FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 6 – Protecting Ahreum | PG15


chapter6

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter 6 – Protecting Ahreum

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

Jiyeon T-ara as Park Jiyeon

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life,

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Mean

Chapter 6 | Protecting Ahreum

.

.

.

.

.

Protecting Ahreum

.

.

“…dan kenapa aku harus pergi denganmu,” keluh Kai.

“Kamu pikir aku mau pergi denganmu? Aku juga tak mau. Tapi Dduizhang menyuruhku untuk ikut denganmu,” sahut Luhan.

Keduanya kini membuntuti Ahreum ke sekolahnya. Gadis itu sendiri tak menyadari kalau ia diikuti. Ahreum bahkan tidak ingat kejadian semalam karena Lay menghipnotisnya untuk melupakan kejadian semalam. Jadi Ahreum pagi ini bersikap seperti biasa seolah tak terjadi apa-apa.

“Hei, kita tak bisa masuk begitu saja. Ini bukan wilayah kita,” larang Luhan begitu ia melihat Kai sudah akan melompati pagar sekolah.

“Tapi aku ‘bisa’ masuk tanpa mengajakmu dan tanpa ketahuan siapapun,” sahut Kai.

Luhan tahu Kai pasti akan berteleport ke dalam sekolah. Karena itu sebelum Kai menghilang, Luhan segera memegang tangannya.

“Ishh apa bisa kamu tak mengikutiku,” gerutu Kai begitu mereka tiba di dalam sekolah.

Luhan hanya mencibir menjawab keluhan Kai. Mereka pun mulai mencari Ahreum. Kai dan Luhan sudah terlatih untuk berkamuflase ditengah keramaian. Karenanya mereka bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar dan beredar di sekolah Ahreum tanpa ada seorang pun yang menyadari kehadiran mereka.

Keduanya berhasil menemukan Ahreum. Gadis itu tampak baru mengambil buku-bukunya dari loker. Dan ketika Ahreum berbalik sambil membawa buku yang memenuhi tangannya, sudah ada orang-orang yang dengan sengaja menabrak dirinya hingga buku-buku di tangannya berjatuhan. Ahreum berjongkok untuk memunguti bukunya tapi beberapa siswa dengan sengaja berjalan melewatinya, menginjak bukunya, mengayunkan tas mereka ke kepala Ahreum, bahkan menginjak tangan Ahreum.

“Terkutuklah manusia-manusia itu!!!” geram Kai. Ia sudah mengambil ancang-ancang untuk menyerang mereka yang menyakiti Ahreum.

“Tahan dirimu, Kai. Kita disini untuk mengawasi Ahreum, bukan mencari masalah. Apa kamu mau Ahreum marah karena tahu kalau kita mengikutinya?” cegah Luhan.

Kai menatap siswa-siwa itu penuh kebencian. Ya, seandainya tatapan bisa membunuh, mungkin siswa-siswa itu sudah mati karena tatapan Kai.

Luhan dan Kai akhirnya hanya bisa diam mengamati apa yang terjadi pada Ahreum di sekolah. Keduanya memutuskan untuk tidak melanjutkan pengamatan mereka setelah istirahat siang Ahreum berakhir. Kai dan Luhan kembali ke kediaman Ahreum untuk melaporkan pengamatan mereka pada rekan-rekannya.

Dan mereka sadar betul apa yang harus mereka lakukan selanjutnya untuk melindungi Ahreum.

.

.

“Astaga, malang sekali nasib Putri Ahreum,” iba Sehun.

“Ternyata dunia ini isinya orang-orang yang sama jahatnya dengan pengikut raja Xenos. Apa kamu yakin mereka bukan pengikutnya? Kalau ya maka akan kubakar mereka sampai habis jadi abu,” geram Chanyeol.

“Dan aku akan meninju mereka sampai remuk semua tulangnya,” sahut D.O. antusias.

Kris berusaha menenangkan emosi semua rekannya. Ia tahu mereka sedang panas karena berita yang dibawakan oleh Luhan dan Kai. Akhirnya mereka mengetahui kehidupan Ahreum yang sebenarnya. Ahreum selalu bersikap ceria dan baik-baik saja di hadapan mereka, karena itu mereka kesal sebab keceriaan itu hanya bohong belaka. Ahreum sesungguhnya menderita di belakang mereka.

“Kita akan pergi ke sekolah dengan Ahreum,” ujar Kris.

“Tapi, Kris, Ahreum kan melarang kita mengikutinya ke sekolah,” sela Suho.

