FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 8 – Loyalty | PG15


chapter8

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter 8 – Loyalty

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life,

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – The Moment I Knew….

Chapter 8 | Loyalty

.

.

.

.

Loyalty ft Luhan

.

.

Seusai makan malam Kris memilih untuk menghabiskan waktu di taman belakang kediaman Ahreum. Disana ia tengah memandangi sebuah buku ditangannya. Sesekali Kris menghela napas panjang dan memandangi buku tersebut gundah. Sudah beberapa hari ini buku tersebut mengganggu pikirannya. Tiga minggu setelah tinggal di kediaman Ahreum, Chen menemukan sebuah buku di perpustakaan mini yang ada di lantai tiga. Chen pun segera memberikan buku itu pada Kris untuk dipelajari.

Dduizhang coba lihat ini,” Chen memberikan sebuah buku yang cukup tebal pada Kris. 

Apa ini?” Kris membaca tulisan yang ada di tampilan depan buku itu. Disana tertulis Lee’s Journal.

Jurnal Tuan Lee, kakek Ahreum!” bisik Chen

Darimana kamu menemukannya?”

Kemarin waktu aku belajar di perpustakaan, aku menemukan buku ini. Apa menurutmu sebaiknya kita melihat isi buku ini. Siapa tahu kita bisa mendapatkan sesuatu disana,” saran Chen.

“Kamu sudah membaca isinya?” tanya Kris.

“Belum. Aku memberikannya padamu agar kamu yang membacanya,”

Kris mengamati jurnal tersebut. “Buku ini aku yang simpan. Nanti aku akan memberikan buku ini pada Ahreum. Kalau ada orang yang harus membaca buku ini, orang itu adalah Ahreum.”

Kris kembali menghela napas panjang mengingat percakapannya dengan Chen. Ia melanggar ucapannya sendiri, karena ia serta Mastermind yang lain, Chen, sudah membaca buku itu sebelum Ahreum. Kris kembali memandangi jurnal ditangannya. Apa yang harus kulakukan dengan jurnal ini?

“Kris!!”

Seruan itu menyadarkan Kris dari lamunannya. Ketika menoleh, Kris mendapati Ahreum sedang berjalan ke arahnya. Segera Kris menyembunyikan buku itu di balik badannya.

“Apa yang kamu lakukan di luar sini?” tegur Ahreum begitu sampai di depan Kris.

“Memandangi langit malam,” sahut Kris.

“Auuuww, romantisnya,” ledek Ahreum. Ia pun mendongakkan kepalanya memandangi langit.

Kris tidak ikut mendongakkan kepalanya untuk melihat langit malam, ia malah memandangi Ahreum. Walaupun cahaya di halaman belakang rumah Ahreum ini cukup remang karena hanya berasal dari lampu teras serta cahaya rembulan di langit, tapi bagi Kris, Ahreum tampak bersinar terang di hadapannya. Tanpa sadar Kris menjulurkan tangannya hendak menyentuh wajah Ahreum.

“Ahh iya Kris,” sela Ahreum yang sudah berpaling menatapnya.

Kris langsung mengibas-ngibaskan tangannya di udara berusaha mengalihkan perhatian Ahreum agar jangan sampai Ahreum tahu kalau ia tadi mau menyentuhnya. “Tadi ada.. nyamuk,” ujar Kris kikuk.

“Nyamuk?? Ahh lupakan. Aku mau bilang kalau kamu kemarin dulu keren sekali ketika menghadang semua bola-bola serangan dari tim Jiyeon. Tapi akhirnya dia kalah juga. Bahkan hidung kebanggannya nyaris patah karena Kai. Ahh harusnya hidungnya benar patah, pasti dia akan makin kesal, hehehe,” ujar Ahreum antusias. Ahreum berusaha mendapatkan perhatian Kris karena ia pikir Kris masih kesal akan kejadian tadi siang –dimana Jiyeon nyaris membuang seragamnya.

“Apa kamu ini berkepribadian ganda? Rasanya kemarin dulu kamu memarahi Kai karena sudah bermain kasar dan sekarang kamu malah berharap hidungnya Jiyeon patah sungguhan? Kurasa kamu sudah terlalu banyak terkontaminasi oleh dua pimpinan perang itu. Mulai sekarang jangan lagi dekat-dekat dengan D.O. atau Xiumin,” ujar Kris.

Ahreum tertawa mendengar gurauan Kris. Dan ia kembali bercerita tentang kecurigaannya terhadap Luhan yang sepertinya menggunakan kekuatannya untuk membantu Ahreum. Tapi Kris tak mendengarkan cerita Ahreum. Kris sibuk memikirkan dilemanya.

Baiklah, sekarang atau tidak sama sekali, pikir Kris.

