FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 24 – Menace From The Darkness | PG15


beautiful-life

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter 24 – Menace From The Darkness

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

Other Cast:

Minho Shinee as Minho

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life, Drama

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Enchanted

Chapter 24 | Menace From The Darkness

.

.

.

.

Menace From The Darkness

.

.

.

.

.

Ahreum masih merasa lemas sekarang. Ia masih gemetaran. Ia memang baru saja lolos dari serangan makhluk asing, tapi ia tak bisa mengurangi rasa takut yang menyelimuti dirinya. Ahreum berdiri sambil bertumpu pada sebuah mobil yang terparkir di dekatnya.

“Ahreum, kamu baik-baik saja? Kamu yakin mau pulang dalam keadaan seperti ini? Atau mau kuantar ke rumah sakit dulu? Kamu terlihat tidak sehat,”

Ahreum menoleh ke sumber suara yang menegurnya. Ahreum tersenyum singkat pada si pemilik suara. “Tidak, Minho Sunbae. Aku mau pulang saja,” aku lebih aman di rumah.

Tadi ketika Ahreum dikejar-kejar oleh makhluk asing yang mengerikan itu, Ahreum berlari sampai ke pelataran komplek apartemen Jei. Dan ketika makhluk asing itu hampir menangkapnya, Ahreum menabrak Minho yang kebetulan ada di daerah tersebut. Bisa dibilang Ahreum sangat beruntung, karena sosok asing tadi menghilang begitu Ahreum bertemu dengan Minho. Ketika Ahreum ceritakan pada Minho apa yang terjadi, mantan seniornya itu berniat untuk mengantarkannya pulang –ia tak mungkin mengabaikan Ahrem begitu saja, apalagi ia pernah berbuat salah pada Ahreum.

“Sebenarnya kamu kenapa? Kamu seperti habis dikejar setan,” khawatir Minho.

Ahreum menarik napas dalam-dalam. “Aku lebih baik bertemu dengan setan sungguhan, Sunbae. Karena setan tak akan bisa melukaiku. Sunbae, kamu benar-benar tak melihat siapa yang mengejarku?”

Minho menggelengkan kepalanya. “Yang aku lihat adalah kamu berlari dengan kecepatan penuh sambil terus menoleh ke belakang. Kukira kamu dikejar anjing liar, tapi tak ada apa-apa di belakangmu,”

Ahreum bergidik ngeri. Ia tak mungkin berkhayal kan? Sosok itu nyata dan sosok itu mengejar-ngejar dirinya. Kalau memang itu hanya mimpi buruk, Ahreum benar-benar bersyukur karena sudah terbangun dari mimpinya.

“Ya sudah, yang penting kamu sudah aman sekarang. Ayo kuantar pulang,” ujar Minho sambil menepuk-nepuk pundak Ahreum untuk menenangkannya.

Minho lalu menuntun Ahreum untuk masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobil Ahreum langsung duduk meringkuk sambil terus memperhatikan Minho yang kini mulai mengitari mobil menuju kursi supir. Belum sempat Minho membuka pintu supir, mendadak mobil mereka berguncang hebat –seolah ada benda besar nan berat jatuh dari langit dan menimpa atap mobil Minho. Jantung Ahreum mencelos, nyaris berhenti mendadak mendengar dentuman itu. Ahreum menatap atap mobil was-was. Detik berikutnya, Ahreum melihat Minho sudah diserang seseorang hingga jatuh berguling di jalan.

Ahreum kembali panik. Rasa takut kembali menyelimutinya. Ahreum ingin menolong Minho, tapi kakinya terlalu lemas untuk bergerak. Ketika orang asing itu mengangkat Minho agar mereka berdua berdiri, barulah Ahreum tahu siapa yang menyerang Minho. Ahreum segera keluar dari mobil untuk melerai keduanya.

“Kai! Kai, lepakan dia!” seru Ahreum sambil menghampiri Minho dan Kai –yang menyerang Minho.

Kai sudah mencengkeram kerah baju Minho dan mengangkatnya sampai Minho harus berjinjit agar ia tidak tercekik kerah bajunya sendiri. Kai tampak begitu geram, seolah ia ingin menelan Minho hidup-hidup. Ketika Ahreum menahan tangan Kai, barulah pemuda itu melepaskan pandangannya dari Minho. Kai pun melempar Minho begitu saja dan lalu berpaling pada Ahreum.

“Ahreum.. Ahreum… Cantik, kamu gak apa-apa kan? Apa makhluk ini melukaimu? Katakan padaku apa yang dilakukannya kali ini?” khawatir Kai.

Kai memegang bahu Ahreum sambil mengecek apakah ada luka baru atau sesuatu yang ganjil di badan Ahreum. Setelah gadis itu meyakinkannya kalau ia baik-baik saja, barulah Kai memeluknya erat.

“Kamu kemana saja, Ahreum? Apa kamu tak tahu kalau situasi sekarang sedang bahaya. Kamu bisa saja…,”

“.. Kai..,” Ahreum mulai menangis sekarang. Ahreum merasa sangat lega karena Kai sudah hadir dihadapannya dan melindunginya. Ahreum tak pernah merasa seaman ini. Ahreum mencengkeram erat baju Kai –menolak untuk melepaskannya.

“Kenapa kamu bisa bersama dengan orang itu?” tanya Kai sambil memelototi Minho.

