FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 15 – I’m Sorry | PG15


beautiful-life

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter 15 – I’m Sorry

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

other Cast:

Jiyeon T-ara as Park Jiyeon

Minho Shinee as Choi Minho

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life,

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Mean

Chapter 15 | I’m Sorry

.

.

.

I’m sorry

.

.

.

Tempat Minho menunggu Ahreum cukup jauh dari perkemahan. Minho memang bilang kalau jaraknya hanya satu kilometer dari perkemahan tapi setelah berjalan sekian lama Ahreum yakin kalau jarak yang ditempuhnya itu lebih dari satu kilo. Akhirnya Ahreum sampai di perbatasan dan mendapati Minho tengah menunggunya di bawah salah satu pohon pinus.

“Sunbae, apa yang kau lakukan disini?” tegur Ahreum.

Ahreum lalu menghampiri Minho. Ia melihat Minho sudah tersenyum sumringah seraya berlari pada Ahreum.

“Aku datang karena merindukanmu tentu saja,” sahut Minho.

Minho sudah merentangkan tangannya hendak memeluk Ahreum tapi gadis itu segera mengangkat kedua tangannya di depan dada –menolak untuk kontak fisik yang akan dilakukan Minho –dan mundur beberapa langkah menjaga jarak dengan Minho. Pemuda itu bingung melihat sikap Ahreum.

“Sunbae maafkan aku. Tapi sebaiknya kau jangan seperti ini,” ujar Ahreum.

Minho terkejut dengan ucapan Ahreum. Matanya sudah membulat sempurna –bahkan menyaingi mata D.O. “Ada apa Ahreum?”

Ahreum kembali mundur beberapa langkah ketika Minho mendekatinya. Ia tak peduli jika setelah ini Minho akan berubah menjadi musuhnya, yang diinginkan Ahreum saat ini hanyalah kembali berbaikan dengan dua belas pengawalnya.

“Maaf Sunbae, tapi sebaiknya kita tak perlu terlalu sering bertemu. Aku tak ingin menciptakan keributan. Saat ini pasti seisi perkemahan sudah heboh dengan kedatanganmu,” ujar Ahreum.

Sebuah senyum tercipta di bibir Minho. “Memangnya aku tak boleh bertemu dengan pacarku sendiri?”

“Aku bukan pacarmu, Sunbae. Aku tak pernah mengiyakan untuk menjadi kekasihmu,” tolak Ahreum.

Ekspresi Minho saat ini tampak seolah ia baru saja melihat hantu. Minho memandangi Ahreum tak percaya. Ia tak pernah mengira kalau ia akan mendapat penolakan dari Ahreum seperti ini. Padahal tadinya ia datang untuk melukai hati Ahreum, tapi Ahreum lebih dulu men-skakmat langkahnya. Minho kalah cepat.

“T..tapi bukannya kamu menyukaiku Ahreum?” Minho terbata.

“Aku menyukaimu. Tapi bukan berarti aku mau menjadi pacarmu. Lagipula aku tidak menyukaimu seperti yang kau pikirkan. Aku hanya mengagumimu, Sunbae,” ujar Ahreum yang malah membuat suasana hati Minho jadi makin parah.

Minho terdiam menatap sepatunya. Ia kini panik. Kalau Ahreum tak menyukainya itu artinya usahanya selama ini sia-sia dan itu artinya ia gagal untuk menarik perhatian gadis pujaannya yang begitu membenci Ahreum itu.

“Bagaimana ini,” lirih Minho.

“Maafkan aku, Sunb-,”

Ucapan Ahreum terputus oleh seruan seseorang di belakang mereka. Ahreum dan Minho menoleh dan mendapati Jiyeon sudah menyilangkan kedua lengannya dengan arogannya.

“Kamu gagal, Minho Oppa,” seru Jiyeon.

Ahreum yang terkejut melihat kehadiran Jiyeon, memandangi Jiyeon bingung. Ahreum lalu berpaling pada Minho dan melihat Minho yang terlihat merasa bersalah. Jiyeon kini sudah menghampiri Ahreum.

“Minho Oppa, kamu benar-benar sudah membuatku kesal,” ujar Jiyeon dingin. “Hanya menggoda anak jelek ini saja kamu tak bisa?! Dia bahkan tidak mencintaimu dan itu artinya kamu sudah gagal! Aku kecewa padamu.”

Mata Ahreum kini sudah serupa dengan D.O. karena ia terlalu terkejut mendengar bentakkan Jiyeon pada Minho. Ahreum tak tahu kalau Minho mendekatinya karena disuruh Jiyeon. Ahreum terlalu shock sampai ia tak bisa bicara apapun, bahkan untuk menuntut penjelasan dari Minho sekalipun.

