerbang sekolah.

.

.

Soojung sedang menuju ke ruang guru saat ini. Tadi Miss Choi menyuruhnya untuk menemuinya di ruang guru, sepertinya ingin membicarakan mengenai jadwal kelas tambahan. Soojung memang merupakan murid pintar di Hanlim, yang terpintar jika bisa ditegaskan. Soojung bisa pintar seperti ini bukan tanpa alasan. Hampir setiap harinya, dari ia membuka mata sampai ia menutup mata lagi untuk tidur, Soojung habiskan untuk belajar; baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Tapi belakangan ini Soojung merasa kalau ini bukanlah kehidupan sekolah yang ia inginkan. Yang ia lakukan sepanjang dua tahun terakhir adalah belajar dan belajar. Ayahnya mengharapkan Soojung untuk bisa mendapat peringkat pertama di sekolah agar ia bisa masuk ke universitas ternama. Tapi entah kenapa Soojung selalu merasa ada yang kurang. Seolah belajar menjadi pintar bukanlah tujuan hidupnya.

“Mau sampai kapan kamu seperti ini terus, Kim Jongin?” seruan wakil kepala sekolah mengagetkan Soojung yang baru saja tiba di meja Miss Choi.

Soojung melirik ke meja wakil kepala sekolah dan mendapati Kim Jongin sedang berdiri di hadapan pria tua berkepala plontos itu. Wakil kepala sekolah tampak sangat marah, terlihat dari kepalanya yang sudah memerah serta hidungnya yang kembang kempis. Wakil kepala sekolah kembali menggebrak meja, sehingga membuat semua yang ada di ruangan itu terlonjak kaget –termasuk Soojung. Bahkan sudah melihat langsung seperti apa kemarahan wakil kepala sekolah di hadapannya, Kim Jongin masih saja terlihat seolah wakil kepala sekolah itu adalah semacam hiburan untuknya. Takjub, tergambar jelas di mata Kim Jongin. Soojung sampai bingung melihatnya.

“Kalau kamu terus bersikap seperti ini, maka aku akan memindahkanmu ke Sungwon!” seru wakil kepala sekolah. Ia sudah menarik napas panjang dan menghembuskannya keras-keras. “Aku tidak memintamu untuk jadi pintar ataupun mendapatkan nilai bagus. Hanya kurangi sedikit kelakuan burukmu itu. Apa tidak bisa kamu tidak mengintimidasi teman-temanmu barang setahun ini saja? Dinas pendidikan sedang mengamati sekolah ini. Jika kamu tak bisa memberikan citra baik untuk sekolah ini, maka aku akan benar-benar mengeluarkanmu dari sekolah ini.”

Soojung terkejut bukan main mendengar ancaman wakil kepala sekolah. Biasanya senakal apapun kelakuan Jongin, sekolah tidak akan mengambil tindakan apapun untuk menghukumnya. Sepertinya kali ini Jongin sudah melewati batas kesabaran wakil kepala sekolah.

Miss Choi sudah melambaikan tangannya di depan wajah Soojung, tapi Soojung mengacuhkannya. Soojung bahkan tidak mendengar apapun yang Miss Choi katakan sejak tadi. Karena begitu Soojung masuk ke ruang guru ini, mata Soojung sudah fokus pada punggung Kim Jongin. Ketika Jongin sudah berbalik untuk meninggalkan ruang guru –karena diusir oleh wakil kepala sekolah– kembali pandangan Soojung dan Jongin bertemu. Karena lagi-lagi tertangkap basah sedang mengamati Kim Jongin, Soojung hanya bisa merutuki dirinya sendiri seraya berpaling untuk kembali mendengarkan ucapan Miss Choi.

Ya, sebaiknya jangan berurusan dengan seorang Kim Jongin kalau mau selamat.

.

.

Soojung berada di perpustakaan sekolah sampai larut malam. Ia sibuk belajar untuk persiapan ujian –yang masih empat bulan lagi. Tadinya ia berada di perpustakaan ini karena ingin membantu penjaga perpustakaan merapikan buku-buku disana, tapi malah berakhir dengan Soojung mengumpulkan semua buku untuk ia pelajari. Walaupun ia bersekolah di sekolah seni, tapi sekolah ini sangat mengutamakan nilai-nilai untuk mata pelajaran umumnya. Ini salah satu alasan kenapa Soojung menyukai sekolah Hanlim.

Ketika penjaga perpustakaan mengusirnya, barulah Soojung pulang. Tanpa terasa ternyata jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Soojung sampai mengira kalau jam tangannya mati dan berhenti di jam sepuluh, tapi begitu ia melihat ke ponselnya ternyata memang sekarang sudah jam sepuluh malam. Soojung pun dilanda panik.

Soojung langsung menelepon kakak perempuannya, Jung Sooyeon, untuk minta dijemput. Tapi betapa tidak beruntungnya Soojung, karena saat ini Sooyeon sedang menginap di rumah temannya untuk mengerjakan tugas mingguan mereka. Soojung tidak bisa minta jemput oleh ayahnya, karena saat ini ayahnya sedang ada kunjungan kerja ke luar kota. Dengan berat hati Soojung pun meninggalkan gerbang sekolah. Sendirian.