Ia teringat akan jurnal di tangannya –yang masih ia pegang di balik punggungnya. Ia pikir, mungkin memang jurnal itu sebaiknya diberikan pada Ahreum.

“Ahreum, ada yang…,”

“Ahreum!!!”

Ucapan Kris terpotong oleh teriakan Tao dari arah teras. Keduanya menoleh ke arah Tao, melihat pemuda itu sudah melambaikan tangan dengan semangatnya pada mereka. Dalam hati Kris mengutuk kehadiran maknaenya yang sangat tidak tepat waktu itu.

“Ahreum, lihat aku,” seru Tao. Ia kemudian salto dua kali putaran ke arah Ahreum, berguling di rumput, melompat dan melakukan tendangan di udara lalu ia kembali salto dan berhenti persis di hadapan Ahreum dengan kedua tangan yang terbuka lebar.

“Woaaaah!! Tao jjang-ya jjang!!!” takjub Ahreum sambil bertepuk tangan. Ia menjulurkan tangannya ke kepala Tao dan sedikit berjinjit untuk membersihkan rumput yang menempel di rambut Tao. “Aigoo, kamu jadi kotor begini kepalanya. Ayo kita masuk dan membersihkan rambutmu.”

Tao pun langsung menggandeng Ahreum dan berjalan beriringan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Kris yang bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatnya.

“Yah, kurasa buku ini harus menunggu waktu yang tepat untuk kembali ke pemiliknya,” gumam Kris.

.

.

“Knight sudah mulai bergerak Dduizhang,” ujar Xiumin.

“Yang paling menonjol di antara mereka adalah Kai dan Chanyeol,” sahut Lay.

Para Mastermind saat ini sedang berkumpul di perpustakaan mini di lantai tiga rumah Ahreum. Mereka sedang mendiskusikan mengenai ‘misi lain’ mereka di dunia ini, sebuah misi yang sudah turun temurun diwariskan pada Knight dan Mastermind yaitu menjadi pendamping dari keturunan raja Janus. Keenamnya berembuk agar mereka tidak kalah dari Knight dalam misi ini.

“Apa menurutmu kita harus melakukannya?” sela Luhan.

“Ge?” bingung Tao.

“Luhan, ada apa denganmu?” protes Xiumin. “Kita sebagai pasukan pelidung khusus sudah ditakdirkan untuk menjadi pendamping Putri. Kita harus menyelesaikan sayembara itu agar kita bisa membawa putri pulang ke Exoland dan mengembalikan kedamaian di negeri kita. Untuk itu kita harus segera membuat Ahreum jatuh cinta dengan salah satu diantara kita.”

Tao dan Chen tampak berbisik ‘tumben Xiumin Ge bicara benar selain makanan’, tapi Xiumin tak menggubrisnya.

“Kalau kalian memang begitu ingin melanjutkan sayembara yang tertunda itu silakan, tapi aku tak ikutan,” tegas Luhan.

“Ada apa memangnya?” kali ini Lay yang bertanya.

“Kalian rasional sedikit. Hanya karena Ahreum memiliki aura yang sama dengan penduduk Exoland lalu kalian pikir dia adalah putrinya Putri Ara? Hanya karena kalung yang dipakainya adalah kalung milik Putri Ara lalu dia jadi putri yang hilang begitu? Sayembara itu hanyalah untuk pasukan pelindung Putri Ara. Tapi kini Putri Aranya saja tidak ada lalu kenapa kita harus melanjutkan sayembara yang sudah terlupakan berabad-abad lalu itu?” sahut Luhan.

“Woah, Luhan. Kamu benar-benar banyak bicara untuk saat-saat seperti ini,” ejek Xiumin.

“Itukah yang kamu pikirkan mengenai Ahreum? Dimana kesetiaanmu sebagai Mastermind? Seorang Mastermind sudah seharusnya melindungi keturunan raja Janus dan itu bukan berarti hanya Putri Ara saja, melainkan juga anaknya Putri Ara bahkan cucunya, cicitnya dan seterusnya,” sahut Lay.

“Lagipula Ahreum memang adalah putrinya Putri Ara,” Chen menimpali.

Kris hanya memandangi perdebatan lima rekannya. Sejak datang ke bumi, memang hanya Luhanlah yang setengah hati menjalankan tugasnya. Itu karena Luhan masih tidak yakin akan jati diri Ahreum sebagai keturunan Raja Janus. Kris sudah berkali-kali mencoba meyakinkannya, tapi Luhan tampak tak tergoyahkan dengan keyakinannya. Luhan sendiri datang ke bumi hanya karena solidaritas sesama Mastermind saja, bukan untuk menjalankan misi ‘menjadi pendamping sang Putri’.

“Tidak ada buktinya,” sahut Luhan.

“Ada,” jawab Chen tak mau kalah.

