FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 16 – Real Fairytale | PG15


beautiful-life

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter 16 – Real Fairytale

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

other Cast:

Jiyeon T-ara as Park Jiyeon

Minho Shinee as Choi Minho

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life,

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Enchanted

Chapter 16 | Real Fairytale

.

.

.

Real fairytale

.

.

.

Para pengawal Ahreum sedang mempersiapkan pesta kecil-kecilan untuk merayakan bersatunya kembali mereka dengan Ahreum. Mereka menghias rumah Ahreum serta memasak. Sementara Ahreum sendiri mereka ‘usir’ dari rumah agar tidak merepotkan. Jadi Ahreum kini terlantar di taman bermain anak-anak bersama dengan dua ‘anak-anak’, Sehun dan Tao.

“Ahreum, ayo kita main ini!!” Tao menarik Ahreum ke permainan jungkat-jungkit.

Sehun menarik tangan Ahreum yang lain dan menunjuk ke arah ayunan. “Tidak, Ahreum akan main ayunan denganku!”

Ahreum membiarkan kedua maknae itu menarik dirinya, seolah mereka sedang bermain tarik tambang dengan Ahreum sebagai tambangnya. Ahreum akhirnya menghempaskan tangan mereka dan menyilangkan kedua lengannya di dada. Ia tampak kesal sekarang.

“Bagaimana kalau kalian berdua main jungkat-jungkit dan aku main ayunan sendirian,” saran Ahreum.

“Tapi aku mau main bersamamu,” ujar keduanya bersamaan.

“Kalau begitu kita main permainan yang bisa dimainkan tiga orang. Kita akan main benteng sang putri. Aku jadi putrinya dan kalian jadi bentengnya,” sahut Ahreum.

Ahreum lalu menuju perosotan dan duduk diatasnya. Ia mulai bertingkah layaknya anak lima tahun yang berakting sebagai putri. Sehun dan Tao tentu saja bingung dengan sandiwara yang dimainkan Ahreum saat ini. Dan hei, Ahreum itu memang adalah seorang putri, jadi untuk apa ia berakting menjadi putri?

“Ohh ayolah. Aku rindu permainan ini. Dulu aku selalu main ini dengan Kim Ahjussi,” protes Ahreum saat kedua pemuda itu tak merespon drama yang dimainkan Ahreum.

“Siapa Kim Ahjussi?” tanya Sehun.

“Dia adalah orang yang mengurusku sejak aku masih bayi. Dia sudah bekerja untuk Harabeoji sejak ayahku masih sekolah. Kim Ahjussi adalah orang terdekatku setelah Harabeoji. Dia sudah seperti ayahku sendiri,” ujar Ahreum sambil membayangkan paman Kim, pengasuhnya dulu.

Paman Kim adalah orang kepercayaan Tuan Lee. Karenanya begitu Tuan Lee meninggal, paman Kim-lah yang menjadi wali Ahreum. Saat Ahreum memutuskan untuk meninggalkan rumah kakeknya, paman Kim mengajak Ahreum untuk tinggal dengannya; di kontrakan yang ia bangun di dekat rumahnya. Itu semata agar Ahreum tetap aman di bawah pengawasannya -itulah pesan terakhir dari Tuan Lee untuk selalu menjaga Ahreum.

“Kim Ahjussi selalu menceritakanku mengenai seorang putri di kerajaan antah berantah yang melarikan diri dari istananya karena takut dengan perjodohan yang datang padanya dan memilih untuk menikah dengan rakyat biasa. Hahahah aku sudah terbiasa dengan dongengnya, sampai aku merasa kalau ceritanya itu nyata,” ujar Ahreum.

“Putri yang..melarikan diri dari istananya?”

“Kabur dari perjodohan?”

Entah kenapa Sehun dan Tao merasa tidak asing dengan dongeng tersebut, seolah mereka juga pernah mendengar dongeng yang sama. Tentu saja itu bukan dongeng. Sehun dan Tao merasa kalau kisah itu mirip dengan kisah Putri Ara. Mereka pun penasaran akan paman Kim.

“Ahh, aku jadi merindukan Kim Ahjussi. Kira-kira dia sudah kembali ke Korea atau belum ya??” gumam Ahreum.

.

.

.

“Selamat datang, Ahreum!!!!”

Teriakan itu nyaris memekakkan telinga Ahreum begitu ia sampai di rumah bersama Tao dan Sehun. Bukannya merasa senang karena kejutan ‘manis’ yang disiapkan para pelindung dari Exoland itu, Ahreum malah merasa kesal; sebenarnya itu untuk menutupi rasa haru-nya.

“Kalian mengusirku dari rumahku dan membiarkanku terjebak dengan dua maknae keras kepala ini hanya untuk mengacaukan rumahku?!” protes Ahreum. Tapi Ahreum segera mengulas senyum di wajahnya. Sebuah kalimat tulus pun meluncur dari mulut Ahreum, “Terima kasih,”

Semuanya langsung menghela napas lega begitu melihat senyuman di wajah Ahreum. Tadinya mereka sempat menahan napas mereka saat Ahreum menunjukkan raut tidak sukanya. Tapi begitu mendengar Ahreum mengucapkan terima kasih, mereka pun sadar kalau kejutan mereka berhasil. Lay lebih dulu menghampiri Ahreum. Ia menunjukkan senyum dan lesung pipinya.

“Dalam rangka apa ini, Lay?” tegur Ahreum.

“Hmm, sebagai ungkapan rasa syukur karena bisa makan malam bersama denganmu lagi,” ujar Lay.

Lay lalu membimbing Ahreum ke ruang makan bersama dengan rekannya yang lain. Meja makan Ahreum sudah dipenuhi berbagai makanan. Ahreum sampai terkejut melihat semua jenis makanan menggiurkan yang tersaji disana.

“Uwaaahhh!! Ayo kita makan! Aku akan makan semuanya sampai perutku meledak!!” seru Ahreum antusias.

