FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 23 – Searching The Princess | PG15


beautiful-life

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter 23 – Searching The Princess

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

Other Cast:

Jiyeon T-ara as Park Jiyeon

Jei Fiestar as Jei

Onew Shinee as Onew

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life,

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Enchanted

Chapter 23 | Searching The Princess

.

.

.

.

Searching The Princess

.

.

.

.

.

Sudah hampir sejam lebih Jei menemani Ahreum, tapi tak ada sepatah kata apapun yang terucap dari mulut Ahreum selain sapaan ketika mereka bertemu tadi. Jei sendiri cukup sabar untuk tak bertanya apa yang sedang terjadi. Tadi begitu menelepon Ahreum, secara tiba-tiba gadis itu menangis minta di jemput untuk dibawa ke tempat yang jauh dari rumahnya. Jei cukup kaget mendengarnya. Karenanya ia menjemput Ahreum di stasiun dekat apartemennya dan membawanya ke taman bermain di dekat apartemen Jei, tempat yang sempurna untuk melepas stres. Keduanya duduk di ayunan tanpa berniat untuk bermain dengan ayunan tersebut.

Setelah tak tahan dengan keheningan yang terjadi diantara mereka, Jei pun buka suara.

“Aku tak pernah mengajarkanmu untuk melarikan diri kan, Ahreum? Sekarang ceritakan ada masalah apa?? Udara sudah semakin dingin disini. Atau kita mengobrol di apartemenku saja?” ujar Jei.

Ahreum menghela napas panjang. Akhirnya ia bercerita pada Jei. Bahwa ia bertengkar dengan Jiyeon. Bahwa ia juga bertengkar dengan orang rumahnya karena mereka sudah membuatnya bertengkar dengan Jiyeon. Semua tentang kegundahan hatinya ia ungkapkan pada Jei; tapi tidak dengan cerita mengenai Kris mencuri ciuman pertamanya.

“Aigoo Ahreum. Kupikir kamu meneleponku karena kamu baru saja kehilangan rumah beserta isinya. Ternyata hanya masalah seperti ini,” ujar Jei.

“Mungkin bagi eonni masalah ini terlihat sepele, tapi ini sangat berat untukku,” gumam Ahreum.

Jei akhirnya mulai mengayunkan ayunannya.

“Kamu yang salah, Ahreum,” ujar Jei sambil berayun pelan. “Kamu marah pada orang rumahmu karena dia mengusir temanmu. Kamu benci tindakannya itu kan? Lalu kenapa kamu melakukan hal yang sama pada mereka? Kamu mengusir orang rumahmu hanya karena kamu pikir dia sudah menyakiti temanmu. Kamu sama saja seperti mereka.”

Jei kini sudah berhenti berayun dan berpaling melirik Ahreum di sebelahnya. “Kamu lebih membela orang yang baru berteman denganmu dibandingkan dengan orang yang sudah ada disampingmu ketika kamu bukan siapa-siapa. Itu adalah kesalahanmu nomor dua,”

“Dan kesalahanmu yang terakhir adalah kamu bersikap tidak adil, Ahreum. Lihatlah posisimu saat ini. Kamu berada diantara temanmu dan orang rumahmu. Kalau kedua pihak itu berselisih paham harusnya kamu jadi penengah, bukannya malah menyalahkan yang satu dan membela yang lain. Bagaimana kamu bisa mendapat banyak teman kalau kamu tidak bisa bersikap adil pada orang-orang disekitarmu?” Jei menutup kalimatnya dengan kembali berayun.

