FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 11 – Invitation | PG15


chapter11-2

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter 11 – Invitation

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

other Cast:

Jiyeon T-ara as Park Jiyeon

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life,

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Mean

Chapter 11 | Invitation

.

.

.

.

.

Invitation

.

.

.

Ahreum sangat bingung sekali saat ini. Tiba-tiba Jiyeon menghampirinya dan memberikan sebuah amplop berwarna pink dengan tinta keemasan padanya. Yang lebih membuat Ahreum bingung adalah amplop tersebut ternyata undangan pesta ulang tahun Jiyeon yang akan diadakan hari minggu nanti. Bagaimana Ahreum tidak bingung, ada angin apa tiba-tiba Jiyeon memberinya undangan?

“Apa ini??” bingung Ahreum.

Jiyeon, yang melihat ke arah lain selain Ahreum, memutar bola matanya. “Kukira kamu adalah murid terpintar disini. Tapi ternyata kamu lebih bodoh. Sudah jelas disitu tertulis undangan. Bodoh,” gumam Jiyeon.

“Aku tahu ini undangan. Tapi untuk apa?” sahut Ahreum.

“Ini untukmu.” Jiyeon mengacungkan amplop itu ke muka Ahreum.

Ahreum terkejut mendengarnya. Tentu saja ia kaget, dalam rangka apa Jiyeon mengundangnya??

Pesta ulang tahun dari seorang Park Jiyeon adalah hal yang paling dinantikan oleh seluruh murid di sekolah Ahreum -setelah liburan musim panas. Karena sejak masih SMP dulu Jiyeon selalu sukses membuat pesta yang meriah dan hal ini membuat siapapun berharap untuk bisa ikut pesta tersebut. Dan biasanya Jiyeon tak pernah sembarangan mengundang orang. Jiyeon sendiri bilang kalau hanya orang-orang yang pantas menjadi temannya yang berhak ikut pesta ulang tahunnya.

Sementara Ahreum, dia sama sekali bukan teman Jiyeon. Ahreum tentu waspada akan taktik apa lagi yang akan Jiyeon lancarkan padanya.

“Untukku? Kamu mengundangku ke pestamu? Ada angin apa tiba-tiba kau mau mengundangku?” tanya Ahreum.

“Kamu ini benar-benar cerewet ya?” gerutu Jiyeon. “Undangan ini bukan untukmu saja. Kamu harus datang ke pestaku dengan membawa serta Kris. Aku hanya membutuhkan Kris di pestaku. Dan aku tahu dia tak akan datang kalau tak ada kamu. Makanya aku mengundangmu.”

Sekarang Ahreum mengerti alasan kenapa Jiyeon mengundangnya. Jiyeon hanya ingin agar Kris datang ke pestanya. Kalau seperti ini Ahreum tak heran.

“Lagipula aku dengar apa yang Eunjung lakukan padamu. Anak bodoh itu sudah merusak citraku. Dia tak tahu betapa susahnya aku menahan rasa untuk mengganggumu hanya demi menjaga imejku di hadapan Kris. Tapi dia menghancurkan semuanya,” gerutu Jiyeon.

Kini Ahreum terbelalak mendengar ucapan Jiyeon. “Jadi Eunjung melakukan itu bukan atas perintahmu??”

Jiyeon kembali memutar bola matanya jengah. “Kamu tahu aku tak akan pernah membiarkan orang lain menggantikan tanganku untuk memukulmu.”

“Apa… Kris juga tahu akan hal ini?” tanya Ahreum hati-hati.

“Semuanya sudah tahu,” sahut Jiyeon. “Jadi kamu harus datang ke pestaku bersama Kris. Ini untuk memperbaiki imejku di depan Kris.”

Semuanya, Ahreum tahu maksud dari kata ‘semuanya’. Itu artinya dua belas pengawalnya itu tahu mengenai insiden itu. Ahreum sendiri tak sadar kalau mereka sudah tahu faktanya, karena mereka tampak percaya saja akan apa yang diucapkan olehnya. Mendadak Ahreum jadi merasa bersalah pada mereka.

Jiyeon menarik tangan Ahreum dan meletakkan undangannya disana. Ia kemudian menepuk-nepuk tangannya seolah habis memegang benda kotor.

“Ahh iya, kamu boleh mengajak semua anak baru itu. Tamu undanganku pasti akan senang sekali kalau anak-anak baru itu juga datang ke pestaku.” Jiyeon kemudian berbalik dan dia langsung menabrak Kai yang berdiri persis di belakangnya.

“Apa lagi yang mau kamu lakukan pada Ahreum, Park Jiyeon,” geram Kai.

