FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 20 – Sign Of Jealousy | PG15


beautiful-life

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter 20 – Sign Of Jealousy

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

Jiyeon T-ara as Park Jiyeon

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life,

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Enchanted

Chapter 20 | Sign Of Jealousy

.

.

.

.

Sign of jealousy

.

.

.

.

.

Musim dingin datang. Semua warga bersiap untuk menyambut hangat musim dingin tahun ini. Dan karena ini adalah akhir tahun jadi seisi kota sudah menghias dirinya untuk merayakan natal dan pergantian tahun. Ahreum pun tak ketinggalan euforia tersebut.

Ahreum menghias rumahnya dengan lampu-lampu hias warna warni, mulai dari atap, dinding, bahkan jalanan menuju rumah Ahreum pun juga dihias dengan lampu-lampu kecil itu. Entah sudah berapa ratus atau ribuan lampu yang ia pakai. Tentu saja Ahreum tak sendirian dalam menghias rumahnya. Kalau bukan karena bantuan dua belas pengawalnya, Ahreum tak mungkin bisa mengerjakan semuanya dalam semalam. Kini rumah Ahreum sudah terang benderang dan bahkan bisa terlihat dengan jelas dari jalan raya.

“Woaaaahhhh!!!! Lihatlah semua lampu-lampu ini. Omona! Rumah tua ini kini tampak cerah ceria!!” takjub Ahreum.

Ahreum menggandeng Luhan dan Kai –yang bekerja banyak dalam pemasangan lampu di bagian atap. Ia memandangi rumahnya dengan rasa haru. Kini Ahreum bisa menyambut pergantian tahun dengan perasaan yang cerah ceria seperti rumahnya ini.

“Kenapa hanya memasang lampu ini di akhir tahun? Harusnya setiap hari saja kita pasang lampu-lampu ini, dengan begitu rumah ini jadi terlihat ramah dari jalanan,” ujar Kai.

“Tentu saja biaya listriknya akan sangat mahal, Kai,” sahut Ahreum. “Nahh, sekarang tinggal makanannya saja. Siapa yang mau pergi belanja ke supermarket?!”

Kai dan Luhan saling pandang. Luhan juga melirik ke arah Kris, menunggu isyarat darinya. Kemudian Luhan melepaskan tangan Ahreum dan berpura-pura menguap seraya merenggangkan otot-otot mereka.

“Ahh, aku ngantuk,” ujar Luhan sambil menguap begitu lebarnya. Luhan lalu menggamit lengan Lay. “Temani aku tidur.”

“Aku juga capek, mau istirahat sebentar,” ujar Kris. Ia juga menarik Tao dan Chen untuk masuk ke dalam rumah. Sebelum masuk, Kris sempat memberi isyarat pada Suho.

Suho mengerti maksud dari Kris. Ia pun segera menyuruh para Knight yang lainnya untuk masuk dan hanya meninggalkan Xiumin di luar bersama Ahreum. Ini karena mereka –Knight dan Mastermind- ingin membuat Ahreum dan Xiumin menjadi lebih dekat.

Ahreum dan Xiumin cukup canggung satu sama lain. Walau Xiumin selalu berkata kalau ia menyukai dan menyayangi Ahreum, tapi yang dilakukannya hanyalah selalu membuat Ahreum marah. Seperti misalnya masalah ‘kedekatan’ Xiumin dengan kulkas. Xiumin tak pernah mau jauh dari kulkas; pertama karena kulkas menyimpan semua makanan dan kedua karena kulkas itu dingin (sampai Xiumin menamakan kulkas Ahreum sebagai Umin-chingu dan menobatkannya sebagai sahabatnya). Pernah suatu ketika kulkas Ahreum menghilang dan setelah dicari ke seluruh rumah, ternyata kulkas itu ada di kamar Xiumin (entah bagaimana ia membawa kulkas besar itu ke kamarnya di lantai 2 –mungkin menyuruh Luhan untuk memindahkannya). Selain itu Xiumin selalu –setiap hari, setiap saat- membekukan saluran air Ahreum dan membuat seisi rumah harus menunggu lama sampai Chanyeol mencairkan aliran air untuk keperluan mereka.

Karena hal-hal seperti itulah Ahreum selalu habis kesabarannya jika berhadapan dengan Xiumin. Ahreum merasa kalau Xiumin itu tidak penurut, senang membantah dan selalu mencari masalah. Ahreum tak pernah bisa merasa simpati padanya –kecuali setiap Xiumin mengeluh jika ia kelaparan.

Ahreum melirik Xiumin yang berdiri tak jauh darinya. Daripada pergi dengan Xiumin, mungkin lebih baik jika ia kelaparan malam ini.

“Uhh, kurasa mereka tak mau makan,” ujar Ahreum yang sudah beranjak hendak masuk rumah.

“Tapi aku mau… dan aku lapar,” sahut Xiumin.

