FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 25 – Two Moons | PG15


beautiful-life

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter 25 – Two Moons

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

Other Cast:

Jiyeon T-ara as Jiyeon

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life, Drama

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Enchanted | EXO ft Key Shinee – Two Moons

Chapter 25 | Two Moons

.

.

.

.

Two Moons

.

.

.

.

.

.

Jiyeon sudah berdiri sambil bertolak pinggang menatap Ahreum yang tertunduk lesu di hadapannya. Jiyeon mengibaskan rambut coklatnya dengan dramatis serta memasang ekspresi tergarangnya, seolah siap untuk ‘menelan’ seseorang. Sementara Ahreum sudah menundukkan kepalanya dalam-dalam, bersiap menerima segala omelan Jiyeon, karena Ahreum tahu kalau Jiyeon akan memarahinya jika mereka bertemu –mengingat semua telepon dan sms Jiyeon padanya berisi omelan.

“Jadi menghilang kemana kamu? Apa kamu tahu kalau jalanan sedang rawan penculikan saat ini?! Kamu bisa saja diculik orang jahat dan menghilang tanpa jejak tahu!” omel Jiyeon.

“Maafkan aku,” ujar Ahreum pelan.

Jiyeon pun menghela napas panjang melihat Ahreum sudah menundukkan kepalanya. Padahal dulu sewaktu mereka belum bersahabat seperti sekarang, Ahreum sama sekali tak pernah menundukkan kepalanya untuk meminta maaf seperti ini. Jiyeon jadi menyerah melihat Ahreum mengaku salah seperti ini.

“Haaah, kenapa kamu malah minta maaf? Sudah kubilang aku tidak marah padamu. Kenapa kamu minta maaf padaku?” Jiyeon mengeluh.

“Maafkan aku,” ujar Ahreum lagi.

“Sekali lagi kamu ucapkan kata-kata menjijikan itu, maka aku akan benar-benar marah padamu. Mengerti?!” kesal Jiyeon sambil mencubiti kedua pipi Ahreum.

“Aww aww aww,” Jiyeon meringis.

Jiyeon yang mencubit pipi Ahreum tapi ia sendiri yang meringis kesakitan. Itu karena pipinya juga mengalami nasib sama. Bukan Ahreum yang membalas mencubit pipinya, tapi Kai kini tengah mencubit pipi kanannya -atau itu justru terlihat seolah Kai sedang menarik pipi Jiyeon. Gadis itu sampai harus mengikuti arah tangan Kai, agar pipinya tidak terlalu sakit.

“Yah!! Kenapa kamu malah mencubitku, Hitam!!” bentak Jiyeon yang sudah melepaskan tangannya dari wajah Ahreum.

“Kamu sendiri kenapa mencubiti pipi Ahreum?” sahut Kai.

Jiyeon menunjukkan seringainya Kai. Ia memiliki sebuah pemikiran yang pasti akan membuat Kai langsung berhenti mengganggunya. “Ini adalah cara Park Jiyeon menunjukkan rasa cintanya pada Ahreum. Lalu kamu, kenapa mencubit pipiku? Apa ini juga adalah caramu menunjukkan cintamu padaku?”

Kai terbelalak mendengar ucapan Jiyeon. Ia pun langsung melepaskan cubitannya di pipi Jiyeon dan mengusapkan mereka ke seragamnya, seolah ia habis menyentuh sesuatu yang menjijikkan. Kai lalu meninggalkan Jiyeon dan memilih untuk kembali ke bangkunya sambil bersungut-sungut. Melihat tingkah Kai tersebut, membuat Ahreum dan Jiyeon tertawa bersama sehingga mereka mendapatkan pandangan heran dari teman-teman sekelasnya.

Setelah Kai pergi, Jiyeon pun berpindah duduk di samping Ahreum dan melingkarkan lengannya di leher Ahreum. “Jadi…kamu sudah berbaikan dengan mereka?”

Ahreum memandangi Jiyeon bingung. Bagaimana Jiyeon tahu kalau Ahreum bertengkar dengan Kris dan kawan-kawan. “Bagaimana kamu-,”

“Mereka semua mendatangi rumahku malam itu dan meminta maaf padaku,” sela Jiyeon. “Mereka pikir mereka sudah melakukan sesuatu yang membuatku kesal sehingga aku marah padamu. Padahal aku tak pernah marah padamu atau marah pada mereka.”

Ahreum terdiam. Ia berpikir betapa para pengawalnya sangat mempedulikan perasaannya sampai-sampai mereka mau merendahkan diri mereka (Ahreum selalu beranggapan kalau meminta maaf itu sama artinya dengan kamu merendahkan dirimu di hadapan orang lain) pada Jiyeon yang notabene tidak mereka sukai. Disaat seperti ini Ahreum benar-benar merasa kalau ia adalah seorang putri, karena dua belas pemuda itu selalu mementingkan perasaannya di atas apapun. Ahreum pun bertekad untuk mementingkan perasaan mereka di atas apapun juga.

“Lalu kenapa kamu pergi begitu saja waktu itu? Bukankah itu karena kamu marah padaku?” tanya Ahreum setelah ia tersadar dari lamunannya.

Jiyeon menggelengkan kepalanya pada Ahreum. “Oh, Ahreum. Sudah berapa lama kamu mengenalku? Masa kamu gak hapal sifatku? Aku kalau marah pada seseorang, maka aku akan mengacuhkan mereka. Dan apa aku mengacuhkanmu? Tidak kan? Aku bahkan masih menelepon dan mengirimimu sms. Aku tidak pernah marah padamu. Waktu itu aku hanya kesal. Aku kesal pada diriku sendiri,”

Ahreum menganggukkan kepalanya. Ia cukup lega mengetahui kalau Jiyeon tidak marah padanya ataupun pada pengawalnya. Ahreum senang karena kini ia bisa menikmati harinya bersama dengan orang-orang yang disayanginya.

“Jadi…kamu dan dia sudah ok??” tanya Jiyeon sambil melirik ke belakang bangku mereka.

Ahreum ikutan menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang Jiyeon maksud. Ternyata ‘dia’ itu adalah Kris. Pemuda itu tampak sedang memperhatikan Ahreum ketika gadis itu menoleh ke arahnya –Kris langsung memalingkan wajahnya begitu menyadari kalau Ahreum memergoki dirinya. Ahreum lalu kembali melihat ke Jiyeon.