Jiyeon mundur selangkah melihat Kai. Sejak Kai menendang bola ke arahnya dan nyaris mematahkan hidungnya, Jiyeon jadi agak takut terhadap Kai. Tapi Jiyeon segera merapikan posisinya dan mengangkat dagunya menatap Kai tanpa gentar.

“Aku mengundangnya ke pestaku,” sahut Jiyeon. Ia kemudian menoleh pada Ahreum. “Kuharap kamu tak membawa si hitam jelek ini nanti. Aku tak mau dia menghancurkan pestaku.”

Jiyeon kemudian segera menyingkir dari hadapan mereka sebelum Kai sempat melakukan sesuatu terhadapnya.

“Kenapa dia tiba-tiba mengundangmu??”

Ahreum mengangkat bahunya menjawab pertanyaan Kai. Ia menunduk menatap undangan di tangannya. “Katanya sebagai permintaan maaf atas apa yang dilakukan Eunjung.”

Hening. Ahreum terdiam. Ia tak tahu harus membahas apa dengan Kai.

“Kalau ulang tahunmu kapan, Ahreum??” Kai memecah keheningan antara mereka.

“Ulang tahunku??” Ahreum malah kembali terdiam. Bahkan kini seolah ada awan hitam menggantung di kepala Ahreum.

Ya, Ahreum paling tak suka membahas hari kelahirannya. Hari itu adalah hari yang paling tak ingin ia lewati seumur hidupnya.

“Kira-kira aku akan memakai baju apa ya nanti??” Ahreum mengalihkan pembicaraan.

Ahreum lalu meninggalkan Kai dan kembali ke kelas.

.

.

“Lalu kamu mau datang?” tanya Kris.

Ahreum mengangguk. “Dia mengundangku serta kalian. Akan sangat tidak sopan kalau kita tidak datang. Jadi aku akan datang.”

Ketika istirahat siang, Ahreum langsung mengabarkan pada mereka kalau Jiyeon mengundang Ahreum dan para pengawalnya itu untuk datang ke pesta ulang tahunnya. Mendengar nama Jiyeon saja langsung membuat dua belas pemuda itu nyaris muntah, apalagi ketika mendengar kalau Jiyeon berbaik hati mengundang Ahreum ke pestanya. Mereka tahu persis, pasti Jiyeon merencanakan sesuatu.

“Tapi nanti dia bisa melakukan sesuatu yang jahat padamu, Ahreum,” sahut Xiumin.

“Kan kalian semua juga ikut denganku? Kalian pasti harus menjagaku agar jangan sampai Jiyeon melakukan apapun terhadapku kan? Kalian tentu tidak ingin melihatku ‘jatuh dari tangga’ lagi bukan. Lagipula Jiyeon bilang dia akan berhenti menggangguku kalau aku mau datang ke pestanya bersama kalian.”

Dua belas pemuda itu diam mendengar ucapan Ahreum. Meskipun mereka tak ingin Ahreum mendekati bahaya tapi mereka harus tetap berada di samping Ahreum untuk mencegah bahaya itu datang padanya. Mereka tentu tak ingin kejadian dimana Ahreum babak belur dikeroyok oleh gerombolannya Jiyeon itu terjadi lagi.

“Kalian membuatku terlihat bodoh,” sela Ahreum. “Aku terus saja meyakinkan kalian kalau aku jatuh dari tangga, tapi kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan aku tak menyadari itu. Aku pasti benar-benar terlihat bodoh di mata kalian.”

Suho yang melihat raut kecewa di wajah Ahreum langsung merangkul gadis itu.

“Bukan maksud kami untuk membuatmu merasa seperti itu Ahreum. Tapi kami sudah tahu persis kalau kau pasti akan mengelak walaupun kami bilang kami tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karenanya kami hanya bisa mengikuti ucapanmu, Ahreum,” ujar Suho.

“Aku mengerti,” sahut Ahreum. “Tapi kalian tidak melakukan apapun pada Eunjung kan? Kudengar dia jatuh dari tangga.”

Luhan, Chanyeol dan D.O. saling berpandangan.

“Ia memang jatuh dari tangga, tapi itu bukan ulah kami,” sahut D.O.

“Ketika kami menyuruhnya untuk minta maaf padamu dia malah melarikan diri. Dan dia terpeleset di tangga,” Chanyeol menambahkan.

“Kenapa kalian tak menolongnya?” tanya Ahreum.

“Aku ingin menolongnya. Tapi kamu kan menyuruhku untuk tidak menggunakan kekuatanku di muka umum. Jadi aku hanya bisa diam melihatnya terguling di tangga,” jawab Luhan.

