FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter END – Be My King| PG15


areum

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter End – Be My King

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

Other Cast:

Jiyeon T-Ara as Park Jiyeon

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life, Drama

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Enchanted | EXO – Into Your World, Angel

Chapter End | Be My King

.

.

.

.

This Is My Choice.

.

.

.

Kamar ICU rumah sakit ini terasa seperti sebuah pemakaman. Duka yang dalam begitu terasa di kamar rawat inap Ahreum. Dua belas pemuda dari Exoland sudah memenuhi kamar itu, memandangi putri mereka yang kini terbaring tak berdaya di ranjang pasien. Sudah lima hari Ahreum tak sadarkan diri. Bahkan dokter bilang hanya keajaiban saja jika Ahreum bisa membuka matanya. Walaupun tusukan belati itu tidak mengenai organ vitalnya serta tidak banyak darah Ahreum yang terbuang, tapi Ahreum tetap dinyatakan koma oleh dokter karena ia tak kunjung bangun. Menurut dokter, Ahreum saat ini sedang dalam fase bersembunyi –jiwanya menghilang dan bersembunyi entah dimana. Karenanya ia tak bereaksi apapun meskipun semua usaha yang sudah dilakukan pihak rumah sakit terhadapnya.

Hanya Kris yang duduk di samping ranjang Ahreum. Sementara yang lainnya berdiri di belakang Kris atau di sisi lain kamar rawat inap itu. Dokter hanya mengizinkan satu orang untuk menemani Ahreum, yaitu Kris. Walaupun dokter sudah mengingatkan yang lainnya untuk tidak memenuhi kamar Ahreum, tapi tetap saja sebelas pemuda itu tetap turut masuk. Karena mereka tak ingin Kris melakukan hal-hal bodoh yang mungkin akan membahayakan dirinya sendiri.

Semua rekannya tahu kalau Kris saat ini pasti sedang menghukum dirinya sendiri. Sejak kejadian di kediaman Ahreum sampai detik ini, Kris tidak bisa berhenti untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri. Ia bahkan menolak makan selama lima hari ini. Kris hanya duduk di samping Ahreum dan memandangi wajah gadis itu tanpa ekspresi. Bahkan walau matanya terpaku pada Ahreum, tapi semuanya juga tahu kalau pikiran Kris melayang entah kemana. Matanya bahkan sudah tak bercahaya lagi.

Sebelas pemuda yang lain juga baru menyadari. Detik ketika Ahreum mengorbankan dirinya untuk Kris, detik itu juga semuanya mengetahui siapa yang ada di hati Ahreum. Semuanya sadar betul siapa yang dipilih Ahreum. Semuanya tahu siapa yang dicintai Ahreum. Meskipun itu hanya tebakan dan asumsi mereka saja, tapi mereka yakin itu benar. Kalau Ahreum mencintai Kris.

“Ahreum sudah membuat pilihan,” gumam Sehun dengan suara yang sangat pelan, agar jangan sampai Kris mendengarnya (walau Kris juga pasti tidak akan mendengarnya, karena dirinya sendiri seolah sedang tidak berada bersama mereka).

“Sepertinya terjadi sesuatu di antara mereka ketika di Dokdo dulu,” sahut Lay.

Semuanya kembali mengulang tingkah-tingkah aneh Ahreum setelah kembali dari Dokdo. Dimana Ahreum semakin menjauhi Kris, menolak bicara dengan Kris, menolak melihat Kris, bahkan menolak menyebut nama Kris. Mereka pikir itu karena Kris melakukan kesalahan fatal dan membuat Ahreum makin membencinya. Padahal itu semua karena Ahreum sedang berusaha menahan hatinya agar tidak jatuh semakin dalam pada Kris.

 

Semuanya tidak tahu, selain Kai.

 

Kai sudah tahu akan perasaan Ahreum tepat sebelum bencana itu terjadi. Karena Kai mendengar percakapan Ahreum dengan Jiyeon. Kai mendengar sendiri Ahreum bilang kalau ia menyukai Kris. Kai mendengar sendiri cerita Ahreum kalau Kris mencuri ciuman pertama Ahreum dan membuat gadis itu semakin sadar kalau ia mencintai Kris. Kai mendengar sendiri kalau Ahreum sakit karena harus menahan perasaannya terhadap Kris serta berusaha untuk mengalihkan perasaannya pada pengawalnya yang lain. Kai mendengar semuanya.

Jujur saja Kai patah hati. Bagaimana ia tidak patah hati, gadis yang ia cintai dengan seluruh jiwa raganya ternyata tidak mencintainya. Karenanya ia melampiaskan kekecewaannya pada Kris. Kai sadar betul betapa dalamnya perasaan Ahreum terhadap Kris, ketika ia melihat gadis itu menerima hujaman belati yang di arahkan Ailee pada Kris. Kai kini menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa berkorban seperti Ahreum.

Kai pun beranjak dari tempatnya menuju sisi lain ranjang Ahreum. Kai meraih tangan Ahreum dan menggenggamnya. Ia melirik Kris dan mendapati Kris tak bereaksi apapun atas tindakannya. Kai pun menundukkan badannya dan mengecup kening Ahreum.

