FF – Goodbye ~ Hello | After Story | PG17


afterstory copy

Title : Goodbye – Hello

Subtitle : Myung-Bi After Story

Author : beedragon

Cast:

Hwang Yongbi (OC)

L Infinite as L

Genre : Fluff Romance

Length : oneshoot

Summary : Highly anticipated after story from goodbye-hello. About their day after separated.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Epik High – Pieces of You

A/N : Warning!! This is totally fluff. Full of fluff!! Prepare yourself for butterfly in your stomach. Dont blame me if you blush yourself

Happily Ever After


.

.

.

.

.

Setelah L kembali sehabis menjalani wajib militer, hidup Yongbi kembali sempurna. Walau L kembali disibukkan oleh aktivitas keartisannya tapi L tak pernah absen untuk menjemput Yongbi di butiknya. L selalu menyisihkan waktunya setiap malam hanya agar bisa bersama Yongbi.

Kini mereka berdua tengah duduk di teras belakang rumahnya sambil memandangi laut malam. Bercengkerama mengenai hari-hari yang mereka jalani dan mengingat tentang pertemuan pertama mereka yang begitu ‘menyakitkan’. Yongbi tentu ingat ketika ia pertama kali bertemu dengan L, ia menarik syal L hingga pemuda itu jatuh menimpanya. Dan setelah kejadian itu Yongbi sampai harus absen dari butik karena gegar otak ringan yang di deritanya.

“Apa sakit ketika kamu terjatuh?” tanya L sambil memijit-mijit pelan belakang kepala Yongbi.

“Umm, sakit sekali. Aku migren selama kurang lebih seminggu, keesokan harinya aku muntah-muntah karena tak tahan dengan pusingnya. Dan apa kau tahu, kepalaku benjol sebesar ini.” Yongbi mengacungkan tinjunya ke udara memberi bayangan akan besarnya benjolan di kepalanya akibat benturan tersebut.

“Bukan itu maksudku.” L memalingkan wajah Yongbi agar menghadap dirinya. “Yang aku maksud apakah sakit ketika kamu harus terjatuh dari surga dan melepas keabadianmu untuk menjadi seorang manusia bernama Hwang Yongbi?”

Yongbi yang sedari tadi tidur dengan menumpukan kepalanya di pangkuan L langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan L tersebut.

“Ahahaha, Oppa apa di militer sana kamu diajari ngegombal? Aku bukan malaikat tahu,” sahut Yongbi disela-sela tawanya.

“Tapi bagiku kamu adalah malaikat, Yongbi.” L tampak serius akan ucapannya.

Yongbi pun berusaha berhenti tertawa. Ia bangun untuk duduk di pangkuan L. Yongbi melingkarkan lengannya di leher L dan tersenyum memandangi suaminya tersebut.

“Kemarin kamu bilang aku adalah bidadari dan sekarang aku naik pangkat menjadi malaikat?” Yongbi memiringkan kepalanya dan membuat ekspresi lucu yang menggemaskan.

“Tadi pagi aku mendengar Key menyebut Chaerin sebagai bidadarinya. Well, orang itu mencuri ideku. Jadi aku putuskan kamu bukan lagi bidadari tapi malaikat.”

Kembali tawa Yongbi pecah. Ia kini berguling-guling di teras seraya menahan kram di perutnya karena terlalu banyak tertawa.

“Oppa, aku juga punya julukan baru untukmu,” sahut Yongbi setelah berhenti tertawa. “Kalau dulu aku memanggilmu pervert Myung sekarang aku akan menyebutmu Flirt-Myung. Astaga Oppa kenapa kamu jadi gombal begini.”

L hanya bisa mengerucutkan mulutnya mendengar julukan yang dibuat Yongbi tersebut. L lalu menarik Yongbi agar kembali duduk di pangkuannya.

“Hei aku memujamu selayaknya kamu adalah dewi paling cantik di dunia, tapi kenapa kamu menyebutku gombal. Lihat saja apa yang akan aku lakukan untuk menghukummu,” kesal L.

