FF – Goodbye ~ Hello | Chapter 7 | PG17


Title : Goodbye – Hello

Subtitle : (Chapter 7 – Move on ) Endure the Raging

Author : beedragon

Cast:

Hwang Yongbi (OC)

L Infinite as Kim Myungsoo / L

Other Cast:

Naeun A-Pink as Son Naeun

Sunggyu Infinite as Kim Sunggyu

Minho Shinee as Minho

and other original cast that i borrowed their name

Genre : Romance

Length : Series (Read first Chapter 1, 2, 3, 4, 5, 6 )

Rating / pairing : pg16 / Straight

Summary : Pernikahan bukanlah hal yang bisa dipermainkan begitu saja. Pernikahan itu mengikat sepasang manusia dalam cinta. Apa jadinya sebuah pernikahan jika orang-orang yang menjalaninya mengalami masalah mengenai percintaan.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Epik High – Pieces of You

Move on (Endure the Raging)


.

.

.

“Myungsoo membenciku,” gumam Yongbi.

Ia kini duduk bersandar di kasurnya –ia sudah berada di rumah pantainya setelah kejadian mengerikan di Jeju tiga hari yang lalu. Yongbi kini masih harus beristirahat karena memang ia belum sembuh benar. Setelah adegan action yang dilakukan L dan Minho di Jeju beberapa waktu lalu, Yongbi sampai harus dilarikan ke rumah sakit karena demamnya yang semakin tinggi. Dan ketika sudah sampai di rumahnya pun, Yongbi menolak untuk untuk dirawat inap lagi. Jadi Yongbi beristirahat di rumahnya –sekaligus menghindari sorotan kamera untuk beberapa waktu.

“Dia membenciku,” gumam Yongbi lagi. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tampak sangat menyesal atas apa yang sudah terjadi belakangan ini.

Sejak kejadian di Jeju, Yongbi merasa kalau L menjauhinya. Ditambah lagi masalah perkelahian L dan Minho yang kini sudah menyebar luas. Semua media masa sudah memberitakan mengenai perkelahian tersebut (terima kasih pada Soojung yang sudah membuat konferensi pers mengenai ‘Yongbi mengacaukan pernikahanku dan L memukuli calon suamiku’). Kini Yongbi hanya bisa menangis menyesali kebodohannya.

“Ya ya ya, dia memang pantas membencimu,” sahut Key yang tengah mengupas buah apel untuk Yongbi –dan langsung mendapat jitakan dari Yeoshin yang juga sedang menemani Yongbi. Berkat ucapan Key, kini Yongbi menangis semakin keras.

“Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu Key,” gertak Yeoshin. Ia kemudian berpaling pada Yongbi dan menepuk-nepuk pundaknya pelan untuk menenangkan sahabatnya itu. “Tenanglah Yongbi, L pasti sedang memikirkan jalan keluar untuk masalah ini, karena itu dia tidak bicara denganmu belakangan ini.”

Key meletakkan sepiring apel, jeruk dan pisang yang sudah dikupas di nakas yang ada di sebelah ranjang Yongbi. “Lagipula orang bodoh mana yang mau menemui lagi pria yang sudah mengkhianati cintanya. Untuk apa kamu ada di pernikahan mereka dengan keadaan mengerikan seperti itu?! Untuk menunjukkan pada Minho kalau kamu benar-benar tidak bisa hidup tanpanya? Kamu sudah punya L sekarang. Walaupun kalian tidak saling suka, setidaknya kalian itu sudah jadi suami istri sekarang. Kenapa kamu malah masih saja memikirkan si Minho itu?! Aku sungguh tak habis pik… mmpphhh,” ucapan Key terputus karena kini Chaerin sudah membungkam mulut pacarnya itu sambil menggumamkan ‘jangan dengarkan dia’ pada Yongbi.

Kalimat yang keluar dari mulut Key seperti garam yang ditaburkan di sebuah luka yang sedang terbuka. Perih dan menyakitkan. Yongbi tak bisa menyalahkan kejujuran Key, karena memang itu semua terjadi karena kesalahannya. Kenapa ia bisa berada di capel itulah yang jadi pertanyaan Yongbi hingga saat ini. Yongbi bukanlah tipe orang yang bisa berjalan dalam tidurnya. Kalaupun memang ia berjalan dalam tidur, tidak mungkin ia berjalan sampai sejauh itu dan tidak mungkin juga orang-orang tidak menegurnya jika melihatnya berjalan dalam tidur, sudah pasti ada yang membangunkannya di tengah perjalanan.

“Aku tidak tahu kenapa aku bisa ada disana. Ketika aku membuka mata secara tiba-tiba langit-langit kamar berubah menjadi sebuah altar. Aku tidak mungkin berjalan dalam tidur, kalian tahu persis seperti apa kebiasaan tidurku,” keluh Yongbi.

“Ya, ini juga terasa agak aneh. Kalaupun Yongbi berjalan dalam tidur, bagaimana bisa orang tidak mengenalnya,” gumam Yeoshin. “Tapi yang penting sekarang kamu tak apa-apa. Aku khawatir sekali begitu mendengar berita itu. Selain itu fancam-fancam yang bertebaran sangat mengerikan.”

“Bagaimana dengan orangtua L? Apa tanggapan mereka?” tanya chaerin.