“Bangunlah, cantik,” bisik Kai. “Kalau kamu tak mau bangun juga, maka aku akan membunuh orang ini. Kamu sudah mengorbankan dirimu agar dia hidup, tapi kalau kamu tak mau membuka matamu, maka usahamu akan sia-sia, Ahreum. Karena aku yang akan membunuhnya. Aku akan membunuh dia karena sudah membuatmu seperti ini,”

“Kai,” tegur Suho.

Kai sudah tak bisa menahannya lagi. Mereka sudah berusaha keras untuk tidak membuat Kris makin terpuruk dengan menyalahkannya. Tapi Kai sudah tak bisa untuk tidak menyalahkan Kris. Menurutnya, Krislah yang membuat Ahreum jadi seperti ini. Jika kondisi Ahreum terus seperti ini, bagaimana bisa mereka merebut Exoland dari tangan Xenos. Walaupun Ailee sudah mereka kalahkan, tapi jika Ahreum saja tak mau membuka matanya, bagaimana bisa mereka membuat Xenos lengser dari tahta.

“Jangan hanya duduk diam saja, Hyung!” geram Kai. “Lakukan sesuatu untuk membuat dia membuka mata. Lakukan sesuatu agar dia bangun!!”

“Kai!” bentak Suho.

Suho tak pernah membentak rekannya seperti ini. Tapi kini ia merasa kalau Kai sudah kelewatan. Tak seharusnya mereka terpecah belah seperti ini. Ahreum juga pasti tak menginginkan ini terjadi. Karenanya Suho tak ingin ada pertengkaran di depan Ahreum.

Tapi Kai tak mau mengerti. Ia sudah akan menghampiri Kris untuk melakukan sesuatu padanya. Tapi Baekhyun dan Luhan sudah lebih dulu menahan Kai sebelum ia sempat mencapai Kris. Akhirnya mereka menyeret Kai keluar. Menjauhkan Kai dari Kris mungkin adalah pilihan terbaik saat ini. Yang lainnya pun ikut keluar kamar, meninggalkan Kris dan Suho di dalam.

Suho lalu menghampiri Kris. Ia meletakkan tangannya di pundak Kris untuk memberinya semangat.

“Hyung, kamu harus tegar. Ingat, Ahreum adalah anak yang kuat. Dia pasti akan kembali pada kita, Hyung. Saat ini ia mungkin sedang bermain-main disana atau mungkin hanya ingin mengujimu saja. Jadi kamu jangan lemah, Hyung,” nasihat Suho. “Dan jangan hiraukan ucapan Kai. Dia hanya sedang kecewa akan dirinya sendiri.”

Kris masih saja diam tak bergerak. Suho seolah sedang berbicara dengan patung saat ini. Akhirnya Suho memutuskan untuk meninggalkan Kris. Sebelum Suho keluar kamar, ia sempat mendengar Kris bergumam padanya.

“Suho-ya. Terima kasih,”

.

.

.

Ahreum tidak tahu sedang ada dimana ia saat ini. Ketika ia membuka mata, Ahreum mendapati hamparan langit biru membentang di hadapannya. Kemudian Ahreum duduk dan ia pun mengetahui kalau dirinya sedang berada di hamparan padang rumput yang tak bertepi. Ahreum bahkan tak melihat ujung pangkal tempat ini. Langit dan bumi seolah tak ada batasnya.

Hanya ada Ahreum disana dan sebatang pohon besar yang tampak sudah tua sekali; melihat dari besarnya batang pohon tersebut. Ahreum bertanya-tanya dalam hati sedang dimana ia saat ini. Karena tempat ini tampak sangat asing; walau Ahreum merasa nyaman berada disana.

“Ahreum,”

Ahreum kembali menoleh ke arah pohon besar di belakangnya. Ia melihat ada sepasang manusia; cantik dan tampan; berdiri di samping pohon. Ahreum mengenali keduanya. Ahreum tak tahu kalau ia akhirnya akan bertemu dengan mereka. Ahreum sudah menahan rindu ini terlalu lama. Bahkan sebelum suaranya keluar, Ahreum lebih dulu menangis melihat dua manusia itu.

“Appa.. Eomma..,”

Ahreum lalu berlari ke arah mereka dan memeluknya. Ahreum memeluknya. Ahreum akhirnya bisa memeluk kedua orangtuanya. Ahreum menangis semakin kencang ketika mereka membalas pelukannya. Ahreum mencengkeram erat pakaian mereka karena takut kalau orangtuanya akan menghilang secara tiba-tiba. Setelah puas menangis, Ahreum akhirnya melepaskan dirinya. Ahreum memandangi orangtuanya intens dan penuh rasa rindu. Ia menggenggam erat tangan mereka. Yang Ahreum takjubkan adalah wajah orangtuanya tampak sama dengan foto yang pernah ditunjukkan paman Kim padanya. Tak ada tanda-tanda penuaan sama sekali. Seolah mereka masih berada di awal usia tiga puluhan. Ini membuat Ahreum tak berhenti mengagumi mereka.

