FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 1 – The Masterminds | PG15


ch1-MASTERMIND

Title : Beautiful Life

Subtitle : Chapter 1 – The Masterminds

Author : beedragon

Cast:

Areum T-ara as Lee Ahreum

EXO member

Genre : Fluff, Romance, Fantasy, Life

Length : Multichapter

Summary : Life is not beautiful for Ahreum. But that thought has changed since the boys from Exoland came. All of that miserable life change to beautiful life.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : EXO – Into Your World (Angel)

Chapter 1 | The Masterminds

.

.

.

The Masterminds

.

.

“KYAAAAAAAAAAAAAA!!!!!”

Ahreum merasa kakinya lemas. Ia jatuh duduk di hadapan pemuda itu. Ia melihat kaki pemuda itu, masih menginjak tanah. Berarti dia bukan setan?

Tapi Ahreum justru makin panik. Orang itu manusia dan dia itu laki-laki dan dia kini kembali menjulurkan tangannya ke arah Ahreum.

Penyusup!! Ada penyusup dirumahku!! Maling!! Rampok!! Atau jangan-jangan penjahat yang suka memperkosa gadis-gadis? Aaaa!! Aku harus melarikan diri!!

“Luhan! Kau mengagetkannya!” seru seseorang di belakang Ahreum.

Ahreum menoleh dan mendapati sosok pemuda lain yang tinggi menjulang di belakangnya. Ada dua!! Mereka ada dua!! Harabeoji selamatkan aku!!

“Kau tidak apa-apa, putri? Maaf Luhan mengagetkanmu.” Pemuda itu berlutut di hadapan Ahreum. Dan ketika Ahreum melihat wajah pemuda itu dari dekat, Ahreum nyaris kehilangan napasnya. Pemuda ke dua itu bahkan lebih tampan dari pemuda pertama berwajah-innocent-yang-memiliki-kerutan-di-pipinya-ketika-tersenyum. Tapi Ahreum segera tersadar ia lalu bergerak mundur menjauhi pemuda itu. Punggung Ahreum menabrak sesuatu yang empuk. Ahreum melihat ke atas kepalanya. Ada pemuda lain lagi yang sudah menunjukkan seringaian terseramnya pada Ahreum.

“Kyaaaaaaa!!” Ahreum langsung melompat bangun dan berlari menuju tangga.

“Tao! Kau menakutinya!” Ahreum sempat mendengar pemuda yang tadi berlutut dihadapannya mendesis marah pada pemuda ke tiga. Tapi Ahreum tak peduli. Ia langsung menaiki tangga dan langsung mengunci pintu bawah tanah dari luar.

Ahreum bersandar di pintu. Ia memegangi dada kirinya, jantungnya kini berdegup kencang. Ia masih merasa lemas dan berusaha berjalan menuju pintu utama. Lebih baik ia keluar dari rumah itu sebelum terjadi apa-apa pada dirinya. Lagipula sekencang apapun Ahreum berteriak tidak akan ada yang mendengarnya dari sini. Karena rumahnya ini terpencil dari lingkungan sekitar.

Ahreum kembali ke sisi barat rumah ini, menuju kamarnya. Ia memutuskan untuk mengambil ponselnya dari dalam tas, agar kalau terjadi sesuatu ia bisa menelepon meminta pertolongan. Ketika Ahreum hendak menutup pintu kamarnya sehabis mengambil ponselnya, kembali Ahreum dikejutkan oleh sosok pemuda yang lain. Pemuda ini memiliki lesung pipi ketika ia menunjukkan senyumnya pada Ahreum. Ahreum yang sudah lemas karena kaget, hanya bisa mematung melihat pemuda itu.

“Selamat malam, putri. Ohh kau terluka.” Pemuda itu mengulurkan tangannya menyentuh pipi Ahreum yang terluka akibat cakaran Jiyeon tadi siang. Ahreum merasakan pipinya menghangat ketika di sentuh pemuda asing itu. Tapi Ahreum segera menepis pemikiran aneh tersebut.

“Nah sekarang kau sudah sembuh. Ahh, aku belum…”

Belum sempat pemuda itu menyelesaikan kalimatnya Ahreum sudah kembali berteriak dan mendorong pemuda ke empat itu. Ketika berlari menuju pintu utama, Ahreum kembali dikejutkan oleh pemuda lain yang berpipi gembil. Sama seperti reaksi semua pemuda tadi ketika bertemu Ahreum, pemuda ke lima itu tersenyum manis pada Ahreum. Tapi Ahreum juga menunjukkan reaksi yang sama padanya, yaitu berteriak.

Sesampainya di pintu utama sudah ada pemuda lain lagi yang menunggu di pintu. Pemuda ke enam itu membungkukkan badannya pada Ahreum dan Ahreum memanfaatkan kesempatan itu untuk keluar dari rumah.

Ahreum menjauhi rumah kakeknya. Ia memandangi rumahnya dari jarak yang cukup aman. Napasnya sudah tersengal-sengal mendapati kenyataan ini. Enam pemuda tampan asing ada di dalam rumahnya. Entah darimana mereka masuk. Padahal ketika Ahreum mengitari rumahnya untuk menyalakan listrik Ahreum tidak melihat ada pintu atau jendela yang terbuka.

