FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 21 – Chance | PG15


beautiful-life

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter 21 – Chance

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

Jiyeon T-ara as Park Jiyeon

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life,

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Enchanted

Chapter 21 | Chance

.

.

.

.

Chance!

.

.

.

.

 

“Ada apa denganmu dan Park Jiyeon, Dduizhang?” tegur Luhan pada suatu sore.

Kris memandangi Luhan bingung. Walau ia mengerti maksud dari pertanyaan Luhan, tapi ia bingung kenapa Luhan mendadak bertanya seperti itu. Luhan bukanlah tipe orang yang suka turut campur atau ingin tahu masalah orang lain.

“Ada apa apanya?” Kris balik bertanya.

“Aku lihat belakangan ini kamu jadi lebih dekat dengan Jiyeon dibandingkan dengan Ahreum. Aku jadi khawatir,” sahut Luhan.

Kris terdiam sejenak. “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Tapi aku sungguh tidak ada apapun dengan Jiyeon. Aku hanya menjaga agar jangan sampai dia menyakiti Ahreum lagi. Itu saja,”

Luhan meneliti ekspresi Kris. Ia takut Kris menyembunyikan sesuatu darinya. Karena Luhan tahu persis kalau pemimpinnya yang satu ini sangat mahir dalam menyembunyikan perasaannya.

“Dengan cara berdekatan dengan Park Jiyeon dan mengacuhkan Ahreum? Dduizhang, aku sudah lama sekali tak melihatmu bicara dengan Ahreum. Kalian terlihat seperti sedang bermusuhan,” ujar Luhan.

“Memang seperti itu kenyataannya,” sahut Kris. Ketika Luhan memandangi Kris dengan bingungnya, barulah Kris melanjutkan kalimatnya. “Kamu tahu persis kalau Ahreum tidak menyukaiku. Bahkan mungkin dia membenciku. Dia hampir tak pernah bicara dengan nada manis padaku. Bahkan dengan Xiumin saja dia masih bisa tersenyum, tapi tidak denganku,”

Luhan memandangi Kris iba. “Lalu kamu mau menyerah begitu saja, Dduizhang? Itu artinya kamu harus lebih berusaha untuk merebut perhatian Ahreum dari yang lainnya. Jangan sampai Ahreum benar-benar mengeliminasimu dari daftar calon raja.”

“Aku sudah… pasrah. Kalaupun dia mencoretku dari daftar raja, aku tak bisa protes. Ini karena memang sepertinya Ahreum sudah menutup hatinya untukku,” ujar Kris.

“Oh Dduizhang,” iba Luhan. “Tenanglah, kesempatan itu pasti akan datang padamu. Ketika kesempatan itu datang, kamu harus berusaha sebaik mungkin untuk merebut hati Ahreum,”

Kris tersenyum simpul mendengar dorongan semangat dari Luhan itu. “Kalau kesempatan itu datang aku tak akan menyia-nyiakannya. Tapi kalaupun aku gagal, aku mohon padamu. Jangan biarkan Ahreum jatuh ke tangan Kai. Aku tahu Kai sangat mencintainya. Tapi aku tak yakin apakah Kai bisa membimbingnya menjadi ratu yang baik atau tidak,”

“Dduizhang, kamu kan tahu aku tidak mau jadi raja. Kalau aku bisa memilikinya tanpa harus menjadi raja, aku mau. Aku memang menyukai Ahreum, tapi aku tak mau jadi raja. Maka dari itu, Dduizhang, kamu harus berusaha untuk merebut Ahreum dari Kai. Aku yakin kamu bisa jadi raja yang cocok untuk Exoland,” sahut Luhan.

.

.

.

Ahreum berjalan dengan sedikit terburu-buru hari ini. Ia tampak tergesa-gesa karena memang sedang mengejar undian di sebuah supermarket besar di kota dan juga sedang menghindari satu pengawalnya yang kini berjalan dua langkah di belakangnya.

“Kenapa juga harus kamu yang menemaniku. Padahal tadi Lay tidak sibuk, begitu juga dengan Kai. Kenapa harus kamu yang ikut denganku?!” gerutu Ahreum.

Ahreum melirik ke pemuda jangkung di belakangnya. Kembali Ahreum mendengus kesal. Ia kesal karena harus ke supermarket dengan pengawalnya yang paling menyebalkan. Kris.

“Apa kamu begitu tak sukanya padaku? Apa salahnya kalau aku yang menemanimu?” gumam Kris yang cukup terdengar oleh Ahreum.

“Karena kamu menyebalkan,” gerutu Ahreum.

Mereka kembali jalan dalam diam, dengan Ahreum yang kini berada empat langkah di depan Kris. Bahkan ketika sampai di supermarket pun Ahreum langsung meninggalkan Kris dan menuju ke tempat undian.

“Selamat malam, Nona. Mau menukarkan kuponmu dengan nomor undian atau mau ikut undian langsung?” tanya pembawa acara begitu Ahreum sampai di hadapannya.

Ahreum tampak bingung dengan pilihan yang ditawarkan si pembawa acara. Ia pikir setelah datang kesini ia bisa langsung mendapatkan hadiahnya, tapi ternyata tidak.

“Nona punya kupon 10 lembar. Ini bisa di tukar dengan 10 nomor undian atau satu kali undian langsung. Anda mau yang mana, Nona?” tanya si pembawa acara lagi.

Ahreum melirik Kris yang kini sudah berdiri di belakangnya. Ia benar-benar merasa kalau ia salah bawa pengawal. Ahreum sungguh membutuhkan saran Suho disaat seperti ini. Karena sepertinya Kris sama sekali tak tahu harus membantu Ahreum memilih yang mana.

“Kalau undian langsung apa kita akan langsung dapat hadiah?” tanya Kris.

Ahreum sampai kaget mendengar pertanyaan Kris. Tumben-tumbenan Kris memiliki inisiatif bertanya.

“Tentu saja. Hadiahnya yang ada dibelakang kami. Mulai dari penanak nasi elektrik, vacuum cleaner keluaran terbaru sampai liburan gratis di pulau Dokdo,” sahut si pembawa acara sumringah.

