FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 7 – Protecting Ahreum bab II | PG15


chapter7

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter 7 – Protecting Ahreum Bab II

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

Jiyeon T-ara as Park Jiyeon

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life,

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Mean

Chapter 7 | Protecting Ahreum Bab II

.

.

.

.

Protecting Ahreum bab 2

.

.

.

“…dan si Jiyeon itu menjerit seperti skallorn yang mau melahirkan, gyaaah!!” cerita Chanyeol antusias sambil menirukan suara teriakan Jiyeon tadi siang. Dengan suaranya yang berat dan ekspresinya yang aneh itu membuat dia terlihat sangat lucu.

Mastermind dan Knight yang memenuhi ruang makan malam ini tertawa puas mendengar cerita Chanyeol. Ini karena Chanyeol bukan hanya sekedar cerita, melainkan turut memperagakan adegan-adegan yang terjadi saat kelas Ahreum bermain dodgeball. Ahreum sendiri tak mengerti apa yang lucu dari cerita Chanyeol, karena ia bercerita sambil menyebutkan hal-hal yang tak Ahreum tahu. Walaupun tak mengerti, tapi Ahreum tetap berusaha untuk ikut tersenyum mendengar cerita Chanyeol.

“Untung Ahreum satu tim dengan Kai, bukannya dengan D.O.,”

“Atau Xiumin,”

“Atau Chanyeol,”

“Atau Tao,”

“Kalau dengan mereka mungkin Jiyeon itu sudah babak belur,” ujar Sehun.

Kembali semuanya tertawa. Tapi Ahreum tak mengerti apa yang lucu dari lelucon mereka itu. Akhirnya Ahreum memilih ke dapur untuk mencuci piring.

Kai yang sedari tadi terus mengamati Ahreum, ikut menyusul Ahreum ke dapur. Ia merasa bersalah pada Ahreum. Ia mengira Ahreum masih marah padanya karena kejadian tadi siang -ketika Kai dengan sengaja menendang bola ke wajah Jiyeon. Sesampainya di dapur, Kai melihat Ahreum sudah mulai mencuci piring-piring kotor. Kai pun menghampiri Ahreum.

“Ahreum,” tegur Kai.

Ahreum terlonjak kaget mendengar sapaan Kai. Ia nyaris menjatuhkan piring yang dipegangnya. “Aigoo, aku bilang kan jangan muncul tiba-tiba. Kamu mengagetkanku,” keluh Ahreum.

Biasanya Kai akan tertawa kalau Ahreum protes seperti itu, tapi kali ini tidak. Kai lalu mendekat pada Ahreum. “Kamu lupa memakai celemek,” ujarnya sambil menunjukkan celemek berwarna pink pada Ahreum.

Kai lalu memakaikan celemek itu di badan Ahreum. Ia kemudian memutar badan Ahreum agar dirinya bisa mengikat celemek tersebut.

Kamsahamnida,” gumam Ahreum. Ketika Ahreum hendak berbalik untuk melanjutkan cuciannya, Kai malah menahan badan Ahreum agar tetap pada posisinya –dimana Ahreum memunggungi Kai.

“Kamu marah padaku, Ahreum?” tanya Kai. “Kamu bahkan tak mau melihatku hari ini.”

Ahreum yang bingung akan sikap Kai ini tentu saja bertanya-tanya ada apa dengan Kai. “Bagaimana aku bisa melihatmu kalau kamu menahan badanku seperti ini?”

Kai kini sudah melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ahreum. “Kamu tahu kalau aku menyayangimu kan? Aku bahkan sudah menyayangimu sejak sebelum bertemu denganmu. Aku akan melakukan apa saja untuk melindungimu, Ahreum.”

Ahreum jadi salah tingkah dengan sikap Kai ini. Ia merasa suhu di dapur mendadak menghangat. Ahreum berusaha mengalihkan pikirannya pada apapun selain pada kenyataan kalau Kai tengah memeluknya dan mengungkapkan perasaannya saat ini. Ahreum jadi tak tahu harus bersikap bagaimana.

“A…aku tahu kalau kamu datang untuk melindungiku, tapi tak…,”

“Aku tak bisa tinggal diam begitu tahu kalau perempuan itu suka menyakitimu. Jadi aku hanya melakukan hal yang perlu aku lakukan untuk melawannya. Karena itu kumohon jangan marah padaku karena aku menendang bola ke arahnya,” ujar Kai.

“Ka..kamu pikir aku marah padamu? Karena apa yang sudah kamu lakukan pada Jiyeon tadi siang?” sahut Ahreum bingung.

Kai menundukkan kepalanya. “Kamu mendiamiku sejak sehabis tanding bola tadi.”

