FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 22 – Missing | PG15


beautiful-life

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter 22 – Missing

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

Jiyeon T-ara as Park Jiyeon

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life,

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Enchanted

Chapter 22 | Missing

.

.

.

.

Missing

.

.

.

.

.

Ahreum terus berbalik dalam tidurnya. Pertama ia menghadap kanan, lalu berbalik menghadap kiri, kemudian Ahreum tengkurap dan lalu terlentang, kemudian kembali menghadap kanan dan lalu terlentang lagi, begitu seterusnya. Akhirnya Ahreum bangun dari tidurnya dan memilih untuk duduk sambil bersandar di kasurnya. Ingin sekali ia tidur malam ini. Tapi walaupun Ahreum sudah memejamkan matanya, gadis itu tetap tidak bisa terlelap. Ini semua karena kejadian sekitar 3 jam lalu di pantai dekat hotel tempatnya menginap.

Kejadian dimana Kris mencuri ciuman pertamanya.

Ahreum memegangi bibirnya. Ia masih bisa merasakan bibir Kris disana. Dan ketika kejadian itu kembali terulang di pikirannya, Ahreum pun mengerang kesal. Ahreum sadar betul kalau ia sudah terjerat. Walau Ahreum masih berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri tapi tetap saja hatinya berkata lain.

Ahreum lalu menurunkan tangannya untuk memegang dada kirinya. Ahreum merasakan detak jantungnya yang berpacu cepat. Rasanya menyebalkan dan menyakitkan.

Berhenti berdebar, bodoh. Kamu tak boleh memiliki perasaan seperti ini. Jadi kumohon jangan berdebar secepat ini, Ahreum memohon pada dirinya sendiri.

Kembali kata-kata Jiyeon terngiang-ngiang di kepalanya. Ahreum kini merasa bahwa dirinya sudah gagal menjadi seorang sahabat. Padahal Jiyeon sudah memperingatkan dirinya untuk jangan terlalu dekat dengan Kris. Karena pesan Jiyeon itu pula lah Ahreum menjauhi Kris, menghindarinya dan menolak berada di dekat Kris. Tapi tetap saja, walaupun sudah berusaha menjauh, Ahreum tetap tak bisa menahan debar jantungnya setiap bersama Kris. Ia pikir mungkin itu adalah efek dari rasa tidak sukanya terhadap Kris.

“Jiyeon menyukainya. Ingat Ahreum, Jiyeon menyukai orang itu. Jadi kamu tak boleh memiliki rasa terhadapnya. Sahabat macam apa kamu, Ahreum,” lirih Ahreum sambil meremas dada kirinya.

Ahreum melirik ke arah pintu kamar dan lalu berpaling untuk melihat ke jendela kamar. Kris belum juga kembali. Padahal Ahreum sudah menanti-nanti, jika Kris sampai kembali ke hotel maka Ahreum akan menendangnya keluar. Ia benar-benar sedang tak ingin melihat wajah pemuda itu sekarang.

Ahreum kini sudah membenamkan kepalanya di bantal, berusaha mengusir pikiran-pikiran aneh yang terus berkelebatan di otaknya. Ahreum pun berteriak sekencang-kencangnya. Jika saja wajahnya tidak tertutup dan suaranya teredam bantal mungkin seluruh penghuni hotel sudah menghampiri kamarnya untuk mengecek apa yang terjadi.

Setelah puas berteriak, Ahreum mengangkat kepalanya. Wajahnya sudah merah sekarang karena menahan tangis. Ahreum sedih, Ahreum kesal, Ahreum benci pada dirinya sendiri karena merasa telah kalah pada egonya.

.

.

.

Sesampainya di bandara Incheon, Ahreum dan Kris disambut oleh sebelas pasukan khusus Exoland yang sudah menunggu kedatangan mereka. Begitu melihat sebelas pengawalnya yang lain, Ahreum langsung berlari –sambil terpincang-pincang– ke hadapan mereka. Orang pertama yang Ahreum hampiri adalah Kai. Begitu sampai di hadapan Kai, Ahreum hanya berdiri sambil menunjukkan ekspresi tersedihnya.

“Kenapa kamu gak datang? Kenapa kalian tidak datang? Kenapa kalian tega meninggalkanku bersama dia? Kenapa?” lirih Ahreum.

Melihat mata Ahreum yang sudah dipenuhi cairan bening, membuat Kai jadi merasa bersalah. Kai langsung menarik Ahreum ke pelukannya untuk menenangkan gadis itu. Kai mengusap-usap punggung Ahreum, berharap bisa mengurangi rasa kecewanya.

“Apa kalian tahu, aku disana terjatuh dan terluka. Tapi dia, bukannya langsung menolongku malah memarahiku. Aku.. Aku gak mau lagi pergi dengannya,” Ahreum mengadu pada Kai.

Mastermind dan Knight yang lain memandangi Ahreum bingung. Mereka jadi ikut menuding Kris, karena sudah tega memperlakukan Ahreum seperti itu. Tapi begitu melihat ekspresi Kris yang terlihat suram, membuat mereka tak berani menghakimi Kris.

