FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Bonus Chapter | PG15


areum

Title : Beautiful Life

Subtitle : Bonus Chapter – The Reason I Like You

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

Other Cast:

Jiyeon T-Ara as Park Jiyeon

Jei Fiestar as Jei

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life, Drama

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Enchanted | EXO – Into Your World, Angel

Bonus Chapter | The Reason Why I Like You

.

.

.

.

The reason why i like you.

.

.

.

.

.

Ahreum tak pernah memiliki hubungan baik dengan Kris. Ini karena Kris selalu menaik-turunkan emosi Ahreum, layaknya rollercoaster.

.

.

.

“Tak bisakah kamu berjalan dengan benar??” protes Kris dengan suara yang sangat rendah.

Ahreum sudah merengut memandangi Kris. Tadi nyaris saja Ahreum terpeleset di tangga. Jika Kris tidak menahan badannya mungkin Ahreum sudah terjungkal dan terguling di tangga. Dan bukannya berterima kasih karena Kris sudah menyelamatkan dirinya, Ahreum malah merasa kesal. Kenapa kesal, karena Kris pasti akan memarahinya setelah ia menolong Ahreum –bahkan sebelum Ahreum mengucapkan terima kasih.

“Aku tidak meminta kamu untuk menarikku,” sahut Ahreum, berusaha menahan emosi di suaranya.

“Jika aku tidak menarikmu, kamu sudah jatuh terguling dan terluka, entah akan separah apa lukamu itu nantinya. Aku hanya minta kamu menjaga langkahmu. Bagaimana bisa kamu tidak melihat anak tangga di bawahmu,” ujar Kris lagi. Walau Kris mengucapkannya dengan nada yang sangat monoton tapi Ahreum tetap merasa terhina, seolah Kris sedang mencerca kecerobohannya.

“Bukankah sudah pernah kubilang. Jangan menolongku jika aku terjatuh. Biarkan aku terjatuh dan merasakan sendiri sakitnya,” sahut Ahreum kesal.

Keduanya baru saja kembali dari ruang guru untuk menyerahkan buku tugas semua teman sekelasnya. Dan bahkan belum jauh mereka meninggalkan ruang guru, kedua muda-mudi itu sudah langsung bertengkar. Biasanya alasan mereka bertengkar selalu sama, yaitu Kris memprotes kecerobohan Ahreum. Kalau sudah seperti ini biasanya mereka akan berhenti perang mulut jika ada yang menyela mereka. Seperti sekarang ini, Ahreum kembali menyahuti perkataan Kris sambil berjalan mundur.

“Lihatlah dirimu. Hanya karena sudah menolongku lalu aroganmu keluar. Sebenarnya siapa yang kedudukannya lebih tinggi disini? Bagaimana bisa kamu– omo!” Ahreum memekik tertahan.

Ahreum tersandung seorang siswa yang sedang berjongkok untuk membenarkan tali sepatunya. Karena Ahreum berjalan mundur, jadi ia tak melihat kalau ada ‘rintangan’ di belakangnya. Jadi Ahreum terantuk badan siswa itu dan terjengkang ke belakang. Untungnya Kris lebih dulu menahan tangan Ahreum sehingga gadis itu tidak jatuh ke lantai. Kris lalu menyentak tangan Ahreum hingga gadis itu tertarik dan kembali berdiri tegak –bahkan sampai menabrak badan Kris.

Kris lalu menundukkan kepalanya dan berbisik, “Kumohon jangan protes lagi kali ini, Putri,”

Ahreum merasakan tubuhnya menghangat secara tiba-tiba. Ia yakin wajahnya saat ini pasti sudah merona karena berada sedekat ini dengan Kris. Ahreum bahkan sampai tak berani menatap Kris, takut kalau debar jatungnya akan menjadi liar di dalam tulang rusuknya.

Kris lalu meletakkan kedua tangannya di bahu Ahreum. Kemudian ia membalik badan Ahreum sehingga Ahreum memunggunginya. Kris kembali menunduk untuk mendekatkan wajahnya di samping wajah Ahreum.

“Sekarang dengarkan aku. Peraturan pertama ketika sedang berjalan, selalu melihat jalanan yang ada di hadapanmu. Kedua, jika ada yang mengajakmu berbicara sebaiknya kamu berhenti lebih dahulu baru berpaling padanya. Atau kamu pastikan dulu kalau jalurmu aman, baru kamu bisa berpaling untuk menyahuti lawan bicaramu. Ketiga, jangan pernah jalan mundur,” bisik Kris. Ia kemudian sedikit mendorong bahu Ahreum seraya berkata, “Sekarang jalan,”

Dan Ahreum pun menurut. Lebih baik menurut daripada berurusan dengan naga pemarah yang emosinya sangat tidak terduga itu. Meskipun menuruti semua ucapan Kris tapi Ahreum tidak tahan untuk tidak berkomentar.

“Aku bukan balita yang harus diajari cara berjalan.”

.

.