Soojung tak pernah pulang selarut ini. Kalaupun ia pulang larut malam, pasti ayah atau kakak perempuannya yang menjemput Soojung. Dan kini Soojung harus melalui rute rumahnya sendirian, yang Soojung yakini tidak aman untuk ia lalui sendirian. Soojung memilih untuk mengikuti jalur yang lebih terang untuk pulang ke rumahnya. Baginya tidak apa-apa jika ia harus memutar, dibandingkan ia harus melewati jalur yang remang-remang dan berakhir dengan bertemu gangster jalanan.

“Sendirian, nona manis?” teguran itu menghentikan langkah Soojung. Kini sudah ada seorang pemuda menghalangi langkahnya. Dari arah kiri jalan juga tampak ada dua orang pemuda yang mulai menghampiri Soojung. Panik, bahkan Soojung tak bisa bergerak saking paniknya.

“Kenapa anak gadis pulang sendirian malam-malam begini,” ujar salah satu pemuda.

“Hanya ada dua jenis perempuan yang masih berkeliaran semalam ini. Satu, jika dia adalah murid pintar yang sedang belajar untuk ujian. Dan dua, murid yang berkeliaran untuk menghabiskan waktunya di jalan,” sahut temannya. “Tapi sayangnya, ini bukan musim ujian. Itu artinya kamu adalah gadis tipe dua.”

Soojung kini sudah mundur satu langkah ketika pemuda itu mulai mendekatinya. Ia melihat mereka masih mengenakan seragam sekolah, seragam sekolah Sungwon; sekolah yang terkenal dengan murid-muridnya yang nakal. Soojung pikir, tamat sudah riwayatnya. Salah satu dari pemuda itu sudah menarik tangannya dan mulai menyeretnya menuju gang yang gelap.

Soojung tentu saja berusaha melawan. Ia menahan dirinya agar tidak semudah itu diseret oleh gerombolan siswa Sungwon. Soojung berusaha menepis tangan pemuda itu dan tentunya Soojung kalah. Lelah terus memohon dan meminta agar ia di lepaskan, akhirnya Soojung berteriak. Soojung berteriak pada siapapun juga yang bersedia menyelamatkannya malam ini –sampai akhirnya tiga anak Sungwon itu berebut untuk menutup mulut Soojung.

Kini sudah ada yang menarik tangan Soojung yang lain. Tapi seseorang yang menarik tangan kiri Soojung itu tidak lantas menyeretnya ke arah pemuda yang memegang tangan kanannya, melainkan menahan Soojung untuk tetap berada di tempat.

Soojung menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang menahan dirinya. Ternyata ada pemuda berbeda dari tiga siswa Sungwon itu. Berbeda karena pemuda itu memakai seragam yang sama seperti Soojung. Pemuda itu Kim Jongin.

“Kalian itu banci atau pengecut?” desis Jongin.

Tiga pemuda yang tadi menarik Soojung langsung melepaskan Soojung begitu melihat kalau ada yang menantang mereka. Karena hal itu, Jongin langsung menarik Soojung sehingga gadis itu berdiri di belakangnya.

“Kalian ini lelaki dan jumlah kalian tiga orang. Apalagi namanya untuk lelaki yang mengeroyok perempuan jika bukan banci? Apa kalian mau mati?!!” bentak Jongin. Awalnya Jongin berbicara dengan nada monoton, tapi lama kelamaan nada suaranya meninggi. “Cari lawan yang sesuai untuk kalian? Hanya pengecut yang berani mengganggu perempuan keroyokan seperti  ini!”

Detik berikutnya yang Soojung saksikan adalah perkelahian tidak seimbang, tiga lawan satu antara tiga siswa Sungwon melawan Jongin. Soojung hanya bisa menaha napas sepanjang pekelahian mereka. Soojung pikir, Jongin akan kalah. Soojung pikir, Jongin akan terluka parah. Soojung pikir tamatlah sudah riwayat Kim Jongin. Tapi Soojung salah.

Dengan mudahnya Kim Jongin melawan tiga pemuda itu. Ia meninju, menendang, memukul, bahkan melempar mereka hingga mereka akhirnya kalah dan memilih untuk melarikan diri. Jongin tampak memutar pundaknya seolah ia habis bekerja keras barusan. Kemudian Jongin berbalik dan menghadap Soojung yang masih berdiri mematung –takjub melihat perkelahian nyata di hadapannya.

“Hei,” tegur Jongin.

Soojung terlonjak kaget mendengar teguran Jongin. Ia kini sudah mundur dua langkah. Soojung tentu saja takut. Bagaimana Soojung tidak takut, Jongin baru saja memukuli tiga orang preman di hadapannya dan kini ia hanya berdua saja dengan Kim Jongin. Entah apa yang akan Jongin lakukan pada Soojung setelah ini.

