FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 14 – Confession | PG15


beautiful-life

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter 14 – Confession

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

other Cast:

Jiyeon T-ara as Park Jiyeon

Minho Shinee as Choi Minho

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life,

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Mean

Chapter 14 | Confession

.

.

.

Confessions

.

.

.

Namsan Tower minggu ini sudah dipadati oleh orang-orang, ada yang datang karena berwisata atau sekedar cuci mata atau yang datang hanya untuk bertemu dengan seniornya, seperti yang dilakukan Ahreum sekarang. Ahreum sampai bingung bagaimana caranya agar ia bisa sampai di tangga Namsan untuk bertemu dengan Minho. Untungnya di daerah dekat tangga tak terlalu ramai jadi Ahreum bisa dengan mudahnya sampai disana. Minho pun menyambut Ahreum sumringah begitu dilihatnya Ahreum datang menghampirinya dengan sedikit tergesa-gesa.

“Kamu datang juga, Ahreum. Kukira kamu tidak jadi datang,” tegur Minho.

“Habisnya Sunbae tidak mendengarkanku ketika di kantin kemarin. Jadinya aku terpaksa kesini untuk bilang kalau aku tidak bisa pergi denganmu,” sahut Ahreum.

“Apa??” Hati Minho mencelos. Gadis ini jauh-jauh datang hanya untuk bilang kalau ia tak bisa jalan dengannya?

Ahreum berusaha keras menahan senyumnya. “Ahahahah, Sunbae, coba lihat wajahmu saat ini seperti apa. Ahahahaha aku hanya bercanda,” gelak Ahreum. Kemudian ia segera menahan tawanya dan memperbaiki posisinya.

Minho pun jadi ikut tertawa dibuatnya. “Aah kau menggodaku rupanya.”

Setelah bercengkerama sebentar untuk mengurangi lelah Ahreum karena perjalanannya, Minho kemudian membawa Ahreum pergi ke toko buku; karena memang itu tujuan mereka jalan bersama hari ini. Disana mereka mencari, membaca dan membeli beberapa buku. Sehabis dari toko buku Minho membawa Ahreum untuk makan siang di restoran favoritnya. Kemudian Minho mengajak Ahreum untuk main di tepian sungai Han.

Hari ini Minho membawa Ahreum ke banyak tempat. Tapi di sepanjang perjalanan Ahreum sibuk memikirkan dua belas pemuda di rumahnya. Ahreum pikir sejak ia membawa dua belas pengawalnya itu belanja di hari pertama mereka datang, Ahreum tak pernah membawa mereka lagi untuk pergi ke tempat lain. Biasanya selama weekend Ahreum hanya menghabiskan waktu di rumah atau di tempat kerja. Ahreum pun terpikir untuk membawa Kris dan kawan-kawan untuk pergi liburan. Mereka pasti akan senang dan tidak marah lagi, pikir Ahreum. Hanya memikirkannya saja Ahreum langsung mengulas senyum di wajahnya.

“Ada apa? Apa yang membuatmu tersenyum begitu?” tegur Minho.

“Hm?? Ahh, aku hanya memikirkan betapa banyak tempat indah di kota Seoul ini. Kamsahamnida, Sunbae. Kau sudah mengajakku ke berbagai tempat yang menakjubkan,” ujar Ahreum tulus.

Sebuah senyuman terulas di wajah Minho begitu mendengar ucapan Ahreum itu. “Aku hanya membawamu ke tempat-tempat yang membosankan, Ahreum. Apanya yang menarik dari semua tempat itu.”

Ahreum menggelengkan kepalanya. “Semuanya menarik Sunbae. Kalau bukan karena Sunbae, aku pasti tak akan pernah menginjakkan kakiku di Namsan, ke pusat toko buku yang besar itu, lalu kesini ke sungai Han. Ini adalah pengalaman berharga.”

Minho mengamati Ahreum sejenak. Sepanjang ia mengenal Ahreum, Minho tak pernah menemukan kejelekan Ahreum. Minho sendiri tak begitu paham kenapa gadis-berambut-merah-kecoklatan pujaannya itu begitu sangat tak menyukai Ahreum. Padahal di mata Minho Ahreum tampak polos dan tak berdosa. Ia jadi sedikit agak merasa bersalah pada Ahreum.

