FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 28 – Present | PG15


areum

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter 28 – Present

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

Other Cast:

Jiyeon T-Ara as Park Jiyeon

Jei Fiestar as Jei

Onew Shinee as Onew

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life, Drama

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Enchanted | F(x) – Surprise Party |

Chapter 28 | Present

.

.

.

.

Birthday present

.

.

.

.

“Sekarang sesi hadiah! Ayo, siapa yang mau memberikan hadiahnya duluan?” seru Jiyeon mencuri perhatian semua orang yang tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

“Aku! Aku!!” sahut Xiumin.

Ahreum tersenyum melihat antusiasme Xiumin. Ia pikir apalagi yang akan dilakukan si chubby itu untuk menarik perhatiannya –membuat rumahnya menjadi istana es mungkin. Dan tebakan Ahreum nyaris tepat.

Jjajjan!!” seru Xiumin seraya menarik sebuah kain putih yang menutupi sebuah gundukan besar. Ahreum bahkan tidak tahu ada gundukan (sangat) besar disana, karena warna putihnya saru dengan warna salju yang memenuhi bukit ini. Begitu kain putih itu menampilkan apa yang disembunyikannya, Ahreum hanya bisa mematung seraya membuka mulutnya lebar-lebar.

“Omo, Onew-ya! Dia memberikan Ahreum sebuah iglo! Itu iglo asli kan? Astaga Ahreum betapa beruntungnya dirimu. Aku selalu ingin tinggal di iglo ketika musim dingin-,” dan selanjutnya Jei terus mengoceh.

Ya, Xiumin membuat sebuah iglo sederhana untuk Ahreum. Ia tahu kalau Ahreum selalu ingin mencoba tinggal dalam sebuah iglo (salah satu persamaannya dengan Jei); walau Ahreum tahu persis rumahnya jauh lebih hangat dibandingkan sebuah iglo. Xiumin lalu menarik Ahreum yang masih terbengong-bengong untuk masuk ke dalam iglonya. Di dalam iglo, Xiumin lalu merentangkan tangannya dengan bangga, menunjukkan kerja kerasnya pada Ahreum.

“Aku membuatnya sendiri. Bagaimana? Iglo ini sepertiku bukan?” tanya Xiumin. Ahreum memiringkan kepalanya dan memandangi Xiumin bingung. “Terlihat dingin di luar tapi hangat di dalamnya,”

Ahreum tak bisa untuk tidak tertawa mendengar gombalan Xiumin itu. Ia akhirnya memeluk Xiumin sebagai imbalan atas kerja kerasnya seraya menggumamkan terima kasih yang tulus. Untuk saat ini Ahreum melupakan semua kelakuan Xiumin di masa lalu yang sering membuatnya kesal.

Kejadian sempurna ini harus disela oleh Tao yang sudah masuk ke dalam iglo dan melepaskan Ahreum dari Xiumin. Sambil menggerutu pelan, Xiumin pun keluar dari iglo dan meninggalkan Ahreum dengan Tao di dalam.

“Selamat ulang tahun, Ahreum,” bisik Tao yang lalu memeluk Ahreum erat. Setelah melepas pelukannya, Tao langsung menyerahkan hadiahnya pada Ahreum. Sebuah buket bunga mawar yang begitu besar. Ahreum bahkan tidak sadar kalau Tao menyembunyikan buket sebesar itu di balik badannya.

“Wah, terima kasih, Tao. Ini cantik sekali,” puji Ahreum tulus.

Keduanya lalu mengobrol beberapa saat. Ahreum merasa obrolan mereka mungkin sudah sampai puluhan menit, ia akhirnya memutuskan untuk menyudahi obrolannya dengan Tao dan keluar dari iglo; karena tak enak membuat yang lainnya menunggu lama. Begitu keluar dari iglo, keduanya langsung disambut oleh tatapan kesal para pengawalnya.

“Tao, kamu menggunakan kekuatanmu,” tegur Lay.

“Tao, Dduizhang tidak akan senang dengan hal ini,” sahut Luhan sambil melirik Kris yang tampak (sedikit) kesal.

Ahreum langsung berbalik menghadap Tao di belakangnya seraya menatapnya tak percaya. “Kamu menghentikan waktu?!”

“Hanya sebentar,” sahut Tao sambil menggaruk-garuk tengkuknya salah tingkah.

Ahreum hanya memukul lengannya pelan untuk memberi Tao ‘pelajaran’.

“Masih ada yang mau memberikan hadiahnya? Sebelum kita semua makan,” sela Jiyeon yang sedang duduk di antara Lay dan Kris.

Sehun langsung meraih Ahreum dan menyeretnya menuju freezer yang ada di sisi lain halaman ini. Ahreum sampai bingung dibuatnya, bagaimana bisa freezer itu ada di luar, sebab freezer itu tadinya ada di ruang bawah tanah. Ahreum langsung mengintip isi freezer besar itu. Oh, jangan bingung kenapa Ahreum bisa punya freezer, karena rumah ini tadinya adalah bekas penginapan, makanya mereka memiliki sebuah freezer besar untuk menyimpan makanan beku.

“Es krim favoritmu, Ahreum,” seru Sehun sambil mengeluarkan satu ember kecil es krim bermerek ‘H’ itu.

Jei kini sudah ikutan berdiri di samping Ahreum untuk melihat es krim pemberian Sehun itu. Jei dan Ahreum sama-sama terhenyak melihat betapa banyaknya es krim yang memenuhi freezer itu.

“Astaga, Sehun! Es krim ini kan mahal! Satu ember kecil ini saja bisa berapa puluh ribu won!” seru Jei antusias. “Aigoo, kamu anak kecil yang banyak uangnya,”

Ahreum memandangi freezernya takjub, seolah ia sedang melihat surga disana. Ada begitu banyak pilihan rasa favorit Ahreum. Ahreum akhirnya mengambil satu ember kecil yang tadi dipegang Sehun seraya meminta izin padanya untuk memakan es krim itu bersama yang lainnya.

Meskipun Jei tidak setuju jika mereka makan es krim di cuaca sedingin ini, tapi Jei tetap meraih ember es krim tersebut dari tangan Ahreum agar ia bisa membagikannya dengan yang lain. Ketika Jei dan yang lainnya menjauh, Ahreum langsung mengkonfrontir Sehun.