Siapa mereka? Perampok kah? Penyusup? Pemerkosa? Ahreum masih merasa lemas. Ia lalu meraih ponselnya dan mulai menelepon 911. Belum sempat Ahreum menekan tombol hijau untuk menelepon tiba-tiba saja sudah ada yang menarik tangannya.

“Putri, maaf kami mengagetkanmu. Kami datang bukan untuk menyakitimu. Izinkan aku memperkenalkan diriku dulu. Aku Kris dan..” Pria nomor dua kini sudah berdiri menjulang di hadapan Ahreum.

Ahreum menatap pemuda itu horor. Rasanya ia sudah mengunci ruang bawah tanah, tapi kenapa orang ini bisa keluar? Tapi kemudian Ahreum pikir kalau teman-temannya yang diluar itu pasti yang menyelamatkan pemuda ini. Dan benar saja, kini lima pemuda yang lainnya sudah berkumpul di belakang pemuda itu.

“A…ampuni aku,” pinta Ahreum sambil mengatupkan kedua tangannya. Ia harus memohon belas kasihan pada mereka agar dia tidak celaka bukan?

Keenam pemuda itu saling berpandangan dan saling berbisik. “Kenapa dia minta maaf?” “Kenapa dia begitu ketakutan melihat kita?” “Apa benar ini putrinya?”

Tapi Ahreum tidak mempedulikan kebingungan pemuda-pemuda ini. Ia terus memohon pada mereka. “Ambil saja semua yang ada di rumah ini tapi jangan sakiti aku. Aku mohon. Aku masih muda, masih mau sekolah, bekerja, dan melanjutkan hidup jadi kumohon jangan sakiti aku.”

Mendengar permintaan Ahreum itu, Kris, pemuda yang memegang lengan Ahreum pun mengendurkan pegangannya. Kesempatan ini Ahreum manfaatkan untuk menendang kaki Kris itu dan berlari kearah gerbang utama.

“Dduizhang kau tak apa-apa?” “Wow! Dia menendangmu, Kris.” “Apa benar dia Putrinya? Kenapa dia brutal sekali?”

Melihat Ahreum semakin menjauh, salah satu dari mereka mengayunkan tangannya ke arah Ahreum dan seketika tubuh Ahreum melayang di udara.

“What?! Kenapa aku bisa melayang?!” panik Areum. Kini tubuhnya terbang kembali ke arah rumahnya. Ketika Ahreum menoleh ke arah pemuda-pemuda itu, ternyata pemuda nomor satu sedang mengayun-ayunkan tangannya ke arah Ahreum. Begitu Ahreum tiba di hadapan mereka pemuda itu tetap menggantung tangannya di udara seolah sedang menahan tubuh Ahreum.

“Hiiing, sebenarnya kalian siapa? Kenapa aku bisa melayang begini?! Tolong jelaskan padaku! Apa mau kalian?!!” seru Ahreum.

Pemuda yang tadi memegang pipi Ahreum dan pemuda nomor enam tampak terkejut melihat amarah Ahreum. Sementara Kris kini menghela napas panjang melihat emosi Ahreum.

“Kami tidak akan menyakitimu, bukankah aku sudah mengatakannya tadi. Sekarang kalau kau mau diam dan mendengarkan penjelasanku maka Luhan tidak akan menggunakan kekuatannya lagi untuk menahanmu di udara,” ujar Kris.

Ahreum pun mengangguk setuju dan Kris menitahkan temannya (si Luhan yang memiliki kekuatan aneh) untuk menurunkan Ahreum. Setelah kakinya menginjak tanah lagi Ahreum langsung menyilangkan lengannya di dada.

“Jadi kalian siapa? Kenapa kalian bisa ada di rumahku? Kalian masuk darimana?! Asal kalian tahu saja ya, walaupun rumah ini tadinya tidak berpenghuni tapi akulah pemilik rumah ini! Jadi sebaiknya kalian pergi dari rumahku sebelum aku menelepon polisi!” seru Ahreum sambil mengacungkan ponselnya.

Mengira kalau ponsel Ahreum itu adalah senjata, pemuda bernama Luhan kembali mengayunkan tangannya dan ponsel Ahreum pun kini berpindah tangan.

“What!! Yah! Bagaimana bisa kalian melakukan itu!! Kalian punya kekuatan sihir?!! Astaga, aku pikir tuduhan terhadap Harabeoji itu tidak benar. Apa kalian teman Harabeoji?! Apa kalian yang membuat Harabeoji jadi…”

“Demi Pohon Kehidupan, dengarkan aku dulu, putri,” potong Kris. Ia sudah menekan-nekan pelipisnya melihat semua kelakuan Ahreum. Ia kemudian merebut ponsel Ahreum dari tangan Luhan lalu menarik tangan Ahreum dan meletakkan ponselnya disana.

“Kami adalah Mastermind. Kami datang untuk melindungimu jadi kumohon jangan takut pada kami,” ujar Kris yang masih memegang tangan Ahreum.