“Memangnya pacarmu tak pernah mengajakmu jalan? Ah iya apa pacarmu tak marah kalau hari ini kamu pergi denganku,” pancing Minho.

“Pacar?? Aku tak punya, Sunbae,” sahut Ahreum.

“Tak punya?? Bukannya kamu pacaran dengan anak baru itu?? Yang kemarin melarangmu pergi itu bukan pacarmu,” Minho kembali memancing Ahreum.

“Bukan,” tolak Ahreum. “Kai itu kerabatku. Mereka semua adalah kerabatku.”

“Oh, baguslah kalau begitu.”

Ahreum mengernyitkan alisnya mendengar ucapan Minho. Tapi ia tak ambil pusing akan hal itu.

Ketika Ahreum sedang memandangi aliran air di sungai Han, Ahreum merasakan kalau pungung tangannya bersentuhan dengan punggung tangan Minho. Kaget akan kontak yang terjadi antara dirinya dan Minho, Ahreum pun memilih untuk berbalik dan duduk di bangku yang ada di belakangnya. Minho sadar betul kalau Ahreum menghindari kontak fisik dengannya. Tapi Minho tetap harus menjalankan misinya untuk membuat Ahreum menyukainya.

“Ahreum, apa kau haus? Bagaimana kalau aku beli minum untuk kita.”

Minho kemudian berlari meninggalkan Ahreum yang tampak tercengang.

“….Tapi aku bawa minum,” gumam Ahreum.

Gadis itu pun memutuskan untuk tak menggubris Minho. Ahreum memilih untuk membongkar buku-buku yang tadi ia beli. Cukup lama Minho pergi, tapi Ahreum tak menghiraukannya karena kini mata dan pikiran Ahreum sudah terkunci pada buku yang sedang dibacanya.

Tiba-tiba datang anak kecil yang membawakan Ahreum sekotak coklat; membuyarkan konsentrasi Ahreum. Gadis itu memandangi anak lelaki tersebut bingung. Kemudian sang anak menunjukkan buku gambarnya yang seukuran A3 pada Ahreum dan memulai membukanya di hadapan Ahreum. Ternyata buku bergambarnya berisi tulisan yang cukup membuat Ahreum merasa tersanjung.

Hei cantik.

Sudah lama aku memperhatikanmu..

Sudah lama aku memujamu..

Dan kini akhirnya aku mendapatkan perhatianmu..

Boleh aku mengutarakan sesuatu padamu?

Maukah kau menjadi kekasihku?

Ahreum terkejut dengan pernyataan cinta yang dibawa anak kecil ini. Untuk pertama kalinya –bagi Ahreum ini adalah yang pertama, tentu ia tak menghitung semua pernyataan cinta yang dilakukan oleh para pengawalnya– bagi Ahreum untuk mendapatkan pernyataan cinta yang begini romantis. Ia sering melihat di drama-drama dan selalu memimpikan kapan akan mendapat pengakuan cinta semanis di drama. Dan kini setelah mendapatkannya Ahreum sungguh tak tahu harus bereaksi seperti apa. Apalagi yang ‘menembaknya’ adalah anak kecil.

“Tapi Noona terlalu besar untukmu,” ujar Ahrem pada anak kecil itu. Ahreum juga mengembalikan coklat pemberiannya.

Anak lelaki menggelengkan kepalanya. Kemudian ia kembali membalik kertasnya dan menunjukkan lagi pada Ahreum.

Bukan aku, Noona. Tapi di belakangmu.

Ahreum menoleh dan mendapatkan sebuket bunga mawar tepat di depan matanya. Ketika buket bunga yang menghalangi penglihatannya itu disingkirkan, Ahreum pun berhasil melihat wajah si tokoh utama dalam pernyataan cinta ini. Terkejutlah Ahreum begitu melihat siapa yang ada di hadapannya.

“S…sunbae…,”

“Lee Ahreum, maukah kau menjadi pacarku??”

.

.

“Ahreum pu…lang,”

Keriangan di suara Ahreum mendadak hilang begitu ia memasuki rumahnya. Ahreum menjatuhkan dua bungkusan ditangannya dan perlahan melangkah masuk ke dalam rumah. Ia tak tahu apa saja yang terjadi ketika ia pergi tadi, tapi keadaan rumahnya hari ini sungguh sangat tak terduga.