“Bagaimana bisa freezernya keluar dari ruang bawah tanah? Dan berapa banyak uang yang kamu habiskan untuk membeli es krim ini? Dan bagaimana juga nanti kamu akan membawa freezer sebesar ini untuk kembali ke ruang bawah tanah??” cecar Ahreum.

“Es ini aku dapat secara gratis. Aku kan bekerja disana, dan aku minta pada pemilik tokonya agar aku digaji pakai eskrim saja. Dan mengenai freezernya, kamu tak usah khawatir. Kita punya Luhan Hyung,” sahut Sehun santai.

Ahreum tak tahu harus merasa haru atau takjub atau lucu –mengenai Sehun digaji dengan eskrim. Akhirnya ia memeluk maknae Knight itu erat seraya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya.

“Ya ya ya, Luhan Hyung memang bisa diandalkan,” sela Luhan yang sudah menghampiri keduanya. Luhan memberikan sebuah kotak yang cukup besar, yang dibungkus kertas warna-warni dihias dengan pita cantik berwarna pink, hadiah untuk Ahreum.

Ahreum meraih kotak itu antusias. Dari sekian banyak hadiah yang sudah ia terima, baru punya Luhan saja yang benar-benar terlihat seperti hadiah. Ahreum pun segera membongkar hadiah dari Luhan tersebut. Ia melucuti kertas yang membungkus kotaknya. Begitu kotaknya terbuka, Ahreum tak menemukan apapun di dalamnya. Ahreum membolak-balik kotaknya dan ia tetap tak menemukan apapun.

“Apa? Mana isinya?” bingung Ahreum.

Onew mendekati Ahreum dan menunjukkan foto dapur Ahreum yang menjadi ‘hadiah’ darinya. “Hadiahnya Luhan ada disini, Ahreum,” ujarnya.

Kali ini Ahreum memandangi Onew bingung. Ahreum akhirnya memperhatikan lagi foto dari Onew itu. Ia meneliti setiap sudut dapurnya yang terpotret disana. Tidak ada yang baru. Kulkas miliknya, toaster miliknya, oven miliknya, penanak nasi miliknya dan lain sebagainya masih sama. Yang baru hanyalah meja bar, tanaman rambat, gelas-gelas kristal, serta coffee maker disana.

Tunggu dulu.

Ahreum kembali memandangi foto itu dengan seksama. Sebuah senyum mengembang sempurna di wajahnya. Tentu saja, selain es krim, Ahreum sangat menyukai kopi. Ahreum lalu meraih kotak kosong yang tadi diberikan Luhan, ternyata kotak itu adalah kotak mesin pembuat kopi.

Coffee machine!! Uwaaaaah!!!” seru Ahreum yang langsung melompat ke arah Luhan dan menggantungkan lengannya di leher Luhan. Ahreum memeluk Luhan erat, bahagia atas hadiah yang diterimanya. “Luhan, jjang!! Kamu yang terhebat!! Padahal pemimpinmu yang berjanji untuk membelikan ini padaku, tapi dia melupakannya. Luhan adalah yang terhebat!!!”

Mendengar ucapan Ahreum itu, Jiyeon langsung menyikut rusuk Kris. Ia memelototi Kris seraya berbisik, “kenapa kamu tak beli itu duluan sebelum Luhan membelinya?!”

Jiyeon memandangi Ahreum yang kini sudah dikelilingi para pengawalnya. Ia lalu berpaling pada Kris yang tampak tak bergerak dari bangkunya. Jiyeon akhirnya hanya bisa menghela napas panjang. Ia merasa dunia sedikit tidak adil. Di sampingnya ada pemuda yang begitu ia cinta, tapi pemuda itu mencintai perempuan lain, dan perempuan lain yang merupakan sahabatnya itu sama sekali tak menyadari perasaan pemuda itu, sementara dirinya sendiri berusaha menyatukan mereka walau ia tahu persis kalau dirinya yang akan tersakiti.

“Ini adalah hal terakhir yang akan aku lakukan untukmu, Kris. Jika masih tak ada perubahan juga, maka aku tak memiliki pilihan lain selain membuatmu berpaling melihatku,” gumam Jiyeon seraya kembali menghela napas panjang.

Tanpa terasa sebagian besar pemuda yang tinggal di rumah Ahreum itu sudah menyerahkan hadiah mereka pada Ahreum. Setelah Luhan, giliran Chanyeol yang memberi putri kesayangan mereka itu hadiah. Chanyeol memberikan sebuah kalung mutiara. Menurut Chanyeol, kalung mutiara itu adalah mutiara asli yang ia dapatkan saat bekerja sambilan. Berdasarkan yang Ahreum tahu, Chanyeol itu bekerja sambilan di pelelangan ikan, karenanya Chanyeol selalu membawa pulang ikan laut ke rumah. Tapi sejak insiden Ahreum keracunan teripang yang ia bawa, Chanyeol tak pernah lagi membawa apapun dari tempat kerjanya itu ke rumah. Dan sepertinya, kalung mutiara yang ia berikan pada Ahreum adalah hasil kerjanya selama berbulan-bulan.

Setelah Chanyeol, ada Suho yang memberikan Ahreum sepasang sepatu high heel. Suho memberikan Ahreum sepatu yang sangat pas dengan kaki Ahreum. Selain itu modelnya juga sangat cantik dan tentu saja tidak bisa untuk dipakai sehari-hari. Suho membelikan Ahreum sepatu high heel karena ia ingat betapa cantiknya Ahreum saat memakai high heel. Suho juga memikirkan ‘ketidak-seimbangan-Ahreum’ saat membeli sepatu itu, makanya ia mencari sepatu dengan heel yang tidak menyiksa agar Ahreum bisa berjalan normal dengan sepatu tersebut.

Lalu D.O. memberikan Ahreum sebuah gaun malam yang cukup berkilauan. D.O. memberikan mini dress warna hitam yang menonjolkan bentuk tubuh si pemakai –bahkan ketika Ahreum menempelkan gaun itu ke tubuhnya, semua bisa melihat betapa gaun itu seolah tercipta untuknya. Dan seolah mereka janjian dalam memilih hadiah, sepatu dari Suho tampak sangat serasi dengan gaun pemberian D.O. Ahreum merasa ia menjadi putri sehari dengan semua hadiah itu. Oh, Ahreum, kamu memang adalah seorang putri.