“Sekarang ayo kita pulang dulu, Ahreum. Nanti aku akan menyembuhkan lukamu,” bujuk Lay sambil melirik ke Kris.

Karena Ahreum jalannya masih sedikit terpincang-pincang, maka Chanyeol menggendong Ahreum dipunggungnya. Semuanya sudah berjalan keluar bandara, kecuali Luhan dan Suho yang masih menahan Kris disana.

“Hyung, kamu memarahinya? Kamu kan tahu Ahreum paling tidak bisa dibentak. Kenapa kamu malah memarahinya?” tanya Suho.

“Dduizhang, bukankah aku sudah bilang untuk tidak menaikkan nada suaramu ketika bicara dengan Ahreum? Kalau seperti ini, kurasa Ahreum tak akan mau melihatmu lagi,” ujar Luhan.

Kris hanya bisa menghela napas panjang mendengar ocehan dua rekannya itu. “Kalian tahu sendiri kan, walaupun aku bicara baik-baik dengannya, Ahreum tetap akan menganggapnya sebagai omelan. Dia sudah menciptakan imej seperti itu padaku,” sahut Kris.

“Hyung, setelah ini Ahreum pasti tidak akan mau bicara denganmu,” ujar Suho iba.

Kris hanya memandangi Ahreum yang sudah semakin menjauhi bandara. “Tapi aku berhak mendapatkan amarahnya.”

.

.

.

.

Begitu sampai di rumah, Ahreum langsung mengurung dirinya di kamar -ditemani Lay, Baekhyun dan Chen. Lay tentu saja langsung mengurus kaki Ahreum yang terluka. Ia cukup terkejut begitu membuka perban dan melihat luka di kaki Ahreum yang cukup besar.

“Kamu jatuh dimana, Ahreum? Kenapa sampai seperti ini?” tanya Lay.

Cairan bening kembali memenuhi mata Ahreum. Ia menunjukkan wajah tersedihnya pada Lay.

“Aku jatuh dari atas karang dan karangnya merobek kakiku sampai seperti itu. Aku takut.. hikss.. takut lukanya akan meninggalkan bekas. Nanti kakiku jadi jelek,” isak Ahreum.

“Tenang saja, Ahreum. Lay hyung pasti bisa menyembuhkan lukanya serta membuatnya hilang tak berbekas,” Baekhyun berusaha menenangkan Ahreum.

“Benar, Ahreum. Percayakan padaku. Buktinya Chen yang lukanya bahkan lebih parah darimu bisa hampir hilang bekasnya. Chen tunjukkan pada Ahreum bekas lukamu yang akibat tersambar petirmu sendiri itu,” ujar Lay.

“Kamu tersambar petirmu sendiri, Chen?” tanya Ahreum.

Wajah Chen langsung memerah. Ia malu mau mengakui kalau ia pernah tersambar petirnya sendiri. Tapi Chen lebih malu lagi karena disuruh untuk meperlihatkan bekas lukanya pada Ahreum. Belum lagi Lay dan Baekhyun terus mendesaknya untuk membuka bajunya dan menunjukkan bekas lukanya tersebut. Akhirnya Baekhyun pun menarik baju Chen sampai nyaris terbuka seluruhnya.

“Lihat, Ahreum, di punggung sebelah kirinya ada garis putih kan?” ujar Lay, masih sambil mengusap-usap luka di kaki Ahreum.

Ahreum memperhatikan punggung Chen. Ia melihat ada garis putih yang sangat tipis yang nyaris tak terlihat jika hanya dilihat sekilas. Ahreum menyentuh bekas luka Chen itu. Hal ini tentu saja membuat wajah Chen merah sempurna. Untungnya muka Chen tertutup kaos, kalau tidak, mungkin Lay dan Baekhyun sudah mentertawakannya saat ini.

“Itu bekas yang tidak bisa hilang,” ujar Lay.

“Aku lihat sendiri, bagaimana petir itu membuat lubang yang cukup besar di punggungnya. Kamu pasti ngeri kalau melihatnya, Ahreum. Lukamu sih belum ada apa-apanya untuk Lay hyung,” ujar Baekhyun.

Baekhyun lalu melepaskan Chen, sehingga Chen bisa kembali memakai bajunya dengan benar.

“Kalian pernah terluka segitu parahnya? Apa yang lainnya juga sama?” tanya Ahreum prihatin.

“Chanyeol pernah membakar dirinya sendiri,” sahut Baekhyun.

“Dduizhang pernah jatuh dari ketinggian seratus meter,” ujar Lay.

“Se..seratus?! Apa dia tidak mati?” kaget Ahreum.

“Hampir. Butuh waktu enam bulan lebih untuk menyatukan kembali semua tulangnya,” cerita Lay.

“Dan butuh waktu bertahun-tahun bagi Chanyeol untuk menumbuhkan kembali rambutnya,” ujar Baekhyun geli.