Begitu masuk ia sama sekali tak melihat barang-barang yang biasa ia temui. Tidak ada sofa, meja, guci-guci antik, keramik, bufet bahkan tidak ada hiasan dinding. Ahreum sempat mengira kalau ada maling masuk ke rumahnya, tapi tidak setelah ia melihat barang-barang tersebut berkumpul di ujung ruangan seolah seseorang baru saja ‘menyapu’ semuanya kesana.

Sementara itu di tengah ruangan terdapat pemandangan yang lebih mencolok. Disana tampak Chanyeol sedang dipegangi oleh Kai dan D.O. dan Chanyeol saat ini terlihat sangat marah pada sesuatu yang berdiri di hadapannya, Kris.

“Ada apa ini?” tegur Ahreum setelah mengembalikan jiwanya yang sempat melayang karena terlalu terkejut.

“Maafkan kami, Ahreum. Kami akan segera mengembalikan semuanya seperti semula,” sahut Kris tenang, seolah tanpa beban.

“Apanya yang dikembalikan seperti semula?!!! Ini semua sudah terlambat!! Kalau bukan karena kau, mungkin tadi aku sudah membakar..,” seru Chanyeol emosi.

“Chanyeol!!” Suho sudah membentak Chanyeol.

“Hyung?!!! Kau sekarang membelanya?!! Kau ada di pihak mana sekarang?!!” Chanyeol balas berteriak. Ia tak percaya, pemimpinnya kini membentaknya.

Suho tampak menghela napas panjang. “Aku tak membela siapa-siapa, Chanyeol. Hanya saja kau memang berlebihan. Ingat kalau kita tak boleh terlalu emosi dalam mengambil tindakan, Chanyeol. Dan jangan menyalahkan saudaramu sendiri,” nasihat Suho.

Ahreum hanya bisa memandangi perdebatan itu dengan bingung. Ia sama sekali tak tahu apa yang sedang terjadi disini. Tapi jika melihat situasinya, sepertinya Chanyeol sedang marah besar pada Kris.

Dan ketika Chanyeol hendak menyerang Kris, dengan sangat terpaksa D.O. memukul tengkuknya. Chanyeol pun melemah dan Kai segera menyeretnya menjauhi ruang tamu, menjauhi Kris.

“Ada apa ini? Kenapa kau memukulnya? Kenapa ia terlihat marah? Cepat jelaskan apa yang terjadi disini…,” omel Ahreum. Walau ia sebenarnya cukup takut akan apa yang sedang terjadi disini, tapi ia tetap harus menunjukkan otoritasnya sebagai tuan rumah.

“Ahreum,” sela Baekhyun. “Apa benar yang dikatakan Chanyeol. Kau menyukai sunbae itu?”

“Ahreum, apa kamu menyukainya?” tanya Tao, suaranya terdengar ketakutan.

Ahreum mematung di tempatnya. Ia sudah cukup bosan dengan pertanyaan ini. Tapi ia tak tahu bagaimana cara meyakinkan mereka. Dan kini ia malah teringat akan pernyataan cinta Minho tadi siang. Ahreum pikir mungkin para pengawalnya mengetahui mengenai hal tersebut.

“Harus berapa kali aku bilang kalau aku…”

“Ahreum, kami adalah takdirmu. Kenapa kau malah menyukainya,” sahut Sehun.

“Tapi aku tak memiliki perasaan apa-apa pad-,”

“Kalau kau menyukainya maka kami tak punya alasan lagi untuk berada di sampingmu,” sela Suho.

Ahreum tak sanggup berkata apa-apa lagi. Ia sudah cukup terkejut melihat rumahnya kacau balau serta Chanyeol yang mengamuk. Dan kini ia juga harus mendengar semua kekecewaan yang dilontarkan para pengawalnya. Semua rasa bercampur aduk di hati Ahreum. Ia kesal, bingung, takut, kaget, dan masih banyak lagi rasa memenuhi hatinya.

Ahreum pun hanya bisa marah.