“Kita ambil undian langsung,” putus Kris.

Kris kemudian mengambil sepuluh lembar kupon di tangan Ahreum dan memberikannya pada si pembawa acara. Setelah itu ia berpaling pada Ahreum untuk bertanya hadiah apa yang ia mau.

“Vacuum cleaner edisi terbaru atau mesin kopi otomatis,” sahut Ahreum setelah sebelumnya sempat bengong melihat Kris.

Setelah itu Kris memutar kotak undian yang berisi bola-bola hadiah. Ahreum harap-harap cemas saat ini. Ia sungguh berharap kalau Kris bisa mendapatkan vacuum cleanernya.

“Waaahhh!! Selamat anda mendapatkan hadiah utama!!!” seru pembawa acara undian malam ini.

“Yeaaaaay!!!” Ahreum langsung melompat kegirangan. Bahkan tanpa sadar memeluk Kris sebagai rasa syukurnya. Padahal ia tak tahu apa hadiah utama, hanya dengan mendengar kalau ia mendapat hadiah saja sudah cukup membuat Ahreum senang. Melihat Ahreum yang begini sumringah, membuat Kris mengulas senyum tipis di wajahnya.

“Apa hadiah utamanya?” tanya Kris.

“Liburan 2 hari satu malam di pulau Dokdo. Ahh selamat, kalian pasangan muda,” sahut pembawa acara.

“What?!!!” seru Ahreum.

“Iya, hadiah utama kami adalah liburan untuk dua orang selama dua hari satu malam di pulau Dokdo. Silakan isi data diri kalian disini,” si pembawa acara menyodorkan beberapa lembar kertas pada Kris.

“Tunggu dulu,” sela Ahreum. “Kalau aku tukar dengan hadiah yang lain apa boleh? Aku tak ingin liburan ke Dokdo, aku maunya vacuum cleaner,”

Kris baru saja akan mengisi data dirinya ketika Ahreum memohon pada pembawa acara. Ahreum bahkan menunjukkan aegyonya pada si pembawa acara, agar keinginannya dikabulkan. Tapi karena Kris sudah memberikan death-glarenya pada si pembawa acara, akhirnya orang itu dengan sangat berat hati menolak permohonan Ahreum.

“Maaf, Nona. Hadiah yang kamu dapatkan tak bisa ditukar atau dijual. Kecuali ada yang mendapatkan vacuum cleaner itu dan kalian sendiri tukar hadiah. Lagipula undian ini akan ditutup setengah jam lagi. Jadi kalau kamu tidak mengambil hadiahnya, maka hadiah ini akan hangus,” jelas si pembawa acara.

Ahreum tentu saja tak menyerah. Ia terus merayu si pembawa acara agar mau mengabulkan keinginannya. Dan Kris memanfaatkan kesempatan ini untuk mengisi lembar formulir tersebut. Setelah selesai mengisi formulirnya, Kris langsung memberikannya pada si pembawa acara.

“Kami akan mengambil hadiahnya,” ujar Kris.

“Apa?! Tapi Kris-,”

“Baiklah data diri kalian sudah kuterima. Tiga hari lagi tiketnya akan dikirim ke kalian. Dan acara liburannya adalah minggu depan. Jadi bersiaplah dari sekarang,” sahut si pembawa acara, memotong protes Ahreum.

“Tapi aku tak mau libu-,”

“Baiklah. Mana tanda terimanya?” Kris menadahkan tangannya pada si pembawa acara.

Ahreum memandangi Kris tak percaya. Bagaimana bisa ia membuat keputusan tanpa menanyakan pendapat Ahreum terlebih dahulu. Ahreum kesal bukan main. Ia akhirnya menginjak kaki Kris agar pemuda itu memperhatikannya.

“Auuw!!” erang Kris.

“Kenapa kamu malah mengambilnya?! Aku gak mau hadiah itu! Ughh kenapa kamu gak tanya dulu pendapatku?!” protes Ahreum.

“Kita tak bisa menukar hadiahnya, Ahreum. Lagipula apa kamu tidak baca, keputusan juri tak bisa diganggu gugat. Kalau kamu begitu ingin punya vacuum cleaner itu, nanti aku akan membelikannya. Sekarang apa bisa kamu membiarkanku mengurus hadiah kita?” bujuk Kris.

Kris sudah berusaha dengan seluruh tenaganya untuk berbicara secara halus pada Ahreum. Kris berusaha untuk tidak terlihat seperti ‘angry bird’, karena biar bagaimanapun juga ia cukup kesal karena Ahreum menginjak kakinya. Kris teringat ucapan Luhan, untuk tidak mengerutkan alisnya jika sedang berbicara dengan Ahreum serta tidak menaikkan nada suaranya.

Dan sikap Kris tersebut sukses membuat Ahreum melongo. Padahal Ahreum yakin sekali kalau Kris akan balik memarahinya karena semua rengekannya. Tapi Kris malah berbicara dengan nada yang-sangat-tidak-Kris-banget.

“Tapi… Ya sudah. Tapi jangan lupa belikan aku vacuum cleanernya,” Ahreum akhirnya mengalah.

Kris kemudian mengurus segala yang diperlukan untuk pengambilan hadiahnya. Begitu mendapatkan tanda terima barulah mereka berdua pulang.

Di perjalanan pulang Ahreum tak berhenti mengoceh menyalahkan dirinya. Ia menyalahkan dirinya kenapa tidak membawa Tao bersamanya. Mungkin dengan membawa Tao, Ahreum bisa menyuruh Tao menghentikan waktu sejenak agar ia bisa mengeluarkan hadiah yang ia inginkan. Atau membawa Luhan bersamanya, jadi ia bisa menyuruh Luhan untuk memainkan pikiran pembawa acara undian tadi agar mengizinkan Ahreum untuk menukar hadiahnya. Atau membawa Baekhyun bersamanya, jadi ia bisa menyuruh Baekhyun untuk memadamkan lampu sejenak agar Ahreum bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari bola hadiah yang ia mau. Sayangnya semua sudah terlambat. Mau disesali bagaimanapun juga sudah tak ada gunanya. Ahreum kini harus menerima kenyataan kalau ia harus pergi liburan dengan Kris -yang pastinya tidak akan terasa seperti liburan.

