FF – Just Be Yourself | PG15


beyourself

Title : Just Be Yourself

Author : beedragon

Cast:

Sulli F(x) as Choi JinRi

Taemin Shinee as Lee Taemin

Other Cast

Minho Shinee as Choi Minho

Seohyun SNSD as Seo Joohyun

Genre : Teen Romance

Length : oneshoot

Rating / pairing : PG15 / Straight

Summary : “Tentu saja akan ada lelaki yang menyukai dirimu apa adanya. Walau rambutmu panjang atau pendek, walau kamu selalu berteriak marah-marah atau tersipu malu, walau kamu selalu tertawa terbahak-bahak atau bermuram durja. Ada orang yang menyukai dirimu yang apa adanya. Salah satunya adalah yang berada di hadapanmu ini.”

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Just Be Yourself

.

.

.

.

“Oppa, kamu suka perempuan yang seperti apa?”

“Aku?? Aku suka perempuan yang manis ketika tersenyum, kulitnya putih, feminim dan yang terutama harus memiliki rambut panjang yang indah.”

.

.

Aku menghela napas panjang. Mengingat kejadian beberapa tahun lalu ketika aku bertanya pada Minho Oppa tentang kriteria gadis idamannya. Perempuan dengan rambut panjang, huh? Kenapa harus rambut panjang? Aku kan tidak memiliki rambut panjang.

Aku dan Minho Oppa sudah tumbuh besar bersama sejak aku belum bisa berjalan. Dia adalah tetanggaku, rumahnya persis di seberang rumahku. Dan berhubung anak perempuan di sekitar rumahku itu sangat langka jadi aku terbiasa bergaul dengan anak lelaki, terutama Minho Oppa. Karena itu aku tidak memiliki kepribadian yang feminim selayaknya perempuan idaman Minho Oppa.

Aku menyukai Minho Oppa sejak dulu. Ini bukan perasaan antar teman lagi, melainkan perasaan antara perempuan terhadap lelaki. Aku mulai menyadarinya ketika aku menginjak tahun ke enam di sekolah dasar. Ketika itu aku bertanya padanya seperti apa perempuan yang ia suka. Dan hasilnya sangat jauh dari ciri-ciri diriku. Aku tidak manis ketika tersenyum, malah aku tidak bisa tersenyum dengan baik jika tersenyum maka aku akan berakhir dengan tertawa terbahak-bahak, mengerikan bukan. Kulitku juga tidak terlalu putih. Oke, dulu aku terlahir dengan kulit seputih susu, tapi semua itu memudar sejak aku bergaul dengan anak lelaki dan membuat kulitku sekarang terbakar matahari. Aku juga tidak feminim, seperti yang sudah aku singgung sebelumnya, bergaul dengan anak lelaki sukses membuatku lupa akan jati diriku, aku bahkan lebih suka pakai celana jeans daripada pakai rok. Dan sekali lagi aku tidak memiliki rambut panjang.

Perfect.

Perempuan yang disuka Minho Oppa bukanlah yang sepertiku. Sejak itu aku bertekad untuk menjadi perempuan yang Minho Oppa suka.

Semua harusnya berjalan lancar, seperti perkiraanku. Tapi semuanya kacau karena dia.

.

.

Aku merasakan ada yang melambaikan tangan di depan wajahku. Aku pun tersadar dari lamunanku dan menoleh ke pemilik tangan. Seorang perempuan, ah tapi dia memakai seragam lelaki. Tapi dia terlalu cantik untuk menjadi lelaki, apalagi dengan rambutnya yang panjang sebahu itu. ohh rambut itu membuatku iri. Minho Oppa pasti akan menyukai anak ini.

“Boleh aku duduk disini kan?” tanyanya.

Aku memandanginya bingung. Aku baru pertama kali ini melihatnya. Siapa dia?

“Choi Jinri.” Panggilan Miss Jung mengagetkanku. Aku pun menoleh ke depan kelas dan mendapati Miss Jung tengah bertolak pinggang menatapku menyelidik. “Kamu tidak mendengarkan, huh? Lee Taemin akan menjadi bagian dari kelas ini mulai hari ini. Harap kamu mau bersikap baik pada teman barumu, Jinri.”

Aku menelan salivaku mendengar ucapan Miss Jung. Aku mengangguk dan mempersilakan Lee Taemin atau siapapun namanya untuk duduk di sebelahku.

Setelah duduk Lee Taemin langsung menyodorkan tangannya padaku. Aku memandangi tangan tersebut bingung.

“Lee Taemin imnida,” ujarnya sambil tersenyum, manis. “Uhh, kurasa kau harus menjabat tanganku.”

Aku mengutuk diriku sendiri atas kebodohanku. Akhirnya aku menjabat tangannya. Kurasa aku akan berteman baik dengannya. Dia tampak seperti pemuda yang baik.

Tapi tidak seperti itu, dia menghancurkan imej yang sudah aku bangun dengan baik selama tiga tahun belakangan ini.

“YAHHH LEE TAEMIN!!!” jeritku.

Aku mengejar pemuda andorgyny itu sepanjang koridor sekolah. Dia benar-benar membuat habis kesabaranku. Dia senang sekali menarik rambutku yang sudah susah payah aku panjangkan. Dan alasannya selalu sama.