Ahreum merasa kalau ada beberapa malam dimana ia tidak mendapatkan mimpi buruk. Sejak ia mendapatkan yang namanya ‘pengawal yang menjaga tidurnya’, Ahreum jadi jarang bermimpi buruk. Tapi jika ia perhatikan lagi, ada malam tertentu dimana Ahreum benar-benar bisa tidur nyenyak dan mimpi indah. Dan setelah ia perhatikan lagi, itu semua terjadi ketika Kris, Baekhyun dan Lay yang bergiliran menjaganya. Jika itu adalah Lay dan Baekhyun, mungkin Ahreum tidak akan bingung. Tapi Kris masuk dalam daftar tersebut, itu yang membuat Ahreum bingung.

Malam ini Ahreum tak bisa tidur. Ia merasa ada sesuatu yang kurang, karenanya ia tak bisa tidur. Ketika Ahreum mengecek ‘jadwal jaga’ pengawalnya, ternyata malam ini adalah giliran Kris yang menjaga Ahreum. Ahreum pun memutuskan untuk mencari sesuatu yang bisa membuatnya tertidur. Ahreum mengintip dari jendela kamarnya dan melihat kalau halamannya tampak terang benderang. Begitu ia melihat ke langit, ternyata sekarang sedang bulan purnama. Dan bulan tampak bersinar begitu terangnya. Ahreum pun memutuskan untuk keluar.

Ahreum merentangkan tangannya dan menghirup udara malam yang dingin ini. Ia sedikit bergidik ketika angin malam menerpa tubuhnya. Ahreum lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat bulan malam ini. Ahreum mengedarkan pandangannya dan ia melihat Kris sedang duduk di atap rumahnya. Pantas saja Ahreum tidak menemukan Kris dimana pun juga ketika ia keluar rumah, rupanya Kris berada di atap rumahnya. Ahreum pun memutuskan untuk bergabung dengannya.

Setelah naik lewat lotengnya, Ahreum akhirnya berhasil tiba di atap –dan keluar dari jendela yang ada di loteng. Begitu mendengar ada suara yang disebabkan oleh Ahreum, Kris pun menoleh. Kris tampak kaget melihat Ahreum sudah tiba di atap.

“Ahreum, apa yang kamu lakukan disini? Apa kamu mimpi buruk lagi?” kaget Kris. Ia langsung mengulurkan tangannya pada Ahreum untuk membantu gadis itu.

No no. Aku tak bisa tidur. Jadi aku memutuskan untuk jalan-jalan sebentar. Kamu sendiri apa yang kamu lakukan disini? Bukannya kamu seharusnya menjagaku malam ini?” ujar Ahreum sambil berjalan mengendap-endap mendekati Kris. Ia harus jalan dengan perlahan seperti ini agar ia tidak terpeleset dan kembali mendapatkan ocehan dari Kris.

“Aku menjagamu. Tapi begitu melihat kalau bulan malam ini sangat indah, jadi aku memutuskan untuk memandanginya sebentar,” sahut Kris. “Maaf. Aku tidak menjalankan tugasku-,”

Aniya,” potong Ahreum. “Aku juga akan melakukan hal yang sama jika melihat bulan seindah ini. Lagipula kamu juga butuh istirahat, Kris,”

Ahreum kini duduk di samping Kris. Ia mendongakkan kepalanya menatap langit malam ini. Sama seperti malam-malam sebelumnya jika mereka berdua menghabiskan waktu bersama, Kris pasti akan lebih memilih untuk memandangi Ahreum dibandingkan yang lain.

“Jadi,” ujar Ahreum tiba-tiba sambil menoleh menghadap Kris sehingga membuat pemuda itu segera memalingkan wajahnya dari Ahreum. Kris kembali menoleh untuk melihat Ahreum –seolah ia baru saja berpaling dari menatap bulan di langit. “Dimana tadi kamu menemukan seragamku? Apa kamu bertemu dengan Jiyeon? Kamu tidak menyakitinya kan?”

Kris memandangi Ahreum intens. Ia jadi kembali teringat ketika ia mendapati Jiyeon membawa seragam serta sepatu Ahreum. Sungguh Kris sangat marah mengetahui kalau Jiyeon kembali mengganggu Ahreum. Tapi mengingat pesan Ahreum yang mengatakan untuk jangan kasar terhadap ‘temannya’, jadi Kris hanya bisa sedikit mengancam Jiyeon. Walaupun Kris sangat tidak suka pada Jiyeon, tapi Kris tak bisa bersikap seperti rekan-rekannya yang akan langsung membalas kelakuan Jiyeon dengan menjahilinya.

“Aku melihat dia membawanya. Aku meminta baik-baik seragammu itu dan aku tidak menyakitinya,” ujar Kris.

Ahreum tersenyum puas mendengar ucapan Kris. Walaupun Kris bohong atau jujur, Ahreum tetap bangga. Karena setidaknya di mata Ahreum, mereka itu masih terlihat baik. Ahreum pun mengacungkan dua jempolnya sambil menunjukkan cengirannya dan memuji Kris.

