FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 26 – The Other Princess | PG15


areum

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter 26 – The Other Princess

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

Other Cast:

Ailee as Putri Ailee / Ai

L Infinite as Kapten L

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life, Drama

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Enchanted | EXO ft Key Shinee – Two Moons

Chapter 26 | The Other Princess

.

.

.

.

The other princess

.

.

.

Chanyeol membuka pintu kamar Ahreum dengan sangat perlahan. Begitu melihat Ahreum sudah tertidur tenang di kasurnya, Chanyeol pun berjalan mengendap-endap menghampiri gadis itu. Setelah sampai di samping tempat tidur Ahreum, Chanyeol langsung menghela napas panjang –seolah ia menahannya sejak tadi. Chanyeol lalu berlutut di lantai agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah Ahreum –yang menghadap dirinya. Selanjutnya Chanyeol larut dalam memandangi wajah Ahreum. Melihat Ahreum tampak tenang dalam tidurnya membuat Chanyeol mengulas senyum layaknya orang bodoh yang sudah terhipnotis oleh pesona Ahreum.

Ketenangan Ahreum tidak berlangsung lama, karena kini Ahreum tampak mengerutkan kening dalam tidurnya. Chanyeol panik. Ia pun menempelkan telunjuknya di kening Ahreum dan lalu berusaha untuk menghilangkan kerutan yang terjadi disana. Kerutan itu perlahan menghilang, tapi sesuatu yang lebih membuat Chanyeol bingung, datang.

Mianhae..,” lirih Ahreum dalam tidurnya.

“Kamu minta maaf sama siapa, putri cantik?” bingung Chanyeol.

Mianhae.. Appa.. Eomma..,” dan seterusnya Ahreum lalu menangis sambil terus meminta maaf dan memanggil kedua orangtuanya.

Chanyeol yang panik hanya bisa menghapus jejak-jejak airmata Ahreum sambil terus berusaha menenangkan gadis itu kalau semuanya baik-baik saja. Kemudian Chanyeol menangkup wajah Ahreum dan mengusapnya perlahan. Tapi gadis itu tetap menangis dan tak kunjung bangun dari tidurnya.

“Siapa yang mengganggumu, putri? Katakan padaku. Jangan menangis sendirian seperti ini,” sedih Chanyeol.

Chanyeol akhirnya naik ke kasur Ahreum dan berbaring di samping gadis itu. Ia lalu membalik badan Ahreum agar menghadap dirinya. Chanyeol kemudian meraih figur mungil Ahreum dalam dekapannya. Tangannya yang bebas membelai lembut puncak kepala Ahreum.

“Semua baik-baik saja, putri cantik. Jangan bersedih. Ada Chanyeol disini,” bisik Chanyeol.

Chanyeol terus membelai kepala Ahreum sampai akhirnya Ahreum perlahan berhenti menangis. Meskipun masih sesenggukan, tapi Ahreum sudah tidak menangis lagi. Selain itu Ahreum juga sudah tidak mengigau. Perlahan napas gadis itu mulai teratur dan Chanyeol tahu betul kalau Ahreum sudah mulai tenang.

“Iya, tidurlah dengan tenang seperti ini, putri cantik. Chanyeol akan mengusir semua mimpi burukmu,”

Chanyeol menundukkan wajahnya untuk menatap Ahreum dalam pelukannya. Ia menghapus bulir-bulir airmata yang masih menghiasi wajah Ahreum. Chanyeol menatap Ahreum lekat-lekat. Wajah Ahreum begitu dekat dengannya, bahkan hidung mereka sudah saling bersentuhan. Chanyeol tak bisa menahan untuk tidak..

“Apa yang mau kamu lakukan, Hyung?!” tegur Kai yang tiba-tiba muncul di belakang Ahreum.

Chanyeol bahkan tidak kaget lagi dengan kemunculan Kai yang tiba-tiba itu –baginya sudah sangat biasa karena Kai memang suka muncul dan menghilang secara tiba-tiba. Chanyeol lalu merenggangkan pelukannya terhadap Ahreum. Dan seolah petunjuk baginya, Kai langsung menarik Chanyeol hingga pemuda jangkung itu terpental dari kasur Ahreum.

“Apa kamu tak bisa bersikap lebih sopan terhadap hyung-mu?! Aku sedang berusaha membuat mimpi buruk Ahreum hilang. Apa kamu mau membuatnya terbangung setelah ia baru saja tidur dengan tenang?!” desis Chanyeol –yang meskipun ia sedikit berbisik, tapi suaranya yang berat itu menggema ke seluruh kamar Ahreum.

“Hyung! Bisakah kamu pelankan sedikit suaramu?! Nanti Ahreum bisa terbangun,” desis Kai.

“Kalau Ahreum sampai terbangun, itu semua salahmu! Kenapa juga tiba-tiba muncul disini,” gerutu Chanyeol setengah berbisik.

“Kalau aku tidak datang, entah apa yang sudah kamu lakukan pada Ahreum,” sahut Kai. “Hyung, apa kamu lupa kalau kita harus bersaing secara sehat?! Jadi tidak boleh ada yang mencoba melewati batas. Dan apa yang akan kamu lakukan tadi hampir melewati batas.”