Angin malam membuat Ahreum bergidik karena kedinginan dan ia sangat tak ingin pergi keluar saat ini. Tak tega melihat Xiumin yang tampak menyedihkan itu akhirnya ia mengiyakan keinginan Xiumin. Lagipula kalau dirinya tidak belanja saat ini maka ia akan ketinggalan diskon daging sapi yang diadakan supermarket. Sebagai makhluk hemat, Ahreum tak bisa meninggalkan kata diskon, apalagi setelah merasakan betapa susahnya mendapat sepeser uang.

“Baiklah, ayo kita pergi,” ajak Ahreum.

“Tunggu sebentar, Ahreum.” Xiumin lalu masuk ke dalam rumah. Tak lama ia keluar dengan membawa serta parka dan syal untuk Ahreum.

Ahreum mengulas senyum tulus di wajahnya dan membiarkan Xiumin memakaikan parka di tubuhnya serta melilitkan syal di lehernya.

“Gomawo,”

Setelah memastikan kalau Ahreum tidak akan kedinginan malam ini, Xiumin pun tersenyum bangga. Kemudian mereka berdua pergi bersama menuju supermarket.

Perjalanan menuju  supermarket terasa sangat lama. Suasana diantara Ahreum dan Xiumin sungguh canggung. Tak ada percakapan berarti diantara mereka. Xiumin memilih untuk berjalan di belakang Ahreum dan tentu saja Ahreum tak menyukai hal itu.

“Aku tak suka jika kamu berjalan di belakangku. Berjalanlah di sampingku,” titah Ahreum.

Xiumin pun mematuhi ucapan Ahreum dan berjalan di samping Ahreum. Kini suasana diantara mereka justru semakin canggung.

“Uughh aku sungguh tidak suka suasana ini. Bicaralah sesuatu! Biasanya kamu sangat cerewet.” Ahreum akhirnya memecah keheningan diantara mereka.

Xiumin mendengus pelan. “Huh, kata seseorang yang kerjaannya mengomel sepanjang hari,” sahut Xiumin.

“Mwo?! Kamu meledekku?! Aku selalu mengomel karena kamu selalu memancingku. Seperti saat ini. Kamu memancingku agar aku marah padamu kan. Tapi tidak. Di malam yang tenang ini aku tidak akan mengotori hatiku hanya untuk mengomelimu,” sahut Ahreum.

Mereka kembali terdiam. Xiumin memilih untuk memegang apapun yang dilewatinya dan membuat benda-benda itu membeku dibungkus lapisan es –entah itu lampu jalan, pagar, bahkan box telepon umum. Ahreum hanya bisa mengacuhkannya. Seperti yang Ahreum bilang tadi kalau ia tak akan mengotori hatinya hanya untuk memarahi Xiumin. Jadi walaupun Xiumin secara terang-terangan melanggar peraturannya, Ahreum hanya mendiamkannya.

“Kenapa kamu senang sekali membuatku kesal, Xiumin?” tanya Ahreum mengalihkan perhatian Xiumin dari apapun yang ditemuinya.

Xiumin pun berhenti membekukan apapun yang dilihatnya. Ia kemudian memandang Ahreum di sampingnya. Dan Ahreum bersumpah baru kali ini ia melihat sisi Xiumin yang tampak lembut dan penuh kasih.

“Karena hanya itu satu-satunya cara untuk menarik perhatianmu,” sahut Xiumin.

Ucapan Xiumin sukses membuat Ahreum kehilangan kata-katanya. Baginya Xiumin hari ini tampak sangat aneh. Xiumin yang biasanya cerewet dan menyebalkan kini tampak sedikit pendiam dan meneduhkan. Ahreum mengerjapkan matanya memandang Xiumin.

“Ah, maaf kalau aku tidak memperhatikanmu. Lain kali aku akan membagi diriku menjadi dua belas bagian agar kalian semua mendapatkan perhatianku,” sahut Ahreum acuh.

Ahreum kembali berjalan dan meninggalkan Xiumin yang masih terdiam di tempatnya. Sambil terus berjalan Ahreum memegangi dada kirinya. Jantungnya berdebar cepat hanya karena tatapan Xiumin tadi.

Huh! Semua hal tentang jodoh dan takdir ini bisa membunuhku secara perlahan. Karena mereka selalu memancing agar jantung ini bekerja lebih cepat dan membuat tubuhku jadi abnormal!! gerutu Ahreum.

.

Keduanya kini sudah sampai di supermarket. Mereka berbelanja semua kebutuhan untuk acara barbeque malam ini. Xiumin yang mengantri untuk mendapatkan daging sementara Ahreum mencari bahan makanan yang lain. Setelah selesai keduanya pun langsung pulang –dalam diam.

Dalam perjalan pulang Ahreum lebih memilih untuk berjalan selangkah di depan Xiumin. Ia masih salah tingkah akan sikap Xiumin malam ini. Ditambah dengan semua hal kecil yang dilakukan Xiumin di supermarket tadi yang mampu membuat Ahreum kehabisan kata-kata.