Ahreum akhirnya melepaskan diri dari Kai. Ia kini berbalik menghadap Kai untuk melihat pemuda itu. Baru kali ini Ahreum melihat makhluk-paling-percaya-diri-sejagad-raya itu tampak sangat tak berdaya. “Ohh Kai. Disini ada dua belas orang yang harus ku perhatikan. Jadi maafkan aku kalau kamu merasa terabaikan. Tapi sungguh, aku tak marah dengan apa yang kamu lakukan pada Jiyeon tadi siang.”

“Sungguh??” Kai langsung mengumbar senyum sumringah.

“Eung. Aku malah sungguh berharap hidung Jiyeon benar patah. Dengan begitu dia akan takut padamu dan tak akan berani lagi mengangguku,” ujar Ahreum yang ikut tersenyum.

Kai kini memeluk Ahreum erat. Ia mengucapkan terima kasih berkali-kali sambil menguncang badan Ahreum ke kiri dan ke kanan dalam pelukannya. Ahreum jadi tertawa melihat perubahan sikap Kai yang begitu cepat itu.

“Hei, Kai. Apa ada hal yang kamu takuti di dunia ini?” tanya Ahreum.

Kai pun melepas pelukannya dan menatap Ahreum intens. “Ada. Aku takut kalau matamu tak mau menatapku. Aku takut kalau bibirmu tak tersenyum padaku. Aku takut kamu tak mau bicara denganku. Itu adalah hal yang paling kutakutkan saat ini.”

Ahreum merasa tersanjung mendengarnya. Ia sering mendengar gombalan Kai yang seperti ini. Kai memang senang menggodanya, karena itu Ahreum sudah tidak lagi merasa terharu atau tersanjung secara berlebihan terhadap setiap rayuannya.

“Upps, apa aku kelewatan sesuatu,” sela Luhan yang baru memasuki dapur.

“Ohh perusak suasana datang,” keluh Kai sambil memutar bola matanya.

“Sepertinya ada yang lupa akan tugasnya disini,” sahut Luhan acuh.

Ahreum langsung menengahi keduanya sebelum mereka kembali perang mulut. Ahreum pun melanjutkan cuciannya. Dapur kini mendadak penuh karena Suho, Lay, dan Sehun sudah berada disana untuk membantu Ahreum mencuci piring.

Harabeoji, dua belas makhluk ini benar-benar sesuatu ya. Sebentar melambungkan hatiku, lalu menaik-turunkan emosiku, membuatku kesal, tertawa, bahagia. Aku menyukai mereka, Harabeoji. Mereka, keluarga baruku.

.

.

.

Jiyeon tentu saja tidak tinggal diam sejak hidungnya dianiaya oleh Kai. Jiyeon terus mengincar Ahreum karena berpikir kalau Ahreum lah yang sudah menyuruh Kai untuk melakukan itu padanya. Beberapa kali ketika Kai dan Kris lengah, Jiyeon berhasil mengintimidasi Ahreum. Tapi biasanya itu semua tak berlangsung lama, karena masih ada sepuluh pengawal Ahreum yang akan selalu berkeliaran di sekitarnya.

Seperti ketika Jiyeon berencana menjatuhkan tumpukan buku pada Ahreum yang tengah naik tangga –berharap kalau buku-buku itu akan menimpa Ahreum. Tapi mendadak ada angin kencang yang bertiup ke arah Jiyeon dan malah membuat buku-buku itu jatuh menimpa dirinya sendiri.

Atau ketika Jiyeon kembali hendak menumpahkan air ke Ahreum yang tengah ada di dalam toilet, air tersebut malah membasahi dirinya. Atau ketika Jiyeon mau melemparkan penghapus papan tulis tapi penghapus tersebut malah kembali melayang ke arahnya.

Ahreum sendiri tak tahu kalau Mastermind dan Knight diam-diam melindunginya. Karena kalau Ahreum sampai tahu pengawalnya tersebut melakukan hal-hal itu pada Jiyeon, sudah pasti Ahreum akan memarahi mereka. Biar bagaimanapun juga Ahreum sangat tidak menyetujui yang namanya balas dendam –kecuali dalam keadaan terdesak baru boleh membalas.

Walau Ahreum cukup heran kenapa belakangan ini hari-harinya di sekolah terasa tenang tapi Ahreum cukup menikmati ketenangan itu.

“Ahh, baru ini aku merasakan sekolah begitu menyenangkan,” ujar Ahreum.

