FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 3 – First Day with Boys from EXOLAND | PG15


CHAPTER3

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter 3 – First Day With Boys From EXOland

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life,

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : EXO – Into Your World (Angel)

Chapter 3 | First Day With Boys From EXOland

.

.

.
First Day With The Boys From Exoland
.

.

Kedua belas pemuda itu kini sudah berganti pakaian. Ahreum memandangi mereka satu persatu. Bahkan dengan pakaian jaman dulu dan super kuno seperti itu pun mereka malah terlihat seperti model-model dengan style retro. Ahreum sempat mengagumi mereka tapi ia segera menggelengkan kepalanya untuk membuang jauh-jauh pikiran itu. Ia pun berpaling dan berlalu menuju dapur sebelum ia sesak napas karena kesempurnaan mereka.

Di dapur Ahreum tak menemukan makanan yang memadai. Hanya ada beberapa bungkus ramen dan itupun hanya bisa dimakan oleh Xiumin seorang. Kurasa aku harus ke mini market mencari makanan untuk mereka.

“Baiklah berhubung makanannya tidak cukup untuk kita semua, jadi aku akan pergi ke mini market sebentar untuk membeli makanan,” ujar Ahreum. Sebelum ia keluar rumah ia kembali berbalik dan memandangi kedua belas pria yang sudah membuntutinya. “Aku tak butuh dua belas orang untuk menemaniku. Tiga atau empat saja.”

Tanpa disuruh, Kai segera berdiri di samping Ahreum disusul oleh Sehun dan Chanyeol. “Kami akan menemanimu, Put- uhh Ahreum,” ujar Sehun seraya tersenyum pada Ahreum.

Senyuman Sehun membuat matanya tampak seperti bulan sabit terbalik, Ahreum pun jadi gemas melihatnya. Tanpa sadar ia sudah mencubit pipi Sehun pelan seraya berkata, “aigoo, neomu kyeopta!”

Wajah Sehun langsung merona melihat senyuman Ahreum.

“Baiklah.” Ahreum memandangi tiga pemuda yang ada di sisinya. Ketiganya adalah Knight, sementara Ahreum baru saja kenal mereka. Ahreum bahkan belum hapal nama mereka. Ahreum merasa perjalanannya ke mini market akan terasa canggung jika hanya bertiga dengan mereka. Ia pun menoleh ke arah Kris. “Kris, kamu tak mau menemaniku?”

Kris menggeleng. Meskipun ia ingin pergi bersama Ahreum, tapi ia harus berada di rumah untuk menjelaskan beberapa hal pada Suho. Ahreum hanya bisa cemberut melihat penolakan Kris. Ia akhirnya menarik lengan Luhan sebelum Tao sempat menawarkan dirinya untuk menemani Ahreum.

Dan Ahreum menyesali pilihannya ketika mereka berlima pergi ke mini market. Suasana diantara mereka berlima benar-benar sangat canggung. Keempat pemuda itu lebih banyak diam. Ahreum hanya mendengar Chanyeol dan Sehun saling berbisik di belakangnya. Tak tahan dengan kebisuan ini, Ahreum pun menoleh ke arah Kai yang ada di sisi kanannya.

“Jadi, kalian saling kenal?” tanya Ahreum.

Kai memiringkan kepalanya, bingung dengan pertanyaan Ahreum. Akhirnya Ahreum bertanya dengan jelas apakah para Knight saling mengenal satu sama lain dengan para Mastermind atau tidak. Kai pun mengangguk mengiyakan, “Kami tumbuh besar bersama.”

“Sampai akhirnya aku memilih untuk bergabung dengan Mastermind dan mereka bergabung dengan Knight,” sahut Luhan.

Ahreum pun manggut-manggut. Ia lalu berbalik menghadap Chanyeol dan Sehun yang berjalan di belakang dirinya. Keduanya tampak kaget melihat Ahreum yang kini sudah memandangi mereka sambil tersenyum.