“Rambutmu yang menghalangi jalan! Jadi jangan salahkan tanganku yang nyangkut di rambutmu! Bukan mauku juga menarik rambutmu! Mereka bahkan tidak seindah rambutku,” jeritnya sambil terus berlari menghindari kejaranku.

Ohh aku benci sekali dengan anak itu. Jika aku bisa menangkapnya maka rambutnya akan habis aku jambak. Ugh, kenapa dia harus mencari masalah denganku. Ada banyak siswi lainnya yang rambutnya juga panjang, bahkan lebih panjang dariku, dan kenapa dia harus selalu menarik rambutku. Aku pun berhenti mengejarnya. Aku berusaha mengatur napasku.

“Rambutmu tidak cocok untukmu. Lihatlah rambut itu, tidak pada tempatnya. Mau kurapikan?” tegur taemin yang kini sudah duduk di sebelahku. Segera saja aku menarik rambutnya yang panjang itu.

“Kamu sendiri, namja dan berambut panjang. Lebih baik kamu ngaca dulu sebelum mengkritik rambutku. Rambutmu itu membuat orang-orang melupakan identitasmu,” sahutku.

Kulihat Taemin meringis di sebelahku. Ia tertawa pelan dan ughh aku benci mendengar suara tawanya. “Setidaknya aku punya alasan tepat untuk memanjangkan rambutku. Ini tuntutan peran tahu.”

Aku mendengus mendengar alasan yang dibuat Taemin. Ia memang tergabung dalam drama musikal yang akan tayang akhir tahun ini. Karena itu ia memanjangkan rambutnya untuk peran yang ia dapatkan. Tapi bukan berarti memanjangkan rambut itu membutuhkan alasan. Oh, well aku memang punya alasan untuk memanjangkan rambutku, agar terlihat mendekati seperti perempuan idaman Minho Oppa.

“Aku juga punya alasan yang tepat dan aku tak perlu memberitahumu alasan itu,” ketusku.

“Agar terlihat cantik? Heol, semua perempuan pikir dia akan terlihat cantik jika rambutnya panjang. Tapi itu tidak berlaku untuk dirimu, Jinri,” sahut Taemin lagi.

“Bukan urusanmu aku terlihat cantik atau tidak!!” aku berteriak padanya.

“Kalian ini seperti sepasang suami istri yang sedang bertengkar saja.”

Kudengar celetukan temanku. Aku segera mengeluarkan jurus death-glare-ku pada mereka seraya berteriak, “Aku bukan pasangannya!!!”

Aku pun sadar sikapku ini sangat tidak terlihat lady-like. Jadi aku berdeham untuk menurunkan suaraku dan berpaling pada Taemin. “Urusi saja urusanmu, Lee Taemin.”

Aku lalu mulai melangkah untuk kembali ke kelas. Tapi langkahku berhenti ketika kudengar Taemin bergumam di belakangku. “Tapi kamu lebih terlihat cantik kalau rambutmu pendek.”

Aku tidak mempedulikan ucapannya dan aku kembali melangkah. Sejak ia melihat seperti apa rupaku dulu ketika aku masih berambut pendek, Taemin selalu memaksaku untuk memotong rambutku kembali seperti dulu. Aku tidak tahu apa yang di lihatnya saat itu. Rambutku bahkan terlihat sangat aneh pada masa itu.

Aku mengacuhkan semua rengekan Taemin yang selalu meminta agar rambutku dipotong. Pernah aku bertanya kenapa ia begitu ingin aku memangkas rambut yang sudah susah payah aku panjangkan ini. Dan alasan yang ia lontarkan sangat bodoh ‘kamu terlihat seperti dirimu sendiri’. Huh, alasan macam apa itu.

Lebih baik aku melupakan mengenai dirinya dan sindrom-rambut-pendeknya. Lebih baik aku fokus untuk menyambut Minho Oppa yang akan pulang. Minho Oppa sudah lama meninggalkan rumah untuk sekolah di Seoul, sekolah seni yang memakai sistem asrama sehingga ia harus tinggal disana. Tapi kini Minho Oppa sudah lulus dan akan kembali ke rumah sebelum ia kembali melanjutkan studinya untuk kuliah di Seoul lagi.

Kurasakan ponselku bergetar. Kulihat siapa yang meneleponku. Minho Oppa!! Ahh mungkin kami memang berjodoh, ia meneleponku tepat ketika aku sedang memikirkannya.

Yoboseyo!” sahutku riang. “Oppa, apa kabarmu?!” aku menyadari kalau aku terlalu hyper menerima telepon darinya, akhirnya aku memperbaiki posisiku –walau percuma karena ia juga tidak bisa melihat seperti apa tampangku saat ini.

Kudengar ia tertawa diujung sana. Aku pun ikut tertawa mendengar suaranya. Oh aku merindukan suara ini. Aku sudah lama sekali tidak melihatnya. Biasanya ketika ia pulang untuk liburan aku tidak bisa menemuinya dengan berbagai macam alasan, seperti aku harus pergi ke rumah nenekku, atau dia yang pergi untuk bernostalgia dengan teman-temannya dulu.