“Tapi setidaknya sekarang dia sudah jauh dari dua belas anak baru itu. Itu yang kamu mau kan? Kamu lihat sendiri kan kalau Ahreum sudah tak pernah lagi berdekatan dengan mereka?” Minho mencoba membela diri.

Dan Ahreum kini makin shock mendengar ucapan Minho. Kini Minho yang dulu selalu tampak lembut pada Ahreum sudah tidak ada, digantikan oleh Minho yang akan bertekuk lutut pada setiap ucapan Jiyeon.

“S..sunbae…,”

“Kau terkejut Ahreum?” cibir Jiyeon. “Ohh, apa kamu pikir Minho Oppa sungguhan menyukaimu? Hah! Tidak sama sekali. Dia itu hanya mencintaiku. Ini hanya tipu daya agar aku bisa membalas atas apa yang sudah kau lakukan di pestaku.”

Ahreum sudah gemetaran sekarang. Walau dihadapannya kini hanya ada Jiyeon seorang, tapi Ahreum tetap merasa takut, bahkan lebih takut ketimbang dulu ketika dikeroyok oleh Eunjung dkk. Apalagi kini Ahreum tak memiliki perlindungan apapun -pengawalnya sudah jauh darinya.

“Ikat dia Oppa!” titah Jiyeon.

Ragu-ragu Minho mendekati Ahreum dan mengunci kedua tangan Ahreum di punggungnya. Ahreum tentu saja berontak. Ahreum nyaris berhasil melepaskan diri dari Minho, tapi Minho kembali dengan mudahnya menahan Ahreum lagi.

“Lepaskan aku, Sunbae,” desis Ahreum. “Kenapa denganmu, Jiyeon?! Apa kau sadar, semakin sering kau menggangguku maka akan semakin sering kesialan menimpamu! Kenapa kau tak mengerti juga.”

Ahreum mencoba untuk bermain pikiran dengan Jiyeon. Mungkin Jiyeon akan melepasnya jika Ahreum memancingnya seperti itu. Apalagi sampai detik ini Jiyeon masih percaya kalau Ahreum bisa melakukan sihir.

“Justru karena aku sangat mengerti, Ahreum, makanya aku melakukan ini. Kau tidak akan bisa menggunakan sihirmu jika tanganmu terikat seperti itu kan,” cibir Jiyeon.

Ahreum memutar bola matanya jengah. Ia tak tahu harus merasa geli atau miris akan kebodohan Jiyeon. Sementara Minho tampak menahan napasnya begitu mendengar ucapan Jiyeon.

“A.. Ahreum, kamu bisa sihir??” kaget Minho.

..Dan satu lagi orang bodoh disini, batin Ahreum. “Kalau aku bilang ya apa kau akan melepasku?”

Jiyeon datang menyela. “Hei Ahreum, mari kita buat sebuah isu baru tentangmu.”

Jiyeon kini sudah berdiri di hadapan Ahreum dan menunjukkan seringainya pada Ahreum. Kemudian ia menarik kerah kaos Ahreum dan merobeknya. Berkat Jiyeon kini Ahreum sudah tampak setengah telanjang karena Ahreum hanya memakai bra saja di balik kaosnya. Minho yang kaget memilih untuk melihat kesekelilingnya, apapun juga selain Ahreum.

“Kita buat isu baru kalau kau mencoba menjebak Minho Oppa dengan berpura-pura menjadi korban pemerkosaan, padahal Oppa tak melakukan apapun,” ujar Jiyeon puas sambil menarik rambut Ahreum.

Ahreum meringis akibat jambakan Jiyeon itu. Ahreum pun menendang tulang kering Jiyeon hingga membuat gadis itu berteriak kesakitan.

“Kau benar-benar mencari masalah denganku, Ahreum!!!” Jiyeon lalu menampar Ahreum dengan begitu kerasnya.

Minho sampai takjub dengan sikap dua gadis itu. Tapi ia lebih takjub lagi melihat Jiyeon. Minho baru ini melihat sisi tergelap Jiyeon itu. Minho pun mendorong badan Ahreum dan menghimpitnya di pohon, dengan begitu Ahreum tidak bisa menendang sembarangan lagi seperti tadi.

Ketika Minho sibuk dengan Ahreum, ia mendengar suara sesuatu yang terjatuh di belakangnya. Saat Minho berbalik ia mendapati Jiyeon sudah tersungkur di tanah.

“Kau. Park. Jiyeon. Benar-benar. Tak. Bisa. Dimaafkan!!” geram seorang pemuda yang sudah mengurung badan Jiyeon dengan kedua kakinya. Pemuda itu juga menarik kerah baju Jiyeon hingga membuat gadis itu sulit bernapas karena tercekik.