Ahreum sudah kembali mendongakkan kepalanya menatap langit, tapi Kris masih tetap memandanginya. Melihat senyum tulus Ahreum tadi benar-benar membuat Kris nyaris melupakan tujuannya untuk datang ke bumi ini. Ahreum terlalu polos bahkan untuk  menyadari kalau Kris tak melepaskan pandangan darinya. Ahreum bahkan tak menyadari kalau Kris sudah melayangkan tangannya ke arah kepala Ahreum –perlahan. Ahreum tidak menyadari itu semua sampai akhirnya ia menoleh dan mendapati tangan Kris hanya beberapa centi lagi dari puncak kepalanya.

“Um? Wae? Apa ada sesuatu di kepalaku?” tanya Ahreum sambil memandangi tangan Kris, bingung.

Kris tampak salah tingkah. Ia nyaris menarik tangannya lagi. Tapi Kris tidak mungkin kembali berkata tadi-aku-melihat-ada-nyamuk lagi pada Ahreum seperti yang ia lakukan dulu jika kepergok hendak menyentuh kepala Ahreum. Akhirnya Kris memberanikan dirinya untuk menyentuh rambut Ahreum seraya berkata, “Ada debu menempel di rambutmu,”

Kris lalu membelai kepala Ahreum. Membelai, bukan menepuk. Itu bahkan bukan gerakan ketika seseorang membersihkan sesuatu. Ahreum yakin betul kalau yang Kris lakukan ini bukan untuk membersihkan kepalanya –atau rambutnya. Selain itu sangat tak mungkin rambutnya terkena debu. Sebab loteng rumah Ahreum sudah sangat bersih dari debu dan kotoran. Bisa dibilang semua sudut rumah Ahreum bersih dari debu, semua berkat para pengawalnya yang rajin membersihkan rumah Ahreum.  Walau Ahreum merasa aneh akan sikap Kris ini, Ahreum tetap merasa berterimakasih.

Tapi Ahreum merasakan sesuatu yang aneh di dirinya. Berada sedekat ini dengan Kris, merasakan Kris membelai kepalanya serta melihat Kris tersenyum –ya, tersenyum, bukan menunjukkan wajah seolah selalu mengalami konstipasi, tapi tersenyum– Ahreum benar-benar merasa kalau dirinya bereaksi aneh. Ahreum merasa kalau angin malam kini terasa hangat. Ahreum merasa seolah di dalam tubuhnya ada sebuah taman bunga dengan ribuan kupu-kupu yang berterbangan riang. Dan yang terutama adalah Ahreum merasa nyaman. Ketika Kris membelai kepalanya Ahreum merasa nyaman.

Kris kini sudah menarik tangannya dari kepala Ahreum dan gadis itu sekarang merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Ia menatap Kris bingung. Tanpa sadar Ahreum meraih kepalanya sendiri dan menyentuh tempat dimana Kris tadi menyentuhnya.

Senyum Kris kini sudah hilang dari wajahnya. Ia kembali memasang wajah datarnya seraya berkata, “Suruh siapa bermain-main di loteng malam-malam begini. Lihatlah rambutmu tadi, kotor dan penuh debu.”

Shock, Ahreum hanya bisa melongo menatap Kris. Tapi Ahreum tak menyahuti ucapan Kris. Ia hanya duduk diam sambil cemberut. Tak seharusnya ia merasakan perasaan seperti tadi. Melihat Kris sudah kembali normal, diri Ahreum pun kembali normal. Ahreum pun memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan.

“Bisa ceritakan aku mengenai Exoland? Aku sudah banyak mendengar cerita dari yang lainnya, tapi belum darimu,”

Walaupun enggan, akhirnya Kris menceritakan tentang Exoland pada Ahreum. Gadis itu menyimak baik-baik cerita Kris sambil memeluk kakinya. Sesekali Ahreum berpaling menatap Kris untuk melihat ekspresinya –yang tidak ada perubahan sepanjang ia bercerita.

Kris terus bercerita tanpa jeda, sampai ia merasa ada sesuatu yang berat di bahunya. Ketika Kris berpaling, ia melihat Ahreum sudah tertidur dengan menjadikan bahunya sebagai sandaran. Kris mendadak kaku dengan posisi mereka yang seperti itu. Akhirnya ketika Ahreum kepala Ahreum merosot dari bahu Kris lalu turun ke dadanya dan berakhir di pangkuannya, Kris pun menghela napas lega. Karena setidaknya Ahreum kini mendapatkan posisi nyaman untuk tidur.

Kris memandangi wajah Ahreum yang tertidur tenang. Ia kembali membelai rambut Ahreum. Kris juga meraih tangan Ahreum dengan tangannya yang bebas kemudian menggenggamnya erat.

“Apa kamu sungguh ingin tahu apa yang aku lakukan ketika aku menjaga tidurmu?” tanya Kris pelan. Tadi Ahreum memang sempat bertanya mengenai apa yang Kris lakukan ketika ia menjaga tidur Ahreum. “Aku akan menggenggam tanganmu seperti ini dan aku akan membelai kepalamu seperti ini. Ini adalah sesuatu yang tak bisa aku lakukan jika kamu sadar. Dan pengecut ini hanya berani melakukan hal ini ketika kamu tertidur. Maafkan ketidak-sopananku ini dan selamat tidur, Ahreum,”

.

