FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 17 – All Those Kindness | PG15


beautiful-life

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter 17 – All Those Kindness

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

other Cast:

Jiyeon T-ara as Park Jiyeon

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life,

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Enchanted

Chapter 17 | All Those Kindness

.

.

.

All those kindness

.

.

.

Kai tak tahu kemana akan membawa Ahreum ‘kencan’. Karenanya ia hanya bisa mengingat tempat yang dulu pernah Ahreum tunjukkan padanya yaitu pusat perbelanjaan di dekat sekolah mereka. Sesampainya disana Ahreum yang memimpin perjalanan mereka. Ahreum yang menarik Kai menuju satu tempat ke tempat yang lain. Dan Kai bisa menebak dari senyum yang mengembang di wajah Ahreum kalau tempat ini adalah pilihan yang tepat.

“Oh Kai! Lihat itu!! Omo kyeopta!!” jerit Ahreum gemas.

Ahreum langsung berlari ke salah satu toko hewan. Ia sudah berlutut di depan sebuah kandang terbuka yang berisi berbagai anak anjing. Melihat anak-anak anjing itu membuat Ahreum tak berhenti berteriak tentang betapa lucunya hewan berbulu itu.

“Kamu menyukainya?” tanya Kai.

Ahreum mengangguk antusias. Ia mengangkat salah satu anak anjing jenis poodle berwarna coklat gelap. “Lihatlah, dia lucu bukan? Omo! Lihat dia menyukaiku!!!”

Ahreum sudah histeris karena anak anjing itu menjilati wajahnya. Bukan karena ia jijik, melainkan karena ia terlalu senang. Ahreum memeluk anak anjing itu erat, seolah tak mau melepaskannya. Sementara Kai sudah mulai merasa tak nyaman dengan anak anjing itu. Sebab anak anjing itu berhasil mencuri perhatian Ahrem hanya dalam sekejap mata saja. Selain itu sang anjing juga bisa dengan leluasa menjilati wajah Ahreum, mendapat pelukan sayang dari Ahreum serta mendapatkan perhatian yang begitu besar dari Ahreum. Ini membuat Kai sedikit merasa cemburu. Sedikit.

Ahreum bahkan tak mau melepaskan anjing itu dari pelukannya. Ia lalu mendongakkan kepalanya menatap Kai.

“Kita pelihara satu ya. Eung?? Yaa?? Boleh kan??” Ahreum mengerjap-ngerjapkan matanya, menunjukkan sisi cute-nya. Ekspresinya bahkan sama persis dengan anak anjing di pangkuannya yang kini menunjukkan tampang memelas pada Kai.

Kai nyaris menjerit karena tak tahan melihat tingkah Ahreum. Seolah ia ingin mengecilkan Ahreum, memakaikannya pita dan menyimpannya dalam kantung bajunya. Tentu saja itu adalah pemikiran gila, tapi itulah yang ia rasakan saat ini.

“Tidak,” tolak Kai. Aku tak bisa menambah saingan baru lagi di rumah. Sebelas saingan sudah cukup bagiku.

Ahreum cemberut mendengar penolakan Kai. Ia akhirnya mengembalikan anak anjing poodle itu ke kandangnya. Si anak anjing kini memasang wajah sedih pada Ahreum, membuat Ahreum berkaca-kaca menatapnya. Ohh, Kai sungguh gemas melihat Ahreum.

Annyeong, Jinggu-ya. Mianhae, noona tak bisa membawamu pulang. Kai Hyung tidak menyukaimu,” ujar Ahreum sedih.

Ahreum lalu keluar dari toko hewan tersebut dengan bahu yang merosot drastis, sangat jauh beda dengan keadaan ketika ia mendatangi toko tersebut; cerah ceria. Kai jadi merasa bersalah karena sudah membuat Ahreum menjadi murung. Ia pun langsung menyusul Ahreum keluar setelah sebelumnya berpesan pada pemilik toko untuk menyimpan poodle itu untuknya.

“Kamu marah?” tanya Kai khawatir ketika ia akhirnya bisa menyusul Ahreum.

“Aniyo,” singkat Ahreum sambil mengalihkan perhatiannya dari Kai.

Kai melihat Ahreum sudah mengerucutkan bibirnya, cemberut karena tak mendapatkan apa yang ia inginkan. Kai sampai berperang dengan pemikirannya sendiri untuk tidak mencubit Ahreum saat ini. Kai lalu menunjuk ke langit berusaha menarik perhatian Ahreum.

