FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 5 – Welcome My Hell Life | PG15


chapter5

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter 5 – Welcome My Hell Life

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life,

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Mean

Chapter 5 | Welcome My Hell Life

.

.

.

.

Welcoming the hell day

.

.

.

.

.

Masih ada lima menit lagi sampai bel masuk berbunyi, Ahreum memilih untuk memeriksa tugas yang diberikan oleh Miss Han. Dan sepagi ini sudah ada yang mengganggunya. Jiyeon dan rombongannya sudah mengelilingi meja Ahreum, mencoba menguji kesabaran Ahreum di pagi hari.

“Tumben kamu sudah sampai jam segini, anak buangan?” tegur Jiyeon.

“Mungkin dia sengaja menginap di sekolah, Ji,” sahut salah satu anak buahnya Jiyeon. Mereka pun tertawa mendengar ucapannya.

“Bagaimana rasanya tidur di jalanan, anak buangan? Kamu menginap dimana dua hari ini? Sauna? Atau…kolong jembatan?” tanya Jiyeon yang sudah tertawa puas.

Ahreum akhirnya menatap Jiyeon yang berdiri tegak di hadapannya.

“Aku tak mengerti apa maksudmu, Park Jiyeon,” sahut Ahreum.

Jiyeon menatap Ahreum meremehkan. “Sepertinya diusir dari kontrakanmu membuatmu jadi semakin bodoh ya, Ahreum?”

Ahreum membuka mulutnya untuk membantah Jiyeon, tapi ia segera menutupnya lagi. Ia berusaha mencerna kata-kata Jiyeon. Ahreum pun mendapat sebuah kesimpulan.

“Apa kamu yang…,” Ahreum menggantungkan ucapannya.

“Yupp. Aku yang membuatmu diusir dari kontrakanmu itu? Bagaimana? Apa kamu kesal padaku setelah mengetahui hal itu?” tanya Jiyeon yang sudah menunjukkan seringaiannya.

Jiyeon sudah pasti mengira Ahreum akan meraih dirinya dan memulai perang dengannya. Tapi apa yang terjadi selanjutnya justru membuat Jiyeon bingung. Ahreum malah menjabat tangannya.

“Aigoo. Gomapta Jiyeon. Berkat kamu aku tidak sendirian lagi sekarang. Berkat kamu aku kini..,” Ahreum berterima kasih pada Jiyeon. Tentu saja ia merasa sangat berterima kasih. Kalau bukan karena Jiyeon yang menyuruh Kim Ahjumma untuk mengeluarkan Ahreum dari kontrakannya mungkin Ahreum tak akan pernah kembali ke rumah kakeknya. Kalau bukan karena Jiyeon, mungkin Ahreum tidak akan pernah bertemu dengan dua belas pemuda tampan dari Exoland. Kalau bukan karena Jiyeon, mungkin kehidupan Ahreum hanya akan diliputi oleh penderitaan dan kesepian.

“Kenapa kamu malah berterima kasih?! Kamu itu harusnya marah!” kesal Jiyeon seraya menepis tangan Ahreum.

“Aniyo, aku sungguh berterima kasih padamu. Gomawo Jiyeon. Jeongmal gomapseumnida,” sahut Ahreum.

Jiyeon yang kesal karena tidak mendapatkan apa yang ia mau akhirnya memilih untuk meninggalkan Ahreum.

.

.

Istirahat siang Ahreum memilih untuk makan di kantin. Biasanya ia tak pernah ke kantin. Tapi berhubung hari ini ia tak membawa bekal jadi dengan sangat berat hati Ahreum pergi ke kantin. Alasan ia tak pernah mau ke kantin karena kantin adalah tempat berkumpul para siswa dan itu artinya akan ada banyak mata yang melihat serta banyak mulut yang akan mencelanya.

“Hei bukankah itu cucunya si Tuan Lee?”

“Apa yang mau dia lakukan disini?”

“Tumben sekali anak penyihir itu mampir ke kantin.”

“Mungkin dia sedang mencari mangsa.”

Ahreum berusaha untuk menulikan telinganya. Kantin yang awalnya tenang langsung mendadak bising melihat Ahreum. Gadis itu hanya bisa mengacuhkan semua perhatian yang ditujukan padanya.

Sambil membawa nampan berisi menu makan siangnya –nasi kari dan susu kotak- Ahreum duduk di tengah kantin. Ia mencoba menikmati makan siangnya tanpa mempedulikan orang-orang. Awalnya Ahreum makan dengan damai sampai akhirnya ada sekelompok perempuan yang tiba-tiba duduk di sekelilingnya.