.

.

Ahreum benar-benar kesal saat ini. Ahreum dan Kris baru saja kembali dari supermarket untuk menukarkan kupon hadiah mereka. Bukannya mendapatkan robot vacuum cleaner atau coffee maker incarannya, Ahreum malah mendapatkan tiket perjalanan wisata dua hari satu malam di Dokdo. Sementara Kris, bukannya membantunya untuk merayu panitia acara untuk menukar hadiah mereka, malah menyuruh Ahreum untuk menerima apa yang sudah ia dapatkan.

“Tapi akan bermanfaat jika kita menukarnya dengan robot vacuum cleaner. Kita jadi bisa menghemat waktu untuk membersihkan rumah tahu. Sementara paket liburan. Itu hanya bisa dipakai selama dua hari. Setelah itu tidak ada gunanya lagi,” kesal Ahreum.

Ahreum berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya. Ketika ia memandangi dua tiket di tangannya, kembali Ahreum berteriak kesal.

“Aku maunya vacuum cleaner. Bukankah sudah kubilang kalau aku mau vacuum cleaner. Harusnya tadi kita tukarkan kupon itu dengan vacuum cleaner bukannya dengan undian berhadiah!” kembali Ahreum mengutarakan kekesalannya.

Kris sudah berhenti di hadapan Ahreum sambil memandangi gadis itu menarik napas panjang dan menghembuskannya keras-keras; seolah Ahreum sedang mengatur emosinya. Kris berdiri di hadapan Ahreum untuk menenangkan gadis itu. Entah kenapa memang belakangan ini Ahreum selalu marah-marah pada dirinya, selalu menjauhinya dan jarang mau berbicara dengannya. Dan Kris mau memperbaiki hubungan mereka itu.

“Dengarkan aku, Ahreum,” ujar Kris sambil memegang kedua bahu Ahreum. “Tidak baik jika kamu memaksakan dirimu dan orang-orang di sekitarmu untuk mendapatkan apa yang kamu mau. Dan tidak baik jika kamu tidak mendapatkan yang kamu mau dan kamu melampiaskannya dengan marah-marah seperti ini. Seorang putri yang bijaksana tidak akan bersikap seperti ini,”

Ahreum sudah bernapas dengan normal sekarang. Ia kini mendongakkan kepalanya menatap Kris sengit. Kesal masih kentara jelas di wajahnya.

“Alasan kenapa aku tak selalu mengabulkan semua keinginanmu adalah karena aku tak ingin kamu menjadi putri manja yang hanya selalu meminta. Itu hanya akan membuat hati dan pikiranmu rusak. Itu juga akan membuat kamu tidak menghargai apa yang sudah kamu punya. Coba kamu lihat dari sisi positifnya, jika kamu mendapatkan liburan ke Dokdo itu artinya kamu bisa melihat langsung keindahan alam Dokdo yang selama ini hanya kamu lihat dari layar TV. Bukankah kamu ingin keliling Korea? Permintaanmu itu sudah terkabul dan kamu malah meminta yang lain. Bukankah itu serakah namanya?” ujar Kris.

Ahreum terdiam mendengar ceramah Kris. Ucapan Kris ada benarnya juga. Ia memang ingin sekali mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Korea. Setidaknya ia ingin berkeliling Korea sebelum ia kembali ke Exoland bersama pengawalnya. Setelah memikirkan ucapan Kris itu, Ahreum tidak jadi merasa kesal. Ia akhirnya menarik napas panjang untuk menerima ucapan Kris.

“Ucapanmu ada benarnya juga,” gumam Ahreum pelan sambil menghindari mata Kris..

Kris tersenyum bangga melihat Ahreum menurutinya. Kris kembali mengangkat tangannya hendak menyentuh kepala Ahreum. Melihat gerakan Kris itu langsung membuat Ahreum waspada. Ahreum pun mendongakkan kepalanya menatap Kris bingung.

“Ada apa? Apa ada sesuatu lagi di kepalaku?” tanya Ahreum.

“Hmm,” Kris mengangguk pelan. Ia kini sudah menempelkan tangannya di puncak kepala Ahreum dan lalu membelainya pelan. “Ada daun kering di rambutmu,”

Ahreum tahu itu hanya alasan. Ahreum tahu kalau Kris hanya ingin mengapresiasi dirinya yang mau mengalah pada Kris. Tapi Ahreum tak berniat menyingkirkan tangan Kris dari kepalanya. Karena Ahreum mulai menyukai perasaan itu. Perasaan ketika Kris membelai rambutnya.

 

 

 

Ahreum pikir tak ada salahnya liburan berdua dengan Kris ke Dokdo.

 

 

 

Atau itu hanya pikirannya saja.

 

 

 

Semua berakhir tidak sesuai dengan rencana Ahreum. Liburan ke Dokdo bersama Kris adalah hal terburuk yang pernah terjadi dalam sepanjang hidup Ahreum. Dan yang terpenting adalah Kris mencuri ciuman pertama Ahreum. Ciuman pertama yang ia selamatkan untuk orang yang benar-benar akan menjadi pasangannya nanti.