Semuanya tertawa melihat semangat Ahreum. Mereka semua langsung menyerbu meja makan. Tentu saja mereka saling berebut untuk duduk dekat Ahreum. Tapi akhirnya Ahreum memilih untuk duduk diantara Lay dan Suho -yang sudah pasti tidak akan mengganggu acara makan Ahreum.

“Mari kita ma-,” seruan Ahreum teredam karena Suho sudah menutup mulut Ahreum.

Ahreum langsung melancarkan tatapan protesnya pada Suho. Tapi begitu ia melihat Suho, Ahreum menyadari kalau ada yang aneh saat ini. Ahreum memperhatikan ke sekelilingnya; semua pengawalnya tampak tidak tenang. Ahreum pun ikut panik melihatnya.

“Ada apa?” tanya Ahreum berbisik diantara jemari Suho.

“Lay dan Baekhyun, bawa Ahreum keluar lewat pintu belakang,” titah Kris. “Dan yang lain ikut aku ke depan,”

Kris dan yang lainnya sudah berdiri dan mengendap-endap ke pintu utama membuat Ahreum mau tak mau ikut membuntut di belakang Lay.

“Apa?? Ada apa??” tuntut Ahreum masih sambil berbisik.

“Penyusup,” bisik Lay yang lalu menggiring Ahreum ke pintu belakang.

Ahreum tak ikut melangkah. Tidak mungkin bisa ada penyusup di rumahnya, karena tidak ada orang yang berani melewati pagar depan rumah Ahreum. Dan kalaupun ada yang berani melintasinya mereka pasti tidak bisa selamat dari semua jebakan yang ditinggalkan kakeknya di sekitar rumah; serta jebakan buatan para pengawal Ahreum. Yang berhasil selamat hanya mereka yang tahu seluk-beluk rumah ini.

“Siapapun yang datang sekarang sudah pasti dia adalah orang terdekatku. Apalagi orang itu bisa melewati halamanku. Mungkin pengacara Harabeoji atau orang pihak bank. Jadi kalian tak perlu berlebihan,” ujar Ahreum.

Ahreum berusaa meyakinkan mereka kalau yang datang itu bukanlah penjahat. Lagipula Ahreum tak mungkin membiarkan dua belas pemuda agresif itu untuk ‘menyambut’ tamunya. Karena itu bisa membuat imej Ahreum sebagai ‘penyihir’ akan terlihat nyata. Apalagi dua belas pemuda itu memiliki kekuatan magis nan super.

“D.O.!! Letakkan kembali pisaunya,” desis Ahreum ketika melihat kedua tangan D.O. yang sudah memegang pisau.

D.O.langsung melancarkan protesnya. “Ini untuk melindungimu, Ahreum!”

“Tapi nanti kamu bisa membuat orang itu takut! Cepat letakkan pisaunya!”

D.O. masih tak bergeming ia sudah mengacungkan pisaunya ke arah Ahreum dan bilang kalau benda itu lebih berguna jika ada bersamanya.

“Letakkan pisaunya!”

“Ahreum!!!”

Kini semuanya tampak membeku di tempatnya. Mereka mendengar jeritan yang memanggil nama Ahreum yang berasal dari pintu depan. Ketiga belas penghuni rumah ini langsung menoleh ke pintu masuk dan mendapati seorang lelaki paruh baya tengah berdiri dengan ekspresi seolah habis melihat hantu.

Lelaki asing itu langsung berlari ke arah Ahreum dan menerjang D.O. –menendang pisau di tangan D.O. dan membuat pisau itu lepas dari tangannya. Melihat D.O. tiba-tiba diserang oleh lelaki asing tersebut, Knight dan Mastermind langsung menyerbu lelaki itu. Dan hebatnya, lelaki asing yang tampak sudah separuh baya itu masih bisa melawan mereka. Yang membuat lelaki tua itu kalah hanyalah karena jumlah yang tidak imbang, dua belas lawan satu.

Ahreum shock melihat dua belas pengawalnya mengeroyok lelaki malang itu. Dan lelaki tua itu kini sudah duduk berlutut dengan kepala tertunduk -berkat paksaan dari Tao, Sehun dan Chanyeol.

“Hentikan kalian semua!!! Lepaskan dia!!” seru Ahreum. Ahreum berlari menghampiri lelaki malang tersebut dan membantunya berdiri. “Kim Ahjussi, apa kau baik-baik saja??”

“Kim..,”

“…Ahjussi??”

Sehun dan Tao merapal kembali nama tersebut. Mereka melihat lelaki tua yang dipanggil Ahreum Kim Ahjussi itu dengan rasa bersalah. Sehun dan Tao langsung melepaskan lelaki itu. Keduanya lalu menundukkan badan mereka pada lelaki tersebut sebagai tanda hormat.

“Ahjussi, maaf atas keributan ini. Tapi mereka sungguh bukan orang jahat,” ujar Ahreum pada paman Kim.

Sepuluh pengawal Ahreum yang tak tahu siapa paman Kim ini hanya bisa memandangi Sehun dan Tao bingung. Mereka sama sekali tak mengerti kenapa kedua makne mereka tiba-tiba membungkukkan badannya pada orang yang tak dikenal ini. Setelah Sehun dan Tao menjelaskan secara singkat siapa lelaki paruh baya itu, barulah mereka semua membungkukkan badan mereka; meminta maaf pada paman Kim atas sikap mereka.

“Kenapa Ahjussi datang kemari? Kapan kau tiba di Korea?” tanya Ahreum.

“Aku datang karena aku dengar kamu keluar dari kontrakanku. Maafkan istriku, Ahreum. Kamu tentu tahu kalau dia melakukan itu bukan karena dia tidak menyukaimu. Dia terpaksa melakukannya dan dia menyesal sudah membuatmu keluar. Makanya dia meneleponku agar aku segera kembali ke Korea,” paman Kim menjelaskan tujuannya datang ke rumah Ahreum. Ia lalu memandangi dua belas pemuda itu curiga. Paman Kim lalu mendekat pada Ahreum dan berbisik. “Aku juga dengar dari pihak bank kalau kamu menghabiskan jatah bulananmu hanya dalam waktu seminggu saja dan kamu membelanjakan uangmu untuk membeli belasan jas. Apa itu benar? Apa itu untuk mereka?”