Kemudian Chen memberikan Ahreum sebuah kotak musik. Dari luar kotak itu seperti kotak perhiasan klasik dengan ukiran-ukiran di setiap sisinya, tapi begitu dibuka ternyata kotak tersebut merupakan orgel yang melantunkan lagu tidur yang sangat indah. ‘Untuk menemani tidur Ahreum’ kata Chen. Walau Ahreum lebih memilih Chen atau Baekhyun yang menyanyikan lagu tidur untuknya, tapi Ahreum pikir sebuah orgel juga tak jadi masalah untuk membawanya tidur.

Ahreum kemudian berpaling melihat Lay yang masih duduk manis di depan kue ulang tahun. Ia merasa Lay malam ini jauh lebih pendiam dibandingkan biasanya. Ia hanya duduk dan terus memandangi kue ulang tahun Ahreum.

“Lay?” tegur Ahreum.

“Maaf, Ahreum,” gumam Lay. Ia kini menundukkan kepalanya.

Ahreum sepertinya mengerti kegundahan hati Lay. Sepertinya Lay tidak mempunyai hadiah untuknya. Akhirnya Ahreum menghampiri Lay dan meletakkan lengannya di punggung Lay.

“Hey, kenapa minta maaf? Tak masalah jika kamu tak punya hadiah untukku. Senyuman dan doamu saja sudah merupakan hadiah besar untukku. Hadiah itu hanya benda, tapi sebuah doa dan senyuman yang tulus itulah yang menjadi hadiah sesungguhnya,” ujar Ahreum, berusaha meyakinkan Lay kalau dirinya baik-baik saja meski tanpa hadiah.

Lay justru menundukkan kepalanya semakin dalam.

“Lay sudah membuat hadiah untukmu, Ahreum. Yang ada di hadapanmu itu adalah hadiah darinya,” sahut Jei.

Yang ada di hadapanku? pikir Ahreum. Ia mencari sesuatu yang berbentuk hadiah di hadapannya. Tapi Ahreum tak menemukan apapun selain kue ulang tahunnya dan tumpukan hadiah dari pengawalnya yang lain. Kemudian Ahreum tersadar, kalau hadiah yang dimaksud Jei sepertinya adalah kue ulang tahunnya. Ahreum lalu berpaling pada Lay, memandangnya penuh rasa bersalah.

“Lay seharian ini membuat hiasan-hiasan untuk kue itu. Ahreum, Lay itu hebat. Bahkan hanya sekali diajarkan oleh Onew dia sudah langsung bisa membuatnya dengan sangat sempurna,” jelas Jei. “Kamu pikir itu kue dari toko bukan? Itu kue buatan Lay. Ahreum, kalau kamu membuka cafe di masa depan nanti aku yakin kamu pasti akan sukses. Kamu punya barista (Jei menunjuk Luhan), punya segudang es krim serta chef pastry dan sisanya bisa menjadi pelayanmu. Ahh cafemu nanti pasti jadi surga-,”

Ahreum sudah tidak mendengarkan semua ocehan Jei. Ia sudah meraih tangan Lay dan menggenggamnya. Ahreum tentu saja merasa bersalah. Ia tak tahu kalau kue itu buatan Lay. Jika ia tahu, mungkin ia akan menolak permintaan Jiyeon yang menginginkan cupcakenya –mungkin.

“Mianhae, Lay. Aku tak tahu. Kalau aku tahu-,”

“Tidak , Ahreum. Walaupun aku bilang dari awal, itu hanya akan membuatmu merasa dilema nantinya. Karena memang sejak siang tadi Jiyeon sudah bilang kalau kue atas nama Dduizhang akan jadi miliknya. Tapi tenang saja. Aku sudah membuat dua untukmu,” sahut Lay yang sudah menunjukkan senyuman lengkap dengan lesung pipinya yang manis.

Jiyeon yang duduk di samping Lay hanya bisa berpura-pura tidak mendengar ucapan Lay itu. Padahal sekarang beberapa Knight dan Mastermind sudah melemparkan death-glare mereka padanya.

“Tapi kue buatanmu memang sangat enak, Lay. Jauh lebih enak daripada buatan Suho,” ujar Ahreum.

“Hei, aku dengar itu, Ahreum,” sahut Suho. Mereka lalu tertawa melihat Suho yang sudah cemberut sambil mengawasi daging di panggangan.

Tak lama kemudian Baekhyun datang menyela mereka. Ia membawa sebuah gerobak –yang entah darimana asalnya. Kemudian Baekhyun menghampiri Ahreum untuk menariknya menuju gerobak yang ia bawa. Gerobak yang Baekhyun bawa itu berwarna pink dengan pita di sana-sini, membuat Ahreum berpikir kalau gerobak itu adalah hadiah untuknya.

“Selamat ulang tahun, Ahreum,” ujar Baekhyun. Ia lalu menarik gerobaknya agar menghadap Ahreum. Betapa kagetnya Ahreum begitu melihat penghuni yang ada di dalam gerobak tersebut.

“Kyaaa!!! Kyeopta!!!” jerit Ahreum.  Langsung meraih isi dari gerobak tersebut dan memeluknya. Ahreum nyaris terjengkang ketika mencoba mengangkatnya, karena memang ukuran benda itu hampir sama besar dengan dirinya. Akhirnya Baekhyun membantu Ahreum untuk mengangkat benda tersebut.

Baekhyun memberinya sebuah boneka beruang yang sangat besar –setinggi Ahreum.

“Sambil mendengarkan orgel dari Chen, peluk boneka ini untuk menemanimu tidur. Dan semua mimpi burukmu akan hilang,” ujar Baekhyun sambil menunjukkan senyum khasnya.

Ahreum langsung memeluk Baekhyun dengan antusiasnya sampai mereka berdua terjatuh di atas tumpukan salju.

Best gift ever!!” seru Ahreum. “Gomapta, Baekhyun!”

.

.

.