“Kamu itu pahlawan Korea, Ahreum. Seorang pahlawan itu membela kebenaran dan melawan kejahatan. Tapi seorang pahlawan tak boleh asal bertindak. Dia harus melihat dari berbagai sisi, mana yang baik dan mana yang tidak. Mana yang harus dibenarkan dan mana kesalahan yang harus diperbaiki,”

Ahreum terdiam mencerna semua ucapan Jei. Awalnya Ahreum sedih dan tertekan karena merasa sudah gagal menjadi seorang teman. Kini ia malah merasa kalau ia telah menjadi calon ratu yang gagal. Ia merasa gagal menjadi seorang pemimpin karena ia tak bisa bersikap adil pada pengawalnya sendiri. Ia gagal menjadi seorang ratu karena mengabaikan pengawalnya dan malah membela yang bukan kaumnya. Ucapan Jei berhasil membuka pemikirannya yang sempat gelap. Ahreum benar-benar tak tahu lagi ia harus memakai hukum apa disini.

“Aku ini makhluk gagal ya, eonni?”

Jei kembali berhenti berayun. Ia kini sudah turun dari ayunannya dan berdiri di hadapan Ahreum. Jei sedikit membungkuk untuk menyejajarkan pandangannya dengan Ahreum.

“Tidak ada makhluk gagal di dunia ini. Makhluk gagal hanyalah sebutan bagi mereka yang tidak mau memperbaiki kesalahannya. Sekarang lebih baik kamu pulang dan minta maaf pada orang rumahmu. Lalu tanyakan pada mereka, kenapa mereka bersikap kasar pada temanmu itu,” nasihat Jei.

Ahreum memandangi Jei. Lagi-lagi ia mengulangi kesalahan yang sama. Kemarin dulu ketika ada kasus dengan Minho, Ahreum juga mengusir pengawalnya. Dan kini ia melakukannya lagi. Ahreum pun menyadari kesalahannya. Ia sadar betul kalau ia sudah bertindak tidak adil terhadap Kris.

“Bertengkar sesama teman itu wajar, Ahreum. Kamu tak perlu panik dan menyalahkan keadaan. Aku paham kenapa kamu bisa sampai seperti ini. Kamu kan besar di gunung tanpa teman, jadinya wajar kalau kamu tak mengerti cara bergaul yang baik,” gurau Jei.

“Eonni, kamu mengatakannya seolah aku ini makhluk primitif-,”

Ucapan Ahreum terputus karena ponsel Jei berteriak nyaring pertanda telepon masuk. Air muka Jei langsung ceria begitu melihat siapa yang meneleponnya.

“Ne Onew-ya,” sahut Jei manja pada ponselnya.

Ahreum sampai takjub melihat perubahan ekspresi Jei yang tadinya dewasa dan berwibawa menjadi manja dan kekanakan.

“Siapa?? Ahreum??” tanya Jei sambil melirik Ahreum. Tampaknya Onew bertanya tentang Ahreum, karena Jei tampak memandangi Ahreum penuh arti. “Ohh, Lubaek kembali ke cafe untuk mencari Ahreum. Kenapa? Dia kabur dari rumah? Bagaimana bisa?! Apa saja kerja mereka?! Tinggal serumah tapi tak tahu kemana Ahreum pergi?!” Jei mengomel dan berpura-pura panik.

“Baiklah, nanti kalau ketemu Ahreum aku akan langsung menyuruhnya pulang. Hmm.. Nee.. Kamu kapan pulang? Aku tunggu di rumah ya. Eung.. Saranghae,” Jei pun mengakhiri teleponnya.

Sungguh, kalau tidak mengingat bahwa Jei adalah panutannya mungkin Ahreum sudah muntah sekarang melihat tingkah Jei. Karena Jei menelepon sambil menunjukkan gestur-gestur yang sangat menggelikan –jika dilihat oleh Ahreum. Jei menelepon sambil mengayun-ayunkan kakinya di pasir, sesekali ia memainkan rambutnya, dan klimaksnya adalah Jei berbicara sambil menunjukkan ekspresi wajah yang sayangnya tak bisa dilihat oleh Onew –yang pastinya Onew akan bahagia melihat betapa imutnya Jei saat ini.

