FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 10 – Attack!! | PG15


chapter10

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter 10 – Attack!!

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

other Cast:

Jiyeon T-ara as Park Jiyeon

Eunjung T-ara as Ham Eunjung

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life,

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Mean

Chapter 10 | Attack

.

.

.

.

.

Attack!!

.

.

“Apa yang sedang kamu lakukan, Chanyeol?” tegur Ahreum malas.

Begitu bertemu Ahreum ketika istirahat siang, Chanyeol langsung memeluk Ahreum dari belakang layaknya boneka teddy yang besar. Ia juga memegang erat kedua tangan Ahreum, seolah takut Ahreum akan pergi jauh darinya.

Bukannya menjawab, Chanyeol malah mempererat pelukannya pada Ahreum. Ini membuat Ahreum jadi susah bernapas.

“Ughh… Beginikah caramu melindungiku? Memelukku erat-erat?” tanya Ahreum.

Chanyeol mengangguk antusias di pundak Ahreum. Gesekan rambut Chanyeol di tengkuk Ahreum membuat gadis itu bergidik geli.

“Aku merindukanmu. Aku nyaris tak bisa bertemu denganmu. Begitu bangun, kita langsung ke sekolah dan pulang sekolah kamu langsung pergi dengan Lu-Baek, begitu sampai di rumah kamu langsung tidur, jadi aku tak punya kesempatan untuk memelukmu.”

“Uhh, kamu bukannya melindungiku Chanyeol. Kamu membunuhku secara perlahan. Kamu membuatku susah bernapas,” sesak Ahreum yang tak mendengarkan keluhan Chanyeol tadi.

Sehun akhirnya melepaskan Chanyeol dari Ahreum. “Hyung, bertingkahlah sesuai umurmu. Kamu ini benar-benar tampak seperti anak umur tiga tahun saja,” omelnya.

“Aku hanya mau memeluknya lalu kenapa?!” protes Chanyeol. “Ahreum katakan padaku, apa kamu tak menyukainya? Kamu tak suka ketika kupeluk? Putri Ahreum, ayo jawab.”

Seseorang tolong bungkam manusia api ini sekarang juga, rutuk Ahreum. Rasanya Ahreum ingin menenggelamkan dirinya saat ini. Bagaimana tidak, Chanyeol mengatakan hal-hal memalukan itu di koridor sekolah, saat istirahat siang dan di hadapan puluhan siswa-siswi yang memadati koridor ini. Ahreum malu bukan main.

Akhirnya Ahreum menyuruh Chanyeol merunduk agar ia bisa membisikkan sesuatu padanya.

“Aku tak suka kalau kamu melakukannya di sekolah. Jadi jangan memelukku ketika di sekolah,” bisik Ahreum sedikit kesal.

“Lalu kalau di rumah, boleh?” tanya Chanyeol.

Ahreum berpikir sejenak dan kemudian ia mengangguk. Tapi Ahreum segera menyesali jawabannya. Karena Chanyeol kini makin hyper.

“Yeahh!! Kamu dengar itu?! Ahreum bilang aku boleh memeluknya di rumah. Haha kau tidak,” seru Chanyeol girang seraya menjulurkan lidahnya pada Sehun.

Dan kini mulut semua murid di koridor terbuka lebar mendengar seruan Chanyeol.

Ohh seseorang tolong BUNUH manusia api ini!

.

.

“Aku hanya mau beli pakaian dalam, kenapa kalian harus ikut sih?!” protes Ahreum pada tiga orang pemuda yang mengikutinya.

Sejak dari rumah, Ahreum sudah mengacuhkan Chanyeol, D.O., dan Sehun yang membuntut di belakangnya. Tapi kini kesabaran Ahreum sudah habis karena mereka dengan santainya ikut masuk ke toko pakaian dalam wanita. Ahreum dengan segera menarik mereka keluar menjauh dari toko tersebut.

“Tapi kenapa tak boleh?? Biarkan aku ikut, nanti akan kubantu pilih pakaian yang cantik untukmu,” sahut Chanyeol.

Ahreum menepuk keningnya sendiri mendengar pernyataan Chanyeol. Ia akhirnya mengeluarkan aura terkelamnya serta ekspresi yang paling ditakuti oleh para pengawalnya. “Diam disini dan jangan membuntutiku. Tunggu aku disini, mengerti?!!”

Tiga pemuda malang itu hanya bisa mengangguk setuju. Karena Ahreum yang dengan wajah mengkerut serta tangan yang sudah bertolak pinggang seperti sekarang ini bisa melakukan sesuatu yang menakutkan pada mereka yang membantah ucapannya. Karenanya Chanyeol, D.O., serta Sehun hanya bisa menuruti ucapannya. Tentu saja mereka akan selalu kalah dari Ahreum.

“Baik, putri,” kompak mereka.

Setelah memandangi pemuda itu satu persatu –mencari tahu apakah mereka akan membantah atau tidak– Ahreum pun kembali ke toko yang ditujunya.

Begitu Ahreum pergi, ketiga pemuda itu langsung menghela napas lega.

“Woah, Ahreum kalau sudah seperti itu menyeramkan,” ujar Sehun.

“Walau dia menyeramkan, tapi dia tetap cantik,” sahut Chanyeol.