Jiyeon and the gank.

“Woah Ahreum, tumben makan disini,” tegur Jiyeon.

Oh Tuhan, apa tak bisa aku makan dengan tenang? Mau apa lagi si Jiyeon ini?

“Gals, dimana simpati kalian? Teman kita ini adalah anak sebatang kara yang harus hidup sendirian. Berbaik hatilah padanya. Berikan makanan kalian padanya,” titah Jiyeon.

Ahreum memandangi Jiyeon bingung. Ada angin apa tiba-tiba Jiyeon menyuruh pengikutnya untuk memberikan makanan pada Ahreum. Tapi semua kebingungannya segera terjawab begitu para pengikut Jiyeon menumpahkan semua sisa makanan mereka ke piring Ahreum. Bahkan mereka ikut menumpahkan minuman soda serta susu mereka disana lalu mereka tersenyum puas.

“Aigoo, kalian baik sekali. Ahreum ini terlalu kurus, tapi kalian mau berbaik hati memberi makan fakir miskin ini,” puji Jiyeon.

“YAH PARK JIYEON!!!” seru Ahreum sambil memukulkan tangannya ke meja. “Apa yang kamu lakukan hah?!”

Jiyeon memiringkan kepalanya menatap Ahreum dengan wajah sok polosnya. “Aku memberikanmu makan, karena kutahu kamu pasti kelaparan selama dua hari ini. Berterima kasihlah padaku, fakir miskin,” sahut Jiyeon.

“Aku bukan fakir miskin. Aku bahkan tak perlu mengkhawatirkan akan makan apa aku hari ini karena aku punya uang. Aku tidak sepertimu yang harus menadah pada orangtua hanya untuk makan,” kesal Ahreum.

“Tentu saja kamu tidak sepertiku. Kamu kan tak punya orangtua.” Jiyeon menunjukkan senyum penuh kemenangan.

Ahreum terdiam. Ucapan Jiyeon justru membuatnya jadi makin emosi. “Aku memang tak punya orangtua,” geram Ahreum. “Tapi setidaknya aku tidak menyusahkan orangtuaku, tidak sepertimu. Aku yakin mereka akan menyesal mendapatkanmu sebagai putrinya kalau mereka tahu tabiatmu yang buruk ini.”

“Apa maksudmu, hah?!” kesal Jiyeon sambil memukulkan tangannya ke meja. Ia lalu memberi isyarat pada pengikutnya yang duduk di kiri-kanan Ahreum dan mereka langsung memegangi tangan Ahreum.

Ahreum tentu saja berontak. Tapi tenaganya masih kalah dari dua pengikut Ahreum yang memiliki badan layaknya banteng itu.

“Kamu harus belajar untuk menjaga mulutmu, penyihir,” ujar Jiyeon. Ia lalu menyendokkan makanan sampah -hasil karya anak buahnya. Kemudian Jiyeon memberi isyarat lagi pada pengikutnya yang duduk disampingnya. Perempuan itu langsung mencengkeram pipi Ahreum, memaksa Ahreum membuka mulutnya.

“Kalau ada yang memberimu makanan, harusnya kamu berterima kasih, Lee Ahreum,” ujar Jiyeon seraya memasukkan sampah itu ke mulut Ahreum.

Tidak ada yang menolong Ahreum. Semuanya hanya diam menonton. Bahkan beberapa diantara mereka bersikap seolah di kantin ini tidak terjadi apa-apa. Ahreum rasanya ingin menangis, tapi ia menahannya. Jika ia menangis maka Jiyeon akan semakin senang menyiksanya.

Keributan di meja Ahreum berakhir ketika guru pengawas datang menghampiri. Jiyeon langsung bersikap layaknya malaikat yang baru saja memberikan kebaikan pada Ahreum. Sementara Ahreum langsung memanfaatkan kesempatan ini untuk pergi dari kantin.

.

Ahreum memuntahkan semua makan siangnya. Begitu keluar kantin Ahreum segera lari ke toilet dan mengeluarkan semua sampah yang dijejalkan Jiyeon tadi. Ahreum mengorek-ngorek mulutnya berusaha memancing agar semuanya keluar dari perutnya. Ahreum memegang erat toilet duduk untuk menahan amarahnya. Ia kesal, ia marah, ia geram tapi ia tak bisa melakukan apa-apa untuk membela harga dirinya. Ia selalu kalah jumlah. Jiyeon selalu menang karena ia dikerubungi oleh orang-orang yang melindunginya. Terkadang Ahreum berharap ia punya teman-teman seperti pengikutnya Jiyeon yang akan selalu melindunginya.