“Merekalah yang menjemputku di Jeju dan membawaku pulang. Sudah berapa malam mereka semua menginap disini. Tapi sekarang mereka sedang pergi dan meninggalkan suster-suster dan pengawal itu berkeliaran disini.” Yongbi menarik napas dalam-dalam. “Aku merasa bersalah pada mereka.”

“Tentu saja kamu harus merasa bersalah. Kamu nyaris menunjukkan pada mereka kalau kamu punya obsesi…hmmpphh.” Omongan Key kembali terputus. Ia kini sudah memelototi Yeoshin yang menyumpal mulutnya dengan handuk kecil.

“Aku masih bingung, Bi. Jadi apa kamu punya ‘tersangka’ untuk masalah ini?” tanya Yeoshin lagi.

Yongbi terdiam. Tersangka, Yongbi punya satu tersangka. Ah lebih tepatnya Sunggyu yang menduga satu nama dibalik insiden-insiden yang terjadi di Jeju.

Yongbi membuka matanya perlahan dan mendapati dirinya tengah terbaring di kamar rumah sakit. Yongbi bisa menduganya dengan melihat kantong infus yang tergantung di sisi kanannya serta bau obat yang menyengat.

Eonni kamu sudah sadar? Syukurlah. Yongbi melihat ke sisi kirinya, sudah ada Naeun disana. Apa yang dilakukan gadis itu disini, pikir Yongbi.

Eonni kamu butuh sesuatu? Apa ada yang sakit? Naeun berusaha terlihat khawatir.

Tapi Yongbi tidak simpati melihat Naeun disini. L sudah berpesan padanya untuk menjauhi Naeun. Kemarin ketika ia tidak menuruti ucapan L, Yongbi malah terlibat masalah. Karena itu Yongbi kini memilih untuk mendengar semua kata-kata L tentang ‘jauhi Naeun’.

L mana? Aku butuh dia, sahut Yongbi.

Naeun mengembangkan senyumnya. Dan Yongbi merasa kalau itu adalah senyuman terlicik yang pernah ia lihat. Oppa sekarang sedang dirawat di ruang intensif. Sebenarnya apa yang terjadi Eon? Kenapa Oppa berkelahi? Aku tahu persis seperti apa L Oppa. Dia bukan orang yang ringan tangan. Kenapa dia sampai memukuli atlit itu?

Yongbi hanya menutup wajahnya dengan tangan kirinya, menolak untuk menjawab pertanyaan Naeun. Dan ketika Yongbi menurunkan tangannya untuk menatap Naeun, Yongbi melihat kalau seringaian Naeun semakin lebar.

Lagipula bagaimana bisa kau berada di capel itu Eon? Kamu berjalan dalam tidur? Memangnya atlit itu siapa sih, sampai L Oppa begitu tidak suka padanya? Naeun memasang wajah khawatirnya. Entah apa yang akan dikatakan media nanti terhadap kasus ini. Aku tak bisa membayangkan.

Terdengar suara pintu terbuka. Naeun pun langsung menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Sunggyu datang seorang diri ke kamar Yongbi. Dan Yongbi pun kecewa karena ia mengharapkan L yang datang.

Apa yang kau lakukan disini?tuding Sunggyu pada Naeun.

Aku? Naeun menunjuk dirinya sendiri. Aku menjenguk Yongbi Eonni tentu saja. Kenapa?

Kamu tak boleh ada di ruangan ini, tegas Sunggyu. Ia lalu membuka pintu dan memberi isyarat pada Naeun untuk segera keluar.

Naeun mendengus melihat perlakuan Sunggyu. Ia tersenyum dan pamitan pada Yongbi. Setelah itu ia keluar kamar sambil berkata, “Nanti kita lanjutkan lagi ceritanya Eonni. Tentang bagaimana kamu bisa berada di capel itu.”

Mata sipit Sunggyu langsung membesar mendengar ucapan Naeun. Ia lalu berpaling menatap Yongbi horor tapi tangannya menunjuk lurus ke pintu keluar. “Dia.. dia tau darimana..? Kamu cerita padanya Yongbi-ssi?!” panik Sunggyu.

Yongbi mengernyitkan keningnya mendengar kepanikan Sunggyu. Mana Yongbi tahu darimana Naeun tahu mengenai insiden tadi pagi. Yongbi hanya menggeleng lemah menjawab pertanyaan Sunggyu. Yongbi berhasil menjelaskan sedikit kalau memang Naeun sudah tahu bahkan sebelum dirinya bercerita tentang apa yang terjadi –dan Yongbi memang belum bercerita apapun pada Naeun.

“Ini aneh,” gumam Sunggyu. Ia lalu menatap Yongbi serius. “Tidak ada satupun yang tahu kalau kamu pergi ke capel itu, semuanya, staf termasuk tamu-tamu dari atlit itu tidak tahu kalau kamu datang sendirian ke capel itu. Lantas darimana ia bisa tahu.”

Yongbi menatap Sunggyu malas. Ia sedang tidak ingin berteka-teki saat ini. Ia juga tak tahu kenapa ia bisa berada di capel itu, padahal dirinya bukan tipe yang akan berjalan dalam tidur.

Dia tidak mungkin tahu.., gumam Sunggyu. Kecuali dia melihat sendiri kamu berjalan ke capel itu pagi ini.

