FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 13 – Intruder | PG15


chapter13

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter 13 – Intruder

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

other Cast:

Jiyeon T-ara as Park Jiyeon

Minho Shinee as Choi Minho

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life,

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Mean

Chapter 13 | Intruder

.

.

.

.

.

Intruder I

.

.

.

Sejak kejadian di pesta Jiyeon, Ahreum kini menjadi ‘hot topic’ di sekolah. Seisi sekolah membicarakannya yang tiba-tiba muncul dan mengacaukan pesta Jiyeon. Mereka tentu tak tahu kalau Jiyeon sengaja mengundang Ahreum. Yang mereka tahu hanyalah Ahreum datang ke pesta Jiyeon dan memonopoli pestanya.

Ahreum yang sudah terbiasa dengan segala gosip yang beredar tentangnya hanya bisa mengacuhkan semua gunjingan yang ditujukan padanya. Ahreum pikir seisi sekolah sedang bernostalgia untuk kembali menjelek-jelekkan dirinya. Lagipula setidaknya Ahreum kini masih bersama dengan dua belas pengawalnya yang tak akan membiarkan seisi sekolah memperlakukannya layaknya puntung rokok yang tak berguna -dibuang dan diinjak-injak. Jadi Ahreum berusaha untuk bersikap sepeti biasanya.

Jiyeon sendiri kini sudah benar-benar mengacuhkan Ahreum. Dia selalu bersikap seolah Ahreum tak ada. Tidak mau menegur, melihat, apalagi sampai berpapasan, Jiyeon benar-benar menghindari itu semua. Ia juga menghindari Kai. Rasa bencinya terhadap Kai tak terungkapkan. Jiyeon benar-benar menjadikan Ahreum dan Kai sebagai makhluk yang paling ingin ia lenyapkan dari bumi ini.

Walau Ahreum merasa bersalah pada Jiyeon karena sudah merusak pestanya, tapi Ahreum tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak bisa mendekati Jiyeon untuk minta maaf -Jiyeon selalu menghindarinya. Selain itu Kai juga tak mau minta maaf pada Jiyeon, walaupun Ahreum sudah menyuruhnya.

“Kini semuanya benar-benar melihatku seperti penjahat,” keluh Ahreum.

“Siapa yang melihatmu seperti penjahat?! Orang itu akan berhadapan denganku,” sahut D.O. antusias.

“Ahreum, biasanya kau tak menghiraukan mereka. Kenapa sekarang kau peduli?” tanya Lay.

“Tentu saja peduli, Lay,” sahut Ahreum. “Padahal tadinya kukira aku bisa mendapat beberapa teman di pesta Jiyeon. Tapi aku malah menambah musuh.”

Ahreum kini sudah menelungkupkan kepalanya di meja. Ia merasakan ada yang menepuk-nepuk kepalanya pelan. Ahreum menduganya sebagai Chanyeol karena hanya Chanyeol yang duduk disamping Ahreum.

“Kan kami juga temanmu,” ujar Suho.

Ahreum kembali mengangkat kepalanya. Wajahnya sudah sangat kusut, begitu juga rambutnya. Chanyeol yang duduk di sebelahnya langsung berubah menjadi hair stylist dadakan bagi Ahreum dengan merapikan kembali rambut Ahreum.

“Kalian ini sungguh gak konsisten. Sebentar bilang jodoh, lalu bilang pengawal, lalu bilang takdir dan masa depan dan sekarang kalian bilang kalian adalah teman,” gerutu Ahreum.

“Tapi kami memang jodo- auuww,” ucapan Tao terpotong karena Ahreum sudah menendang kakinya dari bawah meja.

“Ge, Ahreum menendangku,” rengek Tao pada Lay. Dan Lay hanya bisa menepuk-nepuk pundak maknae Mastermind itu simpati.

“Lalu kamu mau kita jadi apa untukmu, Ahreum??” tanya Baekhyun.

Gadis itu tampak berpikir sejenak. Kemudian ia tersenyum pada pemuda-pemuda itu.

“Kalian adalah keluargaku tentunya.”

Mendengar ucapan Ahreum, membuat Mastermind dan Knight menyadari kalau perjalanan mereka untuk mengembalikan Ahreum ke Exoland masih sangat lama.

.

.

.

Ahreum pergi ke perpustakaan sekolah untuk mencari beberapa buku untuk tugas Bahasa Inggrisnya. Ia pergi sendirian karena Kai dan Kris sedang mendapat pelajaran tambahan, begitu juga dengan pengawalnya yang lain. Begitu masuk perpustakaan Ahreum langsung menuju ke bagian bahasa untuk mencari buku mengenai kisah-kisah Shakespeare, yang bisa dijadikan bahan untuk tugasnya. Ketika Ahreum sudah selesai mendapatkan buku yang ia cari ia segera bergegas menuju tempat peminjaman.

Tapi Ahreum terlalu terburu-buru hingga ia menabrak seseorang.

“Omo! Jwoseonghamnida,” Ahreum meminta maaf pada orang yang ditabraknya. Kemudian ia berlutut untuk memungut buku-buku pinjamannya yang berserakan di lantai.