“Minho Sunbae menolongku. Dia menolongku, jadi jangan memarahinya,” isak Ahreum.

Kai masih menatap Minho sengit. Tapi ia tetap menundukkan kepalanya untuk minta maaf pada Minho. Karena ucapan Ahreum adalah segalanya, jadi kalau Ahreum bilang Minho tidak salah maka orang itu tidak salah.

“Terima kasih sudah menolong Ahreum. Dan maaf sudah menyerangmu, kupikir kamu melakukan sesuatu yang jahat lagi pada Ahreum,” ujar Kai. Sama sekali tidak ada ketulusan di nada bicaranya. “Dan maaf untuk atap mobilmu,”

Minho dan Ahreum sama-sama menoleh ke mobil Minho untuk melihat seberapa parah kerusakan yang Kai ciptakan di atap mobilnya. Atap mobil Minho rusak parah karena sebuah cekungan yang cukup dalam tercipta disana. Minho sampai takjub sekaligus heran, karena bagaimana bisa Kai menciptakan cekungan itu. Yang lebih Minho herankan adalah bagaimana Kai bisa tiba-tiba menimpa atap mobilnya, mengingat tak ada pohon di sekitar arena parkir ini –kalaupun ia melompat ke atas mobil itu lebih tidak masuk akal lagi.

“Ah, ne. Gwenchana. Yang penting sekarang Ahreum sudah lebih tenang. Sebaiknya kalian segera pulang, karena Ahreum tampak tidak sehat,” ujar Minho.

Minho lalu berpamitan pada Kai dan Ahreum. Sebelum Minho meninggalkan mereka, Kai sempat berpesan pada Minho untuk jangan berada di tempat gelap malam ini serta untuk menyalakan semua lampu rumahnya. Walau bingung tapi Minho tetap mengiyakan pesan Kai. Dan mereka pun berpisah dengan Minho.

“Apa yang terjadi, Ahreum? Kenapa kamu bisa bersama dia?” tanya Kai.

“Tadi aku habis dari rumah Jei Eonni, Kai. Tapi begitu aku pulang, aku dikejar-kejar seseorang yang menyeramkan. Dia sungguh mengerikan, Kai. Dia mengejarku seolah ingin memakanku hidup-hidup. Aku takut. Dan…dia memanggilku dengan sebutan putri,”

Jika Kai tak menahan badan Ahreum saat ini, mungkin Ahreum sudah jatuh bersimpuh di jalanan. Ahreum benar-benar tak punya kekuatan untuk berdiri saat ini. Betapa ia sangat bersyukur sudah terlepas dari bahaya. Kai langsung memeluk Ahreum erat. Kai berusaha menenangkan gadis itu dari ketakutannya.

“Jadi kamu benar bertemu dengannya,” gumam Kai. “Tenanglah, Ahreum. Ada aku disini. Jadi kamu sudah aman sekarang,”

Kai cukup geram saat ini. Ternyata anak buah Xenos berhasil menemukan Ahreum. Walau ia bersyukur karena Ahreum baik-baik saja, tapi tetap saja Kai harus waspada.

“Siapa yang kamu maksud, Kai? Apa mungkin.. Apa mungkin yang mengejarku itu adalah…anak buah raja Xenos?” Ahreum kembali terkena serangan panik.

“Bukan. Bukan mereka, Cantik. Tenang saja. Karenanya mulai sekarang, kumohon jangan pernah lagi pergi sendirian, Ahreum,” Kai berusaha menenangkan Ahreum. Sudah cukup Ahreum tampak ketakutan saat ini. Kai tak bisa menambahkan lagi ketakutannya.

Kai lalu memeluk pinggang Ahreum erat. “Sekarang kita akan keliling dulu. Aku mau mengajakmu jalan-jalan karena aku terlalu merindukanmu hari ini.”

Dengan begitu Kai menghilang bersama Ahreum.

.

.

.

Setelah berkeliling kota, sekaligus mencari para pasukan khusus yang berpencar untuk mencari Ahreum, Kai akhirnya membawa Ahreum pulang. Tujuannya mengajak Ahreum keliling kota adalah untuk mengelabui anak buah Xenos, agar jangan sampai mereka menemukan kediaman Ahreum.

Sesampainya di rumah, Chanyeol yang sudah lebih dulu tiba disana langsung memeluk Ahreum erat.

“Ahreum! Jangan kabur lagi kumohon. Maafkan sikap kami hari ini. Tadi juga kami sudah ke rumah Park Jiyeon untuk minta maaf. Jadi jangan marah lagi pada kami,” rengek Chanyeol.

Biasanya Chanyeol akan terus memeluk Ahreum sampai ada yang harus melepaskan Ahreum darinya. Tapi kali ini tidak. Belum ada beberapa detik Chanyeol memeluk Ahreum, pemuda itu langsung melepaskan pelukannya.

“Ahreum! Kamu bau!” seru Chanyeol sambil menutup hidungnya.

Ahreum langsung mencium bau dirinya sendiri. Ia cukup kaget mendengar Chanyeol mengatainya bau. Padahal tidak ada yang salah dengan baunya. Beberapa pengawalnya yang ikut mengerubunginya juga langsung mengendus-endus bau badan Ahreum dan mereka tidak mencium bau yang aneh, hanya bau vanilla dari rambut Ahreum -bau khas Ahreum.