Yongbi memiringkan kepalanya menantang L. Dan detik berikutnya terjadi seperti dugaan Yongbi, L menghujaninya dengan ciuman. Well, L tak pernah kreatif dalam memberi hukuman. Selalu sama dan tak pernah berubah. Kalau hukumannya seperti ini tentu saja Yongbi akan semakin senang menggodanya.

.

Sore ini Yongbi mencoba membuatkan makan malam untuk L. Ia sudah menyiapkan semuanya. Sekarang bisa dibilang Yongbi cukup mahir dalam memasak. Ini semua tentu saja berkat ajaran ibu mertuanya yang selalu sabar mengajarinya memasak. Kini Yongbi sudah bisa memotong sayuran tanpa mengiris jarinya sendiri.

Yongbi sedang mencicipi saus spagetti yang sedang dibuatnya. Setelah menimang-nimang sejenak, ia akhirnya menambahkan sedikit garam lagi pada masakannya. Baru saja ia akan menuangkan garam tersebut ke masakannya ketika ada tangan yang melingkar di pinggangnya dan membuat Yongbi kaget serta menumpahkan semua garam dari dalam botol.

“Yah! Kenapa kamu mengagetkanku, Oppa! Lihat  garamnya masuk semua ke masakanku!” keluh Yongbi.

Ia lalu mengambil garam yang belum tercampur dan membuangnya. Yongbi lalu meneruskan masak tanpa mempedulikan L yang menempel di belakangnya. Sesekali ia memukul lengan L ketika L menolak untuk bergerak, sementara dirinya harus mengambil piring di lemari atas dapurnya.

“Kamu lupa pesanku, bi? Apa yang kubilang mengenai jangan menyentuh dapur lagi?” Suara L teredam di rambut Yongbi. L memeluk Yongbi erat dan membenamkan wajahnya di rambut Yongbi.

“Aku sudah pintar sekarang oppa. Aku tidak lagi mengiris jariku. Jadi sebaiknya kamu menyingkir dan duduk manis di ruang makan sementara aku menyelesaikan masakanku.” Yongbi mengusir L.

Kembali L cemberut melihat perlakuan Yongbi terhadapnya. Lalu ia melihat Yongbi terus berusaha memiringkan kepalanya sambil memasak untuk mencegah rambut panjangnya menghalangi penglihatannya. L pun menarik semua rambut Yongbi dan menggenggamnya sebagai ganti kunciran.

Yongbi berhenti masak dan memandangi L terharu. Ia tersenyum, “gomawo.”

L pun ikut tersenyum melihatnya. Ia menggaruk-garuk tengkuknya dengan salah tingkah. “Setidaknya kuncir dulu rambutmu sebelum masak. Nanti bisa bisa spagettiku isinya rambut semua.”

Yongbi tertawa dibuatnya. Ia lalu mendorong L menjauhi dapur.

“Aku tak bisa membiarkanmu sendirian di dapur.” L menolak keluar dari dapur.

Kesal, Yongbi akhirnya menusuk-nusuk perut L dengan telunjuknya, menyerang L dengan kelitikan mautnya. Tapi L tidak menyerah begitu saja, ia balik menyerang pinggang Yongbi. Dan keduanya berakhir dengan perang kelitikan sampai akhirnya mereka mencium bau gosong.

“Masakanku!!!” Yongbi langsung melepaskan diri dari L dan bergegas mematikan kompor yang menghanguskan spagettinya.

“Oh lihatlah apa yang sudah kau lakukan, kau membuat makanannya jadi gosong.” Yongbi merajuk.

L lalu menghampiri Yongbi. Ia sedikit merasa bersalah karena sudah mengacaukan mood Yongbi. L memegang bahu Yongbi dan berkata, “bagaimana kalau kita buat ulang?”

Yongbi yang masih kesal berusaha untuk mengacuhkan L.