Kris akhirnya mengeluarkan jurnal Tuan Lee yang Chen berikan padanya beberapa waktu yang lalu. Isi jurnal itu adalah fakta mengenai jati diri Ahreum dan juga kisah Putri Ara. Kris memberikan jurnal itu pada Luhan. Mungkin pendirian Luhan akan berubah setelah membaca buku harian kakek Ahreum tersebut.

“Apa ini?” tanya Luhan sambil mengamati jurnal itu.

“Baca itu dengan teliti tanpa meninggalkan satu halaman pun. Setelah itu pandanganmu terhadap Ahreum akan berubah,” ujar Kris. “Aku tidak memaksamu untuk mengikuti persaingan ini. Tapi aku hanya ingin agar kamu membuka pikiranmu kalau inilah tujuan hidupmu yang sebenarnya, Luhan.”

.

.

Seusai makan malam Luhan tampak menyendiri di gazebo rumah Ahreum. Sudah beberapa hari ini ia lebih sering menyepi untuk membaca jurnal peninggalan Tuan Lee. Luhan sendiri sudah selesai membaca buku itu. Kini ia merasa galau akan tujuan hidupnya.

Sementara itu dari dalam rumah tampak Kris sedang mengamati perubahan sikap Luhan tersebut. Kris serta Mastermind yang lain memang sudah mendiamkan Luhan sejak perdebatan mereka di perpustakaan. Kris pikir akan lebih baik jika mereka tak terlalu menekan Luhan. Karena perpecahan kelompok hanya akan membuat kekuatan pasukan khusus melemah.

“Ada apa?” tegur Suho yang kebetulan melewati Kris. Suho ikut melihat ke arah mana mata Kris tertuju. “Kenapa dengan Luhan?”

“Krisis kepercayaan diri,” sahut Kris yang fokus pada Luhan.

Suho memandangi Kris bingung. Seorang Luhan yang pikirannya susah ditebak mengalami krisis kepercayaan diri? Siapapun yang mengenalnya pasti tak akan percaya.

“Maksudmu? Kepercayaan apakah ia sudah menjalankan hidupnya dengan benar, begitu?” tanya Suho lagi.

“Ya, sama seperti D.O. yang masih setengah hati dengan misi ini,” sahut Kris.

Suho tampak mengangguk mengerti. “Yasudah, kalau kamu sudah menemukan pencerahan atas Luhan, tolong kabari aku. Aku juga ingin menerapkannya pada D.O.,” ujar Suho sambil menepuk pundak Kris. Suho pun pergi meninggalkan Kris.

Tak lama setelah Suho pergi, Ahreum datang menghampiri.

“Yo, Kris! Sedang melihat apa?” tegur Ahreum riang. Ia lalu melihat arah mata Kris memandang. “Luhan? Apa yang dia lakukan disana sendirian?”

“Luhan sedang mengalami krisis kepercayaan diri. Atau dalam bahasamu bisa disebut sebagai galau,” sahut Kris yang sudah menatap Ahreum. “Biasanya apa yang akan kakekmu lakukan jika kamu mengalami hal seperti Luhan, Ahreum?”

Ahreum menatap punggung Luhan dari balik kaca. “Kurasa aku harus bicara hati ke hati dengannya. Bagaimana menurutmu?”

“Kurasa kamu bisa meyakinkannya,” ujar Kris lembut.

Ahreum memamerkan senyumnya pada Kris. “Percaya padaku, aku pasti akan bisa membuatnya percaya diri lagi sepertiku,” sahut Ahreum sambil menepuk-nepuk dadanya tapi karena terlalu keras Ahreum jadi terbatuk-batuk akibat ulahnya sendiri.

Kris berusaha keras menahan senyumnya. Ia memasang wajah sedatar mungkin melihat semua tingkah Ahreum. Ketika Kris memandangi bibir Ahreum, ia melihat ada sedikit noda dari es krim disana. Seringaian kini menghiasi wajah Kris.

“Kamu habis makan es krim?” tanya Kris.

“Oh! Bagaimana kamu tahu?” kaget Ahreum sambil menyembunyikan dua cup es krim dimtangannya.

“Kamu meninggalkan jejak disini,” ujar Kris seraya mengusapkan jempolnya pada bibir bawah Ahreum.

Ahreum langsung merona melihat sikap Kris. Ia berusaha keras mengontrol ekspresinya agar tidak tampak terlalu memalukan.

“Apa kamu mau pamer padaku kalau kamu habis makan es krim atau kamu hanya ingin agar aku membersihkannya untukmu? Biasanya kalian para gadis senang melakukan hal seperti itu,” ejek Kris.

Kalau tadi wajah Ahreum merona karena malu, kini wajah Ahreum merah sempurna karena kesal. Sambil cemberut ia segera meninggalkan Kris dengan tak lupa menjulurkan lidah pada Kris sebagai pembalasannya. Padahal baru saja ia merasa tersanjung, tapi Kris dengan segera kembali menjatuhkannya.