“Kamu dengar, kan? Lubaek mencarimu. Padahal mereka sudah pulang hampir sejam yang lalu dari cafe,” ujar Jei sambil bertolak pinggang. “Sekarang kamu pulang sana. Onew sebentar lagi pulang, jadi aku tak bisa menemani kegalauanmu,”

Ahreum memandangi Jei dengan sedikit menggodanya. “Onew sunbae pulang? Kesini? Ke apartemenmu, eonni? Atau Onew sunbae sudah pindah ke daerah sini? Atau dia pindah ke apartemenmu?”

Jei mencubit kedua pipi Ahreum gemas. “Iiihh. Masih mending aku dengan Onew tinggal satu atap, toh kami akan menikah sebentar lagi. Daripada kamu tinggal satu atap dengan dua belas lelaki sekaligus plus mereka itu tak ada hubungan apa-apa denganmu. Sudah sana pulang dan minta maaf pada mereka karena sudah membuat mereka khawatir,”

Ahreum hanya meringis karena pipinya dicubit Jei. Ahreum sudah merasa lebih baik sekarang. Ahreum benar-benar bersyukur bisa bercerita pada Jei. Karena Jei bisa memberikannya solusi yang baik serta mengurangi kegalauannya.

“Aigoo. Sakit, eonni. Baiklah aku pulang sekarang,” ujar Ahreum sambil mengusap-usap kedua pipinya yang sudah pasti memerah akibat cubitan Jei.

“Ayo kuantar. Ini sudah malam, gak baik anak gadis pulang sendirian,” ujar Jei.

“Diantar? Mau mengantarku pakai apa? Mobil? Memangnya eonni bisa nyetir? Bukannya ujian SIM kemarin eonni gagal sampai 5 kali?” gurau Ahreum.

“Maksudnya kuantar naik taksi sampai ke rumahmu, Ahreum,” sahut Jei gemas.

Ahreum tertawa puas melihat ekspresi Jei saat ini. “Tidak perlu. Aku gak mau merepotkan. Lagipula Onew sunbae akan pulang sebentar lagi. Aku gak mau mengganggu acara kalian. Ini baru jam sembilan eonni. Masih banyak taksi yang bisa mengantarku pulang,”

Walau Jei terus memaksa ingin mengantarkan Ahreum pulang –karena katanya firasatnya tak enak jadi tak ingin membiarkan Ahreum pulang sendirian– tapi akhirnya Ahreum berhasil meyakinkan kalau ia akan baik-baik saja. Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Jei, Ahreum pun pergi meninggalkan komplek apartemen Jei.

.

Komplek apartemen Jei ini cukup luas. Terdiri dari sepuluh gedung apartemen berlantaikan sembilan. Di sekitar apartemen terdapat berbagai taman-taman yang cukup luas. Ada taman bunga, arena jogging, dan taman bermain anak-anak –yang disinggahi Ahreum tadi bersama Jei. Ahreum kini sudah menyusuri jalanan komplek apartemen Jei. Di daerah ini cukup remang-remang karena minim cahaya lampu jalan. Selain itu bentuk jalanannya juga menurun sehingga membuat daerah tersebut tampak suram.

Ketika sedang berjalan sambil bersenandung, Ahreum melihat ada sesuatu di ujung jalan –ditengah jalanan lebih tepatnya. Ahreum memicingkan matanya untuk melihat apa yang ada di ujung jalan. Terlihat seperti seseorang atau seekor binatang yang sedang meringkuk. Ahreum pikir itu adalah korban tabrak lari. Jiwa penolong Ahreum langsung keluar begitu melihat kejadian di hadapannya. Ahreum pun bergegas menuruni jalanan untuk menolong orang –atau hewan tersebut.

Jangan kesana, Ahreum!!

Ahreum menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan serta ke belakang mencari siapa yang berbicara padanya. Tapi Ahreum tak menemukan siapa-siapa. Ahreum kembali berjalan untuk menolong seseorang yang ada di ujung jalan.

Kembalilah ke tempat yang terang, Ahreum. Jangan kesana!! Lari!! Tinggalkan tempat ini!!

