FF – Into Your World, Angel | Chen Story | NC17


Title : Into Your World, Angel

Subtitle : (Song/노래) This Song

Author : beedragon

Cast:

Chen EXO as Chen (Sang Penjemput Neraka) / Kim JongDae

Lee NoRae (OC)

Other Cast:

Kriss EXO as Huizhang YiFan

Luhan EXO as Luhan (Sang Penjemput Neraka)

Lay EXO as Lay (Sang Penjemput Neraka)

Genre : Fantasy, Life, Angst

Length : Oneshoot (Series Short Story)

Rating / pairing : NC17 / Straight

Summary : Sang Penjemput. Adalah malaikat yang bertugas menjemput jiwa manusia dan membawanya ke tempat dimana mereka akan melanjutkan kehidupannya sesudah mati, entah itu di surga atau neraka. Ini adalah kisah dari Sang Penjemput dalam menjalankan tugasnya.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Warning!! This FF consist suicide, killing, and a little bit (Just a little) sex oriented

Backsound Song : EXO – Into Your World (Angel)

This Song

*

*

*

“Chen, ini tugas pertamamu,” Huizhang Yifan menyodorkan selembar kertas tugas pada malaikat yang sudah berdiri di seberang mejanya.

Si malaikat yang ditunjuk pun segera maju ke depan meja pemimpin dari neraka itu untuk menerima tugasnya. Chen membuka kertasnya dengan perlahan.  Ia senang karena ia akhirnya mendapat tugas, setelah pelatihan yang cukup lama. Chen adalah malaikat baru yang sudah selesai menjalani pelatihannya sebagai malaikat penjemput.

“Bagaimana hari-harimu setelah menemani Luhan bertugas? Kamu tentu tahu apa-apa saja yang harus kamu lakukan untuk menjemput targetmu bukan?” tanya Huizhang Yifan yang sudah menopangkan dagunya menatap Chen.

Chen mengangguk menjawab pertanyaan pemimpinnya. Chen pun meneliti kertas tugasnya. Ketika ia hendak membuka kertas tugasnya, sang pemimpin kembali mengalihkan perhatiannya.

“Luhan tidak mengajarimu yang tidak-tidak kan, Chen?” tanya Huizhang lagi.

Chen kini menoleh ke arah Luhan yang berdiri di belakangnya. Malaikat berwajah innocent itu langsung menggelengken kepalanya pada Huizhang, sebagai jawaban kalau dia tidak mengajari Chen sesuatu yang aneh. Chen justru menganggukkan kepalanya pada Huizhang Yifan. Melihat reaksi Chen, Yifan langsung menatap Luhan curiga.

“Dia mengajariku dengan baik. Dia bilang kita harus menjalani tugas kita sebagai penjemput dengan professional, tidak peduli siapa yang kita jemput, seperti apa kehidupannya, dan dampak apa yang dia tinggalkan jika dia mati. Luhan mengajariku seperti itu,” ujar Chen sebelum Yifan melubangi wajah polos Luhan dengan tatapannya yang seperti laser itu.

Yifan tampak puas mendengar jawaban Chen. Ia lalu mempersilakan Chen untuk pergi dan mulai memanggil malaikat selanjutnya –yaitu Luhan.

Chen menyingkir dari altar seraya membuka kertas tugasnya untuk melihat nama target pertamanya. Hatinya langsung mencelos begitu melihat nama yang tertera di kertas tugasnya. Sebuah nama yang sangat ia kenal muncul disana. Si pemilik nama bukanlah seseorang yang memiliki hubungan apapun dengan Chen. Tapi secara tidak langsung Chen merasa bertanggung jawab atas kehidupan manusia itu. Ia pernah berjanji pada si pemilik nama kalau ia akan selalu menjaganya dan ia pernah sangat mencintai si pemilik nama. Tapi kini Chen malah harus menjemputnya ke neraka. Tampaknya takdir sedang mempermainkan hatinya.

Chen berpaling menatap pemimpinnya yang tampak iba melihat dirinya, seolah sudah menduga kalau hal ini akan terjadi pada Chen. “Kenapa.. kenapa dia masuk neraka Huizhang?” tanya Chen dengan suara bergetar.

“Kalau kamu membacanya dengan baik, kamu akan tahu kenapa dia masuk neraka,” sahut Yifan datar.