Ketika sibuk dengan pemikirannya, Ahreum merasakan ada sesuatu yang jatuh di hidungnya. Ahreum pun berhenti melangkah.

“Ada apa?” tegur Xiumin. Ia bingung melihat Ahreum kini sudah berdiri diam sambil menadahkan tangannya di udara dan menatap langit. Xiumin pun ikut menatap langit hanya untuk melihat langit yang gelap tanpa bintang.

“Salju…,” sahut Ahreum dan tak melepaskan matanya dari tangannya.

Setetes salju jatuh di telapak tangan Ahreum. Hanya karena zat kecil itu kini senyuman lebar tercipta di wajah Ahreum.

“Salju, Xiumin! Ini adalah salju pertama tahun ini!!!” riang Ahreum.

Ahreum kini menadahkan kedua tangannya di udara, menanti salju itu jatuh disana. Melihat Ahreum yang begitu riang hanya karena salju, membuat Xiumin jadi tersenyum.

“Hei Ahreum, kalau kamu begitu menyukai salju maka kamu tinggal bilang padaku. Aku akan membuatnya untukmu,”

Ahreum memicingkan matanya pada Xiumin. “Heol, kalau seperti itu tidak ada kesenangannya. Salju ini jadi berharga karena kita menunggunya selama berbulan-bulan,”

Ahreum dan Xiumin masih berdiri diam di tempatnya dan memandangi salju yang turun dari langit.

“Hei, Xiumin. Kata orang-orang, jika kita bersama dengan orang yang kita sayangi di bawah salju pertama yang turun di tahun ini maka kita akan hidup bahagia selamanya dengan mereka,” ujar Ahreum.

Mendengar ucapan Ahreum itu membuat Xiumin tersenyum senang. Ia berada di bawah salju pertama bersama Ahreum, orang yang paling disayanginya. Itu artinya ia akan hidup bahagia selamanya dengan Ahreum. Yah, tak ada salahnya berharap seperti itu bukan?

Salju yang turun tahun ini tentu terasa spesial bagi Ahreum, karena ia memiliki pengawalnya bersamanya. Mengingat sebelas pemuda di rumahnya itu, Ahreum pun tersadar dari lamunannya. Ahreum lalu menarik tangan Xiumin dan mulai berlari menuju rumah.

“Ayo, Xiumin. Kita akan menikmati salju ini dengan yang lainnya!!!”

.

.

.

.

.

Liburan musim dingin ini, Jiyeon mengajak Ahreum dan dua belas pengawalnya untuk main ice skating. Karena musim dingin datang jadi Jiyeon ingin berseluncur di atas es bersama dengan Ahreum dan yang lainnya. Lagipula ia juga tak memiliki siapa-siapa untuk menghabiskan liburannya. Makanya Jiyeon mengundang Ahreum dan pengawalnya.

“Woaaaaaaaaaaahhh!!! Omo lihat itu!! Kita akan naik gondola?? Aku baru pertama kali naik gondola! Omo! Ini pasti akan menyenangkan sekali!!”

Dari sekian banyak manusia yang memenuhi tempat wisata hari ini, hanya teriakan Ahreum saja yang bisa terdengar. Bahkan teriakan dari tempat wisata air pun masih kalah dengan teriakan Ahreum. Para pengawalnya yang ikut serta hanya bisa tersenyum pasrah melihat histeria Ahreum. Walau sebenarnya para pengawalnya itu enggan untuk ikut; karena Jiyeon yang mengundang mereka; tapi mau tak mau mereka tetap harus menemani Ahreum.

“Yah! Jangan membuatku malu!” desis Jiyeon sengit. “Menyesal aku mengajakmu kesini.”

Walaupun Jiyeon kini sudah menjadi teman Ahreum, tapi tetap saja para pengawal dari Exoland itu belum bisa mempercayai Jiyeon sepenuhnya; apalagi setelah semua yang pernah Jiyeon lakukan pada Ahreum. Dan dimata para pengawal Exoland itu, Jiyeon masih saja suka bicara ketus (atau itu memang gaya bicaranya) pada Ahreum; walau ia sudah tak pernah lagi menjahili Ahreum.

“Hehehe, mianhae. Aku baru pertama kali ini melihat gondola. Aku juga tak sabar untuk segera main skating,” ujar Ahreum sambil menggamit lengan Jiyeon.

Empat belas remaja itu kini sedang mengantri untuk naik gondola menuju tempat skating yang ada di sisi lain tempat wisata ini. Berhubung satu gondola hanya mampu menampung paling banyak empat orang saja, jadi perjalanan menuju arena skating dibagi empat kelompok. Sebagian besar pengawal Ahreum sudah lebih dulu naik gondola; meninggalkan Ahreum, Jiyeon, Kris dan Luhan.

Ketika gondola yang kosong sudah datang, Jiyeon masuk lebih dulu ke dalamnya dan disusul oleh Kris. Sebelum Ahreum menaiki gondola itu, mendadak Luhan melepaskan tangannya (yang sedari tadi menggandeng tangan Ahreum) dan berbisik pada Ahreum.

