FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 27 – When April Comes | PG15


areum

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter 27 – When April Comes

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

Other Cast:

Jiyeon T-Ara as Park Jiyeon

Jei Fiestar as Jei

Onew Shinee as Onew

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life, Drama

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Enchanted | F(x) – Surprise Party

Chapter 27 | When April Comes

.

.

.

.

When April Comes

.

.

.

.

“Hei pahlawan Korea Selatan,” tegur Jei begitu melihat Ahreum datang ke cafe siang ini. “Sukses dengan ujiannya? Kalau kesini hanya untuk mengeluh mengenai ujian maka kamu akan kuusir dari sini,”

Ahreum hanya tersenyum polos mendengar ledekan Jei. Belakangan ini ia memang selalu mengeluh pada Jei mengenai banyak hal; ujian akhir, tanggung jawabnya di masa depan nanti, serta bagaimana menentukan sebuah pilihan. Ahreum sendiri sudah melupakan kebimbangannya mengenai masalah menentukan–sebuah–pilihan sebab ujian akhir sukses membuatnya melupakan semua hal yang menjadi kegelisahannya.

“Aniyo, Eonni. Aku melakukannya dengan baik. Mulai sekarang aku akan bekerja lebih rajin lagi,” ujar Ahreum.

Ahreum memang sudah tak perlu mengkhawatirkan mengenai keuangannya lagi; karena paman Kim membantunya untuk mendepositkan uang yang cukup ke tabungannya setiap bulan; tapi Ahreum tetap bekerja sambilan di cafe Jei –meski ia menolak digaji. Ini semata-mata karena Ahreum ingin tetap bisa bertemu dengan Jei dan yang lainnya. Dan beberapa hari ini ia, Baekhyun dan Luhan cuti bekerja karena mereka harus fokus pada ujian akhir sekolah.

“Bekerja lebih rajin? Untuk apa bekerja? Kamu kan sudah punya banyak uang. Disini pun kamu tidak digaji.” Walau Jei mengucapkannya sambil tersenyum, tapi Ahreum bisa merasakan keseriusan di suaranya. Ahreum jadi merasa bersalah karena terlalu lama izin dari cafe. Ia takut Jei akan menganggapnya sebagai pegawai yang malas. Karena walaupun Jei dan Ahreum bersahabat, tapi Jei akan dengan tegas menegur Ahreum jika ia melakukan kesalahan di tempat kerja.

“Sekarang kamu jaga kasir dan rapikan semua display. Aku mau pergi ke pasar dulu,” pesan Jei.

Jei lalu meninggalkan Ahreum dan menuju dapur. Di dapur Jei bertemu dengan Luhan yang sedang merapikan apronnya.

“Hei Baby Lu!” panggil Jei. “Aku sedang memanggang kue. Tolong kamu awasi karena aku mau ke pasar untuk membeli topping.”

Luhan memandangi Jei bingung. Karena di cafe milik Jei ini sama sekali tak membuat kue –dalam tanda kutip kue tart, kecuali ada Onew karena dialah pastry chef-nya. “Sejak kapan kita menjual kue, Sunbae?”

“Bukan untuk dijual, Lu,” sahut Jei sambil tertawa pelan. “Aku sedang berlatih membuat kue ulang tahun untuk Ahreum. Dia kan ulang tahun minggu besok. Kamu lupa?”

Kini Luhan makin bingung melihat Jei. “Ahreum ulang tahun besok?! Aku tak tahu,” kaget Luhan.

“Masa?! Ahh, mungkin Ahreum tak mau kalian repot untuk menyiapkan pesta untuknya. Atau kamu mau bekerja sama denganku untuk membuat pesta kejutan?” Jei menawarkan diri.

.

.

“Ahreum ulang tahun minggu besok,” Luhan mengadu pada rekan-rekannya di rumah ketika Ahreum sudah tidur.

“Apa?!!! Dia ulang tahun besok?! Kenapa kita tidak tahu?!” panik Sehun.

“Makanya kuberi tahu,” sahut Luhan malas. “Aku juga baru tahu dari Jei Noona.”

“Berarti yang diucapkan Jiyeon tadi siang ini maksudnya,” gumam Kris. Semuanya kini memandangi Kris aneh. Akhirnya Kris menjelaskan kenapa ia bisa tahu mengenai berita ini dari Jiyeon. “Tadi dia menghampiriku di kelas. Dia tanya apa Ahreum mau membuat pesta atau tidak. Jika tidak, Jiyeon mau membuatkan pesta untuknya. Ketika kutanya pesta apa, Jiyeon bilang pesta ulang tahun.”

“Ohh tadi paman Kim juga mengatakan hal yang sama,” sela Suho. “Aku tadi bertemu dengan paman Kim. Dia pesan katanya kalau kita mau membuat pesta untuk Ahreum harap hubungi dia. Aku baru tahu kalau pesta yang dimaksud paman Kim itu adalah pesta ulang tahun.”

Semuanya kini terdiam. Mereka sibuk berkutat dengan pikiran mereka masing masing.

“Tapi kenapa Ahreum tak memberitahu kita mengenai ulang tahunnya?” tanya Xiumin.

“Mungkin dia tak mau kita repot. Kalian kan tahu kalau Ahreum tidak mau menyusahkan orang lain,” sahut Lay.

Semuanya mengangguk setuju mendengar ucapan Lay.

“Kurasa kita harus membuatkan pesta ulang tahun yang meriah untuknya,” ujar Baekhyun.

Mereka pun mulai menyusun rencana untuk hari minggu besok. Ketika sedang menyusun rencana, Suho baru menyadari kalau dua anak buahnya tidak ada disana. Ia pun bertanya pada yang lainnya dimana Kai dan Chanyeol berada.