Ahreum kembali menghentikan langkahnya. Suara itu kembali menggema –suara seorang perempuan. Ahreum kembali menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari si pemilik suara. Tapi sama sekali tak ada siapa-siapa. Bulu kuduk Ahreum mendadak berdiri. Ketika Ahreum kembali melangkah, lagi-lagi ada yang meneriakinya untuk berhenti. Ahreum jadi ragu untuk turun dan menolong orang yang ada di ujung jalan.

Dan ketika Ahreum menoleh ke ujung jalan untuk melihat kondisi orang yang tadi meringkuk di jalanan, Ahreum mendapati orang tersebut sudah berdiri tegak menghadap Ahreum. Seketika Ahreum merasakan aura yang tidak enak dari ujung jalan. Ahreum pun melangkah mundur sambil terus memperhatikan orang tersebut. Ahreum bisa merasakannya, kalau orang itu memperhatikan dirinya. Kini orang tersebut sudah berlari ke arahnya. Berlari dengan kecepatan penuh.

Panik. Ahreum pun berbalik dan berlari menuju komplek apartemen Jei lagi.

Ahreum berlari sambil sesekali menoleh ke belakang. Orang tersebut sudah memperpendek jaraknya dengan Ahreum. Gadis itu makin panik, karena orang asing ini memiliki kecepatan yang luar biasa. Padahal tadinya orang tersebut berada di jarak yang cukup jauh dengan Ahreum, tapi ia kini sudah berada cukup dekat di belakangnya. Ahreum yakin kalau orang asing ini bukan manusia biasa. Bagaimana bisa dia berlari di jalanan yang cukup terjal ini dengan kecepatan seperti itu?

Ahreum kembali menoleh ke belakang. Dan orang tersebut kini sudah ada beberapa meter di belakangnya. Ahreum berhasil menangkap wajah orang tersebut dalam ingatannya. Orang tersebut adalah pria, dia memakai jubah hitam dan hanya wajahnya saja yang terlihat. Harus Ahreum akui, pemuda itu cukup tampan. Pemuda itu memiliki tatapan mata yang tajam dan menyeramkan, hidungnya mancung, dan bibirnya mengulas senyum licik pada Ahreum. Pemuda itu kini sudah berada persis di belakang Ahreum sambil menggapai gadis itu dan mengucapkan hal yang cukup membuat Ahreum ketakutan.

“Selamat malam, Putri,”

Bruk!!

Ahreum menabrak sesuatu. Panik, Ahreum pun berteriak kencang, karena kini sepasang tangan sudah mengunci tubuhnya.

.

.

.

“Kurasa dia ada bersama Jei,” ujar Onew pada dua orang karyawannya, Baekhyun dan Luhan.

“Kamu yakin, sunbae?” tanya Luhan khawatir.

Onew mengantongi kembali ponselnya. Ia baru saja menelepon Jei untuk mencari tahu apakah Ahreum bersama Jei atau tidak. Ini karena tadi tiba-tiba saja Luhan dan Baekhyun datang dengan ekspresi seolah Korea Selatan kini sedang diserang oleh bom nuklir, panik dan khawatir. Ternyata kekhawatiran mereka itu karena Ahreum menghilang –dan tampaknya kabur dari rumah.

“Percayalah. Aku tahu persis seperti apa Jei. Dia tak mungkin bicara setenang itu mengetahui Ahreum menghilang. Kalian sendiri tahu kan betapa Jei menyayangi adik barunya itu. Walau dia berusaha terdengar panik, tapi aku bisa merasakan kalau ia tak khawatir sama sekali,” ujar Onew.

Luhan dan Baekhyun saling pandang mendengar ucapan Onew.

“Pasti Jei sekarang sudah mengantar Ahreum pulang. Kalian tenang saja. Memangnya Ahreum mau kabur kemana lagi,” Onew berusaha meyakinkan dua anak buahnya itu.

“Kalau begitu biar kami saja yang jemput. Dimana rumah Jei noona?” tanya Baekhyun. Ia belum bisa merasa tenang kalau belum melihat Ahreum di depan matanya.