“Jinri, weekend ini kamu gak kemana-mana kan?”

Aku mengangguk antusias dan segera memukul keningku sendiri karena astaga Jinri! Minho Oppa tidak bisa melihat wajahmu saat ini. “Ne, ada apa Oppa?”

“Bagaimana kalau kita pergi main? Ke taman ria? Sudah lama sekali kita tidak ke taman ria.”

Ohh rasanya aku ingin menjerit saat ini. Oppa mengajakku ke taman ria! Ini sama artinya dengan Oppa mengajakku nge-date kan? Oh my God!! Kalau ini mimpi tolong jangan sadarkan aku.

Takk.

Ada yang menyentil keningku, keras dan sakit. Kulihat Taemin sudah berdiri di hadapanku dan tangannya masih menggantung di udara sebagai bukti kalau ia baru saja menyentil keningku. Ugh!! Matilah kau Lee Taemin!

“Yah!! Aku sedang bicara dengan Minho Oppa, kenapa kamu menggangguku?!!” jeritku. Tak lupa aku menutup speaker ponselku agar Minho Oppa tidak mendengar teriakanku ini.

“Habisnya kamu senyum-senyum seperti orang bodoh. Mana mukamu merah sekali. Kamu.. kerasukan atau apa?” tanya Taemin polos sambil memegang keningku.

“Ugh!!” aku menendang kakinya dan ia pun meringis kesakitan.

“Suara apa itu Jinri?”

Aku segera menyingkir dari hadapan Taemin dan kembali menjawab telepon Minho Oppa. “Ahh Aniyo Oppa, hanya orang bodoh yang terjatuh.”

“Ok. Maaf mengganggu istirahatmu, nanti kita sambung lagi di rumah ya. Sampai ketemu nanti. Dan belajarlah yang rajin.” Dengan itu Minho Oppa memutus sambungan teleponnya.

Aku kini memandangi ponselku layaknya orang bodoh sambil tersenyum-senyum sendiri. Oppa bilang sampai ketemu nanti, itu artinya dia berharap bisa bertemu denganku bukan. Ohh aku senang bukan main.

“Babo.”

Aku hanya melirik ke sampingku. Lee Taemin. Ia sudah duduk di sebelahku sambil mengusap-usap kakinya.

“Kalau aku sampai pincang dan tidak bisa menghadiri musikalku, maka kamu adalah orang pertama yang aku tuntut,” tudingnya.

“Kalau aku sampai batal nge-date dengan Minho Oppa, maka kamu adalah orang pertama yang akan aku buru sampai ke neraka,” sahutku acuh.

“Ngedate?”

Ups, babo!! Kenapa aku malah memberitahunya?! Perfect! Sekarang dia pasti akan mencari cara untuk mengacaukan hariku.

.

.

Pagi ini aku sudah bersiap-siap berangkat sekolah. Kali ini aku menguncir rambutku dan menggelungnya tinggi, dengan begini Taemin tidak akan menarik-narik rambutku lagi. Setelah cukup lama mematut diriku di depan cermin aku pun keluar rumah.

“AKU BERANGKAT,” jeritku seraya menutup pintu pagar. Begitu berbalik, aku nyaris terlonjak kaget. Huh, tentu saja makhluk ini tidak akan membiarkanku senang barang semenit saja.

“Apa yang kau lakukan disini, Lee Taemin,” tudingku.

Taemin memandangku polos. “Uhh? Kamu tinggal disini, Jinri?”

Kamu pikir aku tak tahu apa niatmu, huh?! “Kamu TAHU persis aku tinggal disini, secara kamu selalu membuntutiku setiap pulang sekolah. Apa maumu kali ini huh?! Ughh kupikir pagi ini aku akan mendapat ketenangan. Aaaarrgghh kenapa Kau harus memberikanku cobaan berupa iblis berwajah malaikat ini, Tuhan!!” seruku dramatis sambil mengangkat kedua tanganku diudara.

“Ohh, jadi itu panggilan sayangmu terhadapku? Iblis berwajah malaikat?? Yaa setidaknya aku tampak seperti malaikat di matamu,” ujarnya sambil tersenyum bangga.

Aku menepuk keningku mendengar ucapannya. Aku sudah melayangkan tanganku untuk memukulnya, ketika kulihat seseorang keluar dari rumah Minho Oppa. Aku pun tak jadi memukul Taemin dan mengalihkan pandanganku ke rumah Minho Oppa. Benar saja, Oppa baru saja keluar dari rumahnya.

“Oppa!” sapaku riang. Aku langsung saja melompat-lompat layaknya kelinci ke arah Minho Oppa. Ia langsung melancarkan senyum penuh kharismanya padaku. OMG aku meleleh karena senyumannya.

“Pagi, Jinri. Berangkat sekolah?” tegurnya.

Aku hanya bisa mengangguk antusias. Dan aku teringat, hei perempuan feminim tidak bertingkah seperti ini. Aku pun langsung merapikan posisiku dan berusaha tersenyum simpul. “Aku baru mau berangkat. Oppa mau kemana?”

“Aku mau ketemu teman-teman.” Minho Oppa melirik ke belakangku. “Itu temanmu?”