Dan selanjutnya Baekhyun bercerita tentang betapa Chanyeol merasa terpukul begitu tahu kalau rambutnya tak bisa tumbuh lagi. Lay dan Chen pun ikut menimpali cerita-cerita Baekhyun tentang cara-cara yang dilakukan Chanyeol agar rambutnya tumbuh kembali. Berkat Baekhyun, Ahreum kini sudah tidak sedih lagi. Ahreum bahkan lupa dengan luka di kakinya yang sudah disembuhkan oleh Lay. Ahreum ikut tertawa bersama Lay dan Chen, karena cerita-cerita Baekhyun.

“Kamu lucu sekali, Baek,” ujar Ahreum disela-sela tawanya.

Baekhyun ikut tersenyum puas melihat senyuman Ahreum. “Kalau kamu tersenyum dan tertawa seperti itu kan cantik, Ahreum. Jadi jangan sedih lagi ya. Apa kamu tahu bagaimana perasaan kami begitu melihat aura kelam di dirimu siang ini. Seolah dunia ini mau kiamat,” ujar Baekhyun tulus. Baekhyun mengulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Ahreum.

“Maaf, aku terlalu berlebihan siang ini. Tapi aku sudah lebih baik sekarang. Berkat kalian,” ujar Ahreum tulus.

.

.

Ahreum benar-benar menghindari Kris sejak mereka kembali dari Dokdo. Ahreum hampir tak mau berada dalam radius 2 meter dengan Kris. Bahkan jika Kris ikutan makan bersama mereka di ruang makan, Ahreum pasti langsung menyelesaikan makanannya atau pindah untuk makan di dapur.

Walaupun merasa kasihan terhadap Kris, tapi sebelas pemuda yang lain tidak bisa berbuat apapun untuk meredam ketidaksukaan Ahreum itu. Sebab mereka sendiri tak tahu menahu mengenai apa yang terjadi antara Ahreum dan Kris di Dokdo. Bertanya pun juga tak ada hasilnya. Jika bertanya pada Kris, ia hanya menjawab ‘apapun yang aku lakukan hanya akan membuatnya kesal’. Sedangkan jika bertanya pada Ahreum, maka akan berakhir dengan Ahreum memarahi mereka. Jadi sebelas pemuda itu berusaha untuk berpura-pura tidak tahu mengenai perang dingin yang dilancarkan Ahreum pada Kris.

Dan siang ini, ketika Ahreum sedang berusaha menikmati liburannya, Ahreum harus kembali berakhir dengan berada satu ruangan bersama Kris. Ahreum hendak menonton drama favoritnya siang ini, tapi sayangnya Kris sedang tertidur di sofa yang ada di ruang TV. Sementara Ahreum malas untuk naik ke lantai tiga dan menonton TV yang juga ada di lantai tiga. Jadi Ahreum berusaha mengacuhkan Kris dan memfokuskan dirinya pada televisi. Ahreum juga sempat bertekad, jika sampai Kris bangun ketika ia sedang menonton drama, maka Ahreum akan langsung pergi ke lantai tiga dan menonton disana.

Pertama-tama Ahreum memang bisa memfokuskan dirinya pada TV. Tapi lima menit kemudian Ahreum melirik Kris yang tertidur di seberangnya. Kris tertidur dengan menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Ahreum memperhatikan ekspresi Kris yang sedang tidur itu, hampir tak jauh beda dengan ketika ia tersadar. Siapapun yang melihatnya tetap akan merasa terintimidasi, bahkan ketika ia sedang tidur. Kini pandangan Ahreum jatuh ke bibir Kris. Kembali kejadian di Dokdo terulang di pikirannya. Mengingat hal itu, Ahreum pun menggigit bibir bawahnya dengan begitu keras.

“Hei, cantik. Kalau kamu menggigit bibirmu seperti itu nanti bibirmu bisa terluka,” tegur Kai yang sudah berada di samping Ahreum.

Ahreum langsung memalingkan wajahnya dari Kris untuk melihat Kai. Ahreum berusaha memasang senyum di wajahnya. Sementara Kai kini sudah membelai rambut Ahreum.

“Jangan memasang wajah seperti itu. Nanti aku cium nih,” gurau Kai.

Mendengar kata ‘cium’, Ahreum langsung mengerutkan wajahnya. Kata itu mengingatkannya akan kejadian tak mengenakkan di Dokdo kemarin. Ahreum pun membuat ekspresi seolah ia begitu tertekan saat ini. Perubahan ekspresi Ahreum ini membuat Kai jadi bingung sekaligus panik karena Ahreum tampak siap menangis saat ini juga.

“Aigoo, Ahreum. Maafkan aku. Aku hanya bercanda. Jangan menangis,” panik Kai.

Ahreum menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia juga mengatur napasnya agar jangan sampai tangisannya pecah saat ini. Setelah berhasil menguasai dirinya, Ahreum membuka wajahnya dan memasang ekspresi cemberut pada Kai.

“Jangan pernah membuat lelucon seperti itu lagi. Itu sungguh sangat tidak lucu,” keluh Ahreum.

“Iya, maaf. Gak akan kuulangi lagi,” ujar Kai sambil membentuk huruf v dengan dua jarinya.