Ketiga pemuda itu lalu memperhatikan sekeliling mereka. Kali ini Ahreum tidak membawa mereka ke pusat perbelanjaan yang besar seperti dulu, melainkan ke daerah pertokoan yang bisa dibilang tidak terlalu ramai oleh orang-orang yang lalu lalang. Ketika sedang melihat-lihat, D.O. menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. D.O. pun melangkah meninggalkan Chanyeol dan Sehun, menuju ke kerumunan orang-orang.

“Hyung, kamu mau kemana? Ahreum menyuruh kita menunggu disana dan tidak boleh kemana-mana,” cegah Sehun.

“Aku hanya mau kesana sebentar,” sahut D.O.

Di ujung jalan pertokoan ini ada sebuah pertunjukan kecil. Sekelompok anak muda yang bermain kungfu untuk mencari uang. D.O. sudah tiba di kerumunan itu, bersama dengan dengan Chanyeol dan Sehun yang membuntut di belakangnya. Tapi karena postur tubuhnya yang pendek, jadi D.O. tak bisa melihat pertunjukan silat tersebut.

“Yah, Chanyeol. Gendong aku, tak keliatan nih,” ujar D.O. sambil menarik tangan Chanyeol.

Chanyeol malah memaksa D.O. menerobos orang-orang dengan terus mendorongnya sampai ke depan barisan. Keduanya kini sudah berada di depan barisan, meninggalkan Sehun yang masih tertahan di belakang orang-orang.

“Aishh hyungdeul itu susah sekali dikasih tahunya,” gerutu Sehun.

Akhirnya Sehun memilih mundur dan menunggu kakak-kakaknya itu di pinggir jalan. Tapi begitu melihat warung es krim, Sehun pun langsung menghampirinya. Dengan senang hati ia langsung memesan dua cup es krim –untuknya dan untuk Ahreum. Lalu ia melihat permen kapas yang menarik perhatiannya.

“Ahjumma, ini apa?” tanya Sehun sambil menunjuk permen kapas berwarna pink.

“Ohh, itu permen kapas. Kamu tak tahu permen kapas??” Sehun menggeleng menjawab pertanyaan bibi pemilik warung. “Kamu darimana, nak? Apa kamu baru disini?”

“Hmm, aku baru disini. Aku sedang menemani Ahreum-ku belanja,” sahut Sehun.

“Oh, kamu sedang menemani kekasihmu. Baiklah, karena kamu tampan, ini kuberi gratis permen kapasnya. Pacarmu pasti akan suka,” ujar bibi tersebut.

“Woaah, kamsahamnida, Ahjumma. Ahreum pasti akan suka sekali,” riang Sehun.

Sementara itu Ahreum yang sudah selesai membeli kebutuhannya, kebingungan mencari tiga pemuda yang tadi ia suruh untuk menunggu di dekat toko tujuannya. Ahreum yang panik mendatangi toko-toko di daerah itu satu persatu berharap Chanyeol, D.O. dan Sehun mampir kesana. Tapi nihil, Ahreum tak menemukan mereka.

“Ughh, kemana sih perginya anak-anak itu?! Tadi ngotot minta ikut dan sekarang mereka meninggalkanku. Mereka itu susah sekali diaturnya,” gerutu Ahreum.

Ahreum mencari mereka ke arah berlawanan dari posisi tiga pemuda itu. Dan ketika ia melewati gang yang cukup sepi, tiba-tiba ada yang membungkam mulutnya. Ahreum yang panik tentu saja langsung meronta berusaha melepaskan diri. Tapi si pemilik tangan cukup kuat untuk menyeretnya masuk ke gang-gang sempit sampai akhirnya mereka tiba di ujung jalan buntu. Orang tersebut lalu melepaskan Ahreum dan menghempaskannya ke tanah.

“Siapa kalian?! Jangan coba macam-macam!!” ancam Ahreum.

Ahreum melihat ada empat orang di hadapannya. Mereka semua memakai masker dan hoodie, jadi Ahreum tak bisa melihat wajah mereka.

“Ini dia anak yang mengganggu Jiyeon. Jiyeon akan senang kalau tahu aku menghukum anak ini. Karenanya cepat kalian beri dia pelajaran,” ujar salah satu diantara mereka.

Ahreum mengenali suara itu. Suara itu tak asing baginya. Itu adalah suara salah satu pengikutnya Jiyeon, Ham Eunjung. Tumben-tumbenan anak itu bergerak tanpa Jiyeon, pikir Ahreum.

Tapi semua pikiran Ahreum itu buyar karena kini salah satu dari anak-anak itu sudah menarik Ahreum dan memaksanya untuk berdiri. Ia menampar Ahreum keras sekali. Ahreum merasakan pipinya panas dan perih. Ia juga merasa kepalanya berdenging dan Ahreum mencium bau zat besi dari dalam mulutnya –mulut Ahreum berdarah akibat tamparan orang tersebut.

Belum sempat Ahreum melawan, orang-orang itu kembali menyerangnya. Mereka meninju perut Ahreum, menamparnya lagi dan menendangnya hingga Ahreum jatuh terseungkur menabrak tumpukan kantong-kantong sampah.