Ahreum langsung mengibaskan tangannya panik. Ia berusaha mencari alasan yang bagus untuk menjelaskan pada paman Kim. Karena biar bagaimanapun juga paman Kim adalah orang yang akan bertanggung jawab terhadap hidup Ahreum sampai dirinya dewasa dan bisa hidup mandiri. Entah seperti apa reaksi paman Kim terhadap dua belas pengawal Ahreum itu, jika dirinya sampai salah menjelaskan. Mungkin ia akan mencincang mereka dan membuangnya di danau belakang bukit.

“Err…anu…umm…,”

“Siapa mereka, Ahreum??” selidik paman Kim.

Ahreum makin panik karena ia tak ingin berbohong tapi juga tak bisa bicara jujur. Tidak mungkin Ahreum bilang ‘ohh mereka adalah para pengawalku yang datang dari negeri magis Exoland dan mereka disini untuk melindungiku’. Bisa-bisa paman Kim terkena serangan jantung mendadak. Ahreum memandangi kedua belas pengawalnya minta pertolongan.

“Mereka-.”

“Kami teman sekolah Ahreum dan kami menyewa kamar disini,” sela Kris. “Sekali lagi maaf akan sikap kami tadi. Kami pikir anda orang jahat yang akan menyerang Ahreum.”

Paman Kim memandangi Kris dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia juga menggumamkan mengenai aku-akan-mengawasimu-nak pada Kris. Walau suasana diantara mereka akhirnya membaik, tapi Ahreum masih merasakan ketegangan yang begitu mencolok antara mereka. Akhirnya Ahreum memutuskan untuk mengajak paman Kim ikut makan malam bersama mereka.

.

.

“Hari ini mereka memberi kejutan padaku sebagai ungkapan terima kasih mereka karena aku sudah memberi mereka tempat tinggal. Mereka anak yang baik kok, Ahjussi,” Ahreum menjelaskan pada paman Kim mengenai apa yang sedang terjadi di rumah saat ini.

Ketiga belas lelaki yang memenuhi ruang makan ini terlihat masih canggung, apalagi untuk memulai lebih dulu. Akhirnya Suho berinisiatif untuk mengurusi piring paman Kim sementara Lay membantu Ahreum. Paman Kim sendiri sedang meneliti menu makanan yang dihidangkan Suho di hadapannya.

“Siapa yang masak ini?” selidik paman Kim seraya mengaduk-aduk sup yang di berikan Suho.

Ahreum sudah menyendokkan sup buatan D.O. tersebut, tak menghiraukan pertanyaan paman Kim. Matanya berbinar-binar melihat sup itu. Sup buatan D.O. memang tidak terlihat cantik, tapi rasanya lebih enak dari penampilannya. Karenanya Ahreum selalu suka sup buatan D.O.

“Sudah dimakan saja, Ahjussi. Ini enak kok,” sela Ahreum yang lalu melahap sup tersebut.

“Bau ini seperti… Ahreum! Jangan dimakan supnya!!!” seru paman Kim.

Semuanya kaget mendengar teriakan lelaki tua itu. Dan kini semuanya menoleh ke arah Ahreum yang sudah batuk-batuk dengan hebatnya. Ahreum megap-megap seperti ikan yang kehabisan oksigen. Sementara paman Kim sudah melesat ke Ahreum dan menarik gadis itu dari duduknya. Paman Kim memeluk pinggang Ahreum dari belakang dan menghentakkan tubuh Ahreum; berharap dengan tekanan di perutnya itu Ahreum akan memuntahkan makanannya.

“Muntahkan!! Cepat muntahkan, Ahreum!!!” panik paman Kim.

Ahreum masih megap-megap berusaha mendapatkan oksigen. Melihat kondisi Ahreum tersebut tentu saja membuat dua belas pengawalnya panik. Lay yang tadi duduk di sebelah Ahreum hanya bisa menepuk-nepuk punggung Ahreum untuk meredakan batuknya, tapi nihil. Semuanya sudah mengerubungi Ahreum.

“Orang bodoh mana yang memasukkan teripang ke dalam supnya?!! Apa kalian ingin membunuh Ahreum!!” bentak paman Kim.

D.O. dan Chanyeol saling pandang. Panik tergambar jelas di wajah mereka; dengan mata terbuka lebar seolah mau keluar dari peraduannya. Sepertinya apa yang sudah mereka lakukan kali ini justru membahayakan hidup Ahreum; berdasarkan dari bentakan paman Kim tadi. Bagaimana mereka tidak panik karena merekalah yang menyediakan sup tersebut; Chanyeol yang membawa pulang sang teripang dan D.O. yang memasaknya.

Keduanya belum bisa memproses apa yang sedang terjadi sampai akhirnya mereka mendengar paman Kim menyuruh siapapun juga untuk menggendong Ahreum dan pergi ke rumah sakit. Saat itu Chanyeol dan D.O. sadar kalau mereka sudah melakukan kesalahan besar; yang ke dua.

.

.

“Ahreum alergi makanan laut. Dia bisa makan ikan atau udang atau apapun itu yang bukan berasal dari laut,”

Suara lelaki tua itu terdengar lelah. Kerutan yang ada di wajahnya kini justru tampak makin banyak karena ia tak berhenti mengernyitkan keningnya; khawatir. Tangannya sudah menyusuri rambut putihnya frustasi.

“Untung aku datang. Coba kalau aku terlambat datang….,”

“Maafkan kami,” ujar D.O.

“Kami tak tahu mengenai alergi itu,” sahut Chanyeol.