Myungsoo mana oppa? Yongbi memotong semua dugaan Sunggyu.

Sunggyu tampak panik ketika Yongbi menanyakan tentang keadaan L. Tapi ia berhasil mengatakan kalau L sedang mengurus administrasi rumah sakit. Yongbi tahu, Yongbi sudah menduganya, L pasti menjauhinya, L pasti marah padanya.

Yongbi teringat akan kalimat Sunggyu. Apa mungkin Naeun mengetahui tentang fakta kenapa dirinya bisa berada di capel itu. Yongbi merasa ia harus menceritakan semua dugaan ini pada Yeoshin, tidak pada Key karena dia pasti hanya akan membuat suasana tambah parah. Jadi Yongbi mengusir Key –yang tengah bermesraan dengan Chaerin di sudut kamar Yongbi –dengan  alasan kalau dirinya ingin minum air madu dan menyuruh Key untuk pergi membelinya di supermarket. Setelah memastikan kalau Key sudah pergi, Yeoshin langsung menatap Yongbi penuh arti.

“Ada sesuatu, huh? Ada cerita apa sampai kamu harus mengusir Key segala?” terka Yeoshin.

Yongbi tersenyum. Memang tidak ada hal yang bisa ia sembunyikan dari Yeoshin. Yongbi pun menceritakan semuanya. Tentang dugaannya terhadap hubungan L dengan Naeun. Tentang sikap L, tentang sikap Naeun, tentang sikap Minho, tentang dugaan Sunggyu, tapi tidak tentang pembullian yang terjadi pada dirinya di Jeju. Yeoshin mendengarkan semua cerita Yongbi dengan seksama. Ia tidak menyela semua cerita Yongbi sampai akhirnya Yongbi selesai bercerita.

“Aku butuh pendapatmu Eon,” Yongbi menutup ceritanya.

Yeoshin menarik napas dalam-dalam. Ia menempelkan jarinya di dagu, tampak berpikir keras.

“Sekarang aku tanya padamu Bi,” ujar Yeoshin lembut. “Kamu masih mencintai Minho?”

Yongbi terdiam. Ia menatap langit-langit kamarnya. Aku masih mencintai Minho? Apa aku masih mencintainya?

Yongbi pun kembali menatap Yeoshin. “Bohong kalau aku bilang aku sudah melupakannya dan tidak memiliki perasaan apapun lagi terhadapnya. Empat tahun bukan waktu yang singkat Eon. Selama itu dia sudah memberiku banyak cinta dan aku juga pernah mencintainya. Jadi perasaan itu masih ada.” Yongbi kembali terdiam. Ia memegangi dada kirinya. “Tapi perasaan itu tidak sespesial dulu. Pengkhianatan yang ia lakukan cukup untuk membuatku sadar kalau dia adalah pria yang tidak tepat untukku. Aku masih memiliki perasaan itu tapi aku rasa aku sudah tidak mencintainya lagi.”

Yeoshin mengangguk mengerti mendengar cerita Yongbi. Ia kembali mengutarakan kesimpulannya. “Kalau menurutku, L menikahimu bukan untuk membalas Naeun. Kalau memang itu tujuannya pasti dari awal menikah ia akan selalu membawamu ke hadapan Naeun dan pamer kemesraan di depannya. Tapi dia tidak melakukan itu bukan? Kurasa tujuan dia menikahimu sama seperti tujuanmu menikahimu, yaitu untuk melupakan masa lalu kalian yang menyakitkan itu.”

Yongbi berusaha mencerna ucapan yeoshin. Tapi Yeoshin tak memberinya waktu untuk berpikir. “Dan kurasa L menyukaimu.”

Yongbi menatap Yeoshin horor seolah Yeoshin baru saja menceritakan cerita yang sangat menakutkan. “Itu tak mungkin eon!!”

“Coba kamu pikir Bi. Kalau dia tak menyukaimu, mana mungkin dia mencarimu di tengah hujan seperti itu, menungguimu ketika kamu sakit dan mengejarmu ke capel itu. Kalau ia tak memiliki perasaan apapun padamu dia tak akan mungkin melakukan hal tersebut.”

Yongbi kembali terdiam. Ini sungguh diluar pemikirannya. L yang selalu memancing kesabarannya menyukai dirinya? L yang selalu marah-marah padanya ternyata memiliki perasaan khusus padanya? Yongbi belum bisa mempercayai hal itu.

“Tinggal serumah selama hampir tiga bulan itu cukup untuk membuat seorang L jatuh dalam pesonamu, Bi. Pria mana yang tidak akan menyukaimu. Hanya pria bodoh saja yang akan meninggalkanmu. Pria bodoh itu adalah Minho.”

Yeoshin meraih kedua tangan Yongbi dan menggenggamnya erat. “Kamu menikahinya untuk melupakan Minho bukan? Dan sekarang kamu sudah belajar untuk melupakannya bukan? Kenapa kamu tidak mencoba untuk belajar mencintai L?”

Ini tak boleh terjadi. Ia ingat betul akan pesan L untuk tidak jatuh cinta padanya. Dan lagi pula kalau ia sampai mencintai L maka dia pasti akan marah. Dan kalau dia marah, dia bisa melakukan hal apapun untuk menyakiti L. Dan Yongbi tak ingin itu terjadi.