“Walau dia tak setuju, kita tetap harus ke sekolah. Kalian kumpulkan data tentang sekolah. Apa saja yang diperlukan untuk bisa masuk kesana. Lalu kita siapkan semua keperluannya dan pergi sekolah bersama Ahreum,” perintah Kris. “Kita akan melindungi Ahreum dari dekat. Tak perlu sembunyi-sembunyi lagi. Dan dia tak bisa melarang kita.”

.

.

“MWO?!! SEKOLAH?! KALIAN MAU SEKOLAH?!” jerit Ahreum.

Ahreum yang sedang menonton drama favoritnya sampai harus tersedak mendengar ucapan Suho. Sekolah katanya? Bersekolah?! Memangnya mereka mengerti apa itu sekolah?!

“Apa yang mau kalian lakukan di sekolah? Kalian bahkan tak tahu matematika atau fisika kan? Kalau kalian mau menjagaku cukup dari jauh saja, tak perlu mengikutiku ke sekolah!” protes Ahreum.

“Tapi kami harus ke sekolah putri. Sebenarnya kami itu harus berada disisimu selama dua puluh empat jam. Tapi kalau setengahnya saja kau berada di luar jangkauan kami lalu bagaimana bisa kami melindungimu?” sahut Sehun.

Ahreum bingung kenapa Mastermind dan Knight tiba-tiba ingin pergi ke sekolah. Ia tak tahu apa yang mereka pikirkan mengenai sekolah. Dan hey, kalau mereka ke sekolah berarti mereka akan tahu apa yang Ahreum alami di sekolah selama ini.

“Apa kalian tahu, kalau mau masuk ke sekolah itu harus menjadi murid disana. Dan kalian bukan murid di sekolahku. Jadi..,”

“Kita sudah menjadi murid di sekolahmu,” sela Chen sambil menunjukkan lembaran-lembaran kertas.

What?!! Kapan kalian mendaftar?! Oh Tuhan, kenapa kalian mendaftar tanpa bilang dulu padaku?!” maki Ahreum. Ia menyilangkan lengannya di dada. “Aku tak akan menjebol tabungan Harabeoji hanya untuk menyekolahkan kalian. Jadi sebaiknya kalian menyerah.”

“Tapi Ahreum, kami ‘sudah’ menjadi murid di sekolahmu,” ujar Luhan sambil merangkul Ahreum.

“Heeeeeee?! Eonje butteo? Wae mal anhae?! Neo..neodeul… Aaaaaaah molla!” jerit Ahreum yang lalu meninggalkan mereka berdua belas.

Mastermind dan Knight tersenyum penuh kemenangan melihat Ahreum yang sudah mengalah dan memilih untuk masuk ke kamarnya. Mereka lalu memandang Kris yang sudah menunjukkan seringainya.

“Apa kubilang. Dia tak bisa melarang kita,” ujarnya bangga.

.

.

Ahreum merasa seolah ada beban puluhan kilo di pundaknya. Begitu ia menginjakkan kakinya masuk ke sekolahnya hari ini, Ahreum sudah menduga kalau hari ini akan lebih melelahkan dari hari-hari sebelumnya. Ia berjalan terbungkuk-bungkuk karena kini seluruh mata para siswa-siswi di akademinya memandangi dirinya. Ini semua karena dua belas pemuda tampan nan mempesona yang mengelilinginya. Beberapa sisiwi memandangi pengawal-pengawal Ahreum dengan tatapan kagum dan langsung melirik Ahreum penuh kebencian begitu mereka tahu kalau pria-pria tampan itu hanya menatap Ahreum.

Ahreum sudah kehabisan cara untuk melarang Mastermind dan Knight untuk pergi sekolah. Mereka tetap pada pendirian mereka untuk bersekolah. Ahreum tak habis pikir darimana mereka mendapatkan uang, seragam serta buku untuk sekolah. Dan yang ia lebih heran adalah kenapa kepala sekolahnya tidak curiga melihat ada dua belas pemuda sekaligus masuk ke akademi di pertengahan semester seperti ini.

“Aku tak habis pikir kenapa nenek tua itu mau menerima kalian semua disini,” gerutu Ahreum.

“Kamu tak akan percaya apa yang bisa Luhan lakukan untuk merayu nenek itu,” ujar Kai.

“Kamu merayu kepala sekolah?!” tuding Ahreum pada Luhan.

“Luhan Ge hanya menggunakan kekuatan pikiran untuk membuat nenek-nenek itu mengizinkan kami sekolah,” Tao membela Luhan.