.

.

“Xiao Lu!” seru Ahreum.

Mendengar panggilan Ahreum, Luhan dengan segera menyembunyikan buku harian kakek Ahreum di balik jaketnya.

“Apa yang kamu lakukan disini?” tegur Ahreum. Ia lalu menyodorkan es krim di tangannya. “Mau es krim?”

Luhan mengambil satu cup es krim dari tangan Ahreum. Ia memandangi es krim tersebut, itu adalah es krim favorit Ahreum. Biasanya Ahreum akan marah jika ada yang menyentuh apalagi memakan es krimnya. Karena itu Luhan heran kenapa Ahreum mau membagi es krim favoritnya.

“Ini bukannya es krim kesukaanmu? Kamu memberikannya untukku?” Luhan mencoba memastikan.

“Hmm, sebagai ucapan terima kasih karena sudah menolongku,” sahut Ahreum.

Luhan memandangi Ahreum bingung.

“Kamu menolongku ketika permainan dodgeball, kamu ingat? Waktu Jiyeon melemparkan bola ke arahku, kamu dengan kekuatanmu menahan bola itu agar tidak langsung menabrak diriku, kan,” ujar Ahreum. “Walau kamu melanggar peraturan nomor 2 tapi aku memaafkanmu, Baby Face. Lain kali jangan lagi menggunakan kekuatanmu seperti itu, ya. Kalau sampai ketahuan orang-orang, maka habislah kamu.”

Luhan tersenyum mendengar ucapan Ahreum. Padahal ia sudah berusaha agar tidak terlalu kentara ketika menolong Ahreum, tapi nyatanya gadis itu berhasil menebaknya. Sebelum suasana diantara mereka kembali canggung, Luhan segera membuka percakapan.

“Ahreum, kenapa kamu memanggilku Baby Face? Padahal aku selalu memanggilmu dengan namamu, tapi kenapa kamu tak pernah memanggil namaku?” tanya Luhan.

Ahreum berpikir sejenak. “Hmm, karena kamu memiliki wajah seperti anak kecil, Lu. Semua Knight dan Mastermind kecuali Kris dan Xiumin memanggilmu dengan sebutan Hyung atau Ge. Itu adalah panggilan untuk seseorang yang lebih tua, kan. Padahal kau terlihat seperti yang termuda di antara mereka. Selain itu kamu punya kerutan-kerutan di sekitar matamu, apa kau tahu kalau kerutan-kerutan seperti itu hanya dimiliki oleh mereka yang sudah tua. Makanya kupanggil kamu dengan sebutan baby face yang artinya muka bayi. Itu adalah nama yang lucu bukan. Itu seperti hmmm…panggilan kesayangan.”

Luhan terpaku mendengar ucapan Ahreum. “Kalau begitu, apa boleh aku memanggilmu Putri?”

“Silakan. Aku sudah tak peduli kalian mau memanggilku Ahreum atau Putri Ahreum. Aku menyerah karena para Knight itu susah sekali untuk memanggil namaku,” sahut Ahreum sambil mengangkat bahunya.

Luhan memandangi wajah Ahreum. Baru kali ini ia melihat senyuman Ahreum yang tampak tanpa beban. Ia memang sempat meragukan Ahreum, tapi kini Luhan sudah yakin akan jati diri Ahreum. Ia sudah tahu kalau Ahreum memang adalah anak dari Putri Ara. Semuanya tertulis di jurnal Tuan Lee.

“Ahreum,” sela Luhan. Ketika ia mendapatkan perhatian Ahreum barulah Luhan mengutarakan pertanyaan hatinya. “Apa kamu tahu orangtuamu itu seperti apa?” Apa kamu tahu kalau kamu bukanlah reinkarnasi dari putri yang kami cari, melainkan kamu adalah anak dari putri yang kami cari?

Senyum di wajah Ahreum langsung memudar. Ia langsung murung mendengar pertanyaan tersebut. Dulu Luhan juga pernah bertanya seperti ini pada Ahreum, tapi gadis itu tak pernah mau menjawabnya. Sebab gadis itu sangat sensitive jika berhubungan dengan kata orangtua atau keluarga, karena Ahreum tidak memiliki itu.

“Xiao Lu, apa kamu tahu hal apa yang tidak dimiliki rumah ini tapi dimiliki oleh rumah lain?” tanya Ahreum. “Rumah ini memiliki segalanya yang dimiliki oleh rumah lain. Tapi ada satu hal yang rumah ini tak punya,”

Luhan pikir, mungkin Ahreum kembali ingin mengalihkan pembicaraan. Luhan pikir, mungkin belum saatnya untuk membuka hati Ahreum. Luhan pikir, mungkin Ahreum tidak akan pernah mau membahas mengenai orangtuanya. Tapi apa yang Luhan pikir itu salah.