Memang sudah beberapa hari belakangan ini suasana diantara Kai dan Chanyeol terasa kaku. Setiap semuanya berkumpul, salah satu diantara mereka berdua pasti menghilang. Keduanya masih marah satu sama lain dan tak ada yang berniat untuk meminta maaf terlebih dahulu. Ego mereka menolak untuk mengaku salah.

Kris, yang tahu persis penyebab mendinginnya hubungan Kai dan Chanyeol, hanya bisa diam. Beberapa hari yang lalu ia pernah berpesan pada Suho agar memperhatikan dua Knight muda itu serta memberi menasihati mereka. Kris tahu, tanpa ia suruh pun Suho pasti sudah lebih dulu melakukannya. Tapi tetap saja Kris merasa perlu menyuruh Suho untuk mengawasi dua anak buahnya itu.

Karena tak ada yang kunjung menjawab pertanyaannya, Suho pun pergi untuk mencari Kai dan Chanyeol. Ia bertekad memberi hukuman pada dua anak buahnya itu. Ia tahu kalau terjadi sesuatu diantara mereka, tapi ia hanya mendiamkannya sambil tetap memberi pengertian terhadap yang satu dan yang lain. Tapi kali ini ia tak bisa mendiamkan mereka lagi. Karena ulang tahun Ahreum akan datang sebentar lagi, tentu ia tak ingin dua anak itu tetap perang dingin di hari ulang tahun Ahreum.

.

.

.

Pagi ini, ketika Ahreum membuka mata, ia langsung merasa sangat kesepian. Ahreum merasa sangat kehilangan. Tadi saja ia terbangun oleh mimpi buruk yang selalu menghantuinya setiap tahun; mimpi dimana ia hidup sendirian selamanya.

Ahreum tak pernah suka bulan ini. Bulan ke empat dalam satu tahun. Hanya bulan ini saja ia akan merasa begitu depresi. Karena di bulan ini delapan belas tahun yang lalu, orangtuanya meninggal (ibu dan ayahnya dibunuh oleh assassin raja Xenos) serta setahun yang lalu kakeknya meninggal (ketika untuk pertama kalinya hendak merayakan ulang tahun Ahreum). Semua terjadi di tanggal yang sama dan bulan yang sama. Ahreum tak pernah suka tanggal itu hadir di kehidupannya. Ahreum selalu berharap ia bisa menghapus tanggal itu dari kalender kehidupannya. Bahkan ia pernah berharap ia tak perlu dilahirkan hanya untuk menghindari tanggal ini. Ahreum tak pernah suka hari kelahirannya.

Ketika bulan empat datang ke kehidupannya, Ahreum pasti akan kembali terjebak dalam rasa penyesalan yang dalam. Dimana setiap napas yang ia tarik tak pernah bisa memenuhi paru-parunya, makanan yang ia makan tak bisa mengenyangkan perutnya, dan musim semi yang membawa bunga-bunga untuk bermekaran tak bisa menghiasi harinya. Ahreum selalu terpuruk setiap bulan empat datang, terutama di tanggal 19 –ia selalu berharap tidak pernah bangun agar tidak perlu menyambut tanggal itu.

Ahreum merasa tak memiliki tenaga sama sekali saat ini. Bahkan walaupun Chanyeol kini tengah tidur disampingnya sambil memeluk pinggangnya, Ahreum seolah tak mampu untuk mengomeli Chanyeol. Ahreum hanya menyingkirkan tangan Chanyeol dan mulai beranjak dari kasurnya. Begitu keluar kamar Ahreum disambut oleh Sehun dan D.O. yang sudah begitu semangat sepagi ini. Tapi Ahreum hanya melewati mereka begitu saja.

Ahreum tampak seperti mayat hidup pagi ini. Tatapannya kosong dan ia sama sekali tak menggubris keadaan sekitarnya. Ahreum kini duduk di ruang makan untuk sarapan. Aura kelam benar-benar mengelilinginya, sampai-sampai tak ada yang berani mendekati Ahreum untuk menyapanya apalagi menggodanya.

“Kenapa dengan Ahreum pagi ini? Aku sampai takut untuk mendekatinya,” bingung Xiumin.

“Entahlah. Bukankah sebentar lagi dia ulang tahun? Harusnya dia ceria,” sahut Luhan.

“Pasti Chanyeol Hyung mengganggunya lagi,” gerutu Kai begitu melihat Chanyeol keluar dari kamar Ahreum.

“Aku tak melakukan apa-apa,” Chanyeol membela diri. Dalam hati ia juga merasa bersalah melihat murungnya Ahreum pagi ini. Dan ya, Chanyeol dan Kai sudah berbaikan setelah mereka mendapat ‘hukuman’ dari Suho.

Beberapa dari Knight dan Mastermind membiarkan saja Ahreum makan sendirian; yang mana Ahreum memasukkan mentega ke dalam tehnya dan lalu menuangkannya di atas roti kemudian memakannya. Mereka sudah berniat untuk memberi kejutan bagi Ahreum. Tapi begitu melihat betapa kelabunya Ahreum hari ini, mereka pun menyerah. Mereka takut apa yang mereka lakukan nanti justru malah membuat Ahreum makin sedih. Mereka pikir mungkin hari ini adalah Ahreum–bad–day yang biasa datang setiap bulan. Tapi melihat Ahreum yang benar-benar tampak seperti robot tanpa nyawa itu membuat para pengawalnya kebingungan. Mereka akhirnya memutuskan untuk melibatkan paman Kim untuk membuat pesta ulang tahun untuk Ahreum.

.

.

“Ahreum tak pernah suka hari kelahirannya,” jelas paman Kim pada Kris dan kawan-kawan.