Beberapa Knight dan Mastermind tertawa pelan mendengar penjelasan Luhan. Tapi mereka segera diam begitu melihat Ahreum yang kini memasang ekspresi iba di wajahnya.

“Ck, Ahreum. Berhentilah mengasihaninya. Dia bahkan tidak mengasihanimu ketika kamu terluka,” ujar Luhan.

“Aku tahu. Tapi memangnya aku tak boleh merasa kasihan? Kita tetap harus saling mengasihi walau pada orang yang menyakiti kita,” Ahreum membela diri.

“Ohh Ahreum, kamu terlalu baik hati,” puji Suho.

.

.

Dapur Ahreum sore ini mendadak penuh. Dapur itu memang selalu penuh setiap harinya, tapi kali ini suasananya terasa berbeda dari biasanya. Konter dapur yang biasaya rapi kini berantakan layaknya ada seseorang yang habis mengamuk disana. Itu semua karena hari ini adalah giliran Lay dan D.O. yang masak untuk makan malam.

Bukan karena D.O. mencincang habis semua menu masakan -D.O. bahkan belum menyentuh pisaunya sama sekali. Dapur jadi berantakan karena Lay selalu salah mengambil bahan-bahan yang akan ia masak. Ia bahkan memecahkan telur untuk dimasukkan ke dalam samgyetang (sup ayam gingseng). Akhirnya telur malang itu Ahreum jadikan dadar gulung.

“Lay, apa kamu sudah memasukkan garamnya??” tanya Ahreum. Ia mencicipi sup yang tengah dimasak Lay. Rasa sup itu cukup hambar.

“Garam??” bingung Lay. “Ahh, sepertinya aku belum memasukkannya. Tapi aku tak menemukan dimana garam itu.”

Lay mondar-mandir di dapur, mengecek setiap sudut dapur untuk mencari garam. Ahreum pun ikut membantunya. Tapi garam itu tak ditemukan dimanapun juga. Padahal Ahreum biasanya meletakkannya berdekatan dengan gula dan lada. Dan botol garam itu menghilang entah kemana.

Ahreum jadi bingung dibuatnya. Ia melihat Lay yang juga sama bingungnya. Kemudian Ahreum menemukan benda yang tak asing baginya dalam genggaman Lay.

“Lay, yang ada di tanganmu itu apa?” tanya Ahreum.

Lay pun mengangkat tangannya dan menemukan botol garam yang sedari tadi ia pegang. “Oops, ternyata garamnya disini. Sejak kapan dia di tanganku?” Lay lalu menumpahkan sedikit garam ke supnya.

“Ohh, Lay. Kamu pikir garamnya punya kaki dan berjalan sendiri ke tanganmu?” gurau Ahreum.

Dan berikutnya Lay terus bertanya pada Ahreum. Apa kamu sudah memasukan ayamnya, apa tadi ayamnya sudah kucuci sebelum kumasukan, dimana ginsengnya, apa tadi aku sudah memberi garam ke dalam supnya, dan berbagai pertanyaan terus Lay lontarkan. Lay tampak seperti anak hilang di dapur. Ia tak berhenti mengecek apakah semua bahan untuk sup sudah ia masukan atau belum. Hal ini membuat Ahreum tidak yakin akan sup buatannya.

Ahreum pun akhirnya memilih untuk mengecek keadaan D.O. Sejak Ahreum melarang D.O. masuk dapur, pemuda itu selalu tampak seperti kehilangan separuh nyawanya. Ahreum selalu merasa kalau itu karena D.O. masih merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Ahreum seminggu yang lalu. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah D.O. merasa hampa karena tidak bisa menyalurkan kecintaannya pada benda tajam yang ada di dapur (baca : pisau).

Ahreum melihat D.O. hanya memandangi tumpukan daging di hadapannya. Ahreum tadi menyuruhnya untuk mencincang daging tersebut -hal yang D.O. suka, tapi pemuda itu bahkan belum menyentuh pisaunya.

“Ada apa D.O.-ssi? Kenapa kamu belum mencincang dagingnya?” tegur Ahreum.

D.O. pun mengalihkan perhatiannya dan berpaling menatap Ahreum. “Aku sedang meditasi, Putri.”

Ahreum mengernyitkan dahinya. “Meditasi untuk apa??”

D.O. menatap Ahreum serius. “Hari ini adalah pertama kalinya aku menginjak dapur dan bertemu kembali dengannya setelah mendapat skors darimu,” D.O. membelai pisau dapur Ahreum. “Jadi aku harus meditasi sejenak untuk menyatukan kembali hati kami. Dia… pasti sangat merindukanku.”

“Ahreum, kimchinya dimasukan sekarang atau nanti?” Lay tiba-tiba datang menyela.