“Apa yang kamu lakukan malam-malam begini sendirian?!” bentak Jongin.

Soojung jadi makin ciut dibuatnya. Ia sudah menundukkan kepalanya –dan jika bisa terjadi Soojung ingin menyusutkan badannya agar tak perlu berhadapan dengan Jongin. Soojung bahkan sudah menutup kedua matanya karena terlalu takut akan hal apapun yang akan Jongin lakukan padanya nanti. Satu detik, sepuluh detik, satu menit, akhirnya Soojung membuka matanya. Awalnya ia hanya membuka satu matanya untuk mengintip apa yang Jongin lakukan, tapi Soojung tidak menemukan Jongin di hadapannya. Soojung pun langsung membuka kedua matanya lebar-lebar dan ia melihat kalau Jongin sudah berjalan meninggalkannya.

Soojung pun bergegas mengejar Jongin. Ini bukan apa-apa, karena setidaknya jika ia punya teman pulang maka perjalanannya akan aman. Jadi Soojung langsung membuntut di belakang Jongin –menjaga jarak sekitar satu setengah meter di belakang Jongin. Soojung juga sebenarnya ingin mengucapkan terima kasih pada Jongin karena sudah menyelamatkannya, tapi Soojung tak berani –ia tak mau dibentak lagi olehnya. Soojung memilih tetap mengekor Jongin sambil terus berharap kalau Jongin pergi ke arah yang sama dengan rumah Soojung.

Soojung berjalan sambil menundukkan kepalanya serta sibuk memikirkan akan bagaimana mengucapkan terima kasih pada Jongin –tanpa membuat Jongin memakinya. Soojung masih terus hanyut dalam pikirannya hingga ia tidak melihat kalau Jongin sudah berhenti berjalan. Soojung pun menabrak punggung Jongin. Kaget, Soojung pun langsung mundur beberapa langkah seraya membungkukkan badannya berkali-kali untuk meminta maaf pada Jongin. Soojung sudah mengelus-elus hidungnya yang sakit akibat menabrak Jongin. Begitu ia mengangkat kepalanya, Soojung melihat kalau Jongin sudah memelototinya. Dilanda panik, Soojung akhirnya memilih berlari melewati Jongin –kebetulan mereka sudah sampai di depan perumahan Soojung.

Babo Soojung! Lihat apa yang sudah kamu perbuat malam ini!” Soojung merutuki dirinya sambil terus berlari menuju rumahnya.

.

.

Hari ini Soojung tidak tenang belajar di sekolah. Ia terus melirik ke arah Jongin yang duduk di pojok kelas. Ya, Soojung memang satu kelas dengan Jongin –ketidak-beruntungan yang sempurna, menurut Soojung. Jongin sendiri terlihat seperti biasanya, seolah semalam tidak berurusan apapun dengan Soojung dan hal itu membuat Soojung bingung. Sebagai gadis yang tahu tata krama serta adab, Soojung jadi tak bisa berhenti memikirkan cara untuk berterima kasih pada Jongin serta minta maaf padanya. Soojung sendiri selama ini tak pernah bicara dengan Jongin –teman sekelasnya bahkan tidak ada yang bicara dengan Jongin. Karena Jongin selalu menunjukkan wajah seolah ia sedang kesal jika ada yang menghampirinya, jadi siapa yang berani menegurnya jika ia seperti itu?

Ketika bel istirahat berbunyi, seisi kelas langsung berhamburan keluar, termasuk Jongin. Soojung pun memutuskan untuk mengikutinya.

“Yah, Soojung. Kamu mau ikut ke kantin?” tegur Jinri.

Soojung hanya menggelengkan kepalanya dan berlalu meninggalkan Jinri untuk mengikuti kemana Jongin pergi. Soojung berhasil menemukan Jongin setelah sebelumnya kehilangan jejak Jongin. Di tengah perjalanan, Soojung melihat Jongin sudah menarik siswa dari kelas satu dan menyeretnya menuju gudang di belakang sekolah. Soojung mengikuti mereka sampai akhirnya Soojung memergoki Jongin sedang memeras hoobae mereka itu. Soojung tentu saja tidak bisa tinggal diam melihat hal itu.

Geogiyo (hei yang disana)!” seru Soojung menyela konfrontasi Jongin.

Kedua pemuda itu sama-sama menoleh ke arah Soojung. Dan Jongin tampak sangat terganggu saat ini. Soojung sendiri sudah menutup mulutnya dengan kedua tangannya –menyesal karena sudah menyela mereka. Sementara Jongin sudah melonggarkan pegangannya terhadap siwa kelas satu tadi dan berpaling menatap Soojung dengan sedikit takjub. Sedangkan siswa kelas satu tersebut memanfaatkan kesempatan ini untuk melepaskan diri dari Jongin serta lari meninggalkan mereka.

“Yah, eoddiga (mau kemana)?!” seru Soojung berusaha menahan anak kelas satu tadi agar tidak meninggalkannya berdua saja dengan Jongin.