Ahreum kini tengah menikmati istirahat siangnya di kantin. Menikmati rasa tenang, bebas dan aman yang tak pernah ia rasakan. Kini siswa-siswi di akademinya tak ada yang berani menghinanya lagi. Tidak lagi karena mereka tak ingin mendapat hukuman dari dua belas pria yang mengelilingi Ahreum.

“Memang selama ini sekolah tak menyenangkan, Putri?” tanya Suho.

“Aku bisa merasakan sekolah sungguhan dan bersosialisasi dengan orang banyak itu baru sekitar enam bulan ini saja. Selama ini aku belajar di rumah dengan Harabeoji. Aku tak pernah keluar rumah sebelumnya.” Ahreum terdiam. Mengingat kenangannya bersama kakeknya membuat Ahreum jadi murung. “Harabeoji selalu melarangku keluar rumah. Kalaupun keluar hanya boleh di sekitar rumah dan tak boleh jauh dari pandangannya. Kini aku tahu kenapa ia selalu melarangku keluar rumah. Orang-orang diluar rumah itu ternyata kejam-kejam.”

“Tapi kini ada kami disini, Putri, kamu tak akan sendirian lagi. Tak usah pedulikan mereka yang kejam padamu karena kami akan melindungimu,” ujar Chanyeol seraya menggenggam erat tangan Ahreum.

“Benar, Putri Ahreum. Kalau ada yang jahat padamu, bilang saja pada kami. Maka kami akan mengurus mereka agar jangan sampai mengganggumu lagi. Seperti apa yang sudah kami lakukan pada si perempuan Jiyeon itu,” sahut Sehun bangga.

Knight dan Mastermind langsung melemparkan pandangan peringatan pada Sehun. Menyadari kalau ia kelepasan bicara, Sehun langsung menutup mulutnya dan menatap hyung-nya dengan rasa bersalah. Tak seharusnya Ahreum tahu tentang apa yang sudah mereka lakukan pada Jiyeon. Dan kini Ahreum memandangi Sehun seolah ia habis memakan eskrim favorit Ahreum.

“Apa maksudmu dengan seperti yang kami lakukan pada Jiyeon? Apa yang sudah kalian lakukan padanya?!” tuntut Ahreum.

“Bukan apa-apa, Ahreum,” sahut Baekhyun mencoba menenangkan Ahreum. Sementara Chanyeol sudah memukul kepala Maknae itu.

“Kalian.. Kalian tak melakukan hal-hal yang menyakitinya kan?” Ahreum masih belum puas dengan jawaban Baekhyun.

“Kami tak menyakitinya. Kami hanya menghindarkan kamu dari kejahatannya,” sahut Lay.

Ahreum memandangi Lay tak percaya.

“Kamu tak percaya padaku? Aku tak pernah berbohong padamu, kan?” tanya Lay.

Mau tak mau Ahreum mempercayainya. Bukannya Ahreum mau membela Jiyeon. Tapi Ahreum memang tidak suka jika ada yang menindas orang yang lebih lemah di hadapannya –termasuk pengawalnya sendiri. Ahreum tak ingin pengawalnya itu menindas siapapun hanya untuk melindunginya.

“Baiklah aku percaya pada kalian. Ahh kurasa aku tahu satu cara untuk membuat Jiyeon berhenti menggangguku,” ujar Ahreum.

.

.

Hari ini Miss Han memberikan pengumuman penting. Untuk libur tengah semester, kelas mereka akan mengadakan campfire di daerah Gangwon. Ahreum yang sudah menantikan acara tersebut tentu saja kegirangan.

“Apa itu campfire? Apa yang bagus dari campfire?” tanya Kai bingung.

Campfire itu kita kemping di alam bebas lalu melakukan permainan-permainan, dan malamnya akan ada api unggun. Pokoknya campfire akan menjadi acara yang paling seru yang pernah ada,” bisik Ahreum antusias.

Bagi Ahreum yang tak pernah keluar rumah seumur hidupnya, tentu pergi ke tempat baru menjadi hal yang sangat ia nantikan. Ahreum pernah melihat di internet dan di TV kalau tempat yang namanya Gangwon-do itu adalah tempat yang sangat hijau dan asri. Belum lagi kalau menonton film drama sekolah yang mengadakan kemping, membuat Ahreum ingin merasakan kemping juga.

“Kenapa kamu begitu menantikannya? Kalau hanya pasang api unggun di alam bebas kita bisa melakukannya di belakang rumahmu. Bukan hanya api unggun, tapi juga akan ada manusia api,” sahut Kai.

“Ishh, kamu sungguh mengurangi semua kesenangan. Aku bukan hanya menantikan api unggunnya. Tapi dari apa yang kulihat kemping bisa membuat siapapun jadi lebih dekat. Dan aku mau lebih dekat dengan semuanya disana,” sahut Ahreum kesal.