“Aku merindukan kalian,” bisik Ahreum dengan suara yang serak akibat terlalu banyak menangis.

“Kami juga merindukanmu,” ujar Ara, ibu Ahreum.

“Akhirnya aku bisa memanggil seseorang dengan sebutan Eomma dan Appa,” ujar Ahreum lagi.

Lee Seongmin mengusap-usap kepala Ahreum sebagai ungkapan rasa sayangnya. “Kamu tumbuh menjadi anak yang cantik, putriku. Persis seperti ibumu,”

“Aku dimana, Appa? Apa aku sudah mati??” tanya Ahreum.

Ayahnya tertawa mendengar ucapan Ahreum. Ia kemudian mengajak Ahreum untuk duduk.

“Tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang ingin mati, Ahreum,”

“Apa menurutmu kamu sudah mati? Atau kamu memang ingin mati?” sahut Ara.

“Aku tidak tahu. Lalu kenapa aku bisa ada disini? Apa aku sedang mimpi? Atau aku sedang berada di surga sekarang?” tanya Ahreum lagi.

Kali ini Ara yang mengusap kepala Ahreum. “Tergantung hatimu mempercayai yang mana, Ahreum. Kalau kamu percaya ini adalah mimpi, maka ini akan menjadi mimpi, sayang,”

Ahreum lalu memeluk ibunya erat. “Aku ingin tinggal disini bersama kalian. Aku merindukan kalian. Aku kesepian disana. Biarkan aku disini bersama kalian,”

“Kami akan selalu bersamamu, Ahreum. Kami tak pernah meninggalkanmu. Bukankah kami selalu ada di hatimu?” sahut Ara.

“Kesepian bagaimana? Bukankah sekarang rumah sudah ramai. Harabeoji kan sudah janji kalau kamu tidak akan pernah sendirian,”

Kali ini Ahreum mendengar suara lain yang sangat dikenalnya. Ia pun melepaskan diri dari ibunya dan melihat kalau kini kakeknya sudah ada dibelakangnya. Ahreum nyaris menjerit kegirangan melihat sang kakek yang tampak gagah perkasa. Ia langsung berlari dan memeluk kakeknya erat.

“Harabeoji sudah mengirimkan orang-orang baik untuk menjagamu agar kamu tak kesepian disana. Kenapa kamu masih bilang kalau kamu kesepian, cucuku? Kamu membuat usaha harabeoji jadi sia-sia.”

“Aku menyukai mereka, Harabeoji. Tapi aku merindukan kalian. Apa aku tak boleh tinggal bersama kalian?” pinta Ahreum.

“Nanti akan tiba saatnya dimana kita bisa bersama, Ahreum. Saat ini ada orang lain yang lebih membutuhkanmu daripada kami,” ujar Ara.

Ara kemudian menuntun Ahreum ke sisi lain pohon besar. Disana ternyata ada sebuah kolam kecil yang begitu jernih airnya sampai Ahreum bisa melihat apa saja yang ada di dalam kolam tersebut.

Air kolam memantulkan wajahnya yang tersenyum riang di apit kedua orangtuanya dan kakeknya –gambaran yang selalu ia impikan. Tapi kemudian air kolam berubah. Dan kini Ahreum melihat refleksi dirinya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Ahreum melihat siapa pemuda yang kini duduk di sampingnya. Ia melihat Kris menangis sambil terus memanggil-manggil namanya. Ahreum tak pernah melihat Kris semenderita ini.

“Kris,” lirih Ahreum.

“Kalau kamu tetap disini, putriku, bukan hanya dia saja yang terluka. Tapi juga mereka,” ujar Ara.

Di sisi lain kolam, Ahreum melihat pantulan para pengawalnya serta teman-temannya; Jiyeon, Jei dan Onew; yang juga sedang menangis di koridor rumah sakit. Ia tak tahu kalau kepergian dirinya akan membuat mereka begitu berduka.

“Sekarang apa yang akan kamu lakukan, putriku?” tegur Ara.

“Kamu menyukai pemuda itu kan,” terka Seongmin.

Wajah Ahreum memerah mendengar tebakan ayahnya. Malu-malu ia pun mengangguk.

“Aigoo, putriku sudah besar rupanya. Ia bahkan bisa mencintai seorang lelaki sekarang,” keluh Seongmin.

“Ia bahkan sudah mencium lelaki itu,” sahut Tuan Lee.

“Bukan aku yang menciumnya tapi dia yang menciumku,” protes Ahreum. Dan Ahreum segera menyesal telah mengutarakan protesnya karena kini ayah dan kakeknya sudah memicingkan mata mereka pada Ahreum; bersiap untuk menggoda Ahrem lebih jauh lagi.

“Dia juga begitu menyayangimu, putriku,” sela Ara. “Coba lihat betapa terlukanya dia saat ini. Apa kamu mau meninggalkannya begitu saja?”