Soojung sudah berbalik untuk mengejar siswa tadi –serta melarikan diri dari Jongin, tapi sayangnya Jongin sudah menarik tangan Soojung. Hal ini membuat Soojung memekik tertahan karena kaget dan takut.

“Sepertinya kamu begitu menyukaiku sampai terus mengikuti kemanapun aku pergi,” desis Jongin.

Soojung memandangi tangannya yang dicekal Jongin, panik. Tapi Soojung lebih kaget lagi begitu mendengar ucapan Jongin barusan. Belum sempat Soojung tersadar dari keterkejutannya, Jongin sudah mendorong Soojung dan memojokkannya ke dinding gudang sekolah yang ada di belakang Soojung. Jongin bahkan memenjarakan Soojung dengan menjadikan dua lengannya sebagai palang di kiri-kanan badan Soojung –membuat Soojung tak bisa lari kemana-mana. Jongin kini mendekatkan wajahnya pada Soojung –dan membuat Soojung berpaling untuk menghindari bertatapan langsung dengannya.

“Kenapa kamu mengikutiku?” bisik Jongin geram.

Soojung memejamkan matanya erat-erat. Ia bisa merasakan napas Jongin yang membelai pipinya. Dan kini Soojung merasa jantungnya berdebar kencang sekali.

“Apa kamu akan mengadukanku? Membuat cerita kalau aku habis memukuli seseorang lagi? Apa yang akan kamu lakukan? Melaporkanku kepada kepala sekolah agar aku dikeluarkan dari sini?!” desis Jongin.

A-aniyo,” lirih Soojung. Ia benar-benar menciut saat ini. “A-aku hanya.. aku ingin.. aku tadi-“

“Ahh, aku mengingatmu. Kamu yang semalam bersama anak-anak Sungwon itu kan? Aku yakin kamu tidak akan mengadukanku pada kepala sekolah. Apalagi kemarin aku sudah menolongmu, bukan? Lagipula aku berkelahi karena kamu. Mana ucapan terima kasihmu karena aku sudah menolongmu, Nona?” ujar Jongin dingin.

Justru aku kesini karena mau mengucapkan hal itu, bodoh!! jerit Soojung dalam hati. Soojung menarik napas panjang, berusaha menenangkan hatinya.

“Aku mengikutimu kesini karena aku mau mengucapkan terima kasih padamu. Terima kasih sudah menolongku semalam dan maaf karena sudah merepotkanmu. Aku tidak akan mengadukanmu pada kepala sekolah,” sahut Soojung setelah mengumpulkan keberaniannya.

Jongin kini  sudah melepaskan Soojung. Ia sudah berdiri tegak sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Dan yang terpenting adalah, wajahnya kini sudah menjauh dari wajah Soojung –sehingga membuat Soojung sedikit bernapas lega.

“Hanya itu?” tanya Jongin. Ia kini sudah menatap Soojung dengan pandangan seolah berkata ‘hei aku baru saja menyelamatkan dunia dan hanya itu yang aku dapatkan?’.

Sungguh Soojung menyesal sudah mengikuti Jongin hari ini. Ia pikir Jongin setidaknya memiliki kepribadian yang baik pada perempuan. Ternyata Jongin tetap menyebalkan.

“Lalu kamu mau apa?” tanya Soojung takut.

“Aku butuh sesuatu yang nyata. Bukan hanya sekedar ucapan. Tapi sesuatu yang menunjukkan betapa kamu sangat berterima kasih padaku,” sahut Jongin.

Soojung terbengong-bengong mendengar ucapan Jongin. Apa dia sekarang sedang memerasku atau menindasku atau mengancamku? batin Soojung. Apa ini caranya untuk mendapatkan uang?

“Aku akan menyisihkan uang jajanku untukmu,” gumam Soojung pelan.

Tapi Jongin menolaknya. Menurutnya, uang bisa ia dapatkan dimana saja. Karena itu Jongin tidak membutuhkan uang Soojung. Tapi kalimat Jongin mengenai ‘lakukan sesuatu dengan kemampuanmu atau tubuhmu’ membuat Soojung berpikir kalau Jongin ingin menjadikan Soojung sebagai budaknya.

“Yang benar saja!” seru Soojung pelan. Walaupun ia menolak permintaan Jongin, tapi Soojung tak berani melawannya. “Hanya karena kamu sudah menyelamatkanku dari preman-preman itu lantas kamu mau menjadikanku budakmu. Apa.. apa tidak ada sesuatu yang lebih ringan dari-”

Soojung sudah meremas-remas ujung blazernya. Ia benar-benar menyesali pilihannya untuk mengejar Jongin. Ternyata berurusan dengan Jongin membawa petaka baginya.

“Aku punya ide lebih baik daripada menjadikanmu sebagai budakku. Lagipula aku sudah punya banyak budak,” ujar Jongin. “Jadilah pacarku.”

Soojung bahkan belum selesai mengucapkan kalimatnya –dan bahkan belum sepenuhnya pulih dari keterkejutannya –kini Jongin sudah mengatakan sesuatu yang membuat otak Soojung nyaris berhenti. Soojung sudah merapatkan dirinya dengan tembok karena Jongin kini kembali memojokkannya. Soojung harus menahan napasnya –lagi– karena wajah Jongin kembali berada sedekat itu dengan miliknya.