Ahreum meringis. “Kenapa kalian melakukan ini padaku? Apa salahku? Jiyeon saja sudah tak menggubrisku lagi, kenapa..,” rintih Ahreum sambil mengusap sudut bibirnya.

“Karena kamu menyebalkan, Ahreum. Kalau kamu tak ada, Jiyeon pasti senang karena dia bisa dekat dengan Kris. Tapi kamu benar-benar pengganggu!” seru Ham Eunjung. “Apa lagi yang kalian tunggu?! Cepat habisi dia!”

Salah satu teman Eunjung kembali menarik Ahreum agar berdiri. Kali ini Ahreum memiliki kesempatan untuk melawannya. Ahreum menendang kaki orang tersebut. Begitu juga ketika temannya hendak meraih Ahreum, dengan segera Ahreum menghindar dan kembali menendang anak itu. Disaat seperti ini Ahreum cukup merasa berterima kasih pada kakeknya yang mengajari ilmu bela diri sederhana serta pada para pengawalnya yang selalu menjadi bahan pelatihan Ahreum.

“Berani juga anak ini,” gerutu Eunjung.

Dan ketika Ahreum lengah, Eunjung langsung menendang punggung Ahreum. Gadis itu pun tersungkur di atas tumpukan kantong sampah, lagi. Ahreum merasakan perih di kakinya, ternyata kakinya kena pecahan kaca dari dalam kantong sampah tersebut. Sebelum Ahreum sempat menghindari pecahan kaca itu, tendangan dan pukulan sudah menghujani tubuhnya.

“Berhenti! Kenapa dia berdarah?!” panik Eunjung.

Semuanya kompak melihat darah yang mengalir dari kaki Ahreum. Karena panik dan takut, mereka pun akhirnya meninggalkan Ahreum disana.

“Se…hun, Chan… D.O..,” lirih Ahreum.

.

D.O. yang sedang serius menonton pertandingan silat jalanan itu mendadak merasa kehilangan. Entah kenapa tapi ia merasa tidak tenang, begitu juga dengan Chanyeol dan Sehun. D.O. dan Chanyeol pun keluar dari kerumunan dan bertemu dengan Sehun yang sudah menunggu mereka di luar kerumunan.

“Hyung! Aku tadi mendengar teriakan Ahreum. Dia pasti sedang mencari kita,” panik Sehun.

“Chanyeol, aku tak merasakan kehadiran Putri Ahreum disini. Apa kamu bisa menciumnya?” ujar D.O.

Chanyeol mengendus-endus udara di sekitarnya. Wajah Chanyeol memucat begitu berhasil mencium bau tubuh Ahreum. “Baunya menjauh dan… amis… darah.”

Sehun makin panik mendengar ucapan Chanyeol. D.O. pun langsung berjongkok dan menempelkan telapak tangannya di tanah. D.O. berusaha merasakan dimana detak jantung Ahreum berada.

“Belokan depan di gang kecil sebelah kiri nomor tiga,” gumam D.O.

Begitu mendapat dimana posisi Ahreum berada, ketiganya segera berlari kesana. Mereka cukup takut saat ini. Takut terjadi sesuatu pada Ahreum. Kalau ya sampai Ahreum kenapa-kenapa, mereka tak akan pernah bisa memaafkan diri mereka sendiri.

Ketiganya tiba di gang buntu tempat Ahreum berada. Kagetlah mereka begitu melihat kondisi Ahreum. Ia sudah terbaring di atas tumpukan sampah dan penuh darah.

“Ahreum!!!”

Sehun tampak shock melihat Ahreum, sementara D.O. ekspresinya bercampur aduk antara kaget, takut, marah dan kesal. Chanyeol yang langsung menghampiri Ahreum. Dengan perlahan dia menahan badan Ahreum.

Begitu melihat wajah Chanyeol, Ahreum berusaha menutup wajahnya. “Jangan lihat aku, Yeol. Aku terlihat jelek saat ini..,”

Chanyeol berusaha memaksakan senyumnya pada Ahreum. Tanpa banyak bicara, Chanyeol langsung menggendong Ahreum dengan hati-hati. Chanyeol pun bergegas pergi dari tempat terkutuk itu, diikuti oleh D.O. dan Sehun yang sudah menangis.

.

Chanyeol tak bisa memikirkan akan dibawa kemana Ahreum saat ini, karenanya ia memilih untuk membawa Ahreum pada Lay. Chanyeol tak mungkin membawanya ke rumah karena penghuni rumah pasti akan lebih dulu membantai dirinya sebelum menyelamatkan Ahreum. Jadi klinik tempat Lay bekerjalah yang langsung terlintas di pikiran Chanyeol.

“Apa yang terjadi? Kenapa Ahreum sampai seperti ini?!” panik Lay begitu melihat Chanyeol membawa Ahreum yang sudah dalam keadaan setengah sadar.

Lay langsung membaringkan Ahreum di ranjang pasien dan menyerahkan Ahreum pada dokter yang berwenang. Sementara sang dokter membersihkan luka-luka Ahreum, Lay langsung mengkonfrontir tiga rekannya yang membawa Ahreum ke hadapannya.

“Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa seperti itu? Apa kalian tak menjaganya?” Lay menginterogasi ketiganya.