“Tapi Huizhang, dia anak yang baik. Aku terus mengawasinya, dia bukan tipe anak yang akan berbuat dosa. Kecuali mengenai kecintaannya terhadap…” khawatir Chen.

“Tak perlu banyak berpikir, kamu jalankan saja tugasmu dengan baik,” titah Huizhang Yifan.

“Tapi… tapi….” Chen tampak tak bisa menerima kenyataan ini. Ia kemudian membuka kembali kertas tugasnya. Ia membacanya berulang-ulang, berkali-kali, berharap nama yang tertera disana berubah. Tapi percuma. Dan airmata Chen jatuh begitu saja.

“Maafkan aku NoRae… maafkan aku,” isak Chen.

.

.

Chen menatap targetnya iba. Seorang gadis berusia dua puluhan yang kini tengah mencoret-coret buku tugasnya. Ini sudah yang ke sekian kalinya ia mencoret tulisan yang ia torehkan di kertas. Tapi ia merasa masih ada yang kurang dengan coretannya. Gadis itu sedang membuat lagu (terakhirnya).

“Aishh!!” Kesal, gadis itu merobek kertas yang sudah penuh dengan coretan itu kemudian meremasnya dan melemparnya sembarangan.

“Aww!” keluh seseorang di belakang gadis itu. Si gadis pun menoleh dan mendapati sahabatnya, Park DamBi, sedang mengusap-usap kepalanya pelan. “Yah, Lee NoRae! Tidak bisakah kau tidak menyusahkan orang ketika sedang membuat lagu?! Sakit tahu.”

Lee NoRae, target Chen, hanya bisa mengatupkan kedua tangannya sebagai permintaan maafnya. “Maafkan aku DamBi-ya. Deadline ku besok, dan aku masih belum menemukan lirik yang tepat untuk paper akhir semester ini.” NoRae lalu beranjak dari bangkunya menghampiri DamBi. Ia lalu menggamit lengan sahabatnya itu agar ia tidak marah lagi. “Jangan marah DamBi-ya. Nanti akan ku tratkir kembang gula ya.”

Park DamBi mau tak mau tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu. “Yah, kau pikir aku ini anak kecil yang bisa dirayu dengan gulali huh?”

Keduanya lalu tertawa bersama. Mereka sama sekali tidak menyadari kalau sudah ada malaikat penjemput dari neraka yang mengawasi mereka. NoRae lalu kembali duduk dibangkunya dan mulai menulis lagi. Sesekali ia bersenandung mencari kata yang pas untuk lirik lagunya. Terkadang ia menunjukkan raut wajah yang tampak sangat kesal karena tak berhasil menemukan kalimat yang ia inginkan.

Chen memilih untuk duduk di hadapan NoRae, ingin menatap wajah yang pernah ia kenal untuk terakhir kalinya. Rasa sedih kini menguasai Chen. Walau malaikat penjemput sudah tidak memiliki hati dan pikiran, tapi mereka masih memiliki sisa-sisa ingatan dan perasaan ketika mereka masih hidup sebagai manusia dulu. Dan Chen sudah memiliki perasaan khusus terhadap NoRae sejak ia masih menjadi manusia bernama Kim JongDae.

DamBi yang memperhatikan ekspersi sahabatnya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia kemudian pindah duduk di hadapan NoRae (dan mengusir Chen secara tidak sengaja), berusaha meraih perhatiannya.

“Kenapa denganmu, NoRae? Sejak kamu menjadi kekasihnya Jjong, kamu jadi kehilangan bakatmu. Apa yang sudah dilakukan namja itu padamu, huh?” tegur DamBi.

NoRae berhenti menulis. Ia menatap DamBi yang kini sudah bertopang dagu dihadapannya, takjub akan konklusi yang dibuat DamBi.

“Rasa-rasanya ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan JongHyun. Kenapa kamu bisa menyalahkan dia?”

“Habisnya ketika tahun awal di kampus, kamu itu adalah masternya dalam menulis lirik lagu. Tapi sejak berpacaran dengan JongHyun… aigoo aku tak pernah suka pada namja itu. Kenapa kamu bisa jadi pacarnya sih? Jjong itu kan bukan namja yang baik. Dia itu berandal, NoRae,” keluh DamBi.

“Ucapanmu sama seperti ucapannya JongDae,” gumam NoRae.