Chanyeol tampak tidak terima dengan tudingan Kai itu. Ia pun bertolak pinggang menatap Kai marah. “Memangnya apa yang aku lakukan?! Aku hanya memeluknya. Apanya yang melewati batas?! Kamu sendiri juga suka memeluknya. Lalu kenapa aku disebut melewati batas?!”

“Memangnya aku tidak tahu apa yang akan kamu lakukan tadi?! Kamu mau mencium Ahreum kan?!” seru Kai sambil mencengkeram kerah piyama Chanyeol.

“Apa yang sedang kalian lakukan disini?”

Suara berat itu menghentikan ketegangan yang terjadi antara Kai dan Chanyeol. Keduanya menoleh ke arah pintu kamar Ahreum dan mendapati Kris sudah berdiri disana sambil memandangi mereka dengan tatapan menuduh –jika tidak bisa dibilang ‘sedikit marah’.

“Suara kalian bahkan terdengar sampai ke lantai dua. Jika kalian ingin berkelahi, lakukanlah di luar. Apa kalian tidak lihat kalau Ahreum sedang tidur?!” desis Kris.

Kai dan Chanyeol kini sama-sama menoleh ke arah Ahreum yang masih tertidur dengan tenang. Kai akhirnya melepaskan cengkeramannya dari Chanyeol –dengan sedikit mendorong Chanyeol sebagai pelampiasannya.

“Ada apa disini? Kenapa kalian berkelahi?” Kris menginterogasi dua Knight muda itu.

Kai menatap Chanyeol menuduh. “Chanyeol hyung mencoba mencuri ciuman pertama Ahreum,”

“Apa?! Aku tidak-,” Chanyeol berusaha membela diri.

“Iya, kamu akan melakukannya! Untungnya aku datang sebelum kamu sempat-,” sahut Kai tak mau kalah.

“Sudah sudah. Kenapa kalian bersikap seperti ini?! Apa kalian sadar kalau sikap kalian ini hanya akan membuat Ahreum sedih?!” lerai Kris. “Kai kembalilah ke kamarmu. Kamu juga Chanyeol, keluar dari kamar Ahreum sekarang,”

Tanpa membantah Kai berjalan menuju pintu kamar Ahreum. Sedangkan Chanyeol hanya bisa melancarkan protesnya dengan mengerucutkan mulutnya menatap Kris memohon pengampunan. Kris tentu saja tidak kalah, ia dengan tegas menyuruh Chanyeol keluar.

“Kuharap kamu ingat baik-baik, Hyung. Jika sampai aku tahu ada yang mencoba mencuri ciuman pertama Ahreum, saudara atau bukan, akan aku cincang dia sampai tak berbekas,” ancam Kai pada siapapun yang ada di ruangan itu.

Kai lalu keluar dengan sedikit menabrak bahu Kris yang masih berdiri terpaku di ambang pintu –sehingga tak sempat memberi jalan pada Kai. Kris masih terpaku mendengar ancaman Kai tersebut. Bukannya Kris takut akan ancaman Kai, tapi ia takut terjadi perpecahan antara mereka –Knight dan Mastermind- jika Ahreum sudah membuat keputusannya.

Setelah Chanyeol turut keluar dari kamar Ahreum, barulah Kris beranjak masuk untuk menghampiri Ahreum. Kris duduk di tepi ranjang Ahreum dan memandangi wajah Ahreum yang tampak tenang itu –seolah keributan yang terjadi di kamarnya tadi sama sekali tak mengganggunya.

“Sepertinya apa yang menjadi kegelisahanmu selama ini akan terjadi di masa depan nanti. Meskipun mereka bilang akan menerima keputusanmu, tapi sepertinya hati kecil mereka tidak akan semudah itu menerima keputusanmu,” gumam Kris.

Setelah mengucapkan selamat tidur dan mimpi indah pada Ahreum, Kris pun keluar kamar.

.

.

.

Ahreum sedang menikmati cemilan malamnya bersama dengan Suho di gazebo yang ada di belakang rumah. Sejak kejadian di menara Namsan –dimana ia diingatkan akan kewajibannya– Ahreum jadi sering merenung di kamarnya. Karenanya Suho mengajak Ahreum bicara untuk mencari tahu apa yang dipikirkan gadis itu belakangan ini. Dengan sepiring kue dan dua gelas jus jeruk, Suho pun berhasil mengeluarkan Ahreum dari kamarnya.

“Bagaimana kuenya? Enak? Aku yang membuatnya sendiri loh,” ujar Suho.

Ahreum melirik Suho tak percaya. “Benarkah? Bukannya kamu minta bantuan D.O. atau Lay untuk membuatnya? Kamu kan takut dengan kompor,” ledek Ahreum.

Suho tertawa pelan mendengar ejekan Ahreum itu. “Kemarin aku belajar di sebuah toko kue yang memberikan les gratis. Walaupun bentuknya tidak secantik yang ada di toko itu, tapi untuk rasanya aku berani jamin sama dengan kue-kue mahal bakery- bakery. Karena memang gurunya lah yang sudah menyiapkan semuanya dan aku tinggal mencampur-campurnya saja sesuai petunjuknya. Selain itu aku membuatnya sambil memikirkanmu, Ahreum,”

“Wah, aku terharu,” ujar Ahreum tulus.