Baik Chanyeol, D.O., maupun Sehun tidak ada yang bisa berkata apa-apa. Mereka sadar betul kalau mereka sudah lalai dalam menjalankan tugas.

“Maafkan aku,” sahut D.O. Suaranya nyaris tak terdengar.

“Siapa yang melakukannya pada Ahreum?” tanya Lay lagi.

“Aku akan mencarinya. Aku akan menemukannya dan akan kupastikan orang-orang itu tak selamat,” tekad Chanyeol.

“Tentu saja kalian harus mencarinya,” tegas Lay. “Berdoalah agar dokter bisa menyembuhkan luka yang tak bisa kusembuhkan. Karena kalau tidak, habislah kalian.”

Lay kembali ke Ahreum untuk mengecek keadaannya. Dokter sudah menjahit luka di kaki Ahreum –sebanyak sepuluh jahitan– dan mengobati luka-luka di wajah dan badan Ahreum.

“Mana yang sakit, Ahreum? Bilang padaku,” ujar Lay sambil membelai rambut Ahreum.

“Sudah tidak sakit lagi. Dokter sudah mengobatiku,” sahut Ahreum. Ia tersenyum berusaha meyakinkan Lay kalau dirinya baik-baik saja.

“Dia kekasihmu, Lay?” tegur sang dokter. Lay mengangguk. “Dia baik-baik saja. Biarkan dia istirahat disini sebentar sampai lukanya kering, baru kamu boleh membawanya pulang.”

“Saya boleh pulang cepat, Dok?” tanya Lay.

“Ya, kamu rawatlah pacarmu ini,” sahut sang dokter.

Kamsahamnida,” sahut Lay dan Ahreum berbarengan sebelum dokter itu meninggalkan mereka.

Lay memandangi wajah Ahreum. Ia merasa sangat bersalah terhadap Ahreum. Lay meraih wajah Ahreum dan mengusapkan jempolnya di atas plester antiseptik yang menutupi luka di pipi Ahreum.

“Pasti sakit sekali ya,” gumam Lay ketika Ahreum meringis kesakitan.

Ahreum mengangguk pelan. Ia lalu menumpukan tangannya di atas tangan Lay. “Maafkan aku.”

“Kenapa kamu yang minta maaf, Ahreum? Bukan kamu yang salah. Tapi kami,” sahut Lay. “Kami tak bisa menjagamu.”

“Ini salahku, Lay. Aku menyuruh mereka menunggu disana tapi aku malah pergi ke tempat lain. Makanya aku mendapat hukuman seperti ini,” sahut Ahreum.

“Siapa yang menyakitimu, Ahreum? Apa mereka orang yang kamu kenal? Atau mungkin Jiyeon yang menyerangmu?” tanya Lay.

Mungkin sebaiknya Ahreum mengatakan saja pada pengawalnya ini siapa yang menyerangnya. Tapi Ahreum tak sampai hati mengeluh pada mereka. Lagipula Ahreum percaya kalau anak-anak yang menyerangnya itu bukan atas suruhan Jiyeon. Karena Ahreum tahu persis Jiyeon tak akan pernah main keroyokan untuk memukulinya. Sebab Ahreum tahu Jiyeon akan lebih puas jika dia sendiri yang menyakiti Ahreum. Selain itu Ahreum juga tak ingin para pengawalnya itu menyimpan dendam.

“Mereka salah orang. Mereka hanya pencuri yang mau merebut barang-barangku. Begitu tahu kalau belanjaanku hanya pakaian dalam, mereka langsung meninggalkanku,” Ahreum mengarang cerita.

Lay tahu Ahreum menutupi kejadian sebenarnya. Lay sangat paham seperti apa sifat Ahreum.

“Baiklah kalau kamu tak mau menceritakan kejadian sebenarnya. Tapi luka-luka ini kita sembuhkan dulu, ya,” ujar Lay.

Ahreum langsung menarik kakinya, menolak jika Lay ingin menggunakan kekuatannya pada Ahreum. “Jangan! Aku tak mau kau kehilangan energi seperti Luhan dulu. Kamu pasti sudah banyak menggunakan kekuatanmu hari ini kan?”

Lay kembali menarik kaki Ahreum perlahan. “Hanya luka seperti ini tidak akan membuatku kehabisan energi. Kita harus menyembuhkan lukamu. Kamu tak mau pulang dengan menunjukkan sepuluh jahitan di kakimu pada orang-orang di rumah kan? Dduizhang pasti akan marah besar kalau melihat luka baru di tubuhmu, apalagi sebesar ini.”

Ahreum terdiam. Ia cukup takut kalau Kris sudah marah.

Lay tahu Ahreum pasti masih akan menolak. Tapi Lay memiliki metode khusus untuk membujuk Ahreum. Lay tahu persis kalau Ahreum lebih memikirkan orang-orang di sekitarnya dibanding dirinya sendiri. Karenanya Lay harus membuat Ahreum memikirkan nasib Chanyeol, D.O., dan Sehun.

“Kamu pikir Kai akan diam saja begitu melihat kamu terluka? Dia pasti akan langsung membantai Chanyeol, D.O., dan Sehun. Coba kamu pikir apa yang akan dilakukan Tao pada Sehun disaat kamu tak menyadarinya. Pikirkanlah nasib mereka Ahreum. Aku akan menghilangkan luka di kakimu ini dan kita bisa bilang pada orang rumah kalau kamu habis jatuh dari tangga. Bagaimana?” bujuk Lay.