Ahreum masih memeluk boneka pemberian Baekhyun, merasakan lembutnya boneka tersebut. Baginya ini adalah hari terindah yang pernah ia lewati. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya Ahreum menikmati hari kelahirannya. Tapi kali ini, Ahreum benar-benar merasa bersyukur karena sudah dilahirkan ke dunia ini. Sebab walaupun ia harus tumbuh tanpa mengenal kedua orangtuanya serta kehilangan satu-satunya keluarganya, yaitu kakeknya, Ahreum merasa semua penantian serta perjuangannya tidak sia-sia. Karena akhirnya ia mendapatkan teman, sahabat serta keluarga. Ahreum tak bisa meminta lebih.

Kecuali kekasih.

Ahreum melepas pelukannya dari boneka Baekhyun. Ia kini duduk tegak seraya menatap sekeliling. Ia baru sadar kalau ada pengawalnya yang hilang. Dan orang itu menghilang setelah mengucapkan selamat ulang tahun serta berfoto bersama. Ahreum mengedarkan pandangan ke penjuru halaman ini. Benar saja, pemuda itu tidak ada disana.

“Mencariku?” tegur Kai dan membuat Ahreum terlonjak kaget. Kai sudah menunjukkan seringai khasnya pada Ahreum.

Senyum Ahreum langsung merekah begitu melihat Kai. “Kemana saja kamu?”

Kai lalu duduk di samping Ahreum seraya menyodorkan sebuah kotak kecil pada Ahreum. “Mencari saat yang tepat untuk memberikan ini,”

Ahreum memandangi kotak kecil itu penuh tanya. Dari semua hadiah yang ia terima hari ini, mungkin pemberian Kai inilah yang paling kecil. Ahreum menduga mungkin isinya adalah benda-benda kecil seperti kunci, atau jepit rambut, atau batu –Kai memang suka memberi benda aneh pada Ahreum. Tapi kemudian Ahreum malah berpikir kalau Kai akan memberinya cincin, karena kotak tersebut adalah kotak perhiasan –bahkan Jei di pojokan sudah bergunjing pada Onew dan menebak kalau Kai sedang menembak Ahreum. Tak ingin lama-lama menebak, akhirnya Ahreum membuka kotak tersebut.

Dan benar dugaan Ahreum sebelumnya, Kai memberinya benda aneh lagi. Di dalam kotak itu adalah sebuah lonceng kecil berwarna perak sebesar kuku ibu jari Ahreum. Ahreum mengeluarkan lonceng itu dan memandangi Kai bingung.

“Itu hadiah dariku. Selamat ulang tahun,” seru Kai.

Jiyeon yang melihat kejadian ini langsung mendengus seraya mengejek Kai. “Yah! Yang benar saja. Masa hadiahnya hanya lonceng?? Memangnya Ahreum anak kucing, sampai kamu memberinya lonceng,”

Mendengar seruan Jiyeon itu membuat Kai sedikit kesal. “Eiiy, kamu mengganggu acaraku saja,” Kai lalu berpaling pada Ahreum yang sudah mengguncang lonceng tersebut hingga menimbulkan bunyi gemerincing. “Itu adalah hadiah pembukanya, Cantik. Untuk hadiah utamanya kamu guncangkan lebih kencang lagi lonceng itu, maka hadiahnya akan datang ke hadapanmu.”

Masih bingung, tapi Ahreum tetap menuruti ucapan Kai. Ia mengguncangkan lonceng tersebut semakin kencang dan semakin kuat. Ahreum masih memandangi Kai yang tak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Ia pikir Kai akan tiba-tiba mengeluarkan hadiahnya, tapi tidak, Kai bahkan tidak merubah posisinya.

Ahreum berhenti mengguncangkan loncengnya karena sepertinya ia mendengar sesuatu. Tapi suara itu hilang, hingga akhirnya Ahreum mengguncang lagi loncengnya. Kembali Ahreum mendengar sesuatu. Kali ini suara itu semakin jelas dan semakin dekat. Ahreum mengenali suara itu. Ahreum kini sudah berhenti mengguncangkan loncengnya dan memandangi Kai penuh rasa haru.

“Yup, itu hadiah utamanya,” ujar Kai mengerti isyarat mata Ahreum.

Gadis itu kini sudah berdiri dan mencari sumber suara yang tadi ia dengar. Tanpa perlu mencari sampai berkeliling, karena kini si pemilik suara itu sudah menghampirinya, bahkan melompat-lompat di kaki Ahreum.

“Perkenalkan, Ahreum. Ini adalah Jinggu. Anakku,” ujar Kai. Ia lalu memanggil anak anjing poodle dan si anak anjing itu langsung menurut untuk menghampiri Kai.

Ya, Kai membawa Jinggu, poodle yang sejak lama Ahreum incar (bahkan sejak poodle itu masih bayi). Poodle tersebut bahkan sudah lebih besar dan memiliki bulu yang lebat, serta jauh lebih lucu dibandingkan ketika terakhir kali ia mengunjunginya.

“Uwaaah!!! Gomapta, Kai!!” Ahreum sudah merentangkan tangannya untuk meminta Jinggu, tapi Kai malah memeluk Jinggu erat.

“Sebutkan kata kuncinya,” ujar Kai.

Ahreum memandangi Kai bingung dengan rasa tak sabar. Ahreum tak sabar ingin segera memeluk Jinggu dan bermain dengannya, tapi sepertinya Kai masih mau menguji kesabarannya.

“Kai jjang! Kai Choigo! Kai Daebak! The best Kai!” Ahreum menyerukan pujian-pujian acak pada Kai.

Kai hanya menggelengkan kepalanya, menolak semua pujian Ahreum. Karena bukan itu yang Kai inginkan. Bukan sekedar pujian atau rasa kagum, tapi sesuatu yang lain.

Kai dan yang lainnya sudah memutuskan kalau hari ini mereka akan membuat Ahreum menentukan pilihannya. Sebab Ahreum sudah berumur delapan belas tahun –waktu manusia bumi, jadi mereka harus segera menjadikan Ahreum seorang ratu dan segera membawanya ke Exoland untuk merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik Ahreum. Oleh karena itu, mereka menyiapkan semua hadiah yang Ahreum suka, semata-mata untuk menarik perhatian Ahreum dan memudahkannya untuk memilih.

“Bukan itu kata kuncinya, Cantik. Kamu tentu tahu persis, apa yang ingin aku dengar, bukan?” ujar Kai.