Setelah tak ada lagi yang bisa ia keluarkan dari perutnya Ahreum pun beranjak untuk keluar dari toilet. Tapi pintu kabin toilet yang ia masuki tak bisa dibuka.

“Hallo?” panggil Ahreum seraya mengetuk-ngetuk pintunya berharap ada seseorang di luar sana yang mendengarnya.

“Hallo, apa ada orang di luar sana? Bisa tolong buka pintu ini? Pintunya macet,” panggil Ahreum lagi.

Ahreum mendengar ada suara bisik-bisik di luar kabin toiletnya. Ia juga mendengar ada suara tawa yang ditahan. Dan Ahreum pun segera mengetetahui kalau ini pasti salah satu kerjaan Jiyeon lagi.

“Yah Park Jiyeon, aku tahu kamu dilu..,”

Byuuuuur

Tubuh Ahreum basah kuyup karena ada yang menumpahkan air ke dalam kabinnya lewat sela yang ada di atas pintu. Kemudian Ahreum mendengar suara tawa yang bersahutan yang perlahan-lahan menghilang -karena mereka sudah keluar dari toilet.

Ahreum pikir, menangis sekarang pun tak akan ada yang memperhatikannya, karena airmatanya pasti tersamarkan oleh air yang terus menetes dari rambutnya.

.

Ahreum memandangi langit biru yang diselimuti awan putih. Sambil menunggu seragamnya kering, Ahreum memutuskan untuk istirahat sejenak di atap sekolah. Ahreum berbaring sambil berimajinasi tentang bentuk-bentuk awan yang menghiasi langit. Sesekali ia tersenyum ketika mendapati awan-awan itu berubah bentuk menjadi apa yang ia inginkan -menjadi wajah kakeknya.

“Harabeoji, aku merindukanmu,” lirih Ahreum.

Ia berbalik ke sisi kirinya, memandangi seragamnya yang terbaring disampingnya.

“Dunia ini sungguh aneh, Harabeoji. Bagaimana bisa ada manusia yang begitu tidak berperikemanusiaan seperti Jiyeon itu. Sementara ada makhluk-makhluk yang bukan manusia bumi tapi mereka sangat baik dan perhatian seperti para Knight dan Mastermind,” gumam Ahreum.

Ia kembali berbaring memandangi langit seraya memegang bandul kalungnya -kalung peninggalan ibunya.

“Kamu mungkin mengirimkan dua belas orang baik itu ke hadapanku. Aku mungkin tidak sendirian lagi di rumahmu. Tapi disini, di luar rumah, aku tetap saja dianiaya,” keluh Ahreum.

Ahreum segera menggelengkan kepalanya, mengusir pemikirannya tersebut. “Aniyo Harabeoji. Aku bukannya tak bersyukur. Maafkan aku. Aku tidak akan mengeluh lagi mulai sekarang,” tekad Ahreum.

“Semua siksaan ini hanyalah ujian agar aku bisa menjadi lebih kuat. Ya, seperti besi tempa yang harus dibakar dengan suhu tinggi dan ditempa sehingga bisa menjadi sebuah pedang yang tajam. Aku pasti bisa melewati ini semua dan menjadi manusia yang lebih baik. Ya setidaknya lebih baik dari Park Jiyeon itu.”

.

.

Karena harus menunggu sampai seragamnya kering, Ahreum jadi terlambat masuk ke kelas berikutnya. Dan oleh sebab itu Ahreum jadi mendapat skors. Ahreum jadi pulang terlambat hari ini. Ia naik kereta berbarengan dengan orang-orang yang baru pulang kerja. Kereta petang ini jadi sangat penuh sehingga Ahreum nyaris tak bisa bernapas -saking penuhnya.

Dan sialnya lagi, Ahreum dikelilingi oleh om-om mesum yang memanfaatkan kesempatan ini untuk menggerayangi badan Ahreum. Walaupun ia memakai jaket pemberian Kris -yang ia pakai untuk menutupi kakinya- tetap saja Ahreum bisa merasakan tangan om-om yang menggerayangi bokongnya. Untungnya hal itu tidak berlangsung lama karena akhirnya Ahreum tiba di stasiun tujuan.