“Kurasa kami ok. Ada apa memangnya?” tanya Ahreum pada Jiyeon.

“Bagus,” seru Jiyeon. “Minggu ini temani aku jalan. Ajak dia sekalian. Ingat hanya dia saja. Mengerti?!”

Ahreum hanya bisa mengangguk pasrah.

.

.

.

Hari minggu pun tiba. Ahreum memenuhi janjinya pada Jiyeon untuk menemaninya jalan. Ahreum juga membawa serta Kris –sesuai permintaan Jiyeon. Walau niatannya itu mendapat protes dari pengawalnya yang lain, tapi Ahreum hanya bisa menghiraukan keluhan mereka.

“Kenapa hanya Kris Hyung?” protes D.O.

“Ahreum, biar imbang aku ikut juga. Kan jadi pas, dua perempuan dan dua lelaki,” ujar Chanyeol.

Ketika protes mereka semakin jadi, Ahreum hanya bisa memberikan alasannya seperti, “kalian kan tahu kalau Jiyeon menyukai Kris, jadi dia hanya meminta Kris saja yang ikut. Oh ayolah, jangan seperti ini. Nanti aku akan mengajak kalian jalan. Tapi untuk saat ini biarkan hanya Kris saja yang ikut denganku agar Jiyeon senang.”

Mendengar alasan Ahreum tersebut malah membuat para Mastermind langsung melancarkan protes mereka. Bukan protes karena mereka tidak diajak, melainkan protes karena Ahreum memperlakukan Kris seolah Kris itu sebuah benda yang bisa diberikan kepada siapa saja.

“Ahreum, kenapa kamu bersikap seperti itu pada Dduizhang??” protes Tao.

“Seperti apa apanya??” Ahreum bingung dengan tudingan Tao.

“Memangnya Dduizhang itu benda yang bisa kamu hibahkan ke orang-orang?” sahut Tao lagi.

“Ahreum, apa kamu berniat memberikan Kris Hyung pada Jiyeon?” tanya Baekhyun.

“Kamu mau menjodohkan Kris Hyung dengan Jiyeon??” tuding Suho.

Ahreum bingung bercampur kaget dan panik mendengar semua tudingan pengawalnya. “B-bukan begitu maksudku..,”

“Tapi dari ucapanmu tadi seolah kamu ingin menyatukan mereka,” sela Xiumin.

Luhan kini menengahi rekan-rekannya yang mulai memojokkan Ahreum. “Ahreum, perlu kamu ingat. Kris adalah jodohmu. Jadi kamu tak boleh memberikannya pada siapa-siapa. Hatinya sudah terikat olehmu, begitu juga kami. Jadi jangan mengkhianati perasaan kami terhadapmu dengan mendekatkan kami kepada selain kamu,”

Ahreum sampai bengong sendiri mendengar ucapan Luhan. Sungguh bukan seperti itu maksudnya. Tapi kemudian ia kembali berpikir, apa benar ia ingin menyatukan Jiyeon dengan Kris? Atau ia hanya bersikap baik untuk memenuhi keinginan Jiyeon saja? Apa ini termasuk dalam kategori ‘memberikan pengawalnya pada orang lain’? Terlebih lagi apa ini termasuk dalam kategori ‘mengkhianati perasaan pengawalnya’? Karena ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengutamakan perasaan para pengawalnya diatas perasaannya sendiri, jadi ia berusaha untuk setia pada mereka.

“Aku menyayangimu, Ahreum. Jadi kumohon jangan menjauh dariku,”

Kalimat yang diucapkan Kris di Dokdo dulu kembali berkumandang di telinga Ahreum. Ia kembali bertanya pada dirinya sendiri, apa yang sedang ia lakukan saat ini.

“Percayalah padaku. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Aku tidak akan memberikan Kris pada siapapun. Lagipula, sejak kejadian di ice skating dulu, Jiyeon jadi tidak suka berpergian dengan kalian. Apalagi kalian selalu kasar padanya. Selain itu memang hanya Kris yang bisa bersikap baik padanya, makanya Jiyeon hanya mengajak Kris saja. Jadi percayalah padaku, aku tak akan menjual kalian pada siapapun,” ujar Ahreum setelah ia lama terhanyut dalam lamunannya.

.

.

.

Jiyeon tersenyum puas melihat Ahreum memenuhi keinginannya. Ia melihat Ahreum datang bersama Kris. Jiyeon langsung berlari menghampiri keduanya.

“Kamu ikut juga rupanya,” tegur Jiyeon pada Kris. Sebelum Kris atau Ahreum sempat menjawab, Jiyeon sudah lebih dulu menggamit lengan Kris dan menyeretnya masuk ke dalam pusat perbelanjaan -meninggalkan Ahreum di belakang. “Ayo kita jalan!”

Ahreum hanya bisa menghela napas panjang melihat Jiyeon dan Kris yang kini sudah berjalan tiga langkah di depannya. Ahreum merasa jadi orang asing disini. Ia jadi agak menyesal hanya mengajak Kris seorang, harusnya ia membawa Luhan atau Baekhyun untuk menemaninya. Tapi sayangnya semua sudah terjadi. Akhirnya Ahreum pun bergegas menyusul Kris dan Jiyeon yang sudah berjalan jauh beberapa meter di depannya.

Sambil sesekali memperhatikan Kris di depannya, Ahreum memilih untuk melihat-lihat sekilas toko-toko yang dilewatinya. Ada satu toko souvenir yang menarik perhatiannya. Ahreum pun berhenti di depan toko tersebut. Ia melihat sepasang sarung tangan dengan hiasan kepala Doraemon dipunggung tangannya. Ahreum memandangi sarung tangan rajutan itu penuh kagum, karena walaupun bermotifkan Doraemon tapi sarung tangan itu sama sekali tidak terlihat kekanakkan.

“Kamu mau sarung tangan itu?” tegur Kris yang secara tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Ahreum sampai terlonjak kaget menyadari Kris sudah meninggalkan Jiyeon untuk menghampirinya.

“Kalau kamu mau aku akan belikan itu untukmu,” Kris mengambil sarung tangan tersebut dan menelitinya untuk mencari tahu berapa harga dari sarung tangan tersebut.