Ahreum memandangi Kris bingung. Mastermind? Apa pula itu?

Seolah mengerti kebingungan Ahreum, Kris pun memutuskan untuk menjelaskan semuanya secara perlahan pada Ahreum. Ia menjelaskan pada Ahreum siapa mereka, darimana mereka berasal, kenapa mereka bisa berada disini. Ia juga memperkenalkan lima pemuda yang lainnya. Luhan si pria berwajah innocent (pria pertama yang ditemui Ahreum), Tao si pria nomor tiga, Lay yang tadi memegang pipi Ahreum, Xiumin yang berpipi chubby dan terakhir adalah Chen.

Ahreum kini makin bingung mendengar ucapan Kris. Katanya mereka adalah Mastermind dari tanah Exoland. Mereka mengarungi ruang dan waktu untuk sampai dihadapan Ahreum dengan membawa misi yaitu melindungi Ahreum dari kekuatan jahat yang mengincar dirinya. Semakin Ahreum mendengarkan semua cerita Kris semakin Ahreum merasa seperti sedang dibodohi.

“Puhahahahahaha!!” Ahreum akhirnya tak bisa menahan tawanya. Para Mastermind sampai tercengang melihat Ahreum.

“Jadi kamu menyuruhku mempercayai ucapanmu begitu?” gelak Ahreum.

“Teserah kalau kau tidak mempercayai ceritaku. Tapi aku tegaskan disini, kami diutus untuk menjadi pelindungmu. Jadi tolong jangan melarikan diri dari kami,” ujar Kris.

“Dengar tuan-tuan dari Mastermind, (‘Kami mastermind dari Exoland, putri,’ sela Tao) terserah apa katamu, tapi aku tidak membutuhkan perlindungan. Aku baik-baik saja. Jadi sebaiknya kalian pergi dan kembali ke tempat kalian berasal,” sahut Ahreum.

“Dari apa yang kulihat saat ini, kau SANGAT butuh perlindungan. Kau tinggal disini sendirian, Putri. Apa jadinya kalau tiba-tiba orang jahat datang dan mengganggumu.” Kris masih berusaha membuat Ahreum mempercayai ucapannya. “Lagipula kami tidak akan meninggalkanmu. Kau adalah jodoh kami, tanpa kamu maka tak akan ada masa depan bagi kami.”

Ahreum melongo mendengar ucapan Kris. Jodoh katanya?! Mereka sedang bercanda atau apa?! Ahreum berusaha mengembalikan akal sehatnya.

“Kamu pikir aku akan percaya omong kosongmu itu?!” ketus Ahreum.

Melihat Ahreum yang begitu susah diajak kompromi, Mastermind hanya bisa saling berpandangan. Tapi Xiumin tiba-tiba merasakan sesuatu. Ia pun mendekat pada Kris dan berbisik, “Dduizhang, ada yang datang.”

“Mungkin ini akan membuatmu percaya kalau kami memang datang untuk melindungimu,” ujar Kris.

Uh-oh ini pertanda tidak baik, gumam Ahreum. Kris lalu menyerahkan Ahreum pada Tao dan Lay. Kemudian keduanya membawa Ahreum ke sisi barat bukit untuk bersembunyi di balik pepohonan. Sementara Kris, Luhan, Xiumin dan Chen sudah berpencar entah kemana. Ahreum melihat Luhan sudah duduk di atas pohon sambil mengamati jalanan utama sedangkan Xiumin ada di bawah bersembunyi di balik pohon. Kris dan Chen tidak terlihat dimanapun juga.

“Ada apa?” bingung Ahreum.

“Ada yang datang, Putri,” sahut Lay. “Manusia, dua orang, dan mereka sepertinya bukan datang untuk kebaikan.”

Benar saja apa kata Lay, Ahreum melihat ada dua orang pemuda datang dari arah gerbang utama. Mereka mengendap-endap sambil terus menoleh ke arah kiri, kanan dan belakang mereka.

“Hei kau yakin kita akan melakukan ini??” ujar salah satu dari kedua pemuda itu. Suaranya menggema ke seluruh penjuru bukit.

“Tentu saja. Tuan Lee itu kan kaya raya, dia pasti memiliki banyak benda berharga di rumahnya. Kita ambil beberapa pun tidak akan merugikan Tuan Lee bukan. Lagipula dia juga sudah mati, hahaha,” sahut temannya.

“Tapi kudengar rumah ini berhantu. Mungkin hantu Tuan Lee masih ada untuk menjaga hartanya. Dan lagipula tadi aku melihat cucunya di mini market. Mungkin dia sudah kembali?”

“Kalau begitu bagus. Kita bisa bermain-main sebentar dengan cucunya. Hehehe.”

Ahreum segera mengutuk kedua pemuda itu. Bagaimana bisa mereka berpikir seperti itu tentang kakeknya. Ditambah lagi dengan pikiran jahat yang mereka lontarkan. Ahreum juga mendengar Tao mendesis marah begitu mengetahui pikiran orang-orang tersebut. Ahreum sampai menarik lengan jubah Tao untuk menenangkannya.