“Kalian tentu tahu kalau kedua orangtua Ahreum meninggal ketika ia dilahirkan, bukan? Ahreum selalu merasa kalau dialah penyebab kematian kedua orangtuanya. Ia pikir jika dirinya tidak dilahirkan mungkin kedua orangtuanya masih hidup dan bahagia bersama Tuan Lee. Ahreum selalu merasa kalau kehadiran dirinya yang menyebabkan kakeknya jadi sakit-sakitan. Ahreum selalu menyalahkan kehadirannya atas segala yang telah terjadi. Ahreum tak pernah bisa merasa begitu bahagia di hari ulang tahunnya, karena pada hari itulah dia kehilangan segalanya. Dan itu sudah berlangsung selama belasa tahun lamanya. Aku juga tidak yakin harus nmelakukan apa untuk mengurangi penyesalannya itu,”

Knight dan Mastermind cukup terkejut mendengar cerita paman Kim. Ternyata Ahreum merasa bersalah atas kematian keluarganya di hari kelahirannya. Jadi wajar jika Ahreum tampak begitu sedih semingguan ini. Siapa juga yang bisa berbahagia jika mengingat semua keluarganya meninggal di hari ulang tahunnya.

“Ahh Ahreum itu selalu saja berusaha terlihat tegar di hadapan kita,” gumam Baekhyun.

“Jadi dia selalu seperti itu setiap hari ulang tahunnya selama ini??” tanya Luhan.

Paman Kim hanya mengangguk sedih.

“Kita benar-benar harus membuat pesta ulang tahun yang meriah untuknya,” tekad Chanyeol.

Akhirnya Knight dan Mastermind beserta paman Kim menyusun rencana untuk membuat pesta untuk Ahreum. Mereka juga berencana untuk melibatkan Jei dan Jiyeon (walaupun mereka enggan mengajak Jiyeon, tapi setidaknya Jiyeon harus turut serta kalau memang mau membuat Ahreum senang).

.

.

Ketika Ahreum pergi untuk mengunjungi makam kedua orangtua dan kakeknya hari ini, semua pihak yang terlibat dalam pembuatan pesta ulang tahun Ahreum langsung bergerak. Jei dan Onew yang bertanggung jawab untuk makanan dan minuman langsung memborbardir rumah Ahreum untuk menyuplai makanan untuk pesta nanti malam. Jiyeon yang bertanggung jawab untuk mendekorasi halaman di belakang bukit sudah siap dengan para petugasnya yang akan merubah halaman Ahreum menjadi tempat pesta yang paling meriah yang pernah Ahreum temui. Sementara para pengawal Ahreum sudah sibuk mencari hadiah untuk calon ratu mereka itu.

Semua pengawal Ahreum sedang pergi keluar rumah dan hanya meninggalkan Jiyeon –yang sedang mengurus dekorasi di halaman belakang rumah Ahreum– dan Kris yang tentu saja harus menemani Jiyeon jika ia membutuhkan sesuatu. Jiyeon sedang beristirahat di ruang tamu rumah Ahreum. Ia duduk dengan nyaman di samping Kris yang tengah membolak-balik majalah di hadapannya.

“Boleh aku tahu, hadiah apa yang akan kamu berikan pada Ahreum?” tegur Jiyeon berusaha menarik perhatian Kris.

“Tidak ada,” singkat Kris.

Jiyeon langsung duduk tegak –tadi ia duduk bersandar di sofa– dan berpaling menghadap Kris seraya memasang ekspresi tak percaya di wajahnya. “Kamu belum menyiapkan hadiah untuk Ahreum?! Oh Kris, apa kamu ini tidak pedulian atau apa??”

Jiyeon tampak frustasi. Ia lalu mengoceh panjang lebar pada Kris tentang betapa pemuda itu tidak perhatian, tentang betapa pemuda itu tak mau berusaha, tentang betapa pemuda itu terlalu cepat menyerah dan lain-lain sebagainya. Jiyeon benar-benar tak tahu lagi bagaimana caranya untuk membuat Kris bergerak cepat dalam merebut hati Ahreum. Kalau seperti ini terus, Jiyeon benar-benar akan menyerah untuk menyatukan mereka.

“Ahreum sudah mendapatkan semuanya. Aku sudah melihat hadiah-hadiah yang disiapkan anak-anak yang lain. Mereka.. salah satu diantara mereka pasti berhasil mendapatkan hatinya,” ujar Kris pasrah.

Jiyeon memutar bola matanya. “Babo,” dan lalu ia kembali mengoceh panjang lebar tentang sikap Kris ini.

Kris memilih untuk duduk bersandar seraya menutup mata dengan punggung tangannya. Bukannya Kris menyerah untuk mendapatkan hati Ahreum, tapi melihat pertengkaran Chanyeol dan Kai beberapa waktu lalu membuat Kris sadar; semakin besar ia berharap terhadap Ahreum, semakin sulit pula ia melepaskannya. Seperti Kai dan Chanyeol, mereka yang bahkan sampai berkelahi hanya karena merebutkan sang putri. Kris tak ingin itu terjadi pada semuanya –pada pasukan khusus yang akhirnya bersatu untuk melindungi apa yang seharunya mereka lindungi sejak lama.

“Kamu kan tahu, Kris, Ahreum tak pernah merayakan ulang tahunnya selama ini. Dan dia melewatkan ulang tahunnya yang ke tujuh belas untuk berduka karena kakeknya meninggal di hari yang sama. Oleh sebab itu, selain membuatkan pesta kejutan yang meriah untuknya, kita juga harus menyiapkan kado yang berkesan. Apa kamu tahu kalau hadiah ulang tahun itu adalah hal yang sangat berharga bagi setiap anak? Aku saja rela menunggu satu tahun lamanya hanya untuk mendapatkan tas baru, padahal aku bisa membelinya sendiri. Tapi karena ayahku menjanjikannya sebagai hadiah ulang tahunku, maka aku rela menunggu selama setahun. Dan kamu tahu, perasaan bahagia ketika kamu mendapatkan hadiah ulang tahun itu benar-benar tak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” cerocos Jiyeon.