“Jadi aku harus memanggilmu apa? Aku hanya ingat namanya,” Ahreum mengendikkan kepalanya pada Kai. “Jadi namamu siapa?” Ahreum menunjuk Sehun.

“Se.. Sehun,” jawab Sehun malu-malu. Ia tak pernah mengira kalau Ahreum memiliki senyuman yang begitu manis. Ia sudah menduga kalau putri yang mereka cari itu sangat cantik, tapi berada sedekat ini dengan Ahreum –yang ia sendiri tak yakin apakah Ahreum adalah putri yang mereka cari atau bukan –memberikan sensasi tersendiri di dirinya.

Ahreum mengangguk dan lalu menjulurkan tangannya. Sehun memandangi tangan Ahreum bingung. “Cara mengucapkan salam di duniaku adalah dengan berjabat tangan,” ujar Ahreum.

Sehun pun menjabat tangan Ahreum. Belum sempat ia menikmati halusnya tangan Ahreum, Chanyeol sudah lebih dulu menarik tangan Sehun dan gantian menjabat tangan Ahreum.

“Chanyeol!!” seru Chanyeol bersemangat. Saking semangatnya ia sampai meremas tangan Ahreum.

“Auww! Yah, jangan kencang-kencang!” omel Ahreum. Ia lalu menarik tangannya. Kai dan Sehun tampak panik dan berebut meraih tangan Ahreum.

“Kamu tak apa-apa?” “Mana yang sakit?”

Keduanya melancarkan death-glare mereka pada Chanyeol dan Chanyeol terlihat sangat bersalah. Ia mengira kalau dirinya sudah menghancurkan jemari Ahreum.

“Ne, ne, aku baik-baik saja,” sahut Ahreum yang lalu melepaskan tangan mereka. Mendadak Ahreum merasa sangat panas karena pria-pria yang kini mengerubunginya. Sambil mengipas-ngipasi wajahnya dengan tangan, Ahreum kembali berjalan. Berdekatan dengan Luhan lebih baik, setidaknya ia tak pernah menyentuh diriku.

Ketika Ahreum hendak menyebrang jalan, tiba-tiba saja Kai menahan badan Ahreum. Belum sempat Ahreum memaki Kai karena sikapnya, sebuah mobil melaju kencang melewati mereka. Ahreum terbelalak menyadari betapa kencangnya mobil itu berjalan. Jika Kai tidak menahannya, bisa saja Ahreum sudah tertabrak mobil tadi.

“Benda apa itu tadi?! Haruskah aku memusnahkannya?! Benda itu nyaris mencelakai putri!” kesal Chanyeol. Ahreum merasa aura badan Chanyeol memanas. Chanyeol sudah mengacungkan tinjunya ke udara.

Andwae!” Ahreum menahan lengan Chanyeol. “Aku yang salah karena tak melihat jalan. Jadi jangan macam-macam dengan kekuatanmu. Ayo kita jalan.”

Setelah kejadian tadi Kai tak melepaskan tangan Ahreum. Walau Ahreum meminta pertolongan pada Luhan agar membantunya melepaskan Kai, tapi Luhan tak bergeming. Ia lebih setuju kalau Kai menjaga Ahreum.

Akhirnya setelah perjalanan yang terasa cukup panjang, mereka berlima pun tiba di mini market. Keempat pemuda itu berdecak kagum melihat mini market itu, terutama Chanyeol dan Sehun. Ahreum tertawa melihat ekspresi mereka yang tampak lucu.

Begitu memasuki mini market, perubahan udara yang cukup drastis terjadi. Hal ini membuat Chanyeol dan Sehun langsung mendekati Ahreum dengan gusarnya.

“Put.. Ah maksudku Ahreum, apa kamu merasakannya? Xiumin ada disini dan dia menggunakan kekuatannya,” ujar Sehun.

“Dia melanggar peraturanmu. Dia menggunakan kekuatannya disini! Usir dia!!” seru Chanyeol.