“Aku tidak ikut naik benda ini. Tapi aku akan menyusulmu ke arena skating itu. Aku akan lewat bawah saja. Menginjak tanah lebih baik.”

Ahreum bingung akan ucapan Luhan. Tapi ketika memperhatikan ekspresi Luhan yang sudah pucat, membuat Ahreum langsung panik. “Lu! Kamu kenapa? Kamu sakit?”

Luhan tersenyum lemah. “Aku tak suka ketinggian, Ahreum.”

Ternyata Luhan takut ketinggian dan Ahreum baru tahu akan hal itu. Ahreum jadi iba melihatnya. Ia tak bisa membiarkan Luhan berjalan sendirian menempuh jarak sejauh itu (walau Ahreum tahu persis, jarak sejauh itu bukanlah masalah bagi Luhan). Akhirnya Ahreum memutuskan untuk menemani Luhan.

“Kalian mau naik atau tidak?” tegur petugas gondola.

“Tidak,” sahut Ahreum.

Dengan begitu pintu gondola yang ditumpangi Kris dan Jiyeon pun ditutup dan gondola itu pun perlahan mulai naik. Kris dan Jiyeon hanya bisa bingung melihat Ahreum yang tidak jadi naik.

“Kenapa mereka tidak naik? Apa kita tak jadi main skating?” bingung Jiyeon sambil melemparkan tatapan bingung sekaligus kesalnya pada Ahreum yang sudah melambaikan tangan pada mereka.

“Dia pasti mau menemani Luhan. Luhan tak biasa berada di tempat tinggi,” ujar Kris.

Jiyeon hanya ber-oh ria. Kini rasa canggung memenuhi udara diantara Jiyeon dan Kris. Keduanya memilih untuk melihat pemandangan di bawah mereka tanpa berbicara apapun.

.

Dari stasiun gondola, Ahreum memandangi gondola Kris dan Jiyeon yang perlahan menjauh. Bahkan dari jarak sejauh ini Ahreum bisa merasakan kecanggungan mereka. Ahreum harap, ini bisa membuat Jiyeon dan Kris jadi semakin dekat.

Ahreum lalu berbalik pada Luhan. “Nah, ayo kita berangkat,” ujar Ahreum sambil menggamit lengan Luhan.

Ketika ada satu gondola kosong yang tiba, Ahreum langsung menyeret Luhan memasuki gondola tersebut. Luhan tentu saja langsung menahan badannya begitu menyadari kalau Ahreum hendak naik gondola tersebut.

“Ahreum, bukannya kita tidak akan naik benda ini,” panik Luhan.

“Kita memang tidak naik gondola yang tadi. Tapi aku tak mau jalan kaki ke atas sana. Jadi kita akan tetap naik ini ke atas,” tegas Ahreum.

Luhan hanya bisa pasrah diseret Ahreum masuk ke gondola tersebut. Di dalam gondola, Luhan langsung berpegangan yang erat pada bangku.

“Ohh Ahreum, kenapa kamu senang sekali menyiksaku,” keluh Luhan sambil memejamkan matanya rapat-rapat.

Ahreum menumpukan telapak tangannya di atas telapak tangan Luhan. “Hei Lu, buka matamu dan lihat aku,”

Luhan pun membuka sebelah matanya dan langsung mendapati wajah Ahreum yang hanya berjarak satu jengkal dari wajahnya.

“Ya, buka matamu dan lihat aku. Kamu tak usah melihat ke sekelilingmu. Cukup lihat aku,”

Luhan kini merasa seperti dihipnotis oleh Ahreum, karena Ahreum berhasil membuatnya merasa tenang dan tidak merasa takut lagi. Luhan pun menunjukkan senyumannya pada Ahreum.

“Aah, harusnya aku tak menunjukkan sisi lemahku ini padamu. Kuharap kamu tak mengeliminasi aku, Ahreum,” ujar Luhan.

“Tenang saja, Lu. Aku belum akan mengeliminasi kamu kok. Kamu masih jauh dari daftar eliminasiku,” sahut Ahreum sambil tertawa pelan.

“Kamu sudah membuat daftar eliminasi? Siapa saja yang sudah masuk daftar itu??” tanya Luhan.

Ahreum tampak berpikir sejenak. “Ada empat nama yang sudah ku eliminasi. Pertama adalah duo maknae. Ohh aku benar-benar tak tahan dengan tingkah manja mereka. Jadi Tao dan Sehun sudah ku eliminasi dari daftar calon raja. Lalu Xiumin. Ughh aku tak pernah cocok sama dia.”

Luhan tertawa mendengar keluhan Ahreum.

“Lalu aku masih menimbang-nimbang apakah Suho akan ku eliminasi atau tidak. Dan yang sudah masuk daftar eliminasi yang terakhir adalah Kris,”

“Apa?!!!” pekik Luhan. “Kamu menolak Dduizhang dan sedang mempertimbangkan akan menolak Suho juga?? Ahreum, apa kamu tidak salah pilih??”