“Ah, seharusnya aku yang minta maaf. Aku tak melihatmu karena terlalu serius membaca,” sahut orang tersebut. Ia ikut berlutut untuk membantu Ahreum. Orang itu kini memegang buku kumpulan puisi Shakespeare yang akan Ahreum pinjam.

Ahreum mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang ia tabrak. Betapa terkejutnya ia begitu mengetahui siapa yang kini berdiri di hadapannya.

“Omo! S..sunbaenim..,” suara Ahreum tercekat. Ahreum langsung membungkukkan badannya 90o pada senior di hadapannya ini. Bagaimana Ahreum tidak panik, di hadapannya ini berdiri senior Ahreum dari kelas 3 yang juga merupakan ketua osis sekaligus murid paling populer di sekolah, Choi Minho. “Sunbaenim jwoseonghamnida. Aku yang salah. Aku tidak memperhatikan langkahku. Neomu neomu jwoseonghamnida.”

Choi Minho sudah menunjukkan senyum manisnya pada Ahreum. “Aniyo, aku yang salah. Maafkan aku,” ujar Minho.

Hening dan canggung. Itulah yang Ahreum rasakan saat ini. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa pada senior di hadapannya ini. Bisa melihatnya sedekat ini saja sudah mukjizat bagi Ahreum, apalagi…

“Shakespeare huh? Apa Yoo Saem yang memberi tugas ini?” Minho tampak mencoba mengusir kecanggungan antara mereka.

Ahreum memandangi Minho bingung. Senior di hadapannya ini mengajaknya bicara dan itu adalah hal yang ajaib baginya. Hampir sebagian besar siswa di akademi ini menjauhi Ahreum, kecuali Jiyeon dan kawan-kawan -yang mendekati Ahreum untuk mengganggunya. Tapi melihat Minho yang mencoba menciptakan percakapan diantara mereka, membuat Ahreum tak bisa berkata-kata.

“Dulu Yoo Saem juga memberiku tugas itu. Sejujurnya, kamu tak perlu meminjam buku sebanyak itu. Cukup buku ini saja,” Minho mengacungkan buku yang dipegangnya dan kemudian memberikannya pada Ahreum.

Ahreum akhirnya meletakkan semua buku yang dipegangnya ke rak buku. Ia kemudian menerima buku dari Minho. Ahreum bertanya-tanya, apakah mungkin seniornya ini tak tahu menahu mengenai Ahreum sampai ia mau mengajak Ahreum bicara. Ahreum kembali dibuat bingung ketika Minho menyodorkan tangan kanannya pada Ahreum. Minho bahkan kini sudah tersenyum lebar pada Ahreum.

Ahreum tak tahu apa tujuan Minho menjulurkan tangannya ke arah Ahreum. Tapi kalau melihat posisinya, itu adalah posisi ketika seseorang ingin menjabat tangan orang lain. Walaupun ragu Ahreum akhirnya menyambut tangan Minho dan menjabatnya.

“Choi Minho imnida,” Minho memperkenalkan dirinya.

Hei! Dia mengajakku berkenalan?! Yang benar saja! Seseorang tolong bilang kalau aku sedang mengkhayalkan ketua osis yang paling populer ini sedang berkenalan denganku! Ohh apa sekarang matahari terbit dari barat??

Ahreum diam. Ahreum terlalu kaget untuk mencerna situasi yang sedang terjadi. Ia memandangi tangannya yang menjabat tangan Minho. Tangan Minho tampak kuat tapi terasa lembut di tangan Ahreum. Berbeda dengan tangan Kai atau Chanyeol atau Lay atau pengawal-pengawal Ahreum yang lain yang senang memegang tangannya.

Kamu pikir apa Ahreum?!! Ahreum pun tersadar dari lamunannya.

“A..aku sudah mengenalmu Sunbaenim… Lee Ahreum imnida,” sahut Ahreum ragu-ragu.

Minho tertawa pelan mendengar ucapan Ahreum. “Aku juga sudah mengenalmu, Lee Ahreum. Kamu cukup.. mm.. terkenal disini,” ujar Minho.

Ahreum takjub melihat reaksi Minho. Pemuda itu tampak nyaman berbicara dengan Ahreum. Rasa takjub itu tak berlangsung lama karena Ahreum mendengar suara Chanyeol di luar perpustakaan yang berteriak-teriak memanggil namanya. Ahreum pun segera melepas tangannya dari Minho.

“Sunbaenim, maaf, tapi aku harus segera kembali ke kelas,” Ahreum membungkukkan badannya pada Minho.

Minho tampak kecewa melihat Ahreum akan pergi meninggalkannya. Akhirnya Minho menahan Ahreum sebelum gadis itu pergi.

“Ahreum-ssi,” cegah Minho. “Aku akan membantumu untuk tugas Shakespeare itu. Jadi kalau kau mau.. mungkin kita bisa bertemu lagi.. disini?”