Dan yang membuat keadaan jadi lebih parah adalah Ahreum akhirnya menyadari perasaannya terhadap Kris. Perasaan terdalamnya. Bahwa ia menyukai Kris. Ah tidak, Ahreum mencintai Kris.

Ahreum berusaha mati-matian menolak kenyataan itu. Sebab, ia tak boleh mencintai Kris. Ini semua karena Park Jiyeon, sahabat barunya, gadis terpopuler di sekolahnya, anak satu-satunya walikota Seoul, si cantik Park Jiyeon menyukai Kris. Ahreum merasa kalau ia kini menjadi pengkhianat terbesar dalam sejarah Seoul.

Padahal Jiyeon sudah berkata untuk jangan terlibat apapun dengan Kris. Oleh sebab itu Ahreum menjauhi Kris. Tapi sepertinya itu malah membuat dirinya jadi semakin tertarik dengan Kris dan malah berakhir dengan jatuh cinta padanya.

Bagaimana ia bisa menyadarinya? Bagaimana akhirnya Ahreum menyadari kalau ia mencintai Kris. Karena ketika Kris menciumnya, Ahreum tak bisa marah padanya. Ketika Kris menciumnya, Ahreum merasakan kalau dirinya menerima itu semua dan bahkan tidak menolaknya. Ketika Kris menciumnya, Ahreum menyadari kalau ia membutuhkan pemuda itu. Ahreum sadar akan perasaannya itu terhadap Kris. Dan ia kini merasa seolah ia habis mencuri aset negara. Rasa bersalah terus menyelimuti dirinya.

Belum lagi ketika ia melihat langsung Jiyeon bertengkar dengan Kris serta Kris mengusir Jiyeon. Ahreum merasa dirinya seperti penjahat, karena dalam hati ia merasa bersyukur Kris menolak Jiyeon tapi ia sekaligus merasa bersalah melihat Kris berkata kasar pada Jiyeon. Ahreum benar-benar merasa menjadi sahabat yang jahat.

Walaupun sudah berbaikan dengan Kris, serta memperbaiki hubungannya dengan Jiyeon, tapi Ahreum tetap saja merasa ada yang mengganjal di hatinya. Ketika ia merasa semua sudah tak bisa ditanggulangi olehnya, Ahreum pun memutuskan untuk mencurahkan semua yang ia rasakan pada Jei.

.

.

“Apalagi kali ini?” tegur Jei.

Jei dan Ahreum kini sedang berada di taman dekat cafe mereka. Jei memutuskan untuk membawa Ahreum beristirahat di luar untuk menenangkan pikirannya. Sebab hari ini Ahreum terlihat sangat kacau. Pekerjaannya hari ini tidak ada yang beres. Begitu melihat Ahreum tidak kunjung memakan es krimnya, Jei pun sadar kalau terjadi sesuatu pada Ahreum.

“Eonni, aku mau tanya sesuatu,” gumam Ahreum. Ketika Jei tak menyahuti ucapannya, Ahreum pun memutuskan untuk melanjutkan ucapannya. “Eonni, misalnya, ini hanya andai-andai ya, jangan dimasukkan ke hati,”

“Aish, cepat katakan saja apa yang mengganggu pikiranmu. Tak usah berbelit-belit,” sahut Jei tak sabar.

Ahreum pun menarik napas panjang. Ia pun memutuskan untuk mencari solusi hatinya lewat Jei. Ahreum percaya, Jei bisa memberikan solusi yang baik. Terbukti sudah beberapa dari sarannya berhasil memperbaiki semua kekusutan dalam hidup Ahreum.

“Misalnya saat ini Eonni dan Onew Sunbae belum berpacaran. Kalian hanya berteman saja dan sama sekali tak terlintas perasaan suka antara lawan jenis di antara kalian. Walaupun Eonni tahu kalau Onew Sunbae menyukaimu, tapi Eonni tak pernah berniat menaikkan level hubungan kalian. Lalu Eonni bertemu denganku dan kita menjadi sahabat. Lalu suatu ketika aku mengatakan padamu kalau aku menyukai Onew Sunbae dan Eonni memutuskan untuk menjaga jarak dari Onew Sunbae karena ucapanku itu. Tapi belakangan Eonni baru sadar, kalau Eonni ternyata menyukai Onew Sunbae. Apa yang akan Eonni lakukan?”

Jei tak butuh waktu lama untuk berpikir akan jawabannya. Karena begitu Ahreum selesai mengutarakan masalahnya, Jei langsung menjawab saat itu juga.

“Aku akan mengatakan padamu kalau aku menyukai Onew,” sahut Jei tanpa ragu.

Ahreum cukup kaget dengan jawaban Jei. Ia pikir Jei tak mengerti jalan cerita dari masalah Ahreum. Tapi Ahreum tak membantah karena Jei sudah kembali melanjutkan ucapannya.