Ahreum kini mengalami dilema. Di satu sisi ia ingin bisa tetap bersama keluarga kecilnya ini. Tapi di sisi lain ia juga begitu merindukan Kris. Ahreum bahkan belum sempat mengutarakan perasaannya pada Kris. Meskipun mereka sama-sama saling menyukai, tapi belum ada pernyataan resmi mengenai perasaan mereka.

“Tapi kalau aku pergi, aku tak bisa bertemu kalian lagi,” sahut Ahreum sedih.

“Kata siapa? Kami akan selalu ada disini, bersamamu,” ujar Ara sambil memegang dada kiri Ahreum. “Kami akan selalu ada di hatimu. Kapanpun kamu ingin bertemu, kamu tinggal ketuk hatimu dan kita akan bertemu untuk melepas rindu,”

“Belum saatnya kamu kembali pada kami, Ahreum,” ujar Seongmin.

“Kembalilah ke tempat seharusnya kamu berada, cucuku.”

Ahreum mengangguk sedih. Airmatanya kembali jatuh. Ia memeluk keluarga kecilnya untuk yang terakhir kali. Pelukannya terasa seperti selamanya karena Ahreum tak mau melepaskan mereka begitu cepat. Walau Ahreum tak ingin berpisah, tapi tetap saja Ahreum harus melepaskan mereka. Karena biar bagaimanapun juga, ia merindukan Kris saat ini.

“Aku akan kembali lagi, Eomma Appa Harabeoji. Aku akan selalu merindukan kalian,” ujar Ahreum.

Ara membelai wajah putrinya penuh kasih sayang.

“Sekarang tutup matamu, putriku. Bayangkan hal-hal indah. Bayangkan dia,” titah Ara.

Dan Ahreum pun menutup matanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sudah seminggu Ahreum koma. Sudah seminggu pula Kris tak beranjak dari tempatnya di samping Ahreum. Ia tak melewatkan satu detikpun untuk melihat perkembangan Ahreum; yang walaupun tak ada perubahan apapun dari gadis itu. Kris pun tak bisa menahannya lagi. Ia akhirnya menangis. Ia terlalu merindukan Ahreum sampai akhirnya ia menangis. Kris bukanlah orang yang mudah menitikkan airmatanya, tapi kini ia menangis. Ahreum benar-benar mampu untuk meruntuhkan kesombongan Kris.

“Bangunlah, Ahreum. Kumohon bangunlah dan bicara padaku. Aku merindukanmu. Aku merindukan ocehanmu, aku merindukan rengekanmu, aku merindukan pujianmu, aku merindukan suaramu dan aku merindukan matamu untuk menatap mataku. Sudah cukup kamu siksa aku seperti ini. Kurasa aku tak sanggup lagi jika kamu terus diam, Ahreum. Kumohon padamu,” isak Kris.

Hampir seminggu tak menggunakan suaranya membuat suara Kris terdengar parau saat ini. Ia menangis sambil menggenggam tangan Ahreum. Kris memandangi wajah Ahreum dan ia melihat setitik cairan bening mengalir dari mata Ahreum.

“Ahreum! Kenapa? Kamu menangis? Bangun, Ahreum. Kenapa kamu menangis? Bilang padaku siapa yang membuatmu menangis?” Panik Kris sambil menghapus airmatanya sendiri.

Entah karena terlalu kencang menggenggam tangan Ahreum atau tidak, tapi Kris merasa kalau jemari Ahreum bereaksi dalam genggamannya. Kris pun terdiam dan memandangi jemari Ahreum. Dan mereka memang bergerak perlahan dalam genggamannya.

“Ahreum..,”

Kemudian Kris kembali melihat wajah Ahreum. Mata Ahreum tampak bergerak-gerak dan perlahan-lahan terbuka. Ahreum mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan dan kemudian melihat ke arah Kris.

“Kris…?”

Kris sungguh tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia kembali menitikkan airmatanya ketika melihat Ahreum sudah membuka mata dan berbicara padanya.

“Kris, kamu menangis?”

Kris menggelengkan kepalanya. Kris memang adalah pembohong yang buruk. Meskipun ia bilang kalau ia tak menangis, tapi pada kenyataannya airmata terus membanjiri pipinya dan Kris tak bisa menghentikan itu.

“Karena kamu menangis, makanya aku menangis. Kenapa kamu menangis?” tanya Kris setelah berhasil mengumpulkan suaranya.

“Aku? Ahh tadi aku bertemu orangtua dan kakekku. Tapi aku harus meninggalkan mereka makanya aku sedih,” ujar Ahreum lemah.

Ahreum perlahan menutup matanya dan berkata. “Kris, aku capek. Aku mau tidur lagi. Mau bertemu dengan ibu-,”

“Jangan!” cegah Kris. Ia lalu menangkup wajah Ahreum. “Kumohon jangan tutup matamu, Ahreum. Jangan tidur dulu. Kumohon,”

“Tapi aku lelah, dan rasanya.. Ohh lihat harabeoji sudah datang,” gumam Ahreum sambil menutup matanya.