“Aku tidak boleh mencintainya. Jika aku mencintainya, dia akan marah.”

Yongbi masih duduk bersimpuh di depan capel. Ia tidak mempedulikan air hujan yang turun membasahi dirinya. Yang ia rasakan saat ini hanyalah sakit yang teramat sangat di hatinya. Teramat sangat sakit sampai Yongbi tidak tahu cara untuk mengurangi sakitnya.

Yongbi merasakan ada yang sudah berdiri di hadapannya. Berpikir kalau itu adalah Minho yang sudah kembali, Yongbi pun mengangkat kepalanya. Ternyata bukan Minho. Yongbi menatap orang tersebut horor. Ia ingat orang itu, tentu saja ia ingat karena ia baru saja bertemu dengannya siang ini.

Dia yang tadi menyerangnya dengan telur-telur itu.

Eonni. Tampaknya peringatan kami tadi belum menyadarkanmu. Atau kamu memang tidak mengerti? ITU ARTINYA JAUHI L OPPA!!!serunya.

Yongbi terkejut dan takut mendengar seruannya. Walau penglihatan Yongbi mengabur akibat air hujan, tapi Yongbi bisa melihat betapa orang di hadapannya ini serius akan setiap kalimatnya. Yongbi merasa orang ini bisa melakukan hal yang lebih parah dibandingkan telur-telur tadi.

“Kamu itu tidak pantas untuk L oppa!” Yongbi menoleh ke sisi kirinya, sudah ada orang lain juga yang berdiri disana sambil berkacak pinggang. “Kamu jelek! L Oppa itu cocoknya dengan Naeun Eonni. Jadi sebaiknya kamu lekas menjauh dari L Oppa agar kamu tidak mengganggu hubungan L Oppa dengan Naeun Eonni.”

Yongbi merasa seperti ada batu besar yang menghimpit hatinya. Dirinya mengganggu hubungan L dengan Naeun? Ini artinya dirinya sama saja seperti Soojung yang memisahkan dirinya dari Minho. Menyadari fakta ini membuat Yongbi jadi tak bisa bernapas.

Orang dihadapan Yongbi kini sudah menarik rambut Yongbi, dan Yongbi meringis kesakitan karenanya. Orang tersebut memasang wajah terseramnya dan menggeram, “sebaiknya kamu segera pisah dengan L Oppa, dasar wanita perusak hubungan orang. Kalau tidak, maka kamu akan merasakan seperti apa sakitnya Naeun Eonni ketika harus menyaksikan pernikahanmu dengan L Oppa!”

Yongbi sudah merasakannya, ucapan dari orang-orang tersebut. Yongbi sudah merasakan sakitnya melihat orang yang pernah ia cintai akan menikahi perempuan lain. Dan Yongbi membenci perasaan itu. Karena cacian mereka pulalah Yongbi meledak  pada L ketika di pantai.

“Bi,” Yeoshin menyadarkan Yongbi dari lamunannya. Yeoshin tampak tersenyum pada Yongbi, senyum yang meneduhkan.

Yongbi bersyukur ia sudah bercerita pada Yeoshin. Sahabatnya ini memang adalah pendengar terbaiknya. Ia tak pernah menyalahkan atau membenarkan. Ia selalu mengambil jalan tengah dan mencerna semuanya dengan kepala dingin, berbanding terbalik dengan sepupunya yaitu Key, yang selalu mengutamakan emosinya dibandingkan pikirannya.

“Kamu berpikir apa Bi?” tanya Yeoshin. “Apa yang kamu takutkan? Kamu hanya mencintai suamimu. Tidak akan ada yang marah karena hal itu. Tidak akan ada yang bisa menahan perasaanmu.”

.

.

“Yongbi mengeluh padaku. Katanya kamu marah padanya,” ujar Sunggyu.

Saat ini Sunggyu sedang menonton copian CCTV dari hotel di Jeju tempat L dan Yongbi menginap beberapa hari yang lalu. Ia sedang mencari tahu, lebih tepatnya berusaha memastikan apakah tebakannya benar atau tidak. Ia melirik sekilas pada L yang sedang duduk di hadapannya.

“Dia pikir kamu membencinya. Memangnya kamu belum menemuinya? Sejak dari Jeju?” tanya Sunggyu lagi pada L.

L hanya menenggelamkan dirinya makin dalam di kursi. “Aku tidak punya muka untuk bertemu dengannya.”

Sunggyu akhirnya berhenti melihat rekaman CCTV itu. Ia lalu berpaling pada L. “Wajahmu sudah baik-baik saja L. Kamu tetap tampan seperti biasanya. Yongbi tidak mungkin tidak mengenalimu hanya karena beberapa lebam di wajahmu.”

L menatap malas merespon lelucon yang coba dilancarkan manajernya tersebut. Sunggyu kini sudah kembali menonton rekaman CCTV lagi.

“Pulanglah. Dia merindukanmu. Tak perlu merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Aku akan mencari jalan keluarnya,” ujar Sunggyu dengan mata yang tak lepas dari layar laptopnya.

“Aku merasa sudah gagal Hyung. Aku tak bisa melindunginya,” gumam L.

“Ya, kamu memang sudah gagal. Bahkan ketika dia sedang bersamamu pun kamu tidak bisa menjaganya.” Ucapan Sunggyu terasa begitu menusuk hati L.