Ahreum hanya mencibir melihat Luhan. Ia kini menemani dua belas pemuda itu menuju ruang administrasi untuk mendapatkan kelas serta jadwal mereka. Sekarang bahkan para guru pun sudah mulai terpesona oleh pengawal Ahreum.

“Apa hubunganmu dengan mereka, Lee Ahreum-ssi?” selidik salah satu guru.

“Ahreum itu jod…,”

Belum sempat Xiumin menyelesaikan kalimatnya, Ahreum sudah lebih dulu menutup mulut Xiumin. Ia lalu menunjukkan cengiran polosnya pada sang guru. “Mereka kerabatku.”

Ahreum lalu memelototi Xiumin seolah berkata ‘berani bicara satu kata mengenai takdir dan jodoh maka tak ada makanan lagi untukmu’. Setelah mendapatkan jadwal serta kelas masing-masing pengawalnya, Ahreum pun segera mengecek lembaran jadwal mereka. Dan bagaikan petir di siang bolong, Ahreum mendapat kabar paling mengerikan begitu mengetahui kelas mereka. Ahreum harus berbagi kelas dengan dua makhluk paling sarkastik di dunia.

“Kenapa…,” keluh Ahreum dramatis. “Kenapa dari sekian banyak orang aku harus sekelas dengan kalian?!” serunya seraya menarik rambut pendeknya.

“Kenapa memangnya? Apa kamu ingin kita berdua belas satu kelas denganmu atau kamu hanya ingin berdua saja denganku tanpa naga pemarah itu,” ujar Kai sambil menunjukkan seringai khasnya.

“Kenapa aku tidak sekelas denganmu saja Chen, Lay,” keluh Ahreum sambil meraih tangan Chen dan Lay –dua Mastermind favoritnya- dan mengacuhkan Kai yang sudah menggantungkan lengannya di leher Ahreum. “Akan kuantar kalian ke kelas masing masing.”

.

.

Ahreum terlambat masuk ke kelas Miss Han, tapi Miss Han tidak menghukumnya karena ia sudah tahu dari kepala sekolah kalau Ahreum harus mengantarkan anak-anak baru itu ke kelas masing-masing. Dan kini kelas Ahreum jadi heboh. Dua dari anak baru itu masuk ke kelas mereka.

“Perkenalkan diri kalian, nak,” titah Miss Han.

Dua pemuda itu langsung membungkuk 90°.

“Kalian bisa panggil aku Kai.”

“Aku Kris.”

Siswi-siswi di kelas Ahreum langsung bersorak-sorai melihat Kai dan Kris. Sementara para siswa langsung merasa terintimidasi dengan penampilan keduanya. Ahreum memilih untuk membuang muka dan menatap apapun yang ada di luar jendela.

“Nah kalian silakan duduk di bangku yang kosong. Satu di belakang Ahreum dan satunya lagi di samping Jiyeon,” ujar Miss Han seraya menunjukkan bangku-bangku mana yang bisa mereka tempati.

Bangku Ahreum berada di tengah barisan sementara bangku Jiyeon berada di barisan belakang. Jiyeon langsung sumringah mengetahui salah satu dari pria tampan itu akan duduk di sampingnya. Jiyeon langsung menarik bangku tersebut agar merapat dengan bangkunya.

Kris sudah lebih dulu mengambil tempat di belakang Ahreum. Kai yang kalah cepat tentu saja menolak untuk duduk jauh dari Ahreum. Jadi Kai berdiri di samping Ahreum dan mulai mengintimidasi siswi yang duduk di samping Ahreum.

“Aku mau duduk di samping Ahreum, apa bisa kamu menyingkir,” ujar Kai dingin.

Ahreum dan siswi tersebut kaget mendengar ucapan Kai yang frontal itu. Segera saja Ahreum menepis tangan Kai dan berdesis, “yah! Jangan menakutinya seperti itu.”

“Tapi aku mau duduk di sampingmu. Naga itu saja bisa duduk di dekatmu lalu kenapa aku tidak?” protes Kai. Ia lalu berpaling ke sisiwi malang itu lagi. “Jadi Nona, apa kamu bisa menyingkir dari bangku ini segera?”

“Ada apa ini? Kenapa kamu belum duduk, Kim Jongin-ssi?” tegur Miss Han.

“Ki-Kim Jongin??” bingung Ahreum.