“Mana lihat hadiahnya,” pinta Ahreum.

Kris lalu memberikan tanda bukti hadiahnya. Dan Ahreum pun berteriak panik begitu membaca keterangan yang tertera disana.

“Apa-apaan ini?! Liburan berdua ke Dokdo selama dua hari satu malam?! Hanya berdua saja?! Atas namaku dan kamu?! Oh my god!” seru Ahreum panik.

Kris memandangi Ahreum bingung. Padahal Ahreum sudah tahu kalau hadiahnya adalah liburan selama dua hari satu malam. Lantas kenapa ia paniknya baru sekarang.

“Aku.Harus.Terjebak.Denganmu.Selama.Dua.Hari.Di.Dokdo,” seru Ahreum dramatis.

“Apa yang salah dengan itu?” bingung Kris.

“Kenapa kamu tidak mengisi data orang lain saja?! Kenapa harus memasukkan dataku dan datamu?! Dan sekarang aku harus terjebak denganmu! Kenapa kamu gak isi saja datamu dan Park Jiyeon. Atau isi dataku dengan yang lain. Kenapa harus aku dan kamu?!” protes Ahreum.

“Karena memang hanya ada kamu dan aku disana. Aku tak mungkin memasukkan data orang lain. Memangnya kenapa kalau kamu pergi denganku?” bingung Kris.

“Demi Tuhan, cobaan apa yang Kau berikan padaku!” seru Ahreum pasrah.

“Semoga yang lainnya tak membunuhmu, Kris. Kalau mereka tahu kita akan pergi selama dua hari satu malam, entah apa yang akan mereka lakukan padamu,” gumam Ahreum.

.

.

.

Benar saja dugaan Ahreum. Sebelas pengawalnya yang lain langsung menunjukkan protesnya begitu tahu kalau Ahreum akan pergi dari hadapan mereka selama dua hari.

“Kenapa hanya berdua saja?? Ahreum apa kamu sudah tak menyayangiku lagi,” rengek Sehun.

“Dimana Dokdo itu? Apa jauh? Tenang saja, aku akan menyusulmu kesana,” ujar Kai.

“Dua hari, Ahreum?! Lalu aku harus makan makanan mereka selama dua hari??” protes Xiumin.

“Ahreum, jangan pergi,” rengek Tao.

Berbagai protes dan rengekan diluncurkan pada Ahreum. Gadis itu hanya memandangi mereka dengan rasa bersalah.

“Sudahlah kalian semua,” sela Suho. “Ahreum berhak mendapatkan liburan,”

“Begitu juga dengan Dduizhang,” sahut Luhan.

Luhan lalu menarik Kris meninggalkan kelompoknya yang masih merengek pada Ahreum. Sesampainya di lantai dua rumah Ahreum, Luhan langsung memberi semangat pada Kris.

“Dduizhang, ini adalah kesempatanmu! Dua hari. Selama dua hari itu kamu harus bisa merubah pandangan Ahreum terhadapmu. Ingat pesan-pesanku, Dduizhang. Aku sungguh berharap banyak padamu,” ujar Luhan.

“Ya, Lu. Semoga Ahreum tidak makin membenciku,”

.

.

.

Begitu Ahreum keluar dari kamar mandinya, ia mendapati Kai sedang duduk di kasurnya. Kai duduk di tengah kasur Ahreum sambil merapikan beberapa baju Ahreum yang berserakan diatas kasur.

“Kai, sudah kubilang kan kalau mau masuk kamarku untuk ketuk pintu dulu,” tegur Ahreum.

“Mungkin kamu tak dengar, Ahreum. Aku sudah mengetuk pintunya tadi,” sahut Kai.

Kemudian Kai menepuk-nepuk kasur Ahreum, sebagai isyarat agar Ahreum naik ke kasurnya. Ahreum pun menurut, ia kini duduk di samping Kai. Melihat rambut Ahreum yang masih basah, membuat Kai berinisiatif meraih handuk di leher Ahreum untuk mengeringkan rambut Ahreum.

“Sudah malam begini kenapa keramas? Nanti kamu bisa masuk angin, Ahreum,” tegur Kai sambil menggosokkan handuk di rambut Ahreum.

Ahreum sendiri hanya diam dan membiarkan Kai mengeringkan rambutnya. Ia pasti akan merindukan perlakuan Kai selama dua hari ke depan. Karena besok Ahreum akan pergi ke Dokdo bersama Kris.

“Kamu mau liburan, Ahreum. Kenapa ekspresimu murung begini?”

“Kai, apa bisa… apa bisa kamu juga ikut ke Dokdo?” tanya Ahreum.

“Kamu mau aku ikut?”

Ahreum mengangguk pelan. “Kamu kan bisa berpindah tempat dalam sekejap mata. Nanti kamu menyusul ke Dokdo sama yang lainnya. Tak apa-apa kalau kita bertiga belas di kamar hotel. Pasti begitu akan lebih menyenangkan daripada aku hanya berdua dengan Kris,”

“Baiklah, aku akan menyusulmu kesana. Memangnya kenapa dengan Kris Hyung? Kamu begitu anti sama dia,” selidik Kai.

“Dia menyebalkan,” sahut Ahreum. Dan Jiyeon menyukainya, jadi aku tak mau terlalu dekat dengan Kris, batin Ahreum.

Kai tertawa pelan mendengar keluhan Ahreum. Kemudian mereka membahas daerah-daerah Dokdo yang akan Ahreum kunjungi. Agar Kai punya gambaran dimana-dimana saja ia bisa bertemu dengan Ahreum jika ia ber-teleport ke Dokdo. Tapi Kai baru menyadari satu hal…

“Dokdo itu harus menyebrangi laut?” tanya Kai.

“Tentu saja. Namanya juga pulau Dokdo. Jadi dia terpisah oleh lautan,” sahut Ahreum.