Ahreum kini sudah cemberut memandangi Kai. Ia sama sekali tak tahu apa yang ingin Kai dengar. Bukankah biasanya Kai sangat senang jika ada yang memuji dirinya. Tapi sepertinya sekedar pujian saja belum cukup.

“Katamu itu hadiah untukku. Kenapa kamu tak mau memberikannya padaku?” gerutu Ahreum.

“Iya, ini memang hadiah untukmu. Hadiah karena akhirnya kamu bisa bermain bersama Jinggu tanpa perlu pergi ke toko hewan. Tapi kamu tak bisa memilikinya. Karena Jinggu ini adalah anakku,” ujar Kai.

Ahreum benar-benar tak mengerti apa yang Kai mau. Ahreum sudah merajuk pada Kai. Ia bahkan menunjukkan aegyonya pada Kai. Selain itu, Ahreum juga terus memuji-muji Kai, memberikan bentuk hati yang besar dengan kedua tangannya, mengedipkan matanya, segala cara Ahreum lakukan agar ia bisa memeluk Jinggu. Tapi Kai terlalu kuat untuk ditaklukkan.

“Kamu mau memilikinya?” Ahreum mengangguk antusias, membuat Kai tersenyum puas. “Seperti yang kubilang tadi, ini adalah anakku. Jadi kalau kamu mau memilikinya, kamu harus menjadi ibunya,”

“Yah!!!” seru Jiyeon. Ia benar-benar tak sabar melihat tingkah Kai dan Ahreum. Karena kalau ini terus dibiarkan, bisa-bisa usahanya untuk menyatukan Kris dengan Ahreum gagal. Dan itu artinya ia gagal menjadi teman yang baik. Dan itu artinya semua usahanya sia-sia. “Memangnya Ahreum itu induk anjing apa?! Kenapa harus menjadi ibunya?! Yang ada juga jadi majikannya. Kamu itu bodoh atau apa?!”

Kai berpaling pada Jiyeon. Ia lalu meletakkan Jinggu di meja dan berkacak pinggang menatap Jiyeon kesal. “Apa masalahmu?! Kamu ini mengganggu saja,” dan keduanya pun perang mulut.

Ahreum memanfaatkan kesempatan ini untuk menculik Jinggu dan membawanya menjauh dari Kai untuk bermain bersama dengan Jei dan yang lainnya di sisi lain halaman ini.

.

.

.

“Kai, aku mau bicara sebentar denganmu,” ujar Ahreum.

Ahreum sudah berhenti bermain dengan Jinggu dan menghampiri Kai yang berdiri sejauh mungkin dari Jiyeon –Kai masih kesal karena Jiyeon menggagalkan usahanya. Ahreum berdiri di hadapan Kai sambil memandangi sepatu boot yang ia pakai hari ini; menghindari tatapan Kai.

“Ada apa? Mau bicara apa?” tanya Kai seraya meremas pelan bahu Ahreum untuk mengurangi ketegangan di diri gadis itu. Karena Kai tahu, Ahreum sedang nervous saat ini. Terlihat dari matanya yang tak menatap Kai, tangannya yang terus meremas ujung bajunya serta terus menggigiti bibir bawahnya, itu semua adalah tanda-tanda kalau Ahreum sedang tegang.

Ahreum lalu menghela napas panjang. Ahreum akhirnya mengangkat kepalanya untuk menatap Kai. “Uhmm, mengenai ucapanmu tadi. Mengenai menjadi ibu dari anakmu-,”

“Ahreum, ganti baju dulu sana,” seru Jei menyela ucapan Ahreum.

Ahreum berhenti bicara. Ia lalu memalingkan mukanya dari Kai. Dan untuk sepersekian detik, Kai pikir jantungnya telah berhenti berdetak karena ucapan Ahreum. Ia bertanya-tanya apa yang akan Ahreum katakan padanya. Tapi sepertinya Ahreum belum siap untuk mengutarakannya dan kini malah meninggalkan Kai untuk menghampiri Jei tanpa sepatah katapun.

“Lihatlah dirimu, Ahreum. Kita semua sudah memakai pakaian formal, jadi sebaiknya kamu ganti baju. Bagaimana bisa yang berulang tahun memakai pakaian seperti itu. Ganti dengan baju dari D.O. dan sepatu dari Suho,” ceramah Jei begitu Ahreum menghampirinya.

Ahreum melihat penampilannya saat ini. Kemeja hitam dengan jeans berwarna senada serta sepatu boot hitam melekat di tubuhnya. Ia baru sadar kalau ia menikmati pesta ulang tahunnya dengan pakaian berkabung seperti ini. Sementara para tamunya memakai pakaian formal –meski tidak ada jas atau gaun mewah. Ahreum akhirnya meraih gaun serta sepatu hadiahnya menuju rumah ditemani oleh Jiyeon.

Ketika melewati Kai, Ahreum hanya bisa menundukkan kepalanya dan menghindari bertatapan dengannya. Dan Kai merasa kalau jantungnya sudah berhenti saat itu juga.

.

.

Ahreum dan Jiyeon berjalan dalam diam. Entah kenapa Ahreum merasa ada sesuatu yang mengganjal antara dirinya dan Jiyeon. Berkali-kali Ahreum mencoba berusara, tapi selalu gagal. Sementara Jiyeon sendiri sepertinya lebih suka bermain dengan komputer tabletnya dibandingkan berbincang dengan Ahreum.

Di tengah perjalanan Jiyeon tiba-tiba berhenti dan mengatakan kalau ada barangnya yang ketinggalan di danau. Akhirnya Jiyeon memutuskan untuk meninggalkan Ahreum dan kembali ke danau. Sementara Ahreum tetap menunggu sambil memperhatikan Jiyeon yang kembali menuruni bukit. Di tengah perjalanan tampak Jiyeon berpapasan dengan Kris yang sedang menuju rumah. Dan Ahreum terus memperhatikan Kris sampai akhirnya pemuda itu tiba di hadapannya.

Ragu-ragu Kris mendekati Ahreum. Sambil tersenyum ia menawarkan diri untuk membawakan barang-barang di tangan Ahreum. Meskipun sempat menolak, tapi akhirnya Ahreum menyerahkan semua kotak di tangannya itu pada Kris. Kemudian mereka berjalan berbarengan menuju rumah.