Minho pun langsung menghempaskan Ahreum begitu saja dan memilih untuk menolong Jiyeon. Minho mendorong pemuda asing itu, tapi pemuda itu tak bergerak sama sekali.

“Ch.. Chen,” rintih Ahreum.

Yang dipanggil pun melepaskan pandangannya dari Jiyeon dan berpaling melihat Ahreum yang sudah tersungkur di tanah. Ia langsung meninggalkan Jiyeon dan membantu Ahreum untuk bangun. Kagetlah ia melihat kondisi Ahreum yang nyaris telanjang. Chen dengan segera melepas jaketnya dan membungkus badan Ahreum. Ia kemudian memandang Jiyeon dengan murkanya.

“Mati. Kau. Park. Jiyeon,” geram Chen.

Petir kini bersahutan di sekitar mereka. Dan Ahreum tahu betul kalau Chen sedang marah besar saat ini. Ahreum langsung menarik lengan Chen untuk menahannya.

Tak lama, dalam sekejap mata sebelas pemuda yang lain kini sudah berkumpul di sekitar Jiyeon. Mereka tampak sangat tidak bersahabat saat ini, apalagi setelah melihat seperti apa kondisi Ahreum saat ini. Kai langsung menghempaskan Minho dari Jiyeon. Sementara Chanyeol menarik Jiyeon untuk memaksanya berdiri.

“Kau dalam masalah besar, Park Jiyeon,” geram Suho.

Chen membantu Ahreum untuk berdiri. Ia merapikan rambut Ahreum yang berantakan. Dan Chen pun melihat pipi Ahreum yang merah; bekas tamparan Jiyeon. Chen pun makin emosi melihatnya hingga petir-petir besar kembali menyambar.

“Aku akan membunuhmu, wanita!!” geram Chen.

“Jangan, Chen,” sela Ahreum.

Chen menatap Ahreum untuk menyatakan protesnya. Tapi Ahreum tetaplah Ahreum, dia tetap akan mengampuni Jiyeon walau apapun yang sudah dilakukan Jiyeon padanya.

“Tinggalkan saja mereka,” ujar Ahreum.

Chanyeol dan Kai masih tak melepaskan Jiyeon dan Minho. Bahkan Chanyeol kini tampak sudah ‘berapi-api’ melihat Jiyeon. Semuanya tahu, kalau Chanyeol pasti akan memusnahkan Jiyeon tanpa mempedulikan ucapan Ahreum. Knight dan Mastermind tentu harus mencegahnya agar jangan sampai Chanyeol membunuh seseorang disini. Karena hal itu bisa membuat trauma besar bagi Minho; dan Ahreum.

“Chanyeol, kau bawa Ahreum ke perkemahan,” titah Kris. Menjauhkan Chanyeol dari Jiyeon dan Minho adalah pilihan baik. Setidaknya dengan begitu Chanyeol tidak akan mengejar mereka hanya untuk melampiaskan emosinya.

“Kau bukan pemimpinku. Kau tak berhak memerintahku. Akan kubunuh perempuan ini karena dia sudah menyakiti Ahreum lagi,” geram Chanyeol.

Jiyeon merinding dibuatnya. Sedangkan Minho tampak shock mendengar ucapan Chanyeol. Meskipun ia sadar ia sudah membuat kesalahan tapi Minho tak bisa mengucapkan kata maaf saat ini, karena lidahnya sudah kelu akibat terlalu takut pada dua belas pemuda yang mengerubunginya ini.

“Chanyeol, tinggalkan dia dan pergi bawa Ahreum kembali ke perkemahan,” perintah Suho.

Awalnya Chanyeol tetap tak bergeming dan masih memegangi Jiyeon erat. Tapi akhirnya ia menyerah juga. Setelah berteriak melampiaskan kekesalannya, Chanyeol melepaskan Jiyeon dan menghampiri Ahreum.

Petir masih bersahutan di langit, ditambah kini suhu udara di sekitar mereka menurun drastis; bahkan pepohonan sampai diselimuti lapisan es; serta angin berhembus kencang membuat pepohonan bergerak riuh. Itu semua disebabkan oleh emosi para pengawal Ahreum yang sudah memuncak. Xiumin bahkan tidak berniat untuk mengurangi kekuatannya walaupun ia tahu Ahreum memakai baju yang tipis saat ini, karena menurutnya Ahreum akan baik-baik saja sebab Chanyeol bersamanya.

Jiyeon dan Minho sudah sama-sama ketakutan akan kejadian alam disekitar mereka. Mereka tentu berpikir kalau itu semua karena kekuatan Ahreum.

“Aku bilang tinggalkan saja mereka. Jangan kalian kotori tangan kalian untuk mereka karena mereka juga pasti sudah sangat sadar kalau mereka sudah melakukan kesalahan besar saat ini. Kalau mereka pintar mereka pasti akan berhenti menggangguku lagi,” ujar Ahreum.