“Tidak apa-apa ‘kan walau aku adalah gangster,  preman atau apapun itu sebutan kalian terhadapku. Tapi aku mau kamu menjadi pacarku. Apa kamu mau? Kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa. Lagipula preman-preman kemarin sepertinya tidak akan kembali mencarimu karena mengira kamu adalah kekasihku. Harusnya memang aku tidak menyelamatkanmu malam itu. Jadi, apa kamu mau jadi pacarku?” bisik Jongin.

Soojung hanya bisa memandangi Jongin dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia benar-benar dibuat bingung dengan apa yang sedang terjadi disini. Tadinya ia membuntuti Jongin hanya untuk mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkannya semalam serta meminta maaf karena sudah merepotkan Jongin. Lalu Soojung melihat Jongin kembali menindas anak kelas satu dan Soojung berusaha menolong siswa malang itu. Dan kini Jongin malah mengancam Soojung agar gadis itu mau menjadi pacarnya.

“Ne (apa/ya)?!” sahut Soojung kaget.

Jongin kembali maju satu langkah dan memojokkan Soojung lagi. Ia menatap Soojung lekat seolah ingin menerobos masuk ke dalam diri Soojung. Hal ini membuat Soojung jadi salah tingkah. Tapi Soojung tetap membalas menatap mata Jongin. Soojung melihat ada sesuatu disana –sesuatu yang membuatnya tertarik dan ingin melihatnya terus dan terus. Dan kini Soojung melihat Jongin sudah tersenyum padanya –ya, tersenyum, bukan menyeringai.

“Wah, tak kusangka secepat itu kamu menerimanya. Baiklah, sampai ketemu sepulang sekolah nanti,” ujar Jongin. “..pacar.”

Jongin menepuk puncak kepala Soojung pelan sebanyak dua kali. Lalu ia meninggalkan Soojung yang masih mematung dan menempel sempurna di dinding. Ketika Jongin sudah benar-benar menghilang dari belakang gudang ini, tubuh Soojung langsung merosot sempurna hingga ia terduduk di tanah.

“Apa yang baru saja terjadi?” bingung Soojung. “Apa aku baru saja menjadi pacarnya?! Apa aku sudah gila?! Neo Jinjja baboya (kamu sungguh bodoh), Jung Soojung!!”

Soojung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menyesali kebodohan serta kepolosannya. Soojung bahkan tidak tahu apa-apa mengenai Jongin –selain berita kalau dirinya jago berkelahi serta merupakan murid paling nakal di Hanlim. Soojung bahkan tidak kenal dekat dengan Jongin jadi bagaimana bisa ia tiba-tiba menjadi kekasihnya. Mau jadi apa hubungan mereka nanti?

.

.

Soojung menjatuhkan dirinya di bangku kantin. Ia menyusul Jinri ke kantin untuk menjernihkan pikirannya. Memang seharusnya tadi ia pergi ke kantin, bukannya mengikuti Jongin dan malah berakhir terpuruk seperti ini. Soojung kini membenamkan kepalanya di meja hingga menimbulkan bunyi ‘duk’ yang begitu keras –Jinri sampai mengira kalau kening Soojung pasti akan benjol karena benturan tersebut.

“Kemana saja kamu tadi, Soojung-ah?” tegur Jinri. “Sujie tadi pesan agar kita ikut kelas tambahan. Kamu ikut kan? Walaupun nilaimu sudah sempurna, tapi setidaknya kamu harus ikut kelas tambahan agar terlihat kalau kamu memang pintar karena belajar, bukan karena keberuntungan.”

“Sujienya mana?” Soojung akhirnya menyahuti ucapan Jinri –mencari dimana Bae Sujie, salah satu sahabatnya.

“Sudah kembali ke kelas,” sahut Jinri acuh. Jinri kini mendekatkan badannya ke arah Soojung seraya berbisik antusias. “Yah yah yah, Soojung-ah, apa kamu tahu?”

Soojung kini sudah mengangkat kepalanya dan duduk tegak. Ia menoleh menatap Jinri malas. Ia tahu persis mengenai hobi Jinri bergosip. Yang bikin Soojung malas mendengarkannya karena terkadang gosip-gosipnya tak masuk diakal.

Mwo (apa)?” tanya Soojung berusaha peduli.

“Jongin terlibat perkelahian lagi semalam. Ia sendirian melawan siswa-siswa dari Sungwon,” sahut Jinri antusias.

Soojung terlonjak kaget mendengar ucapan Jinri. Ia kaget, karena bagaimana bisa Jinri tahu kalau semalam Jongin habis berkelahi dengan murid-murid dari Sungwon. Apa mungkin Jinri melihatnya langsung? Soojung segera menepis pemikirannya itu dan mencoba fokus mendengarkan cerita Jinri.