Onew menghela napas panjang. Ia akhirnya meninggalkan Luhan dan Baekhyun untuk mengambil tasnya. Setelah mengeluarkan kunci cafe dari tasnya, Onew mendorong kedua anak buahnya itu untuk keluar dari cafe.

“Ayo ikut denganku. Kebetulan aku juga mau kesana,” ujar Onew sambil mengunci cafenya.

“Lain kali gunakanlah teknologi yang ada. Jadi kalian tak perlu menghabiskan waktu untuk keliling kota mencari Ahreum,” ledek Onew.

.

.

.

“Kukira kamu sudah tak mau melihatku lagi,” ketus Jiyeon begitu melihat siapa tamu yang mengunjunginya malam-malam begini.

Kris dan Lay sudah berdiri di ambang pintu rumah Jiyeon untuk mencari Ahreum. Tapi begitu melihat ekspresi Jiyeon, mereka tahu persis kalau Ahreum pasti tak ada disana.

“Apa… Apa Ahreum ada disini?” tanya Lay ragu.

Jiyeon memiringkan kepalanya mendengar pertanyaan Lay. “Kalian mencari Ahreum? Disini? Bukannya kalian tinggal bersamanya, kenapa mencarinya disini?”

Jiyeon memandangi dua tamunya itu. Ia bahkan tidak berniat untuk mempersilahkan mereka masuk. Ia masih kesal akan perlakuan Kris dan kawan-kawan tadi siang.

“Ahreum menghilang. Kupikir dia sedang main ke tempatmu. Kamu yakin dia tidak kesini?” tanya Lay lagi.

“Memangnya aku menculik dia apa? Dia tidak ada disini,” ketus Jiyeon.

Jiyeon sudah bersiap menutup pintu rumahnya, tapi Kris menyela.

“Jiyeon,” sela Kris. “Aku.. Aku mau minta maaf. Maaf atas perkataanku tadi siang. Ahreum jadi marah padaku karena aku tadi mengusirmu. Maaf, tadi aku memang sedang…,”

“Ha! Kamu bisa minta maaf juga,” sahut Jiyeon dengan nada meledek. Jiyeon kini sudah bersender di pintu sambil menyilangkan lengannya di dada.

Lay, yang memang tidak bisa merasakan aura aneh antara Kris dan Jiyeon, memilih untuk menegur Jiyeon.

“Sebenarnya kenapa tadi kamu marah pada Ahreum, Park Jiyeon? Bukankah kamu bilang mau jadi temannya Ahreum? Lalu kenapa kamu malah bertengkar dengannya?” tanya Lay.

“Aku tidak marah pada Ahreum,” elak Jiyeon.

“Kalau begitu apa sebenarnya tujuanmu berteman dengan Ahreum. Kamu kan sangat tidak menyukainya dulu. Kenapa kamu tiba-tiba mau berbaikan dengannya?” tanya Lay lagi.

Sepanjang Lay berbicara, Jiyeon sama sekali tidak memperhatikannya. Mata Jiyeon terkunci pada Kris, seolah menantang Kris untuk ikut mencari tahu alasan Jiyeon mau berteman dengan Ahreum.

“Kurasa karena dia pernah menyelamatkan nyawaku. Dan seseorang pernah mengatakan padaku kalau aku dan Ahreum itu memiliki persamaan yang aneh. Selain itu ayahku juga menyukainya. Jadi tak ada salahnya aku berbaikan dengan Ahreum,” ujar Jiyeon masih sambil terus menatap Kris.

Kris hanya bisa memandangi Jiyeon dengan seksama. Sejujurnya Kris merasa serba salah disini. Ia merasa bersalah pada Jiyeon tapi ia juga tak bisa mengurangi rasa bersalahnya terhadap apa yang sedang Jiyeon alami saat ini.

“Tunggu sebentar disini,” ujar Jiyeon.

Jiyeon kemudian meninggalkan dua tamunya itu di pintu masuk.

“Dduizhang, sepertinya Jiyeon mendekati Ahreum karena kamu,” ujar Lay begitu memastikan kalau Jiyeon sudah masuk ke dalam rumahnya.