Ahreum tak bisa mengontrol ekspresinya saat ini. Ia menatap Minho dengan ekspresi blank yang paling bodoh yang pernah ia buat. Ahreum tak mau menduga-duga pemikiran Minho tapi apa dia saat ini sedang mengajakku untuk bertemu lagi?!

“N…ne Sunbaenim,” sahut Ahreum kaku. “Kalau aku butuh bantuanmu aku akan mencarimu disini.”

Ahreum kembali berbalik dan Minho kembali menahannya. Apa lagi kali ini? Ada apa dengan Sunbae ini?

“Tapi aku tak setiap saat ada disini, Ahreum-ssi,” ujar Minho lagi.

“Kalau begitu aku akan mencarimu ke ruang osis. Kamu pasti ada disana kan, Sunbaenim,” sahut Ahreum. Ia sudah mulai tak tenang sekarang. Suara Chanyeol sudah terdengar sangat dekat sekali sekarang. Ahreum tak ingin pengawalnya itu melihat dirinya sedang bersama Minho seperti ini. Karena ia tak ingin pengawalnya yang posesif itu mengganggu Minho.

“Maksudku, Ahreum-ssi, apa boleh aku minta nomor teleponmu? Aku sungguh ingin bicara banyak denganmu. Aku akhirnya dapat kesempatan untuk ngobrol denganmu tapi kau harus segera pergi…,” Minho tampak menggaruk-garuk tengkuknya salah tingkah.

Ahreum kini makin takjub dan bingung melihat sikap Minho. Sejak kapan ketua osis yang selalu tampak wibawa dan berkarisma itu kini terlihat malu-malu dan salah tingkah?

“Ah.. Ne,” Ahreum akhirnya mengeluarkan ponselnya.

Minho pun menyimpan nomornya di ponsel Ahreum, begitupun sebaliknya. Setelah itu barulah Minho melepas kepergian Ahreum dengan senyuman setelah berjanji untuk saling bertemu lagi.

Ahreum masih merasa samar dengan kejadian ini. Ia tak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Berkenalan dengan lawan jenis, bercengkerama dan bertukar nomor telepon. Pengecualian untuk para makhluk dari Exoland, ini adalah hal yang baru bagi Ahreum untuk mendapat perhatian positif dari lawan jenis.

Tapi Ahreum yakin kalau Minho adalah orang yang baik. Ahreum pikir, mungkin ini adalah jalan baginya untuk bersosialisasi dengan orang-orang baru.

.

.

Malam hari setelah pertemuan mereka, Minho menepati janjinya untuk menelepon Ahreum. Percakapan mereka hanya sebatas Shakespeare, yang menjadi tugas sekolah Ahreum. Tapi kemudian berkembang menjadi saling mengenal satu sama lain. Hal itu berlangsung setiap malam. Terkadang mereka bertemu di perpustakaan untuk belajar bersama. Sejak mengenal Minho, Ahreum berubah menjadi lebih feminim.

Perubahan sikap Ahreum membuat Mastermind dan Knight bingung. Ahreum kini tak pernah lagi marah-marah. Ia bahkan selalu menanggapi semua tingkah mereka dengan senyuman.

“Ada yang aneh,” ujar Suho.

“Sudah jelas ada yang aneh,” sahut Xiumin. “Tak ada makanan disini.”

Semua yang ada di ruang makan -Suho, Baekhyun, Luhan, Chen dan Kris- langsung melemparkan tatapan membunuh pada Xiumin. Merasakan aura dingin dari saudara-saudaranya itu membuat Xiumin langsung menutup mulutnya.

“Chen, apa ada sesuatu yang bisa kau laporkan?” tanya Kris.

Chen menggelengkan kepalanya. “Ahreum belakangan ini senang membaca buku Shakespeer dan selalu tersenyum-senyum sendirian ketika membacanya. Sama halnya ketika ia melihat teleponnya.”

“Memangnya apa isi buku Shakepirs itu?” tanya Baekhyun.

“Kalau tak salah itu adalah buku untuk tugas bahasa Ahreum. Isinya sesuatu tentang cinta,” sahut Chen.

Ruang makan kembali hening. Semuanya sibuk berkutat dengan pemikiran masing-masing. Mereka bertanya-tanya kenapa Ahreum mendadak tertarik dengan cinta. Padahal selama ini Ahreum tak pernah menggubris pernyataan cinta dari pengawal-pengawalnya.

“Kenapa dengan Ahreum itu,” gerutu Chanyeol yang baru memasuki dapur. Ia tampak mengusap-usap belakang kepalanya.

“Ada apa?” kompak semua yang ada di ruang makan.

“Dia memukul kepalaku dengan bukunya yang setebal ini,” Chanyeol menunjukkan jengkalan tangannya untuk mendeksripsikan tebalnya buku Ahreum. “Ahreum semakin hari semakin brutal saja dengan kita. Aku hanya mengambil teleponnya karena ia terus-terusan cekikikan sambil memandangi teleponnya. Tapi dia memukulku. Dia memukulku!” seru Chanyeol dramatis.

“Sudah jelas ada yang aneh disini,” ujar Baekhyun. “Ahreum tak pernah berani memukul Chanyeol tapi kini ia memukulnya. Pasti ada sesuatu di buku dan teleponnya.”