Ahreum lalu beranjak ke belakang Chanyeol dan menepuk pundaknya sebagai isyarat agar ia menundukkan badannya. Setelah Chanyeol agak berlutut, Ahreum pun naik ke punggung Chanyeol, dibantu oleh Sehun dan Lay.

“Kau, Park Jiyeon. Aku tak tahu apa yang membuatmu begitu membenciku. Tapi apapun itu aku minta maaf. Kuharap mulai detik ini kita berjalan di jalur masing-masing dan jangan pernah lagi untuk mencoba melewati batas. Dan kau, Sunbae. Walau aku sadar sepenuhnya kalau semua sikapmu itu hanya ilusi tapi aku mau berterima kasih karena kau sudah memberikan kenangan yang cukup tak terlupakan. Kuharap kau tak lagi menunjukkan wajahmu di hadapanku,” ujar Ahreum pada Jiyeon dan Minho. Kemudian ia menitahkan Chanyeol untuk kembali ke tenda.

Chanyeol pun pergi meninggalkan tempat kejadian perkara dengan Ahreum di punggungnya. Lay, Sehun, Tao, Chen dan Suho ikut bersama Ahreum, sesuai instruksi Kris. Sementara Kris dan yang lain tetap disana.

“Dengarkan aku, Park Jiyeon. Kuharap kau sudah sadar betul untuk berhenti mengganggu Ahreum. Kalau kedepannya kau masih saja mencari masalah dengan Ahreum, maka aku tidak akan melarang Chanyeol atau Chen untuk memusnahkanmu,” tegas Kris.

Kris lalu memberi isyarat pada Luhan.

“Baiklah, sekarang mari kita lupakan apa yang sudah terjadi disini,” ujar Luhan. Ia mengangkat kedua tangannya di udara hendak meraih kepala Jiyeon untuk membuatnya melupakan pikirannya.

“Tidak, sebelum aku membalas anak ini,” sela Kai yang masih mengunci tangan Minho. Kai menunjukkan seringainya pada Minho. “Tenang saja. Aku tidak akan membunuhmu, Sunbaenim. Tapi kalau kau masih mencoba untuk menunjukkan batang hidungmu di depan Ahreum lagi, maka aku tidak segan-segan untuk melenyapkanmu.”

Kai lalu menendang Minho hingga ia jatuh tersungkur. Kemudian Kai kembali menarik kerah baju Minho untuk membuatnya berdiri setelah itu Kai kembali meninjunya hingga Minho terjerembab di tanah.

“Kuberitahu satu hal padamu, Sunbae. Aku memang bukan ayah Ahreum. Tapi aku adalah takdirnya,” ujar Kai.

Baekhyun yang sedari tadi memegangi Jiyeon, memandangi gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya takjub melihat Jiyeon.

“Kau tahu, Park Jiyeon, kau itu cukup cantik. Tapi sayangnya hatimu tak secantik wajahmu,” ujar Baekhyun.

Sebuah pemikiran terlintas di benak Luhan hingga membuat seringai kecil menghiasi wajahnya. “Hei aku punya ide bagus untuk mereka.”

Luhan memberi isyarat pada Kai dan D.O. untuk membawa Minho mendekat padanya. Mereka lalu membawa Minho ke hadapan Luhan dan memaksanya untuk berlutut di samping Jiyeon. Minho tampak meraih tangan Jiyeon untuk menggenggamnya, tapi Jiyeon menepis tangan Minho.

“Hei, apa kalian sadar kalau kalian terlihat cocok bersama?” tegur Luhan. Kemudian Luhan memegang kepala Minho dan Jiyeon. “Hai Park Jiyeon dan Choi Minho, bagaimana kalau kita tidur sekarang.”

Beberapa detik kemudian Jiyeon dan Minho terlelap. Luhan lalu mengatakan pada rekan-rekannya mengenai rencana di otaknya. Ya, daripada menyakiti fisik mereka bukankah akan lebih baik jika menyakiti mental mereka. Karena Luhan merasa itu akan lebih setimpal atas apa yang pernah mereka lakukan pada Ahreum.

.

.

Sepanjang perjalanan menuju perkemahan, keheningan terjadi antara Ahreum dan para pengawalnya. Ahreum tak tahu harus berbicara apa pada mereka dan ia juga tak tahu harus memulai darimana. Sampai akhirnya hanya satu kata itu yang terlintas dipikirannya.

“Maaf,”

Chanyeol berhenti melangkah untuk menangkap ucapan Ahreum yang bahkan nyaris tak terdengar itu.

“Kau tak perlu minta maaf Ahreum. Kita semua tahu kalau Jiyeon memang licik,” ujar Suho lembut.