Ahreum memandangi sepotong kue di piringnya. Belakangan ini ia terlalu banyak berpikir tentang apa yang harus ia lakukan ke depannya nanti. Ia berpikir bagaimana ia bisa menjadi ratu yang baik bagi kerajaan exoland nanti. Terlebih lagi, ia juga berpikir harus memilih siapa untuk mendampinginya mempimpin kerajaan itu. Ahreum benar-benar tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia sungguh ingin membantu Knight dan Mastermind untuk menyelamatkan Exoland, tapi ia tak bisa memilih satu diantara mereka. Karena semua memiliki sisi positif masing-masing selain itu beberapa dari mereka juga berhasil mengacaukan hati dan pikiran Ahreum sehingga ia tak yakin dengan hatinya. Baginya memilih seorang raja itu sesulit memilih kue mana yang akan ia makan, karena ia menyukai semuanya walau ia tak yakin rasa mana yang sesuai dengan dirinya.

“Suho, apa kamu mau jadi raja?”

Suho tersedak jus yang diminumnya karena pertanyaan Ahreum yang tiba-tiba ini. Ia jadi salah tingkah sendiri mendengar pertanyaan tersebut.

“Aku pikir,” Ahreum berusaha mengusir kecanggungan yang mendadak menyelimuti mereka. “..karena kamu sangat mempedulikan Exoland. Kamu selalu bercerita tentang keindahan Exoland juga tentang betapa inginnya kamu mengembalikan Exoland seperti dulu kala. Aku merasa Exoland pasti akan damai jika kamu yang menjadi rajanya,”

Suho sama sekali tak tahu kalau Ahreum memiliki pemikiran seperti itu mengenai dirinya. Walaupun ia merasa tersanjung, tapi Suho tidak merasa senang sama sekali.

“Jika aku ingin jadi raja atas kemauanku sendiri, maka sudah lama aku akan mengumpulkan pasukan untuk melakukan kudeta terhadap pemerintahan raja Xenos. Tapi aku tidak melakukannya. Tidak satupun dari kami, Knight dan Mastermind, yang berniat untuk merebut tahta Exoland. Karena kami tahu persis, jika kami melakukan hal itu maka akan ada kudeta-kudeta lain yang datang di masa depan. Dan itu sama buruknya dengan terus membiarkan Xenos berkuasa. Tahta Exoland hanyalah milik keturunan mendiang raja Janus. Kalaupun ada yang harus menjadi rajanya, maka dia adalah keturunan raja Janus, bukan orang yang berdiri sendiri,” Suho menjelaskan panjang lebar. Tapi nampaknya itu malah membuat Ahreum makin frustasi.

“Tapi aku tak menginginkan tahta kerajaan. Aku hampir gila memikirkan siapa yang harus aku jadikan raja. Aku.. aku.. aku benar-benar bisa merasakan betapa stresnya ibuku saat dia harus memilih salah satu diantara kalian dulu,” ujar Ahreum frustasi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Suho meraih kedua tangan Ahreum agar lepas dari wajahnya. Ia memandangi manik mata Ahreum yang sudah mulai berair. Suho yakin jika ia salah bicara mungkin Ahreum akan meledak -ia pasti akan menangis.

“Apa ini yang membuatmu murung belakangan ini?” tanya Suho sambil merapikan anak rambut yang menutupi wajah Ahreum. Gadis itu mengangguk pelan menjawab pertanyaan Suho. “Aigoo, jadi ini yang membuat putri kami kehilangan senyumnya?”

Suho lalu berpindah duduk untuk berlutut di hadapan Ahreum. Ia masih menggenggam kedua tangan Ahreum dan sedikit mendongak untuk melihat dengan jelas wajah gadis itu.

“Kalau kamu bingung, tanyakan saja pada hatimu. Hatimu tidak akan pernah membohongi pemiliknya. Kamu pasti akan merasakannya. Ketika kamu menemukannya, hatimu akan langsung berkata ‘ya, dialah orangnya’. Jadi serahkan saja semuanya pada hatimu, bukan pada pikiranmu,” ujar Suho.

Ahreum terdiam mendengar nasihat Suho. Ia kembali merenung untuk mendengarkan kata hatinya. ‘Apakah dia orangnya?’ Ahreum bertanya pada hatinya. Tapi tak ada jawaban seperti yang Suho katakan. Lalu kalau tidak ada jawaban seperti ini, apa artinya bukan dia orangnya?

“Kamu melamun lagi, Ahreum,” tegur Suho. “Tunggu saja. Biarkan perasaanmu mengalir dengan sendirinya. Nanti juga hatimu akan menentukan pilihannya. Jika saat itu sudah tiba maka hatimu akan menunjukkan jawaban dengan sendirinya,”

Ahreum tersenyum singkat mendengar nasihat Suho. Ia pikir, ia akan menjadikan Suho penasihatnya nanti –jika ternyata hatinya mengatakan bukan Suho orangnya. Ahreum lalu menyuruh Suho untuk kembali duduk di sampingnya agar mereka bisa mengobrol dengan nyaman.

“Ceritakan padaku mengenai Exoland,” pinta Ahreum. “Atau mengenai dongeng rakyat yang ada disana,”

Suho berpikir sejenak mengenai cerita apa yang akan dia ceritakan pada Ahreum. Ia harus memilih cerita yang bisa memotivasi Ahreum. Setelah memilah-milah, akhirnya Suho memutuskan untuk menceritakan sebuah kisah pada Ahreum. Suho pun menarik napas panjang dan bersiap untuk bercerita.