Sunggyu kembali berpaling pada L. “Mau kuberitahu satu cerita? Sebenarnya Yongbi-ssi melarangku untuk memberitahumu karena takut kamu akan kepikiran. Tapi kamu perlu tahu akan hal ini.”

Sunggyu kemudian menceritakan semua kejadian di Jeju. Tentang Yongbi yang ditimpuki telur, tentang ucapan-ucapan Naeun dan tentang dugaannya, Sunggyu menceritakan semuanya. Mendengar semua cerita Sunggyu, L langsung merasa sangat marah. Rasanya ia ingin segera mendatangi Naeun dan memaki gadis itu.

“Dan mau tahu lagi fakta yang lain?” Sunggyu kemudian menyodorkan laptopnya pada L. Ia kembali memutar rekaman CCTV kamar hotel L. Terkejutlah melihat rekaman tersebut. Karena ia melihat ada dua orang yang menyelinap ke kamarnya dan keluar dengan menggotong Yongbi yang masih tertidur. Tangan L mengepal keras.

“Aku sudah mencari tahu identitas mereka, mereka bukan fans-mu. Tapi mereka adalah hardcore fans dari Naeun.” Sunggyu kemudian menarik kembali laptopnya. “Polisi sudah menyelidiki mereka dan sedang melakukan pemanggilan terhadap dua anak ini. Aku akan sangat senang sekali kalau mereka membawa-bawa nama Naeun.”

Sunggyu menoleh kearah L yang kini tampak memucat. Ia lalu menepuk pundak artisnya itu untuk memberinya sedikit kekuatan. “Pulanglah dan yakinkanlah istrimu kalau dia tidak salah. Ia terus menyalahkan dirinya karena mengira ia berjalan dalam tidur menuju capel itu. Pulang dan temui dia. Dia membutuhkanmu L.”

Tanpa perlu disuruh dua kali, L langsung meninggalkan Sunggyu.

.

.

Yongbi duduk di jendela rumahnya sambil menatap pantai. Ini sudah menjadi tempat favoritnya. Biasanya ia akan duduk disini sambil memandangi bayangan L yang tengah membaca naskah di ruang TV yang terpantul di kaca jendela. Tapi kini bayangan itu tidak ada. L tidak sedang membaca naskah di ruang TV. Kini Yongbi makin merindukannya.

Yongbi berusaha keras untuk tidak menangis. Entah kenapa dia jadi gampang menangis belakangan ini. L memang selalu menjulukinya gadis cengeng atau tabung-airmata-berjalan karena begitu mudahnya Yongbi menangis. Dan Yongbi malah semakin merindukan L untuk memarahinya karena menangis tanpa alasan yang jelas.

Seseorang menepuk pundak Yongbi. Ia mengira kalau itu adalah susternya yang hendak mengingatkannya untuk minum obat. Tapi tebakannya salah. Karena begitu melihat bayangan di kaca jendela sosok itu jauh berbeda dari sosok susternya. Yongbi pun menoleh. Ia mendapati orang yang sangat dirindukannya, orang yang baru saja lewat dipikirannya, kini sudah berdiri dihadapannya.

“Aku pulang,” bisiknya.

Tak ada yang bisa Yongbi katakan selain memandang sepasang mata tajam milik L. Kini pandangannya sudah mengabur karena airmata yang memenuhi pelupuk matanya.

“Myungsoo…” bisik Yongbi. Ia langsung memeluk pinggang L dan menenggelamkan kepalanya di dada pemuda itu.

“Myungsoo… Myungsoo,” Yongbi terus merintih memanggil nama itu dan membiarkan airmatanya tumpah membasahi baju L.

L membalas pelukan Yongbi. Ia mengusap rambut Yongbi. Dan ketika L menyentuh wajah Yongbi untuk menghapus airmatanya, L merasakan ada sengatan yang aneh ketika kulit mereka bersentuhan. Ini tidak seperrti biasanya. Ia tidak merasakan rasa senang yang biasa ketika menyentuh Yongbi. Bisa menatap Yongbi dari sedekat ini, memeluknya dan menyentuhnya lagi menimbulkan sensasi baru di dirinya. Ia kini merasakan jantungnya berdetak lebih liar dari biasanya. Ia merasa seperti ada jutaan kupu-kupu yang terbang di dalam perutnya dan seolah ada bagian dari dirinya yang ingin menyerang Yongbi. L pun tersadar dan berusaha melepas pelukan mereka.

Tapi Yongbi menahannya. Yongbi tak mau melepaskannya.

“Jangan, kumohon. Jangan lepas dulu,” isak Yongbi. “Aku minta maaf L. Ini semua salahku. Harusnya aku tidak pergi kesana.”

L kembali memeluk Yongbi dan menenangkan gadis itu. Ia berusaha keras melupakan hasratnya yang berteriak-teriak memenuhi otaknya. “Shh ini bukan salahmu Yongbi. Tenanglah.”

Yongbi masih terisak. “Aku tidak tahu bagaimana..”

“Aku tahu,” sela L sambil mengusap punggung Yongbi.

“Maafkan aku.” Yongbi kini membenarkan posisinya hingga kupingnya menempel di dada kiri L. Ia mendengarkan suara yang sangat ia rindukan, detak jantung L. “Aku merindukan ini.”