Dalam hati Kai langsung panik. Ia baru menyadari kalau kekuatannya belum bisa untuk ber-teleport antar pulau. Tapi Kai tak mengutarakan hal itu pada Ahreum. Ia takut Ahreum akan kecewa.

“Pokoknya nanti kamu munculnya di daerah pantai ini. Karena disana banyak karangnya, jadi kalau kalian tiba-tiba muncul disana pasti tidak akan terlalu mencolok. Setelah itu kamu bisa menyuruh Chanyeol untuk mencariku. Aaahh liburan besok pasti akan menyenangkan,” ujar Ahreum yang mulai semangat membayangkan liburannya bersama dua belas pengawalnya.

Kai menarik sudut-sudut mulutnya untuk membuat senyuman. Ahreum sudah berharap banyak padanya, tapi Kai tak bisa melakukan apa-apa untuknya. Kai jadi merasa bersalah.

“Baiklah, Nona cantik. Sekarang saatnya kamu tidur agar besok kamu bisa menikmati liburanmu,” bujuk Kai.

Kai lalu merebahkan badan Ahreum dan menyelimutinya.

“Kai,” panggil Ahreum.

“Apa? Kamu mau aku menemanimu malam ini?” goda Kai.

Ahreum hanya diam menyahuti godaan Kai. Ia mengangguk pelan sambil menyembunyikan setengah wajahnya dengan selimut. Kai jadi mengulas senyum simpul melihat tingkah Ahreum.

“Waah sepertinya kamu sudah jatuh terlalu dalam dengan pesonaku ya,” gurau Kai.

Kai kemudian naik lagi ke kasur Ahreum dan duduk di samping Ahreum. Ia mengelus-elus rambut Ahreum sampai akhirnya Ahreum tertidur.

Maaf, Ahreum. Aku tak bisa menemanimu besok. Kuharap hatimu tidak goyah nantinya, bisik Kai.

 

Mereka tak menyadari kalau ada sepasang mata yang mengamati mereka dari luar jendela dengan begitu terluka.

.

.

.

.

.

.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ahreum berusaha untuk melupakan kenyataan kalau ia akan liburan dengan Kris. Ahreum berusaha untuk menikmati perjalanannya, walaupun dalam hati ia masih merasa tak nyaman. Karena… ya kalian tahu sendiri kalau Kris itu kerjaannya hanya protes saja.

“Ingat, nanti begitu sampai di Dokdo, kamu tak boleh pergi sendirian. Jangan mendadak menghilang. Jangan pernah mencoba memakai bikini, aku sudah mengecek tasmu dan mengeluarkan bikinimu,” pesan Kris.

“What?! Kenapa kamu keluarkan?! Lalu aku harus pakai apa di pantai nanti??” protes Ahreum.

“Karena disana itu bukan pantai pribadi, Ahreum. Akan ada banyak mata yang melihatmu. Aku tak mau mereka..,”

“Lalu aku harus pakai apa?? Masa aku pakai dress?” sela Ahreum.

“Kamu kan bisa pakai kaos, Ahreum,” ujar Kris.

Kris benar-benar berusaha keras untuk tidak menaikkan nada suaranya. Ia tahu betul kalau Ahreum akan langsung murung jika ada yang berbicara dengan nada tinggi padanya. Dan karena Kris kini sedang berusaha untuk mendapatkan nilai baik di mata Ahreum, makanya Kris berusaha keras untuk bersikap lembut pada Ahreum.

“Tsk, kamu benar-benar tak menyenangkan,” Ahreum berdecak kesal pada Kris.

Keduanya kini sudah tiba di hotel tempat mereka akan menginap. Ahreum langsung histeris melihat kamar hotelnya. Bukan karena kamarnya menghadap ke laut. Bukan juga karena balkon hotel yang memungkinkan Ahreum untuk menghabiskan waktunya. Bukan karena itu semua. Tapi karena…

“Kenapa kasurnya cuma satu?!! Trus aku harus tidur dimana?!” protes Ahreum.

“Ya kamu tidur di kasur, Ahreum,” sahut Kris yang sudah mulai membongkar kopernya.

“Lalu kamu tidur dimana?”

Kris terdiam. Kemudian ia menghela napas panjang. “Aku bisa tidur di balkon jika kamu tak mau sekamar denganku. Tapi kalau kamu mengijinkanku untuk ikut tidur di kamar ini maka aku bisa tidur di lantai atau di sofa,”

Ahreum menimang-nimang ucapan Kris. Ia lalu melirik balkon kamarnya. Memang di luar sana ada satu bangku malas untuk bersantai. Tapi Ahreum tak tega membayangkan Kris harus tidur di luar.

“Kamu boleh tidur di dalam kok,” ujar Ahreum sambil lalu. Ahreum lalu masuk kamar mandi untuk berganti pakaian.

“Bahkan berada satu ruangan denganku saja kamu enggan, Ahreum,” lirih Kris.

.

.

.

“Makannya pelan-pelan, Ahreum. Kita masih punya banyak waktu untuk bermain. Nanti kamu-,”

“Uhukk uhukk,”

Belum selesai Kris memperingati Ahreum, gadis itu sudah tersedak makanannya. Kris akhirnya menghampiri Ahreum yang duduk di seberangnya. Ia menepuk-nepuk punggung Ahreum agar gadis itu berhenti batuk. Setelah batuk Ahreum mereda, Kris memberikan segelas air putih untuk melancarkan tenggorokan Ahreum.

“Ughh, ini gara-gara kamu mengoceh terus. Aku jadinya batuk kan,” gerutu Ahreum begitu ia selesai minum.

“Aku kan hanya mengingatkanmu untuk tidak terburu-buru. Coba kalau kamu mendengarkanku tadi,” nasihat Kris.

Ahreum tak mendengarkan ucapan Kris. Ia sibuk membersihkan dirinya. Kemudian Ahreum merasakan sesuatu di perutnya, sesuatu yang aneh. Ahreum pun langsung berlari meninggalkan Kris.

.