“Jongin berkelahi dengan siswa Sungwon. Kudengar itu adalah perkelahian empat lawan satu atau lima lawan satu? Aku juga tak begitu yakin. Tapi yah, seperti itulah yang kudengar,” cerita Jinri.

“D-darimana kamu tahu?” tanya Soojung penuh kehati-hatian.

“Kamu tahu kan kalau adik sepupuku ada yang sekolah di Sungwon. Dia bilang salah satu temannya dipukuli oleh Jongin. Katanya sih karena mereka mengganggu pacaranya Jongin. Hah, ternyata gangster gadungan itu punya pacar juga,” cibir Jinri.

Soojung kini tersedak. Ia merasa lemas seketika. Soojung jadi penasaran, apakah siswa Sungwon kemarin mengingat wajahnya. Jika ya, maka habislah riwayat Soojung. Karena mungkin sepupu Jinri yang ada di Sungwon akan langsung menceritakannya pada Jinri sehingga membuat Jinri akan mengadili Soojung –mengingat betapa Jinri sangat membenci Jongin tentu ia tak ingin Soojung menjadi kekasih Jongin.

“Kudengar Kim Jongin akan dikeluarkan dari Hanlim. Dan dia akan dipindahkan ke Sungwon. Katanya kalau ia tertangkap basah sedang berkelahi lagi, kepala sekolah akan mendepak dia dari sekolah ini. Kalau itu benar terjadi, berarti total sekolah yang membuang Kim Jongin menjadi bertambah. Dia bahkan tidak diterima dimana pun juga,” ujar Jinri.

Entah kenapa Soojung merasa iba pada Jongin. Apalagi mendengar kata-kata Jinri mengenai sekolah yang tidak menerima serta membuang Kim Jongin. Soojung bertanya-tanya seberapa banyak hal buruk yang pernah terjadi pada Kim Jongin.

“Lalu apa kamu akan mengadukannya pada kepala sekolah?” tanya Soojung.

Jinri sudah menggerakkan telunjuknya ke kiri dan kanan sambil tersenyum bangga. “Kali ini aku akan menyelamatkannya. Dia berkelahi karena membela kekasihnya. Akan sangat jahat kalau aku mengadukannya pada kepala sekolah dan membuat dia dikeluarkan karena dia sudah membela pacarnya. Kalau pacarku ada di posisi dia, aku pasti akan mengutuk siapapun juga yang melaporkannya pada kepala sekolah.”

Bel pertanda istirahat siang sudah selesai pun berbunyi –memutus semua pemikiran Soojung. Ia akhirnya memilih bangkit dari bangkunya untuk kembali ke kelas. Soojung berusaha mengacuhkan apapun yang berhubungan dengan Kim Jongin, termasuk gosip baru dari Jinri.

“Soojung-ah, apa kamu tahu? Kim Jongin-,”

Soojung langsung memotong ucapan Jinri dengan beralasan kalau ia ingin membeli roti untuk ia makan dalam perjalanan kembali kelas.

.

.

Ketika bel pulang sekolah berbunyi Soojung langsung menoleh ke arah bangku Kim Jongin. Biasanya Jongin yang paling pertama keluar kelas begitu bel pulang berbunyi. Tapi kali ini Jongin tampak masih tertidur di bangkunya. Akhirnya Soojung memilih untuk merapikan semua bukunya untuk pindah ke kelas tambahan. Begitu ia dan Jinri bersiap keluar kelas, Soojung sudah tak lagi menemukan Jongin di bangkunya.

Soojung pikir mungkin Jongin memang hanya menggodanya saja tadi siang. Buktinya Jongin tidak menunggunya, padahal tadi ia berpesan ‘sampai ketemu pulang sekolah nanti’ pada Soojung. Selain itu, Jongin juga sama sekali tidak menghampirinya, menegurnya atau sekedar bertukar pandang ketika mereka di kelas. Hal ini membuat Soojung yakin kalau Jongin tidak benar-benar serius akan ucapannya.

Setidaknya Soojung bisa bernapas lega karena tidak perlu melihat Jongin lagi. Soojung pun pergi ke kelas tambahan dengan sebuah perasaan aneh di hatinya.

Di kelas tambahan, Soojung sama sekali tidak bisa fokus belajar. Ia memikirkan apakah Jongin serius dengan ucapannya atau tidak, apakah Jongin menunggunya atau tidak, apakah ia harus menemui Jongin atau tidak. Bukan karena Soojung berpikir untuk menerima dan menjalani semua hal mengenai menjadi-pacar-Kim-Jongin, tapi karena Soojung ingin meminta penjelasan kenapa pemuda itu menginginkan Soojung menjadi kekasihnya.

Karena tak tahan terus menerus memendam semua pertanyaan dalam otaknya, akhirnya Soojung memilih untuk meninggalkan kelas tambahan. Soojung kini sudah kembali ke kelas –ia pikir Jongin mungkin masih ada di kelas– tapi nihil. Soojung memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia berpikir untuk segera mandi dengan air hangat, dengan begitu semua pikirannya yang sangat kusut hari ini bisa kembali normal.