“Waaahh!!! Apa itu?!!!” seru Kai.

Sesuai dugaan Kai, Ahreum langsung mendongakkan kepalanya mengikuti arah telunjuk Kai. Ahreum sudah memicingkan matanya untuk melihat apa yang Kai tunjuk. Tapi tak ada apa-apa di langit; hanya ada beberapa bintang yang berkelip-kelip tanpa bulan.

“Ada apa? Tak ada apa-apa disana,” gerutu Ahreum.

Ahreum kemudian berpaling melihat Kai dan Ahreum terlonjak kaget karena Kai kini sudah menusukkan telunjuknya ke pipi Ahreum. Kai tertawa puas melihat ekspresi Ahreum saat ini. Ahreum pun berbalik memunggungi Kai, makin kesal karena Kai terus saja menggodanya seperti itu. Ketika Ahreum kembali berbalik untuk mengecek ekspresi Kai, ia tak lagi melihat Kai di belakangnya, melainkan segumpal kapas besar berwarna pink. Ahreum langsung sumringah melihat permen kapas berukuran jumbo yang ada di hadapannya ini. Ahreum langsung merebut permen kapas tersebut dari tangan Kai.

“Hahaha ternyata mudah sekali membujukmu,” takjub Kai.

“Baiklah, kamu kumaafkan,” sahut Ahreum yang lalu mulai mencubiti permen kapas itu.

Kai mengamati Ahreum yang kini sudah mulai memakan permen kapasnya. Ahreum tampak tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Kai baru menyadari kalau Ahreum tak bisa berjalan lurus; karena matanya fokus pada makanan dihadapannya. Ingin Kai menggandeng tangan Ahreum agar bisa menuntun Ahreum. Tapi sayangnya kedua tangan Ahreum sibuk; tangan kiri memegang permen kapas dan tangan kanan sibuk menyuap permen ke mulutnya.

Kai akhirnya melingkarkan lengannya di pinggang Ahreum, menarik Ahreum dalam pelukannya untuk menjaganya agar tidak terus menabrak orang-orang. Untungnya permen kapas itu mengalihkan perhatian Ahreum, jadi Ahreum tak peduli akan sikap Kai saat ini (biasanya Ahreum akan langsung menepis tangan Kai). Kai sendiri sangat senang. Mendapatkan Ahreum dalam pelukannya saat ini sungguh tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Rasanya ia ingin waktu berhenti saat ini juga, agar ia bisa memiliki Ahreum selamanya.

.

.

“Ini gara-gara kamu,” gerutu Ahreum. “Keretanya sudah berangkat dan bis sudah tak ada lagi jam segini. Sekarang bagaimana kita akan pulang? Kasihan yang lain, mereka pasti kelaparan saat ini.”

Ahreum menyilangkan lengannya di dada. Ia murung karena kini mereka tak bisa pulang ke rumah dengan angkutan yang murah. Saat ini Ahreum dan Kai tengah menunggu taksi di halte bis. Memikirkan harus menghabiskan uangnya untuk naik taksi membuat Ahreum menghembuskan napas panjang.

“Kita kan bisa pulang tanpa mempedulikan angkutan, Ahreum. Apa kamu lupa kalau aku bisa membuatmu berada di kamarmu saat ini juga,” sahut Kai.

Ahreum melirik Kai berusaha mencerna ucapannya. Ahreum lalu menjentikkan jarinya, baru sadar kalau Kai punya kekuatan untuk berpindah tempat dalam waktu singkat. Ahreum pun mencubit lengan Kai gemas, karena Kai baru mengatakannya sekarang; setelah mereka berkeliling mencari stasiun dan halte bis.

“Kenapa gak bilang daritadi?!” gerutu Ahreum. “Sekarang ayo kita cari tempat yang sepi.”

Mendengar ucapan Ahreum itu Kai langsung semangat. “Tempat sepi?”

“Kenapa? Jangan berpikir yang macam-macam, Tuan Mesum. Kita akan mencari tempat sepi agar kamu bisa menggunakan kekuatanmu tanpa ketahuan orang-orang. Apa kamu mau kita menghilang di tengah jalan seperti ini? Dimana masih banyak mobil yang berlalu lalang? Bisa-bisa besok akan ada berita heboh kalau ada sepasang anak remaja diculik alien,” gerutu Ahreum.

Kai jadi salah tingkah mendengar gerutuan Ahreum. Ia akhirnya diam saja ketika Ahreum menariknya untuk mencari tempat sepi.