Ahreum bahkan belum sempat menutup mulutnya karena terlalu bingung akan ucapan D.O. Kini Lay malah menambah daya kerja otak Ahreum yang sudah stres melihat tingkah mereka. Ahreum menepuk keningnya –kebiasaan barunya jika terlalu stres akan tingkah absurd para pengawalnya.

“Ohh Lay, supnya tidak pakai kimchi. Dan kamu D.O., kurasa aku akan menggiling daging ini pakai blender saja. Jadi kalian berdua sebaiknya pergi dari dapurku!” ujar Ahreum yang sudah menutup matanya dengan tangan kirinya.

Lay dan D.O. saling berpandangan. Melihat telunjuk kanan Ahreum yang lurus menunjuk ke arah pintu dapur akhirnya keduanya pun pergi dari dapur, meninggalkan Ahreum yang sudah menghela napas panjang. D.O. tentu saja menunjukkan raut kecewanya, tapi Ahreum tak mempedulikannya. Yang Ahreum inginkan saat ini adalah kedua makhluk 4-dimensi itu keluar dari dapurnya.

Kalian benar-benar absurd! Bagaimana bisa menyatukan hati dengan pisau?! Memangnya pisau itu makhluk hidup?! Dan kimchi untuk samgyetang?! Apa itu menu baru?!! Ohh Tuhan, apa tidak ada yang benar-benar ‘normal’ disini?!

.

.

“Ahreum, sekarang bilang padaku siapa yang lebih baik! Aku atau panda jelek ini?!” seru Sehun. Ia tampak begitu kesal karena ia melihat Tao dan Ahreum tengah duduk di gazebo rumah sambil makan es krim dan bercanda ria.

“Sudah tentu aku,” sahut Tao tak mau kalah.

“Aku tanya pada Ahreum bukannya kamu Kungfu panda!” kesal Sehun.

“Sshh Sehun, bukankah sudah kubilang untuk tidak menghina saudaramu sendiri,” sahut Ahreum.

“Ahreum, kamu membelanya?!” protes Sehun tak terima.

Melihat ekspresi Sehun yang tampak. kecewa membuat Ahreum jadi merasa bersalah. “Aku tak membela siapa-siapa, tapi bukankah aku sudah buat peraturan kalau…,”

“Ahreum, kamu pilih kasih,” seru Sehun yang akhirnya berlari meninggalkan Ahreum dan Tao.

“Ada apa dengan anak itu?” gumam Ahreum. Ia kemudian menyusul Sehun yang sudah merajuk di ruang tamu. Tao pun ikutan menyusul Ahreum.

Ahreum melihat Sehun sudah duduk di sofa sambil menyilangkan lengannya di dada. Sehun memanyunkan bibirnya dan memasang ekspresi paling cemberut yang pernah ia buat. Ahreum berusaha keras menahan senyumannya karena Sehun saat ini malah tampak menggemaskan baginya dan Ahreum sungguh sangat ingin mencubit pipinya.

“Sehunni..,” panggil Ahreum. Tapi Sehun tak menyahut dan masih tetap pada posisinya.

“Sehunna,” Ahreum masih berusaha merayu Sehun. “Baiklah kalau itu maumu. Aku tak akan peduli denganmu,” ujar Ahreum. Ia lalu berbalik dan menghadapkan punggungnya pada punggung Sehun.

Sehun melirik ke arah Ahreum. Begitu dilihatnya Ahreum sudah membalikkan badannya membuat Sehun jadi ingin menyerah. Ia tak mau diacuhkan oleh Ahreum. Tapi kalau mengingat betapa Ahreum terlalu sering bermain dengan Tao membuat Sehun tetap pada pendiriannya.

“Kenapa kamu bisa bilang aku pilih kasih? Kan tadi kamu sedang mandi jadi bagaimana bisa aku main denganmu? Makanya aku main dengan Tao sambil menunggumu. Buktinya saja aku membawa tiga es krim di luar sana untuk kita. Harusnya kamu tanya dulu baru boleh marah, Sehunna,” ujar Ahreum sambil menyikut punggung Sehun.

“Aku menyukaimu, Ahreum. Tapi kamu sepertinya lebih suka dengan Mastermind. Kamu lebih dekat dengan Luhan Hyung dan Lay Hyung juga Chen Hyung. Dan sekarang dengan Tao Hyung juga. Lalu untukku kapan?” sahut Sehun.

Ahreum akhirnya membalikkan badannya untuk kembali menatap punggung Sehun. “Aku juga menyukaimu. Aku tidak membeda-bedakan kalian. Perasaanku pada kalian sama. Tidak ada yang terlalu berlebihan atau yang terlihat kurang. Semuanya sama rata, Sehun. Jadi jangan seperti ini.”