Kai mendekatkan wajahnya ke wajah Ahreum dan berbisik. “Itu nama samaranku Putri.”

“Apa yang kalian lakukan sekarang?? Lee Ahreum!” bentak Miss Han.

Kai yang pernah melihat langsung betapa Miss Han senang sekali memberi hukuman pada Ahreum langsung menunjukkan ekspresi tak sukanya pada sang guru. “Kami sedang berdiskusi. Karena sepertinya teman baruku ini ingin tukaran tempat denganku,” ujar Kai sambil merangkul siswi malang tadi. “Ya kan,” tanyanya yang sudah menghujani siswi tersebut dengan tatapan mengintimidasi.

“N…ne,” sahutnya. Siswi itu dengan sukarela pindah ke bangku belakang. Dan Kai dengan senyum penuh kemenangan langsung duduk di samping Ahreum.

Pelajaran pun kembali di mulai. Bukannya memperhatikan pelajaran, Kai malah sibuk menggoda Ahreum. Sementara Kris sesekali menoleh ke belakang kelas –ke arah Jiyeon. Kris ingat kalau Ahreum pernah menyebut nama Jiyeon sebagai orang yang senang mengganggunya. Karenanya begitu tahu kalau ada yang bernama Jiyeon di kelas Ahreum membuat Kris jadi memandanginya curiga. Tentu saja Kris akan mengawasi gerak-gerik Jiyeon agar jangan sampai berani menyentuh apalagi menyakiti Ahreum.

.

.

“Kemana mereka? Mereka tak tersesat kan?” Ahreum memandangi koridor kelas dengan khawatir.

Sebelum berpisah dengan Mastermind dan Knight yang berbeda kelas dengannya, Ahreum sudah memberi instruksi pada mereka untuk menunggunya di dekat loker ketika jam istirahat tiba. Tapi ketika Ahreum tiba di lokernya ia tak menemukan satupun dari sepuluh pemuda itu disana.

“Mereka tak mungkin tersesat, Ahreum. Pendengaran serta penciuman mereka tajam. Jadi mereka pasti bisa mendengar dan mencium wangi tubuhmu disini. Sebentar lagi juga mereka tiba,” ujar Kai.

Ahreum langsung memandang Kai malas. Tak lama kemudian ia mendengar suara berat Chanyeol berteriak dari ujung koridor.

“Putri!!!” serunya.

Ahreum hanya bisa menepuk keningnya sendiri mendengar panggilan Chanyeol. Kini semua siswa-siswi yang berkumpul di koridor memandang Ahreum heran.

Begitu sampai di hadapan Ahreum, Chanyeol langsung bersembunyi di belakang Ahreum lalu melingkarkan lengannya di pinggang Ahreum kemudian menyurukkan kepalanya di bahu Ahreum. Sikap Chanyeol ini suskses membuat siswa-siswi itu memandangi mereka shock.

“Yah! Apa yang kamu lakukan?! Jangan seperti ini,” desis Ahreum seraya berusaha melepaskan diri dari Chanyeol.

Chanyeol menggelengkan kepalanya. “Mereka terus mengejarku. Mereka menghalangiku untuk keluar dan bertemu denganmu. Perempuan-perempuan di kelas itu menyebalkan. Karena tak ada Putri Ahreum disana kelas itu jadi menyebalkan,” keluh Chanyeol.

“Kalau begitu kamu bisa berhenti sekolah dan menungguku di rumah,” sahut Ahreum.

Chanyeol langsung melepas pelukannya begitu mendengar ucapan Ahreum. Ia lalu berdiri memasang sikap siaga ala militer. “Sekolah adalah tempat yang menyenangkan. Karena Putri Ahreum disini, sekolah jadi tempat yang menyenangkan.” Chanyeol seolah melupakan keluhannya tadi dan kini sudah memasang cengiran lebar di wajahnya.

Ahreum hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Chanyeol. Tak lama kemudian semua Knight dan Mastermind sudah berkumpul. Ahreum sampai iba melihat kondisi pengawalnya karena mereka tak terbiasa dengan perhatian yang diberikan oleh siswa-siswi di sekolah ini. Sehun saja nyaris menangis karena siswi-siswi itu tak memberinya jalan.  Dan mereka pun pergi ke kantin.

.

“Makannya pelan-pelan, Putri. Nanti kamu tersedak,” ujar Lay.