“Kemana saja kamu?? Kan sudah kubilang untuk jangan pergi sendirian,” tegur Kris yang nyaris menaikkan nada suaranya begitu melihat Ahreum.

Ahreum memandangi Kris malas. Ia tidak menghampiri Kris dan hanya berdiri diam di tempatnya. Akhirnya Kris yang menghampiri Ahreum, masih sambil mengoceh, membuat Ahreum makin sebal dibuatnya.

“Kamu bisa gak untuk gak ngomel-ngomel terus?! Aku habis dari toilet tadi. Aku muntah tahu!” kesal Ahreum.

“Muntah?!! Kenapa bisa muntah?!” panik Kris.

Kris melihat wajah Ahreum memang sedikit pucat. Ia akhirnya memijat tengkuk Ahreum, berharap akan membuat kondisi Ahreum semakin baik.

“Gara-gara kamu banyak omong,” gerutu Ahreum pelan.

Ia kemudian menepis tangan Kris dan lalu kembali meninggalkan Kris. Ahreum hendak melanjutkan lagi makan siangnya.

.

.

“Kamu yakin gak mau istirahat dulu di hotel? Apa gak sebaiknya kita jangan main dulu. Bukannya tadi kamu bilang kalau kamu masih jetlag akibat penerbangan tadi?”

Kris sungguh mengkhawatirkan kondisi Ahreum. Apalagi begitu ia tahu kalau tadi Ahreum habis muntah. Walaupun Ahreum sudah mengisi kembali perutnya, tetap saja Kris merasa khawatir. Ia tak mau Ahreum malah jatuh sakit disini.

“Kita kesini untuk liburan. Kan kamu yang memilih untuk mengambil liburan ini. Jadi kita harus memanfaatkannya dengan baik. Aku tak mau hanya di kamar dan istirahat. Kita sudah disini, jadi harus menikmati semuanya. Malah kalau bisa aku tidak akan tidur malam ini agar aku bisa puas keliling Dokdo. Kapan lagi bisa main kesini,” sahut Ahreum.

Keduanya kini sudah sampai di salah satu tempat wisata Dokdo yang terkenal akan bebatuan karangnya. Begitu sampai disana, Ahreum langsung berusaha menelepon ke rumah. Ahreum ingin bilang pada Kai untuk berteleport sekarang, karena dirinya sudah sampai di tempat mereka janjian semalam. Tapi tak ada satu orang pun yang menjawab teleponnya. Ahreum kembali berusaha menelepon rumah dan tetap tak ada jawaban. Ahreum pun berdecak kesal.

“Kenapa gak diangkat teleponnya?!”

“Siapa?” tegur Kris.

“Kai. Dia bilang mau datang kesini. Tapi sekarang mereka gak bisa dihubungi,” gerutu Ahreum.

“Datang kesini? Naik apa?” bingung Kris. Lalu Kris ingat kalau Kai bisa teleport. “Tapi kan Kai tidak bis-,”

Kris tak melanjutkan kalimatnya. Ia melihat Ahreum sudah begitu murung. Ia tak mau menambah kecewa Ahreum dengan bilang kalau Kai tidak akan bisa datang ke Dokdo, karena Kai belum bisa menyebrangi pulau. Jadi Kris hanya diam dan membiarkan Ahreum terus mencoba untuk menelepon rumah.

Ahreum memilih untuk menjauh dari Kris dan menaiki batu karang. Ia pikir mungkin Kai dan yang lainnya sudah ada ditempat ini, hanya saja mereka bingung mau kemana. Jadi Ahreum mau menjelajahi bebatuan karang untuk mencari mereka (walau percuma karena pengawalnya tersebut tak ada disana).

“Ahreum, kamu mau kemana? Disana berbahaya. Nanti kamu bisa-,”

Belum selesai Kris bicara, Ahreum sudah lebih dulu terpeleset dari atas karang dan jatuh ke sisi lain batu karang. Panik, Kris langsung melompati bebatuan karang itu. Ia bahkan nyaris terbang, jika ia tak ingat kalau disana ada beberapa turis. Kris menemukan Ahreum sudah duduk di pasir pantai sambil memegang dengkulnya yang berdarah.

“Apa kubilang. Kenapa kamu tak mau menuruti kata-kataku sekali saja, Ahreum. Lihatlah sekarang. Kamu jatuh dan kamu luka. Coba kalau kamu tadi mendengarkanku dan tidak berkeliaran sendirian, kan tidak akan seperti ini jadinya,” oceh Kris yang sudah berlutut di hadapan Ahreum untuk mengamati luka Ahreum.

Kris panik. Kris bingung. Kris tak tahu harus berbuat apa. Ia bukan Lay yang bisa langsung menyembuhkan luka Ahreum. Jadi ia tak tahu bagaimana caranya untuk membersihkan luka Ahreum. Apalagi ini adalah daerah pantai, jadi tak mungkin Kris membersihkan luka Ahreum dengan air laut. Bisa-bisa lukanya tambah parah.

Ketika Kris mengangkat wajahnya untuk melihat Ahreum. Kris mendapati Ahreum yang nyaris menangis. Kris makin panik dibuatnya.

“Oh, Ahreum,” ujar Kris penuh rasa bersalah. Ia lalu mengulurkan tangannya untuk meraih wajah Ahreum. “Ahreum… Ahreum, maafkan aku-,”

Ahreum langsung menepis tangan Kris. Ia menatap Kris penuh kebencian. Dan akhirnya Ahreum menangis.

“Aku sedang terluka sekarang! Dan lihatlah kakiku berdarah! Dan ini sakit sekali! Tapi kenapa kamu malah mengomeli aku?! Aku tahu aku ceroboh dan bodoh! Tapi kamu tak perlu memarahiku seperti ini,” isak Ahreum.

Ahreum akhirnya menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ahreum tak biasa menangis di depan orang. Jadi ia tak ingin terlihat menyedihkan di depan Kris. Seberapa keras Ahreum berusaha menahan tangisannya, tetap saja airmatanya mengalir deras.