“Yo, pacar,” tegur seseorang ketika Soojung baru keluar gerbang sekolah. Orang itu tak lain adalah Kim Jongin. Ia sedang berjongkok di atas pagar batu sekolah. Jongin lalu melompat dan mendarat persis di depan Soojung.

“Apa yang kamu lakukan?!” desis Soojung. “Lagipula kapan aku menyetujui jadi pacarmu?!”

Kali ini Soojung sudah memberanikan diri untuk berbicara dengan Jongin –dengan benar. Soojung tak ingin berakhir terpuruk seperti tadi siang dan menghasilkan hari yang sangat berantakan. Soojung ingin memperbaiki semua kesalahpahaman ini.

“Bukannya kamu tadi sudah bilang iya. Apa sekarang kamu menarik lagi ucapanmu begitu? Tidak konsisten sekali,” ujar Jongin sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Aku tidak pernah bilang iya,” sahut Soojung.

“Jadi kamu menolakku?” desis Jongin.

Mendengar suara Jongin yang mendadak terasa sedingin es itu, mau tak mau membuat Soojung merinding. Ia pun kembali ciut. “A-aku juga tidak bilang seperti itu.”

“Kalau begitu kamu menerimaku,” putus Jongin bangga. Ia kini tersenyum riang memandangi Soojung.

Soojung mengambil napas panjang. Ia kembali mengendalikan hatinya agar ia berani menghadapi Jongin. Sepertinya tidak mudah untuk berurusan dengan Jongin. Tapi Soojung sudah bertekad untuk meluruskan masalah ini.

“Lagipula kenapa kamu tiba-tiba meminta aku jadi pacarmu? Kita kan tidak saling kenal,” sahut Soojung

Jongin kini memiringkan kepalanya dan menatap Soojung takjub. “Kamu tidak mengenalku? Memangnya siapa namaku?”

“Kim Jongin.”

“Aku dari sekolah mana dan duduk di kelas berapa?” tanya Jongin lagi.

Soojung mengerjap-ngerjapkan matanya –bingung dengan pertanyaan Jongin. “Kamu satu sekolah denganku dan kita bahkan sekelas.”

“Kalau begitu kamu mengenalku,” putus Jongin.

Soojung sudah membuka mulutnya lebar-lebar. Tak percaya akan apa yang baru saja terjadi. Jongin kembali mematahkan ucapannya –dengan cara yang tak terduga. Soojung pun menghela napas panjang. Ia mencoba memikirkan strategi yang baik untuk menyelesaikan masalah ini –tanpa menghasilkan masalah baru.

“Ok, aku memang tahu siapa kamu begitu juga dengan kamu. Tapi kita tidak saling mengenal secara mendalam. Kita bahkan tidak pernah bicara satu sama lain-,”

“Tidak pernah bicara? Lalu apa yang sedang kita lakukan saat ini? Tadi siang? Semalam?” potong Jongin lagi.

Soojung sudah mengatupkan mulutnya rapat-rapat. 3-0, pikir Soojung. “Ok. Kita memang saling kenal dengan cara seperti itu. Tapi kita kan tidak punya perasaan spesial sehingga kita harus menjadi sepasang kekasih. Memangnya kamu menyukaiku? Dan memangnya kamu tahu aku menyukaimu atau tidak. Kita bahkan tidak pernah bicara sebelumnya dan sekarang tiba-tiba kamu meminta untuk menjadi sepasang kekasih. Kita bahkan tidak melalui proses penjajakan terlebih dahulu. Itu ‘kan-.”

“Tapi aku bukan tipe seperti itu,” Jongin kembali memotong ucapan Soojung. “Untuk apa menghabiskan waktu saling mengenal secara dalam terlebih dahulu. Lalu ketika sudah menghabiskan begitu banyak kesempatan, ternyata harus berakhir karena salah satu merasa ada yang kurang. Itu sangat tidak praktis.”

Kesabaran Soojung benar-benar sedang diuji saat ini. Oh lihatlah, bahkan belum resmi berpacaran saja ia sudah mengalami tekanan batin seperti ini, bagaimana jika mereka benar-benar berpacaran? Mungkin dalam dua minggu, Soojung hanya tinggal tulang dibungkus kulit.

“Ok!” Soojung sudah mulai agak kesal disini. Karena ia harus kembali kalah oleh Jongin. “Kamu mau aku menjadi pacarmu, memangnya kamu menyukaiku?”

“Apa aku harus mengatakan seperti itu? Yang seperti itu sama sekali bukan tipeku,” sahut Jongin ala kadarnya.

Soojung menghela napas panjang –kesal. Ia sudah berteriak pelan untuk melampiaskan kekesalannya. Sepertinya tak ada jalan keluar dari semua masalah ini. Satu-satunya pencerahan adalah dengan menerima kenyataan kalau ia kini menjadi pacar Kim Jogin. Soojung akhirnya menjatuhkan badannya begitu saja sehingga ia kini berjongkok di hadapan Jongin.