“Ahreum tak pernah menyediakan makanan laut di rumah, karena dia tahu dia tak bisa memakannya. Dia juga tak memberitahu kalian karena ia pasti mengira kalau kalian juga tak akan menyiapkan apa yang tak pernah ia datangkan. Anak itu…,”

“Sekretaris Kim?” Dokter yang baru saja keluar dari ruang perawatan Ahreum memutus kalimat paman Kim.

“Aku sudah bukan sekretaris Tuan Lee lagi, Dokter Ji,” sahut paman Kim yang lalu berdiri untuk berbicara dengan sang dokter.

“Tapi tetap saja kau adalah sekretarisnya, mengingat bahwa almarhum menitipkan Ahreum padamu. Ahreum baik-baik saja. Makan malamnya sudah dikeluarkan. Sekarang biarkan dia istirahat disini, besok siang baru Ahreum boleh pulang,” ujar Dokter Ji.

Semuanya, dua belas pengawal Ahreum yang turut memenuhi koridor rumah sakit, langsung menghela napas panjang seolah mereka menahan napas mereka sejak tadi. Semuanya lalu membungkuk hormat pada Dokter Ji yang memandangi mereka dari ujung kepala sampai ujung kaki; satu persatu.

“Siapa mereka?” tanya Dokter Ji pada paman Kim.

“Teman Ahreum,” sahut paman Kim.

Sang dokter tampak takjub mendengarnya. Ia terlihat tak percaya, seperti paman Kim tadi ketika bertemu dengan dua belas pemuda dari Exoland itu. Dokter Ji mendekatkan dirinya pada paman Kim agar bisa menyampaikan protesnya tanpa harus terdengar oleh dua belas pemuda itu.

“Ahreum punya teman? Kapan dia bisa punya teman? Apa mereka datang ke rumah atau Ahreum yang keluar rumah? Sekretaris Kim, kau tahu kan pesan nona sebelum dia wafat? Jangan pernah biarkan Ahreum-,”

“Aku tahu,” potong paman Kim. “Makanya aku akan mengawasi mereka.”

.

Setelah meyakinkan rekan-rekannya kalau Ahreum baik-baik saja, akhirnya Suho dan Kris berhasil membuat Knight dan Mastermind yang lain mau keluar dari rumah sakit. Walau mereka bersikukuh ingin tetap ada di rumah sakit dan akhirnya membuat ‘tenda dadakan’ di halaman rumah sakit; karena mereka tak diizinkan untuk memenuhi koridor rumah sakit.

Suho dan Kris sendiri mendapat izin –diperbolehkan oleh paman Kim lebih tepatnya– untuk menjaga Ahreum di ruang rawat inapnya. Kris dan Suho duduk di kedua sisi ranjang Ahreum. Mereka memandangi Ahreum dengan penuh kasih dan kekhawatiran. Hanya melihat itu saja paman Kim tahu kalau mereka bukan sekedar berteman saja dengan Ahreum.

“Bisa aku tahu kapan kalian bertemu dan mengenal Ahreum? Darimana kalian berasal dan seperti apa keluarga kalian??” selidik paman Kim.

Kris dan Suho sama-sama menoleh ke arah paman Kim. Kris teringat akan ucapan Tao kalau paman Kim itu adalah orang terdekat Ahreum setelah kakeknya, jadi Kris pikir mungkin lelaki tua itu tahu akan riwayat hidup Ahreum atau mungkin kisah mengenai putri Ara.

“Sebelum aku menjawabnya, apa aku boleh bertanya sesuatu?” sahut Kris. Setelah paman Kim mengangguk barulah Kris kembali bicara. “Kudengar anda sudah mengenal Ahreum sejak masih kecil bahkan sejak sebelum ia lahir. Kalau begitu kau pasti tahu tentang ibunya Ahreum, bukan?”

Mendengar Kris menyinggung masalah ibu Ahreum, paman Kim langsung lompat dari duduknya dan memasang kuda-kuda pada dua pemuda di hadapannya itu. Ia juga mengeluarkan sebilah belati yang ia sembunyikan di dalam jaketnya.

“Siapa kalian?! Apa kalian juga suruhan orang-orang itu?! Kalian datang untuk membunuh Ahreum?!” desis paman Kim dengan suara serendah mungkin.

Kris dan Suho sempat tersentak kaget melihat sikap Kim Ahjussi. Tapi mereka menunjukkan pada lelaki tua itu kalau mereka bukan orang jahat. Mereka tahu belati yang dipegang Kim Ahjussi itu bukan belati biasa, itu adalah belati legendaris milik Putri Ara. Kris sudah lebih dulu mengangkat kedua tangannya di belakang kepala, disusul oleh Suho; tanda menyerah.

“Itu belati Putri Ara. Bagaimana bisa kau memilikinya? Kau pernah bertemu dengannya? Apa ini berarti Putri Ara adalah ibunya Ahreum??” tanya Suho.

“Tenanglah, Tuan. Kami bukan orang jahat. Kami datang dengan maksud baik. Jadi sebaiknya turunkan belati itu,” bujuk Kris.

Terdengar ribut-ribut yang teredam di luar jendela. Kai kini bahkan sudah muncul di ruang rawat inap Ahreum. Ia terkejut melihat paman Kim sudah mengacungkan belatinya pada dua pemimpin pasukan khusus itu. Tentu saja Kai tidak akan tinggal diam.

“Kai, jangan! Itu adalah belati Putri Ara. Tergores saja bisa membuatmu kehilangan kekuatan, apalagi sampai tertusuk,” cegah Suho dan Kai pun ikut mematung.

“Siapa sebenarnya kalian??” desis paman Kim.

“Kami adalah pengawal khusus yang datang untuk melindungi putri Ara dan keturunannya.”

.

.

“Aku masih mengingat dengan jelas, dua puluh lima tahun yang lalu Tuan muda pulang membawa seorang perempuan cantik yang ia kenalkan sebagai istrinya. Awalnya Tuan Lee menentang mereka, tapi akhirnya beliau luluh juga. Bagaimana Tuan Lee tidak luluh, perempuan itu tak tahu apapun selain namanya sendiri. Ara,” cerita paman Kim.