“Bukan itu. Aku minta maaf karena sudah mengacuhkan kalian selama seminggu ini. Aku… Aku benar-benar jahat pada kalian. Aku sungguh…,”

Chanyeol akhirnya menurunkan Ahreum dari punggungnya dan berbalik menghadap Ahreum. Chanyeol kini memegangi pundak Ahreum untuk meyakinkannya kalau semua baik-baik saja.

“Aku yang harusnya minta maaf, Ahreum. Aku sudah termakan emosi. Harusnya aku tak semudah itu menyerah. Aku harusnya mempercayaimu dan tidak mempercayai penglihatanku. Aku malah membuat semuanya jadi kacau balau,” ujar Chanyeol. Kali ini Chanyeol tampak sangat dewasa, sorot kekanak-kanakkan menghilang dari matanya. Yang ada di hadapan Ahreum kini adalah Chanyeol yang tampak berwibawa.

Ahreum tak bisa menahannya lagi. Ia akhirnya menangis. Ia tak menyangka kalau pengawalnya memaafkannya semudah ini. Jika saja ia tak terlalu gengsi untuk meminta maaf sejak kemarin, mungkin tidak akan sampai terjadi kejadian seperti tadi.

“Ohh, Ahreum jangan menangis.” Chanyeol langsung memeluk Ahreum.

Sehun dan Tao juga langsung ikutan memeluk Ahreum, disusul dengan yang lainnya yang akhirnya membuat group-hug ala teletubies.

“Kalian..terlalu baik,” gumam Ahreum.

“Kami tidak sebaik dirimu, Ahreum,” ujar Lay.

“Maafkan aku.”

“Maafkan kami juga, Ahreum.”

.

.

.

Seisi perkemahan memandangi Ahreum aneh. Karena mereka tahu kalau Ahreum pergi untuk menemui Minho tapi mereka bingung melihat Ahreum yang sudah kembali ke tenda bersama Suho dkk. Apalagi melihat Ahreum berada dalam gendongan Chanyeol, membuat semua murid mulai bergunjing.

“Abaikan saja mereka,” gumam Suho dengan suara serendah mungkin.

Meskipun ingin menyumpal mulut murid-murid itu satu persatu tapi akhirnya mereka membiarkan saja semua tatapan menuduh yang ditujukan pada mereka. Semua gunjingan itu berhenti karena guru pengawas menitahkan mereka untuk kumpul. Kehebohan baru pun datang karena ada satu murid yang hilang, Park Jiyeon.

“Baiklah, kita berpencar mencari dimana Jiyeon. Siapa yang terakhir kali melihatnya??” tanya guru pengawas.

“Tadi dia pergi ke perbatasan,” sahut Sehun.

“Iya, ke arah parkir mobil. Mungkin dia mau pulang,” Tao menimpali.

Akhirnya guru pengawas menyuruh beberapa kelompok murid untuk mencari Jiyeon di tempat yang dikatakan Sehun dan Tao.

Ahreum sempat khawatir akan keadaan Jiyeon saat ini. Ia takut Kai atau D.O. akan memukuli Jiyeon habis-habisan, seperti apa yang pernah mereka lakukan pada orang-orang suruhan Eunjung dulu. Ahreum takut Jiyeon akan bernasib sama seperti Eunjung -mungkin Luhan akan mendorong Jiyeon dari tebing lalu bilang kalau Jiyeon terpeleset dan ia tak bisa menolongnya, pikir Ahreum.

“Tenang saja Ahreum. Aku tak melakukan apa-apa pada iblis wanita itu,” sela Luhan yang baru tiba di perkemahan.

Ahreum mencibir menyahuti Luhan. Lalu ia memperhatikan sekujur tubuh Luhan dan yang lainnya, mencari setitik darah yang mungkin menempel disana, tapi nihil. Ahreum pun menghela napas lega.

“Bukankah Dduizhang sudah bilang padamu untuk jangan terlalu baik pada mereka yang sudah jahat padamu, Ahreum,” sela Chen.

“Kalau aku tidak terlalu baik maka aku tidak akan mau berdekatan lagi dengan kalian,” sahut Ahreum acuh.

Sehun dan Tao langsung menarik kedua tangan Ahreum sebagai bentuk protes mereka. Ahreum tertawa melihat tingkah manja kedua maknae itu. Ahreum sangat merindukan tingkah mereka. Sedangkan Kai kini sudah berdiri di hadapan Ahreum dan membungkukkan badannya untuk menyejajarkan wajahnya dengan Ahreum.

“Waahh! Kekasihku sudah kembali seperti semula! Akhirnya!!” seru Kai sumringah.

Kai sudah menarik Ahreum dalam pelukannya. Ia melampiaskan kerinduan yang sudah ia lalui selama seminggu ini, memeluk Ahreum erat. Tidak bisa menggoda Ahreum selama seminggu benar-benar membuat Kai nyaris gila.