Seketika suhu di bukit ini menurun drastis. Udara terasa begitu dingin seperti sedang musim salju, padahl ini sedang musim semi. Ahreum sampai mengeluarkan kabut dari pernapasannya. Ia lalu merapatkan diri pada Tao untuk mendapat sedikit kehangatan.

“Apa-apaan ini? Kenapa suhunya mendadak jadi dingin?” bingung orang jahat itu.

“Kurasa bukit ini tak suka kehadiran kita atau jangan-jangan hantu Tuan Lee,” sahut temannya yang sudah bergidik ketakutan.

Ahreum melihat Luhan mengayun-ayunkan tangannya dari atas pohon. Kemudian Ahreum mendapati beberapa batang kayu beterbangan ke arah dua pemuda jahat tadi. Lalu Ahreum mendengar suara gemuruh petir di langit. Ahreum segera menutup telinganya dan menyembunyikan dirinya dibalik Tao.

“Hantuuuuuu!!!” Orang-orang jahat itu pun lari tunggang langgang setelah diserang oleh kayu-kayu yang melayang-layang.

Setelah orang-orang jahat itu pergi, Kris, Luhan, Xiumin dan Chen kembali berkumpul dihadapan Ahreum.

“Putri, apa kau baik-baik saja?” tegur Kris. “Mereka sudah lari. Kau aman sekarang. Kuberi tahu saja Putri, mereka tadi adalah orang ke tujuh yang datang kesini dengan niat yang sama.”

Ahreum memandangi Kris horor. “Orang ketujuh? Lalu apa yang terjadi dengan orang-orang sebelum mereka? Sudah berapa lama kalian ada disini?!”

“Kami menunggumu disini sudah sekitar sepuluh hari,” sahut Tao.

“Orang-orang itu tentu saja kami yang mengusirnya. Dengan kekuatan kami,” sahut Xiumin bangga. Ia mengangkat telapak tangannya pada Ahreum dan menunjukkan tangannya yang dipenuhi kristal es.

“Ka..kalian juga punya kekuatan sihir?? Selain si nomor satu itu kalian semua juga punya kekuatan aneh?!”

“Tentu saja, putri. Karena kami adalah Mastermind dari Exoland. Kami semua punya kekuatan super,” sahut Tao riang. “Luhan gege bisa mengendalikan benda-benda, Xiumin gege bisa membekukan apapun, Lay gege bisa menyem…”

“Kalian benar-benar penyihir!!” jerit Ahreum.

Kris akhirnya tidak tahan dengan semua konklusi yang dibuat Ahreum. Ia lalu menggendong Ahreum di pundaknya.

“Yah lepaskan aku!!!” jerit Ahreum. “Kalian orang jahat!! Kalian pikir aku bisa tertipu dengan semua kebohongan kalian?! Yaaaahhh!!! Turunkan aku!!! Tolooooooooooong!! Tolooooooooooooong!!!!!”

Tapi Kris tak bergeming. Ia tetap membopong Ahreum masuk ke dalam rumah. “Lebih baik kita melanjutkan percakapan kita di dalam, Putri,” sahut Kris acuh. “Udara malam tak baik untukmu.”

Kini mereka semua sudah masuk ke dalam rumah Ahreum.  Kris mendudukkan Ahreum di ruang tamu. Lalu para Mastermind itu berbaris di hadapan Ahreum. Ahreum memandangi mereka satu persatu. Ia sebenarnya takut pada mereka semua terutama pada Tao dan Kris yang terlihat sangat mengintimidasi. Tapi ia tetap tak bisa menerima dengan akal sehatnya kalau makhluk-makhluk dari dunia lain kini sedang berdiri di hadapannya.  Ia akhirnya memilih untuk mendengar semua cerita Kris, demi mencari aman. Hei, mereka semua punya kekuatan super, bisa saja kalau Ahreum membantah, mereka akan membekukan Ahreum dan membuangnya di samudra pasific.

“Baiklah baiklah, aku percaya apapun yang kalian katakan. Kecuali sesuatu mengenai jodoh! Jadi apa yang akan kalian lakukan selanjutnya? Kalian akan tinggal disini untuk menjagaku begitu?” Ahreum akhirnya menyerah pada mereka. Mastermind pun mengangguk menjawab pertanyaan Ahreum.

Oh Tuhan, aku pasti sudah gila.

Semua pemikirannya pun terganggu oleh bunyi perut Ahreum yang menjerit minta makan. Tapi suara perut Ahreum masih kalah kencang oleh suara perut Xiumin. Kini pemuda itu sudah menunjukkan senyum kelincinya.

“Aku lapar! Putri apa kau punya makanan?” tanya Xiumin.

Kris segera mendesis pada Xiumin karena tingkah rekannya yang cukup tidak tahu diri itu. Tapi Xiumin hanya merengut sambil bergumam ‘aku lapar, mau bagaimana lagi.’

Berhubung Ahreum juga lapar, jadi ia memutuskan untuk menjadi tuan rumah yang baik dan menjamu tamu asingnya. “Baiklah. Berhubung aku lapar jadi aku akan membuatkan makanan untuk kita,” sahut Ahreum malas.