Di sepanjang jalan keduanya hanya bisa diam, tak jauh beda keadaannya dibandingkan ketika Ahreum berjalan dengan Jiyeon tadi. Sampai akhirnya Kris buka suara, tepat sebelum mereka sampai di pintu belakang rumah Ahreum.

“Sebelumnya maaf, Ahreum. Aku tidak sempat membeli hadiah untukmu,” ujar Kris.

Dan Ahreum baru menyadari kalau Kris memang belum memberinya hadiah apapun. Pantas saja dari tadi Kris menghindari Ahreum, rupanya karena ia belum memiliki hadiah untuknya. Ahreum kembali berusaha myakinkan Kris kalau dirinya baik-baik saja tanpa hadiah –sama seperti apa yang sudah Ahreum ucapkan pada Lay tadi.

“Tapi aku mau memberikanmu hadiah. Hanya saja aku tidak tahu mau memberikanmu apa. Kamu sudah memiliki segalanya selain itu anak-anak yang lain juga sudah memberikan apa yang kamu inginkan. Dan aku kehabisan ide akan hadiah apa yang harus aku siapkan untukmu,” ujar Kris.

Kris lalu meletakkan semua kotak yang dibawanya ke lantai teras. Kemudian Kris menarik sesuatu dari lehernya; sebuah kalung –dan hei, Ahreum baru menyadari kalau Kris memakai kalung. Kris kemudian menunjukkan kalung itu –atau lebih tepatnya liontin dari kalung tersebut pada Ahreum. Sebuah cincin perak dengan batu rubi di atasnya.

“Ini adalah cincin peninggalan ibuku. Menurut para tetua Mastermind ayahku membuat sendiri cincin ini untuk ia berikan pada orang yang ia cintai. Tapi berhubung orang yang ayahku kagumi menghilang, akhirnya ia memberikan cincin ini ada wanita lain –dan wanita itu adalah ibuku. Cincin ini merupakan saksi bisu perjalanan cinta kedua orangtuaku. Dan cincin ini–,” Kris sudah menghentikan ucapannya setelah melihat ekspresi Ahreum yang tampak shock, kaget, tak percaya dan lain sebagainya. Kris menghela napas panjang sebelum melanjutkan kalimatya. “Maksudku, cincin ini ayahku buat untuk ia berikan pada orang yang ia cintai dan dia memberikannya ada ibuku. Ini sebagai tanda cinta mereka. Dan kini aku ingin memberikan cincin ini pada orang yang kucintai, yaitu kamu. Tapi kamu tenang saja, ini tidak seperti paksaan agar kamu memilihku untuk jadi pasanganmu. Aku hanya merasa kalau cincin ini pasti cocok untukmu,”

Kris lalu terdiam. Ia memandangi Ahreum yang juga masih terdiam. Dan Kris sudah menebak kalau ini adalah pilihan yang salah karena Ahreum sudah pasti menolaknya.

“Tapi Kris, ini kan peninggalan orangtuamu. Rasanya lancang kalau aku menerima ini darimu,” ujar Ahreum pelan setelah berhasil keluar dari dilema panjangnya.

“Tapi aku selalu menghilangkan cincin ini. Jika Luhan tidak membuatkan tali ini mungkin cincin ini akan benar-benar hilang. Jadi kurasa kebih baik jika aku memberikannya padamu, karena aku tahu kalau kamu pasti akan menjaga cincin ini dengan baik,” sahut Kris.

Ahreum masih memandangi cincin itu ragu. Disatu sisi ia ingin menerimanya, tapi disisi lain ia merasa tidak enak –entah karena apa.

“Apa kamu mau memakainya?” tanya Kris.

Tanpa menunggu persetujuan dari Ahreum, Kris sudah meraih tangannya dan menyematkan cincin itu di jari manisnya. Ternyata cincin itu muat di jari Ahreum, seolah cincin itu memang tercipta untuknya. Kris pun memandangi cincin itu dengan bangga –bangga karena ia berhasil memilihkan hadiah yang tepat untuk Ahreum.

“Cantik,” puji Kris.

Dan Ahreum setuju akan pujian itu, karena cincin ini memang benar cantik. Ahreum memandangi jari manisnya penuh haru. Ia selalu ingin memakai cincin. Tapi karena ia selalu beranggapan kalau jari manis adalah jari yang sakral dan hanya cincin dari orang spesial saja yang bisa mengisinya, jadi Ahreum tak pernah memakai perhiasan peninggalan ibunya -terutama cincin. Ahreum merasa seolah ada perasaan istimewa ketika ia memakai cincin di jari manis. Seolah semua rasa ragu menghilang dari pikirannya.

“Kamu mau menjaganya untuku kan? Walaupun kamu sudah menentukan pendampingmu, rajamu, kamu tetap akan menyimpan cincin ini, bukan?” tanya Kris khawatir.

Masih sambil memandangi jari manisnya, Ahreum mengangguk pelan. Ia terus memandangi jari manisnya dan melewatkan ekspresi bahagia yang terpancar di wajah Kris. Sampai akhirnya Ahreum tersadar kalau ia ingin mengucapkan sesuatu pada pemuda itu.

“Terima kasih, Kris. Aku akan menjaganya dengan baik,” ujar Ahreum yang sudah mengangkat wajahnya untuk menatap Kris. “dan mengenai pendampingku, aku sudah membuat keputusan. Aku ingin kamu yang mendengarnya untuk yang pertama kali. Aku–,”

“Uh, Ahreum,” sela Kris. Ia tampak salah tingkah saat ini. Bukan karena ia yakin kalau dirinyalah yang dipilih Ahreum, tapi karena ia takut kalau ternyata Ahreum menolaknya. Kris belum bisa menerima hal  itu. Ia tak ingin patah hati sendirian. “Kurasa sebaiknya kamu mengatakannya di hadapan yang lain juga. Aku…aku.. kami akan menunggumu di bawah setelah kamu berganti pakaian,”

Kris lalu mundur selangkah menjauhi Ahreum. Tapi Ahreum segera menahan tangan Kris. Ahreum sudah memandangi Kris tak percaya. Bagaimana bisa Kris mau meninggalkannya di situasi seperti ini?! Apa Kris tak bisa membayangkan betapa susahnya bagi Ahreum untuk memberanikan diri agar ia bisa mengutarakannya. Dan sekarang Kris menyuruh Ahreum untuk mengucapkannya di hadapan yang lain, itu artinya ia harus mengumpulkan lagi keberaniannya. Bukankah akan lebih praktis kalau ia mengatakannya pada Kris dan Kris menyampaikannya pada yang lain? Ahreum tak habis pikir dengan jalan pikiran Kris.