Ahreum menghela napas lega begitu ia turun dari kereta. Ahreum berjalan keluar stasiun seraya menundukkan kepalanya. Ia terus berjalan sampai akhirnya ia menabrak seseorang.

Jwoseonghamnida,” ujar Ahreum seraya membungkukkan badannya.

Orang tersebut malah menarik tangan Ahreum dan menggenggamnya. Ahreum yang kaget langsung mengangkat kepalanya.

“Kenapa kamu baru sampai jam segini? Tadi pagi aku tidak melihatmu di rumah. Apa kamu tahu betapa khawatirnya aku?”

“K..Kai,” kaget Ahreum.

“Kenapa dengan ekspresimu? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?” selidik Kai.

Ahreum menggelengkan kepalanya pelan. Ia segera merubah ekspresinya lelahnya dengan sebuah senyuman. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya…lelah. Sekolah itu melelahkan,” gumam Ahreum.

Kai meraih kepala Ahreum dan mengelusnya pelan. Tatapan Kai begitu meneduhkan. “Apa kamu tahu kalau aku merindukanmu,” ujar Kai.

Ia memandangi Ahreum dari atas sampai bawah. “Kudengar dari Sehun katanya kamu memakai pakaian yang mengekspos kakimu. Dan aku bukan orang pertama yang melihatnya,” Kai kini menunjukkan seringaiannya.

Rasa tersanjung yang tadi sempat Ahreum rasakan langsung menghilang begitu saja begitu mendengar ucapan Kai tersebut. Sontak Ahreum langsung memukul Kai dengan tangannya yang bebas. “Well, orang pertama yang melihat kakiku itu Suho. Semalam dia me…,” Ahreum menggantungkan kalimatnya karena ia merasakan Kai meremas jemarinya.

“Semalam kalian apa? Aku tidak peduli walaupun aku bukan orang pertama yang melihat kakimu. Setidaknya Suho Hyung bukan orang pertama yang akan melihat tubuhmu. Karena orang itu sudah pasti adalah aku,” sahut Kai. Ia sudah lebih dulu menghindar sebelum Ahreum sempat memukulnya lagi.

“Mwo?! Yah! Kemari kamu mesum!”

Kai tersenyum puas melihat Ahreum yang kini sudah merajuk padanya. Kai sempat merasa khawatir begitu melihat wajah murung Ahreum tadi. Ia sengaja menggodanya untuk membuat Ahreum kembali tersenyum. Walau ia tak tahu apa yang dialami Ahreum hari ini, tapi ia sangat tidak ingin melihat wajah sedih Ahreum seperti tadi.

Ya, lupakan soal kesedihanmu itu, putri cantik. Ada aku disini yang akan menghapus semua dukamu. Kami akan melindungimu, batin Kai.

Ahreum pun segera melupakan hal buruk yang ia alami hari ini. Ya, tidak apa jika semua orang membencinya. Ia masih memiliki Knight dan Mastermind yang akan selalu mewarnai hari-harinya dengan canda dan tawa.

.

.

“Kenapa Putri Ahreum belum pulang juga?” panik Sehun. “Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? Bagaimana kalau dia diculik?!!”

“Tenanglah, Sehun. Mungkin dia ketinggalan kereta seperti kemarin,” Baekhyun mencoba menenangkannya.

“Tapi dia harusnya pulang sekarang! Katanya dia akan pulang sebelum malam, dan ini sudah malam!” seru Chanyeol. “..dan aku hampir mati karena merindukannya!”

“Ahreum, aku lapaaaaar,” keluh Xiumin.

“Ge, apa Ahreum baik-baik saja? Kenapa kamu tak mengikutinya tadi pagi?” tanya Tao pada Kris.

Kris yang sedang memperhatikan keadaan di luar rumah hanya bisa menggeleng pelan. Ia sangat khawatir sekarang. Ia menyesali pilihannya untuk tidak mengikuti Ahreum tadi pagi.

“Bagaimana kalau raja Xenos berhasil menemukannya?!!” seru Sehun. Dan ucapannya tersebut sukses membuat semua yang ada di rumah Ahreum menjadi tegang.

“Tenanglah kalian semua,” sela LuHan. “Ahreum baik-baik saja. Kai sedang menjemputnya, jadi sebaiknya kalian duduk tenang.” Luhan menggunakan kekuatannya untuk menenangkan semua rekan-rekannya. Ia cukup kesal juga dengan semua pemikiran liar mereka.