Ahreum memandangi kedua pemuda itu bingung. Akhirnya ia menyadari maksud mereka. Keduanya menduga pendingin ruangan sebagai kekuatan Xiumin. Ahreum pun tertawa melihat kepolosan mereka.

“Ahahaha, astaga. Aku kini benar-benar percaya kalau kalian bukan dari sini. Ini bukan karena Xiumin tahu. Tapi karena pendingin udara,” sahut Ahreum sambil menunjuk ke langit-langit mini market.

Ahreum meninggalkan Chanyeol dan Sehun yang memandangi langit-langit dengan curiga. Setelah mengambil keranjang belanja Ahreum langsung mencari bahan-bahan makanan yang ia butuhkan. Ia sampai membeli sebanyak empat keranjang belanja berisi makanan. Ketika ia membayar belanjaannya, sang kasir mini market memandangi Ahreum bingung.

“Kamu bukannya cucu Tuan Lee??” tanya si kasir. “Kamu pindah lagi kesini?”

Ahreum mengenali kasir ini. Ini adalah salah satu dari orang yang semalam menyelinap ke bukit Ahreum. Ahreum hanya memberikan senyuman tipis pada kasir tersebut. Ia lalu melihat pemuda-pemuda dari Exoland, Sehun dan Chanyeol ada di depan box eskrim, Luhan dan Kai berdiri berjauhan tapi tetap berada dalam jarak aman dengan Ahreum. Ahreum menghela napas. Ia tak ingin ‘pengawal’ barunya itu mengetahui kehidupan Ahreum yang sebenarnya. Apa yang akan mereka katakan kalau mereka mengetahui putri yang mereka cari menjalani kehidupan paling menyedihkan di dunia ini.

“Ya, aku kembali lagi. Kudengar ada banyak orang-orang jahat yang ingin mencuri barang-barang di rumahku. Jadi kuputuskan untuk kembali,” sahut Ahreum.

Air muka sang kasir tampak  berubah mendengar ucapan Ahreum. Ia lalu memandangi Luhan yang sudah menatapnya tajam. “Dan mereka adalah….?” selidik kasir tersebut.

Ahreum menoleh ke arah Luhan dan Kai, ia lalu kembali berpaling pada sang kasir dan tersenyum, “orang-orang yang diutus Harabeoji untuk menemaniku disini.”

Setelah sedikit ‘mengancam’ sang kasir kalau ia tak boleh bercerita macam-macam tentang para pelindung dari Exoland itu, Ahreum pun meninggalkan kasir. Begitu melihat Chanyeol dan Sehun yang masih berdiri di depan box eskrim, akhirnya Ahreum memutuskan untuk membelikan mereka eskrim. Empat pemuda itu menikmati eskrim pemberian Ahreum dalam perjalanan pulang.

“Woahh,, kita bahkan tidak membutuhkan Xiumin untuk membuat es! Dan ini rasanya manis!” takjub Chanyeol.

Ahreum tertawa mendengar kepolosan Chanyeol. Ahreum melihat Sehun sudah menghabiskan setengah eskrimnya.

“Kamu menyukainya?” tanya Ahreum pada Sehun.

Sehun mengangguk dengan semangatnya. “Aku menyukainya. Aku akan menyukai makanan ini mulai sekarang. Uhhm, tapi aku lebih menyukaimu.” Sehabis mengatakan itu wajah Sehun kembali merona. Ia lalu bersembunyi di belakang Chanyeol. Ahreum pun kembali tertawa melihatnya.

“Bagaimana Luhan? Eskrim ini lebih enak dari cemilan semalam bukan?” tanya Ahreum.

“Cemilan? Apa itu cemilan? Kenapa kamu membaginya dengan Luhan dan tidak dengan kami? Aku juga mau itu,” protes Chanyeol.