“Tapi aku sudah tak bisa menunggu sampai nanti! Memangnya kenapa kalau kamu yang mendengarnya duluan?” Ahreum memohon.

Kris kini memandangi tangan mereka yang saling bertautan. Pengecut memang, karena Kris takut akan patah hati. Ini adalah untuk yang pertama kali baginya, jatuh cinta seolah ia berada di antara hidup dan mati. Kris bahkan tidak mempedulikan mengenai Exoland, karena yang ada di pikirannya hanya Ahreum, Ahreum dan Ahreum. Ia merutuki dirinya sendiri karena tujuan ia datang ke bumi, mencari Ahreum bukan untuk jungkir balik jatuh cinta pada gadis itu, melainkan untuk memperjuangkan negerinya. Kris akhirnya menghela napas panjang. Lebih baik ia tak mendengarnya sama sekali daripada ia harus mendengar sebuah penolakan yang akan berakhir dengan hatinya yang terpuruk.

“Aku harus membantu yang lain,” ujar Kris nyaris tak terdengar.

Kris kembali mudur selangkah, tapi Ahreum tak melepaskan tangannya. Kris akhirnya berbalik dan mulai melangkah hingga tangan mereka yang saling bertautan itu perlahan-lahan lepas. Dan Ahreum hanya bisa memandangi kepergian Kris bingung sekaligus shock.

“Ada apa?” tegur Jiyeon yang sudah sampai di hadapan Ahreum.

Jiyeon memandangi Ahreum yang masih mematung memandangi jalan setapak yang menghubungkan rumahnya dengan danau di ujung bukit. Jiyeon lalu ikut berpaling untuk melihat apa yang Ahreum lihat. Begitu melihat punggung Kris yang perlahan menjauh, Jiyeon pun sepertinya mengerti apa yang membuat Ahreum seperti ini.

“Kalian bicara apa barusan?” tanya Jiyeon.

Ahreum pun tersadar dari rasa terpukulnya. Ya, Ahreum terpukul melihat Kris meninggalkannya begitu saja. Akhirnya ia memilih untuk mengikuti Jiyeon masuk ke dalam rumah dan melupakan kejadian memalukan tadi.

.

.

Ahreum masih terdiam ketika Jiyeon mendandaninya. Ia kembali berpikir harus bagaimana mengutarakan pilihannya. Mungkin mengusir Jei, Onew dan Jiyeon sebelum tengah malam tiba, tapi ia pikir itu sangat tidak sopan. Ahreum ingin segera menyelesaikan ini semua. Tapi bagaimana jika ia terus mendapatkan halangan disana-sini, seolah ia tak boleh mengucapkan kalimat sakral itu.

“Ada apa denganmu?” tanya Jiyeon khawatir. “Kecewa karena aku tak memberimu hadiah? Tenang saja, aku punya hadiah untukmu,”

Ahreum akhirnya berhenti melamun dan memandangi Jiyeon yang kini menghampiri meja rias Ahreum. Jiyeon ternyata membawa sebuah kotak kecil dan memberikannya pada Ahreum. Tentu saja Ahreum mengenal kotak itu dan Ahreum tahu apa isinya karena Jiyeon tadi menunjukkan isinya ketika mereka berada di danau. Tapi Ahreum tak mengerti kenapa itu menjadi hadiahnya.

“Cupcake-nya kamu kembalikan? Kenapa?” bingung Ahreum.

“Bukan cupcake-nya. Tapi dia,” sahut Jiyeon sambil mengendikkan kepalanya pada cupcake dengan karakter Kris di atasnya.

Ahreum masih bingung dengan maksud Jiyeon. Bukan memberikan cupcake-nya, tapi memberikan dia? Dia disini maksudnya apakah Kris? Lalu apa maksudnya memberikan Kris pada Ahreum? Lagipula Kris juga bukan milik Jiyeon atau siapapun. Kenapa memberikan Kris?

“Kamu ini benar-benar teguh dalam menjalankan amanat ya,” takjub Jiyeon. “Ketika aku bilang menjauh dari Kris, kamu langsung menjauh. Ketika aku bilang jangan ikut campur mengenai urusanku dengan Kris, kamu langsung menurutinya. Ketika aku bilang aku menginginkan Kris, kamu langsung berusaha memberikannya padaku. Aku sudah bosan, karena itu sekarang aku kembalikan dia padamu,”

Ahreum kini sudah membelalakkan kedua matanya pada Jiyeon.

“Aku hanya bercanda ketika aku bilang aku suka padanya. Uhm, sebenarnya tidak sepenuhnya bercanda. Aku benar menyukainya, tapi hanya sebatas itu, tidak lebih. Aku terus mendekatinya dan menempel padanya semata-mata hanya ingin agar kamu cemburu, dengan begitu kamu menyadari perasaanmu padanya,” ujar Jiyeon.

Jiyeon lalu menarik Ahreum, yang masih terbengong-bengong memandangi dirinya, untuk di duduk di bangku, dengan begitu Jiyeon bisa merias rambutnya –serta menghindari tatapan Ahreum.

“Aku selalu merasa ada sebuah persaingan di antara mereka, dua belas pemuda itu. Persaingan untuk menarik perhatianmu. Aku bisa merasakannya. Jei-ssi dan Onew-ssi juga bisa merasakannya, karena itu mereka terus bergunjing mengenai siapakah yang akan mengutarakan perasaan mereka padamu malam ini serta siapakah yang akan kamu terima,” ujar Jiyeon sambil mengepang rambut Ahreum.

“Kamu menyadarinya?” sela Ahreum.