Mereka tiba di sebuah daerah yang cukup sepi dan hampir tidak ada kehidupan disana. Walaupun ada beberapa toko yang masih buka, tapi suasana daerah itu terasa mencekam. Siapapun pasti akan memilih untuk menghindari daerah pertokoan itu, tapi tidak bagi Ahreum. Menurutnya ini adalah tempat yang tepat untuk menghilang. Ahreum sudah akan menarik Kai memasuki salah satu gang ketika ia mendengar ada suara perempuan meminta tolong dari ujung gang.

“Kai, kamu dengar itu?” bisik Ahreum.

“Ya, dan itu artinya kita tidak akan menghilang di gang ini karena disana ada orang,” sahut Kai yang lalu menarik Ahreum untuk terus berjalan mencari gang yang lain.

Tapi Ahreum tetap diam di tempatnya. Ia memicingkan matanya dan berusaha mempertajam pendengarannya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di ujung gang.

“Kai, dia minta tolong. Kita harus menolongnya,” desak Ahreum. Ia lalu menarik Kai untuk masuk ke gang tersebut.

“Ohh Ahreum, tidak lagi,” keluh Kai. “Aku ada disini untuk melindungimu, bukannya menolong orang lain. Aku tak mau menghabiskan tenagaku untuk orang lain selain kamu.”

Ahreum akhirnya melepaskan tangan Kai. Jika Kai tak mau menolong orang itu, maka Ahreumlah yang akan menolongnya. Ahreum tentu saja tidak bisa diam begitu tahu kalau ada yang kesusahan.

“Bukankah aku harus menjadi ratu yang baik untuk kerajaanmu? Lalu bagaimana aku bisa menjadi ratu yang baik kalau aku membiarkan saja orang yang sedang kesusahan. Kalau kamu tak mau menolongnya, maka aku yang akan menolongnya.”

Ahreum kemudian meninggalkan Kai menuju arah suara tersebut. Kai sampai harus menahan dirinya untuk tidak mengutuk siapapun juga orang di ujung gang yang sedang kesusahan itu. Akhirnya sebelum Ahreum sampai setengah jalan melewati gang gelap ini, Kai sudah lebih dulu muncul di hadapan perempuan yang tengah meminta tolong tersebut.

Benar seperti dugaan Ahreum, perempuan itu sedang kesusahan. Ia tampak sedang ditarik oleh seorang pria berbadan tinggi besar menuju satu lorong yang gelap. Perempuan malang itu berteriak meminta tolong dengan suaranya yang lemah. Kai akhirnya meninju lelaki itu, menendangnya dan memukulnya hingga lelaki itu kabur. Kemudian Kai menghampiri perempuan malang itu untuk membantunya berdiri.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya sambil memapah perempuan itu. Kagetlah Kai begitu melihat siapa yang tengah ia tolong saat ini. Reflek Kai langsung mendorong perempuan itu, serta menepuk-nepuk tangannya seolah ia baru saja memegang benda yang sangat kotor.

“Yah, Kai! Kenapa kamu malah mendorongnya?!” omel Ahreum yang sudah sampai di hadapan mereka.

Ahreum lalu membantu perempuan itu sebelum Kai sempat menahannya. Reaksi Ahreum juga hampir sama dengan Kai ketika melihat wajah perempuan itu. Hanya saja Ahreum tidak mendorongnya seperti Kai.

“Park Jiyeon?? Apa yang sedang kamu lakukan disini?!”

Park Jiyeon. Perempuan yang tengah mereka tolong itu adalah Park Jiyeon. Teman sekelas Ahreum, siswi paling populer di sekolah Ahreum serta perempuan yang selalu mengganggu Ahreum; Park Jiyeon; kini tampak tak berdaya. Wajahnya pucat dan matanya memerah. Ia juga tampak tak mampu berdiri tegak ketika Ahreum membantunya bangun. Sampai akhirnya dia limbung dan hilang kesadarannya sebelum sempat menjawab pertanyaan Ahreum.

.

.

Seberapapun ingin Kai pergi dari ruangan menyebalkan ini tapi ia tak bisa melakukannya. Ruangan ini mengingatkan dirinya akan kondisi Ahreum kemarin dulu ketika ia keracunan sup teripang buatan D.O. Ruangan serba putih dengan bau obat yang menyelimuti udara ruangan cukup membuat Kai membenci ruangan ini. Tapi ia tak bisa pergi dari sana karena satu orang yang kini tengah terbaring di ranjang yang ada di tengah ruangan.