Oh.My.God. Aku lupa akan Taemin. Aku berbalik dan langsung memelototi Taemin berharap dia takut dan segera menyingkir. Ia memang bergerak dari tempatnya, tapi ia malah menghampiriku dan Minho Oppa! Dia sekarang sudah ada di hadapan Minho Oppa!

“Ne, Hyung, aku Lee Taemin, teman sebangkunya. Dia memaksaku menjemputnya padahal dia tahu rumahku jauh dari sini,” ujar Taemin sambil menjabat tangan Minho oppa.

What?! Kebohongan macam apa yang ia lontarkan?! Beruntungnya Minho oppa ada disini, kalau tidak, aku mungkin sudah menarik rambut merahnya itu. Ughh Lee Taemin kamu mau menghancurkan imejku sampai seperti apa?!

“Jinri-ya, bagaimana bisa kamu menyuruh namjachingumu menjemputmu, huh?” Goda Minho Oppa.

Seseorang tolong tenggelamkan Taemin di samudra pasifik!!!

“Dia bukan namjachinguku!!” jeritku frustasi.

“Aku juga ga mau jadi namjachingunya Hyung. Dia galak,” sahut Taemin.

What?!! Aku menepuk keningku. Makhluk bernama Lee Taemin ini benar-benar mampu menaikkan tekanan darahku.

“Hahahaha,” tawa Minho Oppa terdengar seperti lagu terindah di telingaku. “Walaupun Jinri galak, tapi dia anak yang baik kok,” puji Minho Oppa.

Mendengar pujiannya aku langsung menjulurkan lidahku ke arah Taemin, bangga dengan pembelaan Minho Oppa.

“Oppa, ayo kita jalan bareng, aku sudah hampir terlambat.” Aku langsung menggamit lengan Minho Oppa dan menyeretnya meninggalkan Taemin.

Lihat saja Taemin, aku tidak akan membiarkanmu lolos di sekolah nanti. Aku menoleh ke arah Taemin di belakang kami. Dia sudah berjalan mengikuti kami, tapi ekspresinya tampak begitu…kesal? Aneh, apa dia begitu tak suka mendengar pujian Minho Oppa? Entahlah.

“Ah iya, mengenai taman ria,” sahut Minho Oppa tiba-tiba.

Oh no, Oppa jangan sekarang! Ada Taemin disini.

“Kamu ajak saja Taemin itu. Makin ramai kan makin asyik.” Minho oppa lalu berbalik menegur Taemin. “Taemin, minggu ini kamu ada acara? Kalau gak ada ikutlah dengan kami. Kami mau ke Taman Ria, kebetulan aku mendapat diskon tiket masuknya. Kamu mau?”

Noooooooooo!!!! Aku menoleh kearah Taemin dan menggeleng dengan cepat. Kuharap ia mengerti isyaratku dan menolak tawaran Minho Oppa. Bisa rusak acara kami kalau dia ikut!

“Aku..”

“Kurasa tidak bisa oppa,” aku memotong ucapan Taemin. “Dia itu kalau weekend pergi latihan untuk drama musikalnya.”

“Ohh sayang sekali.”

.

.

“Kumohon padamu. Jangan terima tawaran Minho Oppa. Aku tak akan pernah memaafkanmu kalau kamu mengikuti kami ke taman ria.”

Aku berusaha memohon –mengancam lebih tepatnya– pada Taemin agar dia tidak menggangguku minggu nanti. Entah apa yang terjadi dengannya, moodnya sejak pagi tadi terasa begitu kelam. Walau aku takut untuk mendekatinya tapi aku tetap berusaha. Aku harus membuatnya menolak ajakan Minho Oppa.

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Huh?” bingungku.

Taemin lalu menunjukkan seringainya. “Kalau aku tidak ikut apa yang akan kamu berikan? Aku juga mau main ke taman ria. Kapan lagi aku bisa main ke taman ria gratis. Kamu tahu kan taman ria itu mahal.”

Apa?! Apa dia sekarang sedang memerasku?! Baiklah, terserah apa maumu Taemin.

“Apa maumu?”

Taemin lalu meraih ujung rambutku. Ia kembali menunjukkan seringaiannya. Aku segera saja tahu apa yang diinginkan androgyny ini.

Freak!! Aku tak akan pernah melakukannya!!!” seruku. Taemin sampai terlonjak kaget mendengar teriakanku.

“Kau dengar, terserah kalau kau mau ikut atau tidak. Aku tidak peduli!!” Aku lalu pergi meninggalkan Taemin sambil menghentak-hentakkan kakiku.

Taemin itu! Dia benar-benar hair-aholic!

.

.

Taemin benar-benar ikut kami ke taman ria. Ohh selamat datang my-day-disaster!

“Ohh, Taemin kamu jadi datang,” tegur Minho Oppa sumringah.

Oppa lihatlah aku. Aku sudah seperti sedang berada di kuburan saat ini. Kehadiran Taemin mampu mengusir semua kebahagiaan yang kurasakan tadi pagi. Aku hanya bisa cemberut melihat dua lelaki itu bercengkerama.