“…rumah ini tak memiliki foto keluarga. Kamu tentu lihat pigura besar di ruang tamu, bukan. Dulu sebelum aku lahir pigura itu berisi foto Harabeoji dengan kedua orangtuaku. Tapi setelah aku lahir ke dunia ini, semua foto itu hilang. Harabeoji menghapus, membuang, melenyapkan semua kenangan-kenangannya bersama orangtuaku. Sampai detik ini, aku bahkan tak tahu seperti apa tampang mereka. Aku bahkan tak tahu siapa nama mereka,”

Ahreum tersenyum getir. “Harabeoji mengubur kenangannya bersama orangtuaku sendirian. Ia tak membaginya padaku. Setiap aku bertanya siapa nama ibu atau nama ayahku, beliau pasti langsung takut dan akhirnya malah jatuh sakit. Sejak itu aku tak pernah mau mencari tahu mengenai orangtuaku. Dan aku bahkan tak tahu siapa nama asli Harabeoji, karena semua orang terus memanggilnya dengan sebutan Tuan Lee. Ini.. menyedihkan ya? Tapi tolong buang jauh-jauh rasa kasihanmu, baby face. Aku tak suka dikasihani,”

Daripada merasa kasihan, Luhan justru merasa bersalah pada Ahreum. Setelah tahu kebenarannya, membuat Luhan jadi ingin selalu berada di samping Ahreum dan melindunginya. Luhan pun akhirnya menemukan tujuan hidupnya saat ini.

“Aku tidak mengasihanimu. Aku… akan setia padamu mulai detik ini, Putri. Maafkan aku telah meragukanmu sebelumnya,” ujar Luhan. Ia mendekat pada Ahreum untuk mengaitkan rambut Ahreum ke belakang telinganya.

Kali ini Ahreum yang bingung memandangi Luhan. Tapi melihat senyuman tulus di wajah Luhan, membuat Ahreum tak melanjutkan untuk bertanya ada apa dibalik ucapan Luhan yang tiba-tiba itu.

“Jadi, kamu sudah tidak ragu lagi? Kamu yakin? Kamu sudah percaya diri sekarang?” Ahreum mencoba meyakinkan Luhan. Ketika Luhan sudah mengangguk, Ahreum langsung berseru riang. “Woah aku tak tahu kalau akan semudah ini membujukmu. Assa!! Ahreum mission success!!”

Luhan hanya tertawa melihat Ahreum yang sudah melahap es krimnya.

.

.

Hari ini Ahreum dipanggil oleh pihak bank. Almarhum kakek Ahreum memang meninggalkan banyak uang untuk hidup Ahreum ke depannya, tapi berhubung Ahreum belum ‘legal’ jadi Ahreum belum bisa memakai semua uang itu. Pihak bank membatasi pengeluaran Ahreum untuk sebulan. Dan berhubung jatah bulanannya sudah habis sebelum waktunya –dan  itu semua karena ia harus memberi makan dua belas kepala selain dirinya- jadi pihak bank mengatakan pada Ahreum kalau mereka tak akan mendebitkan jatah bulan depan untuk bulan sekarang. Itu artinya untuk sepuluh hari ke depan Ahreum harus mencari uang sendiri untuk biaya sehari-hari dirinya dan dua belas pengawalnya.

Ahreum memandangi buku tabungannya nelangsa. Biasanya dari jatah bulanan yang diberikan bank, ia masih bisa menyisakan lebih dari setengah uangnya. Kini baru dua puluh hari saja uang tersebut sudah habis. Ahreum pun menghela napas berat.

“Kenapa Putri?” tegur Chanyeol.

“Apa orang dari bank mengatakan sesuatu yang menyusahkanmu?” selidik Suho.

Ahreum segera menggelengkan kepalanya. Sudah cukup teman-teman sekolah beserta guru-guru Ahreum yang diberi pelajaran oleh para pengawalnya, jangan sampai orang lain juga ikut merasakannya.

“Pihak bank bilang kalau jatah bulananku sudah habis. Dan sekarang aku harus cari kerja agar bisa dapat uang untuk membiayai kalian semua,” ujar Ahreum.

“Kerja?”

“Ya, melakukan sesuatu untuk mendapatkan uang,” sahut Ahreum.

“Apa uang itu penting? Penting mana uang dengan makanan?” tanya Xiumin.

Ahreum memutar bola matanya. “Tak ada uang itu sama artinya tak ada makanan.”

“OHHH TIDAAAAAAAAK!!!” jerit Xiumin, Chanyeol dan D.O. dramatis.

.

.