Seisi rumah mendadak menjadi tenang. Sehun dan Chanyeol bahkan kini sudah duduk manis.

Riiiiiing

Dering telepon itu membuat semuanya terlonjak kaget.

“Benda itu bunyi!!” tuding D.O.

“Itu Ahreum mau bicara,” sahut Lay.

“Apa tadi pesan Putri tentang benda ini?” tanya Sehun.

“Angkat!” sahut Baekhyun.

D.O. segera mengangkat telepon tersebut sambil menatap penuh harap kalau Ahreum akan keluar dari sana.

Riiiiiiiing

Teleponnya masih berbunyi. Tentu saja karena D.O. mengangkat teleponnya bukannya gagang teleponnya.

“Masih bunyi!” paniknya.

“Mana suara Ahreumnya?!”

“Kamu mengangkatnya salah, bodoh!!”

Riiiiiiiiing

Chanyeol akhirnya merebut telepon tersebut dari D.O. “Ahreum! Putri Ahreum! Kamu dimana?! Apa kamu sudah bertemu dengan Kai?! Aku merindukanmu, Putri. Cepatlah pulang,” seru Chanyeol pada telepon.

Riiiiiiiiiiiiiing

“Aishh kenapa bunyi benda ini menyebalkan sekali,” kesal Chanyeol yang sudah memasang ancang-ancang akan membanting telepon antik Ahreum.

“Yah yah yah!!” Lay langsung merebut telepon tersebut, berbarengan dengan D.O. Badan telepon berhasil direbut oleh Lay sementara gagang teleponnya di tangan D.O. Semuanya kini memandangi telepon itu shock.

“Apa yang kamu lakukan?! Lihat dia jadi rusak! Habislah kita,” omel Tao yang mengamati kerusuhan yang terjadi.

Meja telepon mendadak ramai oleh Knight dan Mastermind yang saling menyalahkan. Saking ributnya mereka tidak mendengar suara Ahreum yang sudah memanggil-manggil mereka.

Yah!! Apa yang kalian lakukan disana?!” jeritan Ahreum yang cukup kencang itu langsung membuat Mastermind dan Knight berhenti bertengkar. Mereka mencari-cari darimana asalnya suara Ahreum. Lay mengamati badan telepon sementara Baekhyun meraih gagang telepon dari tangan D.O. dan ia pun mendengar suara Ahreum disana.

“Putri, apa kamu baik-baik saja? Kamu sudah bertemu Kai?” tanya Baekhyun sambil memandangi gagang telepon.

Ne, aku mau bilang kalau aku sedang bersama Kai dan kami akan mampir ke mini market sebentar untuk membeli beberapa makanan. Kalian tidak membuat keributan kan?” selidik Ahreum.

“Chanyeol merusak teleponmu!” Tao mengadu.

“Bohong! Aku tidak melakukan apa-apa!” Chanyeol membela diri.

“Iya tadi kamu mau membanting teleponnya dan sekarang dia terbelah jadi dua!” Xiumin memanas-manasi.

“Bohong! Bohong! Ughhh habislah kamu!!”

Hei hei!! Ingat peraturan nomor satu! Jangan berkelahi!” seru Ahreum. Awas kalau aku melihat ada yang ganjil di rumah, maka habislah kalian!” ancam Ahreum sebelum memutuskan teleponnya.

Tut tut tut tut

Knight dan Mastermind memandangi telepon itu panik.

“Habislah kita.”

.

.

Siksaan Jiyeon makin hari makin menjadi. Beberapa waktu yang lalu Jiyeon sengaja mendorong Ahreum yang tengah membawa buku tugas teman-teman sekelasnya. Bahkan mereka dengan sengaja mondar-mandir ketika Ahreum merapikan buku-buku itu, memperlambat pekerjaan Ahreum. Dua hari yang lalu ketika pelajaran olahraga, Jiyeon dengan sengaja selalu menendang bola ke arah Ahreum dan membuat seluruh badan Ahreum jadi sakit. Lalu kemarin Jiyeon mengunci Ahreum di kamar mandi sehingga gadis itu tak bisa mengikuti pelajaran berikutnya –dan Ahreum pun harus rela mendapat skors lagi.