L mengeratkan pelukan mereka. Dan aku merindukanmu, batin L.

Suster yang hendak memberikan obat untuk Yongbi langsung mundur teratur begitu melihat adegan yang tengah dilakukan Yongbi dan L. Ia nyaris menabrak orangtua L yang baru saja sampai di rumah pantai ini. Mereka melihat Yongbi dan L yang tengah melepas rindu. Tanpa terasa airmata ibu L pun menetes melihat kejadian ini. Hati orangtua mana yang tidak terluka menyaksikan anak mereka tidak bisa hidup bahagia.

.

.

Yongbi sudah mulai kembali bekerja di butiknya. Sejak dua orang tersangka sasaeng fans yang ‘menculik’ Yongbi itu ditangkap, L menyuruh Yongbi untuk kembali bekerja. Ia tak tega melihat Yongbi terkurung di rumah seperti burung dalam sangkar. Karena itu ia mengijinkan Yongbi untuk beraktivitas kembali seperti biasaya, tentu saja dengan pengawasan ekstra karena L tak mau hal yang sama terulang kembali. Biasanya kakek L, Daehwan Harabeoji akan ikut mengantar Yongbi ke butik. Dan ketika pulang ada ayah dan ibu mertuanya yang menjemput, terkadang L yang menjemput Yongbi.

Yongbi pikir semua akan kembali berjalan normal, tapi sebenarnya tidak.

“Hwangyong, kami duluan ya,” ujar Key.

Yongbi berpaling dan melihat Key tengah bergegas menghampiri Chaerin yang sedang duduk di kursi tamu. “Kalian mau kemana?” tegur Yongbi.

“Dinner!!” sahut Chaerin penuh semangat sambil menggamit lengan Key dengan manjanya.

Melihat pemandangan ini tentu saja Yongbi cemburu. Ia tidak bisa lagi seperti itu bersama L. Karena L tetap menjauhi Yongbi dan menolak untuk berdekatan apalagi bersentuhan dengan Yongbi. Padahal sekarang ini keluarga Kim tinggal di rumah pantai Yongbi, dan mau tak mau L dan Yongbi harus tinggal sekamar. Tapi L akan memilih tidur di balkon atau di sofa, tidak tidur di kasur bersama Yongbi. L juga menolak mendekati Yongbi. L selalu tampak kaget dan takut setiap Yongbi menyentuhnya. Karena itu Yongbi tak pernah lagi mencoba untuk berinteraksi dengan L. Ini cukup membuatnya tersiksa. Yongbi tidak tahu kalau L merasakan perasaan aneh di dirinya ketika ia berdekatan dengan Yongbi.

“Ya, nikmati dinner kalian,” ujar Yongbi.

Key lalu menghampiri Yongbi. Ia memandangi Yongbi khawatir. “Kamu gak apa-apa kami tinggal? Jam berapa kamu akan dijemput? Jangan coba-coba untuk pulang sendirian Hwangyong.”

“Aku tahu,” sahut Yongbi sambil mendorong Key kembali ke Chaerin. “Masih ada Rayoung disini. Nanti aku akan menunggu Abeoji sama dia. Tenang saja dan nikmati dinner kalian.”

Yongbi lalu melepas kepergian Key dan Chaerin. Setelah itu ia berpesan pada Rayoung –asisten di butiknya- untuk bersiap-siap pulang. Ketika sedang bersiap menutup pintu butik, Yongbi dikejutkan oleh kehadiran tamu yang tak terduga.

Minho.

“Bi-ya, bisa kita bicara?” tegurnya.

Yongbi menatap Minho tanpa ekspresi. Ia pikir apalagi yang akan dilakukan Minho untuk menghancurkan hidupnya. Melihat sosok Minho saja sudah cukup membuat Yongbi sesak napas. Yongbi sebenarnya tidak berniat untuk berurusan lagi dengan Minho. Tapi tampaknya pemuda ini memiliki sesuatu yang penting untuk dibicarakan. Yongbi pun mengangguk menyetujui keinginan Minho.

Yongbi membawa Minho ke cafe terdekat. Ia memilih tempat umum agar tidak menimbulkan salah paham. Ia tak mau orang-orang menduga-duga apa yang mereka lakukan jika ia membiarkan Minho masuk ke butiknya. Keduanya kini sudah duduk berhadapan.

“Aku hanya ingin bicara berdua denganmu,” ujar Minho sambil melirik sosok Rayoung yang dibawa Yongbi bermaksud mengusirnya secara halus.

“Kamu bicara saja. Anggap Rayoung tidak ada. Aku membutuhkan kehadirannya disini. Ini agar suamiku tidak salah paham ketika mengetahui aku bertemu denganmu. Aku juga tak ingin orang lain salah paham terhadap kita. Sudah cukup semua tudingan yang dibuat Soojung terhadapku,” sahut Yongbi datar. Yongbi lalu berpaling melihat Rayoung. “Dan kamu Rayoung, kamu bisa menyampaikan apa yang kamu lihat dan kamu dengar disini pada L.”

Minho pun menghela napas panjang begitu mendengar Yongbi menyinggung L dihadapannya. Ia jadi merasa apa yang akan dia ucapkan nanti terasa sia-sia.