“Mungkin karena tadi dia habis bersama dengan Minho, si ketua sosis itu,” ujar Kai sambil menarik Ahreum ke sisinya. Kai mendekatkan kepalanya ke tengkuk Ahreum untuk mencium aroma tubuhnya dan Kai tak mencium bau yang aneh.

Chanyeol menggelengkan kepalanya, menolak pernyataan Kai. “Bukan, bau ketua sosis itu masih normal. Tapi Ahreum baunya busuk. Ini seperti… Aku pernah mencium bau ini dan ini tidak asing. Ini seperti bau…,” mata Chanyeol langsung membulat panik akibat pemikirannya sendiri. Ia lalu memandangi Ahreum dan Kai bergantian. Ada sesuatu yang ingin dia utarakan, tapi karena ada Ahreum disana, Chanyeol jadi menahan tebakannya. Ia khawatir Ahreum akan takut jika dirinya mengutarakan tebakannya.

Kai mengerti akan sinyal yang diberikan Chanyeol. Ia pun berusaha mengalihkan perhatian Ahreum, agar tidak bertanya lebih lanjut mengenai bau badannya yang katanya tidak enak itu.

“Bagaimana kalau kamu tidur dulu, cantik? Hari ini cukup melelahkan bukan?” ujar Kai. “Chen Hyung, kamu mau menemani Ahreum tidur malam ini kan?”

Kai lalu menyerahkan Ahreum pada Chen. Setelah Ahreum masuk ke kamarnya bersama Chen, barulah Kai bercerita pada rekan-rekannya yang masih berkumpul di ruang tengah.

“Apa itu benar, Kai? Bau Ahreum itu apa karena anak buah Xenos? Aku yakin betul kalau bau itu adalah bau salah satu assassin asuhan Xenos,” tanya Chanyeol panik.

“Kurasa iya. Ahreum tadi bilang kalau ia dikejar-kejar seseorang. Dan itu pasti anak buah Xenos. Pasti mereka yang membuka gerbang itu. Aku bisa merasakan kehadirannya disana. Dan mereka berhasil menemukan Ahreum,” geram Kai.

Kai lalu menceritakan segala hal yang ia dengar dari mulut Ahreum tadi pada semua rekannya. Perasaan semuanya bercampur aduk mendengar cerita Kai.

“Baiklah, mulai sekarang jangan pernah kalian lengah sedikitpun. Kita akan membagi beberapa kelompok untuk mengecek dimanakah anak buah Xenos itu bersembunyi,” titah Suho. “Tapi kurasa kita harus menunggu Kris Hyung untuk membuat keputusan,”

.

.

.

Karena Chanyeol bilang kalau badannya bau, Ahreum pun memutuskan untuk mandi –berhubung sudah malam, Ahreum memutuskan untuk tidak keramas. Setelah keluar dari kamar mandinya, Ahreum langsung beranjak ke kasur dan berbaring disana. Meski sudah berusaha untuk menutup matanya, tapi Ahreum tetap tak bisa tidur. Ia akhirnya berpaling melihat Chen yang duduk di ujung kasurnya.

“Chen, aku tidak bisa tidur. Bisakah…bisakah kamu panggilkan Baekhyun?” ujar Ahreum.

“Kenapa dengan Baekhyun?”

“Karena biasanya ketika aku tidak bisa tidur, Baekhyun akan menyanyikanku sebuah lagu untukku. Dan itu bisa membuatku tertidur, Chen,”

“Aku juga bisa nyanyi,” ujar Chen yang lalu beranjak ke samping Ahreum. “Kamu mau mendengar suaraku?”

Ahreum rasa akan tidak sopan jika ia menolak tawaran Chen, jadi Ahreum mengangguk dan mengizinkan Chen untuk menina-bobokan dirinya. Tak apa jika bukan Baekhyun, yang penting ia bisa tidur malam ini. Ahreum lalu mengisyaratkan Chen agar naik ke kasurnya. Chen pun duduk disamping Ahreum yang sudah berbaring. Dan lalu Chen melantunkan lagu yang sama seperti yang selalu Baekhyun nyanyikan pada Ahreum.

“Kamu tahu lagu ini juga, Chen?” sela Ahreum.

“Ini lagu yang kami, aku dan Baekhyun, buat ketika masih kecil dulu, sebelum akhirnya kita berpisah,” jawab Chen.

Ahreum mengangguk mengerti. Dan ia pun mencoba untuk tertidur diiringi nyanyian dari Chen. Baru kali ini Ahreum benar-benar berusaha untuk bisa tidur. Biasanya jika ia menemukan tempat yang nyaman ataupun tempat yang empuk, Ahreum akan langsung tertidur hanya dalam hitungan menit saja. Tapi tidak dengan kali ini, Ahreum tidak bisa tidur. Ini semua karena ia masih menyimpan rasa bersalahnya terhadap para pengawalnya dan ia juga belum sempat meminta maaf (lagi) pada mereka atas semua ucapan dan tindakannya. Ia bahkan sudah melupakan ketakutannya tadi, karena pikirannya dipenuhi oleh rasa bersalah.

Chen baru saja merapikan selimut Ahreum, ketika gadis itu mendengar pintu kamarnya terbuka. Ahreum tak tahu siapa yang mendatangi kamarnya malam ini karena ia masih berusaha untuk terlihat sedang tertidur agar tidak membuat Chen khawatir. Ahreum kini merasakan Chen mulai beranjak dari kasurnya dan sepertinya menghampiri orang yang berada di pintu kamarnya.