Ahreum pun tertawa lagi mendengar protes Chanyeol. Lalu Ahreum terdiam. Ia sudah berhenti berjalan sekarang. Ia baru menyadari, ia tertawa begitu banyak hari ini. Ahreum pernah nyaris lupa bagaimana caranya tertawa sejak kakeknya meninggal. Tapi pemuda-pemuda dari Exoland ini berhasil membuatnya tertawa lepas, padahal Ahreum belum terlalu mengenal mereka.

Menyadari Ahreum tidak berada di samping mereka, Luhan, Chanyeol, Kai dan Sehun langsung menoleh ke belakang. Ketika melihat Ahreum terdiam dengan ekspresi yang sulit ditebak, Sehun langsung menyalahkan Chanyeol karena mengira ucapannya sudah membuat Ahreum marah. Merasa bersalah, Chanyeol langsung menghampiri Ahreum.

“Putri, maksudku Ahreum, maafkan aku. Aku tak bermaksud membuatmu murung. Aku yang salah. Kumohon jangan marah padaku,” pinta Chanyeol.

Ahreum tersadar dari lamunannya. Ia lalu tersenyum pada Chanyeol yang memandanginya khawatir. “Aku baik-baik saja. Aku hanya merasa bersalah karena tidak membelikan yang lain eskrim ini,” sahut Ahreum.

Chanyeol tersenyum lega mendengar ucapan Ahreum. “Tenang saja. Mereka tidak akan mungkin marah padamu karena tidak membelikan makanan ini,” Chanyeol menenangkan.

“Betul! Lagipula kamu sudah membeli lebih dari cukup semua makanan ini,” sahut Sehun.

Luhan lalu menghampiri Ahreum. “Kalau mereka protes, kamu bisa memarahi mereka, seperti yang semalam kamu lakukan.” Luhan lalu mengedipkan matanya pada Ahreum.

Ahreum merona melihat sikap Luhan barusan. Ia tak menyangka kalau pemuda-pemuda itu menganggap serius ucapannya. Padahal ia hanya mengatakan hal-hal itu untuk mengalihkan perhatian mereka saja.  Ahreum tak tahu harus bereaksi seperti apa, apa harus tersanjung, terharu, atau bersalah. Akhirnya Ahreum hanya tersenyum dan kembali berjalan.

Ahreum itu termasuk anak yang susah bergaul. Karena itu teman-teman sekolahnya senang sekali menindas dirinya. Ia tak pernah merasa begitu istimewa, sampai hari ini. Kehadiran pemuda-pemuda dari Exoland itu mampu membuat emosi Ahreum naik turun. Tapi sepertinya Ahreum yakin, mulai detik ini kehidupannya akan dipenuhi oleh senyuman dan tawa.

Tak peduli apakah aku benar reinkarnasi dari putri yang mereka cari atau bukan, tapi kurasa aku menyukai kehadiran mereka disini. Terima kasih sudah mengirimkan mereka ke hadapanku. Aku tak bisa meminta lebih dari ini karena satu-satunya permintaanku sudah terkabulkan. Permohonan mengenai… aku tak mau tinggal sendirian di dunia ini.

.

.

“Jadi maksudmu, Ahreum semacam reinkarnasi Putri Ara begitu? Atau memang keturunannya Putri? Pantas saja auranya berbeda,” gumam Suho.

Setelah mendengarkan cerita dari Kris, Suho pun mengerti sekarang apa yang sedang terjadi disini.

“Aura apa? Apa yang berbeda?” tanya D.O bingung.

“Knight dan Mastermind ditakdirkan untuk melayani dan melindungi putri. Karena itu kita bisa tahu dimana putri berada karena kita sudah terikat dengannya. Kita bisa mengetahui keberadaannya hanya dengan merasakan auranya saja. Tapi aku sama sekali tak merasakan aura Putri Ara disini. Justru kita semua tertarik oleh aura yang dipancarkan Ahreum,” Kris mencoba menjelaskan.

Para Knight pun mengangguk mengerti. “Jadi Ahreum dan Putri Ara berbeda? Atau mereka orang yang sama? Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya, hyung?” Baekhyun bertanya pada Suho.