“Semuanya sama?” tanya Sehun berusaha meyakinkan dirinya. Ia sudah berbalik menghadap Ahreum untuk melihat kesungguhannya.

“Tentu saja, jadi jangan marah. Ayo kita main di belakang,” sahut Ahreum.

Sehun terdiam. Semua sama rata dihadapan Ahreum. Kalau seperti ini entah kapan salah satu dari mereka bisa menyentuh hati Ahreum.

“Tidak ada yang istimewa? Apa aku tidak istimewa?” tanya Sehun lagi.

“Tentu saja kamu istimewa. Apalagi kalau kamu sedang senyum,” Ahreum menunjukkan senyumannya untuk memancing Sehun agar mau ikut tersenyum. Ahreum juga menusuk-nusukkan telunjuknya ke pinggang Sehun agar pemuda itu merasa geli dan mau tertawa.

Sehun akhirnya menyerah terhadap pujian Ahreum. “Ohh, Ahreum. Kamu memang paling bisa menaikkan suasana.”

Ahreum pun menepuk-nepuk pelan puncak kepala Sehun sebagai imbalannya. Ahreum lalu menarik Sehun untuk menyusul Tao di halaman belakang.

Oh Ahreum. Kapan kamu bisa jatuh cinta. Kalau seperti ini terus entah kapan kita bisa mengembalikanmu ke Exoland.

.

.

“Aku sama sekali tak ada niat untuk membuat Ahreum menyukaiku,” ujar D.O.

“Hyung, Ahreum juga tak suka sama kamu. Dari apa yang kulihat, Ahreum takut padamu dan Chanyeol Hyung. Kurasa pertemuan pertama kalian tak begitu bagus dengan Hyung menghancurkan halamannya dan Chanyeol Hyung membakar pohon-pohonnya,” sahut Sehun.

Suho segera menengahi kedua saudaranya itu agar mereka tidak melanjutkan perdebatan mereka. Karena seperti yang semua tahu, D.O. sangat mudah tersinggung.

D.O. tak pernah tertarik pada apapun selain senjata tajam dan kata perang. Ia sudah memimpin beberapa perang yang melibatkan Knight serta merupakan wakil dari pemimpin Knight tertinggi –yang biasa mereka panggil kapten, bahkan bisa dibilang kedudukannya lebih tinggi dari Suho yang hanya pimpinan pasukan kecil ini. Di antara para Knight, kemampuan D.O. dalam urusan mengatur strategi perang sudah tak diragukan lagi. D.O. tak pernah memikirkan mengenai ‘menjadi pendamping keturunan Raja Janus’ sebagai tujuan hidupnya –seperti Kai. Baginya memimpin perang untuk menghancurkan raja Xenos lebih penting daripada menggoda sang putri agar mau memilihnya.

Suho paham betul akan sindrom D.O. ini. Karenanya ia tak memaksakan D.O. untuk ikut misi merebut hati Ahreum. Tapi melihat Luhan yang kini tampak mulai membuka hatinya pada Ahreum, membuat Suho berhasrat agar D.O. juga bisa seperti Luhan. Tapi sepertinya memang D.O. tak bisa semudah itu dibujuk-rayu.

“Baiklah, aku mengerti, D.O.,” sela Suho. “Ahreum tidak akan kemana-mana hari ini. Jadi kamu jangan meninggalkannya karena aku harus pergi ke mini market untuk belanja beberapa keperluan. Ingat tidak ada siapa-siapa disini jadi kamu harus menjaga Ahreum.”

D.O. menganggukkan kepalanya. Ia masih fokus pada pisau di tangannya sehingga tak memperhatikan Suho dan Sehun yang sudah keluar rumah untuk belanja. Saat ini tak ada siapa-siapa di rumah karena sebagian besar Knight dan Mastermind pergi bekerja paruh waktu. Sedangkan Ahreum tidak bekerja karena ia terlalu lelah, jadi ia meliburkan diri hari ini.

“Sehunni!” panggil Ahreum dari dalam kamarnya.

Mendengar jeritan Ahreum itu membuat D.O. menghentikan aktivitasnya dan langsung bergegas ke kamar Ahreum. D.O. mengetuk pintu kamar Ahreum sebelum masuk –karena ia ingat akan hukuman apa yang ia terima ketika menerobos masuk kamar Ahreum dan ia tak ingin hal itu terulang lagi.

“Kamu memanggil Sehun? Tapi Sehun sedang keluar sama Suho Hyung. Ada apa?” tanya D.O.