“Kamu tadi bilang kalau Onew menyukaiku bukan? Dan aku sadar persis akan perasaannya itu bukan? Hanya saja aku baru menyadari perasaanku padanya setelah aku menjauh darinya bukan? Kalau begitu aku tak akan menjauhinya lagi. Aku akan mengatakan padanya kalau aku mencintainya. Kalau aku menyambut perasaannya,” sahut Jei tanpa beban.

Ahreum benar-benar takjub akan jawaban Jei. Ahreum bahkan lupa menutup mulutnya sampai akhirnya Jei meraih dagu Ahreum untuk menutup mulutnya yang terbuka sedari tadi.

“Tapi..,” sahut Ahreum setelah berhasil pulih dari keterkejutannya. “Kan disini aku menyukai Onew Sunbae? Apa Eonni tak memikirkan perasaanku? Kita kan sahabat?”

“Sekarang aku balik lagi pertanyaanmu, Ahreum. Kamu sahabatku bukan? Apa kamu tak ingin melihatku bahagia? Kamu hanya orang luar yang tiba-tiba hadir di antara aku dan Onew, walaupun aku berterimakasih karena kamu membuatku sadar akan perasaanku pada Onew, tapi aku tak bisa mengabaikan Onew untukmu bukan? Lagipula, Onew menyukaiku. Dan aku tak bisa memaksanya untuk menyukaimu,” sahut Jei.

Ahreum kembali terdiam. Ia tak tahu bagaimana harus membantah situasi ini. Padahal ia berharap Jei akan berkata ‘menyerah saja, bukankah dia adalah sahabatmu?’. Tapi yang terjadi sungguh di luar pikirannya.

Jei kini sudah berdiri di depan Ahreum sambil memegang kedua pundak Ahreum –hal yang sama seperti yang Kris sering lakukan jika ingin menasihati Ahreum.

“Jangan mengorbankan perasaanmu untuk orang lain. Kamu pikir dengan mengorbankan dirimu, orang lain akan bahagia? Jika ingin membuat orang bahagia, kamu harus membahagiakan dirimu sendiri. Jadi bilang sama orang yang kamu anggap sahabat itu kalau kamu menyukai pemuda yang ia suka. Tak perlu takut kalian akan pecah hanya karena hal itu. Jika ia membencimu karena kamu menyukai pemuda yang ia sukai, maka itu artinya dia bukan sahabat sejati untukmu,” ujar Jei.

Ahreum mencerna baik-baik ucapan Jei, terutama ‘Jika ingin membuat orang bahagia, kamu harus membahagiakan dirimu sendiri’. Berarti Ahreum harus bahagia walaupun itu membuat Jiyeon sedih?

“Apalagi yang kamu pikirkan?” sela Jei membuyarkan lamunan Ahreum. “Ayo kembali ke cafe. Kasihan Lubaek harus melayani pelanggan berdua saja.”

Jei lalu mulai melangkah meninggalkan Ahreum yang masih sibuk dengan pikirannya. Cukup lama sampai akhirnya Ahreum memutuskan untuk memperjuangkan kebahagiannya. Setelah berhasil mendapat solusi untuk masalahnya, Ahreum pun bergegas menyusul Jei yang sudah mulai menyerbrang jalan.

“Eonni,” seru Ahreum menahan langkah Jei. “Bagaimana kalau cerita itu benar. Apa Eonni benar-benar akan memilih Onew Oppa dibandingkan aku?”

Jei terbelalak mendengar ucapan Ahreum. Tapi begitu mendengar tawa Ahreum serta aku-hanya-bercanda-Eonni, Jei pun menyadari kalau Ahreum hanya menggodanya.

“Yah! Candaanmu sangat tidak lucu, Nona Lee. Aku akan benar-benar menelantarkanmu kalau kamu sampai berani melirik Onew,” seru Jei.

.

.

.

Ini adalah hari ulang tahun Ahreum. Dan betapa bahagianya Ahreum, karena kini semua orang-orang  terdekatnya sudah berkumpul untuk membuat sebuah pesta kecil-kecilan untuknya. Semuanya berbahagia merayakan hari ulang tahun Ahreum. Tapi gadis itu tidak terlalu menikmati acaranya. Karena ia sibuk memikirkan bagaimana caranya mengutarakan perasaannya pada Kris.

Berkali-kali Ahreum mencuri pandang pada Kris untuk mencari saat yang tepat untuk mengatakan padanya kalau ia juga menyukai pemuda itu. Tapi berkali-kali kesempatan itu hilang begitu saja. Dan di saat yang sangat menyesakkan ini, Ahreum harus mendengar ucapan Kai yang membuat dirinya nyaris mengurungkan niatnya untuk membuat keputusan.

“Seperti yang kubilang tadi, ini adalah anakku. Jadi kalau kamu mau memilikinya, kamu harus menjadi ibunya,”

Kai dengan jelas menyatakan kalau ia ingin Ahreum memilihnya. Ahreum tahu persis akan perasaan Kai padanya. Bukan hanya dirinya saja yang tahu, tapi sebelas pengawalnya yang lain. Mereka bahkan sampai mengalah jika Kai ingin mendekati Ahreum, karena mereka tahu persis sedalam apa perasaan Kai pada Ahreum.