Tapi Ahreum tak mempedulikan ucapan Lay. Ia terus makan dengan kecepatan tinggi. Ahreum sekarang terbiasa makan dengan cepat karena takut akan ada yang menyelanya ketika ia makan. Ia tentu ingat ketika Jiyeon mengganggu makan siangnya. Ahreum tak ingin itu terjadi lagi. Karenanya ia harus cepat-cepat menghabiskan makanannya sebelum Jiyeon mengganggunya lagi.

“Tidak akan ada yang mau merebut makananmu, Putri,” sahut Suho. “Mmm kecuali Xiumin mungkin.” Suho melirik Xiumin.

Xiumin berhenti makan dan melirik Ahreum. “Tenang Ahreum. Aku tidak akan merebut makananmu… Tapi mungkin makanannya,” ujar Xiumin yang lalu merebut sandwich milik Chanyeol.

“Yah aku akan memakan itu!!! Kembalikan,” seru Chanyeol. Keduanya kini terlibat adu tarik-menarik sebungkus sandwich.

“Hei ingat peraturan no..uhukk,” Ahreum yang tadinya akan mengomeli Chanyeol dan Xiumin langsung tersedak begitu melihat Jiyeon sudah menghampiri mejanya.

“Hai, Ahreum,” sapa Jiyeon sok ramah.

Tidak ada yang memperhatikan kedatangan Jiyeon. Ahreum sibuk meredakan batuknya. Baekhyun sedang memberikan minumannya pada Ahreum dan Luhan menepuk-nepuk punggung Ahreum. Lay merapikan kotoran di meja yang tadi disemburkan Ahreum. Sementara yang lainnya sibuk makan atau sibuk bercanda satu sama lain.

Jiyeon yang kesal karena diacuhkan tidak tinggal diam begitu saja. “Ahreum, sepertinya kamu kenal dengan anak-anak baru ini. Apa kamu tak mau mengenalkan mereka pada kami?”

Melihat kehadiran Jiyeon sukses membawa semua ingatan buruk kekejamannya pada Ahreum. Tapi karena ia kini dikelilingi oleh Mastermind dan Knight jadi Ahreum tak khawatir lagi. Ahreum memandang Jiyeon malas. Tak biasanya Jiyeon mengumbar senyum manis (murahan) seperti itu pada Ahreum. Sudah pasti Jiyeon mengincar pemuda-pemuda tampan itu.

“Ahreum,” sela Jiyeon yang sudah mengeluarkan tatapan tersadisnya pada Ahreum.

“Guys, semuanya, perkenalkan ini Park Jiyeon,” ujar Ahreum dengan setengah hati.

Begitu mendengar nama Park Jiyeon, semua pengawal Ahreum langsung menghentikan aktivitas mereka dan kompak menoleh ke arah Jiyeon. Mereka masih ingat kalau Ahreum pernah menyebut namanya sebagai penyebab penderitaannya di sekolah. Mastermind dan Knight langsung menunjukkan wajah tak suka mereka pada Jiyeon. Chanyeol bahkan sampai menggeram padanya.

Tapi Jiyeon memang tidak peka. Ia tak merasa aura kelam yang ditujukan dua belas pemuda itu padanya. Bahkan Jiyeon kini sudah menunjukkan senyum terlebarnya dan menjulurkan tangannya pada Kai. “Hai kita satu kelas lohh. Siapa namamu tadi?”

Kai langsung buang muka dan kembali menatap Ahreum. Tapi Jiyeon tak patah arang, ia kini beralih ke Kris yang duduk di seberang Kai. Kris pun bereaksi sama seperti Kai, ia tak mempedulikan Jiyeon.

“Kalian tidak sopan sekali,” kesal Jiyeon. Ia lalu berpaling pada Ahreum dan menudingnya, “Yah! Apa kamu yang menyuruh mereka bersikap seperti ini? Kenapa…,”

“Nona,” sela Luhan. “Kami sedang makan siang disini. Bisakah kamu pergi, karena kamu sangat mengganggu.”

“Dan jangan pernah mengacungkan telunjukmu pada Putri Ahreum,” sahut Suho.

Wajah Jiyeon langsung memerah menahan malu dan kesal. Akhirnya ia pergi dari hadapan Ahreum.

Ahreum jadi tak enak hati melihat perlakuan pengawal-pengawalnya pada Jiyeon. “Hei kalian jangan bersikap sepeti itu,” protes Ahreum.

“Tapi dia menyebalkan, Putri,” sahut D.O.

“Aku tahu dia menyebalkan, tapi sebaiknya kalian jangan bersikap kasar seperti itu,” ujar Ahreum lagi. “Jiyeon itu perempuan. Bagaimana perasaannya ketika kalian acuhkan dia seperti itu?”