Baekhyun langsung melepaskan Kai dari Ahreum untuk mendapatkan gilirannya memeluk Ahreum, tapi D.O. sudah lebih dulu menyela.

“Aku merindukanmu, Ahreum,” ujar D.O. ketika memeluk Ahreum.

“Omo, D.O.-ssi, kau memanggil namaku. Hahaha baiklah mulai sekarang aku tidak akan memanggilmu dengan -ssi lagi,” puji Ahreum.

Setelah D.O., giliran Baekhyun yang memeluk Ahreum, lalu Luhan dan berikutnya Xiumin. Si pengendali dingin itu nyaris menangis ketika memeluk Ahreum karena mengingat derita yang harus ia alami selama seminggu.

“Jangan marah lagi kumohon. Aku tak bisa lagi memakan makanan buatan Lay dan Suho. Kumohon padamu Ahreum jangan biarkan mereka yang memasak kalau kau sedang marah,” isak Xiumin.

Semuanya tertawa melihat rengekan Xiumin itu. Ahreum merasa keluarganya sudah kembali padanya. Inilah yang ia rindukan selama ini, canda tawa yang terjadi diantara mereka. Bahkan jika seluruh sekolah memandangnya aneh, Ahreum tidak akan merasa dikucilkan karena ia masih memiliki dua belas pengawalnya itu.

Luhan langsung melepas Xiumin yang masih betah memeluk Ahreum. Tentu saja karena masih ada satu orang yang belum mengungkapkan perasaan bersyukurnya atas kembalinya Ahreum pada mereka. Luhan lalu mendorong Ahreum pada Kris yang berada di belakang barisan.

“Kurasa ada yang mau kalian bicarakan,”

Kris sudah memelototi Luhan karena tingkahnya itu. Luhan tentu saja tidak peduli dengan keseraman yang ditunjukkan Kris saat ini. Baginya Kris dan Ahreum itu sama saja, sama-sama memiliki gengsi yang besar. Jadi harus ada yang menengahi mereka.

“Uhh, kau tidak mau ikutan memelukku??” tanya Ahreum ragu.

Kris masih tak bergerak di tempatnya. Ia lebih memilih untuk memandangi wajah Ahreum dari jarak dekat seperti ini; karena saat Ahreum marah pada mereka, Kris hanya bisa memandangi punggung Ahreum saja. Ketika ia akhirnya mau memeluk Ahreum, gadis itu malah mengulurkan tangan kanannya dan menjabat tangan Kris.

“Selamat datang kembali, Tuan Moody. Aku sudah tobat sekarang. Aku tidak akan mengacaukan semuanya. Kurasa lebih baik memiliki kalian sebagai takdir dan jodohku daripada melihat pemuda lain yang tak jelas seperti apa hatinya,” ujar Ahreum dengan nada bercanda.

Hati Kris langsung mencelos karena ucapan Ahreum tersebut. Ahreum menganggap takdir dan jodoh itu sebagai bahan bercandaan. Sementara bagi mereka, para pasukan pelindung khusus, itu adalah hal yang sangat sakral. Tapi Ahreum tak menyadari shock yang terpancar dari wajah Kris. Ahreum kini sudah menghampiri Luhan dan Baekhyun. Ahreum mengalungkan kedua lengannya di leher Luhan dan Baekhyun.

“Jadi, apa yang tadi kalian lakukan pada Jiyeon dan Minho Sunbae,” tanya Ahreum setengah berbisik, karena saat ini di perkemahan masih ada beberapa kelompok murid yang sedang menyiapkan makan malam serta api unggun.

Luhan dan Baekhyun saling pandang. Mereka kemudian bertukar senyum rahasia, membuat Ahreum jadi makin penasaran akan apa yang terjadi.

“Yah! Yah! Yah! Ada berita heboh!!!” seru seorang murid yang baru kembali dari mencari Jiyeon.

Semua yang ada di perkemahan tentu saja langsung menghentikan aktivitas mereka dan memilih untuk mendengarkan berita yang dibawakan siswi tersebut, termasuk Ahreum.

“Jiyeon sudah ditemukan. Dan apa kalian tahu kita menemukannya dimana,” seru si siswi antusias. “Jiyeon sedang tidur di semak-semak bersama dengan Minho Sunbae!!!!”

Semuanya menahan napas saking terkejutnya, termasuk Ahreum. Beberapa murid langsung menoleh ke arah Ahreum untuk mencari tahu seperti apa ekspresinya. Begitu melihat kalau Ahreum memiliki kekagetan yang sama dengan mereka, akhirnya mereka memilih untuk melanjutkan gosip mereka.