Mereka pun memutuskan untuk mencari tahu penyebab dari perubahan sikap Ahreum itu.

.

.

Ketika istirahat siang seperti ini, biasanya Ahreum dan dua belas pemuda dari Exoland akan menghabiskan waktu di kantin. Tapi kali ini ada yang berbeda disana. Suasana diantara kedua belas pemuda itu terasa tegang. Mereka kini sudah melancarkan tatapan laser mereka pada seseorang yang menghampiri Ahreum.

“Ahreum, ini buku yang kuceritakan semalam,”

Pemuda itu menyodorkan buku ditangannya pada Ahreum. Pemuda itu sudah menunjukkan senyumannya pada Ahreum dan tidak mempedulikan tatapan yang dilancarkan oleh Mastermind dan Knight padanya.

“S.. Sunbae,” kaget Ahreum. Ia tentu terkejut melihat Minho yang dengan berani menghampirinya di tengah keramaian seperti ini.

Kini bukan hanya dua belas makhluk Exoland saja yang memandangi Minho, tapi seisi kantin semuanya terkejut melihat Minho. Bagaimana mereka tidak terkejut, seorang Minho yang merupakan siswa paling populer di sekolah ini secara tiba-tiba menghampiri Ahreum yang dikenal sebagai si-cucu-penyihir.

“Kamu siapa?”

“Ada perlu apa dengan Ahreum kami?”

“Jangan tunjukkan senyum menjijikanmu itu pada Ahreum.”

Berbagai pertanyaan dan pernyataan dilontarkan oleh Mastermind dan Knight. Ahreum hanya bisa mempelototi mereka atas sikap mereka yang tidak sopan itu. Walau mendapat perlakuan dingin dari para pengawal Ahreum, tapi Minho tetap tersenyum pada mereka.

“Aku Choi Minho, ketua osis di akademi ini,” Minho memperkenalkan dirinya pada semua pemuda yang mengelilingi Ahreum itu.

“Ketua apa katanya?” tanya D.O.

“Ketua sosis,” sahut Chen.

“Wow! Apa dia ini pembuat sosis?? Hei Choi Minoh, apa spesialismu? Ayam atau sapi,” tanya Xiumin pada Minho.

Seisi meja Ahreum tertawa mendengar ucapan Xiumin. Sementara Ahreum sudah menepuk keningnya karena malu. Ahreum menginjak kaki Xiumin yang kebetulan duduk di sebelahnya.

“Auww,” pekik Xiumin kesakitan.

“Jaga bicaramu, Xiumin! Dia itu senior disini. Kamu harusnya hormat padanya!” Ahreum mengomeli Xiumin.

Xiumin melirik Minho kesal. Ahreum lalu menyuruh Xiumin untuk minta maaf pada Minho. Meskipun enggan, tapi Xiumin tetap patuh pada Ahreum dan minta maaf. Minho sendiri sudah tertawa pelan melihat tingkah mereka.

“Tak apa-apa, Ahreum. Dia hanya bercanda kan,” ujar Minho. “Ah iya, Ahreum. Apa hari minggu kau ada acara? Aku mau mengajakmu ke toko buku. Kita bisa mencari buku untuk tugasmu disana.”

Knight dan Mastermind shock melihat Minho. Bagaimana tidak, pemuda itu secara terang-terangan menyatakan perang pada mereka. Minho dengan santainya mengajak Ahreum jalan, di hadapan dua belas pengawalnya serta seluruh murid yang memenuhi kantin.

Kantin mendadak hening sejak Minho menghampiri meja Ahreum. Kini malah seolah tidak ada kehidupan disana karena semuanya terlalu terkejut dengan sikap frontal Minho. Semuanya tentu menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka lebih mengharapkan Minho terlibat perkelahian dengan salah satu anak baru itu atau Ahreum menolak tawaran Minho -dengan begitu mereka jadi punya alasan lagi untuk mengganggu Ahreum.

“Kau pikir kau siapa mengajak Ahreum pergi huh?? Ahreum tidak akan kemana-mana minggu ini dan itu artinya dia tidak akan pergi denganmu,” sahut Kai dingin.

Minho memandangi Kai. Ia tampak seperti sedang meneliti Kai. Kemudian ia tersenyum pada Kai.

“Lalu kau siapa melarang Ahreum untuk keluar rumah? Kau bukan ayahnya kan? Kalau kau adalah ayahnya, maka aku tidak akan membantah walau kau mengurung Ahreum minggu ini,” sahut Minho.

Kai ingin sekali meninju Minho saat ini juga. Ia kesal dengan sikap Minho. Tapi ia lebih kesal melihat Minho yang terus mempertahankan senyumannya pada Ahreum. Kai sangat tidak menyukai Minho ini, begitu juga dengan Knight dan Mastermind yang lain.