“Kris! Kamu mau beli itu?” tegur Jiyeon yang juga ikutan menghampiri Ahreum. “Omo, Kris. Kamu seperti Ahreum saja, sukanya sama Doraemon,” ledek Jiyeon.

“Memangnya aku ada tampang suka sama kucing robot ini,” gumam Kris yang nyaris tak terdengar oleh Jiyeon.

Tanpa mempedulikan gerutuan Kris, Jiyeon merebut sarung tangan Doraemon itu dari tangan Kris dan berlalu menuju kasir toko tersebut. Setelah membayar sarung tangannya, Jiyeon mengembalikan lagi benda itu pada Kris. “Hadiah untukmu karena sudah mau menemaniku jalan-jalan. Pergunakan dengan baik ya,” ujar Jiyeon sambil mengedipkan sebelah matanya.

Kris memandangi sarung tangan Doraemon dan Jiyeon secara bergantian. Kenapa juga Jiyeon malah memberikan sarung tangan rajutan ini padanya? Dan hei, Kris sama sekali tak suka Doraemon. Memang ia selalu menonton kartunnya bersama Ahreum, tapi bukan berarti ia menyukainya kan? Sepertinya ada kesalahan disini.

Kris baru saja akan memberikan sarung tangan tersebut pada Ahreum, ketika Jiyeon sudah berteriak memanggilnya. Ternyata Jiyeon sudah kembali jalan dengan kali ini menyeret Ahreum bersamanya. Akhirnya Kris bergegas menyusul mereka setelah ia memasukkan sarung tangan tersebut ke dalam kantung jaketnya.

.

Ketiga anak muda itu kini sudah beristirahat untuk makan di sebuah restoran sederhana. Jiyeon, yang tak mau repot menanyakan akan makan apa dari masing-masing mereka, memutuskan untuk memesan satu set makanan untuk tiga orang. Sambil menunggu makanan mereka tiba, Jiyeon bercerita tentang drama-drama yang di tontonnya.

“Kamu menontonnya juga kan, Ahreum? Ketika Jungseoh memakaikan syalnya ke Jieun itu adalah hal paling manis yang pernah terjadi. Juga ketika Jungseoh tiba-tiba memeluk Jieun dibawah hujan salju. Itu sangat romantis,” cerita Jiyeon penuh kekaguman.

Ahreum tak pernah mengira kalau Jiyeon adalah tipe yang seperti ini -yang akan memekik tertahan terhadap sebuah adegan drama. Ahreum pikir Jiyeon terlalu keren untuk hal-hal tersebut. Tapi ternyata Jiyeon sama saja dengan anak gadis kebanyakan.

Tak lama kemudian suara ponsel Jiyeon menyela obrolan mereka. Tampaknya walikota Park yang menelepon Jiyeon, karena gadis itu terdengar patuh saat menjawab teleponnya.

“Ne, Appa. Aku akan berangkat sekarang,” Jiyeon pun menyudahi teleponnya. Ia lalu menoleh ke Ahreum dengan pandangan penuh rasa bersalah. “Bagaimana ini, Ahreum. Appa menyuruhku pulang sekarang juga. Katanya ada hal penting di rumah. Mungkin aku disuruh menemaninya menjamu tamu lagi. Kalian tak apa-apa kan aku tinggal??”

Ahreum memandangi Jiyeon bingung. “T-tapi makanannya?” Ahreum lalu menoleh pada Kris untuk meminta bantuan.

“Dia bilang disuruh ayahnya pulang kan? Ya sudah biarkan saja dia pulang. Dia sedang ingin menjadi anak yang baik, jadi jangan menahannya,” sahut Kris acuh.

“Waah kamu pengertian sekali,” goda Jiyeon. Ia lalu merapikan tasnya dan beranjak dari bangkunya. “Aku sudah bayar makanannya, jadi kalian habiskan makanannya. Bye Ahreum, aku akan mentraktirmu dengan benar jika kita jalan-jalan lagi. Dan Kris! Semangat!”

Jiyeon pun berlalu dari hadapan mereka. Ahreum hanya bisa terbengong-bengong melihat kepergian Jiyeon yang begitu meriah. Sementara Kris, dia sudah menyiapkan makanan, yang baru saja datang untuk Ahreum.

“Sudahlah, makan saja dulu. Habis makan kita langsung pulang saja,” ujar Kris sambil menyodorkan semangkuk sup pada Ahreum.

Dengan pikiran yang masih melayang kemana-mana, Ahreum pun mulai menyendokkan supnya. Dan ketika panasnya sup membakar lidahnya barulah Ahreum tersadar dari semua pikirannya.

“Auww,” Ahreum meringis. Ia kini sudah menjulurkan lidahnya yang tampak lebih merah karena terbakar sup panas tadi.

“Astaga, Ahreum. Itu masih panas,” panik Kris sambil menyodorkan air dingin untuk Ahreum minum.

Sementara Ahreum masih mendinginkan lidahnya, Kris menyendokkan sup dari mangkuk Ahreum dan ia pun mulai meniup-niupkannya. Setelah dirasanya sup itu sudah tidak panas lagi, barulah Kris menyodorkan sendok berisi sup yang sudah ia ‘dinginkan’ itu pada Ahreum.

“Aaah,” isyarat Kris agar Ahreum ikut membuka mulutnya.

Ahreum masih mematung melihat sikap Kris ini. Karena, yaa, Ahreum baru saja membakar lidahnya sendiri dan Kris tidak memarahinya. Bukankah itu adalah sesuatu yang ajaib?! Kris tidak mengomeli kecerobohannya. Pemuda itu malah berbesar hati meniupkan sup Ahreum agar cepat dingin serta menyuapinya! Apa matahari kini terbit dari barat?!

“Ayolah, ini sudah tidak panas lagi,” ujar Kris.

Akhirnya Ahreum menyerah. Ia pun mendekatkan kepalanya ke sendok Kris dan menerima suapan dari pemuda itu. Supnya memang sudah tidak panas, tapi Ahreum merasa kini tubuhnya memanas. Ahreum malah menyalahkan suasana restoran yang menyebabkan tubuhnya menghangat secara tiba-tiba. Ahreum akhirnya membiarkan Kris yang bertanggung jawab atas supnya –dalam hal ini Kris yang mendinginkan sup Ahreum agar gadis bisa makan tanpa membakar lidahnya lagi.