Kai kemudian mengajak Ahreum mengobrol sambil menonton TV. Setidaknya sekarang pikiran Ahreum kembali teralihkan dari hal-hal yang membuatnya sedih dan kesal.

Ketika sedang asyik bercengkerama dengan Kai, terdengar suara ribut-ribut dari arah pintu masuk.

“Ngapain kamu datang kesini, wanita,” seru Chanyeol.

“Kamu dilarang masuk ke kediaman ini,” kali ini suara cempreng Sehun yang terdengar.

“Kenapa kamu bebal sekali sih?!” dan ini adalah seruan D.O.

Ahreum dan Kai sama-sama menoleh ke arah ruang tamu untuk melihat siapa yang datang. Tapi percuma, karena sepertinya sang tamu sedang tertahan di pintu masuk. Bahkan Ahreum tak bisa melihat punggung Chanyeol, Sehun ataupun D.O.

“Yang punya rumah ini adalah Ahreum, bukannya kalian. Kenapa kalian yang melarangku datang?! Lagipula Ahreum mengijinkanku untuk main kesini. Kenapa sih kalian selalu bersikap seperti ini padaku?!”

Ahreum mengenali suara itu. Mendadak Ahreum panik. Tidak, Ahreum belum siap untuk bertemu dengannya. Ahreum belum siap untuk bertemu dengan Park Jiyeon. Ahreum belum siap menjelaskan pada Jiyeon mengenai apa yang terjadi di Dokdo antara dirinya dan Kris.

“Karena kamu adalah Park Jiyeon,”

“Dan kamu pasti membawa niat tidak baik,”

“Kamu pasti mau mengganggu ketenangan kami,”

Chanyeol, Sehun dan D.O. terus saja menyerang Jiyeon. Akhirnya Ahreum dan Kai menyusul ke ruang tamu untuk melerai mereka. Dan benar saja, tiga pemuda itu sedang menyerang Jiyeon sekarang. Chanyeol mencubit kedua pipi Jiyeon, sementara Sehun dan D.O.sudah menahan kedua tangan Jiyeon yang sedang balas mencubiti pipi Chanyeol.

“D.O., Chanyeol, Sehun!! Lepaskan tangan kalian dari Jiyeon,” bentak Ahreum.

Tiga pemuda itu langsung mematuhi Ahreum dan melepaskan Jiyeon. Kai sampai tertawa dibuatnya begitu melihat ekspresi Jiyeon saat ini.

“Lihatlah penghuni rumah ini!! Kalian tinggal di tempat terpencil makanya jadi sensitif begini!! Makanya sekali-kali bergaul ke kota, biar kalian tidak jadi menyebalkan begini!!” kesal Jiyeon.

“Karena kamu menyebalkan, wanita,” gumam Chanyeol pelan.

“Namaku Park Jiyeon. Dasar raksasa!!” seru Jiyeon.

“Ngapain kamu kesini, Jiyeon?” tegur Kai, berusaha melerai pertengkaran tiga rekannya dengan Jiyeon.

Masih sambil memasang ekspresi kesal, Jiyeon pun menjawab pertanyaan Kai. “Aku datang untuk mengantarkan kembang api untuk malam tahun baru nanti. Appa membelikanmu 10 dus kembang api,”

“Sijangnim? Tapi untuk apa kembang api?” bingung Ahreum.

“Ya, betul. Lagipula Ahreum tak membutuhkan kembang api. Ada manusia api disini,” sahut Sehun dan Chanyeol mengangguk-angguk bangga akan ucapan Sehun.

“Babo,” ketus Jiyeon. “Kembang apinya untuk malam tahun baru. Karena Appa akan menghabiskan malam tahun baru bersama para warga, jadi aku disuruh menghabiskan malam tahun baru di rumahmu. Mungkin aku juga boleh menginap disini-,”

“TIDAK!!!” seru para Knight berbarengan.

Jiyeon hanya mendengus mendengar penolakan para pemuda itu. Ia lalu menggumamkan mengenai ‘Ahreum saja tidak menolak, kenapa kalian yang heboh’. Jiyeon akhirnya masuk dan mengajak Ahreum untuk beranjak ke ruang TV –seolah dia yang punya rumah. Lalu mereka duduk di sofa yang berseberangan dengan sofa yang ditiduri Kris.

“Ah iya, kudengar kamu habis liburan ya kemarin? Dan kamu liburan tidak mengajakku,” tuding Jiyeon.

Deg!

Inilah yang Ahreum takutkan jika bertemu dengan Jiyeon. Ahreum takut Jiyeon akan bertanya mengenai liburannya. Ahreum takut jika Jiyeon tahu kalau Ahreum liburan hanya berdua saja dengan Kris, maka Jiyeon akan kembali memusuhinya –atau mungkin lebih parah dibandingkan jaman sebelum mereka berteman.

“Aku.. Aku..,” Ahreum tak bisa menemukan kata-kata yang tepat.