Kris jadi makin bersalah melihat Ahreum yang sudah menangis. Kris meraih tangan Ahreum agar tidak menutup wajahnya. Kemudian Kris menangkup wajah Ahreum seraya menghapus air matanya.

“Maafkan aku, Ahreum. Aku panik. Maaf kalau kata-kataku membuatmu tersakiti. Kumohon jangan menangis,” bujuk Kris.

Perlahan-lahan Ahreum berhenti menangis. Tapi ia masih memandangi Kris kesal.

“Sekarang kita cari dulu air bersih untuk membersihkan lukamu ya,” ajak Kris.

Setelah Ahreum mengangguk, barulah Kris menggendongnya. Kembali Kris melompati bebatuan karang dan mencari toko atau tempat apapun dimana ia bisa mendapatkan sesuatu untuk membersihkan luka Ahreum.

“Aku ini bukan Lay, Ahreum. Makanya tadi aku minta kamu untuk tidak jauh dariku. Karena aku takut kamu jatuh dan terluka. Kalau kamu luka bagaimana aku bisa mengobatimu,” ujar Kris.

“Tapi Suho saja bisa mengobatiku. Padahal dia bukan Lay,” gumam Ahreum. “Suho selalu membawa cairan dan plester antiseptik bersamanya. Jadi ketika aku luka dia bisa langsung mengobatinya,”

“Itu artinya dia mengharapkanmu untuk terluka agar dia bisa memakaikan itu semua padamu,” sahut Kris.

Wajah Ahreum mengkerut mendengar ucapan Kris. Ahreum bingung dengan pemikiran Kris. “Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?”

“Kalau dia tak ingin kamu terluka, dia tak perlu membawa benda-benda itu. Cukup menjagamu agar jangan sampai kamu terluka,” jelas Kris.

“Kamu sudah menjagaku, tapi aku tetap terluka,” sahut Ahreum tak mau kalah.

“Itu karena kamu tak mau menurut,” sahut Kris lagi.

Ahreum memandangi Kris takjub. Ia takjub karena Kris selalu punya jawaban atas semua ucapannya. Ahreum akhirnya memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan mereka. Karena Ahreum tahu kalau ia pasti akan kalah dari Kris.

Awalnya Ahreum hanya memperhatikan keadaan sekitar. Tapi akhirnya Ahreum melirik ke wajah Kris untuk melihat ekspresinya. Ia melihat bibir Kris yang terkatup rapat, hidungnya mancungnya yang kembang kempis mengatur napas, matanya yang menatap tajam lurus ke depan, serta alisnya yang saling bertautan. Itu adalah ekspresi Kris ketika ia sedang serius. Melihat alis Kris yang saling bertautan membuat Ahreum ikut menautkan alisnya sendiri.

“Ada apa??” tanya Kris tanpa menoleh pada Ahreum. “Apa ada yang aneh di wajahku?”

“Tidak,” elak Ahreum.

Kris dan Ahreum sudah tiba di salah satu rumah warga terdekat. Setelah meminta izin pada si empunya rumah, Kris pun menurunkan Ahreum dari gendongannya untuk membersihkan luka di kaki gadis itu. Setelah Kris membersihkannya, Kris pun menutup luka itu dengan perban; yang ia minta dari si pemilik rumah.

“Sekarang apa kamu mau menuruti kata-kataku? Kita kembali ke hotel. Kalau kakimu sudah tidak terasa sakit lagi, baru kita jalan-jalan,” ujar Kris setelah ia selesai mengurus luka di kaki Ahreum.

Ahreum memilih untuk mengangguk. Ia tak punya pilihan lain. Lagipula kakinya terasa berdenyut-denyut saat ini. Jadi sepertinya lebih baik ia istirahat sejenak sebelum kembali bermain di pantai.

Begitu mendapat persetujuan dari Ahreum, Kris pun kembali menggendong Ahreum. Bukannya Kris ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tapi karena Kris tahu kalau Ahreum pasti belum bisa berjalan dengan baik saat ini, mengingat lukanya tadi cukup besar. Dan perjalanan mereka kembali ke hotel terasa sangat hening.

“Ada yang mau kamu katakan?” ujar Kris memecah keheningan diantara mereka.

“Apa??” Ahreum balik bertanya. “Ahh aku mau tanya sesuatu.”

“Apa itu?”

Ahreum tampak berpikir sejenak, tidak yakin apakah ia harus menanyakannya atau tidak. “Hmm, kenapa kamu selalu menggendongku di depan seperti ini? Kamu tak pernah menggendongku di punggungmu seperti yang lain. Dan yang lainnya juga tak pernah menggendongku di depan seperti ini,”

Kris berhenti melangkah. Ahreum ternyata memperhatikan cara menggendong yang dilakukan para pengawalnya. Memang benar Kris tak pernah menggendong Ahreum di punggungnya. Kris selalu menggendong Ahreum di depan dadanya selayaknya seorang pengantin pria yang menggendong pengantin wanitanya. Tapi Kris baru menyadari, kalau rekan-rekannya sesama pengawal khusus tak ada yang menggendong Ahreum seperti dirinya. Mereka semua menggendong Ahreum di punggung mereka.

Kris lalu menatap Ahreum dalam pelukannya. “Karena seperti ini aku bisa melihat wajahmu. Jika kamu di punggungku, maka aku tak bisa melihat matamu. Jadi aku lebih suka menggendongmu seperti ini. Agar aku bisa melihat wajahmu,”

Deg!

Ahreum yakin wajahnya sudah memerah sekarang. Ia akhirnya memilih untuk memalingkan mukanya dari Kris. Dan kini degup jantung di dalam dadanya malah memperburuk keadaan. Ahreum sampai takut kalau detak jantungnya yang kencang itu terdengar oleh Kris.

Perasaan apa ini?? Kenapa rasanya dada ini aneh sekali?? Batin Ahreum.

.

.

Setelah makan malam, Kris menemani Ahreum berjalan-jalan di pantai dekat hotel mereka. Suasana diantara keduanya sudah lebih baik. Setidaknya sekarang Ahreum mau menurut dan tidak jauh-jauh dari Kris. Selain itu Kris juga sudah tidak banyak protes pada Ahreum. Walaupun sekarang keduanya berjalan dalam diam, tapi setidaknya mereka sudah saling mengerti sekarang.