.

Ahreum dan Kris sudah dalam perjalanan pulang ke rumah saat ini. Keduanya berjalan berdampingan di bawah guyuran salju tipis yang masih turun malam ini. Ahreum tak tahu kalau cuaca akan sedingin ini, ia jadi menyesali pilihan pakaiannya yang tidak terlalu tebal, karena kini ia merasa sangat kedinginan.

“Dingin?” tegur Kris setelah menyadari kalau Ahreum terus gemetaran di sampingnya.

Kris lalu berhenti melangkah untuk memperhatikan Ahreum yang kini sedang berusaha menyembunyikan kedua tangannya dalam saku jaketnya. Kris akhirnya melepaskan syal yang ia pakai lalu memakaikannya di leher Ahreum. Sebenarnya itu adalah syal milik Ahreum, tapi ketika di restoran Ahreum memberikan syalnya pada Kris karena menurutnya suasana di restoran tadi terasa panas.

“Pakai ini. Lihatlah wajahmu sudah memerah sekarang,” ujar Kris sambil melilitkan syal tersebut di leher Ahreum. Setelah memakaikan syal tersebut, Kris meraih kedua tangan Ahreum dan ia merasakan kalau tangan Ahreum sudah sedingin es. “Dan tanganmu sudah beku. Seharusnya kita tadi pulang naik taksi saja, jadi kamu tak perlu sampai kedinginan seperti ini,”

Kris lalu mengeluarkan sarung tangan Doraemon yang tadi dibelikan oleh Jiyeon. Ketika Kris hendak memakaikan sarung tangan itu di tangan Ahreum, gadis itu langsung menarik tangannya.

“Apa yang mau kamu lakukan? Itu kan pemberian Jiyeon untukmu,” tolak Ahreum. “Kamu saja yang pakai, lagipula nanti juga kamu akan kedinginan–,”

“Lalu kamu pikir aku akan memakainya begitu? Aku tidak menyukai sarung tangan ini. Aku juga tak mungkin memakainya. Jadi kamu saja yang pakai. Lihatlah tanganmu sudah seperti es,” Kris akhirnya menarik tangan kiri Ahreum dan memakaikan sarung tangannya disana.

Ahreum menyerah dan membiarkan Kris membungkus tangannya dengan sarung tangan itu. Ketika Ahreum sudah mengangkat tangan kanannya untuk dibungkus pakai sarung tangan juga, Kris tak kunjung meraih tangannya.

“Hmm, setelah kupikir-pikir rasanya tak salah kalau aku juga pakai ini,” ujar Kris sambil memakai sarung tangan Doraemon tersebut untuk tangannya sendiri. Ia lalu menunjukkan tangannya yang dibungkus sarung tangan Doraemon. “Begini adil bukan?”

Ahreum memandangi tangan kirinya dan tangan kanan Kris secara bergantian. Ia tersenyum singkat melihat Kris memakai sarung tangan Doraemon tersebut, sebab sarung tangan itu terlihat tidak cocok sama sekali dengan imejnya.

“Dan tangan yang ini,” ujar Kris sambil meraih tangan kanan Ahreum. Kris lalu menggenggamnya dan memasukkan tangan mereka yang saling bertautan itu kedalam saku jaketnya. “Seperti ini saja. Jadi kita tidak akan kedinginan,”

Untungnya setengah wajah Ahreum sudah tertutup syal, jika tidak, mungkin Kris bisa melihat betapa merah wajahnya saat ini. Ahreum kini berpikir kalau ia tak perlu syal ataupun sarung tangan Doraemon ataupun tangan mereka yang saling bertautan, karena kini Ahreum sudah merasa sangat sangat hangat.

Keduanya lalu berjalan dalam diam dengan kondisi seperti itu hingga akhirnya mereka tiba di depan rumah.

Begitu sampai di depan rumah, Ahreum langsung menarik tangannya dari Kris. Bukan karena ia sudah merasa cukup hangat saat ini, melainkan karena seseorang yang sudah menanti mereka di depan pintu rumahnya.

“K-kai,” sapa Ahreum. Terdengar sedikit nada bersalah dari suaranya. Ahreum sudah mematung di tempatnya, seolah dia adalah anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan oleh orangtuanya. Dipergoki oleh Kai saat sedang bersama Kris dalam kondisi ‘seperti ini’ membuat Ahreum merasa tak enak, seolah ia sedang mengkhianati Kai untuk suatu alasan.

Kris begitu melihat perubahan sikap Ahreum, langsung memilih untuk masuk ke rumah tanpa menghiraukan Kai yang berdiri di depan pintu. Kai sendiri tak menoleh sama sekali pada Kris, ia tetap fokus menatap Ahreum yang berdiri kaku di luar teras. Begitu Kris masuk rumah, Kai lalu menghampiri Ahreum.

“Kenapa masih berdiri disana? Saljunya turun semakin deras, Cantik,” tegur Kai.

Kai menangkup wajah Ahreum dan merasakan pipi Ahreum yang terasa dingin. Ia akhirnya memeluk Ahreum untuk setidaknya ‘menghangatkan’ gadis itu. “Badanmu jadi dingin begini kan.”

“Kamu sudah lama menunggu disini?” tanya Ahreum pelan, suaranya teredam oleh sweater yang dipakai Kai.

Kai mengangguk masih sambil memeluk Ahreum. “Aku merindukanmu, Ahreum. Kamu pergi tanpa pamitan denganku. Begitu aku bangun, aku tak melihatmu di rumah. Jadi seharian ini aku hanya bisa merindukanmu,”

“Memangnya kamu tak tahu?”

“Aku tak tahu. Bagaimana ini, Ahreum? Padahal kita tinggal serumah dan juga berada di kelas yang sama. Tapi aku tidak tahu kalau kamu mau pergi dengan Jiyeon dan Kris hyung. Aku seperti orang asing saja. Pasti tadi kamu merasa kesepian disana, karena aku yakin kalau Jiyeon itu pasti memonopoli Kris hyung,” ujar Kai.

Inilah yang menyebabkan Ahreum merasa bersalah. Kai terlalu perhatian terhadap Ahreum. Dalam keadaan seperti ini sungguh Ahreum berharap dirinya bisa dibagi dua belas, dengan begitu tidak akan ada kecemburuan antara yang satu dengan yang lain. Ahreum akhirnya membalas pelukan Kai.