“Ohya? Kamu mau lebih dekat seperti apa denganku?” goda Kai.

Ahreum mengangkat tangannya hendak memukul Kai tapi seruan Miss Han menghentikan aksinya di udara.

“Kim Jongin! Lee Ahreum! Berlutut di koridor sekarang!”

Kris hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Ahreum dan Kai yang berjalan keluar kelas. Ahreum dan Kai kini berlutut di koridor dengan kedua tangan terangkat di udara. Ahreum makin kesal dengan Kai. Sudah lama Ahreum tidak mendapat hukuman dari Miss Han, tapi kini Miss Han kembali menghukumnya karena Kai.

“Ini semua gara-gara kamu,” kesal Ahreum.

“Hahahaha setidaknya aku kini bisa berdua denganmu tanpa naga pengganggu itu,” sahut Kai sambil menunjukkan seringai khasnya.

Ahreum hanya bisa memutar bola matanya.

.

Ketika pulang sekolah, hanya Ahreum seorang yang masih tinggal di kelas. Bukan karena ia mendapat skors lagi dari Miss Han, tapi karena ia harus mencatat semua yang ditulis Miss Han di papan tulis. Ahreum tak perlu terlambat seperti ini jika saja Kai berhenti menggodanya ketika di kelas. Karena Kai, Ahreum jadi harus ketinggalan pelajaran dan mendapat hukuman di koridor bersamanya. Kai sendiri sudah pergi begitu bel berbunyi. Itu karena ia tak perlu mencatat semua pelajaran tersebut, lagipula tujuannya datang ke sekolah ini bukan untuk menjadi pintar seperti Ahreum.

Ahreum dengan rajinnya mencatat semua rumus di papan tulis. Ia bahkan membuat penjelasan tersendiri terhadap apa yang ia tulis. Ia memang meminta Kai dan Kris untuk pergi dan menunggu yang lain di loker –Ahreum masih takut Mastermind dan Knight yang lain tersasar di sekolahnya. Setelah selesai Ahreum pun segera merapikan buku-bukunya.

“Wah wah wah. Ada bebek buruk rupa yang ketinggalan kelompok sepertinya,” ejek suara yang tak asing lagi bagi Ahreum. Park Jiyeon.

Ahrem bahkan tak terkejut mendengar suara Jiyeon. Ia tetap fokus merapikan buku-bukunya. Ketika ia menyampirkan tasnya di punggung, Jiyeon sudah berdiri tegak di hadapannya seraya menyilangkan lengan di dada.

“Mana pembantumu itu, penyihir?” tegur Jiyeon.

“Kenapa kamu begitu terobsesi dengan hal-hal penyihir ini, Jiyeon? Apa kamu sungguh berharap aku benar-benar bisa sihir? Kamu akan terkejut dan takut kalau itu sampai terjadi,” sahut Ahreum malas.

“Kamu memang penyihir. Keturunan penyihir dan pemuja setan. Ohh aku lupa karena kamu memuja setan makanya kamu jadi penyihir. Dan anak-anak baru itu, kamu menyihir mereka dengan rayuanmu. Kamu membuat mereka jatuh dalam jebakan sihirmu. Makanya mereka tak bisa berpaling darimu,” tuding Jiyeon seraya menunjuk-nunjukkan telunjuknya ke arah Ahreum.

Ahreum memutar bola matanya jengah. Ia cukup lelah dengan semua tingkah Jiyeon. Jiyeon ini sungguh kekanakan.

“Jangan sentuh aku, Jiyeon,” ketus Ahreum.

“Sihir apa yang kammu gunakan pada mereka Ahreum? Kamu memberi mereka apa sampai mereka begitu patuh padamu. Tunjukkan padaku,” tuding Jiyeon lagi.

“Kamu benar-benar ingin melihatku melakukan sebuah sihir di hadapanmu?” tantang Ahreum.

Jiyeon tampak mundur selangkah mendengar ucapan Ahreum. Kemudian Jiyeon kembali maju menantang Ahreum.

“Kamu akan menyesal telah menantangku, Park-Ji-Yeon,” sahut Ahreum dingin.

Kelas mendadak jadi sangat dingin sampai rasanya udara disana sudah mencapai titik beku saking dinginnya. Lalu jendela kelas tiba-tiba terbuka lebar. Angin kencang bertiup masuk ke dalam kelas. Jiyeon sampai melindungi wajahnya dari kencangnya angin tersebut. Lampu kelas berkedip-kedip –hidup dan mati. Sedangkan meja dan kursi semuanya bergerak kesana kemari. Siapapun yang berada di dalam situasi ini pasti akan melakukan hal yang sama, yaitu…

“Kyaaaaaaaaaaaaa!! Kamu benar-benar penyihir!!” jerit Jiyeon ketakutan.