“Syukurlah kamu datang, dengan begitu Jinri jadi ada temannya.”

“Eh? Memangnya Oppa mengajak teman juga?” bingungku.

Minho Oppa mengangguk. Pantas saja kami tidak segera msauk ke taman ria dan malah menunggu di pinggir jalan. Tak lama sebuah mobil berhenti di depan kami. Dari dalam mobil itu keluar seorang perempuan cantik berambut hitam panjang yang sangat sempurna. Dan perempuan itu menghampiri kami.

“Oppa!” Perempuan itu melambaikan tangannya ke arah kami. Siapa perempuan ini?

Pertanyaanku segera terjawab ketika Minho Oppa menghampiri perempuan itu dan langsung memeluknya erat. Apa-apaan ini!! Siapa perempuan itu?!

“Tutup mulutmu!” Desis Taemin. Aku segera menutup mulutku yang tadi menganga lebar melihat perempuan itu.

Minho Oppa merangkul perempuan itu dan menghampiri kami.

“Jinri, Taemin, kenalkan ini Seo Joohyun,” ujar Minho Oppa.

Perempuan itu mengulurkan tangannya pada kami. Tapi aku terlalu terkejut untuk menyambut tangannya. Akhirnya Taemin yang menjawab tangan Seo Joohyun itu.

“Lee Taemin imnida.”

“Seo Joohyun imnida. Minho oppa-ui yeojachingu. kamu bisa panggil aku Seohyun,” sahut Seo Joohyun sumringah.

Apa dia bilang?! Yeojachingu?!

Rasanya diriku hancur berkeping-keping mendengar pengakuan Seohyun ini. Sejak kapan Minho Oppa pacaran dengannya. Kenapa dia bisa menjadi pacarnya Minho Oppa?! Aku memperhatikan Seo Joohyun dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dia benar-benar seperti perempuan idaman Minho Oppa. Ia memiliki senyum yang manis, kulit yang putih, gaya pakaiannya pun sangat girly dan terutama dia memiliki rambut panjang yang indah.

“Ini pasti Jinri. Minho Oppa sering bercerita tentang kamu.” Seohyun memecah lamunanku.

“Ohh.. Ahh.. Mian aku tidak fokus tadi. Apa yang kamu bilang tadi?” gagapku.

“Aku bilang, semoga kita bisa berteman dengan baik. Aku mau belajar banyak tentang Minho Oppa darimu,” ujar Seohyun sambil tersenyum.

Angin tiba-tiba saja bertiup kencang dan membuat rambut panjangku berantakan. Minho oppa segera saja merapikan rambutku agar kembali rapi.

“Oppa,” kudengar Seohyun merajuk. “Oppa ini suka sekali dengan perempuan rambut panjang, makanya aku tak bisa berdiam diri kalau melihat ada perempuan yang rambutnya panjang,” keluh Seohyun.

“Ahahah, jangan cemburu Seohyun-ah. Jinri baru kali ini memanjangkan rambutnya. Jadi dia tentu tak terbiasa. Aku hanya membantunya. Lagipula Jinri sudah seprti adik sendiri. Jangan membuang waktumu untuk cemburu padanya.”

Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar ucapan Minho Oppa. Aku pun berusaha meyakinkan Seohyun kalau ucapan Minho Oppa benar, kalau aku sama sekali tidak punya perasaan apapun pada Minho Oppa. Sungguh aku merasa terluka.

Aku merasa… Kalah. Usahaku sia-sia.

.

Moodku benar-benar hancur hari ini. Aku sedikit merasa bersyukur Taemin ikut, karena kalau tidak aku pasti akan menjadi cicak diantara pasangan yang sedang kasmaran itu. Kami menaiki berbagai macam wahana yang bisa dimasuki oleh empat orang. Sepanjang permainan Minho Oppa benar-benar menempel dengan Seohyun. Ia bahkan nyaris melupakanku.

Akhirnya kami memasuki wahana rumah kaca. Aku memilih untuk memberi jarak antara aku dan Minho Oppa dengan begitu aku tak perlu melihat apa yang mereka lakukan di rumah kaca. Setelah dua orang di depanku masuk barulah aku masuk dengan Taemin.

Kurasakan Taemin menggenggam tanganku di dalam. Aku segera saja berusaha untuk melepaskannya. Tapi ia menggenggamnya terlalu kuat.

“Nanti kamu tersesat dan aku gak mau merepotkan semua orang hanya untuk mencari kamu,” katanya.

Akhirnya aku hanya diam saja dan membiarkan Taemin yang menuntunku keluar dari labirin ini.

“Jadi dia alasanmu memanjangkan rambutmu,” ujar Taemin.

Aku hanya diam. Aku benar-benar tak ingin mengucapkan apa-apa hari ini. Aku terlalu terluka.

“Untuk apa kamu berusaha menjadi orang lain. Bahkan setelah kamu memanjangkan rambutmu Hyung tadi tetap tidak melihatmu sebagai seorang perempuan. Kamu hanyalah adiknya saja.”

Aku berhenti melangkah. Aku menatap Taemin tajam. Aku sungguh tak suka mendengar perkataannya.

“Jangan bicara macam-macam mengenai perasaanku. Kamu urus saja dirimu sendiri,” ketusku.