Paman Kim masih ingat betul keadaan Ara ketika ia tiba di kediaman keluarga Lee. Tak tahu akan asal usulnya, tak mengerti akan hal apapun dan tidak tahu menahu mengenai kehidupannya selain pengetahuan bahwa namanya adalah Ara. Perlahan tapi pasti, paman Kim-lah yang mengajari Ara mengenai segala sesuatunya. Bahkan lelaki itu sudah menganggap Ara sebagai putrinya sendiri. Bukan hanya dirinya yang menyukai pribadi Ara, melainkan seluruh penduduk kota yang merupakan pengagum Tuan Lee; juga sangat mencintai Ara.

Paman Kim masih ingat ketika Ara akhirnya mengandung Ahreum. Seisi kota berpesta pora merayakan kedatangan calon keluarga Lee yang sudah bertahun-tahun mereka nantikan. Penduduk kota bahkan menjaga Ara agar jangan sampai terluka. Tapi kebahagiaan itu terasa begitu singkat karena sehari sebelum Ahreum lahir, tiba-tiba saja makhluk-makhluk asing datang dan menyerang keluarga Lee.

Paman Kim masih ingat dengan jelas, ketika itu Ara tengah hamil besar lalu datang tiga orang dengan kekuatan aneh dan menyerang kediaman Tuan Lee. Kejadian itu benar-benar membuat trauma besar bagi mereka yang berhasil selamat dari kediaman Tuan Lee. Ketika itu Ara dengan seluruh kekuatannya berhasil menghalau makhluk asing tersebut. Tentu saja paman Kim dan Tuan Lee shock melihat perubahan Ara. Saat itu juga mereka baru menyadari kalau Ara bukanlah manusia biasa.

Ara adalah seorang putri dari sebuah kerajaan magis dan memiliki kekuatan luar biasa yang tak dimiliki manusia. Belum sempat mengkonfirmasi lebih lanjut, Ara mengalami kontraksi. Ahreum pun lahir pada tengah malam.

Di tengah kondisinya yang masih sangat lemah karena habis melahirkan, Ara berpesan untuk jangan pernah membiarkan putrinya keluar dari rumah. Ara menitipkan kalung beserta belatinya pada Tuan Lee untuk perlindungan terhadap Ahreum. Lalu Ara pergi; melawan makhluk-makhluk asing itu; dan tak pernah kembali lagi bahkan untuk melihat putrinya sendiri.

Sejak kejadian itu Tuan Lee dan paman Kim melaksanakan semua pesan Ara. Mengurung Ahreum di rumah, menghapus semua jejak Ara dan Lee Seongmin dari Ahreum, serta mengajari Ahreum beberapa teknik beladiri. Meskipun merasa bersalah karena harus menutupi semuanya dari Ahreum, tapi mereka –Tuan Lee dan paman Kim– tak bisa tidak melaksanakannya. Karena hanya dengan itu mereka bisa melindungi Ahreum dari orang-orang jahat yang mengincar keselamatannya.

“Kenapa kalian baru datang sekarang? Kenapa tidak tujuh belas tahun yang lalu kalian datang? Kenapa baru sekarang?”

Kamar Ahreum kini di penuhi oleh dua belas pemuda dari Exoland yang turut mendengarkan cerita dari paman Kim. Mereka semua kini tengah berduka mendengar kabar tentang putri Ara. Walaupun Kris, Luhan dan Chen sudah tahu mengenai kisah tersebut; karena pernah membaca dari buku harian peninggalan Tuan Lee; tetap saja mereka merasa bersalah.

“Maafkan kami,” gumam Kris.

“Sejak putri menghilang, para pendahulu kami sudah berusaha mencari keberadaannya. Mereka sudah mencari ke seluruh belahan dunia dan semua waktu. Tapi mereka tak berhasil menemukannya. Sepertinya putri memblokir jalur ke masa ini, agar tidak ada yang bisa menemukannya,” ujar Suho.

“Maaf, Kim Ahjussi. Kudengar dari Ahreum kalau kau suka menceritakan sebuah dongeng tentang putri yang kabur dari kerjaannya untuk menikah dengan rakyat biasa. Apa.. Itu adalah cerita yang kau ketahui tentang putri Ara?” tanya Sehun.

Paman Kim menghela napas panjang. “Itu adalah cerita yang dibuat putri Ara. Ketika aku merapikan kamarnya aku menemukan buku yang ia tulis mengenai dirinya. Ia belajar menulis dengan menjadikan kisah hidupnya sebagai latihan. Dibuku itu juga ada beberapa pesan untuk mencegah makhluk-makhluk jahat yang akan datang untuk menyerang Ahreum.”

Paman Kim kemudian membongkar tasnya. Ia mengeluarkan sebuah buku yang sama tuanya dengan jurnal Tuan Lee yang ditemukan Kris. Paman Kim juga menunjukan sebuah pigura foto yang berisi tiga orang manusia; satu lelaki tua, satu lelaki muda dan satu perempuan muda; yang semuanya juga bisa menebak kalau itu adalah foto Tuan Lee beserta anak lelakinya dan Putri Ara.

“Aku tadinya akan menunjukan ini semua pada Ahreum. Karena aku tak tega terus menutupi ini semua darinya. Dia berhak tahu mengenai asal-usulnya,” ujar paman Kim.

Mastermind dan Knight memperhatikan pigura foto tersebut. Satu yang mereka tangkap dengan jelas dari foto itu adalah putri Ara tampak sangat bahagia. Mereka bisa melihatnya kalau putri Ara terlihat bahagia diapit oleh suaminya dan ayah mertuanya. Hal ini membuat Knight dan Mastermind merasa ikhlas; karena mengetahui kalau sang putri bisa hidup bahagia.

“Jadi sekarang kalian datang untuk melindungi Ahreum? Kalau begitu aku tak akan merasa bersalah pada nona Ara untuk memberitahukan semuanya pada Ahreum,” ujar paman Kim.