Ahreum jadi bingung dibuatnya. Ia juga sama terkejutnya dengan yang lain. Ia sama sekali tak menyangka kalau Minho akan begitu berani mendekatinya. Ahreum kini tak tahu harus bersikap apa. Ia dilema memilih antara pengawalnya dan Minho. Ahreum tak mungkin menolak ajakan Minho, apalagi di hadapan seluruh siswa seperti saat ini. Ia juga tak bisa mengiyakan, karena ia tahu para pengawalnya pasti akan melakukan segala cara agar Ahreum tidak bisa bertemu dengan Minho -termasuk ‘melakukan sesuatu’ terhadap Minho.

“Aku…,” Ahreum akhirnya buka mulut. Tapi ia masih belum bisa menentukan pilihannya. “Kurasa aku tid-,”

“Kutunggu di tangga Namsan Tower hari minggu jam sebelas siang ya. Sampai ketemu nanti, Ahreum,” Minho memotong ucapan Ahreum. Ia kemudian berpamitan dan pergi meninggalkan kantin.

“Yah!! Ahreum bilang tidak mau pergi, kau bodoh!! Harusnya dengar dulu penolakan Ahreum!!” seru Kai pada Minho yang sudah keluar dari kantin.

Ahreum segera menarik Kai agar kembali duduk. Kini kantin kembali ramai. Sebagian besar dari mereka sibuk bergunjing tentang kenapa Minho tiba-tiba mengajak Ahreum ‘kencan’. Ahreum sendiri tak mempedulikan mereka. Ia masih berkutat dengan keterkejutannya.

“Kau tidak akan pergi kan, Ahreum?” tanya Sehun khawatir.

“Apa perlu nanti aku menemanimu untuk menolak ajakannya, Ahreum?” Luhan menawarkan diri.

Ahreum akhirnya menatap Suho, meminta pertimbangannya. Disaat seperti ini hanya pemikiran Suholah yang bisa Ahreum andalkan. Karena Suho selalu bertindak adil dan tidak pernah memihak siapapun juga.

“Jangan tatap aku Ahreum. Terserah kamu mau pergi atau tidak. Aku tidak akan melarang-,”

“Hyung!!” sela Chanyeol. “Kau mengijinkan Ahreum pergi dengan manusia kodok itu?!”

“Seperti kata lelaki tadi, kita tak berhak melarang Ahreum melakukan yang ia suka. Kita bukan siapa-,”

“Tapi kita kan-,” takdirnya, Chanyeol ingin mengatakan hal itu. Tapi urung diucapkan. Ia tak mungkin meneriakkan kalimat tersebut di depan manusia-manusia ini. Bisa-bisa Ahreum akan kembali dipandang aneh. Akhirnya Chanyeol hanya bisa diam dan murung di bangkunya.

“Ohh Chanyeol, jangan seperti ini. Kalian adalah keluargaku. Jadi jangan meragukan perasaanku pada kalian,” hibur Ahreum.

“Jadi, kau akan pergi?” tanya Lay.

“Kau tahu kan, kalau aku tak bisa menolak,” sahut Ahreum.

.

.

Malam hari sebelum tidur Sehun masuk ke kamar Ahreum. Ia duduk di tepi ranjang Ahreum sambil menunggu gadis itu mematut dirinya di depan cermin.

“Ada apa Sehunna??” tegur Ahreum yang sedang membersihkan wajahnya.

“Ahreum, apa bisa kau besok tidak pergi??” pinta Sehun.

Ahreum berbalik dan mendekati Sehun. “Wae? Kamu tidak mau aku pergi??”

Sehun mengangguk pelan. Sehun kemudian menyenderkan kepalanya di bahu Ahreum. “Ahreum, apa kamu menyukai si Minoh itu?”

“Minho Sunbae, Sehun. Namanya Minho dan kita harus memanggilnya dengan Sunbae. Jadi Minho Sunbae,” Ahreum membetulkan. “Uhmm, aku menyukainya. Dia orang yang baik, seperti Onew Sunbae.”

“Kamu menyukainya?? Apa kamu lebih menyukai dia daripada aku??” panik Sehun. Ia kini menggamit lengan Ahreum dan mulai merajuk padanya. “Ahreum aku takut kalau kau pergi besok maka kau tidak akan menyukai kami lagi.”

Ahreum tersenyum mendengar ketakutan Sehun yang tidak masuk akal itu. Ahreum menepuk-nepuk pelan kepala Sehun.

“Aku tidak menyukainya seperti yang kau pikirkan, Sehunna. Dan hei, bukankah kemarin aku sudah bilang kalau aku menyukai kalian semua. Kalau mau diberi ranking maka kalian adalah yang nomor satu buatku, sedangkan Minho Sunbae itu nomor ke sekian. Kalian itu adalah yang paling istimewa di mataku. Jadi jangan meragukan perasaanku pada kalian. Jangan seperti itu pada Minho Sunbae. Kami hanya berteman.”

Walau masih merasa tidak tenang tapi Sehun mencoba untuk percaya pada Ahreum. Sebelum Sehun keluar dari kamar Ahreum, Sehun mengecup kening Ahreum sebagai ucapan selamat tidurnya.

.

.

Kali ini Tao yang menyelinap masuk ke kamar Ahreum. Tao melihat Ahreum sudah tidur di kasurnya. Dengan sedikit mengendap-endap Tao mendekati ranjang Ahreum.