“Apa itu penting sekarang?” sahut Kris.

“Habisnya-,”

Ucapan Lay terpotong karena Jiyeon sudah kembali ke hadapan mereka.

“Kurasa kamu belum benar-benar mengenalku, Kris. Aku ini bukan orang munafik yang suka memanfaatkan kesempatan. Aku tulus berteman dengan Ahreum, bukan karena mau mendekatimu, juga bukan karena takut akan ayahku. Seperti yang pernah kubilang, kalau aku iri padanya. Dan aku lelah terus memaksanya untuk menghilang dari kehidupanku, karena dia terus saja muncul. Jadi aku menyerah dan memutuskan untuk berteman dengannya,” cerocos Jiyeon begitu sampai di hadapan Kris.

Jiyeon lalu terdiam. Sementara Kris masih menunggu dengan sabar apa yang mau diutarakan Jiyeon lagi. Sebenarnya Kris sudah sangat ingin segera pergi dari tempat itu untuk mencari Ahreum, tapi ia tak bisa kembali bersikap tidak sopan dan meninggalkan Jiyeon begitu saja. Sedangkan Lay, ia tak tahu sama sekali apa yang sedang terjadi disini.

“Jiyeon ini, jika dia menyukai seseorang, maka dia akan loyal pada orang itu. Dan aku menyukai Ahreum. Aku juga menyukaimu. Jadi aku akan berusaha untuk membuat kalian bahagia berteman denganku, apapun caranya itu. Kamu akan bahagia jika gadis itu juga menyukaimu? Aku akan membantumu untuk mendekatinya. Jadi percayalah padaku. Aku benar-benar akan membantumu,” pungkas Jiyeon.

Jiyeon hanya bisa menunjukkan senyum terpolosnya pada Lay yang tampak shock dengan kalimat yang keluar dari mulutnya. Jiyeon kini sudah mengacungkan ponselnya ke hadapan mereka.

“Apa kalian tidak kenal dengan yang namanya handphone? Bukankah Ahreum punya handphone? Kalau kalian tidak punya, bukankah Ahreum punya telepon rumah? Kenapa harus keliling dunia mencari dia, kalau kamu bisa terhubung dengannya melalui telepon. Jaman sekarang sudah canggih, kawan,” gerutu Jiyeon sambil mengutak-atik ponselnya.

Sambil menelepon, Jiyeon memandangi dua tamunya. Setelah menunggu sekian lama, ternyata telepon Ahreum tak diangkat. Jiyeon mencoba menghubunginya beberapa kali dan hasilnya sama.

“Tidak diangkat,” lapor Jiyeon. “nanti kalau sudah tersambung dengannya, aku akan memarahi anak itu.”

“Kalau begitu kami akan mencarinya di tempat lain,” ujar Kris. “Terima kasih dan maaf mengganggumu malam-malam begini,”

Kris dan Lay membungkukkan badan mereka pada Jiyeon. Keduanya lalu berbalik untuk pergi dari kediaman Ahreum. Tapi Kris malah kembali berbalik menghadap Jiyeon. Ia merasa tak enak jika pergi begitu saja tanpa membalas ucapan Jiyeon tadi.

“Terima kasih atas kesungguhanmu. Aku sungguh menghargai itu. Tapi aku kini benar-benar tidak mengharapkan apapun dari Ahreum. Aku hanya ingin agar dia tidak membenciku, itu saja. Terima kasih, Jiyeon. Selamat malam,” ujar Kris yang lalu membungkukkan badannya pada Jiyeon.

Setelah mengucapkan hal itu, Kris pun berlalu dari hadapan Jiyeon dan menyusul Lay yang sudah sampai di pintu gerbang rumah Jiyeon.

“Dduizhang,” tegur Lay begitu ia dan Kris keluar dari kediaman Jiyeon. “Jiyeon baru saja menyatakan perasaannya padamu,”

“Lalu?” sahut Kris malas.