“Ada sebuah dongeng yang cukup terkenal di Exoland. Mengenai dua putri bulan,” Suho memulai ceritanya.

Ahreum pun merubah posisi duduknya agar lebih nyaman. Ia mendengarkan cerita Suho dengan seksama. Karena dongeng adalah sesuatu yang ia suka. Sejak kecil ia selalu dijejali cerita-cerita fantasi oleh paman Kim, jadi ia begitu terobsesi dengan kisah putri-putrian –dan dongeng itu sudah menjadi kenyataan baginya.

“Di sebuah kerajaan kecil di negeri Exoland, ada dua orang putri yang bersaudara. Satu diantara mereka adalah putri mahkota, Sedangkan yang satunya lagi adalah sepupu dari putri mahkota, namanya Ai,” cerita Suho.

“Siapa nama putri mahkotanya?” sela Ahreum.

Suho tampak berpikir sejenak. “Hmm, entahlah. Aku tak pernah mendengar siapa namanua. Kalau kamu punya nama, mungkin kamu bisa memakainya,”

Kini gantian Ahreum yang terlihat berpikir. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak menamai sang putri mahkota agar tetap menjadi misteri.

“Aku lanjut ceritanya ya,” ujar Suho. “Dua putri itu tumbuh besar bersama. Walau mereka sama-sama seorang putri, tapi perbedaan tampak sangat jelas di diri mereka. Para pelayan dan pengawal memperlakukan putri mahkota layaknya keramik mahal yang akan pecah jika kamu tidak hati-hati memegangnya. Sedangkan untuk putri Ai, mereka memperlakukannya seolah ia tidak ada. Putri mahkota selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, sementara putri Ai harus selalu mengalah. Mereka sangat dekat, karena putri mahkota selalu membawa putri Ai bersamanya. Mereka selalu bersama sampai akhirnya mereka mengenal yang namanya cinta.

Ayah dari putri mahkota memutuskan untuk menikahkan putrinya, karena sang raja tahu kalau putrinya sedang jatuh cinta. Raja tak ingin sang putri mahkota mendapatkan pengalaman pahit mengenai cinta, jadi ia menguji pemuda-pemuda yang dekat dengan sang putri. Ternyata salah satu diantara pemuda yang ingin meminang putri mahkota, adalah pemuda yang putri Ai cintai,”

Ahreum menahan napasnya mendengar cerita Suho. Ia tak tahu kalau nasib putri Ai begitu malang, sampai pemuda yang ia cintai harus mencintai sepupunya sendiri. Ahreum merasa iba pada Putri Ai.

Melihat Ahreum begitu serius menyimak ceritanya, membuat Suho mengembangkan senyumannya. Suho bisa melihat kalau Ahreum prihatin akan nasib putri Ai dalam kisahnya. Tapi ia yakin, rasa iba itu akan hilang jika Ahreum tahu apa yang dilakukan putri Ai dalam cerita selanjutnya –yang tak jauh beda dengan kenyataan yang ada.

“Purti Ai patah hati. Ia yang selalu menjadi bayang-bayang putri mahkota akhirnya mulai berontak. Jika ia tak bisa mendapatkan pemuda yang dicintainya, maka putri mahkota juga tak akan mendapatkannya, itu adalah tekadnya. Putri Ai mengadu pada ayahnya, yang merupakan adik dari sang raja. Ayah putri Ai tentu saja tidak terima melihat putrinya mendapatkan perlakuan tidak adil. Ia pun berencana melakukan kudeta terhadap kerjaan bulan.

Begitu juga dengan putri Ai. Ia menghasut putri mahkota hingga akhirnya putri mahkota menghilang dari kerajaan. Ayah dari putri Ai berhasil melakukan kudeta dan ia menjadi raja, menggantikan kakaknya. Begitu pula dengan putri Ai, ia diangkat menjadi putri mahkota. Putri Ai berniat membuat sayembara serupa seperti yang dilakukan putri mahkota dulu. Tapi sayangnya, tak ada satupun pemuda yang berniat melamar putri Ai. Bukan karena putri Ai tidak menarik bagi pemuda-pemuda itu, tapi karena mereka terlanjur mencintai putri mahkota sebelumnya,”

Suho berhenti bercerita karena Ahreum kini tampak sudah tertidur pulas di sampingnya. Suho merapikan posisi duduknya agar Ahreum dapat bersandar dengan nyaman di bahunya. Suho memandangi wajah Ahreum yang tampak tentram itu. Melihat Ahreum bisa melupakan sejenak mengenai pemilihan pendampingnya tersebut membuat Suho merasa tenang, karena kini tidak ada lagi kerutan yang menghiasi kening Ahreum –akibat terlalu banyak berpikir.

“Ketahuilah, Ahreum. Yang kuceritakan malam ini bukanlah dongeng semata. Ini adalah kisah nyata. Kisah mengenai kenapa saudara ibumu bisa menjadi jahat hingga tega membuat ibumu pergi dari tanah airnya,” gumam Suho.

.

.

.

“Hmm, wangi kopi. Siapa yang membuat kopi malam-malam begini?” gumam Ahreum sambil mengikuti arah dari wangi kopi itu berasal.