“Maaf kalau kamu merasa seperti itu. Sebagai gantinya bagaimana kalau minggu depan kita jalan berdua saja,” usul Ahreum.

“Aku suka ide itu,” sahut Kai sambil menunjukkan seringai khasnya.

.

.

.

“Hari ini dengan Kai?” tegur Baekhyun yang kini tengah mengancingi jaket yang dipakai Ahreum.

Ahreum hanya mendengungkan kata ‘hmm’ sambil mengangguk untuk menjawab pertanyaan Baekhyun. Karena ia merasa bersalah pada Kai, Ahreum jadi harus merelakan hari minggunya untuk pergi jalan dengan Kai. Tapi kini sudah ada sepuluh minggu menanti dirinya karena sepuluh pengawalnya yang lain sudah mengantri untuk bisa jalan berdua saja dengannya. Tidak ada lagi tidur sampai siang di hari Minggu, pikir Ahreum.

“Kalau hari untukku sudah datang, kita tak perlu jalan keluar rumah. Sekarang sedang musim saljunya mencair, jadi kita habiskan waktu di rumah saja,” ujar Baekhyun.

Ahreum hanya kembali mengangguk pelan. “Aku akan menantikan hari itu.”

“Kenapa kamu terlihat tidak bersemangat begini? Kamu kan mau jalan-jalan dengan Kai?” tegur Baekhyun lagi.

“Aku hanya… Entahlah. Aku merasa lelah. Mau sampai kapan aku seperti ini terus. Mengikuti kemauan kalian itu benar-benar melelahkan,” keluh Ahreum.

Baekhyun, yang tadi meninggalkan Ahreum untuk mencari syal yang cocok dengan jaket Ahreum hari ini, kini sudah kembali berdiri di hadapan Ahreum. Ia lalu melilitkan syal tersebut di leher Ahreum, kemudian merapikan rambut gadis itu.

“Semuanya akan selesai sampai kamu membuat sebuah keputusan. Jika kamu sudah menentukan hatimu, maka tidak akan ada lagi rasa bersalah seperti ini. Lagipula kamu adalah putri kami. Jadi seharusnya kami yang mengikuti kemauanmu, bukan sebaliknya,” nasihat Baekhyun. Ia tahu persis kalau Ahreum mengalami kegundahan karena masalah pemilihan calon raja ini. Belum lagi sebagian dari mereka menunjukkan kecemburuannya secara gamblang sehingga membuat Ahreum jadi merasa tertekan dan tidak enak hati. “Kamu tenang saja, Ahreum. Apapun keputusanmu, itu tidak akan membuat kami merasa ditinggalkan atau dikhianati.”

Ahreum kembali menghela napas panjang. Ia kini memandangi refleksi dirinya di depan cermin. “Aku bisa merasakan betapa tertekannya jadi Putri Ara ketika ia harus memilih satu diantara pengawalnya,”

Baekhyun tertawa pelan mendengar Ahreum memanggil ibunya sendiri dengan sebutan Putri Ara.

“Ya, aku bisa mengerti kenapa putri melarikan diri. Apa kamu tahu jumlah pasukan pengawal khusus untuknya? Mereka ada ribuan, terdiri dari Knight dan Mastermind,” ujar Baekhyun. Ahreum terkejut bukan main mengetahui berapa banyak pengawal ibunya dulu. “Tapi yang berani ikut sayembara hanya lima puluh diantara mereka,”

“Heeh! Tapi itu tetap saja banyak. Dua belas saja sudah cukup pusing, apalagi lima puluh,” ujar Ahreum. Ia merasa iba terhadap ibunya sendiri.

Baekhyun kembali tertawa pelan mendengar ucapan Ahreum. Ia kini sedang membongkar laci Ahreum untuk mencari pasangan dari sarung tangan Doraemon yang ia temukan tergeletak di kasur Ahreum –yang mana hanya ada yang sebelah kiri saja. Setelah lama mengaduk-aduk laci Ahreum akhirnya ia menyerah dan bertanya pada gadis itu dimana pasangan sarung tangannya. Bukannya menjawab pertanyaannya, Ahreum malah terlihat panik dan langsung merebut sarung tangan Doraemon tersebut darinya. ‘Akan kupakai nanti’ katanya, dan Baekhyun hanya bisa mengangguk melihat tingkah Ahreum yang aneh itu.

“Sampai dimana kita tadi? Ahh, lima puluh pengawal,” ujar Baekhyun melanjutkan percakapan mereka yang sempat tertunda. “Tapi yang kudengar serta kubaca dari buku sejarah kalau diantara lima puluh pengawal itu hanya ada dua atau tiga –aku lupa– pengawal yang benar-benar dekat dengan Putri Ara,”

Ahreum menyimak cerita Baekhyun dengan seksama. Baekhyun bercerita mengenai kedekatan Putri Ara dengan para pengawalnya. Saking dekatnya, seluruh warga bahkan mengira kalau salah satu dari pengawalnya itu pasti akan berakhir sebagai pendampingnya. Tapi di hari pemilihan, sang putri malah menghilang begitu saja.

“Mungkin putri merasa terbebani karena harus memilih satu diantara mereka, karenanya ia pergi,” ujar Baekhyun.

Ahreum masih mencerna cerita Baekhyun itu. Ia merasa ada cerita Baekhyun tidak sama dengan apa yang pernah ia dengar dan baca dari buku harian ibunya sendiri. Sejak kecil Ahreum selalu mendapatkan dongeng mengenai putri dari negeri magis oleh paman Kim; yang akhirnya Ahreum ketahui sebagai kisah nyata ibunya sendiri. Selain itu ia juga membaca sendiri buku harian ibunya yang diberikan paman Kim padanya. Ada beberapa perbedaan dari cerita Baekhyun dengan tulisan Putri Ara.

“Tidak, Baek. Putri Ara bukan melarikan diri karena tidak bisa memilih. Ibuku bukanlah orang yang pengecut seperti itu. Dia pergi karena ada penyihir yang mendatanginya dan mengancamnya,” ujar Ahreum.

Kali ini gantian Baekhyun yang terkejut mendengar ucapan Ahreum. “Apa maksudnya penyihir?? Tidak ada penyihir di negeri kami,” bingung Baekhyun.