“Jangan, kumohon. Buka matamu, Ahreum. Buka matamu,” pinta Kris. Ia nyaris menangis lagi saat ini.

Ahreum menarik sudut-sudut bibirnya. “Sepertinya kamu terlalu merindukanku sampai kamu tak ingin aku pergi barang sebentar saja,”

Kris terdiam sejenak. Ia memandangi senyuman di wajah Ahreum. Beberapa detik kemudian Kris tersadar. Ia baru menyadari kalau Ahreum baru saja menggodanya. Ahreum sengaja membuatnya panik di situasi seperti ini. Kris pun mengerutkan keningnya menatap Ahreum.

Ahreum tertawa pelan. Masih menatap Kris lemah, Ahreum berusaha mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Kris. Kali ini Kris memejamkan matanya, menikmati sentuhan Ahreum di pipinya. Kris kemudian menumpukan tangannya di atas tangan Ahreum.

“Jangan pernah kamu melakukan itu lagi, putri. Itu sungguh lelucon yang tidak lucu,”

Ahreum tersenyum dibuatnya. Ia pun meminta maaf pada Kris atas leluconnya yang tidak lucu tadi.

Keduanya lalu terdiam. Walau hanya beberapa detik saja tapi rasanya seperti seabad bagi mereka. Tidak ada kata yang terucap. Mereka hanya saling pandang, menikmati kehadiran satu sama lain. Melepas rindu seolah sudah ratusan tahun tak bertemu.

“Maaf, aku tak bisa melindungimu, Ahreum. Harusnya kamu biarkan saja Ailee menusukku. Kenapa malah kamu harus menghalanginya. Melihatmu nyaris pergi untuk selamanya, benar-benar membuatku berniat untuk mengakhiri hidupku,” ujar Kris setelah terjerat dalam keheningan yang cukup lama.

Ahreum melihat kesedihan di mata Kris. Ahreum melihat refleksi dirinya di mata Kris, seolah hanya ada Ahreum disana. Ahreum sungguh menyesal karena sudah membuat Kris merasa begitu menderita belakangan ini.

“Maaf. Jadi…kamu benar-benar merindukanku ya?” tanya Ahreum.

Kris mengangguk pelan. “Ya, aku terlalu merindukanmu sampai aku tak ingin kamu jauh dariku baik jiwa maupun raga,” ujar Kris.

Ahreum tersenyum puas mendengar jawaban Kris. Ingin ia menggoda Kris lagi, tapi Ahreum tak tega melakukannya. Sudah cukup Kris tersiksa belakangan ini.

“Aku juga merindukanmu, Kris,”

Kris mendekatkan wajahnya pada Ahreum. Ia lalu menangkup wajah Ahreum dan mengecup kening Ahreum. “Aku mencintaimu, Ahreum. Aku sungguh mencintaimu,” bisik Kris tulus.

Ahreum memejamkan matanya sejenak, menikmati kecupan Kris di keningnya. “Aku juga mencintaimu, Kris,” gumam Ahreum. “Aku mencintaimu. Jadilah rajaku, Kris,”

Kris tersenyum mendengar jawaban Ahreum. Ia kemudian mengecup kedua kelopak mata Ahreum, hidung, dan dagu Ahreum, sebelum berkata “ya, aku mau menjadi rajamu,”

Baru saja Kris akan mengecup bibir Ahreum ketika ada yang berdehem di belakangnya. Ternyata Kai sudah muncul di dalam kamar ini dan memandangi Kris dengan jengkelnya. Melihat Kai, Ahreum langsung berusaha untuk duduk. Ia sudah merentangkan tangannya pada Kai agar Kai mendekat.

Kai pun mendekat dan menyingkirkan Kris dari hadapan Ahreum. Kai langsung memeluk Ahreum erat, sebelum kembali membaringkan Ahreum ke ranjang lagi.

“Kai! Kamu baik-baik saja,” tegur Ahreum riang.

Ahreum sungguh lega melihat Kai tampak sehat dan baik-baik saja. Sebab yang terakhir Ahreum ingat adalah Kai yang terluka paling parah akibat menahan semua serangan yang ditujukan pada Ahreum. Tapi melihat Kai dalam kondisi seperti ini –dimana Kai pasti mendengar kalau Ahreum memilih Kris untuk menjadi pendampingnya– membuat rasa bersalah kembali menyelimuti Ahreum.

Kai memandangi Ahreum intens, seolah ia tak percaya kalau Ahreum kini sudah membuka matanya. “Akhirnya kamu bangun juga, cantik,” ujar Kai. Ia membelai lembut kepala Ahreum, lega bisa melihat Ahreum tersenyum lagi.

“Maaf, kamu pasti khawatir sekali ya,” sahut Ahreum lemah.

Kai mengangguk pelan. “Untung kamu cepat bangun, Ahreum. Aku nyaris membunuh calon rajamu itu jika kamu tak bangun juga siang ini.”