“Kakimu masih sakit?” tegur Kris.

“Aku sudah bisa berjalan. Jadi tidak usah khawatir,” sahut Ahreum.

Jujur saja, kaki Ahreum masih sakit. Karena sepertinya tadi batu karang merobek dengkulnya begitu dalam. Tapi Ahreum tetap memaksakan diri untuk pergi keluar karena ia sudah bosan terkurung di kamar hotel. Ia sudah melewatkan beberapa tur yang ditawarkan hotel. Karena sebagian besar area tur itu tidak memungkinkan untuk Ahreum lalui dengan kondisi kakinya yang sedang terluka. Jadi walaupun jalannya terpincang-pincang, Ahreum tetap menyatakan kalau dirinya baik-baik saja. Selain itu ia juga memilih untuk tetap berjalan karena tidak ingin berakhir dalam gendongan Kris, yang pastinya akan membuat Ahreum salah tingkah.

Kris tahu persis kalau Ahreum tidak baik-baik saja. Karena ia melihat Ahreum meringis setiap kaki kanannya, yang terluka, menapak. Akhirnya Kris berinisiatif untuk mengajak Ahreum berhenti sejenak untuk istirahat.

“Bagaimana kalau kita berhenti dulu disini. Sepertinya tempat ini cukup bagus,” ujar Kris.

Ahreum tak membantah. Ia malah langsung berhenti di tempatnya dan berpaling menatap laut. Ahreum tak suka moment ini. Moment dimana dia terjebak hanya berdua saja dengan Kris. Apalagi ketika tidak ada yang bisa mereka bicarakan. Ahreum menimang-nimang sejenak untuk menciptakan sebuah percakapan antara dirinya dan Kris.

“Kris, kudengar katanya orangtuamu meninggal karena dibunuh raja Xenos,” tegur Ahreum. “Bagaimana perasaanmu saat kamu tahu tentang kenyataan itu?”

Kris melirik Ahreum di sampingnya. “Mungkin sama sepertimu. Kamu sendiri apa yang kamu rasakan ketika tahu kalau orangtuamu meninggal karena dibunuh anak buah Xenos?”

Ahreum tampak serius menatap kelamnya lautan. Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Kris. “Perasaanku?? Entahlah. Aku merasa hampa pada saat itu. Aku tidak bisa marah, sedih, atau apapun juga. Tapi aku merasa sangat berduka. Duka yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata,”

Ahreum tahu kalau Kris saat ini pasti sedang ikutan merasa bersedih akan ceritanya. Akhirnya Ahreum menarik napas dalam-dalam. Kemudian ia mengumbar senyum diwajahnya dan berpaling melihat Kris.

“Sudah jangan bahas yang sedih-sedih. Kita disini kan untuk liburan,” ujar Ahreum. “Jadi, menurutmu Jiyeon itu bagaimana??”

Kris bingung akan pertanyaan Ahreum. Kenapa mendadak Ahreum bertanya mengenai Jiyeon. Nama itu adalah nama yang paling tidak ingin Kris dengar saat ini.

“Bagaimana apanya?”

“Apakah dia baik? Menurutmu dia cantik? Apa menurutmu-,”

“Aku tidak peduli dengan yang namanya Park Jiyeon. Apa bisa kita tidak membahasnya?” potong Kris.

“Tapi aku mau membahasnya. Aku mau tahu pendapatmu mengenai Jiyeon,” sahut Ahreum.

“Hanya ada kita disini. Apa tidak bisa kita bahas hal lain. Tentang kita misalnya? Jangan membicarakan orang yang tidak ada disini,” sahut Kris, nyaris terdengar seperti sedang memohon

“Tentang kita?” bingung Ahreum.

“Seperti kenapa kamu menjauhiku? Apa ada yang salah denganku? Kamu melihatku seolah aku adalah sesuatu yang sangat mengganggu,”

“Aku tak pernah seperti itu padamu,” elak Ahreum.

“Iya, kamu berlaku seperti itu padaku. Hanya padaku,” sahut Kris.

“Aku tidak. Itu hanya perasaanmu saja. Aku memperlakukan kalian semua sama,” sahut Ahreum sewot. “Dan lagi, perlu kamu ingat. Aku hanya mempunyai sepasang mata, sepasang telinga dan satu mulut untuk melihat, mendengar dan berbicara dengan kalian berdua belas,”

“Bukan seperti itu-,”

“Sudahlah! Aku kan tadi sedang membahas Jiyeon, kenapa kamu malah mengalihkan pembicaraan dan memojokkanku?!” sergah Ahreum.

“Kenapa kamu kembali membahas Jiyeon dan lagipula aku tidak memojok-,”

“Kamu memojokanku! Lihatlah sekarang. Lagipula memangnya kenapa kalau aku mau membahas mengenai Jiyeon. Dia itu kan adalah temanku. Kamu tahu persis betapa aku ingin sekali berteman dengannya. Aku hanya mau tahu pendapatmu. Kenapa kamu gak mau menjawabnya?!” sahut Ahreum.

“Kenapa kamu ingin sekali membahas Jiyeon, Ahreum?” tanya Kris. “Apa Jiyeon sekarang lebih penting daripada aku?”

“Tentu saja. Aku kenal Jiyeon lebih lama daripada aku mengenalmu. Dan aku lebih menyukainya daripada kamu. Dan dia jaauuuuh lebih menyenangkan daripada kamu. Dia tidak banyak protes seperti kamu. Dia juga baik, tidak sepertimu. Dia pengertian, tidak sepertimu. Jiyeon meyukaiku, tidak sepertimu….,” Dan seterusnya Ahreum mengoceh.

Kris sungguh ingin membungkam mulut Ahreum saat ini. Karena Ahreum bukan hanya berbicara lebih banyak darinya, tapi juga nada bicaranya semakin lama semakin tinggi. Kris takut jika ia meneruskan percakapan ini maka akan berakhir dengan mereka saling bermusuhan. Jadi Kris sungguh ingin menghentikan semua ucapan Ahreum saat ini.