Ahreum mengangkat kedua bahunya tidak yakin. Ia kemudian berpindah dari depan meja rias ke samping ranjang untuk mencari buku harian ibunya. Setelah menemukannya, Ahreum membuka halaman mengenai penyihir dan lalu menunjukkannya pada Baekhyun.

“Disana ditulis kalau ibuku didatangi seorang penyihir cantik. Penyihir itu mengatakan padanya ‘tidak boleh ada dua matahari dalam satu tata surya, dan dalam satu planet tidak boleh ada dua bulan, jika sampai itu terjadi maka salah satunya harus menyingkir agar tidak merusak susunan tata surya’. Penyihir itu seolah mengatakan pada ibuku untuk pergi dari Exoland agar tidak terjadi peperangan disana,” jelas Ahreum.

Baekhyun membaca kalimat per kalimat dalam buku tersebut. Ia bisa menebak siapa yang dimaksud dengan penyihir oleh Putri Ara. Sebab Baekhyun tidak asing dengan kata-kata ‘dua matahari dan dua bulan’ tersebut. Sekarang ia tahu kalau putri bukan melarikan diri dari tanggung jawabnya, melainkan dipaksa untuk pergi dari negerinya sendiri. Baekhyun benar-benar geram mengetahui hal ini. Baekhyun sampai meremas buku harian putri Ara ditangannya.

Melihat perubahan sikap Baekhyun yang tadinya ceria menjadi kelam, membuat Ahreum bingung sekaligus panik. Akhirnya Ahreum menggenggam tangan Baekhyun yang meremas bukunya. Setidaknya perlakuan Ahreum itu berhasil membuat Baekhyun melemaskan tangannya yang tadi mengepal. Ahreum pun tersenyum membalas senyuman Baekhyun yang kembali mengembang.

“Kamu tahu apa maksudnya dua bulan dalam satu planet?” tanya Ahreum.

“Itu artinya dua hat–,”

“Apa yang membuat kalian begitu lama?!” tegur Kai yang secara tiba-tiba muncul diantara mereka.

“Apa yang kalian lakukan?” Kai lalu melepaskan tangan Ahreum dari tangan Baekhyun. “Ahreum adalah kencanku hari ini, Hyung. Jadi jangan mencoba untuk menggodanya hari ini,”

.

.

.

“Mau kemana kita hari ini?” tanya Ahreum.

Ahreum dan Kai kini sudah berjalan berdampingan sambil bergandengan tangan. Begitu keluar rumah, Kai tak mau melepaskan tangan Ahreum, sehingga gadis itu hanya bisa membiarkan Kai melakukan apa yang ia mau. Sebab Kai akan langsung cemberut jika Ahreum menarik tangannya.

“Kemarin kamu kencan kemana dengan Kris Hyung? Tempat kencan yang paling keren disini itu dimana? Ahh aku lupa untuk survey dulu kemarin–,”

“Kai,” sela Ahreum. “Aku dan Kris bukan pergi kencan kemarin. Aku hanya menemani Ji-,”

“Iya,  aku tahu,” kali ini Kai menyela ucapan Ahreum. “Apa tempat yang mau kamu kunjungi?”

Ahreum berpikir sejenak. Kemudian ia teringat satu tempat yang ingin ia kunjungi. Ahreum sudah lama tidak melihat ‘dia’. Dengan senyum mengembang, Ahreum pun menarik Kai untuk mengikutinya.

 

Kai memandangi tempat di depannya ini dengan malas. Ia tahu Ahreum pasti akan membawanya kesana, tapi ia tak tahu kalau Ahreum akan membawanya ke tempat tersebut hari ini. Tempat ini mengingatkan Kai akan janjinya sendiri pada Ahreum. Pasti Ahreum mengajaknya kesini karena ingin menagih janji.

Annyeonghaseyo, Ahjussi!” riang Ahreum yang sudah masuk ke dalam toko tersebut.

Kai membuntut di belakangnya dan menatap si pemilik toko seolah meminta beliau untuk bekerja sama dengannya. Kai yakin kalau Ahreum pasti akan merengek untuk minta dibelikan..

“Kai!! Jinggu masih ada disini!! Omo!!”

Ya, Jinggu, anak anjing jenis poodle berusia dua bulan. Anak anjing yang langsung membuat Ahreum jatuh cinta pada pandangan pertama dengan semua kelucuannya. Anak anjing yang berhasil membuat Kai iri setengah mati karena ia bisa dipeluk dan di cium oleh Ahreum. Kai merasa kepalanya sudah cenat-cenut melihat Jinggu sudah menjilati wajah Ahreum.

“Jinggu, annyeong! Noona datang lagi. Kamu pasti sudah lama menunggu Noona kan? Sekarang Noona akan menjemputmu,” sapa Ahreum pada anak anjing poodle berbulu kecoklatan itu. Ia lalu berpaling pada Kai dan menatapnya penuh harap. “Kita akan membawanya pulang hari ini kan?”

Kai membelalakkan matanya. Ia malah menoleh pada pemilik toko dan memohon bantuannya.

“Maaf, Nona. Tapi Jinggu sudah ada yang punya,” ujar si pemilik toko.

Ahreum memandang pemilik toko dengan shock-nya. Ia kecewa karena kembali gagal mendapatkan anak anjing poodle nan lucu itu. Ahreum lalu berpaling pada Kai dan menatapnya sedikit mengancam.

“Jinggu. Aku mau Jinggu. Kalau tidak dapat Jinggu lebih baik kita pulang saja. Gak usah jalan-jalan hari ini,” ancam Ahreum.

Kai meraih kedua tangan Ahreum, berusaha untuk membujuknya. “Tapi kan sudah ada pemiliknya, Cantik. Jadi kita tak bisa memaksa untuk–,”

“Tapi kamu kan janji kalau kamu akan memberikannya untukku. Apa kamu lupa? Ish, baru janji seperti itu saja sudah dilupakan, bagaimana dengan janji-janji yang lain nantinya,” Ahreum masih merajuk. Ia sudah menyilangkan lengannya di dada dengan defensif, menolak jika Kai hendak memegang tangannya. Ahreum juga mengerucutkan bibirnya dengan lucu –walau niatnya untuk terlihat marah.