“Kenapa kamu membelanya, Putri,” dia kan selalu jahat padamu, sahut Tao.

“Aku bukan membelanya. Justru aku membela kalian. Aku tak ingin kalian jadi kasar. Karena itu akan membuat kalian jadi mirip dengannya,” jawab Ahreum. Ia pun kembali melanjutkan makannya.

Mastermind dan Knight terdiam mendengar ucapan Ahreum. Bahkan pada orang yang pernah jahat padamu saja kau masih membela mereka, kau benar-benar mulia, putri, pikir mereka.

.

.

Sebelum kembali ke kelasnya Ahreum mampir dulu ke toilet. Kai dan Kris dengan sukarela menunggunya di depan toilet perempuan. Ahreum sudah menyuruh mereka untuk langsung kembali ke kelas, tapi mereka tak mendengarkan suruhan Ahreum tersebut.

Jiyeon yang kebetulan lewat di depan toilet langsung memandang Kai dan Kris curiga.

“Apa yang kalian lakukan di depan toilet perempuan?? Kalian mau mengintip?” tudingnya.

Kai dan Kris akhirnya memilih menyingkir dari hadapan Jiyeon sebelum gadis itu mengganggu mereka lebih jauh lagi. Sementara Jiyeon langsung masuk ke dalam toilet. Persis seperti dugaan Jiyeon, Ahreum ada di dalam toilet. Jiyeon pun segera melampiaskan kekesalannya pada Ahreum.

“Yah!” bentak Jiyeon pada Ahreum yang sedang mencuci tangannya di wastafel. “Kamu pikir kamu sudah hebat sekarang huh?! Membawa dua belas orang itu untuk bertingkah layaknya pembantumu. Apa yang kamu lakukan pada mereka untuk membuat mereka tunduk padamu?! Merayunya dengan tubuhmu?!! Atau menyihir mereka?!”

Ahreum memandangi Jiyeon kesal. “Park Jiyeon, ada apa denganmu dan khayalan-khayalan sihir itu? Apa kamu pernah melihat aku menyihir seseorang? Kalau aku benar bisa menyihir, sudah lama aku akan menyihirmu menjadi kodok jelek,” geramnya.

“Mwo?! Lihat saja apa yang bisa kulakukan untuk membungkam mulut liarmu itu, penyihir. Kamu kira aku takut dengan mereka. Tidak sama sekali,” sahut Jiyeon.

Ia lalu menarik kerah baju Ahreum dan lalu mencengkeram wajah Ahreum.

“Yaaaah!!!!!” jerit Ahreum.

Kemudian terdengar pintu toilet yang terbuka seolah diserbu oleh banteng-banteng besar.

“Ahreum!!” seru Kai yang sudah masuk toilet perempuan.

Jiyeon melepaskan Ahreum di detik terakhir sebelum Kai sempat melihatnya menyakiti Ahreum. Jiyeon kini malah memegang kedua tangan Ahreum seolah baru membantunya berdiri. Ia lalu membersihkan rok Ahreum yang tidak kotor.

“Aigoo, Ahreum, hati-hati makanya. Lantai toilet ini licin. Untung ada aku yang menolongmu, kalau tidak, mungkin kepalamu sudah membentur wastafel,” ujar Jiyeon seraya mengumbar senyum malaikatnya.

Ahreum memandangi Jiyeon tak percaya. Cepat sekali ia berubah yang tadinya tampak sangat menyeramkan kini sudah terlihat polos tak bedosa. Ahreum hanya bisa menggelengkan kepalanya takjub.

“Kamu tak apa-apa?” tanya Kai. Ia menarik Ahreum ke hadapannya dan memperhatikan setiap inchi tubuh Ahreum mencoba mencari luka baru disana.

“Ne, gwenchana,” sahut Ahreum.

“Hei Kai-ssi,” sela Jiyeon. “Ini adalah toilet perempuan. Apa yang kamu lakukan di dalam sini? Kalau guru pengawas melihatmu, nanti kamu bisa mendapat hukuman darinya.”

Kai hanya melengos dan menggiring Ahreum keluar dari toilet. Untung aku tepat waktu, kalau tidak mungkin anak itu sudah menyakitimu lagi, batin Kai.

.

.

Siang ini Ahreum mengikuti pelajaran olahraga. Kebetulan kelasnya berbarengan dengan kelas Chanyeol dan Luhan –yang sekelas. Keduanya langsung sumringah begitu tahu kalau mereka bisa melihat Ahreum di lapangan indoor ini.