“Woahh, sepertinya benar dugaanku. Minho Oppa hanya menggunakan Ahreum untuk membuat Jiyeon cemburu.”

“Dan Jiyeon kini masuk dalam perangkap Minho Oppa. Woahh!!”

Ahreum langsung memicingkan matanya pada Kai. Ahreum menduga kalau Kai lah yang memiliki rencana mengerikan seperti itu.

“Jangan pandangi aku seperti itu, sayang. Aku tak ada sangkut pautnya akan hal ini. Ini semua adalah ide si baby face itu,” Kai menuding Luhan.

Ahreum terkejut memandangi Luhan. Ia tak percaya kalau Luhan memiliki ide segila itu untuk membalas kelakuan Jiyeon.

“Aku tetap polos tak berdosa layaknya bayi kan, Ahreum??” gurau Luhan.

.

.

.

Inilah saat yang paling ditunggu-tunggu semua murid yang mengikuti perkemahan, pesta api unggun. Di tengah-tengah perkemahan terdapat tumpukan kayu yang besar untuk api unggun. Di sekitar api unggun sudah ada balok-balok kayu untuk para murid duduk.

Ahreum dan yang lainnya sudah mengambil posisi di salah satu balok kayu. Kai sudah lebih dulu menguasai tempat di sebelah Ahreum. Dan di sisi lain Ahreum ada Chanyeol yang tampaknya tak mau jauh dari Ahreum. Sementara yang lainnya berpencar di belakang Ahreum.

Pemimpin acara kini sedang bercuap-cuap mengenai ‘mempererat tali persaudaraan’ serta menyuruh beberapa siswa untuk maju ke dekat api unggun untuk mengungkapkan isi hati mereka. Ada yang mengutarakan keinginannya untuk bisa masuk ke Universitas Seoul, ada juga yang mendadak mengungkapkan perasaan terpendamnya pada salah satu senior, serta ada juga yang membuat pengakuan dosa kalau ia pernah dengan sengaja membuat macet saluran pembuangan sekolah. Ahreum sebenarnya juga ingin maju dan mengungkapkan isi hatinya, tapi ia terlalu malu.

“Kau bilang acara ini adalah untuk mendapat teman. Apa kau tak mau mencoba mencari satu teman?” tegur Kai.

Ahreum menggelengkan kepalanya. “Naaah, kalian saja sudah cukup. Lagipula sepertinya tak ada yang mau berteman denganku. Apalagi dengan semua gosip yang beredar tentangku,” tolak Ahreum.

Chanyeol pun mendekatkan kepalanya pada Ahreum dan berbisik, “siapa bilang tak ada. Teman sekelasku ada yang bertanya tentangmu. Itu tuh, perempuan diujung sana,” seraya menunjuk ke arah beberapa anak perempuan yang ada di seberang api unggun.

Ahreum mengikuti arah pandang Chanyeol. Matanya bertemu dengan mata anak perempuan yang ditunjuk Chanyeol. Ahreum pun tersenyum pada perempuan itu. Kai yang menyaksikannya tentu saja tidak bisa tinggal diam.

“Baiklah, kita akan maju untuk mengungkapkan isi hati kita,” ujar Kai seraya menarik Ahreum maju ke dekat panitia acara.

Ahreum panik, tapi ia tak bisa melepaskan diri dari Kai -pegangannya terlalu kuat. Kai kini sudah mengatakan pada panitia acara kalau ia juga ingin mengungkapkan sesuatu pada teman sekolahnya. Kemudian Kai membawa Ahreum ke tengah lingkaran, dan dipandangi oleh puluhan atau mungkin nyaris ratusan murid yang mengelilingi api unggun ini.

“Selamat malam semuanya. Aku Kai. Baru menjadi murid di akademi ini sekitar lima bulan yang lalu. Salam kenal semuanya,” ujar Kai dengan suara yang lantang.

Chanyeol, D.O., dan Xiumin berteriak kegirangan di depan mereka. Ahreum sendiri sudah bersembunyi di belakang Kai. Menyadari Ahreum tidak ada di sampingnya, Kai langsung menarik tangan Ahreum -yang sedari tadi masih terjalin dengan miliknya- hingga membuat gadis itu berdiri di sampingnya.

“…dan aku ingin memperkenalkan gadis di sampingku ini, Lee Ahreum. Dia adalah…,”

“Jangan pernah berani menyebut tentang takdir disini, Kai,” desis Ahreum dengan suara serendah mungkin.

Seringai khasnya muncul di wajah Kai. “…orang yang sangat berharga bagiku. Dan aku ingin menyampaikan pada kalian semua kalau apa yang selama ini kalian tudingkan terhadap Ahreum itu adalah salah. Ahreum bukan cucu penyihir dan dia juga bukan seorang penyihir. Aku kenal dengan kakeknya. Dia adalah orang yang sangat baik semasa hidupnya. Jadi aku minta pada kalian semua, mulai detik ini untuk berhenti mengejek Ahreum tentang hal-hal berbau penyihir ini.”