Kris akhirnya beranjak dari duduknya seraya menggumamkan, “kenapa juga aku mau mendengarkan ocehanmu,”

Sebelum Kris sempat meninggalkan dirinya, Jiyeon sudah lebih dulu menahan lengan Kris. Ia memandangi Kris penuh harap.

“Kamu akan menyiapkan hadiahnya kan? Tak perlu yang mewah atau mahal, karena aku bisa membeli itu. Tapi berikanlah sesuatu yang berkesan, yang memiliki nilai emosional, sesuatu yang tak bisa orang lain berikan,” Jiyeon memohon pada Kris.

Jika ada sebuah penghargaan terhadap orang-orang paling loyal di dunia ini, mungkin Jiyeon dan Ahreum akan bersaing ketat untuk penghargaan tersebut. Untuk Ahreum sendiri memang memiliki sifat loyal itu sejak kecil, karena ia diajarkan seperti itu oleh kakeknya. Sementara untuk Jiyeon, semua orang pasti tidak akan menyangka kalau dibalik penampilan luarnya yang terlihat dingin, ternyata ia memiliki hati yang lembut dan kesetiaan tinggi terhadap siapapun yang ia sukai. Jiyeon bisa memberikan segalanya untuk seseorang yang ia anggap sahabat. Selama ini Jiyeon sendiri tak pernah benar-benar memiliki sahabat; ia menyebut orang-orang yang mengerubunginya sebagai teman–karena–butuh, karena orang-orang tersebut tak pernah ada disaat dirinya butuh. Lain halnya dengan Ahreum, Jiyeon benar-benar merasa kalau Ahreum tulus berteman dengannya –bukan karena memanfaatkan keadaan dirinya, karena Jiyeon tahu persis kalau Ahreum memiliki segalanya. Karenanya, Jiyeon ingin melakukan sesuatu yang berarti untuk temannya itu, mengingat Ahreum sudah menyelamatkan hidupnya dulu.

“Ada apa disini?” suara Kai itu mengagetkan Jiyeon. Gadis itu pun langsung melepaskan tangannya dari Kris.

Jiyeon menoleh pada Kai yang menenteng sebuah kotak besar di tangannya. Jiyeon pun berusaha mengalihkan perhatian. “Itukah hadiahmu untuk Ahreum? Coba aku lihat,”

Kai langsung menjauhkan kotak itu dari Jiyeon dan menyembunyikannya di belakang dirinya. Sambil menggumamkan jangan–coba–menyentuh–anakku Kai pun berlalu dari hadapan Jiyeon menuju bagian belakang rumah.

“Lihat itu, Kris! Dia membawa kotak yang begitu besar. Lihatlah usahanya. Setidaknya dia berusaha, tidak sepertimu yang hanya berharap,” gerutu Jiyeon. Ia lalu berjalan ke arah yang sama dengan Kai, karena Jiyeon hendak melanjutkan pekerjaannya di halaman belakang rumah Ahreum. Sebelum ia menjauh, Jiyeon berhenti sejenak untuk berpaling pada Kris. “Aku akan sangat takjub kalau Ahreum sampai menerima cintamu, Kris. Betapa hanya keajaiban saja yang bisa membuat Ahreum membalas perasaanmu,”

.

.

Di pemakaman, Ahreum tampak sangat berduka. Ia sudah bersimpuh di hadapan makam kedua orangtuanya. Ia hanya bisa menumpahkan airmatanya disana. Paman Kim yang menemani Ahreum juga ikut terluka melihat nona mudanya terpuruk seperti itu.

“Aku merindukan kalian.. Aku ingin bertemu dengan kalian.. Kenapa kalian pergi tidak mengajakku.. Kenapa meninggalkanku sendirian.. Kumohon bawa aku,” isak Ahreum.

Paman Kim merasa kalau ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi. Ia tak bisa membiarkan Ahreum larut dalam kesedihan seperti ini. Akhirnya paman Kim mengangkat badan Ahreum dan membantunya berdiri.

“Sudahlah, Ahreum. Jangan seperti ini terus. Ayah dan ibumu juga pasti tidak akan senang melihatmu seperti ini,” bujuk paman Kim.

“Aku mau bertemu mereka, Ahjussi. Aku merindukan mereka. Aku sangat merindukan mereka. Aku kesepian,” isak Ahreum.

Paman Kim mengusap-usap punggung Ahreum pelan. Ia berusaha menenangkan nona mudanya itu. “Nanti juga kalian akan bertemu lagi. Kata siapa mereka meninggalkanmu sendirian. Lalu dua belas pemuda itu apa artinya? Begitu juga dengan teman-temanmu? Mereka pasti akan sedih jika melihatmu seperti ini.”

Ahreum menuruti ucapan paman Kim. Ia harus bisa melepas kesedihannya. Benar kata paman Kim, Ahreum tak sendirian. Jadi ia tak perlu lagi merasa kesepian seperti ini. Ada banyak orang yang menyayanginya. Jadi Ahreum harus bisa melupakan duka dan rasa bersalahnya.

“Ini adalah hari ulang tahunmu, Ahreum. Berbahagialah. Jangan tunjukkan wajah sedihmu ini pada orang-orang yang menyayangimu,” pesan paman Kim.

Ahreum mengangguk pelan. Akhirnya paman Kim mengajak Ahreum pulang; setelah sebelumnya mengecek keadaan di rumah.

.

.

Begitu Ahreum tiba di rumahnya malam ini, ia tak mendapati seorang pun disana. Rumahnya gelap gulita. Ahreum pikir para pengawalnya lupa menyalakan lampu ketika mereka keluar rumah. Tapi begitu Ahreum mencoba menyalakan lampu ternyata lampunya tak mau hidup, seolah listrik di rumahnya mati total.

“Suho!!!” panggil Ahreum. “Laaaaay!!!”