Walau ia berbicara dengan sangat pelan tapi DamBi bisa mendengar apa yang dia ucapkan. “JongDae? Ahh namja bersuara melengking itu? Yang selalu membuntutimu kemanapun kamu pergi. Bukannya dia adiknya Jjong? Ngomong-ngomong kemana dia? Sudah lama aku tak melihatnya. Sepertinya sejak ia menghilang, kamu jadi kehilangan arah begini.”

NoRae mematung mendengar pertanyaan DamBi. NoRae juga menyadarinya, sejak orang itu menghilang NoRae jadi tidak bisa lagi menulis lirik. Entah apa yang terjadi padanya, tapi pemuda itu memang berpengaruh banyak dalam setiap lagu yang NoRae buat. Ya, kemana dia? Dia adalah orang yang selalu berhasil membuat NoRae menciptakan lagu-lagu cinta yang indah. NoRae tak pernah tahu keberadaannya lagi sejak insiden itu. Ya, sejak NoRae menyakiti hatinya, Kim JongDae menghilang entah kemana.

Chen yang sedari tadi sudah berada diantara obrolan kedua gadis itu hanya bisa menghela napas. Bertemu lagi dengan orang yang berhasil mengubah hidupnya membuat Chen kembali mengenang peristiwa lama. Peristiwa semasa ia masih menjadi manusia biasa dan menyimpan perasaan khusus terhadap Lee NoRae, sahabatnya.

Tapi itu semua hanya cerita lama. Sejak NoRae lebih memilih berkencan dengan kakaknya, yaitu Kim JongHyun, JongDae (sosok Chen semasa jadi manusia dulu) pun memutuskan untuk mengubur perasaannya terhadap NoRae. Apalagi gadis itu sudah dibutakan cintanya oleh JongHyun yang mempunyai reputasi buruk di kampus.

Chen tidak bisa menyalahkan JongHyun ataupun NoRae yang sudah sukses membuatnya patah hati. Ini semua hanya karena ketidak beranian dia dalam mencegah NoRae untuk jatuh kedalam perangkap JongHyun. Chen tahu persis seperti apa kakaknya itu semasa hidupnya, tidak ada hal baik yang pernah ia lakukan semasa hidupnya. Karena itu Chen merasa sangat sedih, kenapa ia harus menjemput NoRae ke neraka, bukannya JongHyun saja yang ia bawa ke neraka.

Tapi semua sudah ada jalannya, setidaknya nasib NoRae kini ada ditangannya.

.

.

“Bye DamBi!” NoRae melambaikan tangannya pada DamBi di tikungan jalan sebelum mereka berpisah menuju rumah masing-masing.

NoRae melangkahkan kakinya dengan berat menuju kediamannya. Ia masih teringat akan ucapan DamBi, mengenai JongDae, sahabatnya yang menghilang entah kemana. Bahkan JongHyun yang adalah kakaknya JongDae pun tidak tahu kemana perginya JongDae.

NoRae selalu ingat akan pesan JongDae kalau JongHyun itu bukanlah pria yang baik. Tapi bagaimana bisa NoRae mempercayai itu. JongHyun selalu bersikap baik terhadapnya. JongHyun bahkan membuatkan lagu cinta ketika ia meminta NoRae untuk menjadi pacarnya. Wanita mana yang tidak luluh setelah mendapatkan lagu cinta yang begitu romantisnya.

“Apa kamu marah karena aku pacaran dengan kakakmu?” NoRae berbicara pada angin berharap pertanyaannya itu sampai ke telinga JongDae. “Kumohon maafkan aku. Tapi lihatlah JongDae, Jjong sangat baik padaku. Dia sangat mencintaku. Dia bahkan sudah tidak lagi tebar pesona pada perempuan-perempuan lain.”

Kembali, Chen yang mengikuti NoRae di sampingnya hanya bisa menghela napas mendengar semua ucapan NoRae. Semakin berkurangnya waktu hidup NoRae, semakin Chen tak tega dibuatnya.