Dan yang terparah adalah hari ini. Jiyeon membuat sayembara barang siapa yang bisa menggunting rambut Ahreum maka mereka akan mendapat makan siang gratis selama seminggu. Ahreum harus menghindari orang-orang yang mengincar rambutnya. Tapi sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Sepulang sekolah beberapa anak yang mengincar makan-siang-gratis-dari-Jiyeon berhasil mendapatkan Ahreum, untungnya mereka tidak langsung menggunting rambut panjang Ahreum. Dan ternyata mereka menahan Ahreum karena ingin membiarkan Jiyeon sendiri yang menggunting rambut Ahreum.

“Ucapkan kata-kata terakhirmu, penyihir,” ujar Jiyeon sambil menyeringai.

“Berani mengunting sehelai rambutku, maka habislah kau Park Jiyeon,” geram Ahreum.

“Omo, menakutkan,” Jiyeon berpura-pura takut akan ancaman Ahreum. “Tapi bagaimana kalau aku menggunting habis rambutmu? Apa yang akan kamu lakukan padaku, Ahreum??”

Jiyeon menarik beanie yang Ahreum pakai untuk melindungi rambutnya. Ia lalu menarik rambut Ahreum. Jiyeon mengacungkan guntingnya dihadapan Ahreum seraya menunjukkan senyum puas. Jiyeon pun menggunting rambut Ahreum dengan dramatisnya.

“YAH PARK JIYEON!!!” jerit Ahreum.

Beruntungnya Ahreum, ada patroli yang kebetulan lewat. Melihat ada patroli, dua orang yang memegangi tangan Ahreum langsung kabur. Jiyeon juga tadinya ingin kabur, tapi Ahreum sudah lebih dulu meraihnya dengan menarik rambut Jiyeon. Ahreum pun berhasil mendapatkan segenggam rambut sambungan Jiyeon.

“Yah!! Extensionku!! Matilah kamu penyihir!!” geram Jiyeon.

Jiyeon pun langsung menyerang Ahreum. Patroli yang lewat melihat kejadian tersebut dan langsung memisahkan mereka. Keduanya sempat dibawa ke pos terdekat untuk diceramahi, setelah itu baru keduanya diperbolehkan pulang.

.

.

Karena Ahreum pulang sangat terlambat hari ini -ia baru tiba di stasiun jam 9 malam- membuat semua Knight dan Mastermind menunggunya di stasiun. Tak biasanya Ahreum pulang semalam ini, mereka pun jadi khawatir akan kondisi Ahreum.

Begitu melihat semua pengawalnya memenuhi stasiun untuk menjemputnya, Ahreum langsung memasang senyum manis pada mereka. Ia menutup-nutupi apa yang ia alami di sekolah pada para pengawalnya itu. Ia tak ingin mereka khawatir secara berlebihan -apalagi mereka memang berlebihan terhadap apapun yang bisa menyakiti Ahreum.

Keduabelas pengawalnya itu langsung memandangi Ahreum kaget dan bingung. Kaget karena Ahreum tiba dihadapan mereka dengan rambut pendek sebahu -tidak ada lagi rambut panjang. Dan bingung memikirkan kemana rambut panjang Ahreum, karena sangat tidak mungkin Ahreum memotong rambutnya sampai sependek itu.

“Kalian semua menungguku?? Aigoo, aku jadi merasa bersalah sudah membuat kalian khawatir. Ayo kita pulang,” riang Ahreum. Keceriaan di suara Ahreum benar-benar terdengar palsu. Pemuda-pemuda itu bisa medengar kegugupan dari suara Ahreum.

“Pu..putri Ahreum, kemana rambutmu?” tanya Chanyeol terbata. Ia shock melihat rambut panjang Ahreum sudah tak ada. Karena ia paling suka membelai rambut panjang Ahreum. Lalu kalau rambutnya sependek itu maka ia tak punya alasan lagi untuk memainkan rambut Ahreum.

“Oh, aku ganti suasana aja. Aku bosan dengan rambut panjang. Jadi tadi aku ke salon untuk merubah gaya rambutku, makanya aku pulang telat,” sahut Ahreum. Ia melihat para pengawalnya tampak tak percaya dengan ucapannya. “Apa rambut ini terlihat jelek untukku?” Ahreum berusaha mengalihkan perhatian mereka.

“Itu terlihat cantik, Putri Ahreum. Kamu jadi terlihat lebih…segar,” ujar Baekhyun. “Tapi kenapa tiba-tiba dipotong? Bukannya kamu sangat menyayangi rambutmu?”