“Apa kalian tak mempercayaiku? Aku menganggap Minho Sunbae hanya sebagai orang yang ku kagumi saja, tak lebih. Kalau kalian masih tak percaya juga, ya sudah. Aku juga tak peduli akan hal itu. Lagipula kalau kalian takut aku menyukai Minho Sunbae, kenapa tadi kalian tidak ikut saja denganku dan mencegah dia yang mencoba membuatku menyukainya! Tapi yang kalian lakukan hanya membiarkanku pergi sendirian dan kini kalian protes padaku?!! Kalian bahkan tak peduli terhadap perasaanku. Kalau kalian mau pergi meninggalkanku juga aku tak akan peduli!” omel Ahreum.

Ahreum sebenarnya tak mau marah seperti ini, tapi ia terlanjur merasa kesal. Ia kesal karena merasa tidak dipercaya oleh dua belas pemuda itu. Tao dan Sehun tampak shock mendengar ucapan Ahreum. Sehun bahkan nyaris menangis karenanya.

Ahreum menarik napas panjang. Ia harus meredakan emosinya agar segala yang diucapkannya tidak terlalu menyakitkan bagi pemuda-pemuda di hadapannya ini. Apalagi Sehun sudah benar-benar menangis sekarang.

“Kalian mengacuhkanku dan tak mendengarkan ucapanku. Pengawal macam apa yang membantah ucapan putrinya. Kalian bahkan menghancurkan rumahku. Kuharap kalian tak pernah datang ke hadapanku,” gumam Ahreum.

Ahreum akhirnya meninggalkan mereka. Ahreum mengurung dirinya di kamar malam ini.

.

.

Ahreum meringkuk di sudut kamarnya. Ia menenggelamkan kepalanya diantara dua lututnya yang bertekuk. Ahreum menangis. Ia menyesal sudah mengatakan hal-hal mengerikan pada pengawalnya, tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk menghampiri mereka dan minta maaf. Ahreum sungguh kesal dengan sikap mereka yang menarik-ulur dirinya.

Ahreum akhirnya mengangkat kepalanya dan membersihkan airmata yang membasahi pipinya. Ketika ia menatap lurus ke ujung ruangan, Ahreum mendapati sebuah bayangan hitam berdiri di ujung kamar, berhadapan dengannya.

“Omo! Chen, kau mengagetkanku,” kaget Ahreum.

Chen, yang sedari tadi menemani Ahreum menangis, mendekati gadis itu. Chen duduk di hadapan Ahreum untuk menghapus sisa-sisa cairan bening di sudut mata Ahreum. Kemudian Chen merapikan rambut Ahreum dan mengaitkan di belakang telinga gadis itu.

“Jangan menangis, Ahreum. Jangan menangis hanya karena kebodohan mereka. Maafkan kami, Ahreum,” ujar Chen lembut.

Tangisan ronde dua pun lepas dari mulut Ahreum. Ia kini sudah menghambur ke Chen dan memeluknya. Ahreum menyembunyikan wajahnya di dada Chen seraya mencengkeram erat kaus Chen sambil menangis. Chen hanya bisa mengusap punggung Ahreum untuk menenangkan gadis itu.

“Aku tidak sungguh-sungguh, Chen. Aku tidak bermaksud mengusir kalian. Aku tak tahu kenapa aku bicara semenyeramkan itu,” isak Ahreum.

“Ya, aku tahu. Kau hanya emosi sama seperti Chanyeol, yang emosi melihatmu berciuman dengan senior itu,” sahut Chen.

Ahreum kini berhenti menangis dan melepaskan pelukannya dari Chen. Ia menatap Chen bingung. Berciuman?? Kapan ia berciuman dengan Minho? Pegangan tangan saja tidak, kenapa bisa Chanyeol melihatnya berciuman?

“Tapi aku tidak..,”

“Aku tahu,” sela Chen. “Aku lihat kau memang tidak berciuman dengannya, tapi yang Chanyeol lihat adalah itu.”

Ahreum berusaha mengingat apa yang tadi terjadi. Tadi ketika mengantarkan Ahreum pulang, Minho memang sempat mendekatkan wajahnya pada Ahreum. Tapi itu bukan untuk menciumnya, melainkan untuk meniup mata Ahreum yang kelilipan. Sejauh ini kontak fisik yang mereka lakukan hanyalah itu, dimana Minho memegang wajah Ahreum untuk meniup matanya. Dan sepertinya jika dilihat dari posisi Chanyeol yang ada di atas bukit, adegan yang dilakukan Minho-Ahreum adalah adegan ciuman.