Tapi Kris tak mungkin membekap Ahreum begitu saja. Bisa-bisa Ahreum makin mengamuk. Dan entah pemikiran darimana yang merasuki pikiran Kris (mungkin karena terlalu banyak menonton drama di kediaman Ahreum), jadi hanya ‘adegan’ itulah yang terlintas di otaknya. Kris akhirnya menarik dagu Ahreum dan membuat gadis itu mendongakkan kepalanya. Tanpa basa-basi Kris mendekatkan wajahnya ke wajah Ahreum. Kris akhirnya membungkam Ahreum dengan bibirnya.

Kris tidak tahu kenapa ia memilih untuk membungkam Ahreum seperti itu. Mungkin karena tokoh perempuan di dalam drama yang ditontonnya akan langsung berhenti marah begitu di cium oleh si tokoh pria. Jadi ia pikir Ahreum pasti tidak akan marah lagi padanya.

“Kamu terlalu berisik, Ahreum. Maaf aku harus membungkammu,” ujar Kris setelah ia melepaskan diri dari Ahreum.

Ahreum mengerjap-ngerjapkan matanya menatap Kris. Ia terlalu terkejut untuk bereaksi. Ia terlalu bingung dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Ahreum tak bisa berpikir apa-apa karena rasanya otaknya sudah diselimuti kabut. Selain itu ia juga tak bisa mendengar apapun selain detak jantungnya sendiri dan… napas Kris.

Kris sudah menangkup wajah Ahreum. Ia memandangi manik mata Ahreum seolah itu adalah benda terindah yang ada di dunia ini.

“Aku menyukaimu, Ahreum. Kamu tahu kalau aku bukanlah orang yang suka menunjukkan perasaanku seperti ini. Tapi aku sungguh ingin kamu tahu kalau aku menyayangimu. Jadi kumohon,” Kris menarik napas dalam-dalam.

“…jangan mengacuhkanku,” Kris sudah menurunkan kedua tangannya dari wajah Ahreum.

Rasanya udara di pantai ini tiba-tiba hangat. Ahreum merasa suhu tubuhnya meningkat begitu mendengar ucapan Kris.

“Aku hanya menyatakan perasaanku padanya. Kalau aku menyukainya. Kris memang tidak menjawab apa-apa. Dia juga tidak menolakku. Jadi aku masih punya kesempatan… Jangan pernah mencoba untuk ikut campur. Nanti kamu bisa ikut terjerat.”

Ucapan Jiyeon itu terus terngiang-ngiang di pikiran Ahreum. Ia baru menyadari makna dari ucapan Jiyeon. Karena Ahreum baru menyadari kalau ia sudah terjerat.

Ahreum melayangkan tangannya di udara, bersiap hendak menampar Kris. Tapi pemuda itu tak bergeming. Ahreum menggigit bibir bawahnya begitu keras untuk meredam emosinya. Melihat Kris masih tak memalingkan matanya dari mata Ahreum membuat gadis itu kehilangan percaya dirinya. Akhirnya Ahreum mengepalkan tinjunya dan menjatuhkan lengannya begitu saja. Ahreum menatap Kris sengit.

“Aku sungguh membencimu, Kris. Aku.Sungguh.Membencimu,”

Ahreum akhirnya berbalik dan meninggalkan Kris yang masih terpaku di tepi pantai.

.

.

.

.

.

.

logo1

The twentienth first chapter is out!!!

EXO MENANG MUBANK, KAWAN!!!! MEREKA MENANG JUGA AKHIRNYA!! DAN MEREKA MENANG SEBAGAI EXO, BUKAN EXO-K BUKAN EXO-M!!!! DAN INI HADIAH DARI BEE BUAT PARA EXOSTAN YG SETIA MENSUPPORT EXO DAN BEAUTIFUL LIFE!!! #RollLikeABuffalo

okeh ceritanya memang agak sedikit aneh disini… tapi ini full kris loooh!!! berbahagialah wahai krisreum shipper.. tolong jangan teror saya lagi yaahh.. kan udah dibuatin momentnya ampe satu  chapter gini tuhh… shipper mana yg patahati?? tenang, chapter besok yg merasa patahati akan terobati laah 😀

sekian!! dan sekali lagi bee mau ucapin #EXO #늑대와미녀 엑소~~1위 너무 축하합니다용~~^^
annyeong all!!! ppyeong!!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 21 – Chance | PG15

27 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 21 – Chance | PG15

  1. Astagaa! Pacarku dimarahii~ (re: kris)
    Jangan terus2an yaa marahnya ahreumie, kasian pacarku 😦 *into the story*
    Btw hangsang hwaiting eon!
    Aku tunggu chap selanjutnya~ ^^

  2. yuko says:

    saya bukan KrisReum Shipper <///////3 ;_; .. udah biasku dicoret jadi kandidat, Kai kek nya juga mau dicoret ;_; harapan tinggal sama Chanyeol TT_TT .. Dan harapan terbesar saya si Ahreum bakalan sama bias saya. Oke, keep writing thor! Jangan lama2 '-')/

  3. NadChaCha says:

    Wow Full Kris, puaaass sm part ini 😀
    Tp kenapa Ahreum nya bilang “Aku sunguh membencimu, Kris” u,u
    Tp menurut aku itu Ahreum nya ga bener2 benci sm Kris #Sotoy
    Adegan kisseu nyaaa! Wadaw! Ga nahan(?)~kkk
    Kpn2 bikin lg yah adegan kisseu nya(?) #ApaIni #Abaikan
    Ditunggu lanjutannya ya Eonn 😉

  4. Yume says:

    Annyeong^^ saya new readers yang tersesat disini/?. Mianhae saya baru komen di part ini-_- sangking penasarannya sama kelanjutannya jadi main next chap dan lupa komen-_- tapi, demi pohon kehidupan/? yume bakal sering2 komen wks’-‘)b
    Bee, ffnya keren awuuuu >< doh jadi banyak bacot gini-_- mian mian wkwk~

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s