“Kami datang bukan hanya untuk melindunginya,” sahut Kai.

“Tapi juga untuk melanjutkan sayembara yang dulu pernah tertunda,” Luhan menimpali.

Paman Kim mengernyitkan dahinya mendengar ucapan pemuda-pemuda itu.

“Ahjussi tentu sudah tahu mengenai kisah putri Ara, mengenai ia pergi dari istana ketika kerajaan tengah memilihkan calon raja untuknya. Pemilihan itu jadi tertunda karena putri menghilang,” Tao mencoba menjelaskan.

“Dan kami datang untuk menyelesaikan pemilihan tersebut lalu membawa Ahreum kembali ke tanah asalnya, Exoland,” pungkas Baekhyun.

“Maksud kalian??”

“Kami harus membuat Ahreum memilih salah satu diantara kami untuk jadi pendampingnya, baru kami akan kembali ke Exoland dan merebut kembali apa yang seharusnya jadi milik Ahreum; kerajaan Exoland,” jelas Suho.

Kini kamar rawat inap Ahreum menjadi senyap. Paman Kim tampak terkejut dengan berita yang baru ia dengar ini. Ahreum akan pergi dari dunia ini katanya? Bahkan paman Kim tak rela untuk melepasnya.

“Apa maksudnya dengan memilih salah satu diantara kalian dan kembali ke Exoland?”

Suara itu memecah keheningan diantara mereka. Ketiga belas lelaki itu sama-sama menoleh ke ranjang untuk mendapati Ahreum yang sudah terbangun dan menatap mereka dengan bingung. Ahreum yang baru bangun menuntut penjelasan dari mereka.

.

.

Sepulang dari rumah sakit, Ahreum pergi dengan paman Kim. Mastermind dan Knight tidak mengikutinya karena mereka ingin memberikan waktu bagi Ahreum untuk menerima semua fakta yang akan datang padanya. Tadi pagi ketika Ahreum terbangun ia harus mengetahui kalau ia bukanlah sekedar reinkarnasi dari putri Exoland, mendengar fakta kalau ibunya adalah putri yang sudah menghilang ribuan tahun lamanya dari Exoland, serta fakta kalau kedua orangtuanya meninggal karena dibunuh oleh assassin yang berasal dari Exoland –yang mengincar tahta kerajaan milik keturunan mendiang raja Janus.

Semuanya cukup membuat Ahreum terkejut dan tertekan.

Ahreum kini pergi bersama paman Kim untuk mengunjungi makam orangtuanya. Untuk yang pertama kali dalam seumur hidupnya Ahreum akhirnya mengetahui siapa orangtuanya, bagaimana mereka bisa meninggal dan dimana makam mereka.

Berdiri di hadapan nisan –yang kata paman Kim tidak ada isinya karena mereka tak menemukan jasad kedua orangtuanya– Ahreum hanya bisa termenung. Walau ia akhirnya melihat seperti apa wajah mereka melalui foto yang dibawa paman Kim, Ahreum tetap merasa ada yang mengganjal di hatinya. Ia tak bisa memeluk mereka.

“Jadi mereka dibunuh?” tanya Ahreum.

Paman Kim tak menjawab pertanyaan Ahreum, tapi Ahreum tahu arti dari diamnya paman Kim.

“Kuharap kau mengerti kenapa Tuan Lee tak pernah mau memberitahumu mengenai hal ini. Ia sudah cukup terpukul karena kehilangan dua orang yang disayanginya sekaligus. Karena itu dia sangat protektif padamu, Ahreum,” ujar paman Kim setelah sekian lama diam.

Ahreum memandangi sepasang nisan di hadapannya, Lee Seongmin dan Ara, dua nisan orang tuanya. Ia melakukan penghormatan terakhir yang tak pernah bisa ia lakukan sebelumnya. Walau ia tahu, tidak ada jasad orangtuanya disana, tapi Ahreum yakin kalau penghormatan terakhirnya ini sampai pada orangtuanya.

Setelah selesai melakukan penghormatan terakhir, Ahreum kembali berdiri dan merapikan pakaiannya yang kotor akibat rerumputan yang menempel ketika ia bersujud tadi. Sambil memandang lurus ke monumen (mungkin ini kata yang lebih tepat, karena bagaimanapun juga nisan adalah ungkapan untuk sebuah makam sedangkan yang ada dihadapan Ahreum ini sama sekali bukan makam) yang terbuat dari marmer hitam itu, Ahreum berkata, “bagaimana mereka semasa hidupnya, Ahjussi? Ibuku… Apakah dia baik hati? Apakah dia lucu? Ayahku… Apa ayahku pintar? Apa dia pemarah seperti Harabeoji?”

Paman Kim tertawa pelan mendengar rentetan pertanyaan Ahreum. “Mereka adalah yang terbaik yang ada di dunia ini. Ayahmu tampan dan ibumu cantik, persis seperti yang kamu lihat di foto. Semua orang menyukai mereka. Ibumu sangat baik hati dan pemurah, sampai-sampai membuat ayahmu gemas karena kebaikannya. Mereka sama sepertimu, Ahreum.”

“Tapi semua orang tak menyukaiku. Aku tidak sama seperti mereka,” keluh Ahreum.

“Itu karena perbuatan pembunuh bayaran itu, makanya semua orang jadi tidak menyukai Tuan Lee dan kamu sejak isu sihir itu,” paman Kim mengusap-usap punggung Ahreum, berusaha mengurangi rasa sedih yang menyelimuti Ahreum. “Lagipula siapa yang bilang kalau semua orang tak menyukaimu? Pemuda-pemuda itu tampak sangat menyukaimu, mengagumimu, memujamu, me-,”

“Ahjussi, aku tahu,” potong Ahreum. Ia tersenyum mendengar pujian paman Kim terhadap dua belas pemuda yang kini tinggal di rumahnya. “Sejak mereka datang, aku tak lagi merasa tersisihkan. Mereka juga membuatku mendapatkan teman. Mereka adalah yang terbaik bagiku.”