“Kenapa memangnya??”

Luhan kini terlihat frustasi. “Aku sih senang kalau kamu mengeliminasi dua saingan terberatku. Tapi mereka adalah pemimpin kami, Ahreum. Suho dan Dduizhang memiliki kemampuan dalam memimpin. Harusnya kamu mempertimbangkan hal itu. Kalau mereka dieliminasi berarti yang tersisa hanyalah anak-anak seperti Chanyeol, D.O., dan yang lainnya. Ahreum, apa sebaiknya kamu pikirkan lagi keputusanmu itu.”

Ahreum menimbang-nimbang ucapan Luhan. Bukan tanpa alasan Ahreum mengeliminasi dua pemimpin itu. Kalau dengan Suho, Ahreum benar-benar tak merasa kalau Suho cocok untuk menjadi pasangannya. Sementara dengan Kris, sejak awal memang Ahreum selalu berselisih paham dengannya. Jadi Ahreum sudah lebih dulu mengeliminasi Kris sejak ia tahu kalau para pengawalnya itu akan menjadi pendampingnya.

“Jadi menurutmu, walaupun aku tak suka mereka, aku tetap harus mempertahankan mereka, begitu? Tidak menyenangkan sekali,” ujar Ahreum.

“Karena mereka berdua adalah kandidat terkuatmu, Ahreum. Kamu harus mempertahankan mereka,” nasihat Luhan.

Ahreum memandangi Luhan malas. “Baiklah baiklah. Ucapanmu dan ucapan Suho sama saja. Oke, aku akan mempertimbangkan hal itu,”

Walau Ahreum kini sudah melihat hal lain selain Luhan, tapi Luhan tetap memfokuskan dirinya pada Ahreum. Dalam hati Luhan merasa khawatir akan pemilihan pendamping Ahreum ini. Karena sepertinya Ahreum tidak terlalu memikirkan latar belakang dari para pasukan khusus, melainkan lebih kepada apakah Ahreum merasa nyaman dengan orang tersebut atau tidak.

“Omo!! Serangga!!!” pekik Ahreum tiba-tiba.

Ahreum kini sudah lompat dari bangkunya sehingga membuat gondola yang mereka naiki berguncang. Ahreum terus melompat dari satu bangku ke bangku yang lain. Luhan pun ikutan panik melihat Ahreum yang tak mau duduk tenang.

“Ahreum, jangan banyak bergerak, nanti kita bisa jatuh!” Luhan berusaha menenangkan Ahreum.

Tapi Ahreum tak mendengar ucapan Luhan. Ahreum mengayun-ayunkan tangannya di udara berusaha mengusir serangga tersebut. Luhan akhirnya menarik Ahreum agar gadis itu mau duduk tenang. Tapi karena Ahreum masih panik, mereka berdua pun terjatuh ke lantai gondola; dengan Ahreum menimpa badan Luhan.

.

Kris yang berada di gondola setelah Ahreum tampak tak tenang. Ia terus memperhatikan gondola yang dinaiki Ahreum. Kris merasa tidak nyaman ketika ia melihat Ahreum mendekatkan wajahnya kepada Luhan. Kris cemburu. Apalagi kini Ahreum dan Luhan tak terlihat lagi, entah apa yang mereka lakukan di dalam sana.

“Kenapa?” tegur Jiyeon.

“Huh? Tidak ada apa-apa,” sahut Kris.

Jiyeon terus memperhatikan Kris yang tampaknya seperti ingin melompat keluar gondola. Jiyeon pun berusaha untuk mengalihkan perhatian Kris.

“Hei, Kris,” panggil Jiyeon. “Aku mau bicara sesuatu, apa boleh?”

“Bicara saja,” sahut Kris tanpa menoleh sedikitpun pada Jiyeon.

“Aku menyukaimu, Kris,”

.

.

.

.

.

.

Kris tahu kalau kalimat itu pasti akan datang. Bukan karena ia terlalu percaya diri, Kris bahkan tak tahu sama sekali mengenai hal ini. Ia bisa tahu perasaan Jiyeon karena semua rekannya, termasuk Ahreum, yang memberitahunya. Kalau Jiyeon menyukainya.

Kris tidak bisa menyuruh Jiyeon untuk tidak menyukainya; ia juga tak memiliki wewenang apapun terhadap perasaan Jiyeon. Lagipula Kris juga sudah memiliki Ahreum di hatinya. Tapi Kris juga tak bisa berpura-pura tak peduli; walau memang dia tak peduli akan perasaan Jiyeon. Dan kini ketika ia kembali mendapatkan pernyataan cinta yang bukan dari Ahreum, Kris benar-benar tak tahu harus bersikap seperti apa.

“Apa kamu mau menjadi teman Ahreum karena ini? Agar kamu bisa memanfaatkan Ahreum untuk mendekatiku?” tanya Kris acuh.