Ahreum melirik Kris yang kini sudah bangun dari tidurnya. Ia melihat Kris sudah beranjak dari tempatnya untuk meninggalkan ruang TV.

“Kalian benar-benar tega. Padahal aku kemarin mentraktir kalian semua untuk main ice skating tapi kalian tidak mengajakku untuk liburan bersama? Kemana kalian pergi?” tanya Jiyeon pada siapapun yang berniat menjawabnya.

“Aku tidak ikut Ahreum ke Dokdo. Yang pergi hanya Kris hyung saja. Itu karena mereka dapat tiket gratis atas nama mereka berdua,” jelas Xiumin yang baru saja muncul di ruang TV.

Rasanya Ahreum ingin menenggelamkan Xiumin di danau yang ada di belakang bukit karena jawabannya yang terlalu gamblang itu. Ahreum mengamati ekspresi Jiyeon yang kini tampak….suram?

“Kris! Kalian hanya pergi berdua saja? Ke Dokdo?!” tegur Jiyeon pada Kris yang sudah meninggalkan ruang TV.

“Uhh, itu Jiyeon, aku bisa menjelaskannya padamu,” ujar Ahreum takut-takut.

Jiyeon tak menghiraukan ucapan Ahreum. Ia kini sudah beranjak dari duduknya dan memilih untuk menyusul Kris.

“Matilah aku,” keluh Ahreum.

.

.

Jiyeon menyusul Kris menuju dapur rumah Ahreum. Kris tampak sedang minum sambil bersandar di konter dapur. Jiyeon pun langsung menghampiri Kris dengan semangatnya.

“Kamu pergi berdua saja dengan Ahreum? Ke Dokdo? Berapa hari? Apa saja yang kalian lakukan? Ceritakan padaku,” tuntut Jiyeon antusias.

Kris sudah memijat-mijat keningnya. Tampaknya ia pusing dengan semua ocehan Jiyeon. Sungguh Kris sedang tidak ingin bertemu Jiyeon saat ini. Karena menurutnya, Jiyeonlah yang patut disalahkan atas rusaknya hubungan Kris dan Ahreum. Apalagi Ahreum kini makin membenci Kris karena topik pembicaraan mereka yang terakhir kali adalah mengenai Jiyeon.

“Pergilah dari hadapanku, Jiyeon. Aku sedang tak ingin bicara denganmu,” sahut Kris malas.

“Ceritakan dulu padaku. Bagaimana perkembangannya? Apa kamu melakukan sesuai dengan apa yang aku katakan??” tanya Jiyeon lagi sambil menggamit lengan Kris.

Kris menepis tangan Jiyeon. Ia memandangi Jiyeon malas. “Harusnya aku tak pernah mendengarkan ucapanmu. Aku yang bodoh mau mengikuti kata-katamu. Dan kini semuanya jadi berantakan karena kamu.”

“Apanya yang berantakan?” bingung Jiyeon.

“Pergilah dari hadapanku, Jiyeon. Aku sungguh sedang tak ingin bicara denganmu,” Kris kembali mengulang kata-katanya.

Tapi Jiyeon tak menyerah. Ia masih memaksa Kris untu bercerita. Meskipun Kris sudah mengacuhkannya, tapi Jiyeon tetap semangat bertanya pada Kris.

“Hentikan, Jiyeon. Apa kamu ingat kata-kataku dulu? Jika kamu sampai membuat Ahreum membenciku, maka aku akan benar-benar melarangmu untuk bergaul dengan kami lagi. Dan kamu tahu, dia sekarang benar-benar membenciku. Dan itu semua berkat kamu. Jadi…,” Kris menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. “Pergilah dari hadapanku.”

Jiyeon terdiam mendengar semua ocehan Kris. Ia cukup shock dengan kenyataan ini. Jiyeon jadi bingung apa yang membuat Ahreum malah membenci Kris.

“Memangnya kamu melakukan apa? Apa sesuai dengan yang aku katakan? Atau mungkin kamu salah melakukannya. Mungkin-,”

“Aku sedang tak ingin melihatmu, Jiyeon,” sela Kris. “Pergi dari hadapanku sebelum aku benar-benar melarangmu untuk bertemu kami lagi,”

Jiyeon mundur beberapa langkah begitu melihat ketegasan di mata Kris. Baru kali ini ia melihat Kris yang ‘seperti ini’. Ini merupakan hal baru bagi Jiyeon. Ia akhirnya menyerah. Jiyeon menatap Kris sengit. Sebelum meninggalkan Kris, Jiyeon sempat menggumamkan mengenai, ‘pantas jika dia membencimu, kamu menyebalkan.’

“Baiklah. Mungkin kamu sedang tidak ingin bicara saat ini. Aku akan datang lagi nanti untuk membicarakan hal ini,” ujar Jiyeon.

Ketika berbalik untuk keluar dari dapur, Jiyeon mendapati Ahreum tengah berdiri di ambang pintu dapur. Ahreum tampak menundukkan kepalanya dalam-dalam, sehingga Jiyeon tak bisa menebak apa yang ada di pikirannya. Jiyeon pun melangkah keluar dapur dan melewati Ahreum begitu saja.