Ahreum tertawa pelan mendengar ucapan Kai. Walau Kai tampak serius mengucapkannya, tapi Ahreum tahu kalau Kai hanya bercanda. Ahreum tahu persis kalau Kai tak akan tega membunuh rekannya sendiri. Dan ketika Kai menunjukkan senyum tulusnya, Ahreum tahu persis kalau Kai sudah merelakannya. Ahreum merasa bebannya berkurang banyak saat ini.

“Bisakah kamu menyingkir? Ahreum butuh istirahat,” sela Kris. Ia agak sedikit sebal melihat Kai yang sepertinya belum bisa menjaga jarak dengan Ahreum.

Kris sadar betul kalau Ahreum itu semacam ‘milik bersama’. Jadi walaupun hati Ahreum sudah menjadi miliknya, tapi tidak dengan jiwanya; jiwa Ahreum adalah milik Knight dan Mastermind (dan penduduk Exoland tentunya). Dan Kris kini jadi sedikit posesif terhadap Ahreum.

“Hyung! Kamu sudah duduk disini selama 7×24 jam. Jadi biarkan aku melepas rindu sebentar saja dengan Ahreum,” sahut Kai tak mau kalah.

Kris baru saja akan mengusir Kai lagi ketika pintu kamar Ahreum terbuka dan menampilkan Suho serta Sehun, disusul oleh rekan-rekannya yang lain yang sudah sumringah melihat Ahreum sudah sadar. Kris sadar betul, kalau Ahreum tak akan bisa istirahat siang ini. Tapi ia tak melarang rekan-rekannya untuk menjenguk Ahreum. Bagaimanapun juga, mereka berhak atas Ahreum.

.

.

.

.

“Kamu adalah seorang putri dari kerajaan Exoland, sebuah dunia magis yang ada di luar bumi. Apa ini artinya kamu adalah alien begitu?? Mereka juga alien begitu? Jadi selama ini aku menyukai seekor alien begitu?!” tanya Jiyeon ketika menjenguk Ahreum di kediamannya.

Ahreum sudah pulang dari rumah sakit sejak dua hari yang lalu, tapi Jiyeon baru sempat menjenguknya sekarang. Ahreum memutuskan untuk menceritakan kebenarannya pada Jiyeon. Karena sepertinya Lay atau Luhan tidak sempat untuk menghapus pikiran Jiyeon mengenai insiden di hari ulang tahun Ahreum.

“Yah, perempuan! Kami bukan seekor alien! Kami manusia tahu!” protes Chanyeol.

“Yeol! Jangan kasar pada Jiyeon,” tegur Ahreum. Teguran Ahreum ini membuat Chanyeol mendengus kesal.

Ahreum lalu berpaling menatap Jiyeon. “Aku bukan alien. Mereka juga bukan alien. Lagipula kalau kamu cari di tata surya pun kamu tak akan menemukan planet Exo. Exoland itu seperti sisi lain bumi yang dihuni oleh manusia-manusia dengan kekuatan super,”

“Kekuatan super? Lalu apa kekuatanmu?” tanya Jiyeon.

Ahreum tampak berpikir sejenak. “Tak ada. Ayahku kan manusia. Kurasa aku mewarisi gen ayahku,” sahut Ahreum.

“Ada, Ahreum,” D.O. menyahut. “Kekuatanmu adalah membuat orang-orang yang tak menyukaimu jadi menyayangimu,”

“Membuat anak yang selalu menjahilimu tiada henti jadi berubah menyayangimu,” sambung Jiyeon.

Ahreum tertawa mendengar ucapan Jiyeon. Memang Jiyeon jadi banyak berubah sejak Ahreum menyelamatkannya. Dan Ahreum cukup bangga akan perubahan Jiyeon ini.

“..dan apa benar kamu akan kembali ke negerimu?” sela Jiyeon.

Ahreum pun terdiam. Ia nyaris melupakan kalau ia harus kembali ke Exoland untuk memimpin negeri itu. Karena berdasarkan cerita Suho, raja Xenos kini sudah turun tahta. Sebab pelindung Xenos, yaitu Ailee, L dan N sudah tak ada lagi, jadi Xenos hanyalah seorang kakek tua dengan pasukannya yang tak seberapa tangguh. Sehingga ketika para tetua Mastermind dan Knight menyerang, Xenos tidak bisa berbuat banyak untuk melawan mereka.

Kini kerajaan Exoland sudah kosong dan harus segera diisi sebelum ada orang jahat lain yang ingin merebutnya. Walau Ahreum tak ingin meninggalkan bumi (meninggalkan kenangannya bersama keluarga dan teman-teman) tapi Ahreum juga tak bisa mengabaikan Exoland begitu saja.

“Aku akan kembali ke negeri asalku, Jiyeon,” ujar Ahreum setelah sekian lama terdiam.

Jiyeon pun meraih tangan Ahreum dan meremasnya pelan. “Aku akan sangat merindukanmu,”

“Kalau begitu kamu tak perlu mengingatnya agar kamu tidak merindukannya,” ujar Luhan. Ia lalu mendekati Jiyeon, berniat hendak menghapus memorinya tentang mereka.