Dan Ahreum tak sampai hati untuk menolaknya. Sebab apapun yang Kai lakukan, tak pernah berhasil menyentuh hati Ahreum. Semua yang Kai lakukan, meskipun sama seperti yang pernah Kris lakukan, tak pernah membuat Ahreum memandangnya sebagai lelaki yang harus ia cintai. Baginya Kai adalah seorang kakak. Kakak lelaki yang sangat melindunginya. Dan Ahreum tak bisa memiliki perasaan lebih daripada itu.

Walau ia sudah mencoba berkali-kali untuk mengacuhkan Kris dengan berpaling pada Kai tapi Ahreum tetap tak bisa. Dan ia merasa sangat bersalah pada Kai.

Karenanya, Ahreum memutuskan untuk mengatakan pada Kai kalau Ahreum sudah menemukan pilihannya dan pilihannya itu bukanlah Kai. Tapi, bahkan ketika Kai sudah di hadapannya, kalimat itu tak mau keluar dari mulutnya. Ahreum tak sampai hati. Ia tak sampai hati mematahkan perasaan Kai. Untungnya Jei menyelamatkan dirinya dari situasi sulit itu dengan menyuruh Ahreum untuk ganti pakaian. Sungguh Ahreum tak bisa merasa lebih bersyukur daripada itu.

Ketika Ahreum kembali ke rumah bersama Jiyeon untuk berganti pakaian, kembali Ahreum merasakan suasana canggung. Jika tadi ketika bersama Kai, Ahreum bingung bagaimana cara menjelaskan kalau ia tidak memilih Kai; kini ketika bersama Jiyeon, Ahreum bingung bagaimana cara menjelaskan kalau ia menyukai Kris. Rasanya lidah Ahreum kelu karena terlalu sering menahan kalimatnya.

Keberuntungan kembali datang untuk Ahreum. Jiyeon pun meninggalkannya untuk mengambil sesuatu dan Kris menghampiri Ahreum yang sedang sendirian. Kris memberikan hadiah untuk Ahreum. Sebuah cincin perak berhiaskan rubi di atasnya. Ketika Kris memakaikan cincin itu di jari Ahreum, entah kenapa Ahreum merasa keberaniannya mendadak datang.

Ahreum pun memutuskan untuk mengutarakan perasaannya pada Kris. Sekarang.

Tak mungkin Ahreum sia-siakan kesempatan ini begitu saja. Kris suda ada di hadapannya. Kris mengatakan kalau ia mencintai Ahreum. Bahkan Kris memberikan cincin peninggalan ibunya untuk Ahreum. Yang perlu Ahreum lakukan saat ini adalah mengatakan kalau ia juga mencintai Kris.

Tapi Kris malah menjauhi Ahreum. Bahkan belum sempat Ahreum menyebutkan nama, Kris memilih untuk meninggalkan Ahreum. Ahreum bingung. Terlebih lagi, Ahreum shock. Ia kini merasakan apa yang dulu pernah Kris rasakan; ketika berusaha menunjukkan perasaannya, ia malah pergi menjauh. Ahreum seolah sedang merasakan karmanya.

Ahreum memandangi punggung Kris yang makin menjauh dengan perasaan yang kelu.

“Aku ingin bilang padamu, kalau aku mencintaimu, bodoh. Kenapa kamu tak mau mendengarkanku,” gumam Ahreum pelan.

.

.

.
“Cupcake-nya kamu kembalikan? Kenapa?” bingung Ahreum.

Ahreum bingung karena Jiyeon mengembalikan cupcake yang tadi ia ambil pada Ahreum. Katanya sebagai hadiah ulang tahun. Dan ternyata cupcake itu hanya simbol. Karena yang Jiyeon maksud sebagai hadiah adalah Kris. Jiyeon bilang kalau ia hanya ingin membuat Ahreum cemburu dengan terus menempel pada Kris, dan sekarang Jiyeon ingin mengembalikan Kris pada Ahreum.

“Aku selalu merasa ada sebuah persaingan di antara mereka, dua belas pemuda itu. Persaingan untuk menarik perhatianmu. Aku bisa merasakannya,” ujar Jiyeon. “Kalau memang tebakanku benar, aku sungguh berharap kamu memilih orang yang menjadi pilihanku, karena aku selalu merasa kalau kamu cocok dengannya,”

Karena tebakan Jiyeon itulah, akhirnya Ahreum memberanikan diri untuk menceritakan semuanya pada Jiyeon. Ia bercerita kalau para pemuda itu memang sedang memperebutkan hatinya dan ia harus memilih salah satu di antara mereka. Gadis itu juga mengarang kalau ia harus memilih mereka sebagai pendamping agar ia bisa memenuhi wasiat kakeknya. Ahreum juga mengarang kalau hari ini adalah batas akhir penentuan pilihannya, yang mana Ahreum seharusnya sudah membuat pilihan siapa yang akan ia jadikan suaminya –nanti.

Jiyeon tampaknya mencoba mengerti cerita Ahreum. Dia tidak menyela, kecuali jika Ahreum bertanya sesuatu padanya. Sampai akhirnya Ahreum bercerita mengenai bagaimana ia bisa jatuh cinta dengan salah satu pemuda itu.