“Ohh, kamu D.O. Bisa kesini sebentar, tolong aku mengaitkan ini,” pinta Ahreum sambil melambaikan tangannya menyuruh D.O. masuk. Ahreum lalu menunjukkan punggungnya pada D.O. “Jei Eonni membelikanku gaun ini. Tapi tanganku terlalu pendek untuk meraih kaitannya. Bisa kau bantu aku,”

D.O. memandangi tampak belakang tubuh Ahreum dengan mata yang seolah hendak lepas dari peraduannya. Ragu-ragu akhirnya D.O. mendekati Ahreum. Ketika Ahreum menunjukkan kancing-kancing kecil di belakang bahunya, D.O. hanya bisa berdiri mematung. D.O. bahkan lupa untuk berkedip.

Ini bukan karena punggung Ahreum polos tanpa sehelai benang –Ahreum masih memakai kaus tanpa lengan dibalik gaun tersebut, tapi ini adalah pertama kalinya D.O. melihat kesempurnaan Ahreum walaupun hanya berupa tampak belakang.  Dan D.O. merasa canggung sekali saat ini.

“D.O. Apa kamu bisa melakukannya? Kalau tidak ya tak usah. Aku bisa menyuruh Sehun nanti,” ujar Ahreum ketika D.O. tak kunjung membantunya.

“Uhh, bagaimana caranya?” tanya D.O. grogi.

“Kamu tinggal mengaitkan semua kancing yang ada di punggungku. Aku tak tahu kenapa Jei Eonni memberikan gaun ini padaku. Gaun ini bahkan membutuhkan orang lain untuk memasang semua kancing di punggungku.” Ahreum lalu mengangkat semua rambutnya ke atas dan menunjukkan leher jenjangnya pada D.O.

Dan untuk pertama kalinya D.O. merasa gugup serta tak tahu untuk berbuat apa. Perlahan D.O. meraih kancing-kancing itu dan mulai mengaitkan kancing-kancing tersebut. Gemetar, ya akhirnya D.O. merasakannya. Perang menghadapi orang dengan kekuatan seperti apapun tak pernah membuatnya gentar, tapi situasi tak terduga ini sungguh membuat D.O. sukses nyaris tak bernapas.

“Umm, sudah, Putri,” ujar D.O. setelah mengaitkan semua kancing gaun Ahreum.

“Ohh,  kamsahamnida.” Ahreum lalu merapikan dirinya sejenak di depan cermin kemudian berpaling menghadap D.O. “ Nan eottae?? Yeppeo??” tanyanya sambil memainkan rok gaunnya.

D.O. bahkan tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya memandangi Ahreum dari atas sampai bawah. Baginya Ahreum saat ini tampak seperti heroine dari sebuah cerita kepahlawanan yang dikaguminya. Dengan gaun sederhana ditambah cahaya matahari yang menembus jendela kamar dan menyinari tubuh Ahreum, membuat Ahreum terlihat sempurna.

Ahreum akhirnya kembali mematut dirinya di depan cermin karena D.O. tak kunjung memberikan komentarnya. Ahreum sama sekali tak tahu kalau D.O. sepertinya sudah terkena sindrom Chanyeol-skinship karena saat ini D.O. ingin sekali memeluk Ahreum.

“Pantas saja mereka selalu memaksaku, ternyata seperti ini rasanya ingin membuatmu jadi milikku,” gumam D.O.

“Hmm? Wae? Kamu bicara apa tadi,” tanya Ahreum. Karena terlalu mengagumi gaun pemberian Jei, Ahreum jadi tak memperhatikan ucapan D.O.

“Eoh? Bukan apa-apa. Kamu terlihat sangat cantik, Putri Ahreum. Kamu adalah yang paling sempurna,” dan kamu sukses membuatku ingin memilikimu.

“Uwaah! Kamsahamnida D.O-ssi!” riang Ahreum sambil menepuk-nepuk puncak kepala D.O. seolah D.O. adalah anak kecil yang memberikan permen terakhirnya pada Ahreum. “Baiklah, karena kamu sudah memujiku maka aku akan memberi hadiah padamu.”

Ahreum lalu menarik lengan D.O. dan menyeretnya ke sofa di sudut kamar. Ia mendudukkan D.O. di ujung sofa sementara dirinya sendiri duduk di hadapan D.O. Pemuda itu gugup bukan main, mengingat di rumah ini tak ada siapa-siapa selain mereka berdua, membuat D.O. terkena serangan panik mendadak.

“Eeee Putri, apa yang mau kamu lakukan?” D.O. terbata bertanya.

“Memijatmu. Kamu pasti capek kan bekerja berat. Jadi sebelum kamu pingsan seperti Luhan dulu, aku akan memijatmu agar kamu kembali segar,” sahut Ahreum.