“Entah aku harus merasa iri atau kagum atau kasihan padamu, Dduizhang. Karena orang-orang yang seharusnya menjadi musuhmu, malah berakhir dengan jatuh cinta padamu. Di bumi ada Park Jiyeon dan di Exoland ada Putri Ai,” ujar Lay.

“Jangan ingatkan aku pada nenek tua itu,” sahut Kris lagi.

“Dan sayangnya Ahreum malah membencimu,”

Kris terdiam. “Mungkin aku harus membuatnya membenciku agar ia bisa mencintaiku?”

Lay tertawa pelan. “Sayangnya, Ahreum itu berbeda dengan Putri Ai atau Jiyeon. Jika ia tak menyukai sesuatu, maka ia tak akan pernah menyukainya,”

.

.

.

“Ahreum sudah kusuruh pulang,” ujar Jei begitu melihat Baekhyun dan Luhan di pintu apartemennya.

Jei jadi merasa sedikit bersalah. Harusnya ia menahan Ahreum saja dan menunggu sampai Onew datang untuk mengantar Ahreum pulang. Kini Jei pun mulai khawatir melihat kepanikan di wajah Luhan dan Baekhyun.

“Sendirian, noona?!” tanya Baekhyun panik.

“Kenapa memangnya? Aku sudah mengomeli dia karena sudah kabur dari rumah. Jadi dia pasti sudah pulang sekarang,” sahut Jei, terdengar jelas ada rasa bersalah dari ucapannya.

“Kenapa kamu tidak mengantarnya, Jei? Tumben sekali kamu bisa melepas Ahreum begitu saja. Apa kamu tahu seperti apa ekspresi mereka begitu datang ke cafe? Seolah Korea Selatan di serang oleh alien,” ujar Onew yang sudah masuk ke dalam apartemen Jei.

Luhan dan Baekhyun saling pandang. Keduanya langsung berpamitan pada Jei untuk segera mencari Ahreum.

“Tunggu, aku juga akan ikut untuk mencari anak itu. Ughh aku akan mengomelinya lagi agar dia tidak merepotkan begini,” sela Jei sebelum Luhan dan Baekhyun pergi.

“Tidak, noona. Kalian tetaplah disini,” tolak Luhan. “Dan jangan matikan lampu kamar kalian malam ini. Jangan pernah membiarkan ruangan kalian gelap gulita, Sunbae. Kami pergi dulu.”

Jei dan Onew saling pandang, bingung dengan pesan Luhan. Apa hubungannya Ahreum hilang dengan jangan mematikan lampu kamar? Tapi mereka memilih untuk menuruti ucapan pegawai mereka itu dan berharap semoga Ahreum baik-baik saja.

“Kamu merasakannya, Baek?” tegur Luhan begitu mereka keluar dari apartemen Jei. Ia memperhatikan ke sekeliling apartemen Jei berusaha mencari tersangka dari firasat buruknya saat ini.

Baekhyun mengangguk pelan –juga sambil memperhatikan keadaan sekitar. “Rupanya ada yang mampir ke bumi. Sepertinya dia datang ke daerah ini. Kalau seperti ini, Ahreum benar-benar dalam bahaya.”

Keduanya bisa merasakan ada kekuatan magis yang cukup besar di komplek apartemen Jei ini. Keduanya yakin kalau ada yang melewati gerbang penghubung tersebut. Dan mereka yakin kalau yang datang bukanlah dari kalangan pasukan khusus.

.

.

.

“Ahreum dimana kamu,” gumam Kai panik.

Kai terus mendatangi berbagai tempat yang memungkinkan didatangi oleh Ahreum. Tempat pertama yang ia datangi adalah rumah Jiyeon, lalu cafe tempat Ahreum bekerja, lalu kediaman paman Kim, bahkan Kai mendatangi sekolah mereka untuk mencari Ahreum disana. Tapi nihil, Ahreum tak ditemukan dimanapun juga. Kai baru saja kembali dari pantai pribadi tuan Lee –ia pikir mungkin Ahreum datang kesana, mengingat Ahreum suka dengan pantai. Kai kembali keliling kota untuk mencari Ahreum. Kai sudah nyaris putus asa saat ini.