Ahreum pun mulai mencari lowongan pekerjaan. Para pengawalnya tentu saja tidak berpangku tangan. Mereka juga ikut mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang dan membantu meringankan beban Ahreum –apalagi memang sebagian besar uang Ahreum habis oleh mereka.

“Aahhhhhh aku pegal!! Orang-orang itu menyebalkan sekali. Mereka sangat tak sabar. Ughhh kalau saja aku bisa melakukan sesuatu terhadap anak-anak menyebalkan itu,” keluh Xiumin geram.

Ia sudah berbaring di lantai dengan tangan dan kaki yang terbuka lebar. Ahreum hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat keluhan Xiumin. Tadi juga begitu D.O. pulang, ia tampak memiliki lingkaran hitam lagi di bawah matanya. Yang lebih mengejutkan adalah Luhan, ia pulang dengan wajah yang sangat pucat. Ahreum kini merasa kasihan sekaligus bersalah atas apa yang yang sudah pengawalnya itu alami. Mereka bersikeras mencari kerja untuk meringankan beban Ahreum.

“Memangnya kamu bekerja dimana Xiumin?” tanya Ahreum mencoba peduli.

“Suatu tempat yang namanya distributor es,” sahut Chen, menjawab atas Xiumin yang tampaknya sudah terlelap di lantai.

Ahreum menganggukkan kepalanya. Tempat yang cocok untuknya, pikir Ahreum.

“Kalau D.O.?”

“Konstruksi bangunan,” kali ini Sehun yang menyahut. “Hyung bilang tempat itu keren karena dia hanya harus memukulkan palu besar ke beton. Katanya itu bisa sekaligus untuk melatih kekuatannya.”

“Ohh, jadi karena itu Xiumin pilih bekerja di gudang es? Agar bisa melatih kekuatannya? Dan aku yakin Lay pasti dapat kerja di klinik. Lalu Luhan??”

Belum sempat ada yang menjawab pertanyaan Ahreum, karena Tao tiba-tiba muncul dengan wajah panik. “Ge, Lay Gege mana??”

“Belum pulang. Kenapa memangnya?” sahut Chen.

“Itu… Engg.. Luhan Ge.. Dia…,”

Cukup melihat ekspresi Tao saja semuanya sudah tahu kalau ada sesuatu yang tak beres terjadi. Suho, Baekhyun, Chen, dan Sehun langsung berlari menuju lantai dua –ke kamar Luhan. Ahreum pun jadi ikut panik melihat ekspresi mereka, ia akhirnya menyusul semuanya ke kamar Luhan.

Di kamar Luhan semuanya sudah berkumpul. Suho tampak duduk di pinggir kasur sementara yang lainnya berdiri di samping tempat tidur. Ahreum pun menerobos mereka untuk melihat kondisi Luhan. Disana, di atas kasur, tampak Luhan sedang terbaring lemah, dengan semua keringat dingin yang terus mengalir di pelipisnya. Wajah Luhan bahkan kini sudah seputih kapas saking pucatnya.

“Kenapa dia?? Kenapa dia begini??” panik Ahreum. Ia segera duduk di sebelah Suho untuk melihat Luhan dari dekat.

“Luhan Ge tak biasa menggunakan fisiknya secara berlebihan. Dan dia tadi di tempat kerja terlalu memforsir kekuatannya, jadinya seperti ini,” sahut Tao sedih.

Ahreum memegang kening Luhan. Panas.  Walau Ahreum tak tahu bagaimana caranya mengobati makhluk asing ini, tapi setidaknya ia harus mencoba sesuatu untuk menurunkan panas tubuh Luhan.

“Ambil air es,” ujar Ahreum. “Cepat ambil air dan es di kulkas lalu taruh di baskom kecil!” titah Ahreum tak sabar.

Tanpa disuruh dua kali Baekhyun dan Sehun langsung keluar untuk mengambil air es. Sementara Ahreum masuk ke kamar mandi yang ada di kamar Luhan. Ia mengambil handuk kecil lalu membasahinya. Ahreum kembali ke sisi Luhan dan menempelkan handuk kecil itu ke kening Luhan.

“Aku tak tahu bagaimana caranya menyembuhkan makhluk super seperti kalian, tapi setidaknya kalau manusia sakit seperti ini, mereka akan sembuh jika  kamu mengompresnya dengan air dingin,” ujar Ahreum.

Suho menepuk pundak Ahreum untuk meyakinkannya kalau Luhan baik-baik saja. Tapi tetap saja Ahreum merasa cemas dan khawatir. Luhan, hanya untuk membuktikan pada Ahreum kalau ia bisa mencari uang, sampai harus menderita seperti ini.

“Yah, Baby Face, cepatlah sembuh.”

.