Tak ada yang menyahuti teriakan Ahreum. Padahal biasanya walaupun yang dipanggil tak ada, tapi yang lain pasti akan langsung menyahut. Ahreum hendak keluar rumah ketika dilihatnya seberkas cahaya menyinari meja tamu. Ahreum menghampiri meja tamu dan melihat ada selembar kertas yang dihias sedemikian rupa.

Anda diundang!! Ikuti tali ini maka anda akan sampai ke dunia penuh imajinasi kami. Dijamin menyenangkan!! Kami tunggu kedatangan anda!!

Ahreum memandangi kertas itu bingung. Di ujung kertas undangan tersebut menggantung tali yang cukup tebal. Ia pun mulai menyusuri tali itu.

“Baekhyun, pastikan cahayamu menuntun jalanku. Kamu tahu kan kalau aku tak bisa melihat jelas kalau sudah malam,” ujar Ahreum. Ia tahu kalau Baekhyun pasti bersembunyi di suatu tempat untuk memberikannya sedikit penerangan.

Dan cahaya yang tadi menyinari meja tamu pun mulai bergerak untuk menuntun langkah Ahreum. “Aku tak tahu apa yang kalian rencanakan. Tapi semoga bukan yang aneh-aneh.”

Ahreum menyusuri tali itu hingga keluar rumah. Begitu sampai di halaman belakang rumahnya, Ahreum melihat di ujung bukit, tepatnya di dekat danau kecil di belakang bukitnya, tampak cahaya-cahaya kecil yang saling berkelip. Dengan antusiasnya Ahreum langsung berlari ke arah cahaya-cahaya itu. Ketika berlari ia mendengar suara Kai yang berbisik, “Pelan-pelan, cantik. Kamu tak mau menggagalkan rencana kami karena kamu terjatuh bukan?” Akhirnya Ahreum berhenti berlari dan memilih untuk jalan cepat; dengan tak lupa memperhatikan jalannya. Semakin Ahreum mendekati danau, semakin cahaya itu berkurang dan perlahan menghilang. Ahreum tiba di danau gelap gulita. Ahreum menoleh ke kiri dan kanan. Danau ini terlalu gelap sampai ia tak bisa melihat apa-apa disana. Setelah matanya terbiasa dengan kegelapan barulah ia menyadari ada beberapa sosok mengelilinginya.

“KEJUTAN!!!!”

Ahreum terlonjak kaget melihat wajah-wajah yang mendadak muncul di hadapannya. Ahreum pun berteriak histeris –dan tidak bisa dikategorikan sebagai ‘teriakan karena kaget’. Siapa yang tidak takut melihat tiba-tiba ada wajah muncul dan hanya wajahnya saja yang bercahaya –persis seperti hantu-hantu yang sering muncul di film horor.

“Aigoo, ada yang kaget dengan kejutan kita,” gurau Jei yang sudah menghampiri Ahreum. Jei memeluk Ahreum erat dan mengusap-usap punggung Ahreum. “Selamat ulang tahun, adik kecil,”

Ahreum masih terpaku. Ia berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Bahkan ketika Jei sudah melepas pelukannya, Ahreum masih mematung. Ia lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling tepian danau ini dan melihat semua orang-orang terdekatnya berkumpul disana, ada Jei, Onew, Jiyeon, paman Kim dan tentu saja dua belas pengawalnya. Di antara dua pohon besar yang ada di tepi danau tampak menggantung sebuah banner besar bertuliskan ‘happy birthday our little princess Ahreum’ dan cahaya yang berkelap-kelip yang tadi Ahreum lihat adalah lampu-lampu kecil yang pernah menghiasi rumahnya ketika Ahreum merayakan tahun baru. Pandangan Ahreum kini berhenti di Jiyeon yang sudah menghampirinya.

“Selamat ulang tahun,” ujar Jiyeon sambil mengulurkan tangannya, berharap Ahreum akan menjabatnya. Tapi bukannya menyambut tangan Jiyeon, Ahreum malah langsung memeluknya.

“Kamu..aku pikir kamu marah padaku. Sudah berapa hari ini kamu mengacuhkanku,” ujar Ahreum.

Jiyeon, yang sangat tidak terbiasa dengan perlakuan intim seperti ini, berusaha melepaskan dirinya dari Ahreum. Tapi akhirnya ia menyerah dan balas memeluk Ahreum.

“Aku sengaja melakukannya. Agar pikiranmu terfokus tentang ‘kenapa Jiyeon mengacuhkanku’. Dengan begitu kamu tidak akan sadar mengenai persiapan kejutan ini,” sahut Jiyeon.

Ahreum mengumamkan terima kasih pada Jiyeon sebelum melepas pelukannya. Ia kembali berpaling pada Jei seraya menanyakan hal yang sama kukira-eonni-marah-karena-eonni-juga-galak-padaku-beberapa-hari-ini. Dan jawaban Jei sama persis dengan jawaban Jiyeon.

Selanjutnya Onew yang menghampiri Ahreum. Ia menepuk pelan puncak kepala Ahreum sambil menunjukkan senyumnya yang meneduhkan. Onew memberi ucapan selamat ulang tahun pada Ahreum seraya menunjukkan hadiahnya pada Ahreum. Ia memberikan selembar kertas pada Ahreum. Ketika Ahreum membukanya, Ahreum hanya bisa memandangi Onew terharu.

“Sunbae,” lirih Ahreum. “Kapan kamu membuatnya?”

Ahreum memandangi hadiah dari Onew tersebut. Itu adalah selembar foto dari situasi di dapur Ahreum. Ahreum mendapati ada sesuatu yang baru disana. Onew membuatkannya meja bar di salah satu sudut dapur Ahreum.

“Kamu tidak tahu kan? Bahkan ketika kamu mondar-mandir dapur pun kamu tak sadar kalau aku ada di sana,” ujar Onew seraya tertawa pelan. Bagaimana Ahreum bisa sadar kalau ada Onew di dapurnya, dua belas orang memenuhi rumahnya saja sudah cukup membuat Ahreum menjadi sosok yang hampir tidak peduli dengan keadaan sekitar.