Suho tampak berpikir sejenak. Ia tak mungkin kembali ke Exoland dan mengatakan pada kaptennya kalau mereka tidak menemukan Putri Ara. Lagipula dirinya dan para Knight yang lain sudah disumpah untuk selalu setia menjaga sang putri. Selain itu ia juga tak bisa membiarkan Mastermind memonopoli Ahreum. Karena biar bagaimanapun juga, Ahreum memiliki aura yang sama kuatnya dengan aura Putri Ara, jadi walaupun ia tak yakin Ahreum adalah yang mereka cari, tetap saja Suho tak ingin keduluan oleh Mastermind.

Dan Suho pun memutuskan, “Kita tetap akan tinggal disini dan menjaga Putri Ahreum.”

Xiumin dan Tao tampak mengeluh di seberang ruangan. “Owwwh aku pikir kalian akan pergi setelah mendengar penjelasan Dduizhang!”

“Owwwh aku pikir kamu sudah menghilang ditelan bumi!” sahut D.O. tak mau kalah.

Baik Kris maupun Suho langsung menengahi rekan-rekan mereka sebelum mereka kembali berkelahi.

“Kalau kalian ingin tinggal disini ada baiknya kalian menuruti apa kata Ahreum. Aku tak ingin ia kesal karena ulah kita semua dan malah kembali menghilang,” ujar Kris.

.

.

Begitu tiba di rumah, Ahreum segera membongkar barang belanjaannya di dapur. Ia memutuskan untuk membuat sup tahu andalannya. Karena tidak mungkin ia memberi makan tamu-tamunya dengan ramen lagi, bisa-bisa mereka jadi seperti mie.

Ketika Ahreum sedang menyiapkan bahan-bahan, Suho datang menghampirinya. Sambil melancarkan senyum seribu voltnya Suho menegur Ahreum. “Kamu sedang apa Putri Ahreum?”

Ahreum tersenyum pada Suho. “Aku mau membuat makan siang untuk kalian semua. Ada apa? Apa kamu butuh sesuatu?”

“Oh, boleh kubantu? Kamu ingin melakukan apa terhadap ini?” tanya Suho sambil meraih tumpukan tahu.

Ahreum pun akhirnya menjelaskan pada Suho kalau ia mau membuat sup dengan tahu-tahu itu. Ia lalu mengeluarkan pisau dari laci dapur untuk menunjukkan pada Suho bagaimana cara memotong tahu yang benar. Tapi belum sempat Ahreum memotong tahu, Suho sudah berseru panik.

“Putri!! Apa yang akan kamu lakukan dengan benda itu?! Itu berbahaya!!”

Ahreum memandangi Suho bingung. Ia lalu melihat pisau yang ia pegang kemudian menunjukkannya pada Suho. “Ini? Tentu saja untuk memotong tahu, ada apa memangnya?”

“Jangan!! Kamu bisa melukai dirimu! Serahkan pisau itu padaku, Putri.”

Mendengar ribut-ribut yang terjadi di dapur, para Knight dan Mastermind pun langsung menyerbu dapur. Mereka semua langsung memandangi Ahreum dengan ekspresi kaget, panik, shock begitu melihat pisau yang Ahreum pegang.

“Whoaaa!! Dia memegang pisau!”

“Putri! Pisau itu berbahaya, kamu bisa terluka. Letakkan segera.”

“Apa kita akan makan daging Suho sekarang?”

“Ahreum, apa yang akan kamu lakukan dengan pisau itu?!”

“Hyung! Kamu melakukan apa sampai dia memegang pisau?!!”

Ahreum memandangi pemuda-pemuda itu seolah mereka sudah kehilangan akal sehatnya. Mereka kini memasang posisi siaga seolah akan menerjang Ahreum setiap detik. Ahreum bingung akan sikap mereka dan ketika Ahreum mengacungkan pisaunya ke arah Suho, pemuda-pemuda itu menatapnya horor -terutama Suho.