Ahreum lalu meraih lengan D.O. dan mulai memijatnya. Ahreum sempat kaget ketika ia memijat tangan D.O. Tangannya begitu keras dan terasa seperti besi baja yang kokoh. Ahreum pikir pantas saja tinju D.O. bisa membuat sebuah batu besar hancur berkeping-keping, itu semua karena tangannya yang kuat itu.

Sementara D.O. sendiri entah seperti apa perasaannya saat ini. Untuk ke sekian kalinya Ahreum menyentuhnya langsung. Dulu ketika ia dan Ahreum pertama kali bersentuhan, dirinya tak merasakan apapun terhadap Ahreum. Tapi untuk saat ini bernapas saja D.O. sampai lupa.

“Putri Ahreum, maaf. Tapi apa boleh aku melakukan sesuatu padamu?” tanya D.O. setelah kembali dari alam bawah sadarnya.

“Apa? Bukan sesuatu yang aneh kan? Kalau kamu meminta untuk mencincang menu di dapur lagi maka tak boleh,” ujar Ahreum curiga.

“Bukan itu. Tapi aku ingin melakukan ini,” D.O. menempelkan telapak tangannya di pipi Ahreum. Sama seperti ketika Ahreum menyetuh D.O. untuk pertama kalinya, D.O. menangkup wajah Ahreum. D.O. menutup matanya merasakan kehangatan dari pipi Ahreum yang mengalir ke telapak tangannya.

“Aku selalu bertanya-tanya apa yang membuatmu selalu tampak hangat. Ternyata hatimu lah yang membuat suasana jadi hangat. Dan Putri apa kamu tahu kalau kamu jauh lebih hangat dibandingkan api Chanyeol.”

Ahreum memandangi D.O. bingung. Ia rasa ia tak akan pernah bisa menebak jalan pikir D.O. Karena D.O. yang tampak pendiam diluar itu sekalinya bicara selalu membuat Ahreum menghabiskan waktu lama untuk mencerna ucapannya. Tapi karena ia pikir D.O. sedang memujinya saat ini jadi Ahreum hanya bisa tersenyum tulus pada D.O.

Kamsahae. Dan kamu, D.O., adalah Knight terhebat yang pernah kutemui,” ujar Ahreum. “…dan itu adalah pujian.”

D.O. pun menunjukkan cengirannya pada Ahreum. Baginya ini adalah moment terbaik yang pernah ia miliki. Mendapatkan pujian dari Ahreum ternyata jauh lebih berharga dari ratusan perang yang pernah ia pimpin.

Kurasa membuatmu menjadi milikku adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan kepuasan batin ini. Putri Ahreum, apa boleh aku menyukaimu?

.

.

.

“Kenapa Lay belum pulang juga??” keluh Ahreum.

Ahreum menopangkan kepalanya di meja makan menunggu satu-satunya pengawal kesayangannya yang belum pulang ke rumah. Ia ingin menunjukkan pada Lay gaun pemberian Jei yang sudah seharian ini ia pakai.

“Ada aku disini, Ahreum. Kenapa kamu masih mencari unicorn pelupa itu sih?” sahut Kai.

Ahreum langsung melancarkan death-glare nya pada Kai. “Jaga ucapanmu, Kai. Ingat, tak boleh me..,”

“…menghina sesama rekanmu sendiri. Iya, aku tahu,” Kai memotong ucapan Ahreum. “Lagipula kenapa kamu mencari-cari Lay Hyung?”

“Aku mau menunjukkan gaun ini padanya,” sahut Ahreum.

“Kamu cantik dengan gaun itu. Apa kamu mau semuanya, dua belas pria ini mengatakannya padamu? Semuanya pasti akan mengatakan hal yang sama. Kamu terlihat cantik.. walau hanya memakai handuk,” ujar Kai sambil kembali menunjukkan seringai menyebalkannya.

Wajah Ahreum langsung merah padam. Kai secara sengaja mengulang kembali kilasan memori yang paling ingin Ahreum hapus dari hidupnya. Sebuah kejadian memalukan yang nyaris membuat Ahreum tak punya muka untuk melihat pengawal-pengawalnya itu. Kejadian dimana mereka secara tidak sengaja mendapati Ahreum hanya sedang berbalut sehelai kain handuk.