Kai tengah menunggui Park Jiyeon yang sedang terbaring lemah di kamar rawat inap rumah sakit Seoul. Walaupun Kai ingin sekali membiarkannya, tapi ia tak bisa melakukannya. Tentu saja karena seseorang yang sedang tertidur di pangkuannya, Ahreum. Gadis itu tadi mengancamnya untuk jangan pergi meninggalkan ruang rawat inap ini sebelum Park Jiyeon bangun.

Kai benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Ahreum. Padahal Park Jiyeon tak pernah bersikap baik terhadapnya, tapi Ahreum tetap saja berbaik hati pada Jiyeon. Tadi ketika Jiyeon pingsan, Ahreum langsung panik dan menyuruh Kai untuk membawa Jiyeon ke rumah sakit. Tentu saja Kai menolaknya. Untuk apa pula ia menolong perempuan yang sudah menyakiti Ahreum. Tidak, Kai tidak akan pernah menolongnya. Tapi, sekali lagi Kai kalah dari Ahreum. Sehingga dengan sangat berat hati Kai menolong Jiyeon.

Dan mereka pun berakhir di kamar rumah sakit terkutuk ini.

Kai tak tidur malam ini. Bagaimana ia bisa tidur, jika ia adalah satu-satunya pasukan khusus yang harus menjaga tidur Ahreum. Jadi Kai berusaha menghapus kenyataan kalau dirinya tengah berada di kamar rumah sakit menunggui Jiyeon, dan menggantinya dengan fakta kalau ia kini tengah memandangi wajah Ahreum yang tertidur dengan tenang di pangkuannya. Mau tak mau Kai harus merasa berterima kasih pada Jiyeon. Kalau bukan karena Jiyeon, tak mungkin Kai bisa mendapatkan Ahreum dalam pangkuannya seperti ini.

“Apa yang kamu lakukan disini? Aku dimana?” Suara itu membuyarkan lamunan Kai. Dengan sangat malas Kai memandangi Jiyeon yang kini sudah bangun.

“Oh, kamu sudah bangun? Baguslah. Aku bisa pulang kalau begitu,” sahut Kai malas.

Jiyeon memandangi Kai dengan bingung. Wajahnya menyiratkan seribu pertanyaan yang harus Kai jawab (atau Jiyeon mungkin akan terus menatapnya seperti itu sampai Kai menjawabnya).

“Tadi kami menolongmu di jalan. Lalu kamu pingsan dan kami membawamu ke rumah sakit. Ya, terima kasih kembali,” ujar Kai.

Jiyeon mengernyitkan keningnya. Ia tak berterima kasih lalu kenapa Kai berkata terima kasih kembali. Tapi ada satu yang membuat Jiyeon bingung, apa yang di maksud Kai dengan ‘kami’. Jiyeon lalu melihat ke samping Kai dan mendapati Ahreum tengah tertidur dengan menjadikan paha Kai sebagai bantalnya.

“Apa yang dia lakukan disini??” sahut Jiyeon, seolah ia jijik berada satu ruangan dengan Ahreum.

“Aku juga tak mau ada disini tahu. Tapi Ahreum bersikeras untuk menungguimu. Kamu kira aku mau terjebak disini dengan perempuan mengerikan sepertimu,” geram Kai. “Ya, terima kasih kembali. Akan kusampaikan terima kasihmu pada Ahreum.”

Kai lalu mengguncang badan Ahreum pelan, berusaha membangunkannya. Ia tak ingin berlama-lama berada di ruangan itu. Cukup lama sampai akhirnya Ahreum bangun. Ahreum langsung membuka matanya lebar-lebar begitu ia melihat kalau Jiyeon sudah sadar.

“Omo, Park Jiyeon. Kamu sudah sadar. Kamu butuh apa? Apa ada yang sakit? Atau kamu mau minum? Kupanggilkan suster ya??” tanya Ahreum khawatir.

Kai hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, tak setuju dengan segala kekhawatiran Ahreum pada Jiyeon. Menurutnya Ahreum hanya buang-buang tenaga saja. Dan Ahreum memang buang-buang tenanganya, karena Jiyeon kini sudah menepis tangan Ahreum.

“Tak perlu sok baik seperti itu,” sentak Jiyeon.

Ahreum terdiam mendengar bentakan Jiyeon. Tapi Ahreum tetap mempertahankan senyumannya. “Maaf. Kamu istirahat lagi saja. Nanti pagi-pagi Miss Han akan datang untuk menjengukmu. Jadi kamu jangan kemana-mana. Aku pulang dulu ya.”