NoRae kini sudah sampai di apartemennya. Ia tinggal disana bersama dengan JongHyun –karena lelaki itu memaksanya agar mereka bisa tinggal bersama. Dan ketika NoRae membuka pintu masuknya ia melihat sepatu JongHyun ada di dalam –pertanda si pemilik sepatu sudah pulang– serta sepasang sepatu ber-heel tinggi yang tidak dikenal. NoRae memandangi sepatu itu dengan bingung, itu bukan sepatunya. Mungkin JongHyun membelikan sepatu itu untuknya? Tapi sepatu itu tampak seperti sudah pernah dipakai. Belumlah pertanyaan NoRae terjawab ia  mendengar erangan-erangan dari kamarnya.

NoRae melangkah perlahan menuju kamarnya. Ia berdiri beberapa langkah didepan pintu kamarnya ketika ia mendengar erangan-erangan itu semakin keras. Itu adalah suara Jonghyun dan… perempuan?!! NoRae menahan napasnya. Ia kembali melangkah mendekati pintu kamarnya dan memegang kenop pintu. NoRae sedikit enggan untuk masuk ke dalam karena hanya dengan mendengar suaranya saja NoRae sudah tahu kalau orang-orang dikamarnya itu pasti sedang melakukan sesuatu yang menjijikkan. Tapi NoRae tetap membuka pintu itu.

Dan NoRae mematung.

Dihadapannya, tepat diatas kasurnya, NoRae melihat Jonghyun sedang bercumbu dengan seorang perempuan yang tidak NoRae kenal. Mereka bergumul diatas ranjang tanpa sehelai benangpun. NoRae sampai mau muntah dibuatnya. Yang kini NoRae rasakan adalah seperti ada batu besar yang menghancurkan hatinya. Melihat kekasihnya bercumbu dengan wanita lain, di atas ranjang yang biasa mereka tiduri, siapapun pasti akan merasa sakit hati.

“YAAAAHHHHH!!!!!!” jerit NoRae, menyela aktivitas mereka yang semakin panas itu.

Keduanya langsung menoleh kearah NoRae. Mereka bahkan tidak tampak terkejut atau takut atau merasa bersalah melihat NoRae.

“Kenapa kamu sudah pulang?! Bukannya kamu akan ada di kampus hingga malam?!! Dan kenapa kamu tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?!!! Aishh, mengganggu saja!!” seru JongHyun yang akhirnya melepaskan diri dari wanita yang ada dibawahnya itu.

NoRae terhenyak. Ia mengharapkan JongHyun akan menghampirinya dan meminta maaf padanya tapi tidak, JongHyun bahkan tidak menggubrisnya.

“Kenapa kau melakukan ini Oppa? Kenapa di rumahku?! Kenapa kalian melakukan hal menjijikkan ini di rumahku?! Kenapa.. bukannya kau mencintaiku?!” seru NoRae.

JongHyun kini sudah menutup area bawah dirinya. Ia lalu berdiri berkacak pinggang melihat NoRae. “Lihatlah gadis lugu ini. NoRae-ya, kamu itu bodoh atau tolol?? Kamu pikir aku benar-benar menyukaimu? Aku ini pria bebas Lee NoRae. Jangan terlalu naif.”

Jonghyun lalu memberi isyarat pada wanita yang masih terbaring di kasur untuk merapikan dirinya.

NoRae menatap JongHyun tak percaya. Bagaimana bisa JongHyun berubah sampai seperti ini? Kemana JongHyun yang selalu memujanya dan mengucapkan kata cinta pada NoRae. NoRae merasakan rasa sakit yang amat sangat di hatinya.

“Tapi…tapi lagu cinta itu..lagu cinta yang kau buat untukku…”

Baik JongHyun dan perempuan yang kini sedang memakai bajunya di belakang JongHyun tertawa. Si perempuan bahkan meledek JongHyun karena sangat tidak mungkin pemuda itu bisa membuat sebuah lagu.

“Lagu apa? Oh lagu itu. Itu buatan JongDae, NoRae-ya. Aku tak mungkin melakukan hal menggelikan seperti itu. Lagu itu kucuri dari meja belajarnya JongDae. Aku bahkan tidak tahu seperti apa isi dari lagu itu,” sahut JongHyun dengan nada yang sangat menghina.

Chen sudah mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia meninju kakaknya itu. Tapi tinjunya segera melemah begitu ia merasakan ada yang menepuk bahunya.

“Orang itu memang pantas masuk neraka, huh?” tegur malaikat berwajah innocent itu pada Chen.

“Lu.. Luhan?”