Ahreum pun termakan bujuk rayu Lay. Ia akhirnya setuju agar Lay menyembuhkan luka di kakinya. Nasib Chanyeol, D.O., dan Sehun yang dipertaruhkan disini.

“Aku hanya bisa menyembuhkan luka yang terbuka, Ahreum. Untuk lebam di wajahmu, kurasa aku hanya bisa mengandalkan obat dokter.” Lay lalu mengusap luka di kaki Ahreum. Rasa hangat langsung menyelimuti kaki Ahreum. Perlahan tapi pasti luka di kaki Ahreum merapat.

Ahreum lalu berpaling melihat Sehun, Chanyeol dan D.O. yang berdiri di luar kamar klinik. Tak tega melihat aura kelam mereka, Ahreum pun memanggil mereka. Ahreum ingin mengurangi rasa bersalah mereka.

“Sehunni, Yeol, D.O.-ssi. Apa kalian tetap akan berdiri disana dan tidak mau menemaniku disini?” tegur Ahreum. “Ohh ayolah angkat kepala kalian. Lihatlah, Lay sudah menyembuhkan lukaku. Jadi kalian tak perlu khawatir lagi.”

Ketiganya pun mendekat pada Ahreum. Mereka masih menjaga jarak pada Ahreum

“Maafkan aku, Ahreum,” ujar Sehun.

Ahreum mengulurkan tangannya untuk menarik Sehun agar mendekat. “Aku yang salah, Sehuni. Kalau saja aku membiarkan kalian ikut pasti hal ini tidak akan terjadi bukan. Jadi jangan seperti ini,” bujuk Ahreum.

Ahreum melihat kembang gula yang di bawa Sehun. Ahreum pun langsung berbinar-binar melihat penyebab utama dalam kerusakan gigi itu. “Itu harum manis?? Apa untukku??”

Sehun mengangkat kembang gula di tangannya kemudian memberikannya pada Ahreum. “Ini kembang gula, Ahreum. Bibi penjual eskrim memberinya gratis padaku. Ini untukmu.”

“Woahh!! Kamsahamnida! Tapi Sehunni, harum manis dengan kembang gula itu sama saja.” Ahreum langsung membuka bungkus kembang gula itu. “Wahh, baiklah karena kamu membawakanku harum manis jadi kamu dimaafkan, Sehunni.”

“Ahreum, kami pantas kamu hukum,” ujar Chanyeol.

Ahreum mengangguk setuju. “Tentu saja kalian akan dihukum karena tidak mematuhi ucapanku. Kamu, Chanyeol, mulai sekarang akan jadi pengganti kakiku kalau aku malas berjalan serta harus menjagaku lebih baik lagi. Dan kau D.O.-ssi dilarang masuk dapur selama seminggu ke depan serta harus mengajariku beladiri mulai besok. Tidak boleh membantah. Itulah hukuman dariku.”

Chanyeol dan D.O. saling pandang. Bagi mereka hukuman itu terlalu mudah. Ahreum dengan kebaikan hatinya itu membuat mereka jadi makin merasa bersalah.

Ahreum sendiri sebenarnya sudah melupakan kejadian mengerikan tadi. Ia kini menikmati kembang gula pemberian Sehun sambil menyuapi kembang gula itu pada Sehun dan Lay. Ahreum juga sesekali mengelap peluh di pelipis Lay.

“Ingatlah kalian. Nanti bilang sama yang lainnya kalau aku jatuh dari tangga. Jadi Kris atau Kai tak akan marah pada kalian. Ok,” ujar Ahreum.

Disaat seperti ini keempat pemuda itu merasa kalau mereka bukanlah pelindung Ahreum. Karena saat ini malah Ahreum yang melindungi mereka, bukan sebaliknya. Keempatnya mengangguk setuju. Mulai detik ini baik Chanyeol, D.O. maupun Sehun tak akan pernah lagi berani membantah ucapan Ahreum.

.

.

Kris menahan Ahreum saat ini. Ia memandangi wajah Ahreum, meneliti setiap sudut wajahnya. Ekspresinya sungguh tak bisa ditebak. Entah itu marah, sedih, terluka, kesal, atau apapun itu Ahreum tak bisa menebaknya. Tapi dipandangi seperti ini oleh Kris membuat Ahreum jadi salah tingkah.

“Apa? Aku kan sudah bilang kalau aku jatuh dari tangga. Dan jangan coba-coba memarahi mereka bertiga. Aku yang menyuruh mereka menunggu di luar,” ujar Ahreum.

Tapi Kris masih tak beranjak dari tempatnya. Ia masih memandangi Ahreum tajam.

“Baiklah, mulai sekarang kalian dapat izin untuk melindungiku dari dekat. Aku bahkan mengizinkan kalian untuk ikut ke dalam toilet umum, kalau aku ke toilet. Jadi jangan menatapku seperti itu. Kamu membuatku salah tingkah,” gusar Ahreum.

Kris akhirnya mengulurkan tangannya dan meraih pipi Ahreum. Kris membelai wajah Ahreum dan menyentuh luka di pipinya.