Awan hitam seolah menyelimuti Ahreum begitu ia mendengar pertanyaan Baekhyun. Ia memang sangat menyayangi rambut panjangnya. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Jiyeon dengan kejamnya menggunting rambut Ahreum. Ia nyaris menangis ketika mengingat kejadian tadi. Tapi Ahreum segera mengangkat kepalanya dan menunjukkan senyum palsunya.

“Aku hanya ingin ganti suasana,” sahut Ahreum. Ia lalu meraih Sehun dan Tao kemudian menarik mereka untuk meninggalkan stasiun. “Aku lapar. Aku belum makan malam. Apa kalian sudah makan? Kalian masak apa hari ini? Ahh bagaimana kalau kita beli eskrim di mini market dulu untuk mengurangi rasa lapar? Atau kalian mau makan di luar?”

Sehun dan Tao hanya bisa mengiyakan semua pertanyaan Ahreum. Keduanya melirik hyung mereka yang kini melihat Ahreum curiga. Sepuluh pemuda itu bahkan tidak segera menyusul Ahreum yang sudah keluar stasiun bersama Sehun dan Tao. Mereka sibuk menduga-duga apa yang terjadi dengan Ahreum.

“Ini aneh. Ahreum itu sangat mencintai rambutnya. Bahkan dia selalu memaki Chanyeol kalau ia memainkan rambut Ahreum. Lalu kenapa…,” Suho buka suara.

“Dia bahkan menjerit panik begitu melihat rambutnya rontok, jadi tak mungkin ia langsung memotong rambutnya sependek itu,” sahut Baekhyun.

“Bukannya rambut itu adalah mahkota perempuan? Dan Ahreum sendiri pernah bilang kalau dia tidak akan pernah memotong rambutnya,” ujar Luhan.

“Uhh…. aku tadi sempat melihat ada luka baru di lututnya,” sela Lay.

Kini semuanya menjadi tegang karena ucapan Lay. Ahreum terluka adalah hal yang harus dihindari. Jika ia sampai terluka itu artinya Mastermind dan Knight gagal menjalankan tugas mereka.

“Ughhh dia terluka dan kita masih diam saja!!” geram Chanyeol.

“Uhh, Ge,” sela Chen. “Kemarin…,” Chen menggantungkan kalimatnya di udara. Ia tak yakin harus mengatakan ini pada saudara-saudaranya itu atau tidak. Tapi melihat mereka yang kini sudah begitu khawatir akan kondisi Ahreum akhirnya Chen melanjutkan kalimatnya. “Kemarin ketika Putri Ahreum tidur di sampingku, aku melihat…,” wajah Chen mendadak memerah memikirkan kejadian kemarin.

“Apa??! Kamu lihat apa?! Bicara yang jelas!” sela Chanyeol tak sabar.

“Kamu tahu, ketika ia bersandar di bahuku dan bajunya tak sengaja tersingkap..,” Wajah Chen kini sudah makin merah. “..dan aku melihat ada lebam di pundaknya. Tapi itu seperti luka lama, mungkin sudah dua harian.”

“Pantas saja ia tampak kesakitan ketika aku menepuk pundaknya,” ujar D.O.

Kris sedari tadi diam saja mendengarkan ucapan saudara-saudaranya. Ia berpikir keras apa yang harus ia lakukan terhadap Ahreum.

“Kita akan tanyakan langsung padanya nanti di rumah,” tegas Kris.

.

.

.

“Ahreum, bagaimana sekolahmu?” tanya Suho ketika Ahreum sudah selesai makan.

Mereka berdua belas masih memenuhi meja makan, padahal yang makan hanya Ahreum seorang. Semuanya memandangi Ahreum, menunggu jawabannya. Merasa diperhatikan, Ahreum jadi salah tingkah.

“Sekolah baik-baik saja. PR menumpuk, tugas-tugas dan lain-lain. Kalian tak akan mengerti perasaan itu,” jawab Ahreum sambil terus menatap piringnya. Ia tak berani menatap mereka semua karena pemuda-pemuda itu memandangi Ahreum seolah ingin melubangi dirinya dengan mata mereka.

“Teman-temanmu tak membantumu?” tanya Lay.

Ahreum menggelengkan kepalanya. Dan seterusnya mereka bertanya pada Ahreum tentang sekolah. Ahreum yang sudah kehabisan jawaban akhirnya memilih untuk pergi dari ruang makan.