“Hei kau menjemput yang mana?” Kali ini suara yang lain dari sisi kanannya. Dan ketika Chen menoleh ia melihat seorang malaikat yang memiliki lesung pipi ketika ia tersenyum.

“Lay? Apa yang kalian lakukan disini? Mengawasiku?” tanya Chen bingung.

“Kamu sendiri sedang apa disini? Sudah pasti kita semua memiliki jawaban yang sama,” sahut malaikat di sisi kanan Chen, Lay. “Aku menjemput perempuan yang masih memakai baju itu,” ujarnya sambil menunjuk perempuan dibelakang JongHyun.

“Dan aku menjemput kakakmu,” sahut Luhan.

“Kenapa kau melakukan itu padaku? Kenapa?!” Dan jeritan NoRae tersebut menghentikan percakapan tiga malaikat penjemput dari neraka itu.

Ketiga malaikat itu kembali fokus ke ketiga manusia yang masih berdebat. Mereka melihat JongHyun kini sudah mendekati NoRae dan menangkup wajah NoRae dengan kasarnya.

“Kau pikir aku mencintaimu? Sama sekali tidak NoRae. Yang mencintaimu bukan aku, tapi JongDae. Aku mendekatimu karena kupikir akan menyenangkan membuat makhluk culun itu sakit hati. Dan aku berhasil. Dia patah hati sampai akhirnya MATI!! Kalau kamu membutuhkan sebuah cinta, minta sana di makamnya JongDae!!” JongHyun kemudian menampar wajah NoRae sampai akhirnya gadis itu tersungkur. “Menyedihkan. Kalian berdua sungguh menyedihkan.”

Luhan dan Lay sudah menahan Chen yang tampak ingin menghabisi JongHyun, begitu melihat kejadian mengerikan itu. Dengan sayap yang sudah berkembang di punggungnya, setiap sentuhan dari tangan Chen bisa berakibat fatal bagi kehidupan manusia dihadapan mereka itu. Dan tentu saja Luhan dan Lay tidak ingin mendapatkan nasib yang sama seperti Tao dan Baekhyun yang nyaris mengacaukan kehidupan seorang manusia.

Perih. NoRae merasakan perih yang amat sangat di pipinya dan juga dihatinya. Apa tadi JongHyun bilang? JongDae sudah mati? Dan NoRae tidak tahu apa-apa mengenai kematian JongDae. Ini bahkan lebih menyakitkan ketimbang ia melihat langsung pengkhianatan JongHyun. Dan entah setan apa yang merasuki NoRae. Ia meraih sebuah guci yang terpajang di meja di dekatnya.

“Ups, sudah waktunya aku menjemput targetku. Chen kumohon jangan mengganggu,” ujar Luhan yang lalu mengembangkan sayapnya dan terbang diatas kepala JongHyun.

Yang terjadi berikutnya adalah NoRae menghantamkan guci tersebut ke kepala JongHyun. Perempuan yang bersama JongHyun tadi langsung berteriak ketakutan melihat JongHyun sudah tersungkur tak berdaya. NoRae lalu mengambil potongan guci tersebut dan menancapkannya berulang kali ke punggung JongHyun.

“Mati kau lelaki brengsek! Kau sudah menghancurkan hidupku!! Mati kau!!” seru NoRae.

Lay juga melepaskan pegangannya terhadap Chen. Ia mengepalkan dua tangannya di udara sebagai ungkapan untuk memberi semangat Chen. “Chen kamu pasti bisa,” katanya sebelum ia berpindah ke arah perempuan selain NoRae.

NoRae lalu berpaling melihat perempuan yang ditiduri JongHyun tadi yang kini sudah melarikan diri keluar kamar. NoRae pun tidak membiarkan perempuan itu lolos begitu saja. Ia menarik kedua kaki perempuan itu hingga dia jatuh dengan kepala lebih dulu menabrak ujung meja. Perempuan itu mati seketika –karena kini jiwanya sudah ditarik keluar dari tubuhnya oleh Lay dan merekapun menghilang.

NoRae menatap dua tubuh yang sudah terbaring tak berdaya itu secara bergantian. NoRae sudah gemetar tak karuan menyadari kalau ia baru saja membunuh, bukan hanya satu tapi dua orang sekaligus. Ia menangis. Ia menangis ketakutan. Ia menatap kedua tangannya yang sudah berlumuran darah, panik kini melanda dirinya. Kemudian NoRae mengambil sepotong pecahan guci dan menggengamnya erat lalu ia menorehkan bagian pecahan yang tajam itu ke pergelangan tangannya, berharap potongan keramik itu bisa memotong nadinya.