“Kai…,” ujar Ahreum penuh haru.

Kai yang selama ini selalu menggodanya, Kai yang selama ini selalu senang membuatnya kesal, Kai yang selalu mencuri-curi kesempatan untuk mencium Ahreum, kini tampak sangat dewasa. Bagaikan seorang kakak yang bisa diandalkan, Kai benar-benar membuat Ahreum tak bisa berkata apa-apa lagi. Seluruh murid kembali berkasak-kusuk mengenai ucapan Kai.

“Dan kalau aku masih mendengar gunjingan-gunjingan itu, maka kalian akan berhadapan denganku. Kurasa kalian tahu apa yang pernah terjadi pada hidung Park Jiyeon?” Ancam Kai.

Akhirnya semuanya diam. Panitia acara sampai memotong sesi Kai karena ancaman Kai tersebut. Tak lama beberapa anak ada yang mengacungkan tangannya dan mengatakan kalau mereka mau menjadi teman Ahreum, salah satunya adalah anak yang ditunjuk Chanyeol tadi. Ahreum tentu saja senang bukan main. Dan setelah sesi Kai selesai, panitia acara pun melanjutkan acaranya dengan makan malam.

“Kai terima kasih,” ujar Ahreum tulus. Ahreum kini sudah memegang kedua tangan Kai.

Senyum polos menghiasi wajah Kai. “Tapi aku melakukan itu tidak cuma-cuma, Ahreum,” ujarnya.

Kai lalu memejamkan matanya seraya menunjuk bibirnya. Ahreum mengerti akan ‘hadiah’ yang diminta Kai itu. Akhirnya Ahreum menangkup wajah Kai dan menariknya agar sejajar dengan wajahnya.

Kamsahamnida,” bisik Ahreum seraya mengecup pipi Kai.

“Yah!!! Kai!! Kau curang!! Ugghhhhh, Ahreum, aku juga mau,” protes Chanyeol, yang disusul oleh protes-protes yang lain yang berasal dari Tao, Xiumin, Sehun, D.O.

Ahreum hanya bisa tertawa melihat protes mereka. Tentu saja ia tak bisa mengabulkan keinginan mereka -tidak dihadapan para murid ini. Semua ini sesuai dengan apa yang ia bayangkan mengenai campfire; mempererat hubungan yang sudah ada, menambah teman, dan menjadi lebih dekat dengan semuanya.

.

.

.

.

bee

The fifteenth chapter is out!!!.

maaf kalo feelnya kurang ngena disini.. bee lagi sibuk sama double birthday hunhan dan Ahreum nihh (Hun 12 apr, Han 20 apr, dan areum 19 apr).. kkk

mari kita nyanyi lagi…

생일축하함니다
생일축하함니다
사랑하는루한이 와 아름이♥
생일축하함니다

祝你生日快乐 鹿晗

Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday dear Luhan and Ahreum
Happy birtday to you

Double birthday!!! my baby deer’s birthday.. happy birthday baby deer.. kamu makin tua sekarang tapi kenapa muka kamu ga tua-tua yaa?? wish you always keep that baby faced and always be happy ‘wild’ deer… love you dear my deer!!! 祝你生日快乐~

and for Ahreum, semoga kamu tetep cantik dan bertalenta.. ga peduli apa yang orang bilang ttg kamu, tetap semangat buat tunjukin kalo kamu bisa bawa T-ara melewati masa keterpurukannya.. Happy birthday!!

thanks for your attention!! annyeong!!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 15 – I’m Sorry | PG15

13 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 15 – I’m Sorry | PG15

  1. Wow! Daebak!! Udah pass banget kaireum moment,krisreum moment,hanreum moment… aaa daebak!! Berharap makin banyak ff areum sama exonya terutama kaireum moment T.T kai sexy hitam dance machine rapper, areum putih bahkan lebih putih dari dasom (hyorin mengatakan) multitalent cantik.. dan umurny gk beda jauh ma kai^^ haha wlopun kai lebih tua 4 bulan dari areum (?) Cukkae thour,sukaaa banget sama areum exo^^ gomawoo. Berharap happy ending.. perbanyakin ceritanya ya thour^^ terutama kaireum moment hahah

  2. DIYANA_FAIQO says:

    Annyeong!! aku reader bru…
    nyasar k.blog ini & nemu ff EXO…
    Mianhae thor, bru komen d.part ini…
    #komen.x aq borong »»
    Aq suka crita.x…!! kira2 ahreum jdi.x sma spa ? Kris, Kai, Chanyeol …aish penasaran o^_^o

    Lanjut thor..:)

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s