“Woah woah woah! Mau apa kamu, bayi rusa?! Aku tahu kamu pasti akan menghapus pikiranku seperti yang sudah kamu lakukan pada Jei Eonni dan Onew-ssi! Jangan dekati aku!” bentak Jiyeon. “Biarkan aku mengingat kalian. Biarkan aku mengingat Ahreum. Aku ingin mengingat seseorang yang benar-benar tulus mau menjadi teman Park Jiyeon. Aku ingin mengingat seseorang yang berhasil merubah Park Jiyeon yang dulunya adalah gadis nakal menjadi Park Jiyeon si gadis yang baik,”

Luhan melirik Ahreum, menunggu keputusan Ahreum –walau ia sudah tahu apa keputusannya.

“Ne, jangan lupakan aku, Jiyeon-ah. Aku juga tak akan melupakanmu,” ujar Ahreum dengan suara yang bergetar.

Ahreum pun memeluk Jiyeon. Meskipun Jiyeon benci adegan berpelukan, tapi kini ia membiarkan saja Ahreum memeluknya. Karena ini adalah yang terakhir kalinya ia bisa menghabiskan waktu bersama Ahreum. Sebab Ahreum harus kembali ke tempat asalnya. Tempat yang sangat jauh, yang Jiyeon yakin tak bisa ia kunjungi dengan kendaraan apapun yang ada di dunia ini.

.

.

.

.

.

.

.

Epilog

.

.

.

Suho berdiri di balkon istana Exoland. Hari ini ia akan membuka acara penyambutan Ahreum untuk menjadi ratu mereka. Suho berdehem untuk melancarkan tenggorokannya agar suaranya terdengar oleh seluruh penduduk Exoland.

“Dan hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Keturunan raja Janus yang hilang kini sudah kembali pada kita. Exoland akhirnya terbebas dari kegelapan yang selama ini menggantungi langitnya. Dengan kembalinya sang putri, semoga Exoland kembali menjadi tanah yang makmur,” seru Suho.

“Mari kita sambut keturunan raja Janus yang hilang. Putri dari putri Ara. Mari kita sambut ratu kita, Ahreum!!!” seru Suho lantang.

Tirai balkon pun terbuka dan menampilkan Ahreum yang sedang berdebat dengan Kris.

“Kenapa kamu malah membawakan yang maroon?? Kan aku mintanya warna merah, kalau kamu tak bisa menemukan yang merah, harusnya kamu suruh saja orang lain untuk mencarikannya untukku,” seru Ahreum.

“Tapi ini kan sama saja, Ahreum. Lagipula apapun yang kamu pakai akan tetap terlihat cantik untukmu,” sahut Kris, nyaris terdengar seolah dia sedang memohon pada Ahreum.

“Ini beda, Kris. Ini tuh maroon. Aku kan minta yang merah. Bajuku ini warnanya merah. Kalau aku pakai pita maroon maka akan terlihat tidak serasi. Bagaimana nanti warga akan menilaiku kalau aku pakai baju dengan warna yang tabrakan. Bisa bisa mereka meraguka-,”

“Ahreum,” sela Suho setengah berbisik.

Ahreum pun memalingkan wajahnya untuk melihat Suho. Ahreum baru menyadari kalau tirai balkon sudah terbuka. Ahreum langsung membuka mulutnya; takjub. Ia takjub melihat penduduk yang memenuhi halaman istana, seolah istananya dipenuhi oleh semut-semut kecil yang tak terhitung jumlahnya. Ahreum juga kaget karena sepertinya pertengkaran kecilnya dengan Kris disaksikan oleh jutaan pasang mata penduduk Exoland. Ahreum pun langsung memasang senyum polosnya.

“Kenapa kamu main buka saja tirainya, Suho,” desis Ahreum –sambil mempertahankan senyumnya– begitu melewati Suho.

Ahreum lalu keluar menuju balkon –setengah berlari– dan memanjat pagar batu balkonnya agar bisa terlihat dengan jelas oleh seluruh warga Exoland. Karena Ahreum terburu-buru ketika menaiki pagar batu, ia tersandung gaunnya sendiri dan nyaris terjatuh dari balkon. Seluruh penduduk kota sudah menahan napas mereka begitu melihat calon pemimpin mereka nyaris jatuh.

Untungnya Kai menahan pinggang Ahreum sebelum gadis itu terjungkal dari balkon. Kai, dibantu Chanyeol dan Luhan, menarik Ahreum untuk kembali berdiri di balkon.

“Aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja,” ujar Ahreum, berusaha meyakinkan seluruh penduduknya yang tampak khawatir. Ia kini sudah melambai-lambaikan tangannya dengan semangat. Penduduk kota pun menghela napas lega melihatnya.

Akhirnya karena Kris tak bisa menahan denyut jantungnya yang selalu nyaris berhenti setiap Ahreum nyaris jatuh atau terluka, Kris pun menghampiri Ahreum. Ia lalu merebut Ahreum dari Kai dan menggendongnya.