“Dduizhang, kamu mau menemani Ahreum malam ini?” Napas Ahreum nyaris tercekat mengetahui siapa yang mengunjunginya malam ini. Hanya ada satu orang yang dipanggil Dduizhang di antara dua belas pasukan pengawal khusus. Hanya Kris seorang. Mengetahui Kris mengunjungi kamarnya membuat debar jantung Ahreum berpacu cepat.

“Tidak. Aku hanya ingin memastikan keadaannya saja. Kamu temani saja dia lagi,” suara Kris terdengar seperti sedang berbisik, mungkin ia khawatir Ahreum akan terbangun.

“Tapi malam ini kan giliranmu jaga, Dduizhang. Walau aku ingin menjaga Ahreum, tapi aku juga memiliki tugas yang lain kan?”

Ahreum mendengar Kris menghela napas panjang. Sepertinya Kris sudah menyerah terhadap ucapan Chen. Ahreum kini mendengar pintu kamarnya sudah tertutup. Ahreum tahu ada yang tinggal di kamarnya, karena ia merasa seseorang kini sedang melubangi punggungnya dengan tatapan mata mereka. Tapi seberapapun Ahreum ingin berbalik untuk melihat siapa yang ada di kamarnya, Ahreum tetap pada posisinya memunggungi pintu kamar. Cukup lama orang itu terus berada di posisinya dan hal ini justru malah membuat Ahreum merasa makin tidak nyaman. Tak tahan, akhirnya Ahreum memutuskan untuk bangun dan berbalik untuk melihat siapa yang ada di kamarnya saat ini –walau Ahreum sudah tahu jawabannya.

Kaget melihat Ahreum yang sudah bangun, membuat Kris –yang sedari tadi berdiri di balik pintu masuk– langsung menundukkan kepalanya. “Maaf membuatmu terbangun. Aku akan kelu-,”

“Kemarilah,” titah Ahreum.

Meskipun Kris ingin menghampiri Ahreum, tapi kalau mengingat betapa bencinya Ahreum terhadap dirinya, membuat Kris tetap terpaku di tempatnya. Apalagi Ahreum berkata untuk jangan pernah menunjukkan dirinya di hadapan Ahreum.

“Kemarilah, dengan begitu aku bisa minta maaf padamu dengan benar,” ujar Ahreum lembut.

Kris akhirnya mengangkat kepalanya untuk menatap Ahreum. Kris melihat sudah tidak ada lagi sinar kebencian di mata Ahreum. Ragu-ragu Kris pun menghampiri kasur Ahreum.

“Maaf aku membangunkanmu,” ujar Kris pelan begitu sampai di hadapan Ahreum.

Ahreum menggelengkan kepalanya. “Aku juga belum tidur dari tadi,”

Keduanya lalu terdiam. Kris masih berdiri tak jauh dari ranjang Ahreum sementara Ahreum sibuk berpikir akan kalimat apa yang pas untuk meminta maaf pada Kris. Ahreum masih ingat apa pesan Jei. ‘Bahagiakan dirimu sendiri dulu baru kamu bisa bahagiakan orang lain. Kalau kamunya saja tidak bahagia, bagaimana bisa kamu membuat orang lain bahagia’ itulah yang pernah dikatakan Jei dulu. Dan Ahreum memutuskan untuk membahagiakan dirinya sendiri dulu. Caranya? Dengan menikmati hari-harinya bersama dua belas pengawalnya yang selalu memberikannya senyuman, tanpa mempedulikan apapun yang akan orang lain lakukan terhadap hubungan mereka. Ahreum akan memikirkan perasaannya sendiri mulai detik ini.

“Maaf,” ujar Ahreum memecah keheningan di antara mereka. “Aku sudah berlaku sangat jahat padamu. Harusnya aku tak membentakmu seperti itu di hadapan anak-anak yang lain. Maaf karena sudah menjatuhkan harga dirimu seperti itu. Aku benar-benar sudah gagal menjadi putri kalian.”

“Ahreum, akulah yang salah. Kamu tak perlu minta maaf seperti-,”

“Tidak, Kris. Aku yang salah. Aku menyalahkanmu atas kesalahanku sendiri. Aku sungguh merasa bersalah padamu, jadi maafkan aku,” Ahreum memotong ucapan Kris.

Ahreum sudah menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia akhirnya meminta maaf juga pada Kris. Padahal biasanya walaupun ia melakukan kesalahan pada Kris, Ahreum tak akan pernah mau minta maaf pada Kris. Tapi kejadian hari ini, kejadian dimana ia nyaris saja celaka serta semua nasihat dari Jei membuat Ahreum berpikir kalau ia harus bersikap baik pada semua pengawalnya. Jadi meskipun ia harus menundukkan kepalanya, akan Ahreum lakukan agar ia bisa mendapatkan ketenangan hati. Karena memang hanya ketika bersama merekalah, Ahreum bisa merasa tenang dan tentram.

“Kalau begitu aku juga mau minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan padamu. Aku tahu kalau kamu jadi seperti ini padaku karena hal yang aku lakukan di Dokdo dulu. Maafkan aku dan kumohon kembalilah jadi Ahreum yang dulu,” ujar Kris pelan.

Ahreum menundukkan kepalanya semakin dalam. Kris kembali mengingatkannya pada kejadian di pulau Dokdo dulu. “A-aku j-juga sudah m-melupakannya,”

Suasana di antara mereka kini kembali kaku. Ahreum akhirnya berdehem untuk mengusir kecanggungan di antara mereka. “Jadi… apa kita sudah baik sekarang?”