Jiyeon berusaha keluar sambil menghindari meja-meja yang menghalangi jalannya. Ia cukup gemetaran saat ini. Jiyeon tak pernah berpikir kalau Ahreum bisa melakukan sihir sungguhan. Ia tak pernah berpikir kalau Ahreum akan melakukan sihirnya di hadapannya. Sementara Ahreum sudah tertawa puas melihat ekspresi ketakutan Jiyeon.

“Jiyeon-ah, lain kali kamu harus lebih berhati-hati dengan sikapmu terhadapku,” pesan Ahreum sebelum Jiyeon menghilang keluar kelas.

Ahreum tertawa terbahak-bahak. Ia sampai memegangi perutnya saking tak kuasa menahan kram di perutnya akibat banyak tertawa. Baru ini ia tertawa begitu puasnya, semua ini karena ulah dua belas pengawalnya.

“Yah yah sudah hentikan anginnya Sehun. Kamu membuat rambutku berantakan,” ujar Ahreum begitu ia selesai tertawa.

Angin pun berhenti bertiup, udara dan lampu kembali normal serta meja-kursi sudah diam tak bergerak lagi. Kini dua belas pengawal Ahreum sudah muncul di kelas dari berbagai sisi –Kris dan Sehun bahkan muncul dari luar jendela.

“Woahh kerja bagus semuanya. Setelah ini Jiyeon pasti kapok untuk menggangguku lagi,” puji Ahreum.

Suho menghampiri Ahreum untuk merapikan rambutnya yang berantakan. “Setelah ini dia pasti tak akan mengerjaimu lagi, Ahreum,” ujar Suho.

“Apa kalian melihatnya. Dia berlari ketakutan seperti itu. Ahh ini menyenangkan sekali harusnya kita melakukannya lebih sering,” sahut Xiumin antusias. Ia kini ber-highfive ria dengan Sehun dan Luhan.

“Aku bahkan belum menggunakan kekuatanku,” Chen terdengar kecewa.

Ahreum menepuk-nepuk pundak Chen. “Kalau peringatan ini tak cukup baginya maka kita akan membuat dia merasakan petirmu, Chen,” Ahreum berusaha menaikkan mood Chen.

Ahreum memandangi dua belas pemuda itu satu persatu. Senyum bangga terlukis di wajahnya. Ya, Ahreum benar-benar bangga memiliki mereka. Berkat mereka, Ahreum bisa melihat ekspresi ketakutan Jiyeon tadi. Jarang-jarang Ahreum bisa melihatnya. Karena biasanya yang terjadi adalah kebalikannya, Ahreum yang takut melihat Jiyeon.

“Aku sungguh berterima kasih pada kalian. Sekarang kalian tahu kan kalau kita tak perlu memukulnya langsung untuk membuatnya jera, cukup dengan menakutinya seperti ini saja,” ujar Ahreum. Ia kini merangkul Luhan dan Sehun yang ada di sisi kiri dan kanannya. “Sekarang kalian rapikan tempat ini sebelum ada yang curiga. Ayo bergerak! Chop chop!”

Ahreum menepukkan tangannya sebagai titahnya agar pemuda-pemuda itu segera bergerak. Sambil memasang muka datar, seluruh pengawal Ahreum pun mulai bergerak untuk merapikan kelas. Luhan kembali menggunakan kekuatannya untuk memindahkan meja dan kursi, dibantu oleh Baekhyun, Suho dan Chen. Sehun, Chanyeol, Tao dan Lay memunguti kertas-kertas yang berterbangan akibat angin Sehun. Sementara sisanya melakukan hal lain yang bisa mereka kerjakan.

“Apa kamu senang sekarang?” tegur Kris. Disaat yang lain bekerja hanya ia seorang yang tetap berdiri di samping Ahreum.

“Senang kenapa? Menakuti Jiyeon? Umm tidak sesenang itu sih, tapi aku cukup puas bisa mengusirnya,” sahut Ahreum.

“Puas karena bisa membalasnya atau puas karena bisa melawannya?” tanya Kris lagi.

Ahreum memandangi Kris bingung. “Ini tidak termasuk dalam kategori melawan, Kris. Ini bukan seperti sebuah perang dimana seseorang menyakiti orang lain lalu orang itu balas menyakitinya. Ini adalah hal yang berbeda.”