“Aku ingin minta maaf, Bi.” Yongbi menatap Minho lurus, berusaha mencari kesungguhan disana. Dan Minho tampak benar bersungguh-sungguh menyesal.

“Kamu harusnya minta maaf pada L. Ia sampai harus menunda syutingnya karena wajahnya babak belur karenamu,” sahut Yongbi.

Minho menggelengkan kepalanya. “Aku bukan minta maaf untuk pria itu. Aku minta maaf karena sudah meninggalkanmu. Kumohon maafkan semua tingkahku, Bi.”

Minho mengulurkan tangannya berusaha meraih tangan Yongbi yang bertumpu diatas meja. Mengetahui Minho ingin memegang dirinya, Yongbi langsung menurunkan tangannya dan menyembunyikannya dibawah meja. Yongbi bahkan meraih tangan Rayoung dan menggenggamnya erat. Minho yang melihat kejadian ini kembali hanya bisa menghela napas berat.

“Lupakanlah, aku…” Ucapan Yongbi terpotong oleh kata-kata Minho berikutnya.

“Aku ingin kembali padamu, Bi. Aku masih mencintaimu dan selalu mencintaimu. Aku tahu aku salah karena itu aku ingin memperbaiki kesalahanku. Kumohon kembalilah padaku. Kita bisa memulai semuanya dari awal lagi.”

Yongbi sudah menduga kalau hari seperti ini akan datang. Ia merasa sudah terlalu sering berada dalam adegan seperti ini. Dulu ketika sebelum menikah dengan L, Yongbi selalu berharap Minho akan datang dan kembali lagi padanya. Tapi kali ini, Yongbi bahkan tidak merasakan hal apapun ketika mendengar semua ucapan Minho.

Yongbi merasakan tangan Rayoung menggenggamnya erat. Rayoung tentu kaget mendengar pengakuan Minho ini. Hei, Minho meminta Yongbi –yang sudah menjadi istri L- untuk kembali padanya. Dia pikir hal itu mudah semudah membalik telapak tangan?

“Berhentilah Minho. Sampai kapan kamu akan seperti ini. Kita sudah memiliki kehidupan masing-masing. Aku dengan L dan kamu dengan Soojung. Jalani saja apa yang sudah ada di depan mata,” Yongbi berusaha menolak permintaan Minho.

“Aku dan Soojung tidak ada apa-apa, Bi. Aku bohong padamu ketika aku bilang aku mencintainya. Aku mau menikahinya karena aku dijebak olehnya. Aku tidak ingin menikahinya. Aku masih mencintaimu,” tegas Minho.

Yongbi kembali merasakan Rayoung menegang disampingnya. Tentu saja semua ucapan Minho membuatnya shock. “Apa maksudmu dengan dijebak?”

“Dia menuduhku sudah menghamilinya dan dia memintaku untuk bertanggung jawab. Dan aku..”

“Soojung apa?!” kaget Yongbi. Hamil?!

“A..aku.. Aku dijebak, Bi.” Minho tampak memohon.

Kali ini Yongbi yang menegang. Ia sampai mencengkeram tangan Rayoung dan meninggalkan jejak berbentuk bulan sabit akibat tusukan kukunya di kulit Rayoung.

“Dia tak mungkin sembarangan menuduhmu, kalau kalian tidak pernah melakukan hal itu,” ujar Yongbi sambil mengatupkan giginya geram. “Itu artinya kamu pernah tidur dengan Soojung, ketika kita masih bersama.”

“Tapi aku dijeb..”

“Kamu pikir aku mau kembali padamu setelah mendengar hal ini. Walaupun aku tidak mengetahui fakta ini pun aku tak berniat kembali padamu. Tidak sama sekali,” tegas Yongbi.

Yongbi lalu menatap Minho lurus. “Aku tidak akan pernah kembali padamu. Aku sudah sepenuhnya sadar kamu bukan yang terbaik untukku. Jadi kurasa pembicaraan kita sudah selesai. Aku akan pergi.”

“Bi,” Minho berusaha menahan kepergian Yongbi. “Aku tahu kamu masih mencintaiku. Kalau kamu tidak mencintaiku kamu tidak mungkin datang ke capel itu.”

Yongbi mendengus pelan mendengar ucapan Minho. “Apa kamu tidak pernah melihat berita. Aku datang ke capel itu bukan atas keinginanku. Dan aku sudah tidak mencintaimu. Aku mencintai suamiku, Kim Myungsoo.”

Kemudian Yongbi pun beranjak meninggalkan cafe itu dengan menyeret Rayoung yang tampaknya masih terlalu shock untuk bergerak. Disana Yongbi sudah memutuskan, ia akan bergerak maju, melupakan masa lalunya, dan mencoba untuk hidup bahagia. Ia meyakinkan dirinya kalau ia sudah tidak mencintai Minho.

Ya, Yongbi mencintai L.

.

.

Sunggyu tampak tidak nyaman bekerja. Sedari tadi ia terus-terusan mendengar L menghela napas panjang seolah pemuda itu tak bisa bernapas dengan baik. Sunggyu pun meletakkan semua kontrak-kontrak yang tengah dipelajarinya dan berpaling menatap L.

“Ada apa lagi kali ini? Berhentilah mendesah-desah seperti itu,” gerutu Sunggyu. “Bukankah sasaeng fans itu sudah ditangkap, jadi berhenti bertingkah seperti orang tak punya hidup begitu.”