“Kau melihatnya?” Ahreum bingung.

“Aku kan mengikutimu hari ini. Ahreum, kami tak mungkin membiarkanmu pergi sendirian tanpa penjagaan. Jadi Dduizhang menyuruhku untuk mengikutimu,” ujar Chen.

“Berarti tadi…kau lihat.. Minho Sunbae..,”

“Ya. Tapi aku tak akan mengatakannya pada yang lain. Itu hanya akan membuat mereka makin panas,” Chen berusaha menenangkan Ahreum yang kini tampak panik.

Ahreum menghela napas lega. Ahreum pikir Chen mengadukan berita mengenai Minho yang menyatakan perasaannya pada Ahreum. Tapi rupanya Chen cukup pengertian dan mau berkepala dingin untuk tidak menciptakan masalah baru. Setidaknya tidak akan ada peperangan atau pertumpahan darah kali ini.

“Apa yang akan kau lakukan, Ahreum? Kau tidak akan menerimanya kan?” tanya Chen khawatir.

“Chen, kurasa lebih baik aku tidak mendapatkan teman daripada aku harus kehilangan kalian. Aku tentu saja lebih memilih kalian daripada Minho Sunbae,” sahut Ahreum. Ahreum kemudian kembali memeluk Chen. “Jadikan hal ini sebagai rahasia antara kita berdua, Chen. Terima kasih untuk begitu pengertian padaku.”

.

.

.

Suasana antara Ahreum dan dua belas pengawalnya terasa sangat canggung. Di sekolah Ahreum bahkan sama sekali tidak bercengkerama apalagi saling melihat satu sama lain dengan mereka. Bahkan Kris dan Kai yang satu kelas dengannya tak luput ia acuhkan. Bukan karena Ahreum tak peduli, tapi karena Ahreum gengsi.

Ketika istirahat datang, Kai dan Kris memilih untuk tidur di bangku mereka. Sementara Minho sudah menjemput Ahreum ke kelasnya untuk berbarengan pergi ke kantin. Dan di kantin Ahreum hanya mendapati Xiumin, Luhan, Chanyeol dan Baekhyun yang duduk di meja yang biasa mereka tempati. Tadinya Ahreum berniat menghampiri mereka, tapi Minho sudah lebih dulu menariknya ke meja yang lain.

Sejujurnya kini Ahreum risih dengan sikap Minho. Sejak Minho mendekatinya, atmosfir seisi sekolah yang tadinya sudah mulai mengacuhkan Ahreum kini kembali lagi seperti dulu. Berbagai ejekan, cibiran dan sindiran kembali ditujukan padanya. Selain itu dua belas pengawalnya juga memilih untuk mengabulkan permintaan Ahreum yaitu untuk tidak menghampirinya. Bahkan Chen juga tidak terlihat oleh mata Ahreum. Ditambah Minho memperlakukannya layaknya seorang putri –dengan kadar yang berlebihan.

Dan semua hal itu berlangsung sampai campfire tiba –yang diadakan seminggu kemudian setelah Minho menyatakan cintanya pada Ahreum.

Campfire ini diadakan di pegunungan Gangwon-do. Daerah Gangwon memang terkenal dengan habitat alamnya yang masih asli. Hutan, pegunungan, sungai bahkan laut semua ada disana. Dan sekolah Ahreum mengadakan kemping di pegunungan Gangwon.

Perkemahan ini hanya khusus bagi murid tingkat dua, karena ini semacam perayaan bagi Ahreum dan kawan-kawan yang akan naik ke tingkat akhir. Jadi semuanya, termasuk dua belas pengawal Ahreum ikut acara kemping tahunan ini.

Sejak di rumah ketika mempersiapkan keperluan untuk pergi kemping, Ahreum masih belum berbaikan dengan dua belas pengawalnya. Terkadang Chen menghampirinya hanya untuk meyakinkan Ahreum kalau ia tak akan sampai terluka jika menegur mereka. Tapi seperti yang sudah dikatakan, gengsi Ahreum terlalu tinggi untuk menghampiri mereka duluan.