“Jiyeon,” panggil Ahreum.

Jiyeon mengacuhkan panggilan Ahreum. Jiyeon terus berjalan keluar rumah dan tak mempedulikan Ahreum yang terus memanggil namanya. Ketika Jiyeon sudah sampai di mobilnya dan hendak membuka pintu mobilnya, sebuah tangan menahan lengan Jiyeon. Jiyeon pun mendongak untuk melihat siapa yang sedang menahannya saat ini.

“Ahreum memanggilmu dari tadi, apa kamu tidak dengar?” ujar Kai.

“Lepaskan tanganku. Aku mau pulang,” ketus Jiyeon sabil berusaha melepaskan tangannya dari Kai.

“Tapi Ahreum memanggilmu,”

Akhirnya Jiyeon menyerah. Ia membiarkan Kai mencekal lengannya sambil menunggu Ahreum menghampiri mereka. Jujur saja, Jiyeon cukup kesal saat ini. Bagaimana ia tak kesal, Kris saat ini malah jadi balik membencinya padahal Jiyeon sudah mengusahakan segala cara untuk membantunya. Ia kini merasa semua usahanya sia-sia.

“Jiyeon, maafkan aku,” ujar Ahreum begitu sampai di hadapan Jiyeon.

“Kenapa minta maaf? Memangnya kamu salah apa?” ketus Jiyeon. Dan kini Jiyeon meringis sebab Kai sudah meremas lengannya. Jiyeon pun menatap Kai sengit. “Lepaskan tanganku, jelek!”

Ahreum akhirnya menarik tangan Kai agar melepaskan Jiyeon.

“Kita akan bicara lagi nanti. Saat ini aku sedang tak mood bicara dengan semua penghuni rumah ini,” ujar Jiyeon.

Jiyeon lalu membuka pintu mobilnya dan ia masuk ke dalam mobil. Sebelum jalan, Jiyeon sempat membuka kaca jendelanya untuk berpamitan pada Ahreum.

“Kurasa aku tidak akan menghabiskan malam tahun baru disini. Sampai ketemu di sekolah,” ujar Jiyeon tanpa melihat Ahreum sedikitpun.

Dengan begitu Jiyeon pun pergi meninggalkan bukit Ahreum.

Ahreum menatapi kepergian Jiyeon dengan nelangsa. Ia sudah menduga kalau hal seperti ini akan terjadi. Ahreum benar-benar merasa sangat gagal saat ini. Ahreum tak bergeming memandangi buntut mobil Jiyeon yang semakin menjauh. Bahkan ketika mobil Jiyeon sudah menghilang dari pandangannya pun Ahreum masih tetap tak bergeming. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Ahreum kembali ke kediamannya –dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Kai yang menemani Ahreum terus berusaha membujuk gadis itu agar tidak terlalu kecewa dengan sikap Jiyeon barusan. Kai beralasan mungkin Jiyeon mendadak ada urusan penting. Kai tidak tahu ada masalah apa antara Jiyeon dengan Ahreum. Tapi Kai bertekad akan benar-benar mematahkan hidung Jiyeon jika gadis itu tidak segera memperbaiki hubungannya dengan Ahreum.

Di teras rumah Ahreum tampak Chanyeol, D.O., dan Sehun sudah berlutut disana. Mereka sedang memohon ampun pada Ahreum karena gadis itu tampak seperti sedang berada di pemakaman –dengan auranya yang kelam itu. Mereka pikir Jiyeon jadi marah begitu karena ulah mereka tadi. Semua tahu persis, segala hal yang berhubungan dengan Jiyeon akan berakibat besar terhadap Ahreum. Makanya mereka tidak ada yang berani mengganggu Jiyeon. Semua karena peraturan baru Ahreum, yaitu dilarang mengganggu Park Jiyeon jika masih ingin berada di samping Ahreum.

“Ahreum, maafkan kami,”

“Kami akan pergi ke tempat Park Jiyeon untuk minta maaf,”

“Kami salah sudah mengganggunya, tolong maafkan kami,”

Chanyeol, D.O., dan Sehun memohon ampun pada Ahreum. Ketiganya bahkan sudah bersujud di hadapan Ahreum. Tapi Ahreum tak menyahuti ucapan mereka. Gadis itu hanya berdiri terpaku di hadapan mereka.

“Jangan pernah muncul di hadapanku lagi,” ujar Ahreum sambil mengatupkan rahangnya. Terdengar kegeraman yang mendalam di suaranya. Hal ini membuat Chanyeol, D.O., dan Sehun jadi semakin panik. Mereka akhirnya bersujud di kaki Ahreum dan terus memohon ampun.

“Aku benar-benar membencimu. Aku sungguh tak ingin melihat wajahmu. Jangan pernah kamu berkeliaran di hadapanku. Terserah kamu mau kembali ke duniamu atau tetap tinggal disini. Yang penting, jangan tunjukkan muka menyebalkanmu itu padaku,” geram Ahreum.