“Kamu mengharapkan orang yang tidak mencintaimu untuk bisa melihat keberadaanmu. Kamu sampai merubah dirimu dan kehilangan jati dirimu hanya untuk pria itu. Itu adalah tindakan terbodoh yang pernah kulihat. Daripada kamu mengharapkan orang yang tidak mencintaimu lebih baik kamu menjadi dirimu sendiri dan biarkan orang lain mencintai dirimu yang apa adanya itu.”

Taemin ini sungguh menyebalkan. Memangnya siapa dia sampai menasehatiku seperti ini.

“Kamu sungguh menyebalkan Lee Taemin. Tidak ada pemuda yang menyukai perempuan seperti a..”

“Tentu saja ada!” Taemin memotong ucapanku. “Tentu saja akan ada lelaki yang menyukai dirimu apa adanya. Walau rambutmu panjang atau pendek, walau kamu selalu berteriak marah-marah atau tersipu malu, walau kamu selalu tertawa terbahak-bahak atau bermuram durja. Ada orang yang menyukai dirimu yang apa adanya. Salah satunya adalah yang berada di hadapanmu ini.”

Aku melongo mendengar ucapan Taemin. Apa katanya tadi? Kalau aku tidak salah tanggap Taemin baru saja mengutarakan perasaannya padaku?

“Ohh, kenapa aku harus mengatakannya disini. Aishh, harusnya aku mencari tempat yang lebih romantis,” gerutu Taemin.

Aku cukup kaget mendengarnya. Taemin benar menyukaiku? Atau ini hanya lelucon dia yang lain?

“Aku menyukai Minho Oppa,” sahutku. Aku tak tahu harus bereaksi apa terhadap pernyataan Taemin barusan.

Taemin kini menggenggam kedua tanganku. Ia menatap mataku tajam. Aku benar-benar salah tingkah dibuatnya. Dia selalu mampu membuatku bingung akan setiap sikapnya. Aku baru menyadari kalau Taemin terlihat sangat tampan hari ini. Aishh pikiran apa ini?!!

“Aku tak memintamu untuk segera menerimaku. Tapi yang ingin aku sampaikan padamu adalah aku menyukaimu, apa adanya dirimu, Jinri.” Dan Taemin pun mendekat ke arahku. Sebelum aku sempat menjauh, Taemin sudah menghapus jarak diantara kami. Taemin menciumku! Ciuman pertamaku diambil oleh pria androgyny ini!

Plak!

Aku menampar Taemin. Tadinya aku akan mengabaikan semua yang dia ucapkan dan mencoba bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi dia menciumku! Dia merebut ciuman pertamaku! Aku tak akan pernah memaafkan anak ini!

“Aku membencimu Taemin! Jangan pernah muncul di hadapanku lagi!!” Aku lalu mendorongnya dan berlari meninggalkannya. Aku tak peduli teriakannya yang memanggil namaku. Aku terus berlari keluar dari rumah kaca sampai aku menabrak Minho Oppa dan Seohyun. Aku pun tak mempedulikan mereka.

Aku.. Aku ingin melarikan diri saja dari dunia ini.

.

.

Kudengar ada yang mengetuk pintu kamarku. Sejak pulang dari taman ria aku terus mengurung diriku di kamar. Aku menolak turun dari tempat tidur. Aku bahkan tidak ikut makan malam. Dan saat ini perutku lapar sekali.

Pintu kamarku kini terbuka. Aku pun kembali menutup diriku dengan selimut, tak menyisakan celah sedikitpun.

“Jinri.” Aku mendengar suara Minho Oppa memanggilku. Oh dari sekian banyak orang, Minho Oppa adalah orang terakhir yang ingin aku temui.

“Jinri, apa kamu tak apa-apa?” tegurnya lagi. “Kudengar dari Ahjumma katanya kamu belum makan. Jadi ayo kita makan dulu, aku sudah bawa makananmu.”

Aku pun menurunkan selimutku sampai sebatas hidung. Minho Oppa terlihat khawatir. Ia memegang mangkuk ditangannya. Akhirnya aku pun memutuskan untuk bangun.

Minho Oppa tersenyum melihatku sudah duduk. Ia lalu menyendokkan makanan tersebut dan mulai menyuapiku.

“Kamu tadi kenapa, huh? Kamu membuat kita semua panik, kau tahu. Seohyun mengkhawatirkanmu. Dia pikir kamu kesal karena kami mengabaikanmu. Apa benar begitu?” tanya Minho Oppa sambil menyuapiku.

Aku hanya menggeleng pelan. Aku memutuskan untuk makan dalam diam. Minho Oppa pun tak bertanya macam-macam lagi. Ia hanya sesekali bercerita tentang apa yang tadi terjadi di taman ria.

“Oppa,” ujarku setelah selesai makan. “Aku…aku ini adikmu kan?” Aku bertanya dengan nada membingungkan.

Minho Oppa tersenyum mendengar pertanyaanku. Ia lalu mengusap-usap puncak kepalaku dan berkata, “Tentu saja kamu adalah adikku. Adik yang sangat aku sayang,” sambil mencubit pipiku pelan.