Luhan memegangi keningnya yang terasa dingin. Ketika ia membuka matanya, ia mendapati sebuah handuk kecil menempel di keningnya. Luhan melihat ke sekeliling ruangan dan menemukan Kris, Suho dan Lay memenuhi kamarnya. Bukan hanya mereka saja, Luhan juga mendapati Ahreum sudah tertidur di sampingnya.

“Kenapa kalian ada disini? Kenapa Ahreum ada disini?” bingung Luhan.

“Luhan, sebenarnya kamu habis darimana? Tao bilang kamu pingsan. Ada apa denganmu?” tanya Kris khawatir.

Luhan menghela napas panjang. “Tao berlebihan. Aku hanya kehabisan energi, itu saja,”

“Dan kamu sudah membuat khawatir Ahreum. Dia tadi terus menjagamu sampai akhirnya dia ketiduran,” ujar Suho.

Luhan pun menoleh ke arah Ahreum. Ia memandangi Ahreum bersalah. “Kenapa dia melakukannya?”

“Tentu saja karena dia menyayangimu. Makanya dia menunggui dirimu. Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan sampai kehabisan tenaga begitu? Apa…kamu bertemu dengan anak buah raja Xenos?” tanya Lay khawatir.

“Aku sungguh berharap bertemu dengan mereka,” sahut Luhan sarkastik. “Tadi jembatan di dekat tempatku bekerja roboh. Padahal ada banyak mobil dan manusia yang melewatinya. Aku…menahannya sampai manusia-manusia itu tak melewatinya, baru kemudian…,”

“Kamu menahan sebuah jembatan?!” pekik Suho tertahan. “Kamu menahannya sampai jembatan itu sepi?!”

“Luhan, sejak kapan kamu peduli akan nyawa manusia?” takjub Lay.

Luhan berusaha menghindari pandangan ketiga rekannya itu. Ia memilih untuk menatap Ahreum yang masih tertidur. “Kenapa dia tidur disini? Kenapa kamu tak memindahkannya ke kamarnya, Dduizhang?” Luhan berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Agar kamu tahu betapa Ahreum sangat mempedulikanmu,” sahut Kris. “Istirahatlah. Dan siapkan mentalmu. Begitu Ahreum bangun, dia akan membuatmu menyesal karena sudah membuatnya khawatir.”

Kris lalu mengajak Suho untuk keluar dari kamar Luhan. Sementara Lay memilih untuk ke pojok ruangan dan duduk di sofa. Ini adalah kamar Luhan dan Lay, sementara kasurnya sudah ditiduri oleh Ahreum. Jadi Lay memilih untuk tidur di sofa, meninggalkan Luhan yang masih terjaga menatap Ahreum.

.

.

Ahreum terbangun dari tidurnya. Tadi ia sibuk mengompres Luhan sampai ia ketiduran. Begitu ia bangun, ia baru menyadari kalau ia tertidur di kamar Luhan.

“Kamu sudah bangun, Ahreum?” tegur suara lembut yang mendadak sangat Ahreum rindukan.

Ahreum menoleh ke sampingnya. Luhan terlihat sudah sangat segar dan menunjukkan senyum khasnya pada Ahreum –senyum yang menimbulkan kerutan-kerutan di sekitar matanya. Ahreum pun langsung duduk dan mengamati Luhan dengan seksama.

“Ada apa? Apa kamu baru pertama ini melihat wajahku ketika baru bangun tidur? Ahreum, apa kamu tahu seperti apa wajahmu ketika…..,”

Luhan tak melanjutkan ucapannya karena kini Ahreum sudah memeluknya. Ahreum menenggelamkan wajahnya di dada Luhan dan mulai menangis.

“Uhh.. Ahreum.. Kenapa kamu…,” panik Luhan.

“Diam kamu bodoh. Kamu sungguh menyebalkan.. Hikss.. Bagaimana bisa kamu menunjukkan senyum menyebalkan seperti itu setelah apa yang terjadi semalam.. ,” omel Ahreum dengan suara terbata-bata. “Aku pikir kamu…kamu..,”

“Apa? Kamu pikir aku akan mati?” ledek Luhan.

“Jangan pernah menakutiku seperti itu lagi,” isak Ahreum. “Mulai sekarang berhenti bekerja, itu adalah perintah. Kalau kamu membantahnya maka lebih baik kamu pergi dari rumahku. Aku tak membutuhkan pengawal merepotkan seperti kamu.”

Luhan terdiam mendengar ucapan Ahreum. Ia jadi bingung melihat Ahreum yang menangis. Luhan akhirnya mengusap-usap punggung Ahreum untuk menenangkannya.