“Uwyeah!! Makan!!” seru Xiumin riang sambil melompat kegirangan.

Ahreum lalu beranjak meninggalkan para Mastermind di ruang tamu. Ia kembali ke ruang bawah tanah untuk mengambil gas yang tadi sempat tertunda. Ahreum segera menghentikan langkahnya di depan pintu ruang bawah tanah begitu menyadari kalau keenam Mastermind itu membuntutinya.

“Untuk apa kalian mengikutiku?! Apa kalian tidak punya kerjaan lain?!” bentakan Ahreum membuat mereka semua terlonjak kaget, kecuali Kris tentu saja.

“Tugas kami kan memang untuk melindungimu, Putri,” sahut Tao.

Ahreum memutar bola matanya. “Tak perlu mengikutiku! Kalian cukup mengawasiku saja, mengerti! Dan jangan panggil aku putri! Namaku itu Ahreum!!”

Ahreum lalu masuk ke ruang bawah tanah sambil menghentak-hentakkan kakinya.

“Dduizhang kau yakin dia Putri Ara?” tanya Lay pada Kris yang masih tercengang melihat sikap Ahreum.

“Aku tidak mungkin salah. Dia memang orangnya,” sahut Kris ragu.

“Lalu kenapa dia menyebut dirinya sebagai Ahreum? Apa dia sedang menyamar atau dia lupa ingatan?” kali ini Chen yang bertanya.

“Aku akan menjelaskannya pada kalian nanti,” sahut Kris. Ia lalu menoleh ke arah Xiumin. “Aku akan menjelaskan pada kalian setelah perut Xiumin kenyang.”

.

.

Sesungguhnya Ahreum tidak bisa masak dengan tenang saat ini. Bagaimana tidak, enam pasang mata terus mengikutinya kemanapun Ahreum pergi. Dan setiap Ahreum hendak memaki mereka, para Mastermind itu pasti langsung membuang muka dan menyibukkan diri dengan sesuatu, entah itu lampu hias atau ukiran pada lengan bangku.

Ketika Ahreum hendak merapikan meja makan, ia melihat Xiumin sudah memainkan guci antik milik kakeknya.

“Yah!! Apa yang kau lakukan dengan guci kakekku!! Taruh kembali gucinya!” seru Ahreum panik.

Xiumin yang kaget melepaskan begitu saja guci itu dari tangannya. Ahreum menatap Xiumin horor, ia mengira kalau guci itu akan jatuh membentur lantai. Tapi tidak, guci itu mengapung di udara dan melayang kembali ke tempat asalnya. Ternyata Luhan sudah menggunakan kekuatannya untuk menyelamatkan guci kakek Ahreum.

“Jangan sentuh apapun yang ada dirumah ini. Kalau sampai kau menghancurkan guci-guci atau apapun yang ada dirumahku maka kalian akan keluar dari sini. Aku tak peduli kalian itu pelindungku atau bukan,” ancam Ahreum. Para Mastermind itu langsung terdiam mendengar ancaman Ahreum.

Setelah selesai masak Ahreum menyajikan makanannya di meja makan yang sudah dibersihkan oleh Lay dan Tao. Begitu melihat makanan semua Mastermind mengucapkan terima kasihnya pada Ahreum. Hal ini membuat Ahreum jadi tersenyum malu, belum pernah ada yang mengucapkan terima kasih padanya setulus ini.

Sambil makan, sesekali Ahreum memperhatikan keenam pemuda di hadapannya. Setelah diperhatikan, Ahreum justru semakin yakin kalau pemuda-pemuda itu bukan orang jahat. Mereka terlihat sangat sopan dan patuh pada Ahreum. Jadi Ahreum memutuskan tak ada salahnya mencoba percaya pada mereka. Mungkin saja orang-orang ini dikirimkan kakeknya dari surga untuk menemani Ahreum.

Semuanya makan dalam diam, kecuali Kris. Ia tidak menyentuh makanannya dan malah terus memandangi Ahreum. Ahreum sampai dibuat salah tingkah oleh tatapannya. Ahreum pun menunjukkan tampang tersangarnya pada Kris sehingga Kris langsung menundukkan kepalanya.

Huh, kau pikir hanya kau saja yang bisa mengintimidasiku, aku juga bisa!

Seusai makan (yang berlangsung dua ronde karena Xiumin ngotot minta makan lagi) Ahreum pun mengajak para Mastermind ke lantai dua dan menunjukkan kamar yang akan mereka tempati. Berhubung rumah kakek Ahreum ini adalah bekas penginapan, jadi Ahreum tak perlu khawatir akan tidur dimana tamu-tamunya. Di lantai dua rumah ini terdapat enam kamar kosong dan masing-masing kamar bisa ditempati dua sampai tiga orang.