“Ahreum, maafkan aku. Aku bersalah. Aku memang pantas dihukum. Sungguh bukan maksudku…,” Suho memohon pada Ahreum.

“Astaga!! Ada apa dengan kalian semua?!” seru Ahreum. Ia akhirnya meletakkan pisau tersebut di konter dapur dan mulai berkacak pinggang terhadap dua belas pemuda yang sudah memenuhi dapur. Suho memanfaatkan kesempatan tersebut untuk merebut pisau itu dari jangkauan Ahreum.

“Kamu sudah aman sekarang,” Suho menghela napas lega.

Ahreum mengernyitkan dahinya melihat Suho. “Berikan padaku pisaunya. Aku butuh itu untuk memotong tahu!”

Chanyeol yang entah sejak kapan sudah berada di samping Ahreum langsung meraih tangan Ahreum. “Ahreum, biarkan pisau itu dipegang oleh Suho Hyung. Kamu tidak boleh memegang benda berbahaya seperti itu. Tangan ini bisa terluka kalau kamu berurusan dengan benda jahat itu,” ujar Chanyeol yang sudah menggenggam jemari Ahreum erat.

Ahreum langsung menarik tangannya dan menyingkir dari hadapan Chanyeol. Entah kenapa Chanyeol ini sedari tadi senang sekali memegang tangan Ahreum. Ahreum akhirnya memilih menyalakan kompor untuk memasak air.

“Chanyeol!! Tidak boleh menggunakan kekuatanmu!!” seru Suho begitu melihat api yang keluar dari kompor.

“Aku tidak menggunakan kekuatanku Hyung!! Benda itu bisa mengeluarkan api sendiri!!” panik Chanyeol.

“Hyung jauhkan Ahreum dari sana! Benda itu berapi!! Nanti dia bisa terbakar!!” panik Sehun yang ada di seberang dapur.

Chanyeol akhirnya menarik Ahreum dari depan kompor. Ia merangkul Ahreum erat dan memicingkan matanya pada kompor yang masih menyala.

“Ya ya ya menjauhkanku dari kompor untuk berada di pelukan manusia api. Apa itu bukan pilihan yang salah? Harusnya kamu menyuruhku menjauh dari manusia api ini bukannya menjauhi komporku,” sahut Ahreum kesal.

Beberapa Mastermind tertawa pelan mendengar ucapan Ahreum, sedangkan Chanyeol tampak terluka. Ia jadi menyesali kekuatannya sendiri. Kenapa aku harus terlahir dengan kekuatan api ini, pikirnya.

Ahreum sudah menyilangkan tangannya di depan dada. Ia memandangi para Knight satu persatu. Ia nyaris menyesali pilihannya untuk membiarkan mereka menjaganya. Karena mereka sangat teramat sangat berisik dan berlebihan, terutama Sehun yang terus menjerit menyuruh Suho untuk mengeluarkan Ahreum dari dapur.

“Tempat ini berbahaya Ahreum. Biarkan kami yang masak dan kamu duduk saja. Lagipula kamu tak perlu sungkan menyuruh kami, karena kami ini adalah pengawalmu,” ujar Suho yang sudah mendorong Ahreum menjauhi dapur.

Ahreum menolak keluar dari dapur. Ia tak yakin kalau pemuda-pemuda itu bisa memasak. Melihat api di kompor saja panik, bagaimana bisa mereka memasak dengan tenang. Setelah berdebat cukup lama, akhirnya Ahreum bisa tetap berada di dapur untuk mengawasi Suho, D.O., dan Lay membuat makan siang.

“Ahreum, maafkan mereka. Para Knight itu memang terkadang bodoh,” ujar Tao yang ikut menemani Ahreum di dapur.

“Oh jeongmal!! Apa mereka tak pernah menyentuh dapur?! Atau mereka memang tak mengenal yang namanya dapur?! Kenapa mereka berlebihan sekali?!” kesal Ahreum pada Kai.

“Untuk saat-saat seperti ini aku tak mengenal mereka,” acuh Kai.