“Kenapa seperti ini? Aku memang bodoh. Aku memang pantas mendapatkan semua ini. Orang yang mencintaiku ada di depan mataku tapi aku tidak melihatnya. Aku malah dibutakan oleh lelaki brengsek yang hanya mempermainkanku saja. JongDae-ya….. mianhae….” lirih NoRae.

Chen kini sudah duduk di hadapan NoRae. Emosi sudah tak tergambar di raut wajahnya. Entah apa yang dipikirkan malaikat itu. Ia hanya duduk disana menatap NoRae.

“Luhan! Apa yang kau lakukan disana?! Cepat bawa jiwanya ke neraka!!” Kembali ada suara baru yang mengalihkan perhatian Chen. Chen mendapati Huizhang Yifan sudah berdiri di samping NoRae. Ia menyilangkan kedua lengannya di dada menatap Luhan tak sabar. Chen juga baru menyadari kalau Luhan masih ada disana, disebelah jasad Jonghyun dan tampaknya ia belum menarik keluar jiwanya.

Luhan hanya tersenyum tanpa dosa. “Aku hanya ingin membuatnya menderita sebentar. Hanya sebentar saja. Manusia ini patut mendapatkannya,” sahut Luhan. Ia kemudian membaca mantranya dan menarik keluar jiwa Jonghyun dari tubuhnya. “Sampai bertemu di departemen neraka, Chen,” ujar Luhan yang sudah melambaikan tangannya pada Chen.

“Dan kamu Chen,” tegur Huizhang Yifan. “Waktumu hampir tiba, kenapa kamu tidak bersiap-siap.”

Chen tahu alasan kenapa pemimpinnya bisa ada disini. Ia pasti sedang mengawasi Chen, takut kalau Chen mengacaukan tugas pertamanya.

“Aku punya satu permintaan Huizhang. Izinkan aku berbicara padanya. Aku ingin dia melihatku untuk yang terakhir kalinya,” pinta Chen.

Yifan menatap Chen tanpa ekspresi. Ia kemudian mengibaskan tangannya di depan wajah NoRae. Dan setelah NoRae mengerjap-ngerjapkan matanya, NoRae pun bisa melihat sosok Chen dihadapannya.

“JongDae..”panggil NoRae lemah. “JongDae mianhae, jeongmal mianhaeyo. Naega jalmeotthaesso.”

Chen menatap NoRae iba. “Aku ingin mengucapkan sesuatu untuk yang terakhir kalinya NoRae, sesuatu yang tak pernah berani kuucapkan padamu. Aku mencintaimu.”

Norae menangis semakin keras mendengar ucapan Chen. “JongDae-ya, aku juga ingin bilang padamu kalau aku menyayangimu. Kumohon maafkan aku. Aku yang bodoh yang bahkan tak pernah tahu kalau kau tersiksa karena aku. Aku.. aku sudah membunuh Jonghyun. Aku membunuh orang yang sudah membunuhmu. Maafkan aku karena tak pernah mendengarkanmu.”

“Sudahlah, sekarang semuanya sudah selesai. Tutup matamu Lee Norae,” titah Chen.

Pandangan NoRae kini sudah mengabur. “Sebelum aku menutup mata, boleh aku minta satu permintaan. Bisakah.. bisakah kau nyanyikan lagu itu, lagu yang kau buat untukku,” pinta NoRae.

Chen pun menarik napas dalam-dalam. Dan ia mulai bernyanyi.

I lost my mind, the moment I saw you
Except you, everything get in slow motion
Tell me, if this is love
Sharing and learning countless emotions everyday with you
Fighting, crying and hugging
Tell me, if this is love

If you wish and wish earnestly
Will it come true, like the fairytales?
A never-ending happy ending, happily ever after
I will trust you, protect you and comfort you
I will be on your side
I will never leave your side

“Chen, sudah waktunya,” sela Huizhang Yifan ketika Chen sedang bernyanyi.

Chen melihat NoRae sudah menutup matanya. Kepala gadis itu juga sudah menyentuh bahunya, pertanda kalau gadis itu sudah kehilangan kesadarannya.