“Hei, aku di militer sana juga belajar masak. Bukankah akan lebih menyenangkan kalau kita masak bersama.” L masih berusaha untuk menaikkan mood Yongbi.

Akhirnya Yongbi menyetujuinya. Tapi ia segera menyesali keputusannya. Makanan mereka tak pernah jadi, karena L lebih memilih menggoda Yongbi daripada membantu Yongbi masak.

.

.

Yongbi masih tertidur di kamarnya. Ia berusaha keras untuk mengabaikan sinar matahari yang mulai menusuk-nusuk matanya. Ketika ia akan kembali terlelap ia mendengarkan suara nyanyian.

Heart beats fast colors of promises
How to be brave
How can i love when i’m afraid to fall
but watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow

One step closer.

I have died everyday waiting for you
Darlin’ dont be afraid i have loved you for a thousand years

-christina perri – a thousand years-

Yongbi tak pernah tahu kalau L memiliki suara semerdu ini. L bernyanyi sambil memain-mainkan rambut Yongbi. Jadi Yongbi memutuskan untuk menikmati nyanyian L sambil terus menutup matanya.

“I love you for a thousand MOOOOOORE~”

Mendadak L menyanyikan lagu tersebut dengan nada tinggi sehingga membuat Yongbi tersentak kaget. Yongbi lalu membuka matanya.

“Ups, maaf. Aku membangunkanmu?” tanya L khawatir.

Yongbi menggelengkan kepalanya. “Aku sudah bangun daritadi dan mendengar kamu bernyanyi. Apa di militer sana kamu juga diajari bernyanyi?”

L mengembangkan senyumnya seraya membelai kepala Yongbi. “Aku satu angkatan dengan banyak penyanyi dan idol. Setidaknya mereka menularkan sedikit padaku kemampuan bernyanyi mereka.”

Yongbi lalu duduk untuk menyamakan posisi mereka. Melihat rambut Yongbi yang begitu berantakan membuat L langsung merapikan rambut istrinya tersebut.

“Good morning, my angel,” sapa L.

“Good morning Mr. Flirt,” sahut Yongbi.

L sempat merengut sedikit mendengar sapaan Yongbi. “Morning kiss??”

Yongbi mengangguk dan memejamkan matanya, membiarkan L memberikan morning-kiss padanya. Setelah selesai Yongbi pun beranjak dari kasurnya untuk mandi.

“Hei,” panggil L. Yongbi pun menoleh. “I love you.”

Yongbi tersenyum mendengar kalimat dari mulut L itu. Ia pun kembali menghampiri L dan memeluknya.

“I love you, too.”

.

.

“Maukah kau menikahiku?”

Yongbi menghentikan aktivitasnya dan menatap L yang kini sedang berlutut di hadapannya dengan memberikan setangkai bunga mawar merah. Yongbi memperhatikan mawar merah tersebut, terselip sebuah cincin disana -cincin perkawinan mereka tentu saja.

“Oppa, apa kamu mau memecahkan rekor dunia atau apa? Sejak kembali dari militer kamu jadi selalu melamarku setiap hari. Jangan-jangan kepalamu terbentur sesuatu disana sampai kamu begitu terobsesi untuk melamarku?” gurau Yongbi.

Walau begitu Yongbi tetap mengambil bunga mawar tersebut dan mengeluarkan cincinnya. Ia lalu memakaikan cincin tersebut ke jari L.

“Tapi aku suka melamarmu, kalau bisa aku ingin menikah denganmu setiap hari,” sahut L yang kini sudah duduk di samping Yongbi.

“Oppa, kita memang SUDAH menikah. Untuk apa menikah lagi? Lagipula kemarin juga aku sudah mengikuti keinginanmu untuk menikah LAGI. Jadi berhentilah melakukan ini. Aku tahu kalau kau begitu mencintaiku,” ujar Yongbi.