“Itu hadiah dari Jei dan aku,” ujar Onew.

Ahreum langsung berbalik menghadap Jei dan memberikannya pelukan erat seolah tak ada hari esok seraya mengucapkan ribuan terima-kasih, aku-sayang-eonni, eonni-adalah-yang-terbaik dan lain sebagainya. Setelah melepaskan diri dari Jei, Ahreum kembali memandangi foto dapur barunya. Sebuah meja bar sederhana yang terbuat dari kayu dengan hiasan tanaman rambat –yang Ahreum yakini adalah tanaman plastik– serta gelas-gelas kristal menggantung di bagian atasnya. Selain itu di sisi lain dapurnya juga tampak ada perubahan, tampaknya Onew mengecat dapurnya agar sesuai dengan tema meja barnya.

“Jangan terus-terusan memandangi hadiah dari kami. Mereka juga ingin mengucapkan selamat padamu, Ahreum,” tegur Jei membuyarkan kekaguman Ahreum.

Akhirnya Ahreum sadar kalau ia belum menghampiri para pengawalnya. Ahreum memandangi wajah mereka satu persatu. Ia merasa sangat terharu pada mereka. Hanya melihat senyum yang mengembang di wajah mereka saja sudah mampu membuat Ahreum melupakan kesepiannya. Ia akhirnya merentangkan tangannya dan mengundang mereka untuk memeluknya. Tentu saja bukan satu atau dua orang saja yang langsung menghambur untuk memeluk Ahreum. Dua belas pemuda itu memberikan group-hug pada Ahreum, sehingga gadis itu nyaris tenggelam diantara badan-badan bidang mereka.

“Selamat ulang tahun, Ahreum/putri/cantik,” koor mereka.

Jika Jei tidak memisahkan mereka, mungkin dua belas pemuda itu tak akan melepaskan pelukan mereka dari Ahreum.

“Sudah-sudah. Hari sudah semakin malam dan semakin dingin. Ayo kita mulai saja pestanya,” seru Jei.

Padahal bulan April merupakan awal datangnya musim semi. Tapi khusus di bukit Ahreum saja salju belum juga mencair, udara juga masih beberapa derajat di bawah normal dan air di danau masih membeku. Itu sebabnya Jei menyuruh mereka untuk cepat memulai pestanya agar acara ini tidak berakhir larut malam dan malah membuat mereka sakit karena terlalu lama berada di udara dingin.

Jei menuntun Ahreum ke meja utama yang ada di dekat danau. Di meja itu sudah ada kue ulang tahun yang begitu cantik –sampai Ahreum mematung melihat kuenya.

Kue tersebut terdiri dari dua tingkat, di tingkat atas adalah kue tart kecil berbentuk lingkaran dan di bawah ada banyak cupcake yang mengelilingi kue tart tersebut. Kue tart-nya di hias dengan sangat sederhana –tanpa whipped cream berlebihan dan hanya dihias dengan fondan putih saja. Tapi hiasan diatas kue itu yang membuatnya terlihat cantik. Di atas kue tampak sebuah figur anak perempuan dibalut gaun putih dan memakai mahkota keemasan duduk di sebuah singgasana yang dihias dengan berbagai gula warna-warni seolah singgasana itu terbuat oleh tumpukan batu permata –dan semua hiasan cantik itu tentu saja terbuat dari bahan yang bisa dimakan. Sementara cupcake-cupcake yang ada di tingkat bawah juga dihias dengan figur-figur anak lelaki –satu figur di masing-masing cupcake. Ketika Ahreum menghitung jumlah cupcakenya ternyata ada dua belas buah dan masing-masing figur memegang satu lilin –sementara empat lilin yang lain ada di kue tart menjadi pilar di sekitar figur anak perempuan. Ahreum menduga kue ini adalah refleksi dirinya dan dua belas pengawalnya.

Dan kue itu membuat Ahreum sadar, kalau ia sudah berumur delapan belas tahun. Itu artinya ia harus segera membuat keputusan. Delapan belas tahun itu artinya pergantian dari masa remaja menuju masa dewasa. Delapan belas tahun juga artinya bersiap meninggalkan kehidupan normal di bumi dan kembali ke Exoland untuk menjadi ratu disana. Delapan belas tahun artinya berhenti bermain dan mulai memikul semua kewajiban di depan mata. Delapan belas tahun artinya ia harus menentukan pendampingnya untuk hidup bahagia selamanya.

Ahreum kembali larut dalam kegelisahannya –yang sudah beberapa hari ini terlupakan karena ia stress menyambut bulan April. Ini bukannya karena Ahreum belum menentukan pilihan. Ahreum sudah menentukan pilihannya; sudah sejak lama. Tapi ada sesuatu di dalam hatinya –kekhawatiran akan perasaan pengawalnya yang lain terhadap keputusannya. Ahreum tahu pasti akan ada yang terluka dan patah hati akan keputusannya, itulah yang membuatnya lama mengambil keputusan. Tapi begitu melihat replika dirinya di atas singgasana kecil itu membuat Ahreum mantap dengan keputusannya. Ia harus menegaskan hatinya. Tak peduli jika ada yang patah hati atau terluka, karena ini semua demi negerinya –tanah air ibunya.

“Mau memandangi kuenya sampai kapan?? Ayo cepat kita tiup lilinnya,” ujar Jiyeon tak sabar.

Ahreum pun tersadar dari lamunan panjangnya. Ia langsung memasang senyum polos sambil melihat Jiyeon yang sudah mengeluarkan korek api.