Kris diam mendengar jawaban Ahreum. Ia tak pernah bisa menebak jalan pikiran Ahreum. Kris pernah mendengar -bahkan selalu mendengar kalau Ahreum ingin sekali bisa membalas kelakuan Jiyeon. Tapi begitu Ahreum tahu kalau Knight dan Mastermind diam-diam membalas kelakuan Jiyeon terhadap Ahreum, gadis itu malah memarahi mereka. Kris tak pernah tahu apa yang menjadi kepuasan hati Ahreum.

“Kurasa aku tak akan pernah bisa menebakmu, Ahreum.”

.

.

Jiyeon merasa sangat kesal saat ini. Ia tak bisa menyalurkan hobinya menyiksa Ahreum karena Ahreum kini dikelilingi oleh dua belas pemuda tampan nan menyebalkan itu. Dan yang lebih membuatnya kesal adalah Kris, anak baru yang Jiyeon taksir, tampak tak bisa berpaling dari Ahreum. Jiyeon sebal melihat Kris yang selalu menempel pada Ahreum. Kris selalu memperlakukan Jiyeon seolah Jiyeon tak ada sedangkan dengan Ahreum, dia memperlakukannya layaknya seorang putri. Jiyeon tentu saja tak akan menyerah untuk bisa mendapat perhatian Kris sekaligus menyakiti Ahreum.

Usai pelajaran olahraga minggu ini, Jiyeon segera menjalankan aksinya pada Ahreum. Ketika mereka sedang berganti pakaian di ruang ganti perempuan, Jiyeon langsung memojokkan Ahreum. Sejak kejadian beberapa waktu lalu dimana Jiyeon melihat langsung ‘kekuatan sihir’ Ahreum, Jiyeon tak pernah berani mengganggu Ahreum –jika ia sendirian. Jiyeon pasti akan membawa teman jika mau mengganggu Ahreum.

“Jadi sekarang pilih, kamu mau aku bebaskan atau kamu mau celaka, Ahreum?” ancam Jiyeon. Ia sudah menyuruh anak buahnya untuk menahan badan Ahreum sehingga ia bisa dengan mudahnya menarik rambut pendek Ahreum.

“Apa yang kamu mau Jiyeon?!” kesal Ahreum sambil sedikit meringis.

“Menjauh dari Kris. Aku menyukainya, jadi kamu sebaiknya menjauh darinya. Kalau kamu melakukan itu maka aku akan melepaskanmu di campfire nanti,” ujar Jiyeon.

Apa?! Jiyeon menyukai Kris?! Ahreum memandangi Jiyeon tak percaya. Pikirannya mendadak kosong mendengar pernyataan Jiyeon itu. Ahreum tak tahu harus merespon seperti apa.

“Sepertinya kamu tak mau menuruti apa kataku. Baiklah. Kita lihat saja apa yang bisa aku lakukan padamu,” ujar Jiyeon sarkastik. “Kamu pikir aku takut melihatmu terus dikerubungi oleh anak baru itu. Walau ada mereka, aku tetap bisa mengganggu hidupmu, Ahreum.”

Jiyeon mengambil seragam Ahreum dan membawa seragam itu bersamanya. Ia lalu keluar dari ruang ganti.

“Yah, Park Jiyeon!! Kembalikan seragamku!” jerit Ahreum.

Ia lalu menyusul Jiyeon. Ahreum tak lupa untuk memakai sepatu terlebih dahulu. Tapi ia juga tak menemukan sepatunya di loker. Ahreum menduga kalau Jiyeon mengambil semua atributnya dan membawanya keluar. Akhirnya Ahreum keluar dengan kaki telanjang. Ia mengitari lapangan indoor ini untuk mencari Jiyeon atau seragamnya yang dicuri Jiyeon. Tapi Ahreum malah berpapasan dengan Suho yang tampaknya sedang ada kelas olahraga.

“Oh, putri. Apa yang kamu lakukan tanpa sepatu? Nanti kakimu bisa terluka,” panik Suho.

“Aku tak apa-apa. Suho, apa kamu melihat Jiyeon?” sahut Ahreum.

“Jiyeon? Kenapa? Apa dia melakukan sesuatu lagi padamu?! Katakan padaku dia melakukan apa lagi kali ini?!” tuntut Suho.

Ahreum menggelengkan kepalanya. “Bukan apa-apa, cuma…euh.. Barangnya ada yang ketinggalan,” Ahreum mengelak.

“Kalian kan sekelas, kenapa harus terburu-buru sampai kamu melupakan sepatumu? Kamu kan bisa memberikannya nanti di kelas,” sahut Suho curiga.

Ahreum kehabisan akal. Di satu sisi ia ingin segera mengejar Jiyeon tapi disisi lain ia tak ingin Suho ikut campur akan masalahnya. Bisa-bisa sebelas pemuda yang lain langsung turun tangan.