Kai menatap langit yang tampak kelam malam ini. Sama sekali tak ada bintang disana. Kai bisa melihat samar-samar pintu gerbang Exoland di langit. Pintu gerbangnya masih terlihat, itu artinya masih ada kekuatan magis yang menghubungkan Exoland dengan bumi. Kai sungguh penasaran akan siapa yang berhasil membuka pintu penghubung Exoland dengan bumi. Jika memang benar ini adalah ulah Xenos….

Kai terdiam.

Kai bisa merasakannya.

Kai bisa merasakan aura negatif di tempat yang ia kunjungi sekarang. Kai menatap ke sekelilingnya, berusaha mencari sesuatu yang ganjil disana. Di tempat ini memang cukup remang-remang, sesuatu yang jahat bisa saja muncul dari arah kegelapan di sekitarnya. Kai tahu karena memang ‘mereka’ bergerak dibawah kegelapan. Kai pun memasang posisi siaga.

Kai bergerak dengan sangat hati-hati sambil tak lepas memasang kuda-kudanya. Kai pikir, jika sampai ia bertemu dengan sesuatu yang jahat, maka ia bisa dengan segera menghabisinya, apalagi tempat ini cukup sepi –walau dekat dengan sebuah komplek apartemen.

Kai lalu melompat ke atas lampu jalan agar bisa melihat ke sekelilingnya dengan jelas. Dan ketika ia melihat ke ujung jalan, persis di depan salah satu gedung apartemen, Kai melihat sosok yang dicari-carinya dan dia tidak sendirian.

Geram, Kai pun segera menyerbu orang tersebut. Anak buah Xenos atau bukan, Kai akan menghabisinya. Itu pasti.

.

.

.

.

.

.

.

.

logo1

The twenty thrid chapter is out!!!

안녕! Bee datang. Ahreum ilang! Ohemji ohemji ohemji!!! Ada yang manggil ahreum dengan sebutan putri selain pasukan khusus!!! Siapakah dia?? Kan cuma pasukan khusus aja yg tau jati diri ahreum. Jadi siapa yg ngejar2 ahreum tadi? Apa ahreum berhasil ditangkap sama dia? Atau kai ketemu Ahreum duluan? Dan jiyeon blak-blakan soal perasaannya ke Kris di depan Lay pula. *kris magnet para musuh wanita ㅋㅋㅋㅋ*

Maaf baru bisa update sekarang. Bee beneran lg ga mood bikin ff.. Ada satu dan lain hal yang bikin bee ga mood.. Pertama ahreum keluar dari t-ara (˘̩̩̩-˘̩̩̩ƪ) trus planet bee kena serangan imigran gelap *berkali-kali* udah gitu imigran gelapnya kaya gangster lagi (galak2 banget) *bikin mood nulis ilang aja tuhh* jadi maaf kl ceritanya jadi lama dan ga memuaskan. akan ada banyak karakter baru di chapter berikutnya.

Tp berkat mv exo wolf drama version, mood nulis bee muncul lagi.. Luhan kece badaiiiiii!!! I cant stop spamming about him.. Walo cerita MVnya agak ngaco *heol, bee bisa bikin cerita yg lebih dramatis dari itu* tp tetep aja ke-kece-an luhan menutupi kekurangan MV-nya.. 우리 사스미 잘 생겼어요.. 귀엽다 귀여워!!! 엑소 수고했어!!

Btw thanks buat yang setia nungguin nih ff sampe bulukan *deep bow brg areum*.. Dan bee resmi mengumumkan kalau BEE AKAN HIATUS. Sampai ketemu kapan-kapan!!!! *semoga hiatusnya ga lama ya*

Okeh!! Bee pamit!! 안녕!! 뿅!! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 23 – Searching The Princess | PG15

21 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 23 – Searching The Princess | PG15

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s