Ahreum berpamitan pada Jiyeon, yang berakhir dengan Jiyeon mengacuhkannya. Sungguh Kai ingin memukul kepala Jiyeon saat ini juga untuk membuatnya sadar agar berhenti bersikap seperti itu pada Ahreum.

.

.

Ketika Jiyeon bangun siang ini, ia mendapati Ahreum tengah merapikan meja disamping ranjangnya; menyusun beberapa makanan disana. Jiyeon sampai mengutuk dalam hati akan kebebalan Ahreum ini. Ia tak habis pikir kenapa Ahreum tetap mau menunjukkan batang hidungnya di hadapan Jiyeon, padahal selama ini ia selalu menyiksa Ahreum.

“Kukira kamu menyuruhku untuk berjalan di jalur masing-masing. Lalu kenapa kamu melewati batas sekarang?” sela Jiyeon.

Ahreum langsung mengalihkan perhatiannya pada Jiyeon dan tersenyum sumringah seraya mengangkat dua buah apel di tangannya. “Kamu sudah bangun? Kamu pasti lapar. Aku membawakanmu buah dan makanan. Apa kamu kenal D.O.? Dia tadi membantuku membuatkan bubur untukmu.”

Jiyeon memandangi rantang yang dibawa Ahreum serta buah-buahan yang memenuhi mejanya. Ia kini benar-benar takjub, karena Ahreum seperti tak pernah mengalami sesuatu yang bersilangan dengan dirinya sebelumnya.

“Ada apa denganmu, Ahreum? Kenapa kamu berusaha bersikap baik padaku? Apa kamu memang seperti ini atau hanya kepadaku saja? Bubur itu, kamu pasti menaruh sesuatu disana kan agar bisa membalasku?” tuding Jiyeon.

Ahreum nyaris menjatuhkan buah-buahan di tangannya. Ia shock mendengar ucapan Jiyeon. “Kenapa kamu berpikir seperti itu? Bubur ini aman untuk dimakan kok. Suster sendiri tadi sudah mencobanya. Aku tak mungkin punya pikiran untuk membalasmu.”

Jiyeon berdecak kesal. Ia memilih untuk memalingkan wajahnya dari Ahreum. Karena jika berlama-lama melihat Ahreum mungkin Jiyeon akan meledak. Begitu ia melihat ke sisi kirinya, tepat di sofa yang ada di bawah jendela, Jiyeon melihat sosok pemuda tengah duduk sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa seraya menutup matanya; seolah ia sedang tertidur disana. Jiyeon kaget melihat pemuda itu. Karena pemuda yang kini sedang tertidur di seberang ranjangnya itu adalah Kris.

“Kenapa dia bisa ada disini?!!” desis Jiyeon, dengan suara serendah mungkin agar tidak membangunkan Kris.

“Ohh, aku yang mengajaknya. Aku pikir kamu pasti senang kalau dia dat-,”

“Untuk apa?!! Untuk melihat sisi lemahku?! Agar bisa menunjukkan padanya kalau aku hampir mati karena overdosis obat-obatan terlarang?!! Kamu mau menambah buruk imejku di hadapannya?!” bentak Jiyeon, masih dengan suara yang sangat rendah.

Ahreum terkejut dengan bentakan Jiyeon. Ia membawa Kris tujuannya murni untuk membuat Jiyeon senang. Karena Ahreum tahu kalau Jiyeon menyukai Kris. Walau Ahreum merasa bersalah karena (lagi-lagi) harus mengorbankan Kris, tapi jika itu bisa membuat Jiyeon cepat sembuh maka Ahreum akan melakukannya.

“Kenapa kau selalu berpikiran negatif, Park Jiyeon. Aku membawa Kris karena kupikir dia bisa membuatmu semangat agar cepat sembuh. Aku sungguh-sungguh mengkhawatirkan keadaanmu. Apalagi begitu dokter bilang kalau kamu nyaris tak selamat jika aku tak menolongmu semalam. Aku tak mengharapkan kamu untuk berterima kasih padaku. Hanya saja aku harap kalau kamu bisa sembuh karena kita akan masuk sekolah sebentar lagi,” ujar Ahreum.

Jiyeon membuka mulutnya, bersiap untuk membalas Ahreum, tapi tak ada satupun kalimat yang keluar dari sana. Betapa ia tak habis pikir dengan Ahreum. Ia akhirnya memilih untuk tidak mempedulikan Ahreum dan menenggelamkan dirinya di kasur tipis milik rumah sakit ini.