“Memangnya kita pernah tidak baik?” ujar Kris.

“Kurasa kita sudah lebih baik dari sebelumnya,” akhirnya Ahreum mengangkat kepalanya untuk menatap Kris. Kembali menatap mata Kris dan menyaksikan senyumannya yang meneduhkan itu, mendatangkan lagi perasaan aneh di tubuh Ahreum. seolah ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. Ahreum juga merasakan kalau wajahnya mendadak menghangat tanpa diminta. Ahreum memegangi kedua pipinya untuk meredam rasa hangat itu, serta untuk menutupi wajahnya dari Kris –karena Ahreum tahu persis kalau wajahnya kini sudah memerah.

“Tidurlah. Aku tak mau menjadi alasan mood burukmu besok pagi,” Kris menghampiri Ahreum untuk kembali merebahkan gadis itu di kasurnya.

Ahreum menarik selimutnya hingga menutupi sebagian wajahnya –dengan begitu Kris tak melihat betapa merahnya wajah Ahreum saat ini. Ia memandangi Kris yang tengah merapikan selimutnya. Ahreum terus mengamati Kris hingga pemuda itu duduk di ujung ranjangnya.

“Kris..,” panggil Ahreum. Kris menoleh untuk menatap Ahreum.

“Aku… mengizinkanmu untuk mendekatiku lagi. Jadi kamu tak perlu duduk sejauh itu,”

Ahreum lalu menutup seluruh wajahnya dengan selimut. Ia tahu kalau wajahnya pasti sudah sangat merah akibat ucapannya itu. Di dalam selimutnya Ahreum memegangi dada kirinya, berusaha meredam debaran di dalam dadanya yang kini malah makin liar –juga agar jangan sampai Kris mendengar debaran jantungnya. Walau jantungnya berdebar cepat, tapi entah kenapa Ahreum menyukai rasa itu, rasa aneh yang menyenangkan. Ahreum kini mendengar Kris beranjak dari ujung kasur dan duduk di sampingnya. Dan Ahreum menyesal sudah menyuruh Kris untuk mendekat padanya, karena debar jantungnya justru malah semakin menjadi-jadi.

.

.

.

Malam ini semua pengawal Ahreum kembali berpencar ke sekeliling kota untuk mencari jejak anak buah raja Xenos yang mereka yakini berhasil datang ke bumi. Semua pengawalnya kecuali Tao –yang kebagian menjaga Ahreum malam ini –serta Chanyeol dan Lay –yang kebagian jaga di sekitar bukit –pergi ke tempat-tempat yang memungkinkan di datangi oleh assasin tersebut. Beberapa hari yang lalu Kai memang sempat membawa Ahreum berkeliling kota untuk mengelabui assasin tersebut. Kai tahu kalau anak buah Xenos pasti akan mencari tahu dimana Ahreum berada, karenanya ia tak mau mengambil resiko dengan langsung ber-teleport ke rumah.

Ahreum sendiri tidak tahu kalau ada mata-mata raja Xenos yang turun ke bumi. Karenanya ia bisa menjalani hari-harinya dengan aman dan tenteram. Ia tak pernah bertanya-tanya kenapa setiap malam pengawal yang tinggal di rumahnya hanya ada 3-4 orang saja. Ia hanya berpikir mungkin pengawal-pengawalnya itu sedang melatih kekuatan mereka saja di luar rumahnya.

Dan saat ini Kai dan Baekhyun sedang berada di sekitar komplek apartemen Jei. Mereka diperintahkan Kris untuk berjaga di sekitar orang-orang yang dekat dengan Ahreum. Mereka tak mau mengambil resiko (resiko kalau assasin tersebut mengincar orang-orang terdekat Ahreum agar Ahreum keluar dari persembunyiannya) yang memungkinkan akan membuat Ahreum sedih dan khawatir. Karena kini di Korea Selatan sedang marak dengan kasus orang-orang yang mendadak menghilang. Knight dan Mastermind tahu kalau ini adalah ulah dari assasin tersebut.

“Apa kamu merasakannya, Kai?” tanya Baekhyun.

“Tidak dimanapun juga. Apa sebaiknya kita berpencar, hyung?” usul Kai.

“Tidak. Kris hyung bilang berdua lebih baik. Selain itu aku membutuhkanmu untuk melindungiku, Kai,” ujar Baekhyun sedikit bergurau untuk mengurangi ketegangan diantara mereka.

Kai berusaha untuk ikut tertawa mendengar gurauan Baekhyun. Ya, sudah beberapa hari ini mereka terus merasa was-was dan khawatir. Setidaknya sedikit gurauan bisa sedikit mengurangi rasa tegang mereka. Kai harus merasa bersyukur karena saat ini ia bersama dengan Baekhyun. Walau kemampuan berkelahi Baekhyun tidak sehebat dirinya, tapi Baekhyun memiliki kekuatan yang ditakuti oleh seluruh anak buah raja Xenos, yaitu cahaya. Xenos dan pasukannya sangat anti cahaya. Karenanya Exoland menjadi tanah yang gelap dan kelam. Sebab kegelapan adalah sumber kekuatan mereka. Apalagi keduanya tahu persis betapa Xenos sejak dulu ingin membunuh Baekhyun karena kekuatannya itu. Makanya perlindungan penuh diberikan pada Baekhyun sejak ia masih belum menjadi anggota Knight.