“Yah, Kris. Turunkan-,”

“Dengan begini maka kamu akan aman,” ujar Kris. Dan ketika Ahreum baru akan melancarkan protesnya, Kris pun memotong ucapan Ahreum. “Jangan protes dan lanjutkan saja pidato pertamamu. Aku tak bisa membiarkanmu membahayakan dirimu di hari pertama kamu jadi ratu,”

Wajah Ahreum kini sudah memerah sempurna di gendongan Kris. Ia berusaha keras menahan senyumannya –serta menahan hasrat untuk mencium Kris saat ini juga. Ahreum pun kini berpaling melihat ke jutaan penduduk yang menunggu pidatonya di luar istana.

“Aku adalah Lee Ahreum, putri dari Ara, cucu mendiang Raja Janus,” ujar Ahreum. “Walau aku tak begitu mengerti akan hal-hal mengenai kerajaan tapi aku akan berusaha untuk menjadi ratu yang baik untuk kalian. Aku mohon bantuan kalian semua dalam memimpin kembali kerajaan ini. Semoga aku tidak mengecewakan kalian semua,”

Penduduk Exoland bersorak-sorai menyambut kedatangan ratu baru mereka, ratu dari keturunan raja Janus. Apalagi Ahreum terlihat seperti perempuan yang ceria dan rendah hati. Semuanya yakin kalau Ahreum pasti bisa memimpin Exoland kembali menjadi negeri yang makmur.

“Ah aku lupa. Orang ini,” ujar Ahreum sambil menepuk pelan pipi Kris. “..adalah raja kalian mulai detik ini. Jadi jika dia tidak menjalankan tugasnya sebagai raja dengan baik, harap kalian memberitahu aku. Sebab aku masih memiliki sebelas calon raja yang lain yang siap menggantikannya,”

Seluruh penduduk kota kini mulai bergunjing satu sama lain. Lalu mereka kembali diam ketika Ahreum melanjutkan kalimatnya.

“Terutama jika dia tak bisa bersikap baik padaku, ratunya. Apalagi kalau ia masih suka menunjukkan wajah ‘angry birdnya’ ini padaku,” Ahreum tidak serius mengenai ucapannya, ia hanya ingin memberi Kris pelajaran karena sudah membuatnya kesal tadi.

Ahreum tersenyum puas begitu melihat ekspresi Kris saat ini. Ia sungguh senang menggoda Kris. Mungkin karena terlalu lama bergaul dengan Kai, membuat Ahreum jadi senang menggoda orang-orang di sekitarnya, terutama Kris. Selain itu, Kris juga memiliki ekspresi terbaik jika Ahreum menggodanya, membuat Ahreum semakin senang menggodanya.

Seluruh warga Exoland tak ada yang mengerti akan ucapan Ahreum. Apalagi mengenai ‘angry bird’ itu. Jadi semuanya hanya terdiam. Tapi tidak dengan sebelas pengawal Ahreum yang lain, mereka sudah tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan Ahreum.

“Berhenti meledekku, ratuku,” sela Kris.

“Memangnya apa yang mau kamu lakukan, rajaku?” ledek Ahreum sambil menjulurkan lidahnya.

“Maka aku akan membungkammu,”

Dengan itu Kris pun membungkam mulut Ahreum. Kris mencium Ahreum di hadapan jutaan penduduk Exoland. Menegaskan pada semuanya kalau Ahreum adalah miliknya.

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

logo1

The last chapter is out!!!

안녕!

HIP HIP HOORAY!!! HIP HIP HOORAY!!! *tebar confetti*

Finally end!!!!!!!! finally!!!! *pelik satu2 cast beautiful life*

ehh tp kalian udah baca bonus chapter kan sebelum kesini??

terima kasih buat kalian para vitamin bee, yang udah setia ngikutin fiksi ini dari teaser, prolog sampai ending.. hampir setahun ff ini jalan *atau udah setaun ya kl diitung dari ide nya muncul* gak nyangka ff nya bakal seheboh ini.. makasih buat kalian yang menyempatkan diri untuk komen disetiap chapter, di chapter tertentu ataupun yang tidak komen tidak di satu chapterpun.. karena bee  bisa merasakan support kalian dari setiap komen yang masuk.. terima kasih… bee ga bisa ngasih lebih selain ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya *lempar bias*

Sampai jumpa di lain fiksi… yang pasti planet ini masih akan terus berjalan selama imajinasi di otak bee masih ada.. yang pastinya akan ada beberapa project baru… ANOTHER BIG PROJECT.. dont forget to check this page for another project hehehehe…Byeom!! 안녕!! 뿅! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter END – Be My King| PG15

25 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter END – Be My King| PG15

  1. quorralicious says:

    cukhae udh nyelesein fanfic ini
    tambahin dong, ada lanjutn gmn ahreum ma kris jd suami istri gitu atau punya anak dan gmn klo knight ma mastermind jd penjaga anak ahreum ma kris,hehehe
    aku baru sadar sekrng, knight itu exo- k inisial knight dan exo m inisial dr mastermind, bagus bnget,, smpe sibuk promosiin blog ma fnficmu ini di fb hahahaha..

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s