L kini merajuk. Ia menyilangkan lengannya di dada dan cemberut. “Kau tahu, aku BISA dan aku AKAN melamarmu setiap hari. Jadi jangan mencoba melarangku. Aku punya seribu bahkan ratusan ribu cara untuk melamarmu. Lagipula bukannya kamu senang kalau aku melamarmu seperti ini?”

Yongbi tersenyum melihat tingkah L ini. “Aigoo, arraseo arraseo. Terserah kamu saja,” ujar Yongbi sambil membelai pipi L.

L ikut tersenyum melihat senyuman Yongbi. Ia pun menangkup wajah Yongbi hendak menciumnya.

“Yahh kalian!! Carilah kamar sana!! Atau lebih baik kalian pulang dan jangan nodai mataku dengan tingkah menggelikan kalian!!” jerit Key.

Yongbi tertawa mendengar protes Key. Ia lalu melepaskan diri dari L. Tentu saja Key protes akan kelakuan L, karena L melakukannya tepat di tengah-tengah butik Yongbi serta disaksikan oleh beberapa pengunjung butik ini.

.

.

Sore ini Key tampak tidak tenang. Ketika Yongbi bertanya ada apa, dia hanya menggeleng. Sampai akhirnya..

“Yong, kamu nanti dijemput kan?”

Yongbi mengangguk bingung mendengar pertanyaan Key. “Kenapa memangnya?”

“Jangan keluar kalau L belum datang ya,” titah Key.

Kini Yongbi makin bingung dengan ucapan Key. Memangnya ada apa.

“Di luar hujan, Yong.”

Kini Yongbi mengerti kenapa Key begitu gelisah. Key memang selalu gelisah kalau hujan. Karena ia memikirkan Yongbi dan takut kalau Yongbi kenapa-kenapa ketika hujan tiba. Tentu saja Key masih ingat betul seperti apa kondisi Yongbi dulu ketika hujan.

“Aku sudah baik-baik saja, Key. Aku bahkan bisa mandi hujan sekarang. Jerman, 2 tahun, kau ingat? Itu cukup membuatku melupakan traumaku, Key,” Yongbi berusaha meyakinkan Key. Ia lalu menghampiri Key dan meraih tangan sahabatnya itu. “Terima kasih untuk mengkhawatirkanku.”

Lalu keduanya bersiap untuk pulang. Key lebih dulu pulang dan meninggalkan Yongbi dengan beberapa pegawai lainnya di butik. Yongbi pun memutuskan untuk pulang.  Setelah selesai merapikan barang-barangnya, Yongbi memilih untuk menunggu L di teras butiknya.

Hujan hari ini sangat deras, seolah seluruh air di langit sedang ditumpahkan begitu saja ke bumi. Yongbi menadahkan tangannya ke arah tetesan air hujan. Ia menikmati sensasi ketika air hujan membasahi jemarinya. Perlahan kilasan-kilasan masa lalu itu kembali terulang. Tapi berbeda dengan dulu, Yongbi tidak lagi berteriak histeris, ia kini tersenyum. Ia merasa hujan -hujan di Jeju lebih tepatnya- telah menghapus segala kepedihan hatinya. Karena setelah hujan di Jeju itu Yongbi menyadari betapa ia menyukai L.

Lamunan Yongbi buyar ketika ia merasakan ada yang menghampirinya. Ia melihat seseorang dengan payung besar berdiri di sampingnya. Yongbi sampai harus mundur sedikit agar tidak terkena tampiasan hujan dari payung orang tersebut. Ketika orang tersebut mengangkat payungnya, secara otomatis senyuman menghiasi wajah Yongbi.

“Annyeong, sedang menunggu hujan?” tegur orang tersebut.

Yongbi berusaha keras menahan senyumannya dan ia bersikap seperti biasa seolah tak mengenal pria di hadapannya ini. “Ya, sekaligus menunggu seseorang.”

“Seseorang? Ojek payung?”

Kali ini Yongbi tak bisa menahan dirinya, ia tertawa pelan mendengar ucapan pemuda itu. “Ya semacamnya.”