“Kemarin Xiumin hyung bilang kalau dia melihat makhluk itu di sekitar sini. Kurasa makhluk itu masih penasaran akan kehadiran Ahreum disini,” ujar Baekhyun.

“Tidak tidak tidak. Aku tidak penasaran sama sekali,” sela sebuah suara.

Kai dan Baekhyun langsung berbalik menghadap ke sumber suara. Mereka juga memasang posisi siaga –siap menyerang. Karena kini mereka melihat sebuah sosok muncul dari arah pepohonan rimbun yang ada di pertamanan komplek apartemen Jei. Meski tak terlihat siapa yang muncul di hadapan mereka, tapi Kai dan Baekhyun tahu kalau makhluk itu adalah anak buah Xenos, terbukti dari aura kelam yang memenuhi daerah pertamanan ini. Mata merah dari makhluk itu tampak berkilat-kilat, satu-satunya yang tampak jelas karena makhluk itu sendiri berada di bawah bayang-bayang.

“Lama tak berjumpa, Baekhyun dan Kai. Apa kalian masih mengenaliku,” tegur makhluk itu. Walaupun ia berdiri di balik bayang-bayang pepohonan, tapi Kai bersumpah kalau ia bisa melihat sebuah seringai menghiasi wajah makhluk itu.

“Apa yang kamu inginkan, N?!” bentak Baekhyun. Tanpa perlu melihat wajah ataupun wujudnya, Baekhyun sudah tahu siapa yang mengunjungi mereka, hanya dari suaranya saja.

N, nama makhluk itu, bergerak maju hingga wujudnya terlihat dibawah jangkauan lampu taman. Ia mengangkat kedua tangannya di udara, seolah sedang menyerahkan diri pada Baekhyun dan Kai. “Oh lihatlah. Aku tak berniat menyerang kalian. Bukankah kalian tahu persis kalau aku sendirian bisa mengalahkan empat sampai lima dari kalian. Jadi aku tak mau membuang-buang waktuku untuk pecundang seperti kalian.”

Ingin sekali Kai menyerang N. Tapi sayangnya Baekhyun sudah menahannya agar tidak menyerang duluan. Apalagi kini N sudah memasang pose arrogan-nya pada mereka.

“Tinggalkan tempat ini sekarang juga, N. Jangan pernah mencoba berpikir kamu bisa melakukan sesuatu disini,” ancam Baekhyun.

“Tidak, Baekhyun. Sungguh tidak seperti itu. Kenapa kamu picik sekali, Baekhyun. Tempat ini sungguh membosankan untukku. Pepohonan, matahari, serta manusia-manusia disini membosankan. Kenapa kalian betah tinggal disini, pengkhianat? Apa karena disini jauh lebih bercahaya daripada negerimu sendiri? Menyedihkan. Tunggu saja sampai aku membuat dunia ini sama seperti Exoland,” N mencoba menyerang mereka lewat verbal.

Kai sudah mengepalkan tangannya dengan geram. Sungguh ia ingin sekali meninju makhluk berambut merah itu. Apalagi seringainya yang kini tampak jelas menghiasi wajah N, membuat Kai berusaha keras untuk menahan emosinya. Kai akhirnya menyahuti ucapan N. “Lalu apa yang kamu inginkan disini, hah?! Kalau tujuanmu untuk membun-,”

“Tidak tidak. Sama sekali tidak ada niatan seperti itu,” sela N lagi. “Aku kesini hanya untuk menyapa putri itu. Dia ternyata mirip sekali dengan Putri Ara. Ia lemah dan tak berguna serta penakut persis seperti Putri Ara yang melarikan diri dari negeri kalian. Apa kalian yakin dia itu bukan Putri Ara? Walau wajahnya mirip tapi aku tak melihat garis darah mendiang Janus di diri gadis itu. Sama sekali tidak ada yang spesial,”

Itulah saat Kai kehilangan kesabarannya. Ia akhirnya menyerang N, yang sayangnya meleset karena N sudah terlebih dulu menghindar. Kekehan tawa N menggema ke seluruh penjuru taman sementara sosoknya sudah kini menghilang.

“Tak perlu emosi begitu, Knight. Kalau aku berniat membunuhnya, sudah aku bunuh dia ketika aku pertama kali menemukannya disini. Bukankah sudah kubilang kalau aku hanya menyapanya saja,”

Kai dan Baekhyun menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari dimana N bersembunyi. Tapi nihil, karena di taman ini penuh dengan tempat yang remang-remang, jadi sangat mustahil untuk menemukan dimana N bersembunyi.

Baekhyun akhirnya membuka kedua kepalan tangannya. Dari telapak tangannya tampak cahaya muncul. Tak lama kemudian daerah pertamanan ini menjadi terang benderang karena semua lampu taman memancarkan cahaya 100 kali lebih terang dari cahaya normal. Jika ada penghuni komplek apartemen ini yang melihat ke arah taman, mungkin mereka akan mengira sedang ada konser dadakan di komplek mereka –karena cahaya lampunya setara dengan konser tahunan yang selalu diadakan Korea Selatan.