Begitu Kai tak menjawab apa-apa, Ahreum berpaling pada pemilik toko untuk merayunya. “Ahjussi, apa tidak bisa ditukar saja? Bilang sama pemilik Jinggu yang baru kalau dia sudah dibeli olehku,” Ahreum merayu pemilik toko hewan itu, berharap keinginannya dikabulkan.

Si pemilik toko dan Kai saling berpandangan. Si pemilik toko lalu menghela napas panjang sebelum bicara pada Ahreum. “Tapi Jinggu sudah lama dipesan olehnya. Dia bilang ingin memberikan kejutan pada kekasihnya karena kekasihnya juga menyukai Jinggu. Maafkan saya, Nona,”

Tidak ada yang bisa menghapus raut kecewa di wajah Ahreum. Bahkan ketika Kai membujuknya untuk membeli kalung untuk anjing –katanya sebagai hiasan jika misalnya ada serigala mampir ke halaman rumah mereka–, tapi Ahreum tetap saja cemberut. Ahreum memilih meninggalkan Kai dan keluar dari toko.

“Ahjussi, aku titip Jinggu ya. Secepatnya aku jemput dia,” ujar Kai pada pemilik toko sebelum keluar dari toko hewan tersebut.

“Pacarmu sepertinya marah. Kenapa tidak bilang saja kalau ini sudah jadi miliknya?” tanya pemilik toko.

“Untuk kejutan nanti. Harus diberikan di waktu yang tepat, Ahjussi. Annyeonghaseyo,” ujar Kai. Ia lalu berlari keluar toko karena Ahreum sudah menjerit memanggil namanya.

.

Kai memandangi Ahreum yang masih cemberut di sampingnya. Ahreum bahkan sudah mengantongi kedua tangannya agar Kai tidak menggenggam mereka. Tidak dapat tangan Ahreum, Kai masih memiliki bahu Ahreum yang tak terlindungi. Ia pun merangkul Ahreum dengan tanpa beban, seolah ia tak tahu kalau Ahreum sedang merajuk padanya.

“Ah aku tahu tempat yang keren. Perempuan-perempuan yang selalu mengerubungiku semuanya mengajakku ke tempat itu,” ujar Kai memancing Ahreum.

“Tsk, sekarang malah membicarakan perempuan lain di hadapanku,” gumam Ahreum. Ia masih kesal dengan kejadian di toko hewan tadi. Ia pikir kali ini Kai akan memenuhi janjinya untuk membeli Jinggu, tapi ternyata tidak.

“Kamu cemburu? Tenang saja, Cantik. Hanya ada Ahreum di hati Kai,” goda Kai.

Kai tertawa pelan melihat Ahreum sudah mengernyitkan keningnya. Kai lalu menyeret Ahreum –masih sambil merangkulnya, sehingga Ahreum harus mengikuti langkah Kai yang lebar-lebar itu– ke tempat tujuan. Kai membawa Ahreum ke tempat paling manis di Seoul.

“Namsan!” seru Kai. Ia sudah merentangkan tangannya seolah sedang mempersilahkan Ahreum masuk ke dalam dunianya. “Aku tahu kamu pasti belum pernah kesini kan?”

Sepanjang perjalanan tadi Ahreum sudah menebak kemana mereka akan pergi. Karena Ahreum mengenal jalur perjalanannya seolah ia pernah melewatinya. Dan benar saja dugaannya kalau Kai membawanya ke Namsan. Ahreum jadi tidak enak jika mengatakan pada Kai kalau ia pernah ke tempat ini –dengan Minho. Bisa-bisa Kai kecewa karenanya. Jadi Ahreum hanya bisa mengembangkan senyum tulus sebagai ungkapan terima kasihnya, karena bagaimanapun juga Ahreum belum pernah masuk ke taman Namsan –dulu dengan Minho ia hanya janjian bertemu di luar saja dan tidak sempat berkeliling tempat itu.

“Kamu memilih tempat yang keren Kai, dan lihatlah, hari ini pengunjungnya tidak terlalu ramai! Ayo kita keliling tempat ini,” seru Ahreum antusias. Rasa kesal yang tadi sempat tinggal di dirinya kini sudah menghilang begitu saja.

Kai lalu memberi isyarat pada Ahreum agar menggandeng lengannya. Setelah Ahreum mengaitkan lengannya dengan Kai, barulah mereka memasuki area taman Namsan.

Keduanya sempat mampir sebentar untuk membeli eggbread kemudian duduk di salah satu bangku taman sambil di temani burung-burung merpati yang sedang mencari makanan di hadapan mereka. Kai memilih mengorbankan rotinya untuk burung merpati tersebut agar Ahreum bisa menyentuh sang burung. Keduanya tertawa bersama ketika salah satu burung merpati meninggalkan jejaknya di tangan Kai, sehingga Kai harus pergi sebentar untuk mencuci tangannya.

Keduanya bercengkerama cukup lama di taman Namsan, seolah belum berniat beranjak dari tempatnya walaupun cuaca sore ini sudah terasa dingin. Ketika Ahreum lengah, terlintas sebuah pemikiran jahil di benak Kai. Ia lalu mendekatkan wajahnya pada Ahreum.

“Ahreum,” panggil Kai ketika Ahreum sedang menoleh ke arah kiri belakangnya. Ahreum pun memalingkan wajahnya ke kanan untuk melihat Kai yang ada di sisi kanannya dan…

Chu~

Kai mengecup pipi Ahreum, atau itu terlihat seolah Kai tidak sengaja melakukannya karena kini ia sudah memasang wajah shocknya pada Ahreum.

“Kenapa kamu tiba-tiba menoleh? Aku kan mau membisikkan sesuatu padamu. Apa kamu segitu inginnya aku cium?” ujar Kai berpura-pura protes walau dalam hati ia ingin sekali tertawa puas, apalagi melihat ekspresi Ahreum saat ini.

Ahreum sudah memegangi pipi kanannya, tempat dimana Kai ‘tidak sengaja’ menempelkan bibirnya. Ketika rasa kagetnya sudah hilang barulah Ahreum memukul pelan lengan Kai. Ahreum kesal karena Kai kembali menggodanya.

“Yah, siapa yang minta cium?! Lagipula kenapa harus berbisik sih?! Kan bisa bicara normal saja. Aish, kamu menyebalkan,” protes Ahreum sambil memukuli lengan Kai.