Selesai sudah.

Akhirnya ini adalah jawaban yang aku cari selama bertahun-tahun. Tapi entah kenapa aku justru merasa lega. Berbeda dengan tadi siang ketika aku bertemu Seohyun untuk pertama kalinya. Aku kini merasa..bebas?

“Jadi, sekarang bisa ceritakan padaku apa yang terjadi tadi?” tanya Minho oppa.

Aku menghela napas. “Aku..dilema.”

Oppa memiringkan kepalanya, bingung. Tapi aku berusaha meyakinkannya kalau memang hanya itu yang kurasakan. Aku tak mau bercerita lebih jauh lagi tentang apa yang terjadi. Lagipula aku bingung menjelaskannya.

“Taemin mengkhawatirkanmu. Dia dari tadi menunggumu di depan rumah. Tadi aku sudah menyuruhnya pulang sebelum masuk kesini. Tapi aku tak tahu apa dia masih di depan atau sudah pulang,” ujar Minho Oppa.

Aku segera beranjak dari kasurku dan sedikit berlari menuju jendela. Kulihat Taemin masih berdiri di depan pagar. Astaga, anak itu! Apa yang dia lakukan?!

“Dia bilang dia merasa bersalah padamu. Apa kalian bertengkar tadi?”

Aku mengangguk menjawab pertanyaan Minho Oppa. Aku lalu kembali lagi ke kasurku.

“Aku memakinya dan aku bilang aku membencinya. Aku..perempuan yang jahat ya, Oppa,” keluhku.

Oppa membelai kepalaku pelan. “Kalau begitu kamu harus minta maaf padanya nanti.”

Minho Oppa lalu menarik kedua tanganku dan menggenggamnya. “Jinri,” panggilnya. “Apa kau menyukai Taemin?”

“Ne..?! Oppa, dia adalah musuh terbesarku. Dia bahkan bukan temanku, teman dalam arti sesungguhnya. Aku tidak menyukainya. Sama sekali,” sahutku.

Tapi aku kembali berpikir, apa aku benar tidak menyukainya? Well, aku membencinya, sangat. Dia selalu menggangguku, memancing emosiku, membuatku kesal, menarik Jinri-yang-asli untuk keluar dari diriku.

Uhh? Kenapa aku tiba-tiba merasakan perasaan yang aneh?

“Taemin itu… dia menyukaimu, Jinri. Apa kamu tak merasakannya?” tanya Minho Oppa. Pertanyaannya kali ini sukses membuatku tersedak.

Taemin menyukaiku? Taemin.Menyukai.Aku??

Atas dasar apa Minho Oppa bisa berkata seperti itu? apa Taemin yang mengatakan padanya kalau dia menyukaiku? Ohh aku lupa, tadi Taemin memang bilang kalau dia menyukaiku. Jadi… itu nyata? Dia.. benar-benar menyukaiku? Bukannya ia mengucapkan hal itu untuk menggodaku saja?

“Aku bisa melihatnya, Jinri. Caranya menatapmu persis seperti ketika aku menatap Seohyun. Caranya menggodamu dengan semua tingkahnya. Caranya mempermalukan dirinya sendiri untuk menarik perhatianmu. Betapa ia sangat melindungi ketika di rumah hantu tadi, atau melindungimu dari panasnya matahari, atau ketika dia khawatir melihatmu yang sudah pucat sehabis naik wahana yang menyeramkan. Atau seperti saat ini. Jika ia tak menyukaimu, dia tak mungkin menunggumu dari tadi siang sampai malam begini,” ujar Minho Oppa.

Aku tertegun mendengar ucapan Minho Oppa. Kenapa ia begitu memperhatikan? Aku bahkan tidak mengingat apa saja yang sudah ia lakukan hari ini padaku. Yang aku ingat adalah dia mencuri ciuman pertamaku. Mengingatnya saja kembali membuatku kesal. Tapi apa yang diucapkan Minho Oppa ini benar?

“Oppa memperhatikannya? Aku bahkan tidak memperhatikan itu? kenapa kamu bisa bilang begitu?” bingungku.

“Kamu ini adikku, Jinri. Nae dongsaeng. Jadi kalau ada pemuda yang mencoba mendekatimu, tentu aku harus memperhatikannya. Aku tak ingin adik berhargaku ini disia-siakan oleh pemuda-pemuda yang tak bertanggung jawab. Kalau kamu jadian sama Taemin, Oppa setuju.” Ucapan Minho Oppa sukses membuat wajahku merona.

Aku kembali memikirkan ucapannya. Apa Taemin benar menyukaiku? Haruskah aku menerima pernyataan cintanya tadi? Tapi nanti aku akan terlihat seolah sedang memanfaatkan kesempatan. Lagipula aku juga tak yakin apakah aku juga menyukainya atau tidak. Ohh apa yang harus aku lakukan?!

.

.

Hari ini Taemin tak masuk. Kata tetangganya Taemin sakit. Aku jadi merasa bersalah. Dia pasti sakit karena kemarin menunggu di depan rumahku. Haruskah aku menjenguknya?

.

.