“Ahreum,” panggil Tao setengah berbisik.

Yang terdengar hanyalah suara erangan Ahreum yang tampaknya sedikit kesal karena tidurnya terganggu. Tao tak menyerah. Dia duduk di tepi ranjang dan mengguncang badan Ahreum pelan sambil memanggil namanya.

Reaksi Ahreum masih sama saja, ia hanya menyahut dengan erangan. Ahreum bergerak hanya untuk menyingkirkan tangan Tao dan menarik selimutnya hingga menutupi wajahnya. Tao kini hanya bisa memandangi punggung Ahreum. Akhirnya Tao berpindah posisi ke sisi lain kasur Ahreum dan duduk disana sambil memandangi mata Ahreum yang tidak tertutup selimut.

“Ahreum, apa kau besok jadi pergi?” tanya Ahreum.

Ahreum tak menyahut. Ia masih larut dalam tidurnya.

“Ahreum, kau tak akan meninggalkan kami untuk Minoh itu kan?” Tao bertanya pada Ahreum. “Ahreum, kau…kau tak akan jatuh cinta padanya kan??”

Tao menjulurkan tangannya untuk merapikan poni Ahreum yang menutupi mata gadis itu. Tao juga menurunkan selimut Ahreum hingga ia bisa melihat wajah Ahreum seutuhnya. Ia menyusuri wajah Ahreum dengan telunjuknya, mulai dari kening turun ke hidung dan lalu berhenti di bibir Ahreum. Tao memandangi kesempurnaan wajah Ahreum dengan seksama.

“Ahreum, aku menyukaimu. Jadi jangan biarkan aku patah hati dengan pergi bersama ketua sosis itu,” bisik Tao. “Seandainya aku bisa menghentikan waktu untuk selamanya, aku ingin sekali menghentikan waktu hanya untuk kita berdua. Sayangnya aku tak bisa.”

Terdengar pintu kamar Ahreum kembali terbuka. Kris, yang bertugas jaga malam ini, sedang mengecek keadaan Ahreum. Ia mengintip ke kamar Ahreum dan terkejut melihat Tao sudah duduk di samping Ahreum yang tertidur.

“Tao, apa yang kau lakukan disini?” desis Kris.

Tao langsung turun dari ranjang Ahreum dan berlari ke pintu. Ia memasang senyum polosnya pada Kris.

“Hanya mengucapkan selamat tidur untuk Ahreum,” sahut Tao yang langsung berlari meninggalkan Kris sebelum ia mendapat masalah dari pemimpinnya tersebut.

Kris hanya mengernyitkan keningnya melihat tingkah Tao. Kemudian ia kembali menutup pintu kamar Ahreum dan membiarkan gadis itu tidur dengan tenang.

.

.

Hari minggu sudah tiba. Itu artinya Ahreum akan pergi meninggalkan dua belas pemuda sensitif itu. Ahreum sudah bersiap untuk pergi menemui Minho siang ini. Tidak ada yang istimewa dari penampilan Ahreum. Ia hanya memakai kaos dengan kemeja longgar serta celana jeans ketat, rambutnya hanya diikat sederhana. Setidaknya kalau ia berpenampilan seperti ini, dua belas pemuda itu pasti akan mengizinkannya untuk pergi -karena mereka tak ingin Ahreum tampil terlalu cantik dan Ahreum paham betul akan sindrom mereka itu.

“Aku berangkat yaa,” Ahreum berpamitan pada dua belas pemuda yang memenuhi ruang TV.

Tak ada yang menyahuti ucapan Ahreum. Mata mereka seolah terpaku pada kartun Doraemon -kartun kesukaan Ahreum- yang sedang disiarkan di TV. Ahreum masih menunggu mereka untuk melepas kepergiannya, tapi dua belas pemuda itu tampak tak bergeming.

“Aku mau berangkat sekarang,” Ahreum kembali memberi kode pada mereka.

Dua belas makhluk kekanakan itu tetap tak bergeming seolah mereka sedang dalam ‘mode .jpeg’. Ahreum jadi merasa bersalah pada mereka. Tapi ia harus bersikap seperti apa, ia tak bisa menolak ajakan Minho. Lagipula Minho adalah seniornya yang sudah banyak membantunya, jadi Ahreum tak enak hati menolak tawarannya.

Ahreum tak menyerah untuk mendapatkan perhatian dari dua belas pengawalnya. Setidaknya Ahreum harus mengurangi rasa bersalahnya agar ia bisa keluar rumah dengan tenang.

“Sehunna, kau tak mau ikut? Tao? Err D.O.-ssi?? Chen, aku akan pergi ke toko buku lohh,” pancing Ahreum.

Yang dipanggil namanya menoleh pada Ahreum dan mereka menggeleng pelan menjawab tawaran Ahreum.

“Kalian membiarkanku pergi sendiri? Aku kan sudah mengijinkan kalian untuk mengikutiku kemanapun aku pergi, bahkan toilet umum sekalipun. Apa kalian benar-benar tidak mau ikut?” tanya Ahreum lagi.