Pemuda itu lalu mengulurkan tangan kanannya. Yongbi memandangi tangan itu sejenak lalu akhirnya ia menjabatnya.

“Kim Myungsoo imnida.”

Sambil menahan senyumnya Yongbi menjawab, “Hwang Yongbi imnida.”

“Kulihat kau sendirian saja. Apa mau kuantar pulang? Aku punya payung yang sangat besar.”

“Maaf tapi aku sedang menunggu suamiku,” tolak Yongbi.

Yongbi sesungguhnya tak tahan dengan drama yang sedang ia mainkan ini. Tapi berhubung aktor di hadapannya ini sangat suka sekali berakting jadi Yongbi hanya bisa mengikuti drama kecil yang sedang terjadi saat ini.

“Apa? Suami? Kamu sudah menikah?” kaget pemuda itu.

Astaga, Oppa mau sampai kapan beraktingnya, pikir Yongbi geli. “Ya, suamiku itu L. Kamu pasti mengenalnya. Dia sangat terkenal, tampan dan sangat mencintaiku.”

Yongbi bisa melihat kalau pipi pemuda itu memerah mendengar ucapan Yongbi.

“Sayang sekali, padahal aku baru saja mau melamarmu. Suamimu itu sungguh pemuda yang beruntung bisa mendapatkan perempuan seperti dirimu.”

Akhirnya Yongbi tak bisa lagi menahannya. Berpura-pura tidak mengenali suaminya sendiri itu terasa menggelikan. Ia akhirnya menghampiri pemuda itu dan menyenggol bahunya.

“Lalu apa kamu merasa beruntung menikahiku, Myungsoo Oppa?” tanya Yongbi seraya mengedip-ngedipkan matanya.

L tersenyum sumringah melihat aegyo yang sedang dilancarkan Yongbi saat ini. “Tentu saja!” L lalu merangkul Yongbi. “Ayo kita pulang, Yeobo.”

L merapatkan pelukannya terhadap Yongbi dan memastikan kalau Yongbi tidak terkena tampiasan hujan. Setelah itu keduanya meninggalkan butik Yongbi menerobos hujan dengan saling merapatkan diri mereka dibawah payung.

.

.

“Hei Hwang Yongbi, kenapa kamu mau menikahiku?”

“Entahlah… Kurasa mungkin Tuhan mengirimkanmu untuk menemaniku. Karena itu aku mau menikah denganmu.”

“Lalu.. Kenapa kamu bisa jatuh cinta padaku. Seingatku aku hampir tak pernah memperlakukanmu dengan baik.”

“Hmmm.. Entahlah.. Mungkin itu sudah saatnya aku mencintaimu. Kamu sendiri kenapa bisa mencintaiku?”

“Aku?? Ahh kurasa aku kena karmamu. Aku tergoda oleh pesonamu. Walau aku menolaknya tapi perasaanku padamu justru makin kuat.”

“Mungkin karena Tuhan tak ingin kita tersesat terlalu jauh. Jadi dia menyatukan kita.”

“Ya, dan walaupun jalannya berliku tapi aku cukup senang. Karena dengan begitu kita jadi semakin tak terpisahkan dan perasaan kita justru semakin kuat satu sama lain.”

“Hei Kim Myungsoo..”

“Ya..?”

“Saranghae.”

“…. hmm.. nado saranghae.”

.

.

.
[end]

bee

YAH KIM MYUNGSOO MARRY ME NOW!!! *scream like there’s no tommorow*

Sorry for failed romance .____.v

I’m sorry but i cant get rid of this story, please enjoy my stupid imagination. I just cant keep this for my self and i decided to share my dream with you #LOL

I cant help but blush myself when writting this.. Oh my god since when i’ve been so cheesy?? Molla

Anyway thank you!!!

안녕!! 뿅!

This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader.

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – Goodbye ~ Hello | After Story | PG17

33 thoughts on “FF – Goodbye ~ Hello | After Story | PG17

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s