“Sakitkah?” tanya Kris.

Ahreum meringis. “Tentu saja sakit. Kalau kamu menyentuh yang tidak di plester baru tidak sakit,” keluhnya.

“Aku akan mencari siapapun itu, Ahreum, yang membuatmu sampai seperti ini. Mereka tidak akan hidup tenang,” ujar Kris geram.

Ahreum terbelalak mendengar ucapan Kris. Bagaimana Kris bisa menebak kalau ada orang lain dibalik semua luka Ahreum? Ahreum pun panik. “Kris, kan kubilang aku jat…,”

“Aku tidak akan melakukan apapun pada Sehun, Chanyeol ataupun D.O., kalau kamu takut itu terjadi. Ini hanya membuktikan padaku walaupun dengan penjagaan seperti itu kamu masih saja terluka. Jadi mulai sekarang kamu harus terima apapun yang aku katakan. Aku tak akan membiarkan siapapun berani melayangkan tangannya padamu lagi,” geram Kris. Ia lalu berbalik meninggalkan Ahreum.

“Luhan!!! Kumpulkan yang lain!! Kita rapat di lantai tiga!!”

Ahreum hanya bisa tersentak kaget mendengar seruan Kris itu.

.

.

Pintu kamar Ahreum tiba-tiba terbuka lebar. Kai menerobos masuk kamarnya ketika Ahreum sedang bermain bersama Sehun dan Chanyeol. Mereka langsung tersentak kaget melihat kehadiran Kai.

“Suho Hyung bilang kamu jatuh dari tangga?!” ujar Kai. Raut kekhawatiran terpancar jelas di wajahnya. Tapi begitu melihat kondisi Ahreum, Kai tahu persis kalau Ahreum bukan habis jatuh dari tangga.

“Aigoo, Kai. Kamu nyaris menghancurkan pintuku,” keluh Ahreum. “Aku baik-baik saja. Lagipula Lay sudah menyembuhkanku. Aku bahkan tak merasa sakit lagi.”

Kai memandangi Ahreum dengan seksama. Raut khawatirnya segera berubah menjadi geram akan sesuatu. Kai akhirnya menarik Chanyeol.

“Hyung, kamu yang bertugas menjaganya siang ini kan?”

Ahreum langsung menahan lengan Kai. “Iya, tapi aku jatuh atas kesalahanku sendiri. Ini bukan salah Chanyeol,” Ahreum berusaha membela Chanyeol.

“Hyung, kamu ikut aku,” tegas Kai. Ia melepaskan tangan Ahreum dan langsung menghilang bersama Chanyeol.

Ahreum panik dibuatnya. Ia takut Kai akan menghukum Chanyeol. “Bagaimana ini, Sehun? Kai tak mungkin tahu kejadian sebenarnya bukan?? Bagaimana kalau Chanyeol kenapa-kenapa??”

Sehun hanya bisa memandangi Ahreum iba. Ohh Ahreum, seberapa keras kamu berusaha menutupinya, tapi semuanya sudah tahu kalau kamu memang disakiti oleh orang lain bukan karena jatuh dari tangga. Kenapa kamu begitu naif, Ahreum.

.

.

Kai membawa Chanyeol ke halaman belakang rumah Ahreum. Disana sudah ada Suho, Baekhyun dan D.O. yang menunggu mereka. Para Knight sedang berkumpul untuk mencari tahu siapa yang menyebabkan Ahreum terluka.

“Apa kamu mengingat baunya??” tanya Baekhyun.

Di antara para Knight, hanya indra penciuman Chanyeol lah yang paling kuat. Mungkin kemampuannya bahkan melebihi kemampuan seekor anjing pelacak. Karenanya mereka mengandalkan Chanyeol dalam hal mengingat bau si pelaku pemukulan terhadap Ahreum.

“Tentu saja aku mengingatnya. Besok aku dan D.O. akan ke tempat itu lagi untuk mencari tahu,” sahut Chanyeol.

“Bahkan ketika Ahreum berada di bawah pengawasan kita, dia masih bisa terluka seperti itu. Suho Hyung, apa kamu tahu apa yang akan dilakukan oleh Mastermind?” tanya Kai.

“Kris tentu juga akan mencari mereka. Walau ia tak tahu seperti apa pelakunya. Kita harus bergerak bersama dan berbagi informasi dengannya. Karena kalau misalnya ini serangan dari anak buah raja Xen…,”

“Ini bukan warga Exoland, Hyung,” Chanyeol menyela ucapan Suho. “Mereka manusia dan baunya tak asing bagiku. Aku seperti pernah menciumnya di suatu tempat.”

“Tapi bisa saja Xenos memanfaatkan manusia untuk menyerang Ahreum. Kita tak pernah tahu apa yang akan dilakukannya dan kapan dia akan melakukannya. Kita tetap harus waspada,” sahut Suho.

Para Knight mengangguk setuju. Mereka tidak akan melepaskan pelaku pemukulan Ahreum ini. Kaki tangan raja Xenos atau bukan, orang itu pasti akan mendapat balasannya.

.

.

.