Ketika itu Ahreum baru selesai mandi dan ia lupa membawa serta piyamanya. Jadi Ahreum mau tak mau keluar kamar mandi dengan hanya memakai kain handuk yang menutupi tubuhnya. Dan betapa tidak beruntungnya Ahreum, ketika ia baru keluar beberapa langkah dari kamar mandinya tiba-tiba pintu kamarnya terbuka lebar, D.O. menerobos masuk ke kamar Ahreum tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Ahreum yang kaget tentu saja langsung menjerit panik sementara D.O. langsung menutup kedua matanya. Karena jeritannya itulah dalam sekejap mata kamar Ahreum langsung dipenuhi oleh para pengawalnya yang mengira kalau Ahreum dalam bahaya. Bahkan Kai berteleport dan muncul persis di hadapan Ahreum. Pekikan ronde dua pun lolos dari mulut Ahreum.

Begitu menyadari kalau mereka berada di situasi yang salah, Suho dan Kris segera menarik semua rekannya keluar dari kamar Ahreum (dan butuh tenaga extra untuk membuat Kai bergerak dari hadapan Ahreum). Setelah itu Ahreum tak keluar kamar selama seharian penuh. Ia malu bukan main. Bagaimana tidak, dua belas pemuda itu melihatnya dalam keadaan yang bisa dibilang setengah telanjang. Berkat bujuk rayu dari Suho dan Baekhyun serta sedikit hipnotis dari Lay, akhirnya Ahreum melupakan kejadian itu. Sementara D.O. tentu saja ia mendapat pelajaran dari rekan-rekannya (menurut Tao, Chanyeol hampir menghanguskan tangan D.O. karena menerobos masuk kamar Ahreum).

Ahreum menggelengkan kepalanya mengingat kejadian tersebut. Ia lalu meraih apel di meja dan menyumpalkannya ke mulut Kai.

“Berani kamu mengingatkanku akan kejadian itu lagi maka bukan hanya D.O. yang akan merasakan apinya Chanyeol. Kamu mau aku menyuruh Xiumin untuk membekukanmu atau kamu mau aku menyuruh Chen untuk menyambarmu dengan petirnya? Ughh kamu menyebalkan sekali,” kesal Ahreum yang sudah menggembungkan pipinya.

Kai hanya cekikikan melihat amarah Ahreum. Kai lalu mencubit pipi Ahreum pelan. “Inilah yang membuatku senang menggodamu. Kamu terlihat menggemaskan ketika sedang marah.”

Ahreum melirik ke arah Kai. Ahreum baru menyadari kalau Kai terlihat polos ketika sedang tertawa. Ahreum tak pernah melihat Kai tertawa (dalam artian sebenarnya), ia lebih sering melihat Kai menyeringai. Melihat sisi Kai yang manis ini mau tak mau membuat Ahreum jadi ikut tersenyum bersamanya.

“Kamu menyebalkan tahu. Bagaimana bisa kamu senang melihatku marah. Apa kamu senang melihatku cepat tua karena terlalu banyak marah?” gerutu Ahreum.

“Kalau begitu aku akan bertanggung jawab. Kalau tak ada yang mau denganmu karena kamu terlihat tua, maka datanglah padaku. Aku menerimamu apa adanya. Bahkan dengan tempramenmu yang ajaib itu,” ujar Kai tulus.

Ahreum terdiam mendengar ucapan Kai. Belakangan ini memang rasanya sikap semua pengawalnya semakin hari semakin frontal saja dalam menunjukkan perasaannya pada Ahreum. Gadis itu sendiri tak terlalu mengerti dengan situasi yang terjadi. Ia hanya menduga kalau pengawal-pengawalnya itu hanya sedang mengungkapkan rasa terima kasih mereka terhadap dirinya.

Tapi seberapa kuat Ahreum untuk mengabaikan semua perhatian dan perasaan mereka tetap saja Ahreum selalu merasa goyah akan pendiriannya. Siapa yang bisa tahan menghadapi godaan-godaan dari dua belas orang pemuda sekaligus setiap hari. Bahkan seorang Ahreum bisa jadi kehilangan kepercayaan dirinya karena mereka.

.

.

.

.

.

.

.

bee

The eleventh chapter is out!!!.

woahh.. ahreum with awkward umma, D.O.

Ohemji bee apa yang udah kamu perbuat pada Lay dan D.O.?? Kenapa adegan dapurnya jadi ngaco lagi kaya gitu?? Puhahaha menyatukan hati dengan pisau *so priceless* dan Sehun is forever being childish maknae.  Ahreum-kai beredar lg disini 😀

Siapa yang penasaran sama pestanya Jiyeon?!!! Tentu aja Jiyeon bukan cuma sekedar ngundang Ahreum. Yang pasti ada udang dibalik bakwan batu.. kkk
PS: lg males bikin cover jadinya abal gitu posternya -___-

thanks for your attention!! annyeong!!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 11 – Invitation | PG15

13 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 11 – Invitation | PG15

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s