L langsung menembakkan tatapannya yang tampak seperti laser itu pada Sunggyu. Ia berpindah posisi dan memilih meringkuk di kursinya, tampak sangat depresi.

“Kamu masih belum menemui istrimu? Dia menerorku dengan SMS-SMSnya,” seru Sunggyu sambil melempar ponselnya.

L menangkap ponsel tersebut dan melihat pesan yang dimaksud.

Oppa!! Myungsoo masih menjauhiku! Aku sudah minta maaf padanya, dia bilang tidak apa-apa. Tapi kenapa..

L memilih untuk tidak meneruskan membaca pesan Yongbi tersebut. Mengetahui Yongbi begitu ingin berada disisinya saja sudah cukup untuk membuat L merasa makin stres.

“Aku tidak bisa mendekatinya Hyung!!” seru L frustasi.

Sunggyu memandangi L bingung. Apanya yang tidak bisa mendekat? Mereka kan tinggal serumah, kenapa tidak bisa mendekat?

“Kenapa memangnya? Karena orangtuamu sekarang menginap di rumah kalian?” bigung Sunggyu.

“Bukan itu.” L menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Aku merasa aneh ketika berada di dekatnya, apalagi ketika aku menyentuhnya. Seolah..seolah ada yang mau meledak disini!” L menunjuk perutnya frustasi. “Ketika aku bersamanya aku nyaris kehilangan akal sehatku. Aku merasa seolah ada bagian dari diriku yang ingin menyerangnya. Hyung, apa aku sekarang punya kepribadian lain? Yang akan menjadi liar kalau berada di dekat Yongbi?”

Sunggyu mengernyitkan keningnya. Sedetik kemudian tawa lepas dari mulutnya. Ia bahkan nyaris terjatuh dari kursinya mendengar keluhan L. Sunggyu sampai harus memengangi perutnya yang sudah kram karena terlalu banyak tertawa.

“LOL! Kamu ini bodoh atau apa?! Itu hanya hormonmu yang naik, babo,” ujar Sunggyu disela tawanya. “Sekarang aku tanya, kapan kau terakhir kali tidur dengannya?”

Kali ini L shock mendengar ucapan Sunggyu. “Aku..aku selalu tidur dengannya.”

Sunggyu kini sudah menyilangkan lengannya di dada. Ia menatap L serius. “Kamu tidur dengannya atau tidur disampingnya?”

L tampak berpikir terhadap pertanyaan Sunggyu itu. Keduanya terdengar sama saja, tidak ada yang berbeda. L tak tahu apa yang dimaksud Sunggyu disini.

“God please! L sudah hampir tiga bulan kamu menikah dengan Yongbi dan kamu belum..belum… menyentuh.. ahh bukan, maksudku kamu belum.. asshh bagaimana aku mengatakannya,” Sunggyu tampak kehabisan kata-kata. “Ahh! Belum berusaha untuk memberikan ibumu seorang cucu?!”

L tersedak dibuatnya. Memberikan ibunya cucu? Apa ini artinya…

“Astaga L. Kamu menyia-nyiakan kebahagian dunia selama tiga bulan belakangan ini. Bagaimana bisa kamu tahan untuk tidak menyerang Yongbi?” seru Sunggyu tak percaya. “Mau kuberi saran. Keluarkan saja hasratmu itu, sebelum kamu jadi gila karena terus menahannya. Astaga aku tak percaya aku memberimu saran seperti ini. Aku bahkan belum menikah tapi kenapa aku harus mengajari anak ini cara untuk menyalurkan hormonnya.”

L menatap Sunggyu tak percaya seolah Sunggyu baru saja mengakui kalau dia adalah gay. Menyerang? Menahan? Menyalurkan? Apa yang harus ia lakukan?

.

.

[To be Continued]

Tebece dulu ya teman-teman. Maaf kali chapter ini agak nyebelin, ngebosenin, ato ga asik. Berhubung bi sakit kemaren-kemaren jadi ga sempet-sempet buat lanjutin ini ff. Padahal tangan udah gatel banget pengen ngetik2.

Heol,, pdhl chapter berikutnya bi mau nyelipin yad*ng tapi belum nemu author yg pas.. Jadi kayanya adegan ranjangnya di musnahkan aja deh yaa nanti -__-

Sudahlah,, terimakasih udah mau ngikutin FF mimpi bee sampe sejauh ini apalagi mau baca note gaje ini.

ps: chapter selanjutnya sepertinya akan bee proteksi.. kode proteksinya hanya akan bee berikan via email dan HANYA kepada mereka yang sudah mendaftarkan diri di residence dan meninggalkan alamat emailnya di proteksi.. ini semata-mata untuk kenyamanan kita bersama.. 😀

안녕!! 뿅!

Advertisements
FF – Goodbye ~ Hello | Chapter 7 | PG17

98 thoughts on “FF – Goodbye ~ Hello | Chapter 7 | PG17

  1. RaRa says:

    feelnya di ombang ambing(?) yaa di ff ini keren banget hadeuh alurnya ga ketebak,ngakak banget yaampun L masa ga tau yang kaya gitu? Saking frustasinya kah? Haha pengen minta pw chap 8-9 dong thor

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s