Chanyeol, D.O., dan Sehun mengangkat kepala mereka dengan horornya. Ancaman Ahreum itu cukup mengerikan. Karena jika Ahreum sudah tak menginginkan mereka lagi maka tak ada alasan lagi bagi mereka untuk menunjukkan wajah mereka di hadapan Ahreum. Tapi ternyata Ahreum tidak bicara pada mereka. Pandangan Ahreum lurus ke arah pintu masuk. Ahreum bicara pada seseorang di belakang mereka, di dalam rumah lebih tepatnya. Ketiganya pun menoleh untuk melihat siapa yang Ahreum tuju.

Kris.

Setelah mengucapkan ancamannya, Ahreum pun masuk ke dalam rumahnya dan kembali mengurung diri di kamarnya.

Kai yang sedari tadi menyaksikan sendiri kejadian yang terpampang di hadapannya hanya bisa memandangi Kris bingung sekaligus iba. Begitu juga dengan Chanyeol, D.O., Sehun dan Xiumin.

“Hyung, sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan pada Ahreum??”

.

.

“Dduizhang!!”

“Suho hyung!!”

“Dduizhang!!”

“Suho hyung!!”

Begitu sampai di kediaman Ahreum, Luhan dan Baekhyun langsung berteriak memanggil pemimpin mereka masing-masing. Keduanya membawa berita penting yang harus diketahui oleh semua rekan-rekannya sesama pasukan khusus. Luhan dan Baekhyun cukup asing dengan suasana sekarang, karena biasanya mereka akan langsung disambut oleh rekan-rekannya. Tapi kali ini tak ada yang menyambut mereka. Setelah mencari sejenak ternyata semua rekannya sedang berkumpul di ruang TV.

“Ada apa disini?” tegur Baekhyun bingung.

Semuanya kini mengelilingi Kris yang duduk di sofa, seolah Kris adalah penjahat yang harus diadili.

“Ahreum tadi mengamuk. Dia marah pada Kris hyung. Kita sedang bertanya apa yang terjadi sampai Ahreum marah seperti itu pada Kris hyung,” sahut Sehun.

“Ada apa lagi memangnya, Dduizhang?” tanya Luhan.

Kris tak menjawab pertanyaan Luhan. Sudah cukup ia di cecar oleh rekan-rekannya yang lain sejak tadi. Ia tak ingin menambah kelam pikirannya dengan semua pertanyaan yang sama.

“Hyung, mungkin Ahreum hanya salah paham. Nanti aku akan membantumu untuk menjelaskannya pada Ahreum,” bujuk Suho pada Kris. Kemudian Suho berpaling melihat Luhan dan Baekhyun.

“Kenapa kalian tadi berteriak-teriak?” tanya Suho.

“Ah iya, aku baru ingat. Tadi kami..,” Luhan melirik Baekhyun. “..diperjalanan pulang kami melihat-,”

“..kalau pintu gerbang yang menghubungkan Exoland dengan bumi terbuka,” Baekhyun melanjutkan kalimat Luhan.

Semua pasukan khusus kini menoleh ke arah Luhan dan Baekhyun. Pintu gerbang Exoland terbuka itu adalah berita yang buruk.

“Pintunya terbuka sebentar, lalu menutup lagi,”

“Walau kita tidak tahu apakah ada yang melewatinya atau tidak, tetap saja kita harus waspada,”

“Bisa jadi itu adalah ulah Xenos,”

“Mungkin dia sudah mengeluarkan perintah untuk mencari kita. Atau mungkin Ahreum,”

Luhan dan Baekhyun bercerita bersahut-sahutan.

“Apa maksudnya dengan pintunya terbuka? Cerita yang jelas,” titah Suho.

Luhan menarik napas panjang dan mulai menjelaskan duduk perkaranya. Bahwa ia melihat pintu itu terbuka ketika mereka dalam perjalanan pulang ke rumah. Pintu gerbang yang dimaksudkan disini bukanlah semacam gerbang yang bisa dilihat secara kasat mata, melainkan sebuah proses yang terjadi di langit. Luhan tahu, gerbang di langit itu hanya bisa dibuka oleh beberapa penghuni Exoland yang memiliki kekuatan besar; salah satunya adalah anak buah Xenos. Karenanya Luhan khawatir kalau-kalau ada anak buah Xenos yang melewati gerbang tersebut.

“Kalau begitu, mulai sekarang kita perketat penjagaan terhadap Ahreum. Jangan pernah lepas dari pengawasan kalian. Mengerti?!” perintah Kris.

Semuanya mengangguk paham akan perintah Kris itu. Mereka menyadari kalau ini adalah situasi genting. Karena bisa saja ada yang mampir ke bumi dan mengincar Ahreum. Karenanya mereka juga harus menajamkan semua indera mereka agar jangan sampai mereka kecolongan.

“Ge, apa ada yang melihat Ahreum? Luhan ge, kamu gak pulang sama Ahreum?” tegur Tao yang baru memasuki ruang TV.

“Ahreum kan gak kerja hari ini? Bukannya dia seharian ada di rumah?” bingung Luhan.