“Tentu saja tidak. Bahkan walaupun aku tidak berteman dengan Ahreum, aku tetap akan menyatakan perasaanku padamu,” Jiyeon mengelak. “Lagipula memang aku tulus mau berteman dengan Ahreum dan sama sekali bukan karena ingin memanfaatkannya. Aku sudah tobat. Sungguh.”

Kris memandangi Jiyeon intens. Kemudian ia kembali memalingkan mukanya untuk melihat gondola di belakang Jiyeon; gondola yang dinaiki Ahreum.

“Lalu sekarang kamu mau apa?” tanya Kris.

Aku mau kamu jadi pacarku, batin Jiyeon. Ia tak mengatakannya karena Jiyeon tahu persis kalau Kris akan menolaknya. Ia tahu Kris tidak menyukainya; apalagi selama ini Jiyeon tak pernah bersikap baik pada Ahreum dan yang lainnya. Tapi Jiyeon masih saja mencoba peruntungannya. Tak ada salahnya berharap bukan?

“Hanya ingin kamu tahu perasaanku. Itu saja,” sahut Jiyeon.

“Tapi aku tidak memiliki perasaan yang sam-,”

“Aku tahu,” potong Jiyeon. “Tak perlu kamu tolak pun aku sudah tahu.”

Jiyeon menyilangkan lengannya di dada. Ia memandangi Kris malas sambil berdecak pelan. Sebenarnya ia kesal. Kesal karena cintanya tak terbalas, kesal karena lagi-lagi harus kalah dari Ahreum, kesal karena Kris masih saja menutupi hatinya. Jiyeon kesal karena godaan untuk kembali menjadi manusia yang jahat kini datang padanya.

“Aku tahu kalau kamu menyukai orang lain. Hmm bagaimana jika aku akan membantumu mendekatinya?” Usul Jiyeon. Setidaknya dengan begini ia masih memiliki kesempatan untuk selalu dekat dengan Kris, atau bahkan mungkin bisa mencuri hatinya.

“Tidak, terima kasih. Aku tak perlu bantuanmu. Aku masih bisa berusaha sendiri,” tolak Kris.

Jiyeon mendengus pelan. “Babo,”

.

.

Begitu turun dari gondola, Ahreum hanya bisa menepuk-nepuk punggung Luhan dengan ibanya. Luhan kini mengalami mental-breakdown karena ulah Ahreum di gondola tadi.

“Mulai sekarang aku bukan hanya tak suka pada ketinggian. Aku juga tak suka pada serangga,” isak Luhan.

Beberapa Mastermind dan Knight mengerubungi Luhan yang sudah seputih kapas itu. Mereka berusaha menenangkan Luhan yang kini tampak panik setiap melihat Ahreum.

“Maafkan aku, Lu. Aku panik,” sesal Ahreum.

Akhirnya setelah Luhan mulai membaik, kelompok itu pun kembali berjalan menuju arena skating. Sepanjang perjalanan, Jiyeon terus menempel dengan Kris. Begitu sampai di arena skating, barulah Jiyeon memisahkan diri dari Kris. Hal ini cukup mengundang rasa penasaran Ahreum.

Ahreum cukup penasaran kenapa dalam waktu singkat Jiyeon bisa sedekat itu dengan Kris.

“Hei, Jiyeon. Kamu tadi ngobrol apa saja dengan Kris?” tegur Ahreum.

Jiyeon memandangi Ahreum sejenak. Kemudian sebuah senyum simpul menghiasi wajahnya. “Banyak. Kamu mau tahu?”

Ahreum mengangguk antusias.

“Mau tahu aja atau mau tahu banget?” Pancing Jiyeon geli.

“Kalau kamu gak mau ngasih tahu juga gak apa-apa,” sahut Ahreum keki.

Jiyeon tertawa pelan. “Aku hanya bilang padanya kalau aku menyukainya.”

“Heee?!!” kaget Ahreum. “Lalu dia bilang apa??!”

“Aku hanya menyatakan perasaanku padanya. Kalau aku menyukainya. Kris memang tidak menjawab apa-apa. Dia juga tidak menolakku. Jadi aku masih punya kesempatan,”

“Kesempatan? Kamu benar-benar menyukai Kris ya? Apa kamu mau aku bantu? Aku bisa membujuk Kris-,”

“Tidak perlu,” sergah Jiyeon. “Jangan pernah mencoba untuk ikut campur. Nanti kamu bisa ikut terjerat.”

Ahreum memandangi Jiyeon bingung. Kemudian Ahreum terdiam sejenak. Ia ingat akan ucapan Luhan.

Dduizhang adalah kandidat terkuatmu, jadi jangan lepaskan dia.

Tapi kalau seperti ini kondisinya, bagaimana mungkin Ahreum bisa mempertahankan Kris. Jiyeon menyukai Kris sedangkan Ahreum tidak memiliki perasaan apapun pada Kris. Ia justru akan lebih senang jika Jiyeon bisa jadian dengan Kris.

Ahreum memandangi Jiyeon dengan ekspresi yang sulit ditebak, membuat Jiyeon bingung. Tapi ekspresinya segera berubah ketika Jiyeon beranjak meninggalkannya.