Keduanya lalu terdiam. Ahreum kembali memikirkan tentang apa yang ia dengar tadi pagi. Mengenai ia harus memilih salah satu diantara dua belas pengawalnya untuk menjadi pendamping dirinya; yang dalam bahasa mudahnya menjadi pasangan Ahreum –suaminya kelak. Ahreum tak tahu harus bersikap seperti apa pada dua belas pemuda itu jika nanti ia bertemu dengan mereka. Pastinya ia tak bisa lagi menganggap mereka seperti keluarga, kakak, adik, teman, sahabat dan sebagainya. Sudah pasti Ahreum harus membuka diri dan hatinya untuk membiarkan mereka masuk untuk menjadikan miliknya. Ahreum benar-benar tak tahu harus berbuat apa.

“Lalu apa yang harus aku lakukan selanjutnya, Ahjussi? Aku harus bagaimana setelah ini?”

Paman Kim membalik badan Ahreum agar menghadapnya. Ia tersenyum pada Ahreum, menunjukkan keriput yang sudah mulai tampak di wajahnya. “Ikuti saja kata hatimu Ahreum. Dengarkan apa yang hatimu ucapkan karena kata hati tak pernah salah. Satu hal yang aku minta padamu. Aku dan Tuan Lee tak pernah mengajarimu untuk melarikan diri. Jadi hadapi apa yang ada di hadapanmu. Jangan ikuti jejak ibumu yang melarikan diri, Ahreum. Melarikan diri tak akan menyelesaikan masalahmu, justru itu hanya akan menambah masalah baru.”

Ahreum tak pernah merasa begitu tenang dan bebas. Memang paman Kim selalu mampu untuk menaikkan kepercayaan dirinya dan membantunya membuat keputusan. Ya, selama ia tak melarikan diri apapun pasti akan berjalan dengan baik bukan? Buktinya kehidupannya belakangan ini makin baik padahal tadinya ia sempat ingin melarikan diri dari semua derita yang yang jalani.

“Aku tidak akan melarikan diri, Ahjussi. Kau bisa mengandalkanku. Ahh bagaimana ini. Kalau nanti aku harus kembali ke tanah asalku, lalu apa yang akan kau lakukan jika merindukanku, Ahjussi?” gurau Ahreum.

“Mungkin menangisimu sambil memandangi fotomu,” sahut paman Kim.

Paman Kim lalu menarik tangan Ahreum dan meletakkan sesuatu di atas telapak tangannya. Sebuah belati yang dibungkus dengan balutan permata nan indah.

“Itu peninggalan ibumu. Kurasa sudah saatnya untuk kuberikan padamu. Mulai sekarang, kau tentukan sendiri jalanmu.”

.

.

.

Sejak Ahreum kembali dari perjalanannya bersama paman Kim, Ahreum memilih diam ketika bertemu dengan dua belas pengawalnya. Hal itu berlangsung selama sekitar hampir seminggu. Ini semua karena Ahreum masih bimbang akan keputusannya. Jadi ia memilih untuk menghindari mereka sebelum mereka bertanya-tanya mengenai pendapatnya. Dan Ahreum juga memilih untuk (kembali) mengurung dirinya di kamar.

Dua belas pengawalnya pun tampak mengerti akan kegundahan Ahreum. Karenanya mereka juga tidak berbicara banyak pada Ahreum. Mereka bicara seperlunya, seperti menyuruh Ahreum untuk makan atau membangunkannya untuk berangkat kerja sambilan.

Ketika akhirnya Ahreum membuat sebuah keputusan yang pastinya akan merubah hidupnya kelak, Ahreum pun keluar dari zona amannya dan menghampir dua belas pengawalnya. Mereka saat ini tengah menonton kartun Doraemon yang tengah tayang di TV; kartun yang tak pernah ada habisnya menurut Ahreum karena sejak Ahreum masih kecil sampai ia sudah sebesar ini kartun Doraemon tetap saja eksis di layar kacanya.

Mastermind dan Knight cukup terkejut melihat Ahreum akhirnya keluar kamar dan ikut duduk bersama mereka untuk menonton kartun. Ahreum tampak begitu fokus menonton diantara Sehun dan Suho. Sesekali ia tertawa melihat tingkah Nobita dan kawan-kawan. Selain itu Ahreum juga ikut berkomentar mengenai kebodohan Nobita. Karena Ahreum kini sudah kembali seperti semula –menurut dua belas pemuda itu– membuat para pengawalnya jadi ikut tertawa bersama Ahreum (walau mereka tidak menyimak lagi apa yang dilakukan Nobita di TV).

Ahreum terus memfokuskan matanya pada TV (sedangkan dua belas pengawalnya memfokuskan penglihatan mereka pada Ahreum) sampai akhirnya kartun tersebut habis dan digantikan acara drama keluarga. Ahreum lalu meraih remote tv untuk mematikan TV-nya. Ahreum memandangi Mastermind dan Knight satu persatu. Dan dua belas pengawalnya tahu betul kalau saat ini Ahreum akan bicara serius pada mereka.

“Jadi…,” Ahreum buka suara. “Kerajaan kalian kacau balau sekarang karena pemerintahan yang tirani??”

Dua belas pengawalnya mengangguk hampir bersamaan. Tak ada yang berani bicara.

“Dan satu-satunya cara menciptakan kedamaian disana adalah dengan mengembalikan kerajaan itu pada yang berhak?”

Lagi-lagi mereka hanya mengangguk.

“Dan orang yang berhak itu adalah aku? Putri dari Ara, cucu dari raja Janus?”

Kembali mereka mengangguk.

“…dan aku baru bisa kembali ke Exoland setelah aku mendapatkan… Mm.. calon raja untukku?” Ahreum mengganti kata jodoh atau apapun itu dengan ‘calon raja’. Ia pikir begitu lebih aman dan lebih tidak terdengar menyeramkan.