Ahreum kemudian keluar kamar untuk meminjam pisau pada suster; untuk mengupas buah yang ia bawa. Dan ketika Ahreum pergi, Kris yang sedari tadi (berpura-pura) tertidur di sofa langsung bangun untuk menghampiri Jiyeon.

“Aku tak memintamu untuk berterima kasih karena sudah menolongmu atau meminta maaf karena sudah merepotkan Ahreum sejak pagi buta, tapi apa tak bisa kamu bersikap baik sedikit saja pada orang yang sudah sangat mengkhawatirkanmu?” Tegur Kris tak bersahabat.

Jiyeon tentu saja merasa terintimidasi oleh tatapan Kris yang tajam itu. Jiyeon tak bisa mempertahankan keangkuhannya di hadapan Kris. Apalagi Kris saat ini terlihat seolah ingin menelan Jiyeon hidup-hidup.

“Ahreum benar-benar mengkhawatirkanmu. Semalam ketika ia menelepon kalau ia tak bisa pulang, suaranya terdengar panik, seolah ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan pagi ini begitu ia pulang ia langsung memaksa D.O. untuk membantunya membuatkan bubur, melupakan tidurnya yang aku yakin sangat sedikit ia dapatkan karenamu. Dan apa yang Ahreum dapatkan? Hanya si jahat Park Jiyeon yang akan selalu membentaknya bahkan dalam keadaan sakit sekalipun,” desis Kris.

Jiyeon memalingkan wajahnya dari Kris. Ia sungguh tak berani menatap Kris saat ini.

“Untung Ahreum mengajakku untuk menjengukmu. Coba kalau ia membawa yang lain, entah jadi apa dirimu sekarang, Park Jiyeon,” ujar Kris.

Kris (serta sebelas rekan yang lainnya) sangat tak setuju dengan sikap Ahreum yang bermurah hati pada Jiyeon. Tapi mereka bisa apa, Ahreum tetaplah Ahreum, yang walaupun pada orang yang sudah jahat sekalipun tetap akan membela dan menolong mereka. Kris tak tahu kenapa Ahreum begitu ngotot ingin menolong Jiyeon. Satu jawabannya cukup membuat Kris dan yang lainnya terdiam serta menuruti apa saja yang akan dilakukan Ahreum.

Karena Jiyeon adalah temanku. Dia teman sekelasku.

“Kenapa kamu tak pernah bisa menyukai Ahreum? Kenapa kamu selalu ingin menyakiti Ahreum? Apa yang salah dengannya?” tuntut Kris.

Jiyeon masih diam. Ia menundukkan kepalanya, berusaha mencari sesuatu yang menarik dari selimut yang dipakainya. Ia tak pernah mengatakan pada siapapun kenapa ia membenci Ahreum. Ia hanya akan bilang jika Ahreum itu adalah cucu penyihir dan harus dibasmi, jika ada yang bertanya kenapa ia tak menyukai Ahreum. Tapi bukan itu alasan sebenarnya.

“Karena aku iri padanya,” sahut Jiyeon.

Jiyeon mencoba mereka ulang kenapa ia membenci Ahreum. Alasannya sangat sederhana, karena ia iri dengan Aherum. “Aku tumbuh besar dengan selalu dibanding-bandingkan dengan Lee Ahreum. Saat itu aku bahkan tak tahu siapa Lee Ahreum. Dan begitu melihatnya secara langsung, aku sungguh tak menemukan alasan kenapa ia lebih baik dariku. Aku terus mengganggunya untuk mencari tahu kelemahannya. Tapi aku tak menemukannya. Dan itu sungguh menyebalkan. Seandainya saja ia tak ada, aku tentu tak perlu hidup seperti ini.”

“Jadi hanya karena itu kamu terus menyakitinya?” tanya Kris.

“Kamu pikir itu hal sederhana?! Semua orang sudah membicarakan dirinya bahkan saat ia tak ada dihadapan mereka. Aku saja harus bersusah payah untuk bisa mendapatkan popularitas dan perhatian semua orang. Tapi dia! Dia dengan sekejap mata langsung menyapu semua perhatian mereka padanya. Dan aku iri akan hal itu,” sentak Jiyeon.

“Mustahil.”

Kris dan Jiyeon sama-sama menoleh ke arah pintu dan melihat Ahreum sudah berdiri mematung dengan sebuah pisau menggantung di tangannya.