“Ahreum,”

Ahreum menoleh dan mendapati Kris tengah berjalan ke arahnya. Ahreum melihat Kris sudah menenteng sepatu dan seragam Ahreum. Segera saja ia berlari mendekati Kris –dan membuat Suho panik melihat kaki Ahreum yang bersentuhan langsung dengan tanah.

“Kamu mencari ini?” tanya Kris.

Ahreum mengangguk antusias. “Darimana kamu mendapatkannya?”

“Ada yang memberikannya padaku. Sekarang cepat kamu ganti bajumu,” titah Kris.

Ahreum langsung menadahkan tangannya untuk meminta seragam dan sepatunya. Tapi Kris malah memberikan itu semua pada Suho. Kebingungan Ahreum tidak berlangsung lama karena Kris kini sudah menggendong dirinya.

“Tapi sebelum itu, kita cuci dulu kakimu,” ujarnya.

Wajah Ahreum langsung merona. Ia ingat dulu Kris pernah menggendongnya layaknya karung beras. Tapi di gendong ala bridal seperti ini sukses membuat Ahreum mendadak gerah. Baru ini Kris memperlakukannya layaknya perempuan (Ahreum tentu tak tahu kalau Kris pernah menggendongnya seperti ini, berkali-kali malah, setiap Ahreum ketiduran).

Kris menggendong Ahreum sampai ke deretan keran yang ada di samping lapangan. Kris lalu mendudukkan Ahreum di batu keramik samping keran dan dan mulai mengguyur kaki Ahreum dibawah air yang mengalir dari keran terdekat.

“Errr, Kris, kamu tak perlu melakukan ini,” ujar Ahreum canggung.

“Betul, membersihkan kaki Ahreum adalah pekerjaanku,” sahut Suho yang mengikuti mereka.

“Kalau kamu bisa melawan, Ahreum… Kalau kamu bisa melawan maka kamu tak peru mengotori kakimu seperti ini,” gumam Kris.

Kris menggosok-gosok kaki Ahreum sampai akhirnya kaki Ahreum bersih dari tanah. Ia lalu mengeringkan kaki Ahreum dengan seragam yang ia pakai.

“Yah, bajumu nanti kotor,” protes Ahreum sambil menarik kakinya.

“Lebih baik bajuku yang kotor, Ahreum, daripada aku harus melihatmu mengotori kakimu seperti ini,” sahut Kris datar.

Suho segera memakaikan sepatu di kaki Ahreum. “Nah, Putri, cepat pergi ganti baju. Nanti kamu bisa mendapat hukuman kalau terlambat masuk kelas berikutnya,” ujar Suho sambil menurunkan Ahreum dari batu keramik tersebut. Ia lalu berbisik pada Ahreum, “abaikan saja ucapannya. Kris memang suka seperti itu.”

Ahreum memandangi Kris bersalah. Melihat Kris yang tanpa ekspresi itu membuat Ahreum menduga kalau pemuda itu sedang marah padanya. Ahreum memilih untuk tak melanjutkan percakapan mereka. Ahreum pun meninggalkan kedua pemimpin tersebut. Tapi karena ia merasa ada yang salah ia pun kembali berbalik untuk menghadap Kris.

“Aku bukannya tak bisa melawan. Aku hanya tak suka melawan. Itu hanya akan menyakiti kedua belah pihak. Dan lagi dengan melawan maka tak akan pernah ada penyelesaian dari masalah yang terjadi. Kita hanya akan saling menyakiti. Jadi aku lebih baik diam dan membiarkan semua terjadi apa adanya. Itu adalah prinsip yang diajarkan kakeku,” Ahreum mengutarakan pendapatnya. Tak peduli orang mau menyakitiku seperti apapun, selama aku tak menyakiti mereka maka semua akan baik-baik saja. Kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejahatan, itu yang kupelajari dari Harabeoji.

Ahreum lalu kembali berjalan meninggalkan mereka. Sementara Suho sudah memandangi Ahreum tercengang. Ia takjub dengan apa yang Ahreum ucapkan.

“Hei Kris. Bukannya itu kalimat yang diucapkan Putri Ara sebelum menghilang? Aku pernah membacanya di buku sejarah dan Kapten juga pernah menceritakan itu. Woah dia.. Dia benar-benar tampak seperti Putri Ara,” takjub Suho.

“Memilih agar dia saja yang tersakiti demi kebahagiaan orang-orang di sekitarnya. Itu adalah pilihan bodoh,” sahut Kris. “Karena itu Putri Ara menghilang. Ia terlalu takut menghadapi pamannya sendiri dan memilih pergi meninggalkan tanggung jawabnya. Tapi aku tak akan membuat Ahreum melakukan kesalahan yang sama seperti Putri Ara.”