Seperti misalnya ketika Lay mencari-cari beany-nya yang hilang, Ahreumlah yang menemukannya. Tapi bukannya memberikan beany itu langsung pada Lay, Ahreum memilih untuk meletakkannya di pegangan tangga agar mudah terlihat. Atau ketika D.O. dengan sengaja meninggalkan kotak bekal untuk Ahreum, gadis itu mengambilnya ketika semua sudah pergi meninggalkan dapur.

Ahreum sebenarnya tak tahan dengan situasi ini. Tapi semua sudah terlalu terlambat baginya. Ia sudah terlalu lama mengacuhkan mereka. Dan kini ketika ia tak bisa memasang tenda, tak ada yang bergerak untuk membantunya. Krislah yang kemudian menghampiri Ahreum dan membantunya memasang tenda lalu pergi tanpa sepatah kata.

Disaat seperti ini, Ahreum hanya bisa mencurahkan hatinya pada Jei. Beruntungnya Ahreum memiliki Jei sebagai temannya. Jei selalu memberinya masukan-masukan positif tentang hal-hal yang terjadi disekitarnya. Seperti misalnya, mengenai masalah Minho ini, Jei selalu menjadi penengah antara Ahreum dan dua belas pengawalnya. Jei yang mencoba untuk memberi pengertian pada dua belas pemuda itu mengenai pertemanan Ahreum dengan Minho.

Ahreum pun mencoba mengirim pesan singkat pada Jei. Ahreum pergi meninggalkan perkemahan untuk mencari sinyal yang baik bagi ponselnya.

To. Jei Eonni

Eonni, bagaimana caranya berbaikan dengan Luhan dkk. Aku terlalu canggung untuk menghampiri mereka duluan.

Tak lama pesan dari Jei masuk.

From. Jei Eonni

Heol~ aku sudah bilang bersikaplah seolah tak terjadi apa-apa. Tak perlu pusing dengan apa yang kau katakan pada mereka. Lagipula kemarin Lu-Baek juga tidak terlihat marah padamu. Mereka malah sepertinya tersiksa karena diacuhkan olehmu. Berbaikanlah!!

Ahreum kembali menghela napas panjang. Baiklah, campfire adalah acara untuk mempererat persaudaraan bukan? Aku akan memanfaatkan kesempatan ini untuk berbaikan dengan mereka, tekad Ahreum.

Ahreum ingat akan pesan Jei beberapa hari yang lalu.

Sekarang kamu pilih Ahreum. Kehilangan dua belas pemuda yang memperlakukanmu semanis mereka atau mendapatkan seorang senior yang kamu sendiri tak tahu hatinya seperti apa. Kalau aku sih akan lebih memilih mereka karena aku sudah lama mengenal mereka.

Ahreum pun membulatkan keputusannya. Tak apa jika ia harus kehilangan satu teman; Minho -selama dua belas pemuda itu masih bersamanya, Ahreum tidak akan mempedulikan hal lain.

Ketika Ahreum hendak kembali ke perkemahan, Ahreum mendapatkan lagi sebuah pesan singkat. Bukan dari Jei, melainkan dari Minho.

From. Minho Sunbae

Ahreum kamu dimana? Aku sudah di gunung Gangwon-do dan aku nyasar. Bisa kau jemput aku sekitar satu kilo dari tempat kalian parkir bis? Aku merindukanmu dan ingin bertemu denganmu. Jadi kumohon datanglah agar aku bisa melihat wajahmu.

Ahreum bingung akan SMS Minho ini. Kenapa Minho sampai datang ke perkemahan ini? Ahreum pikir mungkin ini saat yang tepat untuk menciptakan garis yang jelas antara dirinya dan Minho, dengan begitu hubungan antara Ahreum dengan dua belas pengawalnya akan kembali normal.

.

.

Kris dan Suho kini sedang berdiskusi di pinggir perkemahan. Mereka membahas mengenai mendinginnya sikap Ahreum terhadap mereka. Mereka berusaha untuk mengembalikan semuanya seperti semula, tapi sikap Ahreum benar-benar mematahkan kepercayaan diri mereka.

“Biar bagaimanapun juga Ahreum benar, Kris. Kita yang salah. Harusnya kita mengikutinya, mencegahnya dan melarangnya untuk dekat dengan lelaki itu. Dan kini semuanya jadi kusut begini,” keluh Suho.