“Tidak mungkin. Seorang Park Jiyeon iri padaku?! Yang seharusnya merasa iri itu adalah aku. Aku iri melihat kecantikanmu (kamu lebih cantik darinya, Ahreum, gumam Kris). Kamu begitu populer dan dipuja banyak orang. Kamu punya banyak teman dan orangtuamu bahkan masih lengkap. Kenapa kamu bisa iri padaku? Aku tak pantas,”

Sejak Ahreum masuk ke sekolah umum setahun yang lalu, Ahreum sudah sangat mengagumi Jiyeon. Baginya Jiyeon adalah gadis paling sempurna. Jiyeon cantik dan populer. Banyak orang yang mau menjadi temannya; termasuk Ahreum. Dan disaat tak ada satupun murid yang mau menegurnya, hanya Jiyeon seoranglah yang mau menghampirinya. Walau Ahreum sadar kalau Jiyeon mendekatinya untuk mengganggunya, tapi Ahreum terkadang merasa senang karena ia mendapat lawan bicara di sekolah, karena ia diperhatikan oleh Jiyeon (tentu saja Ahreum berpikir kalau Jiyeon memperhatikannya, kalau tidak, tak mungkin Jiyeon mau menghabiskan waktunya mengusik Ahreum).

“Ohya? Kalau begitu bagaimana jika kamu menjadi aku? Dan kamu harus mendengarkan ayahku terus membanding-bandingkanku dengan cucunya Tuan Lee, yang aku sendiri tak tahu siapa Tuan Lee itu,” sahut Jiyeon.

“Kalian ini memiliki persamaan yang aneh,” gumam Kris.

Ahreum terdiam mendengar keluhan Jiyeon. Ia tak pernah menyangka kalau Jiyeon memiliki pemikiran seperti itu terhadapnya. Ahreum memandangi Jiyeon, berusaha mencari tahu apakah Jiyeon hanya mengarang saja atau ia sungguh-sungguh iri pada Ahreum. Dan Jiyeon benar-benar terlihat serius akan ucapannya. Ahreum akhirnya meletakkan pisau yang dibawanya di atas dispenser seberang ranjang Jiyeon. Ia lalu menghampiri Jiyeon dan mengulurkan tangannya.

“Bagaimana kalau kita berhenti saling menyakiti? Bukankah akan lebih keren kalau kita berteman? Bagaimana kalau kita berteman saja?” Ahreum menawarkan perdamaian pada Jiyeon.

Ahreum pikir mungkin Jiyeon kini mau berbaikan dengannya. Ahreum pikir mungkin Jiyeon kini mau berteman dengannya. Ahreum pikir mungkin ia dan Jiyeon bisa berekonsiliasi sekarang. Atau mungkin harapannya terlalu tinggi.

“Jangan harap,” ketus Jiyeon sambil menepis tangan Ahreum.

Sungguh Kris ingin menenggelamkan Jiyeon di laut terdalam saat ini juga. Ia sungguh tak terima melihat sikap Jiyeon. Baru saja Kris akan memakinya, ketika Jiyeon berkata, “kalau kamu menjadi teman Park Jiyeon kamu harus lulus tiga tahap ujiannya. Dan kamu baru melewati satu tahap. Perjalananmu masih panjang untuk bisa menjadi teman Park Jiyeon.”

Jiyeon lalu kembali berbaring dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Sementara Ahreum kini ekspresinya hampir sama seperti Chanyeol ketika Chanyeol mendapatkan pujian darinya. Cengiran lebar terpasang sempurna di wajah Ahreum.

Walau Jiyeon tak mengatakannya secara langsung, tapi Ahreum yakin kalau kini Jiyeon mau berbaikan dengannya.

.

.

Seharian ini Ahreum tampak seperti perempuan bodoh yang tak pernah lepas tersenyum lebar. Sepulang dari rumah sakit sehabis menjenguk Jiyeon, Ahreum terus-terusan menunjukkan cengirannya. Walaupun sedikit merasa aneh, tapi para pengawalnya ikut merasa bahagia melihat senyuman Ahreum itu.

“Sepertinya ada sesuatu yang membuatmu bahagia? Apa kamu mau membaginya denganku?” tegur Suho.

Ahreum makin sumringah. “Ohh, Suho. Aku sangat sangat sangat sangat bahagia saat ini. Kamu mungkin tak bisa membayangkan betapa bahagianya aku saat ini. Ohh apa kamu tahu apa yang baru saja terjadi?! Aku yakin ini adalah isyarat dari Tuhan untuk kebahagiaanku.”