.

.

“Ughhhh!! Ahreum itu,” geram Jiyeon.

Ia kini mengamati Ahreum yang tengah digendong oleh Kris. Melihat pemandangan itu tentu saja membuat Jiyeon makin panas. Ia yang sudah terang-terangan mengatakan kalau dirinya menyukai Kris kini harus mengalami kejadian yang membuat dirinya kesal. Bagaimana tidak, Kris memperlakukan dirinya sangat berbeda dengan ketika ia berlaku dihadapan Ahreum.

Jiyeon tentu ingat kejadian tadi, kejadian yang baru terjadi sekitar lima menit yang lalu.

Jiyeon memasukkan seragam Ahreum ke dalam tasnya dan menenteng sepatu Ahreum. Tujuannya saat ini adalah pembuangan sampah di belakang sekolah. Ia ingin membuang seragam Ahreum disana. Tapi ia bertemu dengan Kris di tengah jalan.

Ohh, Kris-ssi annyeong. Kamu sudah ganti baju?” tegur Jiyeon dengan nada yang dimanis-maniskan.

Kris tampak tak mempedulikan Jiyeon. Lalu Kris melihat ada sesuatu di Jiyeon yang sangat familiar baginya. Sepatu Ahreum.

Apa itu?” Kris menunjuk sepatu yang ditenteng Jiyeon.

Ini?? Ini tasku. Kenapa?”Jiyeon bersikap sepolos mungkin, seolah tanpa dosa.

Tapi Kris tak semudah itu melepaskannya. Ia lalu menarik tangan Jiyeon yang memegang sepatu Ahreum. “Ini sepatu Ahreum. Apa yang mau kamu lakukan dengan sepatunya?!” tuding Kris.

A.. Aku menemukannya disana. Dan aku mau mengembalikan ini pada Ahreum. Dia sedang mencari-cari sepatunya sekarang,” panik Jiyeon.

Kris memandangi Jiyeon curiga. Ia lalu merebut sepatu Ahreum dari tangan Jiyeon. Tapi Kris merasa ada yang janggal di tas Jiyeon. Kris pun memeriksanya.

Yah! Apa yang kamu lakukan?! Kenapa kau tiba-tiba membongkar tasku!!” bentak Jiyeon panik.

Kris mengeluarkan seragam Ahreum dari tas Jiyeon. Ia mengacungkan seragam itu ke hadapan Jiyeon. 

Bisa kamu jelaskan kenapa seragam Ahreum ada padamu?!” geram Kris.

A.. Aku bilang aku..menemukannya. Aku baru mau mengembalikannya pada Ahreum. Kenapa kamu malah membentakku?!” protes Jiyeon. Ia sebenarnya takut saat ini tapi ia berusaha menyembunyikannya.

Kalau begitu aku yang akan mengembalikan ini semua pada Ahreum,” sahut Kris. “Dengar Park Jiyeon-ssi. Aku tahu niat burukmu terhadap Ahreum, tapi aku melepaskanmu kali ini. Kalau aku mengetahui kamu melakukan hal seperti ini pada Ahreum, perempuan atau bukan, aku yang akan membalasmu. Mengerti,” ancam Kris.

Jiyeon menelan salivanya mengingat kejadian tadi. Ia merasa imej-nya di depan Kris kini sudah hancur. Jiyeon tentu akan membalas semuanya pada Ahreum.

“Kita tunggu sampai campfire tiba, Lee Ahreum. Sampai saat itu tiba, maka tamatlah riwayatmu,” tekad Jiyeon.

.

.

.

.

.

bee

The seventh chapter is out!!!.

long chapter… here comes the straightforward Ahreum dengan segala pikirannya yang susah ditebak.. btw ada Kai-Ahreum moment dan sedikit Kris-Ahreum moment.. chapter berikutnya enaknya sama siapa yaa?? siapa yang belum kebagian moment yaa??
thanks for your attention!! annyeong!!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 7 – Protecting Ahreum bab II | PG15

13 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 7 – Protecting Ahreum bab II | PG15

  1. quorralicious says:

    campfire, campfure, cepat dtnglah, ahreumnya baik bngt dsni
    aaaaaaaaah sukaaa ma fanfic ini, pgn fanficmu ini djdiin drama deh,huhu drama korea dgn castnya yg sama
    bkin versi inggrisnya,.jdiin skenario and coba krim ke sbs,heehee ngalahin man from the star nih pasti ratingnya, hehee kebayang CG nya pasti apik bngt

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s