Ahreum memberikan petunjuk pada Suho, dan Lay untuk membuat sup. Saking fokusnya Ahreum terhadap mereka berdua, ia sampai tidak memperhatikan D.O yang sudah menemukan mainan baru di dapur.

“Setelah itu masukkan tahunya. D.O.-ssi apa tahunya.. OMO!!! Apa yang kamu lakukan pada tahunya?!!” jerit Ahreum.

D.O sudah menghentikan aktivitasnya dan memandang Ahreum tanpa bersalah. “Aku melakukannya seperti yang kamu perintahkan,” sahutnya.

Ahreum menepuk keningnya sendiri. Ia lalu menatap tahu –atau itu namanya sebelum jadi tak berbentuk seperti itu. “Aku memintamu untuk memotongnya bukan MENCINCANGNYA. Lihat apa yang kamu lakukan?! Memangnya kita akan makan bubur tahu? Astaga, ingatkan aku lagi kenapa aku harus membiarkan kalian semua tinggal disini,” keluh Ahreum frustasi.

“Karena kami harus melindungimu dari kekuatan jahat,” sahut Lay bangga.

Ahreum berpaling pada Lay dan memaksakan dirinya untuk tersenyum. Lay pun ikut tersenyum menunjukkan lesung pipinya pada Ahreum. Ahreum kembali melihat D.O. “Bagaimana kamu akan memasak ini?! Tahunya sudah rusak sekarang, sudah tak bisa diselamatkan lagi,” tuding Ahreum.

D.O. menatap mangkuk di tangannya lalu ia menyerahkan semangkuk cacahan tahu itu pada Lay dan berkata, “bisa kamu sembuhkan dia?”

Lay sambil memutar bola matanya. “Aku hanya menyembuhkan makhluk hidup, bukannya makanan.”

Ahreum hanya bisa menarik rambutnya frustasi dan meninggalkan dapur sambil menghentak-hentakkan kakinya. Ia tak peduli lagi mau makan siang apa mereka hari ini. Ia hanya ingin menjernihkan pikirannya dari makhuk-makhluk Exoland itu.

.

.

Aku reinkarnasi putri dari kerajaan Exoland begitu? Dan mereka adalah pelindungku? Tapi kenapa ini justru terasa seperti kebalikannya ya? Kenapa malah aku yang harus menjaga mereka dari semua barang-barang modern di rumahku?!

Tadi saja Chanyeol hampir membakar TV plasma Ahreum –yang  kebetulan sedang menayangkan adegan peperangan– karena mengira TV tersebut akan menembak dirinya. Sedangkan Xiumin senang sekali membuka kulkas, dan dia bilang kalau kulkas itu adalah sahabatnya yang telah lama hilang. Sedangkan D.O., karena dia senang sekali dengan yang namanya pisau, ia mencincang habis semua bahan-bahan makanan untuk menyalurkan hobinya.

Ahreum menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu. Ia memandangi langit-langit ruang tamu sambil menekan-nekan pelipisnya. Rasanya belum ada 24 jam tapi pemuda-pemuda dari Exoland itu sukses membuat Ahreum stress. Ahreum memandangi sekelilingnya, persis di samping Ahreum ada Chen yang duduk dengan kakunya dan juga ada Baekhyun yang duduk di sofa yang lain.

“Rasanya aku belum mendengarmu bicara sama sekali. Namamu siapa?” tanya Ahreum pada Chen.

“A..aku bicara denganmu tadi pagi, putri Ahreum. Waktu kamu.. Aku..waktu kamu jatuh,” gagap Chen. Wajahnya kembali merona karena mengingat kejadian tadi pagi. “A…aku Chen.”

Mulut Ahreum membulat membentuk huruf ‘o’.

“Keningmu.. baik-baik saja?” khawatir Chen.

Ahreum memegangi keningnya, agak sedikit benjol memang tapi sudah tidak sakit lagi. Ahreum lalu tersenyum pada Chen dan meyakinkannya kalau dirinya baik-baik saja.