Jiyeon mengangguk. “Jadi apa yang terjadi di antara kalian, huh? Kalau memang tebakanku benar, aku sungguh berharap kamu memilih orang yang menjadi pilihanku, karena aku selalu merasa kalau kamu cocok dengannya. Enaknya jadi dirimu, Ahreum, direbutkan oleh dua belas orang pemuda sekaligus,”

Kali ini Ahreum menghela napas panjang. Mungkin bagi orang-orang yang sekedar melihatnya, kehidupan Ahreum terasa menyenangkan. Tapi mereka tak tahu beban berat yang harus Ahreum pikul. Karena ini bukan hanya menyangkut dirinya atau dua belas pemuda itu saja, tapi juga sebuah negeri di antah berantah sana.

Ahreum akhirnya memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Jiyeon. Ia bercerita kalau para pemuda itu memang sedang memperebutkan hatinya dan ia harus memilih salah satu di antara mereka. Ahreum tentu tidak bercerita kalau mereka dari negeri sihir, tapi Ahreum mengarang kalau mereka berhutang budi pada kakeknya dan memutuskan untuk menjadi pendamping Ahreum. Gadis itu juga mengarang kalau ia harus memilih mereka sebagai pendamping agar ia bisa memenuhi wasiat kakeknya. Ahreum juga mengarang kalau hari ini adalah batas akhir penentuan pilihannya, yang mana Ahreum seharusnya sudah membuat pilihan siapa yang akan ia jadikan suaminya -nanti.

Jiyeon mendengarkan cerita Ahreum dengan seksama. Ia mendengarkan sambil terus mengepang rambut Ahreum. Ketika Ahreum selesai bercerita, selesai pula kepangan yang ia buat, Jiyeon lalu berpaling pada Ahreum dan menatapnya lurus-lurus.

“Dan kamu sudah menentukan pilihanmu? Tak perlu memikirkan latar belakangnya, cukup lihat saja selama beberapa bulan belakangan ini siapa pemuda yang paling banyak mengisi hatimu,” ujar Jiyeon.

“Ada satu,” sahut Ahreum pelan.

Ahreum pun kembali bercerita pada Jiyeon tentang bagaimana proses sampai ia bisa jatuh cinta pada pemuda itu. Ahreum menceritakan semua hal yang sudah pemuda itu lakukan padanya sampai akhirnya Ahreum luluh juga pada semua sikapnya. Ahreum sebenarnya malu menceritakannya pada Jiyeon, tapi ia merasa perlu menceritakan semuanya pada Jiyeon dan kini Ahreum merasa kalau beban di pikirannya sudah berkurang banyak.

“Jadi maafkan aku, Jiyeon-ah. Aku mencintai dia. Aku mencintainya, maafkan aku,” Ahreum menutup ceritanya.

Jiyeon menghela napas panjang. Ekspresinya sama sekali tak bisa ditebak saat ini. Ia hanya memandangi cupcake Kris yang ada di pangkuan Ahreum.

Ahreum tidak tahu apa yang menyebabkan Jiyeon tampak berbeda. Semula ia tampak biasa-biasa saja, tapi kemudian setelah Ahreum menceritakan kisah cintanya, ekspresi Jiyeon langsung mengeras. Seperti ada kekecewaan disana. Karenanya Ahreum terus meminta maaf pada Jiyeon.

“Terserah padamu. Itu adalah pilihanmu. Karena masa depanmu itu tergantung dari pilihanmu. Kalau kamu merasa dia yang terbaik ya kamu harus menggenggamnya erat,” ujar Jiyeon datar.

“Kamu akan mendukungku?” tanya Ahreum khawatir.

Jiyeon berusaha untuk tersenyum. “Ya, aku akan mendukungmu. Aku kan sahabatmu,”

Ahreum pun langsung memeluk Jiyeon erat. “Gomawo, Jiyeon-ah. Kamu adalah sahabat terbaikku. Sebaiknya kita segera kembali ke pesta agar aku bisa segera menyampaikan padanya kalau aku memilihnya. Kalau aku mencintainya,”

Jiyeon mengangguk pelan. Ia kemudian meraih tangan Ahreum  dan mereka berjalan menuju pintu. Tapi langkah mereka terhenti. Karena kini ada perempuan asing yang cantik sudah berdiri di pintu kamar Ahreum. Perempuan itu berpenampilan aneh; gaun hitam dengan roknya yang tampak robek di sana-sini seolah perempuan tersebut habis melalui perjalanan tidak menyenangkan serta rambutnya yang berwarna merah itu mengingatkan Ahreum akan kejadian ketika ia bertemu dengan pria asing nan menyeramkan yang dulu pernah mengejarnya saat ia sedang kabur ke apartemen Jei.

“Tidak, nona manis. Kalian tidak akan kemana-mana. Dan kamu gadis kecil, kamu akan tetap disini dan tidak akan menyampaikan apapun pada pilihanmu itu. Tidak selama aku masih hidup,” ujar perempuan itu menunjuk Ahreum. Suaranya terasa dingin sedingin es.

Dan Ahreum tahu persis kalau perempuan ini membawa sesuatu yang jahat untuknya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

logo1

The twenty eighth chapter is out!!!

안녕!

panjangnya.. gimana chapter berikutnya ya?? pasti makin gaje..

oke dia udah datang teman-teman!!!! ohemjeeeehh!!! ini artinya saya harus bergadang lagi untuk bikin adegan yang lebih meriah dari 94 Generation Princess.. oia udah sampe sini udah ada yang bisa nebak blum?? aihhh itu banyak banget hint-nya.. eh disini bee udah sebut belum ya siapa yang dipilih ahreum *baca dari atas lagi* *hmm kayanya ga kesebut* *okesipp aman*

oke sekian!! sampai jumpa di chapter berikutnya!! *chapter akhir sepertinya* Byeom!! 안녕!! 뿅! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 28 – Present | PG15

18 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 28 – Present | PG15

  1. aninshouta says:

    yaampun unn kenapa di tunda lagi, ihh makinpenasaran tau ><
    KAI kan calon rajanya? ohhhh
    ditunggu unn chapter selanjutnya

  2. elsanti1603 says:

    KRIS kan??? Iya kan???
    Dari chap yang lalu bikin deg-degan eon, kenapa gak bilang langsung aja?? Selalu ada hambatan -_-
    Next chap jangan lama=lama eonn ^^

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s