“Jangan lupa mantranya,” sela Yifan lagi.

Chen mengangguk pada Huizhang Yifan. Ia kemudian membungkukkan badannya pada NoRae dan memperkenalkan dirinya –ini adalah hal awal yang harus dilakukan malaikat penjemput sebelum menjemput targetnya. “Selamat malam Lee NoRae, saya Chen malaikat penjemput. Waktumu untuk hidup di dunia ini sudah habis dan saya akan menjemputmu kembali ke tempatmu seharusnya berada.”

Chen lalu meletakkan tangannya di atas kepala NoRae. “Heartless Mindless. No one who care about me.”

.

.

“Malaikat baru itu berhasil. Ia bahkan tidak menangis ketika harus menjemput Lee NoRae itu. dia berhasil mengalahkan Tao sebagai malaikat tak berperikemanusiaan.” Luhan langsung menjitak kepala Xiumin yang tengah bercerita dengan serunya itu. Hal itu membuat Xiumin meringis sedikit, walau ia sesungguhnya tidak merasakan sakit.

“Chen!” suara Huizhang menggema ke seluruh penjuru departemen neraka. Semua malaikat yang tadi sedang bercengkerama langsung menoleh ke arah altar Yifan. Mereka melihat malaikat yang dipanggil tadi sudah berdiri di hadapan pemimpin neraka. Huizhang Yifan lalu menyodorkan selembar kertas pada Chen.

“Itu adalah tugasmu berikutnya.”

Setelah menerima tugasnya Chen pun berbalik. Ia meninggalkan altar tanpa berkata apapun.

“Chen,” panggil Yifan lagi. Dan Chen pun menoleh. “Kamu tahu kenapa kita harus mengucapkan kata-kata itu sebelum menarik jiwa manusia keluar dari tubuhnya?” Chen pun menggeleng menjawab pertanyaan Yifan. Dan Yifan pun beranjak dari bangkunya untuk menghampiri Chen.

Heartless Mindless, Itu artinya kita harus mengosongkan hati dan pikiran kita. No one who care about me, Karena sudah tidak ada lagi yang akan peduli pada kita. Semua kehidupan akan terus berjalan normal. Kehilangan satu nyawa tidak akan berarti apa-apa bagi para manusia itu. Mereka tidak akan peduli apakah mereka akan mati atau tidak, atau apakah mereka akan masuk surga atau neraka. Karena itu kosongkan hati dan pikiran karena mereka juga tidak akan peduli kemana kamu akan membawa mereka.” Yifan kemudian menepuk-nepuk pundak Chen pelan. “Selamat datang di eden dan selamat bertugas.”

*

*

*

*

(end of Chen story)

Fyi, ini ff bee rombak ampe 5 kali loh.. lima kali!! Bayangin dehh,, pertama ganti cerita, trus ganti karakter, trus ganti cerita dan karakter, trus balik lg ke karakter awal dan akhirnya jadilah ini ff..

Btw bee baru pertama kali loh nulis ff yang super angst kaya gini.. *eh ini yg pertama bukan ya?* yang menceritakan agak detail mengenai adegan bunuh2annya. Dan sesuai warning diatas, adegan s*x nya hanya dikit #dikiiiiiiiiiiit banget. Ahahahaha pasti ngarepin lebih yaaa… there’s no such a yadong FF in my planet..

Setelah lama di hiatuskan ini serie, akhirnya lanjut juga.. malaikat selanjutnya silakan di voting kawan kawan!!

Sekian dan terima kasih dan jangan lupa baca ma kisah2 malaikat2 lainnya yaa (Luhan, Sehun, Xiumin, Kai, Tao, Suho)

Advertisements
FF – Into Your World, Angel | Chen Story | NC17

20 thoughts on “FF – Into Your World, Angel | Chen Story | NC17

  1. kkamkyung says:

    aaaaaaaaa …..
    chen … chen … chen …
    kakak, kau membuatku menyukai chen *tapi masih terpesona sama sehun sih*
    bagus ceritanya, aku selalu dapet feelnya baca ffmu yang ini …

  2. auliaylsnov says:

    thoooorrrrr kasihan chen drpd cewenya deh asli hahaha…. ngenes bgt biaskuu >< daebak nih epepnya thor sukaaaa ♡♡♡♡

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s