Suho hanya bisa ikut tersenyum bersama Ahreum. “Aku ikut senang kalau kamu senang Ahreum. Sepertinya teman barumu ini benar-benar menyenangkan.”

“Tentu saja dia– tunggu, kenapa kamu bisa tahu kalau aku dapat teman baru?” Bingung Ahreum.

“Kurasa hanya itu yang bisa membuatmu tersenyum begitu lebar?” terka Suho.

Ahreum menggumamkan ‘aa’ sambil mengangguk mengerti. “Kurasa kamu begitu mengerti aku, Suho.”

Ahreum kembali melanjutkan aktivitasnya, yaitu membuat teh untuk istirahat sore mereka. Ia memikirkan sudah berapa banyak teman yang ia dapatkan sejak ia bertemu dengan para pengawal dari Exoland. Ahreum jadi ingin memberi mereka hadiah. Kemudian sebuah ide cemerlang melintas di otaknya.

“Semuanya!!! Bersiap!! Kita akan pergi liburan!!!” pekik Ahreum dengan suara tiga oktafnya yang cukup terdengar sampai ke ujung bukit.

Suho sampai menutup satu kedua telinganya mendengar teriakan Ahreum. Baginya suara Ahreum lebih kencang dari seruan Xiumin. Dan kini dapur sudah dipenuhi oleh Knight dan Mastermind yang penasaran dengan jeritan Ahreum tadi.

“Liburan?! Apa ini artinya kita akan jalan-jalan?” tanya Chanyeol dan Ahreum mengangguk antusias menjawab pertanyaannya.

“Kita mau kemana? Mall kah??” tanya D.O.

“Ahh kita akan ke mall lagi kah?? Ohh Ahreum apa kamu mau membelikanku tas yang dijual di toko.. ummh apa namanya ya? Succi? Ducci? Cucci??” tanya Tao.

Ahreum memutar bola matanya. “Tidak, tidak. Kita tidak akan ke mall. Untuk apa liburan ke mall. Dan Tao, aku tak akan membelikan tas gucci itu untukmu. Harga satu tas bisa cukup untuk membelikan kalian berdua belas pakaian.”

“Lalu kita akan kemana, Ahreum? Ahh!!! Kemping!!!” Sehun menebak dengan antusiasnya.

“Tidak. Kita tidak akan naik gunung atau keliling kota. Kita akan liburan ke pantai!!!” seru Ahreum riang. “Ohh aku harus menelepon Kim Ahjussi untuk mencarikan pantai yang keren untuk kita.”

Ahreum lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelepon paman Kim dan meninggalkan dua belas pengawalnya bingung.

“Pantai katanya,” ujar Luhan.

“Bukannya Ahreum tak bisa berenang?” sahut Baekhyun.

Yang lain hanya mengangkat bahunya. Mereka sama sekali tak punya ide kenapa Ahreum mau pergi liburan ke pantai.

.

.

.

.

.

.

.

bee

The seventeenth chapter is out!!!

chapter berikutnya adalah VACATION!!!! siapa yg pnasaran sama liburan mereka di pantai?? *imagine* pantai, ombak, exo boys in surf pants, and ahreum… full fluff…
btw T-ara comeback!!! ayo dukung T-ara N4!! Ahreum jjang!! Jiyeon jjang!!
kapan exo comeback???!!! *garuk tanah*
sekian pengumuman dari bee… thanks for your attention!! annyeong!!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 17 – All Those Kindness | PG15

17 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 17 – All Those Kindness | PG15

  1. DIYANA_FAIQO says:

    Akhirnya d.post jg..!!
    udh nungguin …>,<
    He? d.pantai ? mkin penasaran …Kkk~
    Huft,, Jiyeon msh gk berubah sifat.x..!!
    aq suka cover.x ff ni "BAGUS.."

    D.Tunggu next part.x..~
    jngn lma2 ne eonn~…

  2. aick says:

    hahaha, apapun yg bisa bikin perhatian ahreum teralihkan dri pengawalnya pasti bikin cemburu.hahaha.. seorang kai kalah ama anjing poodle,hahaha XD
    waaah, gak nyangka ahreum bakal seseneng itu bakal temenan ama jjiyeon..
    bener” kepribadian ahreum tu unik banget 😀

    ditunggu liburannya mereka eonniiiiiii ^^

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s