“Tenanglah, Knight. Sudah kubilang kalau aku tak berniat berurusan dengan kalian. Aku mau menyampaikan pesan untuk kalian,” suara N masih menggema. “Kalian tentu tahu, dalam satu galaksi hanya ada satu matahari. Dan setiap planet hanya memiliki satu bulan. Tidak ada dalam satu susunan tata surya terdapat dua matahari atau dua bulan. Itu akan mengacaukan sistem tata surya,”

Kai dan Baekhyun masih mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman. Mereka berusaha mencari dimana Na berada. Mereka juga bersiaga agar jangan sampai mereka lengah ketika N menyerang mereka.

“Karenanya hanya boleh ada satu raja di negeri kita. Dan hanya boleh ada satu putri yang nantinya akan memimpin kita. Jika ada putri yang lain, maka itu akan mengacaukan kerajaan kita. Kalian tentu tak ingin Exoland tambah kacau bukan. Jadi sebaiknya menyerah sajalah terhadap putri yang hilang itu. Jika kalian menyerah, mungkin Putri Ai akan membiarkan putri kecil itu tetap hidup. Tentu kalian tahu kalau Putri Ai tidak akan tinggal diam mengetahui ada yang mencoba merebut negeri yang dicintainya,”

“Sejak dulu Exoland bukanlah milik Xenos ataupun Ai!!! Exoland adalah milik raja Janus dan keturunannya!! Xenoslah yang merebut Exoland dari raja kami!!” seru Kai.

“Terserah kalian,” kali ini suara N terdengar dari arah langit. Kai dan Baekhyun mendongakkan kepala mereka dan melihat N sudah terbang ke langit. “Aku hanya menyampaikan pesan putri Ai. Tinggalkan putri itu jika kalian masih ingin melihatnya hidup. Jangan sampai putri Ai datang kesini untuk membunuhnya. Sampai bertemu lagi, Knight. Salam buat Kris dan yang lainnya,”

N pun menghilang di langit. Kai dan Baekhyun masih memandangi langit untuk menyaksikan gerbang penghubung Exoland-bumi tertutup. Setelah gerbang itu tertutup barulah mereka menghela napas mereka, seolah mereka sudah menahannya sejak tadi.

“Dia kembali ke Exoland,” ujar Kai memecah keheningan diantara mereka.

Baekhyun mengangguk perlahan, masih sambil melihat langit. “Kita harus segera mengabari Kris hyung dan Suho hyung mengenai hal ini. Mengenai ancaman putri Ai,”

“Menurutmu apa kita harus mengikuti ucapannya, hyung?” tanya Kai khawatir.

Bukannya Kai takut akan ancaman N, tapi ia hanya tak ingin Ahreum berada dalam bahaya. Jika meninggalkannya bisa membuat Ahreum tetap hidup tenang, maka itu yang akan Kai lakukan –walau sepertinya mustahil baginya untuk bisa jauh dari Ahreum apalagi ia sudah terjerat begitu dalam pada Ahreum.

“Kamu pikir putri kejam itu akan menepati janjinya? Kamu ingat apa yang ia katakan dulu mengenai rakyat bisa mendapatkan sedikit cahaya jika kita berhenti menyerang kerajaan? Tapi ia tetap membuat Exoland gelap gulita meskipun kita tak melakukan apa-apa terhadap kerajaannya,” sahut Baekhyun. Ia masih cukup geram jika mengingat penderitaan rakyat Exoland akibat kekejian raja Xenos dan putrinya.

“Aku hanya tak ingin Ahreum terluka,” ujar Kai pelan.

Baekhyun pun menghembuskan napas panjang. “Kita semua juga tak ingin Ahreum celaka, Kai. Karenanya mulai malam ini kita harus berlatih lebih giat lagi agar bisa mengalahkan pasukan putri Ai, jika ia sampai datang ke bumi nanti. Ancamannya ini tak bisa kita anggap sepele, Kai.”

.

.

.

Di sebuah negeri antah berantah, yang berbeda ruang dan waktu dengan bumi, ada sebuah negeri yang kelabu seolah tak ada makhluk yang hidup disana. Negeri itu adalah Exoland, sebuah tanah magis yang dihuni oleh manusia-manusia dengan kekuatan supranatural. Negara tersebut dipimpin oleh sebuah kerajaan yang sama kelamnya dengan kehidupan di negeri itu.

Tampak seorang pemuda berambut merah menyala tengah berjalan tergesa-gesa melintasi koridor kerajaan tersebut. Pemuda itu, N, baru saja kembali dari bumi setelah sempat bertemu dengan beberapa Knight untuk menyampaikan sebuah ancaman pada mereka. Ia kembali ke kerajaan untuk melaporkan hasil kerjanya kepada komandannya.

“Ahh, N! Kamu kembali,” tegur seorang pemuda berbaju ala ksatria dengan pelindung besi di badannya dengan riangnya.

N membalikkan badannya dan memandangi pemuda tampan yang memakai atribut serba hitam itu. N tidak bereaksi apapun terhadap pemuda itu. Ia hanya memandangi pemuda berbaju ksatria itu dengan ekspresi sangat datar, tanpa emosi. Sangat berbanding terbalik dengan pemimpinnya tersebut yang kini sudah menghampiri N sumringah.

“Bagaimana bumi? Kukira kamu betah disana. Apa kamu sudah menjalankan tugasmu?” tanya pemuda berbaju ksatria tersebut.

“Tidak ada yang spesial disana. Panas dan penuh cahaya, membuat sakit mata saja. Dan aku sudah melaksanakan pesanmu. Aku bertemu dengan putri itu,” sahut N acuh.