“Apa dia melukaimu?” tanya Kai yang entah sejak kapan sudah duduk di samping Ahreum. Ahreum langsung memelototinya dengan sadis. Tapi Kai tidak mengubris tatapan mematikan Ahreum. Ia sudah menjulurkan tangannya ke kening Ahreum, menyingkirkan rambut yang menutupi kening Ahreum dan lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Ahreum untuk mengamati kening Ahreum.

Kedua mata Ahreum sudah menyatu di tengah menatap wajah Kai yang sangat dekat ini. Mendadak Ahreum kekurangan oksigen –karena ia sudah menahan napasnya saat ini. Keadaannya malah bertambah parah karena kini Kai sudah mengecup kening Ahreum.

“Nah, sudah sembuh sekarang,” ujarnya sambil menunjukkan seringaian liciknya.

Ahreum menggigit bibir bawahnya begitu keras. Ia merasa sangat salah tingkah sekarang. Ia akhirnya berdiri dan menatap Kai serta Chen tak percaya. Ahreum lalu menunjuk Chen, “Kenapa kamu tak menolongku darinya?!!”

Chen panik menatap Ahreum. “A..aku.. aku..”

“Dan kamu!! Kamu melanggar peraturan nomor empat! Dilarang muncul secara tiba-tiba!” gertak Ahreum pada Kai.

Kai mengangkat bahunya acuh dan mengatakan kalau ia sudah sedari tadi duduk di samping Ahreum tapi Ahreum terlalu fokus menatap langit-langit ruangan.

Tentu saja Ahreum tak percaya itu. Ahreum akhirnya meninggalkan ruang tamu, berjalan melewati Baekhyun menuju kamarnya. Tapi bukan Ahreum namanya jika ia tidak jatuh ketika sedang berjalan. Ahreum tersandung permadani yang menghiasi lantai ruang tamu dan ia terjatuh. Tidak terjatuh ke lantai, karena badannya kini sudah menabrak badan orang lain, Kris.

“Sepertinya kamu senang sekali jatuh di hadapanku? Apa kamu berharap aku memelukmu seperti ini?” tanya Kris datar.

Ahreum tentu saja langsung panas mendengar ucapan Kris. Ia lalu melepaskan diri dari Kris tapi malah berakhir dengan tersandung kaki sendiri. Ahreum terjengkang ke belakang dan Kris kembali menahannya.

“Sepertinya kamu memang senang untuk kupeluk. Cukup bilang saja, Ahreum dan aku akan memelukmu. Kamu tak perlu menjatuhkan dirimu seperti ini,” Kris kini sudah menunjukkan seringaian yang sama dengan Kai.

Ahreum kembali melepaskan diri dari Kris dan menjaga keseimbangannya. “Mulai detik ini jangan pernah menolongku ketika aku terjatuh,” geram Ahreum. Ia berlalu dari ruang tamu -dengan tak lupa memperhatikan langkahnya.

Aku menyesal sempat berpikir kalau Kris adalah yang paling normal diantara mereka. Dia bahkan lebih menyebalkan dari Knight yang namanya Kai itu. Oh Tuhan, sebenarnya pelindung macam apa yang kau kirimkan ke hadapanku???

.

.

.

bee

The third chapter  is out!!!.

dorky exo boys attack… bee suka bangt sama adegan di dapur… D.O. just so precious.. oia bee udah ingetin kan sebelumnya kalo FF ini tuh lebih mengutamakan fluffiness aja.. so jangan bosen buat ngikutin fiksi ini yaa
thanks for your attention!! annyeong!!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 3 – First Day with Boys from EXOLAND | PG15

11 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 3 – First Day with Boys from EXOLAND | PG15

  1. RapMon says:

    Ngakak bgt, lucu waktu mereka kira xiumin pake kekuatanny d minimarket, trus xiumin nemuin kulkas, chanyeol polos bgt selalu disalahin wkwk

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s