Setelah menunjukkan dimana para Mastermind itu akan tidur, Ahreum kembali ke ruang bawah tanah. Ketika ia turun tangga, kaki Ahreum tersandung karpet yang melapisi tangga. Untungnya ia tidak terjatuh karena sudah ada yang menahan pinggangnya. Ahreum menoleh ke belakang dan mendapati Kris sudah memeluk pinggang Ahreum, menjaganya agar tidak terjatuh. Wajah Ahreum menghangat mendapat perlakuan seperti ini. Ahreum pun langsung memperbaiki posisinya dan bergegas ke ruang bawah tanah untuk mengambil alat-alat kebersihan -serta tak lupa untuk mengucapkan terima kasih pada Kris. Begitu keluar dari ruang bawah tanah Ahreum lalu menyodorkan beberapa sapu, kemoceng dan lap pada mereka.

“Ini sapu, ini kemoceng dan ini kain pel. Seperti yang kalian lihat, rumah ini sangat teramat sangat kotor karena sudah terlalu lama tidak dihuni. Aku tidak menyuruh kalian untuk membersihkan rumah ini. Hanya kamar kalian masing-masing saja. Aku tak mau kalian terkena sinusitis, asma atau semacamnya karena debu-debu itu. Jadi sekarang ikuti aku, akan kutunjukkan bagaimana caranya,” titah Ahreum.

“Ini buat apa, Putri?” tanya Tao sambil mengayun-ayunkan kemocengnya di wajah Xiumin hingga membuat Xiumin bersin. Badan Tao pun beku akibat semburannya.

“Nomor tiga!! Itu untuk perabotan bukan untuk muka! Dan nomor lima, jangan pernah kamu bersin di depanku! Aku tak mau kamu membekukanku!” seru Ahreum. Baik Tao dan Xiumin saling berpandangan, agak bingung karena Ahreum tidak memanggil mereka dengan nama melainkan dengan nomor.

Ahreum memandangi para Mastermind dari ujung kaki sampai kepala. Semuanya memakai jubah hitam panjang yang menyapu jalan. Hanya melihatnya saja Ahreum sudah merasa gerah. Ya, kurasa sebaiknya mereka ganti baju dulu.

“Tapi sebelum kalian membantuku, ada baiknya kalian ganti baju kalian dulu. Dengan jubah itu aku tak yakin kalian bisa membersihkan kamar dengan baik.”

Ahreum lalu memerintahkan para Mastermind untuk mengikutinya ke kamar utama, kamar Ahreum. Tadinya kamar ini dipakai oleh kakeknya, sedangkan kamar Ahreum ada di lantai tiga. Tapi berhubung Ahreum sedang sangat rindu pada kakeknya jadi Ahreum memutuskan untuk tidur di kamar kakeknya sekaligus mengenang saat-saat terakhirnya bersama sang kakek di kamar tersebut.

Ia lalu membuka lemari kakeknya dan mengeluarkan semua piyama kakeknya untuk dipakai para Mastermind. Walaupun bingung tapi mereka semua menurut dan mengganti pakaian mereka di kamar mandi yang ditunjuk Ahreum. Setelah melihat mereka berganti pakaian, Ahreum merasa sangat miris melihat keadaan Tao dan Kris. Karena celana milik kakeknya tampak sangat menggantung di kaki panjang mereka. Kurasa nanti aku harus membongkar pakaian peninggalan Appa di loteng.

“Putri terima kasih untuk pakaiannya. Ini terasa lebih nyaman daripada jubah tadi,” ujar Xiumin.

Ahreum tersipu malu mendengar ucapan terima kasih dari para Mastermind.

“Ne. Nah baiklah, pertama-tama singkirkan semua kain putih yang menutupi perabotan seperti ini.” Dengan hati-hati Ahreum melipat kain yang menutupi tempat tidurnya. Kemudian ia menepuk-nepuk kasurnya dengan sapu hingga semua debunya beterbangan. Dan seterusnya Ahreum terus mengajari para Mastermind caranya bersih-bersih.

“Baiklah, Putri. Kami sudah mengerti. Kau duduk saja dan tidak usah ikut bekerja. Serahkan semuanya pada kami,” ujar Kris sambil mendorong Ahreum ke sofa yang ada di kamar tersebut.

Awalnya Ahreum menolak, tapi karena Kris memaksa akhirnya Ahreum menurutinya. Lagipula ia tak ingin dibekukan oleh Xiumin kalau tidak menurut. Setidaknya pekerjaan Ahreum sedikit berkurang karena kamar kakeknya ini sangat sangat besar. Berkat para Mastermind Ahreum jadi bisa sedikit menghemat tenaga. Ia juga cukup capek karena berjalan dari kaki bukit menuju rumah, berlari keliling rumah menghindari Mastermind, masak dan kini harus bersih-bersih kamar.

Ahreum memandangi para Mastermind yang membantu Ahreum membersihkan kamarnya. Mereka tampak serius membantu Ahreum. Ahreum merasa sangat berterimakasih atas kehadiran Mastermind ini. Walau semua ini terasa sangat absurd baginya, tapi setidaknya ia tidak akan tinggal sendirian di rumah besar ini.

Harabeoji, apa Harabeoji yang mengirimkan mereka untuk menemaniku? Kalau ya, terima kasih. Kurasa aku tidak akan merasa kesepian lagi mulai sekarang.