Ahreum cukup heran karena tak ada satupun dari penghuni rumah ini yang menyukai kopi selain dirinya –sebab para pengawalnya punya pengalaman tidak enak ketika mencoba kopi. Jadi sangat tidak mungkin ada yang mau membuat kopi di rumah ini. Selain itu sepertinya ia tidak minta pada siapapun untuk dibuatkan kopi. Kagetlah Ahreum begitu melihat siapa yang ada di dapur.

“Luhan?” tegur Ahreum.

“Oh, kamu belum tidur, Putri?” Luhan menghentikan aktivitasnya untuk menuangkan susu ke dalam gelasnya.

“Kamu sendiri? Apa yang kamu lakukan disini? Ini bau kopi, apa kamu sedang membuat kopi?” tanya Ahreum sambil mengintip gelas Luhan.

Benar dugaan Ahreum, Luhan sedang membuat kopi. Dilihat dari bentuknya, sepertinya Luhan sedang membuat latte.

Bukannya menjawab pertanyaan Ahreum, Luhan malah meneruskan pekerjaannya. Ia memasukkan susu ke dalam gelasnya. Kemudian ia menghias kopinya hingga tercipta gambar anak perempuan di permukaan kopinya.

“Waah, cantiknya! Kamu berbakat jadi barista! Apa Onew Sunbae yang mengajarkanmu?” puji Ahreum.

“Iya, Sunbae yang mengajarkanku,” ujar Luhan. Ia lalu memberikan gelasnya pada Ahreum. “Ini untukmu, silakan dinikmati. Tadinya aku membuat kopi untukku sendiri. Tapi berhubung kamu sudah bangun jadi kamu saja yang minum kopi ini.”

Malam ini memang giliran Luhan yang menjaga Ahreum. Tapi ia merasa sangat mengantuk tadi, jadi ia memutuskan untuk membuat kopi. Meskipun ia tak suka kopi, Luhan pikir mungkin pahitnya kopi bisa membuatnya terjaga. Tapi begitu melihat Ahreum terbangun, ia merubah pikirannya. Mungkin lebih baik jika ia membuat Ahreum terjaga, dengan begitu ia tak akan merasa mengantuk malam ini. Licik memang, tapi apa boleh buat. Bukankah lebih baik mengobrol dengan Ahreum dibandingkan hanya mengawasi Ahreum tidur.

Melihat Luhan yang kini memberikan gelasnya pada Ahreum, gadis itu malah mengernyitkan keningnya. “Eiiy, kamu menyuruhku minum kopi tengah malam begini? Apa kamu mau membuatku terjaga sampai pagi?”

“Kalau kamu mengantuk besok, kita bisa tidur sama-sama,” ucapan Luhan itu tentu saja membuat wajah Ahreum memerah sempurna. “Apa yang kamu pikirkan? Tentu saja kamu tidur di kamarmu dan aku di kamarku,”

Luhan kini tertawa puas melihat Ahreum yang tampak bodoh begitu mengetahui kalau Luhan mengerjainya. Ahreum hanya bisa memukul lengan Luhan pelan sebagai balasan. Ahreum akhirnya memilih untuk menyesap latte buatan Luhan.

“Sebagai pecinta kopi, kamu tentu bisa menilai rasa kopi ini. Tolong beritahu aku apa yang kurang,” tanya Luhan khawatir.

Ahreum tampak berpikir sejenak. Kemudian ia menyesap lagi lattenya. Setelah memasang ekspresi yang sangat serius, Ahreum berkata, “rasa kopinya tidak hilang dan rasa susunya juga tidak mendominasi. Sebagai barista amatiran kamu kuberi nilai…. Sepuluh dari sepuluh!”

“Hahahaha. Kamu memang paling pintar menaikkan suasana hati seseorang ya. Terima kasih,” ujar Luhan sambil membelai puncak kepala Ahreum.

Keduanya lalu berjalan menuju ruang TV dan memutuskan untuk melanjutkan obrolan mereka disana. Awalnya Luhan menyalakan TV untuk mencari acara yang menarik untuk ditonton. Setelah tidak menemukan saluran yang menarik, Luhan pun mematikan TV. Luhan memilih untuk menonton Ahreum yang masih menikmati latte buatannya.

“Kamu begitu menyukainya? Apa yang enak dari kopi? Hanya wangi dan penampilannya saja yang enak, tapi rasanya tidak sama sekali. Kenapa kamu bisa menyukai minuman pahit itu,” takjub Luhan.

“Ini memang enak,” sahut Ahreum. Ia kemudian meletakkan cangkir kopinya di meja dan berbalik menatap Luhan. “Kamu mengajakku bergadang malam ini. Sebagai gantinya ceritakan aku sebuah cerita. Aku mau tahu kelanjutan cerita putri Ai,”

Luhan terkejut mendengar Ahreum menyebut nama itu. Setelah Ahreum mengatakan kalau Ahreum mendengar ‘dongeng’ mengenai putri Ai dari Suho, baru Luhan merasa maklum. Ia penasaran akan pendapat Ahreum mengenai riwayat putri Ai.

“Berdasarkan apa yang sudah Suho ceritakan, menurutmu bagaimana putri Ai itu?” tanya Luhan.

“Hmm. Karena aku belum selesai mendengar semua ceritanya jadi aku hanya bisa bilang kalau ia menyedihkan. Padahal dia seorang putri juga, tapi diperlakukan tidak adil. Aku merasa kasihan padanya,” ujar Ahreum.