Hari ini aku mematut diriku di depan cermin cukup lama. Aku harus merapikan beany di kepalaku agar menutupi semua rambutku. Aku harus terlihat sangat keren hari ini. Karena kemarin Taemin tak masuk sekolah –temannya bilang dia sakit- jadi aku baru bisa memberinya kejutan hari ini. Kejutan apa?? Tentu kejutan yang ia suka.

Aku tersenyum sendiri di depan kaca. Tanpa sadar waktu sudah berlalu sangat cepat dan ini artinya aku harus berhenti memandangi ‘wajah baruku’ dan segera berangkat ke sekolah.

Aku nyaris terlambat ke sekolah. Aku tiba di kelas tepat ketika bel masuk berhenti berbunyi. Kulihat Taemin sudah duduk di bangkunya. Aku segera manghampirinya, melempar tasku ke atas meja dan menjatuhkan diriku ke bangku. Taemin tampak kaget mengetahui aku sudah datang, tapi ia tak menoleh kepadaku. Ia malah menundukkan kepalanya.

Mungkin ia pikir aku masih marah padanya.

Aku pun berdehem untuk menarik perhatiannya.

“Omo Jinri-ya, mana rambut panjangmu?”

“Jinri, kenapa dengan rambutmu?”

“Jinri-ya, apa kamu sedang patah hati sampai kamu memotong rambutmu?”

Berbagai komentar disampaikan oleh teman-teman sekelasku yang shock melihat penampilan baruku. Dan begitu mendengar kata potong rambut, Taemin segera mengangkat kepalanya dan melihatku. Dan ia memasang ekspresi (⊙͡_⊙͡) di wajahnya saat ini. Sungguh itu adalah ekspresi yang sangat menggemaskan.

“Yah, Choi Jinri. Kenapa…kau memotongnya? Apa kau segitu patah hatinya?” kaget Taemin.

“Babo,” sahutku. “Aku memotongnya karena seseorang selalu memaksaku untuk memotongnya. Dan dia bilang kalau dia lebih menyukaiku dengan rambut pendek dibandingkan rambut panjang. Dan aku sudah menjadi diriku sendiri untuk dicintai oleh pemuda yang menyukaiku apa adanya.”

Taemin melongo mendengar jawabanku. Aku sendiri sudah tersenyum penuh kemenangan padanya. Aku lalu melepaskan beany-ku dan memamerkan rambut baruku. Tapi Taemin tampaknya terlalu shock untuk merespon.

“Cih, kenapa dengan ekspresimu, Lee Taemin. Sekarang harus ada yang bertanggung jawab akan ini. Aku butuh sebuah pujian dan….pujian,” ujarku.

“O,” Taemin membulatkan mulutnya membentuk huruf ‘o’. “Yeppeo. Jeongmal yeppeo. Nae yeojachingu dwaejulle?

Aku tersenyum puas mendengarnya. “Ne,”

.

.

bee

and for the first time!!!!! bee menerbitkan FF yang belum pernah bee publish di planet bee sendiri!!

applause!!!
ini adalah FF bee yang perdana terbit di FFKPI!! biasanya bee kl mau publish FF di FFKPI itu nunggu ampe ff tersebut selesai tayang di planet bee, tp berhubung ini adalah oneshoot yang udah lama tertunda, jadi bee putuskan untuk publish FFKPI duluan…

sambil nungguin liburan Ahreum dan EXO part berikutnya,, kalian nikmati dulu aja FF ini yaa 😀

thanks for your attention!! annyeong!!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – Just Be Yourself | PG15

7 thoughts on “FF – Just Be Yourself | PG15

  1. Pas bc ne ff jd inget drakor TTBY
    suka sma karakter sulli si tomboy sma taemin si androgini dsni,aplg cameox ad minho sma seohyun.
    ah pkokx cucok bgt deh !!! cerita bguZ aq sukka^^

  2. Jinjja daebakida eonni! Jjangida jjang!
    Suka banget alur ceritanya, pengen deh bikin alur sebagus itu *sigh*
    Btw aku suka ff ini!^^
    Lanjutkan eon!
    Ppyong~ *ketularan eonni*

  3. Wahaha taemin, suka bgt karakter dy disini :3
    btw, ak lagi ngikutin wgmnya taemin-naeun, dan ga tau knp nganggep mereka couple yang cocokk bgt, jd pas baca ini kadang ketuker2 antara sulli sm naeun haha…
    Tp kalo tomboy sih yaa emang sulli bgt xD
    nice FF eon 😀

  4. aick says:

    hahha, cerita khas anak sekolah bgt eonni 😀
    slah satunya suka trus suka ngajak berantem terakhirnya pacaran.hahaha
    cerita yg lucu dan imut, jdi inget masa” sekolah lgi 🙂
    oiya, kapan eonni bkin ff yongbi lgi??hehe

  5. DIYANA_FAIQO says:

    Bgus…tp kurang(?) 😀
    knp Onesoot ..!!

    Huft !! ptah hati waktu tau Minho pcaran sma Seohyun….
    tpi, gwenchana..akhir.x jinri nemu(?) namja yg nerima dy apa ada.x…
    ~HAPPY ENDING~
    yeeeee..XD

    eonnie, d.tunggu ff Beautiful Life nya..

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s