“Sayangnya aku ada kerja sambilan siang ini. Yang lainnya juga begitu kan? Lagipula sepertinya Minho itu bisa diandalkan,” Suho menyahut.

Hanya Suho yang beranjak dari tempatnya untuk menghampiri Ahreum. Ia berdiri di hadapan Ahreum dan merapikan pakaian Ahreum. Suho mengamati Ahreum dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sungguh saat ini Suho ingin mengunci Ahreum di rumah agar gadis itu tak bisa pergi kemana-mana. Tapi ia tak mampu melakukannya.

“Kamu ingat apa yang sudah diajarkan D.O. bukan? Kalau senior itu mau memelukmu seperti ini maka kamu…,” Suho merentangkan tangannya hendak memeluk Ahreum. Tapi Ahreum reflek membungkuk sehingga Suho hanya memeluk angin. Suho tersenyum bangga pada Ahreum yang sudah kembali berdiri tegak.

“Bagus, lalu kalau senior itu mau menciummu seperti ini..,”

Suho mendekatkan wajahnya pada Ahreum. Kali ini Ahreum melayangkan tangannya hendak menampar Suho, tapi refleks Suho lebih cepat. Suho sudah menahan lengan Ahreum. Dan Ahreum bergerak cepat. Ia balas memuntir tangan Suho dan menguncinya di punggung Suho. Kemudian Ahreum melepaskan Suho.

“D.O. tak sia-sia mengajarimu beladiri, Ahreum. Gunakan trik tadi kalau seniormu sampai berbuat macam-macam,”

Suho memegang kedua bahu Ahreum. Suho terlihat jelas tidak mau melepas Ahreum. Tapi ia tak bisa menahannya. Saat ini statusnya hanyalah pengawal Ahreum, jadi ia tak bisa mempertahankan Ahreum. Suho pun kemudian kembali duduk di depan tv.

Alis Ahreum kini sudah membentuk garis lurus karena bingung melihat sikap Suho. Ditambah sebelas pemuda yang lain juga masih tidak mau menegurnya. Akhirnya Ahreum memutuskan untuk mengacuhkan mereka.

“Baiklah, aku pergi dulu. Aku akan pulang sebelum malam,” pamit Ahreum.

Dua belas pemuda itu kompak menoleh ke Ahreum yang sudah keluar rumah. Mereka juga merasa bersalah karena harus bersikap seperti itu pada Ahreum. Tapi mereka harus membuat Ahreum merasa betapa pentingnya mereka bagi Ahreum.

“Dia mau pergi dengan ketua sosis itu dan mengajak kita. Huh! Nanti ketua sosis sok itu akan berkata ‘memangnya siapa kamu sampai harus membuntuti Ahreum’,” gerutu Kai menirukan mimik Minho.

“Masih sangat membutuhkan kita tapi meninggalkan kita untuk pemuda lain. Mendadak aku merasakan seperti apa perasaan tetua Mastermind yang ditinggal Putri Ara ketika sayembara terjadi,” sahut Xiumin.

“Ahreum berhak melakukannya. Karena bagaimanapun juga semua itu adalah pilihannya. Hanya ia yang berhak memilih siapa yang disukainya dan yang akan menjadi pendampingnya,” bela Baekhyun.

“Tapi Hyung, nanti kalau Ahreum benar menyukainya dan menikah dengan sosis itu bagaimana??!” panik Sehun. “Aku tak akan pernah rela melepas Ahreum untuk sosis jelek itu.”

Mereka bukannya tidak setia pada Ahreum, tapi mereka hanya merasa seperti sedang dikhianati oleh Ahreum. Mereka tentu tak ingin Minho sampai mencuri hati Ahreum. Walaupun Ahreum sangat lambat untuk hal-hal mengenai cinta, tapi tetap saja para pengawal Ahreum itu was-was.

“Kalian ini bertingkah seolah Ahreum besok akan menikah dengan senior itu. Berpikirlah dengan jernih. Ahreum itu masih sekolah dan masih dibawah umur -untuk ukuran manusia bumi. Jadi sangat tak mungkin Ahreum akan segera menikah. Jadi tenang sajalah,” sahut Luhan.

“Selama senior itu belum ‘menggenggam’ Ahreum, kita masih punya kesempatan untuk mempertahankannya,” ujar Lay. “Kalau Ahreum akan menikah maka ia akan menikah dengan salah satu diantara kita.”

“Ck, tumben kau bicara benar, Ge,” ledek Tao.

“Berarti kita masih ada kesempatan?! Baiklah, akan kubuat Ahreum untuk tidak tertarik dengan sosis kodok itu,” ujar D.O. antusias.

“Pokoknya aku tak akan pernah membiarkan pangeran kodok itu merebut Ahreum dariku,” tekad Chanyeol.

Mereka pun mulai menyusun rencana untuk kembali merebut perhatian Ahreum. Kris yang menjauh dari kumpulan pemuda posesif itu memilih untuk mendekati Chen yang juga duduk jauh dari kerumunan.