Sebelum Jiyeon sempat menyalakannya, Jei lebih dulu menyela dan menyuruh mereka semua untuk berfoto bersama. Sambil berdiri di hadapan kuenya, dengan Jei dan Jiyeon di samping kiri dan kanannya serta Onew dan dua belas pasukan dari Exoland berbaris di belakangnya, Ahreum pun memasang senyum termanisnya –bersiap untuk di foto. Paman Kim lah yang memfoto mereka. Pertama berfoto dengan semua orang yang hadir, lalu hanya bertiga saja dengan Jei dan Jiyeon, lalu dengan Jei dan Onew, lalu dengan Jiyeon saja dan paman Kim saja, terakhir lalu dengan dua belas pengawalnya.

Setelah selesai berfoto, Ahreum langsung menyuruh paman Kim untuk pergi dan mencetak semua foto itu, karena Ahreum ingin semua foto itu sudah tergantung di dinding rumah ini besok pagi. Sebab, akhirnya Ahreum memiliki sebuah foto keluarga. Usai


sesi berfoto, Jiyeon kembali mengeluarkan korek apinya dan menyalakannya di atas lilin ulang tahun.

“Wah dia bisa menciptakan api juga,” bisik Chanyeol pelan –yang walaupun sangat pelan tapi Ahreum masih bisa mendengarnya. Gadis itu hanya bisa tertawa pelan mendengar kepolosan Chanyeol itu.

“Sudah berapa kali Ahreum bilang padamu, Yeol. Itu adalah korek api, benda yang biasa digunakan manusia untuk membuat api,” desis D.O. yang nyaris tak terdengar oleh Ahreum.

“Nah sekarang tiup lilinnya!” seru Jiyeon setelah selesai menyalakan delapan belas lilin yang menghiasi kuenya.

“Jangan lupa berdoa,” Jei mengingatkan Ahreum.

Ahreum lalu mengatupkan tangannya dan memejamkan matanya. Ahreum berdoa semoga ia selalu hidup bahagia bersama orang-orang yang disayanginya, semoga ia bisa memimpin Exoland dengan benar, semoga tidak ada pertengkaran yang akan terjadi nantinya di masa depan, semoga ia tetap bisa menjalin hubungan baik dengan semua sahabatnya, semoga pilihannya ini adalah yang terbaik. Ahreum lalu bertanya lagi pada hatinya ‘apa benar dia orangnya?‘ Dan sesuatu di dalam dirinya meyakinkan kalau ‘ya, dia orangnya‘.

Ahreum tentu saja tidak asal memilih. Ia tidak peduli jika nanti ada yang protes karena pilihannya ini tidak hebat, tidak kuat, tidak pintar, atau tidak tepat, karena Ahreum tahu kalau pemuda itu bisa menjadi pendamping yang baik untuknya. Ini karena pemuda itu telah berhasil menyentuh hati Ahreum dengan semua sikap sepelenya. Dan Ahreum benar-benar sudah jatuh cinta pada pemuda itu.

“Ayolah, cepat tiup lilinnya,” sahut Jiyeon tak sabar.

Begitu Ahreum membuka matanya, ia langsung menangkap sosok pemuda itu –pemuda yang sudah menguasai hatinya. Ternyata pemuda itu juga sedang memandanginya. Keduanya saling mengunci pandangan mereka satu sama lain. Ahreum pun tersenyum samar padanya. Ia lalu menundukkan badannya dan meniup semua lilin dengan satu hembusan napas.

“Selamat ulang tahun!!” histeria kembali menggema di kaki bukit ini disertai dengan party-popper yang meletup dari berbagai tempat –membuat suasana semakin meriah.

.

.

“Sekarang potong kuenya,” titah Jiyeon.

Ahreum pikir Jiyeon adalah panitia acara ulang tahunnya –karena ia selalu melihat ke komputer tablet di tangannya sebelum menjeritkan apa yang harus dilakukan Ahreum. Dan walaupun Ahreum tidak tega, tapi ia tetap menuruti perintah Jiyeon untuk memotong kuenya. Ohh bagaimana Ahreum bisa tega memotong kue cantik ini.

“Berikan potongan kue itu ke orang yang paling kamu sayang,” perintah Jiyeon lagi. “Dan kalau kamu mau memberikannya padaku, maka kuberitahu saja kalau aku akan menolaknya. Karena aku tidak mau tart-nya. Aku mau cupcakenya,”

Ahreum hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Jiyeon. Ia sebenarnya tidak berniat memberikan kue itu pada Jiyeon. Ia sebenarnya ingin memberikan potongan pertamanya pada pemuda itu. Tapi setelah ia pikir-pikir mungkin tidak akan ia berikan pada pemuda tersebut. Karena ada Jei disana, dialah orang yang ingin Ahreum berikan kue potongan pertamanya. Karena Jei bisa berarti segalanya bagi Ahreum.

“Ini untuk Jei Eonni. Terima kasih karena sudah mau berteman denganku, menjadi sahabatku, kakakku, atasanku, serta penasihatku. Eonni adalah segalanya bagiku. Kamu seperti kakak sekaligus ibu bagiku. Ibu yang tak pernah kumiliki,” ujar Ahreum tulus.

Jei tentu saja menerimanya dengan senang hati. Jei kembali memeluk Ahreum, kemudian menyuapi gadis itu dengan kuenya.

Ahreum lalu berpaling pada Jiyeon untuk menanyakan kue yang mana yang ia mau. Dan tanpa ragu Jiyeon langsung menghampiri kue ulang tahun Ahreum. Jiyeon mengambil satu cupcake dan menunjukkannya pada Ahreum.

“Aku ambil ini,” ujar Jiyeon seraya mengacungkan sebuah cupcake dengan hiasan anak lelaki yang memakai baju bertuliskan ‘Kris’.

Hati Ahreum mencelos. Seberapa pun besar keinginan Ahreum untuk menyimpan dua belas cupcake itu dan mengawetkannya, tapi ia tak bisa menolak permintaan Jiyeon. Ia akhirnya hanya bisa menganggu pasrah dan ikut tersenyum senang melihat Jiyeon yang sudah mengacungkan cupcake itu penuh kebanggaan.