Luhan mengangguk-angguk pelan. Luhan yakin Ahreum belum mendengar mengenai putri Ai merebut kerajaan dan lain-lain. Makanya Ahreum bisa merasa kasihan terhadap putri tersebut. Tapi Luhan sama sekali tidak berniat untuk menciptakan rasa iba di diri Ahreum terhadap putri Ai. Karena jika keduanya bertemu dimasa depan nanti Ahreum akan kembali kalah dari putri kejam itu, sama seperti ibunya dulu.

Setelah bertanya pada Ahreum sampai dimana ia mendengar cerita Suho, barulah Luhan melanjutkan ceritanya.

“Setelah putri Ai mengadu pada ayahnya, mereka lalu melakukan kudeta terhadap kerajaan. Putri Ai berhasil mengusir putri mahkota dari istana dan ia pun diangkat menjadi putri mahkota yang baru. Putri Ai mungkin memiliki apa yang dulu dimiliki putri mahkota –harta dan tahta– tapi ia tak bisa memiliki satu yang menjadi milik putri mahkota. Putri Ai tak bisa memiliki cinta yang diberikan semua orang pada putri mahkota. Bahkan orang yang putri Ai cintai, memilih untuk meninggalkan kerajaan demi mencari putri mahkota.

Putri Ai memutuskan untuk mengejar pemuda itu. Putri Ai menghabiskan waktunya untuk mencari dimana keberadaan pemuda itu. Ketika Putri Ai berhasil menemukan pemuda itu, dia ternyata sudah tidak sendirian. Pemuda itu sudah menikah dengan perempuan lain yang merupakan rakyat jelata. Putri Ai pun berang. Ia akhirnya membunuh pemuda itu beserta istrinya. Kemudian putri Ai tahu kalau pemuda itu sudah memiliki anak, dan apa kamu tahu yang dilakukannya pada anak itu? Putri Ai jatuh cinta pada anak tersebut. Ia pikir, tak bisa mendapatkan ayahnya maka anaknya pun jadi. Selain itu karena putri Ai tahu kalau pemuda itu masih mencintai putri mahkota, putri Ai menyuruh anak buahnya untuk mencari dan membunuh putri mahkota. Dan putri Ai menjalani hidupnya dengan penuh kebencian terhadap putri mahkota.” Luhan menutup ceritanya.

Ahreum tampak shock mendengar akhir cerita dari putri menyedihkan itu. Bahkan setelah mendengar apa saja kejahatan yang sudah dilakukannya, Ahreum tetap merasa iba pada putri Ai. Ahreum tak habis pikir kenapa putri itu bias tega membunuh orang-orang yang ia cintai.

“Apa kamu tahu kenapa putri Ai bisa berbuat seperti itu?” tanya Luhan.

Ahreum hanya bisa menggelengkan kepalanya. Meski ia bisa menebak apa penyebabnya, tapi Ahreum tak berani mengatakannya. Ia terlalu terkejut dengan jalan cerita dongeng itu. Sebab dari semua dongeng yang ia dengar, semuanya berakhir bahagia. Tapi dongeng ini sama sekali tidak berakhir bahagia untuk semua karakternya.

“Putri Ai cemburu pada putri mahkota. Ia cemburu karena putri mahkota mendapatkan semuanya sementara dirinya tidak. Padahal jika ia mau berpikir bijak, ia seharusnya berterima kasih pada putri mahkota. Jika bukan karena putri mahkota yang mengajaknya masuk ke istana, maka putri Ai tak akan pernah menginjakkan kakinya di istana. Jika putri mahkota tidak menyuruh pelayannya untuk memberi perlakuan istimewa terhadap putri Ai, maka ia tak akan mendapatkan pakaian mewah, makanan enak serta semua fasilitas kerajaan yang lainnya. Jika putri mahkota tidak mengajaknya berkeliling dan memperkenalkannya sebagai saudaranya, maka putri Ai tidak akan dikenal oleh seluruh rakyat. Tapi semua hal itu membuat putri Ai bias. Ia lupa darimana ia berasal. Keserakahan membuatnya lupa diri,”

Ahreum terdiam. Meskipun ia tahu putri Ai itu salah, tapi ia tetap merasa kasihan terhadapnya. Karena putri tersebut sudah dibutakan oleh keserakahan sehingga bisa menjadi jahat seperti itu.

“Setelah mendengar cerita ini apa kamu masih akan bersikap baik seperti putri mahkota yang memberikan segalanya pada putri Ai?” tanya Luhan.

Ahreum memiringkan kepalanya, bingung akan maksud Luhan. Ketika Luhan menyinggung masalah ‘memberikan mereka pada orang lain’, Ahreum baru mengerti maksudnya. Tentu saja Ahreum tak akan memberikan mereka pada siapapun. Karena mereka adalah harta Ahreum yang paling berharga.

“Ah iya, ada beberapa yang bilang kalau putri Ai merubah namanya ketika ia menjadi putri mahkota. Ia merubah namanya karena merasa karakternya tidak cocok dengan nama itu. Selain itu nama itu diberikan oleh raja sebelumnya. Jadi putri Ai tidak mau menyimpan kenangan pahit dengan terus memakai nama itu,” jelas Luhan.

“Memangnya apa arti dari Ai?”

Luhan tersenyum singkat. “Cinta.”

.

.

.