“Dia ada di kamarnya dari tadi siang,” sahut Sehun.

“Tapi kamarnya kosong? Kemana dia?” tanya Tao lagi.

“Mungkin sedang bersama Kai,” ujar Suho. Ia bisa berkata demikian karena memang kini hanya Kai saja yang tidak ada bersama mereka.

“Siapa yang bersamaku?” tanya Kai yang baru saja muncul secara tiba-tiba diantara pasukan khusus.

“Kamu habis darimana, Kai? Ahreum tidak bersamamu?” tanya Chanyeol.

“Aku baru saja selesai mandi. Dan aku mandi sendirian tidak bersama Ahreum,” sahut Kai asal.

Panik. Itulah yang dirasakan Kris dan Suho saat ini. Kedua pemimpin itu saling pandang dan mereka memiliki pemikiran yang sama.

“Suho, kamu pergi ke tempat Kim ahjussi, cari Ahreum disana. Luhan dan Baekhyun, kembali ke cafe, siapa tahu Ahreum pergi kesana. Aku akan pergi ke tempat Jiyeon bersama Lay. Sehun dan Tao kalian berjaga di rumah, siapa tahu Ahreum kembali. Dan yang lainnya, carilah Ahreum di tempat-tempat yang mungkin dia datangi,” titah Kris.

Baru saja Kris hendak beranjak pergi ketika Kai menahannya dengan kebingungannya.

“Tunggu sebentar. Apa yang terjadi disini? Kenapa kalian panik begini?” tanya Kai.

“Gerbang Exoland terbuka dan mungkin ada yang melewatinya. Karenanya Ahreum-,”

Belum selesai Suho menjelaskan permasalahan yang sedang terjadi, Kai sudah lebih dulu menghilang dari hadapan mereka. Kai tak butuh informasi lebih lanjut lagi. Ia sadar betul kalau Ahreum sedang dalam bahaya saat ini. Perginya Kai menjadi isyarat bagi semua pasukan khusus untuk bergerak mencari Ahreum.

.

.

.

.

.

logo1

The twentienth second chapter is out!!!

Yuhuuuuuu!!!!! Akhirnya update juja.. Kangen ih sama kalian.. Kalian kangen gak sama bee?? Ato kangen sama ahreum?? Ato kangen sama exo?? Ato kangen sama jiyeon?? ㅋㅋㅋㅋ

Sebelumnya maaf kl ceritanya jd kaya gini. Mungkin feelnya menurun disini setelah sebelumnya semua perasaan kalian diacak-acak sama adegan krisreum.. ㅋㅋㅋㅋ

Gimana? Gimana? Gimana? Setelah nunggu sekian lama apakah chapter ini memuaskan?? Sebelumnya kan bee udah bilang kl bee bingung nyusun cerita lanjutannya, apakah yg ‘ini’ tayang duluan ato yg ‘itu’ tayang duluan.. Jadilahh seperti ini.. Disini Bee bikin Ahreum jadi cengeng begini karena yaaaaa areum kan abis kecolongan ciuman pertamanya, jd wajarlah kl dia kena mental-breakdown yaa…

Okelah.. Sekali lagi maaf kl ceritanya ga memuaskan.. Bee hanyalah author kacangan yg mudah naik turun emosinya..

Okeh!! Bee pamit!! 안녕!! 뿅!!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 22 – Missing | PG15

30 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 22 – Missing | PG15

  1. dcpssi says:

    omg aku telat baca ><

    bee eonni, kemaren aku baca di allkpop kalo areum keluar dari t-ara dan bakal jadi solois hiphop. cuma info sebenernya, siapa tau berguna/?

    ditunggu next chaptnya yaaa eon~{}

  2. Baru bisa comment disini.. Wah Karen bgt!! Itu maksud pintu yg menyatukan exoland sama bumi kayak di anime bleach bukan ya? Soalnya kebuka di langit.. Maaf baru bisa comment sekarang ffnya bagus eon ^^

  3. NadChaCha says:

    Uhhh gara2 Jiyeon nih, Ahreum jd ga mau deketin Kris kan u,u
    Mwo? Chanyeol pernah membakar dirinya sendiri? Emejing(?)._.
    Itu gebang exoland knpa kebuka? Apakah ada Raja Xenos? Klo iyaa, kemungkinan akan ada peperangan(?) yaa #Sotoy
    Ahreum nya jd kaya ank kecil disini, tp lucu 😀
    Iya sih disini feel nya krng dapet, tp tpp aja bikin penasaran 😀
    Trs ya, itu Ahreumnya kmna coba? Diculik kah? Ato ngumpet? Ntahlah, hanya bee eonni yg tau xD
    Lanjut nya jgn lama2 yaaaa, cape nunggunya 😀

  4. aninshouta says:

    akhirnya muncul juga chapter ini hihi setelah berabad-abad nunggu/?, ko makin parah ya kris sama ahreum :c
    gerbang exoland udah kebuka berati cerianya udah mau abis dong/?

    semangat ne eon, ditunggu chapter2 selanjutnya ^^

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s