Kai sudah beranjak dari bangkunya dan berjalan mundur untuk menghindari aura membunuh yang dilancarkan Ahreum. Setelah mengatakan aku-tak-tahu-kalau-kamu-begitu-mencintaiku-sampai-mencari-cari -alasan-untuk-mendapatkan-ciumanku, Kai langsung berlari menghindari Ahreum yang sudah mulai mengejarnya.

.

“Woaaah,”

Ahreum sudah membuka mulutnya lebar-lebar, takjub akan pemandangan dihadapannya. Ahreum dan Kai sudah berada di puncak menara Namsan sore ini. Dan mereka datang tepat ketika matahari sedang terbenam, jadi langit sekarang tampak begitu indah dengan warna jingga yang menggantung di atas kota Seoul. Cahaya lampu jalanan Seoul juga menambah sempurna lukisan alam di hadapan Ahreum ini.

“Apa Exoland juga seindah ini?” tanya Ahreum yang masih belum bisa melepaskan pandangannya dari hamparan kota Seoul di hadapannya.

Kai yang juga sedang menatap takjub pemandangan Seoul-sore-ini hanya bisa mengangguk pelan. “Jauh lebih indah dari ini,” adalah yang bisa ia ucapkan. Kai tak tahu betapa ia sangat merindukan pemandangan seperti ini. Harusnya Exoland juga seindah ini, jika saja Xenos tidak mengacaukannya.

“Kalau begitu aku harus segera mengunjunginya,” ujar Ahreum. Ia kini sudah menggamit lengan Kai sehingga Kai tersadar dari lamunannya.

“Kamu akan segera mengunjunginya. Kamu bahkan bisa tinggal disana. Jika kamu segera menentukan pilihanmu, maka tak akan lama lagi kamu bisa kembali ke tanah asalmu,” ujar Kai sambil merapikan rambut Ahreum yang berantakan karena tertiup angin sore.

Melihat kerinduan di mata Kai, membuat gadis sadar kalau Kai pasti sangat merindukan negerinya. Ahreum bisa merasakan kerinduan yang sama seperti Kai. Walau ia tak tahu seperti apa negeri Exoland itu, tapi ia bisa membayangkan betapa indahnya tanah kelahiran ibunya itu. Dari semua cerita para pengawalnya serta gambaran yang dibuat ibunya, membuat Ahreum benar-benar ingin melihat Exoland.

Ahreum teringat ucapan Chen beberapa hari yang lalu.

“Untuk seorang yang berdarah biru sepertimu, kamu termasuk terlambat untuk menikah. Kamu tahu di usia berapa Putri Ara diminta menikah oleh Raja Janus? Dua belas tahun. Usia dua belas tahun dan ia sudah bisa menikah. Sedangkan batas terlambat bagi seorang putri untuk memilih seorang pasangan adalah delapan belas tahun. Dan berapa umurmu sekarang, Ahreum? Kamu harus membuat pilihan sebelum usiamu delapan belas,”

Itu artinya tinggal beberap minggu lagi. Waktu Ahreum adalah beberapa minggu lagi untuk membuat keputusan besar dalam hidupnya. Mendadak Ahreum merasa ada beban berat di pundaknya.

“Kamu memikirkan apa, Cantik? Jangan mengkerut begitu, ah, kamu jadi tidak cantik nanti,” tegur Kai. “Kamu sudah mau pulang atau masih mau melihat-lihat dulu? Pilih mana?”

“Aku–,” Ahreum mendadak tak bisa bicara. Ia memikirkan apa yang harus dipilihnya. Mendadak sebuah pilihan itu menjadi hal yang menakutkan bagi Ahreum. Dulu ia bisa dengan santainya mengatakan ‘aku tidak suka kamu, aku tidak akan memilihmu menjadi rajaku’, tapi kini setelah ada mereka yang berhasil mengganggu hati dan pikirannya, Ahreum jadi kehilangan kepercayaan dirinya dalam kepastiannya untuk menentukan pilihan.

Apakah ia harus memilih yang ada di hatinya atau yang bisa membuat hatinya merasa nyaman atau yang berhasil membuat hatinya jungkir balik dengan sikap mereka atau yang mana?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

logo1

The twenty fifth chapter is out!!!

안녕!

ㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋ

Ini hanya fluff aja… Fluff antara Ahreum dengan kris, baek dan kai.. Puhahahaha… Maaf bee ga bs melewatkan feel untuk mereka gitu aja. Apakah diantara tiga itu ada pilihannya Ahreum? Ato malah yang lain yang tak terduga? Kita liat aja..

Anyway.. Makasih buat para readers yang setia nungguin kisah ini. Walopun ceritanya gaje dan ngimpi banget, tapi tetep aja kalian mau baca ini tulisan abal. Bee terharu. Kalian benar-benar vitamin buat bee. Rasanya bagi seorang penulis begitu tahu kalau ada yang menikmati tulisannya itu….sesuatu! Review kalianlah yang bisa bikin bee bertahan untuk lanjutin cerita planet ini.
안녕!! 뿅! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 25 – Two Moons | PG15

16 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 25 – Two Moons | PG15

  1. NadChaCha says:

    Part 26 udah keluar aku baru review sekarang. Gpp lah ya yg penting review 😀
    Aw aw aw, demi apa Ahreum-Kai Moment nya sweet bgt aaaaa >_<
    Yg Luhan omongin maksud nya apa? Apa itu artinya raja yg dipilih Ahreum itu Kris? Tp kan Ahreum ga suka sm Kris? o.O #Telmi._.
    Putri Ara nikah umur 12 taun? Ha? Pernikahan dini itu loh eonn._.V
    Ahreum tentukan pilihanmuuuu *berasa kaya take me out-,-*

  2. Diana says:

    Kris so sweet ih, iri deh:” duh makin penasaran nih si ahreumnya milih siapa buat jadi pasangannya. Makin so sweet ceritanya, daebak!

  3. tisyaaa says:

    ahhh areum-kai areum-baek moment!! suka banget sama momentnya kai-areum.. jiyeon-kris aja ya eon, areum-kai/baek/luhan lebih cocok gimana gitu:)) tp yaudhlah terserah eonni hehe next nya cepetan ya eon~

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s