“Putri, kemana kamu mau aku memindahkan kain-kain ini?” tanya Lay.

“Shh, dia sudah tidur,” bisik Kris.

Keenam Mastermind langsung berhenti bekerja dan memandangi Ahreum yang tertidur di sofa yang ada di kamar. Seketika senyuman langsung mengembang di wajah masing-masing Mastermind begitu melihat Ahreum tertidur dengan damainya. Kris lalu menghampiri Ahreum, ia menggendong Ahreum untuk memindahkannya ke kasur. Berbeda dengan sebelumnya, Kris kini menggendong Ahreum di depan dadanya.

“Kalau dia tertidur seperti ini, dia benar-benar terlihat seperti seorang Putri,” gumam Tao.

“Jadi Dduizhang, apa bisa kamu jelaskan apa yang terjadi pada Putri Ara. Kenapa dia tidak mengenali dirinya sendiri? Terutama kenapa dia tidak mengenali kita. Apa ini karena dia sudah terlalu lama menghilang?” tanya Lay.

Kris duduk di ujung tempat tidur Ahreum. Ia kemudian menghela napas panjang sebelum mulai bercerita.

“Ahreum.. dia bukan Putri Ara.”

“Hah?! Kalau dia bukan Putri Ara lalu kenapa kita masih disini?!” protes Xiumin.

“Dia memang bukan Putri Ara. Tapi dia ada kaitannya dengan Putri Ara. Kalian lihat kalung yang ia pakai bukan? Kalung itu adalah milik Putri Ara. Aku belum bertanya lebih lanjut mengenai kalung itu atau darimana ia bisa mendapatkan kalung tersebut,” Kris menjelaskan. “Aku sendiri tak yakin akan dugaanku ini, tapi aku merasakan aura Putri Ara di diri Ahreum. Mungkin itu karena kalungnya, tapi kurasa… kurasa Ahreum adalah putrinya Putri Ara. Tapi ini hanya dugaanku saja.”

“APA?!” kelima Mastermind berseru berbarengan.

“Putrinya.. lalu Putri Ara..?”Chen tampak shock dengan kenyataan yang ada. “Bagaimana kita akan menyampaikan ini pada Master?”

“Aku tak berani menduga keadaan Putri Ara. Lagipula Master tidak mengatakan apa yang harus kita lakukan jika kita tidak menemukan Putri Ara. Dia hanya menyuruh kita mencari dan melindungi Putri, keturunan terakhir Raja Janus. Jadi kita akan tetap pada misi, melindungi keturunan Raja Janus, melindungi keturunan Putri Ara, melindungi Ahreum. Karena dia masa depan kita. Ahreum adalah masa depan kita.”

Kelima Mastermind itu kini memandangi Ahreum penuh rasa bersalah. Mereka merasa bersalah karena mereka benar-benar terlambat dan tak bisa menyelamatkan Putri yang mereka cari. Tapi mereka bersyukur karena mereka menemukan Ahreum. Dengan begitu misi mereka tidak berakhir sia-sia dan penuh penyesalan.

.

.

.

.

Ahreum terbangun dari tidurnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya menatap langit-langit kamar. Ia masih memikirkan mimpi anehnya semalam. Kali ini bukan tentang kakeknya, tapi tentang enam orang pemuda tampan yang mengklaim diri mereka sebagai pelindung Ahreum. Mimpi yang aneh memang tapi mimpi itu terasa sangat nyata bagi Ahreum.

Kemudian ia teringat kalau ia harus membersihkan rumah besar ini. Akhirnya Ahreum beranjak untuk bangun. Tapi ia merasa badannya sangat berat. Ketika ia mencari tahu apa penyebab badannya tak bisa bergerak, Ahreum menemukan sebuah tangan melingkar diatas perutnya. Ahreum menyusuri siapa pemilik tangan itu. Ternyata Tao tidur di sisi kanannya. Kontan saja Ahreum langsung menjerit panik dan menendang Tao. Ia kemudian berguling ke sisi kirinya dan malah berakhir di atas badan orang lain, badan Kris. Ahreum memandangi Kris yang ada dibawah tubuhnya. Badan mereka saling menempel sedangkan wajah mereka kini hanya berjarak beberapa centi saja.

“Selamat pagi, Putri,” sapa Kris yang sudah membuka sebelah matanya.

“Kyaaa!!!!” Ahreum kembali berguling ke sisi kirinya. Ia sudah menduga kalau dirinya akan jatuh ke lantai, berhubung Kris tidur di pinggir kasur. Ahreum memejamkan matanya menunggu badannya menabrak lantai. Tapi ia tak merasakan sakit sama sekali.

Ahreum membuka matanya. Ia melihat Kris sudah duduk sambil memandanginya bingung. Ahreum pun menoleh ke bawah. Ya, benar saja, si baby face ini menggunakan kekuatannya padaku, rutuk Ahreum begitu melihat Luhan ada di bawahnya sambil mengangkat satu tangannya diudara.

Dengan mata yang masih setengah terpejam, Luhan melemparkan tubuh Ahreum kembali ke kasur, tepat di atas pangkuan Kris. Segera saja Ahreum mendorong Kris dan turun dari kasur, melompati tubuh Luhan yang masih tertidur di lantai.