Chanyeol, Luhan dan D.O. sedang dalam perjalanan mereka menuju kantin untuk istirahat siang bersama Ahreum seperti biasanya ketika Chanyeol mencium bau sesuatu yang tak asing baginya. Mereka bertiga berhenti melangkah dan mengikuti bau tersebut, bau dari pelaku pemukulan Ahreum.

“Kamu yakin?” tanya Luhan.

Chanyeol mengangguk. “Jangan pernah meragukan penciumanku. Akan kupastikan anak ini… Astaga! Dia perempuan!” kaget Chanyeol.

Saat ini di hadapan mereka ada Ham Eunjung yang juga akan menuju kantin. Chanyeol dengan amarah membuncah segera menghampiri Ham Eunjung.

“Kami harus bicara denganmu, Nona,” desis Chanyeol. Ia lalu menarik tangan Eunjung menjauh dari keramaian koridor siang ini.

Chanyeol dan yang lainnya membawa Eunjung ke koridor yang cukup sepi. Ia menghempaskan Eunjung ke dinding begitu sampai di ujung koridor. Perempuan atau bukan, Chanyeol tak peduli. Saat ini ia hanya ingin membuat Eunjung merasakan sakit yang di derita Ahreum.

“Apa yang mau kalian lakukan?? Apa kalian tak punya metode yang lebih baik untuk mengajak seorang gadis? Menyebalkan sekali,” gerutu Eunjung. Ia menepuk-nepuk lengannya yang tidak kotor.

Chanyeol benar-benar ingin menamparnya. Mungkin ia sudah menampar Eunjung saat ini jika saja Luhan tidak menahannya.

“Kulihat kamu masih bisa menjalani harimu dengan tenang, Nona. Apa kamu tak merasa bersalah sama sekali?” Luhan mendekati Eunjung. “Setelah apa yang kamu lakukan pada Ahreum kemarin sore.”

Eunjung terbelalak panik mendengar ucapan Luhan. Ia sadar betul dirinya dalam bahaya saat ini. Ia pun mencari cara agar bisa menghindari pemuda-pemuda yang kini sudah menunjukkan aura membunuh mereka.

“A..aku tak bertemu dengan Ahreum kemarin. Kenapa..,”

“Kamu pikir dia tak melihatmu disana?” Luhan mengendikkan kepalanya pada Chanyeol. Luhan juga mengganti kata ‘mengendus’ dengan ‘melihat’ agar gadis itu tidak bingung.

Chanyeol akhirnya maju mendekati Eunjung. Ia benar-benar mengibarkan bendera perang pada Eunjung saat ini. “Kamu pikir karena kamu perempuan lalu aku tak akan melakukan sesuatu padamu huh?! Aku tahu kamu tak sendirian menyerang Ahreum. Aku juga bisa melakukan seperti apa yang teman-temanmu lakukan pada Ahreum terhadapmu.”

“Ada apa disini?!” sela sebuah suara.

Keempatnya kompak menoleh ke ujung koridor. Mengira itu adalah guru pengawas yang datang, Eunjung langsung menghela napas lega. Tapi rasa lega itu langsung hilang begitu melihat siapa yang datang.

Park Jiyeon.

“Jiyeon-ah,” lirih Eunjung takut.

“Ohh pemimpinnya datang. Pasti dia yang menyuruhmu untuk melukai Ahreum,” ujar D.O.

“Apa yang kamu maksud? Kenapa kalian menahan Eunjung disini?! Apa yang mau kalian lakukan padanya?!” sentak Jiyeon.

“Kamu tak perlu berpura-pura, iblis,” bentak Chanyeol. “Kami tahu kamu pasti menyuruh temanmu ini untuk memukuli Ahreum kemarin. Aku akan memastikan kamu merasakan hal yang sama seperti yang Ahreum rasakan.”

Mata Jiyeon membulat sempurna. Ia menatap Eunjung tak percaya, seolah Eunjung baru saja berkhianat.

“Kamu..menyerang Lee Ahreum.. dibelakangku?!!” desis Jiyeon pada Eunjung.

Plaaaaak!

Jiyeon menampar Eunjung tepat di pipinya. Chanyeol, Luhan dan D.O. sampai kaget dibuatnya. Mereka bertanya-tanya apa arti dari tamparan tersebut. Apakah karena kesal misinya tak berhasil atau kesal karena memang Jiyeon tak tahu menahu.

“Ji, maafkan aku,” lirih Eunjung yang sudah memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan Jiyeon.

“Sudah kubilang berapa kali. Tidak boleh ada yang menyentuh anak itu selain aku! Kenapa kau bodoh sekali, Eunjung!!” desis Jiyeon geram.

“Yah, Park Jiyeon. Kamu tak perlu berpura-pura seperti itu,” kesal Chanyeol.

Jiyeon mengalihkan pandangannya dari Eunjung. Ia lalu melihat Chanyeol.

“Aku tak mengenalnya. Jadi jangan libatkan aku atas masalah yang ia buat. Silakan hukum dia sesukamu. Atau kamu mau aku mengadukan perbuatannya pada kepala sekolah agar dia dihukum dan dikeluarkan dari sekolah??” ujar Jiyeon tenang. Ia lalu meninggalkan mereka berempat.

Kali ini Chanyeol yang membelalakkan matanya pada Jiyeon. D.O. saja sampai takjub melihat Jiyeon, takjub karena Jiyeon benar-benar tak punya hati bahkan untuk membela temannya sendiri.