“Dan bagaimana dia? Apa benar dia seperti putri Ara?”

N mengacuhkan pertanyaan pemuda berbaju ksatria itu. Ia malah mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan pemimpinnya. Di sudut ruangan N menemukan sebuah meja kecil dengan sebuah teko dan beberapa gelas di atasnya. N pun menghampiri meja tersebut, menuangkan cairan hitam pekat dari dalam teko ke gelasnya lalu meminumnya. Setelah selesai minum, N lalu duduk di bangku yang ada di samping meja tersebut, merebahkan dirinya sambil menutup kedua matanya untuk beristirahat sejenak.

“Aku belum menyuruhmu untuk duduk, N,” tegur pemuda berbaju ksatria tersebut.

“Tapi aku lelah! Apa kamu tak tahu kalau membuka gerbang Exoland itu membutuhkan tenaga besar?!!” bentak N.

Pemuda berbaju ksatria itu hanya diam mendengar bentakan N. Diantara segelintir pasukannya, memang hanya N seorang lah yang bisa membentak dirinya. Tapi pemuda berbaju ksatria itu tak marah apalagi kesal pada N. Karena ia tahu persis, jika N kesal sedikit saja, maka kerajaan ini bisa hancur di porak-poranadakannya.

Melihat pemimpinnya tidak menegur apalagi memarahinya, membuat N jadi sadar diri. Ia pun duduk tegak untuk menunjukkan setidaknya sebuah sopan santun pada pemipinnya. “Aku sudah bertemu dengannya. Tak ada yang spesial. Tak ada kekuatan super, aku sudah menghampirinya dan mengucapkan salam padanya sesuai perintahmu,”

Pemuda berbaju ksatria tampak mengangguk-anggukan kepalanya. “Lalu bagaimana dengan Knight dan Mastermind? Apa kamu mengikuti mereka? Apa yang kamu temukan?”

“Mereka sangat melindungi putri itu. Tapi aku sudah sampaikan pesanmu padanya. Tinggal kita lihat saja, apa mereka melaksanakan pesanmu atau tidak,” sahut N acuh.

“Tentu saja tidak akan mereka laksanakan. Baiklah, kamu istirahat saja dulu. Kumpulkan lagi tenagamu karena kita akan segera mendatangi mereka. Aku akan ke tempat putri Ai untuk menyampaikan berita ini padanya,” dengan begitu pemuda berbaju ksatria tadi menghilang meninggalkan N  yang kini sudah tertidur.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

logo1

The twenty thrid chapter is out!!!

안녕!

Yuhuuuuuu bee’s finally back!! Sebelumnya Minal Aidin Wal Faidzin – Mohon Maaf Lahir dan Batin. Maaf yah reader tercinta karena udah menunggu terlalu lama (emang ada yg nungguin?? ㅋㅋㅋㅋ), maaf karena meninggalkan kalian buat hiatus panjang, maaf karena beautiful life akan segera berakhir. Maapin yak. MERDEKA!!!

Whutt?!! Beautiful life berakhir?! Gasalah?! Ciyusan?! Miapah?! #slap

Yupp mega series multichapter Beautiful Life akan segera berakhir. Bukannya bee pernah bilang kalo series ini ga bakal nyentuh angka 30 kan? Selain itu bee juga blg kl bee udah buat endingnya (udah ada 2chapter malah), dan dari chapter ini menuju ending itu kira2 bakal ada 2-3 chapter.. Jadi yaaa kira2 5chapter lagi selesai lah.. (Kl 5 berarti ga nyampe 30 kan?? *mendadak ga bs itung*)

Dan yeyelalala yeyeyelalalala #plakk

Ahreum baikan sama Kris. Episode berikutnya mau yang normal-normal ajalah yaa,, Btw ada yg bisa nebak bee bakal pake idol siapa buat putri ai?? Namanya sama kok. Juga silakan tebak siapa yang jadi pemimpinnya N, si pemuda berbaju ksatria serba hitam? Dia bukan raja xenos loh, tapi semacam komandan perang, yaah sama kaya Suho di Knight ato Kris di Mastermind gitu lah. Yg bs nebak berarti canggih, bisa baca pikiran bee -__-”

Okesipp bee pamit undur diri *kali ini pamitnya ga pake hiatus lohh* sampai jumpa minggu depan!!!

안녕!! 뿅! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 24 – Menace From The Darkness | PG15

13 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 24 – Menace From The Darkness | PG15

  1. NadChaCha says:

    Akhirnyaaaaa, yg ditunggu dtng juga 😀
    Aku kira tdi Ahreum nya ga selamat/lg diparkiran mobil/?, ga tau nya lg sm Minho._.
    Kai teleport nya disembarang tempat, smpe bikin mobil orang penyok/?. Gantiin Kai, mobil orang tuh, mahal xD
    Ecieh, KrisReum balikan lagi xD
    Itu Ahreum tau bukan Putri Ara, jelas beda lah -_- ._.
    Putri ai, itu kata aku Ailee, bener ga? 😀 kan sm2 Ai eonn._.
    Yg jadi raja nya Kai/Luhan ya eonn, peuhlis/?
    Tp klo bukan jg gpp sih.-.
    Mau tamat? Yah? Aku kira masih panjang :(, nanti klo udh tamat bikin sekuel nya ya eonn._.V
    Ditunggu kelanjutannyaaaaaaa 😀

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s