“Jiyeon-ah,” panggil Ahreum.

Jiyeon berbalik untuk melihat Ahreum. Ahreum kini melihat Jiyeon seolah penuh harap. Jiyeon sampai berpikir kalau Ahreum akan melarangnya untuk mengejar Kris, tapi…

“Tolong bantu aku berdiri. Aku baru pertama kali ini main ice skating,” ujar Ahreum sambil mengangkat kedua tangannya.

.

.

.

“Dia mau ikut main ice skating sementara dia sendiri tak tahu cara bermain skate. Harusnya dia bilang kalau dia tak bisa main skating, jadi aku tak perlu mengajaknya kesini,” gerutu Jiyeon pada Kris yang berdiri di sebelahnya.

Jiyeon menyilangkan lengannya di dada sambil melihat Ahreum yang dituntun oleh Xiumin dan Baekhyun. Jiyeon masih berdiri di pagar arena skating bersama dengan Kris. Ia cukup takjub melihat Ahreum, yang walaupun tak bisa bermain skating tapi bertekad untuk belajar skating.

Kris sendiri tak menyahuti ucapan Jiyeon. Ia tetap memandangi Ahreum intens. Senyuman tipis tercipta di wajah tampannya. Melihat ekspresi Kris ini membuat Jiyeon menghela napas panjang.

“Kamu benar-benar menyukainya ya,” gumam Jiyeon.

“Lalu apa yang akan kamu lakukan? Kamu tak punya kesempatan sama sekali, Jiyeon. Aku hanya menyukai-,”

“Ya ya ya, aku tahu,” potong Jiyeon. “Makanya aku mau membantumu. Biarkan Park Jiyeon bertobat secara keseluruhan. Aku tulus mau membantumu.”

Kris akhirnya menoleh pada Jiyeon. “Kenapa aku? Kenapa kamu tidak membantu yang lain saja? Kai misalnya,”

“Aku memang berhutang budi pada Kai. Tapi aku tidak menyukainya. Aku menyukaimu. Makanya aku mau membantumu. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena kamu mau menjengukku di rumah sakit dulu,” ujar Jiyeon.

Kris mengernyitkan keningnya. “Terserah kamu saja, Park Jiyeon. Tapi kalau karenamu dia malah makin benci padaku maka kamu tak akan pernah mendapatkan kesempatan lagi untuk mendekati kami,”

“Tenang saja. Park Jiyeon ahli dalam memancing perasaan seseorang,” gurau Jiyeon. Ia tersenyum simpul seraya bergumam, “akhirnya aku punya mainan baru.”

.

.

Ahreum tidak bisa berkonsentrasi belajar skating hari ini. Karena matanya sibuk memantau apa yang sedang Jiyeon dan Kris lakukan di pinggir arena skating. Ahreum memperhatikan kalau Jiyeon dan Kris jadi semakin dekat. Terkadang mereka terlihat tertawa bersama, kadang Jiyeon terlihat memukul pelan pundak Kris –yang Ahreum duga sebagai bentuk ekspresi manja Jiyeon pada Kris. Ahreum agak risih melihatnya karena Kris tak pernah menunjukkan ekspresi itu padanya.

“Konsentrasi, Ahreum!” protes Xiumin ketika Ahreum kembali nyaris terjatuh menimpa dirinya.

“Maaf, Xiumin,” sesal Ahreum.

“Ada apa, Ahreum? Kamu terlihat tak bersemangat hari ini,” tegur Suho yang ikut menemani Ahreum belajar skating.

Ahreum terdiam memandangi satu persatu pengawalnya. Ahreum merasa bersalah pada mereka karena tidak bisa memfokuskan dirinya.

“Aku hanya baru menyadari, kalau skating ternyata tidak menyenangkan,” keluh Ahreum.

Ahrem tampak murung. Memang begitu ia memasuki arena skating, Ahreum tidak lagi antusias seperti sebelumnya. Ahreum tampak seperti kehilangan semangatnya. Beberapa pengawalnya menduga kalau Ahreum masih merasa bersalah pada Luhan, karena sudah membuat Luhan mengalami trauma yang cukup serius. Tapi tak ada yang berhasil menebak perasaan Ahreum saat ini.

“Hei, cantik,” tegur Kai yang baru menghampiri Ahreum.

Kai mengulurkan tangannya dan membuat Ahreum melepaskan tangan Baekhyun (yang sedari tadi menuntunnya) untuk menyambut tangan Kai tersebut. Kai kemudian menggeser Xiumin –yang ada di depan Ahreum- sehingga ia kini berdiri di hadapan Ahreum. Kai kini menunjukkan senyumannya pada Ahreum; senyuman yang hanya muncul jika Kai mengkhawatirkan Ahreum.

“Kenapa? Apa skating menyebalkan? Atau kamu mau kita duduk dulu di luar baru main skating lagi?” tanya Kai sambil merapikan beany yang dipakai Ahreum.