Di lain waktu dan di lain tempat, ada sebuah dunia bernama Exoland. Sebuah negeri yang cerah dan bahagia, dulunya. Tapi kini Exoland tampak kelam karena awan hitam selalu menggantung di langitnya. Sinar matahari bisa dibilang sangat jarang bisa menembus awan kelam itu. Kalaupun matahari bisa menyinari Exoland, itu karena campur tangan para tetua Mastermind dan Knight yang mencoba memberikan sedikit kebahagiaan pada rakyat Exoland.

Sejak Exoland jatuh ke tangan Xenos, dunia ini berubah layaknya kuburan. Hampir tak ada kehidupan yang berharga disana. Penduduknya harus berusaha bertahan dibawah pemerintahan raja Xenos yang diktator. Para penduduk –termasuk pasukan pelindung khusus– dilarang menggunakan kekuatan mereka. Walaupun begitu, Knight dan Mastermind tetap saja menggunakan kekuatan mereka, bahkan berlatih memperkuat diri mereka di bawah hidung Xenos. Karenanya selalu ada perang antara pasukan Xenos dengan Mastermind atau Knight.

Tapi sudah beberapa waktu ini tampak tak ada pergerakan apapun dari Knight dan Mastermind di Exoland. Hal ini membuat Xenos curiga akan apa yang sedang direncanakan pasukan pelindung khusus itu. Xenos tentu harus bersiap-siap agar jangan sampai dua pasukan itu tiba-tiba bersatu dan menyerangnya. Kalau hal itu sampai terjadi maka kekalahan sudah dipastikan akan diterima Xenos. Karena Xenos tahu persis kekuatan pasukannya masih kalah dari kekuatan pasukan pelindung khusus asuhan mendiang raja Janus itu.

Xenos tetap harus waspada agar tetap bisa memerintah di Exoland. Apalagi kini kekuatannya sudah melemah. Karenanya ia sudah mempersiapkan keturunannya untuk melanjutkan pemerintahannya. Xenos memiliki seorang putri yang sama kejamnya dengan dirinya –tentu saja karena putri itu mewarisi sifat dirinya. Hanya saja sang putri belum memiliki pendamping. Padahal sang putri sudah berusia ratusan tahun -dia seumuran dengan mendiang Putri Ara. Putri Xenos belum juga menikah di usianya yang sudah terbilang sangat terlambat itu. Sementara itu sang putri tak mau dijodohkan dengan pilihan ayahnya, Raja Xenos. Sang putri sudah memiliki seseorang yang dianggapnya pantas untuk menjadi pendampingnya, yang sayangnya tidak akan pernah bisa ia miliki. Itu sebabnya ia belum menikah juga hingga setua itu.

“Cermin cermin di dinding. Katakan padaku siapa perempuan paling cantik sejagad raya ini,”

Putri Xenos bertanya pada cermin ajaib yang menghiasi kamar tidurnya. Cermin itu awalnya memantulkan wajah sang putri. Kemudian perlahan berubah menjadi wajah Putri Ara.

Sang putri menarik napas panjang berusaha menahan emosinya. “Baiklah. Tapi sayangnya dia sudah mati, dasar cermin bodoh!!! Aku tanya sekali lagi wahai cermin di dinding!! Siapa putri yang paling cantik saat ini!!”

Cermin tersebut kembali memantulkan wajah Putri Ara. Putri Xenos pun makin kesal dibuatnya.

“Cermin itu hanya mengatakan yang sebenarnya, Ailee. Kenapa kamu harus marah padanya? Dia hanya benda mati yang sakti,” tegur seorang pemuda yang sudah memasuki kamar sang putri.

Putri Ailee, putri dari raja Xenos itu pun berbalik dan mendapati seorang pemuda tampan dengan pakaian ala ksatria –serba hitam– sudah duduk di ujung kasurnya. Ailee menatap pemuda itu sengit.

“Apa yang kamu lakukan disini, L?! Apa kamu sudah menjalankan apa yang kuperintahkan?!” bentak Ailee.

L menunjukkan seringainya pada Ailee. Ia mengangkat jempol kirinya pada Ailee.

“Semua sudah berjalan sesuai rencana. N sudah bertemu dengannya. Sekarang tinggal kamu saja. Kapan kamu siap untuk berangkat dan menjemput putri yang hilang itu,” sahut L.

Ailee kembali berpaling menatap cermin ajaibnya. Ia sedang memikirkan seseorang saat ini dan cermin itu memantulkan apa yang dipikirkannya. Wajah Kris tampak memenuhi cermin itu.

“Dia tentu ada di sana kan?” tanya Ailee tanpa menoleh pada L.

L melirik ke cermin ajaib Ailee. Ia mengerti maksud Ailee, gadis itu bertanya mengenai Kris. Ia tahu kalau Ailee menyimpan perasaan pada Kris –yang sayangnya tak pernah terbalaskan. Tentu saja karena Kris itu adalah Mastermind, yang notabene adalah pasukan pelindung khusus dari raja Janus, yang sudah pasti kesetiaannya terhadap keturunan raja Janus tidak diragukan lagi. Jadi sangat tak mungkin Ailee bisa mendapatkannya. Apalagi Xenos, ayah Ailee, juga pasti tidak akan mengizinkan putrinya itu bersanding dengan Kris.

“Masih berharap pada anak kecil itu rupanya,” gumam L.