“Chen, ikuti Ahreum hari ini dan jangan sampai ketahuan olehnya. Jaga dia jangan biarkan lelaki itu macam-macam padanya. Aku punya perasaan buruk terhadap Minho itu,” titah Kris.

Chen mengangguk dan tanpa berkata apa-apa Chen langsung keluar rumah menyusul Ahreum. Setelah itu Kris kembali pada rekan-rekannya dan berdehem untuk menarik perhatian mereka.

“Kita akan cari tahu siapa Minho itu,” ujar Kris pada sepuluh pemuda di hadapannya.

.

.

“Jadi kamu akan pergi dengan Ahreum hari ini?? Bagus!!”

Minho tampak sedang bertemu dengan seorang gadis berambut coklat kemerahan. Sebelum berangkat ke Namsan Tower, Minho pergi ke tempat gadis itu untuk melaporkan ‘perkembangannya’. Gadis itu tampak senang begitu mengetahui kalau Minho akan pergi dengan Ahreum hari ini.

“Memangnya kenapa dengan Lee Ahreum itu? Kenapa kau begitu tak menyukainya?” tanya Minho.

“Dia sudah merusak hidupku. Pokoknya kau harus membuat dia jatuh dalam pelukanmu setelah itu kau campakkan dia. Buat dia merasakan sakitnya patah hati,” ujar gadis itu. “Kamu harus membuatnya benar-benar jatuh cinta padamu. Dengan begitu semua pemuda yang mengelilinginya itu akan patah hati. Lalu kita akan mematahkan Ahreum di kemah nanti.”

Minho meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya. Ada yang beda dari caranya menatap gadis itu. Matanya tampak penuh cinta.

“Baiklah. Akan kulakukan apapun maumu. Tapi kau janji kan kalau kau mau menjadi kekasihku jika aku berhasil??” tanya Minho sambil merapikan rambut gadis itu.

Gadis itu melepaskan tangan Minho. Ia kemudian menunjukkan seringaiannya.

“Akan kupikirkan. Aku akan melihat dulu perkembanganmu. Kalau kau sukses tanpa membuat para pemuda yang selalu mengelilingi Ahreum itu curiga maka aku akan mempertimbangkan pernyataan cintamu,” sahutnya. Ucapannya terdengar sedingin es.

“Kalau begitu berikan aku semangat,” pinta Minho.

Gadis itu tersenyum. Ia mengerti akan permintaan Minho. Gadis itu kemudian berjinjit dan mengecup pipi Minho.

Minho tampak puas dengan kecupan singkat itu. “Aku akan memintanya untuk jadi kekasihku hari ini. Akan kupastikan dia jatuh dalam pesonaku. Kau bisa mengandalkankanku.”

Dengan itu Minho pergi meninggalkan gadis berambut coklat kemerahan tadi. Si gadis tampak tersenyum penuh kemenangan membayangkan Ahreum jatuh dalam perangkapnya.

.

.

.

.

.

.

.

bee

The thirteenth chapter is out!!!.

-uwwwoooowww nuguya?? Siapakah perempuan dengan rambut coklat kemerahan itu??

Dan ada cameo baru lagi disini. Kali ini adalah Minho. Udah kenal kan sama pacar saya yang satu ini?? jadi ga usah kenalan lg yaa. Tadinya ga mau make minho buat karakter ketua (s)osis ini. Tadinya tuh kl ga sih Hyungsik Z:EA ya si Daehyun BAP, cz kayanya mereka punya pesona ketua osis sihh. Tapi pilihan akhir jatuh pada pacar saya a.k.a Minho ㅋㅋㅋㅋ

Dan rencana seperti apa yang akan Minho lakukan pada Ahreum. Apakah Ahreum akan jatuh dalam perangkapnya? Bagaimana nasib dua belas pengawalnya? Apakah Ahreum akan merasakan ‘beautiful life’ bersama Minho? Kita tunggu saja di chapter berikutnya!!! *berasa sinetron*
thanks for your attention!! annyeong!!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 13 – Intruder | PG15

14 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 13 – Intruder | PG15

  1. dessydiana863 says:

    siapa perempuan itu eonn…
    kok jahat sih??
    apa itu jiyeon?? kok minho ikut” jahat …..
    huahh kasihan tuh si ahreum, chen jangan sampe ahreum jatuh di perangkap tuh cewek …

  2. Ahn Riyoung says:

    Omaigot! Sudah kuduga, pasti si ketua sosis itu gak tulus! Ϟ(`﹏´)Ϟ
    Tapi, eonn, as usual, FanFiction-mu ini di setiap part-nya pasti ada aja scene yang bikin ngakak guling-gulingan. HAHAHA! Sumpah deh kelakuan 12 makhluk itu loooh, terutama Xiumin, D.O., Chanyeol sama Sehun! (●≧▽≦)
    Aku rasa genre-nya perlu ditambahin warn COMEDY, eonn! ;D

  3. Yoo says:

    Chen harus bisa jagain areum!!!!!!!!!
    Minho jahat!!!! aaa! siapa lagikah yang berulah? Jiyeon? atau Eunjung?
    chap selanjutnya ditunggu asap, penasaran nih eon!!!!

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s