“Yah, Sehun! Ambilkan kotak cupcakenya,” titah Jiyeon.

Sehun tentu saja tak mau menurutinya. Ia sudah sangat sebal dengan Jiyeon serta semua tingkahnya yang sok mengatur disana-sini. Bekerja seharian dengannya sudah cukup membuat Sehun dan yang lainnya iritasi, tapi ia tak bisa menendang gadis itu begitu saja. Karena Sehun masih ingat betul betapa marahnya Ahreum ketika mereka mengganggu Jiyeon. Akhirnya Sehun hanya bisa menuruti perintah Jiyeon itu.

Ketika Sehun pergi, Jiyeon kembali melanjutkan susunan acaranya, yaitu barbeque. Jiyeon langsung menitahkan Chanyeol dan D.O. untuk bertanggung jawab terhadap panggangan. Ia juga menitahkan yang lainnya untuk berbagai tugas. Takjubnya Ahreum, karena Jiyeon memiliki tugas masing-masing terhadap setiap pasukan khusus itu.

Ketika semua sibuk dengan tugas masing-masing, Ahreum mengedarkan pandangannya ke sekeliling area danau –berusaha mencari dimana pemuda itu. Ketika matanya menangkap sosok pemuda yang berhasil mencuri hatinya itu, Ahreum langsung tersenyum sumringah. Hanya melihat punggungnya saja sudah mampu membuat perut Ahreum terasa seperti diaduk-aduk. Perlahan Ahreum berjalan menghampiri pemuda itu. Mungkin ia akan mengatakannya sekarang; kalau ia memilih pemuda itu. Atau mungkin Ahreum sekedar membisikkan ke pemuda itu mengenai aku-menyukaimu-maukah-kamu-jadi-rajaku. Atau mungkin mengajaknya ke suatu tempat terpencil di sisi lain bukit ini untuk mengutarakan perasaannya tersebut. Atau mungkin sekedar berdiri di sampingnya seraya berkata pada semua yang ada disana kalau aku-memilih-dia; tapi itu tak mungkin ia lakukan mengingat ada Jiyeon, Jei dan yang lainnya disana. Ahreum sudah beberapa langkah di belakang pemuda itu ketika suara Jiyeon menggema ke seluruh penjuru bukit –karena ia bicara memakai pengeras suara.

“Saatnya masuk ke sesi hadiah. Tadi Jei-ssi dan Onew-ssi sudah memberikan hadiahnya. Selanjutnya siapa yang mau memberikan hadiah pada Ahreum?”

Dan Ahreum pikir, tak ada salahnya menunggu sampai sesi hadiah ini selesai, untuk mengutarakan perasaannya pada pemuda itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

logo1

The twenty seventh chapter is out!!!

안녕!

Puhahahahahaha.. Tapi maaf, ini bukan chapter akhir. Kecewa?? Di author note sebelumnya itu di hack sama kim jongdae, makanya isinya agak troll. Tp tenang aja, bee datang membawa berita..

Ohemji, ada apa dengan chapter ini?? Kenapa semakin hari semakin membosankan?? Semakin hari semakin kurang feelnya?? Semakin hari semakin ga asik untuk dibaca?? Dan semakin hari semakin sepi pembaca ㅠㅠ Yaah, kalo ternyata ga sesuai sama harapan ya mohon dimaklumi yaa. Karena terkadang sebuah cerita tidak berakhir sesuai dengan apa yang pembaca inginkan.

Dan seperti biasa bee mau berterima kasih buat para reader (silent) yang sudah meluangkan waktunya membaca fiksi ini. Bee bener-bener senang, karena rasanya semua waktu yang terbuang untuk merangkai dan menulis fiksi ini langsung terbayar begitu baca komentar-komentar penuh semangat dari kalian. Bee suka banget baca semua komen kalian dari setiap fiksi. Karena dari sanalah bee dapat tenaga buat lanjut merangkai kata lagi.

Oke semuanya. sebelum pamit bee mau ucapin sesuatu….. HAPPY BIRTHDAY TO KIM JONGDAE AND BEE!!!! Jongdae-ya,kita ulang tahunnya beda tiga hari aja loh hehehe…

oke sekian!! Byeom!! 안녕!! 뿅! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 27 – When April Comes | PG15

15 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 27 – When April Comes | PG15

  1. thornbaek56 says:

    AAAAAAA ‘DIA’ ITU KRIS BUKAN?? T_T hufufufufu but I ship her with kai ._.
    And I think u know how to surprise us, athor-nim ㅋㅋㅋㅋ~ so I’ll wait for it ><
    Update pweeese I'm waitingggggg~

  2. penasaran sama siapa yang bakalan ahreum pilih buat jadi pasangannya dia, tapi ku pikir kayaknya ahreum dr ps party td ngeliatin kris dh, iya engga? huwa, tapi aku juga pingin liat ahreum sama baek, kai, atau luhan.. hahahaha.. ditunggu next partnya y chingu, aku juga engga sabar nungguin abang Lnya muncul lg, mudh2han next partnya makin seru lg…..

  3. yeah. telat baca. tapi tetep keren. duh eon aku udah galau karena kirain udah mau end, tapi ternyata cuma ngetroll. rockya eon
    chanyeol sama kai itu berantem gara2 waktu itu? haha
    aku tebak isi kadonya kai itu anak anjing yang itu kannnnnnn wahaha
    kira-kira kris ngasih kado apa nih? penasaran~~
    areum suka siapa itu!?!?!?!?!?!?!? kris kan!?!?!?!?!?! gamau tau pokoknya harus kris!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    jiyeon keren{}
    err next chapter banyakin tao, jongdae, xiumin, lay, dll ya eon. aku kangen penampilan mereka nih :3

    next chapternya ditunggu ne eon, fighting!!!! /comot cupcake yg namanya tao/ :9

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s