Ahreum menundukkan kepalanya. “Ya, skating menyebalkan,”

Kai lalu meraih tangan Ahreum yang lain dan berpamitan pada rekan-rekannya.

“Maaf saudara-saudara sekalian, hari ini Ahreum akan menjadi tanggung jawab Kai.”

Kai kemudian menuntun Ahreum menuju pinggir arena skating, ke arah Kris dan Jiyeon lebih tepatnya.

.

“Jadi, kamu mau disini saja? Gak mau ikutan berseluncur? Atau kamu gak bisa main skating seperti Ahreum?” gurau Jiyeon.

Jiyeon kini berdiri di hadapan Kris sambil bertolak pinggang, menatap pemuda itu dengan sedikit meremehkan.

“Aku tidak suka kegiatan aktif seperti ini,” sahut Kris acuh.

Jiyeon tersenyum simpul. “Pantas saja dia tak melirikmu. Kamu pasif sih.”

Jiyeon mulai berseluncur mundur, masih sambil meledek Kris. Jiyeon tidak tahu kalau dari arah kirinya ada Sehun dan Chanyeol yang sedang main kejar-kejaran; berseluncur dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Jiyeon tak tahu kalau Sehun bahkan tidak bisa mengendalikan kecepatannya ketika ia menyadari kalau Jiyeon menghalangi jalannya. Akhirnya Sehun menabrak Jiyeon.

Untungnya sebelum Sehun menabrak Jiyeon, Kris sempat menarik tangan gadis itu, sehingga tabrakan tersebut tidak terlalu fatal.

Jiyeon terpaku memandangi Kris yang kini tengah menahan dirinya yang nyaris terjatuh dengan memeluk pinggangnya. Walau Kris kini tengah menegur Sehun karena tidak berhati-hati, tapi tidak mengurangi histeria di hati Jiyeon.

Jiyeon sungguh menyukai Kris; Jiyeon tidak bohong mengenai perasaannya pada Kris. Jiyeon juga tidak bohong ketika ia bilang kalau ia mau membantu Kris untuk membuat gadis yang disukainya itu balik menyukainya. Tapi kini Jiyeon jadi ragu, apakah ia bisa melepaskan perasaannya pada Kris atau tidak.

“Kamu baik-baik saja?” teguran Kris memecah kekagetan Jiyeon.

“Ohh, ne. Gwenchana,” Jiyeon pun melepaskan diri dari Kris.

Jiyeon kini memperhatikan Kris yang sedang membantu Sehun berdiri. Walau masih sambil mengomel, tapi Jiyeon bisa melihat kalau Kris mengkhawatirkan keadaan Sehun. Dan Jiyeon jatuh semakin dalam pada pesona Kris.

“Bagaimana bisa anak itu tidak melihat pesonamu ini,” gumam Jiyeon.

Jiyeon menoleh ke sekelilingnya. Ia melihat Ahreum dan Kai yang tengah berseluncur ke arahnya. Jika Jiyeon tidak salah, ia sempat menangkap sedikit ekspresi tak rela di wajah Ahreum. Walau Ahreum langsung merubah ekspresinya menjadi khawatir, tapi Jiyeon berani bersumpah kalau ia sempat melihat Ahreum tampak sedikit…sedih.

“Sehuna! Untung ada Kris yang menyelamatkan Jiyeon. Coba kalau tak ada, bagaimana nasib Jiyeon! Ayo cepat minta maaf,” titah Ahreum.

Begitu Sehun minta maaf pada Jiyeon, Ahreum pun menghampiri Jiyeon untuk mengecek keadaannya. Sungguh Jiyeon tak bisa menebak perasaan Ahreum saat ini. Walau Ahreum tampak khawatir akan keadaannya, tapi Jiyeon bisa melihat kalau matanya berkata lain.

.

.

.

.

.

.

.

logo1

The twentienth chapter is out!!!

finally!!! xiumin moment kelar jugaa!!! akhirnya!! akhirnya!!! akhirnya!!!! akhirnya si umin dapet moment berarti bareng Ahreum… dan jiyeon akhirnya confess juga ke kris, walopun ditolak.. ada yg bisa nebak rencana jiyeon selanjutnya? bee mau tahu,, bee ngegambarin si jiyeon ini udah seperti apa di mata kalian? masih keliatan jahatnya kah? atau udah keliatan udah baik? atau masih abu-abu??

oia bee mau pengumuman!! bee udah buat chapter endingnya looohhh!!! jadi bee udah buat siapa yg bakal jadi rajanya!! bee juga udah buat adegan yang kaya avatar the legend of aang lagi buat endingnya (kaya ff the last generation princess) *upsss spoiler* dan sayangnya dari chapter 21 sampe ke endingnya bee bingung nyusunnya.. #slapped #authorgagal
tapi ditunggu aja kelanjutannya.. mudah-mudahan gak ngalor ngidul..
annyeong all!!! ppyeong!!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 20 – Sign Of Jealousy | PG15

22 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 20 – Sign Of Jealousy | PG15

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s