“Ahreum!!” seru keduanya dari seberang lapangan.

Ahreum hanya melambaikan tangannya pada mereka. Siang ini guru olahraganya berniat untuk bermain Dodgeball. Kelas Ahreum langsung dibagi menjadi dua kelompok untuk saling bertanding. Kai dan Kris ada di kelompok Ahreum tentu saja. Yang berada di kelompok Ahreum hanyalah mereka yang sudah tak kebagian kelompok –karena kebetulan yang pintar olahraga dan mereka yang berbadan besar sudah lebih dulu di rekrut oleh Jiyeon.

“Ohh, habislah kita. Lihat kelompoknya Jiyeon badannya besar-besar semua,” keluh Ahreum. Ia kembali teringat beberapa waktu lalu ketika mereka bermain sepak bola, Jiyeon dengan sengaja terus menendang boleh ke arah Ahreum. Ia tak mau merasakan hal itu lagi.

“Tenang, Ahreum. Ada aku disini. Akan kupastikan tak ada satu bola pun yang bisa menyentuhmu,” ujar Kai.

Dan permainan pun dimulai. Jiyeon dengan brutalnya melemparkan bola ke arah Ahreum. Tapi Kris sudah lebih dulu menangkap bola tersebut. Kemudian Kris melemparnya ke arah Jiyeon. Untungnya Jiyeon lebih dulu menghindar dan berlindung di belakang temannya yang berbadan besar. Bola itu pun mengenai siswa malang tersebut.

Perlahan-lahan anggota dari masing-masing tim berkurang. Hanya tinggal empat orang di tim Ahreum, sementara Jiyeon masih memiliki enam orang yang bisa melindunginya. Jiyeon kembali melancarkan serangannya pada Ahreum. Ia melemparkan bola itu dengan sekuat tenaga. Ahreum yang panik mengangkat kedua tangannya di depan dadanya dan secara tiba-tiba bola itu jatuh perlahan di atas kedua tangannya. Ia memandangi bola itu bingung, seharusnya bola itu mengenai kepalanya karena Jiyeon tadi melemparnya begitu kencang, lalu kenapa bola itu seolah jatuh begitu saja di tangannya. Belum lagi posisi tangan Ahreum yang sedikit turun, jadi seharusnya bola itu langsung jatuh dari tangan Ahreum, tapi tidak.

Ahreum lalu menoleh ke arah bangku penonton dimana Chanyeol dan Luhan duduk menonton pertandingan kelas Ahreum. Chanyeol tampak mengacungkan kedua tangannya di udara memberi semangat pada Ahreum sementara Luhan membuang mukanya dan melihat ke arah lain. Tapi Ahreum melihat telunjuk Luhan yang tertuju ke arahnya.

Ohh, Luhan, kamu pikir aku tak tahu apa yang kamu lakukan, batin Ahreum. Ia tersenyum pada Luhan, walau pemuda itu tak melihatnya. Ahreum pun lalu melemparkan bolanya ke arah tim Jiyeon. Tapi sepertinya Luhan kembali menggunakan kekuatannya, karena seharusnya bola itu mengenai siswi yang ada di samping Jiyeon, tapi bola itu malah melayang ke arah Jiyeon. Sayangnya, Jiyeon berhasil menangkap bola tersebut.

“Pintar juga kamu main Dodgeball, Ahreum. Baiklah, ini adalah yang terakhir!” seru Jiyeon yang kemudian melemparkan kembali bolanya ke arah Ahreum.

Kali ini Kai yang menghadang bola itu. Ia langsung menendang bola tersebut, bukan menangkapnya. Akhirnya bola itu melesat ke arah Jiyeon dan mengenai wajah Jiyeon telak.

“Aaaaak!!” jerit Jiyeon. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Jiyeon kini sudah berguling-guling di lapangan. “Hidungku!! Hidungku patah!! Dia mematahkan hidungku!!”

Kai dan Kris memasang wajah datar mereka pada Jiyeon sementara Chanyeol dan Luhan sudah tertawa puas dari bangku penonton. Ahreum yang merasa bersalah langsung mendekati Jiyeon.

“Yah, Park Jiyeon. Apa kamu tak apa-apa? Ayo kuantar ke klinik,” ujar Ahreum sambil membantu Jiyeon berdiri.