“Kamu berlebihan, Ahreum. Kamu pikir aku akan mati hanya karena kecapekan? Tidak elit sekali. Hei aku ini Mastermind. Dan bukan sembarang orang bisa menjadi Mastermind. Jadi aku ini adalah makhluk spesial yang tak akan mudah sakit,” Luhan mencoba menenangkan Ahreum. Tapi gadis itu tetap menangis. Luhan menoleh ke sekeliling kamarnya untuk mencari pertolongan. Ia melihat Lay sedang tertidur di sofa yang ada di sudut kamar. Ia sudah mengacungkan telunjuknya ke arah Lay untuk membuat Lay terbangun, tapi nihil. Luhan pun menghela napas panjang.

“Maaf aku membuatmu khawatir. Aku baik-baik saja sekarang. Aku bahkan tak memerlukan Lay untuk menyembuhkanku. Jadi sekarang berhentilah menangis.” Tapi Ahreum masih terus menangis, membuat Luhan tak tahu harus berbuat apa . “Ahh bagaimana ini. Aku kini terlihat lemah di depan jodohku. Dia mungkin sekarang…,”

“Yah!! Berani melanjutkan ucapanmu tentang jodoh maka aku tak akan peduli lagi padamu. Terserah kamu mau sakit sampai mati, aku tak akan peduli,” maki Ahreum yang sudah melepas pelukannya. Ia kini berkacak pinggang pada Luhan.

Melihat Ahreum sudah merajuk padanya membuat Luhan jadi tersenyum. Ia lebih memilih melihat Ahreum yang suka marah-marah seperti ini dibandingkan Ahreum yang menangis seperti tadi. Luhan menjulurkan tangannya dan menyentil kening Ahreum.

“Dari apa yang kupelajari di sekolah, mengucapkan kata YAH itu adalah hal yang tidak sopan, Ahreum. Bagaimana bisa kamu membentak orang sakit sepertiku ini. Ckckck inikah caramu merawat orang sakit?” ujar Luhan.

“Ouchh, sakit tahu,” Ahreum mengusap-usap keningnya. Ia kembali memandangi Luhan. “Apa kamu benar sudah baikan?”

Luhan mengangguk. Ia meraih wajah Ahreum dan menghapus sisa-sisa airmata di pipi Ahreum.

“Kupikir kejadian tujuh bulan lalu akan terulang lagi,” gumam Ahreum. “Harabeoji..sebelum ia meninggal ia juga seperti itu. Tiba-tiba lemah, tak berdaya dan keesokan harinya…dia sudah…tak ada.”

Ahreum menundukkan kepalanya. Melihat Luhan sakit semalam benar-benar membuat Ahreum melupakan janjinya untuk tidak menangis di depan orang lain. Ahreum kembali teringat akan malam sebelum kakeknya meninggal. Ahreum takut Luhan juga mengalami hal yang sama seperti kakeknya. Mengingat kejadian itu kembali membuat Ahreum menangis.

“Jangan sakit lagi, kumohon. Aku tak mau kehilangan siapapun lagi. Jadi kamu harus sehat.” Ahreum kini menutup wajahnya dan kembali menangis.

Luhan kembali meraih Ahreum dan memeluknya. Kali ini Luhan menemukan tujuan hidupnya yang lain selain melindungi Ahreum, yaitu untuk selalu berada di sampingnya dan melihat senyumannya. Ia bersumpah untuk tidak akan pernah membiarkan airmata Ahreum jatuh lagi. Dan di sudut ruangan Luhan melihat Lay ikut menangis dalam diam. Tentu saja Lay ikut mendengar cerita singkat Ahreum yang cukup menyedihkan itu.

Putri, tenanglah. Kami tak akan meninggalkanmu sendirian lagi.

.

.

.

.

.

.

.

bee

The eighth chapter is out!!!.

long chapter isn’t it… yosshhh disini full Ahreum-Lulu moment!! dengan sedikit Kris-Ahreum moment… gimana gimana?? dan Kai ga kebagian scene sama sekali -____-v

PS: mulai sekarang bee gak bisa balas komen2 kalian.. kecuali di komen kalian itu ada pertanyaan yang harus bee jawab baru bisa bee balas… bukan maksud sombong.. bee cuma mau ngitung berapa banyak peminat ff bee 😀

thanks for your attention!! annyeong!!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 8 – Loyalty | PG15

19 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 8 – Loyalty | PG15

  1. quorralicious says:

    banyak siders ya dsni?? ff sbagus ini syg bngt bnyak siders huhu…
    jd sedihh.. berharap hunreum moment, ga adil aja pas tau karakter sehun yg childish jd bkin dy ga dianggap ma ahreum.hikz

  2. Dessy Diana says:

    ahh eonni, ceritanya makin haru.
    semua rela berkerja demi mendapatkan uang biar gak kelaparan …
    huaaakkk q menitihkan air mata 😥

  3. niesha says:

    seru seruuuu…. mian baru comment
    abis dr kemaren2 gak selesai2 bacanya inet bermasalah *gigit modem
    feeling2nya ahreum pasti sama kai #sotoy xD ^^v

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s