Suho tampak membuka mulutnya, tapi ia tak mengucapkan apa-apa sampai akhirnya ia memutuskan untuk ikut mengangguk bersama yang lainnya.

“Dan calon raja ini harus salah satu diantara kalian?”

Kali ini Suho memberanikan diri untuk berbicara. “Karena kami dibesarkan dengan pendidikan seperti itu, Ahreum. Kau bisa mengandalkan kami untuk urusan kerajaan.”

“Lalu kalau aku memilih salah satu diantara kalian, apa nanti yang lain tidak merasa iri dan malah melakukan kudeta terhadapku?”

Luhan yang duduk di sofa yang bersebrangan dengan Ahreum tertawa pelan. “Kau tak perlu khawatir akan hal itu, Ahrem. Kami terlalu menyayangimu hingga kami akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia. Kalau kudeta bisa menyengsarakanmu, maka hal itu tak akan pernah kami lakukan,”

“Tak pernah terlintas sama sekali,” sahut Baekhyun.

“Kalaupun kami mau melakukan kudeta, sudah dari dulu kami lakukan itu pada pemerintahan raja Xenos,” sahut D.O.

Ahreum tampak bergerak tidak tenang dalam duduknya. Ia masih merasa janggal dengan semuanya. “Tapi aku kan tak mengerti tentang memimpin sebuah kerajaan. Harabeoji dulu pernah mengajariku untuk menjadi seorang pemimpin, tapi aku tak yakin bisa menerapkannya pada kerajaan kalian atau tidak. Selain itu-,”

“Ahreum,” sela Lay. “Tak ada yang perlu kau takutkan tentang hal itu. Seperti yang sudah dibilang oleh Suho kalau kami dibesarkan dengan pendidikan kerajaan. Jadi yang perlu kau lakukan adalah memilih raja yang tepat diantara kami dan kau bisa mengandalkan kami untuk urusan yang lainnya. Kami tak akan membiarkanmu sendirian.”

Ahreum menundukkan kepalanya. Ia pikir tak ada jalan untuk menghindari semuanya. Ia harus menerima kenyataan ini. Ia harus menerima takdir ini.

“Baiklah. Jika itu yang terbaik untuk kerajaan kalian, silakan kalian lakukan sesuka hati kalian. Aku mengandalkan kalian semua. Tapi…bisa beri aku waktu. Karena rasanya semua ini terlalu cepat untukku. Uhmm setidaknya setelah aku sedikit dewasa aku akan… Aahh pokoknya beri aku waktu untuk memilih salah satu diantara kalian!”

Suho tersenyum hangat pada Ahreum seraya menggenggam tangannya. “Lakukan apapun yang hatimu katakan, Ahreum. Kami tak akan memaksamu untuk cepat menentukan pilihan. Kau bisa menggunakan waktumu untuk berpikir mana yang terbaik,”

Mendengar ucapan Suho, Ahreum pun merasa tenang. Setidaknya Ahreum kini tahu kalau pengawalnya –yang nantinya akan menjadi calon rajanya– tidak memburu dirinya untuk cepat-cepat menentukan pilihan. Jadi Ahreum memiliki banyak kesempatan untuk menilai mereka lebih jauh.

“Baiklah, kalian juga. Lakukan apapun yang ingin kalian lakukan,” sahut Ahreum yang sudah kembali menundukkan kepalanya karena malu.

Dari sudut matanya Ahreum melihat kalau Kai sudah beranjak dari tempatnya. Kai menghampiri Ahreum.

“Baiklah! Karena kau kini sudah membuka hatimu pada kami, maka aku tak akan main kucing-kucingan lagi. Mulai sekarang aku nyatakan perang terbuka pada kalian. Mari kita jalani sayembara ini dengan adil,” ujar Kai. Ia lalu menundukkan badannya menghadap Ahreum. “Hei cantik. Bagaimana kalau kita kencan hari ini?”

Ahreum langsung mendongakkan kepalanya, terbelalak mendengar ucapan Kai. “K..kencan?? T-tapi Kai, aku bilang kan pelan-pelan. Aku…”

“Hyung, memangnya kencan itu apa?” Sehun tampak bertanya pada Suho.

“Kencan itu adalah,” Kai meraih tangan Ahreum. “..sesuatu yang akan Kai lakukan dengan Ahreum hari ini.”

Kemudian mereka, Kai dan Ahreum menghilang; meninggalkan Sehun dan yang lainnya.

Kai tentu saja merasa bangga; karena ia selangkah lebih maju dari yang lainnya.

.

.

.

.

.

.

.

bee

The sixteenth chapter is out!!!.

ini panjang looohh update-nya…
bee mau ngasih pengumuman buat semua pecinta beautiful life, BEE mungkin GAK AKAN BISA UPDATE BEAUTIFUL LIFE SETIAP MINGGU dikarenakan bee sudah mulai sibuk sekarang.. tapi bee akan usahaain untuk tetap update ff minimal sebulan sekali(dua kali?).. heung,, mudah2an bee ga terlalu sibuk-sibuk banget jadi tetap bisa terus produksi beautiful life setiap minggunya…
sekian pengumuman dari bee… thanks for your attention!! annyeong!!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 16 – Real Fairytale | PG15

15 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 16 – Real Fairytale | PG15

  1. Wah.. di part ini kbanyakan mnceritakan sjarahnya Putri Ara yh eom?^^
    Aduh,uda gk sabar sm kncannya Kai n Ahreum!! ^o^ jangan2..nnt Ahreum milih Kai,soalnya Kai yg paling gencar ngdketin Ahreum..
    Tp ANDWAE!! aku snengnya Ahreum sm Kris… hehe ^^
    Ditunggu next chap nya 😀

  2. DIYANA_FAIQO says:

    Bgus..!!
    Next thor..!! bikin penasaran ni ff…
    kra2 ahreum jdi.x sma spa ?? Kai, Kris, Luhan..aaa??
    Yahh..Update “sebulan sekali ” Sangat lama >_<

    FIGHTING !! 😀
    q tunggu next part.x..

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s