Jiyeon malah menepis tangan Ahreum. “Lepaskan aku penyihir! Kamu pasti menyuruh mereka melakukan ini padaku kan? Sejak tadi mereka terus mengincarku. Kenapa kamu melakukan ini padaku?!!”

Akhirnya Jiyeon dibawa oleh beberapa anak buahnya ke klinik sekolah. Dan permainan ini akhirnya dihentikan. Ahreum pun berbalik menghadap Kai dan Kris yang sudah buang muka ke arah bangku penonton.

“Kalian kejam sekali. Kenapa kalian melakukan itu pada Jiyeon? Kalau hidungnya benar patah bagaimana?” omel Ahreum.

“Hidungnya tidak akan patah, Ahreum. Kalau D.O. yang memukul bola itu baru kamu boleh khawatir wajah Jiyeon itu hancur,” sahut Kai. Ia kemudian melirik Kris dan ber-highfive ria dengannya.

“Kenapa kamu malah mengkhawatirkannya. Dia juga sejak tadi mengincarmu kan?” ujar Kris.

“Tapi kan kalian melindungiku dari serangannya. Sementara Jiyeon, dia harus berlindung ke siapa?” sahut Ahreum yang kemudian meninggalkan mereka.

“Ckckck, anak itu. Ia bahkan masih berbaik hati pada iblis perempuan tadi,” takjub Kai.

“Dengan kebaikan hatinya itu membuatnya benar-benar terlihat seperti keturunan raja Janus yang hilang,” sahut Kris.

.

.

.

.

.

bee

The sixth chapter is out!!!.

aigoo.. sorry for late update.. semoga chapter ini gak mengecewakan yaa… and EXO’s come to school!!! gimana si Ahreumnya,, sifat dia sebagai pembela kebenaran pembasmi kejahatan udah cukup keliatan kah?? bikin dialog buat 13 orang tuh susah yaa.. si baekhyun aja sampe ga kebagian line disini… kkkk
thanks for your attention!! annyeong!!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 6 – Protecting Ahreum | PG15

22 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 6 – Protecting Ahreum | PG15

  1. quorralicious says:

    aku tahu blog ini soalnya aku pembaca di exoshidaefanfic.wordpress.com
    aku suka baca fantasy dan kebetulan lg liat fanfic yg dbkin ryn the legend and the goddes, pas liat bagian koment ada yg bilng fanfic ryn mrip ma fanfic di bee planet. sukses bkin penasaran,.krna disana ryn ga update jd aku googling voila,.jdlah aku pmbacaa setiamu,hahahaa
    makasih bnyak buat pembaca dsna yg mention km hahaha
    , pgn bngt ngpromosiin blog km, blhkah?

    1. ada ff yg mirip sama ff ini?? wah wah.. nemu lagi judul lain yg katanya mirip sama ff ini.. hmm, mungkin karena tipenya satu cewe dg 12 member exo, makanya dibilang mirip.. tapi aku bisa pastiin cerita ini gak ngopi cerita manapun juga.. mungkin kamu bisa liat tanggal terbitnya apakah aku yg terbit duluan ato ff lain itu yg terbit duluan,
      yang pasti aku gak copy paste cerita ini dari manapun juga, ini murni aku buat sejak jaman MAMA 😀

  2. quorralicious says:

    suka bnget, gatau msti bilng apa, cm krn tau km pasti makin smngt ngliat koment koment readers aku pastiin komentku di smemua chapter ff ini ampe 30 loh, aku pastii koment,.hahaaha
    jiyeonnya jahat bngt ihhh,

  3. Dessy Diana says:

    aduhh pasti semua murid iri banget sama ahreum yg datang” ke sekolah dengan membawa 12 mlaikat tampan …

    hahaha eonni lanjutt

  4. aick says:

    aiih, semuanya dtg k sekolah.
    klo Q jdi temen ahreum di sekolah psti dah envy banget, beruntungnya ahreum dikelilingi 12 org tampan ><
    untung mereka ikut ke sekolah jdi jiyeon g bsa jahat ama ahreum…
    tpi ahreum di sini baik bnget masih ngertiin perasaannya jiyeon 🙂
    ditunggu lanjutannya eonni 😀

  5. RJ says:

    Ceritanya makin seru thor ><
    Aku suka banget ceritanyaa~~
    Ahreumnya terlalu baik -_-
    Padahal Jiyeonnya jahat banget ke dia.

    Ah, aku new Readers^^
    Billa imnida~
    Maaf baru komen di chap 4 😦
    Aku baru nemu FF ini hari ini 😀

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s