“Ternyata yang semalam bukan mimpi,” gumam Ahreum. Ia lalu berpaling pada Kris dan menunjuk wajah Kris geram. “Aku tahu aku seharusnya tidak mempercayaimu. Padahal aku sudah berbaik hati memberi kalian makan dan tempat untuk bermalam tapi kalian memanfaatkan kesempatan itu untuk menjamahku!! Kalian… kalian.. kalian benar-benar tak bisa dipercaya!” jerit Ahreum.

“Euh, Putri. Bahkan ketika kau baru bangun tidur pun kau sangat berisik,” keluh Luhan sambil menutup telinganya.

“Kalian keluar dari kamarku sekarang juga, mesum! Apa yang sudah kalian lakukan padaku semalam? Aku kalian apakan?!” jerit Ahreum lagi. Ia sudah menutupi dadanya dengan kedua tangannya dan memandangi Kris penuh curiga.

“Semalam kau tertidur disana,” sahut Kris sambil menunjuk ke arah sofa. “Lalu aku pindahkan kau ke sini. Dan berhubung kami semua terlalu capek untuk merapikan kamar, jadi kuputuskan untuk bermalam disini, menemanimu. Dan aku tidak melakukan apa-apa terhadapmu. Aku berani bersumpah demi Pohon Kehidupan.”

Ahreum merengut mendengar jawaban Kris. Ia lalu kembali menunjuk ke arah Kris. “Aku akan mengawasimu, nomor dua.”

Ia lalu beranjak hendak keluar kamar. Seperti biasanya Ahreum tak pernah melihat ke bawah kalau sedang berjalan, jadi ia tak tahu kalau ada Xiumin yang tidur melintang di bawahnya. Ahreum pun tersandung badan Xiumin dan kembali terjatuh. Kali ini Luhan tidak sempat menggunakan kekuatannya pada Ahreum dan Ahreum pun jatuh menimpa tubuh Chen yang terbaring di sebelah Xiumin.

“Auww!!”

Begitu mendengar jerit kesakitan Ahreum semua Mastermind langsung melompat bangun dan menghampiri Ahreum. Tao segera saja memarahi Xiumin karena sudah membuat Ahreum terjatuh.

“Kau tak apa-apa, Putri?” tanya Chen khawatir. Wajahnya sudah merah sekali saat ini, bukan karena berbenturan dengan Ahreum, tapi karena ia berada sangat dekat dengan Ahreum.

Ahreum memegangi keningnya yang tadi membentur dagu Chen. “Ne, aku tak apa-apa. Kau sendiri bagaimana?” Ahreum meraih dagu Chen yang tampak memerah.

Wajah Chen semakin merah mendapati skinship pertamanya dengan Ahreum. Ia menggeleng panik dan melirik Kris meminta pertolongan.

“Baiklah, Putri, coba aku lihat keningmu.” Kris mengangkat badan Ahreum dari atas badan Chen. Kris lalu kembali mendudukan Ahreum di kasur dan mengusap-usap kening Ahreum.

Sikap Kris ini sukses membuat Ahreum kehilangan napasnya. Ia sesungguhnya tak pernah berada sedekat ini dengan lelaki selain kakeknya. Ia juga tak pernah mendapat perlakuan sebaik ini. Ahreum segera menepis tangan Kris dan lalu meninggalkan para Mastermind dengan tak lupa memperhatikan jalannya.

Astaga, apa-apaan mereka itu? Kenapa mereka bisa membuatku jadi begini? Belum ada sehari aku bertemu mereka, tapi mereka sudah mampu membuatku merasa…bingung. Haruskah aku usir mereka dari sini? Tapi kalau mereka pergi aku akan… sendirian.

.

.
ahreum-exo

bee

This is the first chapter.

please give some reaction for the first chapter.. i’m confused now,, should i continue this Fiction or not?? give me some courage 😀
thanks for your attention!! annyeong!!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 1 – The Masterminds | PG15

28 thoughts on “FF – 아름다운 인생 (Beautiful Life) | Chapter 1 – The Masterminds | PG15

  1. quorralicious says:

    annyeong Bee, salam kenal…
    maaf baru komemt skrng, aku abisin chapternya dulu soalnya, dan seriusan deh aku suka banget ceritanya, makanya aku ksh km vitaminnya skrng, smoga km baca komemtku…
    ddaebaak!!!!
    aku suka keseluruhan ceritanya
    apalagi cara km ngbagi scene buat 12 orng yg menurutku-yg nulis ff bukanlah hal mudah…
    Bee Jjang!!!

  2. Raisa Amalia says:

    Duh aku suka FF nya eon 😀
    Soalnya cast nya Ahreum sama EXO 😀
    Aku suka 😀
    Jalan ceritanya juga bagus , lucu 😀
    Pokoknya DAEBAK ! xD

  3. Dessy Diana says:

    hahahaa, kasihan banget sih ahreum sepanjang hari harus berteriak sama para masterminds …
    hahahaha eonni lucu banget part ini ,,

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s