“Kita belum selesai bicara Ahreum,” Kris menahan lengan Ahreum yang sudah akan memasuki kamarnya.

“Apa lagi? Kalian ini seperti polisi saja bertanya terus. Aku capek dan aku mau istirahat. Besok aku harus bangun pagi,” tolak Ahreum.

Ketika Ahreum kembali hendak meninggalkan mereka, Kris menahannya lagi. Ahreum menyentak tangan Kris sehingga membuat lengan kaus yang Ahreum pakai tertarik. Bahu Ahreum pun terlihat. Masing-masing Knight dan Mastermind langsung menutup mata anggota mereka yang masih muda. Sementara Kris menatap bahu Ahreum shock. Seperti yang Chen katakan, bahu Ahreum membiru.

“Kenapa dengan bahumu?” tanya Kris khawatir.

“Bukan urusanmu,” sahut Ahreum acuh. Ia merapikan pakaiannya. Ahreum menggigit bibir bawahnya untuk mengurangi rasa tegang akibat kecurigaan para pengawalnya.

Mereka sudah curiga, aku harus bagaimana?

“Kenapa ada luka di bahumu?!” tanya Kris, sedikit meninggikan suaranya.

“Aku bilang bukan urusanmu!”

“Kalau kamu lupa maka akan kuingatkan lagi, tujuan kami datang kesini adalah untuk melindungimu. Mau ditaruh dimana muka kami kalau kamunya terluka seperti ini tanpa sepengetahuan kami! Kamu pikir kami baik-baik saja melihat hal ini! Kamu pikir kami tak mengkhawatirkan keadaanmu! Kamu benar-benar membuat kami tampak tak berguna untukmu!” seru Kris. Ahreum pun menciut gemetaran mendengar seruan Kris.

“Ge,” sela Tao.

“Kris, tenanglah. Kamu menakutinya,” sela Suho. Ia kemudian mendekati Ahreum dan memegang bahunya pelan. “Putri, jangan sungkan ceritakan semuanya pada kami. Kami justru akan terluka kalau kamu menyembunyikannya dari kami.”

Ahreum tak tahu harus melakukan apa untuk situasi seperti ini. Ia akhirnya menutup wajahnya. Ia kemudian berjongkok dan berusaha menahan tangisannya sampai badannya terus berguncang. Ahreum tak terbiasa menangis, apalagi dihadapan banyak orang seperti ini. Jadi ia hanya jongkok sambil terus menutup wajahnya.

Semuanya kini panik dan bingung melihat sikap Ahreum. Akhirnya Lay mendekati Ahreum dan meraih wajah Ahreum. Ia mengangkat dagu Ahreum agar Ahreum melihatnya.

“Ahreum, lihat aku,” titah Lay.

Ahreum akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap Lay. Matanya sudah merah dan berair menahan tangis. Ia menatap mata Lay yang tampak meneduhkan.

“Sekarang tatap aku, Ahreum. Dan ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi dengan bahu dan rambutmu,” titah Lay.

Mata Lay membuat Ahreum tenang. Ia merasa terhipnotis dengan tatapan Lay. Ahreum pun menceritakan apa saja yang ia alami.

“Jiyeon mengguntingnya. Park Jiyeon yang menggunting rambutku. Dia juga yang sengaja melemparkan bola-bola itu padaku sampai badanku biru-biru. Semua karena Park Jiyeon,” Ahreum pun akhirnya menangis. Ia tak ingin menangis tapi entah kenapa airmatanya terus mengalir. Lay akhirnya memeluk Ahreum untuk menenangkannya.

Mastermind dan Knight saling pandang. Tentu saja mereka bertekad mencari tahu siapa itu Park Jiyeon dan apa yang sudah ia lakukan pada Ahreum.

.

.

.

.

bee

The fifth chapter is out!!!.

buat fans-nya Jiyeon maaf yaa… bukannya bee ga suka sama Jiyeon,,, bee malah cinta banget sama dia.. tapi emang cuma dia aja yang cocok buat jadi jahat disini… lagian bee pengen bikin Jiyeon eksis di planet bee (alasan yg ga nyambung)… kekeke
thanks for your attention!! annyeong!!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 5 – Welcome My Hell Life | PG15

11 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 5 – Welcome My Hell Life | PG15

  1. quorralicious says:

    keren banget!! aku speechless nih, apalagi km udh bkin my ultimate biased beda bngt karakternya dsni, dan sukses membuat aku bermain dan mengkahyal di bee planet ini

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s