“Tadi Ahreum masih tak mau menegurku ketika aku menghampirinya. Aku sungguh tak bisa menebak apa yang ada di pikirannya. Dia diam dan mengacuhkanku bahkan dia mengacuhkan Lay. Kau tahu kan betapa dia sangat dekat dengan Lay,” sahut Kris.

“Chen masih suka bicara dengan Ahreum kan? Apa katanya?” tanya Suho.

“Chen bilang, Ahreum masih gengsi untuk mendekati kita. Jadi kurasa kita tak perlu menjauh dari hadapannya. Kita hanya perlu terus berada di depan matanya. Dengan begitu dia tidak tahan dan akan melupakan amarahnya pada kita,” usul Kris.

Suho mengangguk setuju akan rencana Kris. Kemudian keduanya memutuskan untuk kembali ke perkemahan dan mencari Ahreum. Ketika melewati beberapa anak perempuan yang tengah bergosip, Kris dan Suho memutuskan berhenti sejenak  untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Ini karena mereka menyebut-nyebut nama Ahreum.

“Aku tak tahu sihir apa yang Ahreum gunakan pada Minho Oppa sampai Oppa jadi terlihat begitu menyukainya.”

“Aku juga heran. Padahal sejak tahun lalu Oppa sudah menyatakan kalau ia menyukai Jiyeon dan akan terus menunggu sampai Jiyeon menerima cintanya.”

“Ya, walaupun Jiyeon sudah menolak Oppa berkali-kali tapi Oppa tak pernah menyerah mengejar Jiyeon.”

“Tapi kenapa kini Oppa malah bersama Ahreum?”

“Mungkin untuk memancing agar Jiyeon cemburu. Semua orang kan tahu Jiyeon membenci Ahreum.”

“Cih, Ahreum itu. Dia sudah menghancurkan pesta ulang tahunnya Jiyeon dan kini ia merebut Minho Oppa dari Jiyeon. Kuyakin Jiyeon tidak akan tinggal diam melihat hal ini terjadi.”

“Kita lihat saja apa yang akan dilakukan Jiyeon padanya. Ahahaha.”

Tak lama ada yang menghampiri kelompok perempuan bergosip ini.

“Hei, apa kalian tahu?? Minho Oppa datang kesini!! Aku tadi melihatnya bertemu dengan Ahreum di perbatasan,” serunya antusias.

“Woah daebak!! Dia membawa Minho Oppa kesini! Ahreum benar-benar sesuatu!”

“Kurasa dia mau membuat Jiyeon cemburu dengan memamerkan Minho Oppa di hadapannya Jiyeon. Ohh aku tak sabar melihat drama yang akan terjadi diantara mereka.”

Kris dan Suho saling pandang mendengar percakapan tersebut. Kris memang selalu merasa ada yang ganjil dengan Minho dan kini ia tahu alasannya. Mereka pun sadar kalau Ahreum dalam bahaya. Kris dan Suho segera berpencar untuk mengumpulkan para pasukan dan mencari Ahreum. Perasaan mereka mulai kalut, apalagi kini Jiyeon tak terlihat sama sekali di perkemahan. Mereka harus bergerak cepat sebelum semuanya terlambat.

.

.

.

.

.

bee

The fourteenth chapter is out!!!.

drama banget chapter ini yaaa…

mari kita nyanyi dulu…

생일축하함니다
생일축하함니다
사랑하는세훈아♥
생일축하함니다

Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday dear Sehun
Happy birtday to you

my love Sehun, happy birthday!!! Noona will always love you, dear. tetep jadi poker face maknae dan aegyonya makin kecehhh yaa.. heol sebenernya bee ngarepinnya kamu ga gede2 baby. tapi gimana.. kamu udah akhil baligh sekarang kkk. happy birthday my baby!!!!! #tebarconfetti #pasangkembangapi
thanks for your attention!! annyeong!!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 14 – Confession | PG15

18 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 14 – Confession | PG15

  1. Ahn Riyoung says:

    Bee Eonniiii, sumpah ih penasaran gimana lanjutannya! Buruan di-publish, eonn, tolong (˘ʃƪ˘)
    Oh iya! Aku dari kemarin mau bilang tapi lupa terus. Aku baru kali ini nemu Author yang bikin FF pake AKU-KAMU loh. Heuheu, biasanya kan panggilan buat orang kedua itu KAU. Itu yang bikin Bee Eonni beda sama yang lain.

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s