“Awalnya aku tak pernah menyukainya, Jiyeon-ah. Dia menyebalkan dan menyebalkan. Dia senang sekali mengomeliku, memprotes semua kelakuanku, mengkritik semua perkataanku. Tapi ia juga mengajarkanku, bagaimana menjadi gadis yang baik, teman yang baik, anak yang baik, bahkan musuh yang baik. Setiap hal yang ia lakukan perlahan-lahan membuatku mulai mengakui keberadaannya. Mulai dari caranya menatapku, membelai kepalaku, tersenyum padaku. Semuanya. Itu semua membuatku perlahan menyukainya,” ujar Ahreum.

Ia kini menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bukan karena Jiyeon kini sedang mengepang rambutnya, tapi karena ia tak ingin melihat ekspresi Jiyeon.

“Aku mulai menyadari kalau aku mencintainya ketika ia akhirnya..,” Ahreum terdiam sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam. Ia tak yakin apakah harus menceritakan bagian ini pada Jiyeon atau tidak. Tapi karena ia merasa sudah terlanjur, akhirnya Ahreum melanjutkan ceritanya. “.. ia menciumku ketika kami liburan di Dokdo dulu,”

Jiyeon tampak berhenti sejenak. Dan Ahreum sadar betul kalau ia tak seharusnya menceritakan bagian ini.

“Dia. Aku mencintai dia, Jiyeon-ah. Aku mencintai Kris,” Ahreum akhirnya mengatakannya. “Jadi maafkan aku, Jiyeon-ah. Aku mencintai dia. Aku mencintainya, maafkan aku. Aku tak bisa memilih orang yang menjadi pilihanmu,”

Ahreum kini menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia nyaris menangis saat ini. Ia pikir, hubungan persahabatannya dengan Jiyeon akan selesai disini. Ia pikir Jiyeon akan kembali menjadi musuhnya lagi setelah ini. Tapi karena Ahreum menutup wajahnya, Ahreum jadi tidak melihat kalau Jiyeon sudah mengulas senyum tipis di wajahnya.

“Akhirnya kamu mengatakannya juga. Sudah cukup lama aku menunggu kamu menyadari hal itu. Akhirnya kamu berani mengutarakan perasaanmu itu, Ahreum,” ujar Jiyeon yang kini memandangi cupcake di pangkuan Ahreum.

“Terserah padamu. Itu adalah pilihanmu. Karena masa depanmu itu tergantung dari pilihanmu. Kalau kamu merasa dia yang terbaik ya kamu harus menggenggamnya erat,” ujar Jiyeon. “Perlu kamu tahu, aku memang berharap kamu memilih Kris. Karena jika tidak, maka usahaku selama ini untuk menyatukan kalian akan sia-sia saja,”

Ahreum terkejut mendengar ucapan Jiyeon. “Kamu akan mendukungku?”

“Ya, aku mendukungmu. Aku kan sahabatmu,” sahut Jiyeon. “Sekarang cepat kita temui Kris agar kamu bisa menyatakan perasaanmu padanya,”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

logo1

This is the bonus chapter!!!

안녕! Yeyeyelalala ~(^_^)~ …

Kata siapa orang itu bukan Kris???? Emang bee pernah bilang kalo Kris gak bakal jadian sama ahreum??? Bee cuma bilang kalo krisreum shipper bakal patah hati karena bee bakal bikin mereka berantem dan berpisah… bukannya karena bee ga akan milih kris jadi pasangan ahreum… efek belajar ngetroll dari profesor jongdae nihhh… kayanya bee perlu kursus trolling ama jongdae lagi nih biar makin kece.. fufufufufu

Bangga deh  sama kalian… jadi siapa yang shippernya menang??? Hayo yang taruhan megang krisreum siapa??? Asyik makan-makan nih kayanya…

Makasih buat yang udah setia ngikutin ff ini.. dari foreword sampe ending… ngomong-ngomong…. endingnya udah ada lohhh silakan di cek, tapi jangan lupa komentar juga soal chapter ini ya… chapter ending disini

Byeom!! 안녕!! 뿅! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Bonus Chapter | PG15

7 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Bonus Chapter | PG15

  1. aick says:

    ya ampun eoon,,aku ketipu bgt sama kata”nya eonni wktu itu. sbnrnya nyangkanya tetep kris sih,soalnya kayaknya klo yg laen agak gimanaaa gtu, tpi gara” eonni wktu itu blg kyk gtu jdinya nganggepnya ahreum gak bakal sama kris..
    bagus eoon,bikin readernya jdi ketipu dan jdinya surprise wktu baca 🙂

  2. hildahyo3 says:

    wah, akhir’ny keluar chapter bonus’ny
    bagian ini flashback perasaan ahreum yg gak pernah di ungkapin di chapter2 sebelum’ny, ya
    aku seneng banget akhir’ny ahreum sama kriseu bersatu
    yeyeyelalala 🙂

    kalo gitu sekarang tinggal baca chapter terakhir

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s