Soojung sudah menggumamkan dosa-apa-aku-di-masa-lalu serta kenapa-ini-harus-terjadi-padaku sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Saat masih sibuk meracau, Soojung merasakan ada sesuatu di lututnya. Rupanya Jongin sudah ikut berjongkok dan membungkus lutut Soojung dengan blazernya. Jongin kini sudah memamerkan senyumannya pada Soojung.

“Jangan berjongkok sembarangan seperti ini, pacar. Celana dalammu nanti bisa dilihat orang,” ujar Jongin sambil tersenyum penuh arti.

Kaget, Soojung langsung saja mendorong badan Jongin untuk melampiaskan rasa malunya. Tapi sayangnya, badan Jongin kuat bagai batu, sehingga ia tak tergoyahkan sedikitpun ketika Soojung mendorongnya. Malah Soojung yang terjengkang ke belakang karena termakan kekuatannya sendiri. Untungnya tadi Jongin menutup kaki Soojung dengan blazernya, jika tidak, mungkin saat ini Jongin bisa melihat dengan baik apa isi di balik rok Soojung.

Jongin kini sudah mengulurkan tangannya pada Soojung untuk membantu gadis itu berdiri. Ia membantu merapikan seragam Soojung –membersihkan blazer Soojung yang kotor. Jongin juga merapikan rambut Soojung yang sedikit berantakan. Sikap Jongin ini mau tak mau membuat hati Soojung berdesir.

“Jadi, apa kamu baik-baik saja, pacar?” tanya Jongin.

Soojung masih asing dengan panggilan itu. Tapi akhirnya Soojung memutuskan untuk menerima saja semuanya. Lagipula berargumen dengan Jongin juga tak ada gunanya, karena Jongin selalu berhasil mematahkan ucapan Soojung. Sepertinya tak ada salahnya menjadi pacar Kim Jongin.

“Apa boleh buat. Kamu sudah melihat celana dalamku. Baiklah, aku akan menjadi pacarmu,” sahut Soojung sambil memandangi sepatu mary jane-nya.

“Hahaha, aku tidak melihatnya. Sungguh,” ujar Jongin sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya yang membentuk huruf v. “Lagipula aku juga tidak tertarik dengan Hello Kitty.”

Wajah Soojung langsung merah padam. Jongin melihatnya, Soojung yakin kalau Jongin melihat celana dalamnya. Soojung kini sudah merajuk pada Jongin. Dan Jongin malah menepuk puncak kepala Soojung pelan seraya berkata, “gwiyeowo (lucunya).”

Untuk pertama kalinya, Soojung bicara banyak dengan Jongin tanpa rasa takut sedikitpun. Dan Soojung pikir tak ada salahnya berpacaran dengan Kim Jongin.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

logo1

First story of DIFFERENT FAIRYTALE. “BEAUTY AND THE BEAST”

안녕!

Kalian tentu tahu dongeng beauty and the beast? Cerita pertama ini di adaptasi dari dongeng yang bee suka, yaitu beauty and the beast. Dongeng mengenai seorang gadis cantik dan sederhana yang jatuh cinta pada seorang monster –yang ternyata adalah seorang pangeran yang dikutuk oleh penyihir jahat. Jadi inti cerita pertama ini tentu saja tidak jauh beda dengan inti cerita dongeng beauty and the beast.

Ini adalah chapter pertama dari cerita ‘beauty and the beast’. Nantinya akan ada cerita kedua, ketiga, keempat dan entah sampai berapa, yang akan berada di dalam satu series ‘Different Fairytale’. Berbeda dengan Three Words yang merupakan multichapter series (dimana satu series saling berhubungan dengan series yg lainnya) sedangkan di Different fairytale ceritanya tidak saling berhubungan.

Penasaran dengan cerita kedua? Kira-kira dari dongeng apa ya? Next mungkin akan ada chapter dua dari beauty and the beast atau mungkin juga cerita yang lain yang akan tayang. Entahlah, bee sndiri belum menentukan 🙂

thanks for your support!! u guys are my vitamin 🙂
안녕!! 뿅! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 다른 동화 (Different Fairytale) | Beauty and The Beast – Chapter 1 | PG15

15 thoughts on “FF – 다른 동화 (Different Fairytale) | Beauty and The Beast – Chapter 1 | PG15

  1. junghana21 says:

    omg chapter 1 aja udah manis gini

    kayaknya jongin udah lama nih suka sm soojung
    sekalinya ada kesempatan langsung aja tuh si kkamjong ngajak soojung pacaran
    dan untungnya sooojung yg baik hati menerimanya. ga ada ruginya kok jung punya pacar sesexy jongin

    banyak kalimat yg pakek bahasa korea. jadi terasa settingnya beneran di korea

  2. Reader says:

    Betul sekali Jongin! langsung pacaran aja biar praktis! hehe!
    Tapi Jongin benar-benar preman…masa sampai malakin anak kelas satu, kirain dia berantem karena mau membela diri, ternyata benar-benar preman… -_-
    Ya ampun…enak banget dibacanya ini…deskripsinya bagus!

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s