Baru beberapa langkah pergi, Jiyeon berhenti untuk berpaling melihat Eunjung. Ia menatap Eunjung dingin. “Kalau kalian mau, silakan buat dia merasakan hal yang lebih parah dari Ahreum. Atau buat dia tak bisa menunjukkan batang hidungnya di kelas siang ini. Aku tak akan mengadukan kalian pada kepala sekolah, jadi lakukan sesuka kalian.”

Chanyeol, D.O. dan dan Luhan menatap kepergian Jiyeon dengan takjub. Mereka baru bertemu dengan manusia semengerikan Jiyeon. Bahkan Jiyeon sama mengerikannya dengan Xenos.

“Kamu yakin dia tak ada hubungan dengan Xenos,” ujar D.O. takjub.

“Kita akan cari tahu,” sahut Luhan. Ia lalu berpaling melihat Eunjung yang tampak terpukul. “Kamu yakin dia temanmu? Dia mencampakkanmu dan menyuruh kami untuk memukulimu. Sementara Ahreum, dia melindungimu. Ahreum bukannya mengadu kalau ia habis dipukuli olehmu dan malah menutupinya dengan berbohong kalau ia habis jatuh dari tangga. Jadi menurutmu, apa yang harus kami lakukan padamu, nona??”

Eunjung kini sudah jatuh terduduk di lantai menatap kepergian Jiyeon. Ia sadar betul kalau ia sudah melakukan hal yang salah.

.

.

Habis istirahat siang Ahreum tak menemukan Eunjung dimanapun juga. Padahal gadis itu masuk sekolah hari ini. Ahreum jadi khawatir padanya.

“Kemana Eunjung??” tanya Ahreum pada teman sekelasnya.

“Tadi dia jatuh dari tangga dan sehabis dari klinik sekolah dia langsung dibawa pulang,” jawab perempuan tersebut. “Ada apa dengan kalian semua? Kemarin kamu yang jatuh dari tangga dan sekarang Eunjung.”

Ahreum memandangi bangku Eunjung yang kosong. Ia sedang menduga-duga kenapa Eunjung bisa jatuh di tangga. Ahreum bahkan berpikir apa mungkin para pengawalnya sudah tahu kalau Eunjunglah yang mencelakainya. Ahreum pun memandangi Kai curiga.

“Apa? Apa sekarang kamu sadar betapa tampannya aku?” tegur Kai ketika merasakan Ahreum terus melihat dirinya.

“Kamu tahu kenapa Eunjung jatuh dari tangga?” tanya Ahreum curiga.

“Eunjung yang mana?? Mana aku tahu Eunjung itu siapa dan mana aku peduli dia jatuh dari tangga atau jatuh dari atap sekolah. Bertanyalah tentang sesuatu yang lebih penting seperti ‘Kai, apa kamu mau jalan berdua saja denganku sepulang sekolah nanti?’,” sahut Kai.

Ahreum memutar bola matanya. Ia akhirnya memilih untuk mempercayai bahwa pengawalnya tak melakukan hal-hal mengerikan di belakang dirinya. Ahreum berusaha mempercayai pengawalnya itu.

.

.

.

.

.

.

bee

The tenth chapter is out!!!.

woahh.. agak angst dengan beberapa kekerasan disini… anak baik jangan meniru adegan ini di dunia nyata yaa… tidak boleh saling membully teman sendiri.. contohlah perilaku Ahreum disini yang baik hati dan suka menolong.. kkk

disini yg beredar cuma trio childish itu aja.. abisan mereka jarang kebagian scene sih.. Lay juga tuhh.. pokoknya bee mau bagi rata dulu scene buat mereka.. baru serius bikin loveline deh..

btw udah liat header baru bee?? itu si LEE HI.. tadinya dia yg mau jadi pemeran utama di beautiful life.. karena namanya unik.. tp akhirnya malah milih ahreum karena namanya sesuai ama judul ffnya.. kkk *mian Hayi-ya kapan2 aku bikinin ff buat kamu 😀
thanks for your attention!! annyeong!!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 10 – Attack!! | PG15

9 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 10 – Attack!! | PG15

  1. quorralicious says:

    bee, mau nanya dong / sengaja bkin pertanyaan supaya bee bales/ hehehe/plaaak/ beneran mau nanya nih dan berharap aja,.yg jd king bakalan siapa? kai kah? kris kah?
    galau nih jdnya

  2. velyamaya says:

    Perbanyakin kai ahreum moment dong xD.
    Apa yang dilakuin chanyeol,do,luhan sama eunjung ?

    Ditunngu ya lanjutannya 😉 .jangan lama-lama ‘3’

  3. xia says:

    astaga….jiyeon dingin sekali -_- tapi tetep suka sama ceritanya ‘-‘ lanjutinnya jangan lama-lama ya unnie~ ‘o’)9

  4. rizka says:

    uwaaa,,,
    chanyeol !
    makin greget liat tingkah mu yg unyu** gimanaaa gitu…

    Kai,,, kau memang suka gombal ya ?
    hahaha
    daebak eonn,,
    lanjutannya jgn lama** ya eonn #buing buing *gak lucu :|*

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s