L cukup takjub dengan kekerasan hati Ailee. Padahal putri keji itu tahu persis kesempatannya untuk mendapatkan Kris sama sekali tidak ada. Siapa juga yang mau menerima cinta dari orang yang sudah membunuh kedua orangtuanya. Ya, Ailee-lah yang membunuh orangtua Kris. Ailee memang bertugas untuk membantai Knight dan Mastermind, tapi untuk kasus orangtua Kris ini agak berbeda –Ailee turun tangan sendiri untuk membunuh mereka. Ailee dulu mencintai ayahnya Kris, tapi ayah Kris menolaknya mentah-mentah. Ayah Kris dulu berpikir, kalaupun ia tak bisa mendapatkan cinta Ara, lebih baik ia mencintai perempuan lain dan bukan membalas perasaan Ailee. Kesal, Ailee pun membantai keduanya. Sampai akhirnya ia tahu kalau pria yang dicintainya itu memiliki anak lelaki yang begitu mirip dengannya. Ailee pun jatuh cinta pada Kris.

“Dia ada disana bersama yang lainnya. Ternyata tidak semuanya yang ikut. Hanya pasukan inti saja yang ada di sekitar anak itu,” sahut L acuh. L kini meraih buah-buahan yang ada di meja seberang kasur Ailee dan memakannya.

Ailee tersenyum puas mendengarnya.

“Cermin cermin di dinding. Siapakah wanita yang ada di hati Kris?” tanya Ailee pada cermin ajaibnya.

L menghela napas keras-keras. “Kamu bodoh bertanya seperti itu pada cermin. Sudah pasti jawabannya bukan kamu. Mana mungkin dia mau menyimpanmu di hatinya, kamu sudah membunuh orangtuanya,” sahut L.

Benar kata L, cermin ajaib itu tidak memantulkan wajah Ailee. Cermin itu memantulkan tampak belakang dari seorang gadis dengan kulit seputih susu dan rambut ikal kecoklatan. Sudah pasti itu bukan refleksi dirinya, karena putri Ailee sendiri berkulit kuning langsat serta rambutnya lurus dan berwarna merah. Ailee penasaran akan wajah gadis itu. Karena kalau dilihat dari postur tubuhnya, gadis itu jauh berbeda dari Ara, sepupunya. L pun tertarik dan mendekati Ailee untuk ikut melihat siapa gadis yang dipantulkan cermin itu.

Perlahan bayangan perempuan di cermin itu berbalik. Wajahnya terlihat tapi masih samar karena rambutnya yang tertiup angin itu menghalangi wajahnya. Tapi satu hal di gadis itu yang membuat Ailee kesal. Kalung yang dipakainya adalah kalung milik sepupunya, Ara. Ailee pun meninju cerminnya hingga hancur berkeping-keping.

“Woahh!! Apa yang kamu lakukan?!! Padahal dia tadi akan menunjukkan wajahnya. Padahal aku mau lihat apakah dia secantik ibunya atau tidak,” protes L.

“Keluar dari kamarku sekarang!!” bentak Ailee.

L mendengus pelan mendengar perintahnya. “Cih, kenapa juga aku mau bekerja untukmu,” keluhnya sambil keluar dari kamar Ailee.

“Aku juga tak butuh pengawal sepertimu!!!” jerit Ailee.

Ailee melampiaskan kekesalannya pada L. Ia melemparkan pecahan kaca itu pada L –tanpa menyentuhnya karena Ailee juga bisa telekinesis. Sementara L, tanpa berbalik untuk menghadapi serangan Aille, hanya mengangkat satu tangannya dan pecahan kaca itu langsung lebur di belakangnya. L pun tetap berjalan keluar tanpa mengacuhkan Ailee yang sudah mengamuk di kamarnya.

“Ughh!!! Siapapun itu!! Siapapun perempuan yang sudah mencoba untuk mengambil Kris dariku, nerakalah tempatnya,” geram Ailee.

.

.

.

.

.

.

.

.

logo1

The twenty sixth chapter is out!!!

안녕!

Yupp putri ai itu adalah Ailee dan kapten kece itu adalah L *tolong bayangin L seperti yang ada di sidebar ini ya* dan oia bee lupa ngenalin si N.. beberapa udah pada tau sih kalo N disini itu adalah N leadernya Vixx.. puhahaha anak buahnya ailee namanya cuma satu huruf semua..

dan disini adalah kisah mengenai putri ailee.. serta sedikit konspirasi hati dan labil ekonomi *ketularan vicky*

daaaaaaaan Ma’acih buat kalian para vitamin bee… bee benar-benar menghargai setiap review yang kalian lampirkan.. semua saran, kritik dan lain-lain itu  selalu bee pertimbangkan agar next chapter/next ff, bee bisa menghasilkan fiksi yang lebih baik lagi… dari hati yang paling dalam bee ucapkan terimakasih.. sampai jumpa di chapter akhir beautiful life!!
안녕!! 뿅! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 26 – The Other Princess | PG15

14 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 26 – The Other Princess | PG15

  1. NadChaCha says:

    Tuh kan bener putri Ai itu Ailee 😀
    Kai ga tau aja klo ciuman pertama Ahreum udh diambil sm Kris._.
    Ada bahasa nya si vicky disitu 😀
    Euhhh penasaran ama chap selanjutnya, kira2 Ailee perang ga ya ama Ahreum 😀
    Lanjuttt >_<

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s